Anda di halaman 1dari 15

PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)

PROSEDUR TINDAKAN
RS SAIFUL ANWAR MALANG
JAWA TIMUR
2013 – 2015

Prosedur Imunisasi DPT

1. Pengertian (Definisi) Prosedur yang dilakukan untuk memberi kekebalan aktif untuk
mencegah penyakit DPT
2. Indikasi 1. Untuk mencegah penyakit diphteri, pertusis, dan
tetanus
2. Diberikan pada bayi lebih dari 6 minggu
3. Diberikan secara serial, usia 2-3 bulan, 4-5
bulan, 6 bulan dan booster 18-24 bulan (1 tahun setelah DPT
III), saat sekolah atau usia 5 tahun, 10-12 tahun dan 18 tahun
4. Untuk anak yang memerlukan catch up DPT
3. Kontra Indikasi 1. Reaksi anafilaksis terhadap vaksin
2. Ensefalopati dalam 7 hari DtaP/ DTwP
4. Persiapan 1. Memberitahukan secara rinci tentang risiko imunisasi dan
risiko apabila tidak divaksinasi
2. Mendapat persetujuan orang tua
3. Periksa apakah penerima vaksin dalam keadaan sehat
4. Periksa jenis vaksin yang diberikan dan yakin bahwa vaksin
tersebut telah disimpan dengan baik dan apakah tampak
tanda- tanda perubahan dari warna atau membeku
5. Periksa apakah vaksin yang diberikan sesuai jadwal
6. Standar jarum suntik ukuran 23 dengan panjang 25 mm, atau
pada bayi kecil menggunakan jarum 26 panjang 16 mm
5. Prosedur Tindakan 1. Bayi dan anak dipegangi orang tua untuk mencegah bayi
bergerak saat disuntik
2. Bersihkan tempat suntikan dengan antiseptik
3. Diberikan pada paha antero lateral atau regio deltoid untuk
anak yang lebih besar, dosis 0,5 ml IM
4. Jarum suntik disuntikkan dengan sudut 60o-90o ke dalam otot
vastus lateralis, jarum harus diarahkan ke arah lutut dan untuk
deltoid jarum diarahkan ke pundak. Tekan dengan ibu jari dan
telunjuk daerah yang akan disuntikkan
5. Diaspirasi untuk memastikan tidak mengenai pembuluh
darah, setelah itu disuntikkan vaksin
6. Setelah vaksin habis, suntik dicabut, dan ditekan sebentar
pada bekas suntikan untuk menghentikan perdarahan
7. Buang jarum disposible pada tempat yang telah disediakan
6. Pasca Prosedur Tindakan 1. Beri petunjuk pada orang tua atau pengasuh apa yang harus
dikerjakan dalam kejadian reaksi yang biasa atau reaksi
ikutan yang lebih berat
2. Bayi atau anak diminta menunggu 15 menit untuk mendeteksi
adanya KIPI awal
3. Catat imunisasi dalam rekam medis pribadi dan dalam
catatan klinis termasuk nomer batch dan jenis vaksin atau
merk dagang vaksin
4. Sisa vaksin disimpan dengan syarat belum kadaluarsa dan
disimpan di suhu 2-8°C
5. Periksa status imunisasi anggota keluarga lainnya
7. Tingkat Evidens IV
8. Tingkat Rekomendasi A
9. Penelaah Kritis
10. Indikator Prosedur Tindakan

11. Kepustakaan 1. Pedoman Imunisasi di Indonesia, edisi IV, Satgas Imunisasi


IDAI. 2011.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
PROSEDUR TINDAKAN
RS SAIFUL ANWAR MALANG
JAWA TIMUR
2013 – 2015

Prosedur Imunisasi Hepatitis B

1. Pengertian (Definisi) Prosedur yang dilakukan untuk memberi kekebalan aktif untuk
mencegah penyakit Hepatitis B
2. Indikasi a. Untuk mencegah penyakit Hepatitis B
b. Diberikan pada bayi cukup bulan atau BB > 2000 gram, usia
0, 1 dan 6 bulan. Booster 5 tahun kemudian
c. Untuk anak yang memerlukan catch up Hepatitis: bila
sesudah dosis pertama terputus, segera diberikan dosis
kedua, dosis ketiga diberikan dengan jarak terpendek 2 bulan
setelah imunisasi kedua.
3. Kontra Indikasi a. Bayi prematur atau kurang dari 2000 gram
b. Tidak ada kontraindikasi absolut
4. Persiapan a. Memberitahukan secara rinci tentang risiko imunisasi dan
risiko apabila tidak divaksinasi
b. Mendapat persetujuan orang tua
c. Periksa apakah penerima vaksin dalam keadaan sehat
d. Periksa jenis vaksin yang diberikan dan yakin bahwa vaksin
tersebut telah disimpan dengan baik dan apakah tampak
tanda- tanda perubahan dari warna atau membeku
e. Periksa apakah vaksin yang diberikan sesuai jadwal
f. Standar jarum suntik ukuran 23 dengan panjang 25 mm, atau
pada bayi kecil menggunakan jarum 26 panjang 16 mm
5. Prosedur Tindakan a. Bayi dan anak dipegangi orang tua untuk mencegah bayi
bergerak saat disuntik
b. Bersihkan tempat suntikan dengan antiseptik
c. Diberikan pada paha antero lateral atau regio deltoid untuk
anak yang lebih besar. Dosis 0,5 ml IM
d. Jarum suntik disuntikkan dengan sudut 60o-90o ke dalam otot
vastus lateralis, jarum harus diarahkan ke arah lutut dan untuk
deltoid jarum diarahkan ke pundak.
e. Diaspirasi untuk memastikan tidak mengenai pembuluh
darah, setelah itu disuntikkan vaksin
f. Setelah vaksin habis, suntik dicabut, dan ditekan sebentar
pada bekas suntikan untuk menghentikan perdarahan
g. Buang jarum atau semprit disposible pada tempat yang telah
disediakan
6. Pasca Prosedur Tindakan a. Beri petunjuk pada orang tua atau pengasuh apa yang harus
dikerjakan dalam kejadian reaksi yang biasa atau reaksi
ikutan yang lebih berat
b. Bayi atau anak diminta menunggu 15 menit untuk mendeteksi
adanya KIPI awal
c. Catat imunisasi dalam rekam medis pribadi dan dalam
catatan klinis termasuk nomer batch dan jenis vaksin atau
merk dagang vaksin
d. Simpan sisa vaksin dengan syarat belum kadaluarsa dan dala
suhu 0-8°C, waktu maksimal 10 bulan
e. Periksa status imunisasi anggota keluarga lainnya
7. Tingkat Evidens IV
8. Tingkat Rekomendasi A
9. Penelaah Kritis
10. Indikator Prosedur Tindakan

11. Kepustakaan a. Pedoman Imunisasi di Indonesia, edisi IV, Satgas Imunisasi


IDAI. 2011.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
PROSEDUR TINDAKAN
RS SAIFUL ANWAR MALANG
JAWA TIMUR
2013 – 2015

Prosedur Imunisasi Campak

1. Pengertian (Definisi) Prosedur yang dilakukan untuk memberi kekebalan aktif untuk
mencegah penyakit Campak
2. Indikasi a. Untuk mencegah penyakit Campak
b. Diberikan pada bayi usia 9-11 bulan
c. Pada anak usia 6 tahun atau usia sekolah
3. Kontra Indikasi Dengan riwayat anafilaktif campak sebelumnya
4. Persiapan a. Memberitahukan secara rinci tentang risiko imunisasi dan
risiko apabila tidak divaksinasi
b. Mendapat persetujuan orang tua
c. Periksa apakah penerima vaksin dalam keadaan sehat
d. Periksa jenis vaksin yang diberikan dan yakin bahwa vaksin
tersebut telah disimpan dengan baik dan apakah tampak
tanda- tanda perubahan dari warna atau membeku
e. Periksa apakah vaksin yang diberikan sesuai jadwal
f. Standar jarum suntik ukuran 23 dengan panjang 25 mm, atau
pada bayi kecil menggunakan jarum 26 panjang 16 mm
5. Prosedur Tindakan a. Campur vaksin dan pelarut vaksin campak, kemudian campur
sampai homogen.
b. Bayi dan anak dipegangi orang tua untuk mencegah bayi
bergerak saat disuntik
c. Bersihkan tempat suntikan dengan antiseptik
d. Diberikan pada paha antero lateral atau regio deltoid untuk
anak yang lebih besar. Dosis 0,5 ml IM
e. Jarum suntik disuntikkan dengan sudut 60o-90o ke dalam otot
vastus lateralis, jarum harus diarahkan ke arah lutut dan untuk
deltoid jarum diarahkan ke pundak.
f. Diaspirasi untuk memastikan tidak mengenai pembuluh
darah, setelah itu disuntikkan vaksin
g. Setelah vaksin habis, suntik dicabut, dan ditekan sebentar
pada bekas suntikan untuk menghentikan perdarahan
h. Buang jarum atau semprit disposible pada tempat yang telah
disediakan
6. Pasca Prosedur Tindakan a. Beri petunjuk pada orang tua atau pengasuh apa yang harus
dikerjakan dalam kejadian reaksi yang biasa atau reaksi
ikutan yang lebih berat
b. Bayi atau anak diminta menunggu 15 menit untuk mendeteksi
adanya KIPI awal
c. Catat imunisasi dalam rekam medis pribadi dan dalam
catatan klinis termasuk nomer batch dan jenis vaksin atau
merk dagang vaksin
d. Simpan sisa vaksin dengan syarat belum kadaluarsa dan
dalam suhu 2-8°C
e. Periksa status imunisasi anggota keluarga lainnya
7. Tingkat Evidens IV
8. Tingkat Rekomendasi A
9. Penelaah Kritis
10. Indikator Prosedur Tindakan

11. Kepustakaan a. Pedoman Imunisasi di Indonesia, edisi IV, Satgas Imunisasi


IDAI. 2011.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
PROSEDUR TINDAKAN
RS SAIFUL ANWAR MALANG
JAWA TIMUR
2013 – 2015

Prosedur Imunisasi Hepatitis B

1. Pengertian (Definisi) Prosedur yang dilakukan untuk memberi kekebalan aktif untuk
mencegah penyakit Hepatitis B
2. Indikasi a. Untuk mencegah penyakit Hepatitis B
b. Diberikan pada bayi cukup bulan atau BB > 2000 gram, usia
0, 1 dan 6 bulan. Booster 5 tahun kemudian
c. Untuk anak yang memerlukan catch up Hepatitis: bila
sesudah dosis pertama terputus, segera diberikan dosis
kedua, dosis ketiga diberikan dengan jarak terpendek 2 bulan
setelah imunisasi kedua.
3. Kontra Indikasi a. Bayi prematur atau kurang dari 2000 gram
b. Tidak ada kontraindikasi absolut
4. Persiapan a. Memberitahukan secara rinci tentang risiko imunisasi dan
risiko apabila tidak divaksinasi
b. Mendapat persetujuan orang tua
c. Periksa apakah penerima vaksin dalam keadaan sehat
d. Periksa jenis vaksin yang diberikan dan yakin bahwa vaksin
tersebut telah disimpan dengan baik dan apakah tampak
tanda- tanda perubahan dari warna atau membeku
e. Periksa apakah vaksin yang diberikan sesuai jadwal
f. Standar jarum suntik ukuran 23 dengan panjang 25 mm, atau
pada bayi kecil menggunakan jarum 26 panjang 16 mm
5. Prosedur Tindakan a. Bayi dan anak dipegangi orang tua untuk mencegah bayi
bergerak saat disuntik
b. Bersihkan tempat suntikan dengan antiseptik
c. Diberikan pada paha antero lateral atau regio deltoid untuk
anak yang lebih besar. Dosis 0,5 ml IM
d. Jarum suntik disuntikkan dengan sudut 60o-90o ke dalam otot
vastus lateralis, jarum harus diarahkan ke arah lutut dan untuk
deltoid jarum diarahkan ke pundak.
e. Diaspirasi untuk memastikan tidak mengenai pembuluh
darah, setelah itu disuntikkan vaksin
f. Setelah vaksin habis, suntik dicabut, dan ditekan sebentar
pada bekas suntikan untuk menghentikan perdarahan
g. Buang jarum atau semprit disposible pada tempat yang telah
disediakan
6. Pasca Prosedur Tindakan a. Beri petunjuk pada orang tua atau pengasuh apa yang harus
dikerjakan dalam kejadian reaksi yang biasa atau reaksi
ikutan yang lebih berat
b. Bayi atau anak diminta menunggu 15 menit untuk mendeteksi
adanya KIPI awal
c. Catat imunisasi dalam rekam medis pribadi dan dalam
catatan klinis termasuk nomer batch dan jenis vaksin atau
merk dagang vaksin
d. Simpan sisa vaksin dengan syarat belum kadaluarsa dan dala
suhu 0-8°C, waktu maksimal 10 bulan
e. Periksa status imunisasi anggota keluarga lainnya
7. Tingkat Evidens IV
8. Tingkat Rekomendasi A
9. Penelaah Kritis
10. Indikator Prosedur Tindakan

11. Kepustakaan a. Pedoman Imunisasi di Indonesia, edisi IV, Satgas Imunisasi


IDAI. 2011.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
PROSEDUR TINDAKAN
RS SAIFUL ANWAR MALANG
JAWA TIMUR
2013 – 2015

Prosedur Imunisasi BCG

1. Pengertian (Definisi) Prosedur yang dilakukan untuk memberi kekebalan aktif untuk
mencegah penyakit tuberculosis
2. Indikasi a. Untuk mencegah penyakit TB
b. Diberikan pada bayi usia 2-3 bulan
c. Pada bayi dengan kontak erat dengan pasien TB dengan
bakteri tahan asam (BTA) +3 sebaiknya diberikan INH
profilaksis dulu, apabila pasien kontak sudah tenang bayi
dapat diberikan BCG
3. Kontra Indikasi a. Bayi atau anak dengan imunodefisiensi, misalnya HIV, gizi
buruk, demam tinggi, infeksi kulit luas, dll
b. Anak dengan uji mantoux positif dan riwayat TB
4. Persiapan a. Memberitahukan secara rinci tentang risiko imunisasi dan
risiko apabila tidak divaksinasi
b. Mendapat persetujuan orang tua
c. Periksa apakah penerima vaksin dalam keadaan sehat
d. Periksa jenis vaksin yang diberikan dan yakin bahwa vaksin
tersebut telah disimpan dengan baik dan apakah tampak
tanda- tanda perubahan dari warna atau membeku
e. Periksa apakah vaksin yang diberikan sesuai jadwal
f. Standar jarum suntik ukuran 23 dengan panjang 25 mm, atau
pada bayi kecil menggunakan jarum 26 panjang 16 mm
5. Prosedur Tindakan a. Campur vaksin dengan pelarut vaksin BCG, kemudian
campur sampai homogen
b. Bayi dan anak dipegangi orang tua untuk mencegah bayi
bergerak saat disuntik
c. Bersihkan tempat suntikan dengan kapas dan air hangat
d. Diberikan pada regio deltoid kanan. Dosis 0,05 ml pada bayi
dan 0,1 cc pada anak yang lebih besar
e. Jarum suntik disuntikkan dengan sudut 15° dari permukaan
kulit, cubit tebal dengan ibu jari dan telunjuk kemudian
masukkan vaksin dalam semprit
f. Masukkan vaksin sampai membentuk indurasi, kulit memucat
dan pori-pori melebar.
g. Setelah vaksin habis, semprit dicabut. Tekan ringan pada
bekas suntikan dengan kapas.
h. Buang jarum atau semprit disposible pada tempat yang telah
disediakan
6. Pasca Prosedur Tindakan a. Beri petunjuk pada orang tua atau pengasuh apa yang harus
dikerjakan dalam kejadian reaksi yang biasa atau reaksi
ikutan yang lebih berat
b. Bayi atau anak diminta menunggu 15 menit untuk mendeteksi
adanya KIPI awal
c. Indurasi BCG dibiarkan dan tidak perlu dimanipulasi oleh
orang tua
d. Penyimpanan vaksin pada suhu 2-8°C dan tidak terkena
matahari. Vaksin kadaluarsa 8 jam setelah pengenceran
e. Catat imunisasi dalam rekam medis pribadi dan dalam
catatan klinis termasuk nomer batch dan jenis vaksin atau
merk dagang vaksin
f. Periksa status imunisasi anggota keluarga lainnya
7. Tingkat Evidens IV
8. Tingkat Rekomendasi A
9. Penelaah Kritis
10. Indikator Prosedur Tindakan

11. Kepustakaan a. Pedoman Imunisasi di Indonesia, edisi IV, Satgas Imunisasi.


IDAI. 2011
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
PROSEDUR TINDAKAN
RS SAIFUL ANWAR MALANG
JAWA TIMUR
2013 – 2015

Prosedur Imunisasi Polio

1. Pengertian (Definisi) Prosedur yang dilakukan untuk memberi kekebalan aktif untuk
mencegah penyakit Polio
2. Indikasi a. Untuk mencegah penyakit polio
b. Diberikan secara serial, usia 0, 2, 4, dan 6 bulan
3. Kontra Indikasi a. Reaksi anafilaksis terhadap vaksin
b. Konsumsi obat imunosupresif, radiasi umum, keganasan,
penderita HIV, demam tinggi, muntah/diare berat
4. Persiapan a. Memberitahukan secara rinci tentang risiko imunisasi dan
risiko apabila tidak divaksinasi
b. Mendapat persetujuan orang tua
c. Periksa apakah penerima vaksin dalam keadaan sehat
d. Periksa jenis vaksin yang diberikan dan yakin bahwa vaksin
tersebut telah disimpan dengan baik dan apakah tampak
tanda- tanda perubahan dari warna atau membeku
e. Periksa apakah vaksin yang diberikan sesuai jadwal
5. Prosedur Tindakan a. Bayi dan anak dipegangi orang tua untuk mencegah bayi
bergerak saat disuntik
b. Diberikan secara oral (OPV) sebanyak dua tetes
6. Pasca Prosedur Tindakan a. Beri petunjuk pada orang tua atau pengasuh apa yang harus
dikerjakan dalam kejadian reaksi yang biasa atau reaksi
ikutan yang lebih berat
b. Catat imunisasi dalam rekam medis pribadi dan dalam
catatan klinis termasuk nomer batch dan jenis vaksin atau
merk dagang vaksin
c. Simpan sisa vaksin pada suhu 2-8°C
d. Periksa status imunisasi anggota keluarga lainnya
7. Tingkat Evidens IV
8. Tingkat Rekomendasi A
9. Penelaah Kritis
10. Indikator Prosedur Tindakan

11. Kepustakaan a. Pedoman Imunisasi di Indonesia, edisi IV, Satgas Imunisasi.


IDAI. 2011.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
PROSEDUR TINDAKAN
RS SAIFUL ANWAR MALANG
JAWA TIMUR
2013 – 2015

Prosedur Imunisasi Haemophyllus influenza tipe b

1.Pengertian (Definisi) Prosedur yang dilakukan untuk memberi kekebalan aktif untuk
mencegah penyakit yang dikarenakan HiB
2.Indikasi a.Untuk mencegah penyakit yang dikarenakan HiB
b.Diberikan pada bayi usia 2, 4, 6 bulan
c.Bayi usia 15-18 bulan
3.Kontra Indikasi Reaksi anafilaksis terhadap vaksin
4.Persiapan a. Memberitahukan secara rinci tentang risiko imunisasi dan
risiko apabila tidak divaksinasi
b. Mendapat persetujuan orang tua
c. Periksa apakah penerima vaksin dalam keadaan sehat
d. Periksa jenis vaksin yang diberikan dan yakin bahwa
vaksin tersebut telah disimpan dengan baik dan apakah
tampak tanda- tanda perubahan dari warna atau
membeku
e. Periksa apakah vaksin yang diberikan sesuai jadwal
f. Standar jarum suntik ukuran 23 dengan panjang 25 mm,
atau pada bayi kecil menggunakan jarum 26 panjang 16
mm
5. Prosedur Tindakan a. Bayi dan anak dipegangi orang tua untuk mencegah bayi
bergerak saat disuntik
b. Bersihkan tempat suntikan dengan antiseptik
c. Diberikan pada paha antero lateral atau regio deltoid untuk
anak yang lebih besar, dosis 0,5 ml IM
d. Jarum suntik disuntikkan dengan sudut 60o-90o ke dalam otot
vastus lateralis, jarum harus diarahkan ke arah lutut dan untuk
deltoid jarum diarahkan ke pundak. Tekan dengan ibu jari dan
telunjuk daerah yang akan disuntikkan
e. Diaspirasi untuk memastikan tidak mengenai pembuluh
darah, setelah itu disuntikkan vaksin
f. Setelah vaksin habis, suntik dicabut, dan ditekan sebentar
pada bekas suntikan untuk menghentikan perdarahan
g. Buang jarum disposible pada tempat yang telah disediakan
6. Pasca Prosedur Tindakan a. Beri petunjuk pada orang tua atau pengasuh apa yang harus
dikerjakan dalam kejadian reaksi yang biasa atau reaksi
ikutan yang lebih berat
b. Bayi atau anak diminta menunggu 15 menit untuk mendeteksi
adanya KIPI awal
c. Catat imunisasi dalam rekam medis pribadi dan dalam
catatan klinis termasuk nomer batch dan jenis vaksin atau
merk dagang vaksin
d. Sisa vaksin disimpan dengan syarat belum kadaluarsa dan
disimpan di suhu 25°C stabil sampai 24 bulan
e. Periksa status imunisasi anggota keluarga lainnya
7. Tingkat Evidens IV
8. Tingkat Rekomendasi A
9. Penelaah Kritis
10. Indikator Prosedur Tindakan

11. Kepustakaan a. Pedoman Imunisasi di Indonesia, edisi IV, Satgas Imunisasi


IDAI. 2011.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
PROSEDUR TINDAKAN
RS SAIFUL ANWAR MALANG
JAWA TIMUR
2013 – 2015

Prosedur Imunisasi Pneumokokus

1. Pengertian (Definisi) Prosedur yang dilakukan untuk memberi kekebalan aktif untuk
mencegah penyakit yang disebabkan Pneumokokus
2. Indikasi a. Untuk mencegah penyakit yang disebabkan Pneumokokus
b. Bayi usia 2, 4, 6 bulan
c. Bayi usia 12-15 bulan
d. Bila anak datang pertama di atas 1 tahun diberikan 2 kali.
Diatas 2 tahun diberikan 1 kali
3. Kontra Indikasi
4. Persiapan a. Memberitahukan secara rinci tentang risiko imunisasi dan
risiko apabila tidak divaksinasi
b. Mendapat persetujuan orang tua
c. Periksa apakah penerima vaksin dalam keadaan sehat
d. Periksa jenis vaksin yang diberikan dan yakin bahwa vaksin
tersebut telah disimpan dengan baik dan apakah tampak
tanda- tanda perubahan dari warna atau membeku
e. Periksa apakah vaksin yang diberikan sesuai jadwal
f. Standar jarum suntik ukuran 23 dengan panjang 25 mm, atau
pada bayi kecil menggunakan jarum 26 panjang 16 mm
5. Prosedur Tindakan a. Bayi dan anak dipegangi orang tua untuk mencegah bayi
bergerak saat disuntik
b. Bersihkan tempat suntikan dengan antiseptik
c. Diberikan pada paha antero lateral atau regio deltoid untuk
anak yang lebih besar. Dosis 0,5 ml IM
d. Jarum suntik disuntikkan dengan sudut 60o-90o ke dalam otot
vastus lateralis, jarum harus diarahkan ke arah lutut dan untuk
deltoid jarum diarahkan ke pundak.
e. Diaspirasi untuk memastikan tidak mengenai pembuluh
darah, setelah itu disuntikkan vaksin
f. Setelah vaksin habis, suntik dicabut, dan ditekan sebentar
pada bekas suntikan untuk menghentikan perdarahan
g. Buang jarum atau semprit disposible pada tempat yang telah
disediakan
6. Pasca Prosedur Tindakan a. Beri petunjuk pada orang tua atau pengasuh apa yang harus
dikerjakan dalam kejadian reaksi yang biasa atau reaksi
ikutan yang lebih berat
b. Bayi atau anak diminta menunggu 15 menit untuk mendeteksi
adanya KIPI awal
c. Catat imunisasi dalam rekam medis pribadi dan dalam
catatan klinis termasuk nomer batch dan jenis vaksin atau
merk dagang vaksin
d. Simpan sisa vaksin dengan syarat belum kadaluarsa dan dala
suhu 2-8°C
e. Periksa status imunisasi anggota keluarga lainnya
7. Tingkat Evidens IV
8. Tingkat Rekomendasi A
9. Penelaah Kritis
10. Indikator Prosedur Tindakan

11. Kepustakaan a. Pedoman Imunisasi di Indonesia, edisi IV, Satgas Imunisasi


IDAI. 2011.