Anda di halaman 1dari 5

ANALISIS JURNAL

PENGARUH PEMBERIAN TEKNIK RELAKSASI NAFAS


DALAM TERHADAP TINGKAT NYERI PADA PASIEN POST OPERASI
DENGAN ANESTESI UMUM DI RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA

Disusun Oleh :

LINA PURNAMASARI
170204194

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HARAPAN BANGSA
PURWOKERTO
2018
ANALISIS JURNAL

A. Nama Peneliti
Satriyo Agung, Annisa Andriyani, Dewi Kartika Sari
B. Problem
Nyeri pasca bedah merupakan satu dari masalah-masalah keluhan
pasien tersering di rumah sakit. Sebanyak 77% pasien pasca bedah
mendapatkan pengobatan nyeri yang tidak adekuat dengan 71% masih
mengalami nyeri setelah diberi obat dan 80%-nya mendiskripsikan masih
mengalami nyeri tingkat sedang hingga berat (Yuliawati, 2008). Klien
yang menjalani pembedahan akan menerima anestesi baik anestesi umum
(GA), regional (RA) maupun lokal (LA), karena tanpa anestesi tidak
mungkin dilakukan pembedahan terutama prosedur mayor yang
melibatkan anestesi umum (Perry, 2005). Salah satu tanggung jawab
perawat adalah memberi kenyamanan dan rasa aman kepada pasien
dengan cara membantu pasien dalam menemukan cara untuk mengatasi
nyeri. Ada sejumlah terapi yang dapat perawat lakukan dalam
penatalaksanaan nyeri akut post operasi diantaranya yaitu dengan terapi
farmakologis yaitu menggunakan obat analgetik dengan cara berkolaborasi
dengan medis dan dapat juga dengan terapi nonfarmakologis yaitu dengan
menggunakan teknik relaksasi maupun distraksi.
C. Intervensi
Teknik relaksasi dapat digunakan saat individu dalam kondisi sehat
atau sakit dan merupakan upaya pencegahan untuk membantu tubuh segar
kembali dengan meminimalkan nyeri secara efektif (Perry, 2005: 1529).
Teknik relaksasi yang digunakan dalam mengatasi nyeri post operasi di
Rumah Sakit adalah dengan latihan nafas dalam. Adapun keuntungan dari
teknik relaksasi nafas dalam antara lain dapat dilakukan setiap saat di
mana saja dan kapan saja, caranya sangat mudah dan dapat dilakukan
secara mandiri oleh pasien, tanpa suatu media, dapat merilekskan otot-otot
yang tegang, sedangkan kerugiannya adalah tidak efektif dilakukan pada
penderita penyakit pernafasan (Smeltzer, 2001). Kemudian ditegaskan
kembali oleh Carney (1983) dalam Perry (2005) melaporkan hasil
penelitian bahwa 60% sampai 70% klien dengan nyeri kepala yang disertai
ketegangan dapat mengurangi aktifitas nyeri sampai 50% dengan
melakukan relaksasi
D. Comparasion
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan selama praktik dan
melakukan asuhan keperawatan terhadap pasien di ruang keperawatan
Jalak RSUD Dr. M Ashari Pemalang, pada pasien post operasi, rata-rata
mereka mengeluh nyeri setelah efek dari anastesi berkurang, setelah
dilakukan terapi non farmakologi yaitu teknik distraksi relaksasi nafas
dalam, sebagian besar mengatakan nyeri berkurang dengan manggunakan
teknik tersebut. Ini menunjukan bahwa memang ada pengaruh penggunaan
terapi distraksi relaksasi nafas dalam terhadap penurunan intensitas nyeri.
E. Out Come
Terdapat pengaruh pemberian terapi non farmakologi relaksasi
nafas dalam terhadap intensitas nyeri. Hal ini sesuai dengan teori-teori
yang ada, salah satunya adalah teori yang paling terkenal yang
diungkapkan oleh Tamsuri (2006) yaitu teori gerbang terbuka, yang mana
teori ini menyatakan bahwa dengan adanya suatu stimulasi dari luar,
impuls yang ditransmisikan oleh serabut berdiameter besar akan
menghambat impuls dari serabut berdiameter kecil, sehingga sensasi yang
dibawa oleh serabut kecil akan berkurang atau bahkan tidak dihantarkan
ke otak oleh subtansia gelatinosa, oleh karenanya sensasi nyeri akan
berkurang atau bahkan tidak ada. Hasil penelitian ini didukung oleh
penelitian Kresnahadi (2009) yaitu pemberian teknik relaksasi nafas
dalam, efektif mampu menurunkan tingkat nyeri sendi lutut pada atlet
basket. Penelitian Dewi (2007) yang melakukan penelitian terhadap
efektivitas pemberian teknik relaksasi nafas dalam yang dibandingkan
dengan terapi musik, dengan hasil teknik relaksasi nafas dalam lebih
efektif. Berdasarkan uraian di atas penulis menyimpulkan bahwa, setelah
dilakukan teknik relaksasi nafas dalam menunjukkan adanya penurunan
skala intensitas nyeri pada pasien post operasi dengan anestesi umum.
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Terdapat pengaruh pemberian terapi non farmakologi terhadap
penurunan intensitas nyeri pada pasien post operasi. Hasil ini dapat
dijadikan acuan untuk memberikan asuhan keperawatan yang maksimal.
B. Manfaat
1. Pasien : dapat meningkatkan pengetahuan tentang cara mengurangi
nyeri post operasi.
2. Perawat : Mampu meningkatkan kemampuan dalam memberikan
asuhan keperawatan yang optimal terhadap pasien.
3. Rumah sakit: Teknik ini dapat digunakan dengan alasan mudah dan
sederhana dilakukan terhadap pasien dan keluarga.
C. Saran
Dari penelitian ini diharapkan para perawat termotifasi untuk
mengembangkan ilmu pengetahuannya, sehingga dapat dilakukan terapi
alternatif lain untuk meningkatkan ilmunya.