Anda di halaman 1dari 22

A.

Deskripsi Masalah
Subjek yang berhasil peneliti temukan merupakan seorang
perempuan yang mengalami suatu gangguan psikologis, subjek
dengan inisial EN ini sering kali terlihat seperti seseorang yang
terasingkan. Berdasarkan data yang ada, sekarang subjek sudah
berusia 40 tahun. Sering kali peneliti melihat subjek duduk
menyendiri dalam posisi duduk ditempat umum dan dengan
ekspresi wajah seperti melamun. Setelah dilakukan observasi
dan wawancara peneliti menyimpulkan bahwa subjek
merupakan seseorang yang sedang mengalami gangguan PTSD
(Post Traumatic Stress Disorder).
Dalam (Kaplan, 1998) PTSD (Post Traumatic Stress
Disorder) atau yang biasa dikenal Gangguan Stress Pasca
Trauma merupakan sindrom kecemasan, labilitas autonomik,
ketidakrentanan emosional, dan kilas balik dari pengalaman
yang amat pedih setelah stress fisik maupun emosi yang
melampaui batas ketahanan orang biasa. PTSD sangat penting
untuk diketahui, selain karena banyaknya kejadian “bencana”
yang telah menimpa kita, PTSD juga dapat menyerang siapapun
yang telah mengalami kejadian traumatik dengan tidak
memandang usia dan jenis kelamin.
Dalam kasus yang peneliti temukan bahwasanya subjek
EN merupakan korban dari pelecehan seksual. Dalam (Supardi
& Sadarjoen, 2006) dijelaskan bahwa Pelecehan seksual pada
dasarnya adalah setiap bentuk perilaku yang memiliki muatan

1
seksual yang dilakukan seseorang atau sejumlah orang namun
tidak disukai dan tidak diharapkan oleh orang yang menjadi
sasaran sehingga menimbulkan akibat negatif, seperti: rasa
malu, tersinggung, terhina, mudah marah/tidak dapat
mengendalikan marah, kehilangan harga diri, kehilangan
kesucian, dan sebagainya, pada diri orang yang menjadi korban.
Dalam suatu waktu EN pernah di perkosa oleh laki-laki
tidak dikenal di tempat yang sangat mengkhawatirkan yaitu di
selokan parit. Subjek berinisial EN ini diperkosa pada usianya
yang terbilang masih cukup muda yakni pada usia ke 24 Tahun.
Hal tersebut membuat korban berinisal EN ini sangat trauma
akan kejadian yang pernah ia alami itu. Akibat dari kejadian
tersebut korban EN harus menerima kenyataan pahit dimana ia
harus berjuang untuk menghidupkan anak yang akan lahir ke
dunia namun dengan keadaan tanpa seorang ayah. Dalam
artian, kejadian itu telah membuat EN hamil diluar nikah.
Tentunya kita tahu bahwa tidak mudah bagi seseorang yang
telah mengalami hal sebagaimana yang disebutkan diatas untuk
begitu saja menerima dengan lapang dada atas kejadian yang di
alami. Tidak mudah bagi EN untuk bangkit dari keterpurukan
yang ia alami, tentu harus ada saudara, teman atau pun kerabat
terdekat yang kiranya dapat membantu EN dalam proses
menuju keadaan yang lebih baik lagi. Akibat perkosaan yang ia
alami korban dengan inisial EN harus menerima kenyataan
yakni mengalami gangguan psikologis yang disebut dengan

2
PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) sebagaimana yang
telah peneliti jelaskan diatas.
Dalam beberapa literature terkait dijelaskan bahwa
Perkosaan merupakan perbuatan pelecehan seksual yang paling
ekstrim. Rentang pelecehan seksual sangat luas meliputi main
mata, siulan nakal, komentar yang berkonotasi seks, humor
porno, cubitan, colekan, tepukan atau sentuhan di bagian tubuh
tertentu, gerakan tertentu atau isyarat bersifat seksual, ajakan
berkencan dengan iming-iming atau ancaman, ajakan
melakukan hubungan seksual sampai perkosaan.
Dalam arti yang sebenarnya perkosaan adalah salah satu
kejahatan paling keji. Dalam sejumlah kasus, korban
kehilangan nyawanya. Dalam banyak kasus lain, meski hidup,
korban mungkin akan merasakan dampak kejahatan itu seumur
hidup. Masalah yang dihadapi korban akan menjadi semakin
rumit seandainya tertular HIV atau hamil. Bila mengandung
janin dari si pelaku perkosaaan, secara hukum tetap tidak
diizinkan menggugurkan kandungan. Namun, bila memutuskan
untuk tetap melahirkan, tidak mudah untuk menerima
kenyataan bahwa bayi yang dilahirkannya adalah buah
perkosaan.
Saat ini anak berjenis kelamin laki-laki yang telah
dilahirkan oleh subjek akibat dari perkosaan itu sudah
memasuki usia remaja. Anak tersebut sudah menempuh
pendidikan sampai dengan kelas 3 SMP. Peneliti sering kali

3
melihat EN dan anak nya berjalan berdua. Namun tidak jarang
juga peneliti sering melihat EN seperti memarahi anak nya itu
ditengah jalan. Namun si anak tersebut seperti tidak
menghiraukannya atau pun hanya berlaku diam saja. Kalaupun
anak menanggapi itupun hanya sebatas respons nya saja atas
perlakuan EN yang sering kali terlihat memarahi anak nya itu.
Bisa di artikan mengenai sikap anak tersebut mungkin saja
tidak ingin atau pun tidak berniat untuk melawan orang tuanya
sehingga respon yang diberikan tidak berbalik memarahi si
subjek. Memarahi disini digambarkan seperti berteriak-teriak
di hadapan anaknya. Entah apa yang dibicarakan oleh subjek
penelitipun kurang mengetahui, dikarenakan apa yang
diucapkan oleh EN Nampak seperti perkataan yang abstrak
ataupun tidak mampu dipahami oleh kebanyakan orang.
Sebagaimana yang peneliti uraikan diatas merupakan
salah satu ciri yang terdapat dalam diri seseorang yang
mengalami gangguan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder)
yaitu mudah marah/tidak dapat mengendalikan marah. Peneliti
berkeyakinan bahwa dampak dari perkosaan yang pernah
dialami subjek telah menjadikan subjek sangat trauma akan
kejadian yang pernah dialaminya itu sehingga si subjek tidak
mampu menahan ataupun mengendalikan amarahnya. Seorang
psikiater di Jakarta yang bernama Roan menyatakan trauma
berarti cidera, kerusakan jaringan, luka atau shock. Sementara
trauma psikis dalam psikologi diartikan sebagai kecemasan

4
hebat dan mendadak akibat peristiwa dilingkungan seseorang
yang melampaui batas kemampuannya untuk bertahan,
mengatasi atau menghindar (Roan, 2003).
Tiga tipe gajala yang sering terjadi pada PTSD adalah,
pertama, pengulangan pengalaman trauma, ditunjukkan dengan
selalu teringat akan peristiwa yang menyedihkan yang telah
dialami itu, flashback (merasa seolah-olah peristiwa yang
menyedihkan terulang kembali), nightmares (mimpi buruk
tentang kejadian-kejadian yang membuatnya sedih), reaksi
emosional dan fisik yang berlebihan karena dipicu oleh
kenangan akan peristiwa yang menyedihkan. Kedua,
penghindaran dan emosional yang dangkal, ditunjukkan dengan
menghindari aktivitas, tempat, berpikir, merasakan, atau
percakapan yang berhubungan dengan trauma. Selain itu juga
kehilangan minat terhadap semua hal, perasaan terasingkan dari
orang lain, dan emosi yang dangkal. Ketiga, sensitifitas yang
meningkat, ditunjukkan dengan susah tidur, mudah marah/tidak
dapat mengendalikan marah, susah berkonsentrasi,
kewaspadaan yang berlebih, respon yang berlebihan atas segala
sesuatu. (Anonim, 2005a; Anonim, 2005b).
Dari penjelasan diatas merupakan sedikit gambaran
mengenai gejala-gejala yang ditimbulkan apabila seseorang itu
di diagnosa memiliki ganngguan PTSD (Post Traumatic Stress
Disorder). Dalam dari pada itu, PTSD memiliki gejala yang
menyebabkan gangguan. Umumnya, gangguan tersebut adalah

5
panic attack (serangan panik), perilaku menghindar, depresi,
membunuh pikiran dan perasaan, merasa disisihkan dan sendiri,
merasa tidak percaya dan dikhianati, mudah marah, dan
gangguan yang berarti dalam kehidupan sehari-hari (Anonim,
2005b). Panic attack (serangan panik). Seseorang yang
mempunyai pengalaman trauma dapat mengalami serangan
panik ketika dihadapkan/menghadapi sesuatu yang
mengingatkan mereka pada trauma. Serangan panik meliputi
perasaan yang kuat atas ketakutan atau tidak nyaman yang
menyertai gejala fisik dan psikologis. Gejala fisik meliputi
jantung berdebar, berkeringat, gemetar, sesak nafas, sakit dada,
sakit perut, pusing, merasa kedinginan, badan panas, mati rasa.
Pada subjek yang berhasil peneliti temukan selain tidak
mampu mengendalikan amarahnya subjek juga sering kali
menunujukkan Perilaku menghindar. Dalam beberapa literature
terkait, salah satu gejala PTSD adalah menghindari hal-hal yang
dapat mengingatkan penderita pada kejadian traumatis.
Kadang-kadang penderita mengaitkan semua kejadian dalam
kehidupannya setiap hari dengan trauma, padahal kondisi
kehidupan sekarang jauh dari kondisi trauma yang pernah
dialami. Hal ini sering menjadi lebih parah sehingga penderita
menjadi takut untuk keluar rumah dan harus ditemani oleh
orang lain jika harus keluar rumah.
Seperti penjelasan diatas mengenai perilaku menghindar,
bahwasanya subjek yang berhasil peneliti temukan ini termasuk

6
seseorang dengan gangguan PTSD yang menunjukkan ciri
tersebut. Suatu ketika peneliti berusaha mendekati subjek yang
sedang berjalan menuju warung bersama dengan anaknya yang
berjenis kelamin laki-laki yang berada tidak jauh dari tempat
kediaman subjek, kemudian peneliti mencoba untuk mendekati
subjek berinisial EN itu dengan cara mendatangi langsung ke
sebuah warung yang baru saja peneliti amati sebelumnya. Saat
tiba di warung tersebut peneliti mencoba mencari trik khusus
agar dapat mengajak si subjek untuk berkomunikasi. Saat itu
peneliti mencoba untuk menggunakan trik dengan cara
menawarkan minuman yang baru saja dibeli. Kemudian peneliti
duduk tepat di sebelah kanan (lihat gambar 1 pada lampiran),
saat peneliti menyodorkan ataupun menawarkan minuman
kepada subjek, respon yang ditunjukkan oleh subjek seperti
menghindar dan sama sekali tidak menoleh ke arah peneliti
yang sedang menawarkan minuman kepada subjek. Dalam
artian subjek tidak menghiraukan ketika peneliti berusaha untuk
mengajak nya berkomunikasi. Sementara itu si anak laki-laki
yang berada di sebelah kanan subjek sedang asik bermain
handphone. Tidak lama kemudian peneliti mencoba kembali
dengan cara lain agar si subjek mau diajak untuk berkomunikasi
dengan peneliti. Kemudian Peneliti mencoba untuk bertanya
kembali kepada subjek. Namun respons yang ditunjukkan sama
seperti sebelumnya yaitu tidak menghiraukannya sama sekali.
Sedangkan si anak laki-laki yang sedang bermain handphone

7
tadi lah yang merespons dan menjawab pertanyaan yang
diajukan oleh peneliti. Disini peneliti mengambil kesimpulan
bahwa si subjek belum berani untuk berkomunikasi dengan
orang asing yang tidak ia kenal. Peneliti berkeyakinan bahwa
trauma psikis yang dialami subjek masih dirasakannya sampai
dengan saat ini, hal tersebut dibuktikan dengan kejadian
sebagaimana yang peneliti paparkan diatas. Subjek berusaha
menolak untuk berinteraksi bagi siapa saja yang belum ia kenal
terutama laki-laki. Karena sebagaimana pengalaman yang
pernah dirasakannya yaitu di perkosa oleh laki-laki yang tidak
dikenalnya. Disini peneliti berkeyakinan juga bahwa anak laki-
laki yang sering kali berjalan menemani si subjek merupakan
bentuk dari penjagaan yang dirasakan oleh subjek EN
dikarenakan orang yang mengalami gangguan PTSD akan takut
jika keluar rumah sendirian dan harus ditemani oleh orang lain
jika harus keluar rumah.
Berangkat dari masalah tersebut membuat peneliti tertarik
untuk lebih dalam lagi mengkaji mengenai permasalahan yang
di alami oleh subjek.

B. Identitas Klien
1. Nama/Inisial : EN
2. Jenis Kelamin : Perempuan
3. Agama : Islam
4. Usia : 40 Tahun

8
C. Lokasi Klien
Lokasi klien beralamatkan di Komplek PJKA Mayor
Salim Batu Bara Sekip Tengah Palembang, Sumatra Selatan
(Tepatnya di depan PD. Manis).

D. Identifikasi Masalah
Berdasarkan deskripsi masalah yang telah peneliti
jelaskan diatas maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai
berikut :
1. Subjek dengan inisial EN merupakan perempuan yang
mengalami gangguan PTSD (Post Traumatic Stress
Disorder) dengan ciri-ciri yang sedang dialaminya yaitu
mudah tersinggung, merasa terhina, mudah marah/tidak
dapat mengendalikan marah, kehilangan harga diri. Selain
itu juga kehilangan minat terhadap semua hal, perasaan
terasingkan dari orang lain, dan emosi yang dangkal.
2. Kejadian perkosaan yang pernah dialami subjek telah
menjadikannya sangat trauma akan peristiwa yang sampai
membuatnya mengalami gangguan PTSD sampai dengan
saat ini.
3. Akibat dari perkosaan itu subjek harus menerima kenyataan
bahwa bayi yang dilahirkannya adalah buah perkosaan.
4. Subjek sering kali bertingkah tidak wajar apabila sedang
berjalan berdua dengan anaknya yakni subjek sering kali
terlihat seperti orang yang sedang memarahi anaknya
sambil berteriak di depan anaknya.

9
E. Respon Pertanyaan Terhadap Masalah
1. Hasil Wawancara Pertama
Wawancara pertama dilakukan pada hari Selasa, 17
April 2018 pukul 13:45 WIB. Wawancara pertama yang
peneliti lakukan merupakan wawancara yang dilakukan
dengan menggunakan data sekunder dalam artian disini
peneliti mengambil sumber data dari orang terdekat subjek
yaitu dari tetangga subjek yang berada disebrang jalan dari
rumah subjek lebih tepatnya laki-laki pemilik warung yang
berada di sebrang jalan dekat rumah subjek, hal itu
dilakukan karena subjek EN yang tidak mampu diajak
untuk berkomunikasi dengan orang asing (orang yang tidak
dikenal).

No. Peneliti Pemilik Warung


1. Pak disini ado dak jual kit Ooo kalo merk Kit Shampo
2. motor shampoo untuk itu dak katek dek disini tapi
3. nyuci motor itu nah? kalo merk laen samo-samo
4. shampoo jugo baru ado.
5.
6. Nah iyo dak papo jugo Ado kagek aku cari dulu
7. pak. Cubo liat dulu. dek e. (Penjaga warung
8. sedang mencari-cari barang
9. yang akan peneliti beli)
10.

10
11. Ado dak pak? Disitu kalu Bukan dek, kemaren tuh
12. (peneliti menunjuk ke arah disini lah nah Cuma lupo-
13. tumpukan barang yang ada lupo ini narok nyo dimano.
14. di warung tersebut).
15.
16. Kalo dak katek dak papo Kamu masih lamo dak
17. pak kagek be kalo dak disini? Kalo masih lamo
18. ketemu. tunggu be kagek sebentar
19. lagi wong rumah balek beli
20. belanjoan warung.
21.
22. Oh yosudah dak papo pak. Oh yang ibuk tadi. Dio tu
23. Pak numpang nanyo pak e, pendengarannyo kurang
24. tadi pas aku duduk diteras kali dek. Memang
25. keramik ini ado ibuk-ibuk sepengetahuan bapak dio
26. baju biru samo anak tuh memang lah agak
27. cowok pakek baju merah. kurang wong nyo, tapi idak
28. Nah aku tuh duduk di sampe nganggu-nganggu
29. sebelah kiri ibuk bebaju kito idak. Nah yang ibuk itu
30. biru itu. Ibuk itu ditengah kan (bapak pemilik warung
31. teros dipinggir kanannyo sambil menunjukkan ke
32. anak cowok bebaju merah arah ibu berbaju biru tadi).
33. itu. Aku tuh nawari Kalo yang lanang
34. minuman ke ibuk bebaju sebelahnyo tadi iyolah anak
35. biru yang ado disebelah nyo itu. Disini lah nah

11
36. kanan aku sampe aku rumahnyo. Sebrang jalan ini
37. tepok-tepoki pelan bahu la. Itu nah (bapak pemilik
38. nyo, sudahnyo dio noleh warung sambil
39. ke aku tapi malah dk di menunjukkan ke arah
40. agok’I nyo aku pak, Cuma rumah ibu berbaju biru
41. sebatas noleh bae. Teros tadi).
42. aku cubo nanyo tentang
43. lokasi warnet dimano,
44. samo pak dak diagoki nyo
45. jugo. Malahan yang
46. ngagoki aku pas nanyo
47. warnet tadi tuh anak
48. cowok yang ado disamping
49. kiri nyo tadi. Kiro-kiro
50. ngapolah pak ibuk baju
51. biru tadi?
52.
53. Oh cak itu pak, yo sudah Iyo samo-samo dek. Nah
54. mokasih pak e. Mano belom balek wong rumah
55. belom ado yo pak kit tadi dek.
56. motor shampoo tadi?
57.
58. Oh yo sudah kagek bae lah Yoww… samo-samo.
59. kalo cak itu pak. Mokasih
60. pak e.

12
Dari wawancara pertama yang peneliti lakukan
dengan mewawancarai tetangga subjek yakni pemilik
warung yang berada di sebrang jalan dekat rumah subjek
didapatkan hasil sebagaimana yang telah peneliti paparkan
dalam verbatim/dialog diatas. Dari hasil wawancara tersebut
peneliti merasa data yang ada belum cukup lengkap untuk
mengungkap gangguan apa yang dialami oleh subjek
berinisial EN itu. Oleh sebab itu peneliti harus melakukan
wawancara kembali untuk mendapatkan data yang lebih
lengkap lagi.

2. Hasil Wawancara Kedua


Wawancara kedua dilakukan pada hari Kamis, 19
April 2018 pukul 08.30 WIB. Wawancara kedua yang
peneliti lakukan merupakan wawancara yang dilakukan
dengan menggunakan data sekunder dalam artian disini
peneliti mengambil sumber data dari orang terdekat subjek
yaitu dari keluarga subjek lebih tepatnya dengan kakak
perempuannya, itu dikarenakan subjek EN yang tidak
mampu diajak untuk berkomunikasi dengan orang asing
(orang yang tidak dikenal).

13
No. Peneliti Keluarga Subjek
1. Assalamualaikum buk Waalaikumussalam iyo dek
2.
3. Namo nyo siapo buk kalo Oh namo ibuk MA (inisial)
4. boleh tau?
5.
6. Kenalke buk namo aku Iyo lajula dek dak papo.
7. Nofri. Oh iyo buk nak
8. izin dulu, kiro-kiro boleh
9. dak aku nak nanyo-nanyo
10. sebentar disini?
11.
12. Jadi cak ini buk, aku Oh itu adek aku. Teros anak
13. pernah liat cewek laki-laki nyo tadi iyolah
14. rambutnyo pendek trus anaknyo. Memang sering
15. aku sering nian liat dio jalan keluar beduo mereka
16. galak jalan samo anak tuh dek.
17. cowok. Nah pas aku liat
18. tuh baleknyo ke rumah
19. ini. Nah itu siapo yo buk?
20.
21. Oh cak itu buk. Terus Iyo memang tinggal samo
22. mereka tuh memang aku mereka tu.
23. tinggal disini yo?
24.

14
25. Sekarang dimano buk Kalo jam cak ini anak nyo
26. mereka beduo? masih sekolah dek. Kalo
27. ibuknyo ado didalem lagi
28. dewekan.
29.
30. Emm… ngapo dak di Oh jangan dek. Dio dak biso
31. suruh kesini be buk adek kalo ngomong samo wong
32. nyo? yang belom dikenalnyo apo
33. lagi lanang. Bialah dio
34. mantep didalem bae.
35.
36. Oh cak itu buk. Namonyo EN (inisial) dek.
37. Sebelumnyo maaf buk, Sekarang usia nya kiro-kiro
38. Adek ibuk tadi yang sudah 40 tahun.
39. didalem itu namonyo Memang nyo ado apo yo
40. siapo? Terus sekarang dek?
41. usia nyo sudah usia ke
42. berapo yo buk?
43.
44. Oh dak apo-apo buk. Oh kuliah dimano dek?
45. Cuma ado keperluan
46. untuk tugas kuliah.
47.
48. Aku kuliah di UIN buk. Oh UIN. Jurusan apo kamu?
49.

15
50. Aku ngambek jurusan Oh iyolah. Terus cak mano
51. Psikologi Islam buk. yang tadi?
52.
53. Jadi kemaren tuh aku beli Emm… cak ibuk omongke
54. minuman di warung di tadi dek, dio tuh dak biso
55. sebrang jalan rumah ibuk, kalo ngomong samo wong
56. terus aku duduk diteras yang belom dikenalnyo apo
57. keramik warung itu teros lagi lanang. Mungkin dio
58. tepat disebelah kanan aku takot atau cak mano.
59. ado adek ibuk tadi (EN). Soalnyo adek ibuk tuh
60. Teros di sebelah EN ado mungkin trauma dgn lanang
61. anak nyo. Aku tawarilah apo lagi yang idak
62. minuman samo ibuk yang dikenalnyo. Yoo jadi cak
63. ado disebelah kanan aku itulah respon dio kalo ado
64. (EN). Tapi dio sama wong yang belom
65. sekali dak ngeresponnyo dikenalnyo.
66. buk, malahan ibuk itu cak
67. buang rai teros badannyo
68. ngadep kearah samping
69. kanan kesannyo kayak
70. ketakutan kalo ado wong
71. laen disampingnyo. Duo
72. kali buk aku tuh
73. nawarinnyo teros sesekali
74. aku nanyo tentang lokasi

16
75. warnet ado dimano.
76. Respon nyo samo cak tadi
77. iyolah dak menghiraukan
78. aku samo sekali. Malahan
79. anak nyo yang nanggapi
80. pertanyaan aku tadi. Nah
81. itu ado apolah buk dgn
82. adek ibuk?
83.
84. Kiro-kiro tau dak buk Sebelumnyo untuk
85. trauma nyo tuh lantak apo kepentingan apo ini dek?
86. sampe adek ibuk Soal nyo ibuk dak biso
87. kondisinyo sekarang cak basing-baseng ngomong
88. itu? samo masalah cak ini.
89.
90. Jadi cak ini buk, ibuk Tugas kuliah yo. Iyo dek
91. tenang bae apo yang ibuk jangan sampe tesebar
92. ceritoi samo aku idak kemano-mano soalnya ibuk
93. bakal aku sebar kemano- dak lemak samo adek ibuk
94. mano buk. Ini Cuma terutama samo anak nyo
95. untuk kepentingan tugas yang lagi sekolah ini jangan
96. kuliah bae. sampe nian dio tau masalah
97. ini.
98.
99.

17
100. Iyo buk tenang bae Jadi sekitar adek aku umur
101. insyaAllah aku jago data- 24 tahun kurang lebih, dio
102. data yang ibuk ceritoi tuh ngalami kejadian
103. kagek. pelecehan seksual. Adek aku
104. tuh pernah diperkosa samo
105. lanang yang idak
106. dikenalnyo. Diperkosanyo
107. di selokan parit. Ibuk be
108. miris sedih nian dengernyo
109. waktu tuh. Cuman nak cak
110. mano lagi. Lanang yang
111. memperkosa itu sudah dak
112. tau lagi kemano. Lantak
113. kejadian itu hamil adek aku
114. itu, iyolah anak nyo cowok
115. yang pernah kamu liat itu.
116. Lantak kejadian itu jugo
117. adek aku tuh jadi cak itulah
118. kondisinyo sekarang. Galak
119. ngomong-ngomong dak
120. jelas. Tapi idak sampe
121. nganggu-nganggu idak. Tapi
122. sebenernyo fisik dio tu
123. sehat, Cuma itu lah agak cak
124. mano tingkahnyo tu kadang-

18
125. kadang. Kalo bejalan sering
126. dikawani oleh anaknyo tadi.
127. Kalo lagi dewekan kadang
128. duduk dimano tecogok
129. melamun.
130.
131. Oh jadi cak itu Belom pernah kalo
132. kejadiannyo buk e. kalo diperikso masalah
133. boleh tau adek ibuk tu lah kejiwaannyo dek. Yo Cuma
134. pernah di perikso belom cak itulah keadaannyo
135. ke wong yang tau sekarang. Tapi dio tuh
136. masalah cak itu? sebenernyo idak sampe
137. nganggu-nganggu idak. Dio
138. tu mungkin sering ngeraso
139. terasingkan atau cak mano
140. ibuk jugo dak paham. Tapi
141. idak sampe dianggap wong
142. gilo idak.
143.
144. Iyolah buk kalo cak itu. Iyo samo-samo dek. Tolong
145. mokasih banyak buk yo la yo dek dijago rahasianyo.
146. bersedia nyempetin
147. waktunyo untuk ngobrol-
148. ngobrol.
149.

19
150. Iyo buk tenang bae Iyo dek. Waalaikumussalam
151. insyaAllah Cuma sebatas
152. tugas kuliah bae sih buk.
153. Mokasih buk yo aku
154. pamit dulu.
155. Wassalamualaikum

Dari wawancara kedua yang peneliti lakukan dengan


mewawancarai kakak perempuannya didapatkan hasil
sebagaimana yang telah peneliti paparkan dalam verbatim/dialog
diatas. Dari hasil wawancara tersebut peneliti merasa data yang
ada sudah cukup lengkap untuk mengungkap gangguan apa yang
dialami oleh subjek berinisial EN itu. Oleh sebab itu peneliti
m.enghentikan proses wawancara tersebut.

20
F. Referensi
Anonim, “Disaster Rescue and Response Worker,”
http://www.ncptsd.va.gov/facts/disasters/fs_rescue_work
rs. html, diakses 19 April 2018a.
Anonim, “Expert Consensus Treatment Guidelines for Post
Traumatic Stress Disorder: A Guide for Patients and
Families” http://www. psychguides. com, diakses 19
April 2018b.
Kaplan, Harold & Benjamin J. Sadock. (1998). Ilmu
Kedokteran Jiwa Darurat. Jakarta: Widya Medika
Supardi, S.& Sadarjoen, “Dampak Psikologis Pelecehan
Seksual pada Anak Perempuan”, http://www.
kompas.com/kesehatan/news/0409/12/201621.htm,

21
Lampiran

(Gambar 1)

(Gambar 2)

22