Anda di halaman 1dari 16

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagai sumber pokok ajaran Islam, hadits merupakan sumber otoritatifsebagai
penjelas terhadap Al-Quran dalam merespon pertanyaan para sahabat Nabi SAW. Dengan
demikian hadits merupakan interprestasi Nabi SAW yang dimaksudkan untuk menjadi
acuan bagi para sahabat dalam mengamalkan ayat-ayat Al-Qur’an. Karena kondisi
sahabat dan latar belakang kehidupannya berbeda, maka petunjuk-petunjuk yang
diberikan Nabi berbeda pula. Pada sisi lain, para sahabat pun memberikan interprestasi
yang berbeda terhadap hadits Nabi. Dari sini, maka pada umumnya hadits bersifat
temporal dan kontekstual.
Situasi lingkungan dan sosial budaya semakin lama semakin berubah dan
berkembang. Hal ini menyebabkan hadis semakin jauh terpisah dari situasi sosial yang
melahirkannya, sehingga sebagian hadis Nabi terasa tidak komunikatif lagi dengan
realitas kehidupan sosial saat ini. Kondisi tersebut benar-benar menantang kaum
muslimin, sehingga sejumlah pakar dari kalangan modernis berusaha menghidupkan
kembali ruh hadis atau sunnah melalui pendekatan-pendekatan mutakhir yang lazim
disebut aliran “kontekstual” sebagai perimbangan dan melengkapi nalar tekstual. Karena
itu upaya atau pengkajian terhadap konteks-konteks hadits merupakan aspek yang sangat
penting dalam menangkap makna hadits yang akan diamalkan. Pada makalah ini akan
dibahas mengenai pemahaman hadis secara tekstual dan konstektual.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka penulis akan merumuskan
permasalahan sebagai berikut:
1. Apa pengertian pemahaman hadis secara tekstual?
2. Apa pengertian pemahaman hadis secara kontekstual?
3. Bagaimana cara memahami hadist secara tekstual dan kontekstual?
4. Bagaimana alasan hadist harus dipahami secara tekstual dan kontekstual?
5. Bagaimana contoh hadist dan pemahaman secara tekstual dan kontekstual?

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pemahaman Tekstual


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dikatakan dengan tekstual
berasal dari kata teks yang berarti bahan tulisan berupa dasar materi pelajaran yang
akan disampaikan kepada siswa, atau naskah berupa kata-kata asli dari pengarang,
kutipan dari kitab suci untuk pangkal pelajaran. Kata tekstual adalah kata sifat dari
kata teks, sehingga bermakna bersifat teks atau bertumpu pada teks.1 Berdasarkan asal
kata tersebut, dapat dirumuskan bahwa yang dimaksud dengan pemahaman tekstual
adalah memahami makna hadis secara lahiriah atau makna zhahir-nya.
Secara istilah pendekatan tekstual berkaitan dengan pemahaman hadis adalah
memahami makna dan maksud yang terkandung dalam hadis-hadis Nabi Saw. dengan
cara bertumpu pada analisis teks hadis. Dalam memahami sebuah hadis, pendekatan
tekstual merupakan pendekatan yang paling awal digunakan. Sebab, dalam memahami
sebuah teks adalah terlebih dahulu dengan menangkap makna asalnya, makna yang
populer dan mudah ditangkap. Cara pemahaman seperti ini adakalanya tepat
dilakukan, namun terkadang menimbulkan suatu permasalahan. Bahkan tidak jarang
terjadi, sebuah pesan yang disampaikan Rasulullah dapat dianggap tidak sesuai dengan
zaman sekarang lantaran hanya dipahami secara tekstual.2 Karenanya disamping
pemahaman secara tekstual, juga dibutuhkan pemahaman secara konstektual.

B. Pengertian Pemahaman Konstektual


Upaya memahami hadis-hadis Nabi SAW secara kontekstual muncul ketika
adanya pemahaman kondisi dan situasi sosial masyarakat yang selalu berubah.
Dimana situasi yang terjadi berbeda dengan situasi dan kondisi pada dewasa ini,
sementara keberadaan hadis selalu relevan di sepanjang zaman. Untuk itu usaha dalam
memahami hadis Nabi Muhammad SAW harus diinterpretasikan dengan benar,
sehingga otoritas hadis tetap eksis meskipun adanya perubahan zaman.
Kontekstualitas diambil dari kata konsteks yang berarti suatu uraian atau
kalimat yang mendukung atau menambah kejelasan makna, atau situasi yang ada

1
Muhammad Khudhori, Perlunya Memahami Hadis Secara Tekstual dan Konstektual Untuk Mendapatkan
Pemahaman Yang Moderat Ala Madhab Ahlisunnah Wal Jama’ah (Surabaya: STAI Al-Fithrah),2017
2
Dr. Ikhrom, Pengantar Ulumul Hadis (Semarang:Karya Abadi Jaya),2015

2
hubungannya dengan suatu kejadian atau lingkungan sekelilingnya. Sehingga
konstektual dalam hal ini adalah suatu penjelasan terhadap hadis-hadis baik dalam
bentuk perkataan, perbuatan, maupun ketetapan atau segala yang disandarkan pada
Nabi berdasarkan situasi dan kondisi ketika hadis itu muncul.3 Jadi pemahaman hadis
secara kontekstual adalah memahami hadis dengan melihat sisi-sisi konteks yang
berhubungan dengan hadis. Terdapat dua macam sisi konteks dalam pemaham hadis
diantaranya yaitu konteks internal yang berupa bahasa kiasan, metafora, serta simbol;
dan konteks eksternal seperti kondisi audiensi dari segi kultural, sosial, serta asababul
wurud.4

C. Cara Memahami Hadits Secara Tekstual dan Konstektual


Menurut Ali Mustafa dalam miski (2016) menyatakan hadis yang dipahami
secara tekstual berkenaan dengan perkara gaib dan ibadah murni. Perkara gaib
dibedakan menjadi dua kategori yaitu gaib yang relatif dan gaib mutlak. Perkara gaib
relatif yaitu seperti keberadaan kota New York. Kota tersebut masih dianggap ghaib
bagi orang yang belum berkunjung kesana, tetapi tidak demikian dengan orang yang
pernah berkunjung kesana. Gaib mutlak seperti perihal datangnya hari kiamat, hakikat
Allah, surga, neraka, dan sebagainya. Kaitannya dengan ibadah murni seperti tata cara
salat, puasa, haji, dan sebagainya yang harus dipahami apa adanya sesuai petunjuk al-
Quran dan hadis Nabi.5
Pemahaman hadis secara konstektual dapat melihat beberapa aspek diluar teks
itu sendiri seperti analisis terhadap kata-kata di dalam teks (konteks redaksional) ,
situasi yang ada dengan hubungan kejadian dan kondisi sosio kultural dalam
masyarakat (Konteks historis, sosiologis, antropologis).
Pemahaman hadis secara tekstual dan konstektual dapat dilihat melalui
beberapa alasan tertentu, diantaranya:
1. Meneliti Hadis Melalui Bentuk Matan (mean/Idea) Hadis
Menurut Syuhudi Ismail dalam Jurnal Hasan Su’aidi menyatakan bahwa
pemahaman matan hadis harus mempertimbangkan beberapa hal, yaitu pribadi
Nabi dan suasana yang melatar belakanginya. Hal ini karena dengan
3
Muhammad Khudhori, Perlunya Memahami Hadis Secara Tekstual dan Konstektual Untuk Mendapatkan
Pemahaman Yang Moderat Ala Madhab Ahlisunnah Wal Jama’ah (Surabaya: STAI Al-Fithrah),2017
4
Ardiansyah dkk, Kritik Konstektualisasi Pemahaman Hadis M. Syuhudi Ismail (Sumatra:UIN Sumatra
Utara),2017
5
Miski, Pemahaman Hadis Ali Mustafa Yaqub: Studi Fatwa Pengharaman Serban dalam Konteks Indonesia
(Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga),2016

3
mempertimbangkan kedua aspek tersebut, maka dapat dipahami, mana diantara
hadis-hadis Nabi yang bersifat tekstual (tersurat), sehingga menuntut untuk
dipahami sesuai dengan yang tertulis, dan mana hadis yang bersifat konstektual
yang dalam istilah muhaddis disebut dengan mafhum al-nas/ma’qul al-nas. 6
Secara garis besar bentuk matan hadis dapat dikategorikan kepada jawami’
al-kalim (ungkapan singkat dan padat makna), tamsil (perumpamaan), analogi
(qiyasi), bahasa simbolik (ramzi) dan dialog. Dari macam-macam bentuk matan
hadis tersebut, masing-masing berkisar pada masalah apakah teks hadis dapat
dipahami secara konstektual, bersifat universal atau temporal, temporal
kondisional atau tidak. Berikut merupakan macam-macam matan hadis, apakah
dapat dipahami secara tekstual, konstektual, dan seterusnya, yaitu :7
a. Jawami’ al-Kalim
Jawami’ al-Kalim yakni ungkapan singkat, namun padat makna. Hadis
jenis ini bersifat universaldan tidak terkait dengan ruang dan waktu.
Pemahaman terhadap jenis hadis ini sudah dapat dipahami secara tekstual saja,
karena setiap orang sudah dapat memahami makna ungkapan dari hadis
tersebut. Hadis yang termasuk dalam jenis Jami’ al-Kalim adalah:
َ ‫الرضا َ عَةُ تُح ِ َِّر ُم َما يَحْ ُر ُم ِم ْن‬
‫الولل َد ِة‬ َّ َّ‫ اِن‬:‫ قا ل النبى صلى ا هلل عليه و سلم‬, ‫عن جا بر بن عبد ا هلل قا ل‬
)‫(رواه البحارى و مسلم‬

Artinya : “Dari Jabir bin Abdillah berkata, Nabi SAW bersabda,


“Sesungguhnya susuan itu mengharamkan apa yang menjadi haram karena
kelahiran (keturunan)”.
Hadis Jami’al-Kalam tersebut berlaku secara universal dan tidak terikat
dengan ruang dan waktu. Setiap orang dapat memahami hadis tersebut secara
tekstual. Setiap orang memahami, bahwa hukum anak sesusuan sama dengan
hukum anak karena keturunan. Utamanya dalam hukum menikah, seorang laki-
laki haram menikahi wanita yang pernah disusui ibu si laki-laki tersebut.
Contoh lain dari hadis Jami’ al-Kalam adalah hadis tentang keharaman khmr.

ْ ‫ُك ُّل ُمس ِك ٍر َح ْم ٌر َو ُك ُّل ُم‬


‫س ِك ٍر ح ََرا ٌم‬

6
Hasan Su’aidi, Hermeneutika Hadis Syuhudi Ismail (Pekalongan:IAIN Pekalongan),2017
7
Dr. Ikhrom, Pengantar Ulumul Hadis (Semarang:Karya Abadi Jaya),2015

4
Artinya: “Setiap minuman yang memabukkan adalah khamr dan setiap
(minuman) yang memabukkan adalah haram.” (HR. Bukhori Muslim dan
lain-lain dari Ibnu ‘Umar dengan lafal dari riwayat muslim).8
Hadis tersebut secara tekstual memberi petunjuk bahwa keharaman
khmar tidak terikat oleh tempat dan waktu. Dalam hubungannya kebijaksanaan
dakwah, dispensasi dilakukan kepada orang-orang tertentu yang
diperbolehkan.
b. Tamsil (Perumpamaan)
Rasulullah dalam meberikan penjelasan kepada para sahabat tidak
jarang menggunakan bahasa tamsil. Penggunaan bahasa perumapaan ini
dimaksudkan agar pesan yang disampaikan mudah dipahami oleh para sahabat.
Walau demikian, terdapat beberapa jenis tamsil yang pemahamannya
membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Terdapat dua jenis pemahaman terhadap
hadis jenis ini yaitu jenis tamsil pertama dipahami secara tekstual dan jenis
tamsil kedua dipahmi secara konstektual.9
Contoh hadis berbahasa tamsil jenis pertama adalah:
َ ‫ع ْب ِد هللا ب ِْن أَ ِبي بُ ْردَة ع َْن جَ ِ ِّد ِه ع َْن أ َ ِبي ُمو‬
‫سى‬ َ ‫س ْف َيانُ ع َْن أَ ِبي بُ ْر َد ْة ب ِْن‬ ُ ‫َح َّدثْنَا َخ َّلل ُد ْبنُ يَحْ َيى قَا َل َح َّدثْ َنا‬
ُ‫شبَّكَ أَصَابَعَه‬
َ ‫ضهُ بَ ْعضًا و‬ ُ ‫ش ُّد بَ ْع‬ ِ َ‫سلَّم قَا َل أِنَّ ا ْل ُمؤْ ِمنَ ِل ْل ُمؤْ ِم ِن كَا ْلبُ ْني‬
ُ َ‫ان ي‬ َ ‫علَ ْي ِه َو‬
َ ‫صلَّى هللا‬َ ‫ع َْن النَّبِ َّي‬
)‫(رواه البخرى و مسلم‬

Artinya: “Dari Abu Musa al-Asy’ari berkata, Nabi SAW bersabda, “orang
yang beriman terhadap orang beriman lainnya ibarat sebuah bangunan; bagian
yang satu memperkokoh terhadap bagian lainnya, dan beliau menyilangkan
jari-jari tangannya” (HR. Bukhari Muslim)
Hadis tamsil tersebut menggunakan perumpaan sebuah tembok untuk
menggambarkan keeratan hubungan persaudaraan antar sesama mukmin dapat
dipahami secara tekstual, tanpa memerlukan kajian secara mendalam. Tembok
dikenal oleh setiap orang, tanpa terikat ruang dan waktu, dan berlaku secara
universal. Tembok terbuat dari berbagai macam material berbeda dan unsur-
unsur yang berbeda akan saling bekerja sama untuk membentuk tembok yang
kuat dan kokoh. 10

8
Dr. Ikhrom, Pengantar Ulumul Hadis (Semarang:Karya Abadi Jaya),2015
9
Dr. Ikhrom, Pengantar Ulumul Hadis (Semarang:Karya Abadi Jaya),2015
10
Dr. Ikhrom, Pengantar Ulumul Hadis (Semarang:Karya Abadi Jaya),2015

5
Sedangkan contoh hadis berbahasa tamsil jenis kedua adalah:
‫ال َّد ْنيَا سِجْ نُ ا ْل ُمؤْ ِم ِن َو َجنَّةُ ا ْل َك ِف ِر‬
Artinya: “Dunia itu penjaranya orang yang beriman dan surganya orang
kafir.” (HR. Muslim, al-Turmudzi, Ibnu Majah dan Ahmad bin Hambal, dari
Abu Hurairah).
Pemahaman yang lebih tepat terhadap petunjuk hadis diatas adalah
pemahaman konstektual. Jika dipahami secara tekstual, maka dapat dipahami
bahwa orang mukmin selamanya harus menderita didunia. Secara konstektual
kata penjara dalam hadis tersebut adalah adanya perintah berupa kewajiban
dan anjuran, disamping ada larangan berupa hukum haram dan makruh. Ibarat
penghuni penjara maka dibatasi hidupnya oleh berbagai perintah dan larangan.
Bagi orang kafir, dunia ini adalah surga sebab dalam menempuh hidup, mereka
bebas dari perintah dan larangan.11
Contoh lain hadis tamsil jenis kedua adalah
‫من حج هلل فلم يرفث ولم يسفق رجع‬:‫س َّلم‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬
َ ‫صلَى هللا‬ َ ‫ع َْن أَ ِبى ه َُري َْرةَ َر ِض َي هللا‬
َ ‫ قَا َل ال َّن ِبى‬,َ‫ع ْنه قَال‬
)‫كيوم ولدته أمه (رواه البحرى و مسلم‬
Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a berkata, Nabi SAW bersabda, “Siapapun yang
ibadah haji karena Allah semata, lalu dia tidak melakukan pelanggaran seksual
dan tidak berbuat fasik, niscaya dia kembali seperti pada hari dia dilahirkan
oleh ibunya”(HR. Bukhari Muslim).12
Hadis tersebut secara konstektual dapat dipahami bahwa dosa orang
yang berhaji diampuni oleh Allah sebagaimana bayi yang baru dilahirkan yaitu
suci dan bersih jiwanya.
c. Analogi
Hadis jenis analogi ini merupakan bagian dari hadis dialog dalam
bentuk lain. Hanya saja Nabi SAW dalam memberikan jawaban dengan
menggunakan analog. Matan hadis dengan bentukanalogi, dapat dilhat dari
hadis yang menjelaskan bahwa menyalurkan hasrat seksual (kepada wanita
yang halal) adalah sedekah.Atas pernyataan Nabi itu, para sahabat bertanya
“Apakah menyalurkan hasrat seksual kami (kepada isteri-isteri kami)
mendapat pahala?” Nabi menjawab: Bagaimanakah pendapatmu sekiranya
hasrat seksual (seseorang) disalurkannya di jalan haram, apakah (dia)

11
Dr. Ikhrom, Pengantar Ulumul Hadis (Semarang:Karya Abadi Jaya),2015
12
Dr. Ikhrom, Pengantar Ulumul Hadis (Semarang:Karya Abadi Jaya),2015

6
menanggung dosa? Maka demikianlah, bila hasrat seksual disalurkan ke jalan
yang halal, dia mendapat pahala.(HR. Muslim dari Abu Dzar).
d. Bahasa Simbolik
Berbahasa simbolik berarti merujuk pada arti yang tidak sebenarnya.
Hadis dengan bahasa simbolik cenderung mengundang perbendaan pendapat.
Bagi yang memahaminya secara tekstual, mereka berpendapat bahwa
ungkapan tersebut bukan simbolik. Namun orang yang memahaminya secara
konstektual, mereka memandangnya sebagai ungkapan berbahasa simbolik.
Contoh hadis yang termasuk berbahasa simbolik adalah hadis tentang
perbedaan usus orang mukmin dan orang kafir.

َ ‫الزنَاد ع َْن األَع َْرج ع َْن أ َ ِبي ه َُري َْرةَ َر ِض َي هللا‬


ُ ‫ قَا َل َر‬,َ‫ع ْنه قَال‬
‫سو ُل هللا‬ َّ ‫س َما ِع ْي َل ِقا َل َح ًّدثْ ِني َما ِلكٌ ع َْن أ َ ِبى‬
ْ ‫َح َّدثْنَا ِإ‬
)‫س ْبعَ ٍة أ َ ْمعَاءٍ (رواه البحرى وش مسلم‬ َ ‫اح ٍد َو ا ْلكَا فِ ُر َيأ ْ ُك ُل ِف ْي‬
ِ ‫س ِل ُم فِي ِمعًى َو‬ْ ‫علَ ْيه وسلم يَأ ُك ُل ا ْل ُم‬ َ ‫صلَّى هللا‬ َ

Artinya: “Telah menceritakan padaku Ismail, berkata, telah bercerita padaku


Malik, dari Abu Zannad, dari al-A’raj, dari Abu Hurairah r.a. dia berkata,
Rasulullah SAW bersabda, “seorang muslim makan dengan usus satu,
sementara orang kafir makan dengan tujuh usus”(HR. Bukhari Muslim).13
Secara tekstual pemahaman hadis tersebut berkualitas dhaif. Lantaran
arti matan hadis tersebut tidak logis dan tidak sesuai dengan ilmu biologi.
Sedangkan secara konstektual maksud dari orang kafir makan dengan tujuh
usus menjelaskan bahwa mereka menjadikan makan dan kepuasan fisik dan
biologis sebagai tujuan hidup. sementara bagi orang mukmin, makan dan
urusan dunia merupakan sarana meraih kesempurnaan ibadah dan kehidupan.
e. Dialog
Adanya bahasa dialog menunjukkan bahwa hadis meupakan salah satu
bentuk intensitas Nabi SAW dalam kehidupan sosial. Terdapat beragam
hadis berbahasa dialog, diantaranya yang paling poluer adalah hadis-hadis
yang berkaitan dengan perbuatan yang utama.
ُ‫ع ْب ِد هللا ْبنُ أَبِي بُ ْردَة ْبن‬َ ُ‫ي قَا َل َح َّدثْنِى أَبِي َح َّدثْنَا أ َبُو بُ ْردَة ْبن‬
ُ ‫س ِع ْي ٍد األَ َم ِو‬ َ ‫َح ًّدثْنِى‬
َ ُ‫س ِع ْي ُد ْبنُ يَحْ يَى ْبن‬
َ ‫سلَم أ َ ْف‬
َ ‫ض َل قَا َل َم ْن‬
ْ ‫سلَ َم ا ْل ُم‬
َ‫س ِل ُم ْون‬ ُّ َ‫سو ُل هللا أ‬
ْ ‫ي ا ِال‬ َ ‫سى ع َْن أَبِي بُ ْردَة ع َْن أَبِي ُمو‬
ُ ‫سى قَا َل قُ ْلتُ يًا َر‬ َ ‫أَبِي ُمو‬
َ ‫ِم ْن ِل‬
)‫سا نِ ِه َو يَ ِد ِه (رواه البحارى‬

13
Dr. Ikhrom, Pengantar Ulumul Hadis (Semarang:Karya Abadi Jaya),2015

7
Artinya: “Telah bercerita padaku Said bin Yahya bin Said al-Amawy, di
berkata, telah bercerita padaku Ayahku, telah bercerita pada kita Abu Burdah
bin Abdullah bin Abu Burdah bin Abu Musa, dari Abu Musa r.a. dia berkata,
Aku bertanya, wahai Rasulullah, manakah perbuatan yang paling utama itu?
Rasulullah SAW bersabda, “orang yang orang-orang muslim lainnya selamat
dari ucapan dan tangannya”(HR. Bukhari).14
2. Melalui Kandungan Hadis dihubungkan dengan Fungsi Nabi
Hadis yang dihubungkan dengan fungsi kenabian ini menunjukkan bahwa dalam
memahami hadis perlu melihat posisi Nabi SAW ketika menyampaikan sebuah
hadis. Diantara posisi Nabi SAW adalah sebagai seorang rasul, kepala negara,
panglima perang, hakim, tokoh masyarakat, suami, dan pribadi.15 Contoh hadis
nabi yang dihubungkan dengan fungsi nabi adalah tentang cara Nabi berbaring:
“Dari Abdullah bin Zaid bahwasannya dia telah melihat Rasulullah SAW.
berbaring di dalam masjid sambil meletakkan kaki yang satu di atas kaki lain”.
(HR. Muttaq ‘alaih)
Hadis tersebut memberi petunjuk tentang cara Nabi berbaring ketika itu yakni
dengan meletakkan kaki yang satu di atas kaki yang lainnya. Dan pada saat itu
Nabi sedang merasa nyaman dengan posisi yang telah digambarkan dalam hadis
dan itu hanya perbuatan Nabi dalam kapasitas beliau sebagai pribadi.
Dari kutipan tersebut dapat dinyatakan bahwa dalam menghubungkan kandungan
petunjuk hadis dengan fungsi beliau tatkala hadis itu terjadi. Selain dimungkinkan
juga sangat membantu untuk memahami kandungan petunjuk hadis tersebut
secara benar, hanya saja usaha yang demikian tidaklah mudah untuk dilakukan
dan tidak mudah disepakati oleh para ulama.
3. Melalui Petunjuk Hadis Nabi yang Dihubungkan dengan Latar Belakang
terjadinya (Asbab al-Wurud)
a. Hadis yang tidak mempunyai sebab khusus
Contoh hadis tentang kewajiban menunaikan zakat fitrah: “Dari Ibnu Umar
r.a., dia berkata Rasulullah SAW, telah mewajibkan untuk mengeluarkan
zakat fithrah (sebanyak) satu sha’ kurma atau gandum atas hamba sahaya,
orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak-anak, dan orang dewasa yang

14
Dr. Ikhrom, Pengantar Ulumul Hadis (Semarang:Karya Abadi Jaya),2015
15
Dr. Ikhrom, Pengantar Ulumul Hadis (Semarang:Karya Abadi Jaya),2015

8
beragama Islam. Beliau menyuruh agar zakat fithrah ditunaikan sebelum
orang pergi melaksanakan sholat (idul fithri)”
Pemahaman secara tekstual terhadap hadis tersebut hanyalah
berhubungan dengan kewajiban membayar zakat fitrah dan kewajiban itu
bersifat universal.
b. Hadis yang mempunyai sebab khusus
Contoh hadis tentang mandi pada hari jum’at: “Apabila kamu sekalian hendak
datang (menunaikan shalat) jum’at, maka hendaklah (terlebih dahulu)
mandi.” (HR. Bukhari, Muslim, dan lain-lain, dari Abdullah bin Umar)
Berdasarkan petunjuk hadis tersebut, hukum mandi pada hari jum’at
adalah wajib, jika dipahami secara tekstual. Hadis tersebut mempunyai sebab
khusus karena pada waktu itu ekonomi para sahabat Nabi umumnya masih
dalam keadaan sulit. Dan mereka memakai baju wol yang kasar dan jarang
dicuci, dan mereka pada hari jum’at langsung saja pergi ke masjid tanpa
mandi terlebih dahulu. Padahal pada saat itu masjidnya sempit. Ketika nabi
berkhutbah kecium aroma-aroma tidak sedap, maka Nabi lalu bersabda yang
semakna dengan matan hadis tersebut
4. Hadis yang berkaitan dengan keadaan yang sedang terjadi (berkembang)
Contoh hadis tentang memelihara jenggot dan kumis: “Guntinglah kumis dan
panjangkanlah jenggot”.
Hadis tersebut oleh sebagian umat Islam dipahami secara tekstual. Mereka
berpendapat bahwa Nabi telah menyuruh semua kaum laki-laki untuk memelihara
kumis dengan memangkas ujungnya dan memelihara jenggot dengan
memanjangkannya. Mereka memandang bahwa ketentuan itu merupakan salah
satu kesempurnaan dalam mengamalkan ajaran Islam.
Perintah Nabi tersebut memang relevan untuk bangsa Arab, Pakistas, dan
lainnya yang secara alamiah mereka dikaruniai rambut yang subur, termasuk
kumis dan jenggot. Tingkat kesuburan dan ketebalan rambut milik orang-orang
Indonesia tidak sama dengan milik orang Arab tersebut. Banyak orang Indonesia
yang kumis dan jenggotnya jarang. Atas kenyataan itu, maka hadis di atas harus
dipahami secara konstektual dan kandungan hadis tersebut bersifat lokal.16

16
Hasan Su’aidi, Hermeneutika Hadis Syuhudi Ismail (Pekalongan:IAIN Pekalongan),2017

9
5. Melihat Hadis yang Bertentangan
Contoh hadis tentang larangan dan kebolehan buang hajat menghadap kiblat.
a. Hadis riwayat dari Abu Ayyub bahwa Nabi SAW. telah bersabda:
“Apabila kamu sekalian membuang hajat, maka janganlah menghadap ke
kiblat dan janganlah membelakanginya baik buang air kecil maupun buang air
besar...”
b. Abdullah bin Umar berkata:
“Pada suatu hari saya telah naik (masuk) ke rumah kami (tempat tinggal
Hafsah, isteri Nabi), maka saya melihat Nabi SAW. di atas dua batang kayu
(tempat jongkok buang hajat) untuk buang hajat dengan menghadap ke arah
Baitul Maqdis.”
Secara tekstual kedua hadis tersebut tampak bertentangan. Namun, menurut
penelitian ulama hadis, kedua hadis tersebut tidak bertentangan. Larangan Nabi
berlaku bagi yang membuang hajat di lapangan terbuka, sedang yang
melakukan buang hajat di tempat tertutup, larangan tersebut tidak belaku.
Penyelesaian dalam hal ini ditempuh dengan metode al-jam’u.
Dengan demikian, secara kontekstual kedua hadis tersebut tidak
bertentangan. Larangan dan kebolehan yang dikemukakan oleh masing-masing
hadis bersifat temporal ataupun lokal.

D. Alasan Hadits Harus Dipahami Secara Tekstual dan Konstektual


Terdapat beberapa alasan mengapa suatu hadis dipahami secara tekstual dan
konstektual. Menurut M. Sa’ad Ibrahim dalam Jurnal Liliek Channa alasan-alasan
tersebut adalah:17
1. Masyarakat yang dihadapi Nabi Muhammad SAW, bukan sama sekali kosong dari
pranata-pranata kultural yang tidak dinafikan semuanya oleh kehadiran nas-nas
yang menyebabkan sebagian bersifat tipikal.
2. Dalam keputusan Nabi sendiri telah memberikan gambaran hukum yang berbeda
dengan alasan “situasi dan kondisi”.
3. Peran sahabat sebagai pewaris Nabi yang paling dekat sekaligus memahami dan
menghayati hadits nabi dengan risalah yang diembannya telah mencontohkan
kontekstualisasi nash (teks).

17
Liliek Channa Aw, Memahami Makna Hadis Secara Tekstual dan Konstektual (Surabaya:IAIN Sunan
Ampel),2011

10
4. Implementasi pemahaman terhadap nash (teks) secara tekstual sering kali tidak
sejalan dengan kemaslahatan.
5. Pemahaman tekstual secara membabi buta berarti mengingkari adanya hukum
perubahan dan keanekaragaman.
6. Pemahaman secara kontekstual yang merupakan jalan menemukan moral ideal nash
berguna untuk mengatasi keterbatasan teks berhadapan dengan kontinuitas
perubahan ketika dilakukan perumusan legak spesifik yang baru.
7. Penghargaan terhadap aktualisasi intelektual manusia lebih dimungkinkan pada
upaya pemahaman teks-teks islam secara kontekstual sebagai trademark islam itu
agama rasional dan intelektual.
8. Kontekstualisasi pemahaman teks-teks islam mengandung makna bahwa
masyarakat dimana dan kapan saja selalu dipandang positif, optimis oleh islam
yang dibuktikan dengan sikap khasnya yang akomodatif terhadap pranata sosial
yang ada (maslahat) yang terumuskan dalam kaidah “al-‘aadatu Muhkamatun”
(tradisi itu dipandang legal).
9. Keyakinan bahwa teks-teks islam adalah petunjuk terakhir dari langit yang berlaku
sepanjang masa, mengandung makna bahwa didalam teks yang terbatas tersebut
memiliki dinamika internal yang sangat kaya, yang harus terus menerus dilakukan
eksternalisasi melalui interprestasi yang tepat

E. Contoh Hadist dan Pemahaman Secara Tekstual dan Kontekstual


Adapun contoh haditsnya adalah sebagai berikut:
1. Hadits tentang keharusan mahram bagi wanita ketika bepergian
Ibnu Hibban menyatakan:“Al-Hasan Ibnu Sufyan telah mengkhabarkan
kepada kami dia berkata: Muhammad ibnu ‘Abd Allah ibn Namir telah
menceritakan kepada kami dia telah telah berkata: Bapakku telah menceritakan
kepada kami dia berkata: ‘Ubaid Allah ibnu ‘Umar telah menceritakan kepada kami
dari Nafi’: dari Ibnu ‘Umar sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:
‫سا ِف ِر ْال َم ْرأَة ُ ِإالَّ َم َع ذِي َمحْ َرم‬
َ ُ ‫الَ ت‬
“Seorang perempuan dilarang bepergian, kecuali dengan mahramnya.”(HR. Imam
Bukhari (Fathul Baari IV/172), Muslim (hal. 978) dan Ahmad I/222 dan 246).
Hadits diatas jika dipahami secara tekstual (lafdziyah) akan dapat dipahami
bahwa seorang perempuan tidak boleh keluar rumah baik untuk bekerja atau
keperluan lain tanpa bersama mahramnya. Tentu akan menyulitkan perempuan

11
pada saat ini. Tetapi apabila hadits itu dipahami melalui konteksnya , maka alasan
dibalik larangan itu adalah kekhawatiran akan keselamatan perempuan yang
bepergian tanpa mahram. Ketika itu sarana transportasi antara lain adalah unta,
keledai. Mereka biasanya menempuh perjalanan melalui padang pasir dan daerah-
daerah sepi yang tidak berpenghuni. Berdasarkan latar belakang kondisi alam saat
itu larangan wanita keluar rumah adalah bersifat kondisional.18
2. Sikap Aisyah r.a. ketika mendengar hadits yang menyatakan bahwa orang mati
diazab karena tangisan keluarganya terhadapnya. Ia menolaknya, bahkan kemudian
bersumpah bahwa Nabi SAW tidak pernah mengucapkan ‘hadits’ tersebut. Bahkan
ia kemudian menjelaskan alasan penolakannya dengan berkata: “Adakah kalian
lupa akan firman Allah SWT, Tidaklah seseorang menanggung dosa orang lain
(QS. Al-An’am:164).
Demikianlah sikap Aisyah dengan tegas dan berani telah menolak
periwayatan suatu hadits yang bertentangan dengan Al-Qur’an.Walaupun begitu,
hadits yang tertolak ini masih saja tercantum dalam kitab-kitab shahih. Bahkan Ibn
Sa’d, dalam bukunya Ath-Thabaqat Al-Kubra, mengulang-ulangnya dengan
beberapa sanad yang berbeda.
Yang hendak ditegaskan oleh Aisyah ialah bahwa sabda Rasulullah SAW
ialah: “Sesungguhnya orang kafir akan beroleh (tambahan) siksaan disebabkan
tangis keluarganya terhadapnya.”
3. Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam juga bersabda :
ُ‫ت أَب َْواب‬ ْ ‫ َوفُتِ َح‬. ٌ‫ار فَلَ ْم يُ ْفتَحْ ِم ْن َها بَاب‬ ِ َّ‫ت أَب َْوابُ الن‬ ُ ‫ َو‬،‫اط ْينُ َو َم َردَة ُ ْال ِج ِن‬
ْ َ‫غ ِلق‬ َّ ‫ت ال‬
ِ َ‫شي‬ ِ َ‫ص ِفد‬
ُ َ‫ضان‬ َ ‫ِإذَا َكانَ أ َ َّو ُل َل ْي َلة ِم ْن‬
َ ‫ش ْه ِر َر َم‬
‫ َو ذَلِكَ ُك َّل َل ْي َلة‬،‫ار‬ ِ ‫عتَ َقا ُء ِمنَ ال َّن‬
ُ ِ‫ َو ِ َّّلِل‬،‫ص ْر‬ ِ ‫ش ِر أ َ ْق‬
َّ ‫ي ال‬ َ ‫ َو َيا َبا ِغ‬،‫ي ْال َخي ِْر أَ ْق ِب ْل‬َ ‫ َيا َبا ِغ‬:‫ َويُنَادِي ُمنَاد‬، ٌ‫ْال َجنَّ ِة فَلَ ْم يُ ْغلَ ْق ِم ْن َها َباب‬
“Apabila datang awal malam dari bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin yang
sangat jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup tidak ada satu pintupun yang
terbuka, sedangkan pintu-pintu surga dibuka tidak ada satu pintupun yang ditutup.
Dan seorang penyeru menyerukan: ‘Wahai orang yang menginginkan kebaikan
kemarilah. Wahai orang-orang yang menginginkan kejelekan tahanlah.Dan Allah
memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka, yang demikian itu terjadi pada
setiap malam.” (HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya no. 682 dan Ibnu Majah dalam

18
Suryadi, Pentingnya Memahami Hadis Dengan Mempertimbangkan Setting Historis Perspektif Yusuf Al-
Qaradawi (Yogyakarta:UIN Sunan Kalijaga),2016

12
Sunan-nya no. 1682,dihasankan Asy-Syaikh Albani rahimahullahu dalam Al-
Misykat no. 1960).
Pemahaman secara tekstual terhadap hadits diatas menyatakan bahwa
karena bulan Ramadhan hal diatas terjadi.Pemahaman itu menonjolkan keutamaan
bulan Ramadhan saja, tanpa menyetarakan berbagai amal yang seharusnya
dilakukan oleh orang-orang yang beriman pada bulan Ramadhan tersebut.
Sekiranya kata-kata dibelenggu dalam hadits tersebut diartikan secara fisik dan
penyebab dibelenggunya semua setan itu adalah bulan Ramadhan, niscaya tidak
ada.
4. Sikap keras orang-orang yang dengan tegas menolak mengeluarkan zakat fitrah
dengan uang, sebagaimana madzhab Imam Abu Hunaifah dan pengikutnya
sebagian juga yang dipegang oleh Umar Ibn Abd al-Aziz dan Fuqaha Salaf. Alasan
mereka adalah karena Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat ada jenis makanan-
makanannya tertentu; yaitu kurma, kismis dan gandum, hal itu harus dilakukan dan
tidak boleh menentang sunnah dengan logika.
Rasulullah SAW sangat memperhatikan kondisi lingkungan dan waktu.
Rasulullah mewajibkan zakat fitrah dengan makanan yang dimiliki masyarakat,
yaitu bahan makanan yang lebih memudahkan bagi orang yang memberi dan lebih
bermanfaat bagi orang yang menerima.
5. Al-Bukhori dalam kitabnya Shahih al-Bukhori Bab Fi al-Amal wa Thuluhu,
mengenai sketsa kehidupan yang pernah digambarkan langsung oleh Nabi
dihadapan sahabat,yang dituturkan dalam khabarnya sebagai berikut ini:
“Dari Abdullah ibn Mas’ud r.a. dia berkata , “Nabi SAW membuat gambar segi
empat. Kemudian menggambar sebuah garis lurus memanjang hingga keluar dari
garis kotak segi empat.Lalu Nabi menggambar garis-garis kecil melintasi garis
lurus yang memanjang di tengah kotak segi empat. Lalu Nabi SAW menjelaskan
(maksud gambar): Ini manusia, dan garis-garis persegi itu kurungan ajalnya,
sedang garis panjang yang keluar dari batas itu angan-angan/cita-citanya. Adapun
garis-garis kecil itu adalah tantangan atau rintangan yang selalu menantang
manusia (untuk menghadapinya). Maka apabila manusia lolos dari satu tantangan
maka akan berhadapan dengan tantangan yang berikutnya, dan apabila dia lolos
dari satu tantangan lagi maka akan berhadapan dengan tantangan yang lain
berikutnya.” (HR. Al-Bukhori).

13
Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud r.a. diatas, secara tekstual berisi
visualisasi kehidupan dan bagaimana tepatnya sikap kita menghadapi suatu
tantangan kehidupan. Terdapat tiga persoalan yang dalam menurut paparan hadits
itu dihadapi manusia dalam kehidupan.
a. Pertama, persoalan mengenai batas waktu ajal kehidupan manusia.
b. Kedua, persoalan tentang rentang panjangnya waktu untuk cita-cita yang dapat
dibuat manusia dalam kehidupan.
c. Ketiga, persoalan tentang problema atau tantangan yang dihadapi dalam
kehidupan.
Tiga persoalan pokok ini disampaikan oleh Nabi SAW dihadapan para sahabat
yang tetap relevan untuk kita pegangi dalam menjalani kehidupan sekarang dan ke
depan.
Dalam konteks ini, terbuka cakrawala manusia untuk mengikhtiarkan
menurut jangkauan akalnya. Diluar itu, kita tentu menghadapi ketentuan Dzat Yang
Maha Penentu, Yang Maha Mengetahuiapa yang akan terjadi bagi hamba pada hari
esoknya. Dialah pemilik rahasia utama ajal, yang biasanya dapat menjadi
penyelesai ‘keangkuhan’ manusiadari teka teki panjang pendeknya usia. Mungkin
saja, manusia itu pada hari kemarin masih segar yang tak ada seorangpun curiga
akan ditinggalkan olehnya, namun ajal diatas segala sebab bisa tiba-tiba datang.
Tentang cita-cita, manusia rupanya memang mempunyai daya khayal yang jauh ke
depan. Dari sekian banyk makhluk, manusialah yang terbukti mampu
merencanakan aktivitas untuk masa depan. Bahkan, mereka dapat menciptakn
suasana untukmerekayasa masa depan yang gemilang yang diangankan bagi hidup
kemanusiaan. Dari banyaknya imajinasi yang bisa dirancang manusia, maka
gambar daya khayal itu jauh melebihi panjang segi empat yang merupakan batas
masa kehidupan yang bisa dilaluinya.
Selanjutnya tantangan kehidupan, adalah sesuatu yang minta ditanggulangi,
atau objek yang menggugah tekad untuk meningkatkan kemampuan mengatasi
masalah. Tantangan kehidupan tetap minta diatasi oleh setiap manusia yang ingin
eksis dalam kehidupan.Tantangan kehidupan masa kini cukup kompleks bukan
sekadar persoalan sakit atau meninggal.Semua dituntut menemukan jawabannya.

14
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Pemahaman hadis secara tekstual adalah memahami makna dan maksud yang
terkandung dalam hadis-hadis Nabi Saw. dengan cara bertumpu pada analisis teks
hadis.
2. Pemahaman hadis secara kontekstual adalah memahami hadis dengan melihat sisi-sisi
konteks yang berhubungan dengan hadis
3. Pemahaman hadis secara tekstual dan konstektual dapat dilihat dari sisi matan hadis,
diantaranya yaitu jawami’ al-kalim (ungkapan singkat dan padat makna), tamsil
(perumpamaan), analogi (qiyasi), bahasa simbolik (ramzi) dan dialog.
4. Alasan hadis harus dipahami secara tekstual dan konstektual diantaranya adlah
mplementasi pemahaman terhadap nash (teks) secara tekstual yang tidak sejalan
dengan kemaslahatan, pemahaman secara kontekstual merupakan jalan menemukan
moral ideal nash berguna untuk mengatasi keterbatasan teks dengan kontinuitas
perubahan, Kontekstualisasi pemahaman teks-teks islam memiliki sikap khas
akomodatif terhadap pranata sosial yang ada (maslahat)
5. Salah satu contoh hadis dengan pemahaman tekstual dan konstektual adalah Hadits
tentang keharusan mahram bagi wanita ketika bepergian dimana berdasarkan latar
belakang kondisi alam saat itu larangan wanita keluar rumah adalah bersifat
kondisional

B. Saran
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak
kesalahan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan pembaca dapat menyampaikan
kritik dan saran terhadap hasil penulisan makalah ini yang membangun penulis demi
sempurnanya makalah ini dan untuk penulisan makalah di kesempatan berikutnya.

15
DAFTAR PUSTAKA

Ardiansyah,dkk.2017. Kritik Konstektualisasi Pemahaman Hadis M. Syuhudi


Ismail.Sumatra:UIN Sumatra Utara
Channa,Liliek Aw.2011.Memahami Makna Hadis Secara Tekstual dan
Konstektual.Surabaya:IAIN Sunan Ampel
Dr. Ikhrom.2015.Pengantar Ulumul Hadis.Semarang:Karya Abadi Jaya
Khudhori,Muhammad. 2017.Perlunya Memahami Hadis Secara Tekstual dan
Konstektual Untuk Mendapatkan Pemahaman Yang Moderat Ala Madhab
Ahlisunnah Wal Jama’ah.Surabaya: STAI Al-Fithrah
Miski.2016.Pemahaman Hadis Ali Mustafa Yaqub: Studi Fatwa Pengharaman Serban
dalam Konteks Indonesia.Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga
Su’aidi,Hasan.2017. Hermeneutika Hadis Syuhudi Ismail.Pekalongan:IAIN Pekalongan
Suryadi.2016.Pentingnya Memahami Hadis Dengan Mempertimbangkan Setting
Historis Perspektif Yusuf Al-Qaradawi. Yogyakarta:UIN Sunan Kalijaga

16