Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN AKUNTANSI FORENSIK

ANALISIS KASUS FRAUD


(PROYEK HAMBALANG)

Disusun oleh :

KELOMPOK 6
Nama : 1. Zainal Abidin (12030117420103)

2. Sitti Hadijah (12030117420086)

3. Tri Wahyu H. (12030117420075)

Magister : Akuntansi B

Fakultas : Ekonomika dan Bisnis

UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG


Jl. Hayam Wuruk No. 5 Telp. ( 024 ) 8452274, 8452273 Semarang 50241

Website : http://www.maksi.feb.undip.ac.id

Email : maksi@undip.ac.id

Tahun Akademik 2018


DAFTAR ISI

Daftar Isi .....................................................................................................................1


Kata Pengantar . ............................................................................................................2
BAB I Pendahuluan ....................................................................................................3
1.1. Latar Belakang ................................................................................................3
1.2. Rumusan Masalah ...........................................................................................3
BAB II Analisa dan Pembahasan ..................................................................................4
2.1 Analisa Kasus Hambalang............................................................................4
2.2 Pembahasan ..................................................................................................4
2.2.1 Fraud Principles ...............................................................................8
2.2.1.1 Segitiga Fraud ....................................................................8
2.2.1.2 Profil Pelaku Fraud ..........................................................10
2.2.2 Skema Fraud ..................................................................................11
2.2.1.1 Karakteristik Kategori Skema ..........................................11
2.2.1.2 Skema Korupsi .................................................................12
2.2.3 Red Flags ........................................................................................14
2.2.3.1 Red Flags Umum..............................................................14
2.2.3.2 Red Flags Khusus .............................................................16
2.2.4 Penilaian Risiko Fraud ...................................................................16
2.2.4.1 Faktor Lingkungan Perusahaan ........................................16
2.2.4.2 Faktor Internal ..................................................................17
2.2.4.3 Faktor Kecurangan ...........................................................17
2.2.4.4 Fraud Schemes Checklist .................................................17
2.2.5 Pencegahan Fraud ..........................................................................18
2.2.5.1 Lingkungan Pencegahan...................................................19
2.2.5.2 Persepsi Deteksi ...............................................................21
2.2.5.3 Pendekatan Klasik ............................................................22
2.2.5.4 Ukuran Pencegahan Lainnya ............................................23
BAB III Kesimpulan dan Saran ..................................................................................27
BAB IV Daftar Pustaka ..............................................................................................28

1
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, karunia, dan
anugerah-Nya kepada kita semua. Sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan mata
kuliah Akuntansi Forensik ini dengan tepat waktu. Shalawat serta salam juga tidak lupa
tercurah kepada Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya.

Laporan ini akan membahas salah satu pokok bahasan dalam akuntansi forensik
yaitu kasus proyek Hambalang. Tujuan laporan ini disusun adalah mahasiswa mampu
mendeskripsikan kasus fraud, mampu menjelaskan motif terjadinya kejahatan, mampu
mengidentifikasi pelaku kejahatan, mampu mengidentifikasi kerugian yang muncul, dan
mampu mendesain metode pencegahan fraud.

Kami sebagai penyusun memohan maaf apabila dalam penyusunan laporan ini
terdapat kesalahan. Kami juga menyadari bahwa laporan ini masih terdapat kekurangan.
Oleh karena itu, kami membuka saran dan kritiknya dari berbagai pihak demi
sempurnanya laporan ini. Kami sangat menghargai saran dan kritik yang dapat
membangun dalam penyusunan buku laporan untuk selanjutnya yang lebih baik. Semoga
laporan ini bermanfaat bagi semua pihak dan dapat berguna di kemudian hari. Atas
perhatian dan masukannya kami ucapkan terima kasih.

Semarang,06 Mei 2018

PENYUSUN

2
BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam menganalisa kasus Hambalang, perlu mengidentifikasi terlebih dahulu jenis
fraud tersebut. Kemudian menentukan red flags yang ada untukdapat diketahui secara
efektif, sehingga terjadinya fraud dapat diminimalisir. Dalam kasus Hambalang, skema
yang terjadi adalah skema korupsi. Korupsi terus bergulir dan berkembang yang menjadi
permasalahan kompleks di Indonesia. Karena dampak yang ditimbulkan dapat
memperburuk kondisi perekonomian negara yang berimbas pada kesejahteraan
masyarakat. Image mengenai pelaku korupsi atau disebut koruptor justru sangat melekat
di tubuh pejabat pemerintahan. Karena beberapa kasus korupsi kerap terjadi di Indonesia
terbukti dilakukan oleh para wakil rakyat.
Proyek wisma atlet Sea Games 2011 kini menjadi sorotan publik, karena wisma
tersebut dibangun dengan tujuan sebagai sekolah olahraga nasional para atlet dalam
menyambut ajang Sea Games di Indonesia. Namun pembangunan tersendat karena
adanya penyelewengan dana pembangunan proyek oleh beberapa pihak. Dalam hal ini
KPK telah menetapkan empat orang tersangka yang menjadi dalang tindak pidana
korupsi dari proyek senilai Rp 191,6 Miliar.
1.2. Rumusan Masalah
 Bagaimana motif terjadinya kasus Hambalang ?
 Bagaimana mengidentifikasi pelaku korupsi kasus Hambalang ?
 Bagaimana mengidentifikasi kerugian pada kasus Hambalang ?
 Bagaimana red flags dari kasus Hambalang ?
 Bagaimana pencegahannya ?

3
BAB II
ANALISA DAN PEMBAHASAN

2.1. Analisa Kasus Hambalang

Proyek Hambalang awalnya bernama Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah


Olahraga Nasional Hambalang yang dicetuskan oleh Direktorat Jenderal Kementerian
Pendidikan Nasional pada tahun 2004. Namun namanya berubah menjadi Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Prestasi Olahraga Nasional di tahun 2007 setelah
ditangani Kemenpora.
Menurut Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Mallarangeng dalam
Republika (2012) menjelaskan tujuan dilaksanakannya proyek hambalang adalah atas
dasar keinginan untuk meningkatkan prestasi olahraga di Indonesia terus dilakukan
berbagai sarana dan prasarana pun dibangun untuk membina atlet-atlet elit maupun
komunitas sekolah olahraga di tingkat nasional.
Proyek Hambalang diawali pembangunan fisik berupa masjid, asrama,
infrastruktur, turap lapangan sepak bola dan pagar dimulai pada 2006. Lanjutan
pembangunan Pusat Pendidikan, Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON)
mulai dilaksanakan tahun 2010. Adanya perubahan masterplan yang telah
disempurnakan ini pun membuat anggaran proyek Hambalang membengkak dari Rp 125
miliar menjadi Rp 1,175 triliun. Berdasarkan penyelidikan KPK tahun 2012 anggaran
proyek Hambalang sudah membengkak menjadi Rp 2,5 triliun.
Menurut Sekretaris Kemenpora, Yuli Mumpuni dalam Republika(2012)
menjelaskan bahwa membengkaknya anggaran proyek Hambalang dikarenakan adanya
perubahan fungsi yang tadinya hanya untuk sekolah olahraga menjadi sarana untuk
pembinaan dan latihan atlet Indonesia ke depan. Adapun tambahan venue yang akan
berdiri di kompleks Hambalang antara lain GOR Serbaguna, tennis indoor, basket indoor,
kolam renang, hall angkat besi dan angkat beban, hall senam dan gulat, lapangan latihan
atletik hingga taman parkir.
Sementara itu Koordinator Advokasi dan Investigas Sekretariat Forum Indonesia
Untuk Transparancy (FITRA) Ucok Sky Khadafi dalam Republika (2012), mengatakan
bahwa pihaknya telah memiliki data kerugian bangunan proyek yang rubuh. Nilai
kerugian mencapai Rp 753 miliar dari total nilai proyek senilai Rp 1,2 triliun. Rp 253
miliar untuk pembangunan lanjutan fisik Pusat Pendidikan, Pelatihan dan Sekolah
Olahraga Nasional Hambalang, Bogor, Jawa Barat pada 2010 dan Rp 500 miliar pada

4
2011 untuk pengadaan sarana olahraga pendidikan, pelatihan dan sekolah olahraga
nasional Hambalang.Menurut Ucok, kerugian itu merupakan uang negara yang sudah
dikeluarkan sejauh ini dalam membangun Hambalang.
Nazaruddin dalam kompas.com mengatakan bahwa ada aliran dana dari proyek
Hambalang ke Anas. Menurut Nazaruddin dalam Kongres Partai Demokrat di Bandung,
Anas membagi-bagikan hampir 7 juta dollar AS kepada sejumlah dewan pimpinan
cabang. Uang 7 juta dollar AS tersebut berasal dari Adhi Karya selaku pelaksana proyek
Hambalang. Selain itu, Nazaruddin juga mengungkapkan bahwa Anas membantu
penyelesaian sertifikat lahan Hambalang yang sejak lama bermasalah. Berkat jasa Anas
melobi Badan Pertanahan Nasional, Joyo Winoto, sertifikat lahan itu selesai diurus.
Berdasarkan penyelidikan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam Jakarta
Rimanews (2012), ditemukan beberapa kejanggalan pada kasus proyek hambalang.
Kejanggalan tersebut antara lain:
1) Peningkatan skala proyek Hambalang dibuat tergesa-gesa melalui Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2010. Pada mulanya,
rencana awal proyek Hambalang hanya bersifat sekolah olahraga nasional yang
anggarannya telah disetujui DPR sebesar Rp 125 miliar di masa Adhyaksa Dault
yang kala itu menjabat sebagai Menpora. Namun proyek tersebut tidak bisa
dilaksanakan karena terkendala oleh masalah kepemilikan lahan, dan oleh
karenanya, anggaran Rp 125 miliar itu pun kala itu tidak bisa dicairkan.
2) Di era Menpora Andi Alfian Malarangeng Proyek Hambalang akhirnya dapat
dilaksanakan, namun dengan memperluas atau merubah rencana proyek yakni
dari rencana semula sebagai sekolah olahraga Nasional diubah menjadi pusat
olahraga Nasional dengan penambahan anggaran dari Rp 125 miliar menjadi Rp
1,2 triliun. Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto mengungkapkan bahwa
proyek Hambalang ini ternyata sudah membengkak menjadi Rp 2,5 triliun. Bukan
lagi Rp 1,2 triliun seperti semula sebagaimana yang selama ini diberitakan.
Bambang menjelaskan, dalam proyek Hambalang, KPK juga menelusuri dua poin
penting. Pertama soal pengadaan barang, dan kedua soal konstruksi. Dari angka
sebesar Rp 2,5 triliun itu, yang paling banyak tersedot untuk pengadaan barang,
besarannya mencapai Rp 1,4 triliun. Sedangkan pengadaan konstruksinya hanya
mencapai Rp 1,1 triliun.
3) Sebagian anggota Komisi Olahraga DPR mengaku tak mengetahui peningkatan
skala proyek Hambalang dari sekolah atlet senilai Rp 125 miliar menjadi pusat
5
olahraga bernilai Rp 1,2 triliun dengan anggaran multi-tahun. Menurut Menteri
Pemuda dan Olahraga (Menpora), Andi Mallarangeng membengkaknya dana
sudah disetujui oleh DPR.
4) Ada pembicaraan soal Hambalang antara Menteri Andi Alfian Mallarangeng dan
terpidana Wisma Atlet M. Nazaruddin, Koordinator Anggaran Komisi Olahraga
Angelina Sondakh, serta Ketua Komisi Olahraga Mahyudin pada 10 Januari
2010. Namun pengakuan Nazarudin ini telah dibantah oleh semua yang hadir
pada pertemuan tersebut.
5) Lahan Hambalang yang labil dipaksakan menopang proyek besar. Menurut
Koordinator Advokasi dan Investigasi Fitra, Uchok Sky Khadafi dalam Republika
(2012) mengatakan bahwa berdasarkan hasil audit BPK 2009 seharusnya
pembangunan dilakukan di Sentul, tetapi entah mengapa pembangunan tersebut
justru dipindahkan ke Hambalang.
6) Pengurusan sertifikat melibatkan Anas Urbaningrum yang kala itu menjabat
sebagai Ketua Fraksi Demokrat meminta anggota Komisi Pemerintahan Ignatius
Mulyono, yang dekat dengan Kepala BPN Joyo Winoto. Hasilnya, dalam waktu
kurang dari sebulan, sertifikat selesai padahal surat tanah ini tidak selesai diurus
sejak 2004.
7) Diduga ada kolusi dalam subkontrak pemegang proyek PT Adhi Karya dengan
PT Dutasari Citralaras karena PT Dutasari Citralaras dimiliki kader Demokrat
Munadi Herlambang, Atthiyah Laila (istri Anas), dan orang dekat Anas, Machfud
Suroso. KPK meragukan PT Dutasari Ciptalaras memiliki kemampuan menjadi
subkontraktor PT Adhi Karya dalam menggarap proyek pembangunan komplek
olahraga terpadu di Hambalang Bogor, Jawa Barat. Nilai proyek yang mencapai
lebih dari Rp 1,5 triliun seharusnya disubkontrakkan kepada perusahaan yang
memiliki kemampuan dan keahlian khusus.
8) Adhi Karya mensubkontrakkan sebagian pekerjaan ke Dutasari untuk pekerjaan
yang bukan keahlian Dutasari, sehingga Dutasari mensubkannya lagi ke PT
Bestindo Aquatek Sejahtera yang mendapatkan proyek pengolahan air limbah
domestik di lahan Hambalang dari tender yang digelar oleh PT Dutasari
Citralaras. Dan PT. Kurnia Mutu, yang menyuplai pipa tembaga untuk pendingin
ruangan di kompleks Hambalang.

6
9) Nazar beberapa kali menyatakan ada fee Rp 100 miliar dari Adhi Karya yang
mengalir ke DPR dan untuk membiayai pemenangan Anas sebagai Ketua Umum
Demokrat di Kongres Bandung.
10) Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) telah menyerahkan
10 Laporan Hasil Analisis (LHA) proyek Hambalang kepada KPK. Dari 10 LHA
tersebut, PPATK banyak mencatat transaksi mencurigakan yang terjadi dalam
proyek tersebut. Bahkan dari data terakhir PPATK menemukan 23 transaksi
mencurigakan dalam 10 LHA tersebut.
Menurut peneliti ICW, Febri Diansyah, kejanggalan lainnya apabila ditinjau dari
aspek profesionalitas dunia konstruksi adalah diduga adanya kualitas spesifikasi
konstruksi bangunan di bawah standar. Hal ini terjadi karena pengerjaan proyek
Hambalang yang dikerjakan oleh KSO PT. Adhi Karya dan PT. Wijaya Karya,
disubkontrakkan hingga beberapa lapis. Subkontraktor diketahui mencapai 17
perusahaan, termasuk PT Dutasari Citralaras yang mensubkan lagi ke PT Bestido dan PT
Kurnia Mutu. Pensubkontrakan berlapis ini akan mengakibatkan inefisiensi dan
menyulitkan dalam koordinasi pekerjaan. Serta diragukan bahwa standar prosedur dan
hasil kerja yang ditetapkan oleh kontraktor utama akan sampai pada subkontraktor pada
lapis paling bawah.
Owner untuk pekerjaan proyek pemerintah hanya berhubungan dengan kontraktor
utama. Yang ada, mungkin adalah “subkontraktor titipan” (yang tidak dikenal secara
legal). Semua subkontraktor yang bekerja dibawah kendali kontraktor utama adalah
spesialis di bidangnya. Jadi sebenarnya hanya sedikit yang dikerjakan langsung oleh
kontraktor utama. Tetapi kontraktor utama tetap bertanggung jawab penuh kepada owner
atas semua pekerjaan, termasuk yang dikerjakan oleh subkontraktor.
Sedangkan pada proyek Hambalang, seorang petugas keamanan proyek Adhi Karya,
Apay, menyatakan PT Dutasari merupakan subkontraktor di Bukit Hambalang. “Dutasari
itu merupakan subkontraktor seluruh proyek Hambalang,“ kata Apay. Mensubkontrakkan
seluruh pekerjaan adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan dalam dunia professional
konstruksi. Hal ini berlaku, baik bagi kontraktor utama maupun subkontraktor. Baik itu
di proyek pemerintah maupun di proyek swasta. Hal ini berkaitan dengan etika
profesionalisme dalam pekerjaan konstruksi. Pihak yang mensubkontrakkan pekerjaan
secara keseluruhan tak ubahnya seperti broker, yang tidak mempunyai keahlian spesifik
di bidangnya.

7
Data tentang PT Dutasari Ciptalaras sendiri susah ditemukan. PT Dutasari Ciptalaras
bergerak di bidang apa juga tidak diketahui. Beberapa rekanan subkontraktor tingkat
nasionalpun tidak memiliki database PT. Dutasari Ciptalaras. PT. Dutasari Ciptalaras pun
tidak memiliki website perusahaan di internet.Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi
Abraham Samad membantah tudingan lembaganya kesulitan menangani kasus dugaan
korupsi proyek pembangunan Pusat Pendidikan, Pelatihan, dan Sekolah Olahraga
Nasional di Bukit Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Menurutnya, pihaknya sekadar
menginginkan bukti-bukti yang dimiliki lengkap, sehingga status penanganan kasus
Hambalang naik ke tingkat penyidikan. Anas Urbaningrum membantah tudingan bahwa
dia terlibat dalam kasus Hambalang. Ia mengatakan hal itu setelah melantik pengurus
Partai Demokrat Aceh. Anas meminta agar kader Demokrat tidak terpengaruh
(Sumber : Koran TEMPO, 2012).
2.1 Pembahasan
2.2.1 Fraud Principles
2.2.1.1 Segitiga Fraud
Kecurangan, pencurian, penyalahgunaan kepercayaan, ketidakwajaran,
kejahatan kerah putih, dan penggelapan adalah istilah yang sering digunakan untuk
mendefinisikan fraud.Untuk mencegah, mendeteksi dan merespon adanya fraud, perlu
memahami mengapa seseorang melakukan fraud.
Dalam fraud dikenal fraud triangle (segitigafraud) yang merupakan tiga faktor
yang kemungkinan dapat menjadi latar belakang terjadinya fraud. Faktor tersebut antara
lain : 1) tekanan/motivasi (pressure); 2) kesempatan (opportunity); dan 3) rasionalisasi
(rationalization).
a. Tekanan atau Dorongan
Tekanan atau dorongan (motivasi) mengacu pada sesuatu yang telah terjadi dalam
kehidupan pribadi seseorang sehingga mengakibatkan orang tersebut memiliki
kebutuhan yang sangat mendesakyang akhirnya mendorong seseorang tersebut untuk
melakukan fraud. Kelangsungan hidup sosial dan politik juga memberikan dorongan
dalam bentuk motif egosentris dan ideologis. Terkadang seseorang melakukan
kecurangan untuk bertahan hidup secara politis atau untuk kekuasaan.
Anas Urbaningrum yang mengikuti pemilihan ketua partai Demokrat
membutuhkan dana yang cukup banyak untuk mengikuti pemilihan tersebut. Selain itu,
Anas juga memiliki keinginan untuk mendapat posisi yang bergengsi sebagai anggota
DPR. Kedua hal tersebut, diduga menjadi motivasi Anas untuk memperoleh uang
8
dengan jumlah yang cukup besar dengan waktu yang cepat. Anas Urbaningrum
menggunakan uang tersebut untuk membayar hotel, sewa mobil para pendukungnya,
membeli handphone BlackBerry, jamuan para tamu, dan untuk hiburan dalam kongres
demokrat.
b. Kesempatan (Opportunity)
Menurut penelitian Cressey, pelaku fraud selalu memiliki pengetahuan dan
kesempatan untuk melakukan kecurangan. Pelaku biasanya memiliki pengetahuan
mengenai kelemahan dari perusahaan dan kesempatan yang diperoleh karena pelaku
berada dalam posisi yang dipercaya. Sehingga ketika motivasi diiringi dengan peluang,
maka potensi terjadinya fraud akan semakin meningkat.
Ide pembangunan Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional
(P3SON) sudah direncanakan sejak zaman Menteri Pemuda dan Olahraga yang dijabat
oleh Adhyaksa Daily, dimana pembangunan sulit terealisasi karena persoalan
sertifikasi tanah. Namun pada saat Menpora dijabat Andi Alfian Malarangeng proyek
hambalang terealisasi. Tender yang dimenangkan oleh PT Adhi Karya dan PT Wijaya
Karya sudah diatur oleh Anas Urbaningrum, Muhammad Nazaruddin, dan Angelina
Sondakh.
Andi Mallarangeng berada dalam posisi yang dipercaya sebagai Menpora, tetapi
terbukti secara sah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dengan
beberapa oknum lain. Andi dengan sengaja telah menyalahgunakan kewenangannya
sebagai Menpora dalam pengurusan proyek Hambalang. Dimana sebagai Menpora,
Andi adalah pengguna anggaran sekaligus pemegang otoritas kekuasaan pengelolaan
keuangan negara serta memiliki kewajiban untuk melakukan pengawasan pelaksanaan
anggaran.
c. Rasionalisasi
Kebanyakan pelaku fraud tidak memiliki catatan kriminal. Bahkan penjahat kerah
putih biasanya memiliki kode etik pribadi. Pelaku membenarkan tindakan yang secara
obyektif bersifat kriminal dengan membenarkan kejahatan mereka dipengaruhi
keadaan mereka.
Anas urbaningrum berusaha membenarkan atas tindakan yang salahdengan
memberikan alasan-alasan yang masuk akal untuk kepentingan partai. Menpora Andi
Mallarangeng telah memberi keleluasaan terhadap adiknya Choel Mallarangeng untuk
berhubungan dengan pejabat Kemenpora. Sehingga Choel ikut terlibat dalam
pengurusan proyek Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olah Raga Nasional
9
(P3SON). Kemudahan akses tersebut seperti adanya keleluasaan bagi Choel untuk
menggunakan ruang kerja Andi di lantai 10 gedung Kemenpora untuk melakukan
pertemuan dengan pejabat Kemenpora dan calon pemenang. Akibatnya, anggaran
proyek Hambalang yang semula Rp 125 miliar terus bertambah. Hingga tahun 2010,
anggaran tersebut meningkat mencapai Rp 275 miliar. Namun, pada akhirnya anggaran
tersebut membengkak drastis menjadi total Rp 2,5 triliun, sehingga negara mendapat
kerugian keuangan negara senilai Rp 464,391 miliar.
2.2.1.2 Profil Pelaku Fraud
Kecurangan disebabkan oleh faktor-faktor eksternal, seperti faktor ekonomi,
persaingan, sosial, politik, dan pengendalian yang buruk. Seseorang yang melakukan
kebohongan, kecurangan, dan pencurian di tempat kerja dalam berbagai situasi
dipengaruhi oleh:
1) Variabel pribadi : keterampilan/kemampuan; sikap/pilihan; kebutuhan/
keinginan pribadi; dan nilai/keyakinan.
2) Variabel organisasional : ruang lingkup pekerjaan; alat/pelatihan disediakan;
sistem penghargaan/pengakuan, dll.
3) Variabel eksternal : tingkat persaingan dalam industri; kondisi ekonomi umum;
nilai-nilai kemasyarakatan (etika pesaing dan model peran sosial dan politik).
Aspek kunci dari pencegahan dan pendektesian fraud adalah dengan memahami
ciri pelaku kecurangan (fraudsters) berdasarkan jenis fraud yang dilakukan. Pelaku
biasanya adalah orang yang sama sekali tidak dicurigai, sehingga menyebabkan fraud
semakin sulit untuk dicegah ataupun dideteksi. Dalam kasus Hambalang, beberapa
pelaku kunci yang terlibat dalam korupsi ini, antara lain :
1) Muhammad Nazarrudin : bendahara umum Partai Demokrat
2) Anas Urbaningrum : Ketua Umum DPP Partai Demokrat
3) Andi Alfian Mallarangeng : Menteri Pemuda dan Olah Raga (MENPORA)
4) Wafid Muharram : Sekretaris MENPORA
5) Deddy Kusdinar : Kepala Biro Keuangan Rumah Tangga Menpora
6) Andi Zulkarnain Mallarangeng : pejabat PT. Adi Karya
Dapat dilihat bahwa beberapa pelaku fraud di atas merupakan individu yang
secara umum, profilnya sesuai dengan hasil penelitian ACFE RTTN dimana para
fraudster tersebut dapat dikategorikan sebagai penjahat kerah putih yang umumnya tidak
memiliki catatan kriminal, berpendidikan tinggi, berpenghasilan tinggi, dan menduduki
jabatan-jabatan pada tingkat puncak. Selain itu, dalam melakukan fraud mereka tidak
10
melakukannya sendiri, tetapi melibatkan banyak pihak yang jika dihubungkan akan
sangat kompleks.
2.2.2 Skema Fraud
ACFE Report to the Nation (RTTN) menyediakan statistik tentang kecurangan
secara berkala sejak tahun 1996. Laporan tersebut menyimpulkan tipe skema kecurangan.
Statistik ini merupakan alat penting untuk memahami dan mempertimbangkan
kecurangan.
2.2.2.1 Karakteristik Kategori Skema
Analisis karakteristik skema fraud dari kasus Hambalang adalah sebagai berikut
:
1. Pelaku Fraud
Dalam skema korupsi, pelaku fraud bisa siapa saja tetapi setidaknya selalu ada
dua pihak yang terlibat. Dalam kasus ini, skema korupsi dilakukan oleh banyak
pihak baik dari pihak eksekutif, legislatif, dan pihak-pihak lain dari perusahaan
yang bekerjasama dalam proyek.
2. Ukuran Kecurangan
Statistik RTTN pada tahun 2008 menunjukkan rata-rata kerugian akibat
kecurangan korupsi adalah $250.000 dan termasuk kategori medium. Namun,
dalam kasus ini kerugian yang terjadi cukup besar karena kerugian yang
ditanggung mencapai Rp 463,67 miliar atau sekitar $35 juta.
3. Frekuensi Kecurangan
Beberapa fraudster terkadang melakukan lebih dari satu jenis kecurangan. Skema
fraud korupsi termasuk kecurangan dengan frekuensi medium, yaitu sebesar 30%.
Namun, untuk kasus ini frekuensinya cukup besar.
4. Motivasi
Kecurangan korupsi sering didorong oleh motif bisnis (ekonomi), seperti skema
suap untuk mendapatkan akses ke pasar yang sulit diakses. Motif politik juga bisa
dikaitkan dengan kecurangan korupsi. Motivasi pihak eksekutif, legislatif, dan
pihak KSO-AW adalah personal pressure dan bisnis. Personal pressure
diantaranya tercermin pada tindakan Anas Urbaningrum yang menggunakan hasil
korupsi untuk memuluskan jalan dalam pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat.
Untuk bisnis terlihat pada tindakan pemberian tidak sah oleh pihak KSO-AW,
yaitu Teuku Bagus Mukhamad Noor (sebagai Kepala Divisi Konstruksi Jakarta

11
I) dan M Arief Taufiqurahman (sebagai Manajer Pemasaran sekaligus
Fasilitator dari Teuku Bagus Mokhamad Noor).
5. Materialitas
Kategori kecurangan berbeda dalam hal materialitas. Korupsi bisa menjadi fraud
dengan kategori material, terutama untuk kecurangan di atas biaya rata-rata
kecurangan korupsi. Namun, bisa juga tidak material tergantung pada ukuran
organisasi. Kecurangan korupsi pada kasus Hambalang termasuk material
dikarenakan mencapai Rp 463,67 miliar atau sekitar $35 juta.
6. Benefactor
Kecurangan korupsi menguntungkan pelaku kecurangan dan diklasifikasikan
sebagai kecurangan orang dalam terhadap organisasi.
7. Ukuran Perusahaan Korban
Ukuran korban pada kasus Hambalang termasuk besar karena kasus ini
merugikan negara dalam jumlah yang besar, serta merugikan banyak pihak.
2.2.2.2 Skema Korupsi
ACFE Fraud Tree mengkategorikan tiga model utama dalam fraud diantaranya
1) korupsi, 2) penyalahgunaan aset dan 3) kecurangan laporan keuangan. Dalam kasus
Hambalang, fraud yang terjadi dikategorikan sebagai skema korupsi. Skema korupsi
terbagi dalam 4 sub kategori yaitukonflik kepentingan, penyuapan, gratifikasi ilegal, dan
pemerasan ekonomi. Penyuapan terdiri tiga kategori mikro :suap (invoice kickbacks),
kecurangan lelang (bid rigging), dan lainnya. Skema korupsi dicirikan oleh seseorang di
dalam (yaitu, karyawan perusahaan korban) yang bekerja sama dengan seseorang dari
luar perusahaan.Kasus Hambalang diidentifikasi sebagai fraud korupsi yang mencakup
beberapa skema, antara lain :
a. Konflik Kepentingan
Konflik kepentingan terjadi ketika karyawan, manajer, atau eksekutif memiliki
kepentingan ekonomi atau pribadi yang dirahasiakan dalam suatu transaksi sehingga
berdampak negatif terhadap perusahaan. Beberapa hal yang terkait dengan konflik
kepentingan dalam kasus ini diuraikan sebagai berikut.
 Mengarahkan secara terus-menerus terkait keputusan (kebijakan/aturan,
pembelian barang/jasa).
- Anas membantu untuk mengurus permasalahan tanah Hambalang di Badan
Pertanahan Nasional.

12
- Anas memerintahkan Ignatius Mulyono selaku anggota Komisi II DPR dari
Partai Demokrat yang mempunyai mitra kerja BPN untuk mengurus
permasalahan Hak Pakai tanah untuk pembangunan proyek Hambalang.
- Ignatius berhasil mengurus SK Hak Pakai atas tanah Kemenpora di
Hambalang, kemudian SK tersebut diserahkan ke Anas di ruangan Ketua
Fraksi Partai Demokrat yang disaksikan Nazaruddin.
- Rahmat Yasin SelakuBupatiBogor yang menerbitkan Site Plan atas
rencanapembangunanP3SON berlokasi di Desa Hambalang, Kecamatan
Citeureup Kabupaten Bogor.
 Membatasi persaingan dengan mengatur proses pra-kualifikasi dan memberikan
informasi penting dan rahasia sehingga walaupun dilakukan tender, akan
dimenangkan oleh pihak yang diinginkan.
- Sesmenpora menetapkan pemenang lelang konstruksi dengan nilai kontrak
di atas Rp 50 miliar tanpa memperoleh pendelegasian dari Menpora
sehingga diduga melanggar Keppres 80 Tahun 2003.
- Menpora diduga membiarkan Sesmenpora melaksanakan wewenang
Menpora tersebut dan tidak melaksanakan pengendalian dan pengawasan
seperti diatur dalam PP 60 Tahun 2008.
- Proses evaluasi pra-kualifikasi dan teknis terhadap penawaran calon
rekanan tidak dilakukan oleh panitia pengadaan, tetapi diatur oleh rekanan
yang direncanakan akan menang.
b. Penyuapan
Penyuapan didefinisikan sebagai menawarkan, memberi, menerima, atau meminta
sesuatu yang berharga untuk mempengaruhi keputusan bisnis/tindakan seseorang.
Skema suap yang terdapat dalam kasus Hambalang tergolong dalam kecurangan lelang
(bid rigging).Kecurangan lelang (bid rigging) adalah kecurangan yang dilakukan
dengan berbagai cara untuk memenangkan penyedia barang/jasa tertentu yang
dilatarbelakangi akan adanya pemberian sesuatu yang bernilai dari penyedia yang
dimenangkan.

 Deddy Kusdinar bersama Wafid bertemu Choel Mallarangeng di Restoran


Jepang Hotel Grand Hyatt, Jakarta. Pada pertemuan itu Choel menyampaikan
bahwa abangnya Andi Mallarangeng, sudah satu tahun menjabat Menpora tapi
belum dapat apa-apa.

13
 Maksud ucapan Choel diperjelas oleh Mohammad Fakhruddin staf khusus
Menpora yang menanyakan ke Wafid tentang kesiapan memberi fee sebesar
18% kepada Choel untuk pekerjaan pembangunan proyek Hambalang.
 Selanjutnya, dilakukan pertemuan di ruangan Menpora yang dihadiri Wafid,
Deddy, Choel, Fakhruddin dan Arief dari PT Adhi Karya.
 Penyuapan proses perubahan anggaran sertifikat tanah.
c. Gratifikasi Ilegal
Gratifikasi ilegal serupa dengan penyuapan, tetapi pada gratifikasi ilegal tidak ada
maksud untuk mempengaruhi keputusan bisnis, misalnya orang yang berpengaruh
dapat diberi hadiah, liburan gratis, dan sebagainya atas pengaruhnya dalam negosiasi
atau kesepakatan bisnis tetapi hadiah itu diberikan setelah kesepakatan selesai.
Dalam kasus ini, Anas menerima gratifikasi berupa mobil Toyota Harrier dari
Nazarrudin. Selain itu, ditetapkannya KSO Adhi-Wika sebagai pemenang proyek
Hambalang, Andi Mallarangeng menerima gratifikasi berupa sejumlah uang sebesar
Rp 4 miliar dan $550.000 melalui adiknya Zulkarnanin Mallarangeng.
2.2.3 Red Flags
Red flags merupakan suatu kondisi/lingkungan yang tidak lazim dari aktivitas
normal biasanya. Red flags sering disebut sinyal untuk diidentiifkasi lebih lanjut. Red
flags bisa terjadi karena adanya motivasi fraud, perilaku dan skema fraud. Meskipun red
flags tidak menentukan adanya fraud, tetapi jangan pernah mengabaikan red flags. Red
flags memiliki sifat yang berbeda-beda dan mencakup hal-hal seperti anomali akuntansi,
transaksi atau peristiwa yang tidak dapat dijelaskan, elemen transaksi yang tidak biasa,
perubahan perilaku seseorang atau karakteristik, atau hanya karakter yang umumnya
terkait dengan kecurangan yang diketahui, terutama skema individu tertentu atau
sekelompok skema. Analisis red flags pada kasus hambalang dijelaskan di bawah ini.
2.2.3.1 Red Flags Umum
Kasus Hambalang tergolong dalam red flags karyawan, terhadap organisasi
untuk kepentingan karyawan. Red flags umum digunakan untuk mengidentifikasi
hubungan seseorang di dalam dengan seseorang di luar. Red Flags umum dalam kasus ini
yang, antara lain :
a) Anomali dalam menyetujui vendor
Pemilihan PT Adhi Karya dan PT Wijaya Karya tidak sesuai prosedur yang
ada yaitu meliputi:

14
- Penggunaan standar penilaian yang berbeda dalam mengevaluasi pra
kualifikasi antara PT Adhi Karya/PT Wijaya Karya dengan rekanan lain
dimana standar untuk PT Adhi Karya/PT Wijaya menggunakan nilai untuk
pekerjaan sebesar Rp 1,2 triliun sedangkan rekanan lain senilai Rp 262
miliar.
- Pengumuman lelang dengan informasi yang tidak benar dan tidak lengkap.
- Penyimpangan dalam penetapan pemenang lelang konstruksi dimana
SesKemenpora melampaui wewenangnya dengan menetapkan pemenang
lelang untuk pekerjaan bernilai diatas Rp 50 miliar tanpa mendapat
pelimpahan wewenang dari Menpora sebagai pejabat yang berwenang
menetapkan.
b) Hubungan antara karyawan kunci dan vendor resmi
Adanya sejumlah pertemuan antara peserta lelang dengan panitia pengadaan
untuk menentukan pemenang lelang.
c) Anomali dalam pencatatan transaksi
- Anggaran untuk proyek hambalang yang semula dianggarkan sebesar Rp
125 miliar kemudian dirubah menjadi Rp 2,5 trilliun.
- Ditetapkannya kontrak tahun jamak (multi-years) pada proyek
Hambalang.
- Izin penetapan lokasi, site plan dan izin mendirikan bangunan oleh
Pemkab Bogor belum disertai adanya studi Analisis Dampak Lingkungan
(AMDAL).
d) Kelemahan Pengecekan Ulang Persetujuan
- Pembiaran terhadap Sekretaris Menpora, yaitu Wafid Muharam
melampaui wewenangnya dalam menandatangani surat permohonan
kontrak tahun jamak (multi-years) terkait proyek Hambalang tanpa
mendapat pendelegasian dari Menpora.
- Pencairan dana proyek Hambalang yang menjadi wewenang Agus selaku
Menteri Keuangan dan Anny Ratnawaty selaku Dirjen Keuangan
dianggap menyalahi aturan karena pengajuan anggaran hanya ditanda
tangani Sekretaris Menpora yang mana seharusnya ditanda tangani oleh 2
pihak yaitu Menteri pengguna anggaran dalam hal ini Menpora dan
Menteri Pekerjaan Umum.

15
2.2.3.2 Red Flags Khusus
Kasus Hambalang tergolong dalam Red Flags dalam skema korupsi. Beberapa
Red flags diketahui untuk masing-masing skema kecurangan utama. Red flag ini berisi
metode identifikasi yang mungkin menonjolkan pola pikir kecurangan fraudster. Red
flags khusus dalam kasus ini, antara lain :
a. Pemisahan tugas yang lemah dalam menentukan kontrak dan menyetujui faktur.
Tidak terlaksananya fungsi kontrol yang baik terhadap staf, bawahan dan fungsi
pengawasan. Andi terbukti menyalahgunakan kewenangannya karena lalai
mengontrol dan mengawasi adiknya Zulkarnaen Mallarangeng dan stafnya yaitu
mantan Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga, Wafid Muharram dan mantan
Kepala Biro Keuangan dan Rumah tangga Kemenpora, Deddy Kusdinar.
b. Transaksi dalam jumlah besar dengan vendor. Membayarkan dana kepada PT
Yodya Karya selaku konsultan Perencana (Rp12,58 miliar), PT Ciriajasa Cipta
Mandiri selaku konsultan manajemen konstruksi (Rp5,85 miliar), KSO Adhi
Karya dan Wijaya Karta sebagai pelaksana jasa kontruksi (Rp453,27 miliar).
2.2.4 Penilaian Risiko Fraud
2.2.4.1 Faktor Lingkungan Perusahaan
Kecurangan, pencurian, dan penggelapan oleh karyawan banyak terjadi di
beberapa industri dan organisasi daripada di perusahaan lain. Hasil statistik The
Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) melalui laporan RTTN tahun 2008
menunjukkan jenis industri yang paling mungkin untuk menyewa Certified Fraud
Examiner (CFE) untuk menyelidiki kecurangan, hasilnya juga menunjukkan industri
lebih rentan terhadap kecurangan. Untuk industri yang lebih rentan terhadap kecurangan,
entitas dalam industri tersebut jelas memiliki risiko kecurangan yang lebih besar yang
merupakan sesuatu yang perlu dipertimbangkan dalam penilaian risiko. Hasil laporan
tahunan KPK tahun 2004 - 2011 :
TPK berdasarkan Instansi :
 DPR RI (11,4%)
 Kementrian/Lembaga (38,7%)
 BUMN/BUMD (9,3%)
 Komisi (8,0%)
 Pemerintah Provinsi (11,4%)
 Pemkab/Pemkot (20,8%)

16
2.2.4.2 Faktor Internal
Faktor internal yang meningkatkan kemungkinan kecurangan, pencurian, dan
penggelapan termasuk kontrol manajemen yang tidak memadai atau kegiatan
pemantauan seperti berikut:
 Gagal menciptakan budaya kejujuran
 Gagal mengartikulasikan dan mengkomunikasikan standar minimum kinerja dan
perilaku pribadi.
 gkat kinerja atau perilaku pribadi berada di bawah standar.
 Ambiguitas dalam pekerjaan, tugas, tanggung jawab, dan akuntabilitas.
 Kurangnya audit, inspeksi, dan tindak lanjut tepat waktu atau periodik untuk
memastikan kepatuhan terhadap tujuan, prioritas, kebijakan, prosedur entitas,
serta peraturan pemerintah.
Faktor-faktor tersebut merupakan faktor internal yang memicu terjadinya fraud
dalam kasus Hambalang.
2.2.4.3 Faktor Kecurangan
Setiap penilaian risiko harus mempertimbangkan skema kecurangan yang
mungkin terjadi untuk memandu program anti kecurangan agar pencegahan dan deteksi
lebih efektif.
Untuk kecurangan laporan keuangan, para eksekutif dari entitas adalah calon
pelaku yang paling mungkin melakukan kecurangan, karenanya penilaian risiko
mencakup orang-orang tersebut. Untuk penyalahgunaan aset, seorang karyawan dalam
posisi yg dipercaya berpotensi pula menjadi pelaku. Begitupun dengan korupsi yang juga
mencakup seseorang di luar entitas yang bekerja dengan seseorang di dalam.
2.2.4.4 Fraud Schemes Checklist
Pendekatan lain untuk penilaian risiko adalah dengan menggunakan taksonomi
yang sesuai skema fraud. Misalnya, ACFE Fraud Tree dapat digunakan untuk
menentukan setidaknya daftar awal skema fraud. Pendekatan ini dapat bekerja dengan
baik.
Tabel 2.1
Fraud Schemes Risk Checklist

Fraud Inherent Control Business


Residual Risk Red Flags
Scheme Risk Assesment Process
Konflik Para pelaku Pemisahan fungsi Pihak yang Pengesahan  Berubahnya
kepentingan rata-rata dan wewenang mengotorisasi proyek dan rencana, lokasi,
menduduki yang jelas transaksi dan pemilihan KSO dan anggaran

17
jabatan yg dengan kontrol pelaksanaan yang awal proyek
tinggi. yang ketat. kegiatan juga ikut menangani Hambalang.
bekerjasama proyek.  Pemilihan KSO
dalam fraud. milik kerabat
dari para
petinggi yg
terlibat dalam
fraud.
Penyuapan Nilai proyek Otorisasi Beberapa Pengurusan izin  Izin tanah yang
yang sangat transaksi dan perusahaan yang dan surat-surat semula sulit
besar. seleksi pemenang mengikuti tender yang terkait diurus, dapat
tender atas merupakan dengan proyek. diselesaikan
proyek dilakukan perusahaan yang dalam waktu
dengan ketat. komisaris dan yang cepat.
pejabat tingginya  Subkontraktor
memiliki berlapis yg
hubungan dengan terlibat dalam
pelaksana proyek. proyek.
Gratifikasi Gaya hidup Inventarisasi dan Tekanan ekonomi Penyelesaian Penambahan harta
Ilegal dan audit terhadap atas pemenuhan permasalahan pribadi milik
kebutuhan aset dan harta kebutuhan yang Hak Pakai fraudster berupa
para pelaku yang dimiliki tinggi dan terus- tanah. aset maupun uang
terbilang pihak-pihak yg menerus dan juga dalam waktu yang
mewah. terlibat dalam tekanan politik. singkat dan
proyek. berdekatan dengan
proses pengesahan
proyek.

2.2.5 Pencegahan Fraud


Kasus korupsi proyek Hambalang merupakan ujian terhadap akuntabilitas
kekuasaan negara. Dari 233 kasus korupsi yang terjadi tahun 2011, 54% di antaranya
terjadi pada pemerintah pusat. Kasusfraud yang terjadi telah banyak melibatkan oknum
baik dijajaran lembaga legislatif, eksekutif bahkan yudikatif. Berdasarkan laporan
tahunan KPK, pada tahun 2011 terdapat 284 kasus yang melibatkan beberapa jabatan
tertentu dimana 17,2% di antaranya adalah anggota DPR & DPRD. Berbagaiusahatelah
dilakukan oleh pemerintah Indonesia baik dengan maksimalisasi pemberdayaan lembaga-
lembaga penegak hukum dan pembentukan KPKuntuk melakukan pemberantasan
korupsi di Indonesia. Namun, sayangnya hasil yang didapatkan masih belum sesuai
dengan harapan karena Indonesia masih menduduki 10 negara terkorup di dunia.
Terjadinya kecurangan yang tidak dapat terdeteksi oleh pengauditan dapat
memberikan efek yang merugikan dan cacat bagi proses pelaporan keuangan. Terlebih
lagi kecurangan tersebut dilakukan oleh oknum-oknum pemerintah yang sulit terdeteksi
karena pelaku biasanya merupakan orang-orang yang dipercaya untuk menjalankan suatu
proyek. Oleh karena itu, perlu adanya tindakan preventif agar kecurangan serupa tidak
terjadi.

18
Tujuan program antifraud adalah untuk mencegah kecurangan, bukan hanya
mendeteksinya. Meskipun mendeteksi kecurangan adalah hal yang penting, akan lebih
baik jika kecurangan dapat dikurangi atau diminimalisir semaksimal mungkin.
Pencegahan kecurangan pada umumnya adalah aktivitas yang dilaksanakan manajemen
dalam hal penetapan kebijakan, sistem dan prosedur yang membantu meyakinkan bahwa
tindakan yang diperlukan sudah dilakukan untuk dapat memberikan keyakinan memadai
dalam mencapai 3tujuan pokok yaitu: keandalan pelaporan keuangan, efektivitas dan
efisiensi operasi serta kepatuhan terhadap hukum & peraturan yang berlaku (COSO:
1992).Untuk itu, kecurangan yang mungkin terjadi harus dicegah antara laindengan cara-
cara berikut:
1) Membangun struktur pengendalian intern yang baik
2) Mengefektifkan aktivitas pengendalian
a) Pengolahan informasi
b) Pengendalian fisik
3) Meningkatkan budaya perusahaan
4) Mengefektifkan fungsi internal audit

Namun, pencegahan saja tidaklah memadai, auditor internal harus memahami


pula bagaimana cara mendeteksi secara dini terjadinya kecurangan-kecurangan yang
timbul. Masing-masingkecurangan memiliki karakteristik tersendiri, sehingga untuk
dapat mendeteksi kecurangan perlu kiranya pemahaman yang baik terhadap jenis-jenis
kecurangan yang mungkin timbul dalam perusahaan.
Setelah proses pencegahan dianggap tidak berhasil, disinilah auditor forensik
berperan dalam mengungkap kecurangan yang ada. Audit forensik banyak diterapkan
ketika KPK mengumpulkan bukti-bukti hukum yang diperlukan untuk menagani kasus-
kasus korupsi yang dilaporkan kepada instansi tersebut.
2.2.5.1 Lingkungan Pencegahan
Kunci keberhasilan pencegahan fraud adalah dengan melihat budaya entitas dan
mencoba mengubahnya jika diperlukan. Beberapa kegiatan dan sikap dapat membantu
dalam mencapai tujuan ini.
a. Struktur Tata Kelola Perusahaan
Penelitian menunjukkan bahwa tata kelola perusahaan yang lemah dikaitkan
dengan semua kecurangan keuangan yang besar. COSO Landmark Study (1998)
mempelajari kasus kecurangan yang ditangani oleh SEC sejak 1987 hingga 1997.

19
Hasil penelitiannya menemukan bahwa pola khas dewan lemah untuk entitas yang
diselidiki. 72% kasus mengidentifikasi CEO dan 43% CFO terlibat dengan
kecurangan.
Pencegahan yang dapat dilakukan antara lain dengan memperbaiki tata kelola
perusahaan mencakup pemilihan anggota dewan yang aktif, berkualitas, dan
independen terutama komite audit. Dalam kasus Hambalang, hal ini dapat dilakukan
dengan pemilihan pemimpin menggunakansistem yang lebih ketat, seperti
(kejujuran, tanggungjawab, dan sikap yang baik) agar setelah menjabat tidak
melakukan praktik-praktik melanggar hukum seperti korupsi dan tindakan lainnya
yang merugikan negara.
b. Berperilaku Secara Etis (Tone at The Top)
Tone at the top masih menjadi kunci untuk mencegah kecurangan. Jika
seseorang meninjau skandal besar beberapa tahun terakhir, hampir di setiap kasus
seorang eksekutif terlibat. Jika manajer kunci dan dewan direksi terus berbicara
tentang kecurangan, mengkomunikasikan kebijakan kecurangan, dan mendorong
semua orang untuk terlibat dalam mencegah dan mendeteksi kecurangan, maka
entitas tersebut akhirnya akan mengembangkan budaya anti kecurangan. Tanpa
penekanan dan dukungan manajemen kunci, hampir tidak mungkin memiliki budaya
semacam itu.
Adanya upaya sinergi kelembagaan secara simultan merupakan hal yang
penting. Memperkuat KPK dalam memerangi korupsi tentu merupakan upaya yang
penting. Namun melakukan sinergi kelembagaan yang relevan dengan segala upaya
penanganan korupsi –termasuk di dalamnya penguatan BPK sebagai satu-satunya
institusi negara yang memiliki tanggung jawab melakukan pemeriksaan keuangan
negara–akan menjadi lebih strategis.Penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh
menpora Andi Mallarangeng dapat dicegah dengan melakukan dilakukan pemisahan
fungsi, tugas dan wewenang yang jelas dan serta pengawasan atas hal tersebut.
c. Kebijakan dan Prosedur
Kebijakan menentukan tujuan dan prinsip entitas, sedangkan prosedur
menentukan tindakan yang diambil entitas untuk memastikan tujuan tersebut
tercapai. Oleh karena itu, fondasi untuk budaya antifraud dan lingkungan untuk
setiap entitas yang serius mencegah kecurangan adalah kebijakan kecurangan dan
prosedur yang dibuat dengan hati-hati berdasarkan kebijakan. Kebijakan fraud
menjadi dokumen sumber untuk mengembangkan langkah-langkah pencegahan
20
kecurangan, tindakan untuk mendeteksi kecurangan, dan tindakan dalam
menanggapi kecurangan. Dengan demikian, mempengaruhi efektivitas budaya atau
iklim anti-kecurangan.Sistem yang efektif termasuk sarana untuk
mengkomunikasikan kebijakan tersebut secara memadai kepada semua yang terlibat.
Hal yg penting untuk keberhasilan kebijakan adalah sistem pemantauan dan
kepatuhan.
Entitas harus mempertimbangkan elemen manusia pada budaya organisasi.
Manusia adalah komponen budaya yang besar. Membangun budaya anti kecurangan
yang sesuai dengan manusia, operasi bisnis, dan organisasi secara keseluruhan akan
memastikan bahwa kecurangan dapat dikurangi hingga tingkat yang
dimungkinkan.Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain :
 Diminimalisir adanya sistem kerja yang melibatkan orang orang yang
memiliki hubungan terkait agar tindak kerjasama atau persekongkolan
dalam melakukan tindak korupsi tidak terjadi.
 Sikap pemimpin harus mempunyai integritas yang tinggi untuk tidak
terlibat dan membudayakan tindakan anti fraud.
2.2.5.2 Persepsi Deteksi
Persepsi deteksi berada di bagian atas daftar langkah-langkah pencegahan
kecurangan. Para ahli kejahatan mengatakan pencegahan terbaik terhadap kejahatan
termasuk kecurangan adalah persepsi deteksi, karena penjahat kerah putih yang
melakukan kecurangan cenderung memiliki kode etik pribadi. Teknik ini bahkan lebih
efektif dalam mencegah kecurangan daripada kejahatan di jalanan.Beberapa cara untuk
meningkatkan persepsi deteksi meliputi : pengawasan, petunjuk anonim, audit kejutan,
penuntutan, penegakan kebijakan etika dan kecurangan, dan Catch Me If You Can!
Dalam kasus ini, beberapa cara untuk meningkatkan persepsi deteksi meliputi:
a. Pengawasan (Surveillance)
Idealnya, strategi atau sistem pencegahan melalui mekanisme pengawasan yang
efektifmulai bisa diberlakukan sejak proses perencanaan proyek, kelayakan,
penghitungan anggaran proyek, tahap lelang, pelaksanaan atau realisasi proyek hingga
tahap memonitor spesifikasi material proyek. Mekanisme pencegahan sekaligus
pengawasan ini sudah bisa diterapkan berkat dukungan teknologi informasi. Sejumlah
perusahaan besar swasta asing menggunakan teknologi dimaksud sejak perencanaan
proyek, kalkulasi anggaran hingga pengontrolan spesifikasi material proyek.

21
Kasus proyek Hambalang mencerminkan lemahnya pengawasan lintas instansi.
Lemahnya koordinasi pengawasan lintas instansi mendorong perilaku tidak peduli
pada aspek prudent (kehati-hatian). Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora)
yakin proyek itu layak walau tidak didukung penelitian geologi yang kuat. Akibatnya,
kendati proyek itu sarat risiko, anggaran proyeknya disetujui dan dicairkan. Pada tahap
menyetujui dan mencairkan anggaran proyek ini, jelas bahwa aspek kehati-hatian
diabaikan. Kalau saja pengawasan lintas instansi terkoordinasi dengan efektif, kasus
proyek Hambalang pasti tidak pernah ada.
b. Masukan atau Saran Tanpa Nama (Anonymous Tips)
Petunjuk telah terbukti menjadi metode terbaik dalam mendeteksi kecurangan dan
juga langkah pencegahan. Praktik terbaik untuk program petunjuk anonim mencakup
keterlibatan manajemen yang tepat, penanganan keluhan secara independen oleh pihak
ketiga, dan menggunakan beberapa metode komunikasi dengan sistem yang mudah,
ringan, dan nyaman bagi para karyawan untuk memberikan petunjuk.
Pada kasus proyek Hambalang yang bermasalah, KPKmenemukan beberapa
modus.Bahkan KPK berinisitiatif untuk menyatakan pendapatbahwauntuk meneruskan
pembangunan proyek Hambalang, pemerintah diminta memperhatikan pendapat pakar.
Selama peradilan kasus ini, dimunculkan beberapa catatan dari para ahli tentang
kejanggalan proyek ini. Misalnya, lokasi proyek Hambalang berada dalam zona
kerentanan gerakan tanah menengah tinggi sebagaimana Peta Rawan. Pendapat lainnya
menegaskan, terjadi kegagalan system management design dan konstruksi proyek yang
telah menyebabkan kegagalan proyek. Selain itu, proses pembahasan di DPR pun
mengandung sejumlah kejanggalan.
2.2.5.3 Pendekatan Klasik
Tinjauan atas pendekatan klasik terhadap pengurangan pencurian, kecurangan,
dan penggelapan sangat membantu dalam mengembangkan program pencegahan dan
pengendalian kecurangan yang efektif. Berikut adalah beberapa pendekatan klasik:
 Pendekatan direktif bersifat konfrontatif dan otoriter.
 Pendekatan pencegahan.
 Pendekatan detektif.
 Pendekatan observasi bergantung pada observasi fisik aset dan karyawan.
 Pendekatan investigatif menindaklanjuti ketidaksesuaian.
 Pendekatan asuransi.

22
Pencurian karyawan dapat tetap terjadi bahkan jika entitas mengadopsi semua
pendekatan klasik ini. Dua jenis kecurangan selalu dapat terjadi yaitu kolusi antara dua
orang dan manajemen mengabaikan kontrol. Selain itu, sifat kecurangan ini dapat
berlanjut dalam skala besar tanpa terdeteksi. Dalam kasus ini, pendekatan klasik yang
dilakukan adalah pendekatan detektif yaitu pelaksanaan audit. Tahapan pelaksanaan ini
dilakukan oleh BPK saat melaksanakan audit investigasi terhadap proyek Hambalang.
Tahapan tersebut terdiri dari:
a. Perencanaan
Tim Audit Investigasi kasus Hambalang haruslah terdiri dari auditor-auditor yang
berkompeten dan paham mengenai peraturan terkait pelaksanaan proyek seperti:
keputusan hak pakai, lokasi dan site plan, izin mendirikan bangunan, teknis, kontrak
tahun jamak, pelelangan, pencarian anggaran, dan pelaksanaan pekerjaan
konstruksi.Tim Investigasi harus menentukan jenis-jenis penyimpangan yang terjadi,
sebab-sebab penyimpangan, modus operandi, pihak-pihak yang terlibat, unsur-unsur
kerjasama,dan estimasi besarnya kerugian negara atau daerah akibat kasus ini.
b. Pelaksanaan
Bukti audit ini dapat diperoleh Tim Audit Investigasi melalui observasi, inspeksi,
konfirmasi, analisa, wawancara, pemeriksaan bukti tertulis, review analitis,
perhitungan kembali, penelusuran, dll.
c. Pelaporan
Dugaan pelanggaran terjadi karena adanya kesalahan dalam prosedur pelaksanan
dan pemenuhan syarat protokoler dalam mengeluarkan surat keputusan padahal pihak
yang berwenang menyetujui belum melakukan pengujian maupun persetujuan. Pihak
yangberwenang pun dinilai melakukan pembiaran bawahannya melakukan
pelanggaran.
2.2.5.4 Ukuran Pencegahan Lainnya
Di luar langkah-langkah pencegahan umum, langkah-langkah pencegahan
khusus dapat digunakan untuk meminimalkan kecurangan. Karyawan kunci perlu
menjadi objek tindakan pencegahan dan pencegahan kecurangan. Suatu entitas harus
mempertimbangkan langkah-langkah pencegahan yang tepat yang akan membuat
karyawan bertanggung jawab atas tugas dan kewajibannya.
a. Audit Reguler
Jika auditor menggunakan beberapa alat audit yang efektif dan teknik untuk
mencari kecurangan secara agresif, maka hal itu akan berfungsi sebagai langkah
23
pencegahan. Kunci untuk efektivitas audit kecurangan reguler adalah mengidentifikasi,
meninjau, dan menganalisis anomali. Hasil audit reguler kasus Hambalang adalah
sebagai berikut.
 Laporan audit investigasi kasus Hambalang dilakukan dua tahap. Laporan
Hasil Pemeriksaan (LHP) kasus Hambalang tahap I dilakukan pada 30
Oktober 2012.
 Dalam LHP tahap I, BPK menyimpulkan ada indikasi penyimpangan
terhadap peraturan perundang-undangan atau penyalahgunaan wewenang
dalam proses persetujuan tahun jamak, proses pelelangan, proses pelaksanaan
konstruksi, dan dalam proses pencarian uang muka yang dilakukan pihak
terkait dalam pembangunan Hambalang yang mengakibatkan timbulnya
indikasi kerugian negara sekurang-kurangnya Rp 263,66 miliar.LHP tahap I
dan II merupakan satu satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya
secara komprehensifmenyajikanberbagaidugaanpenyimbangan dan/atau
penyalahgunaan wewenang dalam pembangunan Hambalang.
 Dalam LHP tahap II, BPK menyimpulkan terdapat indikasi penyimpangan
dan/atau penyalahgunaan wewenang yang mengandung penyimpangan yang
dilakukan pihak-pihak terkait dalam pembangunan proyek Hambalang.
Penyimpangan wewenang itu terjadi pada proses pengurusan hak atas tanah,
proses izin pembangunan, proses pelelangan, proses persetujuan RAK K/L
dan persetujuan tahun jamak, pelaksanaan pekerjaan konstruksi, pembayaran,
dan aliran dana yang di ikuti dengan rekayasa akuntasi dalam proyek Pusat
Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3 SON), Hambalang.
Dalam LHP tahap II ini BPK kembali menemukan adanya penyimpangan
dalam proses pengajuan dan kerugian negara mencapai Rp471 miliar. Berikut
kesimpulan LHP tahap II BPK soal Hambalang:
- Permohonan persetujuan kontrak tahun jamak dari Kemenpora kepada
Menteri Keuangan atas proyek pembangunan P3 SON Hambalang
tidak memenuhi persyaratan sebagaimana yang ditetapkan dalam
peraturan yang berlaku, sehingga selayaknya permohonan tersebut
tidak dapat disetujui Menteri Keuangan.
- Pihak-pihak terkait secara bersama-sama diduga telah melakukan
rekayasa pelelangan untuk memenangkan rekanan tertentu dalam

24
proses pemilihan rekanan pelaksana proyek pembangunan P3 SON
Hambalang.
- Pihak Kemenpora selaku pemilik proyek tidak pernah melakukan studi
AMDAL maupun menyusun DELH (Dokumen Evaluasi Lingkungan
Hidup) terhadap proyek pembangunan P3 SON Hambalang
sebagaimana yang diamanatkan UU Lingkungan Hidup. Persyaratan
adanya studi AMDAL seharusnya terlebih dahulu sebelum mengajukan
izin lokasi, site plan, dan IMB kepada Pemkab Bogor, namun tidak
pernah dipenuhi oleh Kemenpora.
- Terkait dengan persetujuan RAK K/L dan persetujuan tahun jamak,
BPK juga menemukan adanya pencabutan Peraturan Menteri Keuangan
No 56/2010 yang diganti dengan Peraturan Menteri Keuangan No
194/2011 tentang Tata Cara Pengajuan Persetujuan Kontrak Tahun
Jamak dalam Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
 Permohonan persetujuan tahun jamak dari Kemenpora kepada Menteri
Keuangan atas proyek Pembangunan Hambalang tidak memenuhi
persyaratan sebagaimana yang ditetapkan dalam peraturan yang berlaku,
sehingga sudah seharusnya permohonan tersebut ditolak.

b. Pengendalian Internal
Aspek tekanan dan rasionalisasi terjadi dalam pikiran seseorang dan sulit untuk
diamati secara langsung. Kegiatan pengendalian khusus dapat membatasi kesempatan
untuk melakukan kecurangan dan lebih mudah diamati. Dengan demikian, lingkungan
pengendalian khususnya aktivitas pengendalian anti kecurangan dapat berlaku sebagai
tindakan pencegahan preventif.Secara historis, kelemahan paling umum berkaitan
dengan kecurangan dalam aktivitas kontrol adalah pemisahan tugas yang tidak
memadai dan tidak terpantau. Kontrol internal lainnya termasuk:
 Prosedur otorisasi yang tepat;
 Dokumentasi yang memadai, catatan, dan jejak audit;
 Kontrol fisik atas aset dan catatan;
 Pemeriksaan independen terhadap kinerja;
 Pemantauan kontrol.
Berdasarkan hasil audit reguler tersebut, kontrol internal yang dapat dilakukan
dalam kasus ini antara lain :

25
 Prosedur otorisasi yang tepat. Penyimpangan wewenang yang terjadi pada
beberapa proses perizinan dan pencairan dana harusnya diotorisasi tidak
saja oleh satu orang tetapi dilakukan otorisasi berlapis agar celah-celah
penyimpangan dapat diminimalisir.
 Kontrol fisik atas aset dan catatan. Pihak Kemenpora selaku pemilik
proyek harusnya melakukan studi AMDAL maupun menyusun DELH
(Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup)terhadap proyek Hambalang
sebagaimana yang diamanatkan UU Lingkungan Hidup. Persyaratanstudi
AMDAL seharusnya dilakukan terlebih dahulu sebelum mengajukan izin
lokasi, site plan, dan IMB kepada Pemkab Bogor.

26
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. Kesimpulan
Motif terjadinya kasus Hambalang karena adanya 1) tekanan atau dorongan
(motivasi) Anas Urbaningrum untuk menjadi ketua partai Demokrat, 2) adanya
kesempatan pada pembangunan Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga
Nasional (P3SON), dimana terdapat kemudahan dalam otorisasi transaksinya, 3)
rasionalisasi, Anas urbaningrum berusaha membenarkan atas tindakan yang salah dengan
memberikan alasan-alasan yang masuk akal untuk kepentingan partai. Para pelaku kasus
Hambalang diantaranya Muhammad Nazarrudin, Anas Urbaningrum, Andi Alfian
Mallarangeng, Wafid Muharram, Deddy Kusdinar, Andi Zulkarnain Mallarangeng.

Dalam kasus Hambalang, fraud yang terjadi dikategorikan sebagai skema korupsi.
Kerugian negara yang timbul karena kasus ini sangat nyata dan pasti jumlahnya akibat
melanggar hukum yaitu kerugian sebesar Rp 463,67 miliar. Red flags pada kasus
Hambalang dimulai dari perubahan anggaran, kondisi tanah yang rawan longsor tetapi
tetap dipilih sebagai lokasi, pengurusan sertifikasi tanah yang cepat. Pencegahan agar
tidak terjadi kasus yang sama seperti Hambalang diantanya, menciptakan budaya
antifraud dalam organisasi, melakukan pengendalian internal yang ketat, dengan
mengaplikasikan persepsi detektif yang terdiri dari pengawasan, tips anonim, audit
surprise, penegakan etika, dan tangka aku jika bisa.

3.2. Saran
Berdasarkan hasil kerja kelompok, penyusun mencoba menyampaikan saran yang
sekiranya dapat bermanfaat, diantara:
1) Hendaknya organisasi mengawasi unit organisasi yang dipimpin yang
bertanggung jawab karena dengan pengawasan yang efektif fraud dapat dicegah.
2) Mengetahui red flags pada setiap aktivitas, agar kasus yang sama tidak terjadi
dalam waktu yang berbeda.
3) Melakukan otorisasi secara ketat, untuk meminimalisisr fraud.

27
DAFTAR PUSTAKA
Singleton, TM and Singleton, AJ, 2010, Fraud Auditing and Forensic Accounting, 4th
ed., New Jersey : John Wiley & Sons, Inc. (SS)
Internet:
Laporan Tahunan KPK Tahun 2011, diunduh pada
https://www.kpk.go.id/publikasi/laporan-tahunan, 5 Mei 2018
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/05/30/m4tr36-menpora-ungkap
asal-muasal-proyek-hambalang, 4 Mei 2015
http://makalahpendidikan.blogdetik.com/berita-terbaru-kasus-hambalang-kpk-gali-
informasi-soal-uang-ke-kongres-demokrat/, 4 Mei 2015
http://rimanews.com/read/20120531/64337/inilah-sejumlah-kejanggalan-dalam-proyek-
hambalang, 4 Mei 2015
http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/12/05/30/m4tsxh-uang-
negara-yang-ikut-amblas-di-proyek-hambalang-rp-753-m, 4 Mei 2015
http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/12/05/30/m4u7ta-
dipertanyakan-penentuan-lokasi-proyek-hambalang-di-bogor, 4 Mei 2015
http://web.inilah.com/read/detail/1869211/kpk-hati-hati-sikapi-lha-ppatk-tentang-
hambalang, 4 Mei 2015
http://www.citizenjurnalism.com/hot-topics/kpk-harus-ungkap-tuntas-kasus-mega-
korupsi-hambalang/, 4 Mei 2015

http://www.antaranews.com/berita/314480/dana-proyek-hambalang-ternyata-rp25-triliun,
4 Mei 2015

28