Anda di halaman 1dari 33

Antropologi Arsitektur

PENGANTAR ANTROPOLOGI ARSITEKTUR


ARTI DAN DEFINISI
Rapaport mengungkapkan bahwa arsitektur bermula sebagai tempat bernaung. Oleh
karena itu banyak anggapan di masyarakat bahwa arsitektur adalah sesuatu yang
berhubungan dengan bangunan sebagai tempat tinggal. Pada awalnya arsitektur lebih
terkait kepada bangunan, terutama bangunan untuk tempat tinggal yang masih banyak
dipengaruhi oleh adat, sehingga pembuatannya banyak memasukkan unsur adat.
Kemudian dengan semakin majunya zaman, maka hasil karya arsitektur semakin
bermacam-macam bentuknya. Berdasarkan kamus, kata arsitektur (architecture),
berarti seni dan ilmu membangun bangunan. Menurut asal kata yang membentuknya,
yaitu Archi = kepala, dan techton = tukang, maka architecture adalah karya kepala
tukang. Arsitektur dapat pula diartikan sebagai suatu pengungkapan hasrat ke dalam
suatu media yang mengandung keindahan. Menurut O’Gorman arsitektur merupakan
suatu wujud seni, yaitu arsitektur menggunakan seni sebagai sesuatu yang penting
untuk digunakan sebagai interior. Moore and Allen menjelaskan bahwa manusia
hidup dalam ruang yang tidak terbatas. Arsitektur memotong atau membatasi ke-
“tidak terbatas”-an ini, sehingga memberi makna bagi kegiatan manusia yang
berlangsung di dalamnya.

ARSITEKTUR DAN KEBUDAYAAN


• Arsitektur menjadi muara manifestasi berbagai nilai budaya yang ada di masyarakat.
• Unsur yang akan selalu ada dalam proses penciptaan “karya arsitektur” adalah
“keindahan”. Estetika merupkan wujud dari kebudayaan (ide &gagasan)
• Aktifitas dalam bentuk teknik-teknik tertentu yang sudah terbentuk menjadi struktur
sistem baku dalam dunia arsitektur merupakan wujud ketiga arsitektur sebagai sebuah
kebudayaan atau merupakan wujud tindakan.
• Sebuah “karya arsitektur” mengkomunikasikan kondisi masyarakat di mana artefak
tersebut berada. Artefak merupakan wujud akhir yang timbul akibat adanya gagasan
dan tindakan dalam suatu kebudayaan, wujud fisik.
• “Karya arsitektur” sebagai produk arsitektur merupakan wujud fisik yang secara
nyata dapat dilihat, disentuh dan dirasakan kehadirannya dalam masyarakat. Wujud
fisik ini, baik dalam skala bangunan tunggal maupun sebuah lingkungan buatan,
dapat difahami sebagai sebuah artefak.
• Arsitektur à bidang kajian tentang tata ruang.
• Tata ruang à membatasi ruang dalam kehidupan manusia.
• Ruang seolah ‘tanpa batas’, penataan ruang ditujukan untuk membatasi ruang ‘tanpa
batas’ tersebut.
• Penataan ruang dilakukan berdasarkan nilai & perilaku yang dianut oleh
pemakai/pengguna arsitektur, untuk mencapai penataaan ruang sesuai dengan harapan
(bangunan digunakan sebagaimana fungsi/kegunaannya).
• Pembatasan ruang dilakukan untuk member makna dalam kegiatan manusia di
dalamnya. Contoh: bangunan-bangunan tertentu ditujukan untuk kegiatan-kegiatan
tertentu. Rumah untuk tempat tinggal, gedung olah raga untuk berolah raga, lapangan
sepak-bola untuk bermain sepak bola.
• Demikian pula batasan wilayah juga disebut pembatasan ruang, sebab wilayah-
wilayah yang ada di sekitar manusia diperuntukkan berdasarkan kepemilikan dan
peruntukan dalam perencanaan pembangunan tata kota. Misalnya rumah pribadi
(private room), taman kota (public space), batas-batas wilayah kepemilikan tanah
yang dapat dikelola secara peribadi atau milik pemerintah.
• Antropologi Arsitektur dalam hal ini berperan menganalisis aspek-aspek sosial-
budaya dalam pembangunan-penggunaan sebuah karya arsitektur. Selama ini Teknik
Arsitektur (Arsitektur murni) hanya melihat aspek fisiknya saja.
• Teknik Arsitektur à teknik/teknologi pembangunan karya arsitektur.
• Antropologi Arsitektur à nilai/symbol/makna estetika dari karya arsitektur
(meening/deep meening dari manusia yang akan menempati ruang). Antropologi
selajutnya memberikan tafsiran yang dapat dipakai oleh para arsitek dalam membaca
perubahan tata ruang.
• Antropologi Arsitektur à berdasarkan pada penilaian estetika dari sebuah
ruang/bangunan.
• Analisisnya ditujukan ke masalah-masalah:
1. Konsep-konsep ruang dan kelanjutannya,
2. Perilaku membangun, hunian dan pemukiman, dalam memandang kondisi-kondisi
keberadaan manusia
• Arsitktur berfungsi sebagai ‘mitos’ didasarkan oleh:

1. Arsitektur sebagai seni, dinilai berdasarkan latar belakang sejarah


pemilik/pengguna suatu ruang/bangunan.
2. Meskipun sebuah karya arsitektural berdiri kokoh di zaman modern seperti
sekarang ini, aspek-aspek sosial-buaya senantiasa terkandung dalam sebuah
ruang/bangunan. Dapat dilihat dari nilai/simbol-simbol/makna-makna dan
perilaku yang dikembangkan oleh pengguna ruang/bangunan tersebut.
Rabu, 28 September 2016

Pengantar Antropologi Demografi/Kependudukan

Translasi Bebas Oleh:


G. Bayuardi, S.Sos., M.Si

1 . Pengantar

Antropologi Kependudukan merupakan kajian secara khusus memuat kajian demografi/


kependudukan dengan menggunakan teori, pendekatan, serta metode antropologi sebagai
ilmu yang menyediakan pemahaman yang lebih untuk melihat fenomena demografis hari ini
ataupun fenomena yang telah lalu. awal mula dan pertumbuhan yang terus berlangsung
didasarkan saling keterkaitan antara demografi dan antropologi sosial-budaya sebagai upaya
untuk memahami proses kependudukan, terutama fertilitas, migrasi, dan kematian. Kedua
disiplin ilmu dikombinasikan untuk mempelajari objek penelitian, yaitu populasi manusia,
dan kajian tersebut memusatkan kajian pada aspek yang saling melengkapi dari objek
penelitian tersebut: kajian kependudukan berorientasi statistik dan terutama berkaitan dengan
dinamika ukuran populasi, dan struktur, serta variasi demografi, yang melintasi ruang dan
waktu, sementara secara antropologi sosial budaya bersifat interpretatif dan berfokus pada
organisasi sosial membentuk mode produksi dan reproduksi populasi manusia. Konsep
teoritis utama dalam demografi antropologi adalah budaya, jenis kelamin, dan ekonomi
politik; Pendekatan penelitian empiris meliputi campuran metodologi kuantitatif dan
kualitatif diterapkan untuk studi kasus. Penelitian lapangan etnografi dan observasi
partisipatif sering digunakan sebagai pendekatan utama untuk membaca dan melakukan
interpretatif data sekunder dan data sejarah.
Pendekatan antropologi demografi akhir-akhir ini berkembang secara pesat dan sering
muncul dalam kajian-kajian mengenai kependudukan. Perkembangan ini menghadapi
tantangan utama secara internal, yaitu karena perbedaan tradisi disiplin metodologis dan
epistimologis. Demografi lebih positivistik dan lebih berorientasi kuantitatif proses
kependudukan; di sisi lain antropologi sosial budaya lebih bersifat intepretif dan berorientasi
kualitatif lebih memperhatikan pada mekanisme perilaku dan institusi/ lembaga untuk
memaknai suatu proses. Dengan demikian, konsekuensi dari hal ini seringkali menjadi
kebingungan para demographer oleh aspek-aspek dalam konsep-konsep sosio-antropologi.,
seperti misalnya (i) sebagian peran demograf tentang pengujian teori yang banyak
memainkan peranan utama, (ii) hal ini merupakan pendekatan kritis yang dibawa pada
kategori analitis universal, sebagaimana konsep ruang dan waktu, dan (iii) Studi kasus yang
non-representatif. Hal inipun membuat para antropolog menjadi skeptic terhadap fakta
demografis yang menekakan pada representasi statistis dan perbandingan data yang tidak
seimbang dan ditekankan pada validitas data, model analisis, dan intepretasi mereka.
Meskipun tantangan yang melekat dalam upaya ini, para akademisi di kedua disiplin telah
bekerja sama dalam tim penelitian multidisiplin untuk menciptakan desain penelitian yang
kompleks dalam rangka membangun kekuatan bersama, serta mengurangi keterbatasan
masing-masing disiplin, sehingga meluncurkan bidang demografi antropologi (antropologi
kependudukan).

Demografi antropologis telah muncul secara bertahap dan definisi sebagai spesialisasi dalam
demografi ini masih dalam proses pengembangan. Sejarah demografi dan antropologi selalu
memberikan beberapa contoh dari akademisi beralih ke disiplin ilmu lain, walaupun
kelahiran demografi antropologi baru benar-benar muncul kembali pada dua dekade terakhir
di abad kedua puluh. Berbagai tulisan teoritis dan empiris menggunakan pendekatan
demografi antropologis telah muncul dalam jurnal demografi dan antropologi secara jelas
sejak tahun 1980-an, dan eksistensi demografi antropologi di masyarakat demografi telah
dikembangkan oleh kalangan konstitusi interdisipliner spesifik dan komite internasional.
Program Misi dari Komite IUSSP (International Union for the Scientific Study of Population)
dari Antropologi Demografi, aktif 1998-2002, yang membina kerjasama interdisipliner
dalam demografi dan antropologi. Sementara Komite IUSSP memiliki fokus utama pada
masyarakat non Barat, Kelompok Kerja pada Antropologi Demografi Eropa dalam Asosiasi
Eropa untuk Studi Kependudukan, aktif sejak tahun 2005, bertujuan untuk menghasilkan
kolaborasi teoritis dan metodologis yang sebanding dalam konteks Eropa. Bagian dari
Demografi antropologis telah menyelenggarakan banyak pertemuan profesional sejak tahun
1990-an yang didedikasikan untuk isu-isu kependudukan, seperti pertemuan Asosiasi
Penduduk Amerika. Hibah khusus dan program pascasarjana, program populasi Andrew
Mellon Foundation dan program Antropologi Kependudukan di Universitas Brown telah
dibentuk dengan tujuan memberikan kesempatan para sarjana junior untuk menerima
pelatihan yang tepat untuk mempelajari antropologi dan demografi serta organisasi-organisasi
internasional, dan lembaga donor telah menempatkan penekanan khusus pada pendekatan
interdisipliner.

Uraian berikut secara singkat menggambarkan sejarah minat tentang demografi dan
antropologi sosial budaya, dan dengan menunjukkan beberapa kontribusi utama teori
antropologi dan metode penelitian demografis. Kami kemudian menggambarkan beberapa 3
pencapaian antropologi demografi dan menyimpulkan berupa beberapa refleksi dari
kemungkinan di masa depan sebagai sub-disiplin ilmu.

Teks semacam merupakan kepastian hasil dari pilihan tentang penentuan batas demografi
antropologi dan memastikan bahwa pembaca menyadari pilihan ini. Pertama, mengikuti
diskusi antropologi mengacu semata-mata untuk antropologi sosial budaya (istilah yang
digunakan secara bergantian). Terdapat bidang kajian yang tumpang tindih antara demografi
dan antropologi, yaitu bidang besar yang terlingkupi antropologi evolusi, arkeologi, dan
paleodemography: cabang-cabang dari antropologi yang ditandai dengan penggunaan metode
demografi untuk memahami struktur bio-demografi populasi masa lalu, atau kontemporer,
seperti pemburu dan pengumpul ataupun populasi terasing. Meskipun terdapat tumpang
tindih secara parsial pada demografi antropologi, konsep teori acuan kedua disiplin tersebut
berbeda: evolusi, adaptasi, kekerabatan, dan hubungan antara penduduk serta sumber daya.
Pembaca yang tertarik diarahkan ke literatur tertentu yang disebutkan dalam daftar pustaka
dan bab tentang demografi biologis dalam buku ini (Roth 2004, Howell 1986, Hammel dan
Howell 1987, Schacht 1981). Kedua, diskusi ini ditulis dari perspektif demografi dan
menekankan kontribusi demografi antropologi untuk bidang kependudukan; tidak ada usaha
untuk secara sistematis menguraikan kontribusinya terhadap (sosial budaya) antropologi.

2. Demografi menuju Antropologi

Kertzer and Fricke (1997:1) menyatakan bahwa keterkaitan antara antropologi dan demografi
“sudah cukup lama, teruji, seringkali ambivalen dan kadang menjadi penuh gairah” dan
diketahui bahwa antropologi demografi merupakan hasil utama dari keterbukaan komunitas
demographer kepada wawasan ilmu antropologi dalam mengkaji proses dinamika populasi,
sementara mayoritas antropolog masih ragu-ragu untuk mempelajari dan menggunakan
teknik-teknik demografi. Awal dekade abad duapuluh, keadaan mulai berubah dan menjadi
berbeda, antropologi di Inggris telah secara besar-besaran menggunakan data populasi
dengan focus utama pada kajian kekerabatan sebagai suatu pilar dari organisasi sosial
produksi dan reproduksi. Secara bersama-sama dengan perluasan pengambilan data sensus
pada populasi local sebagai salah satu dari alat yang mendasar untuk memahami keluarga
dan rumah tangga beserta proses-prosesnya seperti struktur rumah tangga, perceraian, dan
pengasuhan anak ( sebagaimana kajian antropologi klasik, Redcliff Browan (1964), Raymond
Firth (1968)[1936], dan Fortes (1946). Hal ini berbeda sekali dengan pendekatan ini, di
Amerika Serikat yang menempatkan penekanan pada manifestasi budaya dan ritual daripada
organisasi sosial; dengan demikian maka di Amerika Serikat relative lebih kebal terhadap
pengaruh demografi untuk beberapa tahun lebih lama, dengan perkecualian dalam penelitian-
penelitian mengenai ekologi kebudayaan dan materialisme cultural yang memiliki pusat
perhatian pada isu-isu mengenai kependudukan dan menekankan perhatian pada
keseimbangan antara populasi dan sumberdaya. (Harris dan Ross 1987).
Demografi mulai berubah menuju kearifan kepustakaan yang antropologis pada awal 1950
ketika beberapa di antara sedikit ahli antropologi diundang untuk bergabung dengan Komite
Permasalahan Kependudukan Pada Masyarakat Non-Industri, PBB untuk Kajian Ilmiah
Kependudukan. Perlunya mengatasi pengaruh bentuk-bentuk organisasi sosial budaya lokal
memiliki pengaruh dinamika populasi menjadi lebih jelas antara 1960-an dan 1970-an: dalam
periode ini dua proyek demografi utama dapat menunjukkan batas-batas metodologis dan
teoritis demografi. Salah satu proyek program pengumpulan data yang cukup ambisius
Survey Fertilitas Dunia, yang bertujuan untuk menghasilkan perkiraan populasi pada negara-
negara dengan data yang tidak lengkap dan yang menyoroti perlunya informasi kontekstual
dalam rangka mencapai pengumpulan data yang valid dan interpretatif. Proyek lainnya
berkembang pada periode yang sama adalah Proyek Princeton Eropa, dengan tujuan untuk
menguji dan melakukan konfirmasi teori transisi demografi dengan melakukan dokumentasi
perubahan pola empiris tentang kesuburan, perkawinan, kematian bayi, urbanisasi,
industrialisasi, dan tingkat melek huruf pada sejarah populasi Eropa; kesimpulan dari kajian
ini menyatakan bahwa faktor budaya memainkan peran penting dalam menentukan
membentuk dan ritme transisi.

Survey-survey skala besar dengan sampel yang representative tentang Tingkat Fertilitas di
dunia digunakan sebagai alternatif pencatatan dan sensus di Negara-negara Asia dan Afrika
yang sebagian besar cakupan dan akurasi sumber data lebih tradisional untuk
memperkirakan masih perlu dipertanyakan. John Caldwell, seorang ahli demografi Australia,
adalah yang pertama di bidangnya untuk merasa prihatin dengan keterbatasan dalam
penggunaan dan interpretasi data tersebut, bergema untuk sebagian besar kritik umum dari
pengumpulan data kuantitatif dalam ilmu sosial empiris. Kritik adalah bahwa data semacam
ini hanya mencerminkan apa yang termasuk dalam pertanyaan, dan realitas sosial mereka
berusaha untuk mewakili terdistorsi jika pertanyaan yang dirumuskan oleh seorang peneliti
yang tidak terlibat dalam proses pengumpulan data atau terkena sosial realitas dari mana data
berasal. Perhatian untuk informasi standar di pengaturan sosial dan budaya dapat, di satu sisi,
dikatakan membenarkan kaku protokol kuesioner dan pertanyaan Format tertutup. Di sisi
lain, bagaimanapun, itu sangat membahayakan validitas jawaban dikumpulkan. Caldwell
adalah dirinya terlibat dalam studi desa di Afrika Barat pada akhir 1970-an. pengalaman ini
dan membaca tentang literatur antropologi tentang daerah yang menyebabkan dia untuk
meninggalkan apa yang telah dianggap sebagai 'pendekatan kursi' analisis demografi (a
pelepasan besar analis dari lapangan) dan meluncurkan apa yang ia didefinisikan sebagai
tingkat mikro demografi atau pendekatan antropologis untuk demografi (Caldwell dan Hill
1988).

Aspek-aspek utama pendekatannya adalah: mengadopsi beberapa fitur dari kerja lapangan
antropologi ke dalam demografi untuk dengan tujuan untuk memiliki ikatan yang intensif dan
berlanjut dengan populasi yang dikaji; menerapkan batas yang fleksibel untuk metode-
metode; pengembangan peneliti secara langsung dalam semua tahapan-tahapan, yang
memungkinkan untuk membentuk tim peneliti yang multidisipliner. Selain itu juga, untuk
memperkenalkan demografi dengan kajian demografi (Leibenstein, 1981). Pendekatan
Caldwell dipengaruhi oleh penggunaan kajian desa untuk mengumpulkan informasi yang
kontekstual dan untuk memahami perilaku demografis pada kompleksitas realitas sosial.
Caldwell mengatakan bahwa hanya dengan informasi yang dapat diinterpretasi hubungan
antar variabel. Demikian pula, kehadiran peneliti di lapangan dan kolaborasi setiap hari
dengan antropolog dalam proyek umum akan memungkinkan evaluasi yang lebih baik pada
validitas data karena penggunaan informasi yang jarang dikaji secara ilmiah pada makna
lokal, pada motivasi untuk tindakan, dan topik-topik sensitif. Beberapa tahun terakhir para
demografer telah menggunakan pendekatan demografi-mikro (Lesthaeghe 1980, Massey
1987), sebagian terinspirasi oleh pioner riset yang dirintis oleh Caldwell dan sejumlah
kolega-koleganya pada waktu itu. Personel Komite IUSSP (International Union for the
Scientific Study of Population) pada antropologi kependudukan yang telah memberikan
kemampuan melihat pendekatan dan memiliki kontribusi dalam perluasan perdebatan
mendasar antropologi kependudukan.
Alasan utama untuk menggunakan penelitian lapangan pada riset survey telah menambakan
eksplorasi untuk membuka komponen pada pengumpulan data supaya benar-benar valid dan
menemukan intepretasi yang benar. Dan rasanya, aliran utama demografi telah menerima
kontribusi antropologi kepada demografi sebagai salah satu metodologinya: kepentingan
utama yang masih tertinggal untuk penjelasan kuanitatif berubah pada dinamika
kependudukan dan bukan lagi hanya merupakan penerapan teori antropologi pada dinamika
kependudukan. Kegagalan untuk menggunakan teori antropologi ini, sebagian selalu dikritik
oleh para antropolog yang juga mengkaji masalah kependudukan ini (Fricke, 1997).

Sumber lain dari minat baru dalam antropologi antara demografi muncul pada waktu yang
hampir sama dari kelompok kerja pada Proyek Fertlitas Eropa dan upaya mereka untuk
secara empiris membuktikan teori transisi pada data historis dari Eropa. Tujuan utama
mereka adalah untuk melihat keadaan sosial dan ekonomi yang berlangsung, pada saat
terjadi penurunan fertilitas mulai jaman modern, serta untuk memperjelas mekanisme kausal
dari transisi fertilitas di Eropa. Tim yang terlibat dalam proyek ini menciptakan rekor
kuantitatif orisinil dalam kajian perubahan demografi dan sosial ekonomi yang mendalam
terjadi di benua Eropa dalam XIX dan abad XX. Dua perangkat langkah-langkah
dikumpulkan dan dianalisis: indikator karakteristik demografi (terutama pernikahan dan
fertilitas), dan indikator keadaan sosial dan ekonomi. Proyek ini menunjukkan bahwa
formulasi klasik dari teori transisi adalah yang terbaik untuk akurasi penggambaran proses
sejarah perubahan demografi dan beberapa hal yang belum lengkap dari faktor-faktor penentu
perubahan demografi. Para peneliti utama proyek tersebut menyimpulkan bahwa pengaturan
budaya memiliki pengaruh terhadap penurunan fertilitas yang independen dari faktor sosial
ekonomi, dan mereka merasa yakin bahwa teori transisi dapat menggabungkan budaya dan
perubahan ide-ide (Cleland dan Wilson 1987, Knodel dan van de Walle 1986, Watkins 1996).
3. Tantantangan Teoritis: Budaya dan Gender Sebagai Institusi-Institusi

Dengan minat baru terhadap budaya sebagai satu di antara banyak demensi-demensi
kontekstual dari dampak yang dicerminkan oleh gejala demografis, demografi telah memulai
sejak era 90 an menyambut antropologi sebagai disiplin ilmu sosial yang memiliki konsep
dan teori kemasyarakatannya dapat dipinjam, bukan sekedar metodologinya. Bagaimanapun
hal ini tidak terjadi secara lengkap dengan cara yang mulus. Tantangan utama telah
direpresentasikan oleh a) operasionalisasi konsep budaya, gender, dan institusi; b) konsistensi
interpretasi data empiris yang dikumpulkan secara intensif dalam penelitian lapangan, di sisi
lain estimasi/prakiraan dihasilkan dari seperangkat data dengan sampel yang besar; c)
kombinasi pendekatan holistik telah berkembang dalam analisis studi kasus dan analisis-
analisis hubungan antar variabel.

3.1. Budaya

Peran dari budaya dalam analisis proses demografi menjadi minat baru para demografer
dengan teori. Penjelasan secara kultural dari perilaku demografi nampaknya menjadi cahaya
baru pada variasi hal-hal eksplisit yang terobservasi. Bagaimanapun juga, isu mengenai
bagaimana mengartikan budaya, dan bagaimana budaya dibwa dalam ranah riset empiris
masih merupakan pertanyaan, dan masih belum dan akan selalu diartikan jawabannya selalu
bertemu dengan persetujuan yang belum jelas. Perdebatan sengit selalu terjadi sejak waktu
yang lama dalam antropologi dan batas-batas definisi dari " secara historis, pola ditularkan
dari makna yang termuat dalam simbol-simbol", “organisasi sistem pengetahuan, dan
tindakan-tindakan atau perilaku yang diditunjukkan sehari-hari oleh anggota kelompok
sosia"l, "penerapan nilai mengenai benar dan salah", serta "sistem yang terorganisasi dari
pemaknaan bersama". Hammel 1990, menjabarkan bagaimana konsep kebudayaan dalam
antropologi digunakan sebagai alternatif untuk "pengidentifikasi kelompok-kelompok sosial,
tubuh tradisi-tradisi, perangkat pola-pola perilaku yang tampak, penentu tindakan manusia,
ekspresi seni dari pengalaman manusia, seperangka simbol-simbol yang dinegosiasikan
antara aktor-aktor sosial” (Hammel 1990: 457).
Terinspirasi Clifford Geertz’s (1973) yang menyatakan terdapat pemilahan antara model
untuk dan model dari, dalam kontek hubungan dialektika antara struktur dan tindakan,
Hammel mengajukan penekanan pemilahan secara paralel: "Kebudayaan untuk penduduk dan
Kebudayaan oleh Penduduk". Di budaya rasa yang sebelumnya, memiliki fungsi sebenarnya
menentukan tindakan masyarakat dengan menyediakan "cetak biru" tentang bagaimana
kehidupan mereka menjalani kehidupan sehari-hari. Individu belajar norma-norma yang
terdapat pada lingkungan sosial mereka dan baik yang mereka internalisasi dan sesuai,
ataupun yang menentang tradisi sebelumnya, telah diperhitungkan peluang kerugian perilaku
mereka. Hal ini merupakan "budaya untuk masyarakat" berguna untuk membenarkan
masuknya dimensi budaya menjadi model perilaku yang memberikan penjelasan mengapa
orang dalam konteks budaya yang sama, bertindak seperti yang mereka lakukan. Namun,
pandangan mengenai budaya ini dikritik oleh aliran utama antropologi karena
memperlakukan individu sebagai "penjelasan budaya," mengesampingkan peran agen secara
individual, dan hanya meninggalkan sedikit ruang untuk menjelaskan perubahan budaya.
Sebuah "budaya dari orang-orang" merupakan cara di mana aktor sosial memandang dunia
dan atribut yang jelas dan makna simbolik terhadap perilaku sosial. Dalam pengertian
budaya, pengertian ini merupakan bingkai dari jalur yang mungkin tersedia, sementara jalan
yang sebenarnya diambil adalah masalah pilihan individu. Dalam definisi ini setiap agen
budaya dan praktek-praktek yang sentral. Simbol budaya rentan untuk diubah dan
diinterpretasikan oleh individu untuk tujuan mereka sendiri dalam keadaan tertentu. Karena
proses ini, transformasi dan interpretasi terjadi dalam interaksi sosial, dalam percakapan dan
dalam praktek, lembaga individu tampaknya menjadi "terdistribusikan secara sosial" (Carter,
1995) dan berlangsung dalam "hubungan dialektis antara tindakan-tindakan masing-masing
personal dan latar belakan kegiatan mereka" . Visi budaya tersebut merupakan "percakapan
evaluatif" yang konsisten dengan fakta bahwa atribut subjektif individu seperti nilai-nilai atau
sikap perilaku tertentu yang mungkin ambigu dan bahkan bertentangan dalam konteks
budaya tertentu.
Menurut Fricke: “Kajian populasi sensitif secara kultural memerlukan suatu asumsi bahwa
orang-orang terikat dunia mereka dalam istilah yang sangat beragam dalam sistem
pemaknaan lokal, dan kehendak untuk mengungkap sumber-sumber yang telah ada dengan
menggunakan mata untuk menghubungkan makna-makna dengan keluaran demografis"
(Fricke 1997 : 186). Antropologi Kependudukan selalu dibutuhkan untuk menghadapi tiga
tantangan dalam menambahkan budaya dalam kajian demografi. Tantangan tersebut antara
lain:

Pertama, perlu untuk memastikan bahwa variabel demografis standar, seperti misalnya
pendidikan atau usia saat menikah dijelaskan dengan makna budaya bahwa variabel ini
memiliki asumsi dalam konteks tertentu. Misalnya Johnson-Hanks, ia menemukan bahwa
pendidikan berhubungan dengan usia yang lebih tua pada kelahiran pertama di antara
perempuan suku Beti di Kamerun. Terutama karena sekolah formal berhubungan erat dengan
tingginya motivasi untuk memiliki reputasi yang lebih baik dan berperilaku ideal sesuai
dengan Agen11[1] lokal mengenai konsep kehormatan. Menempuh pendidikan (sekolah)
berfungsi sebagai faktor sosialisasi yang memperkuat karakteristik perilaku terhormat melalui
tindakan tertentu, salah satunya adalah- dominasi diri. Hal ini menjelaskan mengapa
pendidikan juga konsisten dengan meluasnya penggunaan kontrasepsi non-Barat alami dalam
konteks ini (Johnson-Hanks, 2006).

Ke dua, ahli antropologi kependudukan harus memperhatikan sistem simbolik sebagai acuan
dalam kajian mereka tentang, dan dengan demikian maka terbuka kesempatan untuk
memodifikasi variabel standar, atau memperkenalkan variabel kontekstual baru ke dalam
model perilaku. Studi lapangan oleh tim Susan Short di Cina menunjukkan definisi yang jauh
lebih baik dan berlaku mengenai karakteristik bidang pekerjaan perempuan daripada bidang
pekerjaan klasik menjadi dibayar dan tidak dibayar. Hal itu hanya dengan perhitunganan
untuk tingkat yang berbeda dari intensitas dan tingkat kesesuaian dengan pengasuhan anak
dalam kegiatan non-upah spesifik, bahwa hubungan antara alokasi waktu kerja dan waktu
mengasuh anak dapat dihargai secara penuh (Short et al. 2002). Demikian pula, dalam
penelitian bertujuan melakukan pendataan tunawisma di Paris, fase kerja lapangan eksploratif
desain penelitian yang diperlukan untuk menjelaskan beberapa definisi atau konsep 'rumah/
tempat tinggal' yang dibentuk oleh informan sehingga memungkinkan para peneliti untuk
mengumpulkan data valid dalam melakukan penghitungan (Marpsat 1999).

Ke tiga, Para ahli Antropologi Pendudukan perlu untuk menafsirkan kompleksitas motivasi
secara individu, melalui pola-pola perilaku lokal. Kompleksitas ini tersebut, sebagaimana
yang ditemukan oleh Bledsoe beserta timnya di pendesaan Gambia. Ditunjukkan bahwa di
sana, alat kontrasepsi barat secara secara konsisten digunakan oleh para wanita, karena
motivasi dan ketertarikan yang tinggi, sebagaimana keinginan memiliki anak sebanyak yang
memungkinkan, dan hal ini secara tidak langsung mengkondisikan tujuan pembatasan
fertilitas. Organisasi sosial dalam komunitas tersebut menyatakan bahwa memiliki anak-anak
yang sudah dewasa merupakan sumberdaya yang penting dan merupakan tanggungjawab
sosial bagi perempuan. Ide lokal mengenai reproduksi biologis melakukan identifikasi
kehidupan pengasuhan anak sebagai "tubuh yang menghasilkan sumberdaya" (Bledsoe 2002)
dan mengenai kapasitas reproduksi ini, sama sekali terpikirkan untuk menguranginya seiring
dengan pertambahan usia, tetapi dengan tekanan yang diderita oleh tubuh wanita. Salah satu
peristiwa paling membebani wanita dalam pengertian ini dianggap hanya pengalaman sebuah
kecelakaan kecil (keguguran, bayi lahir atau kematian dini pada bayi). Seorang wanita dalam
masyarakat tersebut mempertimbangkan untuk beristirahat di antara kehamilan sebagai cara
yang paling efektif untuk memulihkan kapasitas reproduksi sendiri (sendiri "sumberdaya
tubuh" nya). Kombinasi dari suatu organisasi sosial setempat dan konsep fertilitas lebih
tergantung pada tekanan fisik dibandingkan pada penuaan yang menyebabkan kehamilan
para perempuan berakhir dengan kegagalan untuk menggunakan kontrasepsi barat supaya
dapat memaksimalkan kesempatan untuk bertahan hidup anak-anak mereka berikut. Dalam
contoh terakhir antropologi kependudukan selalu meluruskan konseptualisasi bahwa
organisasi sosial dan budaya sebagai kekuatan yang terpisah dalam mempengaruhi keluaran
demografis.

Cara atau prosedur yang sama untuk sejarah sosial, Antropologi kependudukan memberikan
banyak perhatian pada titik temu kekuatan lokal dan global dalam menghasilkan agen
dinamika struktur populasi. Fokus ini akan lebih menarik jika disajikan dalam pendekatan
politik ekonomi terhadap proses-proses demografi, di mana tujuan dari analisis ini adalah
dampak dari kekuatan ekonomi dengan muatan konteks politik dan budaya, bukan sebaliknya
(Kertzer, 1995, Greenhalgh 1990, Schneider dan Schneider 1984).

Contoh yang bagus dari pendekatan semacam ini adalah kajian yang dilakukan oleh Kertzer
dan Hogan mengenai perbedaan penentuan waktu menolak fertilitas menurut kategori bidang
pekerjaan di Casalecchio, Reno, Italia. Kebiasaan orang-orang pada tingkat lokal terlihat jelas
dipengaruhi oleh seperangkat kisaran dari pengenalan wajib belajar, diberlakukannya
undang-undang pekerja anak, serta jenis pengaturan hidup kelas tertentu, yang
mempengaruhi nilai ekonomis anak-anak bagi orang tua. Hal ini memiliki cara yang berbeda
jika dibandingkan antara petani penggarap dibandingkan dengan semua kelas sosial lainnya
(Kertzer dan Hogan 1986). Demikian pula rekonstruksi penurunan fertilitas di Sisilia,
sebagaimana dikatakan oleh Schneider dan Schneider (1984) dan juga yang dilakukan oleh
Netting (1981) di Swiss Alps keduanya model peran studi ekonomi politik diterapkan serta
mengintervensi fertilitas.

Mereka menggunakan ingatan lisan dan data arsip untuk menentukan kekuatan di balik
transisi fertilitas; penggunakan data historis tentang peristiwa penting juga diuji untuk
menentukan seberapa fertilitas mengalami transisi pada berbagai kelompok sosial. Schneiders
mengatakan bahwa:
"Pendekatan ekonomi politik adalah di atas semua memperhatikan perbedaan kekuatan yang
muncul, dan akan terus muncul, dalam alur sejarah: perbedaan usia dan gender di dalam
lingkungan keluarga dan unit kekerabatan; antara lembaga resmi dan klien mereka,
pelanggan atau pengikut; antara kelas atau kelompok etnis; dan di garis-garis ini sebagai hasil
dari interaksi. Dan berorientasi terhadap penanaman berbagai jenis perubahan, termasuk
perubahan populasi dalam sejarah yang berbeda dari evolusi" (Schneider dan Schneider,
1996: 8).

Secara ideal, pendekatan-pendekatan tersebut terinspirasi oleh politik ekonomi yang di


dalamnya termasuk lima elemen kunci sebagai berikut: fokus pada analisis-analisis multilevel
(berbagai tingkatan); perspektif historis; berorientasi praktis; memperhitungkan kekuatan-
kekuatan aspek ekonomi, politik, dan kebudayaan; dan menggunakan pendekatan-
pendekatan riset metode campuran (mixed-methods). Pendekatan ekonomi politik cenderung
menantang demografi untuk mengabadikan perbedaan yang sedikit artifisial di antaranya
sebagai efek pada perilaku organisasi budaya dan sosial, yang seolah-olah ini diwakili oleh
dua lembaga independen. Misalnya klaim bahwa agama sebagai kekuatan budaya dan
industrialisasi dan kekuatan ekonomi utama bertindak secara terpisah pada transisi fertilitas.
Hal ini harus memperhitungkan peran politik Gereja Roma dalam mendefinisikan segalahal
yang berkaitan dengan registrasi kelahiran dan efek definisi tersebut untuk kematian bayi. Inti
dari hal ini adalah bahwa terdapat hubungan antara lembaga-lembaga sosial dan budaya yang
masih perlu dilakukan eksplorasi dalam konteks lokal. Jenis pendekatan memiliki potensi
untuk mengidentifikasi unit yang relevan tentang pengambil keputusan perilaku (baik
individu, pasangan, unit patrilineal, keluarga inti, atau jaringan lain), dan definisi keputusan
dalam tingkat kerangka situasional (definisi: lokal, regional, nasional, atau global).
Tantangan bagi antropologi kependudukan adalah untuk bergerak di luar studi kasus tunggal,
dan promosi desain penelitian komparatif, yang diharapkan dapat meningkatkan pengujian
teori dan generalisasi teori.
3.2 Gender

Setelah 'budaya', 'jenis kelamin' sebagai kategori analitis yang digunakan oleh para ahli
demografi menjadi paling banyak dikritik dalam antropologi; hal itu kemudian menjadi salah
satu tantangan teoritis utama dalam demografi antropologi. Konseptualisasi dalam demografi
antropologi dari hubungan antara gender dan perilaku demografi telah diringkas oleh Susan
Greenhalgh pada pengantar untuk kumpulan esai 'Pengkondisian Fertilitas'. Dalam
tulisannya, Susan menyatakan mengenai cara bagaimana demografi menjelaskan gender
dalam proses reproduksi yang terbaik adalah "menunjukkan munculnya kajian demografi
mengenai perempuan". Hal ini ditekankan pada wilayah kajian khusus mengenai karakteristik
penting perempuan secara demografis dan mengabaikan pemikiran ulang kategori analitis
terkait dengan gender yang telah banyak dilakukan dalam antropologi, sosiologi, dan sejarah
sosial.

Dengan berfokus pada indikator "peran perempuan", "status perempuan," dan "otonomi
perempuan" dan bukan pada dimensi kontekstual gender, sebagian besar literatur demografi
telah menganggap bahwa gender lebih sebagai atribut individu daripada institusi. Sebagai
perbandingan, redefinisi konsep gender sebagai institusi sosial, berarti mengakui hal tersebut
sebagai prinsip penataan kehidupan sosial, dan distribusi kekuasaan. Karena hal tersebut
mempengaruhi reproduksi, serta domain lain dalam kehidupan, serta memerlukan kajian laki-
laki, dan perempuan serta pertimbangan, baik sosial ekonomi ataupun dimensi ideologi
gender. Kajian antropologi telah banyak mengamati ketimpangan sosial-ekonomi yang
menunjukkan bahwa kesetaraan antara pria dan wanita dalam domain ini tidak selalu tumbuh
sesuai dengan pemberdayaan pemberdayaan perempuan. Gender tampaknya menjadi konsep
multidimensional dengan perubahan yang tidak selalu searah. Konseptualisasi gender sebagai
variabel makro (yaitu prinsip penataan sosial) membuat antropologi demografi sangat dekat
dengan demografi institusional dimaksud dalam rumusannya yang jelas sebagaimana yang
telah dinyatakan oleh Geoffrey Mcnicoll (1980).

Demografi Institusional juga menekankan pentingnya melihat lembaga lokal untuk


menjelaskan perilaku demografi. Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan melihat
lembaga-lembaga sosial formal dan informal sebagai kerangka kerja bagi individu dalam
pengambilan keputusan pada setiap periode waktu tertentu. Dalam hal ini lembaga sebagai
konteks latar belakang perilaku demografi. Misalnya, untuk kembali ke hubungan antara
gender dan fertilitas, pendekatan kelembagaan akan melihat cara di mana hubungan konsep-
konsep struktural gender antara laki-laki dan perempuan di pasar, di ranah hukum, dan dalam
lingkup pribadi ataupun keluarga. Peter McDonald (2000), seorang ahli demografi,
menggunakan pendekatan ini, pengujian tersebut pada tingkat makro, dan menyimpulkan
bahwa dalam konteks ini, kesetaraan gender dijamin pada ruang publik, tetapi tidak dalam
lingkup hubungan pribadi, fertilitas cenderung lebih rendah dalam konteks lain di mana
hubungan gender secara konsisten sama ataupun tidak sama. Cara kedua untuk
mempertimbangkan lembaga sebagai salah satu variabel, adalah untuk mengambil
pendekatan transaksional terhadap perubahan kelembagaan dan untuk melihat bagaimana
lembaga lokal sebagai agen perubahan sebagai konsekuensi dari pola historis atau perubahan
pada tingkat kelembagaan yang lebih tinggi (nasional atau global). Karena fokus pada studi
kasus dan perkembangan sejarahnya, demografi institusional adalah salah satu jembatan yang
lebih solid untuk menghubungkan kesenjangan konsptual antara demografi dan antropologi,
khususnya bidang antropologi dengan pendekatan ekonomi politik.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Susan Greenhalgh (1990) , cara lengkap untuk melihat
masalah yang sama ataupun perbedaan antara keduanya hanya di titik awal hal tersebut.
Demografi institusional akan mengawali kajian dari pengambilan keputusan individu dan
kemudian meluas untuk menentukan konteks kajian lokal dan bagaimana hal tersebut
dimodifikasi oleh kekuatan global. Sebaliknya, "seorang ahli demografi ekonomi politik lebih
mungkin untuk bekerja dari atas ke bawah dimulai dengan pemahaman tentang kekuatan
global historis yang dikembangkan - pasar dunia, sistem kenegaraan pada tingkat
internasional, dan lain sebagainya - yang akhirnya membentuk rezim demografi lokal.
Langkah selanjutnya mengidentifikasi cara-cara yang terjadi pada wilayah regional,
nasional, dan lokal, dan kemudian menelusuri dampaknya pada perilaku fertilitas individu
"(Greenhalgh 1990: 87). Dengan kata lain, sementara demografi kelembagaan memasukkan
lembaga sebagai konteks mendefinisikan struktur kesempatan bagi para pengambil keputusan
yang memiliki nilai-nilai dan tujuan mereka sendiri, di sisi antropologi politik ekonomi
melihat fenomena tersebut sebagai konteks yang mendefinisikan nilai-nilai dan tujuan
melalui definisi struktur kekuasaan dan moral.

4. Tantangan Metodologis: Mengkombinasikan Pendekatan Kajian Lapangan dan


Pendekatan Statistik

Penelitian empiris pada antropologi kependudukan umumnya dilakukan melalui pendekatan


kualitatif dan kuantitatif, baik digunakan secara terpisah atau digabung dalam desain
penelitian yang koheren dan kompleks. Kombinasi dari dua metodologi ini tidak mudah.

Pendekatan minimalis untuk antropologi kependudukan adalah dengan menggunakan metode


antropologi untuk menghasilkan data yang lebih baik, dan menggunakan data tersebut untuk
membuat model dinamika populasi. Secara multidisiplin, metode antropologi yang 'hanya'
diminta untuk berkontribusi pada peningkatan validitas pengukuran dan interpretasi hasil
dengan menyediakan konteks lokal, dan mengklarifikasi dimensi ideasional, serta budaya
lokal (makna dan nilai-nilai). Pendekatan yang terbuka untuk metodologi ini, misalnya, cara
yang baik untuk menjelajahi definisi yang berbeda dari istilah tampaknya sama, dan
mendapatkan salah satu masalah terbesar yang dihadapi kemudian dibandingkan secara lintas
budaya. Ternyata hal sederhana yang menunjukkan konsep-konsep seperti hubungan kerabat,
pengaturan hidup, status perkumpulan, atau migrasi, mungkin memiliki konsekuensi perilaku
yang sangat berbeda karena hal-hal tersebut dapat memiliki arti yang berbeda. Dalam
studinya tentang motivasi strategi di luar kajian tentang rumah tangga di Sierra Leone,
Bledsoe (1990) menunjukkan cara di mana kewajiban intragenerational antara kerabat tidak
kaku diatur dan univocal, melainkan tersebar di jaringan ikatan yang selalu berubah.
Dukungan masa depan dari anak-anak biologis tidak dapat secara otomatis diasumsikan
dipengaruhi oleh bagaimana pola asuh atau tanggung jawab orang tua: melainkan harus
dinegosiasikan. Sifat kerja lapangan antropologis, yang melibatkan peneliti dengan konteks
empiris di bawah pengawasan dan dapat mengamati perilaku masyarakat secara langsung,
dengan menyusun strategi metodologis yang sangat kuat untuk mendapatkan pembacaan
kritis terhadap reportase perilaku dan untuk melihat potensi bias secara sistematis. Karena
bias, penelitian akan melemahkan kualitas data. Antropologi kependudukan memiliki
penekanan khusus pada metode penelitian lapangan sebagai dasar dari kajian etnografi;
namun ketika para peneliti memiliki tujuan pada penekanan kedalaman sejarah, data
lapangan perlu dilengkapi dengan penggunaan arsip, registrasi, dan dokumentasi lainnya,
seperti yang disediakan oleh kajian sejarah lisan. Pendekatan terakhir ini pada demografi
antropologis, diterjemahkan dengan menggunakan interpretasi yang cermat dari data statistik
historis; dengan demikian hal dapat disejajarkan dengan karya sejarah sosial, dan melengkapi
bekerja di demografi sejarah (Hammel 1995, Kertzer 1987).

Dalam rangka mencapai kedalaman kontekstual yang diperlukan, dan untuk menyuarakan
penelitian kualitatif, antropologi kependudukan cenderung memilih untuk melakukan studi
kasus. Sifat sample yang non-representative karena relatif kecil, kajian yang didasarkan pada
studi kasus masih menuai skeptisisme tentang karena hasil dari pendekatan tersebut tidak
dapat digeneralisasikan untuk seluruh penduduk. Oleh karena itu, kegunaan hasil studi kasus
ini, masih menjadi bahan diskusi di antara beberapa ahli demografi. Meskipun demikian, hal
tersebut sering kali terjebak pada diskusi yang menembak target yang salah, karena diskusi
tersebut gagal untuk mengakui bahwa tujuan dan kontribusi yang unik dari studi kasus
memang tidak atau kurang menyediakan kuantifikasi fenomena yang diteliti, dan lebih
menekankan pada klarifikasi mekanisme yang terlibat dalam menghasilkan dan untuk
memperjelas interkoneksi yang kompleks fenomena kependudukan.

Di pihak antropologi terdapat ketidakpuasan terhadap pendekatan minimalis ini, di mana


kebijaksanaan antropologi hanya dianggap penyedia pelayanan sebagai hamba untuk statistik
demografi. Beberapa ahli menolak identifikasi sederhana antropologi dengan metode
kualitatif dan berpendapat untuk memperkuat posisi metodologis, yang telah diberi label
"interpretatif demografi kritis" atau "demografi tanpa angka" (Sheper-Hughes 1997: 203).
Antropolog menganut pandangan ini berpendapat untuk dekonstruksi tujuan kategori
demografis analitis, dan metodenya dalam mendukung pemahaman tentang praktek-praktek
sosial lokal. Penelitian Sheper-Hughes (1992) sendiri tentang kematian bayi di "favela" dari
sebuah kota berukuran menengah di Brasil, dimulai dengan memeriksa standar registrasi
kematian anak balita. Ia menemukan bahwa sepertiga dari anak-anak tersebut hilang dari
catatan resmi; kemudian, catatan kematian yang ada sering kurang informatif, terutama
informasi sejauh penyebab anak kematian yang bersangkutan. Daripada membatasi dirinya
untuk mencatat bias bahwa rendahnya kualitas pencatataan data dapat digunakan untuk
menyiratkan memperkirakan kematian bayi dengan tepat, dia terlibat dalam observasi
partisipan dan wawancara terbuka. Melalui kerja lapangan yang intensif tersebut, dia
menyadari bahwa perempuan (dan orang dewasa lainnya) memberikan perawatan dari ibu ke
bayi mereka sangat bertahap, dengan keyakinan bahwa sejumlah anak-anak tidak
dimaksudkan untuk bertahan hidup, dan ditakdirkan untuk menjadi "malaikat" tak lama
setelah lahir. Mengingat kematian bayi yang tinggi di daerah tersebeut, praktek ini dapat
diartikan sebagai cara untuk melindungi ibu dari kehamilan dini dalam konteks di mana
kemungkinan kehilangan anak tinggi.

Sebagaimana "orientasi praktis, orientasi kritis juga harus diterapkan, dengan melihat
antropologi politik", (Sheper-Hughes 1997: 219) mampu melihat dan menjelaskan
karakteristik sosial proses kependudukan yang tersembunyi dari data resmi, sehingga perlu
berdamai dengan orientasi demografi untuk kajian silang budaya, generalisasi, dan pengujian
teori. Kesulitan yang timbul dari penggabungan metode kualitatif dan kuantitatif
menyebabkan pertanyaan, apakah penggabungan tersebut lebih baik dengan mengerjakan
proyek demografis secara tim multidisiplin, yaitu demografer dan antropolog yang terlatih,
atau alternatif untuk berinvestasi dalam program pelatihan interdisipliner untuk membentuk
demografi antropologi sepenuhnya bulat. Opsi pertama menawarkan keunggulan komparatif
spesialisasi tetapi memiliki resiko menciptakan hambatan komunikasi antara peneliti. Opsi
kedua, sambil menanggulangi masalah yang akhir-akhir ini oleh paparan kedua disiplin ilmu
terserbut. Namun dalam tahun-tahun mahasiswa menjalani perkuliahannya, mungkin
meremehkan sejumlah investasi yang dibutuhkan untuk membentuk demografi yang baik dan
antropolog yang baik.

5. Penelitian empiris di demografi antropologi

Bagian sebelumnya dari pembahasan ini telah menelisik masalah teoritis dan metodologis
yang dipertaruhkan dalam demografi antropologi; sekarang, kontribusi ilmu tersebut terhadap
studi populasi akan digambarkan dengan menggunakan contoh yang dipilih dari beberapa
keragaman jenis lingkup penelitian itu mencakup. Tiga contoh yang dipilih diambil dari
tempat dan waktu yang berbeda, dan dilakukan oleh para sarjana dari latar belakang disiplin
ilmu yang berbeda. Mereka juga menangani aspek yang berbeda dari penelitian demografi,
yaitu fertilitas, migrasi, dan kematian. Namun, mereka memiliki tiga kualitas yang sama, dan
dipilih: mereka dengan jelas menggambarkan kontribusi teori dan metode antropologi untuk
memahami dinamika populasi; mereka memberikan kontribusi yang signifikan terhadap
interpretasi mengenai pola demografis yang ditertentu; dan mereka yang diterbitkan relatif
baru.
5.1. Fertilitas

Dalam penelitiannya tentang makna ayah dan keterlibatan ayah pada anak-anak di sebuah
desa di Botswana, Nicholas Townsend (2002) mencermati model budaya yang digunakan
untuk melakukan evaluasi terhadap perilaku laki-laki dalam peran mereka sebagai ayah, baik
itu oleh sang ayah sendiri, oleh orang lain dan dari anggota kerabat dan rekan dalam
kelompok mereka. Minat tersebut semakin besar karena secara jelas peran pria ditemukan
pada data resmi, yang melaporkan sangat tingginya persentase kelahiran di luar nikah,
persentase yang tinggi juga terdapat pada data kepala rumah tangga perempuan, dan sekitar
70% dari pria berusia 20-40 tinggal jauh di luar desa mereka (merantau) hal ini sebagai akibat
dari tenaga kerja migrasi keluar. Townsend menggunakan wawancara untuk melakukan
rekonstruksi hubungan sosial dan ekonomi dari sekelompok orang selama menjalani
kehidupan keseharian mereka dan mengamati hubungan ini selama di lapangan selama 11-
bulan.

Analisis dari sejarah kehidupan dengan data lapangan yang menghasilkan unsur-unsur sulit
untuk di temukan pada data resmi; Hal ini pada gilirannya memungkinkan para peneliti untuk
menarik kesimpulan tentang nilai-nilai yang dominan yang berkaitan dengan ayah dan
orangtua dalam konteks tersebut, dan hal ini juga digunakan untuk menafsirkan letak fertilitas
pria dalam reproduksi populasi ini. Terdapat banyak penjelasan yang dapat dikaitkan dengan
sistem perkawinan dan konsep tanggung jawab orang tua di desa tersebut.

Pertama, dalam konteks ini hubungan antara pernikahan dan ayah biologis, lemah. Status dan
peran sebagai atribut ayah lebih bersifat sosial, bukan pada prinsip-prinsip biologis: di satu
sisi memberikan sejumlah pembayaran pada pengantin, memungkinkan seorang pria
memperoleh atribut ayah untuk dirinya sendiri bagi semua anak yang lahir dari istrinya; di
sisi lain tidak ada kewajiban hukum bagi seorang pria untuk memberikan keturunan
biologisnya, karena secara hukum lebih mewajibkan pembayaran satu kali kompensasi
kepada orang tua seorang wanita yang mengaku telah dihamili. Hal ini memiliki konsekuensi,
hanya sedikit pria yang belum menikah, menyatakan diri untuk menjadi ayah; ini terjadi
terlepas dari kenyataan bahwa sebagian besar dari laki-laki tersebut tidak menyatakan dirinya
sebagai ayah yang diketahui telah memiliki anak biologis.

Kedua, fertilitas pria terkait lintas generasi dan persaudaraan. Kegiatan dan pertukaran yang
akan terjadi di tempat lain dianggap khas dalam keterlibatan ayah yang sering diambil alih
oleh kakek dan saudara ibu saudara dengan anak-anak bukan secara biologis maupun secara
sosial, anak mereka sendiri. Salah satu contoh kasus: Townsend memberikan reportase bahwa
ia pernah bertemu dengan setiap anak sulung yang tidak lahir di rumah kakek-dari ibu
mereka. Dia juga mengamati bahwa bagi sebagian besar anak-anak, hubungan teman sebaya
pertama mereka adalah dengan saudara kandung mereka sendiri dan anak-anak yang lahir
dari saudara ibu mereka. Kakek turut merawat cucu mereka sampai putri mereka, ibu anak-
anak, menikah dengan seorang pria yang dapat membayar mas kawin dan biaya pernikahan.
Dalam konteks ini laki-laki hanya menjadi kepala rumah tangga mereka sendiri di bagian
akhir hidup mereka dan pada saat itu rumah tangga mereka mengandung jumlah anak yang
mereka memiliki dengan hubungan biologis dan sosial yang berbeda. Seorang pria mungkin
tidak pernah tinggal atau merawat anak pertamanya sendiri, sedangkan ia mungkin
menghabiskan bertahun-tahun dengan hubungan yang sangat dekat dengan satunya anak
bungsunya. Demikian pula, saudara ibu juga sangat banyak terlibat dengan keturunan saudara
mereka. Misalnya, pada kesempatan pengaturan perkawinan, paman ibu memiliki hak dan
kewajiban untuk berkontribusi pada negosiasi tentang mas kawin. Praktek sosial tersebut
sepertinya membuat daya tarik pemuda di pasar pernikahan tergantung pada karakteristik
rumah tangga dan kerabat-kerabatnya. Misalnya, status persaudaraan dan sosial pasangan
mereka mempengaruhi kemampuannya untuk membayar mas kawin, seperti kekayaan
saudara-saudara ataupun ayahnya.
Dalam konteks ini, melahirkan anak dan ayah yang memiliki hubungan kekerabatan yang
membentang lebih dari satu generasi dan berbagai aspek pengasuhan, seperti tinggal bersama,
dukungan ekonomi, dan kedekatan emosional didistribusikan di antara orang yang berbeda
dalam periode yang berbeda dari perjalanan hidup. Sebagai Townsend menempatkan
"kesuburan pria, dalam arti biologis sempit, dapat terus akhir waktu hidup. Lebih penting
lagi, berbagai hubungan laki-laki memiliki dengan anggota generasi berikutnya
mempengaruhi reproduksi mereka sendiri, reproduksi anak-anak mereka dan kemungkinan
kehidupan cucu mereka "(Townsend, 2000: 361).

Dalam sebuah makalah berikutnya, Townsend (2002) membandingkan data dari studi kasus
Botswana dengan orang-orang dari perkotaan di Northern California (AS), di mana
seperangkat harapan orangtua dan ayah terkonsentrasi pada satu hubungan orangtua tunggal.
Pesan utama dalam penelitian ini adalah bahwa aspek paling relevan dari bagaimana
keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak dirasakan oleh anak-anak. Persepsi tersebut
dimediasi oleh norma-norma budaya pengasuhan yang tepat dan sebagai ayah dan "apakah
anak-anak berpikir mereka mendapatkan hak untuk memiliki harapan" (idem 2002: 254).
Dalam rangka untuk membuat hipotesis tentang, bagaimana keterlibatan ayah memiliki
konsekuensi bagi fertilitas pria, perlu dipahami dengan model budaya ayah dan segala hal
yang terkait dengan hal tersebut. Di AS mungkin terjadi bahwa ayah memiliki waktu dan
kontak emosional dengan anak-anak. Hal ini merupakan elemen penting untuk menjelaskan
perkembangan anak dan prestasi mereka dalam kehidupan mereka di masa dewasa. Namun,
hal ini tidak selalu begitu dalam budaya di mana ayah dikaitkan dengan perbedaan harapan.

5.2 Kematian

Contoh untuk pembahasan mengenai kematian ini akan membahas kematian yang
menyangkut dengan kematian anak akibat campak, karena hal ini merupakan salah satu
penyebab paling umum dari kematian anak di negara berkembang. Peter Aaby, seorang ahli
epidemiologi, telah melakukan penelitian perbedaan alasan kematian akibat campak, pada
anak laki-laki dan perempuan; yang akhir-akhir ini muncul sebagai salah satu penderitaan.
Aaby memusatkan kajian pada interaksi antara pola perilaku dan penularan penyakit, dan
penelitian tersebut sepenuhnya memiliki roh yang sangat demografi antropologi, karena
pertanyaan ditujukan secara demografis yang khas (angka kematian pada usia anak
berdasarkan jenis kelamin dan usia), hal ini begitu menari karena kedua hal ini memberikan
interpretasi pada kedua mekanisme epidemiologi dan budaya, serta teori Gender (Aaby
1998).

Perbedaan gender dalam kematian anak-anak yang diakibatkan penyakit infeksi sebagaimana
biasa nampak di negara-negara berkembang, dan dari perbedaan tersebut nampak lebih
menguntungkan nasib anak laki-laki. Memang, pola tersebut bertentangan dengan keyakinan
bahwa perempuan memiliki keunggulan biologis karena secara hormonal dan genetik
perempuan memiliki sistem kekebalan yang lebih kuat dibandingkan dengan anak-anak laki-
laki. Interpretasi pola yang tak terduga tersebut adalah peluang kelangsungan hidup terkait
dengan perbedaan cara pengobatan laki-laki yang sakit dan anak-anak perempuan,
dibandingkan ditentukan oleh karakteristik biologis mereka. Argumen dari interpretasi
berikut: dalam konteks di mana terdapat preferensi seks untuk pria (anak laki-laki lebih
diutamakan untuk dibawa ke fasilitas kesehatan) dan di mana sumber daya tenaga kesehatan
yang langka, seperti halnya di banyak negara berkembang, perlakuan jenis kelamin yang
berbeda (pada dasarnya makan dan perawatan) yang mendukung anak laki-laki. Hal ini yang
kemudian dapat digunakan menjelaskan mengapa kematian anak perempuan karena penyakit
campak menjadi lebih tinggi. Berikut pilihan kerangka teori yang rasional dari kesimpulan
ini. Kesimpulan ini akan cukup untuk menjelaskan pola-pola yang teramati dan demografi
dapat mempertimbangkan bahwa pertanyaan penelitian tersebut telah terjawan, sehingga
kemudian dapat memberikan saran kepada langkah-langkah kebijakan untuk mengatasi
preferensi seks di tingkat rumah tangga dan masyarakat. Aaby mempertanyakan validitas
penjelasan tunggal untuk perbedaan gender ini. Di satu sisi, ia berpendapat, bahwa penjelasan
alam mentakdirkan perempuan dalam merespon kekebalan yang lebih baik, tidak akan cukup
konsisten untuk menjelaskan berbagai pola kematian secara umum, khususnya pada kematian
yang disebabkan oleh penyakit campak berdasarkan usia, dan jenis kelamin yang diamati
pada populasi secara historis dan kontemporer.

Abby menyajikan data historis yang dapat menunjukkan bahwa anak perempuan dalam daftar
kematian lebih tinggi disebabkan oleh campak, mulai dari perbedaan usia dalam konteks
sosial yang berbeda. Data menunjukkan bahwa perbedaan usia dan jenis kelamin sangat
tergantung pada karakteristik yang berhubungan dengan jenis kelamin secara sosial. Aaby
berpendapat bahwa penjelasan berdasarkan bias preferensi seks, dengan menghubungkan
penyebab efek sosial, semata-mata untuk perlakuan istimewa orang tua secara sadar orang tua
'terdapat anak-anak laki-laki, mengabaikan peran lembaga dalam menciptakan kesenjangan di
tingkat struktural.

Aaby menyarankan menggabungkan dua argumen ini, dan mempertimbangkan hal lain selain
bagaimana mekanisme genetik, infeksi, dan interaksi lembaga-lembaga sosial dalam
peranannya memproduksi kematian secara diferensialini. Penjelasannya terdiri dari dua
bagian utama: Pertama yang berkaitan dengan cara campak ditularkan, dan yang kedua
dengan cara membedakan secara jenis kelamin, hal ini mungkin akan memiliki pengaruh
yang secara berbeda dalam mengalami campak tersebut. Bagian pertama dari argumen
menjadi dasar dari dua fakta mengenai mekanisme penularan campak diambil dari literatur
epidemiologi. Pertama, campak (seperti penyakit menular lainnya) lebih cenderung
ditularkan oleh kontak dekat dan lebih mungkin untuk menjadi fatal jika kontak dengan
seseorang bertempat tinggal serumah, daripada jika kontak tempat lain. Kedua, meskipun
daya tahan dari anak-anak yang masih terlalu kecil/muda lebih kecil dibandingkan anak-anak
usia tertentu, dan dalam hal tingkat respon respon terhadap imunitas, serta tingkat keparahan
berkaitan dengan intensitas. Bagian kedua dari argumen Aaby ini, mengenai penjelasan dari
perbedaan anak perempuan dan anak laki-laki, menggabungkan literatur antropologi
sekunder, dan pengalaman kerja lapangan tersebut. Hipotesisnya menyatakan bahwa
perbedaan jenis kelamin yang diamati mungkin berhubungan dengan anak-anak perempuan
yang lebih sering berada di rumah daripada anak laki-laki dan memiliki kontak lebih dekat
dengan orang lain. Selain itu, anak-anak perempuan beberapa memiliki kewajiban untuk
menjaga adik-adik mereka yang sakit, bahkan anak-anak perempuan sering mengorbankan
aktivitas sekolah untuk membantu pekerjaan rumah tangga, dan oleh karena itu mereka lebih
rentan terkena infeksi pada usia yang lebih tua dari teman laki-laki sepantaran mereka.

Jika terdapat peranan dalam perbedaan perawatan secara sadar terhadap anak-anak oleh
orang tua, kita juga harus memperhitungkan perbedaan kematian kematian diferensial karena
lembaga-lembaga sosial yang mengatur perbedaan secara jenis kelamin tersebut. "Kerangka
kelembagaan serta keyakinan budaya memiliki efek besar pada perbedaan angka kematian
melalui cara mereka membangun perbedaan gender dalam perilaku, yang pada gilirannya
mempengaruhi penularan penyakit, misalnya dengan membatasi perempuan di rumah dan
mengirim anak-anak ke sekolah" (Aaby 1998: 224 -225).

5.3 Migrasi

'Penemuan' terakhir tentang migrasi oleh antropologi pada tahun 1960, ditandai dengan
penekanan awal pada kajian migrasi desa-kota, pertumbuhan populasi eksponensial dari
pusat-pusat perkotaan di negara-negara berkembang, dan transformasi terkait masyarakat dari
agraris pedesaan untuk industri perkotaan. Tiga puluh tahun kemudian, pada era 1990-an,
perhatian telah mulai bergeser pada kajian yang lebih luas yaitu migrasi internasional, dan
studi besar di daerah yang difokuskan pada pengirim migran, pada kehidupan migran di
lingkungan baru, dan bahwa anak-anak mereka (generasi kedua). Aspek teoritis
terkonsentrasi pada isu-isu transnasionalisme sebagai model alternatif berpikir tentang
migrasi ke model lama, tentang asimilasi dan integrasi, dan identitas etnis sebagai isu
menjadi lebih penting karena populasi migran berkembang dalam konteks perkotaan. Tema
lainnya secara reguler dibahas dalam literatur mengenai peran kekuasaan dan gender dalam
proses pengambilan keputusan migrasi, dan makna migrasi paksa, dan daya mengacaukan
proses demografi. Sementara ulasan terbaru, tugas antropologi dalam makalah-makalah yang
merupakan hasil kajian migrasi lebih banyak tertarik dengan kajian migrasi dari Asia, Afrika,
atau Amerika Selatan ke daerah yang lebih makmur, contoh yang sesuai dari penelitian
demografi antropologi dalam konteks Eropa adalah penelitian oleh Brettell pada migrasi
Portugis ke Prancis (Brettell 2003). Individu, rumah tangga, dan menyatakan semua memiliki
peran dalam penentuan fenomena migrasi, sehingga migrasi yang dapat dipelajari secara
mikro, meso, ataupun di tingkat makro, serta pada berbagai unit analisis yang dipilih. Dalam
rangka untuk mendapatkan gambaran lengkap tentang kasus migrasi Portugis, Brettell
memilih fokus pada keterkaitan antara tiga tingkat dinamika antara struktur dan agensi. Dia
membahas masalah migrasi - mengapa orang bergerak, yang bergerak dan apa konsekuensi
dari pengambilan keputusan tersebut – dilihat dari perspektif multilevel dan sejarah.
Penelitiannya didasarkan pada data arsip, data statistik, wawancara narasi, dan kerja lapangan
antropologis di Portugal, serta partisipasi observasi di antara masyarakat pendatang Portugis
di Perancis, Amerika Serikat, dan Kanada.

Pertama, dari perspektif makro, Brettell membahas kaitan antara bagaimana arus penduduk
terlihat dan dikendalikan oleh negara Portugis, dan strategi individu untuk menghindari
kontrol negara tersebut. Kesimpulan dari hal tersebut, sejak tahun 1960-an, migrasi keluar
menjadi solusi yang nyaman dan efisien bagi Negara untuk mengatasi tingkat pengangguran
yang tinggi melanda Portugal Utara. Dengan meninggalkan negara asal, migran
bertanggungjawab terhadap kesuksesan atau kegagalan dan upaya mereka sendiri ekonomi
untuk mempertahankan keluarga mereka, sementara pengiriman uang juga mewakili sumber
kekayaan bagi negara. Kedua, cerita-cerita sukses migran pendahulu menjadi motivasi
mereka untuk bermigrasi dan mencari pengalaman hidup mereka untuk migrasi, Brettel
mengumpulkan informasi rinci tersebut di tingkat mikro mengenai migrasi individu, dan
proses pengambilan keputusan. Informasi tersebut kemudian disesuaikan dengan konteks dan
ditafsirkan secara jelas dengan menggunakan data statistik yang berkaitan dengan sejarah
migrasi masyarakat yang memiliki banyak cerita pengalaman individu yang tertanam.
Ketiga, mengingat individu sebagai anggota jaringan sosial (rumah tangga, keluarga, atau
masyarakat), Brettell juga memperhatikan strategi kelompok dan hubungan saling
ketergantungan untuk mengambil keputusan dalam kelompok sosial tersebut: "baik itu
keluarga inti di mana laki-laki bermigrasi sementara wanita cenderung tetap tinggal, sebuah
keluarga besar yang mengirim beberapa anak yang belum menikah untuk migrasi dengan,
atau tanpa orang tua, atau desa di mana keluarga mengukur/membandingkan diri terhadap
satu sama lain, sehingga relatif kurang menjadi stimulus untuk keberangkatan "(hal. 6).

Terinspirasi oleh konsep "budaya migrasi" (Massey 1993), ia menguraikan tentang pengaruh
pengalaman migrasi kumulatif dalam suatu populasi yang dari generasi ke generasi telah
menjadi saksi sebagian besar proses migrasi pemuda yang meninggalkan negara tersebut. Di
sisi lain, hal ini dilihat dari perspektif sosiologis, dilakukan analisis jaringan hubungan di
antara para migran di negara tujuan. Modal sosial di daerah tujuan dibangun oleh masyarakat
yang datang terlebih dulu merupakan aset bagi para pendatang baru dan potensial. Di sisi
lain, Brettell menyimpulkan dari wawancara bahwa migrasi dalam konteks tingkat migrasi
yang tinggi dipandang sebagai transisi jalan hidup yang diharapkan; diharapkan sebagai mana
halnya pendidikan atau pekerjaan. Dengan karakteristik tersebut, maka hal ini menjadi
penanda baik bagi identitas individu dan kelompok ( "menjadi Portugis untuk melakukan
emigrasi atau memiliki seseorang dalam suatu keluarga emigran" p. 4). Makna budaya
migrasi dalam pengertian ini merupakan identifikasi simbolik.

Brettell menempatkan pengalaman migrasi penduduk Portugis ke dalam perspektif sejarah,


kemudian analisis adalah kedua pola kecenderungan historis imigrasi Portugis di negara-
negara tujuan serta konsekuensi bias gender dari aliran migrasi-keluar dari Portugal tersebut.
Secara khusus Brettell tertarik pada konsekuensi migrasi-keluar pada struktur rumah tangga,
pengaturan hidup, dan aktivitas ekonomi perempuan yang ditinggalkan sebagai single,
menikah, dan janda (baik dalam arti harfiah atau sebagai janda virtual dengan suami masih
hidup namun suami tidak ada). Untuk studi kasus penelitian ini dilakukan pada paroki Santa
Eulalia de Lanheses di Northwestern Portugal, yang memungkinkan untuk dapat dilakukan
rekonstruksi informasi penting selama periode antara tahun 1850 dan 1920. Salah satu
temuan yang paling luar biasa adalah bahwa banyak rumah tangga yang muncul dan menjadi
mandiri, secara geografis berkerumun bersama dalam satu garis kekerabatan perempuan;
pada kenyataannya, mereka merupakan semacam rumah tangga yang diperpanjang dan
terbentuk sebagai konsekuensi dari intensitas laki-laki yang melakukan migrasi keluar.

6. Perspektif Masa Depan

Demografi antropologi adalah bidang penelitian yang berkembang dan telah menghimpun
para ahli dari dua disiplin ilmu untuk mempelajari topik yang sama. Definisi yang terus
dikembangkan dari tahun ke tahun di perbatasan disiplin ilmu tersebut. Pengembangan yang
terus-menerus dilakukan oleh komunitas riset secara aktif dan telah mencapai kemajuan
secara konseptual dan secara analitis telah mengiringi luasnya penelitian empiris di beberapa
tahun terakhir. Pembahasan ini memusatkan perhatian pada elemen kunci dasar teoritis dan
metodologis serta tantangan Demografi Antropologis yang dihadapi oleh para praktisi sampai
saat ini.

Harapan yang memungkinkan untuk diwujudkan dengan keberadaan disiplin ilmu demografi
antropologi ini paling tidak ada beberapa hal, sebagai berikut. Pertama, diharapkan bahwa
demografi antropologi banyak menyumbangkan peran dalam penelitian-penelitian empiris
terutama untuk memahami aspek-aspek yang berkaitan dengan fenomena kependudukan
dalam konteks industri modern. Hal ini telah terlihat selama ini bahwa dalam bidang kajian
migrasi dan demografi sejarah. Konsekuensi demografi budaya reproduksi, kelompok,
penduduk usia lanjut, dan kesehatan masyarakat, masih belum banyak diteliti oleh para ahli
demografi antropologis. Memang, mudah untuk membayangkan perlunya penggunaan
pendekatan demografi antropologis untuk meneliti berbagai nilai-nilai secara simbolik
mengenai teknologi reproduksi dalam atau yang menentukan keadaan politik dan ekonomi
mengenai penduduk usia lanjut.
Kedua, dialog antara antropologi dan demografi dapat diperpanjang sehingga beberapa
cabang tetap pada margin studi populasi. Salah satu contoh adalah antropologi kognitif
(D'Andrade 1997 [1992]), yang dapat menunjukkan sebuah studi sistematis mengenai cara
seseorang membangun skema budaya serta peran gender, dengan mengkaji mengenai
bagaimana kondisi penduduk usia lanjut, cara perawatan, jenis penyakit, identitas dan lain
sebagainya. Pendekatan ekonomi politik belum sepenuhnya dilakukan untuk pembaharuan
demografi institusional. Dalam kedua penjelasan di tingkat konteptual masih didominasi oleh
konsep yang kaku secara institusional. Konsep seperti itu membatasi demografi institusional
dalam lingkup dampak institusi tertentu terhadap perilaku individu. Hal yang dibutuhkan
adalah penggabungan interaksi antara lembaga individu dan lembaga-lembaga, serta
bagaimana cara institusi-institusi budaya, ekonomi dan politik saling terkait dalam perspektif
sejarah.

Ketiga, sejak masa awal munculnya sampai pada antropologi mendudukung teknik demografi
yang lebih canggih seperti analisis peristiwa sejarah dan melakukan kajian komparatif, serta
berkomitmen untuk membuat kolaborasi dalam tim multidisiplin yang lebih baik dan
melakukan pengembangan demografi antropologi secara lebih pesat. Menurut David Kertzer,
"banyak projek antropologi pada topik-topik seperti fertilitas dan migrasi yang berlangsung
tanpa mengacu pada literatur demografi" (Kertzer 2006: 543). Meskipun demografi
antropologi mendapatkan wilayah kajian secara khusus dalam demografi, berkat kontribusi
penting yang telah dibuat, komunitas ahli demografi belum bulat meneriman dalam batas-
batas tertentu. Beberapa perwakilan dari demografi lebih memilih untuk menentukan inti dari
bidang mereka dengan metode analisis formal, dan membatasi ilmu yang mempelajari
perubahan populasi dan struktur dalam ukuran kuantitatif. Dengan definisi tersebut, sebagian
besar penelitian yang didedikasikan untuk mengungkap penyebab dan konsekuensi dari
perubahan demografi seharusnya tidak lagi dianggap sebagai bagian dari pekerjaan
demografi saja. Namun, jika demografi dianggap sebagai ilmu yang menganalisis penyebab
dan akibat proses populasi, maka sebagaimana pendapat Bozon (2006) menyatakan bahwa
"demografi komprehensif", dengan demikian, maka demografi antropologi akan terus
memberikan wawasan yang unik ke dalam peran budaya dan kompleksitas kekuatan
institusional global dan lokal dalam proses tersebut.