Anda di halaman 1dari 28

1.

Analisis Identitas Nasional


Pengertian Identitas Nasional Dan Unsur Identitas Nasional- Identitas Nasional merupakan
suatu jati diri yang khas yang dimiliki oleh suatu bangsa yang tidak dimiliki oleh bangsa yang
lain. Dalam garis besar tidak hanya mengacu pada individu saja, namun tetapi berlaku juga
pada suatu organisasi / kelompok (negara). Identitas itu berasal dari kata Identitu, yang artinya
tanda-tanda, ciri-ciri, jati diri yang ada pada seseorang atau kelompok yang membedakannya
dengan orang dan kelompok yang lain. Sedangkan kata “nasional” adalah suatu identitas yang
melekat pada kelompok atau organisasi yang lebih besar yang berkaitan oleh kesamaan-
kesamaan fisik, baik itu fisik seperti budaya, agama serta bahasa ataupun nonfisik seperti
contohnya cita-cita, keinginan serta tujuan.

A. Pengertian Identitas Nasional


Dari hal diatas tersebutlah kelompok ini yang kemudian disebut sebagai identitas bangsa atau
identitas nasional yang pada akhirnya akan melahirkan suatu tindakan kelompok yang
diwujudkan didalam bentuk organisasi / pergerakan-pergerakan yang diberi atribut atau
kelengkapan nasional.

Pengertian Identitas Nasional merupakan suatu kumpulan nilai budaya yang tumbuh serta
berkembang di dalam macam-macam aspek kehidupan dari ratusan suku yang ada dan
dihimpun dalam satu kesatuan seperti Indonesia yang kebudayaan nasional itu dengan acuan
pancasila & Bhineka Tunggal Ika yang merupakan dasar dan arah pengembangannya.

Hakikat Identitas Nasional di dalam kehidupan berbangsa & bernegara pancasila merupakan
yang aktualisasinya yang tercerminkan dalam penataan kehidupan kita yang dalam arti yang
luas, misalnya pada aturan perundang-undangan ataupun moral yang dengan secara normatif
diterapkan di dalam bermasyarakat atau berinteraksi , baik itu di dalam tataran nasional ataupun
internasional .

Dengan hal tersebut nilai-nilai budaya yang tercermin pada identitas nasional itu bukanlah
barang jadidalam kebekuan normatif dan juga domatis, melainkan ialah sesuatu yang terbuka
dan yang cenderung terus-menerus bersemi disebebakan karena adanya hasrat menuju untuk
kemajuan yang dimiliki oleh masyarakat. Konsekuensi & implikasinya ialah identitas nasional
adalah sesuatu yang terbuka untuk ditafsir dengan diberi makna baru supaya tetap relevan serta
fungsional di dalam kondisi aktual yang berkembang di dalam bermasyarakat.

B. Faktor faktor terbentuknya identitas nasional


Proses pembentukan bangsa negara membutuhkan identitas-identitas untuk
menyatukan masyarakat bangsa yang bersangkutan. Faktor-faktor yang diperkirakan menjadi
identitas bersama suatu bangsa menurut Ramlan Surbakti (1999) meliputi primordial, sakral,
tokoh, kesediaan bersatu dalam perbedaan, sejarah, perkembangan ekonomi, dan kelembagaan
(Ramlan Surbakti, 1999).

Pertama, faktor-faktor primordial ini meliputi: kekerabatan (darah dan keluarga), kesamaan
suku bangsa, daerah asal (home land), bahasa dan adat istiadat. Faktor primodial merupakan
identitas yang khas untuk menyatukan masyarakat Indonesia sehingga mereka dapat
membentuk bangsa negara.

Kedua, Faktor sakral dapat berupa kesamaan agama yang dipeluk masyarakat atau ideologi
doktriner yang diakui oleh masyarakat yang bersangkutan. Agama dan ideologi merupakan
faktor sakral yang dapat membentuk bangsa negara. Faktor sakral ikut menyumbang
terbentuknya satu nasionalitas baru. Negara Indonesia diikat oleh kesamaan ideologi Pancasila.

Ketiga, tokoh. Kepemimpinan dari para tokoh yang disegani dan dihormati oleh masyarakat
dapat pula menjadi faktor yang menyatukan bangsa negara. Pemimpin di beberapa negara
dianggap sebagai penyambung lidah rakyat, pemersatu rakyat dan simbol pemersatu bangsa
yang bersangkutan. Contohnya Soekarno di Indonesia, Nelson Mandela di Afrika Selatan,
Mahatma Gandhi di India, dan Tito di Yugoslavia.

Keempat, prinsip kesediaan warga bangsa bersatu dalam perbedaan (unity in deversity). Yang
disebut bersatu dalam perbedaan adalah kesediaan warga bangsa untuk setia pada lembaga
yang disebut negara dan pemerintahnya tanpa menghilangkan keterikatannya pada suku
bangsa, adat, ras, agamanya.
Sesungguhnya warga bangsa memiliki kesetiaan ganda (multiloyalities). Warga setia pada
identitas primordialnya dan warga juga memiliki kesetiaan pada pemerintah dan negara, namun
mereka menunjukkan kesetiaan yang lebih besar pada kebersamaan yang terwujud dalam
bangsa negara di bawah satu pemerintah yang sah. Mereka sepakat untuk hidup bersama di
bawah satu bangsa meskipun berbeda latar belakang. Oleh karena itu, setiap warga negara perlu
memiliki kesadaran akan arti pentingnya penghargaan terhadap suatu identitas bersama yang
tujuannya adalah menegakkan Bhinneka Tunggal Ika atau kesatuan dalam perbedaan (unity in
deversity) suatu solidaritas yang didasarkan pada kesantunan (civility).

Kelima, sejarah. Persepsi yang sama diantara warga masyarakat tentang sejarah mereka dapat
menyatukan diri dalam satu bangsa. Persepsi yang sama tentang pengalaman masa lalu, seperti
sama-sama menderita karena penjajahan, tidak hanya melahirkan solidaritas tetapi juga
melahirkan tekad dan tujuan yang sama antar anggota masyarakat itu.

Keenam, perkembangan ekonomi (industrialisasi) akan melahirkan spesialisasi pekerjaan


profesi sesuai dengan aneka kebutuhan masyarakat. Semakin tinggi mutu dan variasi
kebutuhan masyarakat, semakin saling tergantung diantara jenis pekerjaan. Setiap orang akan
saling bergantung dalam memenuhi kebutuhan hidup. Semakin kuat saling ketergantungan
anggota masyarakat karena perkembangan ekonomi, akan semakin besar solidaritas dan
persatuan dalam masyarakat. Solidaritas yang terjadi karena perkembangan ekonomi oleh
Emile Durkheim disebut Solidaritas Organis. Faktor ini berlaku di masyarkat industri maju
seperti Amerika Utara dan Eropa Barat.

Terakhir, lembaga-lembaga pemerintahan dan politik. Lembaga-lembaga itu seperti birokrasi,


angkatan bersenjata, pengadilan, dan partai politik. Lembaga-lembaga itu melayani dan
mempertemukan warga tanpa membeda-bedakan asal usul dan golongannya dalam
masyarakat. Kerja dan perilaku lembaga politik dapat mempersatukan orang sebagai satu
bangsa.

C. Hak dan kewajiban warga negara indonesia


Menurut Prof. Dr. Notonagoro:
Hak adalah kuasa untuk menerima atau melakukan suatu yang semestinya diterima atau
dilakukan melulu oleh pihak tertentu dan tidak dapat oleh pihak lain manapun juga yang pada
prinsipnya dapat dituntut secara paksa olehnya..
Hak dan Kewajiban merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan, akan tetapi terjadi
pertentangan karena hak dan kewajiban tidak seimbang. Bahwa setiap warga negara memiliki
hak dan kewajiban untuk mendapatkan penghidupan yang layak, tetapi pada kenyataannya
banyak warga negara yang belum merasakan kesejahteraan dalam menjalani kehidupannya.
Semua itu terjadi karena pemerintah dan para pejabat tinggi lebih banyak mendahulukan hak
daripada kewajiban. Padahal menjadi seorang pejabat itu tidak cukup hanya memiliki pangkat
akan tetapi mereka berkewajiban untuk memikirkan diri sendiri. Jika keadaannya seperti ini,
maka tidak ada keseimbangan antara hak dan kewajiban. Jika keseimbangan itu tidak ada akan
terjadi kesenjangan sosial yang berkepanjangan.
Untuk mencapai keseimbangan antara hak dan kewajiban, yaitu dengan cara mengetahui posisi
diri kita sendiri. Sebagai seorang warga negara harus tahu hak dan kewajibannya. Seorang
pejabat atau pemerintah pun harus tahu akan hak dan kewajibannya. Seperti yang sudah
tercantum dalam hukum dan aturan-aturan yang berlaku. Jika hak dan kewajiban seimbang dan
terpenuhi, maka kehidupan masyarakat akan aman sejahtera. Hak dan kewajiban di Indonesia
ini tidak akan pernah seimbang. Apabila masyarakat tidak bergerak untuk merubahnya. Karena
para pejabat tidak akan pernah merubahnya, walaupun rakyat banyak menderita karena hal ini.
Mereka lebih memikirkan bagaimana mendapatkan materi daripada memikirkan rakyat,
sampai saat ini masih banyak rakyat yang belum mendapatkan haknya. Oleh karena itu, kita
sebagai warga negara yang berdemokrasi harus bangun dari mimpi kita yang buruk ini dan
merubahnya untuk mendapatkan hak-hak dan tak lupa melaksanakan kewajiban kita sebagai
rakyat Indonesia.
Sebagaimana telah ditetapkan dalam UUD 1945 pada pasal 28, yang menetapkan bahwa hak
warga negara dan penduduk untuk berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan
lisan maupun tulisan, dan sebagainya, syarat-syarat akan diatur dalam undang-undang. Pasal
ini mencerminkan bahwa negara Indonesia bersifat demokrasi. Pada para pejabat dan
pemerintah untuk bersiap-siap hidup setara dengan kita. Harus menjunjung bangsa Indonesia
ini kepada kehidupan yang lebih baik dan maju. Yaitu dengan menjalankan hak-hak dan
kewajiban dengan seimbang. Dengan memperhatikan rakyat-rakyat kecil yang selama ini
kurang mendapat kepedulian dan tidak mendapatkan hak-haknya
.
HAK DAN KEWAAJIBAN WARGA NEGARA :
1. Wujud Hubungan Warga Negara dengan Negara Wujud hubungan warga negara dan negara
pada umumnya berupa peranan (role).
2. Hak dan Kewajiban Warga Negara Indonesia Hak kewajiban warga negara Indonesia
tercantum dalam pasal 27 sampai dengan pasal 34 UUD 1945.
Hak Warga Negara Indonesia :
– Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak : “Tiap warga negara berhak atas
pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan” (pasal 27 ayat 2).
– Hak untuk hidup dan mempertahankan kehidupan: “setiap orang berhak untuk hidup serta
berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.”(pasal 28A).
– Hak untuk membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah
(pasal 28B ayat 1).
– Hak atas kelangsungan hidup. “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan
Berkembang”
– Hak untuk mengembangkan diri dan melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya dan berhak
mendapat pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi
meningkatkan kualitas hidupnya demi kesejahteraan hidup manusia. (pasal 28C ayat 1)
– Hak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk
membangun masyarakat, bangsa, dan negaranya. (pasal 28C ayat 2).
– Hak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta
perlakuan yang sama di depan hukum.(pasal 28D ayat 1).
– Hak untuk mempunyai hak milik pribadi Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak
kemerdekaan pikiran dan hati nurani,hak beragama, hak untuk tidak diperbudak,
hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar
hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan
apapun. (pasal 28I ayat 1).
Kewajiban Warga Negara Indonesia :
– Wajib menaati hukum dan pemerintahan. Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 berbunyi :
segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan
dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.
– Wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara. Pasal 27 ayat (3) UUD 1945
menyatakan : setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya
pembelaan negara”.
– Wajib menghormati hak asasi manusia orang lain. Pasal 28J ayat 1 mengatakan :
Setiap orang wajib menghormati hak asai manusia orang lain
– Wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang. Pasal 28J ayat
2 menyatakan : “Dalam menjalankan hak dan kebebasannya,setiap orang wajib tunduk kepada
pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud untuk menjamin
pengakuan serta penghormatan atas hak kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan
yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban
umum dalam suatu masyarakat demokratis.”
– Wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. Pasal 30 ayat (1) UUD
1945. menyatakan: “tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan
dan keamanan negara.”
Hak dan Kewajiban telah dicantumkan dalam UUD 1945 pasal 26, 27, 28, dan 30, yaitu :
1. Pasal 26, ayat (1), yang menjadi warga negara adalah orang-orang bangsa Indonesia asli
dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara. Dan
pada ayat (2), syarat-syarat mengenai kewarganegaraan ditetapkan dengan undang-undang.
2. Pasal 27, ayat (1), segala warga negara bersamaan dengan kedudukannya di dalam
hukum dan pemerintahannya, wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu. Pada ayat (2),
taip-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
3. Pasal 28, kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan, dan
sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.
4. Pasal 30, ayat (1), hak dan kewajiban warga negara untuk ikut serta dalam pembelaan
negara. Dan ayat (2) menyatakan pengaturan lebih lanjut diatur dengan undang-undang.

D. Tujuan pendidikan kewarganegaraan di perguruan tinggi


Pendidikan Kewarganegaraan adalah Pendidikan Kepribadian Mahasiswa agar menjadi warga
Negara yang baik, sebagai calon sarjana adalah calon pemimpin yang berbudi pekerti luhur
dan berwawasan kebangasaan.

Visi Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi


Sebagai kelompok matakuliah pengembangan kepribadian yang memberi orientasi bagi
mahasiswa dalam memantapkan wawasan dan kesadaran kebangsaan, cinta tanah air,
demokrasi , penghargaan atas keragamaan dan partisipasinya membangun
bangsaberdasar Pancasila.

Misi Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi


Sebagai kelompok mata kuliah pengembangan kepribadian yang menyelenggarakan
pendidikan kebangsaan, demokrasi , HAM, multikulural dan kewarganegaraan kepada
mahasiswa guna mendukung terwujudnya warga negara yang cerdas, trampil dan berkarakter
sehingga dapat diandalkan guna membangun bangsa dan negara berdasar Pancasila dan UUD
1945 sesuai dengan bidang keilmuan dan profesinya.

Tujuan Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi


1. Memiliki wawasan dan kesadaran kebangsaan dan rasa cinta tanah air sebagai
perwujudan warga negara Indonesia yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup bangsa
dan negara

2. Memiliki wawasan dan penghargaan terhadap keanekaragaman masyarakat Indonesia


sehingga mampu berkomunikasi baik dalam rangka meperkuat integrasi nasional

3. Memiliki wawasan, kesadaran dan kecakapan dalam melaksanakan hak, kewajiban,


tanggung jawab dan peran sertanya sebagai warga negara yang cerdas, trampil dan berkarakter

4. Memiliki kesadaran dan penghormatan terhadap hak-hak dasar manusia serta kewajiban
dasar manusia sehingga mampu memperlakukan warga negara secara adil dan tidak
diskriminatif

5. Berpartisipasi aktif membangun masyarakat Indonesia yang demokratis dengan


berlandaskan pada nilai dan budaya demokrasi yang bersumber pada Pancasila

6. Memiliki pola sikap, pola pikir dan pola perilaku yang mendukung ketahanan nasional
serta mampu menyesuaikannya dengan tuntutan perkembangan zaman demi kemajuan bangsa
2. Analisis Demokrasi
Prinsip merupakan kaidah atau ketentuan dasar yang harus dipegang dan ditaati. Prinsip
demokrasi adalah beberapa kaidah dasar yang harus ada dan ditaati oleh negara penganut
pemerintahan demokratis. Adapun prinsip-prinsip demokrasi tersebut sebagai berikut:

A. Prinsip-prinsip Demokrasi
1. Negara Berdasarkan Konstitusi
Pengertian negara demokratis adalah negara yang pemerintah dan warganya menjadikan
konstitusi sebagai dasar penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara. Konstitusi dapat
diartikan sebagai undang-undang dasar atau seluruh peraturan hukum yang berlaku di sebuah
negara. Sebagai prinsip demokrasi, keberadaan konstitusi sangat penting sebab dalam
penyelenggaraan kehidupan bernegara. Konstitusi berfungsi untuk membatasi wewenang
penguasa atau pemerintah serta menjamin hak rakyat. Dengan demikian, penguasa atau
pemerintah tidak akan bertindak sewenang-wenang kepada rakyatnya dan rakyat tidak akan
bertindak anarki dalam menggunakan hak dan pemenuhan kewajibannya.

2. Jaminan Perlindungan Hak Asasi Manusia


Hak asasi manusia (HAM) adalah hak dasar atau hak pokok yang dimiliki manusia sejak lahir
sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Hak asasi manusia mencakup hak untuk hidup,
kebebasan memeluk agama, kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat,
serta hak-hak lain sesuai ketentuan undang-undang. Perlindungan terhadap HAM merupakan
salah satu prinsip negara demokrasi karena perlindungan terhadap HAM pada hakikatnya
merupakan bagian dari pembangunan negara yang demokratis.

3. Kebebasan Berserikat dan Mengeluarkan Pendapat


Salah satu prinsip demokrasi adalah mengakui dan memberikan kebebasan setiap orang untuk
berserikat atau membentuk organisasi. Setiap orang boleh berkumpul dan membentuk identitas
dengan organisasi yang ia dirikan. Melalui organisasi tersebut setiap orang dapat
memperjuangkan hak sekaligus memenuhi kewajibannya. Sejarah demokrasi memberikan
kesempatan kepada setiap orang untuk berpikir dan menggunakan hati nurani serta
menyampaikan pendapat dengan cara yang baik. Paham demokrasi tidak membatasi seseorang
untuk berpendapat, tetapi mengatur penyampaian pendapat dengan cara bijak.

4. Pergantian Kekuasaan Secara Berkala


Gagasan tentang perlunya pembatasan kekuasaan dalam prinsip demokrasi dicetuskan oleh
Lord Acton (seorang ahli sejarah Inggris). Lord Acton menyatakan bahwa pemerintahan yang
diselenggarakan manusia penuh dengan kelemahan. Pendapatnya yang cukup terkenal adalah
"ower tends to corrupt, but absolute power corrupts absolutely". Manusia yang mempunyai
kekuasaan cenderung untuk menyalahgunakan kekuasaan, tetapi manusia yang memiliki
kekuasaan tidak terbatas pasti akan menyalahgunakannya.

Pergantian kekuasaan secara berkala bertujuan untuk membatasi kekuasaan atau kewenangan
penguasa. Pergantian kekuasaan secara berkala dapat meminimalisasi penyelewengan dalam
pemerintahan seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme. Pergantian seorang kepala negara atau
kepala daerah dapat dilakukan dengan mekanisme pemilihan umum yang jujur dan adil.

5. Adanya Peradilan Bebas dan Tidak Memihak


Peradilan bebas adalah peradilan yang berdiri sendiri dan bebas dari campur tangan pihak lain
termasuk tangan penguasa. Pengadilan bebas merupakan prinsip demokrasi yang mutlak
diperlukan agar aturan hukum dapat ditegakkan dengan baik. Para hakim memiliki kesempatan
dan kebebasan untuk menemukan kebenaran dan memberlakukan hukum tanpa pandang bulu.
Apabila peradilan tidak lagi bebas untuk menegakkan hukum dapat dipastikan hukum tidak
akan tegak akibat intervensi atau campur tangan pihak di luar hukum oleh karena itu, peradilan
yang bebas dari campur tangan pihak lain menjadi salah satu prinsip demokrasi.

Peradilan tidak memihak artinya peradilan yang tidak condong kepada salah satu pihak yang
bersengketa di muka persidangan. Posisi netral sangat dibutuhkan untuk melihat masalah
secara jernih dan tepat Kejernihan pemahaman tersebut akan membantu hakim menemukan
kebenaran yang sebenar-benarnya Selanjutnya, hakim dapat mempertimbangkan keadaan yang
ada dan menerapkan hukum dengan adil bagi pihak beperkara.

6. Penegakan Hukum dan Persamaan Kedudukan Setiap Warga Negara di Depan Hukum
Hukum merupakan instrumen untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Oleh karena itu,
pelaksanaan kaidah hukum tidak boleh berat sebelah atau pandang bulu. Setiap perbuatan
melawan hukum harus ditindak secara tegas. Persamaan kedudukan warga negara di depan
hukum akan memunculkan wibawa hukum. Saat hukum memiliki wibawa, hukum tersebut
akan ditaati oleh setiap warga negara.

7. Jaminan Kebebasan Pers


Kebebasan pers merupakan salah satu pilar penting dalam prinsip prinsip demokrasi. Pers yang
bebas dapat menjadi media bagi masyarakat untuk menyalurkan aspirasi serta memberikan
kritikan dan masukan kepada pemerintah dalam pembuatan kebijakan publik. Di sisi lain, pers
juga menjadi sarana sosialisasi program-program yang dibuat pemerintah. Melalui pers
diharapkan dapat terjalin komunikasi yang baik antara pemerintah masyarakat.
B. kompararsi negara demokrasi dan negara diktator ditinjau dari segi ideologi, politik,
ekonomi,dan militer
Diktator adalah seorang pemimpin negara yang memerintah secara otoriter atau tirani
dan menindas rakyatnya. Biasanya seorang diktator naik takhta dengan menggunakan
kekerasan, seringkali dengan sebuah kudeta. Tetapi ada pula diktator yang naik takhta secara
demokratis.

Diktator dapat dikatakan sebagai seorang pemimpin yang mempunyai kekuasaan mutlak serta
dalam membuat keputusan seorang diktator hanya mementingkan diri sendiri dan bisa saja
keputusan itu merugikan banyak orang tetapi bisa juga menguntungkan.

Seorang diktator mempunyai sifat yang tegas serta tidak bertele-tele dalam pembuatan
keputusan dan keputusan itu tidak merugikan rakyat, selain itu diktator mempunyai sifat
nasionalisme yang tinggi dan menganggap bahwa negaranya bisa lebih baik dari negara lain.

Seseorang bisa menjadi diktator dikarenakan suatu jabatan pemimpin ia pegang, namun ia tidak
bisa mengendalikan antara pikiran dan hatinya, ia hanya memikirkan egoism dan rasa
nasionalisme tinggi. Ia selalu menganggap bahwa dirinya seorang pemimpin, maka ialah yang
berkuasa. Tak heran bila kemudian kekuasaan membuat seseorang menjadi impulsif, egois dan
tidak bisa bersikap secara proporsional. Bahkan hal ini akan membuat orang itu menjadi
terisolir.

Diktatorisme adalah sebuah paham yang artinya diambil dari kata "diktator" artinya orang yang
memerintah suatu negara/pemerintahan dengan hak-hak dan kekuasaan absolut dan -isme yang
berarti sebuah pemahaman maka disimpulkan diktatorisme adalah sebuah paham yang dianut
oleh suatu negara untuk dipimpin oleh seorang pemimpin otoriter yang mempunyai hak dan
kewajiban absolut.

Sebagian besar diktator memilki karakter totaliter. Totaliter berartikan bahwa pemerintahan
mengontrol secara total kehidupan komunitas. Ia memiliki hak untuk mengatur setiap
lingkungan aktifitas masyarakat seperti, pendidikan, seni, sastra, agama, kehidupan personal
dan keluarga dari seluruh warganegara. Dibawah sistem diktator tidak ada istilah perbedaan
yang diakui antara Negara, rakyat dan pemerintahan.

Sisi lain keistimewaan diktator modern tampak dari segi pemerintahan yang tidak hanya
memiliki politik yang khusus, ide- ide ekonomi dan rancangan aksi, akan tetapi ia merangkul
semua ideologi yang meluas didunia, dimana mencoba untuk menyediakan segala kekayaan
komunikasi massa dan perintah propaganda. Perkembangan ideologi disini melahirkan
permusuhan dengan ideloginya para pejabat pemerintah, dan ini merupakan wajah diktator
yang sebenarnya.
Didalam pemerintaah diktator, militer tidak murni berpolitik. Didalam Negara demokrasi
biasanya militer memilki kebebasan dari partai- partai politik. Memang yang sebenarnya
militer harus menjadi milik bangsa bukan putusan partai. Mereka membawa perintah dari
pemerintahan, dan bukan atas nama partai. Sedangkan posisi militer didalam diktator
sebaliknya, dimana militer harus setia dan patuh terhadap keputusan partai.

Sisi Baik Pemerintaha Diktator

1. Menguatkan Kesatuan Nasional


Sisi baik yang menonjol dari diktator adalah menguatkan kesatuan dan kesetiakawanan
nasional. Sedangkan demokrasi memberi ciri kepada golongan. Aneka ragam kelompok, partai
dan golongan berjuang atau meronta-ronta demi meraih sebuah kekuasaan. Disinilah letak
pengaruh kesatuan nasional. sebaliknya diktator bebas dari kelemahan tersebut, kesatuan dalam
pemerintahan diktator tidak mengalami gangguan. jika elemen-elemen yang mengganggu
muncul kepermukaan, maka akan ditindas sampai keakar-akarnya.

2. Bentuk Pemerintahan Yang Efisien


Dari pokok pandangan administratif diktator, tampak secara efisien dan lebih unggul dari
demokrasi. Diktator tidak suka memboroskan waktunya dalam sebuah diskusi. Ia
menggunakan pengontrolan yang ketat seluruh perlengkapan pemerintahan. Diktator sangat
menghargai kebaikan, namun, disisi lain menindas hal yang tidak displin dan ketidak tepat
gunaan. Diktator juga menentukan semua keinginan badan administrasi dan merangkup segala
bidang populasi. Diktator sangat mudah dalam menetapkan satu hukum pemerintahan, dimana
sangat dipatuhi tampa mengalami kendala yang berat. Hitler, Mussolini, Stalin dan Mao adalah
para diktator, yang memberikan sistem pemerintahan yang efisien dan benar untuk Negara
mereka.

3. Cocok Untuk Keadaan Darurat.


Bisa dikatakan bahwa diktator sangat mudah dan cepat dalam menangani keadaan darurat
daripada demokrasi. Didalam demokrasi, sangat tidak mungkin untuk merumuskan kesatuan
politik nasional, dimana hal ini merupakan punggung sandaran yang kuat didalam Negara.
Sedangkan diktator bisa dengan segera mengerahkan seluruh bangsa dalam waktu singkat,
bahkan mereka bergerak secara langsung melaksanakan perintah.

4. Memperkembangkan Pengendalian Pemerintah Bersama Orang Pintar


Terlihat jelas kelemahan demokrasi dari segi kepemimpinan. Pemerintah harus mengikuti
masyarkat, karena dari rakyatlah mereka muncul. Tentu saja kebaikannya terabaikan dari sisi
korup atau sebaliknya, bahkan pemerintahan ini bisa dikuasai oleh orang- orang yang tidak
efisien. Sedangkan diktator dengan mudah dan sukses, menggunakan perlengkapan
administratif bersama orang yang tangkas, berdaya guna dan setia.
5. Mendatangkan Kemajuan dan Kemakmuran
Diktator bisa menghapuskan pemborosan dari segi produksi dan administrasi, membasmi
korupsi dan menyelenggarakan kedisiplinan pejabat. Didalam pemerintahan diktator tidak
terdapat celah pemogokan dan aksi- aksi lainnya, dimana bisa menpengaruhi pertumbuhan
ekonomi komunitas.

Kelemahan Pemerintahan Diktator

1. Memuja Kekerasan
Diktator adalah pemerintahan yang memaksa. Ia memiliki sifat dasar kekerasan. Fascist dan
komunis memperoleh kekuatan mereka dari kekerasan atau tindak kekejaman, keduanya
memuliakan paksaan sebagai metode aksi politik. Diktator lebih mengutamakan kekuatan fisik,
paksaan dan kekerasan, dimana mengabaikan cara intelektual dan moral. Intimidasi,
penyiksaan, penjara dan eksekusi merupakan cara diktator dalam menyelesaikan masalah, atau
bisa dikatakan untuk mengatasi para pembangkangnya.

2. Totaliter
Diktator modern tidak memberikan perbedaan antara Negara dan masyarakat. Ia menghargai
atau mengakui aksi Negara yang tidak terbatas. Namun, Totaliter inilah yang mengatur dan
mengontrol seluruh aspek kehidupan, termasuk agama, sastra, seni dan pendidikan. Diktator
tidak menerima kebebasan kata hati, dan ia tidak memihak kepada sifat individual komunitas.

3. Otoriter
Diktator merupakan musuh bagi kebebasan individual. Ia menganut peraturan satu partai atau
semata- mata peraturan militer. Ia merupakan bentuk kezaliman yang sesat. Keinginan atau
kemauan diktator merupakan hukum partai. Ia juga tidak bertanggung jawab kepada siapa saja.

4. Diktator Bersifat Agresif


Diktator mencela dengan adanya ide-ide perdamaian dunia dan keharmonisan internasional.
Diktator menganggap paham perdamaian adalah pengecut. Diktator fascist seperti Hitler dan
Mussolini, secara terbuka mengundang perang dan akhirnya mencelupkan manusia pada
perang dunia ke II. Begitu juga dengan halnya diktator seperti Zia-Ul-Haq yang memiliki sifat
senang untuk berperang.

5. Diktator Terpisah Dari Yang Lain


Diktator memiliki karakter ekclusive atau terpisah dari yang lain. Diktator adalah penyokong
kesucian agama, ras dan bahasa. Akan tetapi Hitler membenci kaum Yahudi, bahkan
membunuh jutaan bangsa Yahudi. Begitu juga Zia dari Pakistan merupakan ahli pokok islam.
Sedangkan Khomeini dari iran bukan merupakan musuh bagi non- islam, akan tetapi juga
lawan bagi muslim dari aliran sunni atau non- shia.

6. Merendahkan Kepribadian Manusia


Semua definisi yang tersebut diatas akhirnya menimbulkan pengaruh mengucilkan dan
merendahkan personalitas manusia. Manusia pada umumnya tidak merasa puas, jika
keinginannnya secara pribadi tidak terpenuhi. Manusia umumnya memiliki sifat spiritualisme
dan pasti akan mencari spiritual tersebut. Sedangkan diktator memiliki sifat dasar yang
menentang sifat spiritual yang dimiliki manusia. Dibawah kekuasaan diktator manusia tidak
memiliki kebebasan, bahkan tidak bisa mengungkapkan atau memberikan kontribusi yang
dimilikinya, walaupun bertujuan untuk kebaikan bersama. Disinilah terletak pelecehan
terhadap personalitas. Disisi lain juga, diktator menolak sistem self-government atau
pemerintahan sendiri.

Negara demokrasi
1. Melindungi kepentingan rakyat
Demokrasi merupakan sistem yang melindungi kepentingan rakyat. Kekuasaan yang
sesungguhnya terletak di tangan orang-orang yang mewakili rakyat banyak. Para wakil rakyat
dipilih dan harus bertanggung jawab kepada rakyat yang memilihnya. Dengan cara ini,
kepentingan sosial, ekonomi dan politik rakyat menjadi lebih terjamin di bawah demokrasi.

2. Berdasarkan prinsip kesetaraan


Demokrasi didasarkan pada prinsip kesetaraan. Semua warga negara memiliki kedudukan
sama di mata hukum. Semua rakyat memiliki hak sosial, politik dan ekonomi yang sama dan
negara tidak boleh membedakan warga negara atas dasar kasta, agama, jenis kelamin, atau
kepemilikan.

3. Stabilitas dan tanggung jawab dalam pemerintahan


Demokrasi dikenal sebagai sistem yang stabilitas dan efisien. Pemerintahan berjalan stabil
karena didasarkan pada dukungan publik.

Kekurangan Demokrasi

1. Lebih menekankan pada kuantitas daripada kualitas


Demokrasi tidak didasarkan pada kualitas tetapi pada kuantitas. Partai mayoritas memiliki
wewenang memegang pemerintahan. Selain itu, orang yang tidak memiliki kecerdasan, visi
dan korup bisa saja terpilih menjadi penyelenggara negara.
2. Pemerintahan oleh orang tidak kompeten
Demokrasi bisa saja dijalankan oleh orang-orang yang tidak kompeten. Dalam demokrasi,
setiap warga negara diperbolehkan untuk mengambil bagian, sedangkan tidak semua orang
cocok dengan peran itu. Segerombolan manipulator yang dapat mengumpulkan suara bisa
mendapatkan kekuasaan dalam demokrasi. Hasilnya, demokrasi dijalankan oleh orang bodoh
dan tidak kompeten.

3. Berdasarkan kesetaraan yang tidak wajar


Konsep kesetaraan dalam demokrasi dianggap bertentangan dengan hukum alam. Alam
memberi setiap individu dengan kecerdasan dan kebijaksanaan yang berbeda. Faktanya,
kemampuan tiap orang berbeda. Sebagian orang berani, lainnya pengecut. Sebagian sehat, yang
lain tidak begitu sehat. Sebagian cerdas, yang lain tidak.

C. Demokrasi pancasila
Pengertian demokrasi Pancasila bahwa Pancasila meliputi bidang-bidang politik, sosial
dan ekonomi, serta yang dalam penyelesaian masalah-masalah nasional yang berusaha sejauh
mungkin menempuh jalan permusyawaratan untuk mencapai mufakat.
Ciri-Ciri Demokrasi Pancasila
Prinsip yang terdapat dalam demokrasi Pancasila sediki berbeda dengan prinsip demokrasi
secara universal. Ciri-ciri demokrasi Pancasila adalah sebagai berikut:
a. Pemerintah berjalan sesuai dengan konstitusi
b. Terdapat pemilu secara berkesinambungan
c. Adanya penghargaan atas Hak Asasi Manusia dan perlindungan untuk hak minoritas
d. Merupakan kompetisi dari berbagai ide dan cara dalam menyelesaikan masalah
e. Ide yang terbaik akan diterima ketimbang dari suara terbanyak

Isi Pokok Demokrasi Pancasila


Isi pokok demokrasi Pancasila adalah sebagai berikut:
a. Pelaksanaan UUD 1945 dan penjabarannya dituangkan Batang Tubuh dan Penjelasan
UUD 1945
b. Menghargai dan melindungi HAM (Hak Asasi Manusia)
c. Pelaksanaan kehidupan ketatanegaraan beradsarkan dari kelembagaan
d. Sebagai sendi dari hukum yang dijelaskan dalam UUD 1945, yaitu negara hukum yang
demokrastif
Fungsi Demokrasi Pancasila
Demokrasi Pancasila memiliki banyak fungsi dalam pelaksanannya terhadap negara Indonesia.
Macam-macam fungsi demokrasi Pancasila adalah sebagai berikut:
a. Menjamin keikutsertaan rakyat dalam kehidupan bernegara seperti ikut menyukseskan
pemiluh, pembangunan, duduk dalam badan perwakilan/permusyawaratan
b. Menjamin berdirinya negara RI
c. Menjamin tetap tegaknya NKRI berdasar sistem konstitusional
d. Menjamin tetap tegaknya hukum yang berasal dari Pancasila
e. Menjamin adanya hubungan yang sama, serasi dan simbang mengenai lembaga negara
f. Menjamin pemerintahan yang bertanggung jawab

Prinsip-Prinsip Demokrasi Pancasila


Demokrasi Pancasila merupakan budaya demokrasi yang dengan karakteristik khas Indonesia
yang mengandung prinsip-prinsip. Prinsip-prinsip pokok demokrasi pancasila adalah sebagai
berikut:
a. Perlindungan hak asasi manusia
b. Pengambilan keputusan berdasar musyawarah
c. Badan peradilan merdeka yang berarti tidak terpangaruhi akan kekuasaan pemerintah
dan kekuasaan lain. Misalnya Presiden, BPK, DPR atau yang lainnya.
d. Terdapat partai politik dan juga organisasi sosial politik yang berfungsi untuk
menyalurkan aspirasi rakyat.
e. Sebagai pelaksanan dalam pemilihan umum
f. Kedaulatan ada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut UUD (Pasal 1 Ayat 2 UUD
1945)
g. Keseimbangan antara hak dan kewajiban

Pelaksanaan kebebasan yang bertanggun jawab secara moral kepada Tuhan YME diri sendiri,
masyarakat, dan negara ataupun orang lain.
Menjunjung tinggi tujuan dan juga cita-cita nasional
Pemerintah menurut hukum, dijelaskan dalam UUD 1945 yang berbunyi:
a. Indonesia adalah negara berdasarkan hukum (rechtstaat dan tidak berdasarkan kekuasaan
belaka (machtstaat)
b. Pemerintah berdasar dari sistem konstitusi (hukum dasar) tidak bersifat absolutisme
(kekuasaan tidak terbatas)
c. Kekuasaan yang tertinggi ada ditangan rakyat.
Asas Demokrasi Pancasila
Dalam sistem demokrasi Pancasila, terdapat dua asas antara lain sebagai berikut:
Asas Kerakyatan: Pengertian asas kerakyatan adalah asas kesadaran untuk cinta kepada rakyat,
manunggal dengan nasip dan cita-cita rakyat, serta memiliki jiwa kerakyatan atau menghayati
keasadaran senasib dan secita-cita dengan rakyat.
Asas Musyawarah: Pengertian asas msyawarah adalah asas yang memperhatikan aspirasi dan
kehendak seluruh rakyat yang jumlahnya banyak dan melalui forum permusyawaratan untuk
menyatukan pendapat serta mencapai kesepatakan bersama atas kasih sayang, pengobaranan
untuk kebahagian bersama.

3. Analisis Hak Asasi Manusia


A. Pengertian mendasar Hak Asasi Manusia
Hak Asasi Manusia adalah hak dasar yang dimiliki manusia sejak dilahirkan ke dunia yang
secara kodrati sudah melekat dalam diri manusia tersebut yang harus dijunjung tinggi dan
diakui oleh semua orang.

Mahluk yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan segala kesempurnaanya yaitu
manusia. Salah satu kesempurnan yang diciptakan kepada manusia adalah akal dan pikiran
yang membedakan dengan makhluklain. Sejak diciptakan dan dilahirkan manusia telah
dianugrahi hal-hal yangmelekat pada dirinya yang harus dihormati oleh manusia yang lainya.
Hak tersebut disebut dengan Hak Asasi Manusia (HAM).

HAM merupakan hasil perjuangan manusia untuk mencapai harkat kemanusiaan, sebab
hingga saat ini hanya konsep HAM dan demokrasilah yang terbukti paling mengakui dan
menjamin harkat kemanusiaan.Dihadapan manusia memiliki potensi untuk mencapai
kebenaran, tetapi tidak kebenaran mutlak dimiliki oleh manusia, karena yang benar secara
mutlak hanya Tuhan.

Hak asasi manusia adalah sebuah prinsip-prinsip moral atau norma yang menggambarkan
standar tertentu dari sikap perilaku manusia serta dilindungi secara baik sebagai hak-hak
hukum dalam hukum kota/internasional. - Wikipedia

Sebelum kita membahas mengenai arti hak asasi manusia, mari kita bahas satu persatu
mengenai definisi hak terlebih dahulu.

Definisi Hak

Secara definitif makna 'HAK" merupakan sebuah unsur normatif sebagai pedoman dalam
berperilaku, melindungi kebebasan, kekebalan, dan menjamin adanya peluang bagi manusia
dalam menjaga hakikat dan martabatnya. - (daftar pusataka :
Tim ICCE UIN Jakarta.Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani, (Jaka
rta :PrenadaMedia,2003) hal. 199.)
Hak dibagi menjadi tiga unsur yang menyatu menjadi satu dalam pengertian dasar tentang
hak. Unsur-unsur HAK menurut Tim ICCE UIN Jakarta. (Loc., cit..Hal 199) yaitu:

Pemilik hak;
Ruang lingkup penerapan hak; dan
Pihak yang bersedia dalam penerapan hak
Sehingga, HAK merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang dalam
penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkait
dengan interaksinya antara individu atau dengan instansi.
Teori Pemerolehan Hak
1. Teori McCloskey
Pemberian hak adalah untuk dilakukan, dimiliki, atau sudah dilakukan.

2. Teori Joel Feinberg


Pemberian hak penuh merupakan kesatuan dari klaim yang absah (keuntungan yang didapat
dari pelaksanaan hak yang disertai pelaksanaan kewajiban). Sehingga keuntungan bersama
akan diperoleh jika pelaksanaan hak disertai dengan pelaksanaan kewajiban. Oleh karenanya
perwujudan hak dan kewajiban tidak dapat dipisahkan, jika seseorang menuntut hak
mengharuskan untuk melakukan kewajiban. (Tim ICCE UIN Jakarta.Op., Cit., hal. 200)

Pengertian HAM Menurut Para Ahli


Pengertian Hak Asasi Manusia Menurut John Locke

HAM adalah hak-hak yang telah diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai
hak yang kodrati, tidak ada kuasa apapun di dunia yang dapat mencabutnya. Hak ini bersifat
sangat mendasar (fundamental) bagi hidup maupun kehidupan manusia serta merupakan hak
kodrati yang tidak bisa terlepas dari dan dalam kehidupan manusia.
(Masyhur Effendi.Dimensi dan Dinamika Hak Asasi Manusia dalam Hukum Nasional
dan Internasional, (Jakarta, Ghalia Indonesia, 1994), hal. 3.)

Definisi HAM Menurut Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia Pasal 1
Hak Asasi Manusia (HAM) adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan
manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib
dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang
demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.
HAM Menurut Austin-Ranney
HAM merupakan ruang kebebasan individu yang dirumuskan secara jelas dalam konstitusi
dan dijamin pelaksanaannya oleh pemerintah.

HAM Menurut C. de Rover


HAM adalah hak hukum yang dimiliki setiap orang sebagai manusia. Hak-hak tersebut
bersifat universal dan dimiliki setiap orang, kaya maupun miskin, laki-laki ataupun
perempuan. Hak-hak tersebut mungkin saja dilanggar, tetapi tidak pernah dapat dihapuskan.
Hak asasi merupakan hak hukum, ini berarti bahwa hak-hak tersebut merupakan hukum. Hak
asasi manusia dilindungi oleh konstitusi dan hukum nasional di banyak negara di dunia. Hak
asasi manusia adalah hak dasar atau hak pokok yang dibawa manusia sejak lahir sebagai
anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Hak asasi manusia dihormati, dijunjung tinggi, dan
dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang. Hak asasi manusia bersifat
universal dan abadi.

Pengertian Ham menurut David Beetham dan Kevin Boyle


Menurut David Beetham dan Kevin Boyle, hak asasi manusia serta kebebasan-kebebasan
fundamental adalah hak-hak setiap individu yang bermula dari kebutuhan-kebutuhan serta
kapasitas-kapasitas manusia.

Pengertian Ham menurut A.J.M. Milne


HAM adalah hak yang dimiliki oleh semua umat manusia di segala masa dan di segala
tempat karena keutamaan keberadaannya sebagai manusia.

Pengertian HAM oleh Franz Magnis- Suseno


HAM adalah hak-hak yang dimiliki manusia bukan karena diberikan kepadanya oleh
masyarakat. Jadi bukan karena hukum positif yang berlaku, melainkan berdasarkan
martabatnya sebagai manusia. Manusia memilikinya karena ia manusia.

Arti HAM Menurut Miriam Budiardjo


Miriam Budiardjo membatasi pengertian hak-hak asasi manusia sebagai hak yang dimiliki
manusia yang telah diperoleh dan dibawanya bersamaan dengan kelahiran atau kehadirannya
di dalam masyarakat.

Makna HAM menurut Oemar Seno Adji


Menurut Oemar Seno Adji yang dimaksud dengan hak-hak asasi manusia ialah hak yang
melekat pada martabat manusia sebagai insan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang sifatnya
tidak boleh dilanggar oleh siapapun, dan yang seolah-olah merupakan suatu holy area.
B. Macam macam Hak Asasi Manusia
Dalam ajaran agama Islam hak asasi manusia memiliki lima prinsip utama yang sesuai
dengan fikih (oleh Masdar F. Mas’udi) yatu :
a. Hak perlindungan terhadap jiwa
b. Hak perlindungan keyakinan
c. Hak perlindungan terhadap akal pikiran
d. Hak perlindungan terhadap hak milik
e. Hak berkeluarga atau hak memperoleh keturunan dan memertahankan nama baik
Sesuai UUD 1945 Hak Asasi Manusia (HAM) diatur dalam pasal 28A sampai 28J, dengan
penjelasan lengkap sebagai berikut:

Pasal 28A mengatur tentang hak hidup


Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.

Pasal 28B mengatur tentang hak berkeluarga


(1) Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan
yang sah.
(2) Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Pasal 28C mengatur tentang hak memeroleh pendidikan


(1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya,
berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi,
seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat
manusia.
(2) Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara
kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya.

Pasal 28D mengatur tentang kepastian hukum


(1) Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang
adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum.
(2) Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan
layak dalam hubungan kerja.
(3) Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan.
(4) Setiap orang berhak atas status kewarganegaraan.

Pasal 28E mengatur tentang kebebasan beragama


(1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih
pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat
tinggal diwilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.
(2) Setiap orang atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai
dengan hati nuraninya.
(3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.

Pasal 28F mengatur tentang komunikasi dan informasi


Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan
pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki,
menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis
saluran yang tersedia.

Pasal 28G mengatur Hak perlindungan diri


(1) Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan
harta benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari
ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.
(2) Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakuan yang merendahkan
derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain.

Pasal 28h mengatur kesejahteraan dan mendapat jaminan sosial


(1) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan medapatkan
lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.
(2) Setiap orang mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan
dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan.
(3) Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya
secara utuh sebagai manusia yang bermartabat.
(4) Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh
diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapa pun.

Pasal 28I mengatur hak-hak dasar asasi manusia


(1) Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak
beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum,
dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia
yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun.
(2) Setiap orang berhak bebas atas perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun
dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.
(3) Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan
zaman dan peradaban.
(4) Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung
jawab negara, terutama pemerintah.
(5) Untuk menegakan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum
yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam
peraturan perundangan-undangan.

Pasal 28J mengatur tentang penghormatan HAM


(1) Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
(2) Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan
yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin
pengakuan serta penghormatan atas hak kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan
yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban
umum dalam suatu masyarakat demokratis.

b. Macam-Macam Hak Asasi Manusia Sebagai Warga Negara dalam Berbangsa dan
Bernegara

1. Hak Asasi Pribadi (Personal Rights)


Merupakan hak yang berhubungan dengan pribadi individu manusia. Contohnya: Hak bebas
untuk bergerak, bersantai, travelling, berpendapat, memilih dan dipilih serta aktif dalam
organisasi, serta bebas memilih, memeluk maupun menjalankan ajaran agama dan
kepercayaan masing-masing.

2. Hak Asasi Politik (Political Rights)


Contohnya: Hak untuk memilih maupun dipilih dalam pemilihan, ikut dalam kegiatan
pemerintahan, mendirikan partai, mengajukan petisi dan lain-lain.

3. Hak Asasi Hukum (Legal Equality Rights)


Contohnya: hak dalam mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan,
menjadi PNS, mendapatkan layanan dan perlindungan hukum, dll.

4. Hak Asasi Ekonomi (Property Rights)


Contohnya: Bebas berjual beli, mengadakan perjanjian kontrak, sewa menyewa dan utan
piutang, hak memiliki sesuatu, mendapatkan pekerjaan yang layak dan lain-lain.

5. Hak Asasi Sosial Budaya (Social Culture Rights)


Contohnya: Hak menentukan, memilih dan mendapatkan pendidikan yang layak, mendapat
pengajaran, mengembangkan budaya sesuai bakat, dan lain-lain.

C. Cara terbaik mengatasi HAM di Indonesia


1. Upaya Pencegahan Pelanggaran Hak Asasi Manusia
Mencegah lebih baik dari pada mengobati. Pernyataan itu tentunya sudah sering kalian
dengar. Pernyataan tersebut sangat relevan dalam proses penegakan HAM. Tindakan terbaik
dalam penegakan HAM adalah dengan mencegah timbulnya semua faktor penyebab dari
pelanggaran HAM. Apabila factor penyebabnya tidak muncul, maka pelanggaran HAM pun
dapat diminimalisir atau bahkan dihilangkan. Berikut ini tindakan pencegahan yang dapat
dilakukan untuk mengatasi berbagai kasus pelanggaran HAM:
1) Supremasi hukum dan demokrasi harus ditegakkan. Pendekatan hukum dan
pendekatan dialogis harus dikemukakan dalam rangka melibatkan partisipasi masyarakat
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Para pejabat penegak hukum harus memenuhi
kewajiban dengan memberikan pelayanan yang baik dan adil kepada masyarakat,
memberikan perlindungan kepada setiap orang dari perbuatan melawan hukum, dan
menghindari tindakan kekerasan yang melawan hukum dalam rangka menegakkan hukum.

2) Meningkatkan kualitas pelayanan publik untuk mencegah terjadinya berbagai bentuk


pelanggaran HAM oleh pemerintah.
3) Meningkatkan pengawasan dari masyarakat dan lembaga-lembaga politik terhadap setiap
upaya penegakan HAM yang dilakukan oleh pemerintah.
4) Meningkatkan penyebarluasan prinsip-prinsip HAM kepada masyarakat melalui lembaga
pendidikan formal (sekolah/perguruan tinggi) maupun nonformal (kegiatan-kegiatan
keagamaan dan kursus-kursus).
5) Meningkatkan profesionalisme lembaga keamanan dan pertahanan negara.
6) Meningkatkan kerja sama yang harmonis antarkelompok atau golongan dalam masyarakat
agar mampu saling memahami dan menghormati keyakinan dan pendapat masing-masing

Kasus pelanggaran HAM akan senatiasa terjadi jika tidak secepatnya ditangani. Negara yang
tidak mau menangani kasus pelanggaran HAM yang terjadi di negaranya akan disebut
sebagaiunwillingness state atau negara yang tidak mempunyai kemauan menegakan HAM.
Kasus pelanggaran HAM yang terjadi di negara tersebut akan disidangkan oleh Mahkamah
Internasional. Hal tersebut tentu saja menggambarkan bahwa kedaulatan hukum negara
tersebut lemah dan wibawa negara tersebut jatuh di dalam pergaulan bangsa-bangsa yang
beradab.

Sebagai negara hukum dan beradab, tentu saja Indonesia tidak mau disebut
sebagaiunwillingness state. Indonesia selalu menangani sendiri kasus pelanggaran HAM yang
terjadi di negaranya tanpa bantuan dari Mahkamah Internasional. Contoh-contoh kasus yang
dikemukakan pada bagian sebelumnya merupakan bukti bahwa di negara kita ada proses
peradilan untuk menangani masalah HAM terutama yang sifatnya berat. Sebelum berlakunya
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2000 tentang pengadilan HAM, kasus
pelanggaran HAM diperiksa dan diselesaikan di pengadilan HAM ad hoc yang dibentuk
berdasarkan keputusan presiden dan berada di lingkungan peradilan umum.

Setelah berlakunya undang-undang tersebut kasus pelanggaran HAM di Indonesia ditangani


dan diselesaikan melalui proses peradilan di Pengadilan HAM. Penyelesaian kasus
pelanggaran HAM berat di Indonesia dilakukan berdasarkan ketentuan yang terdapat dalam
Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM.
Berdasarkan undang-undang tersebut, proses persidangannya berlandaskan pada ketentuan
Hukum Acara Pidana. Proses penyidikan dan penangkapan dilakukan oleh Jaksa Agung
dengan disertai surat perintah dan alasan penangkapan, kecuali tertangkap tangan.

Penahanan untuk pemeriksaan dalam sidang di Pengadilan HAM dapat dilakukan paling lama
90 hari dan dapat diperpanjang paling lama 30 hari oleh pengadilan negeri sesuai dengan
daerah hukumnya. Penahanan di Pengadilan Tinggi dilakukan paling lama 60 hari dan dapat
diperpanjang paling lama 30 hari. Penahanan di Mahkamah Agung paling lama 60 hari dan
dapat diperpanjang paling lama 30 hari. Adapun penyelidikan di terhadap pelanggaran hak
asasi manusia yang berat dilakukan oleh Komnas HAM. Dalam melakukan penyelidikan,
Komnas HAM dapat membentuk Tim ad hoc yang terdiri dari Komnas Ham dan unsur
masyarakat. Hasil penyelidikan Komnas HAM yang berupa laporan pelanggaran hak asasi
manusia, diserahkan berkasnya kepada Jaksa Agung yang bertugas sebagai penyidik. Jaksa
Agung wajib menindak lanjuti laporan dari Komnas Ham tersebut. Jaksa Agung sebagai
penyidik dapat membentuk penyidik ad hoc yang terdiri dari unsur pemerintah dan masyarakat.

Proses penuntutan perkara pelanggaran HAM berat dilakukan oleh Jaksa Agung. Dalam
pelaksanaan tugasnya, Jaksa Agung dapat mengangkat penuntut umum ad hoc yang terdiri dari
unsur pemerintah atau masyarakat. Setiap saat Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dapat
keterangan secara tertulis kepada Jaksa Agung mengenai perkembangan penyidikan dan
penuntutan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat. Jaksa penuntut umum ad
hocsebelum melaksanakan tugasnya harus mengucapkan sumpah atau janji. Selanjutnya,
perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat diperiksa dan diputuskan oleh Pengadilan
HAM yang dilakukan oleh Majelis Hakim Pengadilan HAM paling lama 180 hari setelah
berkas perkara dilimpahkan dari penyidik kepada Pengadilan HAM. Majelis Hakim Pengadilan
HAM yang berjumlah lima orang terdiri atas dua orang hakim pada Pengadilan HAM yang
bersangkutan dan tiga orang hakim ad hoc yang diketuai oleh hakim dari Pengadilan HAM
yang bersangkutan.

Dalam hal perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat dimohonkan banding ke
Pengadilan Tinggi, maka perkara tersebut diperiksa dan diputus dalam waktu paling lama 90
hari terhitung sejak perkara dilimpahkan ke Pengadilan Tinggi. Pemeriksaan perkara
pelanggaran HAM di Pengadilan Tinggi dilakukan oleh majelis hakim yang terdiri atas dua
orang hakim Pengadilan Tinggi yang bersangkutan dan tigaorang hakim ad hoc. Kemudian,
dalam hal perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat dimohonkan kasasi ke Mahkamah
Agung, perkara tersebut diperiksa dan diputus dalam waktu paling lama 90 hari terhitung sejak
perkara dilimpahkan ke Mahkamah Agung. Pemeriksaan perkara pelanggaran HAM berat di
Mahkamah Agung dilakukan oleh majelis hakim terdiri atas dua orang Hakim Agung dan tiga
orang hakim ad hoc. Hakim ad hoc di Mahkamah Agung diangkat oleh Presiden selaku Kepala
Negara atas usulan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
Perilaku yang Mendukung Upaya Penegakan HAM di Indonesia
Upaya penegakan HAM yang dilakukan oleh pemerintah tidak akan berhasil tanpa didukung
oleh sikap dan perilaku warga negaranya yang mencerminkan perhormatan terhadap hak asasi
manusia. Sebagai warga negara dari bangsa yang dan negara yang beradab sudah sepantasnya
sikap dan perilaku kita mencerminkan sosok manusia beradab yang selalu menghormati
keberadaan orang lain secara kaffah. Sikap tersebut dapat kalian tampilkan dalam perilaku di
lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, bangsa, dan negara.

D. pasal pasal yang mengatur HAM dalam UUD 1945 sesudah di amandemen
1) Pasal 27 UUD 1945, berbunyi:
(1) “Segala warga negara bersamaan kedudukan di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib
menjungjung hukum dan pemerinatah itu dengan tidak ada kecualinya”.
(2) Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi
kemanusiaan.
(3) “Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.”
2) Pasal 28 UUD 1945
”Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan
sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”

3) Pasal 28 A
Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya
4) Pasal 28 B
(1) Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan
yang sah
(2) Setiap orang berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi
5) Pasal 28 C
(1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya,
berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan
teknologi, seni dan budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan
umat manusia.
(2) Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara
kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya
6) Pasal 28 D
(1) Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlidungan dan kepastian hukum yang adil
serta perlakuan yang sama dihadapan hukum
(2) Setiap orang berhak untuk berkerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan
layak dalam hubungan kerja
(3) Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalm pemerintahan
(4) Setiap orang berhak atas status kewarganegaraan
7) Pasal 28 E
(1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadah menurut agamanya, memilih
pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat
tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya serta berhak kembali.
(2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap
sesuai hati nuraninya.
(3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat.

8) Pasal 28 F
Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan
pribadi dan lingkungan sosialnya serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki,
menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis
saluran yang tersedia.
9) Pasal 28 G
(1) Setiap orang berhak atas perlindung diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan
harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari
ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasinya.
(2) Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan
derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain.
10) Pasal 28 H
(1) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapat
lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.
(2) Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh
kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan
(3) Setiap orang berhak atas imbalan jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan
dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat
(4) Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh
diambil alih sewenang-wenang oleh siapapun.
11) Pasal 28 I
(1) Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak
beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum,
dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia
yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.
(2) Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yanbg bersifat diskriminatif atas dasar apaun
dan berhak mendapat perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.
(3) Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan
zaman dan peradaban.
(4) Perlindungan, pemajuan, penegakan dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung
jawab negara terutama pemerintah
(5) Untuk menegakkan dan melindungi hak asaso manusia sesuai dengan prinsip negara
hukum yang demokrastis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur dan
dituangkan dalam peraturan perundang-undangan.
12) Pasal 28 J
(1) Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
(2) Dalam menajlan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan
yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin
pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi
tuntutan yang adil sesuai dengan pertimabangan moral, nilai-nilai agama, keamanan dan
ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokrastis.
13) Pasal 29
(1) Negara berdasarkan atas Ketuhanan yang Maha Esa
(2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-
masing dan untuk berinadah menurut agama dan kepercayaannya itu.
14) Pasal 30 ayat (1)
(1) Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan
keamanan negara.
15) Pasal 31
(1) Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan
(2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib
membiayainya.
16) Pasal 32 AYAT (1)
(1) Negara mamajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan
menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai
budayanya.
17) Pasal 33
(1) Perekonomian disusun sebagi usaha bersama berdasarkan atas azas kekeluargaan
(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang
banyak dikuasai oleh negara.
(3) Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
18) Pasal 34
(1) Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.
DAFTAR PUSTAKA
Abdulkarim A. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan untuk Kelas XII SMA. Cet.1.
Bandung: Grafindo Media Pratama.Hlm25-27

Indrayana, Denny (2007). “Indonesia dibawah Soeharto: Order Otoliter


Baru”. Amandemen UUD 1945: antara mitos dan pembongkaran. Mizan Pustaka. hlm.
141

Israil, Idris. 2005. Pendidikan Pembelajaran dan Penyebaran Kewarganegaraan.


Malang : Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya.Hlm 27.
TUGAS PROJECT UTS KEWARANEGARAAN

Oleh: JUNTO SIHOMBING


NIM: 155040100111101
Kelas: T

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018