Anda di halaman 1dari 39

Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa

RSU Undata Palu


Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako

REFERAT
GANGGUAN DISOSIATIF DAN GANGGUAN
KONVERSI

DISUSUN OLEH :
WIRA AMAZ GAHARI
N 111 18 023

PEMBIMBING KLINIK

dr. DEWI SURIANY A, Sp.KJ

DIBUAT DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA
RSU UNDATA PALU
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2018
BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Dalam keadaan kesehatan mental, seseorang memiliki perasaan diri (sense of


self) yang utuh sebagai manusia dengan kepribadian dasar yang tunggal. Disfungsi
utama pada gangguan disosiatif adalah kehilangan keutuhan kesadaran tersebut;
orang merasa tidak memiliki identitas atau mengalami kebingungan terhadap
identitasnya sendiri atau memiliki identitas berganda. Menyatukan pengalaman diri
sendiri biasanya terdiri dari suatu kepribadian yang unik. Walaupun penyatuan
pengalaman kepribadian tersebut adalah abnormal pada gangguan disosiasif, pasien
dengan gangguan ini menunjukkan berbagai pengalaman disosiatif dari normal
sampai patologis. 1
Disosiasi timbul sebagai suatu pertahanan terhadap trauma. Pertahanan
disosiatif memiliki fungsi ganda untuk menolong korban melepaskan diri sendiri dari
trauma pada saat hal tersebut terjadi sambil juga menunda menyelesaikannya yang
menempatkan trauma dalam pandangan dengan sisa kehidupan mereka. Pada kasus
represi, suatu pembelahan horizontal diciptakan oleh penghalang represi, dan material
ditransfer ke dalam bawah sadar yang dinamik. Disosiasi adalah berbeda dengan
menciptakan pembelahan vertikal, sehingga isi mental ada pada sejumlah kesadaran
yang paralel. 1
Diagnostik dan statistikal manual of mental disorders edisi keempat (DSM-IV)
memiliki kriteria diagnostik spesifik untuk empat gangguan disosiatif : amnesia
disosiatif (sebut amnesia psikogenik dalam DSM edisi ketiga yang direvisi [DSM-III-
R]), fuga disosiatif (disebut fuga psikogenik dalam DSM-III-R), gangguan identitas
disosiatif (disebut gangguan kepribadian ganda dalam DSM-III-R), dan gangguan
depersonalisasi.1
Mungkin agak sulit mendiagnosis dan menatalaksanai gangguan ini.
Kemungkinan penyebab organik harus disingkirkan lebih dahulu dan hal ini dapat
berakibat pemeriksaan yang ekstensif. 2
Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah kemungkinan dibuat-buatnya
gejala tersebut. Di sini ada dua kemungkinan, gangguan buatan (factitious disorder)
atau berpura-pura (malingering). Pada gangguan buatan, gejala-gejala dibuat dengan
sengaja untuk mendapatkan perawatan medis, sedangkan pada berpura-pura untuk
mendapatkan keuntungan pribadi. Menentukan hal ini tidaklah mudah dan mungkin
memerlukan bukti bahwa ada inkonsistensi dalam gejalanya. 2
Pada gangguan konversi, istilah konversi didasarkan pada teori kuno bahwa
perasaan dan anxietas dikonversikan manjadi gejala-gejala dengan akibat
terselesaikannya konflik mental (keuntungan primer; primary gain) dimana
memungkinkan pasien untuk menghindari situasi yang tidak menyenangkan dan
mengumpulkan perhatian dari orang lain (keuntungan sekunder; secondary gain).1,12
Gangguan konversi (conversion disorders) menurut DSM-IV didefinisikan
sebagai suatu gangguan yang ditandai oleh adanya satu atau lebih gejala neurologis
(sebagai contohnya paralisis, kebutaan, dan parastesia) yang tidak dapat dijelaskan
oleh gangguan neurologis atau medis yang diketahui. Disamping itu diagnosis
mengharuskan bahwa faktor psikologis berhubungan dengan awal atau eksaserbasi
gejala. Adapun menurut PPDGJ III gangguan konversi atau disosiatif adalah adanya
kehilangan (sebagian atau seluruh) dari integrasi normal antara: ingatan masa lalu,
kesadaran akan identitas dan penghayatan segera (awareness of identity and
immediate sensations), dan kendali terhadap gerakan tubuh.1
Gejala konversi menunjukkan gangguan fisik tetapi merupakan hasil dari faktor
psikologis. Menurut model psikodinamik, gejala akibat konflik emosional, dengan
represi konflik ke alam bawah sadar. Pada akhir 1880-an, Freud dan Breuer
menyarankan bahwa gelaja histeris akibat intrusi “kenangan yang terhubung ke
trauma psikis” ke persarafan somatik. Proses pikiran-untuk-tubuh disebut sebagai
konversi.2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 GANGGUAN DISOSIATIF

Dalam DSM IV, gambaran utama gangguan disosiasi berupa gangguan


kesadaran, ingatan, identitas atau persepsi lingkungan. Gangguan disosiasi
dipertimbangkan sebagai mekanisme pertahanan diri menghadapi trauma
psikologik. 3
Gangguan disosiasi dibedakan atas : 1
1. Amnesia disosiatif
2. Fuga disosiatif
3. Gangguan identitas disosiatif
4. Gangguan depersonalisasi
5. Gangguan disosiatif yang tidak tergolongkan

2.1.1 AMNESIA DISOSIATIF


a. Gambaran Umum
Gambaran utama amnesia disosiatif adalah adanya amnesia. Gejala
kuncinya adalah ketidakmampuan mengingat kembali informasi, biasanya
tentang kejadian yang penuh stres atau traumatik di dalam hidupnya.
Ketidakmampuan tersebut tidak dapat dijelaskan sebagai kondisi lupa
yang biasa atau disebabkan karena gangguan otak, namun masih dapat
belajar sesuatu yang baru. 2
Bentuk umum dari amnesia disosiasi melibatkan amnesia untuk
identitas personal tetapi ingatan tentang informasi umum masih ingat
misalnya seperti apa yang dimakan untuk sarapan pagi.2
Gejala amnesia adalah sering ditemukan pada amnesia disosiatif,
fuga disosiatif dan gangguan identitas disosiatif. Amnesia disosiatif
didiagnosis tepat jika fenomena disosiatif terbatas pada amnesia. Kunci
gejala dari amnesia disosiatif adalah ketidakmampuan untuk mengingat
informasi yang baru saja disimpan di dalam ingatan pasien. Informasi
yang dilupakan biasanya tentang peristiwa yang menegangkan atau
traumatik dalam kehidupan seseorang. Ketidakmampuan untuk
mengingat informasi tidak dapat dijelaskan oleh kelupaan yang biasanya
dan tidak terdapat bukti-bukti adanya suatu gangguan otak dasar.
Kemampuan untuk mempelajari informasi baru dipertahankan.1
Bentuk umum dari amnesia disosiatif melibatkan amnesia untuk
identitas pribadi seseorang tetapi daya ingat informasi umum utuh.
Gambaran klinis adalah tepat kebalikan gambaran klinis yang ditemukan
pada demensia, di mana pasien dapat mengingat namanya tetapi
melupakan informasi umum, seperti apa yang mereka makan saat makan
siang. Kecuali untuk amnesia, pasien dengan amnesia disosiatif
tampaknya sama sekali utuh dan berfungsi secara masuk akal.
Sebaliknya, pada kebanyakan amnesia karena suatu kondisi medis umum
(seperti pascakejang dan amnesia toksik), pasien mungkin mengalami
konfusi dan memiliki perilaku yang terdisorganisasi. Tipe amnesia lain
(sebagai contohnya, amnesia global transien dan amnesia pascagegar)
disertai dengan amnesia anterograd, yang tidak terjadi pada pasien dengan
amnesia disosiatif. 1

b. Epidemiologi
Amnesia adalah gejala disosiatif yang paling sering, karena terjadi
hampir semua gangguan disosiatif.1,4 Amnesia disosiatif diperkirakan
merupakan gangguan disosiatif yang paling sering, walaupun data
epidemiologis tentang semua gangguan disosiatif adalah terbatas dan
tidak pasti. Namun demikian, amnesia disosiatif diperkirakan terjadi lebih
sering pada wanita dibandingkan laki-laki dan lebih sering pada dewasa
muda dibandingkan dewasa yang lebih tua. Karena gangguan biasanya
berhubungan dengan peristiwa yang menakutkan dan traumatik,
insidensinya kemungkinan meningkat selama masa perang dan bencana
alam. Kasus amnesia disosiatif yang berhubungan dengan lingkungan
rumah tangga-sebagai contohnya, penyiksaan pasangan dan penyiksaan
anak-kemungkinan jumlahnya tetap.1

c. Etiologi
Proses neuroanatomis, neurofisiologis dan neurokimiawi dalam
penyimpanan dan pengumpulan ingatan jauh lebih dimengerti sekarang
ini dibandingkan pada satu dekade yang lalu. Perbedaan antara daya ingat
jangka pendek dan daya ingat jangka panjang, peranan sentral
hipokampus dan keterlibatan sistem neurotransmiter telah diperjelas.
Kompleksitas pembentukan dan pengumpulan ingatan yang baru
dipahami menyebabkan amnesia disosiatif secara intuitif dapat dimengerti
karena banyaknya daerah kemungkinan yang mengalami disosiatif.
Tetapi, sebagian besar pasien dengan amnesia disosiatif tidak mampu
untuk mengumpulkan ingatan tentang peristiwa yang menengangkan dan
traumatik. Jadi, isi emosional ingatan jelas berhubungan dengan
patofisiologi dan penyebab gangguan.1
Dari pendekatan psikoanalitik, gangguan amnesia disosisatif
terutama dipertimbangkan sebagai mekanisme pertahanan diri, kesadaran
individu berubah sebagai cara untuk menyelesaikan konflik emosional
atau stressor dari luar.3
Satu pengamatan yang cukup relevan tentang orang normal adalah
bahwa belajar seringkali tergantung kepada keadaan (state-dependent)-
yaitu, tergantung pada korteks dimana belajar terjadi. Informasi yang
dipelajari atau dialami selama suatu perilaku tertentu (sebagai contoh,
saat mengemudikan kendaraan), keadaan farmakologis (sebagai
contohnya, sambil minum alkohol), atau keadaan neurokimiawi (sebagai
contoh, kemungkinan berhubungan dengan suatu emosi seperti
kegembiraan) atau pada suatu keadaan fisik tertentu (sebagai contohnya,
melihat setangkai bungan tertentu) seringkali diingat hanya jika
mengalami kembali keadaan aslinya atau paling muda diingat jika
mengalami kembali keadaan aslinya. Jadi, orang dapat lebih mudah
mengingat dimana tombol lampu berada didalam mobilnya saat mereka
berkendara dibandingkan mereka sedang menonton televisi. Teori belajar
tergantung keadaan (state-dependent learning) berlaku pada amnesia
disosiatif dimana ingatan akan peristiwa traumatik dikorbankan selama
peristiwa, dan keadaan emiosional mungkin sangat menyimpang dari
biasanya bagi orang yang terkena yaitu sukar bagi orang untuk mengingat
informasi yang dipelajari selama keadaan tersebut.1
Pendekatan psikoanalitik terhadap amnesia disosiatif adalah
pertimbangan amnesia terutama mekanisme pertahanan dimana orang
mengubah kesadarannya sebagai cara untuk menghadapi suatu konflik
emosional atau stresor eksternal. Pertahanan sekunder yang terlibat dalam
amnesia disosiatif adalah represi (impuls yang mengganggu di halangi
supaya tidak masuk ke kesadaran) dan penyangkalan (beberapa aspek
kenyataan eksternal diabaikan oleh pikiran sadar).1

d. Gambaran Klinis
Episode amnesia disosiatif jarang terjadi secara spontan. Baisanya
pada riwayat walaupun jarang episode amnesia disosiatif terjadi secara
spontan, riwayat penyakit biasanya terungkap adanya suatu trauma
emosional pencetus yang berisi emosi menyakitkan dan konflik
psikologis-sebagai contohnya, suatu bencana alam dimana pasien
menyaksikan cidera parah atau ketakutan besar akan kehidupannya. Suatu
ekspresi impuls (seksual atau agresif) yang dikhayalkan atau aktual yang
tidak mampu diatasi oleh pasien juga dapat berperan sebagai pencetus.
Amnesia mungkin mengikuti suatu hubungan gelap diluar pernikahan
yang dirasakan pasien sebagai tidak dapat diterima secara moral.1
Walaupun tidak diperlukan untuk diagnosis, onset seringkali tiba-
tiba, dan pasien biasanya menyadari bahwa mereka telah kehilangan daya
ingatnya. Beberapa pasien menjadi marah karena kehilangan daya ingat
tersebut, tetapi yang lainnya tambah acuh atau tidak berbeda. Pada pasien
yang tidak menyadari kehilangan daya ingatnya tetapi yang dicurigai oleh
dokter menderita amnesia disosiatif, sering kali bermanfaat untuk
menanyakan pertanyaan tertentu yang mungkin menngungkapkan gejala.
Pasien amnestik biasanya sadar sebelum dan setelah amnesia terjadi.
Tetapi beberapa pasien, melaporkan sedikit pengaburan kesadaran selama
periode segera disekitar periode amnestik. Deperesi dan kecemasan
adalah faktor predisposisi yang sering dan seringkali ditemukan pada
pemeriksaan status mental pasien.1
Amnesia dari amnesia disosiatif dapat mengambil satu dari
beberapa bentuk : (1) amnesia terlokalisasi (localized amnesia), tipe yang
paling sering, adalah kehilangan daya ingat terhadap peristiwa-peristiwa
dalam periode yang singkat (beberapa jam sampai beberapa hari); (2)
amnesia umum (generalized amnesia), adalah kehilangan daya ingat akan
pengalaman selama hidupnya; (3) amnesia selektif (juga dikenal sebagai
tersistematisasi) adalah kegagalan untuk mengingat beberapa peristiwa
tetapi tidak semuanya selama suatu periode waktu yang singkat. 1
Amnesia mungkin memiliki tujuan primer atau tujuan sekunder.
Wanita yang amnesia akan kelahiran bayi yang meninggal mencapai
tujuan primer dengan melindungi dirinya sendiri dari emosi yang
menyakitkan. Suatu contoh dari tujuan sekunder adalah seorang serdadu
yang mengalami amnesia tiba-tiba dan selanjutnya dipindahkan dari
peperangan.

e. Diagnosa
Kriteria diagnostik menurut DSM-IV :5
1. Gangguan yang predominan adalah adanya satu atau lebih episode
tidak mampu mengingat informasi personal yang penting, biasanya
keadaan yang traumatik atau penuh stress yang tidak dapat dijelaskan
hanya sebagai lupa yang biasa
2. Terjadinya gangguan bukan bagian khusus dari gejala gangguan
identitas, disosiasi fugue, PTSD, gangguan stress akut atau gangguan
somatisasi dan tidak disebabkan efek fisiologis langsung dari
penggunaan zat, gangguan neurologik atau kondisi medik umum
3. Gejala tersebut secara klinis menyebabkan distress atau hendaya yang
bermakna dalam fungsi sosial, pekerjaan atau area penting lainnya

f. Diagnosa Banding
Diagnosa banding untuk amnesia disosiatif melibatkan suatu
pertimbangan kondisi medis umum dan gangguan mental lainnya. Suatu
riwayat medis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, riwayat
psikiatrik, dan pemeriksaan status mental harus dilakukan. 1
Amnesia yang disertai dengan dimensia dan delirium biasanya
berhubungan dengan banyak gejala kognitif lain yang mudah dikenali.
Jika pasien memiliki amnesia untuk informasi personal dalam kondisi
tersebut, dimensia atau delirium biasanya lanjut dan mudah dibedakan
dari amnesia disosiatif. Khususnya pada kasus delirium, pasien mungkin
menunjukkan konfabulasi selama wawancara. Pada umumnya, pemulihan
segera daya ingat menyatakan amnesia disosiatif, bukannya gangguan
amnestik karena suatu kondisi medis umum.
Pada amnesia pascagegar (postconcussion amnesia) gangguan
daya ingat yang terjadi setelah trauma kepala, sering kali retrograd
(berlawanan dengan gangguan anterograd pada amnesia disosiatif) dan
biasanya tidak lebih dari satu minggu. Pemeriksaan klinis pada pasien
amnesia pascagegar dapat didapatkan riwayat ketidaksadaran, bukti-bukti
eksternal adanya trauma, atau bukti lain adanya cedera otak.
Amnesia global transien. Amnesia global transien adalah suatu
amnesia retrograd yang akut dan transien yang lebih mempengaruhi daya
ingat segera dibandingkan daya ingat jauh. Walaupun pasien biasanya
menyadari amnesia, mereka mungkin masih dapat melakukan kerja
mental dan fisik yang sangat kompleks selama 6 sampai 24 jam dimana
episode amnesia global transien biasanya berlangsung. Pemulihan dari
gangguan biasanya lengkap. Amnesia global transien paling sering
disebabkan oleh serangan iskemik transien (TIA; trancient ischemic
attacks) yang mengenai struktur limbik garis tengah otak. Amnesia global
transien juga dapat berhubungan dengan nyeri kepala migrain, kejang dan
intoksikasi dengan obat sedatif-hipnotik. 1 Amnesia global transien dapat
dibedakan dari amnesia disosiatif dengan beberapa cara. Amnesia global
transient adalah disertai dengan amnesia anterograd selama periodenya;
amnesia disosiatif tidak. Pasien dengan amnesia global transien
cenderung lebih ketakutan dan prihatin akan gejalanya dibandingkan pada
pasien dengan manesia disosiatif. Identitas pribadi pada pasien dengan
manesia disosiatif adalah hilang; tetapi identitas pribadi pasien amnesia
global transien adalah dipertahankan. Kehilangan daya ingat pada seorang
pasien dengan amnesia disosiatif adalah selektif untuk bidang tertentu dan
tidak menunjukkan suatu gradien temporal; kehilangan daya ingat pada
pasien dengan amnesia global transien adalah menyeluruh dan peristiwa
yang jaug diingat dengan lebih baik dibandingkan dengan peristiwa yang
belum lama. Karena hubungan amnesia global transien dengan masalah
vaskular, gangguan adalah paling sering ditemukan pada pasien dalam
usia 20 sampai 40 tahunan, suatu periode yang berhubungan dengan
stresor psikologis tipe umum yang terlihat pada pasein tersebut. 1
Gangguan mental lainnya. Dua gangguan disosiatif lainnya, fuga
disosiatif dan gangguan identitas disosiatif, harus dipertimbangkan di
dalam diagnosis banding. Gangguan tersebut dibedakan berdasarkan
gejala tambahannya. 1
Gangguan stres pascatraumatik, gangguan stres akut dan
gangguan somatoform (khususnya gangguan somatisasi dan gangguan
konversi) harus dipertimbangkan di dalam diagnosis banding dan dapat
menyertai amnesia disosiatif. Berpura-pura, pada kasus ini suatu usaha
tipuan untuk menyerupai amnesia, mungkin sukar untuk ditemukan. Tiap
kemungkinan tujuan sekunder, khususnya untuk menghindari hukuman
akibat aktifitas kriminal, harus meningkatkan kecurigaan klinisi,
walaupun tujuan sekunder tersebut tidak menyingkirkan diagnosa
amnesiadisosiatif.

g. Perjalanan Penyakit dan Prognosa


Gejala amnesia disosiatif biasanya berakhir dengan tiba-tiba dan
pemulihan biasanya lengkap dengan sedikit rekurensi. Pada beberapa
kasus, khususnya jika terdapat tujuan sekunder, kondisi mungkin
berlangsung dalam jangka waktu panjang. Klinisis harus mencoba untuk
memulihkan ingatan pasien yang hilang sesegera mungkin; jika tidak
ingatan yang terepresi dapat membentuk suatu nukleus (inti) di dalam
pikiran bawah sadar dimana di sekelilingnya kelak dapat berkembang
episode amnestik.1
h. Terapi
Wawancara dapat memberikan petujuk bagi kondisi adanya
pencetus yang traumatik secara psikologis. Barbiturat kerja sedang dan
kerja singkat seperti thipental (Pentothal) dan natrium amobarbital
diberikan secara intravena dan benzodiazepine dapat berguna untuk
membantu pasien memulihkan ingatannya yang hilang. Hipnosis dapat
digunakan terutama sebagai cara untuk membuat pasien cukup santai
mengingat apa yang telah dilupakan. Pasien ditempatkan di dalam
keadaan somnolen, pada tempat dimana inhibisi mental dihilangkan dan
material yang dilupakan timbul ke dalam kesadaran dan selanjutnya
diingat kembali. Jika ingatan yang hilang telah didapatkan, psikoterapi
biasanya dianjurkan untuk membantu pasien memasukkan ingatan ke
dalam keadaan kesadarannya. 1

2.1.2 FUGUE DISOSIATIF

a. Gambaran Umum
Fugue berasal dari bahasa latin fugere, yang berarti melarikan diri,
fugue sama dengan amnesia ”dalam pelarian”. Dalam fugue disosiatif
memori yang hilang lebih luas dari pada amnesia dissosiative, individu
tidak hanya kehilangan seluruh ingatanya (misalnya nama, keluarga atau
pekerjaanya), mereka secara mendadak meninggalkan rumah dan
pekerjaanya serta memiliki identitas yang baru (parsial atau total). Namun
mereka mampu membentuk hubungan sosial yang baik dengan
lingkungan yang baru. 6

Perilaku seorang pasien dengan fugue disosaiatif adalah lebih


bertujuan dan terintegrasi dengan amnesianya dibandingkan pasien
dengan amnesia disosiatif. Pasien dengan fuga disosiatif telah berjalan-
jalan secara fisik dari rumah dan situasi kerjanya dan tidak dapat
mengingat aspek penting identitas mereka sebelumnya (nama, keluara,
pekerjaan). Pasien tersebut seringkali, tetapi tidak selalu, mengambil
identitas dan pekerjaan yang sepenuhnya baru, walaupun identitas baru
biasanya kurang lengkap dibandingkan kepribadian berganti-ganti yang
terlihat pada gangguan identitas disosiatif. Juga, pada fuga disosiatif
identitas yang lama dan baru tidak berganti-ganti, seperti yang terjadi
1,3
pada gangguan identitas disosiatif.

b. Epidemiologi
Fuga disosiatif adalah jarang, dan seperti amnesia disosiatif, terjadi
paling sering selama waktu peperangan, setelah bencana alam, dan sebagai
akibat dari krisis pribadi dengan konflik internal yang kuat. Fugue, seperti
amnesia, relatif jarang dan diyakini mempengaruhi sekitar 2 orang di 1.000
di antara populasi umum 3,7

c. Etiologi
Kondisi psikologik dipikirkan sebagai dasar dar fugue disosiatif,
walaupun peminum alcohol dapat merupakan predisposisi terjadinya
fugue disosiatif. Predisposisi terjadinya fugue disosiatif lainnya adalah:
gangguan mood dan gangguan kepribadian tertentu (seperti gangguan
ambang, histrionic, dan skizoid). Faktor motivasi utama timbulnya fugue
disosiatif adalah adanya keinginan untuk menarik diri dari pengalaman
emosional yang menyakitkan.3
Walaupun penyalahgunaan alcohol berat dapat mempredisposisikan
seseorang dengan fuga disosiatif, penyebab gangguan diperkirakan
didasarkan secara psikologis. Faktor pemotivasi inti tampaknya adalah
keinginan untuk menarik diri dari pengalaman yang menyakitkan secara
emosional. Pasien dengan gangguan mood dan gangguan kepribadian
tertentu (sebagai contohnya, gangguan kepribadian ambang, histrionic,
dan skizoid) adalah terpredisposisi dengan perkembangan fugue
disosiatif.7
Berbagai stresor dan faktor pribadi mempredisposisikan seseorang
dengan perkembangan fuga disosiatif. Faktor psikososial adalah stresor
perkawinan, financial,pekerjaan, dan yang berhubungan dengan
peperangan. Ciri predisposisi lainnya adalah depresi, usaha bunuh diri,
gangguan organic (khususnya epilepsi), dan riwayat penyalahgunaan zat.
Suatu riwayat trauma kepala juga mempredisposisikan seseorang dengan
fuga disosiatif. 1

d. Gambaran Klinis
Pasien jalan-jalan dengan tujuan tertentu, biasanya jauh dari rumah.
Selama periode ini mereka mengalami amnesia komplit tentang
kehidupannya yang lalu dan sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu,
tetapi mereka pada umumnya tidak menyadari bahwa mereka lupa tentang
sesuatu. Setelah pasien kembali ke diri aslinya ia dapat mengingat waktu
sebelum onset fugue, tetapi mereka tetap amnesia (lupa) selama periode
fuguenya. Pasien dengan fugue disosiatif tidak berperilaku yang tidak
wajar atau memperlihatkan adanya ingatan tertentu dari kejadian yang
traumatik. 3
Fuga disosiatif memiliki beberapa ciri tipikal. Pasien berkelana secara
bertujuan, biasanya jauh dari rumah dan seringkali selama beberapa hari
tiap kalinya. Selama periode tersebut mereka memiliki amnesia yang
lengkap terhadap kehidupan dan hubungan masa lalunya, tetapi, tidak
seperti pasien dengan amnesia disosiatif, mereka biasanya tidak
menyadari bahwa mereka telah melupakan segalanya. Hanya jika mereka
tiba-tiba kembali ke diri sebelumnya mereka dapat mengingat onset fuga
sebelumnya, tetapi mereka tetap amnestik untuk periode fuga itu sendiri.
Pasien dengan fuga disosiatif tidak tampak berkelakuan aneh bagi orang
lain, mereka juga tidak memberikan bukti-bukti yang menyatakan adanya
ingatan spesifik tentang peristiwa traumatik. Sebaliknya, pasien dengan
fuga disosiatif tetap tenang, biasa, berdiam diri; bekerja dengan pekerjaan
sederhana; hidup sederhana; dan pada umumnya, tidak menarik perhatian
padadirinya.

e. Diagnosis
Kriteria diagnostik menurut DSM-IV : 5
1. Gangguan yang predominan adalah terjadinya perjalanan mendadak
yang tidak diharapkan berupa meninggalkan rumah, tempat, pekerjaan
dan ia tidak mampu mengingat masa lalu.
2. Kebingungan tentang identitas personal atau perkiraan dari identitas
baru (sebagian atau utuh).
3. Gangguan tidak terjadi secara khusus selama perjalanan gangguan
identitas dan tidak disebabkan efek fisiologis langsung dari
penggunaan zat(misalnya penyalahgunaan zat, pengobatan) atau
kondisi medik umum(misalnya epilepsy lobus temporalis).
4. Gejala menyebabkan distress yang bermakna atau hendaya dalam
bidang sosial, pekerjaan atau fungsi area yang penting

f. Diagnosa Banding
Diagnosa banding untuk fuga disosiatif adalah serupa dengan untuk
amnesia disosiatif. Berkelana yang terlihat pada amnesia atau delirium
biasanya dibedakan dari bepergian pada pasien fuga disosiatif oleh tidak
adanya tujuan pada yang pertama dan tidak adanya perilaku kompleks
dan adaptif secara social. Epilepsi partial kompleks mungkin disertai
dengan episode bepergian, tetapi pasien biasanya tidak mengambil
identitas baru, dan episode biasanya tidak dicetuskan oleh stress
psikologis. Amnesia disosiatif tampak dengan kehilangan daya ingat
sebagai akibat stres psikologis, tetapi tidak terdapat episode bepergian
yang bertujuan atau identitas baru. Berpura-pura mungkin sukar
dibedakan dengan fuga disosiatif. Tiap bukti-bukti adanya tujuan
sekunder yang jelas harus meningkatkan kecurigaan klinis. Hypnosis dan
wawancara amobarbital mungkin berguna dalam memperjelas diagnosis
klinis. 1

g. Perjalanan Penyakit dan Prognosa


Biasanya, fugue disosiatif terjadi dalam waktu yang pendek, dari
beberapa jam sampai beberapa hari. Sangat jarang terjadi dalam beberapa
bulan dan melakukan perjalanan jauh sampai ribuan mil dari rumahnya.
Umumnya, perbaikan fugue disosiatif terjadi secara spontan, cepat dan
jarang terjadi kekambuhan. 3

h. Terapi
Pengobatan fuga disosiatif adalah serupa dengan pengobat amnesia
disosiatif. Wawancara psikiatrik, wawancara dengan bantuan obat, dan
hipnosis dapat membantu mengungkapkan bagi ahli terapi dan pasien
tentang stresor psikologis yang mencetuskan episode fuga. Psikoterapi
biasanya diindikasikan untuk membantu pasien menggabungkan stresor
pencetus ke dalam jiwanya dengan cara yang sehat dan terintegrasi.
Pengobatan pilihan untuk fuga disosiatif adalah psikoterapi
psikodinamika suportif-ekspresif. Teknik yang diterima paling luas
memerlukan suatu campuran abreaksi trauma masa lalu dan integrasi
trauma kedalam diri yang berpadu yang tidak lagi memerlukan
fragmentasi untuk menghadapi trauma. 1,3
Individu dengan disosiatif fugue dapat dibantu dengan pendekatan
psikoterapi yang sangat berguna dalam mengatasi stressor psikososial saat
ini, seperti konflik rumah tangga, dengan individu-individu yang terlibat.
Sehingga stres psikososial saat ini memicu fugue, resolusi stres yang
dapat membantu mengatasinya dan mengurangi kemungkinan
kekambuhan.10
Psikoterapi, dengan menekankan pada kekuatan dari kumpulan
terapi, telah digunakan lebih sering daripada penggunaan obat-obatan
untuk gangguan disosiatif.11 Dengan demikian, psikoterapi yang efektif
adalah antisipatif yaitu membantu individu untuk mengenali dan
memodifikasi kecenderungan mereka untuk menyisihkan perasaan
mereka sendiri demi orang lain.10 Psikoterapi individu dan tambahan
terapi anti ansietas dan anti depresan merupakan modalitas terapi yang
paling mendukung di Belanda.10
Secara umum, farmakoterapi pada dosis rendah dan jangka pendek,
diresepkan selama dibutuhkan untuk mengurangi gejala distres akut.
Penyulit lainya terjadi apabila pasien-pasien ini tidak patuh dan sering
bereaksi berlebihan terhadap efek farmakologi obat. Ringkasnya, mereka
bukan orang-orang yang sesuai untuk menerima pengobatan
psikofarmakoterapi dan jarang mendapat manfaat simtomatik.3

2.1.3 GANGGUAN KEPRIBADIAN DISOSIATIF (KEPRIBADIAN


GANDA)
a. Gambaran Umum
Gangguan ini sering dikenal sebagai gangguan kepribadian
ganda/multiple. Gangguan disosiasi identitas merupakan gangguan
disosiasi yang kronik dan penyebabnya khas yaitu kejadian yang
traumatik, biasanya kekerasan fisik atau seksual pada masa kanak-kanak.
Individu dengan gangguan ini memiliki dua atau lebih kepribadian yang
berbeda, tetapi salah satu kepribadian dapat lebih dominan dalam waktu
tertentu dan hanya satu yang tampil untuk setiap saatnya. Gangguan
identitas disosiatif biasanya dipertimbangkan sebagai gangguan disosiatif
yang paling serius.3
Gangguan identitas disosiatif adalah suatu gangguan disosiatif
kronis, dan penyebabnya hampir selalu menyebabkan peristiwa traumatik,
biasanya penyiksaan fisik atau seksual. Konsep kepribadian mengesankan
suatu integgrasi cara seseorang tiap periode yang berpikir, berperasaan,
dan berkelakuan dan pengungkapan diri sendiri sebagai suatu kesatuan.
Orang dengan gangguan identitas disosiatif memiliki dua atau lebih
kepribadian yang terpisah, masing-masing menentukan perilaku dan
sikapnya selama tiap periode jika berada dalam kepribadian yang
dominan. Gangguan identitas disosiatif biasanya dianggap sebagai
gangguan disosiatif yang paling serius, walaupun beberapa klinisi yang
mendiagnosis berbagai pasien dengan gangguan ini telah menyatakan
bahwa mungkin terdapat keparahan yang lebih luas dibandingkan yang
diperkirakan sebelumnya. 1
Gangguan paling sering ditemukan pada masa remaja akhir dan
dewasa muda, dengan rata-rata usia saat diagnosis adalah 30 tahun,
walaupun pasien biasanya telah memiliki gejala selama 5-10 tahun
sebelum diagnosis. Beberapa penelitian telah menemukan bahwa
gangguan ini adalah lebih sering ditemukan pada sanak saudara biologis
derajat pertama dari orang dengan gangguan dibandingkan dari populasi
umum. 1
b. Epidemiologi
Gangguan identitas disosiatif seringkali menyertai gangguan mental
lainnya, termasuk gangguan kecemasan, gangguan mood, gangguan
somatoform, disfungsi seksual, gangguan yang berhubungan dengan zat,
gangguan makan, gangguan tidur, dan gangguan pasca traumatik. Gejala
gangguan identitas disosiatif adalah mirip dengan gejala yang ditukan
pada gangguan kepribadian ambang, dan perbedaan antara kedua
gangguan itu adalah sukar. Usaha bunuh diri adalah sering terjadi pada
pasien dengan gangguan identitas disosiatif, dan beberapa penelitian telah
melaporkan bahwa sebanyak dua pertiga dari semua pasien dengan
gangguan identitas disosiatif memang berusaha melakukan bunuh diri
selama perjalanan penyakitnya.1

c. Etiologi
Penyebab gangguan identitas disosiatif tidak diketahui, walaupun
riwayat pasien hampir selalu (mendekati 100 persen) melibatkan suatu
peristiwa traumatik, paling sering pada masa anak-anak. Pada umumnya,
empat tipe faktor penyebab telah dikenali : (1) peristiwa kehidupan
traumatik, (2) kecendurungan bagi gangguan untuk berkembang, (3)
faktor lingkungan formulatif, dan (4) tidak adanya dukungan eksternal. 1
Peristiwa traumatik biasanya adalah penyiksaan fisik dan seksual
pada masa anak-anak, yang tersering adalah incest. Peristiwa traumatik
lainnya dapat berupa kematian sanak saudara dekat atau teman dekat
selama masa anak-anak dan menyaksikan suatu trauma atau kematian. 1
Kecenderungan bagi gangguan untuk berkembang mungkin
didasarkan secara biologis atau psikologis. Berbagai kemampuan
seseorang untuk dihipnotis mungkin merupakan suatu contoh faktor
resiko untuk perkembangan gangguan identitas disosiatif. Epilepsy telah
dihipotesiskan terlibat di dalam penyebab gangguan identitas disosiatif,
dan sejumlah besar aktivitas yang abnormal telah dilaporkan pada
beberapa penelitian pasien yang terkena. Satu penelitian tentang aliran
darah serebral regional telah menemukan hiperperfusi temporal pada satu
subkepribadian tetapi tidak pada kepribadian utama. Walaupun beberapa
penelitian telah menemukan perbedaan pada nyeri dan parameter
psikologis lain di antara kepribadian-kepribadian, pemakaian data
tersebut sebagai bukti adanya gangguan identitas disosiatif harus didekati
dengan sangat berhati-hati. 1
Faktor lingkungan formulatif yang terlibat dalam patogenesis
gangguan identitas disosiatif adalah tidak spesifik dan kemungkinan
melibatkan faktor-faktor tertentu seperti model peran dan adanya
mekanisme lain yang digunakan untuk menghadapi stres. 1
Pada banyak kasus gangguan identitas disosiatif, suatu faktor dalam
perkembangan gangguan tampaknya adalah tidak adanya dukung dari
orang lain yang penting-sebagai contohnya, orang tua, saudara kandung,
sanak saudara lain, dan orang-orang yang tidak berhubungan, seperti
guru. 1

d. Gambaran klinis
1. Pasien dengan gangguan identitas disosiatif sering diperkirakan
memiliki gangguan kepribadian (umumnya gangguan kepribadian
ambang), skizofrenia, atau gangguan bipolar yang rapid cycling.
2. Perubahan dari kepribadian yang satu ke kepribadian yang lain terjadi
tiba-tiba dan dramatic. Selama dalam status kepribadian yang satu,
umumnya pasien lupa dengan status kepribadian yang lain.
Klinisi harus menyadari kategori diagnostik dan harus
mendengarkan ciri sugestif spesifik dari gangguan identitas disosiatif
dalam wawancara klinis. Frekuensi relatif gejala spesifik telah dilaporkan
dalam suatu penelitian pada 102 pasien gangguan identitas disosiatif.
Walaupun cerita-cerita pada media popular tentang pasien dengan lebih
dari 20 kepribadian, jumlah median kepribadian pada gangguan identitas
disosiatif adalah dalam tentang 5 – 10. Seringkali, hanya dua atau tiga
kepribadian yang ditemukan saat diagnosis; yang lainnya dikenali selama
perjalanan pengobatan.1
Transisi dari satu kepribadian ke kepribadian lainnya seringkali
tiba-tiba dan dramatic. Pasien biasanya memiliki amnesia selama masing-
masing kepribadian untuk keberadaan kepribadian lainnya dan untuk
peristiwa yang terjadi saat kepribadian lain adalah dominan. Tetapi,
kadang-kadang, satu kepribadian tidak diikuti oleh amnesia tersebut dan
tetap menyadari sepenuhnya keberadaan, kualitas, dan aktivitas
kepribadian lain. Pada waktu lain, kepribadian disadari semua atau
beberapa diantaranya dengan derajat yang berbeda-beda dan dapat
mengalami yang lain itu sebagai teman, sahabat, atau musuh berat. Pada
kasus klasik, masing-masing kepribadian memiliki suatu kumpulan
ingatan yang berhubungan, sangat kompleks, dan terintegrasi sepenuhnya
dan sikap, hubungan personal, dan pola perilaku yang karakteristik.
Paling sering, kepribadian memiliki nama yang sesuai; kadang-kadang,
diberikan satu atau lebih nama menurut fungsinya-sebagai contohnya,
pelindung. Walaupun beberapa klinisi telah menekankan bahwa satu atau
lebih kepribadian cenderung merupakan kepribadian yang dominan hak
tersebut tidak selalu benar. Pada kenyataanya, kadang-kadang satu
kepribadian menyerupai yang lainnya. Tetapi, biasanya kepribadian inang
(host personality) adalah kepribadian yang tampil untuk diobati dan
membawa nama resmi pasien. Kepribadian inang tersebut kemungkinan
kemungkinan terdepresi atau gelisah, mungkin memiliki sifat kepribadian
masokistik, dan mungkin tampaknya sangat moral. 1
Penampakan pertama kepribadian atau kepribadian-kepribadian
sekunder mungkin spontan atau mungkin timbul berhubungan dengan apa
yang tampak sebagai pencetus (termasuk hypnosis atau wawancara
dengan bantuan obat). Kepribadian mungkin berupa kedua jenis kelamin,
berbagai ras dan usia, dari keluarga yang berbeda dengan asal keluarga
pasien. Kepribadian yang paling sering adalah kekanak-kanakan.
Seringkali, kepribadian adalah berbeda atau berlawanan. Pada orang yang
sama, satu kepribadian mungkin ekstrovert, bahkan promiskuitas seksual,
dan yang lain mungkin introvert, menarik diri, dan terinhibisi secara
seksual. 1
Pada pemeriksaan, pasien seringkali tidak menunjukkan sesuatu
yang aneh selain status mentalnya, selain dari kemungkinan amnesia
untuk periode dengan lama yang bervariasi. Seringkali, hanya dengan
wawancara yang panjang atau banyak kontak dengan pasien gangguan
identitas disosiatif seorang klinisi mampu mendeteksi adanya kepribadian
ganda. Kadang-kadang, dengan meminta pasien menulis catatan harian,
klinisi menemukan kepribadian ganda yang terungkap dalam kesatuan
catatan harian. Diperkirakan 60 persen pasien beralih menjadi kepribadian
lain hanya secara kadang-kadang; 20 persen pasien lainnya tidak hanya
memilki episode yang jarang tetapi juga ahli dalam peralihan tersebut.1

e. Diagnosis
Kriteria diagnosis menurut DSM-IV :5
1. Adanya dua atau lebih identitas atau kepribadian yang berbeda.
2. Paling sedikit dua identitas atau kepribadian tersebut secara
berulang mengambil kendali perilaku individu tersebut.
3. Tidak mampu mengingat (lupa) informasi personal yang penting
yang tidak bias dijelaskan dengan lupa yang biasa.
4. Gangguan tersebut tidak disebabkan efek fisiologik langsung
penggunaan zat (hilang kesadaran atau perilaku kacau selama
intoksikasi alcohol), atau kondisi medic umum (kejang parsial
kompleks).

f. Diagnosis banding
Diagnosis banding adalah dua gangguan disosiatif lain, amnesia
disosiatif dan fuga disosiatif. Tetapi, kedua gangguan tersebut tidak
mengalami pergeseran identitas dan kesadaran identitas asli yang terlibat
pada gangguan identitas disosiatif. Gangguan psikotik, terutama
skizofrenia, mungkin dikacaukan dengan gangguan identitas disosiatif
hanya karena orang skizofrenik mungkin memiliki waham atau keyakinan
bahwa mereka memiliki identitas yang terpisah atau melaporkan
mendengar suara-suara kepribadian lainnya. Pada skizofrenia, terdapat
suatu gangguan pikiran formal, pemburukan sosial yang kronis, dan tanda
lain yang membedakan. Gejala gangguan bipolaryang berputar cepat
tampaknya serupa dengan gejala gangguan identitas disosiatif; tetapi,
wawancara mengungkapkan adanya kepribadian yang terpisah pada
pasien gangguan identitas disosiatif. Gangguan kepribadian ambang
mungkin menyertai gangguan identitas disosiatif, tetapi perubahan
kepribadian pada gangguan identitas disosiatif mungkin secara keliru
diinterpretasikan bukan sebagai apa-apa selain mood yang mudah
tersinggung dan masalh citra diri yang karakteristik unntuk pasien dengan
gangguan ambang. Berpura-pura memberikan suatu masalah diagnostik
yang sulit. Tujuan sekunder yang jelas meningkatkan kecurigaan, dan
wawancara dengan bantuan obat mungkin membantu membuat diagnosis.
Di antara gangguan neurologis yang harus dipertimbangkan, epilepsi
parsial kompleks paling sering meniru gejala gangguan identitas
disosiatif. 1

g. Perjalanan penyakit dan prognosis


Semakin awal onset gangguan identitas disosiatif, semakin buruk
prognosisnya. Satu atau lebih kepribadian dapat berfungsi dengan relative
baik, sedangkan yang lainnya berfungsi marginal. Tingkat gangguan
tertentang dari sedang sampai parah, variable penentu adalah jumlah, tipe,
dan kronisitas dari berbagai kepribadian. Gangguan ini dianggap
gangguan disosiatif yang paling parah dan kronis, dan pemulihan
biasanya tidak lengkap. Di samping itu, kepribadian individual mungkin
memiliki gangguan mentalnya masing-masing secara terpisah; gangguan
mood, gangguan kepribadian, dan gangguan disosiatif lainnya adalah
yang paling sering.

h. Terapi
Pendekatan yang paling manjur untuk identitas disosiatif adalah
psikoterapi tilikan, seringkali disertai dengan hipnoterapi atau teknik
wawancara dengan bantuan obat. Hipnoterapi atau wawancara dengan
bantuan obat dapat berguana dalam mendapatkan riwayat penyakit
tambahan, mengidentifikasi kepribadian yang sebelumnya tidak dikenali,
dan mempercepat abreaksi. Rencana pengobatan psikoterapi harus
dimulai dengan menegakkan diagnosis dan dengan mengidentifikasi dan
mengkarakteristikan berbagai keprbadian. Jika adanya kepribadian adalah
diarahkan kepada perilaku merusak diri sendiri atau perilaku kekerasan
lainnya, ahli terapi harus melibatkan pasien dan kepribadian yang sesuai
dalam kontrak pengobatan tergantung pada perilaku berbahaya tersebut.
Perawatan di rumah sakit mungkin diperlukan pada beberapa kasus. 1
Beberapa klinisi dan peneliti telah menulis tentang psikoterapi pada
pasien gangguan identitas disosiatif. Ringkasan prinsip dasar dan penuna
dalam menjelasan stadium terapi adalah berguna dalam menuntun terapi
yang sukar bagi pasien tersebut. Biasanya, stadium terapi awal
memperkuat komunikasi antara kepribadian untuk memulai reintegrasi.
Manfaat relative reintegrasi lawan resolusi terus diperdebatkan, dan
manfaat relatif pendekatan lain adalah tidak diketahui. Komunikasi antara
kepribadian juga membantu pasien mengendalikan keseluruhan perilaku
mereka. Klinisi harus berusaha untuk mengenali kepribadian yang
mengingat peristiwa traumatik masa kanak-kanan yang hampir selalu
berhubungan dengan gangguan. 1
Pemakaian medikasi antipsikotik pada pasien hampir tidak pernah
diindikasikan. Beberapa data menyatakan bahwa medikasi antidepresan
dan antiansietas mungkin berguna sebagai pelengkap dari psikoterapi.
Beberapa penelitian yang terkendali baik melaporkan bahwa medikasi
antikonvulsan- sebagai contohnya, carbamazepin-membantu pasien
tertentu.

2.1.4 GANGGUAN DEPERSONALISASI


a. Gambaran Umum
Karakteristik dari gangguan depersonalisasi adanya gangguan
persisten dan berulang dalam persepsi tentang realitas diri yang hilang
dalam waktu tertentu. Pasien dengan gangguan ini merasa bahwa dirinya
robot, ada dalam mimpi atau terpisah dari tubuhnya. Pasien menyadari
gejala tidak sesuai realita dan bersifat ego-dystonik. Beberapa klinis
membedakan antara depersonalisasi dan derealisasi. Depersonalisasi
adalah perasaan bahwa tubuh atau dirinya asing dan tidak nyata.
Derealisasi adalah persepsi bahwa objek / dunia luar aneh dan tidak nyata.
3

b. Epidemiologi
Sering terjadi dan tidak selalu patologik. 3

c. Etiologi
Dapat disebabkan oleh factor psikologik, neurologic, dan penyakit
sistemik (seperti gangguan tyroid, pancreas). Depersonalisasi sering
berhubungan dengan epilepsy, tumor otak, deprivasi sensorik, trauma
psikis, dan stimulasi elektrik lobus temporal. 3
Diagnosis gangguan identitas sisosiatif ditegakan dengan kriteria
diagnosis DSM-IV untuk gangguan identitas disosiatif. 3

d. Diagnosa
Kriteria diagnosis menurut DSM-IV5
1. Pengalaman yang persisten dan berulang merasa terpisah dari dirinya
(perasaan seseorang seperti dalam mimpi)
2. Selama depersonalisasi RTA masih utuh
3. Pengalaman depersonalisasi menyebabkan distress atau kesulitan
dalam social, pekerjaan atau fungsi area penting lainya
4. Depersonalisasi tidak terjadi selama gangguan mental lainya seperti
schizophrenia, panic disorder, gangguan stress akut atau gangguan
disosiatif lainya atau efek psikologis langsung dari pengguna zat

e. Perjalanan penyakit dan prognosis


Pada sebagian besar pasien, gejala depersonalisasi gejala awalnya
muncul mendadak, hanya pada sebagian kecil pasien yang pada awalnya
timbul bertahap. Awal penyakit berkisar antar umur 15 – 30 tahun, jarang
terjadi setelah umur 30 tahun, hampir tidak pernah timbul pada umur tua.
Adanya presipitasi factor timbulnya gangguan ini tidak banyak diketahui
walaupun sering ditemui permulaan gangguan ini muncul pada saat
istirahat dari stress psikologik. 3

2.1.5 GANGGUAN DISOSIATIF YANG TIDAK TERGOLONGAN


Gangguan disosiatif yang tidak tergolongkan diterapkan untuk gangguan
dengan gambaran disosiatif tetapi tidak memenuhi kriteria diagnostik amnesia
disosiatif, fegue disosiatif, gangguan identitas disosiatif atau gangguan
depersonalisasi. 1

1. Sindrom Ganser
a. Gambaran Umum
Gangguan ini pertama kali dikemukakan oleh Ganser. Ciri dari
gangguan yang kompleks ini adalah “jawaban kira-kira”,yang biasanya
diikuti beberapa gejala disosiasif lainya, seringkali dalam keadaan yang
menunjukan kemungkinan adanya penyebab yang bersifak psikogenik,
dan harus dimasukan di sini. 3

b. Epidemiologi
Kasus ini terdapat di berbagai budaya tetapi banyaknya laporan
sindrom Ganser menurun dari waktu ke waktu. Perbandingan frekuensi
lai-laki : wanita 2:1. 3
Dari kasus yang dilaporkan mereka merupakan kelompok individu
yang punya masalah dengan hukum, dan ada indikasi adanya potensi
malingering. 3
c. Etiologi
Laporan dari sebagian besar kasus menemukan adanya stressor
sebagai pemicu,misalnya adanya konflik personal, masalah keuangan,
disamping juga adanya sindroma otak organik, trauma kepala, kejang,
penyakit medik dan psikiatrik. 3

d. Gambaran klinis dan diagnosis


Gejala sindroma GANSER adalah jawaban yang salah tetapi jawaban
tersebut mendekati benar. Hal ini menunjukan bahwa pasien sebenarnya
memahami yang diajukan. 3
Misalnya seorang wanita usia 25 tahun ditanya berapa usianya,
Jawaban yang diberikan “saya tidak berusia 5 tahun”. Atau ditanya 2 + 2
berapa, jawabanya 5. Contoh lain ditunjukan pensil ditanya apa,
jawabanya kunci , ditanya warna hijau dijawab abu-abu. 3
Kesadaran berkabut juga sering terjadi yang bermanifestasi sebagai
disorientasi, amnesia, hilangnya informasi personal dan gangguan daya
nilai realita.3

e. Diagnosa banding
Sindrom otak organic, epilepsy, trauma kepala dan psikosis. 3

f. Penatalaksanaan
Pada sebagian besar kasus, pasien sindroma Ganser dirawat dan
diberikan lingkungan yang aman dan mendukung, juga diberikan anti
psikotik dosis rendah.3

2. Gangguan Trance Disosiatif


Suatu keadaan yang ditandai oleh perubahan kesadaran atau
hilangnya penginderaan dari identitas diri dengan atau tanpa suatu
identitas alternatif. Suatu perubahan status kesadaran dan menunjukkan
penurunan responsivitas terhadap stimulus lingkungan. 1
Pada gangguan ini terjadi kehilangan sementara penghayatan
identitas diri dan kesadaran terhadap lingkungannya, individu berperilaku
seakan-akan dikuasai oleh kepribadian lain, kekuatan gaib, malaikat, atau
kekuatan lain. Hanya gangguan trans yang “involunter” (diluar kemauan
individu) dan bukan merupakan aktivitas yang biasa, dan bukan
merupakan kegiatan keagamaan ataupun budaya yang boleh dimasukkan
dalam pengertian ini. Tidak ada penyebab organik (epilepsi, cedera
kepala, intoksikasi zat psikoaktif) dan bukan bagian dari gangguan jiwa
tertentu (skizofrenia, gangguan kepribadian multiple).8

2.2 GANGGUAN KONVERSI

a. Etiologi

Faktor Psikoanalitik. Menurut teori psikoanalitik, gangguan konversi


disebabkan oleh represi konflik intrapsikis yang tidak disadari dan konversi
anxietas menjadi suatu gejala fisik. Konflik tersebut adalah antara impuls
berdasarkan insting (contohnya agresi atau seksualitas) dan larangan
pengungkapan ekspresi. Gejalanya memungkinkan ekspresi parsial keinginan
atau dorongan terlarang, tetapi menyamarkannya sehingga pasien dapat
menghindari secara sadar untuk menghadapi impuls yang tidak dapat diterima
tersebut yaitu gejala gangguan konversi memiliki hubungan simbolik dengan
konflik yang tidak disadari. Gejala gangguan konversi juga memungkinkn
pasien menyampaikan bahwa mereka membutuhkan perhatian atau perlakuan
khusus. Gejala tersebut dapat berfungsi sebagai cara nonverbal untuk
mengendalikan atau memanipulasi orang lain.1
Faktor Biologis. Semakin banyak data yang mengaitkan fakor biologis
dan neuropsikologis di dalam timbulnya gejala gangguan konversi. Studi
pencitraan otak sebelumnya menemukan adanya hipometabolisme hemisfer
dominan dan hipermetabolisme hemisfer nondominan dan mengaitkan
hubungan hemisfer yang terganggu sebagai penyebab gangguan konversi.
Gejalanya dapat disebabkan oleh bangkitan korteks berlebihan yang
mematikan lengkung umpan balik negative antara korteks serebri dengan
formasio retikularis batang otak. Selanjutnya, peningkatan kadar keluaran
kortikofugal menghambat kesadaran pasien akan sensasi yang berkaitan
dengan tubuh, yang pada sebagian pasien dengan gangguan konversi dapat
menjelaskan adanya defisit sensorik yang dapat diamati.1

b. Gejala Klinis
Gejala konvesi menunjukkan gangguan neurologi dari system sensorik
atau motorik yang paling umum : paresis, kelumpuhan, aphonia, kejang,
kebutaan, dan anestesi. Gangguan konversi mungkin paling sering disertai
gangguan kepribadian pasif-agresif, dependen, anti social, dan histrionic.
Gejala gangguan depresif dan anxietas sering dapat meneyrtai gejala
gangguan konversi, dan pasien ini memiliki rasio bunuh diri.1,12
Gejala sensorik. Pada gangguan konversi, anesthesia dan paresthesia
adalah gejala yang lazim ditemukan, terutama pada ekstremitas. Semua
modalitas sensorik dapat terlibat dan distribusi gangguan biasanya tidak
konsisten dengan distribusi gangguan pada penyakit neurologis perifer
maupun pusat. Gejala gangguan konversi dapat melibatkan organ indera
khusus dan dapat menimbulkan tuli, buta, serta penglihatan trowongan (tunnel
vision). Gejala ini dapat unilateral atau bilateral, tetapi evaluasi neurologis
menunjukkan jaras sensorik yang intak.1,12
Gejala motorik. Gejala motorik meliputi gerakan abnormal, gangguan
berjalan, kelemahan, dan paralisis. Tremor ritmis yang kasar, gerakan
koreiform, “tic”, dan sentakan dapat ada. Gerakan tersebut umumnya
memburuk ketika orang memperhatikan mereka. Satu gangguan berjalan yang
terlihat pada gangguan konversi adalah astasia-abasia. Selain itu yang lazim
ditemukan juga adalah paralisis dan paresis yang mengenai satu, dua, atau
keempat ekstremitas, walaupun distribusi otot terkena yang tidak sesuai
dengan jaras saraf. Reflex tetap normal yaitu pasien tidak mengalami
fasikulasi atau atrofi otot (kecuali setelah paralisis konversi yang berlangsung
lama), temuan elektromiografi normal.1,12
Gejala kejang. Dimana kejang semu adalah gejala lain gangguan
konversi. Selama serangan, ditandai dengan keterlibatan otot-otot truncal
dengan opistotonus dan kepala atau badan berputar ke arah lateral. Semua
ekstremitas mungkin menunjukkan gerakan meronta-ronta, yang mungkin
akan meningkatkan intensitas jika pengekangan diterapkan. Sianosis jarang
terjadi kecuali pasien dengan sengaja menahan napas mereka. Klinisi dapat
merasa sulit membedakan kejang semu dengan kejang yang sesungguhnya
hanya dengan pengamatan klinis saja. Lebih jauh lagi, kira-kira sepertiga
kejang semua pasien memiliki gangguan epileptic. Menggigit lidah,
inkontinensia urin, dan cedera stelah jatuh dapat terjadi jika pasien memiliki
pengetahuan medis tentang penyakit. Gejala ini berbeda dengan kejang yang
sebenarnya, dimana pseudoseizure terutama terjadi di hadapan orang lain dan
bukan ketika pasien sendirian atau tidur. Reflex pupil dan muntah tetap ada
setelah kejang semu dan konsentrasi prolactin pasien tidak mengalami
peningkatan setelah kejang.1,12

c. Kriteria Diagnostik
Mungkin agak sulit menemukan diagnosis dan penatalaksanaan pada
gangguan ini. Kemungkinan penyebab organik harus disingkirkan lebih
dahulu dan hal ini dapat berakibat pemeriksaan yang ekstensif.2
Hal lain yang perlun dipertimbangkan adalah kemungkinan dibuat-
buatnya gejala tersebut. Disini ada dua kemungkinan, gangguan buatan
(factitious disorder) atau berpura-pura (malingering).2
Pada gangguan buatan, gejala-gejala dibuat dengan sengaja yang
bertujuan untuk mendapatkan perawatan medis (secondary gain) dimana
prevalensi sering pada perempuan umur 20-40 taun dan orang yang bekerja di
bidang kesehatan dengan gejala tidak konsisten, gejala yang dimiliki berbagai
jenis penyakit, gejala sering yang tidak biasa dan susah untuk dipercaya
dengan kesadaran yang baik (volunteer).Gangguan konversi karena adanya
keyakinan psikodinamika bahwa gangguan tersebut mencerminkan
penyaluran, atau konversi dari energi seksual atau agresif yang diekspresikan
ke gejala fisik seperti adanya gangguan neurologis.2
Untuk diagnosis pasti maka hal-hal dibawah ini harus ada :9
(a). Gambaran klinis yang ditentukan untuk masing-masing gangguan yang
tercantum pada F44-; (misalnya F44.0 Amnesia disosiatif).
(b) Tidak ada bukti adanya gangguam fisik yang dapat menjelaskan gejala
tersebut;
(c) Bukti adanya penyebab psikologis , dalam bentuk hubungan kurun waktu
yang jelas dngan problem dan kejadian-kejadian yang “stressful” atau
hubungan interpersonal yang terganggu (meskipun hal tersebut disangkal
penderita).

Tabel Kriteria Diagnostik DSM-IV-TR Gangguan Konversi 1


A. Satu atau lebih gejala atau deficit yang mempengaruhi fungsi sensorik atau
motorik volunter yang mengesankan adanya keadaan neurologis atau keadaan
medis lainnya.
B. Faktor psikologis dinilai terkait dengan gejala maupun deficit didahului konflik
atau stressor lain.
C. Gejala atau deficit ditimbulkan tanpa sengaja atau dibuat-buat (seperti pada
gangguan buatan atau malingering).
D. Setelah pemerikaan yang sesuai, gejala atau deficit tidak dapat benar-benar
dijelaskan oleh keadaan medis umum atau oleh efek langsung suatu zat, maupun
sebagai perilaku atatu pengalaman yang disetujui budaya.
E. Gejala atau deficit menyebabkan distress yang bermakna secara klinis atau
hendaya dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau area penting lain, atau memerlukan
evaluasi medis.
F. Gejala atau deficit tidak terbatas pada nyeri atau disfungsi seksual, tidak hanya
terjadi selama perjalanan gangguan somatisasi, dan sebaiknya tidak disebabkan
gangguan jiwa lain.
Tentukan tipe gejala atau defisit :
Dengan gejala atau deficit motorik
Dengan gejala atau deficit sensorik
Dengan bangkitan atau kejang
Dengan tampilan campuran
Dari American Pychiatric Association. Diagnosis and Statistical Manual
of Mental Disorder. 4th ed. Text rev. Washington DC : American Psychiatric
Association; copyright 2000, dengan izin.

d. Diagnosis Banding
Salah satu masalah utama didalam mendiagnosis gangguan konversi
adalah kesulitan untuk benar-benar menyingkirkan gangguan medis.
Pemeriksaan neurologis dan medis yang menyeluruh penting dilakukan pada
semua kasus. Diagnosis banding untuk gangguan konversi seperti: gangguan
neurologis seperti demensia atau penyakit degenerative lainnya, tumor otak,
dan penyakit ganglia basalis. Contohnya kelemahan pada gangguan konversi
dapat juga di diagnosis banding dengan miastenia gravis, polimiositis, miopati
yang didapat, dan bahkan multiple sklerosis. Kebutan pada gangguan konversi
dapat di diagnosis banding dengan neuritis optic. 1,2,12
Gejala gangguan konversi terdapat pada skizofrenia, gangguan depresif,
dan gangguan anxietas, tetapi gangguan ini disertai gejala khas yang akhirnya
membuat diagnosis menjadi mungkin.1
Memasukkan differensial diagnosis terutama gangguan somatisasi
sangat sulit ketika yang mendasari karakteristik penyakit ini dapat dengan
gejala neurologi yang tidak khas. Mendiagnosis gangguan konversi
disarankan ketika gejala somatik tidak sesuai dengan gangguan somatik
sebenarnya. Dimana gangguan somatisasi adalah penyakit kronis yang
dimulai pada masa kehidupan awal dan mencakup gejala pada banyak system
organ lain dan tidak terbatas pada gejala neurologis saja.12,13,14
Pada hipokondriasis, pasien tidak mengalami distorsi atau kehilangan
fungsi yang sebenarnya, melainkan terdapat perilaku serta keyakinan yang
khas. Pada gangguan buatan atau malingering, gejala di dalam kendali
kesadaran dan volunteer. Riwayat seorang yang melakukan malingering
biasanya lebih tidak konsisten dan kontradiktif dari pada pasien dengan
gangguan konversi, perilaku menipu seorang yang melakukan melingering
jelas memiliki tujuan.1
Sedangkan pada berpura-pura (malingering) untuk mendapatkan
keuntungan pribadi. Menentukan hal ini tidaklah mudah dan mungkin
memerlukan bukti bahwa ada inkonsistensi dalam gejalanya. Namun
umumnya gejala bervariasi tetapi paling sering gangguan jiwa yang ringan.2
DSM-IV-TR mencakup pernyataan berikut mengenai malingering.
Gambaran penting malingering adalah pembentukan disengaja gejala
psikologis atau fisik yang berlebih-lebihan, yang didorong dengan dengan
keuntungan internal seperti wajib militer, menghindari pekerjaan,
mendapatkan kompensasi, keuangan, menghindari tuduhan kriminal, atau
mendapatkan obat. Pada beberapa keadaan, malingering dapat menujukkan
perilaku adaptif. Contohnya memalsukan penyakit saat tertangkap musuh di
waktu perang.1

e. Penatalaksanaan
Penting dalam penatalaksanaan adalah menerima gejala pasien sebagai
hal yang nyata, tetapi menjelaskan bahwa itu reversible. Di upayakan untuk
kembali ke fungsi semula dengan bertahap. Apabila ada depresi komorbid, hal
ini harus diobati dengan baik. Psikoterapi dapat bermanfaat untuk gangguan
disosiatif dan dalam beberapa kasus kronis yang mengenai fungsi motorik
mungkin diperlukan rehabilitasi medis.2
Perbaikan gejala gangguan konversi biasanya terjadi spontan, walaupun
mungkin dipermudah oleh terapi perilaku atau terapi suportif berorientasi
tilikan. Ciri terapi yang paling penting adalah hubungan dengan terapis yang
penuh perhatian dan dapat dipercaya. Terhadap pasien yang resisten terhadap
gagasan psikoterapi, dokter dapat memberi usul bahwa psikoterapi akan
berfokus pada stress dan koping. Mengatakan pada pasien bahwa gejala
mereka adalah khayalan sering membuat mereka bertambah buruk.1
Hypnosis, ansiolitik, dan latihan relaksasi perilaku efektif pada beberapa
kasus. Lorazepam parenteral dapat membantu memperoleh informasi historik
tambahan, terutama ketika seorang pasien baru-baru ini mengalami peristiwa
traumatik.1
Pedekatan psikoterapeutik mencakup psikoanalisis dan psikoterapi
berorientasi tilikan. Pada terapi ini pasien menggali konflik intrapsikis dan
simbolisme gejala gangguan konversi. Bentuk singkat dan langsung
psikoterapi jangka pendek juga digunakan untuk menatalaksana gangguan
konversi. Semakin lama durasi penyakit pasien dan semakin banyak mereka
mengalami regresi, semakin sulit terapinya.1
f. Prognosis
Gejala awal pada sebagian besar pasien dengan gangguan konversi,
mungkin 90 hingga 100 persen membaik dalam beberapa hari atau kurang dari
satu bulan. Prognosis baik jika awitan mendadak, stressor, sudah
diidentifikasi, penyesuaian premorbid baik, tidak ada gangguan medis atau
psikiatri komorbid, dan tidak sedang menjalani proses hukum. Sedangkan
semakin lama gangguan konversi ada, prognosisnya lebih buruk.1
BAB III

PENUTUP

Menurut DSM-IV, gangguan disosiatif dan gangguan konversi adalah 2 gangguan


yang berbeda. Gangguan disosiatif adalah kehilangan keutuhan kesadaran pada
pasien, baik memori, identitas, kepribadian, maupun gangguan keutuhan kesadaran
yang belum dapat di kategorikan. Sedangkan pada gangguan konversi adalah
kehilangan kesadaran secara utuh ataupun sebagian terhadap fungsi penginderaan
segera, serta control terhadap tubuh.

Dalam DSM-IV, gangguan disosiatif dapat dibagi menjadi amnesia disosiatif, fugue
disosiatif, gangguan identitas disosiatif, gangguan depersonalisasi, gangguan
disosiatif yang tidak spesifik (tak terkategorikan). Pada gangguan konversi,
dibedakan dan masuk dalam golongan gangguan somatoform, yang memiliki
beberapa subtype gejala, yaitu gangguan konversi yang disertai dengan gejala atau
defisit motoric, gangguan konversi yang disertai dengan gejala atau deficit sensorik,
gangguan konversi yang disertai dengan kejang atau bangkitan, dan gangguan
konversi yang disertai dengan gejala yang bervariasi.

Penatalaksanaan dengan menggali kondisi fisik dan neurologiknya. Terapi


obat. sangat baik untuk dijadikan penangan awal, walaupun tidak ada obat yang
spesifik dalam menangani gangguan disosiatif dan konversi ini. Biasanya pasien
diberikan resep berupa anti-depresan dan obat anti-cemas untuk membantu
mengontrol gejala mental pada kedua gangguan ini. Bila tidak ditemukan kelainan
fisik, perlu dijelaskan pada pasien dan dilakukan pendekatan psikologik terhadap
penanganan gejala-gejala yang ada.
DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan H. I, Saddock B.J, Grabb J.A. 1997. Sinopsis Psikiatri. Edisi Tujuh.
Jilid 2. Penerbit Binarupa Aksara. Jakarta.
2. Maramis, Willy F . 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi Dua.
Airlangga University Press. Surabaya.
3. Elvira S. D, Hadisukanto G. 2010. Buku Ajar Psikiatri. Badan Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta
4. Maldonado J, Butler L, dan Spiegel D. (1998). Treatment for Dissosiative
Disorder. New York: Oxford University
5. American Psychiatric Association. (2000). Diagnostic and statistical manual
of mental disorders, DSM-IV(4th ed., text revision). Washington, DC:
American Psychiantric Association
6. American Psychiatric Association. (1994). Diagnostic and statistical manual
of mental disorders ( 4 th ed.). Washington, DC: Author.
7. Dissociative Fugue. Encyclopedia Of Mental Dissorder. Diunduh tanggal 9
Agustus 2017 dari (http://www.minddisorders.com/Del-Fi/Dissociative-
fugue.html).
8. Departemen Kesehatan R.I. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis
Gangguan Jiwa di Indonesia III cetakan pertama. Direktorat Jenderal
Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI : Jakarta. 1993
9. Maslim, Rusdi. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas
PPDGJ III, halaman 84. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya.
Jakarta. 2001
10. Clinical guide to the diagnosis and treatment of mental disorders/edited by
Michael B. First, Allan Tasman. John Wiley & Sons. England. 2006. p, 394.
11. Janicak PG, JM Davis, SH Preskorn, FJ Ayd, Jr. Principles and Practice of
Psychopharmacotherapy 3rd edition. Lippincott Williams & Wilkins
Publishers.2001
12. Loewenstein, Richard J. Share, Mackay MD. Convertion Disorder. Review
of General Psychiatry, 5th edition by Vishal
13. Rubin, Eugene H. Zorumski, Charles F. Convertion Disorder, Adult
Psychiatry, second edition. Blackwell Publishing; 2005
14. Marshall SA, Bienenfeid D., et all. Conversion Disorder. Medscape
Reference. http:/emedicine.medscape.com/article/287464-overview#showall.
Updated at Jun 26, 2013.