Anda di halaman 1dari 61

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG

PORNOGRAFI

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:

1.Pornografi adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar,
sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair,
percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media
komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual
dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat.

2.Jasa pornografi adalah segala jenis layanan pornografi yang disediakan oleh orang
perseorangan atau korporasi melalui pertunjukan langsung, televisi kabel, televisi teresterial,
radio, telepon, internet, dan komunikasi elektronik lainnya serta surat kabar, majalah, dan
barang cetakan lainnya.

3.Setiap orang adalah orang perseorangan atau korporasi, baik yang berbadan hukum maupun
yang tidak berbadan hukum.

4.Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun.

5.Pemerintah adalah Pemerintah Pusat yang dipimpin oleh Presiden Republik Indonesia yang
memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

6.Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati, atau Walikota, dan perangkat daerah sebagai
unsur penyelenggara pemerintahan daerah.

Pasal 2
Pengaturan pornografi berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, penghormatan terhadap harkat
dan martabat kemanusiaan, kebhinnekaan, kepastian hukum, nondiskriminasi, dan
perlindungan terhadap warga negara.

Pasal 3
Pengaturan pornografi bertujuan:
a.mewujudkan dan memelihara tatanan kehidupan masyarakat yang beretika, berkepribadian
luhur, menjunjung tinggi nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, serta menghormati harkat
dan martabat kemanusiaan;

b.memberikan pembinaan dan pendidikan terhadap moral dan akhlak masyarakat;

c.memberikan kepastian hukum dan perlindungan bagi warga negara dari pornografi,
terutama bagi anak dan perempuan; dan
d.mencegah berkembangnya pornografi dan komersialisasi seks di masyarakat.
BAB II
LARANGAN DAN PEMBATASAN

Pasal 4
(1) Setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan,
menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan,
menyewakan, atau menyediakan pornografi yang memuat:

e.persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang;

f.kekerasan seksual;

g.masturbasi atau onani;

h.ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan; atau

i.alat kelamin.

(2) Setiap orang dilarang menyediakan jasa pornografi yang:

a. menyajikan secara eksplisit ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan;

b. menyajikan secara eksplisit alat kelamin;

c. mengeksploitasi atau memamerkan aktivitas seksual; atau


d. menawarkan atau mengiklankan, baik langsung maupun tidak langsung layanan seksual.

Pasal 5
Setiap orang dilarang meminjamkan atau mengunduh pornografi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 ayat (1).

Pasal 6
Setiap orang dilarang memperdengarkan, mempertontonkan, memanfaatkan, memiliki, atau
menyimpan produk pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1), kecuali yang
diberi kewenangan oleh perundang-undangan.

Pasal 7
Setiap orang dilarang mendanai atau memfasilitasi perbuatan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 4.

Pasal 8
Setiap orang dilarang dengan sengaja atau atas persetujuan dirinya menjadi objek atau model
yang mengandung muatan pornografi.

Pasal 9
Setiap orang dilarang menjadikan orang lain sebagai objek atau model yang mengandung
muatan pornografi.

Pasal 10
Setiap orang dilarang mempertontonkan diri atau orang lain dalam pertunjukan atau di muka
umum yang menggambarkan ketelanjangan, eksploitasi seksual, persenggamaan, atau yang
bermuatan pornografi lainnya.

Pasal 11
Setiap orang dilarang melibatkan anak dalam kegiatan dan/atau sebagai objek sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4, Pasal 5, Pasal 6, Pasal 8, Pasal 9, atau Pasal 10.

Pasal 12
Setiap orang dilarang mengajak, membujuk, memanfaatkan, membiarkan, menyalahgunakan
kekuasaan atau memaksa anak dalam menggunakan produk atau jasa pornografi.

Pasal 13
(1) Pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi yang memuat selain
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) wajib mendasarkan pada peraturan perundang-
undangan.

(2) Pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) harus dilakukan di tempat dan dengan cara khusus.

Pasal 14
Pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan materi seksualitas dapat dilakukan untuk
kepentingan dan memiliki nilai:
a.seni dan budaya;
b.adat istiadat; dan
c.ritual tradisional.

Pasal 15
Ketentuan mengenai syarat dan tata cara perizinan pembuatan, penyebarluasan, dan
penggunaan produk pornografi untuk tujuan dan kepentingan pendidikan dan pelayanan
kesehatan dan pelaksanaan ketentuan Pasal 13 diatur dengan Peraturan Pemerintah.

BAB III
PERLINDUNGAN ANAK

Pasal 16
Setiap orang berkewajiban melindungi anak dari pengaruh pornografi dan mencegah akses
anak terhadap informasi pornografi.

Pasal 17
1) Pemerintah, lembaga sosial, lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, keluarga, dan/atau
masyarakat berkewajiban memberikan pembinaan, pendampingan, serta pemulihan sosial,
kesehatan fisik dan mental bagi setiap anak yang menjadi korban atau pelaku pornografi.

2) Ketentuan mengenai pembinaan, pendampingan, serta pemulihan sosial, kesehatan fisik


dan mental sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

BAB IV
PENCEGAHAN
Bagian Kesatu
Peran Pemerintah

Pasal 18
Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib melakukan pencegahan pembuatan,
penyebarluasan, dan penggunaan pornografi.

Pasal 19
Untuk melakukan pencegahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18, Pemerintah
berwenang:
a.melakukan pemutusan jaringan pembuatan dan penyebarluasan produk pornografi atau jasa
pornografi, termasuk pemblokiran pornografi melalui internet;

b.melakukan pengawasan terhadap pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi;


dan

c.melakukan kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak, baik dari dalam maupun dari
luar negeri, dalam pencegahan pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi.

Pasal 20
Untuk melakukan upaya pencegahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18, Pemerintah
Daerah berwenang:

a.melakukan pemutusan jaringan pembuatan dan penyebarluasan produk pornografi atau jasa
pornografi, termasuk pemblokiran pornografi melalui internet di wilayahnya;

b.melakukan pengawasan terhadap pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi


di wilayahnya;

c.melakukan kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak dalam pencegahan
pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi di wilayahnya; dan

d.mengembangkan sistem komunikasi, informasi, dan edukasi dalam rangka pencegahan


pornografi di wilayahnya.

Bagian Kedua
Peran Serta Masyarakat

Pasal 21
Masyarakat dapat berperan serta dalam melakukan pencegahan terhadap pembuatan,
penyebarluasan, dan penggunaan pornografi.

Pasal 22
(1) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dapat dilakukan dengan
cara:

a.melaporkan pelanggaran Undang-Undang ini;

b.melakukan gugatan perwakilan ke pengadilan;


c.melakukan sosialisasi peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pornografi;
dan

d.melakukan pembinaan kepada masyarakat terhadap bahaya dan dampak pornografi.

(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b dilaksanakan secara
bertanggung jawab dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Pasal 23
Masyarakat yang melaporkan pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1)
huruf a berhak mendapat perlindungan berdasarkan peraturan perundang-undangan.

BAB V
PENYIDIKAN, PENUNTUTAN, DAN PEMERIKSAAN DI SIDANG PENGADILAN

Pasal 24
Penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap pelanggaran
pornografi dilaksanakan berdasarkan Undang-Undang tentang Hukum Acara Pidana, kecuali
ditentukan lain dalam Undang-Undang ini.

Pasal 25
Di samping alat bukti sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Hukum Acara
Pidana, termasuk juga alat bukti dalam perkara tindak pidana meliputi tetapi tidak terbatas
pada:

a.barang yang memuat tulisan atau gambar dalam bentuk cetakan atau bukan cetakan, baik
elektronik, optik, atau bentuk penyimpanan data lainnya; dan

b.data yang tersimpan dalam jaringan internet dan saluran komunikasi lainnya.

Pasal 26
(1) Untuk kepentingan penyidikan, penyidik berwenang membuka akses, memeriksa, dan
membuat salinan data elektronik yang tersimpan dalam fail komputer, jaringan internet,
media optik, serta bentuk penyimpanan data elektronik lainnya.

(2) Untuk kepentingan penyidikan, pemilik data, penyimpan data, atau penyedia jasa layanan
elektronik berkewajiban menyerahkan dan/atau membuka data elektronik yang diminta
penyidik.

(3) Pemilik data, penyimpan data, atau penyedia jasa layanan elektronik setelah menyerahkan
dan/atau membuka data elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berhak menerima
tanda terima penyerahan atau berita acara pembukaan data elektronik dari penyidik.

Pasal 27
Penyidik membuat berita acara tentang tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 dan
mengirim turunan berita acara tersebut kepada pemilik data, penyimpan data, atau penyedia
jasa layanan komunikasi di tempat data tersebut didapatkan.
Pasal 28
(1) Data elektronik yang ada hubungannya dengan perkara yang sedang diperiksa
dilampirkan dalam berkas perkara.

(2) Data elektronik yang ada hubungannya dengan perkara yang sedang diperiksa dapat
dimusnahkan atau dihapus.

(3) Penyidik, penuntut umum, dan para pejabat pada semua tingkat pemeriksaan dalam proses
peradilan wajib merahasiakan dengan sungguh-sungguh atas kekuatan sumpah jabatan, baik
isi maupun informasi data elektronik yang dimusnahkan atau dihapus.

BAB VI
PEMUSNAHAN

Pasal 29
(1) Pemusnahan dilakukan terhadap produk pornografi hasil perampasan.

(2) Pemusnahan produk pornografi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh
penuntut umum dengan membuat berita acara yang sekurang-kurangnya memuat:
a.nama media cetak dan/atau media elektronik yang menyebarluaskan pornografi;
b.nama, jenis, dan jumlah barang yang dimusnahkan;
c.hari, tanggal, bulan, dan tahun pemusnahan; dan
d.keterangan mengenai pemilik atau yang menguasai barang yang dimusnahkan.

BAB VII
KETENTUAN PIDANA

Pasal 30
Setiap orang yang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebar-
luaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan,
menyewakan, atau menyediakan pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1)
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 12 (dua belas)
tahun atau pidana denda paling sedikit Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan paling
banyak Rp6.000.000.000,00 (enam miliar rupiah).

Pasal 31
Setiap orang yang menyediakan jasa pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat
(2) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam)
tahun atau pidana denda paling sedikit Rp250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah)
dan paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

Pasal 32
Setiap orang yang meminjamkan atau mengunduh pornografi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 5 dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun atau pidana denda paling
banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).

Pasal 33
Setiap orang yang memperdengarkan, mempertontonkan, memanfaatkan, memiliki, atau
menyimpan produk pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dipidana dengan pidana
paling lama 4 (empat) tahun atau pidana denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua
miliar rupiah).

Pasal 34
Setiap orang yang mendanai atau memfasilitasi perbuatan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 7 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 15 (lima
belas) tahun atau pidana denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan
paling banyak Rp7.500.000.000,00 (tujuh miliar lima ratus juta rupiah).

Pasal 35
Setiap orang yang dengan sengaja atau atas persetujuan dirinya menjadi objek atau model
yang mengandung muatan pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dipidana dengan
pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau pidana denda paling banyak
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

Pasal 36
Setiap orang yang menjadikan orang lain sebagai objek atau model yang mengandung muatan
pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun atau pidana denda paling sedikit
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp6.000.000.000,00 (enam
miliar rupiah).

Pasal 37
Setiap orang yang mempertontonkan diri atau orang lain dalam pertunjukan atau di muka
umum yang menggambarkan ketelanjangan, eksploitasi seksual, persenggamaan, atau yang
bermuatan pornografi lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dipidana dengan pidana
penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau pidana denda paling banyak Rp5.000.000.000,00
(lima miliar rupiah).

Pasal 38
Setiap orang yang melibatkan anak dalam kegiatan dan/atau sebagai obyek sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 11 dipidana dengan pidana yang sama dengan pidana sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 30, Pasal 31, Pasal 32, Pasal 33, Pasal 35, Pasal 36, dan Pasal 37,
ditambah 1/3 (sepertiga) dari maksimum ancaman pidananya.

Pasal 39
Setiap orang yang mengajak, membujuk, memanfaatkan, membiarkan, menyalahgunakan
kekuasaan atau memaksa anak dalam menggunakan produk atau jasa pornografi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 12 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan
paling lama 6 (enam) tahun atau pidana denda paling sedikit Rp250.000.000,00 (dua ratus
lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

Pasal 40
(1) Dalam hal tindak pidana pornografi dilakukan oleh atau atas nama suatu korporasi,
tuntutan dan penjatuhan pidana dapat dilakukan terhadap korporasi dan/atau pengurusnya.

(2) Tindak pidana pornografi dilakukan oleh korporasi apabila tindak pidana tersebut
dilakukan oleh orang?orang, baik berdasarkan hubungan kerja maupun berdasarkan
hubungan lain, bertindak dalam lingkungan korporasi tersebut, baik sendiri maupun
bersama?sama.
(3) Dalam hal tuntutan pidana dilakukan terhadap suatu korporasi, korporasi tersebut diwakili
oleh pengurus.

(4) Pengurus yang mewakili korporasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diwakili
oleh orang lain.

(5) Hakim dapat memerintahkan pengurus korporasi agar pengurus korporasi menghadap
sendiri di pengadilan dan dapat pula memerintahkan pengurus korporasi supaya pengurus
tersebut dibawa ke sidang pengadilan.

(6) Dalam hal tuntutan pidana dilakukan terhadap korporasi, maka panggilan untuk
menghadap dan penyerahan surat panggilan tersebut disampaikan kepada pengurus di tempat
tinggal pengurus atau di tempat pengurus berkantor.

(7) Pidana pokok yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi hanya pidana denda dengan
ketentuan maksimum pidana dikalikan 3 (tiga) dari pidana denda yang ditentukan dalam
setiap pasal dalam Bab ini.

Pasal 41
Selain pidana pokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (7), korporasi dapat
dikenakan pidana tambahan berupa:
a.pembekuan izin usaha;
b.pencabutan izin usaha;
c.perampasan kekayaan hasil tindak pidana; dan/atau
d.pencabutan status badan hukum.

BAB VIII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 42
Pada saat Undang-Undang ini berlaku, dalam waktu paling lama 1 (satu) bulan setiap orang
yang memiliki atau menyimpan produk pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat
(1) harus memusnahkan sendiri atau menyerahkan kepada pihak yang berwajib untuk
dimusnahkan.

Pasal 43
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, semua peraturan perundang-undangan yang
mengatur atau berkaitan dengan tindak pidana pornografi dinyatakan tetap berlaku sepanjang
tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini.

Pasal 44
Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini


dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

PENJELASAN:

Pasal 4
Ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “persenggamaan yang menyimpang” antara lain persenggamaan atau
aktivitas seksual lainnya dengan mayat dan binatang, oral seks, anal seks, lesbian,
homoseksual.

Huruf b
Yang dimaksud dengan ”kekerasan seksual” antara lain persenggamaan yang didahului
dengan tindakan kekerasan (penganiayaan) atau mencabuli dengan paksaan, pemerkosaan.

Huruf d
Yang dimaksud dengan “mengesankan ketelanjangan” adalah penampakan tubuh dengan
menunjukkan ketelanjangan yang menggunakan penutup tubuh yang tembus pandang.

Pasal 5
Yang dimaksud dengan “mengunduh” adalah mengalihkan atau mengambil fail (file) dari
sistem teknologi informasi dan komunikasi.

Pasal 6
Yang dimaksud dengan “yang diberi kewenangan oleh perundang-undangan” misalnya
lembaga yang diberi kewenangan menyensor film, lembaga yang mengawasi penyiaran,
lembaga penegak hukum, lembaga pelayanan kesehatan atau terapi kesehatan seksual, dan
lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan tersebut termasuk pula perpustakaan,
laboratorium, dan sarana pendidikan lainnya.

Kegiatan memperdengarkan, mempertontonkan, memanfaatkan, memiliki, atau menyimpan


barang pornografi dalam ketentuan ini hanya dapat digunakan di tempat atau lokasi yang
disediakan untuk tujuan lembaga dimaksud.

Pasal 10
Yang dimaksud dengan “mempertontonkan diri” adalah perbuatan yang dilakukan atas
inisiatif dirinya atau inisiatif orang lain dengan kemauan dan persetujuan dirinya. Yang
dimaksud dengan “pornografi lainnya” antara lain kekerasan seksual, masturbasi atau onani.

Pasal 13
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “pembuatan” termasuk memproduksi, membuat, memperbanyak,
atau menggandakan.

Yang dimaksud dengan “penyebarluasan” termasuk menyebarluaskan, menyiarkan,


mengunduh, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan,
meminjamkan, atau menyediakan.

Yang dimaksud dengan “penggunaan” termasuk memperdengarkan, mempertontonkan,


memanfaatkan, memiliki atau menyimpan.

Frasa “selain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1)” dalam ketentuan ini misalnya
majalah yang memuat model berpakaian bikini, baju renang, pakaian olahraga pantai, yang
digunakan sesuai dengan konteksnya.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “di tempat dan dengan cara khusus” misalnya penempatan yang tidak
dapat dijangkau oleh anak-anak atau pengemasan yang tidak menampilkan atau
menggambarkan pornografi.

Pasal 14
Yang dimaksud dengan “materi seksualitas” adalah materi yang tidak mengandung unsur
yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau tidak melanggar kesusilaan dalam
masyarakat, misalnya patung telanjang yang menggambarkan lingga dan yoni.

Pasal 16
Ketentuan ini dimaksudkan untuk mencegah sedini mungkin pengaruh pornografi terhadap
anak dan ketentuan ini menegaskan kembali terkait dengan perlindungan terhadap anak yang
ditentukan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak.

Pasal 19
Huruf a
Yang dimaksud dengan “pemblokiran pornografi melalui internet” adalah pemblokiran
barang pornografi atau penyediaan jasa pornografi.

Pasal 20
Huruf a
Yang dimaksud dengan “pemblokiran pornografi melalui internet” adalah pemblokiran
barang pornografi atau penyediaan jasa pornografi
Gepeng, Anak Jalanan, Pemerintah, dan UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1 17 Januari 2010
06:09:39 Diperbarui: 26 Juni 2015 18:25:28 Dibaca : 13,957 Komentar : 11 Nilai : 0 Undang
- Undang Dasar 1945 adalah Landasan konstitusional Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Para pendiri negeri ini telah merumuskannya, sejak Bangsa Indonesia Merdeka dari jajahan
para kolonialisme. UUD 1945 adalah sebagai hukum dasar tertinggi dalam penyelenggaraan
kehidupan berbangsa dan bernegara. UUD 1945 telah di amandemen empat kali pada tahun
1999, 2000, 2001, dan 2002 yang telah menghasilkan rumusan Undang - Undang Dasar yang
jauh lebih kokoh menjamin hak konstitusional warga negara. Gepeng , anak jalanan,
pemerintah, dan UUD 1945 Pasal 34 ayat 1 saling berhubungan, lihat UUD 1945 Pasal 34
Ayat 1 yang berbunyi Fakir Miskin dan anak - anak yang terlantar dipelihara oleh negara.
UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1 tersebut mempunyai makna bahwa gepeng dan anak - anak
jalanandipelihara atau diberdayakan oleh negara yang dilaksanakan oleh pemerintah. Fakir
ialah orang yang tidak berdaya karena ridak mempunyai pekerjaan apalagi penghasilan, dan
juga mereka tidak mempunyai sanak saudara di bumi ini. Miskin ialah orang yang sudah
memiliki penghasilan tapi tidak mencukupi pengeluaran kebutuhan mereka, tapi mereka
masih mempunyai keluarga yang sekiranya masih mampu membantu mereka yang miskin.
Jadi Fakir miskin dapat dikatakan orang yang harus kita bantu kehidupannya dan
pemerintahlah yang seharusnya lebih peka akan keberadaan mereka. Fakir miskin disini dapat
digambarkan melalui gepeng-gelandangan dan pengemis. Masih banyak kita melihat di
perkotaan dan di daerah para gepeng yang mengemis di jalanan, pusat keramaian, lampu
merah, rumah ibadah, sekolah maupun kampus. Anak - anak terlantar seperti anak - anak
jalanan, anak yang ditinggali orang tuanya karena kemiskinan yang melandanya. Ironis
memang, masih banyak gepeng dan anak jalanan yang berada di jalan dan meningkat setiap
tahunnya, bahkan mereka menjadi bisnis baru dari pihak - pihak yang tidak bertanggung
jawab. Hal ini harusnya menjadi tamparan bagi pemerintah yang mengempanyekan menekan
angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin, dan tidak sesuai
dengan yang diamanatkan oleh UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1 yaitu Fakir Miskin dan anak -
anak terlantar dipelihara oleh negara. Dimana peran pemerintah untuk menjalankan pasal
tersebut, dan sudah jelas di pembukaan UUD 1945 yaitu Pemerintah Negara Indonesia yang
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk
memajukan mensejahterakan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia, hal ini seharusnya dilaksanakan oleh pemerintah bukan
hanya sebagai kiasan saja. Berbanding terbalik dengan amanat UUD 1945, saya melihat di
berbagai media bahwa penertiban gepeng dan anak jalanan tidak berlandaskan nilai
kemanusiaan, mereka di paksa bahkan sampai mereka berasa sakit ketika digiring oleh
petugas ke mobil penertiban, seperti nangkap ayam, lalu mereka dibawa di tempat rehabilitasi
sosial untuk di data dan setelah itu dilepaskan kembali dan lagi - lagi menghiasi jalanan,
perempatan lampu merah, bus, tempat ibadah dan tempat keramaian lainnya. Sedikit sekali
dari mereka-gepeng dan anak jalanan yang diberdayakan atau disekolahkan. Walaupun
pemprov DKI Jakarta mengeluarkan undang - undang tentang pelarangan pemberian uang
dan apapun dengan tujuan menekan angka gepeng dan anak jalanan, tapi tetap saja tidak
efektif. Siklus itu tetap berjalan walaupun tanpa hasil yang nyata untuk memelihara atau
memberdayakan dan mengurangi jumlah gepeng dan anak jalanan. Gepeng dan Anak Jalanan
juga merupakan manusia yang kurang beruntung. Akibat pemerintah tidak menjalankan
amanat UUD 1945 dengan sungguh - sungguh, banyak sekali dari gepeng dan anak jalanan
yang menjadi korban kejahatan, lihat saja kasus mutilasi anak jalanan di daerah pulogadung,
tragis memang tapi itulah yang terjadi , selain itu gepeng dan anak jalanan juga dimanfaatkan
oleh pihak - pihak yang tidak bertanggung jawab, demi kepentingan pihak tersebut dengan
membisniskan mereka untuk meningkatkan kesejahteraan pihak tersebut dan pelecehan
seksual, acapkali terjadi terhadap gepeng dan anak jalanan. Andai saja pemerintah mau
memperhatikan dan memberdayakan secara sungguh - sungguh mungkin hal yang buruk itu
tidak terjadi bahkan angka kemiskinan akan berkurang. Gepeng dan anak Jalanan tidak akan
bertambah bahkan tidak akan ada jikalau di daerah perdesaan atau tempat mereka berasal
memiliki lapangan pekerjaan dan tidak tersentralisasinya pembangunan di perkotaan saja.
Semoga tulisan ini menjadi alat pacu pemerintah dan kita semua untuk menjalankan amanat
UUD 1945.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/niko_ramandhana/gepeng-anak-jalanan-
pemerintah-dan-uud-1945-pasal-34-ayat-1_54ff5aa6a333114e4a50ffa1

UU perlindungan anak juga berperan besar membuat menjamurnya anak jalanan,isi dari UU
perlindungan anak harus dirubah.selain tentunya perhatian pemerintah terhadap kemakmuran
pada petani dan nelayan. tulisan seperti ini sangat diperlukan untuk selalu mengingatkan
pemerinta dan kita semua. salam.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/niko_ramandhana/gepeng-anak-jalanan-
pemerintah-dan-uud-1945-pasal-34-ayat-1_54ff5aa6a333114e4a50ffa1

Sanksi bagi Pembuat dan Penyebar Konten Pornografi


Jika orang membuat foto atau video porno untuk dinikmati sendiri tapi akhirnya disebarkan
oleh pihak laki-laki ke internet foto-foto perempuannya, apakah korban mendapatkan
hukuman juga? Terus si penyebar foto dan video porno tersebut terkena hukum berapa lama?
Jawaban :
A. Asumsi

Untuk memperjelas diskusi ini, maka asumsi yang perlu diambil ialah:

1. yang dimaksud “membuat foto atau video porno untuk dinikmati sendiri” ialah foto atau rekaman video
hubungan seksual antara pria dan wanita itu sendiri.

2. Pria dan wanita tidak termasuk dalam kategori anak sebagaimana dimaksud dalam perundang-undangan.

B. Definisi dan Ruang Lingkup Pornografi

Berbicara mengenai pornografi, telah ada beberapa undang-undang yang mengatur substansi yang dimaksud,
antara lain:
1. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”);

2. Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU ITE”); dan

3. Undang-Undang No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi (“UU 44/2008”)

Dalam Bab – XIV KUHP diatur tentang Kejahatan terhadap Kesusilaan, tetapi tidak diatur mengenai definisi
kesusilaan. Demikian juga dengan UU ITE. Pasal 27 ayat (1) UU ITE mengatur larangan mendistribusikan,
mentransmisikan, dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi atau Dokumen Elektronik yang memiliki
muatan yang melanggar kesusilaan.

Dari ketiga undang-undang yang dimaksud, UU 44/2008 lebih jelas memberikan definisi mengenai Pornografi,
yaitu gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak
tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka
umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.
Oleh karena itu, definisi tersebut dapat diterapkan dalam diskusi ini.

Secara teoritis-normatif, foto atau rekaman video hubungan seksual disebut Pornografi apabila foto atau
rekaman tersebut melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.

Pasal 4 ayat (1) UU 44/2008 mengatur larangan perbuatan memproduksi, membuat, memperbanyak,
menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan,
menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat:

a. persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang;

b. kekerasan seksual;

c. masturbasi atau onani;

d. ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan;

e. alat kelamin; atau

f. pornografi anak

Pasal 4 ayat (1) UU 44/2008 tentang Pornografi disebutkan bahwa yang dimaksud dengan "membuat" adalah
tidak termasuk untuk dirinya sendiri dan kepentingan sendiri.

C. Pembuatan Pornografi
Dalam hal pria dan wanita saling memberikan persetujuan untuk perekaman video seksual mareka dan foto serta
video tersebut hanya digunakan untuk kepentingan sendiri sebagaimana dimaksud dalam pengecualian dalam
Pasal 44/2008 maka tindakan pembuatan dan penyimpanan yang dimaksud tidak termasuk dalam ruang
lingkup “membuat” sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 UU Pornografi.

Dalam hal pria atau wanita melakukan pengambilan gambar atau perekaman hubungan seksual mereka tanpa
diketahui oleh wanita atau pria pasangannya, atau tanpa persetujuannya, maka pembuatan video tersebut
melanggar Pasal 4 ayat (1) UU 44/2008. Persetujuan (consent) merupakan bagian yang sangat vital dalam
menentukan adanya pelanggaran atau tidak.

D. Diseminasi atau Distribusi Pornografi

Dalam hal pembuatan foto atau video disetujui oleh para pihak maka penyebaran oleh salah satu pihak dapat
membuat pihak lain terjerat ketentuan pidana, sepanjang pihak itu tidak secara tegas memberikan larangan untuk
penyebarannya.

Sebagai contoh apabila pria dan wanita sepakat atau saling memberikan persetujuan untuk pembuatan foto atau
rekaman Pornografi, kemudian pria menyebarkan Pornografi, tetapi wanita sebelumnya tidak memberikan
pernyataan tegas untuk melarang pria untuk menyebarkan atau mengungkap Pornografi tersebut maka wanita
dapat terjerat tindak pidana penyebaran Pornografi.

Apabila wanita sebelumnya telah memberikan pernyataan tegas bahwa ia setuju membuat pornografi tetapi tidak
mengizinkan pria untuk mengungkap atau menyebarkan Pornografi tersebut maka wanita memiliki posisi yang
lebih kuat untuk tidak dipersalahkan sebagai turut serta penyebaran pornografi.

Demikian juga apabila wanita memang sejak awal tidak mengetahui adanya pembuatan foto atau video
Pornografi, atau tidak memberikan persetujuan terhadap pembuatan Pornografi tersebut, maka dalam hal ini,
wanita tersebut dapat disebut sebagai korban penyebaran konten Pornografi.

E. Penyimpanan Produk Pornografi

Pasal 6 UU 44/2008 mengatur bahwa setiap orang dilarang..., memiliki, atau menyimpan produk pornografi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1), kecuali yang diberi kewenangan oleh peraturan perundang-
undangan.

Menimbulkan pertanyaan apakah video atau foto Porno tersebut yang dibuat oleh pria dan wanita juga dilarang?
Salah satu interpretasi yang mungkin ialah sebagai berikut.

1. Dalam hal pria dan wanita telah saling memberikan persetujuan terlebih dahulu maka penyimpanan atau
pemilikan Pornografi tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam proses membuat dan hal ini
masuk dalam kategori pengecualian yang dimaksud dalam Penjelasan Pasal 4 ayat (1) UU 44/2008.

Secara teknis, umumnya, setelah video atau foto dibuat, secara otomatis akan disimpan dalam sistem
penyimpanan yang ada di dalam media elektronik. Oleh karena itu, secara hukum, apabila dalam satu
kesatuan proses, menjadi tidak logis apabila pembuatan diperbolehkan tetapi penyimpanan atau
pemilikan dilarang.

2. Apabila dalam hal salah satu pihak tidak memberikan persetujuan terlebih dahulu, maka penyimpanan atau
pemilikannya menjadi dilarang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 UU 44/2008.

F. Memfasilitasi Pornografi

Pasal 7 UU 44/2008 mengatur bahwa setiap orang dilarang mendanai atau memfasilitasi perbuatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4.

Apakah tindakan pria atau wanita yang memberikan persetujuan kepada wanita atau pria dalam pembuatan
pornografi termasuk memfasilitasi Pornografi?

Interpretasi yang mungkin ialah bahwa sepanjang wanita atau pria yang telah memberikan persetujuan itu
terlibat di dalam foto atau video pornografi tersebut maka, ia tidak dapat dianggap sebagai memfasilitasi
perbuatan Pornografi.

G. Penyebaran Pornografi

Pasal 27 ayat (1) UU ITE mengatur:

“Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau
membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan
yang melanggar kesusilaan.”
Ancaman pidana terhadap pelanggar diatur dalam Pasal 45 ayat (1) UU ITE, yaitu ancaman pidana penjara
paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak 1 (satu) milliar rupiah.

Pasal 4 ayat (1) UU Pornografi menyebutkan:

“Setiap orang dilarang..., membuat,...menyebarluaskan... Pornografi...”

Ancaman terhadap pasal ini diatur dalam Pasal 29 UU 44/2008 yaitu pidana penjara paling singkat 6 (enam)
bulan dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 250 juta rupiah dan paling
banyak Rp 6 miliar rupiah.

Dengan demikian, dalam kasus atau permasalahan yang rekan tanyakan, rekan dapat menerapkan sebagian atau
keseluruhan pasal-pasal terkait aspek pembuatan, distribusi, penyimanan, fasilitas, dan/atau penyebaran konten
pornografi sebagaimana kami uraikan di atas.

Demikian pendapat kami, terima kasih.

Catatan:

Semua informasi atau pertanyaan serta pendapat yang diberikan dalam forum ini merupakan bentuk dari
kebebasan berekspresi yang diakui dan dilindungi oleh Konstitusi Negara Republik Indonesia, dan bukan
merupakan pendapat hukum yang mengikat siapapun, serta bukan pendapat resmi dari instansi apapun.
Pendapat ini ditujukan untuk membuka wacana dalam mengembangkan konsep atau pemahaman hukum terkait
penerapan suatu ketentuan peraturan perundang-undangan. Setiap orang yang memiliki kesamaan kondisi atau
yang ingin menggunakan pendapat atau informasi ini harus mengkonsultasikannya terlebih dahulu dengan
penasehat hukumnya.

Dasar Hukum:

1. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;

2. Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik; dan

3. Undang-Undang No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.

ISI RUU ANTI PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI


16.54 / Diterbitkan Oleh Efa Fadilah /
Hemm......kalo kita memperhatikan isi dari rancangan UU APP ini sangat luar biasa sekali,
Panjang Bo...!!!, jika kita memperhatikan lebih matang maka insya Allah moral bangsa ini
akan semakin baik, Amin..amin.....
Nih Ana cuplikan isi dari RUU APP nya...

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

NOMOR ……TAHUN …..

TENTANG

ANTI PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang :

a. bahwa negara Republik Indonesia merupakan negara hukum yang berlandaskan


Pancasila yang lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan
pribadi;
b. bahwa untuk mewujudkan tatanan masyarakat Indonesia yang serasi dan harmonis
dalam keanekaragaman suku, agama, ras, dan golongan/kelompok, diperlukan adanya
sikap dan perilaku masyarakat yang dilandasi moral, etika, akhlak mulia, dan
kepribadian luhur yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
c. bahwa meningkatnya pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi dan
perbuatan serta penyelenggaraan pornoaksi dalam masyarakat saat ini sangat
memprihatinkan dan dapat mengancam kelestarian tatanan kehidupan masyarakat
yang dilandasi nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa;
d. bahwa peraturan perundang-undangan yang ada sampai saat ini belum secara tegas
mengatur definisi dan pemberian sanksi serta hal-hal lain yang berkaitan dengan
pornografi dan pornoaksi sebagai pedoman dalam upaya penegakan hukum untuk
tujuan melestarikan tatanan kehidupan masyarakat;
e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b,
huruf c, dan huruf d perlu membentuk Undang-Undang tentang Anti Pornografi dan
Pornoaksi;

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

dan

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG ANTI PORNOGRAFI DAN
PORNOAKSI.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Bagian Pertama

Pengertian

Pasal 1

Dalam Undang-Undang ini yang dimaksudkan dengan :

1. Pornografi adalah substansi dalam media atau alat komunikasi yang dibuat untuk
menyampaikan gagasan-gagasan yang mengeksploitasi seksual, kecabulan, dan/atau
erotika.
2. Pornoaksi adalah perbuatan mengeksploitasi seksual, kecabulan, dan/atau erotika di
muka umum.
3. Media massa cetak adalah alat atau sarana penyampaian informasi dan pesanpesan
secara visual kepada masyarakat luas berupa

barang-barang cetakan massal antara lain buku, suratkabar, majalah, dan tabloid.

1. Media massa elektronik adalah alat atau sarana penyampaian informasi dan pesan-
pesan secara audio dan/atau visual kepada

masyarakat luas antara lain berupa radio, televisi, film, dan yang dipersamakan dengan film.

1. Alat komunikasi medio adalah sarana penyampaian informasi dan pesan-pesan secara
audio dan/atau visual kepada satu orang

dan/atau sejumlah orang tertentu antara lain berupa telepon, Short Message Service,
Multimedia Messaging Service, surat, pamflet, leaflet, booklet, selebaran, poster, dan media
elektronik baru yang berbasis komputer seperti internet dan intranet.

1. Barang pornografi adalah semua benda yang materinya mengandung sifat pornografi
antara lain dalam bentuk buku, surat kabar, majalah, tabloid dan media cetak
sejenisnya, film, dan/atau yang dipersamakan dengan film, video, Video Compact
Disc, Digital Video Disc, Compact Disc, Personal ComputerCompact Disc Read Only
Memory, dan kaset.
2. Jasa pornografi adalah segala jenis layanan pornografi yang diperoleh antara lain
melalui telepon, televisi kabel, internet, dan komunikasi elekronik lainnya, dengan
cara memesan atau berlangganan barang-barang pornografi yang dapat diperoleh
secara langsung dengan cara menyewa, meminjam, atau membeli.
3. Membuat adalah kegiatan atau serangkaian kegiatan memproduksi materi media
massa cetak, media massa elektronik, media komunikasi

lainnya, dan barang-barang pornografi.


1. Menyebarluaskan adalah kegiatan atau serangkaian kegiatan mengedarkan materi
media massa cetak, media massa elektronik,

media-media komunikasi lainnya, dan mengedarkan barang-barang yang mengandung sifat


pornografi dengan cara memperdagangkan, memperlihatkan, memperdengarkan,
mempertontonkan, mempertunjukan, menyiarkan, menempelkan, dan/atau menuliskan.

1. Menggunakan adalah kegiatan memakai materi media massa cetak, media massa
elektronik, alat komunikasi medio, dan barang dan/atau

jasa pornografi.

1. Pengguna adalah setiap orang yang dengan sengaja menonton/menyaksikanpornografi


dan/atau pornoaksi.
2. Setiap orang adalah orang perseorangan, perusahaan, atau distributor sebagai
kumpulan orang baik berupa badan hukum maupun bukan

badan hukum.

1. Pemerintah adalah Menteri atau pejabat lain yang ditunjuk oleh Presiden.
2. Mengeksploitasi adalah kegiatan memanfaatkan perbuatan pornoaksi untuk tujuan
mendapatkan keuntungan materi atau non materi bagi diri sendiri dan/atau orang lain.
3. Hubungan seks adalah kegiatan hubungan perkelaminan balk yang dilakukan oleh
pasangan suami isteri maupun pasangan lainnya yang

bersifat heteroseksual, homoseks atau lesbian.

1. Anak-anak adalah seseorang yang belum berusia 12 (dua belas) tahun


2. Dewasa adalah seseorang yang telah berusia 12 (dua belas) tahun ke atas.
3. Jasa pornoaksi adalah segala jenis layanan pornoaksi yang dapat diperoleh secara
langsung atau melalul perantara, baik perseorangan maupun perusahaan.
4. Perusahaan adalah kumpulan orang dan/atau kekayaan yang terorganisasi, balk berupa
badan hukum maupun bukan badan hukum.
5. Orang lain adalah orang selain suami atau istri yang sah berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Bagian Kedua

Asas dan Tujuan

Pasal 2

Pelarangan terhadap pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi serta perbuatan


dan penyelenggaraan pornoaksi berasaskan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang
Maha Esa dengan memperhatikan nilai-nilai budaya, susila, dan moral, keadilan,
perundangan hukum, dan kepastian hukum.

Pasal 3 Anti pornografi dan pornoaksi bertujuan ;


a. Menegakkan dan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia yang beriman dan
bertakwa dalam rangka membentuk masyarakat yang berkepribadian luhur kepada
Tuhan Yang Maha Esa. ,
b. Memberikan perlindungan, pembinaan, dan pendidikan moral dan akhlak masyarakat

BAB II

LARANGAN

Bagian Pertama

Pornografi

Pasal 4

Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik bagian tubuh tertentu yang sensual dari orang dewasa.

Pasal 5

Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik ketelanjangan tubuh orang dewasa.

Pasal 6

Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik tubuh atau bagian-bagian tubuh orang yang menari erotis atau
bergoyang erotis.

Pasal 7

Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang yang berciuman bibir.

Pasal 8

Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang yang melakukan masturbasi atau onani.

Pasal 9

(1) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas
yang mengarah pada hubungan seks dengan pasangan berlawanan jenis.
(2) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas
yang mengarah pada hubungan seks dengan pasangan sejenis.

(3) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas
yang mengarah pada hubungan seks dengan orang yang telah meninggal dunia.

(4) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas
yang mengarah pada hubungan seks dengan hewan.

Pasal 10

(1)Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik orang berhubungan seks dalam acara pesta seks.

(2) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang dalam pertunjukan seks.

Pasal 11

(1) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik aktivitas anak-anak yang melakukan masturbasi, onani dan/atau
hubungan seks.

(2) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang yang melakukan hubungan seks atau aktivitas
yang mengarah pada hubungan seks dengan anak-anak.

Pasal 12

Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan


tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,
puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik bagian tubuh tertentu
yang sensual dari orang dewasa melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau
alat komunikasi medio.

Pasal 13

Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan


tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,
puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik ketelanjangan tubuh
melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio.

Pasal 14

Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan


tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,
puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik tubuh atau bagian-
bagian tubuh orang yang menari erotis atau bergoyang erotis melalui media massa cetak,
media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio.

Pasal 15

Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan


tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,
puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang yang berciuman
bibir melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio.

Pasal 16

Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan


tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,
puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang yang melakukan
masturbasi atau onani melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat
komunikasi medio.

Pasal 17

(1) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau


menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan
film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang
dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks
dengan pasangan berlawanan jenis melalui media massa cetak, media massa elektronik
dan/atau alat komunikasi medio.

(2) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau


menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan
film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang
dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks
dengan pasangan sejenis melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat
komunikasi medio.

(3) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau


menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan
film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang
dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks
dengan cara sadis, kejam, pemukulan, sodomi, perkosaan, dan cara-cara kekerasan lainnya
melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio. .
(4) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau
menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan
film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang
dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks
dengan orang yang telah meninggal dunia melalui media massa cetak, media massa
elektronik dan/atau alat komunikasi medio.

(5) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau


menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan
film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang
dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks
dengan hewan melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi
medio.

Pasal 18

(1) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau


menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan
film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang
dalam acara pesta seks melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat
komunikasi medio.

(2) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau


menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan
film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang
dalam pertunjukan seks melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat
komunikasi medio.

Pasal 19

(1) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau


menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan
film, syair lagu, puisi,.gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas anak-
anak dalam melakukan masturbasi atau onani melalui media massa cetak, media massa
elektronik dan/atau alat komunikasi medio.

(2) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau


menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan
film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas anak-
anak dalam berhubungan seks melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau
alat komunikasi medio.

(3) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau


menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan
film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang
dalam berhubungan seks dengan anak-anak melalui media massa cetak, media massa
elektronik dan/atau alat komunikasi medio.

(4) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau


menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan
film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang
dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks
dengan anak-anak dengan cara sadis, kejam, pemukulan, sodomi, perkosaan, dan cara-cara
kekerasan lainnya melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat
komunikasi medio.

Pasal 20 Setiap orang dilarang menjadikan diri sendiri dan/atau orang lain sebagai model atau
obyek pembuatan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan
film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik bagian
tubuh tertentu yang sensual dari orang dewasa, ketelanjangan tubuh dan/atau daya tarik tubuh
atau bagian-bagian tubuh orang yang menari erotis atau bergoyang erotis, aktivitas orang
yang berciuman bibir, aktivitas orang yang melakukan masturbasi atau onani, orang yang
berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan
pasangan berlawanan jenis, pasangan sejenis, orang yang telah meninggal dunia dan/atau
dengan hewan.

Pasal 21

Setiap orang dilarang menyuruh atau memaksa. anak-anak menjadi model atau obyek
pembuatan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film,
syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas anak-anak
untuk melakukan masturbasi, onani, dan/atau hubungan seks.

Pasal 22

Setiap orang dilarang membuat, menyebarluaskan, dan menggunakan karya seni yang
mengandung sifat pornografi di media massa cetak, media massa elektronik, atau alat
komunikasi medio, dan yang berada di tempat9 tempat umum yang bukan dimaksudkan
sebagai tempat pertunjukan karya seni.

Pasal 23

Setiap orang dilarang membeli barang pornografi dan/atau jasa pornografi tanpa alasan yang
dibenarkan berdasarkan Undang-Undang ini.

Pasal 24

(1) Setiap orang dilarang menyediakan dana bagi orang lain untuk melakukan kegiatan
dan/atau pameran pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 sampai dengan Pasal 23.

(2) Setiap orang dilarang menyediakan tempat bagi orang lain untuk melakukan kegiatan
pornografi dan/atau pameran pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 sampai dengan
Pasal 23.

(3) Setiap orang dilarang menyediakan peralatan dan/atau perlengkapan bagi orang lain untuk
melakukan kegiatan pornografi dan/atau pameran pornografi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 4 sampai dengan Pasal 23.

Bagian Kedua
Pornoaksi

Pasal 25

(1) Setiap orang dewasa dilarang mempertontonkan bagian tubuh tertentu yang sensual.

(2) Setiap orang dilarang menyuruh orang lain untuk mempertontonkan bagian tubuh tertentu
yang sensual.

Pasal 26

(1) Setiap orang dewasa dilarang dengan sengaja telanjang di muka umum.

(2) Setiap orang dilarang menyuruh orang lain untuk telanjang di muka umum.

Pasal 27

(1) Setiap orang dilarang berciuman bibir di muka umum.

(2) Setiap orang dilarang menyuruh orang lain berciuman bibir di muka umum.

Pasal 28

(1) Setiap orang dilarang menari erotis atau bergoyang erotis di muka umum.

(2) Setiap orang dilarang menyuruh orang lain untuk menari erotis atau bergoyang erotis di
muka umum.

Pasal 29

(1) Setiap orang dilarang melakukan masturbasi, onani atau gerakan tubuh yang menyerupai
kegiatan masturbasi atau onani di muka umum

(2) Setiap orang dilarang menyuruh orang lain untuk melakukan masturbasi, onani, atau
gerakan tubuh yang menyerupai kegiatan masturbasi atau onani di muka umum.

(3) Setiap orang dilarang menyuruh anak-anak untuk melakukan masturbasi, onani,atau
gerakan tubuh yang menyerupai kegiatan masturbasi atau onani.

Pasal 30

(1) Setiap orang dilarang melakukan hubungan seks atau gerakan tubuh yang menyerupai
kegiatan hubungan seks di muka umum.

(2) Setiap orang dilarang menyuruh orang lain untuk melakukan hubungan seks atau gerakan
tubuh yang menyerupai kegiatan hubungan seks di muka umum.

(3) Setiap orang dilarang melakukan hubungan seks dengan anak-anak.


(4) Setiap orang dilarang menyuruh anak-anak untuk melakukan kegiatan hubungan seks atau
gerakan tubuh yang menyerupai kegiatan hubungan seks.

Pasal 31

(1) Setiap orang dilarang menyelenggarakan acara pertunjukan seks.

(2) Setiap orang dilarang menyelenggarakan acara pertunjukan seks dengan melibatkan anak-
anak.

(3) Setiap orang dilarang menyelenggarakan acara pesta seks.

(4) Setiap orang dilarang menyelenggarakan acara pesta seks dengan melibatkan anak-anak.

Pasal 32

(1) Setiap orang dilarang menonton acara pertunjukan seks.

(2) Setiap orang dilarang menonton acara pertunjukan seks dengan melibatkan anak-anak.

(3) Setiap orang dilarang menonton acara pesta seks.

(4) Setiap orang dilarang menonton acara pesta seks dengan melibatkan anak-anak.

Pasal 33

(1) Setiap orang dilarang menyediakan dana bagi orang lain untuk melakukan kegiatan
pornoaksi, acara pertunjukan seks, atau acara pesta seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal
25 sampai dengan Pasal 32.

(2) Setiap orang dilarang menyediakan tempat bagi orang lain untuk melakukan kegiatan
pornoaksi, acara pertunjukan seks, atau acara pesta seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal
25 sampai dengan Pasai 32.

(3) Setiap orang dilarang menyediakan peralatan dan/atau perlengkapan bagi orang lain untuk
melakukan kegiatan pornoaksi, acara pertunjukan seks, atau acara pesta seks sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 25 sampai dengan Pasal 32.

BAB III

PENGECUALIAN DAN PERIZINAN

Bagian Pertama

Pengecualian

Pasal 34
(1) Pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 4 sampai dengan Pasal 23 dikecualikan untuk tujuan pendidikan dan/atau
pengembangan ilmu pengetahuan dalam batas yang diperlukan.

(2) Pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan materi pornografi sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) terbatas pada lembaga riset atau lembaga pendidikan yang bidang keilmuannya
bertujuan untuk pengembangan pengetahuan.

Pasal 35

(1) Penggunaan barang pornografi dapat dilakukan untuk keperluan pengobatan gangguan
kesehatan.

(2) Penggunaan barang pornografi untuk keperluan gangguan kesehatan sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) setelah mendapatkan rekomendasi dari dokter, rumah sakit dan/atau
lembaga kesehatan yang mendapatkan ijin dari Pemerintah.

Pasal 36

(1) Pelarangan pornoaksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, Pasal 26, Pasal 27, Pasal
28, Pasal 29, Pasal 30, Pasal 31, atau Pasal 32, dikecualikan untuk:

a. cara berbusana dan/atau tingkah laku yang menjadi kebiasaan menurut adat istiadat
dan/atau budaya kesukuan, sepanjang berkaitan dengan pelaksanaanritus keagamaan
atau kepercayaan;
b. kegiatan seni;
c. kegiatan olahraga; atau
d. tujuan pendidikan dalam bidang kesehatan.

(2) Kegiatan seni sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b hanya dapat dilaksanakan di
tempat khusus pertunjukan seni.

(3) Kegiatan olahraga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c hanya dapat dilaksanakan
di tempat khusus olahraga.

Bagian Kedua

Perizinan

Pasal 37

(1) Tempat khusus pertunjukan seni sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (2) harus
mendapatkan izin dari Pemerintah.

(2) Tempat khusus olahraga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat

(3) harus mendapatkan izin dari Pemerintah.

Pasal 38
1. Pemerintah dapat memberikan izin kepada setiap orang untuk memproduksi, mengimpor
dan menyebarluaskan barang pornografi dalam media cetak dan/atau media elektronik untuk
keperluan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 dan Pasal 35.

2. Setiap orang yang melakukan penyebarluasan barang pornografi dalam media cetak
dan/atau media elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan dengan
memenuhi syarat:

a. penjualan barang dan/atau jasa pornografi hanya dilakukan oleh badan-badan usaha
yang memiliki izin khusus;
b. penjualan barang dan/atau jasa pornografi secara langsung hanya dilakukan di tempat-
tempat tertentu dengan tanda khusus;
c. penjualan barang pornografi dilakukan dalam bungkus rapat dengan kemasan
bertanda khusus dan segel tertutup;
d. barang pornografi yang dijual ditempatkan pada etalase tersendiri yang letaknya jauh
dari jangkauan anak-anak dan remaja berusia dibawah 18 (delapan belas) tahun;

Pasal 39 (1) Izin dan syarat-syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 dan Pasal 38
selanjutnya diatur dengän Peraturan Pemerintah.

(2) Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengatur pemberian
izin dan syarat-syarat secara umum dan pengaturan selanjutnya secara khusus diserahkan
kepada daerah seuai dengan kondisi, adat istiadat dan budaya daerah masing-masing.

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

NOMOR ……TAHUN …..

TENTANG

ANTI PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang :

a. bahwa negara Republik Indonesia merupakan negara hukum yang berlandaskan


Pancasila yang lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan
pribadi;
b. bahwa untuk mewujudkan tatanan masyarakat Indonesia yang serasi dan harmonis
dalam keanekaragaman suku, agama, ras, dan golongan/kelompok, diperlukan adanya
sikap dan perilaku masyarakat yang dilandasi moral, etika, akhlak mulia, dan
kepribadian luhur yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
c. bahwa meningkatnya pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi dan
perbuatan serta penyelenggaraan pornoaksi dalam masyarakat saat ini sangat
memprihatinkan dan dapat mengancam kelestarian tatanan kehidupan masyarakat
yang dilandasi nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa;
d. bahwa peraturan perundang-undangan yang ada sampai saat ini belum secara tegas
mengatur definisi dan pemberian sanksi serta hal-hal lain yang berkaitan dengan
pornografi dan pornoaksi sebagai pedoman dalam upaya penegakan hukum untuk
tujuan melestarikan tatanan kehidupan masyarakat;
e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b,
huruf c, dan huruf d perlu membentuk Undang-Undang tentang Anti Pornografi dan
Pornoaksi;

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

dan

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG ANTI PORNOGRAFI DAN


PORNOAKSI.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Bagian Pertama

Pengertian

Pasal 1

Dalam Undang-Undang ini yang dimaksudkan dengan :

1. Pornografi adalah substansi dalam media atau alat komunikasi yang dibuat untuk
menyampaikan gagasan-gagasan yang mengeksploitasi seksual, kecabulan, dan/atau
erotika.
2. Pornoaksi adalah perbuatan mengeksploitasi seksual, kecabulan, dan/atau erotika di
muka umum.
3. Media massa cetak adalah alat atau sarana penyampaian informasi dan pesanpesan
secara visual kepada masyarakat luas berupa

barang-barang cetakan massal antara lain buku, suratkabar, majalah, dan tabloid.

1. Media massa elektronik adalah alat atau sarana penyampaian informasi dan pesan-
pesan secara audio dan/atau visual kepada
masyarakat luas antara lain berupa radio, televisi, film, dan yang dipersamakan dengan film.

1. Alat komunikasi medio adalah sarana penyampaian informasi dan pesan-pesan secara
audio dan/atau visual kepada satu orang

dan/atau sejumlah orang tertentu antara lain berupa telepon, Short Message Service,
Multimedia Messaging Service, surat, pamflet, leaflet, booklet, selebaran, poster, dan media
elektronik baru yang berbasis komputer seperti internet dan intranet.

1. Barang pornografi adalah semua benda yang materinya mengandung sifat pornografi
antara lain dalam bentuk buku, surat kabar, majalah, tabloid dan media cetak
sejenisnya, film, dan/atau yang dipersamakan dengan film, video, Video Compact
Disc, Digital Video Disc, Compact Disc, Personal ComputerCompact Disc Read Only
Memory, dan kaset.
2. Jasa pornografi adalah segala jenis layanan pornografi yang diperoleh antara lain
melalui telepon, televisi kabel, internet, dan komunikasi elekronik lainnya, dengan
cara memesan atau berlangganan barang-barang pornografi yang dapat diperoleh
secara langsung dengan cara menyewa, meminjam, atau membeli.
3. Membuat adalah kegiatan atau serangkaian kegiatan memproduksi materi media
massa cetak, media massa elektronik, media komunikasi

lainnya, dan barang-barang pornografi.

1. Menyebarluaskan adalah kegiatan atau serangkaian kegiatan mengedarkan materi


media massa cetak, media massa elektronik,

media-media komunikasi lainnya, dan mengedarkan barang-barang yang mengandung sifat


pornografi dengan cara memperdagangkan, memperlihatkan, memperdengarkan,
mempertontonkan, mempertunjukan, menyiarkan, menempelkan, dan/atau menuliskan.

1. Menggunakan adalah kegiatan memakai materi media massa cetak, media massa
elektronik, alat komunikasi medio, dan barang dan/atau

jasa pornografi.

1. Pengguna adalah setiap orang yang dengan sengaja menonton/menyaksikanpornografi


dan/atau pornoaksi.
2. Setiap orang adalah orang perseorangan, perusahaan, atau distributor sebagai
kumpulan orang baik berupa badan hukum maupun bukan

badan hukum.

1. Pemerintah adalah Menteri atau pejabat lain yang ditunjuk oleh Presiden.
2. Mengeksploitasi adalah kegiatan memanfaatkan perbuatan pornoaksi untuk tujuan
mendapatkan keuntungan materi atau non materi bagi diri sendiri dan/atau orang lain.
3. Hubungan seks adalah kegiatan hubungan perkelaminan balk yang dilakukan oleh
pasangan suami isteri maupun pasangan lainnya yang

bersifat heteroseksual, homoseks atau lesbian.


1. Anak-anak adalah seseorang yang belum berusia 12 (dua belas) tahun
2. Dewasa adalah seseorang yang telah berusia 12 (dua belas) tahun ke atas.
3. Jasa pornoaksi adalah segala jenis layanan pornoaksi yang dapat diperoleh secara
langsung atau melalul perantara, baik perseorangan maupun perusahaan.
4. Perusahaan adalah kumpulan orang dan/atau kekayaan yang terorganisasi, balk berupa
badan hukum maupun bukan badan hukum.
5. Orang lain adalah orang selain suami atau istri yang sah berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Bagian Kedua

Asas dan Tujuan

Pasal 2

Pelarangan terhadap pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi serta perbuatan


dan penyelenggaraan pornoaksi berasaskan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang
Maha Esa dengan memperhatikan nilai-nilai budaya, susila, dan moral, keadilan,
perundangan hukum, dan kepastian hukum.

Pasal 3 Anti pornografi dan pornoaksi bertujuan ;

a. Menegakkan dan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia yang beriman dan
bertakwa dalam rangka membentuk masyarakat yang berkepribadian luhur kepada
Tuhan Yang Maha Esa. ,
b. Memberikan perlindungan, pembinaan, dan pendidikan moral dan akhlak masyarakat

BAB II

LARANGAN

Bagian Pertama

Pornografi

Pasal 4

Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik bagian tubuh tertentu yang sensual dari orang dewasa.

Pasal 5

Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik ketelanjangan tubuh orang dewasa.

Pasal 6
Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik tubuh atau bagian-bagian tubuh orang yang menari erotis atau
bergoyang erotis.

Pasal 7

Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang yang berciuman bibir.

Pasal 8

Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang yang melakukan masturbasi atau onani.

Pasal 9

(1) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas
yang mengarah pada hubungan seks dengan pasangan berlawanan jenis.

(2) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas
yang mengarah pada hubungan seks dengan pasangan sejenis.

(3) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas
yang mengarah pada hubungan seks dengan orang yang telah meninggal dunia.

(4) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas
yang mengarah pada hubungan seks dengan hewan.

Pasal 10

(1)Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik orang berhubungan seks dalam acara pesta seks.

(2) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang dalam pertunjukan seks.

Pasal 11
(1) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik aktivitas anak-anak yang melakukan masturbasi, onani dan/atau
hubungan seks.

(2) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang yang melakukan hubungan seks atau aktivitas
yang mengarah pada hubungan seks dengan anak-anak.

Pasal 12

Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan


tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,
puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik bagian tubuh tertentu
yang sensual dari orang dewasa melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau
alat komunikasi medio.

Pasal 13

Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan


tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,
puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik ketelanjangan tubuh
melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio.

Pasal 14

Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan


tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,
puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik tubuh atau bagian-
bagian tubuh orang yang menari erotis atau bergoyang erotis melalui media massa cetak,
media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio.

Pasal 15

Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan


tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,
puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang yang berciuman
bibir melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio.

Pasal 16

Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan


tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,
puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang yang melakukan
masturbasi atau onani melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat
komunikasi medio.

Pasal 17
(1) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau
menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan
film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang
dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks
dengan pasangan berlawanan jenis melalui media massa cetak, media massa elektronik
dan/atau alat komunikasi medio.

(2) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau


menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan
film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang
dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks
dengan pasangan sejenis melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat
komunikasi medio.

(3) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau


menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan
film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang
dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks
dengan cara sadis, kejam, pemukulan, sodomi, perkosaan, dan cara-cara kekerasan lainnya
melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio. .

(4) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau


menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan
film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang
dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks
dengan orang yang telah meninggal dunia melalui media massa cetak, media massa
elektronik dan/atau alat komunikasi medio.

(5) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau


menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan
film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang
dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks
dengan hewan melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi
medio.

Pasal 18

(1) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau


menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan
film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang
dalam acara pesta seks melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat
komunikasi medio.

(2) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau


menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan
film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang
dalam pertunjukan seks melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat
komunikasi medio.

Pasal 19
(1) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau
menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan
film, syair lagu, puisi,.gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas anak-
anak dalam melakukan masturbasi atau onani melalui media massa cetak, media massa
elektronik dan/atau alat komunikasi medio.

(2) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau


menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan
film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas anak-
anak dalam berhubungan seks melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau
alat komunikasi medio.

(3) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau


menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan
film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang
dalam berhubungan seks dengan anak-anak melalui media massa cetak, media massa
elektronik dan/atau alat komunikasi medio.

(4) Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau


menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan
film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang
dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks
dengan anak-anak dengan cara sadis, kejam, pemukulan, sodomi, perkosaan, dan cara-cara
kekerasan lainnya melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat
komunikasi medio.

Pasal 20 Setiap orang dilarang menjadikan diri sendiri dan/atau orang lain sebagai model atau
obyek pembuatan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan
film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik bagian
tubuh tertentu yang sensual dari orang dewasa, ketelanjangan tubuh dan/atau daya tarik tubuh
atau bagian-bagian tubuh orang yang menari erotis atau bergoyang erotis, aktivitas orang
yang berciuman bibir, aktivitas orang yang melakukan masturbasi atau onani, orang yang
berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan
pasangan berlawanan jenis, pasangan sejenis, orang yang telah meninggal dunia dan/atau
dengan hewan.

Pasal 21

Setiap orang dilarang menyuruh atau memaksa. anak-anak menjadi model atau obyek
pembuatan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film,
syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas anak-anak
untuk melakukan masturbasi, onani, dan/atau hubungan seks.

Pasal 22

Setiap orang dilarang membuat, menyebarluaskan, dan menggunakan karya seni yang
mengandung sifat pornografi di media massa cetak, media massa elektronik, atau alat
komunikasi medio, dan yang berada di tempat9 tempat umum yang bukan dimaksudkan
sebagai tempat pertunjukan karya seni.
Pasal 23

Setiap orang dilarang membeli barang pornografi dan/atau jasa pornografi tanpa alasan yang
dibenarkan berdasarkan Undang-Undang ini.

Pasal 24

(1) Setiap orang dilarang menyediakan dana bagi orang lain untuk melakukan kegiatan
dan/atau pameran pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 sampai dengan Pasal 23.

(2) Setiap orang dilarang menyediakan tempat bagi orang lain untuk melakukan kegiatan
pornografi dan/atau pameran pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 sampai dengan
Pasal 23.

(3) Setiap orang dilarang menyediakan peralatan dan/atau perlengkapan bagi orang lain untuk
melakukan kegiatan pornografi dan/atau pameran pornografi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 4 sampai dengan Pasal 23.

Bagian Kedua

Pornoaksi

Pasal 25

(1) Setiap orang dewasa dilarang mempertontonkan bagian tubuh tertentu yang sensual.

(2) Setiap orang dilarang menyuruh orang lain untuk mempertontonkan bagian tubuh tertentu
yang sensual.

Pasal 26

(1) Setiap orang dewasa dilarang dengan sengaja telanjang di muka umum.

(2) Setiap orang dilarang menyuruh orang lain untuk telanjang di muka umum.

Pasal 27

(1) Setiap orang dilarang berciuman bibir di muka umum.

(2) Setiap orang dilarang menyuruh orang lain berciuman bibir di muka umum.

Pasal 28

(1) Setiap orang dilarang menari erotis atau bergoyang erotis di muka umum.

(2) Setiap orang dilarang menyuruh orang lain untuk menari erotis atau bergoyang erotis di
muka umum.

Pasal 29
(1) Setiap orang dilarang melakukan masturbasi, onani atau gerakan tubuh yang menyerupai
kegiatan masturbasi atau onani di muka umum

(2) Setiap orang dilarang menyuruh orang lain untuk melakukan masturbasi, onani, atau
gerakan tubuh yang menyerupai kegiatan masturbasi atau onani di muka umum.

(3) Setiap orang dilarang menyuruh anak-anak untuk melakukan masturbasi, onani,atau
gerakan tubuh yang menyerupai kegiatan masturbasi atau onani.

Pasal 30

(1) Setiap orang dilarang melakukan hubungan seks atau gerakan tubuh yang menyerupai
kegiatan hubungan seks di muka umum.

(2) Setiap orang dilarang menyuruh orang lain untuk melakukan hubungan seks atau gerakan
tubuh yang menyerupai kegiatan hubungan seks di muka umum.

(3) Setiap orang dilarang melakukan hubungan seks dengan anak-anak.

(4) Setiap orang dilarang menyuruh anak-anak untuk melakukan kegiatan hubungan seks atau
gerakan tubuh yang menyerupai kegiatan hubungan seks.

Pasal 31

(1) Setiap orang dilarang menyelenggarakan acara pertunjukan seks.

(2) Setiap orang dilarang menyelenggarakan acara pertunjukan seks dengan melibatkan anak-
anak.

(3) Setiap orang dilarang menyelenggarakan acara pesta seks.

(4) Setiap orang dilarang menyelenggarakan acara pesta seks dengan melibatkan anak-anak.

Pasal 32

(1) Setiap orang dilarang menonton acara pertunjukan seks.

(2) Setiap orang dilarang menonton acara pertunjukan seks dengan melibatkan anak-anak.

(3) Setiap orang dilarang menonton acara pesta seks.

(4) Setiap orang dilarang menonton acara pesta seks dengan melibatkan anak-anak.

Pasal 33

(1) Setiap orang dilarang menyediakan dana bagi orang lain untuk melakukan kegiatan
pornoaksi, acara pertunjukan seks, atau acara pesta seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal
25 sampai dengan Pasal 32.
(2) Setiap orang dilarang menyediakan tempat bagi orang lain untuk melakukan kegiatan
pornoaksi, acara pertunjukan seks, atau acara pesta seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal
25 sampai dengan Pasai 32.

(3) Setiap orang dilarang menyediakan peralatan dan/atau perlengkapan bagi orang lain untuk
melakukan kegiatan pornoaksi, acara pertunjukan seks, atau acara pesta seks sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 25 sampai dengan Pasal 32.

BAB III

PENGECUALIAN DAN PERIZINAN

Bagian Pertama

Pengecualian

Pasal 34

(1) Pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 4 sampai dengan Pasal 23 dikecualikan untuk tujuan pendidikan dan/atau
pengembangan ilmu pengetahuan dalam batas yang diperlukan.

(2) Pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan materi pornografi sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) terbatas pada lembaga riset atau lembaga pendidikan yang bidang keilmuannya
bertujuan untuk pengembangan pengetahuan.

Pasal 35

(1) Penggunaan barang pornografi dapat dilakukan untuk keperluan pengobatan gangguan
kesehatan.

(2) Penggunaan barang pornografi untuk keperluan gangguan kesehatan sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) setelah mendapatkan rekomendasi dari dokter, rumah sakit dan/atau
lembaga kesehatan yang mendapatkan ijin dari Pemerintah.

Pasal 36

(1) Pelarangan pornoaksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, Pasal 26, Pasal 27, Pasal
28, Pasal 29, Pasal 30, Pasal 31, atau Pasal 32, dikecualikan untuk:

a. cara berbusana dan/atau tingkah laku yang menjadi kebiasaan menurut adat istiadat
dan/atau budaya kesukuan, sepanjang berkaitan dengan pelaksanaanritus keagamaan
atau kepercayaan;
b. kegiatan seni;
c. kegiatan olahraga; atau
d. tujuan pendidikan dalam bidang kesehatan.

(2) Kegiatan seni sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b hanya dapat dilaksanakan di
tempat khusus pertunjukan seni.
(3) Kegiatan olahraga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c hanya dapat dilaksanakan
di tempat khusus olahraga.

Bagian Kedua

Perizinan

Pasal 37

(1) Tempat khusus pertunjukan seni sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (2) harus
mendapatkan izin dari Pemerintah.

(2) Tempat khusus olahraga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat

(3) harus mendapatkan izin dari Pemerintah.

Pasal 38

1. Pemerintah dapat memberikan izin kepada setiap orang untuk memproduksi, mengimpor
dan menyebarluaskan barang pornografi dalam media cetak dan/atau media elektronik untuk
keperluan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 dan Pasal 35.

2. Setiap orang yang melakukan penyebarluasan barang pornografi dalam media cetak
dan/atau media elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan dengan
memenuhi syarat:

a. penjualan barang dan/atau jasa pornografi hanya dilakukan oleh badan-badan usaha
yang memiliki izin khusus;
b. penjualan barang dan/atau jasa pornografi secara langsung hanya dilakukan di tempat-
tempat tertentu dengan tanda khusus;
c. penjualan barang pornografi dilakukan dalam bungkus rapat dengan kemasan
bertanda khusus dan segel tertutup;
d. barang pornografi yang dijual ditempatkan pada etalase tersendiri yang letaknya jauh
dari jangkauan anak-anak dan remaja berusia dibawah 18 (delapan belas) tahun;

Pasal 39 (1) Izin dan syarat-syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 dan Pasal 38
selanjutnya diatur dengän Peraturan Pemerintah.

(2) Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengatur pemberian
izin dan syarat-syarat secara umum dan pengaturan selanjutnya secara khusus diserahkan
kepada daerah seuai dengan kondisi, adat istiadat dan budaya daerah masing-masing.

e. BAB IV

BADAN ANTI PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI NASIONAL

Bagian Pertama
Nama dan Kedudukan

Pasal 40

(1) Untuk mencegah dan menanggulangi masalah pornografi dan pornoaksi dalam
masyarakat dibentuk Badan Anti Pornografi dan Pornoaksi Nasional, yang
selanjutnya disingkat menjadi BAPPN.

(2) BAPPN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah lembaga nonstruktural yang
berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden.

Pasal 41

BAPPN berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia.

Bagian Kedua

Fungsi dan Tugas

Pasal 42

BAPPN mempunyai fungsi:

a. pengkoordinasian instansi pemerintah dan badan lain terkait dalam penyiapan


dan penyusunan kebijakan pencegahan dan penanggulangan masalah
pornografi dan/atau pornoaksi;
b. pengkoordinasian instansi pemerintah dalam pelaksanaan kebijakan
pencegahan dan penanggulangan masalah pornografi dan/atau pornoaksi;
c. pengkoordinasian instansi pemerintah dalam mengatur pembuatan,
penyebarluasan, dan penggunaan barang pornografi dan jasa pornografi untuk
tujuan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan;
d. pengoperasian satuan tugas yang terdiri dari unsur pemerintah terkait sesuai
dengan tugas, fungsi dan kewenangannya masing-masing;
e. pembangunan dan pengembangan sistem komunikasi, informasi dan edukasi
dalam rangka pencegahan dan penanggulangan masalah pornografi dan/atau
pornoaksi.
f. pemutusan jaringan pembuatan, dan penyebarluasan barang pornografi, jasa
pornografi, dan jasa pornoaksi;
g. pelaksanaan kerjasama nasional, regional, dan internasional dalam rangka
pencegahan dan penanggulangan masalah pornografi dan/atau pornoaksi;

Pasal 43

(1) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf a,


BAPPN mempunyai tugas :

h. Meminta informasi tentang upaya pencegahan dan penanggulangan pornografi


dan/atau pornoaksi kepada instansi dan/atau badan terkait;
i. melakukan pengkajian dan penelitian terhadap peraturan perundang-undangan
yang berkaitan dengan masalah pornografi dan/atau pornoaksi;
(2) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf b,
BAPPN mempunyai tugas :

j. Melaksanakan dengar pendapat atau pertemuan dengan instansi dan/atau


badan terkait;
k. Meminta laporan instansi terkait mengenai pencegahan dan penanggulangan
pornografi dan/atau pornoaksi.

(3) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf c,


BAPPN mempunyai tugas memantau dan melakukan penilaian terhadap sikap dan
prilaku masyarakat terhadap pornografi dan/atau pornoaksi.

(4) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf d,


BAPPN mempunyai tugas melakukan pengawasan, penelitian atau penelaahan
terhadap instansi dan badan yang menjalankan tugas dan wewenangnya yang
berkaitan dengan pencegahan dan penanggulangan ponografi dan pornoaksi.

(5) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf e,


BAPPN mempunyai tugas memberi komunikasi, informasi, edukasi, dan advokasi
kepada masyarakat dalam upaya mencegah dan menanggulangi masalah pornografi
dan/atau pornoaksi.

(6) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf f, BAPPN
mempunyai tugas :

l. mendorong berkembangnya partisifasi masyarakat dalam upaya pencegahan


dan penanggulangan pornografi dan/atau pornoaksi;
m. menerima laporan masyarakat yang berkaitan dengan tindak pidana pornografi
dan/atau pornoaksi.

(7) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf g,


BAPPN mempunyai tugas :

n. meneruskan laporan masyarakat yang berkaitan dengan tindak pidana


pornografi dan/atau pornoaksi;
o. menjadi saksi ahli pada proses pemeriksaan tersangka/terdakwa dalam
penyidikan dan pemeriksaan di sidang pengadilan;
p. mengkoordinasikan pertemuan dengan instansi dan badan lain terkait baik
dalam tingkat nasional maupun tingkat internasional yang tugas dan
wewenangnya mencegah dan menanggulangi pornografi dan/atau pornoaksi.

Pasal 36

(1) Pelarangan pornoaksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, Pasal 26, Pasal 27,
Pasal 28, Pasal 29, Pasal 30, Pasal 31, atau Pasal 32, dikecualikan untuk:

q. cara berbusana dan/atau tingkah laku yang menjadi kebiasaan menurut adat
istiadat dan/atau budaya kesukuan, sepanjang berkaitan dengan pelaksanaan
ritus keagamaan atau kepercayaan;
r. kegiatan seni;
s. kegiatan olahraga; atau
t. tujuan pendidikan dalam bidang kesehatan.

(2) Kegiatan seni sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b hanya dapat
dilaksanakan di tempat khusus pertunjukan seni.

(3) Kegiatan olahraga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c hanya dapat
dilaksanakan di tempat khusus olahraga.

Bagian Kedua

Perizinan

Pasal 37

(1) Tempat khusus pertunjukan seni sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (2)
harus mendapatkan izin dari Pemerintah.

(2) Tempat khusus olahraga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (3) harus
mendapatkan izin dari Pemerintah.

Pasal 38

1. Pemerintah dapat memberikan izin kepada setiap orang untuk memproduksi,


mengimpor dan menyebarluaskan barang pornografi dalam media cetak dan/atau
media elektronik untuk keperluan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 dan Pasal
35.

2. Setiap orang yang melakukan penyebarluasan barang pornografi dalam media cetak
dan/atau media elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan
dengan memenuhi syarat:

u. penjualan barang dan/atau jasa pornografi hanya dilakukan ,oleh badan-badan


usaha yang memiliki izin khusus;
v. penjualan barang dan/atau jasa pornografi secara langsung hanya dilakukan di
tempat-tempat tertentu dengan tanda khusus;
w. penjualan barang pornografi dilakukan dalam bungkus rapat dengan kemasan
bertanda khusus dan segel tertutup;
x. barang pornografi yang dijual ditempatkan pada etalase tersendiri yang
letaknya jauh dari jangkauan anak-anak dan remaja berusia dibawah 18
(delapan belas) tahun;

Pasal 39

(1) Izin dan syarat-syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 dan Pasal 38
selanjutnya diatur dengän Peraturan Pemerintah.

(2) Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengatur
pemberian izin dan syarat-syarat secara umum dan pengaturan selanjutnya secara
khusus diserahkan kepada daerah sesuai dengan kondisi, adat istiadat dan budaya
daerah masing-masing.

BAB IV

BADAN ANTI PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI NASIONAL

Bagian Pertama

Nama dan Kedudukan

Pasal 40

(1) Untuk mencegah dan menanggulangi masalah pornografi dan pornoaksi dalam
masyarakat dibentuk Badan Anti Pornografi dan Pornoaksi Nasional, yang
selanjutnya disingkat menjadi BAPPN.

(2) BAPPN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah lembaga nonstruktural yang
berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden.

Pasal 41

BAPPN berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia.

Bagian Kedua

Fungsi dan Tugas

Pasal 42

BAPPN mempunyai fungsi:

y. pengkoordinasian instansi pemerintah dan badan lain terkait dalam penyiapan


dan
z. penyusunan kebijakan pencegahan dan penanggulangan masalah pornografi
dan/atau pornoaksi;
aa. pengkoordinasian instansi pemerintah dalam pelaksanaan kebijakan
pencegahan dan penanggulangan masalah pornografi dan/atau pornoaksi;
bb. pengkoordinasian instansi pemerintah dalam mengatur pembuatan,
penyebarluasan, dan penggunaan barang pornografi dan jasa pornografi untuk
tujuan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan;
cc. pengoperasian satuan tugas yang terdiri dari unsur pemerintah terkait sesuai
dengan tugas, fungsi dan kewenangannya masing-masing;
dd. pembangunan dan pengembangan sistem komunikasi, informasi dan edukasi
dalam rangka pencegahan dan penanggulangan masalah pornografi dan/atau
pornoaksi.
ee. pemutusan jaringan pembuatan, dan penyebarluasan barang pornografi, jasa
pornografi, dan jasa pornoaksi;
ff. pelaksanaan kerjasama nasional, regional, dan internasional dalam rangka
pencegahan dan penanggulangan masalah pornografi dan/atau pornoaksi;
Pasal 43

(1) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf a,


BAPPN mempunyai tugas :

a. Meminta informasi tentang upaya pencegahan dan penanggulangan pornografi


dan/atau pornoaksi kepada instansi dan/atau badan terkait;

f. melakukan pengkajian dan penelitian terhadap peraturan perundang-undangan yang


berkaitan dengan masalah pornografi dan/atau pornoaksi;

(2) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf b, BAPPN
mempunyai tugas :

a. Melaksanakan dengar pendapat atau pertemuan dengan instansi dan/atau badan


terkait;
b. Meminta laporan instansi terkait mengenai pencegahan dan penanggulangan
pornografi dan/atau pornoaksi.

(3) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf c, BAPPN
mempunyai tugas memantau dan melakukan penilaian terhadap sikap dan perilaku
masyarakat terhadap pornografi dan/atau pornoaksi.

(4) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf d, BAPPN
mempunyai tugas melakukan pengawasan, penelitian atau penelaahan terhadap instansi dan
badan yang menjalankan tugas dan wewenangnya yang berkaitan dengan pencegahan dan
penanggulangan ponografi dan pornoaksi.

(5) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf e, BAPPN
mempunyai tugas memberi komunikasi, informasi, edukasi, dan advokasi kepada masyarakat
dalam upaya mencegah dan menanggulangi masalah pornografi dan/atau pornoaksi.

(6) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf f, BAPPN
mempunyai tugas :

a. mendorong berkembangnya partisifasi masyarakat dalam upaya pencegahan dan


penanggulangan pornografi dan/atau pornoaksi;
b. menerima laporan masyarakat yang berkaitan dengan tindak pidana pornografi
dan/atau pornoaksi.

(7) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf g, BAPPN
mempunyai tugas :

a. meneruskan laporan masyarakat yang berkaitan dengan tindak pidana pornografi


dan/atau pornoaksi;
b. menjadi saksi ahli pada proses pemeriksaan tersangka/terdakwa dalam penyidikan dan
pemeriksaan di sidang pengadilan;
c. mengkoordinasikan pertemuan dengan instansi dan badan lain terkait baik dalam
tingkat nasional maupun tingkat internasional yang tugas dan wewenangnya
mencegah dan menanggulangi pornografi dan/atau pornoaksi.
<

Bagian Ketiga

Susunan Organisasi dan Keanggotaan

Pasal 44

(1) BAPPN terdiri atas seorang Ketua merangkap Anggota, seorang Wakil Ketua merangkap
Anggota, serta sekurang-kurangnya 11 (sebelas) orang Anggota yang terdiri dari unsur
pemerintah dan masyarakat.

(2) Masa jabatan Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota BAPPN adalah 3 (tiga) tahun dan dapat
diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya.

(3) Ketua dan Wakil Ketua BAPPN dipilih dari dan oleh Anggota.

Pasal 45

(1) Sebelum memangku jabatannya, Anggota BAPPN mengucapkan sumpah/janji menurut


agama dan kepercayaannya masing-masing di hadapan Presiden Republik Indonesia.

(2) Lafal sumpah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbunyi sebagai berikut :

"Saya bersumpah/berjanji dengan sungguh-sungguh bahwa saya, untuk memangku jabatan


saya ini langsung atau tidak langsung, dengan menggunakan nama atau cara apapun juga,
tidak memberikan atau menjanjikan barang sesuatu kepada siapapun juga."

"Saya bersumpah/berjanji bahwa saya, untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam
jabatan ini, tidak sekali-kali akan menerima langsung ' atau tidak langsung dari siapapun juga
suatu janji atau pemberian."

"Saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan setia kepada dan akan mempertahankan serta
mengamalkan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, dasar dan ideologi negara,
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia , Tahun 1945 dan segala undang-undang
yang berlaku bagi Negara Republik Indonesia."

"Saya bersumpah/berjanji bahwa saya senantiasa akan menjalankan jabatan saya ini dengan
jujur, seksama, dan tidak membeda-bedakan orang dalam melaksanakan kewajiban saya."

Pasal 46

Persyaratan keanggotaan BAPPN adalah :

a. warga negara Indonesia;


b. sehat jasmani dan rohani;
c. berkelakuan baik;
d. memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang pornografi dan pornoaksi; dan
e. berusia sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) tahun.
Pasal 47

Keanggotaan BAPPN berhenti atau diberhentikan karena :

a. meninggal dunia;
b. mengundurkan diri atas permintaan sendiri;
c. bertempat tinggal di luar wilayah negara Republik Indonesia;
d. sakit secara terus menerus;
e. melanggar sumpah/janji;
f. berakhir masa jabatan sebagai anggota; atau
g. dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan
hukum tetap, karena melakukan tindak pidana kejahatan.

Pasal 48

(1) BAPPN dibantu oleh Sekretariat.

(2) Sekretariat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh seorang Sekretaris yang
diangkat dan diberhentikan oleh BAPPN.

(3) Fungsi, tugas, dan tata kerja sekretariat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam
keputusan BAPPN.

Pasal 49

Pembiayaan untuk pelaksanaan tugas BAPPN dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara dan sumber lain yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

Pasal 50

Ketentuan lebih lanjut mengenai BAPPN diatur dengan Peraturan Presiden.

BAB V

PERAN SERTA MASYARAKAT

Pasal 51 (1) Setiap warga masyarakat berhak untuk berperan serta dalam pencegahan dan
penanggulangan pornografi dan/atau pornoaksi berupa :

a. hak untuk mendapatkan komunikasi, informasi, edukasi, dan advokasi;


b. menyampaikan keberatan kepada BAPPN terhadap pengedaran barang dan/atau
penyediaan jasa pornografi dan/atau pornoaksi;
c. melakukan gugatan perwakilan ke pengadilan terhadap seseorang, sekelompok orang,
dan/atau badan yang diduga melakukan tindak pidana pornografi dan/atau pornoaksi;
d. gugatan perwakilan sebagaimana dimaksud pada huruf b dilakukan oleh dan/atau
melalui lembaga swadaya masyarakat yang peduli pada masalah pornografi dan/atau
pornoaksi.
(2) Setiap warga masyarakat berkewajiban untuk : a. melakukan pembinaan moral, mental
spiritual, dan akhlak masyarakat dalam rangka membentuk masyarakat yang berkepribadian
luhur, berakhlaq mulia, beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; b. membantu
kegiatan advokasi, rehabilitasi, dan edukasi dalam penanggulangan masalah pornografi
dan/atau pornoaksi.

(3) Setiap warga masyarakat berkewajiban untuk melaporkan kepada pejabat yang berwenang
apabila melihat dan/atau mengetahui adanya tindak pidana pornografi dan/atau pornoaksi.

BAB VI

PERAN PEMERINTAH

Pasal 52

Pemerintah berwenang melakukan kerjasama bilateral, regional, dan multilateral dengan


negara lain dalam upaya menanggulangi dan memberantas masalah pornografi dan/atau
pornoaksi sesuai dengan kepentingan bangsa dan negara.

Pasal 53

Pemerintah wajib memberikan jaminan hukum dan keamanan kepada pelapor terjadinya
tindak pidana pornografi dan/atau pornoaksi:

Pasal 54

(1) Penyidik wajib menindaklanjuti laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (7)
huruf a.

(2) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang tidak menindaklanjuti laporan
terjadinya pornoaksi dikenakan sanksi administratif, berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

BAB VII

PENYIDIKAN, PENUNTUTAN DAN PEMERIKSAAN

Pasal 55 Penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan terhadap tindak pidana pornografi


dan/atau pornoaksi dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

BAB VIII

PEMUSNAHAN

Pasal 56 (1) Pemusnahan barang pornografi dilakukan terhadap hasil penyitaan dan
perampasan barang yang tidak berijin berdasarkan putusan pengadilan.

(2) Pemusnahan barang pornografi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh
penuntut umum bekerjasama dengan BAPPN.
(3) Pemusnahan barang pornografi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh
penuntut umum bekerjasama dengan BAPPN dengan membuat berita acara yang sekurang-
kurangnya memuat :

a. nama media apabila barang disebarluaskan melalui media massa cetak dan/atau media
massa elektronik;
b. nama dan jenis serta jumlah barang yang dimusnahkan;
c. hari, tanggal, bulan dan tahun pemusnahan;
d. keterangan mengenai pemilik atau yang menguasai barang yang dimusnahkan; dan
e. tanda tangan dan identitas lengkap para pelaksana dan pejabat

yang melaksanakan dan menyaksikan pemusnahan.

BAB IX

KETENTUAN SANKSI

Bagian Pertama

Sanksi Administratif

Pasal 57

(1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (2)
diancam dengan sanksi administratif berupa pencabutan ijin usaha;

(2) Setiap orang yang telah dicabut ijin usahanya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
dapat mengajukan kembali ijin usaha sejenis.

Bagian Kedua

Ketentuan Pidana

Pasal 58

Setiap orang yang dengan sengaja membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang
dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik bagian tubuh tertentu yang sensual dari orang dewasa
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu)
tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 100.000.000,(
seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 500.000.000,( lima ratus juta rupiah).

Pasal 59

Setiap orang yang dengan sengaja membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang
dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik ketelanjangan tubuh sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 18 (delapan belas) bulan atau paling lama 7
(tujuh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 150.000.000,( seratus lima puluh juta
rupiah) dan paling banyak Rp. 750.000.000,( tujuh ratus lima puluh juta rupiah).
Pasal 60

Setiap orang yang dengan sengaja membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang
dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik tubuh atau bagian-bagian tubuh orang yang menari erotis atau
bergoyang erotis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 1 (satu) tahun atau paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling
sedikit Rp. 100.000.000,( seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 500.000.000,(lima ratus
juta rupiah).

Pasal 61

Setiap orang yang dengan sengaja membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang
dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang yang berciuman bibir sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 7 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun atau paling lama
5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 100.000.000,( seratus juta rupiah)
dan paling banyak Rp. 500.000.000,( lima ratus juta rupiah).

Pasal 62

Setiap orang yang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi
daya tarik aktivitas orang yang melakukan masturbasi atau onani sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 8 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 18 (delapan belas) bulan atau
paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 150.000.000,( seratus
lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 750.000.000,(tujuh ratus lima puluh juta
rupiah).

Pasal 63

(1) Setiap orang yang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi
daya tarik aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah
pada hubungan seks dengan pasangan berlawanan jenis sebagaimana 21 dimaksud dalam
Pasal 9 Ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun atau paling
lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 200.000.000,( dua ratus
juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,( satu milyar rupiah).

(2) Setiap orang yang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi
daya tarik aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah
pada hubungan seks dengan pasangan sejenis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 Ayat (2)
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun atau paling lama 10 (sepuluh)
tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 200.000.000,( dua ratus juta rupiah) dan
paling banyak Rp. 1.000.000.000,(satu milyar rupiah).

(3) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi
daya tarik aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah
pada hubungan seks dengan orang yang telah meninggal dunia sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 9 Ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun atau paling
lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda .paling sedikit Rp. 200.000.000,( dua ratus
juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,( satu milyar rupiah).

(4) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi
daya tarik aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah
pada hubungan seks dengan hewan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 Ayat (4) dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 2 . (dua) tahun atau paling lama 10 (sepuluh) tahun
dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 200.000.000,( dua ratus juta rupiah) dan paling
banyak Rp. 1.000.000.000,( satu milyar rupiah).

Pasal 64

(1) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi
daya tarik orang berhubungan seks dalam acara pasta seks sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 10 Ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun atau paling
lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 200.000.000,( dua ratus
juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,( satu milyar rupiah).

(2) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi
daya tarik aktivitas orang dalam pertunjukan seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10
Ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun atau paling lama 10
(sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 200.000.000,( dua ratus juta rupiah)
dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,( satu milyar rupiah).

Pasal 65

(1) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi
daya tarik aktivitas anak-anak yang melakukan masturbasi, onani dan/atau hubungan seks
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 Ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 2 (dua) tahun atau paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling
sedikit Rp. 200.000.000,( dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,( satu
milyar rupiah).

(2) Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat
disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi
daya tarik aktivitas orang yang melakukan hubungan seks atau aktivitas yang mengarah pada
hubungan seks dengan anak-anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 Ayat (2) dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun atau paling lama 10 (sepuluh) tahun
dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 200.000.000,(dua ratus juta rupiah) dan paling
banyak Rp. 1.000.000.000,(satu milyar rupiah).

Pasal 66
Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan
tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,
puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik bagian tubuh tertentu
yang sensual dari orang dewasa melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau
alat komunikasi medio sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan atau paling lama 12 (dua belas) tahun
dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 300.000.000,(tiga ratus juta rupiah) dan paling
banyak Rp. 2.000.000.000,(dua milyar rupiah).

Pasal 67

Setiap orang yang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan


tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,
puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik ketelanjangan tubuh
melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua)
tahun 6 (enam) bulan atau paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling
sedikit Rp. 300.000.000,(tiga ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 2.000.000.000,(dua
milyar rupiah).

Pasal 68

Setiap orang yang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan


tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,
puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik tubuh atau bagian-
bagian tubuh orang yang menari erotis atau bergoyang erotis melalui media massa cetak,
media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio sebagaimana dimaksud dalam Pasal
14 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan atau paling
lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 300.000.000,(tiga ratus
juta rupiah) dan paling banyak Rp. 2.000.000.000,(dua milyar rupiah).

Pasal 69

Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan


tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,
puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang yang berciuman
bibir melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio
sêbagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua)
tahun atau paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp.
200.000.000,( dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,( satu milyar
rupiah).

Pasal 70

Setiap orang yang menyiarkan, memper.dengarkan, mempertontonkan atau menempelkan


tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,
puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang yang melakukan
masturbasi atau onani melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat
komunikasi medio sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan atau paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau
pidana denda paling sedikit Rp. 300.000.000,( tiga ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.
2.000.000.000,( dua milyar rupiah).

Pasal 71

(1) Setiap orang yang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan


tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,
puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang dalam berhubungan
seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan pasangan
berlawanan jenis melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat
komunikasi medio sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau pidana
denda paling sedikit Rp 350.000.000 (tiga ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp
2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

(2) Setiap orang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan


tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,
puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang dalam berhubungan
seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan pasangan sejenis
melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau pidana denda paling
sedikit Rp 350.000.000 (tiga ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp
2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

(3) Setiap orang yang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan


tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,
puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang dalam berhubungan
seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan cara sadis, kejam,
pemukulan, sodomi, perkosaan, dan cara-cara kekerasan lainnya melalui media massa cetak,
media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio sebagaimana dimaksud dalam Pasal
17 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15
(lima belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 350.000.000 (tiga ratus lima puluh
juta rupiah) dan paling banyak Rp 2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

(4) Setiap orang yang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan


tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,
puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang dalam berhubungan
seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan orang yang telah
meninggal dunia melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat
komunikasi medio sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (4) dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau pidana
denda paling sedikit Rp 350.000.000 (tiga ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp
2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

(5) Setiap orang yang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan


tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,
puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang dalam berhubungan
seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan hewan melalui
media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17 ayat (5) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga)
tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp
350.000.000 (tiga ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 2.500.000.000 (dua
milyar lima ratus juta rupiah).

Pasal 72

(1) Setiap orang yang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan


tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,
puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang dalam acara pesta
seks melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau pidana denda paling
sedikit Rp 350.000.000 (tiga ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp
2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

(2) Setiap orang yang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan


tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,
puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang dalam pertunjukan
seks melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau pidana denda paling
sedikit Rp 350.000.000 (tiga ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp
2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

Pasal 73

(1) Setiap orang yang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan


tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,
puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas anak-anak dalam
melakukan masturbasi atau onani melalui media massa cetak, media massa elektronik
dan/atau alat komunikasi medio sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan pOing lama 20 (dua puluh) tahun
dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 400.000.000 (empat ratus juta rupiah) dan paling
banyak Rp 3.000.000.000 (tiga milyar rupiah).

(2) Setiap orang yang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan


tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,
puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas anak-anak dalam
berhubungan seks melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat
komunikasi medio sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan/atau pidana
denda paling sedikit Rp 400.000.000 (empat r4us juta rupiah) dan paling banyak Rp
3.000.000.000 (tiga milyar rupiah).

(3) Setiap orang yang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan


tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,
puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang dalam berhubungan
seks dengan anak-anak melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat
komunikasi medio sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (3) dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan/atau pidana
denda paling sedikit Rp 400.000.000 (empat ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp
3.000.000.000 (tiga milyar rupiah).

(4) Setiap orang yang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan


tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,
puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang dalam berhubungan
seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan anak-anak dengan
cara sadis, kejam, pemukulan, sodomi, perkosaan, dan cara-cara kekerasan lainnya melalui
media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 19 ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat)
tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp
400.000.000 (empat ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 3.000.000.000 (tiga milyar
rupiah).

Pasal 74

Setiap orang yang menjadikan diri sendiri dan/atau orang lain sebagai model atau obyek
pembuatan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film,
syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik bagian tubuh
tertentu yang sensual dari orang dewasa, ketelanjangan tubuh dan/atau daya tarik tubuh atau
bagian-bagian tubuh orang yang menari erotis atau bergoyang erotis, aktivitas orang yang
berciuman bibir, aktivitas orang yang melakukan masturbasi atau onani, orang yang
berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan
pasangan berlawanan jenis, pasangan sejenis, orang yang telah meninggal dunia dan/atau
dengan hewan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 18 (delapan belas) bulan dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau pidana denda
paling sedikit Rp. 150.000.000,(seratus limb puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.
750.000.000,(tujuh ratus lima puluh juta rupiah).

Pasal 75

Setiap orang yang menyuruh atau memaksa anak-anak menjadi model atau obyek pembuatan
tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,
puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas anak-anak untuk
melakukan masturbasi, onani, dan/atau hubungan seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua
puluh) tahun dan/atau pidana denda paling' sedikit Rp 400.000.000 (empat ratus juta rupiah)
dan paling banyak Rp 3.000.000.000 (tiga milyar rupiah).

Pasal 76

Setiap orang yang membuat, menyebarluaskan, dan menggunakan karya seni yang
mengandung sifat pornografi di media massa cetak, media massa elektronik, atau alat
komunikasi medio, dan yang berada di tempat-tempat umum yang bukan dimaksudkan
sebagai tempat pertunjukan karya seni 27 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 dipidana
dengan pidana paling singkat 18 (delapan belas) bulan dan paling lama 7 (tujuh) tahun
dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 150.000.000,( seratus lima puluh juta rupiah) dan
paling banyak Rp. 750.000.000,(tujuh ratus lima puluh juta rupiah).
Pasal 77

Setiap orang yang membeli barang pornografi dan/tau jasa pornografi tanpa alasan yang
dibenarkan berdasarkan Undang-Undang ini sebagaimana dimaksud dalarn Pasal 23 dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun atau paling lama 5 (lima) tahun dan/atau
pidana denda paling sedikit Rp. 100.000.000,(seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.
500.000.000,(lima ratus juta rupiah)

Pasal 78

(1) Setiap orang yang menyediakan dana bagi orang lain untuk melakukan kegiatan dan/atau
pameran pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau pidana
denda paling sedikit Rp. 350.000.000,(tiga ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak
Rp. 2.500.000.000,(dua milyar lima ratus juta rupiah).

(2) Setiap orang yang menyediakan tempat bagi orang lain untuk melakukan kegiatan
pornografi dan/atau pameran pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2)
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas)
tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 350.000.000,(tiga ratus lima puluh juta
rupiah) dan paling banyak Rp. 2.500.000.000,(dua milyar lima ratus juta rupiah).

(3) Setiap orang yang menyediakan peralatan dan/atau perlengkapan bagi orang lain untuk
melakukan kegiatan pornografi dan/atau pameran pornografi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 24 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling
lama 15 (lima belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 350.000.000,(tiga ratus
lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 2.500.000.000,( dua milyar lima ratus juta
rupiah).

Pasal 79

(1) Setiap orang dewasa yang mempertontonkan bagian tubuh tertentu yang sensual
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua)
tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp.
200.000.000,(dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,(satu milyar
rupiah).

(2) Setiap orang yang menyuruh orang lain untuk mempertontonkan bagian tubuh tertentu
yang sensual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling
sedikit Rp. 200.000.000,(dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,(satu
milyar rupiah).

Pasal 80

(1) Setiap orang dewasa yang dengan sengaja telanjang di muka umum sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua)
tahun 6 (enam) bulan dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling
sedikit Rp. 300.000.000,(tiga ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 2.000.000.000,(dua
milyar rupiah).
(2) Setiap orang yang menyuruh orang lain untuk telanjang di muka umum sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 26 ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua)
tahun 6 (enam) bulan dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling
sedikit Rp. 300.000.000,(tiga ratus juta ' rupiah) dan paling banyak Rp. 2.000.000.000,(dua
milyar rupiah).

Pasal 81

(1) Setiap orang yang berciuman bibir di muka umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27
ayat 1 (satu), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5
(lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 100.000.000 (seratus juta rupiah) dan
paling banyak Rp. 500.000.000 (lima ratus juta rupiah).

(2) Setiap orang yang menyuruh orang lain berciuman bibir di muka umum sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 27 ayat 2 (dua), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu)
tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 100.000.000
(seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 500.000.000 (lima ratus juta rupiah).

Pasal 82

(1) Setiap orang yang menari erotis atau bergoyang erotis di muka umum sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 18 (delapan
belas) bulan dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp.
150.000.000 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 750.000.000 (tujuh ratus
lima puluh juta rupiah).

(2) Setiap orang yang menyuruh orang lain untuk menari erotis atau bergoyang erotis di muka
umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2), dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 18 (delapan belas) bulan dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau pidana
denda paling sedikit Rp. 150.000.000 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.
750.000.000 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).

Pasal 83

(1) Setiap orang yang melakukan masturbasi, onani atau gerakan tubuh yang menyerupai
kegiatan masturbasi atau onani di muka umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat
(1), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10
(sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 200.000.000 (dua ratus juta rupiah)
dan paling banyak Rp 1.000.000.000 (satu milyar rupiah).

(2) Setiap orang yang menyuruh orang lain untuk melakukan masturbasi, onani, atau gerakan
tubuh yang menyerupai kegiatan masturbasi atau onani di muka umum sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 29 ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua)
tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp
200.000.000 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000 (satu milyar rupiah).

(3) Setiap orang yang menyuruh anak-anak untuk melakukan masturbasi, onani, atau gerakan
tubuh yang menyerupai kegiatan masturbasi atau onani sebagaimana dimaksud dalam Pasal
29 ayat (3), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10
(sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 200.000.000 (dua ratus juta rupiah)
dan paling banyak Rp 1.000.000.000 (satu milyar rupiah).

Pasal 84

(1) Setiap orang yang melakukan hubungan seks atau gerakan tubuh yang menyerupai
kegiatan hubungan seks di muka umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1),
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan dan paling lama
12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 300.000.000 (tiga ratus juta
rupiah) dan paling banyak Rp 2.000.000.000 (dua milyar rupiah).

(2) Setiap orang yang menyuruh orang lain untuk melakukan hubungan seks atau gerakan
tubuh yang menyerupai kegiatan hubungan seks di muka umum sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 30 ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun 6
(enam) bulan dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp
300.000.000 (tiga ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 2.000.000.000 (dua milyar rupiah).

(3) Setiap orang yang melakukan hubungan seks dengan anak-anak sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 30 ayat (3), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun 6
(enam) bulan dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp
300.000.000 (tiga ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 2.000.000.000 (dua milyar rupiah).

(4) Setiap orang yang menyuruh anak-anak untuk melakukan kegiatan hubungan seks atau
gerakan tubuh yang menyerupai kegiatan hubungan seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal
30 ayat (4), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan dan
paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 300.000.000 (tiga
ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 2.000.000.000 (dua milyar rupiah).

Pasal 85

(1) Setiap orang yang menyelenggarakan acara pertunjukan seks sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 31 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan
paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 350.000.000 (tiga
ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta
rupiah).

(2) Setiap orang yang menyelenggarakan acara pertunjukan seks dengan melibatkan anak-
anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau pidana denda paling
sedikit Rp 350.000.000 (tiga ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp
2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

(3) Setiap orang yang menyelenggarakan acara pesta seks sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 31 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling
lama 15 (lima belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 350.000.000 (tiga ratus
lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta
rupiah).

(4) Setiap orang yang menyelenggarakan acara pesta seks dengan melibatkan anak-anak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau pidana denda paling
sedikit Rp 350.000.000 (tiga ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp
2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

Pasal 86

(1) Setiap orang yang menonton acara pertunjukan seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal
32 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 18 (delapan belas) bulan dan
paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 150.000.000 (seratus
lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 750.000.000 (tujuh ratus lima puluh juta
rupiah).

(2) Setiap orang yang menonton acara pertunjukan seks dengan melibatkan anak-anak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling
sedikit Rp 200.000.000 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000 (satu
milyar rupiah).

(3) Setiap orang yang menonton acara pesta seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat
(3), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 18 (delapan belas) bulan dan paling lama
7 (tujuh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 150.000.000 (seratus lima puluh juta
rupiah) dan paling banyak Rp 750.000.000 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).

(4) Setiap orang yang menonton acara pesta seks dengan melibatkan anak-anak sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 32 ayat (4), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua)
tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp
200.000.000 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000 (satu milyar rupiah).

Pasal 87

(1) Setiap orang yang menyediakan dana bagi orang lain untuk melakukan kegiatan
pornoaksi, acara pertunjukan seks, atau acara pesta seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal
33 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15
(lima belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 350.000.000 (tiga ratus lima puluh
juta rupiah) dan paling banyak Rp 2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

(2) Setiap orang yang menyediakan tempat bagi orang lain untuk melakukan kegiatan
pornoaksi, acara pertunjukan seks, atau acara pesta seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal
33 ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15
(lima belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 350.000.000 (tiga ratus lima puluh
juta rupiah) dan paling banyak Rp. 2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

(3) Setiap orang yang menyediakan peralatan dan/atau perlengkapan bagi orang lain untuk
melakukan kegiatan pornoaksi, acara pertunjukan seks, atau acara pesta seks sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 33 ayat (3), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga)
tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp
350.000.000 (tiga ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 2.500.000.000 (dua
milyar lima ratus juta rupiah).

Pasal 88
(1) Setiap orang yang menyediakan dana bagi orang lain untuk melakukan kegiatan
pornoaksi, acara pertpnjukan seks dan/atau pesta seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25
sampai dengan Pasal 32, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan
paling lama 8 (delapan) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 300.000.000 (tiga
ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000 (satu milyar lima ratus juta rupiah).

(2) Setiap orang yang menyediakan tempat bagi orang lain untuk melakukan kegiatan
pornoaksi, acara pertunjukan seks dan/atau pesta seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25
sampai dengan Pasal 32, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan
paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 200.000.000 (dua ratus
juta rupiah) dan paling banyak Rp 750.000.000 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).

(3) Setiap orang yang menyediakan peralatan dan/atau perlengkapan bagi orang lain untuk
melakukan kegiatan pornoaksi, acara pertunjukan seks dan/atau pesta seks sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 25 sampai dengan Pasal 32, dipidäna dengan pidana penjara paling
singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp
50.000.000 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 250.000.000 (dua ratus lima puluh
juta rupiah).

Pasal 89

Setiap orang yang dengan sengaja menghalang-halangi dan/atau mempersulit penyidikan,


penuntutan, atau pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tersangka, terdakwa atau para
saksi dalam tindak pidana pornografi atau pornoaksi, dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit
Rp 25.000.000 (dua puluh lima juta rupiah) dan paling banyak Rp 150.000.000 (seratus lima
puluh juta rupiah).

Pasal 90

Setiap orang yang dengan sengaja melakukan pemufakatan jahat dalam tindak pidana
pornografi atau pornoaksi, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan
paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp.
150.000.000,(seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.750.000.000,(tujuh ratus
lima puluh juta rupiah).

BAB X

KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 91

Pada saat mulai berlakunya Undang-Undang ini semua peraturan perundang-undangan yang
mengatur atau berkaitan dengan tindak pidana pornografi dan/atau pornoaksi dinyatakan tetap
berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini.

Pasal 92

BAPPN dibentuk dalam waktu paling lambat 1 (satu) tahun sejak Undang-Undang ini mulai
berlaku.
BAB XI

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 93

Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang
mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan menempatkannya
dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Disahkan di Jakarta pada tanggal,

Tindak Pidana Pornografi dan Pornoaksi dalam RUU KUHP


Dody Dody 03/04/2015 Publikasi No Comments

Rancangan KUHP merupakan proyek besar dalam pembaruan hukum pidana Indonesia.
Rentang topik-topik di sekitar isu pembaruan hukum pidana sangat luas dan kompleks. Satu
topik isu yang cukup menyita perhatian publik adalah mengenai pasal-pasal tindak pidana
pornografi dan pornoaksi. Diskursus publik cukup intens mewarnai proses pembahasan
Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi di Dewan Perwakilan Rakyat.
Hingga saat naskah ini disusun, proses pembahasan di Dewan Perwakilan Rakyat mandeg.
Walaupun demikian, pasal-pasal yang terdapat pada Rancangan Undang-undang Anti
Pornografi dan Pornoaksi tersebut diadopsi oleh Penyusun Rancangan KUHP sebagai
pengembangan formulasi dari tindak pidana kesusilaan. Strategi tersebut memang digunakan
oleh Penyusun Rancangan KUHP sebagai upaya mengkodifikasikan seluruh tindak pidana
yang saat ini tersebar di berbagai undang-undang, termasuk mengadopsi berbagai naskah
rancangan undang-undang yang saat ini telah ada.

Rancangan Undang-Undang Anti Pornografii dan Pornoaksi sudah disiapkan sejak sekitar
awal tahun 2000. Selanjutnya Pemerintah, melalui Tim Penyusun Rancangan KUHP telah
memasukkan masalah pornografi dan pornoaksi ini ke dalam salah satu bagian (sub bab) dari
tindak pidana kesusilaan dalam Rancangan KUHP yang sedang disusun oleh tim penyusun.
Langkah lain yang merupakan langkah paling konkrit yang dilakukan masyarakat dalam
memerangi masalah pornografi dan pornoaksi adalah , dengan didukung oleh Pemerintah,
membentuk Komite Indonesia untuk Pemberantasan Pornografi dan Pornoaksi (KIP3).
Komisi ini dijadikan sebagai wadah tokoh-tokoh organisasi dan lembaga lintas agama untuk
memberantas pornografi dan pornoaksi yang dianggap semakin membahayakan dan
mengancam moral bangsa Indonesia.

Jauh sebelum adanya Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi dan
sebelum dimasukkannya Rancangan itu ke dalam Rancangan KUHP, Majelis Ulama
Indonesia telah mengeluarkan Fatwa No. 287 tahun 2001 tentang pornografi dan pornoaksi.
Fatwa MUI tersebut mendesak semua penyelenggara negara agar segera menetapkan
peraturan perundangan yang memperlihatkan dengan sungguh-sungguh bawa fatwa MUI ini
disertai dengan sanksi yang dapat berfungsi untuk membuat jera pelaku dan membuat takut
orang yang belum melakukannya.