Anda di halaman 1dari 22

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada bahan bakar Gasoil, memiliki banyak metode pengujian

mutu dan kualitas, salah satunya adalah sifat kemudahan mengalir dengan

menggunakan metode Pour Point. Pour Point adalah suhu terendah di

mana minyak masih bisa mengalir apabila didinginkan pada kondisi

pengujian. Penentuan Sifat kemudahan mengalir ini berkaitan dengan

perubahan suhu pada transportasi dan penyimpanan bahan bakar Gasoil.

karena, pada suhu tertentu bahan bakar Gasoil dapat membeku dan tidak

dapat di pompakan atau di alirkan.

Dalam industri migas, bahan bakar Gasoil perlu di uji dengan sifat

mudah mengalir agar tidak membeku, supaya Gasoil tersebut mudah di

alirkan maka titik Pour Point nya harus on specification dalam artian

diatas batas minimum yang telah ditentukan. Jika titik Pour Point nya off

specification dalam artian di bawah batas minimum yang telah ditentukan.

Penentuan Pour Point ini menggunakan alat ASTM D-97.

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Umum

Tujuan umum dari Kerja Praktek ini adalah :

1. Mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat pada saat

perkuliahan.

2. Mahasiswa dapat mengetahui kondisi di lapangan.

1
3. Mahasiswa dapat memenuhi program perkuliahan kerja praktek

di semester 5.

4. Mahasiswa dapat menambah ilmu dan pengalaman selama

kerja praktek.

1.2.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari Kerja Praktek ini adalah :

1. Mengetahui jenis-jenis dari bahan bakar Gasoil beserta angka

cetane pada umumnya.

2. Mengetahui sifat utama dari bahan bakar Gasoil.

3. Mengetahui titik Pour Point pada bahan bakar Gasoil.

4. Mengetahui spesifikasi dari bahan bakar Gasoil.

1.3 Manfaat

1.3.1 Manfaat Bagi Mahasiswa

1. Dapat mengetahui berbagai masalah di lapangan ;

2. Mendapat pengetahuan dan keterampilan yang lebih aplikatif

dalam bidang yang di minati ;

3. Bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah ; dan

4. Menggunakan metodologi yang relevan untuk menganalisa

situasi, mengidentifikasi masalah, menetapkan alternatif

pemecahan masalah, merencanakan program intervensi,

menerapkan program intervensi, melakukan pemantauan

kegiatan intervensi, serta menilai keberhasilan intervensi.

2
1.3.2 Manfaat Bagi AKAMIGAS Balongan

1. Terbinanya suatu jaringan kerjasama dengan institusi tempat

kerja praktek dalam upaya meningkatkan keterkaitan dan

kesepadanan antara substansi akademik dengan pengetahuan

dan keterampilan sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam

dunia industri ;

2. Tersusunnya kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan nyata di

lapangan ; dan

3. Meningkatkan kapasitas dan kualitas pendidikan dengan

melibatkan tenaga dari lapangan dalam kegiatan kerja praktek.

1.3.3 Manfaat Bagi Institusi Tempat Kerja Praktek

1. Dapat bekerjasama dengan mahasiswa untuk membantu

kegiatan operasional institusi ;

2. Dapat bekerjasama dengan tenaga pembimbing akademik

untuk memberikan masukan yang relevan dengan kegiatan

manajemen maupun kegiatan operasional institusi tempat kerja

praktek ;

3. Dapat memperoleh masukkan yang lebih luas dari Civitas

Akademika Akamigas Balongan pada kegiatan seminar, kerja

praktek, lokakarya dan lain sebagainya ;

4. Dapat mengembangkan kemitraan dengan Akamigas Balongan

dan institusi lain yang terlibat dalam kegiatan kerja praktek,

baik untuk kegiatan kerja praktek maupun pengembangan.

3
II. TINJAUAN TEORI

2.1 Minyak Solar ( Gasoil )

Minyak solar atau yang biasa disebut Minyak diesel adalah fraksi

minyak bumi yang mempunyai trayek titik didih antara 200 – 350oC dan

digunakan untuk bahan bakar mesin diesel. Mesin diesel sistem

penyalaannya tidak menggunakan busi, tetapi penyalaannya terjadi karena

suhu tinggi yang dihasilkan dari pemampatannya dengan udara didalam

silinder mesin. Oleh karena itu mesin diesel dirancang dengan perbandingan

kompresi (compression ratio) yang tinggi (diatas 12 : 1). Tekanan kompresi

bisa mencapi 400 - 700 psi dan suhu udara setelah dimampatkan mencapai

1000oF atau lebih. Supaya bahan bakar diesel dapat masuk kedalam silinder

yang berisi udara bertekanan tinggi, maka bahan bakar harus ditekan dengan

pompa injektor sampai 20.000 psi. (Karjono.2006)

Bahan bakar Gasoil merupakan campuran distilasi ringan dan berat.

Spesifikasi terpenting dari solar adalah cetane number, sulfur, dan Pour

Point atau cloud point. Angka cetane terkait dengan kualitas pembakaran

bahan bakar dalam mesin. Kandungan belerang yang diperbolehkan dari

solar yang dijual ke pasaran mempengaruhi masalah polusi lingkungan yang

dihasilkan dari pembakaran bahan bakar ini. Titik tuang atau titik awan

diesel terkait dengan penyimpanan dan penanganan properti diesel dan

tergantung pada kondisi iklim di mana bahan bakar digunakan. (Parkash,

Surinder.2003)

4
2.2 Sifat Bahan Bakar Gasoil

2.2.1 Sifat Umum

Sifat umum ditetukan dengan pemeriksaan

 Analisa Densitas ( ASTM D-4052)

Densitas Merupakan massa yang terdapat dalam satu

satuan volume yang biasanya dinyatakan dalam gr/cm3 atau lb/ft3.

Densitas sering dinyatakan dalam gravitas API, Gravitas spesifik

(Spesific Gravity) atau berat jenis dan lb/ft3 atau lb/barrel. Berat

jenis minyak adalah densitas minyak relative terhadap densitas air

pada kondisi tertentu.

 Specific gravitiy ( ASTM D-1298)

Spesific Gravity (SG) Merupakan perbandingan densitas

suatu fluida terhadap rumus standar ( reference ).Kegunaan

Spesific Gravity untuk dapat menghitung massa minyak bila

volumenya telah diketahui maupun untuk untuk mengetahui ada

tidaknya kontaminasi sehingga mengubah besarnya Spesific

Gravity.

 API Gravity

API Gravity Diperoleh setelah spesific gravity diketahui

dengan persamaanya adalah

141,5
API Gravity at 60 F = 𝑆𝐺 𝑎𝑡 60 /60 𝐹 - 131.5

5
2.2.2 Sifat Penguapan

Sifat Penguapan Ditentukan melalui pemeriksaan :

 Distilasi, ASTM D-86

Kecepatan penguapan (volatility) adalah sifat yang

penting dari bahan bakar cair terutama dalam pembentukan

campuran bahan bakar dan udara.

 Flash Point ASTM D-93

Flash Point adalah suhu terendah dimana campuran uap

minyak dan udara terbakar sesaat dalam kondisi pengujian.

Batasan minimal titik nyala pada solar adalah 60oC.

Pengujian titik nyala sangat diperlukan berhubung dengan

adanya pertimbangan-pertimbangan dari segi keamanan terhadap

bahaya kebakaran bahan bakar tersebut disimpan, ditransport, atau

selama dalam tangki bahan bakar itu sendiri.

2.2.3 Sifat Pembakaran

 angka setana ( Cetane Number ) ASTM D-613

Kemampuan bahan bakar menyala dengan sendirinya

(autoignition) dalam ruang bahan bakar motor diesel. Besarnya

angka setana tergantung dari komposisi hidrokarbonnya.

Angka setana yang tinggi menggambarkan autoignition

yang cepat dari bahan bakar motor diesel/minyak solar. Batasan

minimal Cetane Number solar adalah 48. Angka setana diukur

dengan menggunakan mesin CFR F-5 ASTM D-613 – 65.

6
 Kalkulasi indeks setana ASTM D-4737

Merupakan parameter bila angka setana tidak diukur

Calculated Cetane Index diperoleh melalui pembacaan nomograph,

ASTM D-4737.

2.2.4 Sifat Mudah Alir

Sifat mudah mengalir ditunjukkan oleh pemeriksaan :

 Kinematics Viscosity ASTM D-445

Merupakan waktu yang diperlukan oleh suatu cairan

untuk mengalir melalui pipa kapiler karena gaya gravitasi.

Viskositas sangat penting bagi bahan bakar minyak baik yang

digunakan untuk bahan bakar motor diesel maupun ketel-ketel uap,

karena berpengaruh terhadap sistem pemompaan dan sistem

injeksi artinya bahan bakar harus mudah dipompakan dari tangki

ke pompa injector.

 Titik Tuang ( Pour Point ) ASTM D-97

Merupakan suhu terendah dimana minyak masih bisa

mengalir apabila suhu didinginkan pada kondisi pengujian.

Penentuan titik tuang sangat diperlukan sehubungan dengan

adanya perubuhan suhu selama dalam penimbunan dan transportasi.

Pada suhu yang dingin saringan bahan bakar dapat tersumbat oleh

kristal-kristal parafin yang sangat tipis yang terpisah dari fase

cairan.

7
2.2.5 Sifat Kebersihan

Sifat kebersihan bahan bakar solar ditunjukkan oleh

pemeriksaan :

 Warna ASTM D-1500

Merupakan suatu kontrol mencegah kemungkinan adanya

kontaminasi oleh bahan bakar yang lebih berat, atau air dan

partikel-partikel lain.

Zat warna yang ditambahkan ke dalam minyak solar

dimaksudkan untuk meningkatkan daya tarik dalam penjualan,

mengidentifikasikan berbagai jenis ( grade ) minyak.

 Kadar air ASTM D-6304

Kadar air dalam bahan bakar solar tidak di harapkan

karena akan mempengaruhi sifat pembakarannya. Batasan

maksimum kadar air pada solar adalah 0,05 % volume.

 Sedimen ASTM D-473

Sedimen yang berlebihan akan mengakibatkan

pembuntuan pada noozle. Batasan maksimum sedimen pada solar

adalah 0,01% berat.

 Ash Content ASTM D-482

Merupakan analisa untuk mengidentifikasi adanya logam

pada solar. Kadar abu ini sendirii adalah sisa-sisa minyak yang

ketinggalan setelah semua bagian yang dapat terbakar dalam

minyak terbakar habis, bila ash ini tertinggal dalam dinding-

8
dinding dan permukaan ruang bahan bakar mesin dapat

menimbulkan kerusakan pada noozle, disamping dapat menambah

deposit dalam ruang bahan bakar. Batasan maksimum kadar abu

pada solar adalah 0,01 % berat.

 Condradson carbon Residue ASTM D-189

Ukuran kecenderungan terbentuknya deposit karbon dari

bahan bakar. Deposit karbon yang terbentuk harus dihindari sekecil

mungkin karena arang atau karbon tersebut akan tetap membara

meskipun mesin sudah dimatikan dan juga terbentuk deposit secara

terus menerus, deposit akan menjadi keras dan akan mempercepat

proses penguapan.

Deposit karbon juga dapat menyumbat lubang

penyemprotan atau injektor-injektor dari mesin diesel. Batasan

maksimum CCR pada solar adalah 0,1 % berat.

2.2.6 Sifat Pengkaratan

Sifat pengkaratan ditunjukkan oleh pemeriksaam

 Strong acid number ASTM D-664

Analisa yang bertujuan untuk mengetahui adanya senyawa

asam kuat dalam solar.

 Total acid number ASTM D-664

Analisa yang bertujuan untuk mengetahui adanya senyawa

asam kuat atau asam lemah dalam solar. Batasan maksimum total

acid number pada solar adalah 0,6 mgr KOH/gram.

9
 Sulfur content ASTM D-4294

 Copper Strip Corrosion ASTM D-130. (Aldano.2016)

2.3 Jenis - Jenis Bahan Bakar Mesin Gasoil

Bahan bakar mesin gasoil memliki beberapa jenis yang dapat di

pilih sesuai dengan kebutuhan mesin diesel yang digunakan menurut

informasi kementrian nasional dalam website, bahwa jenis bahan bakar

untuk mesin diesel dibedakan menjadi sebagai berikut:

2.3.1 Minyak Solar High Speed Diesel ( HSD )

High Speed Diesel merupakan bahan bakar jenis minyak

solar untuk mesin tenaga diesel yang memiliki angka performa

cetane number 48. Mesin diesel yang umum menggunakan bahan

bakar ini mengadopsi sistem injeksi pompa mekanik dan elektronik

injeksi. Jenis BBM ini diperuntukn untuk jenis kendaraan bermotor

untuk transportasi dan mesin industri.

2.3.2 Minyak Diesel (IDO)

Minyak diesel adalah hasil penyulingan minyak yang

berwarna hitam yang berbentuk cair pada suhu sedang dan rendah.

Pada umumnya minyak diesel memiliki kandungan sulfur yang

rendah dan dapat diterima oleh mesin diesel berkecepatan sedang di

sektor industri, pembangkit tenaga listrik, ketel uap dan untuk

bunker kapal laut. Oleh karena itu, minyak diesel disebut juga

industrial diesel oil (IDO) atau marine diesel fuel (MDF)

10
2.3.3 Minyak Bakar (MFO)

Minyak bakar atau marine fuel oil bukan merupakan hasil

distilasi ( pemisahan fraksi-fraksi minyak bumi berdasarkan

perbedaan titik didihnya ) tetapi hasil dari jenis residu yang

berwarna hitam. Minyak jenis ini memiliki tingkat kekentalan yang

tinggi dibandingkan minyak diesel.

2.3.4 Biodiesel

Biodiesel merupakan bahan bakar yang digunakan sebagai

sumber bahan bakar pengganti minyak solar karena terbarukan

( renewable ). Bahan ini adalah hasil reaksi asam lemak dengan

methyl alcohol membentuk senyawa methyl ester. Biodiesel ini

merupakan bahan bakar yang tidak beracun karena lebih mudah

diurai secara alami, menghasilkan karbon monoksida dan hidrogen

yang relatif rendah. Hal yang menarik dari biodiesel adalah

memiliki kualitas yang memenuhi seluruh persyaratan bahan bakar

diesel dan sekarang ini biodiesel banyak di blending dengan minyak

solar supaya dapat meningkatkan mutu dari minyak solar tersebut.

2.3.5 Diesel Performa Tinggi ( PertaDex)

Bahan bakar jenis ini merupakan bahan bakar mesin diesel

modern yang memiliki cetane number 53 dan memiliki kualitas

tinggi dengan kandungan sulfur dibawah 300 Ppm. Jenis bahan

bakar ini direkomendasikan untuk mesin diesel dengan sistem

injeksi common rail. Common rail adalah sebuah tube bercabang

11
dengan katup injektor yang dikendalikan oleh komputer dimana

masing-masing tube tersebut terdiri atas noozle mekanis yang sangat

persisi dan sebuah plunger yang dikendalikan oleh solenoid dan

actuator piezoelectric.( Margasari,2014)

2.4 Cetane Number ( Angka Setana )

Pada bahan bakar diesel karakteristik yang paling penting adalah

kualitas dari pengapian. Ukuran yang dijadikan tolak ukur pada diesel

adalah angka setana ( Cetane Number ). kandungan dari angka setana

merupakan perbandingan antara persen cetane dalam campuran cetane dan

alpha methylnaphthalene. Ketika campuran itu memiliki karakteristik

pengapian yang sama dalam mesin uji sebagai bahan bakar diesel, bahan

bakar diesel memiliki angka setana sama dengan persen cetane itu. Seperti

bahan bakar gasoline, ada beberapa tingkat angka cetane dari bahan bakar

diesel. Bahan bakar diesel biasa berjalan sekitar 40-45 cetane; diesel

premium berjalan 45-50 cetane. Serta bahan bakar diesel yang memiliki

nilai cetane lebih ringan dari kisaran biasanya ( fraksi ringan), biasanya

fraksi tersebut lebih mudah menguap di dalamnya, Fraksi yang lebih

ringan cenderung memiliki rasio karbon-hidrogen yang lebih rendah, yang

menyebabkan lebih sedikit pembentukan asap dalam kondisi yang buruk.

( L.Leffler William.1979 )

2.5 Sifat Utama Dari Bahan Bakar Minyak Solar

Bahan bakar minyak solar memiliki sifat utama yaitu :

 Tidak berwarna atau sedikit kekuning-kuningan dan berbau.

12
 Encer dan tidak menguap dibawah suhu normal.

 Mempunyai titik nyala yang tinggi ( 40o C – 100o C )

 Terbakar spontan pada 350oC, sedikit dibawah bensin yang terbakar

sendiri sekitar 500oC.

 Mempunyai berat jenis 0,82-0,86.

 Menimbulkan panas yang besar ( sekitar 10.500 Kcal/Kg ).

 Memiliki kandungan sulfur yang lebih besar apabila dibandingkan dengan

bensin. (Margasari,2014)

2.6 Pour Point ( Titik Tuang )

Bahan bakar solar harus dapat mengalir dengan bebas pada suhu

atmosfer terendah dimana bahan bakar ini digunakan. Suhu terendah dimana

bahan bakar solar masih dapat mengalir disebut titik tuang. Pada suhu

sekitar 10° F diatas titik tuang, bahan bakar solar dapat berkabut dan hal ini

disebabkan oleh pemisahan kristal malam yang kecil-kecil. Suhu ini dikenal

dengan nama titik kabut. Karena kristal malam dapat menyumbat saringan

yang digunakan dalam sistem bahan bakar mesin diesel, maka seringkali

titik kabut lebih berarti dari pada titik tuang. (A. Hardjono. 2007)

Titik tuang (Pour Point) produk minyak bumi adalah indeks suhu

terendah utilitasnya untuk aplikasi tertentu. Karakteristik aliran, seperti titik

tuang, dapat menjadi indikator penting untuk operasi yang benar dari sistem

pelumas, sistem bahan bakar, dan operasi pipa. Hasil pengujian dari metode

Pour Point ini dapat ditentukan pada interval 1 atau 3 ° C. Metode uji ini

menghasilkan titik tuang (Pour Point) dalam metode yang serupa dengan

13
menggunakan uji ASTM D-97 ketika interval 3 ° C diujikan. Metode uji ini

memiliki ketelitian yang relatif lebih baik dengan Metode Uji ASTM D-97

sebagaimana diukur dalam program uji antar laboratorium 1998. (Kishore,

Nadkharni R. A.2007)

Pada umumnya minyak solar mempunyai titik tuang yang lebih

rendah dari suhu minimum dimana motor beroperasi, batasan maksimum

titik tuang bahan bakar solar adalah 65 oF (Aldano,2016)

Peran Pour Point sangat begitu penting seperti halnya pada

Congeal (minyak beku) merupakan salah satu permasalahan terbesar yang

dihadapi pada saat pengiriman minyak ke Dumai karena menyebabkan tidak

mengalirnya minyak di dalam pipa sehingga operator harus mematikan

beberapa sumur produksi akibat tekanan yang meningkat terus menerus dan

berdampak pada penurunan produksi.Pour Point minyak mentah adalah 100

F dan temperature normal pengiriman minyak adalah 120-200 F. Perubahan

kondisi cuaca (hujan) dan karakter minyak yang mudah membeku (minyak

mulai membeku pada 110 F mengakibatkan minyak tersebut susah untuk

mengalir. Sehingga memerlukan PPD ( Pour Point Depressant ) untuk

menurunkan viskositas pada minyak agar dapat dialirkan. ( Arisya,Vela.dkk.

2013 )

14
2.7 Spesifikasi Bahan Bakar Minyak Solar

2.7.1 Minyak Solar 48

Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi

Nomor : 3675 K/24/D JM/2006

Tanggal : 17 Maret 2006

Tabel 2.1 Spesifikasi Minyak Solar 48

(Sumber : Keputusan Dirjen Minyak dan Gas Bumi 3675 K/24/D JM/2006)

*) Khusus untuk minyak solar yang mengandung Bio Diesel, jenis

dan spesifikasi Bio Dieselnya mengacu ketetapan pemerintah

15
Catatan Umum :

1. Aditif harus kompatibel dengan minyak mesin ( tidak menamah kekotoran

mesin/kerak aditif yang mengandung komponen pembentuk abu ( ash

forming ) tidak diperbolehkan.

2. Pemeliharaan secara baik untuk mengurangi kontaminasi (debu,air bahan

bakar lain, dll)

3. Pelabelan pada pompa harus memadai dan terdefinisi.

Catatan Kaki :

Catatan 1 : Batasan 0,35% m/m setara dengan 3500 ppm.

16
2.7.2 Minyak Solar 51

Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi

Nomor : 3675 K/24/D JM/2006

Tanggal : 17 Maret 2006

Tabel 2.2 Spesifikasi Minyak Solar 51

(Sumber : Keputusan Dirjen Minyak dan Gas Bumi 3675 K/24/D JM/2006)

*) Khusus untuk minyak solar yang mengandung Bio Diesel, jenis dan spesifikasi

Bio Dieselnya mengacu ketetapan pemerintah

17
Catatan Umum :

1. Aditif harus kompatibel dengan minyak mesin ( tidak menamah kekotoran

mesin/kerak aditif yang mengandung komponen pembentuk abu ( ash

forming ) tidak diperbolehkan.

2. Pemeliharaan secara baik untuk mengurangi kontaminasi (debu,air bahan

bakar lain, dll)

3. Pelabelan pada pompa harus memadai dan terdefinisi.

Catatan Kaki :

Catatan 1 : untuk kepentingan lindungan lingkungan, berat jenis minimum 815

kg/m3 dapat digunakan.

Catatan 2 : Batasan 0,050% m/m setara dengan 500 ppm.

Catatan 3 : Diperlukan Kesesuaian dengan T90 atau T95,bukan keduanya.

18
III. METODOLOGI PELAKSANAAN

Dalam melaksanakan kerja praktek, mahasiswa diharapkan mampu

melakukan studi kasus yaitu mengangkat suatu kasus yang dijumpai di tempat

kerja praktek menjadi suatu kajian sesuai dengan bidang keahlian yang ada

ataupun melakukan pengamatan terhadap suatu proses atau alat untuk kemudian

dikaji sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki.

Untuk mendukung kerja praktek dan kajian yang dilakukan, maka dapat

dilakukan beberapa metode pelaksanaan, yaitu antara lain :

3.1 Pendahuluan

Pendahuluan ini dilakukan untuk studi pustaka, wawancara dan

observasi lapangan.

3.2 Pengambilan Data

Data yang dibutuhkan adalah data dari Pour Point Tester ASTM D

97. Data Pour Point yang dibutuhkan adalah suhu dari pengujian, waktu

lama pengujian dan keterangan mengalir dan tidak mengalir.

3.3 Pengolahan Data

Sebelum mengoptimalisasi maka perlu dilakukan pengamatan

evaluasi terlebih dahulu yaitu mencari hasil pengamatan dari Repeatability

I dan Repeatability II. Serta mencari hasil pengamatan dari Reproducibility

I,II dan III. Kemudian didapatkan hasil optimalisasi pengamatan dari Pour

Point.

19
Pendahuluan

Rencana Data

Data Pour Point Tester ASTM D 97 :

 Suhu
 Waktu
 Keterangan Mengalir tidak
mengalir

Evaluasi :

1. Repeatability I dan II
2. Reproducibility I,II dan III
Optimasi :
3. Pour Point

Rencana Hasil

1. Nilai Pour Point

Gambar 3.1 Diagram Alir

20
IV. RENCANA KEGIATAN

Kegiatan kerja praktek rencana akan dilaksanakan selama

2 bulan dengan rincian kegiatan dapat dilihat pada tabel .

Tabel 4.1 Rencana Pelaksanaan Kerja Praktek

Minggu
No. Rencana Kegiatan
I II III IV V VI VII VIII

1 Pengenalan Lapangan √

2 Observasi √ √

3 Pengambilan Data √ √ √ √ √ √ √

4 Pengolahan Data √ √ √ √ √ √

Penyusunan Laporan
5 √ √ √ √ √ √
& Slide

6. Presentasi √

V. KESIMPULAN SEMENTARA

Berdasarkan Study Literature yang dilakukan dapat ditarik beberapa

kesimpulan sementara antara lain:

1. Pengukuran dan perhitungan hasil percobaan dilakukan berdasarkan

ASTM D-97 untuk sampel minyak solar.

2. Parameter untuk optimasi Pour Point Tester adalah suhu, waktu dan

keterangan mengalir dan tidak mengalir.

3. Setelah dilakukan pengamatan optimasi di dapatkan nilai Pour Point

21
4. Setelah dilakukan percobaan pada sampel minyak solar, Repeatability

1 , Reproducibility 1 didapatkan data bahwa Pour Point sebesar Xo C.

22