Anda di halaman 1dari 8

HEURISTIK KETERSEDIAAN

Tversky dan Kahneman (1974) mengusulkan bahwa para pengambil keputusan


menggunakan heuristik atau petunjuk praktis, untuk sampai pada penilaian (pertimbangan
terakhir mereka). Heuristik adalah prinsip yang membuat individu membuat penilaian social
secara cepat dengan mungkin sedikit usaha. Tujuan dari pembelajaran heuristik untuk
membantu membebaskan pola pengambilan keputusan dan betapa mudahnya heuristik
menjadi bias ketika diterapkan dengan tidak tepat dan tidak pada tempatnya.

A. Bias Heuristik Ketersediaan


Heuristik ketersediaan adalah strategi membuat penilaian berdasarkan seberapa mudah
informasi tertentu dimasukkan ke pikiran. Informasi yang lebih menonjol dan lebih
penting akan lebih digunakan dalam melakukan penilaian dan pertimbangan.
Tversky dan Kahneman (1974) heuristik ketersediaan adalah petunjuk praktis dimana
para pengambil keputusan menilai frekuensi kelas atau probabilitas dari suatu peristiwa
dimudahkan dengan contoh atau kejadian yang dapat dibawa ke pikiran.
Beberapa heuristik bias yang masuk dalam katagori heuristik ketersediaan:
1. Bias 1 – Kemudahan untuk diingat (berdasarkan keseringan dan keterbaruan)
Suatu kejadian yang menimbulkan emosi dan jelas, mudah dibayangkan dan spesifik
akan lebih lekat di memori dibandingkan dengan suatu kejadian yang tidak
mengandung emosional secara alami, kurang menantang, sulit dibayangkan, atau
ragu-ragu. Heuristik ketersediaan dapat sangat bermanfaat dalam mengambil strategi
dalam proses pengambilan keputusan, sejak kejadian tersebut sering terjadi dan
memudahkan direkam oleh pikiran dibandingkan kejadian yang jarang terjadi.
Tversky dan Kahneman (1974) berpendapat ketika seorang individu menilai
keseringan dari suatu kejadian akibat ketersediaan secara instan, suatu kejadian instan
yang lebih mudah untuk diingat akan timbul lebih sering dibandingkan kejadian
dengan frekuensi yang sama dimana keinstanannya kurang mudah diingat.
2. Bias 2 – Retivabilitas (berdasarkan atas struktur ingatan)
Tversky dan Kahneman (1983) menemukan bahwa kebanyakan orang memberikan
respon terhadap angka yang lebih besar. Sebuah alasan penting untuk pola ini adalah
seorang konsumen belajar tentang lokasi untuk jenis tertentu produk atau toko dan
mengatur pikiran mereka seperti itu.
3. Bias 3 – Hubungan Dugaan
Dua kejadian yang terjadi secara bersamaan dinilai dengan ketersediaan dari
penerimaan secara instan kejadian dalam pikiran kita. Pengalaman sepanjang hidup
telah menyebabkan kita percaya bahwa secara umum kejadian yang lebih sering
terjadi lebih mudah untuk diingat dibandingkan dengan kejadian yang tidak sering
terjadi dan tampaknya kejadian yang lebih baik lebih mudah diingat dari kejadian
yang buruk.
4. Bias 4 – Hindsight Bias
Kejadian yang biasa terjadi lebih mudah dibayangkan oleh orang-orang. Ketika
berdasarkan hal yang biasa, orang memberikan harapan ke masa depan yang akan
memberikan manfaat lebih. Ketika kejadian di masa depannya merupakan kejadian
tidak biasa, akhirnya muncul ketidaktercapaian manfaat dan ekspresi keperilakuannya
dramatis.
Apa yang mungkin telah terjadi adalah peristiwa yang diminta subjek untuk
dibayangkan, yang termasuk terbakarnya teman dekat dan anggota keluarga. Maksud
dari pernyataan tersebut adalah jika prospek dari sebuah peristiwa adalah begitu buruk
sehingga mengarah pada penolakan, maka membayangkan kejadiannya mungkin
membuatnya kurang disukai.
Fenomena dekat dari ketersediaan adalah keterbukaan. Keterbukaan biasanya merujuk
kepada seberapa kongkrit atau terpikirkannya sesuatu itu walaupun biasanya hal itu
biasa memiliki arti lain. Terkadang keterbukaan merujuk kepada seberapa emosional
menarik atau menyenangkan sesuatu itu, atau seberapa dekat sesuatu itu dalam ruang
atau waktu.

B. Heuristik Ketersediaan dalam Akuntansi


Heuristik ketersediaan menyediakan estimasi, frekuensi, dan probabilitas yang cukup
akurat, meskipun dalam beberapa situasi, heuristik ketersedian dapat menyebabkan bias
dalam pengambilan keputusan. Dalam akuntansi keuangan, prediksi merupakan suatu
aspek penting dalam pengambilan keputusan investasi. Transaksi yang sesuai atau cocok
merupakan transaksi perdagangan yang berhasil ditemukan oleh mekanisme pasar
berdasarkan harga pasar yang terbentuk.
Penelitian Moser (1989) menyatakan bahwa judgment investor tentang prediksi laba
secara otomatis dipengaruhi oleh kombinasi antara output intervensi dan ketersediaan.
Penggunaan heuristik ketersediaan ini bisa jadi menimbulkan efek bias. Bias yang sering
terjadi dalam pasar keuangan adalah ekspektasi nilai perusahaan. Kesalahan ekspektasi
biasanya tergambar dalam mispricing saham yang diinterpretasikan sebagai fenomena
overreaction atau underreaction terhadap informasi akuntansi. Pengambilan keputusan
investor tidak hanya menggunakan rasionalitas, tetapi juga rasionalitas yang terbatas atau
dibatasi.

HEURISTIK KETERWAKILAN

A. Bias Heuristik Keterwakilan

Heuristik menghasilkan perkiraan yang cukup baik, namun kerugian dalam


menggunakan heuristik adalah terdapat kejadian tertentu yang mengarah pada bias sistemik (
penyimpangan dari jawaban turunan normatif). Keterwakilan adalah cara mesin mental
bekerja dalam menaruh ciri, properti, sifat, atau sebuah bayangan dari sebuah himpunan ke
anggota himpunan, hingga ketika kita bertemu satu anggota himpunan, kita dibimbing oleh
heuristik ini untuk melekatkan sifat ke satu anggota himpunan itu. Penggunaan heuristik
memang efektif dalam keseharian, namun akan menjadi bias bila tidak proporsional. Anda
menyimpulkan seseorang ke dalam suatu golongan karena dianggap memiliki ciri golongan
itu.

Menurut Tversky dan Kahneman (1974), orang seringkali menilai kemungkinan dengan
derajat dimana A adalah perwakilan dari B, yaitu dengan derajat dimana A mewakili B.
Tversky dan Kahneman menyebut ini aturan pokok heuristik keterwakilan. Pemimpin menilai
kekeliruan suatu kejadian melalui persamaan kejadian tersebut dengan stereotipenya pada
kejadian yang memiliki kesamaan. Pemimpin memprediksi penampilan didasarkan pada
kategori seseorang yang ditentukan orang lokal dimasa lampau. Mereka memprediksi
keberhasilan suatu produk baru didasarkan pada kesamaan keberhasilan atau kegagalan
produk bersangkutan dimasa lampau. Suatu persoalan yang jelas bila didukung oleh
keberadaan informasi dari ketepatan pertimbangan atas informasi bersangkutan. Dengan
demikian, heuristik ini mengacu pada keputusan berdasarkan stereotipe yaitu suatu keputusan
yang didasarkan pada derajat kesamaan karakter atau bentuk.

Beberapa bias heuristik yang masuk dalam kelompok keterwakilan adalah sebagai berikut :

1. Bias 4-Tidak sensitif terhadap base-rate


Bias pertimbangan jenis ini seringkali terjadi ketika seseorang secara kognitif
menanyakan pertanyaan yang salah. Mengabaikan base-rate memiliki banyak
implikasi yang kurang baik. Seorang pengusaha meluangkan waktu cukup banyak
membayangkan kesuksesan mereka dan terlalu sedikit waktu mempertimbangkan
base-rate untuk kegagalan bisnis. Sang pengusaha berpikir bahwa base-rate untuk
kegagalan tidak relevan terhadap situasi mreka dan banyak individu kehilangan
kesempatan sebagai suatu akibatnya.
2. Bias 5-Tidak sensitif terhadap ukuran sampel
Walaupun ukuran sampel adalah sangat fundamental dalam ilmu statistik, Tversky
dan Kahneman (1974) berpendapat bahwa ukuran sampel jarang menjadi bagian dari
intuisi kita. Ilmu statistik mengatakan bahwa semakin besar sampel, semakin bagus
probabilitas mewakili setiap kejadian.
3. Bias 6-Kesalahan konsepsi dari peluang
Sebagian besar orang seringkali mengandalkan intuisi mereka dan salah
menyimpulkan. Peluang secara umum dipandang sebagai proses pembenaran diri
dimana penyimpanan dalam satu arah menginduksi penyimpangan dalam arah
berlawanan untuk mengembalikan keseimbangan. Dalam kenyataanya penyimpangan
tidak dibenarkan sebagai suatu kesempatan proses pembukuan, mereka benar benar
terlarut.
4. Bias 7-Regresi pada mean
Banyak pengaruh pada regresi menuju mean. Mahasiswa yang pintar seringkali
memiliki teman yang sukses. Orangtua yang pendek cenderung memiliki anak yang
lebih tinggi. Perusahaan yang memiliki keuntungan yang besar selama satu tahun
cenderung memiliiki penampilan yang rendah tahun berikutnya. Dalam setiap kasus
seseorang seringkali terkejut ketika tersadar dari pola yang bisa diprediksi ini dari
regresi menuju mean.
5. Bias 8-Kesalahan konjugasi
Lewat teori probabilitas seharusnya kita tahu bahwa peluang untuk mendapatkan
suatu kejadian B lebih besar atau sama dengan peluang untuk mendapatkan A dan B
sekaligus, jika A dan B saling bebas. Peluang untuk mendapati mahasiswa yang pintar
di satu kelas pasti lebih besar dengan peluang untuk mendapati mahasiswa yang pintar
sekaligus cantik dan menarik, dan mungkin peluangnya sama jika mahasiswa yang
pintar ternyata cantik semua. Ini yang disebut kesalahan konjugasi.

Plous (1993) mengusulkan beberapa cara berikut untuk mengatasi bias karena heuristik
keterwakilan :

1. Jangan disesatkan oleh skenario yang sangat terperinci. Secara umum semakin
spesifik suatu skenario adalah semakin rendah kemungkinan untuk terjadi, bahkan
ketika skenario tampak sempurna mewakili outcome yang paling mungkin terjadi.
2. Bilamana mungkin perhatikan base-rate. Base-rate sangat penting apabila sebuah
peristiwa sangat langka atau sangat umum. Sebagai contoh karena base-rate sangat
rendah banyak pelamar yang berbakat mengakui tidak pernah bisa lulus sekolah (dan
itu akan menjadi suatu kesalahan penafsiran sebagai indikasi bahwa pemohon tidak
memiliki kemampuan akademik). Sebaliknya karena base rate begitu tinggi banyak
sopir yang tidak terampil diberikan surat ijin mengemudi.
B. Hauristik Keterwakilan dalam Akuntansi

Menurut Hamid (2007), dalam pasar surat berharga, misalnya saham, Investor sering
salah sangka bahwa kinerja operasi sebelumnya adalah representasi untuk kinerja dimasa
yang akan datang dan sering mengabaikan informasi yang tidak cocok dengan hal ini
sehingga membuat investor bereaksi berlebihan terhadap kinerja persistent berlanjut dalam
jangka panjang. Hal ini berarti bahwa investor akan terpengaruh oleh tingkat laba, pola
pergerakan laba, dan tanda laba. Pergerakan laba yang mempunyai pola persistent akan
dianggap sebagai representasi laba dimasa yang akan datang oleh investor.

Heuristik Penjangkaran dan Penyesuaian

Penjangkaran adalah kecenderungan untuk mengawali sebuah nilai tertentu untuk bisa
melakukan penilaian. Terdapat standar-standar perilaku yang dapat digunakan untuk
mempermudah dalam melakukan penilaian terhadap orang lain.

Beberapa heuristik bias dari jenis ini, antara lain:

1. Bias 9 – Penyesuaian Acuan yang Tidak Layak

Nisbatt dan Rose (1980) dan Plous (1993) menunjukkan suatu argument yang
memperkirakan bahwa bias pengacuan dan penyesuaian itu sendiri menyatakan bahwa
sangat sulit sekali untuk mengubah strategi pengambilan keputusan. Heuristic yang
diidentifikasikan oleh mereka saat ini bertindak sebagai acuan kognitif dan merupakan
pusat dari proses pertimbangan yang di buat. Oleh karena itu setiap strategi kognitif yang
disarankan harus disajikan dan dipahami sesuai dengan kognitif yang diperlukan.

2. Bias 10 – Konjungtif dan Disjungtif Kejadian Bias

Perkiraan berlebih dari kejadian konjungtif merupakan suatu penjelasan kuat dari
masalah ini dalam proyek yang memerlukan perencanaan bertahap. Perorangan, pebisnis,
dan pemerintah sering kali menjadi korban kejadian konjungtif melalui waktu dan dana.

3. Bias 11 – Over Confidence

Over Confidence adalah percaya diri atau keyakinan yang berlebihan. Temuan yang
paling baik ditetapkan dalam Over Confidence adalah kecenderungan orang menjadi
terlalu yakin untuk membenarkan jawaban mereka kita diminta untuk menjawab sebuah
kesulitan menengah sampai sangat sulit. Oleh karena itu kita dihadapkan pada keadaan
waspada untuk menjadi terlalu yakin diluar bidang kita. Tversky dan Kahneman (1974)
menjelaskan keyakinan berlebihan dalam hubungannya dengan pengacuan. Mereka
berpendapat bahwa ketika seseorang diminta untuk menyusun rentang keyakinan suatu
jawaban, perkiraan awal mereka bertindak sebagai acuan yang menyebabkan bias
perkiraan mereka dari interval keyakinan dari kedua arah.
Kebutuhan akan acuan awal sangat penting dalam pengambilan keputusan, misalnya
ketika kita dihadapkan untuk memperkirakan suatu kecenderungan atau menetapkan nilai.
Bukti penelitian empiris di pasar saham menunjukkan bahwa perilaku over confidance secara
tidak disadari meningkatkan kesalahan prediksi sehingga menciptakan transaksi perdagangan
yang merugikan Karena akhirnya investor menemukan bahwa mereka membeli saham terlalu
mahal atau menjual terlalu murah (Bloomfield, 1999).

B. Penerapan Pada Penelitian Akuntansi

Model penyesuaian keyakinan (Hogarth dan Einhorn, 1992), dengan menggunakan


pendekatan ancouring dan adjustment menggambarkan penyesuaian keyakinan individu
karena adanya bukti baru ketika melakukan evaluasi bukti secara berurutan. Pendekatan
ancouring dan adjustment dapat dicontohkan bila seseorang melakukan penilaian dengan
memulai dari suatu nilai awal dan menyesuaikannya untuk menghasilkan keputusan akhir.
Nilai awal ini diperoleh dari kejadian atau pengalaman sebelumnya.

Model penyesuaian keyakinan memprediksi bahwa cara orang memperbaiki


keyakinannya yang sekarang (ancor) dipengaruhi oleh beberapa faktor bukti, antara lain:
kompleksitas bukti yang dievaluasi, konsistensi bukti, dan kedekatan evaluator dengan bukti
tersebut. Model ini menempatkan karakteristik tugas sebagai moderator dalam hubungan
antara urutan bukti dengan pertimbangan yang akan dibuat.

Sifat-sifat bukti yang dipertimbangkan dalam model adalah:

1. Arah (sesuai atau tidak dengan keyakinan awal)

2. Kekuatan bukti (lemah atau kuat)

3. Jenis bukti (negative positif atau campuran)

C. Beberapa bias lainnya

1. Counterfactual reasoning

Counterfactual reasoning merupakan kecenderungan untuk mengevaluasi suatu


kejadian dengan mempertimbangkan alternatif kejadiannya. Penilaian terhadap orang
tidak hanya dipengaruhi oleh kejadian yang dialami orang itu, tetapi juga apa yang
mungkin dialami orang akibat dari kejadian itu.

2. Efek kesalahan consensus

Kecenderungan untuk secara berlebihan dan mengira bahwa orang lain bertindak
atau berpikir seperti yang kita lakukan. Efek kesalahan consensus biasanya digunakan
untuk membenarkan diri sendiri atau justifikasi. Secara garis besar ada dua sebab
mengapa hal itu dilakukan. Pertama, banyak orang ingin percaya bahwa orang lain
sepakat dengan mereka karena itu meningkatkan kepercayaan diri. Kedua, hal-hal yang
mengandung persetujuan dan persamaan akan lebih mudah diingat.
3. Manajemen kesan

Dalam kehidupan sehari-hari kita terkadang dibiaskan oleh manajemen kesan.


Pembentukan kesan terhadap orang lain biasanya dipengaruhi oleh motivasi, tujuan, dan
kebutuhan. Dalam manajemen kesan meskipun berusaha akurat terkadang terdapat efek
bias dalam pembentukannnya terhadap orang lain. Missalnya yang pertama, bias karena
adanya keinginan orang membuat terkesan orang lain. Kedua, bias karena kecenderungan
orang untuk menilai positif orang lain.

4. Self- fulfilling prophecy

Bias ini adalah kecenderungan orang untuk memperoleh informasi, memaknai, dan
menyusun informasi yang konsisten dengan keinginannya saat itu. Salah satu jenisnya
adalah efek pemenuhan harapan diri, yakni kecenderungan orang untuk berperilaku
tertentu yang konsisten dengan harapan, keyakinan atau pikirannya mengenai suatu
kejadian atau perilaku. Penelitian yang dilakukan oleh Tucker dkk. (2003) menguji
keterkaitan self fulfilling prophecy dan akurasi peramalan pada kelangsungan hidup
perusahaan. Statement on auditing standard (SAS no 59) mensyaratkan auditor untuk
menilai kelangsungan hidup perusahaan satu tahun yang akan dating. Dalam penelitian
ini digunakan pengujian ekonomik eksperimen dan game theory. Ketika auditor
menginvestigasi kelangsungan bisnis klien dan bermaksud untuk menekankan opini
going concern, klien akan berusaha untuk menghindari opini tersebut dan ini akan
menjadi potensi munculnya self fuillfilling prophecy dengan melakukan perpindahan
auditor.

5. Bias konfirmasi

Efek ini menyangkut masalah pengkodean atau tanda tertentu yaitu, ketika hasil
persepsi tidak diterjemahkan sebagaimana mestinya. Maksudnya ketika kita mempunyai
data baru yang bertentangan dengan keyakinan kita, maka data ini justru kita anggap
masih sesuai dengan kayakinan kita. Dalam dunia pengauditan penelitian yang
dilakukan Kida (1984) menguji apakah strategi pengujian hipotesis yang dilakukan oleh
auditor memengaruhi pencarian data. Kida mencatat bahwa tugas-tugas audit
membutuhkan suatu kecermatan, yahng bisa jadi terkena bukti konfirmasi maupun butki
yang tidak terkonfirmasikan. Kida menyarankan jika strategi konfirmatori dilakukan oleh
auditor maka auditor harus hati-hati dalam membentuk framing awal dalam dirinya,
maksudnya bahwa disini auditor harus melakukan perencanaan audit yang tepat supaya
bebas dari bias konfirmasi.
AKUNTANSI KEPRILAKUAN

“Biases and Judgment Under Uncertainty”.

KELOMPOPK III :

1. I GEDE SUDIARTHA (1781621009)


2. I KOMANG TIRTA ARIMBAWA (1781621010)
3. IDA BAGUS PUTRA YOGI SMARA (1781621011)
4. PUTU KRISHNA ARYASTHA M. (1781621022)

PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2018