Anda di halaman 1dari 9

RMK

AUDIT SEKTOR PUBLIK

“Audit sektor publik, peran dan lingkungan audit, isu- isu


relevan dalam audit sektor publik di Indonesia”

Oleh :
Kelompok 14
Andre Wijaya (1502120907)
Iqbal Braja Mukti (1502116376)

Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Riau
2018/2019
Statement of Authorship

Saya/ kami yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa RMK/ makalah/ tugas
terlampir adalah murni hasil pekerjaan saya/ kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain
yang saya/ kami gunakan tanpa menyebutkan sumbernya.

Materi ini tidak/ belum pernah disajikan/ digunakan sebagai bahan untuk makalah/ tugas
pada mata ajaran lain kecuali saya/ kami menyatakan dengan jelas bahwa saya/ kami
menggunakannya.

Saya/ kami memahami bahwa tugas yang saya/ kami kumpulkan ini dapat diperbanyak
dan atau dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.

Mata Kuliah : Audit Sektor Publik


Judul RMK/ Makalah/Tugas : Audit sektor publik, peran dan lingkungan audit, isu-
isu relevan dalam audit sektor publik di Indonesia
Tanggal : 23/09/2018
Dosen : Dr. M. Rasuli, SE., M.Si., Ak., CA
Tanda tangan :

Mahasiswa Mahasiswa

( Andre Wijaya 1502120907 ) ( Iqbal Braja Mukti 1502116376 )


Auditing Sektor Publik

Pemeriksaan atau auditing pada umumnya berada pada bagian akhir dari siklus pengelolaan
keuangan. Auditing sektor publik secara khusus terkait dengan pemeriksaan keuangan negara.
Pemeriksaan keuangan negara adalah proses identifikasi masalah, analisis, dan evaluasi yang
dilakukan secara independen, objektif, dan profesional berdasarkan standar pemeriksaan, untuk
menilai kebenaran, kecermatan, kredibilitas, dan keandalan informasi mengenai pengelolaan dan
tanggungjawab keuangan negara.

Pengertian Auditing Sektor Publik

Auditing sektor publik merupakan pelaksanaan berbagai jenis pemeriksaan pada organisasi
sektor publik. Secara umum auditing atau pemeriksaan didefinisikan sebagai suatu proses yang
sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara obyektif atas asersi manajemen
mengenai peristiwa dan tindakan ekonomi, kemudian membandingkan kesesuaian asersi
manajamen tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan dan mengkomunikasikan hasilnya
kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Peran Auditing Sektor Publik

Auditing sektor publik memiliki peran penting dalam perwujudan tata kelola pemerintahan
yang baik (good governance). Melalui auditing sektor publik, dapat dilakukan tindakan
pendeteksian dan pencegahan atas berbagai praktik korupsi, penyelewengan, pemborosan, dan
kesalahan dalam pengelolaan sumber daya publik serta penyelamatan aset-aset negara.
Auditing sektor publik merupakan salah satu pilar penting dalam mewujudkan tata kelola
pemerintahan yang baik. Tetapi auditing sektor publik saja tidak cukup, sebab auditor memiliki
keterbatasan kewenangan. Kewenangan auditor sebatas melakukan pemeriksanaan, memberikan
opini serta menyampaikan temuan-temuan audit dalam laporan hasil pemeriksaan. Oleh karena
itu, auditing sektor publik harus didukung oleh aparat penegak hukum yang lain seperti kejaksaan,
kepolisian, dan kehakiman.
Auditor sektor publik juga tidak memiliki kewenangan dalam mengawasi perencanaan.
Terkait dengan hal ini, auditor sektor publik harus didukung oleh lembaga legislatif yang
berwenang melakukan fungsi pengawasan terhadap eksekutif sejak tahap perencanaan,
pelasanaan, maupun pertanggungjawaban. Dengan demikian untuk mewujudkan good
governance, maka semua lembaga negara baik eksekutif, legislatif, yudikatif, penegak hukum, dan
auditor harus bersih, kompeten, dan profesional.
Dalam hubungannya dengan masyarakat, auditing sektor publik berperan sebagai
pemegang fungsi atestasi berupa pemberian opini auditor. Fungsi atestasi adalah untuk
memberikan jaminan yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang
disajikan manajemen. Dengan demikian auditing sektor publik pada dasarnya berperan dalam
mewakili dan melindungi kepentingan rakyat dan pemangku kepentingan lainnya dari memperoleh
informasi keuangan yang salah dan menyesatkan.

Lingkungan Hukum Dan Kelembagaan Audit Sektor Publik

Peraturan Perundangan Terkait Audit Keuangan Negara/ Daerah


Pelaksanaan audit pada organisasi sektor publik harus ada dasar hukumnya. Berikut adalah
beberapa peraturan perundangan yang terkait dengan pelaksanaan audit sektor publik:
Undang-Undang Dasar 1945
Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
Undang-Undang No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung jawab
Keuangan Negara
Peraturan BPK RI No. 01 Tahun 2007 tentang Standar Pemeriksaan Keuangan Negara
Undang-undang Dasar 1945 Pasal 23 Ayat (1) E menyatakan untuk memeriksa pengelolaan dan
tanggung jawab tentang Keuangan Negara diadakan satu Badan Pemeriksa Keuangan yang bebas
dan mandiri.
Kemudian dalam Undang-Undang No. 17 Tahun 2003, pemeriksaan keuangan negara
diatur dalam Pasal 30 dan Pasal 31. Pemeriksaan keuangan negara secara lebih khusus diatur dalam
Undang-Undang No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab
Keuangan Negara. Dasar pemikiran UU No. 15 Tahun 2004 adalah bahwa untuk mewujudkan
pengelolaan keuangan negara sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam UU No. 17
Tahun 2003 dan UU No. 1 Tahun 2004 perlu dilakukan pemeriksaan oleh satu badan pemeriksa
keuangan yang bebas dan mandiri, sebagaimana telah ditetapkan dalam Pasal 23E UUD 1945.
Sebelum UU No. 15 Tahun 2004 dikeluarkan, BPK diatur dalam UU No. 5 Tahun 1973 tentang
Badan Pemeriksa Keuangan masih belum memiliki landasan operasional yang memadai dalm
pelaksaan tugasnya untuk memeriksa pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara. Agar
BPK dapat melaksanakan fungsinya secara efektif maka dikeluarkanlah UU No. 15 Tahun 2004
yang mengatur hal-hal pokok yang berkaitan dengan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung
jawab keuangan negara.
Dengan landasan hukum UU No. 15 Tahun 2004, BPK diberi kewenangan untuk
melakukan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara yang meliputi
pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja, dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu. BPK juga
memiliki kebebasan dan kemandirian dalam penentuan obyek pemeriksaan, perencanaan dan
pelaksanaan pemeriksaan , penentuan waktu dan metode pemeriksaan, serta penyusunan dan
penyajian laporan hasil pemeriksaan.
Kelembagaan Auditing Sektor Publik
Lembaga yang bertugas melaksanakan audit pada organisasi sektor publik di Indonesia
dapat dikategorikan sebagai berikut:
Audit internal, terdiri atas:
Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)
Inspektorat Jendreral (Irjen) pada departemen atau kementrian dan lembaga negara
Inspektorat Propinsi/Kabupaten/Kota (Badan Pengawas Daerah)
Satuan Pengawasan Internal pada BUMN/BHMN/BUMD
Audit Eksternal, terdiri atas:
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI
Auditor Eksternal Independen yang bekerja untuk dan atas nama BPK
Auditor internal atau disebut Aparat Pengawas Internal Pemerintah (APIP) merupakan lembaga
audit yang berada dibawah pemerintahan atau merupakan bagian dari pemerintahan. Sedangkan
auditor eksternal merupakan lembaga audit di luar pemerintahan yang bersifat mandiri dan
independen.
Auditor internal bertugas melakukan pengawasan internal atas penyelenggaraan tugas dan
fungsi instansi pemerintahan termasuk akuntabilitas keuangan negara. Pengawasan intern adalah
seluruh proses kegiatan audit, reviu, evaluasi, pemantauan, dan kegiatan pengawasan lain terhadap
penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi dalam rangka memberikan keyakinan yang memadai
bahwa kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan tolak ukur yang telah ditetapkan secara efektif
dan efisien untuk kepentingan pimpinan dalam mewujudkan tata kepemerintahan yang baik.
Auditor eksternal merupakan auditor yang independen dan mandiri bukan bagian pemerintah yang
diaudit. Lembaga auditor eksternal berdasarkan UUD 1945 adalah Badan Pemeriksa Keuangan
(BPK). BPK berwenang melakukan audit keuangan, audit kinerja, dan audit dengan tujuan
tertentu. BPK menyampaikan laporan hasil pemeriksaan kepada DPR/DPD/DPRD sesuai dengan
kewenangannya.
Audit eksternal dan audit internal berbeda dalam beberapa hal antara lain perspektif audit,
tanggungjawab, tingkat independensi, penekanan audit, kewenangan, dan laporan audit.

Isu – isu relevan dalam Audit Sektor Publik Indonesia

Laporan Auditing Wajar Tanpa Pengecualian dengan Paragraf Penjelas atau Modifikasi Kata
atau Kalimat
Dalam situasi tertentu, laporan audit wajar tanpa pengecualian diterbitkan, kata-kata yang
digunakan menyimpang dari laporan wajar tanpa pengecualian bentuk standar. Laporan ini harus
dibedakan dari laporan wajar dengan pengecualian, laporan tidak wajar, dan laporan tidak
memberikan pendapat.
Berikut ini adalah berbagai penyebab paling penting dari penambahan paragraph penjelasan atau
modifikasi kata di laporan wajar tanpa pengecualian:

1. Tidak Ada Konsistensi


Standar pelaporan kedua mewajibkan auditor untuk memperhatikan situasi di mana standar
akuntansi tidak dilaksanakan secara konsisten dalam periode berjalan dihubungkan dengan periode
sebelumnya. Standar akuntansi yang berlaku umum menetapkan bahwa perubahan dalam standar
akuntasi, atau metode aplikasinya standar akuntans yang dipilih dan bahwa sifat dan dampak
perubahan itu diungkapkan secara memadai. Jika perubahan terjadi auditor harus memodifikasi
laporan audit dengan memberikan paragraph penjelasan di bawah paragraf pendapat yang
membahas sifat perubahan tersebut dan menunjukkan kepada pemakai catatan kaki yang
membahas perubahan itu.

2. Ketidakpastiaan yang Material


Umumnya manajemen membuat sejumlah estimasi dalam menyusun laporan keuangan,
termasuk masa manfaat aktiva yang dapat disusutkan, kemungkinan tertagihnya piutang, dan nilai
realisasi persediaan serta aktiva-aktiva lainnya. Biasanya terdapat cukup banyak bahan bukti untuk
mendukung kelayakan estimasi atas pos-pos ini. Tetapi, ada kalanya auditor menghadapi situasi
di mana kelanjutan suatu masalah tidak dapat diestimasi secara wajar pada saat laporan itu
diterbitkan. Masalah-masalah inilah yang disebut sebagai ketidakpastian. Contohnya mencakup
kemungkinan direalisasinya piutang yang signifikan, diperolehnya kembali biaya yang
ditangguhkan hal bersyarat yang menyangkut pajak, penghasilan atau perkara hukum. Akuntansi
untuk berbagai jenis estimasi dan ketidakpastian ini dijelaskan dalam Statemenr FASB No. 5
Akuntansi untuk hal bersyarat.
Jika terdapat ketidakpastian yang material, terlebih dahulu auditor harus mengevaluasi
apakah sudah ada pengungkapan fakta relevan secara memadai di dalam laporan keuangan,
termasuk catatan kaki. Misal, jika terdapar gugaran hukum terhadap klien dalam jumlah yang lebih
besar daripada yang dapat diganti oleh asuransi, GAAP mewajibkan pengungkapan catatan kaki
yang memadai dalam kondisi-kondis berikut ini:
·Ketidakpastian adalah mungkin sekali menjadi kenyataan (probable) dan material; atau
·Ketidakpastian itu cukup mungkin (reasonably possible) dan material dan kemungkinannya
cukup besar, atau sangat material.

3. Keraguan Atas Kelangsungan Hidup


Ada juga situasi yang tidak begitu khusus, di mana kemampuan perusahaan untuk menjaga
kelanjutan usaha perlu dipertanyakan S. AS5 9 (AU 341) menyinggung masalah ini dengan judul
“Pertimbangan Pemeriksa Atas Kemampuan Satuan Usaha Dalam Mempertahankan Hidupnya”.
Sebagai contoh, terdapatnya satu atau dua faktor di bawah ini menimbulkan ketidakpastian
mengenai kelangsungan hidup:
·Kerugian usaha yang besar secara berulang atau kekurangan modal kerja.
·Ketidakmampuan perusahaan untuk membayar kewajibannya pada saat jatuh tempo.
·Kehilangan pelanggan utama, terjadinya bencana yang tidak diasuransikan seperti gempa bumi
atau banjir, atau masalah perburuhan yang tidak biasa.
·Perkara pengadilan, gugatan hukum, atau masalah-masalah serupa yang sudah terjadi dan dapat
membahayakan kemampuan perusahaan untuk beroperasi.
Auditor harus mempertimbangkan secara cermat adanya kemungkinan bahwa klien tidak
mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya atau memenuhi kewajiban-kewajibannya untuk
suatu periode yang wajar. Untuk tujuan ini, periode yang wajar dianggap tidak melebihi satu tahun
dari tanggal laporan keuangan yang sedang diaudit.
Jika auditor menyimpulkan adanya keraguan atas kemampuan perusahaan mempertahankan
kelangsungan hidupnya, pendapat wajar tanpa pengecualian dengan paragraf penjelas perlu dibuat.

4. Setuju dengan Penyimpangan Standar Akuntansi yang Berlaku


Peraturan 203 dari Kode Etik Profesi AICPA menyatakan bahwa dalam keadaan tidak
biasa, penyimpangan dari standar akuntansi yang ditetapkan oleh badan yang dibentuk oleh
AICPA untuk menetapkan standar akuntansi tidak harus menghasilkan pendapat wajar dengan
pengecualian, atau pernyataan tidak memberikan pendapat. Tetapi untuk membenarkan pendapat
wajar tanpa pengecualian, auditor harus yakin dan harus menyatakan dalam paragraf-paragraf
terpisah dalam laporan auditing, bahwa dalam keadaan tersebut, hasil yang menyesarkan dapat
terjadi jika tetap berpegang pada standar akuntansi yang berlaku.

5. Penekanan Atas Suatu Hal


Dalam keadaan tertentu mungkin akuntan publik ingin memberikan penekanan pada hal-
hal spesifik mengenai laporan keuangan yang diperiksanya, meskipun dia bermaksud untuk
memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian. Umumnya, penjelasan terrsebut dipisahkan pada
paragraf tersendiri di tengah-tengah laporan. Berikut ini adalah beberapa penjelasan yang biasanya
dianggap perlu oleh para auditor untuk dinyatakan di dalam laporannya adanyatansaksi yang
siginifikan di antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa, peristiwa penting yang
terjadi setelah tanggal neraca, dan penjelasan mengenai masalah akuntansi yang mempengaruhi
daya banding laporan keuangan tahun ini dengan laporan keuangan tahun sebelumnya.
6. Laporan yang Melibatkan Auditor Lain
Jika akuntan publik menyerahkan sebagian tanggung jawab auditingnya kepada kantor
akuntan publik lain, yang merupakan hal yang lazim jika kliennya memiliki beberapa perusahaan
anak dan divisi yang tersebar luas. auditor lain tersebut tetap bertanggung jawab atas hasil kerja
dan laporannya dalam menghadapi gugatan hukum atau sanksi BAPEPAM.

Sumber: Auditing Pendekatan Sektor Publik dan Privat, Penulis: Sekar Mayangsari, Puspa
Wandanarum, Hal: 24-27.