Anda di halaman 1dari 7

Nama : Rosani Chaerunnisa Ikhsan

NIM : A31115035

PPN dan PPn BM 2

1. Jelaskan tarif PPN dan PPn BM berdasarkan UU No. 42 Tahun 2009 Pasal 7 dan Pasal 8!
Jawab:
Berdasarkan UU No. 42 Tahun 2009
 Pasal 7
a. Tarif PPN adalah 10% (sepuluh persen).
b. Tarif PPN sebesar 0% (nol persen) diterapkan atas:
a) ekspor Barang Kena Pajak (BKP) Berwujud;
b) ekspor BKP Tidak Berwujud; dan
c) ekspor Jasa Kena Pajak.
Pajak Pertambahan Nilai adalah pajak yang dikenakan atas konsumsi Barang Kena Pajak di
dalam Daerah Pabean. Oleh karena itu,
a. Barang Kena Pajak Berwujud yang diekspor;
b. Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari dalam Daerah Pabean yang dimanfaatkan di luar
Daerah Pabean; atau
c. Jasa Kena Pajak yang diekspor termasuk Jasa Kena Pajak yang diserahkan oleh Pengusaha
Kena Pajak yang menghasilkan dan melakukan ekspor Barang Kena Pajak atas dasar pesanan
atau permintaan dengan bahan dan atas petunjuk dari pemesan di luar Daerah Pabean,
dikenai Pajak Pertambahan Nilai dengan tarif 0% (nol persen).

Pengenaan tarif 0% (nol persen) tidak berarti pembebasan dari pengenaan Pajak Pertambahan
Nilai. Dengan demikian, Pajak Masukan yang telah dibayar untuk perolehan Barang Kena
Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak yang berkaitan dengan kegiatan tersebut dapat dikreditkan.

 Pasal 8
a. Tarif PPnBM adalah paling rendah 10% (sepuluh persen) dan paling tinggi 200% (dua ratus
persen).
Tarif Pajak Penjualan atas Barang Mewah dapat ditetapkan dalam beberapa kelompok tarif,
yaitu tarif paling rendah 10% (sepuluh persen) dan paling tinggi 200% (dua ratus persen).
Perbedaan kelompok tarif tersebut didasarkan pada pengelompokan Barang Kena Pajak yang
tergolong mewah yang dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 ayat (1).
b. Ekspor BKP yang tergolong mewah dikenai pajak dengan tarif 0% (nol persen).
Pajak Penjualan atas Barang Mewah adalah pajak yang dikenakan atas konsumsi Barang
Kena Pajak yang tergolong mewah di dalam Daerah Pabean. Oleh karena itu, Barang Kena
Pajak yang tergolong mewah yang diekspor atau dikonsumsi di luar Daerah Pabean dikenai
Pajak Penjualan atas Barang Mewah dengan tarif 0% (nol persen). Pajak Penjualan atas
Barang Mewah yang telah dibayar atas perolehan Barang Kena Pajak yang tergolong mewah
yang diekspor tersebut dapat diminta kembali.

Sumber: Undang-Undang No.42 Tahun 2009 Pasal 7 dan Pasal 8

2. Jelaskan Dasar Pengenaan Pajak (DPP) pada PPN dan PPn BM!
Jawab:
Dasar Pengenaan Pajak adalah dasar yang dipakai untuk menghitung pajak yang terutang, berupa: Jumlah Harga
Jual, Penggantian, Nilai Impor, Nilai Ekspor, atau nilai lain yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan.

1) Harga Jual adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya
diminta oleh penjual karena penyerahan Barang Kena Pajak (BKP), tidak termasuk PPN yang
dipungut menurut Undang-Undang PPN dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak.
2) Penggantian adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh
pengusaha karena penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP),ekspor Jasa Kena Pajak, atau ekspor Barang
Kena Pajak Tidak Berwujud, tetapi tidak termasuk PPN yang dipungut menurut Undang-Undang PPN
dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak atau nilai berupa uang yang dibayar atau seharusnya
dibayar oleh penerima jasa karena pemanfaatan Jasa Kena Pajak dan/atau oleh penerima manfaat Barang Kena
Pajak Tidak Berwujud.
3) Nilai Impor adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar penghitungan bea masuk ditambah pungutan lainnya
yang dikenakan pajak berdasarkan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan Pabean untuk
Impor BKP, tidak termasuk PPN yang dipungut menurut Undang-Undang PPN.
4) Nilai Ekspor adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh
eksportir.
5) Nilai lain adalah nilai berupa uang yang ditetapkan sebagai Dasar Pengenaan Pajak dengan Keputusan Menteri
Keuangan. Nilai lain yang ditetapkan sebagai Dasar Pengenaan Pajak berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor: 75/PMK.03/2010 tanggal 31 Maret 2010 adalah sebagai berikut :
1) untuk pemakaian sendiri BKP dan/atau JKP adalah Harga Jual atau Penggantian setelah dikurangi laba
kotor;
2) untuk pemberian cuma-cuma BKP dan/atau JKP adalah Harga Jual atau Penggantian
setelah dikurangi laba kotor;
3) untuk penyerahan media rekaman suara atau gambar adalah perkiraan harga jual rata-rata;
4) untuk penyerahan film cerita adalah perkiraan hasil rata-rata per judul film;
5) untuk penyerahan produk hasil tembakau adalah sebesar harga jual eceran;
6) untuk Barang Kena Pajak berupa persediaan dan/atau aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk
diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan, adalah harga pasar
wajar;
7) untuk penyerahan Barang Kena Pajak dari pusat ke cabang atau sebaliknya dan/atau penyerahan Barang
Kena Pajak antar cabang adalah harga pokok penjualan atau harga perolehan;
8) untuk penyerahan Barang Kena Pajak melalui juru lelang adalah harga lelang;
9) untuk penyerahan jasa pengiriman paket adalah 10 % (sepuluh persen) dari jumlah yang ditagih atau
jumlah yang seharusnya ditagih; atau
10) untuk penyerahan jasa biro perjalanan atau jasa biro pariwisata adalah 10% (sepuluh persen) dari jumlah
tagihan atau jumlah yang seharusnya ditagih.

Sumber: https://www.academia.edu/7188312/Tarif_and_Mekanisme_Perhitungan_PPN_and_PPNBm

3. Jelaskan Mekanisme Pemungutan PPN dan PPnBM di Indonesia!


Jawab:
Terkait dengan mekanisme pemungutan pajak ini ada tiga konsep yang harus dipahami
terlebih dulu, yaitu:
a) Pajak Keluaran adalah Pertambahan Nilai terutang yang wajib dipungut oleh PKP yang
melakukan penyerahan BKP, penyerahan JKP, atau ekspor BKP.
b) Pajak Masukan adalah PPN yang seharusnya sudah dibayar oleh PKP karena perolehan BKP
dan atau penerimaan JKP dan atau pemanfaatan BKP tidak terwujud dari luar daerah pabean
dan atau pemanfaatan JKP dari luar daerah pabean dan atau impor BKP.
c) Faktur Pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh PKP yang melakukan penyerahan
BKP atau penyerahan JKP, atau bukti pungutan pajak kena impor BKP yang digunakan oleh
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJCB).
Mekanisme pemungutan PPN dan PPnBM ini mencakup dua hal yaitu pengkreditan
pajak masukan dan restitusi.
1) Pengkreditan Pajak Masukan.
Pajak masukan dalam suatu Masa Pajak dapat dikreditkan denga pajak keluaran untuk
masa pajak yang sama (Pasal 9 ayat (2) UU PPN). Apabila ketentuan tersebut tidak dapat
dilakukan, misalnya faktur pajak standar terlambat diterima dari pemasoknya, maka pajak
masukan belum dikreditkan dengan pajak keluaran pada masa pajak yang sama. Dapat
dikreditkan pada masa pajak berikutnya paling lama tiga bulan setelah berakhirnya masa
pajak yang bersangkutan sepanjang:
a) Pajak masukan tersebut belum dibebankan sebagai biaya atau tidak dikapitalisasikan ke
dalam harga perolehan BKP atau JKP yang bersangkutan, dan;
b) Belum dilakukan pemeriksaan. (Pasal 9 ayat (9) dan Pasal 9 ayat (8) huruf (i) UU PPN).
Meskipun jangka waktu tiga bulan setelah berakhirnya tahun buku tersebut telah
terlampaui, pengkreditan pajak masukan tersebut masih dapat dilakukan melalui pembetulan
Surat Pemberitahuan Masa PPN yang bersangkutan selambat-lambatnya dalam jangka waktu
dua tahun sesudah berakhirnya masa pajak.
2) Restitusi.
Sedangkan dalam mekanisme restitusi PPN dan atau PPnBM , mulai tahun 2001 PKP
boleh mengajukan permohonan restitusi pada setiap masa pajak. Mekanisme restitusi PPN
dan/atau PPnBM adalah sebagai berikut.
a) Permohonan restitusi disampaikan kepada Kepala KPP di tempat PKP dikukuhkan.
b) Permohonan restitusi ditentukan satu permohonan untuk satu masa pajak.
c) Permohonan restitusi dengan cara mengisi kolo yang tersedia dalam SPT Masa PPN atau
dengan surat tersendiri (PPnBM atau atas kelebihan pembayaran pajak karena
pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang) dan dilampiri faktur pajak masukan
dan faktur pajak keluaran, untuk impor BKP harus ada pemberithuan impor barang, surat
setoran pajak atau bukti pungutan pajak dari DJCB, laporan pemeriksaan surveyor (LPS),
untuk ekspor BKP dilampirkan pemberitahuan ekspor barang (PEB), Bill of Lading atau
Airway Bill dan wesel ekspor. Dalam hal penyerahan BKP atau JKP kepada pemungut
PPN, dilampirkan kontrak surat perintah kerja dan suat setoran pajak. Sedangkan dalam
hal permohonan pengembalian yang diajukan meliputi kelebihan pembayaran akibat
kompensasi Masa Pajak sebelumnya, maka yang dilampirkan meliputi seluruh dokumen
yang berkenaan dengan kelebihan pembayaran PPN Masa Pajak yang bersangkutan.

Sumber: http://dewifatma022.blogspot.co.id/2014/05/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html

4. Bagaimana cara menghitung PPN?


Jawab:
𝑃𝑃𝑁 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔 = %𝑡𝑎𝑟𝑖𝑓 𝑃𝑃𝑁 𝑥 𝐷𝑃𝑃
PPN yang terutang merupakan Pajak Keluaran (PK) yang dipungut oleh PKP penjual dan
merupakan Pajak Masukan bagi PKP pembeli.

Sumber: http://www.pajak.net/info/tarif_pajak_dan_cara_hitung_PPN_PPnBM.htm
5. Selesaikan soal berikut:
PT. Munirah adalah PKP yang bergerak di bidang penjualan elektronik di Makassar. Selama
bulan Juli 2014 melakukan transaksi sebagai berikut :
 Penjualan langsung ke konsumen sebanyak Rp. 1.400.000.000
 Penyerahan barang elektronik kepada Pemkot Makassar sebesar Rp. 440.000.000 (sudah
termasuk PPN)
 Menyumbangkan ke panti asuhan 1 buah TV seharga Rp. 4.000.000 termasuk keuntungan
sebesar Rp. 400.000
 Membangun gudang elektronik seluas 500 meter persegi di kawasan pergudangan sendiri Rp.
350.000.000
Selanjutnya terdapat transaksi tambahan selama bulan Juli sebagai berikut :
 Mengimpor barang elektronik dari amerika seharga US$ 100.000; Asuransi US$ 1.000;
ongkos angkut ke Makassar US$ 2.000. bea masuk sebesar 10% dari CIF dan bea masuk
tambahan sebesar 4% dari CIF (belum memiliki API dan barang elektronik tersebut termasuk
barang mewah dengan tarif 30%; diasumsikan kurs pajak terhadap US$ adalah Rp. 7.200
 Membeli sebuah mobil box pengangkut barang seharga Rp. 220.000.000 dan sebuah mobil
sedan untuk direktur sebesar Rp. 330.000.000 (harga kedua kendaraan tersebut sudah
termasuk PPN)
Diminta :
1. Hitung PPN dan PPnBM atas transaksi di atas
2. Berapakah PPN yang harus disetor ?
Jawab:
Pembahasan :
 Penjualan langsung ke konsumen sebanyak Rp. 1.400.000.000
PPN = 10% x 1.400.000.000
= Rp. 140.000.000 (PPN keluaran)
 Penyerahan barang elektronik kepada Pemkot Makassar sebesar Rp. 440.000.000 (sudah
termasuk PPN)
DPP = 100/110 x 440.000.000
= Rp. 400.000.000

PPN = 10% x 400.000.000


= Rp. 40.000.000 (PPN Keluaran)
 Menyumbangkan ke panti asuhan 1 buah TV seharga Rp. 4.000.000 termasuk keuntungan
sebesar Rp. 400.000
DPP = 4.000.000 – 400.000
= Rp. 3.600.000

PPN = 10% x 3.600.000


= Rp. 360.000 (PPN keluaran)

 Membangun gudang elektronik seluas 500 meter persegi di kawasan pergudangan sendiri Rp.
350.000.000
DPP = 20% x 350.000.000
= Rp. 70.000.000

PPN = 10% x 70.000.000


= Rp. 7.000.000 (PPN keluaran)

Transaksi tambahan selama bulan Juli :


1. Cost = US$ 100.000 x Rp. 7.200 = Rp. 720.000.000
Insurance = US$ 1.000 x Rp. 7.200 = Rp. 7. 200.000
Freight = US$ 2.000 x Rp. 7.200 = Rp 14.400.000

TOTAL CIF (cost + insurance + freight) = Rp. 741.600.000


Bea masuk (10% dari CIF) = Rp. 74.160.000
Bea masuk tambahan (4% dari CIF) = Rp. 29.664.000

Nilai Impor (CIF+bea masuk+bea tambahan) = Rp. 845.424.000

PPN = 10% x Nilai impor


= 10% x 845.424.000
= Rp. 84. 542 400 (PPN masukan)
PPnBM = 30% x Nilai impor
= 30% x 845.424.000
= Rp. 253.627.200

2. Pembelian mobil box


DPP = 100/110 x 220.000.000
= Rp. 200.000.000
PPN = 10% x 200.000.000
= Rp. 20.000.000 (PPN masukan)

Pembelian mobil sedan untuk direktur


DPP = 100/110 x 330.000.000
= Rp. 300.000.000

PPN = 10% x 300.000.000


= Rp. 30.000.000

Catatan : karena perhitungan PPN ini adalah untuk Perusahaan maka, pembelian mobil
sedan untuk direktur tidak boleh dibebankan/dihitung dalam penghitungan nilai PPN yang
harus disetor nantinya.

Berapakah PPN yang harus disetor ?


PPN keluaran = 140.000.000 + 40.000.000 + 360.000 + 7.000.000
= Rp. 187.360.000

PPN masukan = 84. 542 400 + 20.000.000


= Rp. 104.542.400

Jika PPN keluaran > PPN masukan maka disebut PPN kurang bayar. Namun, jika PPN
keluaran < PPN masukan maka disebut PPN lebih bayar.

Dalam kasus ini, PPN keluaran > PPN masukan maka :


PPN kurang bayar = 187.360.000 - 104.542.400
= Rp. 82.817.600

Jadi, PPN yang harus disetor oleh PT. Munirah adalah Rp. 82.817.600