Anda di halaman 1dari 18

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Serangga adalah makhluk berdarah dingin, atau menyesuaikan dengan suhu lingkungan.
Apabila suhu lingkungan menurun, maka suhu tubuh mereka pun menurun dan proses
fisiologis tubuhnya menjadi lamban. Beberapa serangga dapat hidup dan bertahan pada suhu
yang sangat ekstrim (baik suhu rendah maupun tinggi), hal ini dikarenakan serangga
memiliki etilenaglikol di dalam jaringan tubuhnya.
Perkembangan dan siklus hidup serangga di alam mengalami tingkat-tingkat dari yang
sederhana sampai kompleks. Siklus hidup serangga dimulai dari telur, berikutnya telur
menetas menjadi nimfa, dan nimfa inilah yang kemudian akan berkembang menjadi imago
atau dewasa.
Serangga sangat menarik untuk diamati dan dipelajari, karena dalam dunia ilmu
pengetahuan, dari sekian banyak jenis hewan yang ada dipermukaan bumi, ternyata sekitar ¾
bagiannya adalah serangga, sehingga tidak jarang banyak yang digunakan atau ditangkap
sebagai koleksi.
Mengoleksi serangga dilakukan untuk berbagai keperluan penelitian, seperti
identifikasi, mempelajari struktur morfologi dan mempelajari struktur habitat serta keperluan
penelitian lain. Pengetahuan mengenai serangga akan bertambah dengan mengoleksi
serangga.
Pinning adalah cara yang terbaik untuk mengawetkan serangga bertubuh keras. Letak
pin yang akan ditusukan disesuaikan dengan jenis serangganya. Pada Coleoptera ditusuk
pada elytron kanan. Hemiptera dan Homoptera ditusuk melalui scuttelum. Ordo lain ditusuk
melalui mesothorax. Spesimen yang terlalu kecil dan rapuh untuk dilakukan pinning,
ditempatkan pada micropins atau cardboardpins. Jika point digunakan, serangga disentuhkan
oleh point dengan kutex atau lem yang sangat sedikit dan diposisikan pada pin serangga
dengan kepala menghadap depan. Yang disebut point adalah lembaran-lembaran segitiga
memanjang dengan panjang 8-10 mm dan lebar 3-4 mm. Micropin sangat pendek, harus
ditusukkan pada serangga di bagian ventral. Pin sebaiknya tidak ditusukan melalui dorsum.
Micropin disambungkan dengan pin serangga dengan gabus.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan pinning ?
2. Apa saja metode yang digunakan dalam pinning ?
3. Bagaimana cara penangkapan hewan yang akan dipinning?
4. Bagaimana prosedur yang dilakukan dalam pinning ?

1.3 Tujuan
Tujuan dari pengawetan (pinning) adalah untuk mendokumentasikan (arsip) dan sebagai
bahan penataran serta sebagai pemeriksaan ulang (cross check)

2
BAB II
TINJAUAN PUTAKA

2.1 Pengertian Pinning


Pengawetan pada hewan dilakukan untuk bahan dokumentasi (arsip) dan bahan
penataran serta sebagai pemeriksaan ulang (cross check). Dari pengawetan tersebut kita dapat
dengan mudah mengetahui morfologi serta jenis dari sempel yang digunakan untuk
pengawetan tanpa mengidentifikasinya terlebih dahulu.
Pengawetan yaitu suatu teknik atau tindakan yang digunakan oleh manusia pada suatu
bahan sedemikian rupa, sehingga bahan tersebut tidak mudah rusak. Isrilah awet merupakan
pengertian relatif terhadap daya awet alamiah dalam kondisi yang normal. Daya keawetan
bahan berbeda antara beberapa hari dan beberapa bulan.

2.2 Metode penangkapan serangga


Serangga merupakan organisme yang sangat melimpah keberadaannya dan mampu
hidup dimana saja, baik di darat maupun di air. Habitat serangga sangat bervariasi, masing-
masing spesies mempunyai kekhasan tempat hidup oleh karena itu perlu dipikirkan metode
penangkapan dan koleksi yang tepat untuk mendapatkan spesies serangga yang diinginkan.
Masing-masing metode dikembangkan untuk menangkap serangga yang khas yang
didasarkan pada perilaku dan habitatnya.
Pada dasarnya metode mengkoleksi terbagi menjadi dua katagori. Katagori Petama
adalah pengkoleksi yang aktif mencari serangga di lapangan dengan menggunakan peralatan
berupa insect net, aspirator, beatingsheet dan perlengkapan lainnya yang dibutuhkan di
lapangan. Sedangkan katagori kedua adalah kolektor pasif. Kolektor pasif menggunakan
perangkap dan beberapa alat yang digunakan seperti katagori kolektor pertama.
Koleksi serangga memerlukan peralatan tertentu yang telah disiapkan di dalam tas
cangklong yang sewaktu-waktu siap untuk dikeluarkan. Peralatan tersebut adalah :
 Aspirator
 Jaring serangga
 Pinset
 Botol pembunuh

3
 Vial yang berisi alkohol 80%
 Kertas HVS dibentuk segitiga
 Kantong plastik
 Kantong kertas
 Kuas kecil
 Pisau kecil/pisau lipat
 Buku catatan
 Pensil
 Kertas label

1. Penangkapan serangga dengan menggunakan aspirator


Aspirator digunakan untuk menangkap serangga yang kecil dan pergerakannya
sangat cepat, seperti: parasitoid ordo Hymenoptera, lalat Agromyzidae, trip, dan afid.
Aspirator ini bisa digunakan langsung untuk menyedot serangga pada tanaman atau
serangga-serangga kecil yang berada di dalam jaring serangga [kombinasi]. Semua
serangga yang telah ditangkap kemudian dibunuh dengan cara dimasukkan kedalam botol
pembunuh.

2. Penangkapan serangga dengan menggunakan tangan/pinset/kuas


Cara penangkapan ini efektif untuk serangga yang relatif besar dan pergerakannya
relatif tidak begitu gesit, seperti: ulat daun, belalang sembah, kumbang, dan semut.
Penangkapan dengan menggunakan tangan perlu suatu pengalaman dan keterampilan
khusus. Hal yang perlu diperhatikan adalah ketika hendak menangkap serangga-serangga
yang beracun atau bersengat, seperti ulat api famili Limacodidae dan semut
subfamiliPonerine maka perlu alat bantu berupa pinset. Sedangkan kuas juga dapat
digunakan sebagai alat bantu untuk menangkap serangga-serangga kecil yang lunak,
seperti: nimfaEphemeroptera dan Plecoptera.

4
3. Penangkapan serangga dengan menggunakan jaring serangga
a. Aerial nets adalah jaring yang digunakan dengan bantuan tangan untuk menangkap
serangga yang aktif terbang, seperti: kupu-kupu, capung, lebah, dan tawon. Sebaiknya
gagang jaring dibuat dari bahan yang sangat ringan dan jaringnya terbuat dari kain
kasa yang lembut. Biasanya kain kasa yang dipakai berwarna putih, tetapi beberapa
ahli lebih suka menggunakan kain kasa yang berwarna hitam untuk menghindari
terjadinya pantulan cahaya yang membuat takut serangga sebelum terjaring. Semua
serangga yang telah ditangkap kemudian dibunuh dengan cara dimasukkan kedalam
botol pembunuh.
b. Sweepnets adalah jaring yang digunakan dengan bantuan tangan untuk menangkap
serangga-serangga kecil yang gesit dan berada di rerumputan atau pada pucuk-pucuk
tanaman, seperti: kumbang Coccinellidae, wereng Cicadellidae dan Delphacidae.
Semua serangga yang telah ditangkap kemudian dibunuh dengan cara dimasukkan
kedalam botol pembunuh.
c. Aquaticnets adalah jaring yang digunakan dengan bantuan tangan untuk menangkap
serangga-serangga yang hidup didalam air [serangga air], seperti: larva Trichoptera
dan Lepidotera.
4. Penangkapan serangga dengan menggunakan beatingsheets
Metode ini dilakukan dengan cara penggoyangan tumbuhan dengan keras yang
dibawahnya telah dipasang beatingsheets. Penangkapan dengan cara ini sangat sesuai
untuk serangga-serangga yang tidak bersayap terutama efektif untuk serangga yang
berklamufase dengan tumbuhan atau tersembunyi dan juga untuk serangga-serangga yang
pergerakannya lamban, seperti: serangga ordo Phasmatodea, beberapa serangga ordo
Coleoptera, Hemiptera, dan Hymenoptera. Semua serangga yang telah ditangkap
kemudian dibunuh dengan cara dimasukkan kedalam botol pembunuh.
5. Penangkapan serangga dengan menggunakan kain/wadah bentuk kerucut sebagai tadah
Metode ini dilakukan dengan cara penyemprotan zat beracun atau insektisida
pyrethroid pada tumbuhan yang dibawahnya telah dipasang kain sebagai wadah
serangga-serangga yang mati dan jatuh. Cara ini sangat efektif untuk serangga-serangga
yang hidup pada kanopi pohon, seperti beberapa serangga ordo Hymenoptera, Hemiptera,
dan Phasmatodea yang tidak bisa dijangkau oleh tangan atau jaring serangga.

5
6. Penangkapan serangga dengan menggunakan corong Berlese
Metode ini dilakukan dengan cara mengambil seresah tumbuhan yang kemudian
diletakkan di dalam corong Berlese. Cara ini efektif untuk menangkap serangga-serangga
sangat kecil yang hidup di dalam seresah umumnya berperan sebagai pengurai bahan
organik, seperti: beberapa jenis semut, kumbang Tenebrionidae, Thysanura, dan beberapa
Hexapoda bukan serangga seperti Collembola, Protura, dan Diplura.

7. Penangkapan serangga dengan menggunakan perangkap


Macam-macam perangkap yang biasa digunakan untuk koleksi serangga adalah:
a. Pitfall, digunakan untuk memerangkap serangga yang aktif berjalan diatas tanah,
seperti semut, kumbang Carabidae dan Tenebrionidae.
b. Lampu, digunakan untuk menangkap serangga yang aktif pada malam hari, seperti
Noctuidae, Saturniidae, dan Sphingidae.
c. Feromon Seks atau Seks Feromoid, digunakan untuk menarik serangga jantan yang
terpikat, seperti Plutellaxyllostela
d. Aroma pakan sebagai zat pemikat [Methyl Eugenol dan CueLure] digunakan untuk
menangkap serangga yang membutuhkan pakan tertentu yang beraroma dan mutlak
diperlukan untuk kepentingan seksualnya, seperti Bactroceraspp. dan Dacus spp.

2.3 Prosedur pembuatan koleksi serangga


Serangga di tangkap dengan menggunakan cara-cara tertentu, bisa langsung
menggunakan insect net atau dengan menggunakan metode lainnya yang dapat menangkap
tanpa merusak morfolgi serangga yang kita inginkan. Kemudian dilanjutkan ke tahap
selanjutnya, yaitu pembersihan, pinning, pengeringan, pelabelan, baru kemudian specimen
atau awetan dapat disimpan atau dijadikan pajangan.
1. Pembersihan
Serangga yang telah ditangkap kemudian dibersihkan, cara yang paling mudah untuk
menghilangkan material yang menempel pada tubuh serangga adalah dengan menaruhkan
spesimen dalam alkohol atau dalam air dimana sedikit deterjen telah ditambahkan. Bila
material yang dihilangkan berlemak, cairan pembersih dapat dipakai, Pembersih
ultrasonic dapat membersihkan spesimen secara cepat dan menyeluruh. (Borror, 1997)

6
2. Pinning
Pinning adalah cara yang terbaik untuk mengawetkan serangga bertubuh keras. Letak
pin yang akan ditusukan disesuaikan dengan jenis serangganya. Pada Coleoptera ditusuk
pada elytron kanan. Hemiptera dan Homoptera ditusuk melalui scuttelum. Ordo lain
ditusuk melalui mesothorax. Spesimen yang terlalu kecil dan rapuh untuk dilakukan
pinning, ditempatkan pada micropins atau cardboardpins. Jika point digunakan, serangga
disentuhkan oleh point dengan kutex atau lem yang sangat sedikit dan diposisikan pada
pin serangga dengan kepala menghadap depan. Yang disebut point adalah lembaran-
lembaran segitiga memanjang dengan panjan 8-10 mm dan lebar 3-4 mm. Micropin
sangat pendek, harus ditusukkan pada serangga di bagian ventral. Pin sebaiknya tidak
ditusukan melalui dorsum. Micropin disambungkan dengan pin serangga dengan gabus.
Untuk hasil terbaik, kupu-kupu dan ngengat sayapnya dibentangkan. Pertama tusuk
serangga melalui mesothorax dan tancapkan pada papan. Pindahkan sayap bagian depan,
sehingga batas belakangnya membentuk garis paralel dengan tubuhnya. Tahan posisi
sayap sementara dengan meletakan pin. Hal serupa dilakukan pada sayap belakangnya,
kemudian tempelkan kertas melintasi sayapnya dan beri pin pada kertas & garis luar
sayapnya (pin tidak boleh menusuk sayapnya). Pin-pin tersebut dapat dicabut kembali
setelah 3-5 hari ditusukkan. (Elzinga, 1997)
Setiap spesies serangga dan artropoda lain mempunyai kekhasan cara pengawetan, secara
umum dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
1) Laba-Laba
Matikan dan awetkan dalam 80% ethanol. Sedikit ditambah glycerol pada ethanol
akan membuat spesimen lemas (fleksibel).
2) Collembola
Matikan dalam 80% ethanol. Jernihkan dalam KOH dan slidemount di euparal
dengan spesimen diletakkan pada sisi kanan. Peletakan gelas obyektif dan deglass
dengan menggunakan kutek tak berwarna.
3) Protura
Matikan dalam 80% ethanol. Jernihkan dalam KOH dan slidemount di euparal
dengan spesimen diletakkan pada sisi ventral. Peletakan gelas obyektif dan deglass
dengan menggunakan kutek tak berwarna.

7
4) Diplura
Matikan Dalam 80% Ethanol, Jernihkan Dalam Koh Dan Slidemount Dalam Euparal.
Peletakan Gelas Obyektif Dan Deglass Dengan Menggunakan Kutek Tak Berwarna.
5) Thysanura
Matikan Dan Awetkan Dalam 80% Ethanol.
6) Odonata
Matikan dalam botol pembunuh, sebaiknya capung dewasa dibiarkan hidup selama
satu atau dua hari di dalam kertas amplop agar isi perutnya terserap tubuh. Serangga
yang mati akan mengalami pembusukan isi perutnya sehingga akan mempengaruhi
warna kulit perutnya atau bahkan putus karena busuk. Setelah capung dewasa mati,
tusuklah dengan jarum serangga pada bagian tengah mesothorax (jarum harus keluar
dari bagian bawah tubuh diantara pasangan kaki pertama dan kaki kedua).
Kembangkan kedua pasang sayapnya dengan ketentuan letak anterior pinggir sayap
belakang tegak lurus dengan tubuh dan letak sayap depan simetris.
7) Orthoptera
Matikan belalang dewasa dalam botol pembunuh. Tusuklah dengan jarum serangga
pada bagian kanan mesothorax (biasanya pada dasar sayap depan bagian kanan)
belalang dewasa; bentangkan sayap bagian kiri dengan pinggir anterior sayap
belakang membentuk garis tegak lurus dengan tubuh; atur kaki dengan sempurna
dan antena yang panjang diatur menjulur ke belakang di atas tubuh.
8) Mantodea
Matikan dalam botol pembunuh, untuk nimfa awetkan dalam 80% ethanol. Belalang
sembah dewasa diawetkan dengan cara ditusuk dengan jarum serangga pada garis
tengah mesothorax bagian kanan dan kembangkan sayap depan dan belakang sebelah
kiri dengan pinggir anterior sayap belakang membentuk garis tegak lurus dengan
tubuh. Isi perut belalang sembah betina yang besar harus dibersihkan dan diisi
dengan kapas.
9) Thysanoptera
Matikan dalam 80% ethanol. Awetkan dalam lembaran kertas persegi panjang
dengan bagian ventral menghadap ke atas, bentangkan sayap-sayapnya, kaki-kaki
dan luruskan antenanya.

8
10) Hemiptera
Matikan dalam botol pembunuh. Tusuklah dengan menggunakan jarum pada bagian
skutelum bagian kanan. Serangga yang kecil harus dikarding dengan cara
menempelkan bagian tengah thorax (antara sepasang kaki depan dengan sepasang
kaki tengah) pada ujung kertas segitiga; posisi kepala berada disebelah kiri.
11) Neuroptera
Matikan dalam botol pembunuh. Awetkan dalam lembaran kertas karding dengan
cara menempelkan bagian tengah thorax (antara sepasang kaki depan dengan
sepasang kaki tengah) pada ujung kertas segitiga; posisi kepala berada disebelah kiri.
Larvanya awetkan dalam 80% ethanol.
12) Coleoptera
Tusuklah serangga dewasa tepat pada anterior elytron sebelah kanan sehingga jarum
keluar diantaracoxa tengah dan belakang; atur kaki-kakinya sehingga ruas-ruas tarsi
dapat terlihat dengan jelas. Spesies dengan ukuran sangat kecil dikarding dengan cara
menempelkan bagian tengah thorax (antara sepasang kaki depan dengan sepasang
kaki tengah) pada ujung kertas segitiga; posisi kepala berada disebelah kiri. Larva
diawetkan dalam 80% ethanol.
13) Diptera
Tusuklah serangga dewasa pada bagian tengah mesothorax sebelah kanan. Atur
sayap-sayapnya untuk spesies yang besar sehingga sayap mengembang pada sisi
anterior membentuk posisi tegak lurus. Serangga yang ukuran tubuhnya kecil
dikarding dengan cara menempelkan bagian tengah thorax (antara sepasang kaki
depan dengan sepasang kaki tengah) pada ujung kertas segitiga; posisi kepala berada
disebelah kiri, sayapnya dinaikkan ke atas dan kaki-kakinya diatur ke arah bawah.
Serangga dewasa famili Tipulidae diawetkan dalam 80% ethanol atau dilem
dibagianthorax pada kartu segiempat sehingga kaki-kakinya menempel pada kartu
dengan setetes lem pada setiap tibia. Larva diawetkan dalam 80% ethanol.
14) Lepidoptera
Tusuklah dengan jarum pada bagian garis tengah mosthorax untuk serangga dewasa;
atur kedua sayapnya dengan ketentuan sayap depan bagian posterior tegak lurus

9
dengan badan, sayap kedua menyesuaikan. Pengaturan posisi sayap dilakukan pada
span block. Larvanya diawetkan dalam 80% ethanol.
15) Hymenoptera
Tusuklah serangga dewasa pada bagian kanan garis tengah mesothorax; atur
sayapnya agar terlihat jelas venasinya. Spesies yang kecil dan atau semua jenis semut
perlu dikarding dengan cara menempelkan bagian tengah thorax (antara sepasang
kaki depan dengan sepasang kaki tengah) pada ujung kertas segitiga; posisi kepala
berada disebelah kiri. Larvanya diawetkan dalam 80% ethanol.
3. Mengeringkan Spesimen
Spesimen yang kecil akan sangat cepat kering di udara terbuka, begitu halnya
dengan serangga berukuran besar, tetapi tidak dianjurkan untuk meninggalkan mereka
terbuka dalam jangka waktu yang lama karena kemungkinan kerusakan oleh dermestid,
semut dan hama lainnya. Sebuah ruangan dengan satu atau lebih bola lampu akan
mempercepat pengeringan. (Borror, 1997)
4. Pelabelan
Semua spesimen yang ditemukan harus diberi label mengenai data waktu dan lokasi
penangkapan. Data sebaiknya ditulis seperti ini 10.Aug.1977m 10.VIII 1977, atau
VIII.10.1977. Label ditempatkan ditempatkan pada pin serangga. Nama kolektor
ditempatkan pada label kedua di bawah label mengenai waktu dan lokasi ditemukan.
Label untuk spesimen yang diawetkan di dalam cairan harus ditulis di atas kertas
kasar berkualitas bagus dengan tinta India atau tinta tahan air. Jangan pernah
menggunakan ballpoint karena tinta akan larut jika bercampur dengan alkohol. (Elzinga,
1997)
5. Pengawetan dan Perentangan (Mounting/Preservation)
a. Kering
Pengawetan kering dilakukan untuk serangga-serangga yang bertubuh keras
(umumya fase imago) dengan cara di pin (ditusuk dengan jarum preparat atau di
karding). Jarum yang digunakan untuk menusuk spesimen serangga harus jarum anti
karat atau stainlesssteel (bukan dari baja hitam atau dari kuningan) sebab jarum non-
stainless akan cepat berkarat apabila terkena cairan tubuh serangga. Ukuran diameter
dan panjang jarum bervariasi mulai dari nomor 00 sampai 9.

10
Apabila jarum ditusukkan secara tidak langsung ke tubuh serangga, seperti halnya
karding, jarum stainlesssteel tidak perlu dipergunakan, cukup dengan jarum dari baja.
Beberapa serangga besar akan berubah warna atau kotor apabila diawetkan kering,
oleh sebab itu perlu dilakukan proses pengeluaran isi perut atau ‘gutting’ sebelum
serangga di pin. Buat belahan sedikit di salah satu sisi pleuralmembranediantarasternal
dan tergalplates. Pergunakan pinset untuk mengeluarkan alimentarycanal, alat
pencernaan makanan perlu hati-hati jangan sampai sambungan anterior dan posterior
patah. Bagian perut kemudian dibersihkan dengan cermat dengan kapas dan tissue.
Perutnya kemudian dibentuk kembali dengan diisi kapas agar bentuk abdomen
kembali seperti sebelumnya. Belahan pada ujung pleuralmembrane kemudian
dirapatkan kembali dan harus tertutup kembali sebelum serangga kering.
b. Basah
Pengawetan basah dilakukan untuk serangga-serangga yang bertubuh lunak
(umumnya fase larva) dilakukan dengan cara menyimpan serangga didalam botol yang
telah diisi dengan alkohol 80%, dengan ketentuan bahwa spesimen yang diawetkan
dalam alkohol harus disimpan dalam botol gelas dengan tutup yang rapat.
Menggunakan botol plastik tidak baik untuk tempat spesimen karena mudah retak
apabila diisi dengan alkohol. Pilih botol yang cukup besarnya agar spesimen tidak
tertekuk dan hancur, selain itu juga akan memudahkan pengambilan pada saat akan
diteliti/diamati.
6. Penyimpanan
 Spesimen-spesimen dalam suatu koleksi secara sistematik harus disusun dan
dilindungi dari hama-hama, cahaya dan kelembaban.
 Serangga serangga yang dipin harus disimpan dalam kotak-kotak yang anti debu
memiliki bagian bawah yang lunak yang memudahkan untuk menyusun pin
didalamnya.
 Untuk serangga yang diawetkan didalam cairan, botol-botol yang berisi spesimen
harus diisi penuh dengan cairan dan diusahakan agar tidak terdapat gelembung udara
didalamnya kemudian ditutup dengan tutup karet yang sesuai dengan ukuran mulut
botol.

11
 Material serangga yang disimpan pada kotak-kotak yang memiliki dasar yang lunak
dan disusun satu dengan yang lainnya sedemikian rupa sehingga tidak berbenturan
didalam kotak.
Koleksi menjadi lebih berarti ketika spesimen tersebut dapat dipelajari dan
dipajang. Museum dan banyak koleksi pribadi biasanya ditemaptkan di semacam lemari
kayu atau besi yang dilapisi kaca. Tiap-tiap laci memiliki suatu baki yang memudahkan
spesimen yang telah dikoleksi untuk dimasukan dan dikeluarkan sebanyak yang
diperlukan. Tiap baki terdiri dari 1 species dan disusun secara alfabet berdasarkan spesies
dalam suatu genus, genus dalam suatu famili dan begitu seterusnaya. Meskipun laci
ditutup dengan kuat, serangga hama berukuran kecil dapat masuk dan merusak koleksi..
Maka dari itu pengasapan dan repellent perlu digunakan, selain itu pemeriksaan secara
rutin mengenai kerusakan koleksi (sisa serbuk di bawah spesimen yang mengindikasikan
spesies tersebut dimakan oleh serangga hama). Kerusakan akan sedikit terjadi apabia
ditempatkan pada ruangan bertemperatur rendah, dan sebelumnya dilakukan pengasapan
sebelum disimpan.

12
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan


1. Aspirator
2. Jaring ayun
3. Botol plastik
4. Killing bottle
5. Span Block
6. Pinset
7. Insect Pin

3.2 Bahan
1. Kapas
2. Chloroform
3. Kertas Label
4. Pinning Block
5. Serangga ( kaki seribu, kupu-kupu,dll)

3.3 Cara Kerja


1. Masukkan serangga kedalam beaker glass
2. Matikan serangga dengan cara meneteskan chloroform pada kapas kemudian tempatkan
pada tubuh serangga tersebut
3. Tunggu sampai hewan tidak bergerak
4. Letakkan serangga pada pinning block dan atur posisi tubuh serangga
5. Pinning serangga dengan menggunakan pinset yang ditusukkan pada sela-sela tubuh
serangga
6. Pindahkan pada wadah penyimpan dan tutup dengan menggunakan mika.

13
BAB IV
PEMBAHASAN

Serangga adalah makhluk berdarah dingin, atau menyesuaikan dengan suhu lingkungan.
Apabila suhu lingkungan menurun, maka suhu tubuh mereka pun menurun dan proses fisiologis
tubuhnya menjadi lamban. Beberapa serangga dapat hidup dan bertahan pada suhu yang sangat
ekstrim (baik suhu rendah maupun tinggi), hal ini dikarenakan serangga memiliki etilenaglikol di
dalam jaringan tubuhnya.
Serangga sangat menarik untuk diamati dan dipelajari, karena dalam dunia ilmu
pengetahuan, dari sekian banyak jenis hewan yang ada dipermukaan bumi, ternyata sekitar ¾
bagiannya adalah serangga, sehingga tidak jarang banyak yang digunakan atau ditangkap sebagai
koleksi.
Pada dasarnya metode mengkoleksi terbagi menjadi dua katagori. Katagori Petama adalah
pengkoleksi yang aktif mencari serangga di lapangan dengan menggunakan peralatan
berupa insect net, aspirator, beating sheet dan perlengkapan lainnya yang dibutuhkan di
lapangan. Sedangkan katagori kedua adalah kolektor pasif. Kolektor pasif menggunakan
perangkap dan beberapa alat yang digunakan seperti katagori kolektor pertama.
Mengoleksi serangga dilakukan untuk berbagai keperluan penelitian, seperti identifikasi,
mempelajari struktur morfologi dan mempelajari struktur habitat serta keperluan penelitian lain.
Pengetahuan mengenai serangga akan bertambah dengan mengoleksi serangga.
Pinning adalah cara yang terbaik untuk mengawetkan serangga bertubuh keras. Letak pin
yang akan ditusukan disesuaikan dengan jenis serangganya. Pada Coleoptera ditusuk pada
elytron kanan. Hemiptera dan Homoptera ditusuk melalui scuttelum. Ordo lain ditusuk melalui
mesothorax. Spesimen yang terlalu kecil dan rapuh untuk dilakukan pinning, ditempatkan pada
micropins atau cardboard pins. Jika point digunakan, serangga disentuhkan oleh point dengan
kutex atau lem yang sangat sedikit dan diposisikan pada pin serangga dengan kepala menghadap
depan. Yang disebut point adalah lembaran-lembaran segitiga memanjang dengan panjang 8-10
mm dan lebar 3-4 mm.
Koleksi menjadi lebih berarti ketika spesimen tersebut dapat dipelajari dan dipajang.
Museum dan banyak koleksi pribadi biasanya ditempatkan di semacam lemari kayu atau besi
yang dilapisi kaca. Tiap-tiap laci memiliki suatu baki yang memudahkan spesimen yang telah

14
dikoleksi untuk dimasukan dan dikeluarkan sebanyak yang diperlukan. Tiap baki terdiri dari 1
species dan disusun secara alfabet berdasarkan spesies dalam suatu genus, genus dalam suatu
famioli dan begitu seterusnaya. Meskipun laci ditutup dengan kuat, serangga hama berukuran
kecil dapat masuk dan merusak koleksi.. Maka dari itu pengasapan dan repellent perlu
digunakan, selain itu pemeriksaan secara rutin mengenai kerusakan koleksi (sisa serbuk di bawah
spesimen yang mengindikasikan spesies tersebut dimakan oleh serangga hama). Kerusakan akan
sedikit terjadi apabia ditempatkan pada ruangan bertemperatur rendah, dan sebelumnya
dilakukan pengasapan sebelum disimpan.

15
BAB V
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Jenis jenis vektor yang digunakan dalam praktikum pengawetan (pinning) adalah
kalajengking, kupu-kupu, kelabang dan
2. Tujuan dari pengawetan (pinning) adalah untuk mendokumentasikan (arsip) dan sebagai
bahan penataran serta sebagai pemeriksaan ulang (cross check)

4.2 Saran
Sebelum hewan di pinning atau diawetkan maka perlu diidentifikasi terlebih dahulu
agar lebih mudah dalam memberi label saat disimpan. Preparasi hewan berguna untuk
mengawetkan hewan yang akan di awetkan agar dapat disimpan lama dan tidak mengalami
kerusakan saat dilakukan pemeriksaan

16
DAFTAR PUSTAKA

Borror, D.J., C.A. Triplehorn dan N.F. Johnson. 1997. Pengenalan Pelajaran Serangga. Gadjah
Mada UniversityPress. Yogyakarta
Elzinga, R. J.Fundamentals of EntomologyFourthEdition . 1997. PrenticeHall : New Jersey
Jumar. 2000. Entomologi pertanian. Jakarta: Rineka
Suputa, Elisa UGM (Entomologi Serangga) www.elisa.ugm.ac.id

17
Lampiran

18