Anda di halaman 1dari 9

Penipuan CPNS

Sedang menunggu. Mobil-mobil memenuhi jalan di depn hotel. Lobi hotel penuh sesak. Banyak
orang duduk-duduk di tangga menuju lanytai dua. Ruang pertemuan di lantai hotel penuh sesak.
Ratusan kursi sudah terisi. Orang-orang berdiri di pinggir ruangan. Membeludak sampai ke luar
ruangan.

Tiga orang diuduk di podium pembicara. Dua laki-laki dan seorang perempun yang sudah berusia
senja. Seorang laki-laki di antara ,mereka memegang mikrofon, memanggil nama-nama yang tertera
di daftarnya. Mereka yang disebut namanya meneuju ke depan untuk tanda tangan absen. Sebelum
proses absen itu dimulai, ia memperkenalkan diri sebagai pegawai BKN, laki-laki di sebelahnya
diperkenalkan sebagai pegawai BKN dari pusat.

Laki-laki yang memimpin pertemuan itu menjelaskan, seharunya agenda acara itu adalah pembagian
surat tugas penempatan CPNS jalur kebujakan formasi umum. Sebagai CPNS yang sudah dinyatakan
diterima, setiap orang akan mendpatkan surat penugasan.

“kondisinya tidak memenuhi sekarang, maka dilanjutkan hari Sabtu. Maka semua wajib hadir,” kata
laki-laki yang dipanggil ‘ustaz’ oleh hadirin di sana.

Prosesi absen akhirnya dihentikan. Hadirin diminta berkoordinasi dengan koordinator masing-
masing. Lalu, mereka diminta datang kembali pada Sabtu, 1 Agustus 2015 mendatang. “Di gedung
aula belakang BKN regional Jlalan Diponjegoro 49, jam 10,” katanya meyakinkan.

Penjelasan itu mengunang pertanyaan. Sebab jumlah yang diabsen baru sedikit. Mereka takut, jika
dipanggil, maka akan terlempar dari daftar CPS yang diteria. “Ini baru 450 dari 2.200 nama,” kata
seorng peserta laki-laki.

Hadirin tidak mau bubar. Meski sudah dberi perintah bubar berkali-kali, tak ada yang beranjak. Ustaz
harus melayani sebagai pertanyaan.

‘Saar ya Pak, keteju Sabtu ya Pak. Ketemu Sabtu ya Bu,” kata Ustaz sambil meninggalkan ruangan
menuju lantai satu. Di lantai satu, ia berkumpul di sebuah ruangan bersama orang-orang yang
mengurus penerimaan pegawai itu.

**

TIDAK lama kemudian, serombongan orang berseragam BKN datang menemui mereka. Tidak lama
berselang, petugas kepolisisan datang menuju ruangan di lantai satu hotel yang sesak.

Rupanaya, BKN Regional III mendatangi hotel tersebut setelah ratusan orang terlebih dahulu
mendatangi kantor BKN. Mereka langsung mendatangi pelaku penipuan itu lantaran jumlah korban
yang mendatangi BKN terus bertambah hingga sore hari.

“ Kami menyatakan surat yang diterima itu palsu. BKN tidak pernah ada jalur kebijakan. Ini
dinyatakan palsu. Kami tidak pernah memberi SK di jalanan,” kata Kepala Seksi Supervisi
Kepegawaian BKN Regional II, Akhmad Muhlis, kepada orang-orang yang menunggu hasil
pertemuan.
Jawaban itu mengejutkan. Sebab orang yang tadi berbicara di ruangan juga mengaku dari BKN.
Terdengar suara isak tangis para ibu.

“Saya jual rumah dalam waktu semalm karena harus bayar Rp 120 juta. Saya pinjam ke renternir
dulu, untuk bayr saya jual rumah. Saya sempat bertanya-tanay kenapa kami diarahkan ke hotel,
tujuan kami kan BKN,” kata seorang ibu asal Subang samabil terisak.

Dari kesekian orang-orang di sana, rata-rata diminta uang antara Rp 100 juta hingga Rp 150 juta. Ada
yang sudah bayar lunas, ada yang masih sebagian. Ada satu keluaraga yang mengeluarkan Rp 600
juta untuk mendaftarkan empat orang kerabat.

Endik, seorang tenaga honorer di Pemerintah Kabupaten Subang mengaku mendaftar lantaran
banayk orang juga mendafatr. Baginya, ini kesempatan menjadi PNS setelah 20 tahun menjadi
tenaga honorer. “Saya sempat ikut seleksi yang kearin, tapi gagal. Lalu ditawari mendaftar cara ini,
saya daftar,” katanya.

Ia bahkan sempat ditawari menjadi koordinator. Tugasnya merekrut pendaftar.” Di Subang saja ada
20 koordinator. Kalau setiap orng bisa dapat 20 orang, sudah berapa? Banyak sekali ini. Untung saya
menolak. Saya hanya daftar,” ujarnya.

Sumari, Kepala Polsek Cibeunying Kaler, Kota Bandung, menjelaskan, setelah meminta keterangan
dari beberapa orang, termasuk dari BKN, polisi mengamankan empat orang yang diduga sebagai
pelaku penipuan. Lantaran ini delik aduan, maka dibuat laporan oleh korban yang berdomisili Kota
Bandung. “Saya mengimbau kepada bapak dan ibu agar melaporkan hal ini ke polda, bisa ke polres
tempat bapak ibu tiggal, kami akan endalami perkara ini, kami akan memeriksa mereka,” tuturnya.

Polisi menggiring empat orang dari ruangan ke mobil polisi. Tiga orang pria dan seorang perempuan.
Termasuk “ustaz” dan seorang perempuan yang memimpin pertemuan. Dua laki-laki lainnya
diketahui bernama Aminuddin Achmadi dan Asep. Kepada polisi, Aminuddin mengaku sebagai
pegawai di Kantor Perbendaharaan Negara Kementrian Keuangan di Bandung. Amun, belum jelas
bagaimana status kepegawaiannya saat ini.

Kekesalan para korban berubah menjadi kebingungan. Kepada siapa mereka harus meminta
uangnya kembali?

(Catur Ratna Wulandari/”PR”)***


Saat ini, banyak para pengangguran yang ada di Indonesia, oleh sebab itu banyak orang berbondong-
bondong mendaftar untuk bekerja jika terdapat lowongan pekerjaan. Karena jumlah pengangguran
lebih banyak daripada jumlah lowongan pekerjaan, banyak orang menggunakan cara yang salah dan
tidak patut dilakukan untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Salah satu kasusnya yaitu dengan
terjadinya penipuan CPNS yang terbongkar di Kota Bandung. Banyak Calon Pegawai Negeri Sipil yang
dirugikan dengan apa yang dilakukan oleh para penipu tersebut, sebagian besar dari para korban
dirugikan dalam hal materi. Dalam kasus ini, tersangka sudah melanggar hukum yang berlaku di
Indonesia, yaitu yang sudah tercatum dalam Pasal 378 KUHP tentang penipuan.

“Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hukum,
dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat ataupun dengan rangkaian kebohongan
menggerakan orang lain untuk menyerahkan sesuatu benda kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun
menghapuskan piutang, diancam karena penipuan dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun".

Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hukum, dengan
memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat ataupun dengan rangkaian kebohongan
menggerakan orang lain untuk menyerahkan sesuatu benda kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun
menghapuskan piutang, diancam karena penipuan dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun".

Pasal 372 KUHP:

Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum memiliki barang sesuatu yang seluruhnya atau
sebagian adalah kepunyaan orang lain, tetapi yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan
diancam karena penggelapan, dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda
paling banyak sembilan ratus rupiah.

Pasal 374 KUHP:

Penggelapan yang dilakukan oleh orang yang penguasaannya terhadap barang disebabkan karena
ada hubungan kerja atau karena pencarian atau karena mendapat upah untuk itu, diancam dengan
pidana penjara paling lama lima tahun.

Mengenai Pasal 372 KUHP, R. Soesilo dalam bukunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal (hal. 258) mengatakan bahwa penggelapan
adalah kejahatan yang hampir sama dengan pencurian dalam Pasal 362 KUHP. Bedanya ialah
bahwa pada pencurian barang yang dimiliki itu masih belum berada di tangan pencuri dan masih
harus “diambilnya”, sedangkan pada penggelapan waktu dimilikinya barang itu sudah ada di
tangan si pembuat tindak pidana tidak dengan jalan kejahatan.

Sedangkan mengenai Pasal 374 KUHP, R. Soesilo menjelaskan bahwa ini adalah penggelapan dengan
pemberatan. Pemberatan-pemberatan itu adalah:

1. Terdakwa diserahi menyimpan barang yang digelapkan itu karena hubungan pekerjaannya
(persoonlijke dienstbetrekking), misalnya perhubungan antara majikan dengan buruh;

2. Terdakwa menyimpan barang itu karena jabatannya, misalnya tukang binatu menggelapkan
pakaian yang dicucikan kepadanya;

3. Karena mendapat upah uang (bukan upah yang berupa barang), misalnya pekerja stasiun
membawakan barang orang penumpang dengan upah uang, barang itu digelapkannya.

Ulasan:

Anak adalah anugerah yang diberikan oleh yang maha kuasa. Sebab anak merupakan titipan
sehingga harus dijaga, dilindungi dan dicintai.

Namun dalam perkembangannya, saat ini banyak terjadi kasus-kasus penelantaran anak yang
dilakukan oleh orang tuanya. Salah satu contohnya yaitu dengan apa yang dialami oleh Dewi
Anggriani yang telah ditelantarkan oleh ayahnya sendiri sehingga ia terpakasa harus bekerja
keras di usianya yang masih dini untuk dapat melunasi hutang almarhum ibunya. Banyak
faktor yang melatar belakangi hal tersebut. Namun secara hukum positif di negara ini.
Menelantarkan anak merupakan tindak pelanggaran hukum. Yakni melanggar UU Nomer 23
Tahun 2004 tentang penghapusan tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga atau biasa
dikenal dengan sebutan UU KDRT.

Di pasal 9 ayat 1 menyebutkan bahwa


“setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal
dalam hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib
memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang lain “
Dari sini dapat dilihat bahwa penelantaran anak itu tidak dibenarkan dan dapat di proses
secara hukum.

Sanksi pidana bagi orang yang menelantarkan anak dalam lingkup rumah tangga
berdasarkan pasal 49 (A) UU PKDRT adalah pidana penjara paling lama 3 tahun atau
denda paling banyak Rp. 15.000.000. (lima belas juta rupiah).

Dalam kasus Dewi ini, tidak hanya ayahnya yang bersalah, rentenir yang memaksa Dewi
untuk mengemis untuk melunasi hutang alamarhum ibunya juga sudah melakukan
pelanggaran hukum. Yaitu pada Pasal 13 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun
2002 tentang Perlindungan Anak (“UU Perlindungan Anak”) sebagaimana yang
telah diubah oleh Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (“UU
35/2014”) yang menyatakan bahwa setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua,
wali, atau pihak lain mana pun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak
mendapat perlindungan dari perlakuan:

a. diskriminasi;
b. eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual;
c. penelantaran;
d. kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan;
e. ketidakadilan; dan
f. perlakuan salah lainnya.

Menurut yurisprudensi, yang dimaksud dengan kata penganiayaan yaitu sengaja


menyebabkan perasaan tidak enak (penderitaan), rasa sakit, atau luka. Contoh “rasa
sakit” tersebut misalnya diakibatkan mencubit, mendupak, memukul, menempeleng, dan
sebagainya.

Pasal yang Menjerat Pelaku Penganiayaan Anak

Menjawab pertanyaan Anda, pasal tentang penganiayaan anak ini diatur khusus dalam
Pasal 76C UU 35/2014 yang berbunyi:

Setiap Orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan,


menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan Kekerasan terhadap
Anak.

Sementara, sanksi bagi orang yang melanggar pasal di atas (pelaku


kekerasan/peganiayaan) ditentukan dalam Pasal 80 UU 35/2014:

(1) Setiap Orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 76C, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga)
tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp72.000.000,00
(tujuh puluh dua juta rupiah).
(2) Dalam hal Anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) luka berat,
maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima)
tahun dan/atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta
rupiah).
(3) Dalam hal Anak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mati, maka
pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas)
tahun dan/atau denda paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar
rupiah).
(4) Pidana ditambah sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), ayat (2), dan ayat apabila yang melakukan
penganiayaan tersebut Orang Tuanya.

Melihat dari keterangan yang Anda sampaikan, kami asumsikan bahwa anak Anda yang
matanya dipukul oleh seseorang ini tidak sampai membuatnya terluka berat atau mati.
Oleh karena itu, berdasarkan Pasal 80 ayat (1) UU 35/2014, pelakunya diancam pidana
penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp 72
juta.

Contoh Kasus

Sebagai contoh kasus dapat kita lihat dalam Putusan Pengadilan Negeri
Padangsidimpuan Nomor : 89/Pid.Sus/2015/PN. Psp. Terdakwa telah melakukan
penganiayaan terhadap saksi korban. Penyebabnya adalah terdakwa khilaf oleh karena
saksi korban telah memukul anak terdakwa berumur 13 tahun. Terdakwa melakukan
penganiayaan terhadap saksi korban yaitu pakai tangan terdakwa sendiri. Akibat
penganiayaan yang dilakukan terdakwa saksi korban mengalami luka dan berdarah.

Akhirnya, dengan mempertimbangkan Pasal 80 UU 35/2014, hakim menyatakan


terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana
“Penganiayaan Anak“ dan menghukum pidana kepada terdakwa dengan pidana penjara
selama 5 (lima) bulan dan 10 (sepuluh) hari.

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

Dasar Hukum:

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana yang


telah diubah oleh Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Anak itu anugerah yang diberikan oleh yang maha kuasa. Sebab anak merupakan titipan
sehingga harus dijaga, dilindungi dan dicintai.
Namun dalam perkembangannya, saat ini banyak terjadi kasus-kasus penelantaran anak yang
dilakukan oleh orang tuanya. Banyak faktor yang melatar belakangi hal tersebut. Namun
secara hukum positif di negara ini. Menelantarkan anak merupakan tindak pelanggaran
hukum. Yakni melanggar UU Nomer 23 Tahun 2004 tentang penghapusan tindak pidana
kekerasan dalam rumah tangga atau biasa dikenal dengan sebutan UU KDRT.

Di pasal 9 ayat 1 menyebutkan bahwa


“setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal
dalam hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib
memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang lain “

Dari sini dapat dilihat bahwa penelantaran anak itu tidak dibenarkan dan dapat di proses
secara hukum.

Sanksi pidana bagi orang yang menelantarkan anak dalam lingkup rumah tangga
berdasarkan pasal 49 (A) UU PKDRT adalah pidana penjara paling lama 3 tahun atau
denda paling banyak Rp. 15.000.000. (lima belas juta rupiah).

Maka dari itu janganlah menelantarkan anak. Tetangga dapat melaporkan tindak penelantaran
anak kepada pihak yang berwajib. Hal ini dimaksudkan agar terciptanya suasana damai.
Jangan sampai anak yang harusnya dapat kita didik dan menjadi bagian penting dari hidup
kita ditelantarkan tanpa dinafkahi dengan baik.

Berikut adalah penjelasan dari Pasal 378 KUHP tentang penipuan.

“Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hukum,
dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat ataupun dengan rangkaian kebohongan
menggerakan orang lain untuk menyerahkan sesuatu benda kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun
menghapuskan piutang, diancam karena penipuan dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun".
Pasal 372 KUHP:

Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum memiliki barang sesuatu yang seluruhnya atau
sebagian adalah kepunyaan orang lain, tetapi yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan
diancam karena penggelapan, dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda
paling banyak sembilan ratus rupiah.

Pasal 374 KUHP:

Penggelapan yang dilakukan oleh orang yang penguasaannya terhadap barang disebabkan karena
ada hubungan kerja atau karena pencarian atau karena mendapat upah untuk itu, diancam dengan
pidana penjara paling lama lima tahun.

Mengenai Pasal 372 KUHP, R. Soesilo dalam bukunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal (hal. 258) mengatakan bahwa penggelapan
adalah kejahatan yang hampir sama dengan pencurian dalam Pasal 362 KUHP. Bedanya ialah
bahwa pada pencurian barang yang dimiliki itu masih belum berada di tangan pencuri dan masih
harus “diambilnya”, sedangkan pada penggelapan waktu dimilikinya barang itu sudah ada di
tangan si pembuat tindak pidana tidak dengan jalan kejahatan.

Sedangkan mengenai Pasal 374 KUHP, R. Soesilo menjelaskan bahwa ini adalah penggelapan dengan
pemberatan. Pemberatan-pemberatan itu adalah:

1. Terdakwa diserahi menyimpan barang yang digelapkan itu karena hubungan pekerjaannya
(persoonlijke dienstbetrekking), misalnya perhubungan antara majikan dengan buruh;

2. Terdakwa menyimpan barang itu karena jabatannya, misalnya tukang binatu menggelapkan
pakaian yang dicucikan kepadanya;

3. Karena mendapat upah uang (bukan upah yang berupa barang), misalnya pekerja stasiun
membawakan barang orang penumpang dengan upah uang, barang itu digelapkannya.

Gepeng, Anak Jalanan, Pemerintah, dan UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1 17 Januari 2010
06:09:39 Diperbarui: 26 Juni 2015 18:25:28 Dibaca : 13,957 Komentar : 11 Nilai : 0 Undang
- Undang Dasar 1945 adalah Landasan konstitusional Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Para pendiri negeri ini telah merumuskannya, sejak Bangsa Indonesia Merdeka dari jajahan
para kolonialisme. UUD 1945 adalah sebagai hukum dasar tertinggi dalam penyelenggaraan
kehidupan berbangsa dan bernegara. UUD 1945 telah di amandemen empat kali pada tahun
1999, 2000, 2001, dan 2002 yang telah menghasilkan rumusan Undang - Undang Dasar yang
jauh lebih kokoh menjamin hak konstitusional warga negara. Gepeng , anak jalanan,
pemerintah, dan UUD 1945 Pasal 34 ayat 1 saling berhubungan, lihat UUD 1945 Pasal 34
Ayat 1 yang berbunyi Fakir Miskin dan anak - anak yang terlantar dipelihara oleh negara.
UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1 tersebut mempunyai makna bahwa gepeng dan anak - anak
jalanandipelihara atau diberdayakan oleh negara yang dilaksanakan oleh pemerintah. Fakir
ialah orang yang tidak berdaya karena ridak mempunyai pekerjaan apalagi penghasilan, dan
juga mereka tidak mempunyai sanak saudara di bumi ini. Miskin ialah orang yang sudah
memiliki penghasilan tapi tidak mencukupi pengeluaran kebutuhan mereka, tapi mereka
masih mempunyai keluarga yang sekiranya masih mampu membantu mereka yang miskin.
Jadi Fakir miskin dapat dikatakan orang yang harus kita bantu kehidupannya dan
pemerintahlah yang seharusnya lebih peka akan keberadaan mereka. Fakir miskin disini dapat
digambarkan melalui gepeng-gelandangan dan pengemis. Masih banyak kita melihat di
perkotaan dan di daerah para gepeng yang mengemis di jalanan, pusat keramaian, lampu
merah, rumah ibadah, sekolah maupun kampus. Anak - anak terlantar seperti anak - anak
jalanan, anak yang ditinggali orang tuanya karena kemiskinan yang melandanya. Ironis
memang, masih banyak gepeng dan anak jalanan yang berada di jalan dan meningkat setiap
tahunnya, bahkan mereka menjadi bisnis baru dari pihak - pihak yang tidak bertanggung
jawab. Hal ini harusnya menjadi tamparan bagi pemerintah yang mengempanyekan menekan
angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin, dan tidak sesuai
dengan yang diamanatkan oleh UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1 yaitu Fakir Miskin dan anak -
anak terlantar dipelihara oleh negara. Dimana peran pemerintah untuk menjalankan pasal
tersebut, dan sudah jelas di pembukaan UUD 1945 yaitu Pemerintah Negara Indonesia yang
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk
memajukan mensejahterakan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia, hal ini seharusnya dilaksanakan oleh pemerintah bukan
hanya sebagai kiasan saja. Berbanding terbalik dengan amanat UUD 1945, saya melihat di
berbagai media bahwa penertiban gepeng dan anak jalanan tidak berlandaskan nilai
kemanusiaan, mereka di paksa bahkan sampai mereka berasa sakit ketika digiring oleh
petugas ke mobil penertiban, seperti nangkap ayam, lalu mereka dibawa di tempat rehabilitasi
sosial untuk di data dan setelah itu dilepaskan kembali dan lagi - lagi menghiasi jalanan,
perempatan lampu merah, bus, tempat ibadah dan tempat keramaian lainnya. Sedikit sekali
dari mereka-gepeng dan anak jalanan yang diberdayakan atau disekolahkan. Walaupun
pemprov DKI Jakarta mengeluarkan undang - undang tentang pelarangan pemberian uang
dan apapun dengan tujuan menekan angka gepeng dan anak jalanan, tapi tetap saja tidak
efektif. Siklus itu tetap berjalan walaupun tanpa hasil yang nyata untuk memelihara atau
memberdayakan dan mengurangi jumlah gepeng dan anak jalanan. Gepeng dan Anak Jalanan
juga merupakan manusia yang kurang beruntung. Akibat pemerintah tidak menjalankan
amanat UUD 1945 dengan sungguh - sungguh, banyak sekali dari gepeng dan anak jalanan
yang menjadi korban kejahatan, lihat saja kasus mutilasi anak jalanan di daerah pulogadung,
tragis memang tapi itulah yang terjadi , selain itu gepeng dan anak jalanan juga dimanfaatkan
oleh pihak - pihak yang tidak bertanggung jawab, demi kepentingan pihak tersebut dengan
membisniskan mereka untuk meningkatkan kesejahteraan pihak tersebut dan pelecehan
seksual, acapkali terjadi terhadap gepeng dan anak jalanan. Andai saja pemerintah mau
memperhatikan dan memberdayakan secara sungguh - sungguh mungkin hal yang buruk itu
tidak terjadi bahkan angka kemiskinan akan berkurang. Gepeng dan anak Jalanan tidak akan
bertambah bahkan tidak akan ada jikalau di daerah perdesaan atau tempat mereka berasal
memiliki lapangan pekerjaan dan tidak tersentralisasinya pembangunan di perkotaan saja.
Semoga tulisan ini menjadi alat pacu pemerintah dan kita semua untuk menjalankan amanat
UUD 1945.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/niko_ramandhana/gepeng-anak-jalanan-
pemerintah-dan-uud-1945-pasal-34-ayat-1_54ff5aa6a333114e4a50ffa1