Anda di halaman 1dari 9

Seperti ibadah-ibadah lainnya, shalat Jumat memiliki beberapa ketentuan

atau syarat keabsahan yang harus dipenuhi. Sekiranya tidak terpenuhi, maka
shalat Jumat dihukumi tidak sah. Berikut ini adalah syarat-syarat sah
pelaksanaan shalat Jumat:

Pertama, shalat Jumat dan kedua kutbahnya dilakukan di waktu zhuhur. Hal
ini berdasarkan hadits:

‫س‬ َّ ‫ص ِلي ْال ُج ُم َعةَ ِحيْنَ ت َ ِم ْي ُل ال‬


ُ ‫ش ْم‬ َ ُ‫أ َ َّن النَّ ِبيَّ َكانَ ي‬
“Sesungguhnya Nabi Saw melakukan shalat Jumat saat matahari condong ke
barat (waktu zhuhur)”. (HR.al-Bukhari dari sahabat Anas).

Maka tidak sah melakukan shalat Jumat atau khutbahnya di luar waktu
zhuhur. Bila waktu Ashar telah tiba dan jamaah belum bertakbiratul ihram,
maka mereka wajib bertakbiratul ihram dengan niat zhuhur. Apabila di tengah-
tengah melakukan shalat Jumat, waktu zhuhur habis, maka wajib
menyempurnakan Jumat menjadi zhuhur tanpa perlu memperbaharui niat.

Syekh Habib Muhammad bin Ahmad al-Syathiri mengatakan:

ُ ‫الظ ْه ِر َولَ ْو خ ََر َج ْال َو ْقتُ َو ُه ْم فِ ْي َها أَت َ ُّم ْوا‬


‫ظ ْهرا ً ُو ُج ْوبا ً ِب ََل‬ ُّ ‫ضاقَ ْال َو ْقتُ أ َ ْح َر ُم ْوا ِب‬ َ ‫فَلَ ْو‬
‫ت َ ْج ِد ْي ِد نِيَّة‬
“Apabila waktu zhuhur menyempit, maka wajib melakukan takbiratul ihram
dengan niat zhuhur. Apabila waktu zhuhur keluar sementara jamaah berada di
dalam ritual shalat Jumat, maka mereka wajib menyempurnakannya menjadi
shalat zhuhur tanpa mengulangi niat”. (Syekh Habib Muhammad bin Ahmad
al-Syathiri, Syarh al-Yaqut al-Nafis, hal.236)

Kedua, dilaksanakan di area pemukiman warga.

Shalat Jumat wajib dilakukan di tempat pemukiman warga, sekiranya tidak


diperbolehkan melakukan rukhsah shalat jama’ qashar di dalamnya bagi
musafir. Tempat pelaksanaan Jumat tidak disyaratkan berupa bangunan, atau
masjid. Boleh dilakukan di lapangan dengan catatan masih dalam batas
pemukiman warga.

Syekh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali mengatakan:

ً ‫اء ِإ َذا كاَنَ َم ْعد ُْودا‬ ِ ‫ص ْح َر‬ َّ ‫ط أ َ ْن يُ ْعقَ َد ْال ُج ُم َعةُ ِفي ُر ْكن أ َ ْو َمس ِْجد َب ْل َي ُج ْو ُز ِفي ال‬ ُ ‫َو ََل يُ ْشت َ َر‬
َ ‫ص ْال ُم‬
‫سافِ ُر ِإ َذا ا ْنت َ َهى ِإلَ ْي ِه لَ ْم ت َ ْن َع ِق ْد‬ ُ ‫ط ِة ْال َبلَ ِد فَإ ِ ْن َبعُ َد َع ِن ْال َبلَ ِد ِب َحي‬
ُ ‫ْث َيت َ َر َّخ‬ َّ ‫ِم ْن ِخ‬
‫ا َ ْل ُج ُم َعةُفِ ْي َها‬
“Jumat tidak disyaratkan dilakukan di surau atau masjid, bahkan boleh di
tanah lapang apabila masih tergolong bagian daerah pemukiman warga. Bila
jauh dari daerah pemukiman warga, sekira musafir dapat mengambil
rukhshah di tempat tersebut, maka Jumat tidak sah dilaksanakan di tempat
tersebut”. (al-Ghazali, al-Wasith, juz.2, hal.263, [Kairo: Dar al-Salam], cetakan
ketiga tahun 2012).

(Baca juga: Shalat Jumat di Perkantoran)

Ketiga, rakaat pertama Jumat harus dilasanakan secaraberjamaah.

Minimal pelaksanaan jamaah shalat Jumat adalah dalam rakaat pertama, sehingga
apabila dalam rakaat kedua jamaah Jumat niat mufaraqah (berpisah dari Imam) dan
menyempurnakan Jumatnya sendiri-sendiri, maka shalat Jumat dinyatakan sah.

Keempat, jamaah shalat Jumat adalah orang-orang yang wajib menjalankan Jumat.

Jamaah Jumat yang mengesahkan Jumat adalah penduduk yang bermukim di daerah
tempat pelaksanaan Jumat. Sementara jumlah standart jamaah Jumat adalah 40 orang
menghitung Imam menurut pendapat kuat dalam madzhab Syafi’i. Menurut pendapat
lain cukup dilakukan 12 orang, versi lain ada yang mencukupkan 4 orang.

Al-Jamal al-Habsyi sebagaimana dikutip Syekh Abu Bakr bin Syatha mengatakan:

‫شافِ ِعي ِ ِبإِقَا َمتِ َها‬


َّ ‫ب ال‬ ْ َ ‫ي أ َ ْن يُقَ ِلدَ ِبقَ ْل ِب ِه َم ْن َيقُ ْو ُل ِم ْن أ‬
ِ ‫ص َحا‬ ِ ‫ي فَ ِاذَا َع ِل َم ْال َع‬
ُّ ‫ام‬ ُّ ‫قَا َل ْال َج َم ُل ْال َح ْب ِش‬
‫عس َْر فِ ْي ِه‬ ُ ‫س ِبذَ ِل َك ِإذْ ََل‬ َ ْ ‫ي َعش ََر فَ ََل بَأ‬ ْ َ‫ِبأ َ ْربَ َع ٍة أ َ ْو بِاثْن‬
“Berkata Syekh al-Jamal al-Habsyi; Bila orang awam mengetahui di dalam hatinya
bertaklid kepada ulama dari ashab Syafi’i yang mencukupkan pelaksanaan Jumat
dengan 4 atau 12 orang, maka hal tersebut tidak masalah, karena tidak ada kesulitan
dalam hal tersebut”. (Syekh Abu Bakr bin Syatha, Jam’u al-Risalatain, hal.18).

Tidak termasuk jamaah yang mengesahkan Jumat yaitu orang yang tidak bermukim di
daerah pelaksanaan Jumat, musafir dan perempuan, meskipun mereka sah melakukan
Jumat.

Kelima, tidak didahului atau berbarengan dengan Jumat lain dalam satu desa

Dalam satu daerah, shalat Jumat hanya boleh dilakukan satu kali. Oleh karenanya, bila
terdapat dua Jumatan dalam satu desa, maka yang sah adalah Jumatan yang pertama
kali melakukan takbiratul ihram, sedangkan Jumatan kedua tidak sah. Dan apabila
takbiratul ihramnya bersamaan, maka kedua Jumatan tersebut tidak sah.

Hal ini bila tidak ada kebutuhan yang menuntut untuk dilaksanakan dua kali. Bila
terdapat hajat, seperti kedua tempat pelaksanaan terlampau jauh, sulitnya
mengumpulkan jamaah Jumat dalam satu tempat karena kapasitas tempat tidak
memadai, ketegangan antar kelompok dan lain sebagainya, maka kedua Jumatan
tersebut sah, baik yang pertama maupun yang terakhir.

Syekh Abu Bakr bin Syatha’ mengatakan:

ِ ‫ق ْال َم َك‬
‫ان ا َ ْو ِل ِقتَا ٍل بَ ْينَ ُه ْم ا َ ْو ِلبُ ْع ِد‬ َ ‫اجتِ َما ِع ِه ْم ا َ ْل ُم َج ِوزَ ِللت َّ َعدُّ ِد ِإ َّما ِل‬
ِ ‫ض ْي‬ ْ ‫عس َْر‬ ِ ‫َو ْال َح‬
ُ ‫اص ُل أ َ َّن‬
َّ ‫اف ْال َم َح ِل بِال‬
‫ش ْر ِط‬ ْ َ‫أ‬
ِ ‫ط َر‬
“Kesimpulannya, sulitnya mengumpulkan jamaah Jumat yang memperbolehkan
berbilangannya pelaksanaan Jumat adakalanya karena faktor sempitnya tempat,
pertikaian di antara penduduk daerah atau jauhnya tempat sesuai dengan syaratnya”.
(Syekh Abu Bakr bin Syatha, Jam’u al-Risalatain, hal.4).

(Baca: Dua Shalat Jumat dalam Satu Komplek)

Keenam, didahului kedua khutbah.

Sebelum shalat Jumat dilakukan, terlebih dahulu harus dilaksanakan dua khutbah. Hal
ini berdasarkan hadits Nabi:

‫ب قَائِ ًما‬ ُ ‫س ث ُ َّم يَقُو ُم فَيَ ْخ‬


ُ ‫ط‬ ُ ‫ب قَائِ ًما ث ُ َّم يَ ْج ِل‬ ُ ‫سلَّ َم َكانَ يَ ْخ‬
ُ ‫ط‬ َ ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ ُ ‫أ َ َّن َر‬
َّ ‫سو َل‬
َ ِ‫َّللا‬
“Rasulullah Saw berkhutbah dengan berdiri kemudian duduk, kemudian berdiri lagi
melanjutkan khutbahnya”. (HR. Muslim).
1. Tempat sholat jumat harus tertentu
2. Jumlah orang yang berjamaah sekurang-kurangnya 40 orang laki-laki.
3. Dilakukan pada waktu dzuhur
4. Sebelum sholat jumat didahului oleh dua khutbah.

Dan berikut ini adalah beberapa pendapat yang mungkin dapat dijadikan
pegangan bagi daerah-daerah tertentu, yang pengunjung sholat jumatnya
mungkin kurang dari 40 orang.
Pendapat dari abu hanifah
Yang pertama pendapat dari imam abu hanifah, Beliau menyatakan untuk syarat
sholat jumat cukup empat orang termasuk imam saja, Dan tentusaja beliau
mempunya alasannya kenapa syarat sah sholat jumat tersebut hanya cukup
dilakukan oleh 4 orang saja, Berikut adalah hadits yang beliau pegang sebagai
alasan sahnya sholat jumat.

Hadits dari abu hanifah


"Aljumatu waajibatun alaakulli Qoryatingfiihaa imaamuw wa illam yakuunuu illaa
arba'ah"

Artinya :
"Jum'at itu wajib bagi tiap tiap desa yang ada padanya seorang imam, walaupun
penduduknya hanya ada 4 orang"

Pendapat dari imam Auza'i

Yang kedua pendapat dari imam auza'i, Beliau menyatakan bahwa sholat jumat
itu cukup dilakukan dengan 12 orang saja, berikut adalah hadits dari pendapat
beliau dibawah ini....

Hadits dari imam auza'i


"Awalu mangQodimalmadiinata minalmuhaajiriina mush abubnu umairiwwahuwa
awwalu mangjamma abihaa yaumaljum ati Qobla ayyaQdamannabiyyu
shollallaahu alaihi wasallama wahum isynaa asyarorojula"

Artinya :
"Orang yang pertama datang kemadinah dari kaum muhajirin ialah mush'ab bin
umair, dan dialah orang yang pertama mendirikan jumat disitu pada hari jumat,
sebelum nabi muhammad saw, datang (dan waktu itu) mereka duabelas orang."
(Hr. Thabrani).

Pendapat dari imam syafi'i

Yang ketiga pendapat dari imam syafi'i, Beliau menyatakan syarat sah sholat
jumat itu harur 40 orang yang hadir, dengan alasan hadits sebagai berikut...
Hadits dari imam syafi'i
Artinya :
Telah berkata abdurrahman bin ka'b : "Bapak saya ketika mendengar adzan hari
jum'at bisa mendoakan bagi as'ad bin zararah. maka saya bertanya kepadanya :
apabila mendengar adzan mengapa ayah mendoakan untuk as'ad bin zararah?
Menjawab ayahnya : Karena dialah orang yang pertama kali mengumpulkan kita
untuk sholat jum'at di desa hazmin nabit.' maka bertanya saya kepadanya :
'Berapa orang yang hadir waktu itu? ia menjawab: "empat puluh orang laki-
laki."
(Hr. Abu Dawud)

Sejak dahulu hingga sekarang, jumlah yang hadir untuk sholat jumat
merupakan masalah yang sangat diperhatikan oleh orang, Walaupun didalam Al-
Quran tidak diterangkan bahwa sahnya jum'at itu harus sekian orang, namun
andai kata jumlah 40 orang yang hadir, dalam jumat dijadikan syarat sahnya
jumat, bagi masyarakat indonesia pada umumnya tidakmengalami kesulitan
karena hal tersebut pada umumnya telah terpenuhi.
‫‪Diantara referensi yang digunakan pada waktu itu adalah:‬‬
‫‪1. Shulh al-Jama’atain bi Jawaz Ta’addud al-Jum’atain karya Ahmad Khatib al-Minangkabawi‬‬

‫اح ٍد َوأ َ َّن َج َوازَ تَ َعدُّ ِد ِه‬ ‫عدَ ُم َج َو ِاز ت َ َعدُّ ِد ْال ُج ْم َع ِة فِ ْي بَلَ ٍد َو ِ‬ ‫شافِ ِعي ِ َ‬ ‫ص َل َم ْذ َه ِ‬
‫ب ال َّ‬ ‫ت أ َ َّن أ َ ْ‬ ‫ع َر ْف َ‬
‫ِإذَا َ‬
‫علَى َما إِذَا‬ ‫علَى تَعَدُّ ِد ْال ُج ْمعَ ِة فِ ْي َب ْغدَادَ َو َح َّملُ ْوا ْال َج َوازَ َ‬ ‫شافِ ِعي ِ َ‬ ‫ت ال َّ‬‫س ُك ْو ِ‬ ‫اب ِم ْن ُ‬ ‫ص َح ُ‬ ‫أ َ َخذَهُ اْأل َ ْ‬
‫ف‬ ‫ضا ِبطٍ لَ ْم َي ْخت َ ِل ْ‬ ‫ط ْوهَا ِب َ‬ ‫ض ِب ُ‬‫ت ِببَ ْغدَادَ َولَ ْم يُ ْ‬ ‫صلَ ْ‬ ‫شقَّ ِة الَّتِ ْي َح َ‬ ‫اَلج ِت َماعِ َك ْال َم َ‬
‫شقَّةُ فِي ْ‬ ‫ت ْال َم َ‬ ‫صلَ ِ‬‫َح َ‬
‫ظ َه َر لَهُ‬‫عا ِل ٍم ِم ْن ُه ْم ِب َما َ‬‫ط َها ُك ُّل َ‬ ‫ض َب َ‬ ‫فَ َجا َء ْالعُلَ َما ُء َو َم ْن َب ْعدَ ُه ْم َو َ‬
‫ص ِل‬ ‫علَى اْأل َ ْ‬ ‫از الت َّ َعدُّ ِد َ‬
‫ي َج َو ُ‬ ‫ف ْال ِفتْنَ ِة َوقَ ْد زَ ا َل‪ .‬فَ َب ِق َ‬ ‫ي أ َ َّن َم ْن َع الت َّ َعدُّدَ ِأل َ ْج ِل خ َْو ِ‬‫ش ْع َرا ِن ُّ‬‫َو َبنَى ال َّ‬
‫علَ ْي ِه ِبأَنَّهُ لَ ْو َكانَ الت َّ َعدُّد ُ َم ْن ِهيًّا ِبذَاتِ ِه‬
‫ارعِ َوا ْستَدَ َّل َ‬ ‫ش ِ‬‫فِ ْي ِإقَا َم ِة ْال ُج ْم َع ِة َوقَا َل أ َ َّن َهذَا ُه َو ُم َراد ُ ال َّ‬
‫ت النَّبِي ِ َكانَ‬ ‫س ُك ْو َ‬ ‫علَى أ َ َّن ُ‬ ‫ش ْي ٌء فَدَ َّل ذَ ِل َك َ‬ ‫احدًا َو ْال َحا ُل أَنَّهُ لَ ْم يَ ِر ْد ِف ْي ِه َ‬ ‫ْث َولَ ْو َو ِ‬ ‫لَ َو َردَ فِ ْي ِه َح ِدي ٌ‬
‫علَى أ ُ َّمتِ ِه‬
‫ِأل َ ْج ِل الت َّ ْو ِس َع ِة َ‬
‫‪2. Bughyah al-Mustarsyidin karya Abdurrahman bin Muhammad Ba’lawi‬‬

‫ْث ََل َي َ‬
‫س ُع‬ ‫ص ََل ِة ِب َحي ُ‬ ‫ض ِي ُق َم َح ِل ال َّ‬ ‫اب َج َو ِاز تَ َعدُّ ِدهَا ث َ ََلثَةٌ َ‬ ‫اص ُل ِم ْن َك ََل ِم ْاألَئِ َّم ِة أ َ َّن أ َ ْس َب َ‬‫َو ْال َح ِ‬
‫اف ْالبَلَ ِد ِبأ َ ْن َكانَ ِب َم َح ٍل ََل يُ ْس َم ُع‬ ‫ط َر ِ‬ ‫مجت َ ِمعِينَ لَ َها غَا ِلبًا َو ْال ِقتَا ُل َبيْنَ ْال ِفئَتَي ِْن ِبش َْر ِط ِه َوبُ ْعد ُ أ َ ْ‬ ‫اْلُ ْ‬
‫ي ِإلَ ْي َها ِإ ََّل َب ْعدَ ْالفَ ْج ِر‬ ‫اء أ َ ْو ِب َم َح ٍل َل ْو خ ََر َج ِم ْنهُ َب ْعدَ ْالفَ ْج ِر لَ ْم يُد ِْر ْك َها ِإ ْذ ََل َي ْلزَ ُمهُ ال َّ‬
‫س ْع ُ‬ ‫ِم ْنهُ ِ‬
‫الندَ ِ‬
‫‪Dalam fatwanya, Syekh Isma’il al-Zain mengatakan:‬‬

‫ما قولكم في تعدد الجمعة في بلدة واحدة أو قرية واحدة مع تحقق العدد المعتبر في كل ‪ -‬مسألة‬
‫مسجد من مساجدها فهل تصح جمعة الجميع أو فيه تفصيل فيما يظهر لكم ؟ (الجواب) أما مسألة‬
‫تعدد الجمعة فالظاهر جواز ذلك مطلقا بشرط أن َل ينقص عدد كل عن أربعين رجَل فإن نقص‬
‫عن ذلك إنضموا إلى أقرب جمعة إليهم إذ لم ينقل عن النبي (أنه جمع بأقل من ذلك وكذلك سلف‬
‫الصالح من بعده) والقول بعدم الجواز إَل عند تعذر اَلجتماع في مكان واحد ليس عليه دليل‬
‫صريح وَل ما يقرب من الصريح َل نصا وَل شبهه بل أن سر مقصود الشرع هو في إظهار‬
‫الشعار في ذلك اليوم وأن ترفع األصوات على المنابر بالدعوة إلى هللا والنصح للمسلمين فكلما‬
‫كانت المنابر أكثر كانت الشعارات أظهر وتبارزت عزة دين اإلسَلم في آن واحد في أماكن متعدد‬
‫إذا كان كل مسجد عامرا بأربعين فأكثر هذا هو الظاهر لي وهللا ولى التوفيق اهـ‬
‫‪Pendapat dari abu hanifah‬‬

‫‪Yang pertama pendapat dari imam abu hanifah, Beliau menyatakan untuk syarat‬‬
‫‪sholat jumat cukup empat orang termasuk imam saja, Dan tentusaja beliau‬‬
‫‪mempunya alasannya kenapa syarat sah sholat jumat tersebut hanya cukup‬‬
‫‪dilakukan oleh 4 orang saja, Berikut adalah hadits yang beliau pegang sebagai‬‬
‫‪alasan sahnya sholat jumat.‬‬

‫‪Hadits dari abu hanifah‬‬


‫‪"Aljumatu waajibatun alaakulli Qoryatingfiihaa imaamuw wa illam yakuunuu illaa‬‬
‫"‪arba'ah‬‬
Artinya :
"Jum'at itu wajib bagi tiap tiap desa yang ada padanya seorang imam, walaupun
penduduknya hanya ada 4 orang"

Pendapat dari imam Auza'i

Yang kedua pendapat dari imam auza'i, Beliau menyatakan bahwa sholat jumat
itu cukup dilakukan dengan 12 orang saja, berikut adalah hadits dari pendapat
beliau dibawah ini....

Hadits dari imam auza'i


"Awalu mangQodimalmadiinata minalmuhaajiriina mush abubnu umairiwwahuwa
awwalu mangjamma abihaa yaumaljum ati Qobla ayyaQdamannabiyyu
shollallaahu alaihi wasallama wahum isynaa asyarorojula"

Artinya :
"Orang yang pertama datang kemadinah dari kaum muhajirin ialah mush'ab bin
umair, dan dialah orang yang pertama mendirikan jumat disitu pada hari jumat,
sebelum nabi muhammad saw, datang (dan waktu itu) mereka duabelas orang."
(Hr. Thabrani).

Pendapat dari imam syafi'i

Yang ketiga pendapat dari imam syafi'i, Beliau menyatakan syarat sah sholat
jumat itu harur 40 orang yang hadir, dengan alasan hadits sebagai berikut...

Hadits dari imam syafi'i


Artinya :
Telah berkata abdurrahman bin ka'b : "Bapak saya ketika mendengar adzan hari
jum'at bisa mendoakan bagi as'ad bin zararah. maka saya bertanya kepadanya :
apabila mendengar adzan mengapa ayah mendoakan untuk as'ad bin zararah?
Menjawab ayahnya : Karena dialah orang yang pertama kali mengumpulkan kita
untuk sholat jum'at di desa hazmin nabit.' maka bertanya saya kepadanya :
'Berapa orang yang hadir waktu itu? ia menjawab: "empat puluh orang laki-
laki."
(Hr. Abu Dawud)