Anda di halaman 1dari 22

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tumbuh-tumbuhan hutan tropika adalah sumber yang sangat kaya
akan senyawa-senyawa kimia berkhasiat atau bioaktif. Salah satunya adalah
tanaman pisang. Indonesia dapat memproduksi buah pisang dalam jumlah
yang cukup besar per tahunnya, hal ini dibuktikan berdasarkan referensi
Badan Pusat Statistik 2015 volume produksi pisang di Indonesia dari tahun
2011 hingga tahun 2014 berturut-turut sebesar 6.132.695 ton, 6.189.052 ton,
( BPS 2012 ), 6.279.290 ( BPS 2013 ), dan 6.862.567 ( BPS 2014 ) menurut
Samson,J.A. (1980). Bahwa hasil olahan dari pisang itu sendiri kurang
variatif, biasanya pisang tersebut hanya dimakan langsung, dibuat juice,
keripik, kue, dan lain sebagainya yang masa simpannya relatif cepat.
Pemanfaatan pisang tersebut memberikan limbah kulit pisang yang cukup
banyak jumlahnya, yaitu kira-kira sepertiga dari buah pisang yang masih
utuh.kulit limbah pisang ini mengandung berbagai macam nutrien. Salah satu
komponen terbesarnya yaitu karbohidrat yang dapat digunakan sebagai bahan
baku pembuatan antiseptik. Penelitian ini berfokus pada ekstraksi limbah kulit
pisang sebagai antiseptik dalam mouthwash atau obat kumur.
Ekstraksi dari kulit pisang dapat dilakukan dengan menambahkan ragi
pada larutan hasil rebusan kulit pisang. Selain itu pemelihan jenis juga
berpengaruh terhadap jumlah produksi etanol karena pisang raja mengandung
karbohidrat yang banyak 22.8 g/ 100 g di banding dengan pisang yang lain
(jamal.Scheed dan Alam). Etanol, adalah sejenis cairan yang mudah
menguap, mudah terbakar, tak berwarna, dan merupakan alkohol yang paling
sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, dan etanol yang di produksi
diharapkan dapat menjadi bahan baku untuk pengekstraksi kulit pisang
sebagai bahan untuk membuat mouthwash herbal.

1 Universitas Pamulang
2

1.1 Rumusan Masalah


Pada proses ekstraksi kulit pisang dengan etanol membutuhkan waktu
ekstraksi yang optimal agar memperoleh ekstrak kulit pisang dengan
kemurnian yang tinggi. Kadar kulit pisang yang dihasilkan dari proses
ekstraksi akan dijadikan produk mouthwash yang berfungsi untuk membunuh
kuman dan merawat kesehatan gigi.
Selain ekstrak kulit pisang, untuk membuat produk mouthwash juga
diperlukan bahan tambahan lainnya pada produk adalah sodium bikarbonat
(buffer), oleum menthae, mint dan madu untuk pemanis.
Masalah yang akan diteliti pada penelitian ini adalah bagaimana
pengaruh waktu mengekstraksi kulit pisang yang optimal untuk memperoleh
kandungan ekstrak kulit pisang yang tinggi.

1.2 Batasan Masalah


Berikut adalah penjabaran batasan-batasan dalam penelitian ini:
1. Ekstraksi kulit pisang dengan etanol dilakukan pada suhu ruangan,
dan tidak terkena paparan matahari langsung.
2. Variasi waktu ekstraksi pada pengolahan kulit pisang dengan etanol
adalah tujuh hari, dan Sepuluh hari.
3. Kulit pisang yang digunakan adalah kulit pisang raja.

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk dapat memanfaatkan
kulit pisang menjadi bahan antiseptic dan dapat dijadikan bahan baku utama
pada produk mouthwash. Adapun tujuan khusus pada penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Mengetahui waktu ekstraksi yang optimal untuk memperoleh kandungan
ekstrak yang tinggi pada proses pengolahan kulit pisang raja menjadi
bahan antieseptik dan mendapat mouthwash yang berbahan baku
ekonomis.

Universitas Pamulang
3

2. Memberikan suatu gagasan untuk lebih mengoptimalkan pemanfaatan


limbah kulit pisang yang ada disekitar lingkungan sehingga dapat diubah
menjadi antiseptik

1.4 Manfaat Penelitian


Manfaat dari penelitian ini adalah dapat mengetahui pengolahan kulit
pisang menjadi bahan antiseptic secara biologi yaitu melalui proses ekstraksi
dengan menggunakan etanol. Hal tersebut dapat mengurangi limbah kulit
pisang itu sendiri dan dapat dijadikan produk yang bermanfaat seperti produk
mouthwash yaitu produk obat kumur untuk merawat kesehatan gigi setelah
menggosok gigi. Produk mouthwash tersebut efektif membunuh kuman yang
terdapat pada rongga mulut akibat sikat gigi yang kurang maksimal
sehinggadiharapkan dapat mengurangi penyakit mulut yang ditimbulkan dari
sisa-sisa makanan yang tidak terjangkau dengan sikat gigi biasa.
Selain itu penelitian dalam pembuatan produk ini juga memakai bahan
bahan herbal, sehingga aman untuk digunakan oleh anak.
.

Universitas Pamulang
4

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Obat Kumur


2.1.1. Antiseptik
Antiseptik adalah zat yang biasa digunakan untuk menghambat
pertumbuhan dan membunuh mikroorganisme berbahaya (patogenik)
yang terdapat pada permukaan tubuh luar makhluk hidup. Secara umum,
antiseptic berbeda dengan obat-obatan maupun desinfektan. Obat-obatan
seperti antibiotic misalnya, membunuh mikroorganisme secara internal,
sedangkan desinfektan berfungsi sebagai zat untuk membunuh
mikroorganisme yang terdapat pada benda yang tidak bernyawa.
Beberapa antiseptik merupakan germisida, yaitu mampu
membunuh mikroba, dan ada pula yang hanya mencegah atau menunda
pertumbuhan mikroba tersebut. Antibacterial adalah antiseptik hanya
dapat dipakai melawan bakteri.
Obat kumur adalah cairan yang digunakan untuk membersihkan
mulut dari bau selain pasta gigi. Obat kumur biasanya terbuat dari bahan
kimia dan terdapat banyak kandungan aktif di dalamnya, sehingga
peneliti membuat obat kumur alami dari limbah kulit pisang yang dapat
membunuh bakteri pada mulut dan aman untuk kesehatan. Banyak orang
menggunakan produk pasta gigi yang terbaik tetapi masih mengalami
masalah gigi dan mulut karena penggunaan pasta gigi dan sikat gigi
masih dibatasi, sehingga penggunaan obat kumur lebih efektif karena
obat kumur dapat membersihkan mulut sampai kesela-sela gigi untuk
menghilangkan bau mulut dan plak, selain itu juga lebih praktis dalam
penggunaannya.

2.1.2. Pisang
Pisang termasuk familia Musaceae yang memiliki nama latin
Musa Paradisiaca, Linn. Nama lokal pisang lainnya yaitu : Banana
(Inggris), Tsiu, Cha (Cina), Pisyanga, Kila (India); Pisang (Indonesia),

Universitas Pamulang
3

Klue (Thailand), Pyaw, Nget (Burma); Gedang (Jawa), Cau (Sunda), Biu
(Bali), Puti (Lampung); Wusak lambi, lutu (Gorontalo), Kulo (Ambon),
Uki (Timor);
Tumbuhan ini berasal dari Asia dan tersebar di Spanyol, Italia,
Indonesia, Amerika dan bagian dunia yang lain. Tumbuhan pisang
menyukai daerah alam terbuka yang cukup sinar matahari, cocok tumbuh
di dataran rendah sampai pada ketinggian 1000 meter lebih diatas
permukaan laut. Pada dasarnya tanaman pisang merupakan tumbuhan
yang tidak memiliki batang sejati. Batang pohonnya terbentuk dari
perkembangan dan pertumbuhan pelepah-pelepah yang mengelilingi
poros lunak panjang. Batang pisang yang sebenarnya terdapat pada
bonggol yang tersembunyi di dalam tanah.
Berdasarkan cara konsumsi, pisang dikelompokkan dalam dua
golongan, yaitu banana dan plantain. Banana adalah pisang yang lebih
sering dikonsumsi dalam bentuk segar setelah buah matang, contohnya
pisang ambon, susu, raja, seribu, dan sunripe. Plantain adalah pisang
yang dikonsumsi setelah digoreng, direbus, dibakar, atau dikolak, seperti
pisang kepok, siam, kapas, tanduk, dan uli. Selain buahnya dapat
dikonsumsi sebagai bahan pangan, kulitnya bisa dijadikan sebagai bahan
baku pembuatan obat.
Pisang bersifat mendinginkan. Kulit pisang raja mengandung
senyawa flavonoid (Tanin) yang berfungsi sebagai antiseptic, sedangkan
zat saponin berkhasiat mengencerkan dahak. Pisang raja, mengandung
kalium yang bermanfaat melancarkan air seni. Selain itu menurut
penelitian, pisang mengandung kadar antara lain:

Gambar 1. Flavonoid

Universitas Pamulang
6

Gambar 2. Tanin

(jamal. Scheed dan Alam 2012)


Jumlah kandungan
Jumlah persaji
dalam 100 g pisang
Total karbohidrat 22.8 g
Seratkasar 2.6 g
Pati 5.4 g
Gula 12.2 g
Sukrosa 2390 mg
Glukosa 4979 mg
Fruktosa 4850 mg
Laktosa 0.0 mg
Galaktosa 10.0 mg
Maltosa 0.0 mg
Tabel 1. Kandungan Pisang dalam 100 gr

2.2 Ekstraksi
Definisi ekstraksi menurut Agoes (2009) merupakan proses
pemisahan bahan dari campurannya dengan menggunakan pelarut. Jadi,
ekstrak merupakan sediaan yang diperoleh dengan cara ekstraksi
tanaman obat dengan ukuran partikel tertentu dan menggunakan medium
pengekstraksi (menstruum) yang tertentu pula. Ekstraksi dapat dilakukan

Universitas Pamulang
3

dengan berbagai pelarut sesuai dengan bahan yang ingin di ekstraksi


menggunakan air disebut ekstrak air.
Pembuatan ekstrak air dapat dilakukan dengan cara berikut
a. Decoctum (dekok) : Menggunakan simplisia dengan
perbandingan dan derajat kehalusan tertentu dan digunakan
pada suhu 90o – 95o C selama 30 menit
b. Infusum (infuse) : sama seperti dekok hanya ekstraksinya
lebih singkat yaitu 15 menit
c. Coque (perebusan) : merebus tanaman obat dengan
menggunakan api langsung misalnya pada pembuatan jamu
tradisional
d. Seduhan : Simplisa direndam menggunakan air mendidih
selama 10 – 15 menit
e. Maserasi : Penyairan simplisa menggunakan pelarut pada
suhu kamar dalam waktu tertentu antara 5 –10 hari
f. Perkolasi : ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai
semua bahan aktufter ekstraksi.
Ekstraksi juga merupakan suatu peristiwa penarikan massa zat aktif
kedalam cairan penyari. Tujuannya agar massa zat aktif yang semula
berada dalam sel dapat ditarik oleh cairan penyari dan terlarut dalam
cairan penyari. Zat aktif dapat berupa bagian tanaman obat, hewan dan
beberapa jenis ikan termasuk biota laut. Luas permukaan serbuk
simplisia yang bersentuhan dengan pelarut, maka pengekstrakan akan
berlangsung baik. Pertimbangan pemilihan metode pengekstrakan yang
baik adalah wujud dan sifat dari bahan uji yang ingin diekstrak
(Harborne, 1973). Pemilihan pelarut perlu mempertimbangkan sifat
kelarutan senyawa dalam pelarut tersebut. Pelarut yang sering digunakan
dapat berupa air, etanol, air etanol dan beberapa pelarut lain.
Prosedur pembuatan ekstrak kulit pisang dengan cara kulit
pisang raja dipotong kecil-kecil dengan ketebalan ± 1-2 mm. Ditimbang
sebanyak 500 g sampel, kemudian dikeringanginkan di bawah sinar
matahari secara tidak langsung selama ± 2 hari, dilanjutkan dengan oven

Universitas Pamulang
8

selama 2 jam pada suhu 400 C sampai sampel kulit pisang raja kering,
kemudian timbang berat keringnya. Setelah itu sampel tanaman tersebut
dibuat serbuk (simplisia).
Ekstraksi Tanaman Pisang Kepok Kuning dengan metode
Maserasi, Simplisia tanaman pisang kapok kuning direndam dengan
pelarut etanol 70% (teknis) di dalam botol maserasi yang tertutup rapat
dan dibiarkan selama 7 hari (5 x 24 jam) dan 9 hari (9 x 24 jam) pada
temperature kamar, terlindung dari sinar matahari langsung sambil
sesekali diaduk, setelah itu disaring sehingga diperoleh filtrate dan
ditampung dalam wadah penampungan (botol maserasi). Ampas
dimaserasi kembali dengan etanol 70 %. Seluruh filtrat yang diperoleh
dipekatkan dengan rotary evaporator pada suhu 500 C hingga diperoleh
ekstrak kental.(Voigt, 1994). Setelah didapatkan ekstrak selanjutnya
dilakukan evaluasi yang meliputi uji Keasaman pH, Uji organoleptis, dan
Uji Kelarutan

2.3 Bahan Aktif dalam Mouthwash


2.3.1 Asam Sitrat

Asam sitrat merupakan asam organik lemah yang ditemukan pada


daun dan buah tumbuhan genus Citrus (jeruk-jerukan). Senyawa ini
merupakan bahan pengawet yang baik dan alami, selain digunakan sebagai
penambah rasa masam pada makanan dan minuman ringan.
Dalam biokimia, asam sitrat dikenal sebagai senyawa antara dalam siklus
asam sitrat yang terjadi di dalam mitokondria, yang penting
dalam metabolisme makhluk hidup. Zat ini juga dapat digunakan sebagai
zat pembersih yang ramah lingkungan dan sebagai antioksidan.

Rumus kimia asam sitrat adalah C6H8O7 (strukturnya ditunjukkan


pada tabel informasi di sebelah kanan). Struktur asam ini tercermin pada
nama IUPAC-nya, asam 2-hidroksi-1,2,3-propanatrikarboksilat.

Asam sitrat terdapat pada berbagai jenis buah dan sayuran, namun
ditemukan pada konsentrasi tinggi, yang dapat mencapai 8% bobot kering,
pada jeruk lemon dan limau (misalnya jeruk nipis dan jeruk purut). Selain

Universitas Pamulang
3

itu asam sitrat juga dapat mencegah pembentukan karang gigi dan
mencegah bau mulut.

Dalam proses produksi asam sitrat yang sampai saat ini lazim digunakan,
biakan kapang Aspergillus niger diberi sukrosa agar membentuk asam
sitrat. Setelah kapang disaring dari larutan yang dihasilkan, asam sitrat
diisolasi dengan cara mengendapkannya dengan kalsium
hidroksida membentuk garam kalsium sitrat. Asam sitrat di-regenerasi-kan
dari kalsium sitrat dengan penambahan asam sulfat.

Penggunaan utama asam sitrat saat ini adalah sebagai zat pemberi
cita rasa dan pengawet makanan dan minuman, terutama minuman ringan.
Kode asam sitrat sebagai zat aditif makanan (E number ) adalah E330.
Asam sitrat dengan berbagai jenis logam digunakan untuk menyediakan
logam (sebagai bentuk biologis) dalam banyak suplemen makanan. Sifat
asam sitrat sebagai larutan penyangga digunakan sebagai pengendali
derajat keasaman / pH dalam larutan dan obat-obatan.

Asam sitrat dikategorikan aman digunakan pada makanan oleh


semua badan pengawasan makanan nasional dan internasional utama,
tetapi asam sitrat dapat menyebabkan korosi pada gigi jika dikonsumsi
secara belebihan. Asam sitrat secara alami terdapat pada semua
jenis makhluk hidup, dan kelebihan asam sitrat dengan mudah
dimetabolisme dan dihilangkan dari tubuh.

Paparan terhadap asam sitrat kering ataupun larutan asam sitrat pekat
dapat menyebabkan iritasi kulit dan mata. Pengenaan alat protektif (seperti
sarung tangan atau kaca mata pelindung) perlu dilakukan saat menangani
bahan-bahan tersebut.

2.3.2. Sodium Lauryl Sulfat

Sodium laureth sulfate atau sodium lauryl ether sulfate (SLES),


adalah deterjen dan surfaktan yang biasa ditemui di tempat-tempat yang
menjual produk perawatan tubuh, seperti sabun, shampo, pasta gigi, dll.
SLES mudah ditemukan di toko kimia dengan harga yang relatif murah.
SLES efektif sebagai unsur pembuat busa.[1]

Universitas Pamulang
10

SLES telah terbukti dapat menyebabkan iritasi pada mata atau kulit
pada eksperimen dengan hewan dan beberapa test pada manusia.[2] Beberapa
produk yang mengandung SLES telah ditemukan terdapat kandungan 1,4-
dioxane dalam kadar rendah, yang merupakan bahan karsinogen dan
direkomendasikan oleh FDA kadar kandungan ini harus dibatasi.

Telah diteliti bahwa SLS bukan bahan karsinogen ketika dioleskan


ke kulit maupun dikonsumsi.[1] Tetapi dari percobaan ditemukan SLS dapat
menyebabkan iritasi kulit dan wajah ketika dioleskan dalam waktu yang
lama dan terus menerus (lebih dari 1 jam) pada remaja.[2] Studi klinik
terhadap 30 pasien yang sering mengeluhkan sariawan, membuktikan pasta
gigi yang mengandung SLS dapat menyebabkan sariawan lebih besar
dibandingkan dengan pasta gigi bebas detergen.[3] Sebuah studi klinik lain
membuktikan tidak ada efek yang signifikan untuk penderita sariawan
ketika dibandingkan menggunakan pasta gigi dengan dan tanpa SLS.

2.3.3. Natrium bikarbonat

Natrium bikarbonat adalah senyawa kimia dengan rumus NaHCO3.


Dalam penyebutannya kerap disingkat menjadi bicnat. Senyawa ini
termasuk kelompok garam dan telah digunakan sejak lama.

Senyawa ini disebut juga baking soda (soda kue), Sodium


bikarbonat, natrium hidrogen karbonat, dan lain-lain. Senyawa ini
merupakan kristalyang sering terdapat dalam bentuk serbuk. Natrium
bikarbonat larut dalam air.

Senyawa ini dapatdigunakan dalam roti atau kue karena bereaksi


dengan bahan lain membentuk gas karbon dioksida, yang menyebabkan roti
"mengembang". Selain itu dapat juga digunakan sebagai obat antasid
(penyakit maag atau tukak lambung). Karena bersifat alkaloid (basa),
senyawa ini juga digunakan sebagai obat penetral asam bagi
penderita asidosis tubulus renalis (ATR) atau rhenal tubular acidosis (RTA).
Selain itu, natrium bikarbonat juga dapat dimanfaatkan untuk menurunkan
kadar asam urat.

Universitas Pamulang
3

2.4 Analisa kesaaman (pH) dan Antibakteri


Secara umum obat kumur memiliki pH yang berkisar 5-6
(Roeslan, 2002). Jika pH yang dihasilkan < dari 5 sediaan terlalu asam dan
akan menyebabkan semakin banyaknya pertumbuhan bakteri dan jika pH >
dari 6 maka sediaan terlalu basa dan akan menyebabkan pertumbuhan
jamur sehingga mengakibatkan timbulnya sariawan.
Dalam analisa antibakteri pada ekstrak pisang raja menggunakan
bakteri mulut atau streptococcus auerus dengan metode DDH,
menggunakan kertas cakram dan silinder cup. Nantinya akan diukur zona
bening, jika terdapat zona bening maka sampel tersebut aktif dalam
membunuh bakteri.

2.5 Penelitian Terdahulu ( State of the art )

Judul
Penelitian,
Peneliti, Tahun Metode Hasil Persamaan Perbedaan
Penelitian
Judul :
Pembuatan
Mouthwash dari
Daun Sirih 1. Ekstraksi 1. Metode yang 1. Bahan
Maserasi Daun Sirih segar digunakan: Utama:
Peneliti : Yang dimanfaatkan untuk bahan Ekstraksi Maserasi Kulit Pisang
I. Ade Novero baku pembuatan mouthwash
2. Bahan Pelarut 2. Lama
Ekstraksi Daun Sirih di proses Untuk Ekstraksi proses
Tahun : 2014 dengan larutan etanol 70% adalah Etanol 70% Ekstraksi
Selama 7 hari dengan sesekali diaduk
3. Bahan
kemudian didinginkan suhu kamar 3. Alat yang tambahan
30°C. Lalu di kentalkan dengan digunakan rotary pembuatan
rotary evaporator evaporator mouthwash
Sampai pelarut benar-benar terpisah

Universitas Pamulang
12

BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian dilaksanakan dalam waktu satu bulan, dimulai pada tanggal
27 Januari 2018 hingga 24 Februari 2018 bertempat di Laboratorium Kimia
Universitas Pamulang dan pada tanggal 15 Februari 2018 bertempat di
Laboratorium Mikrobiologi Geostech Puspitek. Sedangkan untuk pembuatan
laporan dimulai pada 25 Maret 2018 sampai 24 Mei 2018.
Jadwal kegiatan secara lengkap akan disajikan dalam Tabel 3.1 di
bawah ini.
Tabel 3.1 Rencana Penelitian
Januari Februari
No Kegiatan I II III IV I II III IV
1. Pembuatan proposal.
2 Persiapan Penelitian.
3 Pelaksanaan Penelitian.
4. Pembuatan Laporan.
5 Penyerahan Laporan Penelitian.

3.2 Variabel Penelitian


Variabel terikat atau tetap (variable dependen) pada penelitian ini
adalah Kulit Pisang Rajadan untuk variabel independen (variabel bebas) pada
penelitian ini adalah waktu ekstraksi kulit pisang, sedangkan variabel kontrol
pada penelitian ini adalah kadar etanol yang dipakai sebesar 70%.
Berdasarkan jurnlah dan penelitian mengenai ekstraksi kulit buah
pisang dengan etanol, penulis menentukan variasi waktuekstraksi kulit pisang
dengan metode meserasi dengan pelarut etanol 70% adalah 7 hari dan 9 hari
masa inkubasipada suhu 30 0C atau pada suhu ruangan.

Universitas Pamulang
3

3.3 Alat dan bahan


Alat yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari alat gelas dan
alat pendukung. Alat gelas yang digunakan terdiri dari kaca arloji, labu
didih, gelas ukur, pipet tetes, batang pengaduk, corong, tabung reaksi, botol
sampel, labu Erlenmeyer, labu ukur, ose dan cawan patri. Alat pendukung
yang digunakan terdiri dari statif, klem, ball pipet, pH-meter atau kertas pH
universal, teklu (pembakar), neraca digital, kertas saring, silinder cup.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi bahan kimia, bahan
pendukung dan bahan baku. Bahan kimia yang digunakan adalah sodium
bicarbonatesebagai buffer, etanol (70%) sebagai adstringents, oleum menthae
untuk perasa, Akuades untuk pelarut dan Sodium Lauryl Sulfate untuk detergen.
Bahan pendukung yang digunakan adalah label kemasan, tissue, korek api dan
kertas saring. Bahan baku utamayang digunakan adalah ekstrak kulit pisang raja.

3.4 Cara kerja


3.4.1 Prosedur Ekstraksi Kulit Pisang:
1. Kulit pisang raja dipotong kecil-kecil dengan ketebalan ± 1-2 mm
2. Kulit pisang Raja 500 gr dikeringkan dengan Oven bersuhu 108oC
selama 2 jam
3. Dimasukkan kedalam botol berwarna gelap yang tertutup
4. Ditambahkan air atau pelarut yaitu etanol 70% sebanyak 500 ml
5. Bagi menjadi 2 botol untuk variabel A dan B
6. Dilakukan sesekali pengadukan selama 7 hari dan 10 hari
7. Dikentalkan menggunakan rotary evaporator dengan tekanan 70
rpm dan suhu 70°C sampai pelarut benar-benar terpisah yaitu
selama 30 menit

3.4.2 Prosedur Pembuatan Mouthwash ( Varian Lemon ) :


1. Dibuat masing-masing ekstrak kulit pisang 5% ( 4 ml )
2. Dicampurkan sodium bicarbonate 1,12 gr
3. Dicampurkan ekstrak lemon 4 ml
4. oleum menthae / peppermint secukupnya ( 0,8 gr )

Universitas Pamulang
14

5. Dicampurkan Natrium Lauryl sulfate 0,5%


6. Akuades 80 ml

3.4.3 Prosedur Pembuatan Mouthwash ( Varian Jeruk Nipis ) :


1. Dibuat masing-masing ekstrak kulit pisang 5% ( 4 ml )
2. Dicampurkan sodium bicarbonate 1,12 gr
3. Dicampurkan ekstrak Jeruk nipis 4 ml
4. oleum menthae / peppermint secukupnya ( 0,8 gr )
5. Dicampurkan Natrium Lauryl sulfate 0,5%
6. Akuades 80 ml

3.4.4 Prosedur Pembuatan Mouthwash ( Asam Sitrat ) :


1. Dibuat masing-masing ekstrak kulit pisang 5% ( 4 ml )
2. Dicampurkan sodium bicarbonate 1,12 gr
3. Dicampurkan Asam Sitrat / C6H8O7 4 ml
5. Dicampurkan Natrium Lauryl sulfate 0,5%
6. Akuades 80 ml

3.5 Metode Analisa


3.5.1 Analisa Penentuan pH ( Derajat Keasaman )
Ph adalah suatu parameter yang digunakan untuk menyatakan tingkat
keasaman suatu larutan. Larutan asam mempunyai pH lebih kecil dari 7,
larutan basa mempunyai pH lebih besar dari 7, sedangkan larutan netral
mempunyai pH = 7.
Cara yang tepat untuk menentukan sifat asam dan sifat basa dengan
menggunakan zat penunjuk yang disebut indikator. Indikator adalah zat yang
dapat digunakan untuk menunjukkan sifat suatu zat melalui perubahan
warnanya yang khas. Indikator dapat berasal dari bahan alami (indikator bahan
alam) dan buatan (indikator sintesis). Indikator yang biasa digunakan adalah
kertas lakmus dan larutan indikator yang keduanya termasuk dalam indikator
tunggal dan indikator universal.

Universitas Pamulang
3

Tahapan melakukan analisa keasaman pH adalah sebagai berikut:


1. Dikalibrasi alat pH meter dengan menggunakan buffer sodium
hicarbonate
2. Disiapkan larutan standar dan contoh dalam piala gelas 100 ml.
3. Dicelupkan kedalam larutan.
4. Dibaca pH larutan setelah stabil

3.5.2 Uji Daya Antibakteri Media NA / MHA metode DDH


a. Perlakuan Bakteri media NA
1. Ambil Bakteri di dalam mulut ( ludah ) sebanyak 1 ml
2. Pengenceran dilakukan dengan tabung reaksi yang telah diisi oleh
akuades 9 ml sampai 102. Homogenkan dengan Stirrer
3. Media NA yang telah disteril dengan autoclav di temptkan kedalam
cawan patri sekitar 3 ml dengan ketebalan 0,5 cm dibiarkan memadat
dalam suhu ruang. Perlakuan ini dilakukan didalam Laminer.
4. Kapas lidi steril dicelupkan pada suspensi bakteri uji lalu
diinokulasikan secara perataan pada medium
5. Diletakkan kertas cakram yang telah dijenuhkan dengan ekstrak
kental tanaman pisang raja variabel A = 7 hari inkubasi, B = 10 hari
inkubasi, C = Mouthwash ( Listerine ) dan D adalah blanko (
akuades steril )
6. Dinkubasi selama 24 Jam di suhu 30oC
Tahap awal pengujian antibiotik dengan Pembuatan Suspensi
Bakteri Uji Koloni bakteri uji pada media biakan NA umur 24 jam diambil
dengan menggunakan sengkelit dan disuspensikan kedalam tabung berisi
akuadest steril. Kekeruhan yang diperoleh kemudian disetarakan dengan
standar 0,5 Mc. Farland
Uji daya antibakteri dilakukan dengan Metode Difusi Kertas
Cakram (Jawetzet 209 Jurnal Biologi Universitas Andalas (J. Bio. UA.)
2(3) – September 2013: 207-213 : (ISSN : 2303-2162 ., 2005). Hasil daya
uji antibakteri didasarkan pada pengukuran Diameter Daerah Hambat
(DDH) pertumbuhan bakteri yang terbentuk di sekeliling kertas cakram.

Universitas Pamulang
16

Masing-masing ekstrak kental kulit pisang raja dengan variable ekstraksi 7


hari (F1) dan 10 hari (F2), sediaan obat kumur Listerine (F3) dan blanko
berupa akuades steril (F4) diambil sebanyak 20 μL dan diteteskan ke
kertas cakram yang telah disterilkan, tunggu sampai menjadi jenuh.
Mueller Hinton Agar steril dituang kedalam cawan petri dengan
ketebalan ± 0,5 cm dibiarkan memadat pada suhu kamar dalam laminar
flow. Kemudian kapas lidi steril dicelupkan pada suspense bakteri uji lalu
diinokulasikan secara perataan pada medium Mueller Hinton Agar (MHA)
yang telah memadat. Tunggu beberapa menit sampai kering, lalu letakkan
kertas cakram yang telah dijenuhkan dengan sampel yang akan diujikan
(F1), (F2), (F3) dan (F3). Selanjutnya diinkubasi pada suhu 30o C selama
24 jam.
Setelah 24 jam, amati Diameter Daerah Hambat (DDH) yang
terbentuk di sekitar kertas cakram.

b. Perlakuan Bakteri media MHA (Mueller Hinton Agar)


1. Ambil Bakteri staphylococcus auerus sebanyak 1 ml
2. Pengenceran dilakukan dengan tabung reaksi yang telah diisi oleh
akuades 9 ml sampai 103. Homogenkan dengan Stirrer.
3. Media MHA yang telah disteril dengan autoclav di temptkan
kedalam cawan patri sekitar 3 ml dengan ketebalan 0,5 cm dibiarkan
memadat dalam suhu ruang. Perlakuan ini dilakukan didalam
Laminer.
4. Kapas lidi steril / ose dicelupkan pada suspensi bakteri uji lalu
diinokulasikan secara perataan pada medium
5. Diletakkan silinder cup yang telah dijenuhkan dengan ekstrak kental
tanaman pisang raja variabel A = 7 hari inkubasi, B = 10 hari
inkubasi, C = Mouthwash (Listerine) dan D adalah blanko (akuades
steril)
6. Cawan patri terpisah dengan pengenceran 103 sebagai duplo
7. Dinkubasi selama 24 Jam di suhu 30oC

Universitas Pamulang
3

3.5.3 Penentuan KHM metode Dilusi


Pada suatu konsentrasi tertentu antimikroba mempunyai efek
menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Pertumbuhan organisme itu
ditandai dengan adanya keruhan pada media yang digunakan. Pada kadar
tertentu, dimana pertumbuhan organisme terhambat oleh jumlah
antimikroba yang sesuai, tidak terjadi kekeruhan pada media. Dengan
metode pencairan dapat diketahui pada konsentrasi berapa antimikroba
tersebut dapat mempunyai efek menghambat pertumbuhan melalui
pengamatan intensitas kekeruhan yang terjadi setelah inkubasi
Untuk mengetahui kadar ini, diperlukan gradasi konsentrasi
antimikroba terhadap mikroorganisme yang sama. Bila pada konsentrasi
tertentu yang paling kercil dimana media tabung terlihat jernih, maka
konsentrasi tersebut di tetapkan menjadi konsentrasi hambat minimum.
Dalam hal menentukan kejernihan diperlukan kontrol media
sebagai pembanding yang akan menunjukan warna asli media. Kontrol
media akan menjadi keruh jika dalam prosedur pengujian terjadi
kontaminasi, ini harus di hindari karna dapat mempengaruhi keberhasilan
pengujian. Selain itu diperlukan pula kontrol mikroorganisme untuk
membandingkan intensitas kekeruhan yang terjadi pada tabung suspense
mikroorganisme tanpa penambahan larutan antibakteri. Tabung kontrol
mikroorganisme ini intensitas kekeruhannya paing tinggi karena
mikroorganisme dalam tabung kontrol dapat tumbuh tanpa adanya
antibakteri.
Penentuan KHM (Konsentrasi Hambat Minimum) dilakukan
dengan metode dilusi cair Kirby and Bauer yang dimodifikasi (Lennete,
dkk.,1991) menggunakan media cair Nutrien Broth (NB). Dalam
penentuan KHM ini, menggunakan variable ekstrak kulit pisang dengan
masa inkubasi 7 hari dan tanpa ekstrak kulit pisang (blanko), lalu ekstrak
diencerkan dengan rumus m= M x V (m: massa ekstrak kulit pisang (ml),
M: konsentrasi larutan (ml), V: volume larutan (mL). Untuk memperoleh
ekstrak kulit pisang raja konsentrasi 10%, ekstrak kulit pisang diambil
dengan pipet mikro sebanyak 1 ml, kemudian dilarutkan dengan akuades

Universitas Pamulang
18

sebanyak 10 mL. Dua buah tabung (Pyrex, USA) disiapkan dan diisi
dengan media brainheart infusion broth (BHIB) sebanyak 5 ml. Kemudian
1 ml ludah yang telah di encerkan 102 dimasukkan pada tabung. Setelah
itu, ekstrak yang telah diencerkan tersebut dimasukkan ke dalam
tabungnya, kemudian tabung di inkubasi (Memmert, Jerman) pada suhu
370C selama 24 jam, selanjutnya dilakukan pemeriksaan ada tidaknya
pertumbuhan bakteri, yang ditandai dengan terjadinya kekeruhan dalam
tabung. Penentuan KHM dilakukan dengan memperhatikan tabung dengan
konsentrasi yang pertama terlihat jernih. Tabung yang terlihat keruh
menunjukkan masih adanya pertumbuhan bakteri.
Berikut urutan tata cara :
1. Sebanyak 5 ml media NB steril dimasukkan ke dalam tabung reaksi,
ditambahkan konsentrasi ekstrak pisang raja dengan variabel
inkubasi 7 hari yang telah diencerkan.
2. ditambahkan 1 ml suspensi bakteri yang sudah diencerkan 102 ke
dalam media NB.
3. tabung di inkubasi dalam suhu 37oC selama 24 jam
4. Amati tingkat kekeruhannya / kejernihan tabung dengan melihat
kontrol positif dan negatif.

3.5.4 Uji Organoleptik


Uji organoleptik atau uji indra atau uji sensori merupakan cara
pengujian dengan menggunakan indra manusia sebagai alat utama untuk
pengukuran daya penerimaan terhadap produk.
Produk yang akan di ujikan ada 3 formula, yaitu F1 : Mouthwash
Lemon, F2 : Mouthwash Jeruk nipis dan F3 : Mouthwash Acid
Uji organoleptik mempunyai peranan penting dalam penerapan
mutu terhadap suatu produk. Uji organoleptis dilakukan secara visual,
dengan cara melakukan pengamatan bau, warna, rasa dan konsistensi dari
ekstrak kulit pisang raja. Penelis yang diikut sertakan sebanyak 20 orang.

Universitas Pamulang
3

3.5.5 Proses Pasteurisasi


Pasteurisasi adalah sebuah proses preservasi suatu makanan atau
minuman dengan pemanasan pada waktu tertentu dengan tujuan
membunuh bakteri patogen seperti bakteri TB, Coli dll serta organisme
yang merugikan seperti bakteri, protozoa, kapang, dan khamir, Pasteurisasi
juga merupakan suatu proses untuk memperlambatkan pertumbuhan
mikroba pada makanan. Proses ini diberi nama atas penemunya Louis
Pasteur seorang ilmuwan Perancis. Tes pasteurisasi pertama diselesaikan
oleh (Pasteur dan Claude Bernard 1862). Tidak seperti sterilisasi,
pasteurisasi tidak dimaksudkan untuk membunuh seluruh mikro
organisme di makanan. Bandingkan dengan appertisasi yang diciptakan
oleh Nicolas Appert. Pasteurisasi bertujuan untuk mencapai
"pengurangan log" dalam jumlah organisme, mengurangi jumlah mereka
sehingga tidak lagi bisa menyebabkan penyakit (dengan syarat produk
yang telah dipasteurisasi didinginkan dan digunakan sebelum tanggal
kedaluwarsa). Sterilisasi skala komersial makanan masih belum umum,
karena dapat mempengaruhi rasa dan kualitas dari produk.
Proses pasteurisasi dilanjutkan dengan proses pendinginan segera
akan menghambat pertumbuhan yang tahan terhadap proses pasteurisasi
dan akan merusak sistem enzimatis yang dihasilkan (enzim phosphatase,
lipase dll) sehingga dapat mengurangi kerusakan zat gizi yang terkandung
dalam suatu produk serta dapat memperbaiki daya simpan produk.
Ada beberapa metode dalam pasteurisasi yaitu metode UHT (Ultra
High Temprature) dan metode HTST (High Temprature Short Time)
merupakan metode yang paling sering dipakai karena tidak menggunakan
panas dengan suhu tinggi, jadi tidak akan merusak rasa dan aroma produk,
Maka dipenelitian ini akan menggunakan proses HTST.

Universitas Pamulang
20

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2008.Bogor.http://himdikafkipuntan.blogspot.com/2008/or/pemanfaatan-
limbah-kulit-pisang-sebagai.html.15:00.2 Januari 2018.
Agoes G, 2009 Teknologi Bahan Alam(serial industri-2) edisi revisi, ITB
Bandung.
Andrianto, A. W. (2012). Uji Anti Bakteri Ekstrak Daun Salam (Eugenia
polyantha Wight) dalam Pasta Gigi terhadap Pertumbuhan
Streptpcoccus mutans. Jember: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Jember.
Harmanto, N. (2007). Jus Herbal Segar dan Menyehatkan. Jakarta: PT Alex
Media Komputindo.
Lisal, R. (2014). Efektivitas Sediaan Obat Kumur mengandung Cengkeh
(Syzygium aromaticum ) dalam Menurunkan Kadar Volatile Sulfur
Compounds (Vsc) Komponen Cystein (H2s). Makasar: Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin.
Murhadi, AS, S., & Susilawati. (2007). Aktivitas Antibakteri Daun Salam
(Syzygium polyanta) dan Daun Pandan (Pandanus amarylifolius). Jurnal
Teknologi dan Pangan , Vol XVII No 1.
https://id.scribd.com/document/332030175/Ekstraksi-Pektin-Buah-Pisang-Raja-
pdf 14;009 Januari 2018

Universitas Pamulang
3

LAMPIRAN
Lampiran 1. Diagram Alir

Mulai

Persiapan

Ekstraksi Maserasi

Inkubasi 7 hari Inkubasi 10 hari

Pemisahan Pelarut
Rotary Evaporator

Uji Kualitas

Uji pH Uji Antibakteri Uji Organoleptik

Tidak
Kualitas Ok

Formulasi Produk

Pasteurisasi / Pengemasan

Selesai

Universitas Pamulang
22

Lampiran 2. Formulir Uji Organoleptik

UJI ORGANOLEPTIK MOUTHWASH KULIT PISANG RAJA

Nama Penelis :

Umur/Profesi :

Hari/Tanggal Uji :

Petunjuk : Dihadapan anda tersaji 3 sampel produk. Anda diminta untukmemberikan


penilaian terhadap warna, aroma, rasa, tampilan dan penerimaan keseluruhan.

1. Minumlah air mineral terlebih dahulu


2. Cicipi sampel yang disediakan satu persatu
3. Berikan penilaian ( A-E ) pada pertanyaan yang sesuai dengan penilaian anda
4. Gunakan air mineral sebagai penetral tiap berpindah sampel

MACAM SAMPEL
DESKRIPSI
1 2 3
Warna

Aroma

Rasa

Tampilan

Kelayakan Produksi

A : Suka
B : Agak Suka
C : Netral
D : Agak Tidak Suka
E : Tidak Suka

Kritik dan Saran :

Universitas Pamulang