Anda di halaman 1dari 18

PROPOSAL TERAPI BERMAIN

MEWARNAI GAMBAR DI RUANG C1 LANTAI 1


RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR. KARIADI SEMARANG

Disusun Oleh Kelompok 5 :


Aris Prasetyo
Umi Sa’adah
Theresia Ika
Yayuk Wijayanti
Yenny Mayangsari

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Dirawat di rumah sakit merupakan peristiwa yang sering
menimbulkan pengalaman traumatik, khususnya pada pasien anak yaitu
ketakutan dan ketegangan atau stress hospitalisasi. Stress ini disebabkan
oleh berbagai faktor diantaranya perpisahan dengan orang tua, kehilangan
kontrol, dan akibat dari tindakan invasif yang menimbulkan rasa nyeri.
Akibatnya akan menimbulkan berbagai aksi seperti menolak makan,
menangis, teriak, memukul, menyepak, tidak kooperatif atau
menolak tindakan keperawatan yang diberikan.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalkan
pengaruh hospitalisasi pada anak yaitu dengan melakukan kegiatan bermain.
Bermain merupakan suatu tindakan yang dilakukan secara sukarela untuk
memperoleh kesenangan dan kepuasan. Bermain merupakan aktivitas yang
dapat menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak dan merupakan
cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional dan sosial sehingga
bermain merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan bermain
anak-anak akan belajar berkomunikasi, menyesuaikan diri dengan
lingkungan yang baru, melakukan apa yang dapat dilakukannya, dan dapat
mengenal waktu, jarak serta suara.
Anak-anak pada usia sekolah senang bermain dengan warna, oleh
karena itu, mewarnai bisa menjadi alternatif untuk mengembangkan
kreatifitas anak dan dapat menurunkan tingkat kecemasan pada anak selama
dirawat. Salah satu karakteristik perkembangan motorik halus pada anak
pre-school adalah mampu mengenali warna. Dengan permainan mewarnai
menjadi salah satu media bagi perawat untuk mampu mengenali tingkat
perkembangan anak. Dinamika secara psikologis menggambarkan bahwa
selama mewarnai, anak akan mengekspresikan imajinasinya dalam goresan
warna pada gambar sehingga untuk sementara waktu anak akan merasa
lebih rileks.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum
Setelah mengikuti terapi bermain dapat meminimalkan
dampak hospitalisasi pada anak sehingga dapat mempercepat proses
kesembuhan anak.
2. Tujuan Khusus
a. Meningkatkan perkembangan mental, imajinasi dan kreativitas anak
usia school.
b. Melatih meningkatkan kognitif anak dalam hal pemilihan warna
dalam mewarnai gambar.
c. Dapat menerapkan waktu yang tepat untuk melakukan permainan
sehingga anak tidak kehilangan waktu bermain.
C. Sasaran
Terapi bermain akan dilaksanakan dengan sasaran anak usia sekolah.
Dalam usia sekolah tuntutan yang dihadapi oleh anak semakin banyak.
Tekanan sekolah, lingkungan sebaya (peer group), serta tuntutan belajar yang
semakin tinggi membuat anak harus lebih mampu menghadapi tuntutan sosial
masyarakat. Bahkan tidak jarang orang tua menuntut anak untuk berprestasi
tinggi, dan adakalanya harapan orang tua melebihi kapasitas anak untuk dapat
mencapainya. Berbagai kondisi sosial yang penuh tuntutan baik dari sekolah,
teman sebaya maupun orang tua dapat menimbulkan berbagai permasalahan
bagi anak salah satunya dalam proses belajar anak sulit berkonsentrasi,
perstasi anak menurun bahkan motivasi anak untuk belajar menurun.
Berbagai keluhan tersebut merupakan sebagian kecil keluhan rutin yang kerap
disampaikan oleh para orang tua pada konselor. Tidak jarang bahkan orang
tua justru menekankan keluhan bahwa anak-anak mereka terlalu senang
bermain, sehingga kurang belajar. Padahal justru melalui bermain, mereka
bisa belajar lebih banyak lagi. Anak bermain pada dasarnya agar ia
memperoleh kesenangan, sehingga tidak akan merasa jenuh. Bermain tidak
sekedar mengisi waktu tetapi merupakan kebutuhan anak seperti halnya
makan, perawatan dan cinta kasih. Fungsi utama bermain adalah merangsang
perkembangan sensoris-motorik, perkembangan sosial, perkembangan
kreativitas, perkembangan kesadaran diri, perkembangan moral dan bermain
sebagai terapi. Usia sekolah adalah usia 6 sampai 12 tahun. Adapun kriteria
sasaran meliputi :
1. Usia sekolah (yang berusia 6-12 tahun)
2. Tidak mempunyai keterbatasan fisik
3. Dapat berinteraksi dengan perawat dan keluarga
4. Pasien kooperatif
5. Peserta terdiri dari: anak usia sekolah sebanyak 5 orang
BAB II
DESKRIPSI KASUS

A. Karakteristik Sasaran
Terapi bermain mewarnai ini akan dilakukan pada anak usia sekolah.
tahap perkembangan anak usia sekolah adalah Industry Vs Inferiority (School
age, 6 – 12 tahun)
1. Anak senang menyelesaikan ssesuatu dan menerima pujian
2. Anak tidak berhasil menyelesaikan tugasnya akan menjadi inferior
3. Perilaku positif: memiliki perasaan untuk bekerja atau melaksanakan
tugas, mengembangkan kompetisi sosial dan sekolah, melakukan tugas
yang nyata.
Jean Piaget lebih menekankan kepada perkembangan kognitif atau
intelektual. Piaget menyatakan perkembangan kognitif berkembang dengan
proses yang teratur dengan 4 urutan/tahapan melalui proses ini:
1. Assimilasi, adalah proses pada saat manusia ketemu dan berekasi dengan
situasi baru dengan mengunakan mekanisme yang sudah ada. Pada tahap
ini manusia mendapatkan pengalaman dan keterampilan baru termasuk
cara pandang terhadap dirinya dan duania disekitarnya
2. Akomodasi, merupakan proses kematangan kognitive untuk memecahkan
masalah yang sebelumnya tidak dapat dipecahkan. Tahap ini dapat tercapai
karena ada pengetahuan baru yang menyatu.
3. Adaptasi, merupakan kemampuan untuk mengantisipasi kebutuhan
Dalam usia sekolah tuntutan yang dihadapi oleh anak semakin banyak.
Tekanan sekolah, lingkungan sebaya (peer group), serta tuntutan belajar yang
semakin tinggi membuat anak harus lebih mampu menghadapi tuntutan sosial
masyarakat. Bahkan tidak jarang orang tua menuntut anak untuk berprestasi
tinggi, dan adakalanya harapan orang tua melebihi kapasitas anak untuk dapat
mencapainya. Berbagai kondisi sosial yang penuh tuntutan baik dari sekolah,
teman sebaya maupun orang tua dapat menimbulkan berbagai permasalahan
bagi anak salah satunya dalam proses belajar anak sulit berkonsentrasi,
perstasi anak menurun bahkan motivasi anak untuk belajar menurun.
Berbagai keluhan tersebut merupakan sebagian kecil keluhan rutin yang kerap
disampaikan oleh para orang tua pada konselor. Tidak jarang bahkan orang
tua justru menekankan keluhan bahwa anak-anak mereka terlalu senang
bermain, sehingga kurang belajar. Padahal justru melalui bermain, mereka
bisa belajar lebih banyak lagi. Usia sekolah adalah usia 6 sampai 12 tahun.
Anak bermain pada dasarnya agar ia memperoleh kesenangan, sehingga
tidak akan merasa jenuh. Bermain tidak sekedar mengisi waktu tetapi
merupakan kebutuhan anak seperti halnya makan, perawatan dan cinta kasih.
Fungsi utama bermain adalah merangsang perkembangan sensoris-motorik,
perkembangan sosial, perkembangan kreativitas, perkembangan kesadaran
diri, perkembangan moral dan bermain sebagai terapi.

B. Prinsip Bermain
1. Definisi
Bermain merupakan aspek penting dalam kehidupan anak serta
merupakan satu cara yang efektif untuk menurunkan stres pada anak dan
penting untuk kesejahteraan mental dan emosional anak (Agustina &
Puspita, 2010). Bermain merupakan aktifitas di mana anak dapat
melakukan atau mempraktikkan ketrampilan, memberikan ekspresi
terhadap pemikiran, menjadi kreatif, mempersipkan diri untuk berperan
dan berperilaku dewasa (Hidayat, 2005).
2. Fungsi Bermain
Kegiatan bermain memiliki berbagai fungsi bagi anak. Fungsi
bermain menurut Wong (2012), meliputi :
a. Perkembangan sensorimotor
1) Memperbaiki keterampilan motorik kasar dan halus serta
koordinasi.
2) Meningkatkan perkembangan semua indera.
3) Mendorong eksplorasi pada sifat fisik dunia.
4) Memberikan pelampiasan kelebihan energi.
b. Perkembangan intelektual
1) Memberikan sumber-sumber yang beranekaragam untuk
pembelajaran.
2) Eksplorasi dan manipulasi bentuk, ukuran, tekstur, warna.
3) Pengalaman dengan angka, hubungan yang renggang, dan
konsep abstrak.
4) Kesempatan untuk mempraktikkan dan memperluas
keterampilan berbahasa.
5) Memberikan kesempatan untuk melatih pengalaman masa lalu
dalam upaya mengasimilasinya ke dalam persepsi dan hubungan
baru.
6) Membantu anak memahami dunia di mana mereka hidup dan
membedakan antara fantasi dan realita.
c. Perkembangan sosialisasi dan moral
1) Mengajarkan peran orang dewasa, termasuk perilaku peran seks.
2) Memberikan kesempatan untuk menguji hubungan.
3) Mengembangkan keterampilan sosial.
4) Mendorong interaksi dan perkembangan sikap yang positif
terhadap orang lain.
5) Menguatkan pola perilaku yang telah disetujui dan standar
moral.
d. Kreativitas
1) Memberikan saluran ekspresif untuk ide dan minat yang kreatif.
2) Memungkinkan fantasi dan imajinasi.
3) Meningkatkan perkembangan bakat dan minat khusus.
e. Kesadaran diri
1) Memudahkan perkembangan identitas diri.
2) Mendorong pengaturan perilaku sendiri.
3) Memungkinkan pengujian pada kemampuan sendiri (keahlian
sendiri).
4) Memberikan perbandingan antara kemampuan sendiri dan
kemampuan orang lain.
5) Memungkinkan kesempatan untuk belajar bagaimana perilaku
sendiri dapat mempengaruhi orang lain.
f. Nilai terapeutik
1) Memberikan pelepasan stres dan ketegangan.
2) Memungkinkan ekspresi emosi dan pelepasan impuls yang tidak
dapat diterima dalam bentuk yang secara sosial dapat diterima.
3) Mendorong percobaan dan pengujian situasi yang menakutkan
dengan cara yang aman.
4) Memudahkan komunikasi verbal tidak langsung dan non verbal
tentang kebutuhan, rasa takut, dan keinginan.
3. Bermain pada Anak di Rumah Sakit
Permainan pada anak yang rawat inap di rumah sakit tidak hanya
memberikan rasa senang pada anak tetapi juga membantu anak
mengekspresikan perasaan, pikiran cemas, takut, sedih, tegang, dan
nyeri. Permainan tersebut harus sesuai dengan prinsip bermain anak
selama di rumah sakit yaitu, tidak membutuhkan banyak energi,
waktunya singkat, mudah dilakukan, aman, sesuai kelompok umur,
melibatkan orang tua, dan tidak bertentangan dengan terapi (Agustina &
Puspita, 2010).
Pemberian stimulasi mainan pada anak yang dirawat sesuai dengan
kondisi dan tingkat perkembangannya. Jika pasien sudah dapat duduk
atau tidak terlihat lemah sekali, dapat diberikan pensil berwarna dan
kertas gambar untuk corat coret atau menggambar (Ngastiyah, 2005).
4. Faktor Yang Mempengaruhi Aktivitas Bermain
a. Tahap perkembangan, tiap tahap mempunyai potensi / keterbatasan
b. Status kesehatan anak sakit →perkembangan psikomotor kognitif
terganggu
c. Jenis kelamin
d. Lingkungan→lokasi, negara, kultur
e. Alat permainan → senang dapat menggunakan
f. Intelegensia dan status sosial ekonomi
5. Tahap Perkembangan Bermain
a. Tahap eksplorasi: Merupakan tahapan menggali dengan melihat cara
bermain
b. Tahap permainan: Setelah tahu cara bermain, anak mulai masuk
dalam tahap permainan.
c. Tahap bermain sungguhan: Anak sudah ikut dalam permainan
d. Tahap melamun: Merupakan tahap terakhir anak membayangkan
permainan berikutnya.

C. Karakteristik Permainan
Kemampuan social anak usia sekolah semakin meningkat. Mereka lebih
mampu bekerja sama dengan teman sepermainannya. Seringkali pergaulan
dengan teman menjadi tempat belajar mengenal norma baik atau buruk.
Dengan demikian, permainan pada anak usia sekolah tidak hanya bermanfaat
untuk meningkatkan ketrampilan fisik atau intelektualnya, tetapi juga dapat
mengembangkan sensitivitasnya untuk terlibat dalam kelompok dan bekerja
sama dengan sesamanya. Mereka belajar norma kelompok sehingga dapat
diterima dalam kelompoknya. Sisi lain manfaat bermain bagi anak usia
sekolah adalah mengembangkan kemampuannya untuk bersaing secara sehat.
Bagaimana anak dapat menerima kelebihan orang lain melalui permainan
yang ditunjukkannya. Mengingat prinsip bermain pada anak di rumah sakit,
maka terapi bermain yang akan dilaksanakan adalah mewarnai gambar.
1. Definisi
Mewarnai gambar merupakan terapi permainan yang kreatif untuk
mengurangi stres dan kecemasan serta meningkatkan komunikasi pada
anak (www.pediatric.com).
2. Manfaat
a. Memberikan kesempatan pada anak untuk bebas berekspresi dan
sangat terapeutik (sebagai permainan penyembuh/ ”therapeutic play”).
b. Dengan menggambar berarti anak dapat mengekspresikan
”feelingnya” atau memberikan pada anak suatu cara untuk
berkomunikasi, tanpa menggunakan kata.
c. Sebagai terapi kognitif, pada saat anak menghadapi kecemasan karena
proses hospitalisasi, karena pada keadaan cemas dan sterss,
kognitifnya tidak akurat dan negatif.
d. Mewarnai gambar dapat memberikan peluang untuk meningkatkan
ekspresi emosional anak, termasuk pelepasan yang aman dari rasa
marah dan benci.
e. Dapat digunakan sebagai terapi permainan kreatif yang merupakan
metode penyuluhan kesehatan untuk merubah perilaku anak selama
dirawat di rumah sakit. (www.pediatric.com).
BAB III
METODOLOGI BERMAIN

A. Deskripsi Permainan
Petunjuk bermain mewarnai gambar adalah sebagai berikut :
1. buku mewarnai gambar diberikan kepada pasien untuk diwarnai.
2. Pensil warna/crayon untuk mewarnai gambar diberikan kepada
masing-masing pasien.
3. Pasien mewarnai gambar sesuai keinginannya (pemilihan warna tidak
ditentukan).
4. Berikan motivasi keterlibatan pasien dan keluarga.
5. Beri pujian pada anak bila dapat melakukan.
6. Observasi emosi, hubungan interpersonal, psikomotor anak saat
bermain.
7. Minta anak menceritakan apa yang dilakukan/dibuatnya.
8. Tanyakan perasaan anak setelah bermain.
9. Tanyakan perasaan dan pendapat keluarga tentang permainan.

B. Tujuan
Tujuan mewarnai gambar sesuai pertumbuhan dan perkembangan anak
usia sekolah meliputi :
1. Meningkatkan hubungan perawat – klien.
2. Meningkatkan kreativitas pada anak.
3. Sosialisasi dengan teman sebaya / orang lain.
4. Melatih perkembangan motorik kasar pada anak.

C. Keterampilan yang diperlukan


Kemampuan motorik halus yang dibutuhkan dalam permainan ini yaitu
pengenalan bermacam-macam warna dan dibutuhkan koordiansi mata dan
tangan.
D. Jenis permainan
Mewarnai gambar

E. Alat bermain
1. Buku mewarnai berisi gambar-gambar hewan yang belum diwarnai.
2. Pensil warna/crayon

F. Proses bermain
Tempat Bermain : Ruang Perawatan anak lantai dasar.
Teknik permainan
No Waktu Kegiatan Bermain Kegiatan Peserta
1 5 menit Pembukaan : 1. Menjawab salam
- Leader membuka kegiatan dengan 2. Mendengarkan
mengucapkan salam. 3. Memperhatikan
- Leader memperkenalkan nama 4. Memperhatikan
terapis yang lain.
- Leader menjelaskan tujuan dari
permainan
- Kontrak waktu
2 25 Pelaksanaan :
menit - Leader dibantu fasilitator untuk 1. Berpindah posisi
mengatur posisi duduk setiap terapis 2. Menerima buku
dengan dua orang pasien anak mewarnai dan
- Fasilitator membagikan buku pensil
mewarnai dan pensil warna/crayon warna/crayon
kepada pasien. 3. Menjawab
- Fasilitator mengajak dan 4. Mewarnai gambar
memotivasi klien (anak) untuk
mengungkapkan gambar apa yang
ada pada kertas.
- Memulai mewarnai gambar
didampingi oleh fasilitator.
- Leader memberi semangat pada
anak selama proses mewarnai
- Fasilitator memotivasi anak untuk
dapat memilih warna yang
disukainya
- Apabila anak tidak mau aktif,
melibatkan orang tua atau
pendamping anak untuk membantu
anak mewarnai gambar yang telah
diberikan.
3 10 Evaluasi : Beri pertanyaan
menit - Menanyakan kepada anak tentang
pemilihan warna yang telah
dilakukan untuk mewarnai
gambarnya
- Menanyakan tentang perasaan anak
setelah diberi bermain mewarnai
4 5 menit Terminasi : 1. Memperhatikan
- Leader menutup acara permainan 2. Memberi salam
dengan memberikan reward kepada
seluruh peserta
- Salam penutup

1. Sebelum bermain berikan contoh dahulu kepada anak.


2. Buat anak duduk membentuk sebuah lingkaran.
3. Fasilitator memberikan buku mewarnai dan pensil warna/crayon
yang telah disediakan pada masing-masing anak, kemudian leader
membimbing anak untuk mewarnainya.
4. Selama jalannya permainan semua fasilitator wajib membimbing
masing-masing anak untuk mewarnai gambar
5. Setelah leader selesai membimbing anak mewarnai gambar, semua
fasilitator mengecek semua kertas gambar yang telah diwarnai
anak.
6. Berikan reward positif pada semua anak yang telah menyelesaikan
tugas untuk mewarnai gambarnya.

G. Waktu pelaksanaan
Kamis, 25 Oktober 2018

H. Hal-hal yang perlu diwaspadai


1. hindarkan penggunaan alat-alat tajam seperti gunting, pisau.
2. Jika anak kelelahan atau kondisi anak tidak memungkinkan, maka
hentikan permainan.

I. Hambatan Yang Mungkin Muncul


1. Usia antar pasien tidak dalam satu kelompok usia
2. Pasien tidak kooperatif atau tidak antusias terhadap permainan
3. Adanya jadwal kegiatan pemeriksaan terhadap pasien pada waktu yang
bersamaan.

J. Antisipasi Hambatan
1. Mencari pasien dengan kelompok usia yang sama.
2. Libatkan orang tua dalam proses terapi bermain.
3. Jika anak tidak kooperatif, ajak anak bermain secara perlahan-lahan.
4. Perawat lebih aktif dalam memfokuskan pasien terhadap permainan.
5. Kolaborasi jadwal kegiatan pemeriksaan pasien dengan tenaga
kesehatan.
K. Pengorganisasian
Jumlah leader 1 orang, fasilitator 3 orang dan 1 orang observer dengan
susunan sebagai berikut :
Leader : Yayuk Wijayanti
Observer : Aris Prasetyo
Fasilitator : Umi Sa’adah, Theresia Ika, Yenny Mayangsari
Pembagian tugas sebagai berikut:
a. Leader, tugasnya:
1. Membuka acara permainan
2. Mengatur jalannya permainan mulai dari pembukaan sampai
selesai.
3. Mengarahkan permainan.
4. Memandu proses permainan.
b. Fasilitator, tugasnya:
1. Membimbing anak bermain.
2. Memberi motivasi dan semangat kepada anak dalam mewarnai
3. Memperhatikan respon anak saat bermain.
4. Mengajak anak untuk bersosialisasi dengan perawat dan
keluarganya.
c. Observer, tugasnya:
1. Mengawasi jalannya permainan.
2. Mencatat proses kegiatan dari awal hingga akhir permainan.
3. Mencatat situasi penghambat dan pendukung proses bermain.
4. Menyusun laporan dan menilai hasil permainan

L. Evaluasi:
1. Evaluasi Struktur
a. Sarana disiapkan pagi hari sebelum acara dimulai
b. Media dipersiapkan 1 hari sebelum pelaksanaan kegiatan
c. Struktur peran telah ditentukan 1 hari sebelum pelaksanaan
d. Kontrak dengan keluarga pasien/anak yang akan diberi terapi
bermain dilakukan 1 hari sebelum dan pagi hari sebelum kegiatan
dilaksanakan.
2. Evaluasi Proses
a. Leader dibentu memandu terapi bermain dari awal hingga akhir
kegiatan
b. Respon anak baik selama proses bermain berlangsung
c. Anak tampak aktif selama proses bermain berlangsung
d. Anak mau dan dapat mewarnai gambar dengan baik didampingi
oleh fasilitator
e. Keluarga ikut membantu anak selama pelaksanaan proses bermain
f. Kegiatan berjalan dengan lancar dan tujuan mahasiwa tercapai
dengan baik
g. Masing-masing mahasiswa bekerja sesuai dengan tugasnya masing-
masing
3. Evaluasi Hasil
a. Kegiatan bermain dimulai tepat pada waktu yang telah ditentukan
b. Anak dapat melakukan pemilihan warna sesuai dengan yang
disukainya
c. Anak mengikuti proses bermain dari awal hingga akhir
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalkan pengaruh
hospitalisasi pada anak yaitu dengan melakukan kegiatan bermain. Bermain
merupakan suatu tindakan yang dilakukan secara sukarela untuk memperoleh
kesenangan dan kepuasan. Bermain merupakan aktivitas yang dapat
menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak dan merupakan cerminan
kemampuan fisik, intelektual, emosional dan sosial sehingga bermain
merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan bermain anak-anak
akan belajar berkomunikasi, menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru,
melakukan apa yang dapat dilakukannya, dan dapat mengenal waktu, jarak
serta suara.

B. Saran
1. Fasilitas ruang bermain di Ruang Anak lantai satu sudah cukup memadai,
hanya perlu ditingkatkan media dan alat bermain anak yang masih
terbatas.
2. Perlu lebih disosialisasikan pada pasien anak, bahwa ada tempat bermain
untuk mereka.
DAFTAR PUSTAKA

Agustina, E., & Puspita, A. (2010). Pengaruh Pemberian Terapi Bermain


Mewarnai Gambar terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Anak
Prasekolah yang Rawat Inap. Jurnal AKP, 35-43.

Aizah, S., & Wati, S. E. (2014). Upaya Menurunkan Tingkat Stress Hospitalisasi
dengan Aktifitas Mewarnai Gambar pada Anak usia 4-6 Tahun di Ruang
Anggrek RSUD Gambiran Kediri. Jurnal No. 25 Volume 01, 6-10.

Ambarwati, R. P & Nasution, N. (2012). Buku Pintar Asuhan Keperawatan Bayi


dan Balita. Yogyakarta : Cakrawala Ilmu.

Drake. (2015). Drawing Plays an Important Part in Children's Emotional Roles.


Pada www.pediatric.com. Diakses pada tanggal 30 Juli 2015.

Erlita. (2006). Pengaruh Permainan Pada Perkembangan Anak. Pada


http://info.balitacerdas.com. Diakses pada tanggal 30 Juli 2015.

Kliegman, Robert M. (2000). Ilmu Keshatan Anak Nelson. Volume 3. Jakarta :


EGC.

Samiasih, Alfiyanti, Hartanti. (2007). Pengaruh Terapi Bermain terhadap


Kecemasan Anak Prasekolah Selama Tindakan Keperawatan. Jurnal
Unimus, 1(1).

Supartini, Yupi. (2004). Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Edisi 1.
Jakarta : EGC.

Wong, Donna L. (2008). Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Edisi


6. Jakarta: EGC.

Wong, D. (2012). Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC.

Wowiling, Ismanto, Babakal. (2014). Pengaruh Terapi Bermain Mewarnai


Gambar terhadap Tingkat Kecemasan pada Anak Usia Prasekolah Akibat
Hospitalisasi di Ruangan Irina E BLU RSUP. Prof. DR. R. D Kandou
Manado. Journal Keperawatan, 1(1).