Anda di halaman 1dari 29

EKOLOGI RAWA

PASANG SURUT
Tujuan :
• Mampu menguraikan ciri utama rawa pasang surut,
sebaran, potensi dan kendala pengelolaannya
• Mampu menguraikan tipe luapan rawa pasang surut
• Mampu menguraikan jenis tanah rawa pasang surut
• Mampu menguraikan tanah sulfat masam
• Mampu menguraikan biodiversitas lahan rawa pasang
surut
• Mampu menguraikan strategi pengelolaan lahan rawa
pasang surut
Pendahuluan
Lahan rawa pasang surut termasuk salah satu tipe
ekosistem lahan basah yang utamanya dicirikan oleh
rezim air yang utamanya adalah pengaruh pasang
dan surut air dari sungai/laut sekitar.

Fenomena pasang dan surut pada ekosistem rawa


disebabkan oleh adanya gaya tarik antara benda-
benda langit, khususnya bulan dengan bumi.
Pada saat bulan dan bumi berjarak terdekat, maka
terjadilah pasang besar (spring tide), yaitu saat bulan
penuh (purnama) dan bulan mati yang terjadi pada
tanggal 1 dan 15 pada kalender Qomariah. Sebaliknya
terjadi surut, yaitu saat jarak bulan dan bumi
terjauh, maka terjadilah surut.

Selain pasang besar yang terjadi saat purnama (spring


tide), juga didapati pasang kecil (neap tide) yang
terjadi antara masa purnama dan bulan mati, yaitu
tanggal 3-14 dan 17-29 pada kalender Qomariah.
Pasang kecil ini disebut juga pasang pindua karena
terjadi dua kali dalam sehari (Noor, 2004).
PENYEBARAN

Daerah rawa-rawa yang


dipengaruhi air pasang
surut dengan bervariasi
kedalamannya yang
tergantung dari periode
sedimentasi
POTENSI
•Perikanan
•Pertanian
•Kehutanan
KENDALA PENGELOLAAN

• Tergenang
• Kandungan pirit tinggi
• pH rendah (jika terjadi oksidasi pirit)
pH < 2,0
TIPE LUAPAN DAERAH RAWA
PASANG SURUT
Tipe A, yaitu daerah yang mendapatkan luapan pada
saat pasang besar dan pasang kecil. Wilayah tipe A ini
meliputi pantai sampai pesisir, dan tepian sungai.

Tipe B, yaitu daerah yang hanya mendapatkan luapan


pada saat pasang besar. Wilayah tipe B ini meliputi
rawa belakang (back swamps) dari pinggiran sungai
sampai mencapai > 50 km ke pedalaman.
TIPE LUAPAN DAERAH RAWA
PASANG SURUT

Tipe C, yaitu daerah yang tidak mendapatkan luapan


pasang langsung, tetapi mendapatkan pengaruh resapan
pasang dengan tinggi muka air tanah < 50 cm.

Tipe D sama serupa dengan tipe C, tetapi pengaruh


resapan kurang dengan tinggi muka air tanah lebih
dalam > 50 cm. Wilayah tipe D ini sering diserupakan
dengan lahan tadah hujan.
JENIS TANAH RAWA PASANG SURUT

Berdasarkan jenis tanah, lahan rawa pasang surut


dibedakan antara tanah mineral dan tanah gambut.

Tanah mineral tanah terbentuk oleh proses pedogenik


berupa endapan liat, debu, dan sebagian pasir yang
berupa alluvial sungai atau marin (laut).

Sedangkan tanah gambut terbentuk oleh adanya proses


geogenik berupa akumulasi (pasisa-sisa tanaman baik
yang sudah mati baik terdekomposisi (matang) maupun
belum terdekomposisi (mentah).
PEDOGENESIS

•Air laut sulfat (SO42-)


•Tanah Mineral besi (Fe2O3)
Reaksi Pembentukan Pirit :

Fe2O3(s)+ 4SO42-(aq)+ 8CH2O+ 1/2 O2(aq) 2FeS2(s)+ 8HCO3-(aq)+ 4H2O


Dua jenis tanah ini mempunyai sifat dan watak baik
fisik, kimia, maupun biologi yang berbeda sehingga
mempunyai potensi yang berbeda.

Sifat-sifat tanah yang berbeda tersebut diantaranya


adalah kadar bahan organik, kadar air, kapasitas tukar
kation, kejenuhan basa, dan ketersediaan hara bagi
tanaman (Noor, 2001, 2007).
Keberagaman karakterstik lahan rawa pasang surut
tersebut di atas membawa konsekuensi terhadap
biodiversitasdan kearifan lokal petani dalam
menyiasati kondisi alam rawa.

Namun demikian, faktor biofisik dan lingkungan rawa


sekaligus juga membatasi terhadap biodiversitas. Oleh
karena itu juga maka intervensi dan inovasi teknologi
yang dianjurkan mestinya bersifat spesifik lokasi (site
specific).
Tanah Sulfat Masam
Banyak lahan rawa pasang surut menimbulkan masalah
bagi tanaman karena tanahnya berpotensi sebagai sulfat
masam di bawah permukaan gambut atau lapisan
alluvium.

Tanah sulfat masam menimbulkan masalah kimiawi,


biologis, dan fisik bagi tanaman.
Masalah kimia untuk tanaman lahan kering mencakup:
1. Pengaruh langsung kemasaman yang tinggi, terutama
peningkatan daya larut dan toksisitas ion-ion
aluminium dan mungkin besi (bermartabat 3),
mangan, dan hydrogen.
2. Penurunan ketersediaan fosfat, yang disebabkan oleh
interaksi besi dan fosfat aluminium.
3. Kekurangan zat hara.
4. Salinitas.
Dalam kondisi tergenang, misalnya pada waktu penanaman
padi sawah atau di kolam ikan, kemasaman berkurang,
tetapi muncul masalah baru yang mencakup:
1. Toksisitas besi bermartabat 2.
2. Toksisitas hydrogen sulfida.
3. Toksisitas asam organik dan CO2.

Masalah fisik timbul terutama oleh adanya hambatan


perkembangan akar pada lapisan tanah asam sulfat:
1. Tanaman menderita karena tekanan air.
2. Pemasakan tanah tertahan. Lempung dan tanah organik
tetap lunak, tidak mampu mendukung muatan yang berat,
berstruktur buruk, dan karena itu penyalirannya buruk.
3. Saliran lapangan mungkin terhalang oleh endapan oksida
besi.
MINERAL PIRIT
Kondisi penting yang memungkinkan terbentuknya pirit (FeS2) :
(1) Lingkungan anaerob,
(2) Sumber sulfat, baik dari air laut, air pasang payau atau air
tanah yang kaya akan sulfat,
(3) Bahan organik sebagai sumber energi bakteri,
(4) Sumber besi, yang berasal dari sedimen mengandung besi
oksida dan hidroksida
OKSIDASI PIRIT
Peristiwa reaksi pirit dengan udara (O2) yang
menyebabkan terbebasnya sejumlah besar ion sulfat
(SO42-) dan hidrogen (H+) sehingga pH tanah/air menjadi
sangat masam. Selain H2SO4, dibebaskan juga oksida
besi (Fe2O3) dalam bentuk karat.
Hal penting yang harus
diperhatikan juga akibat dari
oksidasi pirit adalah
penghancuran kristal mineral
liat silikat yang akan
membebaskan Al3+ sebagai
sumber kemasaman tanah.

Tingginya kandungan ion-ion polivalen (Fe3+ dan


Al3+) menyebabkan proses sedimentasi
berlangsung cepat akibat pengikatan agregat tanah
(flokulasi).
REAKSI OKSIDASI PIRIT
Reaksi Umum
4FeS2 + 15 O2 + 14 H2O 4Fe(OH)3 + 8 H2SO4

1. Pelapukan pirit disertai proses oksidasi

2FeS2 + 7 O2 + 2 H2O 2Fe2+ + 4 H+ + 4SO42-

2. Konversi Fe2+ menjadi Fe3+. Laju reaksi lambat pada pH


< 5. Bakteri Thiobacilus ferrooksidan akan
mempercepat reaksi.

4Fe2++ O2 + 4 H+ 4Fe3+ + 2 H2O


3. Hidrolisa besi
4Fe3+ + 12 H2O 4Fe(OH)3 + 12 H+

4. Lanjutan oksidasi pirit oleh Fe3+.


Reaksi berjalancepat dan akan habis jika pirit atau Fe3+
habis.
FeS2 + 14Fe3+ + 8 H2O 2Fe3+ + 16 H+ + 2SO42-
Thiobacillus ferrioksidan
BIODIVERSITAS
BIODIVERSITAS
STRATEGI PENGELOLAAN (DENT, 1986) :

1. Konservasi (alami)
Menjaga kondisi alamiah lahan dengan tidak
merubah tata air makro dan mikro sebagai
upaya mencegah oksidasi pirit

2. Reklamasi
Membuka lahan sulfat masam untuk pertanian
dengan pembuatan drainase. Kegiatan ini
dengan sengaja mengoksidasi pirit untuk
selanjutnya dicuci (leach). Dampak reklamasi
berlangsung lama tergantung pada tata air.
Tata Air
•Drainase
•Tata air mikro
•Tabat
Terimakasih