Anda di halaman 1dari 31

TRANSAKSI BERBASIS SYARIAH DAN

PELAPORAN KEUANGAN SYARIAH

Diajukan untuk memenuhi dan melengkapi salah satu syarat


Dalam menempuh Perkuliahan Pelaporan Korporat pada
Fakultas Ekonomi Program Profesi Akuntansi Universitas Widyatama

Dosen Pembimbing : Bachtiar Asikin, S.E., M.M., Ak., CA

Disusun Oleh :

Kelompok 3

1. Yani Abdillah (1517202010)


2. Edwin Gunawan (1517204001)

FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM PROFESI AKUNTANSI
UNIVERSITAS WIDYATAMA
Terakreditasi (accredited)
SK. Ketua Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT)
Nomor : 1148/SK/BAN-PT/Ak-SURV/PPAK/XI/2015
Tanggal 31 Januari 2015
BANDUNG
2018
TRANSAKSI BERBASIS SYARIAH DAN
PELAPORAN KEUANGAN SYARIAH

ABSTRAK

Syariah merupakan ketentuan hukum Islam yang mengatur aktivitas umat


manusia yang berisi perintah dan larangan, baik yang menyangkut hubungan
interaksi vertikal dengan Tuhan maupun interaksi horisontal dengan sesama
makhluk. Prinsip syariah yang berlaku umum dalam kegiatan muamalah
(transaksi syariah) mengikat secara hukum bagi semua pelaku dan stakeholder
entitas yang melakukan transaksi syariah.
Tujuan laporan keuangan syariah adalah untuk memberikan informasi
tentang posisi keuangan, kinerja, dan arus kas entitas syariah yang bermanfaat
bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat
keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban
manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada
mereka.

Kata kunci : transaksi syariah dan penyajian laporan keuangan syariah

i
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim,

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah S.W.T yang atas

kehendak-Nya dan izin-Nya lah penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat

serta salam tercurah limpahkan kepada baginda Rasullallah Muhammad S.A.W.

untuk sauri tauladan yang paling sempurna bagi seluruh umat manusia.

Makalah ini berjudul “Transaksi Berbasis Syariah Dan Pelaporan

Keuangan Syariah”. Adapun maksud dan tujuan penyusunan makalah ini adalah

untuk memenuhi salah satu syarat dalam menempuh perkuliahan Pelaporan

Korporat pada Fakultas Ekonomi Program Profesi Akuntansi Universitas

Widyatama.

Kami menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh

karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami

harapkan demi kesempurnaan Makalah ini.

Selama penulis menyelesaikan makalah ini tidak terlepas dari dukungan

moril maupun materil serta doa yang diberikan oleh berbagai pihak. Pada

kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih secara tulus kepada :

1. Bapak Tezza Adriansyah Anwar, Dr., S.I.P., M.M. selaku Direktur

Program Pasca Sarjana Universitas Widyatama.

2. Bapak Bachtiar Asikin, S.E., M.M., Ak., CA. selaku Wakil Direktur

Program Pasca Sarjana Universitas Widyatama.

ii
3. Bapak Karhi Nisjar Siradjudin, Prof., Dr., H., M.M., Ak. selaku Ketua

MAKSI-PPAK Universitas Widyatama.

4. Bapak Bachtiar Asikin, S.E., M.M., Ak., CA Selaku Dosen Pembimbing

Mata Kuliah Pelaporan Korporat.

5. Teman-teman Kelas Program Profesi Akuntansi Angkatan XXX, Riandy,

Dede, Yulianti, Diqi, Rizkia, Sarah, Putri, Fadilla, Elsya, Joko, Andri dan

Denden.

Demikian ucapan terima kasih yang dapat disampaikan, penulis berharap

semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membaca.

Jazakumullahu khairan katsira. Amin.

Bandung, Oktober 2018

Penulis

iii
DAFTAR ISI

ABSTRAK ............................................................................................................... i

KATA PENGANTAR ............................................................................................. ii

DAFTAR ISI ............................................................................................................ iv

DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………………... vi

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah .................................................................... 1

1.2 Identifikasi Masalah .......................................................................... 2

1.3 Pembatasan Masalah.......................................................................... 2

1.4 Tujuan ................................................................................................ 3

1.5 Manfaat .............................................................................................. 3

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Akuntansi syariah …………………………………........ 4

2.2 Prinsip-Prinsip Akuntansi Syariah ………………………………… 5

2.3 Karakteristik Akuntansi Syariah …………………………………... 6

2.4 Transaksi Berbasis Syariah ………………………………………... 10

2.4.1 Transaksi Yang Dilarang Dalam Syariah ……………………. 13

2.4.2 Konsep Keuntungan Dalam Syariah ………………………… 14

2.5 Tujuan Kerangka Dasar Pelaporan Syariah ……………………….. 15

2.5.1 Pelaporan Keuangan Syariah ………………………………... 15

iv
BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ........................................................................................ 17

3.2 Saran .................................................................................................. 17

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

v
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : LAPORAN KEUANGAN PUBLIKASI (BULANAN) PT. BANK


SYARIAH MANDIRI PER 30 SEPTEMBER 2018

vi
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Adanya perubahan lingkungan global yang semakin menyatukan hampir
seluruh negara di dunia dalam komunitas tunggal yang dijembatani perkembangan
teknologi komunikasi dan informasi yang semakin murah dan menuntut adanya
transparansi di segala bidang. Akuntansi adalah media komunikasi, oleh karena
itu sering disebut sebagai “Bahasanya Dunia Usaha” (Business Language).
Sistem keuangan Islam bukan sekedar transaksi komersial, tetapi harus
sudah sampai kepada lembaga keuangan untuk dapat mengimbangi tuntutan
zaman. Bentuk sistem keuangan atau lembaga keuangan yang sesuai dengan
prinsip Islam adalah terbebas dari unsur riba. Kontrak keuangan yang dapat
dikembangkan dan dapat menggantikan sistem riba adalah mekanisme syirkah
yaitu musyarakah dan mudharaba.
Akuntansi merupakan salah satu pokok materi kehidupan keseharian kita.
Berkenaan dengan prospek ekonomi ke depan, diharapkan kondisi perekonomian
global yang masih belum pulih tidak akan begitu berpengaruh terhadap
perekonomian domestik seiring dengan perbaikan produktifitas dan efisiensi
perekonomian domestik. Bagi perbankan syariah, prospek ekonomi tersebut akan
semakin mendorong pertumbuhan industri ke depan khususnya melalui potensi
pasar yang masih besar yang belum tergarap sepenuhnya seiring dengan
membaiknya pendapatan per kapita masyarakat, ekspektasi investasi asing setelah
tercapainya peringkat investment grade bagi Indonesia sekaligus menurunkan risk
premium Indonesia dalam industri keuangannya di mata internasional; kuatnya
sektor konsumsi domestik, kinerja investasi dan keberhasilan program promosi
dan edukasi publik tentang perbankan syariah.
Dengan adanya standar akuntansi syariah, laporan keuangan diharapkan
dapat menyajikan informasi yang relevan dan dapat dipercaya kebenarannya.
Standar akuntansi juga digunakan oleh pemakai laporan keuangan seperti
investor, kreditor, pemerintah dan masyarakat umum sebagai acuan untuk

1
2

memahami dan menganalisis laporan keuangan sehingga memungkinkan mereka


untuk mengambil keputusan yang benar. Dengan demikian, standar akuntansi
memiliki peranan penting bagi pihak penyusun dan pemakai laporan keuangan
sehingga timbul keseragaman atau kesamaan interpretasi atas informasi yang
terdapat dalam laporan keuangan.

1.2 Identifikasi Masalah


Syariah merupakan ketentuan hukum Islam yang mengatur aktivitas umat
manusia yang berisi perintah dan larangan, baik yang menyangkut hubungan
interaksi vertikal dengan Tuhan maupun interaksi horisontal dengan sesama
makhluk. Prinsip syariah yang berlaku umum dalam kegiatan muamalah
(transaksi syariah) mengikat secara hukum bagi semua pelaku dan stakeholder
entitas yang melakukan transaksi syariah.
Perbedaan antara sistem ekonomis islam dan sistem ekonomi lainnya
adalah terletak pada penetapan bunga. Dalam ekonomi Islam, bunga dinyatakan
sebagai riba yang diharamkan oleh syariat Islam. Oleh karena itu, dalam ekonomi
yang berbasis syariah, bunga tidak diterapkan dan sebagai gantinya diterapkan
sistem bagi hasil yang dalam syariat Islam dihalalkan untuk dilakukan.

1.3 Pembatasan Masalah


Dalam makalah ini penulis membatasi permasalahan yang akan dibahas
mengenai transaksi berbasis syariah, penyajian laporan keuangan berbasis syariah
dan lain sebagainya. Penulis menganggap ini sangat menarik. Adapun tujuan
dilakukannya pembatasan masalah ini agar dalam penyusunan makalah ini tidak
terjadi selang pendapat. Dalam makalah ini penulis membatasi permasalahan yang
akan dibahas, yaitu :
1. Apa pengertian dari akuntansi syariah ?
2. Bagaimana prinsip-prinsip akuntansi syariah ?
3. Apa saja yang termasuk transaksi berbasis syariah ?
4. Bagaimana penyajian laporan keuangan berbasis syariah ?
3

1.4 Tujuan
1. Memahami pengertian akuntansi syariah.
2. Memahami prinsip-prinsip akuntansi syariah.
3. Memahami transaksi berbasis syariah.
4. Memahami penyajian laporan keuangan berbasis syariah.

1.5 Manfaat
1. Mengetahui pengertian akuntansi syariah.
2. Mengetahui prinsip-prinsip akuntansi syariah.
3. Mengetahui transaksi berbasis syariah.
4. Mengetahui penyajian laporan keuangan berbasis syariah.
BAB ll
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Akuntansi Syariah


Menurut surat Al-Baqarah ayat 282, Allah memerintahkan untuk
melakukan penulisan secara benar atas segala transaksi yang pernah terjadi selama
melakukan muamalah. Dan menurut sejarah Pengertian akuntansi adalah
disebutkan muncul di Italia pada abad ke-13 yang lahir dari tangan seorang
Pendeta Italia bernama Luca Pacioli yang menulis buku “Summa de Arithmatica
Geometria et Propotionalita” dengan memuat satu bab mengenai “Double Entry
Accounting System”.
Dari sisi ilmu pengetahuan, Akuntansi adalah ilmu informasi yang
mencoba mengkonversi bukti dan data menjadi informasi dengan cara melakukan
pengukuran atas berbagai transaksi dan akibatnya yang dikelompokkan dalam
account, perkiraan atau pos keuangan seperti aktiva, utang, modal, hasil, biaya,
dan laba (Dapat dilihat dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah :282).
Akuntansi Syari’ah adalah secara etimologi, kata akuntansi berasal dari
bahasa inggris, accounting, dalam bahasa Arabnya disebut “Muhasabah” yang
berasal dari kata hasaba, hasiba, muhasabah atau wazan yang lain adalah hasaba,
hasban, hisabah, artinya menimbang, memperhitungkan mengkalkulasikan,
mendata, atau menghisab, yakni menghitung dengan seksama atau teliti yang
harus dicatat dalam pembukuan tertentu.
Kata “hisab” banyak ditemukan dalam Al-qur’an dengan pengertian yang
hampir sama, yaitu berujung pada jumlah atau angka, seperti Firman Allah SWT.
Kata hisab dalam ayat-ayat tersebut menunjukkan pada bilangan atau perhitungan
yang ketat, teliti, akurat, dan accountable. Oleh karena itu, akuntasi adalah
mengetahui sesuatu dalam keadaan cukup, tidak kurang dan tidak pula lebih.
Berdasarkan pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa Akuntansi
Syari’ah adalah suatu kegiatan identifikasi, klarifikasi, dan pelaporan melalui
dalam mengambil keputusan ekonomi berdasarkan prinsip akad-akad syari’ah,

4
5

yaitu tidak mengandung zhulum (Kezaliman), riba, maysir (judi), gharar


(penipuan), barang yang haram dan membahayakan.

2.2 Prinsip-Prinsip Akuntansi Syariah


Syariah merupakan ketentuan hukum Islam yang mengatur aktivitas umat
manusia yang berisi perintah dan larangan, baik yang menyangkut hubungan
interaksi vertikal dengan Tuhan maupun interaksi horisontal dengan sesama
makhluk. Prinsip syariah yang berlaku umum dalam kegiatan muamalah
(transaksi syariah) mengikat secara hukum bagi semua pelaku dan stakeholder
entitas yang melakukan transaksi syariah.
a. Prinsip persaudaraan (ukhuwah)
Merupakan bentuk interaksi sosial dan harmonisasi kepentingan para
pihak untuk kemanfaatan secara umum dan saling tolong-menolong.
Dalam transaksi syariah meliputi berbagai aspek, yaitu saling
mengenal, memahami, menolong, menjamin, dan saling bersinergi.
Namun meskipun begitu, tetap berpedoman pada profesionalisme.
b. Prinsip keadilan (‘adalah)
Menempatkan sesuatu pada tempatnya dan memberikan sesuatu pada
yang berhak dan sesuai posisinya. Implementasi keadilan dalam Usaha
berupa aturan prinsip muamalah yang melarang unsur riba, dzalim,
maisyir, gharar, ihtikar, najasy, risywah, ta’alluq dan penggunaan
unsur haram baik dalam barang dan jasa yang dipergunakan dalam
transaksinya, maupun dalam aktivitas operasionalnya.
c. Prinsip kemaslahatan (maslahah)
Dalam hal ini harus memenuhi dua unsur, yaitu halal (sesuai dengan
syariah) dan thayyib (bermanfaat dan membawa kebaikan). Selain itu
juga harus memperhatikan prinsip keseimbangan. Prinsip ini
menekankan bahwa manfaat yang didapat dari transaksi syariah tidak
hanya difokuskan pada pemegang saham yang nantinya akan
mendapatkan dividen, namun juga pada semua pihak yang dapat
merasakan manfaat adanya suatu kegiatan ekonomi tersebut. Misalnya
6

saja masyarakat sekitar dan pemerintah yang mungkin tidak terlibat


dalam transaksi tersebut secara langsung.
d. Prinsip keseimbangan (tawazun)
Hal ini mengartikan bahwa transaksi syariah memiliki keseimbangan
antara aspek material dan spiritual, antara aspek privat dan publik,
antara sektor keuangan dan sektor riil, antara bisnis dan sosial serta
antara aspek pemanfaatan serta pelestarian.
e. Prinsip universalisme (syumuliyah)
Transaksi syariah ini dapat dilakukan semua pihak yang
berkepentingan tanpa membedakan suku, agama, ras dan golongan
sesuai dengan semangat rahmatan lil ‘alamin.

2.3 Karakteristik Akuntansi Syariah


Dibawah ini terdapat beberapa karakteristik Akuntansi Syariah yang
berguna untuk membedakan dengan Akuntansi yang pada umumnya
(Konvensional), diantaranya :
a. Transaksi hanya dilakukan berdasarkan prinsip saling paham dan
saling ridha.
b. Prinsip kebebasan bertransaksi diakui sepanjang objeknya halal dan
baik (thayib).
c. Uang hanya berfungsi sebagai alat tukar dan satuan pengukur nilai,
bukan sebagai komoditas.
d. Tidak mengandung unsur riba; kezaliman; maysir; gharar; haram.
e. Tidak menganut prinsip nilai waktu dari uang (time value of money).
f. Karena keuntungan yang didapat dalam kegiatan usaha terkait dengan
risiko yang melekat pada kegiatan usaha tersebut sesuai dengan prinsip
al-ghunmu bil ghurmi (no gain without accompanying risk).
g. Transaksi dilakukan berdasarkan: suatu perjanjian yang jelas dan
benar; untuk keuntungan semua pihak tanpa merugikan pihak lain;
tidak diperkenankan menggunakan standar ganda harga untuk satu
7

akad; tidak menggunakan dua transaksi bersamaan yang berkaitan


(ta’alluq) dalam satu akad.
Selain itu, terdapat beberapa persamaan dan perbedaan prinsip antara
Akuntansi Syariah dengan Akuntansi Konvensional sebagai berikut :
a. Persamaan
 Prinsip pemisahan jaminan keuangan dengan prinsip unit ekonomi;
 Prinsip penahunan (hauliyah) dengan prinsip periode waktu atau
tahun pembukuan keuangan;
 Prinsip pembukuan langsung dengan pencatatan bertanggal;
 Prinsip kesaksian dalam pembukuan dengan prinsip penentuan
barang;
 Prinsip perbandingan (muqabalah) dengan prinsip perbandingan
income dengan cost (biaya);
 Prinsip kontinuitas (istimrariah) dengan kesinambungan
perusahaan;
 Prinsip keterangan (idhah) dengan penjelasan atau pemberitahuan.
b. Perbedaannya menurut Husein Syahatah, dalam buku Pokok-
Pokok Pikiran Akuntansi Islam, antara lain terdapat pada hal-hal
sebagai berikut :
 Para ahli akuntansi modern berbeda pendapat dalam cara
menentukan nilai atau harga untuk melindungi modal pokok, dan
juga hingga saat ini apa yang dimaksud dengan modal pokok
(kapital) belum ditentukan. Sedangkan konsep Islam menerapkan
konsep penilaian berdasarkan nilai tukar yang berlaku, dengan
tujuan melindungi modal pokok dari segi kemampuan produksi di
masa yang akan datang dalam ruang lingkup perusahaan yang
kontinuitas;
 Modal dalam konsep Akuntansi Konvensional terbagi menjadi dua
bagian, yaitu modal tetap (aktiva tetap) dan modal yang beredar
(aktiva lancar), sedangkan di dalam konsep Islam barang-barang
pokok dibagi menjadi harta berupa uang (cash) dan harta berupa
8

barang (stock), selanjutnya barang dibagi menjadi barang milik dan


barang dagang;
 Dalam konsep Islam, mata uang seperti emas, perak, dan barang
lain yang sama kedudukannya, bukanlah tujuan dari segalanya,
melainkan hanya sebagai perantara untuk pengukuran dan
penentuan nilai atau harga, atau sebagi sumber harga atau nilai;
 Konsep konvensional mempraktekan teori pencadangan dan
ketelitian dari menanggung semua kerugian dalam perhitungan,
serta mengenyampingkan laba yang bersifat mungkin, sedangkan
konsep Islam sangat memperhatikan hal itu dengan cara penentuan
nilai atau harga dengan berdasarkan nilai tukar yang berlaku serta
membentuk cadangan untuk kemungkinan bahaya dan resiko;
 Konsep konvensional menerapkan prinsip laba universal,
mencakup laba dagang, modal pokok, transaksi, dan juga uang dari
sumber yang haram, sedangkan dalam konsep Islam dibedakan
antara laba dari aktivitas pokok dan laba yang berasal dari kapital
(modal pokok) dengan yang berasal dari transaksi, juga wajib
menjelaskan pendapatan dari sumber yang haram jika ada, dan
berusaha menghindari serta menyalurkan pada tempat-tempat yang
telah ditentukan oleh para ulama fiqih. Laba dari sumber yang
haram tidak boleh dibagi untuk mitra usaha atau dicampurkan pada
pokok modal;
 Konsep konvensional menerapkan prinsip bahwa laba itu hanya
ada ketika adanya jual-beli, sedangkan konsep Islam memakai
kaidah bahwa laba itu akan ada ketika adanya perkembangan dan
pertambahan pada nilai barang, baik yang telah terjual maupun
yang belum. Akan tetapi, jual beli adalah suatu keharusan untuk
menyatakan laba, dan laba tidak boleh dibagi sebelum nyata laba
itu diperoleh.
 Komponen laporan keuangan entitas Syariah meliputi neraca,
laporan laba rugi, laporan arus kas, laporan perubahan ekuitas,
9

laporan perubahan dana investasi terikat, laporan sumber dan


penggunaan dana zakat, laporan sumber dan penggunaan dana
qardh dan catatan atas laporan keuangan. Sedangkan komponen
laporan keuangan konvensional tidak menyajikan laporan
perubahan dana investasi terikat, laporan sumber dan penggunaan
dana zakat serta laporan sumber dan penggunaan dana qardh.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan perbandingan antara
Akuntansi Konvensional dengan Akuntansi Syariah sebagai berikut :
a. Akuntansi Syariah
 Keadaan entitas didasarkan pada bagi hasil.
 Kelangsungan usaha tergantung pada persetujuan kontrak antara
kelompok yang terlibat dalam aktivitas bagi hasil.
 Setiap tahun dikenai zakat, kecuali untuk pertanian yang dihitung
setiap panen.
 Menunjukkan pemenuhan hak dan kewajiban kepada Allah SWT,
masyarakat dan individu.
 Berhubungan erat dngan konsep ketaqwaan, yaitu pengeluaran
materi maupun non-materi untuk memenuhi kewajiban.
 Berhubungan dengan pengukuran dan pemenuhan tugas atau
kewajiban kepada Allah AWT, masyarakat dan individu.
 Pemilihan teknik akuntansi dengan memperhatikan dampak baik
buruknya pada masyarakat.
b. Akuntansi Konvensional
 Keadaan entitas dipisahkan antara bisnis dan pemilik.
 Kelangsungan bisnis secara terus menerus, yaitu didasarkan pada
realisasi aset.
 Periode akuntansi tidak dapat menunggu sampai akhir kehidupan
perusahaan dengan mengukur keberhasilan aktivitas perusahaan.
 Bertujuan untuk pengambilan keputusan.
 Reabilitas pengurang digunakan dengan dasar pembuatan
keputusan
10

 Dihubungkan dengan kepentingan relatif mengenai informasi


pembuatan keputusan.
 Pemilihan teknik akuntansi yang sedikit berpengaruh pada pemilik.

2.4 Transaksi Berbasis Syariah (Akad)


Akad dalam bahasa Arab yang artinya ikatan atau mengikat (al-rabth).
Menurut terminologi hukum Islam, akad adalah pertalian antara penyerahan (ijab)
dan penerimaan (qabul) yang dibenarkan oleh syariah, yang menimbulkan akibat
hukum terhadap objek pajak (Ghufron Mas’adi, 2002). Adapun jenis-jenis akad
berdasarkan ada atau tidak adanya kompensasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
a. Akad Tabarru’
Akad Tabarru’ adalah suatu perjanjian yang merupakan transaksi yang
tidak ditujukan untuk memperoleh laba (transaksi nirlaba). Tujuan dari
transaksi ini adalah tolong-menolong dalam rangka berbuat baik.
Dalam akad tabarru’, pihak yang berbuat kebaikan tidak berhak
mensyaratkan imbalan apapun kepada pihak lainnya karena ia hanya
mengharapkan imbalan dari Allah SWT dan bukan dari manusia. Jenis
akad tabarru’ ini digolongkan dalam 3 bentuk, yaitu:
I. Meminjamkan uang
Meminjamkan uang merupakan salah satu bentuk akad tabarru’
karena dalam hal meminjamkan uang tidak boleh melebihkan
pembayaran atas pinjaman yang diberikan. Ada 3 jenis pinjaman,
yaitu;
 Qardh
Qardh merupakan pinjaman yang diberikan tanpa mensyaratkan
apapun, selain dengan mengembalikan pinjaman tersebut setelah
jangka waktu tertentu.
 Rahn
Rahn merupakan pinjaman yang mensyaratkan suatu jaminan
dalam bentuk atau jumlah tertentu.
11

 Hiwalah
Hiwalah adalah bentuk pinjaman dengan cara mengambil alih
piutang dari pihak lain.
II. Meminjamkan jasa
Meminjamkan jasa berupa keahlian atau keterampilan yang
termasuk di dalam akad tabarru’. Ada 3 jenis pinjaman dalam hal
meminjamkan jasa, yaitu :
 Wakalah
Wakalah adalah memberikan pinjaman berupa kemampuan kita
saat ini untuk melakukan sesuatu atas nama orang lain. Pada
konsep ini yang dilakukan hanya atas nama orang tersebut.
 Wadi’ah
Wadi’ah merupakan bentuk turunan akad wakalah, dimana pada
akad ini telah dirinci atau didetailkan tentang jenis pemeliharaan
dan penitipan. Sehingga selama pemberian jasa tersebut juga
bertindak sebagai wakil dari pemilik barang
 Kafalah
Kafalah juga merupakan bentuk turunan akad wakalah, dimana
pada akad ini terjadi atas wakalah bersyarat.
III. Memberikan sesuatu
Dalam akad ini, pelaku memberikan sesuatu kepada orang lain.
Ada 3 bentuk akad ini, yaitu:
 Waqaf
Waqaf merupakan pemberian dan penggunaan pemberian yang
dilakukan untuk kepentingan umum dan agama, serta pemberian
itu tidak dipindahtangankan.
 Hibah/Shadaqah
Hibah/Shadaqah merupakan pemberian sesuatu secara sukarela
kepada orang lain.
12

b. Akad Tijarah
Akad Tijarah merupakan akad yang ditujukan untuk memperoleh
keuntungan. Dari sisi kepastian hasil yang diperoleh, akad ini
dikelompokkan menjadi 2 bagian yaitu :
I. Natural Uncertainty Contract
Dalam bagian ini, kontrak yang diturunkan dari teori pencampuran,
dimana pihak yang bertransaksi saling mencampurkan aset yang
mereka miliki menjadi satu, kemudian menanggung resiko
bersama-sama untuk mendapatkan keuntungan. Oleh karena itu,
kontrak jenis ini tidak memberikan imbal hasil yang pasti, baik
nilai imbal hasil maupun waktu. Contoh yang termasuk dalam
kontrak ini yaitu :
 Akad Musyarakah
Akad Musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau
lebih untuk suatu usaha tertentu, dimana masing-masing pihak
memberikan kontribusi dana dengan ketentuan bahwa
keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan sedangkan
kerugian berdasarkan porsi kontribusi dana. Dana tersebut
meliputi kas atau aset non kas yang diperkenankan oleh
syariah.
 Akad Mudharabah
Akad Kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama
(pemilik dana) menyediakan seluruh dana, sedangkan pihak
kedua (pengelola dana) bertindak sebagai pengelola, dan
keuntungan dibagi diantara mereka sesuai kesepakatan
sedangkan kerugian finansial hanya ditanggung oleh pemilik
dana.
II. Natural Certainty Contract
Natural certainty contract merupakan kontrak yang diturunkan
dari teori pertukaran, dimana kedua pihak saling mempertukarkan
aset yang dimilikinya, sehingga objek pertukarannya (baik barang
13

maupun jasa) harus ditetapkan diawal akad dengan pasti tentang


jumlah, mutu, harga, dan waktu penyerahan. Kontrak jenis ini
memberikan imbal hasil yang tetap dan pasti karena sudah
diketahui saat akad. Contoh kontrak ini adalah:
 Akad Murabahah
Akad Murabahah adalah akad jual beli barang dengan harga
jual sebesar biaya perolehan ditambah keuntungan yang
disepakati dan penjual harus mengungkapkan biaya perolehan
barang tersebut kepada pembeli.
 Akad Salam
Akad Salam adalah akad jual beli barang pesanan dengan
pengiriman di kemudian hari oleh penjual dan pelunasannya
dilakukan oleh pembeli pada saat akad disepakati sesuai
dengan syarat-syarat tertentu.
 Akad Istishna
Akad Istishna’ adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan
pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan
tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli) dan penjual
(pembuat).
 Akad Ijarah
Akad Ijarah adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas
suatu aset dalam waktu tertentu dengan pembayaran sewa tanpa
diikuti dengan pemindahan kepemilikan aset itu sendiri.

2.4.1 Transaksi Yang Dilarang Dalam Syariah


Hal yang dilarang dalam transaksi yang dilarang adalah sebagai berikut:
a. Semua aktivitas bisnis terkait dengan barang dan jasa yang diharamkan
oleh Allah.
b. Riba.
c. Penipuan.
d. Perjudian.
14

e. Transaksi yang mengandung ketidakpastian / Gharar.


f. Penimbunan barang/Ihtikar.
g. Monopoli.
h. Rekayasa permintaan (Bai’an Najsy).
i. Suap.
j. Penjual bersyarat/ta’alluq.
k. Pembelian kembali oleh penjual dari pihak pembeli (Bai’al Inah).
l. Jual beli dengan cara Talaqi Al-Rukban.

2.4.2 Konsep Keuntungan Dalam Syariah


Perbedaan antara sistem ekonomis islam dan sistem ekonomi lainnya
adalah terletak pada penetapan bunga. Dalam ekonomi Islam, bunga dinyatakan
sebagai riba yang diharamkan oleh syariat Islam. Oleh karena itu, dalam ekonomi
yang berbasis syariah, bunga tidak diterapkan dan sebagai gantinya diterapkan
sistem bagi hasil yang dalam syariat Islam dihalalkan untuk dilakukan.
Konsep bagi hasil ini sangat berbeda sekali dengan konsep bunga yang
diterapkan oleh sistem ekonomi konvensional. Dalam akuntansi syariah, konsep
bagi hasil bisa dalam 3 bentuk, yaitu: pemilik dana menanamkan dananya melalui
institusi keuangan yang bertindak sebagai pengelola dana; pengelola mengelola
dana-dana tersebut dalam sistem yang dikenal dengan sistem penghimpunan dana
(pool of fund), selanjutnya pengelola akan menginvestasikan dana-dana tersebut
ke dalam proyek atau usaha-usaha yang layak dan menguntungkan serta
memenuhi semua aspek syariah; terakhir, kedua belah pihak membuat
kesepakatan (akad) yang berisi ruang lingkup kerjasama, jumlah nominal dana,
nisbah, dan jangka waktu berlakunya kesepakatan tersebut.
15

2.5 Tujuan Kerangka Dasar Pelaporan Syariah


Tujuan kerangka dasar pelaporan keuangan syariah ini adalah untuk
digunakan sebagai acuan bagi :
a. Penyusun standar akuntansi keuangan syariah, dalam pelaksanaan
tugasnya.
b. Penyusun laporan keuangan, untuk menanggulangi masalah akuntansi
syariah yang belum diatur dalam standar akuntansi keuangan syariah.
c. Auditor dalam memberikan pendapat mengenai apakah laporan
keuangan disusun sesuai dengan prinsip akuntansi syariah.
Para pemakai laporan keuangan, dalam menafsirkan informasi yang
disajikan dalam keuangan yang disusun sesuai dengan standar akuntansi keuangan
syariah.

2.5.1 Pelaporan Keuangan Syariah


Tujuan laporan keuangan syariah adalah untuk memberikan informasi
tentang posisi keuangan, kinerja, dan arus kas entitas syariah yang bermanfaat
bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat
keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban
manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada
mereka. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, suatu laporan keuangan
menyajikan informasi mengenai entitas syariah yang meliputi: Aset; Kewajiban;
Dana syirkah temporer; Ekuitas; Pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan
kerugian; Arus kas; Dana zakat; Dana kebajikan.
Laporan keuangan syariah yang lengkap terdiri atas komponen-komponen
berikut ini:
a. Komponen Kegiatan Komersial
Komponen laporan keuangan syariah yang mencerminkan kegiatan
komersial terdiri atas:
 Laporan Posisi Keuangan;
 Laporan Laba Rugi;
 Laporan Arus Kas;
16

 Laporan Perubahan Ekuitas


b. Komponen Kegiatan Sosial
Komponen laporan keuangan yang mencerminkan kegiatan sosial,
meliputi:
 Laporan Sumber dan Penggunaan dana ZIS;
 Laporan Sumber dan Penggunaan dana kebajikan;
 Komponen Laporan Keuangan Lainnya
Pengukuran unsur dalam laporan keuangan berbasis syariah:
a. Biaya historis (historical cost)
Aset dicatat sebesar pengeluaran kas (setara kas) yang dibayar atau
sebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh aset
tersebut. Kewajiban dicatat sebesar jumlah yang diterima sebagai
penukar dari kewajiban, atau dalam keadaan tertentu (misalnya, pajak
penghasilan), dalam jumlah kas atau setara kas yang diharapkan akan
dibayarkan untuk memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha yang
normal. Dasar ini merupakan dasar pengukuran yang lazim digunakan
oleh entitas syariah dalam penyusunan laporan keuangan.
b. Biaya kini (current cost)
Aset dinilai dalam jumlah kas atau setara kas yang seharusnya dibayar
bila aset yang sama atau setara aset diperoleh sekarang. Kewajiban
dinyatakan dalam jumlah kas atau setara kas yang tidak didiskontokan
yang mungkin akan diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban.
c. Nilai realisasi
Aset dinyatakan dalam jumlah kas atau setara kas yang dapat diperoleh
sekarang dengan menjual aset dalam pelepasan normal. Kewajiban
dinyatakan sebesar nilai penyelesaian yaitu, jumlah kas atau setara kas
yang tidak didiskontokan yang diharapkan akan dibayarkan untuk
memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal.
BAB lll
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pada bagian ini penulis mengambil suatu kesimpulan atas makalah yang
telah disajikan sebagai berikut :
1. Syariah merupakan ketentuan hukum Islam yang mengatur aktivitas
umat manusia yang berisi perintah dan larangan, baik yang menyangkut
hubungan interaksi vertikal dengan Tuhan maupun interaksi horisontal
dengan sesama makhluk. Prinsip syariah yang berlaku umum dalam
kegiatan muamalah (transaksi syariah) mengikat secara hukum bagi
semua pelaku dan stakeholder entitas yang melakukan transaksi
syariah.
2. Tujuan laporan keuangan syariah adalah untuk memberikan informasi
tentang posisi keuangan, kinerja, dan arus kas entitas syariah yang
bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam
rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan
pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya
yang dipercayakan kepada mereka.

3.2 Saran
Penulis mencoba untuk memberikan saran yang berkaitan dengan
pembahasan ini, yaitu :
1. Bagi Manajemen Perusahaan apabila meminjam dana kepada bank
pinjamlah kepada bank syariah, karena bank syariah tidak memberikan
bunga kepada nasabahnya yang mengandung unsur riba. Dimana riba
tersebut menurut pandangan agama islam adalah merupakan sesuatu
yang haram.

17
DAFTAR PUSTAKA

Ikatan Akuntan Indonesia. 2015. Pelaporan Korporat. Modul Chartered


Accountant. Jakarta.
PT. Bank Syariah Mandiri. 2018. Laporan Keuangan Publikasi (Bulanan). Laporan
Keuangan (UNAUDITED) Posisi 30 September 2018. Jakarta
LAMPIRAN 1
LAPORAN KEUANGAN
LAPORAN KEUANGAN PUBLIKASI (BULANAN) PT. BANK SYARIAH
MANDIRI PER 30 SEPTEMBER 2018
LAPORAN KEUANGAN PUBLIKASI(BULANAN)
NERACA
PT. Bank Syariah Mandiri
Jl. MH. Thamrin No. 5 Jakarta 10340
2300509
Posisi 30 September 2018 (UNAUDITED)

(dalam jutaan Rupiah)


POS POS NOMINAL
ASET
1.Kas 1,088,302
2.Penempatan pada Bank Indonesia 8,337,580
3.Penempatan pada bank lain 618,261
4.Tagihan spot dan forward 0
5.Surat berharga yang dimiliki 14,877,939
6.Tagihan atas surat berharga yang dibeli dengan janji dijual kembali (reverse repo) 2,442,737
7.Tagihan akseptasi 158,262
8. Piutang 40,347,804
a. Piutang Murabahah 57,782,020
b. Pendapatan Margin Murabahah yang ditangguhkan -/- 20,768,589
c. Piutang Istishna' 859
d. Pendapatan Margin Istishna' yang ditangguhkan -/- 139
e. Piutang qardh 3,331,786
f. Piutang sewa 1,867
9. Pembiayaan bagi hasil 23,978,566
a. Mudharabah 3,130,443
b. Musyarakah 20,848,123
c. Lainnya 0
10. Pembiayaan sewa 680,240
a. Aset ijarah 1,178,952
b. Akumulasi penyusutan /amortisasi -/- 498,712
c. Cadangan kerugian penurunan nilai -/- 0
11. Penyertaan 50,331
12. Cadangan kerugian penurunan nilai aset produktif -/- 1,845,221
a. Individual 395,353
b. Kolektif 1,449,868
13. Aset tidak berwujud 269,528
Akumulasi amortisasi -/- 190,761
14. Salam 0
15. Aset Istishna' dalam penyelesaian 0
Termin Istishna' -/- 0
16. Aset tetap dan inventaris 2,042,743
Akumulasi penyusutan-/- 1,271,623
17. Properti terbengkalai 0
18. Aset yang diambil alih 0
19. Rekening tunda 0
20. Aset antar kantor 0
a. Kegiatan operasional di Indonesia 0
b. Kegiatan operasional di luar Indonesia 0
21. Cadangan kerugian penurunan nilai aset lainnya -/- 0
22. Persediaan 0
23. Aset pajak tangguhan 31,552
24. Aset lainnya 1,730,872
TOTAL ASET 93,347,112
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS
1. Dana simpanan wadiah 11,331,418
a. Giro 7,928,988
b. Tabungan 3,402,430
2. Dana investasi non profit sharing 70,944,040
a. Giro 552,117
b. Tabungan 29,583,338
c. Deposito 40,808,585
3. Liabilitas kepada Bank Indonesia 0
4. Liabilitas kepada bank lain 726,771
5. Liabilitas spot dan forward 0
6. Surat berharga yang diterbitkan 375,000
7. Liabilitas akseptasi 158,262
8. Pembiayaan diterima 0
9. Setoran jaminan 20,902
10. Liabilitas antar kantor 0
a. Kegiatan operasional di Indonesia 0
b. Kegiatan operasional di luar Indonesia 0
11. Liabilitas pajak tangguhan 0
12. Liabilitas lainnya 1,919,137
13. Dana investasi profit sharing 0
TOTAL LIABILITAS 85,475,530
EKUITAS
14. Modal disetor 2,989,022
a. Modal dasar 3,000,000
b. Modal yang belum disetor -/- 10,978
c. Saham yang dibeli kembali (treasury stock) -/- 0
15. Tambahan modal disetor 0
a. Agio 0
b. Disagio -/- 0
c. Modal sumbangan 0
d. Dana setoran modal 0
e. Lainnya 0
16. Penghasilan komprehensif lain 514,170
a. Penyesuaian akibat penjabaran laporan keuangan dalam mata uang asing 0
b. Keuntungan (kerugian) dari perubahan nilai aset keuangan dalam kelompok tersedia untuk dijual 123,792
c. Bagian efektif lindung nilai arus kas 0
d. Selisih penilaian kembali aset tetap 344,038
e. Bagian penghasilan komperhensif lain dari entitas asosiasi 0
f. Keuntungan (kerugian) aktuarial atas program imbalan pasti 46,340
g. Pajak penghasilan terkait dengan laba komperhensif lain 0
h. Lainnya 0
17. Selisih kuasi reorganisasi 0
18. Selisih restrukturisasi entitas sepengendali 0
19. Ekuitas lainnya 0
20. Cadangan 497,804
a. Cadangan umum 497,804
b. Cadangan tujuan 0
21. Laba/rugi 3,870,586
a. Tahun-tahun lalu 3,435,278
b. Tahun berjalan 435,308
TOTAL EKUITAS 7,871,582
TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS 93,347,112
LAPORAN KEUANGAN PUBLIKASI(BULANAN)
LABA RUGI
PT. Bank Syariah Mandiri
Jl. MH. Thamrin No. 5 Jakarta 10340
2300509
Posisi 30 September 2018 (UNAUDITED)

(dalam jutaan Rupiah)


POS POS NOMINAL
PENDAPATAN DAN BEBAN OPERASIONAL
A. Pendapatan dan Beban Operasional
1. Pendapatan Penyaluran Dana 5,873,162
a. Rupiah 5,720,921
i. Pendapatan dari piutang 3,546,868
- Murabahah 3,315,728
- Istishna' 11
- Ujrah 231,129
ii. Pendapatan dari Bagi Hasil 1,398,410
- Mudharabah 254,122
- Musyarakah 1,144,288
iii. Lainnya 775,643
b. Valuta asing 152,241
i. Pendapatan dari piutang 71,636
- Murabahah 71,636
- Istishna' 0
- Ujrah 0
ii. Pendapatan dari Bagi Hasil 70,683
- Mudharabah 0
- Musyarakah 70,683
iii. Lainnya 9,922
2. Bagi Hasil untuk Pemilik Dana Investasi 1,984,961
a. Rupiah 1,984,932
- Non profit sharing 1,984,932
- Profit sharing 0
b. Valuta asing 29
- Non profit sharing 29
- Profit sharing 0
3. Pendapatan setelah distribusi bagi hasil 3,888,201
B. Pendapatan dan Beban Operasional selain Penyaluran Dana
1. Pendapatan Operasional Lainnya 640,633
a. Peningkatan nilai wajar aset keuangan 211
i. Surat berharga 211
ii. Spot dan forward 0
b. Keuntungan penjualan aset : 19,912
i. Surat berharga 19,912
ii. Aset ijarah 0
c. Keuntungan transaksi spot dan forward (realised) 44,165
d. Pendapatan bank selaku mudharib dalam mudharabah muqayyadah 0
e. keuntungan dari penyertaan dengan equity method 0
f. Dividen 0
g. Komisi/provisi/fee dan administrasi 501,027
h. Pemulihan atas cadangan kerugian penurunan nilai 75,318
i. Pendapatan lainnya 0
2. Beban Operasional Lainnya 3,867,372
a. Beban bonus wadiah 50,234
b. Penurunan nilai wajar aset keuangan : 223
i. Surat berharga 223
ii. Spot dan forward 0
c. Kerugian penjualan aset : 72
i. Surat berharga 72
ii. Aset ijarah 0
d. Kerugian transaksi spot dan forward (realised) 5
e. Kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) 981,920
i. Surat berharga 3,903
ii. Pembiayaan dari piutang 342,941
iii. Pembiayaan dari bagi hasil 484,075
iv. Aset keuangan lainnya 151,001
f. Kerugian terkait risiko operasional 1,382
g. Kerugian dari penyertaan dengan equity method 0
h. Komisi/provisi/fee dan administrasi 19,224
i. Kerugian penurunan nilai aset lainnya (non keuangan) 216,725
j. Beban tenaga kerja 1,573,732
k. Beban promosi 51,435
l. Beban lainnya 972,420
3. Pendapatan (Beban) Operasional Lainnya (3,226,739)
LABA (RUGI) OPERASIONAL 661,462
PENDAPATAN (BEBAN) NON OPERASIONAL
1. Keuntungan (kerugian) penjualan aset tetap dan inventaris 13,114
2. Keuntungan (kerugian) penjabaran transaksi valuta asing (22,259)
3. Pendapatan (beban) non operasional lainnya 4,560
LABA (RUGI) NON OPERASIONAL (4,585)
LABA (RUGI) TAHUN BERJALAN SEBELUM PAJAK 656,877
Pajak Penghasilan
a. Taksiran pajak tahun berjalan 21,545
b. Pendapatan (beban) pajak tangguhan 200,024
LABA (RUGI) BERSIH 435,308
PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN
1. Pos-pos yang tidak akan direklasifikasi ke laba rugi 0
a. Keuntungan revaluasi aset tetap 0
b. Keuntungan (kerugian) aktuarial program imbalan pasti 0
c. Bagian penghasilan komprehensif lain dari entitas asosiasi 0
d. Lainnya 0
e. Pajak penghasilan terkait pos-pos yang tidak akan direklasifikasi ke laba rugi 0
2. Pos-pos yang akan direklasifikasi ke laba rugi 122,033
a. Penyesuaian akibat penjabaran laporan keuangan dalam mata uang asing 0
b. Keuntungan (kerugian) dari perubahan nilai aset keuangan dalam kelompok tersedia untuk dijual 122,033
c. Bagian efektif dari lindung nilai arus kas 0
d. Lainnya 0
e. Pajak penghasilan terkait pos-pos yang akan direklasifikasi ke laba rugi 0
PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN TAHUN BERJALAN SETELAH PAJAK 122,033
TOTAL LABA (RUGI) KOMPREHENSIF TAHUN BERJALAN 557,341
LAPORAN KEUANGAN PUBLIKASI(BULANAN)
KOMITMEN KONTINJENSI
PT. Bank Syariah Mandiri
Jl. MH. Thamrin No. 5 Jakarta 10340
2300509
Posisi 30 September 2018 (UNAUDITED)

(dalam jutaan Rupiah)


POS POS NOMINAL
I. TAGIHAN KOMITMEN
1. Fasilitas pembiayaan yang belum ditarik
a. Rupiah 0
b. Valuta asing 0
2. Posisi pembelian spot dan forward yang masih berjalan 0
3. Lainnya 0
II.KEWAJIBAN KOMITMEN 686,815
1. Fasilitas pembiayaan kepada nasabah yang belum ditarik 639,829
a. Committed 0
i. Rupiah 0
ii. Valuta asing 0
b. Uncommitted 639,829
i. Rupiah 639,829
ii. Valuta asing 0
2. Fasilitas pembiayaan kepada bank lain yang belum ditarik 0
a. Committed 0
i. Rupiah 0
ii. Valuta asing 0
b. Uncommitted 0
i. Rupiah 0
ii. Valuta asing 0
3. Irrevocable L/C yang masih berjalan 36,087
a. L/C luar negeri 28,562
b. L/C dalam negeri 7,525
4. Posisi penjualan spot dan forward yang masih berjalan 10,899
5. Lainnya 0
III. TAGIHAN KONTINJENSI 520,293
1. Garansi yang diterima 214,203
a. Rupiah 2,170
b. Valuta asing 212,033
2. Pendapatan dalam penyelesaian 306,090
a. Murabahah 203,550
b. Istishna' 2
c. Sewa 4,097
d. Bagi Hasil 98,147
e. Lainnya 294
3. Lainnya 0
IV. KEWAJIBAN KONTINJENSI 1,504,912
1. Garansi yang diberikan 1,504,912
a. Rupiah 742,773
b. Valuta asing 762,139
2. Lainnya 0