Anda di halaman 1dari 22

Pajak Penghasilan |1

1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Salah satu jenis pajak yang sangat menunjang pembangunan dan pertumbuhan
negara adalah Pajak Penghasilan (PPh). Pajak penghasilan ini sebenarnya sudah ada
sejak pada zaman Romawi kuno, yang ditandai dengan adanya pungutan yang kala itu
dinamai tributum dan berjalan hingga tahun 167 sebelum masehi. Kemudian
selanjutnya terus berkembang di beberapa negara misalnya Inggris yang
memberlakukan Pajak penghasilan ini sebagai Income Tax di tahun 1799 yang secara
eksplisit diatur dalam UU. Sementara di Amerika, pajak penghasilan pertama kali
dikenalkan pada tahun 1643 di New Plymont, undang-undang pajak federal sendiri
mulai diperkenalkan pada tahun 1861 yang kemudian beberapa kali mengalami tax
reform. Berdasarkan Undang-Undang pajak federal tax return atau surat
pemberitahuan pajak penghasilan ini dibuat pada tahun 1860 dan telah dipergunakan
hingga tahun 1962.

Sejarah perkembangan pajak penghasilan Indonesia sendiri sudah dimulai


sejak tahun 1816 yang kala itu disebut dengan istilah tenement tax atau huistax yakni
sejenis pajak yang dikenakan untuk mereka yang menggunakan tanah dan bumi
sebagai tempat berdirinya bangunan atau rumah. Tetapi seiring berkembangnya
waktu maka berkembang pula jenis-jenis pajak yang dikeluarkan oleh para penjajah
terdahulu, barulah kemudian pada Pada tahun 1908 kemudian terdapat Ordonansi
pajak pendapatan yang diberlakukan untuk orang-orang Eropa dan badan yang
melaksanakan bisnis tanpa memperhatikan kebangsaan pemegang saham. Dasar
pengenaan pajak ini adalah penghasilan yang berasal dari barang tak bergerak maupun
bergerak, pembayaran berkala, pendapatan pejabat pemerintah dan penghasilan usaha,
tarif yang diberlakukan pun bersifat proporsional. Bahkan hingga saat ini telah terjadi
perubahan-perubahan tentang ketentuan PPh. Oleh karena itu, dalam makalah ini
menyajikan informasi-inforamsi berkenaan dengan ketentuan-ketentuan dalam PPh
yang berlaku di Indonesia.

1.2. Rumusan Masalah


Dari topik pembahasan dalam makalah ini, dapat ditarik beberapa rumusan masalah,
yakni:
- Bagaiman Terminologi dari Pph?
- Bagaimana bentuk subjek dan Objek Pph?
- Bagaimana konsep penyusutan dan amortisasi dalam Pph?
- Bagaimana konsep Nilai dalam Pph?
- Bagaimana konsep pengalihan harta dan persediaan dalam Pph?

1.3. Tujuan Pembahasan


Pajak Penghasilan |2

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa makalah ini berisi tentang informasi


segala ketentuan yang diatur dalam PPh khsususnya yang berlaku di Indonesia. Oleh
karena itu, penyaji makalah sangat berharap kepada para pembaca dapat memahami
dan mampu menarik informasi-informasi penting yang di sajikan dalam makalah ini,
sehingga makalah ini dapat menjadi referensi bagi para pembaca dan juga para peserta
diskusi.

2
Pajak Penghasilan |3

PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Pajak Penghasilan

Pajak penghasilan sesuai dengan pasal 1 Undang Undang pajak Penghasilan


adalah pajak yang dikenakan terhadap subyek pajak atas penghasilan yang diterima
dalam tahun pajak. Oleh karena itu Pajak Penghasilan melekat pada subyeknya. Pajak
Penghasilan termasuk salah satu jenis pajak subjektif. Subyek pajak akan dikenai
pajak apabila dia menerima atau memperoleh penghasilan. Dalam Undang-Undang
Pajak Penghasilan, subyek pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan
disebut sebagai Wajib Pajak. Demikian pula atas penghasilan yang diterima atau
diperoleh orang pribadi atau badan dari pengalihan hak atas tanah dan atau bangunan,
terutang Pajak Penghasilan dan dalam hal ini yang bersifat final.

Definisi Penghasilan menurut UU PPh adalah setiap tambahan kemampuan


ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia
maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk
menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk
apapun adalah objek pajak.

Ketentuan Hukum Pph untuk pertama kalinya diatur dalam UU No.7 Tahun
1983 tetapi seiring berkembangnya kebutuhan maka UU Pph juga beberapa kali
mengalami amandemen dan perubahan sebagai berikut:

1. UU No.7 Tahun 1991.


2. UU No.10 Tahun 1994.
3. UU No.17 Tahun 2000.
4. UU No.36 Tahun 2008.

2.2. Subjek Pajak dan Wajib Pajak

Pajak penghasilan dikenakan terhadap subjek pajak atas pengahsasilan yang


diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak. Subjek-subjek pajak seperti:

- Orang Pribadi
- Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang
berhak
- Badan. Contoh: Perusahaan.
- Bentuk Usaha Tetap (BUT).

Adapun beberapa jenis Subjek pajak, sebagai berikut:

1. Subjek Pajak dalam Negeri, misalnya:


a. Subjek pajak orang pribadi, yaitu:
 Orang pribadi yang yang bertempat tinggal atau berada di Indonesia lebih dari
183 hari (tidak harus berturut-turut) dalam jangka waktu 12 bulan, atau
 Orang pribadi yang dalam satu tahun berada di Indonesia dan mempunyai niat
bertempat tinggal di Indonesia.
Pajak Penghasilan |4

b. Subjek Pajak badan, yaitu badan yang didirikan atau berkedudukan di


indonesia kecuali unit tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi kriteria:
1.) Pembentukannya berdasarkan ketentuan perturan perundang-undangan;
2.) Pembiayaanya bersumber dari APBN atau APBD;
3.) Penerimaanya dimasukkan dalam anggaran Pemerintah Pusat atau Daerah;
4.) Pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan fungsional negara;
c. Pajak warisan, yakni warisan yang belum dibagi sebagai satu kesatuan,
menggantikan yang berhak.
2. Subjek Pajak Luar Negeri yang terdiri dari:
a. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang
berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, dan
badan yang tidak didirikan dan tidak berkedudukan di Indonesia, yang
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia; dan
b. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang
berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, dan
badan yang tidak didirikan dan tidak berkedudukan di Indonesia yang dapat
menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia tidak dari menjalankan
usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia.

Untuk Subjek Pajak orang pribadi dalam negeri menjadi wajib pajak apabila telah
menerima atau memperoleh penghasilan yang besarnya melebihi PTKP. Dan Subjek
pajak badan dalam negeri menjadi Wajib pajak sejak saat didirikan, atau bertempat
kedudukan di Indonesia.

Sedangkan untuk Subjek Pajak Luar Negeri baik orang pribadi ataupun badan
sekaligus menjadi wajib pajak karena menerima dan/atau memperoleh penghasilan
yang bersumber dari Indonesia atau melalui BUT di Indonesia.

Oleh karena itu Wajib Pajak, adalah orang pribadi atau badan yang telah
memenuhi kewajiban subjektif dan objektif.

Perbedaan Wajib Pajak dalam negeri dengan Wajib Pajak Luar negeri, antara lain
adalah:

WAJIB PAJAK DALAM NEGERI WAJIB PAJAK LUAR NEGERI


 Dikenakan Pajak atas penghasilan  Dikenakan pajak hanya atas
baik yang diterima atau diperoleh penghasilan yang berasal dari
dari Indonesia dan dari luar sumber penghasilan di Indonesia.
Indonesia.

 Dikenakan pajak berdasarkan  Dikenakan pajak berdasarkan


penghasilan Netto. penghasilan Bruto.

 Tarif pajak yang digunakan adalah  Tarif pajak yang diguankan adaah
Tarif Umum (Tarif UU PPh 17) Tarif Sepadan (tarif UU PPh
pasal 26)
 Wajib menyampaikan SPT.  Tidak Wajib menyampaikan SPT
Pajak Penghasilan |5

Secara terperinci Perbedaan yang penting antara Wajib Pajak dalam negeri dan
Wajib Pajak luar negeri terletak dalam pemenuhan kewajiban pajaknya, yakni :

a. Wajib Pajak dalam negeri dikenai pajak atas penghasilan baik yang diterima atau
diperoleh dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, sedangkan Wajib Pajak luar
negeri dikenai pajak hanya atas penghasilan yang berasal dari sumber
penghasilan di Indonesia;

b. Wajib Pajak dalam negeri dikenai pajak berdasarkan penghasilan neto dengan
tarif umum, sedangkan Wajib Pajak luar negeri dikenai pajak berdasarkan
penghasilan bruto dengan tarif pajak sepadan; dan

c. Wajib Pajak dalam negeri wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan


Pajak Penghasilan sebagai sarana untuk menetapkan pajak yang terutang dalam
suatu tahun pajak, sedangkan Wajib Pajak luar negeri tidak wajib menyampaikan
Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan karena kewajiban pajaknya
dipenuhi melalui pemotongan pajak yang bersifat final.

Tidak Termasuk Subjek Pajak:

1. Kantor Perwakilan Negara asing;


2. Pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat lain negara asing, dan
orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada mereka dan
bertempat tinggal bersama-sama mereka, dengan syarat:
 Bukan warga negara Indonesia dan di Indonesia tidak menerima atau
memperoleh penghasilan lain di luar jabatannya di Indonesia.
 Negara yang bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik.
3. Organisasi Internasional, dengan syarat:
 Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut.
 Tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan
dari Indonesia selain pemberian pinjaman kepada pemerintah yang dananya
berasal dari iuran para anggota.
4. Pejabat Perwakilan Organisasi Internasional, dengan syarat:
 Bukan Warga Negara Indonesia.
 Tidak menjalankan usaha, kegiatan, atau pekerjaan lain untuk memperoleh
penghasilan di indonesia.

Penjelasan Pasal 3 huruf (a) dan (b) tersebut diatas, menerangkan bahwa
sesuai dengan kelaziman yang berlaku secara Internasional, bahwa badan
perwakilan negara asing beserta pejabat-pejabatnya, serta orang yang
diperbantukan, serta tinggal bersama mereka dengan syarat bukan WNI, tidak
melakukan kegiatan lain, serta negara asing tersebut memberikan perlakauan yang
sama (azas timbal balik), dikecualikan sebagai subjek pajak. Pengecualian
Pajak Penghasilan |6

tersebut tidak berlaku, apabila mereka memperoleh penghasilan lain di Indonesia,


diluar jabatannya atau mereka adalah WNI.

Dengan demikian apabila pejabat perwakilan suatu negara asing, memperoleh


penghasilan lain diluar jabatannya, maka ia termasuk subjek pajak yang dapat
dikenakan pajak atas penghasilan tesebut. Namun apabila negara asal pejabat
tersebut memberikan pembebasan pajak kepada perwakilan Indonesia, atas
penghasilan lain diluar tugas dan jabatannya, maka kembali lagi berlaku azas
timbal balik.

Ketentuan lebih lanjut mengenai Pasal 3 huruf (c) dan (d), diatur lebih lanjut
dalam KMK seperti disebut diatas. Yang dimaksud dengan organisasi
Internasional adalah organisasi/badan/lembaga/asosiasi /perhimpunan/forum antar
pemerintah atau non pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kerjasama
Internasional dan dibentuk dengan aturan tertentu atau kesepakatan bersama,
sedangkan yang dimaksud dengan pejabat perwakilan organisasi Internasional
adalah pejabat yang diangkat langsung oleh induk organisasi Internasional yang
bersangkutan untuk menjalankan tugas atau jabatan dalam organisasi tersebut di
Indonesia.

2.3. Objek Pajak

yang menjadi Objek pajak adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan
ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak, baik yang berasal dari indonesia
maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah
kekayaan wajib Pajak yang bersangkutan dengan nama dan dalam bentuk apapun.
Jenis penghasilan yang dikenakan pajak atau disebut Objek Pajak sesuai dengan Pasal 4
ayat (1) UU PPh adalah sebagai berikut:

o Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau
diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi,
uang pension, atau imbalan dalam bentuk lainnya, kecuali ditentukan lain dalam
undang-undang.
o Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan dan penghargaan.
o Laba usaha.
o Keuntungan karena penjualan atau pengalihan harta.
o Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya.
o Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan lain karena jaminan pengembalian
utang.
o Dividen, dengan nama dan dalam bentuk apa pun (termasuk dividen dari perusahaan
asuransi kepada pemegang polis) dan pembagian sisa hasil usaha koperasi.
o Royalti.
o Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta.
o Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala.
Pajak Penghasilan |7

o Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah tertentu yang
ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
o Keuntungan karena selisih kurs mata uang asing.
o Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva.
o Premi asuransi.
o Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri atas
Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas.
o Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak.

Adapun yang dikecualikan dari Objek Pajak menurut ketentuan Pasal 4 ayat (3) UU
No. 17 Tahun 2000 adalah:

 a. Bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat
atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan para
penerima zakat yang berhak.
b. Harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus
satu derajat, dan oleh badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan
social atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri
Keuangan, sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan,
kepemilikan, atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan.
 Warisan.
 Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b UU PPh sebagai pengganti saham atau sebagai
pengganti penyertaan modal.
 Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima
atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari Wajib Pajak atau
pemerintah.
 Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan
asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan
asuransi beasiswa.
 Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai
Wajib Pajak Dalam Negeri, Koperasi, Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha
Milik Daerah, dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan atau
berkedudukan di Indonesia dengan syarat:
a. Dividen tersebut berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan
b. Bagi perseroan terbatas, Badan Usaha Milik Negara, dan Badan Usaha Milik
Daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan yang
memberikan dividen paling rendah 25% dari jumlah modal yang disetor dan
harus mempunyai usaha aktif di luar kepemilikan saham tersebut.
 Iuran yang diterima atau diperoleh dana pension yang pendiriannya telah disahkan
Menteri Keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi kerja maupun pegawai.
 Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pension, dalam bidang-bidang
tertentu yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.
 Bagian laba yang diperoleh atau diterima anggota dari perseroan komanditer yang
modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma, dan
kongsi.
Pajak Penghasilan |8

 Bunga obligasi yang diterima atau diperoleh perusahaan reksa dana selama 5
(lima) tahun pertama sejak pendirian perusahaan atau pemberian izin usaha.
 Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa
bagian laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha atau
kegiatan di Indonesia, dengan syarat badan pasangan usaha tersebut:
a. Merupakan perusahaan kecil, menengah, atau yang menjalankan kegiatan
dalam sektor-sektor usaha yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
b. Sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia.

2.4. Penyusutan dan Amortisasi


Menurut Undang-Undang pajak penghasilan, penyusutan atau depresiasi
merupakan konsep alokasi harga perolehan harga tetap berwujud dan amortisasi
merupakan konsep alokasi harga perolehan harga tetap tidak berwujud dan harga
perolehan harta sumber alam. Jadi, UU PPh pengertian amortisasi mencakup juga
pengertian depresi seperti yang dikenal dalam dunia akuntansi keuangan.

A. Penyusutan
Pengertian penyusutan menurut pajak tercantum dalam Pasal 6 ayat (1) huruf
b, Pasal 9 ayat (2) dan Pasal 11 UU PPh yang mengatakan bahwa penyusutan
merupakan metode alokasi biaya atas pengeluaran untuk pembelian, pendirian,
penambahan, perbaikan, atau perubahan harta berwujud, kecuali tanah yang
berstatus hak milik, hak guna bangunan, hak guna usaha, dan hak pakai, yang
dimiliki dan digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun.

1. Kriteria Harta/Aktiva yang dapat disusutkan

Menurut Pasal 11 UU PPh harta yang dapat disusutkan adalah harta


berwujud yang digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan, yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun, kecuali
pengeluaran-pengeluaran untuk memperoleh tanah hak milik termasuk tanah
berstatus hak guna bangunan, hak guna usaha, dan hak pakai yang pertama
kali tidak boleh disusutkan, kecuali apabila tanah tersebut dipergunakan dalam
perusahaan atau dimiliki untuk memperoleh penghasilan dengan syarat nilai
tanah tersebut berkurang karena penggunaannya untuk memperoleh
penghasilan, misalnya tanah dipergunakan untuk perusahaan genteng,
perusahaan keramik, atau perusahaan batu bata.

Yang dimaksud dengan pengeluaran untuk memperoleh tanah hak guna


bangunan, hak guna usaha, dan hak pakai yang pertama kali adalah perolehan
tanah berstatus hak guna bangunan, hak guna usaha, atau hak pakai dari pihak
ketiga dan pengurusan hak-hak tersebut dari instansi yang berwenang untuk
pertama kalinya. Sedangkan biaya perpanjangan hak guna bangunan, hak guna
usaha, dan hak pakai diamortisasikan selama jangka waktu hak-hak tersebut.
Pajak Penghasilan |9

Atau dengan kata lain menurut pajak harta yang dapat disusutkan harus
memenuhi kriteria sebagai berikut :

1. Harta berwujud yang digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan


memeliharan penghasilan; dan

2. Mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun.

Untuk menghitung besarnya penyusutan harta tetap berwujud dibagi


menjadi dua golongan, yaitu:

1. Harta berwujud yang bukan berupa bangunan, terdiri dari empat


kelompok, yaitu:

1.) Kelompok 1: kelompok harga berwujud bukan bangunan yang


mempunyai masa manfaat 4 tahun

2.) Kelompok 2: kelompok harga berwujud bukan bangunan yang


mempunyai masa manfaat 8 tahun

3.) Kelompok 3: kelompok harga berwujud bukan bangunan yang


mempunyai masa manfaat 16 tahun

4.) Kelompok 4: kelompok harga berwujud bukan bangunan yang


mempunyai masa manfaat 20 tahun

2. Harta berwujud yang berupa bangunan dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Permanen: masa manfaatnya 20 tahun;

2. Tidak permanen: bangunan yang bersifat sementara, terbuat dari bahan


yang tidak tahan lama, atau bangunan yang dapat dipindah-pindahkan.
Masa manfaatnya tidak lebih dari 10 tahun. Misalnya, barak atau asrama
yang dibuat dari kayu untuk karyawan

Beberapa harta yang tidak dapat disusutkan menurut fiskal adalah :

o Tanah, kecuali nilainya berkurang dalam pemakaian, hal ini terdapat


persamaan antara PPh dengan Akuntansi.

o Harta berwujud yang menurut akuntansi dapat disusutkan, tetapi


menurut pph tidak dapat disusutkan adalah Rumah perusahaan yang
P a j a k P e n g h a s i l a n | 10

terletak bukan di daerah terpencil, yang ditempati pegawai yang tidak


diberikan tunjangan perumahan.

*perlu diketahui: PPh tidak menggunakan istilah “Aktiva Tetap” tetapi menggunakan
istilah “Harta berwujud yang masa manfaatnya lebih dari satu tahun”, untuk harta
yang dilakukan penyusutan.

2. Metode dan Tarif Penyusutan

Metode penyusutan yang dibolehkan secara fiskal menurut Pasal 11 UU PPh


adalah:

1. Dalam bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat yang


ditetapkan bagi harta tersebut menggunakan metode garis lurus atau
“straight-line method’’. Atau dengan kata lain Metode garis lurus
diperkenankan dipergunakan untuk semua kelompok harta tetap berwujud

2. Dalam bagian-bagian yang menurun dengan cara menerapkan tarif


penyusutan atas nilai sisa buku dianjurkan menggunakan metode saldo
menurun atau “declining balance method’’. jika Wajib Pajak memilih
menggunakan metode saldo menurun, nilai sisa buku pada akhir masa
manfaat harus disusutkan sekaligus. Atau dengan kata lain, metode saldo
menurun hanya diperkenankan digunakan untuk kelompok harta berwujud
bukan bangunan saja.

Untuk rnemberikan kepastian hukum bagi WP dalam melakukan


penyusutan atas pengeluaran harta berwujud, ketentuan ini mengatur
kelompok masa manfaat harta dan tarif penyusutan baik menurut metode garis
lurus maupun saldo menurun.

Tabel berikut menggambarkan pengelompokan harta berwujud,


metode, serta tarif penyusutannya:

TARIF DEPRESIASI
KELOMPOK HARTA
MASA MANFAAT
BERWUJUD SALDO
GARIS
MENURU
LURUS
N
P a j a k P e n g h a s i l a n | 11

I. Bukan Bangunan 4 Tahun 25% 50%


Kelompok 1
Kelompok 2 8 Tahun 12,5% 25%
Kelompok 3
Kelompok 4 16 Tahun 6,25% 12,5%

20 Tahun 5% 10%

II. Bangunan
Permanen 20 Tahun 5% -
Tidak Permanen
10 Tahun 10% -

Contoh Perhitungan Penyusutan:

PT Agri Jaya pada bulan Juli 2009 membeli sebuah alat pertanian yang
mempunyai masa manfaat 4 tahun seharga Rp 1.000.000,00. Penghitungan
penyusutan atas harta tersebut adalah sebagai berikut:

 Alternatif I : Metode Garis Lurus:


- Penyusutan tahun 2009: 6/12 x 25% x Rp 1.000.000,00 = Rp
125.000,00
- Penyusutan tahun 2010: 25% x Rp 1.000.000,00 = Rp 250.000,00
- Penyusutan tahun 2011: 25% x Rp 1.000.000,00 = Rp 250.000,00
- Penyusutan tahun 2012: 25% x Rp 1.000.000,00 = Rp 250.000,00
- Penyusutan tahun 2013: Sisanya disusutkan sekaligus = Rp 125.000,00
 Alternatif II Metode Saldo Menurun
 Penyusutan tahun 2009 : 6/12 x 50% x Rp 1.000.000 = Rp 250.000

 Penyusutan tahun 2010 :


50% x (Rp 1.000.000 – Rp 250.000) =
50% x Rp 750.000 = Rp 375.000

 Penyusutan tahun 2011 :


50% x (Rp 750.000 – Rp 375.000) =
50% x Rp 375.000 = Rp 187.500

 Penyusutan tahun 2012 :


50% x (Rp 375.000 –Rp 187.500) =
50% x Rp 187.500 = Rp 93.750

 Penyusutan tahun 2013 :


Sisanya disusutkan sekaligus = Rp 93. 750

Penyusutan Telepon Selular Dan Mobil Yang Digunakan Oleh Pegawai


P a j a k P e n g h a s i l a n | 12

Masalah pembebanan biaya penyusutan fiskal untuk telepon selular


(ponsel) dan mobil sedan atau sejenisnya yang sering dipertanyakan oleh para
Wajib Pajak terjawab sudah dengan diterbitkannya KEP-220/PJ./2002. Dalam
KEP tersebut antara lain diatur sebagai berikut :

 Pembelian ponsel bagi pegawai untuk keperluan pekerjaan sebesar


50% dicatat sebagai pembelian aktiva berwujud kelompok 1 dan
dijadikan biaya melalui penyusutan. Sedangkan biaya pulsa dan
perbaikan ponsel 50%-nya dapat menjadi biaya perusahaan;

 Pembelian maupun perbaikan besar atas sedan atau sejenisnya yang


dimiliki atau digunakan pegawai tertentu karena jabatannya dicatat
50%-nya sebagai pembelian aktiva tetap kelompok 2 dan dapat
dibebankan sebagai biaya melalui penyusutan. Biaya perbaikan
rutin atas sedan atau sejenisnya yang dimiliki atau digunakan
pegawai tertentu karena jabatannya dicatat 50%-nya sebagai biaya.

3. Waktu Penyusutan atau Saat Dimulainya Penyusutan


Saat penyusutan dapat dimulai pada:
1. Bulan dilakukannya pengeluaran
2. Untuk harta yang masih dalam pengerjaan, penyusutannya dimulai dari
bulan pengerjaan harta tersebut selesai.
3. Dengan ijin dari Direktur Jendral Pajak, penyusutan dapat dimulai pada
bulan harta berwujud mulai digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan atau pada bulan harta tersebut mulai
menghasilkan.

B. Amortisasi
Harta tak berwujud digolongkan menjadi :
1) Kelompok 1 : kelompok harta tak berwujud yang mempunyai masa manfaat 4
tahun.
2) Kelompok 2 : kelompok harta tak berwujud yang mempunyai masa manfaat 8
tahun.
3) Kelompok 3 : kelompok harta tak berwujud yang mempunyai masa mafaat 16
tahun.
4) Kelompok 4 : kelompok harta tak berwujud yang mempunyai masa manfaat 20
tahun.

a. Metode dan tarif Amortisasi


Harga perolehan harta tak berwujud dan pengeluaran lainnya termasuk
biaya perpanjangan hak guna bangunan, hak guna usaha, hak pakai, dan
muhibah (goodwill) yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun
diamortisasi dengan metode garis lurus ( straight line method) dan metode
saldo menurun (declining balnce method). Wajib pajak diperkenankan untuk
memlih salah satu metode untuk melakukan amortisasi.
P a j a k P e n g h a s i l a n | 13

Tabel berikut menggambarkan pengelompokkan harta tak


berwujud,metode, serta tariff amortisasinya.

Tarif Amortisasi
Kelompok Harta Tak
Masa Manfaat Garis Saldo
Berwujud
Lurus Menurun

Kelompok 1 4 Tahun 25% 50%

Kelompok 2 8 Tahun 12,5% 25%

Kelompok 3 16 Tahun 6,25% 12,5%

Kelompok 4 20 Tahun 5% 10%

Kelompok, metode, dan tarif amortisasi seperti disebutkan dalam tabel di


atas berlaku juga untuk :

1. Pengeluaran untuk biaya pendirian dan biaya perluasan modal suatu


perusahaan. Pengeluaran ini dapat juga dibebankan pada tahun terjadinya
pengeluaran.
2. Pengeluaran yang dilakukan sebelum operasi komersial, misalnya biaya studi
kelayakan dan biaya produksi percobaan, yang mempunyai masa manfaat
lebih dari satu tahun. Pengeluaran ini dikapitalisasikan kemudian diamortisasi
sesuai tabel di atas. Satu hal yang harus diperhatikan adalah bahwa biaya
operasional yang bersifat rutin, seperti biaya rekening listrik dan telepon, gaji
pegawai, dan biaya kantor lainnya, tidak boleh dikapitalisasi tetapi
dibebankan sekaligus pada tahun pengeluaran.

*Kemungkinan dapat terjadi masa manfaat asset tetap tak berwujud tidak tercantum
pada kelompok masa manfaat, sehingga wajib pajak menggunakan masa manfaat
terdekat. Sebagai contoh asset tetap tak berwujud masa manfaat sebenarnya 6 tahun,
dapat menggunakan masa manfaat 4 tahun atau 8 tahun. Apabila masa manfaat
sebenarnya 5 tahun maka menggunakan kelompok masa manfaat 4 tahun.

b. Contoh Perhitungan Amortisasi

PT Asti Jaya pada tanggal 4 Januari 2009 mengeluarkan uang sebanyak Rp


100.000.000 untuk memperoleh hak lisensi dari Phoenyxcycle Ltd selama 4
tahun untuk memproduksi Sepeda Phoenix. Penghitungan amortisasi atas
hak lisensi tersebut adalah sebagai berikut:

Alternatif I : Metode Garis Lurus


P a j a k P e n g h a s i l a n | 14

- Amortisasi tahun 2009: 25% x Rp 100.000.000,00 = Rp 25.000.000,00


- Amortisasi tahun 2010: 25% x Rp 100.000.000,00 = Rp 25.000.000,00
- Amortisasi tahun 2011: 25% x Rp 100.000.000,00 = Rp 25.000.000,00
- Amortisasi tahun 2012: 25% x Rp 100.000.000,00 = Rp 25.000.000,00

Alternatif II : Metode Saldo Menurun

 Amortisasi tahun 2009:


50% x Rp 100.000.000,00 = Rp 50.000.000,00
 Amortisasi tahun 2009:
50% x (Rp 100.000.000,00 - Rp 50.000.000,00)
50% x Rp 50.000.000,00 = Rp 25.000.000,00

 Amortisasi tahun 2011:


50% x (Rp 50.000.000,00 – Rp 25.000.000,00)
50% x Rp 25.000.000,00 = Rp 12.500.000,00
 Amortisasi tahun 2012 :
Diamortisasi sekaligus = Rp 12.500.000,00

c. Amortisasi Metode satuan produksi

1. Hak/ pengeluaran dibidang penambangan minyak dan gas bumi


Amortisasi dengan metode satuan produksi diterapkan pada amortisasi
atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan pengeluaran lain yang
mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun di bidang penambangan
minyak dan gas bumi. Dalam hal ini, metode satuan produksi dilakukan
dengan persentase perbandingan antara realisasi penambangan minyak dan
gas bumi pada tahun yang bersangkutan dengan taksiran jumlah seluruh
kandungan minyak dan gas bumi di lokasi tersebut yang dapat diproduksi.

Contoh:
PT Dira Oil mengeluarkan uangnyay sebesar Rp 1.000.000.000,00
untuk memperoleh hak penambangan minyak bumi. Kandungan
minyak bumi ditaksir sebesar 5.000.000 barel. Produksi minyak bumi
tahun 2009 mencapai 1.500.000 barel. Besarnya amortisasi untuk
tahun 2005 adalah :
Tarif amortisasi
= (realisasi penambangan : taksiran kandungan) x 100%
= (1.500.000 : 5.000.000) x 100% = 30%

Amortisasi 2009
= 30% x Rp 1.000.000.00,00 = Rp 300.000.000,00

Seandainya jumlah produksi yang sebenarnya lebih kecil dari yang


diperkirakan, sehingga masih terdapat sisa pengeluaran yang belum
diamortisasi, maka atas sisa tersebut boleh dibebankan sekaligus dalam
tahun pajak yang bersangkutan.
P a j a k P e n g h a s i l a n | 15

2. Hak penambangan selain minyak dan gas bumi, hak pengusahaan hutan,
hak pengusahaan sumber dan hasil alam lainnya.

3. Amortisasi dengan metode satuan produksi setinggi-tingginya 20%


setahun, diterapkan pada amortisasi atas:

i. Pengeluaran untuk memperoleh hak penambangan selain


minyak dan gas bumi
ii. Pengeluaran untuk memperoleh hak pengusahaan hutan
iii. Pengeluaran untuk memperoleh hak pengusahaan sumber dan
hasil alam lainnya, yang mempunya masa manfaat lebih dari
satu tahun.

Contoh:

PT Dira Wood mengeluarkan uang sebesar Rp 1.000.000.000,00


untuk memperoleh hak pengusahaan hutan. Potensi hak pengusahaan
hutan adalah 200.000 ha. jumlah yang sudah dimanfaatkan pada
tahun 2009 adalah sebesar 80.000 ha.

Jumlah yang di amortisasi dengan presentase satuan produksi yang


di realisasikan dalam tahun 2009 adalah sebesar :

(80.000 : 200.000) x Rp 1.000.000.000,00

= 40% Rp 1.000.000.000,00 = Rp 400.000.000,00

Jumlah yang boleh diamortisasi maksimum adalah 20% dari


pengeluaran, maka amortisasi yang diperkenankan hanyalah sebesar
20% x Rp 1.000.000.000,00 = Rp 200.000.000,00

2.5. Konsep Nilai dan Harga Perolehan

A. Penentuan Harga Perolehan


Pada umumnya dalam jual beli harta, harga perolehan harta bagi pihak
pembeli adalah harga yang sesungguhnya dibayar dan harga penjualan bagi pihak
penjual adalah harga yang sesungguhnya diterima. Biaya yang dikeluarkan sepeti bea
masuk, biaya pengangkutan, dan biaya pemasangan termasuk kedalam harga
perolehan. Sedangkan apabila terdapat hubungan istimewa, harga perolehan adalah
jumlah yang seharusnya diterima atau dikeluarkan.
Nilai perolehan atau nilai penjualan dalam hal terjadi tukar-menukar harta
adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar.
Nilai perolehan atau pengalihan harta yang dialihkan dalam rangka likuidasi,
penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, atau pengambilalihan usaha
adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar,
kecuali ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan. Persediaan dan pemakaian
P a j a k P e n g h a s i l a n | 16

persediaan untuk penghitungan harga pokok dinilai berdasarkan harga perolehan


yang dilakukan secara rata-rata atau dengan cara mendahulukan persediaan yang
diperoleh pertama.

B. Pajak Final
Ada beberapa jenis penghasilan (objek pajak) yang dikenakan pemotongan
atau pemungutan pajak yang bersifat final. Penghasilan yang dikenakan pemotongan
atau pemungutan PPh yang bersifat final, tetap dilaporkan dalam Surat
Pemberutahuan (SPT), hanya saja jumlahnya tidak dijumlahkan dengan penghasilan
lainnya. Pajak yang sudah dipotong tidak diperhitungkan sebagai Kredit Pajak.
Beberapa penghasilan yang dikenai pajak yang bersifat final antara lain bunga
deposito, hadiah undian, penghasilan dari transaksi saham, transaksi pengalihan harta
berupa tanah/bangunan, usaha jasa konstruksi, dan penghasilan tertentu lainnya.

C. Norma Perhitungan
Norma penghitungan adalah pedoman untuk menentukan besarnya
penghasilan neto. Penggunaan norma penghitungan dilakukan karena tidak terdapat
dasar perhitungan yang lebih baik, atau pembukuan diselenggarakan secara tidak
benar. Orang Pribadi yang boleh menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan
Neto:

1. Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dengan
peredaran bruto sebesar Rp. 1.800.000.000,00 (satu miliar delapan ratus juta
rupiah) atau lebih dalam 1 (satu) tahun wajib menyelenggarakan pembukuan.

2. Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dengan
peredaran bruto di bawah Rp. 1.800.000.000,00 (satu miliar delapan ratus juta
rupiah) dalam 1 (satu) tahun wajib menyelenggarakan pencatatan, kecuali Wajib
Pajak yang bersangkutan memilih menyelenggarakan Pembukuan.

3. Wajib Pajak orang pribadi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) yang tidak
memilih untuk menyelenggarakan pembukuan, menghitung penghasilan neto
usaha atau pekerjaan bebasnya dengan menggunakan Norma Penghitungan
Penghasilan Neto.

Sesuai dengan UU PPh yang baru yaitu UU Nomor 36 tahun 2008 maka
sejak 1 Jan 2009 batasan Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau
pekerjaan bebas yang boleh menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan
berubah dengan peredaran bruto di bawah Rp. 1.800.000.000,00 menjadi Rp
4.800.000.000.

2.6. Konsep Pengalihan Harta dan Persediaan


P a j a k P e n g h a s i l a n | 17

A. Harga perolehan dan pengalihan harta dalam Undang-undang Pajak Penghasilan


Harga perolehan dan pengalihan harta mempengaruhi besarnya penghasilan
yang diperoleh wajib pajak. Pasal 10 Undang-Undang Pajak Penghasilan mengatur
tentang penentuan harga perolehan dan pengalihan harta, serta nilai pemakaian
persediaan. Ada beberapa cara dalam perolehan dan pengalihan harta, yaitu sebagai
berikut:

1. Jual Beli
Harga perolehan atau harga penjualan dalam hal terjadi jual beli harta yang
tidak dipengaruhi hubungan istimewa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat
(4) adalah jumlah yang sesungguhnya dikeluarkan atau diterima, sedangkan
apabila terdapat hubungan istimewa adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan
atau diterima.

Contoh kasus:
CV RENTAL menjual mobil kepada CV PENADAH dengan harga
Rp100.000.000,-, tetapi harga pasar wajar dari mobil tersebut adalah
Rp150.000.000,-. Nilai buku mobil tersebut bagi CV RENTAL adalah
Rp90.000.000,-
Jika antara CV RENTAL dan CV PENADAH ada hubungan istimewa,
harga penjualan adalah harga pasar wajar sebesar Rp150.000.000,-, sehingga
keuntungan yang diperoleh oleh CV RENTAL sebesar Rp50.000.000,-
2. Tukar Menukar
Nilai perolehan atau nilai penjualan dalam hal terjadi tukar‐menukar harta
adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar.
Contoh kasus:
CV RENTAL menukarkan Mobil merk Cepat (Nilai Buku Rp100.000.000,-;
Harga Pasar Rp150.000.000,-) dengan Mobil merk Terbatas (Nilai Buku
Rp80.000.000,-; Harga Pasar Rp150.000.000,-) milik CV PENADAH. Dari
transaksi tersebut, CV RENTAL memperoleh keuntungan sebesar
Rp50.000.000,- dan CV PENADAH memperoleh keuntungan sebesar
Rp70.000.000,-.
Sehingga harga perolehan Mobil merk Cepat dan Mobil merk Terbatas dari
pertukaran tersebut adalah sebesar harga pasarnya, yaitu Rp150.000.000,-
3. Likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, atau
pengambilalihan usaha
Nilai perolehan atau pengalihan harta yang dialihkan dalam rangka
likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, atau
pengambilalihan usaha adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima
berdasarkan harga pasar, kecuali ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan.
Contoh kasus:
P a j a k P e n g h a s i l a n | 18

PT. Mantab menggabuungkan usahanya dengan PT Pas. Pada saat


penggabungan, Mobil yang dimiliki PT Mantab memiliki nilai buku
Rp150.000.000,-, sedangkan harga pasarnya adalah Rp175.000.000,-.
Maka PT Mantab memperoleh keuntungan sebesar Rp25.000.000,-.
4. Bantuan, Sumbangan, dan Hibah
Apabila terjadi pengalihan harta:
a. yang memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf
a dan huruf b, maka dasar penilaian bagi yang menerima pengalihan sama
dengan nilai sisa buku dari pihak yang melakukan pengalihan atau nilai
yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak.
Contoh kasus: PT MANTAB menghibahkan mobil kepada Yayasan
Panti Jompo. Nilai buku mobil tersebut bagi PT MANTAB adalah
Rp100.000.000,- dan harga pasarnya Rp150.000.000,-. Harga
pengalihan mobil tersebut adalah sebesar nilai bukunya
Rp100.000.000,-, sehingga tidak ada keuntungan yang diakui oleh
PT MANTAB. Demikian juga bagi Yayasan Panti Jompo, harga
perolehan mobil adalah sebesar Rp100.000.000,-
b. yang tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3)
huruf a, maka dasar penilaian bagi yang menerima pengalihan sama
dengan nilai pasar dari harta tersebut.
Contoh kasus: PT MANTAB menghibahkan mobil kepada Tuan Han
yang merupakan salah satu mitra bisnis PT MANTAB. Nilai buku
mobil tersebut bagi PT MANTAB adalah Rp100.000.000,- dan harga
pasarnya Rp150.000.000,-. Mobil tersebut bagi Tuan Han merupakan
objek pajak, karena antara PT MANTAB dan Tuan Han terdapat
hubungan usaha. Harga pengalihan mobil tersebut adalah sebesar harga
pasarnya Rp150.000.000,-, sehingga keuntungan yang diakui oleh PT
MANTAB sebesar Rp50.000.000,-. Bagi Tuan Han, harga perolehan
mobil adalah sebesar Rp150.000.000,-.
5. Warisan
Harga perolehan untuk harta yang diperoleh melalui warisan adalah sebesar
nilai buku bagi pihak yang mengalihkan atau nilai yang ditetapkan oleh Dirjen
Pajak.
Contoh kasus: Tuan Han mewariskan mobil kepada Papao. Nilai buku
mobil tersebut bagi Tuan Han adalah Rp100.000.000,- dan harga
pasarnya Rp150.000.000,. Harga pengalihan mobil tersebut adalah
sebesar nilai bukunya Rp100.000.000,-.
6. Penyertaan Modal
Apabila terjadi pengalihan harta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4
ayat (3) huruf c, maka dasar penilaian harta bagi badan yang menerima
pengalihan sama dengan nilai pasar dari harta tersebut.
Contoh kasus: Tuan Han menyerahkan sebuah mobil sebagai
penyertaan modal pada PT Mantab. Mobil tersebut sebelumnya
digunakan untuk usaha rental milik Tuan Han. Harga pasar mobil
P a j a k P e n g h a s i l a n | 19

adalah Rp100.000.000,-, sedangkan nilai bukunya adalah


Rp80.000.000,-. Dari transaksi tersebut keuntungan atas pengalihan
mobil bagi Tuan Han sebesar Rp20.000.000,- dan harga perolehan
mobil bagi PT Mantab sebesar Rp100.000.000.

KASUS TAMBAHAN

Pemerintah menetapkan besarnya penghasilan pegawai harian dan mingguan, serta


pegawai tidak tetap lainnya yang tidak dikenakan pemotongan pajak penghasilan, dengan
memperhatikan besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang telah disesuaikan
dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 122/PMK.010/2015 tentang Penyesuaian
Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak. Peraturan ini berlaku sejak tanggal 6 Agustus 2015.

Berikut ini rangkuman peraturannya.

Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 152/PMK.010/2015


Tentang Penetapan Bagian Penghasilan Sehubungan dengan Pekerjaan dari Pegawai
Harian dan Mingguan serta Pegawai Tidak Tetap Lainnya yang Tidak Dikenakan
Pemotongan Pajak Penghasilan

1. Batas penghasilan bruto yang diterima atau diperoleh pegawai harian atau mingguan,
serta pegawai tidak tetap lainnya, sampai dengan jumlah Rp 300.000,00 (tiga ratus
rupiah) sehari tidak dikenakan pemotongan pajak penghasilan.
2. Ketentuan penghasilan tidak kena pajak (PTKP) tersebut (pasal 1) tidak berlaku
dalam hal:

 Penghasilan bruto dimaksud jumlahnya melebihi Rp 3.000.000,00 (tiga juta


rupiah) sebulan, atau

 Penghasilan dimaksud dibayar secara bulanan.

3. Ketentuan tersebut (pasal 1 dan pasal 2) tidak berlaku atas:

Penghasilan berupa honorarium

Komisi yang dibayarkan kepada penjaja barang dan petugas dinas luar asuransi.
P a j a k P e n g h a s i l a n | 20

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Pajak mempunyai peranan penting dalam kehidupan negara, khususnya dalam


pelaksanaan pembangunan, karena pajak merupakan sumber pendapatan negara untuk
membiayai pengeluaran termasuk pengeluaran pembangunan. Pajak penghasilan
orang pribadi merupakan salah satu instrumen untuk mengatasi ketimpangan
distribusi pendapatan antara masyarakat yang berpenghasilan tinggi dan rendah.
Kemiskinan, ekonomi yang rendah merupakan kendala dalam peningkatan
kesejahteraan masyarakat suatu negara. Untuk mewujudkan fungsi distribusi
pendapatan, tarif pajak penghasilan pribadi di Indonesia mengenakan tarif pajak
progresif dimana masyarakat yang berpenghasilan tinggi akan dikenakan tarif pajak
yang lebih tinggi. Pengenaan tarif pajak yang dibebankan kepada masyarakat sesuai
dengan kemampuan ekonominya. Walaupun Pajak Penghasilan merupakan salah satu
jenis pajak yang sudah melewati beberapa kali perubahan, tetapi itu semua dilakukan
pemerintah tidak tanpa tujuan, hal itu dikarenakan unruk penyesuaian kebutuhan
masyarakat yang semakin berkembang dan kompleks pula, selain itu untuk
pengembangan dan pertumbuhan segala infranstruktur-infranstruktur penting yang
dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat

3.2. Kritik dan Saran

Walaupun makalah ini masih jauh dari kesempurnaan tetapi sangat diharapkan untuk
para pembaca mampu mengambil informasi-informasi penting dalam penjelasannya
sehingga dapat dijadikan referensi dan juga menjadi pengetahuan tambahan untuk
seluruh yang membaca makalh ini, maupun untuk para peserta diskusi.
P a j a k P e n g h a s i l a n | 21

DAFTAR PUSTAKA

Google.com.2012a.Penyusutan, Amortisasi, dan


Revaluasi.(online).https://lookforscience.wordpress.com/2012/05/03/penyusutan-
amortisasi-dan-revaluasi/.Diakses: 24 September 2016.

______.2012b.Pajak Penghasilan.(online).
http://zetzu.blogspot.co.id/2012/06/pajak
penghasilan.html.Diakses: 24 September 2016

______.2012c.Pajak Penghasilan Badan. (online).


http://www.mitrakonsultindo.co.id/pajak-penghasil-badan/konsultan-pajak-jakarta-
jasa-penyusutan-dan-amortisasi-fisikal/.Diakses: 24 September 2016.

______.2014.Sejarah Pajak Penghasilan.(online).


http://solusibisnis.co.id/sejarah-pajak
penghasilan-di-indonesia.html.Diakses: 24 September 2016.

______.2015.Harga perolehan dan pengalihan


harta.(online).http://www.kabarpajak.com/2015/08/harga-perolehan-dan-pengalihan-
harta.html.Diakses: 24 September 2016.

Madiasmo.2011.Perpajakan edisi Revisi Tahun 2011.Yogyakarta:Andi Yogyakarta.

Nurliana, Andi.2015.Penyusutan,amotiasasi,dan Revaluasi.(online).


http://adilanurliana.blogspot.co.id/2015/02/penyusutan-amortisasi-dan-revaluasi.html.
Diakses: 24 September 2016.

Poerwanto, Hendra.2016.Info pajak


P a j a k P e n g h a s i l a n | 22

terbaru.(online).https://sites.google.com/site/referensipajak/info-pajak-terbaru/PMK-
Nomor-152-PMK010-2015.Diakses: 24 September 2016.

Wahyudi, Edi.2014.Perspektif pajak sebagai sarana pendukung


pembangunan.(online).https://eddiwahyudi.com/perspektif-pajak-sebagai-sarana-
pendukung-pembangunan/4-pajak-penghasilan-pph/.Diakses: 24 September 2016.