Anda di halaman 1dari 12

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Agama merupakan salah satu prinsip yang (harus) dimiliki oleh


setiap manusia untuk mempercayai Tuhan dalam kehidupan mereka. Tidak
hanya itu, secara individu agama bisa digunakan untuk menuntun
kehidupan manusia dalam mengarungi kehidupannya sehari-hari
Para antropolog dan sosiolog mengatakan bahwa dalam kehidupan
masyarakat primitif dijumpai semacam norma yang mengatur kehidupan
mereka.
Kebahagian dalam islam adalah kebahagian autentik artinya lahir
dan batin tumbuh dari nilai-nilai hakiki islam dan mewujud dalam diri
seseorang hamba yang mampu mewujudkan sikap tobat (melakukan
intropeksi dan konsep diri) untuk selalu berpegang pada nilai-nilai
kebenaran ilahiah mensukuri karunia Allah berupa nikmat iman, Islam,
dan kehidupan serta menjungjung tinggi kejujuran, kebenaran dan keadilan
dalam menjalani kehidupan pribadi, social dan professional. Pada sisi lain
kebahagian itu menjdi tidak lengkap jika tidak mewujud dalam kehidupan
konkret dengan jalan membahagiakan orang lan.
Tak ada orang yang ingin hidupnya tidak bahagia. Semua orang
ingin bahagia. Namun hanya sedikit orang yang mengerti arti kebahagiaan
yang sesungguhnya.hidup bahagia merupakan idaman setiap orang,
bahkan menjadi simbol keberhasilan sebuah kehidupan. Tidak sedikit
manusia yang mengorbankan segala-galanya untuk meraihnya.
Menggantungkan cita-cita menjulang setinggi langit dengan puncak tujuan
tersebut, yaitu bagaimana meraih kebahagiaan hidup. Dan ini menjadi cita-
cita tertinggi setiap orang baik yang mukmin atau yang kafir kepada Allah.
Apabila kebahagiaan itu terletak pada harta benda yang
bertumpuk-tumpuk, mereka telah mengorbankan segala-galanya untuk
meraihnya. Nyatanya, itu tak pernah diraih dan membuat pengorbanannya

1
sia-sia. Apabila kebahagiaan itu terletak pada ketinggian pangkat dan
jabatan, mereka juga telah siap mengorbankan apa saja demi memperoleh
apa yang diinginkannya. Tapi tetap saja kebahagiaan itu tidak pernah
didapatkannya. Apabila kebahagiaan itu terletak pada ketenaran nama,
mereka telah berusaha untuk meraihnya dengan apapun juga dan mereka
tidak mendapati apa yang disebut kebahagiaan.
B. Rumusan masalah
a. Apakah agama dapat menjamin kebahagian duania?
b. Apakah agama dapat menjamin keselamatan akhirat?

C. Tujuan Penulisan
a. Bagaimana agama dapat menjamin kebahagian duania
b. Bagaimana agama dapat menjamin keselamatan akhirat

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Agama menjamin kebahagian dunia

1. Menelusuri Konsep dan Karakteristik Agama sebagai Jalan Menuju


Tuhan dan Kebahagiaan

Kebahagiaan dalam Islam adalah kebahagiaan autentik artinya lahir


dan tumbuh dari nilai-nilai hakiki Islam dan mewujud dalam diri
seseorang hamba yang mampu menunjukkan sikap tobat (melakukan
introspeksi dan koreksi diri) untuk selalu berpegang pada nilai-nilai
kebenaran ilahiah, mensyukuri karunia Allah berupa nikmat iman, Islam,
dan kehidupan, serta menjunjung tinggi kejujuran, kebenaran, dan
keadilan dalam menjalani kehidupan pribadi, sosial, dan profesional. Pada
sisi lain, kebahagiaan itu menjadi tidak lengkap jika tidak mewujud
dalam kehidupan konkret dengan jalan membahagiakan orang lain.
Berikut pendapat dari beberapa ahli mengenai makna kebahagiaan:
a) Al-Alusi : bahagia adalah perasaan senang dan gembira karena bisa
mencapai keinginan atau cita-cita yang dituju dan diharapkan
b) Ibnul Qayyim al-Jauziyah : kebahagiaan adalah perasaan senang dan
tentram karena hati sehat dan ber!ungsi dengan baik.
c) Al Ghazali: bahagia terbagi menjadi dua antara lain:
1) Bahagia hakiki adalah kebahagiaan ukhrawi yang dapat
diperoleh dengan modal iman, ilmu dan amal.
2) Bahagia majusi adalah kebahagiaan duniawi yang dapat
diperoleh baik itu orang yang beriman maupun yang tidak
beriman

3
2. Menggali Sumber Historis, Filosofis, Psikologis, Sosiologis, dan
Pedagogis tentang Pemikiran Agama sebagai Jalan Menuju
Kebahagiaan.

teologis,beragama itu adalah fitrah. Jika manusia hidup sesuai


dengan fitrahnya, maka ia akan bahagia. Sebaliknya, jika ia hidup tidak
sesuai dengan fitrahnya, maka ia tidak akan bahagia. Secara historis,
pada sepanjang sejarah hidup manusia, beragama itu merupakan
kebutuhan dasar manusia yang paling hakiki. Banyak buku
membicarakan atau mengulas kisah manusia mencari Tuhan.
Umpamanya buku yang ditulis oleh Ibnu Thufail. Buku ini menguraikan
bahwa kebenaran bisa ditemukan manakala ada keserasian antara akal
manusia dan wahyu. Dengan akalnya, manusia mencari Tuhan dan bisa
sampai kepada Tuhan. Namun, penemuannya itu perlu konfirmasi dari
Tuhan melalui wahyu, agar ia dapat menemukan yang hakiki dan
akhirnya ia bisa berterima kasih kepada Tuhan atas segala nikmat yang
diperolehnya terutama nikmat bisa menemukan Tuhan dengan akalnya
itu.
Secara horizontal, manusia butuh berinteraksi dengan sesamanya
dan lingkungannya baik flora maupun fauna. Secara vertikal manusia
lebih butuh berinteraksi dengan Zat yang menjadi sebab ada dirinya.
Manusia dapat wujud/ tercipta bukan oleh dirinya sendiri, namun oleh
yang lain. Yang menjadi sebab wujud manusia tentulah harus Zat Yang
Wujud dengan sendirinya sehingga tidak membutuhkan yang lain. Zat
yang wujud dengan sendirinya disebut wujud hakiki, sedangkan suatu
perkara yang wujudnya tegantung kepada yang lain sebenarnya tidak
ada/ tidak berwujud.
Kalau perkara itu mau disebut ada (berwujud), maka adalah wujud
idhāfī. Wujud idhāfī sangat tergantung kepada wujud hakiki. Itulah
sebabnya, manusia yang sebenarnya adalah wujud idhāfī yang sangat
membutuhkan Zat yang berwujud secara hakiki, itulah Allah. Jadi,
manusia sangat membutuhkan Allah. Allahlah yang menghidupkan,

4
mematikan, memuliakan, menghinakan, mengayakan,memiskinkan, dan
Dialah Allah Yang Zahir Yang Batin, dan Yang Berkuasa atas segala
sesuatu.
3. Membangun Argumen tentang Tauḫīdullāh sebagai Satu-satunya
Model Beragama yang Benar
Sebagaimana telah diketahui bahwa misi utama Rasulullah
saw., seperti halnya rasul-rasul yang sebelum beliau adalah mengajak
manusia kepada Allah. Lāilāha illallāhitulah landasan teologis agama
yang dibawa oleh Rasulullah dan oleh semua para nabi dan rasul.
Makna kalimat tersebut adalah “Tidak ada Tuhan kecuali Allah;” “Tidak
ada yang berhak disembah kecuali Allah;” “Tidak ada yang dicintai
kecuali Allah;” “Tidak ada yang berhak dimintai tolong/bantuan kecuali
Allah;” “Tidak ada yang harus dituju kecuali Allah;” “Tidak ada yang
harus ditakuti kecuali Allah;” “Tidak ada yang harus diminta ridanya
kecuali Allah”. Tauḫīdullāh menempatkan manusia pada tempat yang
bermartabat, tidak menghambarkan diri kepada makhluk yang lebih
rendah derajatnya daripada manusia. Manusia adalah makhluk yang
paling mulia dan paling sempurna dibanding dengan makhluk-
makhluk Allah yang lain. Itulah sebabnya, Allah memberikan amanah
kepada manusia. Manusia adalah roh alam, Allah menciptakan
alam karena Allah menciptakan manusia sempurna (insan kamil).
Tauḫīdullāh adalah barometer kebenaran agama-agama sebelum
Islam. Jika agama samawi yang dibawa oleh nabi-nabi sebelum
Muhammad saw.masih tauḫīdullāh, maka agama itu benar, dan
seandainya agama nabi-nabi sebelum Muhammad saw.itu sudah tidak
tauḫīdullāh yakni sudah ada syirik, unsur menyekutukan Allah, maka
dengan terang benderang agama itu telah melenceng, salah, dan sesat-
menyesatkan. Agama yang dibawa para nabi pun namanya Islam.

5
B. Agama Menjamin Keselamatan Akhirat
Agama sebagai bentuk keyakinan manusia terhadap sesuatu yang
bersifat adi kodrati (supernatural) ternyata seakan menyertai dalam ruang
lingkup kehidupan yang luas. Agama memiliki nilai-nilai bagi kehidupan
manusia sebagai individu dalam hubungannya dengan kehidupan masyarakat.
Selain itu agama juga memberi dampak bagi kehidupan sehari-hari. Dengan
demikian secara psikologis, agama dapat berfungsi sebagai motif instrinsik
(dalam diri) dan motif ekstrinsik (luar diri).
Bahwa setiap manusia menginginkan keselamatan baik dalam hidup sekarang
ini maupun sesudah mati. Jaminan keselamatan ini hanya bisa mereka
temukan dalam agama. Agama membantu manusia untuk mengenal sesuatu
“yang sakral” dan “makhluk teringgi” atau Tuhan dan berkomunikasi
dengan-Nya. Sehingga dalam yang hubungan ini manusia percaya dapat
memperoleh apa yang ia inginkan. Agama sanggup mendamaikan kembali
manusia yang salah dengan Tuhan dengan jalan pengampunan dan Penyucian
batin. Agama tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia yang merupakan
penyelamat bagi setiap pemeluknya. Penyelamatan diri kita dari menjauhi
larangannya merupakan bagian dari kegiatan penghambaan diri (ibadah) .
Agama dalam kehidupan individu berfungsi sebagai suatu sistem nilai
yang memuat norma-norma tertentu. Secara umum norma-norma tersebut
menjadi kerangka acuan dalam bersikap dan bertingkah laku agar sejalan
dengan keyakinan agama yang dianutnya. Sebagai sistem nilai agama
memiliki arti yang khusus dalam kehidupan individu serta dipertahankan
sebagai bentuk ciri khas. Pengaruh agama dalam kehidupan individu adalah
memberi kemantapan batin, rasa bahagia, rasa terlindung, rasa sukses dan
rasa puas.
Agama berpengaruh sebagai motivasi dalam mendorong individu
untuk melakukan suatu aktivitas, Karena perbuatan yang dilakukan dengan
latara belakang keyakinan agama dinilai merupakan unsur kesucian serta
ketaatan. Sedangkan agama sebagai nilai etik karena dalam melakukan
sesuatu tindakan seseorang akan terikat kepada ketentuan antara mana yang

6
boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh menurut ajaran agama yang
dianutnya.
Masalah agama tak akan mungkin dapat dipisahkan dari kehidupan
masyarakat, karena agama itu sendiri ternyata diperlukan dalam kehidupan
bermasyarakat. Dalam prakteknya fungsi agama dalam masyarakat yaitu
berfungsi sebagai penyelamat
Dimanapun manusia berada, dia selalu menginginkan dirinya selamat.
Keselamatan yang meliputi bidang yang luas adalah keselamatan yang
diajarkan oleh agama. Keselamatan yang diberikan oleh agama kepada
penganutnya adalah keselamatan yang meliputi dua alam yaitu: dunia dan
akhirat
Charles Kimball dalam bukunya Kala Agama Menjadi Bencana
melontarkan kritik tajam terhadap agama monoteisme (ajaran menganut
Tuhan satu). Menurutnya, sekarang ini agama tidak lagi berhak bertanya:
Apakah umat di luat agamaku diselamatkan atau tidak? Apalagi bertanya
bagaimana mereka bisa diselamatkan? Teologi (agama) harus meninggalkan
perspektif (pandangan) sempit tersebut. Teologi mesti terbuka bahwa Tuhan
mempunyai rencana keselamatan umat manusia yang menyeluruh. Rencana
itu tidak pernah terbuka dan mungkin agamaku tidak cukup menyelami
secara sendirian. Bisa jadi agama-agama lain mempunyai pengertian dan
sumbangan untuk menyelami rencana keselamatan Tuhan tersebut. Dari
sinilah, dialog antar agama bisa dimulai dengan terbuka dan jujur serta setara.
Dalam mencapai keselamatan itu agama mengajarkan para
penganutnya melalui:
a. Pengenalan kepada masyarakat sacral, berupa keimanan kepada Tuhan.
b. Pelaksanaan pengenalan kepada unsur ( zat supernatural) itu bertujuan agar
dapat berkomunikasi baik secara langsung maupun dengan pelantara
langkah menuju kearah itu secara dengan ajaran agama itu sendiri,
antaranya :
Mempersatukan diri dengan Tuhan ( pantheisme), pembebasan dn
pensucian diri (penebusan dosa) dan kelahiran kembali (reinkarnasi).

7
Untuk itu dipergunakan bebagai lambang keagamaan kehadiran
Tuhan dapat dihayati secara batin maupun benda-benda lambing. Kehadiran
dalam bentuk penghayatan batin yaitu melalui meditasi sedangkan kehadiran
dalam menggunakan benda-benda lambing melalui:
1) Theophania spontanea : Kepercayaan bahwa Tuhan dapat dihadirkan
dalam benda benda tertentu tempat angker, gunung, arca dan yang
lainnya.
2) Theonania incativa : Kepercayaan bahwa Tuhan hadir dalam lambing
karena dimohon, baik melalui invocative magis (mantera,dukun) maupun
invocative religious (permohonan, doa, kebaktian dan sebagainnya)
Sejatinya keberadaan atau eksistensi manusia,mulai dari adam ‘as.
hingga ditumpasnya manusia dari muka bumi pada hari kiamat nanti,tak bisa
dilepaskan dari wilayah khoir (kebaikan) dan syar (kejelekan) .
Selanjutnya agar manusia bisa membedakan mana wilayah khoir dan
mana wilayah syar,maka Allah yang maha pencipta (fa’il) dan maha
berkehendak menurunkan petunjuk atau pedoman yang disebut addin
(agama).petunjuk ini disampaikan melalui perantara makhluk (maf’ul) jenis
manusia pilihan yang disebut Nabi sesuai zamannya ,sejak zaman Adam
sampai Nabi penutup yaitu Nabi Agung Muhammad saw.
Nabi penutup (khotamin nabiyyin),nabi penyempurna ajaran -ajaran
nabi sebelumnya,nabi pembawa rahmatal lil ‘aalamin Muhammad saw dipilih
oleh Allah swt untuk mengemban dan menyampaikan pedoman ajaran
penyelamat, yakni Islam.Simaklah firman Allah swt dalam Al-Qur’an surat
Ali imron ayat 19, yang artinya :
Sesungguhnya agama(yang diridhai) disisi Allah swt hanyalah Islam.
Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al kitab kecuali sudah datang
pengetahuan kepada mereka ,karena kedengkian (yang ada) diantara mereka
.barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah
sangat cepat hisab- Nya.
Islam merupakan sebagai agama penyelamat umat,mengatur dan
menata perikehidupan manusia dari dunia sampai akhirat .persoalan manusia

8
itu taat atau menentang ajaran Islam tersebut,dikembalikan kepada manusia
itu sendiri .terserah pada manusianya.dan Allah sebagai sumber haq ajaran
addin tersebut tiada rugi sedikit pun atas prilaku manusia yang menentang
maupun yang mentaati ajaran itu. manusia diciptakan oleh Allah swt hanya
untuk beribadah(mengabdi) pada Nya.
Simak arti dari Al-Qur’an surat Addzariyah ayat 56 berikut:
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka mengabdi kepada-ku”
Berarti manusia dan jin mendapat kehormatan memegang amanah
untuk menyembah Allah.kalimat bersubtansi pengingkaran : “Dan tidaklah
….” dilanjutkan dengan kalimat bersubtansi pengecualian”melainkan=illa”
sungguh hanya ditunjukan untuk jin dan manusia bukan makhluk hewan
(hewani) ,tumbuhan (nabati) , (keduanya merupakan kenikmatan bagi
manusia ,yang melahirkan rasa syukur bukan Kufur). bukan pula setan
(makhluk pengoda dan penyesat,pengingkar), atau bahkan Malaikat (makhluk
pencatat) sekalipun.Manusia sebagai kalifah di muka bumi berwenang dalam
hal mengelola bumi sedemikian rupa sehingga dapat meningkatkan kualitas
hidupnya . dari itu maka banyak kenikmatan yang akan ia rasakan . hal ini
akan melahirkan rasa syukur kepada Allah yang telah memberikan
kenikmatan itu. juga melahirkan keserakahan yang berujung pada
kemaksiatan yang melahirkan kekufuran pada Allah.
Di samping itu manusia berwenang memelihara bumi agar lestari dan
dapat menopang kehidupan selanjutnya . pun berwenang berikhtiar
menciptakan suasana serta masalahnya agar hidup selalu lebih baik dari hari
kehari.
Manusia sebagai kalifah juga berwenang mengelola amanah yang
diberikan kepadanya. amanah itu berupa sesuatu yang dititipkan kepadanya ,
seperti istri dan Anak -anaknya.tetapi amanah yang paling berat dititipkan
kepada manusia adalah agama ,karena amanah itu akan
dipertangungjawabkan kepada tuhanya kelak.

9
Maka manusia sebagai kalifah tidak bisa lepas dari sebab musabab
lain seperti fa’il yakni Allah sebagai maha pencipta kemudian dengan machal
atau tempat hidup menurut kodrat, yakni dibumi atau dunia luas
ini.seterusnya dengan maf’ul lain atau sesama makhluk Allah. lalu dengan
wasithah atau hubungan saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu
makhluk dengan makhluk lainya. disamping itu dengan mukamil
penyempurna, yakni agama.

C. Lima Kunci Keselamatan Dunia Akhirat

Dapat dipastikan setiap orang mendambakan dirinya bisa selamat.


Selamat ketika sedang dipersimpangan, selamat ketika akan menyebrang,
selamat selama diperjalanan, dan lain halnya. Tidaklah salah seperti itu.
Namun, perlu diutamakan juga kesematan dunia dan akhirat karena
percuma kita selamat selama menjalani kehidupan, sementara celaka
ketika dipertanggung jawabkan di yaumil akhir kelak.

Lima kunci yang diharapkan menjadi penghantar keselamatan dan


kebahagiaan itu, diantaranya :

1) Tekad Yang Sangat Kuat.

Awali keinginan keselamatan dengan tekad yang kuat. Karena


inilah yang akan menjadi sumbu penyemangat sekaligus skala
prioritas disela kita beraktivitas.
Maksudnya, sesibuk apapun kita atau sepada apapun aktivitas,
tekad keselamatan tetap diprioritaskan. Tekad yang kuat sekaligus
menjadi cermin dan panduan kita.
2) Perbanyak Taubat.

Hampir dipastikan setiap diri kita pernah melakukan


kesalahan, baik kecil maupun besar. Segera taubat, jangan sampai
kesalahan kecil menjadi besar, dan yang besar pun jangan sampai

10
tetap dipertahankan. Tapi segera lakukan taubat, Jangan sampai kita
mati dalam keadaan belum taubat.

3) Hindari Maksiat.

Setan tidak akan pernah berhenti menggangu kita. Dan kita


pun perlu tahu dmanapun kita berada dia pasti ada. Untuk itu jangan
sampai kita lepas kontrol sehingga terjerat akan godaannya.

4) Tingkatkan Taat.

Tidak ada jalan lain bagi kita untuk terus meningkatkan ketaatan.

5) Tebarkan Manfaat.

Sebaik-baik manusia adalah yang banyak manfaatnya.

11
BAB II

PENUTUP

A. Kesimpulan
Tujuan hidup manusia adalah sejahtera di dunia dan bahagia
diakhirat. Dengan kata lain,dapat disebutkan bahagia di dunia dan
bahagia diakhirat. Kebahagiaan yang diimpikan adalah kebahagiaan
duniawi dan ukhrawi. Untuk menggapai kebahagiaan termaksud
mustahil tanpa landasan agama. Agama dimaksud adalah agama
tauḫīdullāh. Kebahagiaan dalam Islam adalah kebahagiaan autentik artinya
lahir dan tumbuh dari nilai-nilai hakiki Islam dan mewujud dalam diri
seseorang hamba yang mampu menunjukkan sikap tobat (melakukan
introspeksi dan koreksi diri) untuk selalu berpegang pada nilai-nilai
kebenaran ilahiah, mensyukuri karunia Allah berupa nikmat iman, Islam,
dan kehidupan, serta menjunjung tinggi kejujuran, kebenaran, dan keadilan
dalam menjalani kehidupan pribadi, sosial, dan profesional.

B. Saran
Makalah ini dalam penulisannya dan penyajiannya memang sangat
jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis sangat mengharapkan sekali
sebuah kritikan atau saran yang sekiranya membangun guna perbaikan
makalah selanjutnya.

12