Anda di halaman 1dari 28

KONSEP DASAR

Pengertian
Mobilitas adalah pergerakan yang memberikan kebebasan dan kemandirian bagi
seseorang (Ansari, 2011).

Mobilisasi adalah suatu kondisi dimana tubuh dapat melakukan keegiatandengan


bebas (Kosier, 1989
cit
Ida 2009)

Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas, mudahdan


teratur yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehat.
Mobilisasidiperlukan untuk meninngkatkan kesehatan, memperlambat proses
penyakitkhususnya penyakit degeneratif dan untuk
aktualisasi. Mobilisasi menyebabkan perbaikan sirkulasi, membuat napas dalam d
an menstimulasi kembali fungsigastrointestinal normal, dorong untuk
menggerakkan kaki dan tungkai bawah sesegeramungkin, biasanya dalam waktu
12 jam (Mubarak, 2008).

Imobilisasi adalah suatu kondisi yang relatif, dimana individu tidak


sajakehilangan kemampuan geraknya secara total, tetapi juga mengalami
penurunanaktifitas dari kebiasaan normalnya (Mubarak, 2008).

Gangguan mobilitas fisik (immobilisasi) didefinisikan oleh North


American Nursing Diagnosis Association (NANDA) sebagai suatu kedaaan diman
a individuyangmengalami atau beresiko mengalami keterbatsan gerakan fisik.
Individu yangmengalami atau beresiko mengalami keterbatasan gerakan fisik
antara lain : lansia,individu dengan penyakit yang mengalami penurunan
kesadaran lebih dari 3 hari ataulebih, individu yang kehilangan fungsi anatomic
akibat perubahan fisiologik(kehilangan fungsi motorik,klien dengan stroke, klien
penggunaa kursi roda), penggunaan alat eksternal (seperti gipsatau traksi), dan
pembatasan gerakan volunteer(Potter, 2005).

Imobilisasi merupakan ketidakmampuan seseorang untuk menggerakkantubuhnya


sendiri. Imobilisasi dikatakan sebagai faktor resiko utama pada munculnyaluka
dekubitus baik di rumah sakit maupun di komunitas. Kondisi ini
dapatmeningkatkan waktu penekanan pada jaringan kulit, menurunkan sirkulasi
danselanjutnya mengakibatkan luka dekubitus. Imobilisasi disamping
mempengaruhikulit secara langsung, juga mempengaruhi beberapa organ tubuh.
Misalnya padasystem kardiovaskuler,gangguan sirkulasi darah perifer, system
respirasi,
menurunkan pergerakan paru untuk mengambil oksigen dari udara (ekspansi paru)
dan berakibat pada menurunnya asupan oksigen ke tubuh Lindgren et al, 2004)

Etiologi
Pengaruh fisiologi
1.

Perubahan metabolismeEtiologi : imobilisasi mengganggu fungsi metabolik


normal, antara lain lajumetabolik; metabolik karbohidrat, lemak dan protein;
ketidakseimbangancairan dan elektrolit; ketidakseimbangan kalsium; dan
gangguan pencernaan.2.

Perubahan sistem respiratoriEtiologi: klien pasca operasi dan imobilisasi beresiko


tinggi mengalamikomplikasi paru-paru.3.

Perubahan sistem kardiovaskulerAda tiga perubahan utama, yaitu :

Hipotensi ortostatikAdalah penurunan tekanan darah , terjadi penurunan sirkulasi


volumecairan, pengumpulan darah pada ekstremitas bawah, dan penurunan
responotonom.

Beban kerja jantungJika beban jantung meningkat maka komsusi oksigen juga
meningkat. Jikaimobilisasi meningkat maka curah jantung menurun, penuruna
efisiensi jantung yang lebih lanjut dan meningkat beban kerja.

TrombusAdalah akumulasi trombosit, fibrin, faktor-faktor pembekuan darah,


danelemen sel-sel darah yang menempel pada dingding bagian anterior
venaatau arteri, kad ang-kadang menutup lumen darah.4.

Perubahan sistem muskuloskeletalEtiologi: pengaruh imobilisasi pada sistem


muskuloskeletal meliputi gangguanmobilisasi permanen. Keterbatasan mobilisasi
mempengaruhi otot klienmelalui kehilangan daya tahan, penurunan massa otot,
dan gangguanmetabolisme kalsium dan gangguan mobilisasi sendi

Pengaruh ototAkibat pemecahan protein, klien mengalami kehilangan masa tubuh,


yangmembentuk sebagian otot.

Pengaruh skeletImobilisasi menyebabkan perubahan terhadap


skelet:gangguanmetabolisme kalsium dan kelainan sendi.5.

Perubahan sistem integumenEtiologi: dekubitus adalah salah satu penyakit


iatrogenik paling umum
dalam perawatan kesehatan dimana perpengaruh terhadap populasi klien khususla
nsia dan imobilisasi.6.

Perubahan eliminasi urineEtiologi: eliminasi urine klien berubah oleh adanya


imobilisasi akibatkontraksi peristaltik ureter yang tidak cukup kuat melawan gaya
gravitasi, pelvis, ginjal menjadi terisi sebelum urine masuk ke dalam ureter.
Kondisi inidisebut status urine dan meningkatkan resiko infeksi saluran
perkemihan dan butu ginjal.

4
b.

Pengaruh psikososialEtiologi: imobilisasi menyebabkan respon emosional,


intelektual, sensori, dansosiokultural. Perubahan status emosional biasa terjadi
bertahap. Bagaimanapunlansia lebih rentan terhadap perubahan-perubahan
tersebut. Perubahan emosional paling umum adalah depresi,
perubahan perilaku, perubahan siklus tidur, bangun,dan gangguan koping.
3.

Patofisiologi
Mobilisasi sangat dipengaruhi oleh sistem neuromuskular, meliputi sistem
otot,skeletal, sendi, ligament, tendon, kartilago, dan saraf. Otot Skeletal mengatur
gerakantulang karena adanya kemampuan otot berkontraksi dan relaksasi yang
bekerjasebagai sistem pengungkit. Ada dua tipe kontraksi otot: isotonik dan
isometrik. Padakontraksi isotonik, peningkatan tekanan otot menyebabkan otot
memendek. Kontraksiisometrik menyebabkan peningkatan tekanan otot atau kerja
otot tetapi tidak ada pemendekan atau gerakan aktif dari otot, misalnya,
menganjurkan klien untuk latihankuadrisep. Gerakan volunter adalah kombinasi
dari kontraksi isotonik dan isometrik.Meskipun kontraksi isometrik tidak
menyebabkan otot memendek, namun pemakaianenergi meningkat. Perawat harus
mengenal adanya peningkatan energi (peningkatankecepatan pernafasan, fluktuasi
irama jantung, tekanan darah) karena latihanisometrik. Hal ini menjadi kontra
indikasi pada klien yang sakit (infark miokard atau penyakit
obstruksi paru kronik). Postur dan Gerakan Otot merefleksikan kepribadiandan
suasana hati seseorang dan tergantung pada ukuran skeletal dan
perkembanganotot skeletal. Koordinasi dan pengaturan dari kelompok otot
tergantung dari tonus ototdan aktifitas dari otot yang berlawanan, sinergis, dan
otot yang melawan gravitasi.Tonus otot adalah suatu keadaan tegangan otot yang
seimbang.

Ketegangan dapat dipertahankan dengan adanya kontraksi dan relaksasi


yang bergantian melalui kerja otot. Tonus otot mempertahankan posisi fungsional
tubuhdan mendukung kembalinya aliran darah ke jantung.

Immobilisasi menyebabkan aktifitas dan tonus otot menjadi berkurang.


Skeletaladalah rangka pendukung tubuh dan terdiri dari empat tipe tulang:
panjang,
pendek, pipih, dan ireguler (tidak beraturan). Sistem skeletal berfungsi dalam perg
erakan,melindungi organ vital, membantu mengatur keseimbangan kalsium,
berperan dalam pembentukan sel darah merah.Sendi adalah hubungan di antara
tulang, diklasifikasikan menjadi:
da kaki bawah (tibia dan fibula) .
d.

Sendi sinovial atau sendi yang sebenarnya adalah sendi yang dapat
digerakkansecara bebas dimana permukaan tulang yang berdekatan dilapisi oleh
kartilagoartikular dan dihubungkan oleh ligamen oleh membran sinovial. Contoh:
sendi putar seperti sendi pangkal paha (hip) dan sendi engsel seperti sendi interfal
ang pada jari.

e.

Ligamen adalah ikatan jaringan fibrosa yang berwarna putih, mengkilat,


fleksibelmengikat sendi menjadi satu sama lain dan menghubungkan tulang dan
kartilago.Ligamen itu elastis dan membantu fleksibilitas sendi dan memiliki
fungsi protektif. Misalnya, ligamen antara vertebra, ligamen non elastis, dan
ligamentumflavum mencegah kerusakan spinal kord (tulang belakang) saat
punggung bergerak.

f.

Tendon adalah jaringan ikat fibrosa berwarna putih, mengkilat,


yangmenghubungkan otot dengan tulang. Tendon itu kuat, fleksibel, dan tidak
elastis,serta mempunyai panjang dan ketebalan yang bervariasi, misalnya
tendonakhiles/kalkaneus.

g.

Kartilago adalah jaringan penghubung pendukung yang tidak


mempunyaivaskuler, terutama berada disendi dan toraks, trakhea, laring, hidung,
dan telinga.Bayi mempunyai sejumlah besar kartilago temporer. Kartilago
permanen tidakmengalami osifikasi kecuali pada usia lanjut dan penyakit, seperti
osteoarthritis.

h.

Sistem saraf mengatur pergerakan dan postur tubuh. Area motorik


volunteerutama, berada di konteks serebral, yaitu di girus prasentral atau jalur
motorik.

i.

Propriosepsi adalah sensasi yang dicapai melalui stimulasi dari bagian


tubuhtertentu dan aktifitas otot. Proprioseptor memonitor aktifitas otot dan posisi
tubuh secara berkesinambungan. Misalnya proprioseptor pada telapak kaki
berkontribusiuntuk memberi postur yang benar ketika berdiri atau berjalan. Saat
berdiri,
ada penekanan pada telapak kaki secara terus menerus. Proprioseptor memonitorte
kanan, melanjutkan informasi ini sampai memutuskan untuk mengubah posisi.
5.

Tanda dan Gejala


a.

Perubahan Metabolisme. Secara umum imobilitas dapat mengganggu


metabolismesecara normal, mengingat imobilitas dapat menyebabkan turunnya
kecepatanmetabolisme dalam tubuh. b.

Ketidakseimbangan Cairan dan Elektrolit. Terjadinya ketidakseimbangan


cairandan elektrolit sebagai dampak dari imobilitas akan mengakibatkan
persediaan protein menurun dan konsenstrasi protein serum berkurang sehingga d
apatmengganggu kebutuhan cairan tubuh. Berkurangnya perpindahan cairan
dariintravaskular ke interstitial dapat menyebabkan edema, sehingga
terjadiketidakseimbangan cairan dan elektrolit.c.

Gangguan Pengubahan Zat Gizi. Terjadinya gangguan zat gizi yang


disebabkanoleh menurunnya pemasukan protein dan kalori dapat mengakibatkan
pengubahanzat-zat makanan pada tingkat sel menurun, dan tidak bisa
melaksanakan aktivitasmetabolisme,d.

Gangguan Fungsi Gastrointestinal. Imobilitas dapat menyebabkan


gangguanfungsi gastrointestinal, karena imobilitas dapat menurunkan hasil
makanan yangdicerna dan dapat menyebabkan gangguan proses eliminasi.e.

Perubahan Sistem Pernapasan. Imobilitas menyebabkan terjadinya


perubahansistem pernapasan. Akibat imobilitas, kadar hemoglobin menurun,
ekspansi parumenurun, dan terjadinya lemah otot,f.

Perubahan Kardiovaskular. Perubahan sistem kardiovaskular akibat


imobilitas,yaitu berupa hipotensi ortostatik, meningkatnya kerja jantung, dan
terjadinya pembentukan trombus.g.

Perubahan Sistem Muskuloskeletal. Gangguan Muskular : menurunnya


massa ototsebagai dampak imobilitas dapat menyebabkan turunnya kekuatan otot
secaralangsung.- Gangguan Skeletal : adanya imobilitas juga dapat
menyebabkangangguan skeletal, misalnya akan mudah terjadi kontraktur sendi
danosteoporosis.h.

Perubahan Sistem Integumen Perubahan sistem integumen yang terjadi


berupa penurunan elastisitas kulit karena menurunnya sirkulasi darah akibat
imobilitas.i.

Perubahan Eliminasi Perubahan dalam eliminasi misalnya dalam


penurunan jumlah urine. j.
Perubahan Perilaku Perubahan perilaku sebagai akibat imobilitas, antara
laintimbulnya rasa bermusuhan, bingung, cemas, dan sebagainya.
6.

Klasifikasi
Menurut Mubarak (2008) secara umum ada beberapa macam keadaanimobilitas
antara lain :

a.

Imobilitas fisik : kondisi ketika seseorang mengalami keterbatasan fisik


yangdisebabkan oleh faktor lingkungan maupun kondisi orang tersebut. b.

Imobilitas intelektual : kondisi ini dapat disebabkan oleh kurangnya


pengetahuanuntuk dapat berfungsi sebagaimana mestinya, misalnya pada kasus
kerusakan otakc.

Imobilitas emosional : kondisi ini bisa terjadi akibat proses pembedahan


ataukehilangan seseorang yang dicintaid.

Imobilitas sosial : kondisi ini bisa menyebabkan perubahan interaksi sosial


yangsering terjadi akibat penyakit.(Mubarak, 2008).

Rentang Gerak dalam mobilisasiDalam mobilisasi terdapat tiga rentang gerak


yaitu :a.

Rentang gerak pasifRentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan
otot-otot
dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya peraw
atmengangkat dan menggerakkan kaki pasien. b.

Rentang gerak aktifHal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi
dengan caramenggunakan otot-ototnya secara aktif misalnya berbaring pasien
menggerakkankakinya.c.

Rentang gerak fungsionalBerguna untuk memperkuat otot-otot dan sendi dengan


melakukan aktifitas yangdiperlukan (Carpenito, 2000).

7.

Komplikasi
a.

Perubahan MetabolikSecara umum imobilitas dapat mengganggu metabolisme


secara normal,mengingat imobilitas dapat menyebabkan turunnya kecepatan
metabolisme dalamtubuh. Immobilisasi menggangu fungsi metabolic normal
antara lain lajumetabolic: metabolisme karbohidarat, lemak, dan protein,
keseimbangan cairandan elektrolit, ketidakseimbangan kalsium, dan gangguan
pencernaan. Keberdaaaninfeksius padaklien immobilisasi meningkatkan BMR
karena adanya demam dan penyembuhanluka yang membutuhkan peningkatan
kebutuhan oksgen selular.Gangguan metabolic yang mungkin terjadi :1)

Defisensi kalori dan proterin merupakan karakteristik


klienyangmengalamianoreksia sekunder akibat mobilisasi. Immobilisasi
menyebabkanasam aminotidak digunakan dan akan diekskresikan. Pemcahan
asasm amino akanterusterjadi dan menghasilkan nitrogen sehingga akumulasinya
kanmenyebbakankeseimbangan nitrogen negative , kehilangan berat badan ,
penurnanmassaotot, dan kelemahan akibat katabolisme jarinagn. Kehilangan
masaotottertutama pada hati,jantung,paru-paru, saluran pencernaan, dan
imunitas.2)

Ekskresi kalssium dalam urin ditngkatkan melalui resorpsi tulang. Hal


initerjadikarena immobilisasi menyebabkan kerja ginjal yang
menyebabkanhiperkalsemia.3)

Gangguan nutrisi (hipoalbuminemia) Imobilisasi akan mempengaruhi


systemmetabolik dan endokrin yang akibatnya akan terjadi perubahan
terhadapmetabolisme zat gizi. Salah satu yang terjadi adalah
perubahanmetabolisme protein. Kadar plasma kortisol lebih tinggi pada usia
lanjut yangimobilisasi sehingga menyebabkan metabolisme menjadi katabolisme.
Keadaantidak beraktifitas dan imobilisasi selama 7 hari akan meningkatkanekskre
sinitrogen urin sehingga terjadi hipoproteinemia.

20
- Makan dan minumsendiri, meminta bantuan bila perlu-Mengosongkan
kandungkemih dan bowelklien untuk berpakaiansendiri- Ganti pakaian klien
setelah personal hygiene, dan pakaikan pada ektremitasyang sakit/ terbatas
terlebihdahulu, Gunakan pakaian
Bantuan perawatan diri :Makan-minum
-Kaji kemampuan klien untukmakan : mengunyah danmenelan makanan-
Fasilitasi alat bantu yg mudahdigunakan klien- Dampingi dan dorong
keluargauntuk membantu klien saatmakan
Bantuan Perawatan Diri:Toileting
- Kaji kemampuan toileting:defisit sensorik(inkontinensia),kognitif(menahan
untuk toileting), fisik(kelemahan fungsi/ aktivitas)-Ciptakan lingkungan
yangaman(tersedia pegangandinding/ bel), nyaman dan jaga privasi selama
toileting-Sediakan alat bantu (pispot,urinal) di tempat yang mudahdijangkau-
Ajarkan pada klien dankeluarga untuk melakukantoileting secara teratur
4.
ImplementasiDilakukan sesuai intervensi5.

Evaluasi
a.

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan Kelemahan umum


21

Klien mampu mengidentifikasi aktifitas dan situasi yang menimbulkankecemasan


yang berkonstribusi pada intoleransi aktifitas.

Klien mampu berpartisipasi dalam aktifitas fisik tanpa disertai peningkatanTD, N,


RR dan perubahan ECG \

Klien mengungkapkan secara verbal, pemahaman tentang kebutuhan


oksigen, pengobatan dan atau alat yang dapat meningkatkan toleransi terhadap
aktifitas.

Klien mampu berpartisipasi dalam perawatan diri tanpa bantuan atau


dengan bantuan minimal tanpa menunjukkan kelelahan b.

Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan


:
Kerusakan sensori persepsi
.

Mampu mandiri total

Membutuhkan alat bantu

Membutuhkan bantuan orang lain

Membutuhkan bantuan orang lain dan alat

Penampilan posisi tubuh yang benar

Pergerakan sendi dan otot

Melakukan perpindahan/ ambulasi : miring kanan-kiri, berjalan, kursi rodac.

Defisit perawatan diri berhubungan denganKerusakan neurovaskulerKlien mampu


:
Melakukan ADL mandiri : mandi, hygiene mulut ,kuku, penis/vulva,
rambut, berpakaian, toileting, makan-minum, ambulasi

Mandi sendiri atau dengan bantuan tanpa kecemasan

Terbebas dari bau badan dan mempertahankan kulit utuh

Mempertahankan kebersihan area perineal dan anus

Berpakaian dan melepaskan pakaian sendiri

Makan dan minum sendiri, meminta bantuan bila perlu

Mengosongkan kandung kemih dan bowel


DAFTAR PUSTAKA
A
. Aziz Alimul
(
2005
), Pengantar Ilmu Keperawatan Anak I. Jakarta : Salemba Medika.Brunner, L dan
Suddarth, D. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medical
Bedah(H.Kencana,A.Hartono, M. Ester, Y.Asih, Terjemah). (Ed.8) Vol 1. Jakarta
: EGCDangoes, E, Marilyn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Editor
EsterMonika,Yasmin. Jakarta : EGC
Mubarak, Wahit Iqbal. (2008). Buku
Ajar Kebutuhan Dasar Manusia Teori Dan. AplikasiDalam Praktik. Jakarta
:
EGC Nanda. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan. Jakarta : Prima Medika

22
Pearce, C. Evelyn. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedic. Jakarta :
PT.GramediaPustaka Utama.Potter, P.A dan Perry,A,G. (2005). Buku Ajar
Fundalmental Keperawatan Konsep, Prosesdan Praktik. Edisi 4 Volume 1. Jakarta
: EGC.
Susan J. Garrison, (2004
), Dasar-dasar Terapi dan Latihan Fisik
.
Jakarta : EGCTarwoto & Wartonah, 2003. Kebutuhan Dasar Manusia & Proses
Keperawatan. JakartaSalemba Medika.Tarwoto dan Wartonah, 2004. Kebutuhan
Dasar Manusia dan Proses Keperawatan EdisiPertama. Jakarta : Salemba Medika

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN


IMOBILITAS
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mobilitas adalah pergerakan yang memberikan kebebasan dan kemandirian bagi seseorang.
Imobilitas didefinisikan secara luas sebagai tingkat aktivitas yang kurang dari mobilitas normal.
Imobilitas dan intoleran aktivitas sering sekali terjadi pada lansia. Sebagian besar lansia mengalami
imobilitas dengan bermacam-macam penyebab.
Studi-studi tentang insidensi diagnosis keperawatan yang digunakan untuk lansia mengungkapkan
bahwa hambatan mobilitas fisik adalah diagnosis pertama atau kedua yang paling sering muncul.
Prevalensi dari masalah ini meluas di luar institusi sampai melibatkan seluruh lansia.
Awitan imobilitas atau intoleran aktivitas pada sebagian besar orang tidak terjadi secara tiba-tiba.
Awitannya bertahap dari mobilitas penuh sampai ketergantungan fisik total atau ketidak aktifan,
tetapi berkembang secara perlahan dan tanpa disadari.
Seorang perawat harus memberikan intervensi yang tepat agar dapat menghambat terjadinya
ketergantungan fisik total. Intervensi yang diarahkan pada pencegahan kearah konsekuensi-
konsekuensi imobilitas dan ketidak aktifan dapat menurunkan kecepatan penurunannya.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana asuhan keperawatan pada lansia yang mengalami imobilitas?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui, memahami dan mampu memberikan asuhan keperawatan pada lansia yang
mengalami imobilitas
1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengetahui dan mampu menjelaskan definisi imobilitas.


2. Mengetahui dan mampu menjelaskan kembali faktor penyebab dan karakteristik imobilitas
pada lansia.
3. Mengetahui dan mampu menjelaskan dampak imobilitas pada lansia.
4. Megetahui dan mampu menjelaskan pencegahan imobilitas yang terjadi pada lansia.

1.4 Manfaat
Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat memberi informasi bagi mahasiswa keperawatan dan
dapat menjadi bekal dalam memberikan asuhan keperawatan khususnya dalam keperawatan
gerontik.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Imobilisasi adalah suatu keadaan dimana penderita harus istirahat di tempat tidur,tidak bergerak
secara aktif akibat berbagai penyakit atau gangguan pada alat/organ tubuh yang bersifat fisik atau
mental. Dapat juga diartikan sebagai suatu keadaan tidak bergerak / tirah baring yang terus –
menerus selama 5 hari atau lebih akibat perubahan fungsi fisiologis (Bimoariotejo, 2009).
Immobility (imobilisasi) adalah keadaan tidak bergerak/ tirah baring (bed rest) selama 3 hari atau
lebih (Adi, 2005). Suatu keadaan keterbatasan kemampuan pergerakan fisik secara mandiri yang
dialami seseorang (Pusva, 2009).
Didalam praktek medis imobilisasi digunakan untuk menggambarkan suatu sindrom degenerasi
fisiologis akibat dari menurunnya aktivitas dan ketidakberdayaan.

2.2 Epidemiologi
Immobilisasi lama bisa terjadi pada semua orang tetapi kebanyakan terjadi pada orang – orang
lanjut usia (lansia), pasca operasi yang membutuhkan tirah baring lama. Dampak imobilisasi lama
terutama dekubitus mencapai 11% dan terjadi dalam kurun waktu 2 minggu, perawatan emboli
paru berkisar 0,9%,dimana tiap 200.000 orang meninggal tiap tahunnya.

2.3 Batasan karakteristik

1. Ketidakmampuan untuk bergerak dengan tujuan di dalam lingkungan, termasuk mobilitas


di tempat tidur, berpindah dan ambulasi.
2. Keengganan untuk melakukan pergerakan.
3. Keterbatasan rentang gerak.
4. Penurunan kekuatan, pengendalian, atau masa otot.
5. Mengalami pembatasan pergerakan, termasuk protokol-protokol mekanis dan medis.
6. Gangguan koordinasi.

2.4 Faktor Risiko


Berbagai faktor fisik, psikologis, dan lingkungan dapat menyebabkan imobilisasi pada usia lanjut,
seperti pada tabel berikut:
Tabel 1. Penyebab Umum Imobilisasi pada Usia Lanjut
Gangguan muskuloskeletal Artritis
Osteoporosis
Fraktur (terutama panggul dan femur)
Problem kaki (bunion, kalus)
Lain-lain (misalnya penyakit paget)
Gangguan neurologis Stroke
parkinson Penyakit
Lain-lain (disfungsi serebelar, neuropati)
Penyakit kardiovaskular Gagal jantung kongensif (berat)
Penyakit jantung koroner (nyeri dada yang sering)
Penyakit vaskular perifer (kardkasio yang sering)
Penyakit paru Penyakit paru obstruksi kronis (berat)
Faktoe sensorik Gangguan penglihatan
Takut (instabilitas dan takut akan jatuh)
Penyebab lingkungan Imobilisasi yang dipaksakan (di rumah sakit atau panti werdha)
Alat bantu mobilitas yang tidak adekuat
Nyeri akut atau kronik
Lain-lain Dekondisi (setelah tirah baring lama metastasis luas pada
keganasan)
Malnutrisi
Penyakit sistemik berat (misalnya metastasis luas pada keganasan)
Depresi
Efek samping obat (misalnya kekuatan yang disebabkan obat
antipsikotik)
2.5 Manifestasi klinis
Dampak fisiologis dari imobilitas, antara lain:
Efek Hasil
 Penurunan konsumsi oksigen  Intoleransi ortostatik
maksimum
 Penurunan fungsi ventrikel kiri  Peningkatan denyut jantung, sinkop
 Penurunan volume sekuncup  Penurunan kapasitas kebugaran
 Perlambatan fungsi usus  Konstipasi
 Pengurangan miksi  Penurunan evakuasi kandung kemih
 Gangguan tidur  Bermimpi pada siang hari, halusinasi

Tabel 2. Efek Imobilisasi pada Berbagai Sistem Organ


Organ / Sistem Perubahan yang Terjadi Akibat Imobilisasi
Muskuloskeletal Osteoporosis, penurunan massa tulang, hilangnya kekuatan
otot, penurunan area potong lintang otot, kontraktor,
degenerasi rawan sendi, ankilosis, peningkatan tekanan
intraartikular, berkurangnya volume sendi
Kardiopulmonal dan pembuluh Peningkatan denyut nadi istirahat, penurunan perfusi
darah miokard, intoleran terhadap ortostatik, penurunan ambilan
oksigen maksimal (VO2 max), deconditioning jantung,
penurunan volume plasma, perubahan uji fungsi paru,
atelektasis paru, pneumonia, peningkatan stasis vena,
peningkatan agresi trombosit, dan hiperkoagulasi
Integumen Peningkatan risiko ulkus dekubitus dan laserasi kulit
Metabolik dan endokrin Keseimbangan nitrogen negatif, hiperkalsiuria, natriuresis dan
deplesi natrium, resistensi insulin (intoleransi glukosa),
hiperlipidemia, serta penurunan absorpsi dan metabolisme
vitamin/mineral
Neurologi dan psikiatri Depresi dan psikosis, atrofi korteks motorik dan sensorik,
gangguan keseimbangan, penurunan fungsi kognitif,
neuromuskular yang tidak efisien
Traktus gastrointestinal dan Inkontinensia urin dan alvi, infeksi saluran kemih,
urinarius pembentukan batu kalsium, pengosongan kandung kemih
yang tidak sempurna dan distensi kandung kemih, impaksi
feses dan konstipasi, penurunan motilitas usus, refluks
esofagus, aspirasi saluran napas dan peningkatan risiko
perdarahan gastrointestinal

2.6 Komplikasi
Imobilisasi dapat menyebabkan proses degenerasi yang terjadi pada hampir semua sistem organ
sebagai akibat berubahnya tekanan gravitasi dan berkurangnya fungsi motorik.

2.7 Prognosis
Prognosis tergantung pada penyakit yang mendasari imobilisasi dan komplikasi yang
ditimbulkannya. Perlu dipahami, imobilisasi dapat memberat penyakit dasarnya bila tidak ditangani
sedini mungkin, bahkan dapat sampai menimbulkan kematian

2.8 Terapi
Tatalaksana Umum

1. Kerjasama tim medis interdisiplin dengan partisipasi pasien, keluarga, dan pramuwerdha.
2. Edukasi pada pasien dan keluarga mengenai bahaya tirah baring lama, pentingnya latihan
bertahap dan ambulasi dini, serta mencegah ketergantungan pasien dengan melakukan
aktivitas kehidupan sehari-hari sendiri, semampu pasien.
3. Dilakukan pengkajian geriatri paripurna, perumusan target fungsional, dan pembuatan
rencana terapi yang mencakup pula perkiraan waktu yang diperlukan untuk mencapai
target terapi.
4. Temu dan kenali tatalaksana infeksi, malnutrisi, anemia, gangguan cairan dan elektrolit
yang mungkin terjadi pada kasus imobilisasi, serta penyakit/ kondisi penyetara lainnya.
5. Evaluasi seluruh obat-obatan yang dikonsumsi; obat-obatan yang dapat menyebabkan
kelemahan atau kelelahan harus diturunkan dosisnya atau dihentkan bila memungkinkan.
6. Berikan nutrisi yang adekuat, asupan cairan dan makanan yang mengandung serat, serta
suplementasi vitamin dan mineral.
7. Program latihan dan remobilisasi dimulai ketika kestabilan kondisi medis terjadi meliputi
latihan mobilitas di tempat tidur, latihan gerak sendi (pasif, aktif, dan aktif dengan
bantuan), latihan penguat otot-otot (isotonik, isometrik, isokinetik), latihan
koordinasi/keseimbangan, dan ambulasi terbatas.
8. Bila diperlukan, sediakan dan ajarkan cara penggunaan alat-alat bantu berdiri dan
ambulasi.
9. Manajemen miksi dan defekasi, termasuk penggunaan komod atau toilet.

Tatalaksana Khusus

1. Tatalaksana faktor risiko imobilisasi (lihat tabel 1).


2. Tatalaksana komplikasi akibat imobilisasi.
3. Pada keadaan-keadaan khusus, konsultasikan kondisi medik kepada dokter spesialis yang
kompeten.
4. Lakukan remobilisasi segera dan bertahap pada pasien–pasien yang mengalami sakit atau
dirawat di rumah sakit dan panti werdha untuk mobilitas yang adekuat bagi usia lanjut
yang mengalami disabilitas permanen.

2.9 Pencegahan

1. 1. Pencegahan Primer

Pencegahan primer merupakan proses yang berlangsung sepanjang kehidupan dan episodik.
Sebagai suatu proses yang berlangsung sepanjang kehidupan, moblilitas dan aktivitas tergantung
pada fungsi sistem muskuloskeletal, kardiovaskuler, pulmonal. Sebagai suatu proses episodik,
pencegahan primer diarahkan pada pencegahan masalah-masalah yang dapat timbul akibat
imobilitas atau ketidak aktifan.
1.1 Hambatan terhadap latihan
Berbagai hambatan mempengaruhi partisipasi lansia dalam latihan secara teratur. Bahaya-bahaya
interpersonal termasuk isolasi sosial yang terjadi ketika teman-teman dan keluarga telah
meninggal, perilaku gaya hidup tertentu (misalnya merokok dan kebiasaan diet yang buruk),
depresi, gangguan tidur, kurangnya transportasi dan kurangnya dukungan. Hambatan lingkungan
termasuk kurangnya tempat yang aman untuk latihan dan kondisi iklim yang tidak mendukung.
1.2 Pengembangan program latihan
Program latihan yang sukses sangat individual, diseimbangkan, dan mengalami peningkatan.
Program tersebut disusun untuk memberikan kesempatan pada klien untuk mengembangkan suatu
kebiasaan yang teratur dalam melakukan bentuk aktif dari rekreasi santai yang dapat memberikan
efek latihan. Ketika klien telah memiliki evaluasi fisik secara seksama, pengkajian tentang faktor-
faktor pengganggu berikut ini akan membantu untuk memastikan keterikatan dan meningkatkan
pengalaman:

 Aktivitas sat ini dan respon fisiologis denyut nadi sebelum, selama dan setelah aktivitas
diberikan).
 Kecenderungan alami (predisposisi atau peningkatan kearah latihan khusus).
 Kesulitan yang dirasakan.
 Tujuan dan pentingnya latihan yang dirasakan.
 Efisiensi latihan untuk diri sendiri (derajat keyakinan bahwa seseorang akan berhasil).

1.3 Keamanan
Ketika program latihan spesifik telah diformulasikan dan diterima oleh klien, instruksi tentang
latihan yang aman harus dilakukan. Mengajarkan klien untuk mengenali tanda-tanda intoleransi
atau latihan yang terlalu keras sama pentingnya dengan memilih aktivitas yang tepat.

1. 2. Pencegahan Sekunder

Spiral menurun yang terjadi akibat eksaserbasi akut dari imobilitas dapat dikurangi atau dicegah
dengan intervensi keperawatan. Keberhasilan intervensi berasal dari suatu pengertian tentang
berbagai faktor yang menyebabkan atau turut berperan terhadap imobilitas dan penuaan.
Pencegahan sekunder memfokuskan pada pemeliharaan fungsi dan pencegahan komplikasi.
Diagnosis keperawatan yang dihubungkan dengan pencegahan sekunder adalah gangguan
mobilitas fisik.

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian

1. Pemeriksaan fungsi motorik

 Pemeriksaan kekuatan otot

Pemeriksaan kekuatan otot dapat dilakukan dengan menggunakan pengujian otot secara manual
(manual muscle testing MMT). Pemeriksaan ini ditujukan untuk mengetahui kemampuan
mengontraksikan kelompok otot secara volunter.

 Prosedur pelaksanaan MMT:

1. Lansia diposisikan sedemikan rupa sehingga otot mudah berkontraksi sesuai dengan
kekuatannya.
2. Bagian tubuh yang dites harus terbebas dari pakaian.
3. Berikan penjelasan dan contoh gerakan yang harus dilakukan.
4. Lansia mengkontraksikan ototnya dan stabilisasi diberikan pada segmen proksimal.
5. Selama terjadi kontraksi, gerakan yang terjadi diobservasi, baik palpasi pada tendon atau
perut otot.
6. Memberikan tahanan pada otot yang bergerak dengan luas gerak sendi penuh.
7. Melakukan pencatatan hasil MMT.

Kriteria hasil pemeriksaan MMT:

1. Normal (5): mampu bergerak dengan luas gerak sendi penuh, melawan gravitasi dan
melawan tahan maksimal.
2. Good (4): mampu bergerak dengan luas gerak sendi penuh melawan gravitasi dan
melawan tahanan sedang (moderat).
3. Fair (3): mampu bergerak dengan luas gerak sendi penuh dan melawan gravitasi tanpa
tahanan.
4. Poor (2): mampu bergerak dengan luas gerak sendi penuh tanpa melawan gravitasi.
5. Trace (1): tidak ada gerakan sendi, tetapi kontraksi otot dapat dipalpasi.
6. Zero (0): kontraksi otot tidak terdeteksi dengan palpasi.

1. Pemeriksaan tonus otot

Tonus otot adalah ketegangan minimal suatu otot dalam keadaan istirahat. Dapat diperiksa dengan
beberapa cara yaitu dengan palpasi, gerakan pasien dan vibrasi.
1. Pemeriksaan luas gerak sendi

Luas gerak sendi (LGS) merupakan luas gerak sendi yang dapat dilakukan oleh suatu sendi. Tujuan
pemeriksaan LGS adalah untuk mengetahui besarnya LGS suatu sendi dan membandingkannya
dengan LGS sendi yang normal, membantu diagnosis dan menentukan fungsi sendi.
Pengukuran LGS menggunakan Goniometer:

1. Posisi awal posisi anatomi, yaitu tubuh tegak, lengan lurus di samping tubuh, lengan
bawah dan tangan menghadap bawah.
2. Sendi yang di ukur harus terbuka.
3. Berikan penjelasan dan contoh gerakan.
4. Berikan gerakan pasif 2 atau 3 kali.
5. Berikan stabilisasi pada segmen bagian proksimal.
6. Tentukan aksis gerakan baik secara aktif/pasif.
7. Letakkan tangkai goniometer yang statik paralel dengan aksis longitudinal.
8. Pastikan aksis goniometer tepat pada aksis gerakan sendi.
9. Baca dan catat hasil pemeriksaan LGS.

1. Pemeriksaan postur

Pemeriksaan postur di lakukan dengan cara inspeksi pada posisi berdiri. Pada posisi tersebut postur
yang baik/normal dapat terlihat dengan jelas. Dari samping, tampak telinga, akromium, trunk,
trokanter mayor, patela bagian posterior dan maleolus lateralis ada dalam satu garis lurus.

1. Pemeriksaan kemampuan fungsional

Ada beberapa sistem penilaian yang dikembangkan dalam pemeriksaan kemampuan fungsional.

1. Indeks ADL Barthel

NO FUNGSI SKOR KETERANGAN


1 Mengendalikan rangsang 0 Tak terkendali/tak teratur (perlu pencahar).
pembuangan tinja 1 Kadang-kadang tak terkendali (1x
2 seminggu).
Terkendali teratur.
2 Mengendalikan rangsang berkemih 0 Tak terkendali atau pakai kateter
1 Kadang-kadang tak terkendali (hanya 1x/24
2 jam)
Mandiri
3 Membersihkan diri (seka muka, sisir 0 Butuh pertolongan orang lain
rambut, sikat gigi) 1 Mandiri
4 Penggunaan jamban, masuk dan 0 Tergantung pertolongan orang lain
keluar (melepaskan, memakai 1 Perlu pertolonganpada beberapa kegiatan
celana, membersihkan, menyiram) 2 tetapi dapat mengerjakan sendiri beberapa
kegiatan yang lain.
Mandiri
5 Makan 0 Tidak mampu
1 Perlu ditolong memotong makanan
2 Mandiri
6 Berubah sikap dari berbaring ke 0 Tidak mampu
duduk 1 Perlu banyak bantuan untuk bias duduk
2 Bantuan minimal 1 orang.
3 Mandiri
7 Berpindah/ berjalan 0 Tidak mampu
1 Bisa (pindah) dengan kursi roda.
2 Berjalan dengan bantuan 1 orang.
3 Mandiri
8 Memakai baju 0 Tergantung orang lain
1 Sebagian dibantu (mis: memakai baju)
2 Mandiri.
9 Naik turun tangga 0 Tidak mampu
1 Butuh pertolongan
2 Mandiri
10 Mandi 0 Tergantung orang lain
1 Mandiri

TOTAL SKOR
Skor BAI :
20 : Mandiri
12-19 : Ketergantungan ringan
9-11 : Ketergantungan sedang
5-8 : Ketergantungan berat
0-4 : Ketergantungan total

1. Indeks Katz

Mengukur kemampuan mobilisasi dengan menggunakan 6 kegiatan: makan, kontinensia,


menggunakan pakaian, pergi ke toilet, berpindah dan mandi. Termasuk kategori yang mana:

1. Mandiri dalam makan, kontinensia (BAB, BAK), menggunakan pakaian, pergi ke toilet,
berpindah, dan mandi.
2. Mandiri semuanya kecuali salah satu dari fungsi diatas.
3. Mandiri, kecuali mandi, dan satu lagi fungsi yang lain.
4. Mandiri, kecuali mandi, berpakaian dan satu lagi fungsi yang lain.
5. Mandiri, kecuali mandi, berpakaian, ke toilet, dan satu lagi fungsi yang lain.

1. Mandiri, kecuali mandi, berpakaian, ke toilet, berpindah dan satu fungsi yang lain.
2. Ketergantungan untuk semua fungsi diatas.

Keterangan:
Mandiri: berarti tanpa pengawasan, pengarahan, atau bantuan aktif dari orang lain. Seseorang
yang menolak melakukan suatu fungsi dianggap tidak melakukan fungsi, meskipun dianggap
mampu.

1. Indeks kenny-self care

Skala ini mengukur kemampuan perawatan diri yang meliputi 6 kategori:

1. Tidur dan istirahat


2. Berpindah
3. Bergerak
4. Berpakaian
5. Personal hygiene
6. Makan

Dalam memenuhi kebutuhan fungsional ini diperlukan hal-hal yang mencakup kemampuan fisik,
motivasi, bimbingan dan kemauan untuk belajar. Skala ini dilakukan untuk mengukur kemampuan
fungsional lansia yang dilakukan dalam lingkungan yang tertutup, terlindungi atau dalam
pengawasan perawat home care atau rumah sakit. Penilaian ini tidak termasuk aktifitas diluar
rumah seperti berjalan ke kendaraan, menggunakan alat transportasi umum, dan bekerja seperti
mengangkat beban.

1. Indeks ADL

PENGKAJIAN B1-B6

1. B1 (Breath): Sekret susah keluar, Sesak nafas.

Indikasi kemunduran respirasi dibuktikan dari tanda dan gejala atelektasis dan pneumonia. Tanda-
tanda awal meliputi peningkatan temperatur dan denyut jantung. Perubahan-perubahan dalam
pergerakan dada, perkusi, bunyi napas, dan gas arteri mengindikasikan adanya perluasan dan
beratnya kondisi yang terjadi.

1. B2 (Blood): Pusing atau pingsan bila mencoba untuk berdiri (tegak), dan mudah lelah.

Tanda dan gejala B1 (kardiovaskuler tidak memberikan bukti langsung atau meyakinkan tentang
perkembangan komplikasi imobilitas. Hanya sedikit petunjuk diagnostik yang dapat diandalkan
pada pembentukan trombosis. Tanda-tanda tromboflebitis meliputi eritema, edema, nyeri tekan
dan tanda homans positif. Intoleransi ortostatik dapat menunjukkan suatu gerakan untuk berdiri
tegak seperti gejala peningkatan denyut jantung, penurunan tekanan darah, pucat, tremor tangan,
berkeringat, kesulitan dalam mengikuti perintah dan sinkop

1. B3 (Brain): Daya hantar saraf menurun, koordinasi terganggu, aktivitas terganggu.


2. B4 (Bladder): Adanya sisa urine karena posisi baring pasien ini tidak dapat mengosongkan
kandung kemih secara sempurna. Adanya Infeksi Saluran Kemih (ISK) karena keadaan
stagnasi urine maupun karena batu saluran kencing. Serta terjadi batu saluran kencing
karena faktor osteoporosis dan diet yang tinggi kalsium maka mengakibatkan
hiperkalsiuria.

Bukti dari perubahan-perubahan fungsi urinaria termasuk tanda-tanda fisik berupa berkemih sedikit
dan sering, distensi abdomen bagian bawah, dan batas kandung kemih yang dapat diraba. Gejala-
gejala kesulitan miksi termasuk pernyataan ketidakmampuan untuk berkemih dan tekanan atau
nyeri pada abdomen bagian bawah

1. B5 (Bowel): Konstipasi karena tirah baring yang lama.

Sensasi subjektif dari konstipasi termasuk rasa tidak nyaman pada abdomen bagian bawah, rasa
penuh, dan tekanan. Pengosongan rectum yang tidak sempurna, anoreksia, mual gelisah, depresi
mental, iritabilitas, kelemahan, dan sakit kepala

1. B6 (Bone): Nyeri pada tulang dan sendi, kaku/susah digerakkan, nyeri leher, arthritis
pasca trauma, osteoporosis.

3.2 Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan mobilisasi b.d penurunan kekuatan dan ketahanan otot

Definisi: Keadaan dimana seorang individu mengalami atau beresiko mengalami keterbatasan
gerakan fisik, tetapi bukan imobilisasi.
Kriteria hasil: Individu menunjukkan peningkatan kekuatan dan fungsi sendi serta tungkai yang
sakit. Memperlihatkan penggunaam alat-alat yang adaptif untuk meningkatkan mobilitas.
Kriteria Mayor:

1. Penurunan kemampuan untuk bergerak dengan sengaja dalam lingkungan (misal:


mobilitas di tempat tidur, berpindah, ambulasi).
2. Keterbatasan rentang gerak.

Kriteria Minor:

1. Pembatasan pergerakan yang dipaksakan.


2. Enggan untuk bergerak.

No. Intervensi Rasional


1. Ajarkan untuk melakukan latihan rentang 1. Latihan rentang gerak sangat membantu
gerak aktif pada anggota gerak yang sehat lansia untuk mandiri dan meminimalkan
sedikitnya empat kali sehari. risiko cidera.

1. Lakukan latihan rentang gerak


pasif pada anggota gerak yang
sakit. Lakukan dengan perlahan,
sangga ekstremitas di bagian
atas dan bawah sendi.
2. Secara bertahap lakukan latihan
rentang gerak aktif untuk
aktivitas fungsional.

Amati dan ajarkan penggunaan alat bantu


mobilisasi misal: kruk, walker, kursi roda,
2.
dsb.
1. Penggunaan alat bantu yang tepat dapat
memaksimalkan mobilisasi untuk aktivitas
Dorong partisipasi aktivitas sehari-hari. fungsional.
3.

1. Meningkatkan harga diri, meningkatkan


rasa kontrol dan kemandirian.

1. Intoleran aktivitas b.d nyeri sendi

Definisi: Penurunan dalam kapasitas fisiologis seseorang untuk melakukan aktivitas sampai tingkat
yang diinginkan atau yang dibutuhkan.
Kriteria hasil: Berpartisipasi dalam kegiatan sehari-hari sesuai tingkat kemampuan. TTV dalam
batas normal.
Kriteria Mayor:

1. Selama aktifitas: kelemahan, pusing, dispnea.


2. 3 menit setelah aktivitas: pusing, dispnea, keletihan akibat aktivitas, RR ≥ 24, Nadi ≥ 95

Kriteria Minor:

1. Pucat/cyanosis
2. Konfusi
3. Vertigo
No. Intervensi Rasional
1. Observasi laporan kelemahan, perhatikan 1. Nyeri yang dirasakan dapat membatasi
ketidakmampuan untuk berpartisipai aktivitas sehari-hari.
dalam aktivitas sehari-hari.

Berikan lingkungan tenang dan periode


2. istirahat tanpa gangguan. Dorong istirahat
sebelum makan.
1. Menghemat energi untuk aktivitas dan
regenerasi selular.
Implementasikan teknik penghematan
energi, contoh: lebih baik duduk daripada
3. berdiri, penggunaan kursi untuk mandi.
Bantu aktivitas lain sesuai indikasi.

1. Memaksimalkan sediaan energi untuk


tugas perawatan diri.

1. Resiko cedera fisik b.d penurunan fungsi tubuh

Definisi: Keadaan dimana seorang individu beresiko untuk mendapat bahaya karena defisit
perceptual atau fisiologis, kurangnya kesadaran tentang bahaya, atau usia lanjut.
Kriteria hasil: Individu dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang meningkatkan kemungkinan
terhadap cidera. Mengungkapkan suatu keinginan untuk melakukan tindakan pengamanan
sehingga mencegah cidera.

No. Intervensi Rasional


1. Orientasikan klien dengan ruangan yang 1. Menghindari terjadinya disorientasi
baru disekelilingnya. tempat.

Gunakan lampu dimalam hari, anjurkan


2. individu untuk meminta bantuan dimalam
hari.
1. Penerangan yang efektif membantu
lansia mengenali benda disekitarnya
Pertahankan tempat tidur pada. posisi
sehingga mengurangi risiko cidera.
3. terendah dimalam hari.

Ajarkan penggunaan kruk, tongkat, walker


4. prostese dengan tepat.
1. Menghindari risiko jatuh dari tempat
tidur.

1. Mengurangi cidera iatrogenic.

1. Konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas usus sekunder terhadap tirah baring
yang lama

Definisi: Keadaan dimana individu mengalami stasis usus besar, yang mengakibatkan eliminasi
jarang dan/keras, feses kering.

Kriteria hasil:
1. Individu akan menunjukkan eliminasi yang membaik
1. Dapat menjelaskan rasional dari intervensi

Kriteria Mayor:

1. Feses keras dan berbentuk


2. Defekasi < 3 kali seminggu

Kriteria Minor:

1. Penurunan bising usus


2. Mengeluh rektal penuh
3. Merasakan tekanan pada rectum
4. Nyeri saat defekasi

No. Intervensi Rasional


1. Ajarkan pentingnya diet seimbang. 1. Diet yang tinggi serat dapat
mempermudah pengeluaran feses.

Dorong masukan harian sedikitnya 2 liter


2. cairan (8-10 gelas) kec.dikontraindikasikan.
1. Memperlancar BAB.
Anjurkan minum air hangat 30 menit
sebelum sarapan pagi.
3.

Bantu individu untuk posisi semi jongkok.

4. 1. Cairan ini dapat bertindak sebagai


stimulus untuk evakuasi usus.
Berikan health education untuk mencegah
tekanan rektal yang menyebabkan
hemoroid.
5.
1. Posisi ini memungkinkan penggunaan
optimal otot abdomen dan efek gravitasi
kuat.

1. Memberikan informasi yang adekuat,


mencegah komplikasi lebih lanjut.

1. Sindrom defisit perawatan diri berhubungan dengan imobilisasi sekunder terhadap IMA.

Definisi: Keadaan dimana individu mengalami kerusakan fungsi motorik atau fungsi kognitif, yang
menyebabkan penurunan kemampuan untuk melakukan masing-masing dari kelima aktivitas
perawatan diri.
Kriteria hasil:

1. Individu dapat mengidentifikasi kesukaan akan aktivitas perawatan diri. (mis: waktu,
lokasi, produk)
2. Berpartisipasi secara fisik dan/atau verbal dalam aktivitas pemberian makanan,
mengenakan pakaian, ke kamar mandi, mandi.
Kriteria Mayor:

1. Kurangnya kemampuan untuk makan sendiri.


1. Tidak dapat memotong makanan
2. Tidak dapat membawa makanan ke mulut
3. Kurangnya kemampuan untuk mandi sendiri (termasuk membasuh seluruh
anggota tubuh, menyisir rambut, menggosok gigi, melakukan perawatan
terhadap kulit, dan kuku serta menggunkan rias wajah).

No. Intervensi Rasional


1. Kaji faktor penyebab sindrom defisit 1. Dengan mengetahui penyebab dari
perawatan diri. sindrom maka masalah lebih mudah
di atasi.

2. Tingkatkan partisipasi optimal.

1. Mengjarkan klien untuk mandiri.


3. Tingkatkan harga diri dan kemampuan
diri.

1. Agar klien memiliki rasa percaya diri


untuk bersosialisasi dengan
4. Beri dorongan untuk mengekspresikan lingkungannya.
perasaan tentang kurang perawatan diri.

Evaluasi kemampuan untuk berpartisipasi


5. dalam setiap tindakan perawatan diri.

1. Agar klien dapat termotivasi.

1. Untuk mengetahui perkembangan


kemampuan klien.

1. Resiko infeksi saluran kemih berhubungan dengan stagnasi urine dan batu saluran
empedu.

Definisi: Keadaan dimana seorang individu beresiko terserang oleh agen patogenik atau
oportunistik (bakteri, jamur, protozoa, parasit lain) dari sumber-sumber eksternal, sumber-sumber
endogen/eksogen.
Kriteria Hasil:

1. Memperlihatkan pengetahuan tentang faktor resiko yang berkaitan dengan infeksi.


2. Melakukan tindakan pencegahan yang tepat untuk mencegah infeksi.

No. Intervensi Rasional


1. Evaluasi semua hasil pemeriksaan 1. Mengetahui tingkat infeksi klien.
laboratorium yang abnormal, khususnya
kultur/sensitifitas, JDL.
Kaji tanda/gejala abnormal pada klien
2. sesuai prosedur urologis.
1. Sebagai tanda peringatan dini
Pantau suhu klien paling sedikit setiap 24 terjadinya infeksi.
3. untuk mengetahui peningkatan dan
laporkan pada dokter jika lebih dari 37,8°
C.

Berikan cairan bila diperlukan. 1. Mengetahui perubahan suhu klien,


4. apabila suhu klien tinggi maka
infeksinya sudah parah.
Kaji kembali kebutuhan kateter urine
5. indwelling setiap hari.

1. Mengganti cairan yg kluar melalui


Berikan antibiotik.
kringat dan urine.
6.

1. Menyesuaikan dengan kondisi klien,


apabila terjadi infeksi maka sebaiknya
penggunaan kateter di ganti setiap
hari.

1. Mengurangi inflamasi.

7. Nutrisi kurang dari kebutuhan b.d penurunan absorbsi vitamin dan mineral sekunder akibat
imobilitas
Definisi: Suatu keadaan dimana individu yang tidak puasa mengalami atau yang beresiko
mengalami penurunan berat badan yang berhubungan dengan masukan yang tidak adekuat atau
metabolisme nutrient yang tidak adekuat untuk kebutuhan metabolik.
Kriteria hasil: Individu akan

1. Meningkatkan masukan oral seperti yang ditunjukkan oleh perawat.


2. Menjelaskan faktor-faktor penyebab apabila diketahui.
3. Menjelaskan rasional dan prosedur pengobatan.

Kriteria Mayor:
Individu yang tidak puasa melaporkan atau mengalami masukan makanan tidak adekuat, kurang
dari yang dianjurkan dengan atau tanpa penurunan berat badan atau kebutuhan-kebutuhan
metabolik aktual atau potensial dalam masukan yang berlebihan.
Kriteria Minor:

1. Berat badan 10% sampai 20% atau lebih dibawah berat badan ideal untuk tinggi dan
kerangka tubuh.
2. Lipatan kulit trisep, lingkar lengan tengah, dan lingkar otot pertengahan tengah kurang
dari 60% standart pengukuran.
3. Kelemahan otot dan nyeri tekan.
4. Peka rangsang mental dan kekacauan mental.
1. Penurunan albumin serum.
2. Penurunan transferin serum atau penurunan kapasitas ikatan besi.

No. Intervensi Rasional


1. Buat pilihan menu yang ada dan ijinkan 1. Klien yang meningkat rasa percaya
klien untuk mengontrol pilihan sebanyak dirinya dan merasa mengontrol
mungkin. lingkungan lebih suka mnyediakan
makanan untuk makan.

2. Berikan makan sedikit dan makanan kecil


tambahan yang tepat.
1. Dilatasi gaster dapat terjadi bila
pemberian makanan terlalu cepat
Berikan makanan yang mudah dicerna
setelah periode puasa.
3. misal: bubur, jus buah-buahan, sereal.

Sadari pilihan-pilihan makanan rendah


kalori/minuman, menimbun makanan, 1. Makanan yang lembut memudahkan
4. membuang makanan dalam berbagai lansia untuk menelan dan menurunkan
tempat seperti saku atau kantung kerja usus.
pembuangan.

1. Klien akan mencoba menghindari


mengambil makanan bila tampak
mengandung banyak kalori dan mau
makan lama untuk menghindari makan.

8. Keletihan b.d defisit nutrisional dan penurunan metabolisme nutrient sekunder akibat mual
muntah
Definisi: Keadaan pengenalan diri dimana seorang individu mengalami perasaan kecapaian yang
berlebihan terus-menerus dan penurunan kapasitas kerja fisik dan kerja mental yang tidak dapat
dihilangkan dengan istirahat.

Kriteria hasil: individu akan

1. Mendiskusikan sebab-sebab kelelahan.


2. Mengungkapkan perasaan mengenai efek dari keletihan.
3. Menetapkan prioritas untuk aktifitas sehari-hari.
4. Ikut serta dalam aktifitas disekitarnya.

Kriteria Mayor:

1. Mengungkapkan tentang kekurangan energy yang tak kunjung habis dan berlebihan.
2. Ketidakmampuan untuk mempertahankan rutinitas biasa.

Kriteria Minor:

1. Meningkatnya keluhan fisik.


2. Secara emosional labil dan mudah tersinggung.
3. Kerusakan kemampuan untuk berkonsentrasi.
4. Penurunan kinerja.
5. Letargi atau tidak bergairah.
No. Intervensi Rasional
1. Evaluasi laporan kelelahan, kesulitan 1. Menentukan derajat
menyelesaikan tugas, perhatikan (berlanjut/perbaikan) dari efek ketidak
kemampuan tidur/istirahat dengan tepat. mampuan.

Kaji kemampuan untuk berpartisipasi


2. pada aktivitas yang
diinginkan/dibutuhkan.
1. Mengkaji kebutuhan individual dan
Rencanakan periode istirahat yang lebih
menentukan intervensi.
3. adekuat.

Identifikasi faktor stress/psikologis yang


4. dapat memperberat. 1. Mencegah kelelahan berlebihan dan
menyimpan energi untuk penyembuhan,
regenerasi jaringan.
Berikan bantuan dalam aktifitas sehari-
hari dan tingkatkan tingkat partisipasi
5. klien sesuai kemampuannya.

1. Mungkin memiliki efek akumulatif


(sepanjang faktor psikologis) yang
dapat diatasi bila masalah diketahui.

1. Meningkatkan rasa aman, meningkatkan


percaya diri dan membatasi frustasi
akibat ketidakmampuan.

9. Resiko aspirasi b.d refluk isi lambung sekunder akibat pengosongan lambung yang tidak
sempurna.
Definisi: Keadaan dimana individu beresiko terhadap pemasukan sekresi, benda padat, atau cairan
ke dalam saluran trakeobronkial.
Kriteria hasil: Individu tidak mengalami aspirasi, mengungkapkan tindakan untuk mencegah
aspirasi.

No. Intervensi Rasional


1. Minimalkan posisi tidur terlentang, 1. Posisi terlentang sangat rentan terjadi
ubah posisi miring kanan/kiri atau tersedak.
tengkurap dalam jangka waktu
tertentu.

Hindari makan/minum dengan posisi


2. tidur terlentang, berikan posisi semi
fowler.
1. Posisi terlentang sangat rentan terjadi
Batasi makan/minum sebelum tidur,
tersedak.
minimal 2 jam sebelum tidur.
3.

1. Makan banyak sebelum tidur


memungkinkan terjadinya refluks makanan
dari lambung.

BAB 4
PENUTUP

Simpulan
Imobilisasi adalah suatu keadaan dimana penderita harus istirahat di tempat tidur, tidak bergerak
secara aktif akibat berbagai penyakit atau gangguan pada alat/organ tubuh (impaitment) yang
bersifat fisik atau mental. Dapat juga diartikan sebagai suatu keadaan tidak bergerak/tirah baring
yang terus – menerus selama 5 hari atau lebih akibat perubahan fungsi fisiologis (Bimoariotejo,
2009).
Berbagai masalah sering dihadapi lansia diantaranya pusing atau pingsan mencoba untuk berdiri
(tegak), adanya sisa urine karena posisi baring pasien ini tidak dapat mengosongkan kandung
kemih secara sempurna, adanya Infeksi Saluran Kemih (ISK) karena keadaan stagnasi urine
maupun karena batu saluran kencing, konstipasi karena tirah baring lama, nyeri pada tulang dan
sendi, kaku/susah digerakkan, nyeri leher, arthritis pasca trauma, osteoporosis. Upaya-upaya
rehabilitasi untuk memaksimalkan mobilitas bagi lansia melibatkan upaya multidisiplin yang terdiri
dari perawat, dokter, ahli fisioterapi, dan terapi okupasi, seorang ahli gizi, aktivitas sosial, dan
keluarga serta teman-teman.

Saran
Keperawatan gerontik berkembang sejalan dengan globalisasi kesehatan, dimana sistem kesehatan
memandang pentingnya pelayanan kesehatan yang berbasis komunitas, peran perawat dalam
pelayanan keperawatan menyebar mulai dari individu sampai masyarakat dan diberbagai tatanan
pelayanan. Seorang perawat harus bisa memberikan intervensi yang tepat agar dapat menghambat
terjadinya ketergantungan fisik total pada lansia yang mengalami imobilisasi fisik. Intervensi yang
diarahkan pada pencegahan kearah konsekuensi-konsekuensi imobilitas dan ketidak aktifan dapat
menurunkan kecepatan penurunannya.

Pengertian Mobilisasi
Mobilisasi adalah suatu kondisi dimana tubuh dapat melakukan kegiatan dengan
bebas ( Kosier, 1989).
Mobilisasi dini adalah kebijaksanaan untuk sekelas mungkin membimbing
penderita keluar dari tempat tidurnya dan membimbingnya sekelas mungkin berjalan
(Soelaiman, 1993).
Mobilisasi dini merupakan suatu aspek yang terpenting pada fungsi fisiologis
karena hal itu esensial untuk mempertahankan kemandirian (Carpenito, 2000).

Tujuan Mobilisasi
1. Untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia
2. Untuk mencegah terjadinya trauma
3. Untuk mempertahankan tingkat kesehatan
4. Untuk mempertahankan interaksi social dan peran sehari – hari
5. Untuk mencegah hilangnya kemampuan fungsi tubuh

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Mobilisasi


1. Gaya
Gaya hidup seseorang tergantung dari tingkat pendidikannya. Makin tinggi tingkat
pendidikan seseorang akan di ikuti oleh perilaku yang dapat meningkatkan
kesehatannya. Demikian halnya dengan pengetahuan kesehatan tentang mobilitas
seseorang akan senantiasa melakukan mobilisasi dengan cara yang sehat misalnya;
seorang ABRI akan berjalan dengan gaya berbeda dengan seorang pramugari atau
seorang pemabuk.
2. Proses penyakit dan injuri
Adanya penyakit tertentu yang diderita seseorang akan
mempengaruhi mobilitasnya misalnya; seorang yang patah tulang akan kesulitan
untuk mobilisasi secara bebas. Demikian pula orang yang baru menjalani operasi.
Karena adanya nyeri mereka cenderung untuk bergerak lebih lamban. Ada kalanya
klien harus istirahat di tempat tidur karena menderita penyakit tertentu misalnya;
CVA yang berakibat kelumpuhan, typoid dan penyakit kardiovaskuler.
3. Kebudayaan
Kebudayaan dapat mempengaruhi pola dan sikap dalam melakukan aktifitas
misalnya; seorang anak desa yang biasa jalan kaki setiap hari akan berbeda
mobilitasnya dengan anak kota yang biasa pakai mobil dalam segala keperluannya.
Wanita kraton akan berbeda mobilitasnya dibandingkan dengan seorang wanita
madura dan sebagainya.
4. Tingkat energi
Setiap orang mobilisasi jelas memerlukan tenaga atau energi, orang yang lagi
sakit akan berbeda mobilitasnya di bandingkan dengan orang sehat apalagi dengan
seorang pelari.
5. Usia dan status perkembangan
Seorang anak akan berbeda tingkat kemampuan mobilitasnya dibandingkan
dengan seorang remaja. Anak yang selalu sakit salam masa pertumbuhannya akan
berbeda pula tingkat kelincahannya dibandingkan dengan anak yang sering sakit.
6. Tipe persendian dan pergerakan sendi
Dalam sistem musculoskeletal dikenal 2 macam persendian yaitu sendi yang dapat
digerakkan (diartrosis) dan sendi yang tidak dapat digerakkan (sinartrosis).