Anda di halaman 1dari 10

3.

1`PROSEDUR MENILAI ATB


Pengertian

Berdasarkan SPI 2007, aset tak berwujud adalah aset yang mewujudkan dirinya melalui
properti-properti ekonomis dimana aset ini tidak mempunyai substansi fisik.

Jenis-Jenis Aset Tak Berwujud

Aset tak berwujud dikategorikan sebagai berikut:

1. Marketing-related intangible asset, contoh: trademark, tradename, brand, logo

2. Technology-related intangible asset, contoh: hak paten proses, hak paten aplikasi,
dokumentasi teknis: catatan laboratorium, teknis know-how

3. Artistic-related intangible asset, contoh: literatur, copyright, komposisi musik, peta,


engraving

4. Customer-related intangible asset, contoh: daftar pelanggan, kontrak pelanggan,


hubungan pelanggan, open order pembelian

5. Contract-related intangible asset, contoh: kontrak pelanggan favorit, perjanjian


lisensi, perjanjian franchise,perjanjian bukan kompetisi

Pendekatan Penilaian Aset tak berwujud

1. Pendekatan Perbandingan Data Pasar

Nilai aset merupakan nilai aset yang sebanding di pasar.

Multiple

Multiple adalah multiple yang diperoleh dari pembagian harga transaksi dari aset
dengan parameter keuangan, seperti misalnya turnover atau profit historikal atau
proyeksi pada level tertentu. Beberapa multiple yang digunakan antara lain:

- turnover yang dihasilkan dari aset tak berwujud

- profit setelah diurang biaya-biaya seperti biaya marketing

- EBIT atau EBITDA

2. Pendekatan Kapitalisasi Pendapatan

Diperlukan proyeksi untuk data keuangan sebagai berikut:


- turnover
- laba kotor, laba operasi dan laba bersih
- laba sebelum dan sesudah pajak
- arus kas sebelum atau sesudah bunga bank dan/atau pajak
- sisa masa manfaat

1
Dalam pendekatan ini terdapat 3 metode yaitu:
- Relief from royalty method
- Premium profit method
- Excess earning method
Setiap metode di atas menggunakan Discounted Cash Flow (DCF) Method
a. Relief from Royalty Method
Metode ini menentukan nilai aset tak berwujud dengan mengkapitalisasi nilai aktiva tak
berwujud dengan megkapitalisasi penghematan nilai yang diperoleh dari pembayaran
royalti hipotetis dengan cara memiliki atau menyewa. Metode ini dengan gagasan entitas
induk sebagai pemilik merek, meminjamkan merek kepada entitas anak. Jumlah yang
dibayarkan entitas anak kepada entitas induk dinyatakan sebagai tarif royalti.
Selanjutnya nilai pendapatan royalti bayangan masa depan didiskon dengan discount
rate yang mempertimbangkan ukuran, pasar internasional, reputasi dan brand rating-nya.
Discount rate dihitung dengan pendekatan Weighted Cost of Capital yang
memperhitungkan biaya utang, biaya saham dan rasio utang dibanding saham.
Langkah terakhir adalah men-net present value-kan semua aliran keuntungan masa
depan menjadi masa kini dengan memakai pendekatan Discounted Cash Flow. Hasil akhir
inilah yang menjadi nilai.
b. Premium Profits Method
Metode ini membandingkan proyeksi aliran pendapatan atau arus kas pada suatu
bisnis yang menggunakan aset tak berwujud dengan bisnis yang tidak menggunakan
aset tak berwujud. Kemudian aliran pendapatan atau arus kas tersebut dikapitalisasikan
dengan tingkat diskonto atau tingkat kapitalisasi yang sesuai dan layak.
Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
· Proyeksi aliran pendapatan atau arus kas mendatang yang diharapkan dari suatu bisnis
yang menggunakan aset tak berwujud
· Proyeksi aliran pendapatan atau arus kas mendatang yang diharapkan dari suatu bisnis
yang tidak menggunakan aset tak berwujud
· Tingkat kapitalisasi atau tingkat diskon yang sesuai untuk mengkapitalisasi aliran
pendapatan atau arus kas mendatang
c. Excess Earning Method
Metode ini menentukan nilai aktiva tak berwujud sebagai nilai kini dari arus kas yang
dihasilkan oleh aktiva tak berwujud tersebut setelah dikurangi arus kas yang dihasilkan
oleh aktiva lainnya.
Arus kas yang tidak terkait dengan aktiva tak berwujud karena adanya kontribusi
aktva lain disebut Contributory Asset Charges (CAC), dan arus kas tersebut wajib
dikurangkan termasuk goodwill.
Identifikasi CAC mempunyai langkah-langkah:
· Mengidentifikasi kontribusi tiap aset terhadap arus kas
· Mengukur nilai dan imbal balik wajar tiap aset
· CAC dapat dibebankan langsung, misalnya dengan tarif royalti wajar

2
Dalam penerapan metode ini hal-hal yang perlu diperhatikan:
· Proyeksi arus kas yang merupakan arus kas dari aktiva tak berwujud
· CAC dari seluruh aktiva lainnya termasuk aktiva tak berwujud lainnya
· Tingkat diskon atau tingkat kapitalisasi

3. Pendekatan Biaya
Pendekatan biaya atau lebih dikenal sebagai Pendekatan Biaya Pengganti Terdepresiasi
menentukan nilai aset tak berwujud dengan menghitung biaya penggantian dengan aktiva
yang sebanding atau identik kapasitas layanannya.
Pendekatan biaya tidak dapat digunakan untuk:
· Menilai aktiva tak berwujud yang tidak sebanding dengan potensi layanan
· Menilai proyek pengembangan aktiva tak berwujud yang berlansung bertahun-tahun
Pendekatan biaya ini hanya dapat digunakan sebagai satu-satunya pendekatan dengan
syarat:
· Aktiva tak berwujud memiliki pendapatan yang secara langsung menghasilkan arus
kas
· Nilai pasar aktiva tak berwujud yang layak tidak tersedia
· Transaksi aktiva tak berwujud tidak cukup memadai untuk perbandingan pasar
Langkah-langkah dalam penerapan pendekatan ini:
· Menentukan biaya reproduksi baru (reproduction cost new) dan biaya pengganti
baru (replacement cost new)
· Menghitung jumlah keusangan sesuai sisa umur manfaat
· Mengurangi estimasi biaya dengan jumlah keusangan
Bentuk keusangan antara lain adalah:
- keusangan fungsional (functional obsolescence)
- keusangan teknologi (technological obsolescence)
- keusangan ekonomis (economic obsolescence)

AMORTISASI ATB
Metode dan Pencatatan Amortisasi Aset Tak Berwujud

Di dalam ilmu akuntansi, kita mengenal suatu penurunan nilai atau penyusutan dari sebuah
aset yang mempunyai umur ekonomis lebih dari satu tahun. Aset yang mempunyai umur
ekonomis yang lebih dari satu tahun tersebut adalah Aset Tetap dan Aset Tidak Berwujud.
Aset Tetap misalnya tanah, gedung atau bangunan, mesin produksi, kendaraan operasional
dan yang lainnya. Sedangkan contoh dari Aset Tak Berwujud adalah hak paten, merk dagang,
goodwill dan yang lainnya. Semua Aset tersebut memiliki umur ekonomis dan mengalami
penurunan nilai tiap saat. Penurunan nilai ini di dalam akuntansi dikenal sebagai penyusutan
untuk Aset Tetap dan amortisasi untuk Aktiva Tidak Berwujud.

Pengertian Amortisasi adalah suatu penurunan atau pengurangan nilai suatu Aktiva tidak
berwujud secara bertahap dalam rentang jangka waktu tertentu disetiap periode akuntansi.
Pengurangan nilai aktiva tak berwujud ini dilakukan dengan cara mendebit akun beban
amortisasi dan mengkredit akun aktiva tak berwujud.

3
Secara umum metode yang digunakan dalam amortisasi aset tidak berwujud menurut
akuntansi ada dua jenis, yaitu metode garis lurus dan metode saldo menurun. Jika mengacu
pada Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2000 tentang Perubahan Ketiga
Atas Undang – Undang Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, metode dan
penilaian amortisasi aset tak berwujud dikelompokan menurut masa manfaatnya.

Kelompok Harta Tidak Tarif Amortisasi


Masa Manfaat
Berwujud Garis Lurus Saldo Menurun
Kelompok 1 4 Tahun 25% 50%
Kelompok 2 8 Tahun 12.5% 25%

Kelompok 3 16 Tahun 6.25% 12.5%

Kelompok 4 20 Tahun 5% 10%

1.Metode garis lurus

Metode penyusutan garis lurus merupakan suatu metode pengalokasian pembebanan biaya,
dimana jumlah biaya yang dialokasikan setiap tahunnya adalah sama. Dengan kata lain, untuk
metode garis lurus, nilai biaya penyusutannya konstan untuk setiap tahunnya, dari tahun
perolehan sampai dengan tahun akhir masa manfaatnya. Sebagai contoh, perusahaan anda
membeli lisensi IKEA untuk produksi furnitur rumah tangga dengan masa manfaat selama 4
tahun sebesar Rp 100.000.000,-. Maka perhitungan amortisasi pertahunnya adalah sebagai
berikut

Beban amortisasi tahunan:


¼ x Rp 100.000.000,- = Rp 25.000.000,-

Dari perhitungan di atas, maka setiap tahun perusahaan anda harus melakukan amortisasi
lisensi IKEA sebesar Rp 25.000.000,-. Sehingga perhitungan akuntansinya ketika tutup buku
akhir tahun adalah sebagai berikut

Beban Amortisasi Rp 25.000.000,-


Aset tak Berwujud Rp 25.000.000,-

2.Metode saldo menurun

Sedangkan metode penyusutan saldo menurun, merupakan suatu metode pengalokasian


pembebanan biaya, dimana jumlah biaya yang dialokasikan semakin menurun tiap tahunnya
seiring bertambahnya masa manfaatnya, dan pada tahun dimana merupakan akhir masa
manfaatnya, dilakukan penyusutan sekaligus atas nilai sisa buku yang ada. Dalam metode
saldo menurun, pada tahun perolehan, biaya penyusutan akan lebih besar, dan untuk tahun
berikutnya biaya penyusutan akan semakin kecil. Jika mengikuti contoh kasus di atas, maka
perhitungan amortisasinya adalah sebagai berikut

4
a.Amortisasi lisensi IKEA tahun pertama
50% x Rp 100.000.000 = Rp 50.000.000,-

b.Amortisasi lisensi IKEA tahun ke-2


50% x (Rp 100.000.000 – Rp 50.000.000) = Rp 25.000.000,-

c.Amortisasi lisensi IKEA tahun ke-3


50% x (Rp 50.000.000 – Rp 25.000.000) = Rp 12.500.000,-

d.Amortisasi lisensi IKEA tahun ke-4


Tahun keempat adalah akhir masa manfaat lisensi. Maka pada pembukuannya adalah dengan
cara mendebet sisa nilai ke dalam akun beban amortisasi dan mengkreditkan akun aset tak
berwujud atau akun lisensi. Dari perhitungan di atas, maka sisa nilai lisensi yang harus
bukukan adalah sebesar Rp 12.500.000,-

3.2 ATB YANG DAPAT DIIDENTIFIKASI SECARA KHUSUS


a. Hak Paten
Hak paten adalah hak istimewa yang dikeluarkan oleh pemerintah yang memberikan
kewenangan kepada pemegang hak untuk memproduksi, menjual dan mengawasi
penemuannya dalam jangka waktu tertentu sejak hal tersebut diberikan. Suatu hak paten
biasanya tidak dapat diperbaharui, jangka waktunya bisa diperpanjang dengan memberikan
hak paten yang baru, apabila terdapat perbaikan atau perubahan pada rancangan dasar
penemuan yang lama.
Harga perolehan suatu aktiva-aktiva tak berujud adalah kas (atau ekulivalensinya) yang
dibayarkan untuk mendapatkan hak paten. Hak paten seolah-olah diberi oleh pemerintah.
Dengan adanya hak ini, pemegang hak paten menjadi terlindung dari kemungkinan adanya
pelanggaran oleh pesaing. Perlindungan dari pesaing sangat berguna bagi perusahaan dalam
mengamankan upaya memperoleh laba melalui penjualan barang atau jasa. Itulah sebabnya
perusahaan yang berhasil menemukan suatu produk baru, tidak segan-segan untuk
mengeluarkan sejumlah uang demi memperoleh hak paten dari pemerintah, agar pohak lain
(pesaing) tidak dibenarkan untuk memproduksi danmenjual temuan baru tersebut.
Pengeluaran untu memperoleh hak paten dicatat dalam rekening Hak Paten (atau sering
disingkat Paten) dan diamortisasi selama masa tertentu.
Harga perolehan hak paten harus diamortisasi selama masa berlaku hak tersebut atau
selama masa manfaatnya, tergantung mana yang lebih pendek. Dalam menentukan masa
manfaat, perusahaan harus mempertimbangkan kapan penemuan diperkirakan akan mulai
ketinggalan jaman, atau tidak memadai lagi dan faktor-faktor lainnya yang menyebabkan hak
paten menjadi tidak ekonomis lagi sebelum akhir masa berlaku hak tersebut. Untuk
memberikan gambaran mengenai perhitungan biaya paten, misalnya PT Erwin Megah
membeli hak paten dengan harga perolehan Rp. 60.000.000,00. Masa manfaat hak tersebut
diperkirakan 8 tahun. Dengan demikian amortisasi per tahun adalah Rp. 7.500.000,0 (Rp.
60.000.000,0 : 8). Jurnal untuk mencatat amortisasi tahunan adalah sebagai berikut.

Des 31 Biaya Paten …………………………….. Rp. 7.500.000


Hak Paten ………………………… Rp. 7.500.000
( untuk mencatat amortisasi hak paten )
Biaya paten dikelompokan dalam laporan rugi-laba sebagai biaya operasi.

5
b. Hak Cipta
Hak cipta adalah hak yang diberikan oleh pemerintah, yang memberikan hak istimewa
kepada pemegang hak tersebut untuk memproduksi dan menjual suatu karya seni atau karya
tulis. Harga perolehan suatu hak cipta terdiri dari pengeluaran untuk mendapatkan dan
mempertahankan hak tersebut.
Maka manfaat suatu hak cipta biasanya lebih pendek daripada masa berlakunya.
Mengingat sulitnya penentuan masa manfaat suatu hak cipta, maka hak cipta biasanya
diamortisasi dalam periode waktu yang relatif pendek.
c. Merek Dagang atau Nama Dagang
Merek dagang atau nama dagang adalah kata, rangkain kata, logo, atau simbol yang
membedakan atau memberi identitas suatu perusahaan tertentu atau produk tertentu. Apabila
kita mendengar nama dagang seperti Lux, Pepsodent, Indomie, atau Coca Cola, dengan cepat
terbayang dalam pikiran kita produk apa yang dimaksud dan tidak akan salah mengartikannya
pada produk lain. Nama dagang mempunyai manfaat yang sangat besar bagi perusahaan dan
sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pemasarannya. Penemu atau pemakai pertama
dapat memperoleh hak istimewa untuk menggunakan merek dagang atau nama dagang atau
mendaftarkannya pada pemerintah.
Apabila merek dagang atau nama dagang dibeli, maka harga perolehan hak tersebut adalah
harga belinya.Apabila dikembangkan sendiri oleh perusahaan, maka hara perolehan meliputi
biaya hukum, biaya pendaftaran, biaya perancangan dan pengeluaran-pengeluaran lain yang
langsung berhubungan dengan perolehan hak tersebut.
Seperti halnya aktiva tak berujud lainnya, hak merek harus diamortasikan selama masa
manfaat atau masa berlakunya, tergantung mana yang yang lebih pendek. Mengingat sulitnya
penentuanmasa manfaat suatu hak merek, biasanya dtetapkan jangka waktu yang relatif
pendek.
d. Franchise (Waralaba) dan License (Perijinan)
Bila Kita makan di Kentucky Fried Chicken, California Fried Chicken, Mac Donald, atau
Pizza Huts, maka disitu kita menemukan franchise. Franchise adalah Adalah hak yang
diperoleh untuk melakukan suatu usaha tertentu, atau memasarkan produknya, sekaligus
mengikuti pola usaha, cara pengelolaan, penggunaan logo maupun penggunaan alat usaha
tertentu yang aslinya dimiliki oleh perusahaan yang memberikan hak franchise.
Periijinan adalah hak perusahaan yang diperoleh dari pihak pemerintah baik daerah
maupun pusat untuk melakukan suatu aktivitas tertentu terkait dengan bidang usahanya. Ijin-
ijin perusahaan tentu ada jangka waktunya, dan jika masa berlakunya telah habis maka ijin
tersebut harus diperpanjang atau diperbaharui. Namun demikian ijin usaha atau aktivitas
tertentu atas terkait dengan usaha biasanya memiliki jangka waktu 3 sampai 30 tahun, yang
artinya lebih dari satu tahun buku. Untuk itu Ijin diakui sebagai aktiva tetap tak berwujud.
Franchise dan lisensi bisa diberikan untuk waktu terbatas, atau terbatas dengan
kemungkinan perpanjangan waktu, atau tidak terbatas. Harga perolehan suatu hak franchise
dan lisensi adalah semua pengeluaran yang diperlukan untuk mendapatkan hak tersebut. Bila
jangka waktunya terbatas, maka harga perolehan suatu hak franchise dan lisensi adalah
semua pengeluaran yang diperlukan untuk mendapatkan hak tersebut. Bila jangka waktunya
terbatas, maka harga perolehan franchise (atau lisensi) harus diamortasi sebagai biaya operasi
selama jangka waktu ijin pengeoprasianhak tersebut. Namun apabila jangka waktunya tidak
terbatas, maka amortisasi dilakuakn selama jangka waktu ijin pengoprasian hak tersebut.
Namun apabila jangka waktunya tidak terbatas, maka amortisasi dilakukan selama jangka
waktu yang ditentukan dengan taksiran yang wajar. Jika dalam jangka perjanjian franchise
tesebut pihak pemegang hak diwajibkan membayar secara tahunan, maka pembayaran
tersebut diperlakukan sebagai biaya operasi pada periode dilakukan pembayaran.

6
e. Lease hold (Hak sewa)
Adalah hak yang diperoleh atas suatu sewa aktiva tertentu (sewa tempat usaha, sewa
gedung, sewa mesin) yang biasanya menggunakan kurun waktu tertentu, disahkan oleh
pejabat pembuat akte (notaris). Hak sewa dinyatakan sebagai aktiva tetap (tak berwujud)
karena dua alasan :
Hak sewa memberikan kontribusi nyata bagi perusahaan, atau dengan kata lain, atas
sumber daya (dana) yang dikeluarkan diharapkan hak sewa akan memberikan manfaat
kembali (berpotensi menghasilkan kas atau manfaat) di masa yang akan datang.
Manfaat yang akan diterima oleh perusahaan atas kepemilikan hak sewa, akan
dinikmati oleh perusahaan untuk periode waktu lebih dari satu tahun buku.
f. Hak Penggandaan (Copyright)
Copyright adalah hak yang berikan atas suatu penulisan, baik itu berupa karya ilmiah,
puisi, novel, maupun lyric lagu, notasi lagu/irama tertentu, script atau scenario film tertentu.
Copyright meliputi hak untuk memperbanyak dan mengedarkannya.
g. Biaya Organisasi
Biaya yang timbul dalam bentukan suatu organisasi perusahaan tersebut biaya
organisasi. Biaya tersebut meliputi pengeluaran untuk biaya jasa yang dibayarkan kepada
underwriters untuk pengurusan saham dan obligasi, biaya pengurusan ijin dan akte pendirian
dan biaya promosi untuk pengenalan kepada organisasi kepada masyarakat. Biaya-biaya
tersebut dikapitalisasi sebagau aktiva tak berujud dengan nama Biaya Organisasi. Sebenarnya
biaya organisasi akan bermanfaat selama hidup perusahaan, tetapi dalam praktik perusahaan
menetapkan masa manfaat dengan taksiran tertentu yang dianggap wajar. Seperti halnya
aktiva tak berujud lainnya, biaya organisasi juga diamortisasi selama jangka waktu tertentu.
h. Goodwill
Aktiva tak berujud terbesar yang biasanya nampak dalam neraca perusahaan adalah
goodwill. Goodwill adalah segala atribut yang memberi nilai atau citra yang menguntungkan
yang melekat pada suatu perusahaan. Dalam hal ini termasuk diantaranya: manajemen yang
istimewa, lokasi yang strategis, hubungan baik dengan para konsumen, karyawan yang
terlatih, produk dengankualitas tinggi, hubungan yang harmonis dengan para karyawan. Hal-
hal yang positif seperti ini apabila dimiliki perusahaan, akan menaikkan nilai perusahaan.
Semakin banyak hal positif yang dimiliki perusahaan, maka akan bertambah semakin tangguh
pula perusahaan itu. Oleh karena itu ada yang berpendapat bahwa goodwill mencerminkan
keuntungan yang diharapkan diatas keuntungan normal. Oleh karena itu goodwill merupakan
suatu aktiva tak berujud yang berbeda dari aktiva tak berujud lainnya. Goodwill tidak bisa
dijual tanpa mengalihkan atau menjual perusahaannya, karena goodwill hanya dapat
diindetifikasi dengan perusahaan sebagai keseluruhan.
Persoalan yang timbul apabila goodwill hanya dapat diindetifikasi dengan perusahaan
secara keseluruhan adalah bagaimana menentukan besarnya goodwill tersebut. Berbagai
faktor seperti disebutkan di atas (manajemen yang istimewa, lokasi yang strategis dan
sebagainya) banyak ditemukan pada berbagai perusahaan, tetapi menentukan besarnya
goodwill sangat sulit dan sangat subyektif. Hal ini mudah dimengerti, karena penentuan
goodwill tanpa melalui transaksi pertukaran akan menyebabkan penilain menjadi subyektif
dan laporan keuangan menjadi kurang dapat dipercaya. Oleh karena itu, goodwill akan hanya
dicatat apabila timbul dari transaksi pertukaran yang meliputi pembelian perusahaan secara
keseluruhan.

7
Penentuan Harga Pasar Aktiva yang Diperoleh

PERUSAHAAN DAGANG BORNEO MAKMUR


Neraca
31 Desember 2010

Kas Rp 2.000.000 Utang Wesel Rp 9.500.000


Piutang dagang ( neto ) 6.400.000 Utang Dagang 1.500.000
Persediaan 5.600.000 Modal, Bambang 32.500.000
Aktiva tetap ( neto ) 29.000.000
Rp 43.000.000 Rp 43.000.000
Penentuan harga secara keseluruhan dibeli, maka goodwill adalah kelebihan harga perolehan
di atas harga pasar aktiva bersih (aktiva dikurangi utang) yang diperoleh. Dalam menentukan
besarnya goodwill, harga beli (harga perolehan) pertama-tama dibandingkan dengan harga
pasar aktiva dan utang yang diperoleh. Kelebihan harga beli di atas harga pasar aktiva bersih
itulah yang disebut goodwill. Sebagai contoh, pada tanggal 31 Desember 2009, Usaha
Dagang Graha Cipta Lestari memutuskan untuk membeli perusahaan dagang Borneo
Makmur (sebuah perusahaan perseorangan) dengan harga Rp. 61.000.000,00. Pengkajian atas
neraca perusahaan Borneo Makmur menunjukkan hal-hal berikut:
Aktiva bersih perusahaan dagang Borneo Makmur adalah RP. 32.000.000,00 seperti terlihat
pada saldo rekening modal, atau dapat pula dihitung sebagai berikut:
Total Aktiva Rp. 43.000.000,00
Total Kewajiban 11.000.000,00
Aktiva bersih ( menurut nilai historis ) Rp. 32.000.000,00

Apabila perusahaan bersedia untuk membayar Rp. 61.000.000,00 maka jumlah goodwill
akan dapat ditentukan dengan mudah. Namun kita harus berhati-hati, sebab aktiva dan utang
perusahaan dagang Boneo Makmur dalam neraca di atas dilaporkan berdasarkan nilai buku,
bukan harga pasar. Oleh karena itu, kita harus menentukan harga pasar aktiva bersih
perusahaan dagang Borneo Makmur di atas.
Harga pasar aktiva bersih perusahaan dagang Borneo Makmur adalah Rp. 52.500,00 dengan
perhitungan sebagai berikut:
Aktiva
Kas ……………………………………………………Rp 2.000.000
Piutang dagang ( neto ) ……………………………… 6.400.000
Persediaan ……………………………………………….. 8.100.000
Aktiva tetap ( neto ) ………………………………….. 47.000.000
Jumlah aktiva ……………… Rp. 63.500.000
Kewajiban
Utang wesel ……………………………………… Rp. 9.500.000
Utang dagang ………………………………………….. 1.500.000
………………………………………… Rp. 11.000.000
Aktiva bersih ( berdasar nilai pasar ) Rp. 52.000.000

Dari perhitungan sebagai berikut terlihat adanya berbedaan yang cukup besar antara harga
perolehan dengan harga pasar untuk persediaan dan aktiva tetap. Persediaan menurun harga
perolehannya adalah Rp. 5.600.000,00, sedang menurut harga pasarnya Rp. 8.100.000,00.
Aktiva tetap berdasar harga perolehannya adalah Rp. 29.000.000,00, tetapi menurut harga
pasarnya adalah Rp. 47.000.000,00.

8
Adanya berbedaan antara harga perolehan dengan harga pasar seperti terlihat pada contoh ini
tidak mengherankan. Dalam hal persediaan, selain karena harga sudah naik, salah satu
penyebabnya mungkin karena perusahaan Borneo Makmur menggunakan metoda persediaan
LIFO. Apabila harga naik dan perusahaan berkembang, maka harga perolehan persediaan
yang akan dilaporkan dalam neraca adalah meliputi barang yang dibeli lebih awal dengan
harga yang lebih rendah. Selain itu, seperti telah dijelaskan di atas, depresiasi aktiva tetap
tidak lain adalah proses alokasi harga perolehan. Oleh karena itu nilai buku aktiva tetap bisa
berbeda cukup besar dengan harga pasarnya.
Perhitungan Goodwill
Goodwill dihitung sebagai selisih antara harga beli dengan harga pasar aktiva bersih yang
diperoleh. Dengan demikian goodwill pada contoh di atas akan menjadi Rp. 8.500.000,00
dengan perhitungan sebagai berikut:
Harga beli ( harga perolehan ) ……………………Rp. 61.000.000,00
Kurangi : Harga pasar aktiva bersih … …………. 52.000.000,00
Goodwill ………………………………………… Rp. 8.500.000,00

Pencatatan transaksi pembelian perusahaan dilakukan dengan mencatat aktiva bersih sebesar
nilai pasarnya, goodwill sebesar harga perolehannya dan kas dikredit sebesar harga belinya.
Selanjutnya goodwill dihapus selama jangka waktu tertentu yang ditaksir secara wajar.
Amortisasi goodwill dicatat dengan mendebet Biaya Amortisasi Goodwill dan mengkredit
rekening Goodwill. Dalam neraca, goodwill dilaporkan sebagai aktiva tak berwujud.

3.3 BIAYA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


Dijelaskan pada PSAK 19 Revisi 2009 termasuk dalam Kieso et al (2011: 635-637) termasuk
dalam, bahwa biaya penelitian dan pengembangan dengan sendirinya bukan sebagai aset tidak
berwujud, sehingga semua biaya penelitian dan pengembangan harus dibebankan ke beban
pada saat terjadinya. Selain itu juga dijalaskan dalam PSAK 19 Revisi 2009, bahwa tahap
Pengembangan dapat dikapitalisasi sebagai aset tidak berwujud sebesar biaya perolehan jika
kriteria pengakuan terpenuhi dan aset baru hasil pengembangan siap digunakan.
Akuntansi untuk aktivitas penelitian dan pengembangan:
Kieso et al (2011: 637) menjelaskan perlakuan akuntansi terhadap biaya adalah
sebagai berikut:
1. Bahan, peralatan dan fasilitas: keseluruhan dicatat sebagai beban, kecuali jika pos memiliki
manfaat di masa depan (dalam proyek pengembangan lain) dapat dicatat sebagai persediaan
dan dikapitalisasi atau disusutkan ketika digunakan.
2. Personil (gaji, upah dan biaya terkait personil) dibebankan ketika terjadi.
3. Aset tidak berwujud yang dibeli: keseluruhan dicatat sebagai beban, kecuali jika pos
memiliki manfaat di masa depan (dalam proyek pengembangan lain) dapat dicatat sebagai
persediaan dan dikapitalisasi atau disusutkan ketika digunakan.
4. Jasa kontrak: dibebankan ketika terjadi
5. Biaya tidak langsung: dibebankan ketika terjadi.

Biaya lain yang serupa dengan biaya penelitian dan pengembangan:


Kieso et al (2011: 638-640) menjelaskan perlakuan akuntansi terhadap biaya adalah
sebagai berikut:

9
1. Biaya Start-Up: biaya dikeluarkan sekali untuk memulai operasi baru dan dibebankan ketika
terjadi.
2. Kerugian operasi awal: dibebankan ketika terjadi
3. Biaya iklan: dibebankan ketika terjadi atau dibebankan ketika pertama kali iklan dimuat.
4. Biaya perangkat lunak komputer: Secara umum biaya untuk pengembangan situs web tidak
dapat diakui sebagai aset tidak berwujud.
Biaya perangkat lunak secara rinci diatu dalam ISAK 14, namun pada prinsip umum
ISAK 14 dipaparkan bahwa biaya untuk pengembangan web site dapat diakui sebagai aset
tidak berwujud apabila memenuhi persyaratan pengakuan pengembangan yang disyaratkan
PSAK 19 (revisi 2009) mengenai aset tidak berwujud terutama mengenai kemampuan
menghasilkan manfaat ekonomi di masa depan

3.1 PENYAJIAN ASET TIDAK BERWUJUD


Kieso et al (2011: 640-642) memaparkan terkait penyajian aset tidak berwujud dan pos lain
yang berhubungan:
a. Laporan Posisi Keuangan: semua aset tidak berwujud selain goodwill dilaporkan secara
terpisah, dan goodwill harus diungkapkan sebagai pos terpisah. Hal ini karena goodwill dan
aset tidak berwujud lainnya sangat berbeda dengan jenis aset lain.
b. Laporan Laba Rugi: pelaporan atas beban amortisasi dan kerugian penurunan nilai aset tidak
berwujud sebagai bagian dari operasi berjalan. Kerugian penurunan goodwill dilaporkan
terpisah, kecuali jika operasi sudah tidak berjalan.
c. Catatan pada laporan keuangan: harus meliputi informasi mengenai aset tidak berwujud
yang diakuisisi, beban amortisasi keseluruhan, perubahan jumlah catatan goodwill selama
periode berjalan.

10