Anda di halaman 1dari 18

BAB III

DASAR-DASAR PERENCANAAN

3.1 Sistem Sumber

Sumber air bermacam-macam, ada tiga sumber air yang paling banyak
ditemukan, yakni air hujan, air permukaan, dan air tanah.
3.1.1 Macam-Macam Sumber

Berdasarkan macam dan sumbernya dibedakan atas tiga bagian yaitu:

a. Air Angkasa
Air angkasa adalah air hujan sebelum jatuh ke permukaan bumi yang terjadi
dari proses evaporasi dari air permukaan dan evaporasi dari tumbuh-tumbuhan
oleh bantuan sinar matahari, dan memalui proses kondensasi kemudian jatuh
ke bumi dalam bentuk hujan salju ataupun embun.

Air angkasa atau air hujan merupakan sumber utama air di bumi. Walau pada
saat presipitasi merupakan air yang paling bersih, air tersebut cenderung
mengalami pencemaran ketika berada di atmosfer. Pencemaran yang
berlangsung di atmosfer itu dapat disebabkan oleh partikel debu,
mikroorganisme dan gas.
Maka untuk menjadikan air hujan sebagai sumber air minum hendaklah
menampung air hujan terlebih dahulu dan bukan pada saat hujan mulai turun
karena masih banyak mengandung kotoran (Sutrisno, 1996).
b. Air Permukaan

Air permukaan adalah air yang berada di atas permukaan tanah baik yang

mengalir maupun yang tergenang seperti sungai, danau, dan waduk. Pada

umumnya air permukaan ini akan mengalami pengotoran selama pengaliran.

Dibandingkan dengan sumber lain air permukaan merupakan sumber air yang

tercemar berat. Keadaan ini terutama berlaku bagi tempat-tempat yang dekat

dengan tempat tinggal penduduk. Hampir semua sisa kegiatan manusia yang

menggunakan air atau dicuci dengan air, pada waktunya akan dibuang ke dalam
air permukaan. Disamping manusia, flora dan fauna juga turut mengambil

bagian dalam mengotori air permukaan, misalnya batang-batang kayu,

daun-daun, tinja, dan lain-lain.

Oleh karena itu, mutu air permukaan perlu mendapat perhatian yang seksama
kalau air permukaan akan dipakai sebagai bahan baku air bersih (Kusnoputanto,
1986).
c. Air Tanah

Air tanah adalah air yang tersimpan/terperangkap di dalam lapisan batuan yang
mengalami pengikisan/penambahan secara terus menerus oleh alam. Air tanah
merupakan sebagian air hujan yang mencapai permukaan bumi dan menyerap ke dalam
lapisan tanah dan menjadi air tanah. Sebelum mencapai lapisan tempat air tanah, air
hujan akan menembus beberapa lapisan tanah dan menyebabkan terjadinya kesadahan
pada air. Kesadahan pada air ini akan menyebabkan air mengandung zat-zat mineral
dalam konsentrasi. Zat-zat mineral tersebut antara lain kalsium, magnesium, dan logam
berat seperti besi dan mangan.

3.2 Intek

Intake atau bangunan penangkap air adalah bangunan penyadap air atau
alat yang berfungsi untuk mengambil air dari sumbernya. Pada dasarnya
intaked i l e n g k a p i d e n g a n k i s i - k i s i a t a u s a r i n g a n d i m a n a
a i r b a k u m a s i h d a p a t melewatinya. Fungsi dari bangunan penangkap
air adalah untuk menampung air s e m e n t a r a s e b e l u m d i a l i r k a n m e l a l u i
p i p a t r a n s m i s i . H a l i n i u n t u k m e n j a m i n kuantitas air bersih sesuai dengan
kebutuhan kota.

Jenis jenis intake dibagi menjadi berikut:

- Direct Intake

Digunakan untuk sumber air pada sungai atau danau dengan kedalaman yang
cukup tinggi. Intake jenis ini memungkinkan terjadinya erosi pada dinding dan
pengendapan di bagian dasarnya.
- Indirect Intake
a. River Intake

Menggunakan pipa penyadap dalam bentuk sumur pengumpul. Intake ini

lebih ekonomis untuk air sungai yang mempunyai perbedaan level muka

air pada musim hujan dan musim kemarau yang cukup tinggi.

Gambar 3.1. River Intake

b. Canal Intake

Digunakan untuk air yang berasal dari kanal. Dinding chamber sebagian

terbuka ke arah kanal dan dilengkapi dengan pipa pengolahan selanjutnya.


Gambar 3.2. Canal Intake

c. Reservoir Intake

Digunakan untuk air yang berasal dari dam dan dengan mudah

menggunakan menara intake. Menara intake dengan dam dibuat terpisah

dan diletakkan di bagian hulu. Untuk mengatasi fluktuasi level muka air.

Inlet dengan beberapa level diletakkan pada menara.

Gambar 3.3. Reservoir Intake


d. Spring Intake

Digunakan untuk air yang diambil dari mata air atau dari air tanah.

Dalam pengumpulan mata air, hendaknya dijaga supaya kondisi tanah tidak

terganggu.

Gambar 3.4. Spring Intake

e. Gate Intake

Gate Intake ini berfungsi sebagai screen dan merupakan pintu air pada

prasedimentasi.

Gambar 3.5. Gate Intake

3.2.1 Fungsi Inteke


Fungsi dari bangunan penangkap air ini adalah untuk menampung air sementara dari
sumber untuk menjaga kuantitas debit air yang dibutuhkan oleh instalasi sebelum
dialirkan melalui pipa transmisi ke sumur pengumpul dan tujuannya untuk menjamin
kuantitas air minum sesuai dengan kebutuhan kota. Fungsi lainnya juga mengambil
air baku sesuai debit yang diperlukan instalasi pengolahan yang direncanakan untuk
menjaga kontinuitas penyediaan air.

3.2.2 Bangunan Pelengkap pada Intake

Bangunan penangkap air juga dilengkapi dengan beberapa peralatan beserta fungsinya,
yaitu:

a) Screen, berfungsi menyaring partikel kasar dan ikan – ikan kecil yang ada
pada air agar kotoran yang masuk ke dalam pipa transmisi dapat berkurang
sehingga kemungkinan terjadinya pengendapan dalam pipa berkurang.

Gambar 3.6 Bangunan penangkap air: Screen


b) Gate valve, berfungsi untuk membuka dan menutup aliran.

Gambar 3.7 Bangunan Penangkap air: Gate Valve


c) Blow off, berfugsi dalam mengeluarkan endapan atau Lumpur di dalam pipa.

Gambar 3.8 Bangunan Penangkap air: Blow Off


d) Overflow, berfungsi untuk menyalurkan kelebihan air sehingga tinggi muka
air akan konstan.

Gambar 3.9 Bangunan penangkap air: Overflow


e) Bench atau Elbow, berfungsi untuk menghubungkan belokan pipa.

Gambar 3.10 Bangunan penangkap air: Bench


f) Air valve, berfungsi untuk mengeluarkan udara yang terakumulasi dalam
pipa.
Gambar 3.11 Bangunan Penangkap air: Air Valve

3.3 Reservoir Transmisi

Bak penampung / reservoir atau lebih tepatnya Ground Reservoir berfungsi sebagai
penampung/penyimpanan air, baik dari hasil olahan (jika menggunakan pengolahan)
maupun langsng dari sumber mata air. Selain itu, bak penampung berfungsi untuk
mengatasi masalah naik turunnya kebutuhan air dan merupakan bagian dari
pengelolaan distribusi air di masyarakat.

3.4 Sistem Transmisi

Sistem transmisi merupakan suatu sistem yang mengalirkan air baku dari sumber air ke
distribusi atau dari sumber ke unit pengolahan atau dari sumber ke reservoar
distribusi.. Dalam perencanaan dibuat beberapa jalur alternatif dan dipilih
jalur yang paling menguntungkan ditinjau dari segi teknis dan ekonomis.

Fungsi transmisi adalah mengalirkan air dari sumber ke sistem awal distribusi. Jarak
antara sumber air dan sistem distribusi boleh jadi berkilo-kilometer tetapi bisa juga
dekat, hanya satu dua kilometer. Kualitas air yang ditransmisikannya bisa berupa air
baku, bisa juga air bersih (olahan, baik setengah diolah maupun sudah selesai diolah).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan sistem transmisi adalah:

 Kontinuitas aliran setiap saat

 Sistem pembagaian head yang merata pada seluruh daerah pelayanan

 Kehilangan air relatif kecil

 Dapat menjangkau seluruh daerah pelayanan dan titik yang kritis

 Sistem membagi aliran yang merata dan dalam jumlah yang cukup
3.3.1 Sistem Pengaliran

Fungsi transmisi yaitu untuk menyalurkan air bersih dari sumber air ( sungai / danau )

ke ground reservoir kemudian didistribusikan ke daerah yang membutuhkan air bersih.

Penyaluran air bersih tersebut tergantung dari lokasinya. Cara penyalurannya sebagai

berikut:

a. Sistem Gravitasi

Sistem gravitasi adalah sistem pengaliran air dari sumber ke tempat Reservoir dengan

cara memanfaatkan energi potensial gravitasi yang dimiliki air. Sistem ini digunakan

bila elevasi sumber air baku atau pengolahan jauh berada diatas elevasi daerah

pelayanan. Karena menggunakan gaya gravitasi sehingga sistem ini dapat memberikan

energi potensial cukup tinggi hingga pada daerah pelayanan terjauh. Sistem ini

merupakan yang paling menguntungkan karena pengoperasian dan pemeliharaannya

mudah dilakukan.

Gambar 3.12 Sistem Pengaliran Gravitasi

b. Sistem Pompa

Sistem pompa pada prinsipnya adalah menambah energi pada aliran sehingga dapat

mencapai tempat yang lebih tinggi. Sistem ini digunakan bila beda elevasi antara

sumber air atau instalasi dengan daerah pelayanan tidak dapat memberikan tekanan air

yang cukup, sehingga air yang akan didistribusikan dipompa langsung ke jaringan
distribusi. Kelemahan sistem ini yaitu dalam hal biaya yang besar karena dibutuhkan

pompa untuk pengalirannya.

Gambar 3.13 Sistem Pengaliran Pompa

c. Sistem Gabungan

Sistem gabungan yaitu sistem pengaliran air dari sumber ketempat reservoir dengan
cara menggabungkan dua sistem transmisi yaitu sistem pompa dan sistem gravitasi
secara bersama – bersama.
Pada sistem gabungan, reservoir distribusi digunakan untuk mempertahankan tekanan
yang diperlukan selama periode pemakaian tinggi dan pada kondisi darurat, misalnya
bila terjadi kebakaran atau tidak adanya energi. Selama periode pemakaian rendah,
sisa air dipompakan ke reservoir.

3.3.2 Peralatan Pelengkap

Adapun peralatan dan perlengkapan yang dignakan dalam system transmisi air ini,
yaitu:

 Fitting dan Penyambungan Pipa

Fungsi dari fitting dan penyambung pipa yaitu sebagai penyambungan pipa dengan
ukuran yang sama, untuk menyambung pipa dengan ukuran yang berbeda digunakan
reducer atau increaser, dan untuk mengubah arah aliran dan membagi aliran
digunakan.

 Wash Out

Untuk menggelontor sedimen dalam pipa


 Gate Valve

Digunakan untuk mengatur arah aliran dan menghentikan aliran dalam pipa.

 Air Release Valve


Berfungsi untuk mengeluarkan udara yang terakumulasi dalan pipa. Jika udara
terakumulasi dalam pipa, maka profil basah akan menyempit bahkan dapat
mengganggu aliran sehingga aliran akan mengecil atau berhenti sama sekali.
 Air Admission Valve
Menghindari under-pressure dengan memasukkan udara ke dalam pipa ketika
internal pressure terlalu rendah.
 Check Valve (Katup Penahan Aliran balik)

Katup ini berfungsi untuk mencegah aliran balik di dalam saluran.

 Blow Off/Wash Out (Katup Penguras)

Katup ini berfungsi untuk mengeluarkan endapan atau sedimen yang terdapat pada
pipa.

 Bak pelepas tekan (BPT)

Sistem gravitasi diterapkan bila beda tinggi yang tersedia antara sumber air dan lokasi
bangunan pengolahan mencukupi. Namun bila beda tinggi (tekanan) yang tersedia
berlebihan maka memerlukan bangunan yang disebut bak pelepas tekan (BPT).
Gambar 3.23 menggambarkan jaringan distribusi dengan BPT.

Gambar 3.14 Jaringan Transmisi dengan BPT

Bak pelepas tekan dibuat untuk menghindari tekanan yang tinggi, sehingga tidak akan
merusak sistem perpipaan yang ada. Idealnya bak ini dibuat bila maksimal
mempunyai beda tinggi 60-70 m, namun kadang sampai beda tinggi 100 m tergantung
dari kualitas pipa transmisinya. Bak ini dibuat di tempat dimana tekanan tertinggi
mungkin terjadi atau pada stasiun penguat (boaster pump) sepanjang jalur pipa
transmisi.BPT ditempatkan pada titik-titik tertentu pada pipa transmisi, yang
mempunyai beda tinggi antara 60 meter sampai 100 meter, terhadap titik awal
transmisi. Beda tinggi yang dimaksud sangat tergantung pada jenis pipa. Biasanya
untuk jenis PVC dan ACP beda tinggi maksimum untuk penempatan BPT adalah 70
meter. Untuk pipa jenis baja atau DCIP, beda tinggi maksimum untuk penempatan
BPT adalah 100 meter. Untuk jenis pipa lainnya dapat mengikuti standar nasional
maupun standar internasional yang berlaku. Waktu detensi (td) adalah (1-5) menit.

Spesifikasi :

Digunakan bilamana selisih tinggi (ΔH) sebagai berikut.

a. 80 meter untuk jenis pipa besi (galvanis iron)

b. 65 meter untuk jenis pipa PVC (Poly Vinyl Carbonat)

Berikut ini merupakan gambar dari Bak Pelepas Tekan (BPT)

Gambar 3.15 Bak Pelepas Tekan (BPT)

3.5 Sistem Distribusi

Reservoir distribusi mempunyai fungsi penting bagi sistem penyediaan air bersih di
suatu kota. Perbedaan kapasitas pada jaringan transmisi yang menggunakan
kebutuhan maksimum per hari dengan kebutuhan pada jam puncak untuk sistem
distribusi, menyebabkan dibutuhkannya reservoir distribusi. Saat pemakaian air
berada di bawah rata-rata, reservoir akan menampung kelebihan air untuk digunakan
saat pemakaian maksimum.

Pendistribusian air minum kepada konsumen dengan kuantitas, kualitas dan tekanan
yang cukup memerlukan sistem perpipaan yang baik, reservoir, pompa dan dan
peralatan yang lain. Metode dari pendistribusian air tergantung pada kondisi topografi
dari sumber air dan posisi para konsumen berada. Menurut Howard, S.P.,et.al (1985)
sistem pengaliran yang dipakai adalah sebagai berikut:

a. Cara Gravitasi
Cara pengaliran gravitasi digunakan apabila elevasi sumber air mempunyai
perbedaan cukup besar dengan elevasi daerah pelayanan, sehingga tekanan
yang diperlukan dapat dipertahankan. Cara ini dianggap cukup ekonomis,
karena hanya memanfaatkan beda ketinggian lokasi.
b. Cara Pemompaan
Pada cara ini pompa digunakan untuk meningkatkan tekanan yang diperlukan
untuk mendistribusikan air dari reservoir distribusi ke konsumen. Sistem ini
digunakan jika elevasi antara sumber air atau instalasi pengolahan dan daerah
pelayanan tidak dapat memberikan tekanan yang
c. Sistem Pompa dan Reservoir
Sistem ini bekerja dengan menggabungkan kemampuan dari penyaluran secara
gravitasi dengan juga digunakannya pompa. Pompa digunakan selain untuk
mengalirkan air bersih ke daerah pelayanan juga mengisi reservoir distribusi.
Hal ini terjadi saat kebutuhan air sedang rendah, sehingga sisa air yang tidak
dialirkan ke daerah pelayanan akan dipompakan ke reservoir distribusi. Dan
bila kebutuhan air meningkat, maka air bersih yang terdapat pada reservoir
distribusi akan dialirkan untuk mendukung pengaliran air bersih dari pompa.

Perpipaan dan perlengkapa pada sistem distribusi adalah sebagai berikut:

1. Jenis Pipa Distribusi


Jenis pipa distribusi yang biasa dipakai dalam jaringan distribusi air
adalah:
a. Asbes cement
b. Polivinyl chloride (PVC)
Pemeliharaan bahan pipa yang akan digunakan tergantung pada:

a. Harga pipa
b. Tekanan dalam sistem
c. Sifat korosif dari tanah terhadap pipa
d. Keadaan lalu lintas

Dari pemeliharaan keempat point diatas lebih ekonomis memakai pipa AC


dan PVS. Dalam perencanannya dipakai pipa AC dan PVS karena:

a. Murah
b. Perawatan mudah (tidak mudah korosif)
c. Perlengkapan mudah diganti dan diperoleh
d. Ringan
2. Perlengkapan Distribusi
Perlengkapan distribusi untuk menunjang distribusi agar berfungsi secara
teratur, adalah sebagai berikut:
a. Fire Hydrant
Berfungsi sebagai pemadam ketika kebakaran, biasa ada didaerah
padat penduduk atau tempat keramaian, ditempatkan pada
persimpangan / persilangan jalan, di tepi jalan.
b. Monhole
Berfungsi sebagai pemeriksa / perbaikan bila ada kerusakan. Biasa
ditempatkan pada jalur pipa dengan jarak 300-600 atau pada tempat
yang terdapat peralatan penting.
c. Pembuangan Lumpur
Berfungsi sebagai pembuang lumpur yang terendap pada jalur pipa.
Biasa diletakkan pada titik rendah suatu jalur pipa, dimana yang
berdekatan dengan saluran pembuang.
d. Bangunan Perlintasan
Biasanya digunakan ketika ada jaringan pipa yang memotong atau
melintasi sungai/ rel kereta api. Jika pipa tersebut memotong sungai
maka harus adanya angker yang disatukan pada pipa yang ada, ataupun
jika tidak memungkinkan bisa dibuatkan jembatan pipa sendiri.
Sedangkan untuk pipa yang memotong rel kereta api biasanya
digunakan pipa beton yang lebih besar dari pipa air minum, karena
untuk melindungi dari tekanan dan getaran bila kereta api sedang
melintasinya, dengan konstruksi pemasangan pipa air minum tidak
bersentuhan dengan betonnya.
e. Gate Valve
Berfungsi sebagai pengatur udara pada pipa, yang penempatannya
diletakan pada bagian tertinggi suatu pipa.
f. Air Valve
Berfungsi sebagai pelepasan udara yang terdapat (terperangkap) dalam
pipa, diletakan pada bagian tertinggi suatu pipa.
g. Non Return Valve
Berfungsi untuk menghindari water hamer dalam pipa.
h. Bak Pelepas Tekanan
Berfungsi untuk melepas tekanan yang berlebihan dalam pipa.
i. Blow Off Valve
Biasa dipasang pada setiap titik mati atau titik terendah dari setiap jalur
pipa.
j. Check Valve
Berfungsi ketika pompa mati maka pukulan akibar aliran balik tidak
merusak pipa. Biasa dipasang pada pengaliran pipa satu arah diantara
pompa dari gate valve.
k. Thrust Block
Berfungsi sebagai penahan untuk menjaga agar fitting tidak bergerak
ketika pipa mengalami beban hidrolik yang tidak seimbang, semisal
pergantian diamater, akhir pipa dan belokan. Pada umumnya, Thrust
Blok lebih praktis setelah saluran ditimbun dengan tanah dan
dipadatkan, untuk menahan getaran/gaya hidrolik atau beban lain.
Thrust Blok hendaknya dipasang pada sisi parit, maka perlu meratakan
sisi parit, maka perlunya meratakan sisi parit atau menggali sebuah
lubang masuk ke dalam dinding parit untuk menahan gaya geser.
l. Meter Tekanan
Berfungsi untuk mengetahui besar tekanan kerja pompa. Untuk
mengkontrol dari tekanan pipa agar aman, serta menjaga kontinuitas
aliran. Meter tekanan biasanya dipasang pada pompa.
3. Sambungan pipa dan perlengkapannya
1. Bell and Spigot
Spigot dari suatu pipa dimasukkan kedalam bell (socket) pipa lainnya.
Untuk menghindari kebocoran dan menahan pipa serta memungkinkan
terjadinya defleksi (berubahnya sudut sambungan) maka sambungan
biasanya dilengkapi dengan gasket.
2. Bend
Merupakan belokan pipa, dengan sudut belokan 900; 450; 22; 50; 11,50.
3. Flange Joint
Biasanya dipakai untuk pipa bertekanan tinggi, untuk sambungan yang
dekat dengan instalasi pompa sebelum kedua flange disatukan dengan mur
dan baut, maka diantara flange disisipkan packing untuk mencegah
kebocoran.
4. Increaser dan Reduser
Increaser digunakan untuk menyambung pipa diameter kecil ke diameter
besar (arah aliran dari diameter kecil ke diameter besar). Sedangkan
reduser sebaliknya.
5. Tee
Untuk menyambung pipa pada percabangan.
6. Tapping Bend
Dipasang pada tempat yang tidak perlu disadap, untuk dialirkan ke
tempat yang lain dalam hal ini pipa distribusi dibor dan tapping bend
dipasang dengan baut disekeliling pipa dengan memeriksa. agar cicin
melingkar penuh pada sekeliling lubang dan tidak menutupi lubang
tapping.

3.6 Reservoar Distribusi

Reservoir distribusi mempunyai fungsi penting bagi sistem penyediaan air bersih di
suatu kota. Perbedaan kapasitas pada jaringan transmisi yang menggunakan kebutuhan
maksimum per hari dengan kebutuhan pada jam puncak untuk sistem distribusi,
menyebabkan dibutuhkannya reservoir distribusi. Saat pemakaian air berada di bawah
rata-rata, reservoir akan menampung kelebihan air untuk digunakan saat pemakaian
maksimum
Fungsi dari reservoir diantaranya:

 Mengumpulkan air bersih.

 Menyimpan air untuk mengatasi fluktuasi pemakaian air yang berubah tiap jam.

 Meratakan aliran dan tekanan air bila pemakaian air daerah pelayanan bervariasi.

 Mendistribusikan air ke daerah pelayanan.

 Menyimpan cadangan air untuk pemadam kebakaran

3.6.1 Penentuan Volume

Kapasitas reservoir ditentukan dari grafik fluktuasi pemakaian air selama sehari
penuh (24 jam) dengan mengambil jumlah persentase dari surplus maksimum dan
defisit minimum. Ditambah dengan sejumlah cadangan untuk keperluan mendadak
yang nantinya dapat dipakai untuk mengatasi bahaya kebakaran. Kapasitas reservoir ini
juga harus mampu mengatasi kebutuhan air di saat puncak. Besarnya suplai ke
reservoir merupakan debit rata-rata yaitu sebesar 4,17 %, sehingga disaat pemakaian
berada di bawah rata-rata reservoir akan menampung kelebihan air untuk digunakan
saat pemakaian maksimum. Namun bila data fluktuasi pemakaian air tidak tersedia,
maka perhitungan kapasitas reservoir dapat langsung dihitung dengan
memperkirakannya sebesar 15%-30% (Steel, Ernest W., 1989) atau 15%-20%
(Hammer, Mark J., 1986) dari debit rata-rata. Kapasitas reservoir dihitung sebesar:
(15%-30%).

Perhitungan volume reservoir ini digunakan untuk mengetahui persen tiap jam
pemakaian air sehingga dapat ditentukan berapa volume reservoir dengan cara sebagai
berikut :

𝑘𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑖𝑟
Produksi Air Kumulatif = × 3600
1000

Pemakaian Air = Produksi Air x 24 x % pemakaian air

Pemakaian Kumulatif = Pemakaian Air + Pemakaian Air selanjutnya

Sisa Air = Produksi Kumulatif – Pemakaian Air

Volume Reservoir = Jumlah sisa air terbesar – Jumlah sisa air tercukupi
3.6.2 Perletakan Reservoir

Peletakkan reservoir distribusi perlu diperhatikan dalam suatu sistem jaringan


distribusi. Reservoir distribusi dapat ditempatkan di lokasi yang relatif tinggi pada
daerah perencanaan dan sedapat mungkin terletak di pusat atau di lokasi yang terdekat
dengan daerah pelayanan. Jika sistem distribusi air tidak dapat dilakukan secara
gravitasi akibat tidak adanya lokasi yang tidak cukup memadai, maka tipe reservoir
yang dipilih dapat merupakan kombinasi antara reservoir yang ditempatkan di dalam
tanah (ground reservoir) dengan menara air (elevated reservoir) yang terletak di atas
3.6.3 Perlengkapan pada Reservoir

Secara umum, reservoir harus memiliki perlengkapan berikut yakni:

a) Pipa Inlet : merupakan pipa yang mengalirkan air dari BPAM menuju
reservoir
b) Pipa Outlet : Merupakan pipa yang mengalirkan air keluar dari reservoir
menuju daerah pelayanan
c) Overflow: digunakan untuk menyamakan muka air, yang jika alirann air
melebihi batas kapasiats reservoir maka air tersebut akan dilimpahkan melalui
ventilasi
d) Drain : Merupakan pipa penguras yang berfungsi untuk menguras reservoir
jika sudah terlalu banyak endapan di dasar reservoir.

Selain perlengkapan di atas, reservoir juga dapat dilengkapi oleh:

1. Alat ukur yang berupa venturi meter dan water meter


2. Pembubuh desinfektan permukaan tanah dengan ketinggian tertentu.