Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Telinga mempunyai reseptor khusus untuk mengenali getaran bunyi
dan untuk keseimbangan. Ada tiga bagian utama dari telinga manusia, yaitu
bagian telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Telinga luar berfungsi
menangkap getaran bunyi, dan telinga tengah meneruskan getaran dari telinga
luar ke telinga dalam. Reseptor yang ada pada telinga dalam akan menerima
rarigsang bunyi dan mengirimkannya berupa impuls ke otak untuk diolah.
Telinga mempunyai reseptor khusus untuk mengenali getaran bunyi dan untuk
keseimbangan. Ada tiga bagian utama dari telinga manusia, yaitu bagian
telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Telinga luar berfungsi
menangkap getaran bunyi, dan telinga tengah meneruskan getaran dari telinga
luar ke telinga dalam. Reseptor yang ada pada telinga dalam akan menerima
rarigsang bunyi dan mengirimkannya berupa impuls ke otak untuk diolah.
Trauma telinga adalah kompleks, sebagai agen berbahaya yang
berbeda dapat mempengaruhi berbagai bagian telinga. Para agen penyebab
trauma telinga termasuk faktor mekanik dan termal, cedera kimia, dan
perubahan tekanan. Tergantung pada jenis trauma, baik eksternal, tengah, dan
/ atau telinga bagian dalam bisa terluka.
Hidung berdarah (Kedokteran: epistaksis atau Inggris: epistaxis) atau
mimisan adalah satu keadaan pendarahan dari hidung yang keluar melalui
lubang hidung. Sering ditemukan sehari-hari, hampir sebagian besar dapat
berhenti sendiri. Harus diingat epitaksis bukan merupakan suatu penyakit
tetapi merupakan gejala dari suatu kelainan.
Ada dua tipe pendarahan pada hidung:
1. Tipe anterior (bagian depan). Merupakan tipe yang biasa terjadi.
2. Tipe posterior (bagian belakang).

1
3. Dalam kasus tertentu, darah dapat berasal dari sinus dan mata.
Selain itu pendarahan yang terjadi dapat masuk ke saluran
pencernaan dan dapat mengakibatkan muntah.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Pengertian trauma telinga, hidung, tenggorokan
2. Etiologi trauma telinga, hidung, tenggorokan
3. Patofisiologi trauma telinga, hidung, tenggorokan
4. Klasifikasi trauma telinga, hidung, tenggorokan
5. Manifestasi klinis trauma telinga, hidung, tenggorokan
6. Komplikasi trauma telinga, hidung, tenggorokan
7. Pemeriksaan penunjang trauma telinga, hidung, tenggorokan
8. Penatalaksanaan trauma telinga, hidung, tenggorokan

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian trauma telinga, hidung, tenggorokan
2. Untuk mengetahui etiologi trauma telinga, hidung, tenggorokan
3. Untuk mengetahui patofisiologi trauma telinga, hidung, tenggorokan
4. Untuk mengetahui klasifikasi trauma telinga, hidung, tenggorokan
5. Untuk mengetahui manifestasi klinis trauma telinga, hidung, tenggorokan
6. Untuk mengetahui komplikasi trauma telinga, hidung, tenggorokan
7. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang trauma telinga, hidung,
tenggorokan
8. Untuk mengetahui penatalaksanaan trauma telinga, hidung, tenggorokan

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. DEFINISI
1. TRAUMA TELINGA
Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks
(pendengaran dan keseimbangan). Indera pendengaran berperan penting
pada partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Sangat
penting untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara, dan
kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung
pada kemampuan mendengar.
Trauma telinga adalah kompleks, sebagai agen berbahaya yang
berbeda dapat mempengaruhi berbagai bagian telinga. Para agen penyebab
trauma telinga termasuk faktor mekanik dan termal, cedera kimia, dan
perubahan tekanan. Tergantung pada jenis trauma, baik eksternal, tengah,
dan / atau telinga bagian dalam bisa terluka.
Trauma telinga adalah trauma yang dapat terjadi berbagai cidera
traumatika yang nyeri pada aurikula, meatus akustikus eksterna dan
membran timpani. (Cody, Kern, Pearson. 1991: 104)
Trauma telinga tengah adalah perforasi membran timpani yang dapat
disebabkan oleh perubahan tekanan mendadak-barotrauma, trauma
ledakan-atau karena benda asing dalam liang telinga (aplikator berujung
kapas, ujung pena, klip kertas, dll). (Adams. 1997: 95)
Trauma telinga adalah tuli yang disertai gambaran atoskopik yang
dapat disebabkan oleh berbagai jenis trauma, meliputi kompresi udara
mendadak, udara di meatus akustikus eksternus, masuknya benda asing ke
dalam telinga mserta trauma kapitis yang menyebabkan fraktura os
temporale. (Cody, Kern, Pearson. 1991: 90)

3
Trauma pada sistem pendengaran adalah trauma pada daun telinga
yang dapat terjadi pada waktu bertinju atau akibat kecelakaan.(Harold.
1992)

2. TRAUMA HIDUNG
Fraktur adalah terputusnya kontuinitas tulang yang ditentukan sesuai
jenis dan luasnya, fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar
dari yang dapat diabsorbsinya (Smelzter, 2002).
Fraktur merupakan gangguan sistem muskuluskeletal,
dimanaterjadi pemisahan atau patahnya tulang yang disebabkan oleh
trauma atau tenaga fisik. (Doenges E Marilyn, 2000).
Fraktur adalah rusaknya kontinuitas tulang yang disebabkan tekanan
eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap oleh
tulang,fraktur patologis terjadi tanpa trauma pada tulang yang lemah
karena dimineralisasi yang berlebihan ( Linda Juall C, 2002 ).
Fraktur tertutup adalah bila tidak ada hubungan patah tulang dengan
dunia luar. Fraktur terbuka adalah fragmen tulang meluas melewati otot
dan kulit, dimanapotensial untuk terjadi infeksi (Sjamsuhidajat, 1999).
Fraktur hidung adalah terhalangnya jalan pernafasan dan deformitas
pada tulang, jenis dan kerusakan yang timbul tergantung kekuatan arah
mekanismenya(Robinstein,2000).
Jadi, kesimpulan fraktur adalah suatu cedera yang mengenai tulang
yang disebabkan oleh trauma benda keras, seperti kecelakaan dan
pemukulan.
3. TRAUMA LARING (TENGGOROKAN)
Laring memiliki tiga fungsi penting yakni sebagai proteksi jalan nafas,
pengaturan pernafasan dan menghasilkan suara. Kerusakan pada laring
akibat trauma dapat sangat parah. Trauma laring ini sangat jarang
ditemukan, hanya ditemukan pada sebagian kecil dari keseluruhan
kejadian trauma. Trauma laring adalah termasuk trauma yang jarang,

4
diperkirakan kurang dari 1% total kunjungan ke Unit Gawat Darurat
(UGD) dengan kasus trauma. Hal ini menguntungkan, sebab trauma laring
dapat mengakibatkan masalah obstruksi jalan nafas yang serius dan dapat
merusak produksi suara bila tidak didiagnosis dengan benar secepatnya.
Pokok utama yang harus diperhatikan dalam trauma laring akut adalah
melindungi jalan nafas. Fungsi vokal, selain merupakan prioritas kedua
karena harus mendahulukan keselamatan, biasanya ditentukan oleh
efektifitas dari penanganan awal. Penting sekali bagi seorang
otolaringologis untuk dapat mengenali dan mendiagnosis serta mengetahui
penanganan yang tepat bagi jenis trauma yang jarang, tetapi cukup serius
ini.1,2
Trauma laring dapat berupa trauma tumpul atau trauma tajam akibat
luka sayat, luka tusuk, dan luka tembak. Trauma tumpul pada daerah leher
selain dapat menghancurkan struktur laring juga menyebabkan cidera pada
jaringan lunak seperti otot, saraf, pembuluh darah, dan struktur lainnya.
Hal ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, seperti leher terpukul
oleh tangkai pompa air, leher membentur dashboard dalam kecelakaan
waktu mobil berhenti tiba-tiba, tertendang, atau terpukul waktu olahraga
beladiri, dicekik, atau usaha bunuh diri dengan menggantung diri.1,2
Penanganan trauma umumnya bertujuan untuk menyelamatkan jiwa,
mencegah kerusakan organ yang lebih jauh, mencegah kecacatan tubuh
dan menyembuhkan. Seperti kita ketahui, dalam penanganan trauma
dikenal primary survey yang cepat dilanjutkan resusitasi kemudian
secondary survey dan akhirnya terapi definitif. Selama primary survey,
keadaan yang mengancam nyawa harus dikenali dan resusitasinya
dilakukan pada saat itu juga. Pada primary survey dikenal sistem ABCDE
(Airway, Breathing, Circulation, Disability, Exposure/Environmental
control) yang disusun berdasarkan urutan prioritas penanganan. Jadi
prioritas utama penanganan adalah menjamin jalan nafas terjaga adekuat,
oleh karena itu trauma jalan nafas adalah keadaan yang memerlukan

5
penanganan yang cepat dan efektif untuk menghindari akibat yang tidak
diinginkan.1,3
B. ETIOLOGI
1. TRAUMA TELINGA
Menurut Soepardi (2000: 30), penyebab utama dari trauma telinga antara
lain:
a. Kecelakaan lalu lintas
b. Perkelahian
c. Kecelakaan dalam bidang olahraga
d. Luka tembak
e. Kebiasaan mengorek kuping
f. Menurut Cody, Kern, Pearson (1991: 90),
g. Kompresi mendadak udara di liang telinga.
h. Adanya benda-benda asing (misal: kapas lidi atau ranting-ranting
pohon).
i. Trauma kapatis yang menyebabkan fraktur os temporale.
j. Menurut Adams (1997: 84, 95, 131), penyebabnya antara lain:
k. Kebiasaan mengorek kuping dengan jari atau suatu alat seperti jepit
rambut/klip kertas.
l. Perubahan tekanan mendadak-barotrauma, trauma ledakan- atau
karena benda asing dalam liang telinga (aplikator berujung kapas,
ujung pena, klip kertas, dll).
m. Terpapar bising/suara industri yang berintensitas tinggi dan lamanya
paparan.
2. TRAUMA HIDUNG
Menurut Sachdeva (1996), penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga,
yaitu:
a. Cedera Traumatik
Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh :

6
1) Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang
sehingga tulang patah secara spontan. Pemukulan biasanya
menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit di atasnya.
2) Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari
lokasi benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan
menyebabkan fraktur klavikula.
3) Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari
otot yang kuat.
b. Fraktur Patologik
1) Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana
dengan trauma minor dapat mengakibatkan fraktur dapat juga
terjadi pada berbagai keadaan berikut :
a) Tumor Tulang ( Jinak atau Ganas ) : pertumbuhan jaringan
baru yang tidakterkendali dan progresif.
 Infeksi seperti osteomielitis : dapat terjadi sebagai akibat
infeksi akut atau dapat timbul sebagai salah satu proses
yang progresif, lambat dan sakit nyeri.
 Rakhitis : suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh
defisiensi Vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan
skelet lain, biasanya disebabkan kegagalan absorbsi
Vitamin D atau oleh karena asupan kalsium atau fosfat
yang rendah.
c. Secara Spontan
Disesbabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada
penyakit polio dan orang yang bertugas dikemiliteran.
3. TRAUMA TENGGOROKAN
Penyebab trauma laring adalah tentament suicide pada pasien dengan
gangguan kejiwaan atau pada pasien dengan stress berat. Trauma laring
juga dapat diakibatkan oleh intubasi karena trauma langsung saat
pemasangan atau pun karena balon yang menekan mukosa terlalu lama

7
sehingga menjadi nekrosis. Trauma sekunder akibat intubasi umumnya
karena inflasi balon yang berlebihan walaupun menggunakan cuff volume
besar bertekanan rendah. Trauma yang disebabkan oleh cuff ini terjadi
pada kira-kira setengah dari pasien yang mengalami trauma saat
trakeostomi.1,2
Cidera yang disebabkan oleh bahan-bahan kaustik seringkali
didapatkan pada kelompok usia anak-anak dan biasanya akibat
kecerobohan mereka dalam menggunakan benda-benda berbahaya di
rumah sebagai alat permainan. Bila didapatkan pada usia dewasa, biasanya
ditemukan pada kasus-kasus percobaan bunuh diri dengan menelan larutan
alkali ataupun hidrokarbon.1,2
C. PATOFISIOLOGI
1. TRAUMA TELINGA
Tuli yang disertai gambaran otoskopik dapat disebabkan oleh berbagai
jenis trauma, meliputi kompresi mendadak udara di meatus akustikus
eksternus, masuknya benda asing ke dalam telinga serta trauma kapitis
yang menyebabkan fraktura os temporale. Penyebab yang pertama,
kompresi mendadak udara di liang telinga. Suatu kejadian yang
tampaknya ringan, seperti tamparan pada telinga mungkin cukup
menyebabkan ruptura membran timpani. Pasien akan mengalami nyeri
telinga yang hebat dan terdapat perdarahan yang bervariasi pada tepi
perforasi. Dapat timbul tuli konduktif dengan derajat yang tergantung atas
ukuran dan lokasi perforasi
Penyebab yang kedua yaitu masuknya benda-benda asing, seperti
kapas lidai atau ranting-ranting pohon, bila masuk ke dalam meatus
akustikus eksternus dapat menimbulkan cidera yang terasa nyeri,
bervariasi dari laserasi kulit liang telinga sampai destruksi total teinga
dalam. Pada trauma hebat, dapat terjadi perforasi membran timpani
disertai perdarahan dan disrupsi tulang-tulang pendengaran, serta pasien
akan mengalami episode vertigo hebat berlarut-larut disertai gejala

8
penyertanya, yang menunjukkan terkenanya telinga dalam. Trauma yang
kurang berat yang menyebabkan tuli konduktif berupa perforasi membran
timpani dengan atau tanpa dislokasi tulang-tulang pendengaran. (Cody,
Kern, Pearson, 1991: 90)
2. TRAUMA HIDUNG
Gangguan traumatik os dan kartilago nasal dapat menyebabkan
deformitas eksternal dan obstruksi jalan napas yang bermakna. Jenis dan
beratnya fraktur nasal tergantung pada kekuatan, arah, dan mekanisme
cedera. Sebuah benda kecil dengan kecepatan tinggi dapat memberikan
kerusakan yang sama dengan benda yang lebih besar pada kecepatan yang
lebih rendah. Trauma nasal bagian lateral yang paling umum dan dapat
mengakibatkan fraktur salah satu atau kedua os nasal.
Hal ini sering disertai dengan dislokasi septum nasal di luar krista
maxillaris Dislokasi septal dapat mengakibatkan dorsum nasi berbentuk S,
asimetri apex, dan obstruksi jalan napas. Trauma frontal secara langsung
pada hidung sering menyebabkan depresi dan pelebaran dorsum nasi
dengan obstruksi nasal yang terkait. Cedera yang lebih parah dapat
mengakibatkan kominusi pecah menjadi kecil-kecil seluruh piramida
nasal. Jika cedera ini tidak didiagnosis dan diperbaiki dengan tepat, pasien
akan memiliki hasil kosmetik dan fungsional yang jelek.
Diagnosis fraktur nasal yang akurat tergantung pada riwayat dan
pemeriksaan fisik yang menyeluruh. Riwayat yang lengkap meliputi
penilaian terhadap kekuatan, arah, dan mekanisme cedera munculnya
epistaksis atau rhinorea cairan serebrospinalis, riwayat fraktur atau operasi
nasal sebelumnya, dan obstruksi nasal atau deformitas nasal eksterna
setelah cedera. Pemeriksaan fisik yang paling akurat jika dilakukan
sebelum timbulnya edema pasca trauma. Pemeriksaan ini memerlukan
pencahayaan yang cukup lampu kepala atau otoskop, instrumentasi
spekulum hidung, dan suction sebaiknya tipe Frasier. Inspeksi pada bagian
dalam hidung sangat penting. (RubinsteinBrian, 2011)

9
3. TRAUMA TENGGOROKAN
Trauma laring dapat disebabkan oleh trauma tumpul, trauma tajam,
tembak, trauma inhalasi, aspirasi benda asing maupun iatrogenik. Insiden
trauma laring akibat trauma tumpul semakin menurun karena
perkembangan yang maju pada sistem pengaman kendaraan (automobile
safety). Sementara itu angka kejahatan/kekerasan semakin meningkat
sehingga persentase kejadian trauma tajam/tembus semakin meningkat.
Pada trauma tumpul dan tembak kerusakan jaringan yang terjadi lebih
berat dibanding trauma tajam.1,2,3
Monson membagi daerah leher menjadi 3 zona pada trauma penetrasi
atau trauma tajam terutama berdasarkan trauma terhadap pembuluh
darahnya, yaitu sebagai berikut:
a. Zona I adalah daerah dari kartilago krikoid sampai klavikula. Zona ini
berisi trakea dan esofagus bagian inferior, pembuluh darah trunkus
brakiosefalika, arteri subklavia, arteri karotis komunis, trunkus
tiroservikal dan vena-venanya, duktus torasikus, kelenjar tiroid dan
medula spinalis.

b. Zona II adalah daerah dari kartilago krikoid sampai angulus


mandibula.Zona ini berisi arteri karotis komunis, arteri karotis
eksterna dan interna, vena jugularis interna, laring, hipofaring, nervus
X, XI, XII, dan medula spinalis.
c. Zona III adalah daerah dari angulus mandibula sampai basis kranii
yang berisi arteri karotis, arteri vertebralis, vena jugularis interna,
faring, nervus kranialis dan medula spinalis.1,3

Mekanisme dari cidera yang timbul adalah refleksi dari jenis


penyebabnya. Pada setiap cidera yang timbul akibat trauma laring
seringkali disertai kelainan pada tulang, secara khusus, dapat terjadi
dislokasi krikotiroid dan krikoaritenoid.2

10
D. KLASIFIKASI
1. TRAUMA TELINGA
Menurut Soepardi (2000: 30-31) dan Harold (1992):
a. Trauma Daun Telinga (liang telinga luar)
Trauma daun telinga mungkin dapat terjadi pada waktu bertinju atau
akibat suatu kecelakaan, akibatnya timbul hematom di bawah kulit.
Apabila hal ini terjadi, maka diperlukan beberapa kali aspirasi untuk
mencegah terjadinya deformitas pada daun telinga (couliflower ear).
Sebagai akibat timbulnya proses organisasi bekuan darah di
bawah kulit. Yang sering ditemui adalah edem laserasi, hilangnya
sebagian atau seluruh daun telinga dan perdarahan. Pada pemeriksaan
ditemukan rasa sakit, edema yang hebat pada liang telinga sering
menyebabkan gangguan pendengaran, laserasi, luka robek dan
hematom. Hematom terbentuk di antara perikondrium dan kondrium.
b. Trauma Os Temporal
Pada beberapa jenis trauma dapat menyebabkan depresi mendadak
pada fungsi vestibular, dengan akibat terjadi episode vertigo hebat yang
berlarut-larut. Suatu kecelakaan selama tindakan untuk memperbaiki tuli
konduktif atau untuk menghilangkan penyakit ini di celah telinga tengah
dapat menyebabkan kerusakan telinga dalam. Pada trauma tulang temporal
terdapat hematom, laserasi atau luka tembak. Pada permukaan radiologi
terlihat garis fraktur. Garis fraktur dapat longitudinal, transversal atau
campuran. Fraktur longitudinal ditemukan pada 8 % kasus akan merusak
struktur telinga tengah sehingga terjadi tuli konduktif akibat dislokasi
tulang-tulang pendengaran. Terjadi perdarahan pada meatus akustikus
eksternus. Bila terdapat cairan serebrospinal merupakan tanda adanya
fraktur basil krani, pada kasus ini jarang terjadi kontusio telinga dalam.
Fraktur transversal ditemukan pada 20 % kasus, mengenai os
petrosum, telinga dalam sehingga terjadi sensory-neural hearing loss,
vertigo dan ditemukan timpanum.

11
2. TRAUMA HIDUNG
a. Fraktur hidung sederhana
Jika fraktur dari tulang hidung, dapat dilakukan perbaikan dari
fraktur tersebut dengan anastesi local.
b. Fraktur Tulang Hidung Terbuka
Fraktur tulang hidung terbuka menyebabkan perubahan tempat
dari tulang hidung dan disertai laserasi pada kulit atau
mukoperiosteum rongga hidung.
c. Fraktur Tulang Nasoetmoid
Fraktur ini merupakan fraktur hebat pada tulang hidung, prosesus
frontal pars maksila dan prosesus nasal pars frontal. Fraktur tulang
nasoetmoid dapat menyebabkan komplikasi
3. TRAUMA LARING
a. Trauma inhalasi
Inhalasi uap yang sangat panas, gas atau asap yang berbahaya
akan cenderung menciderai laring dan trakea servikal dan jarang
merusak saluran nafas bawah. Daerah yang terkena akan menjadi
nekrosis, membentuk jaringan parut yang menyebabkan defek stenosis
pada daerah yang terkena.1,2
b. trauma tumpul
Trauma tumpul pada saluran nafas bagian atas dan dada paling
sering disebabkan oleh hantaman langsung, trauma akibat
fleksi/ekstensi hebat, atau trauma benturan pada dada. Hiperekstensi
mengakibatkan traksi laring yang kemudian membentur kemudi,
handle bars atau dashboard. Trauma tumpul lebih sering disebabkan
oleh kecelakaan kendaraan bermotor dimana korban terhimpit di
antara jok mobil dan setir atau dikeluarkan dari kendaraan dan
terhimpit di antara kepingan kendaraan yang mengalami kecelakaan.1,2
Hantaman langsung paling sering menyebabkan trauma pada
tulang rawan laring, sedangkan trauma fleksi/ekstensi lebih sering

12
berhubungan dengan robekan trakea atau laring. Kerusakan trakea
akibat trauma benturan terjadi karena trakea tertekan di antara
manubrium dan kolumna vertebralis. Trauma tumpul pada dada dapat
menyebabkan robekan vertikal pada trakea pars membranosa atau
bronkus, biasanya 2,5 cm dari karina.2,3
Penyebab lain adalah trauma tak langsung akibat akselerasi-
deselerasi. Pada trauma akselerasi-deselerasi dengan posisi glotis
menutup juga akan mengakibatkan tekanan intraluminer yang
meninggi sehingga dapat menyebabkan robekan pada bagian membran
trakea. Robekan ini terjadi akibat diameter transversal yang bertambah
secara mendadak. Dapat juga terjadi akibat robekan diantara cincin
trakea dari os krikoid sampai karina akibat tarikan paru yang
mendadak.1,2,3

c. trauma tajam
Trauma laring sering juga disebabkan karena trauma tajam (5-
15%) yang paling banyak akibat perkelahian di tempat rawan
kejahatan. Senjata yang dipakai adalah belati, pisau clurit, pisau lipat,
golok maupun senjata berpeluru. Angka kejadian trauma tajam
semakin meningkat dan penyebab utamanya relatif lebih banyak oleh
trauma tembus peluru dibanding trauma tusuk.1,3
Meskipun trauma tembus dapat mengenai bagian manapun dari
saluran nafas, trakea merupakan struktur yang paling sering
mengalami trauma akibat luka tusukan. Laring yang mengalami
trauma kira-kira pada sepertiga saluran nafas bagian atas, dan sisa dua
pertiga bagian lagi adalah trakea pars servikalis. Kematian pasien
dengan trauma tembus saluran nafas ini biasanya disebabkan oleh
trauma vaskular dan jarang akibat trauma saluran nafas itu sendiri.1,3

13
E. MANIFESTASI KLINIS
1. TRAUMA TELINGA
Menurut Soepardi (2000: 30), manifestasi klinik trauma telinga antara
lain:
a. Edema
b. Laserasi
c. Luka robek
d. Hilangnya sebagian/seluruh daun telinga
e. Perdarahan
f. Hematom
g. Nyeri kepala
h. Nyeri tekan pada kulit kepala
i. Fraktur tulang temporal
Menurut Adams (1997: 95), manifestasi klinik trauma telinga antara
lain:
 Nyeri
 Sekret berdarah dari telinga
 Gangguan pendengaran
 Gangguan kesadaran
 Hematoma subdural/epidural/kontusi

2. TRAUMA HIDUNG
Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas,
pemendekan ekstermitas, krepitus, pembengkakan lokal, dan perubahan
warna.
Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang di
imobilisasi, spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai
alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen
tulang.

14
Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan dan
cenderung bergeraksecara tidak alamiah bukannya tetap rigid seperti
normalnya, pergeseran fragmen pada fraktur menyebabkan deformitas,
ekstermitas yang bisa diketahui dengan membandingkan dengan
ekstermitas yang normal. Ekstermitas tak dapat berfungsi dengan baik
karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat
melekatnya otot
Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya
karena kontraksiotot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur.
Saat ekstermitas di periksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang
yang dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu
dengan lainnya.
Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai
akibat traumadan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini biasanya
baru terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cedera ( Smelzter,
2002)
3. TRAUMA LARING

Pasien trauma laring sebaiknya dirawat untuk observasi dalam 24 jam


pertama. Timbulnya gejala stridor yang perlahan-lahan yang makin
menghebat atau timbul mendadak sesudah trauma merupakan tanda
adanya sumbatan jalan nafas. Suara serak (disfoni) atau suara hilang
(afoni) timbul bila terdapat kelainan pita suara akibat trauma seperti
edema, hematoma, laserasi, atau parese pita suara.(2)

Emfisema subkutis terjadi bila ada robekan mukosa laring atau trakea,
atau fraktur tulang-tulang laring hingga mengakibatkan udara pernafasan
akan keluar dan masuk ke jaringan subkutis di leher. Emfisema leher
dapat meluas sampai ke daerah muka, dada, dan abdomen, dan pada
perabaan terasa sebagai krepitasi kulit.(2)

15
Hemoptisis terjadi akibat laserasi mukosa jalan nafas dan bila jumlahnya
banyak dapat menyumbat jalan nafas. Perdarahan ini biasanya terjadi
akibat luka tusuk, luka sayat, luka tembak, maupun luka tumpul. Disfagia
(kesulitan menelan) juga dapat timbul akibat trauma laring.(2)

F. KOMPLIKASI
1. TRAUMA TELINGA
a. Tuli Konduktif
Terjadi karena adanya perforasi membran timpani dengan atau tanpa
dislokasi tulang-tulang pendengaran
b. Paralisis Wajah Unilateral
Terjadi karena trauma yang mengenai nervus fasialis di sepanjang
perjalanannya melalui os temporale sehingga dapat menyebabkan
paralisis wajah unilateral.
c. Vertigo Hebat
Disebabkan oleh berbagai jenis trauma yang dapat menyebabkan
depresi mendadak pada fungsi vestibular, sehingga terjadilah vertigo
yang mendadak, hebat dan berlarut-larut.
d. Kehilangan Kesadaran
Terjadi karena kehilangan fungsi vestibular unilateral mendadak dan
biasanya cideranya cukup hebat sehingga pasien akan mengalami
periode kehilangan kesadaran.
e. Nistagmus
Nistagmus merupakan sesuatu yang khas bagi kehilangan fungsi
vestibular unilateral mendadak.(Cody, Kern, Pearson. 1991: 23)
2. TRAUMA HIDUNG
Komplikasi awal setelah fraktur adalah syok yang berakibat fatal
dalam beberapa jam setelah cedera, emboli lemak, yang dapat terjadi
dalam 48 jam atau lebih, dan sindrom kompartemen, yang berakibat
kehilangan fungsi ekstremitas permanent jika tidak ditangani

16
segera.komplikasi lainnya adalah infeksi, tromboemboli yang dapat
menyebabkan kematian beberapa minggu setelah cedera dan koagulopati
intravaskuler diseminata (KID).
Syok hipovolemik atau traumatik, akibat pendarahan (baik kehilangan
dara eksterna maupun tak kelihatan ) dan kehilangan cairan ekstrasel ke
jaringan yang rusak dapat terjadi pada fraktur ekstremitas, toraks,
pelvis,dan vertebra karena tulang merupakan organ yang sangat vaskuler,
maka dapaler terjadi kehilangan darah dalam jumlah yang besar sebagai
akibat trauma,khususnya pada fraktur femur pelvis.
Penanganan meliputi mempertahankan volume darah,mengurangi
nyeri yang diderita pasien, memasang pembebatan yang memadai, dan
melindungi pasien dari cederalebih lanjut.
Komplikasi dari fraktur nasal termasuk deformitas secara kosmetik
dan obstruksi saluran napas. Selain itu ada beberapa komplikasi yang lain
antara lain hematoma (membutuhkan drainase untuk menghindari nekrosis
septum dan superinfeksi septum), epistaksis yang tidak berhenti/ bleeding,
obstruksi saluran nafas, kontraktur jaringan parut, deformitas
nasal/deviasi, saddling, Kebocoran cairan serebrospinal,
komplikasiorbital.
3. TRAUMA LARING
Komplikasi yang dapat terjadi pada luka terbuka adalah aspirasi darah,
paralisis pita suara, dan stenosis laring.
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. TRAUMA TELINGA
a. Pemeriksaan dengan Otoskopik
1) Mekanisme :
2) Bersihkan serumen
3) Lihat kanalis dan membran timpani
Interpretasi :

17
a) Warna kemerahan, bau busuk dan bengkak menandakan
adanya infeksi
b) Warna kebiruan dan kerucut menandakan adanya tumpukan
darah dibelakang gendang.
c) Kemungkinan gendang mengalami robekan.
b. Pemeriksaan Ketajaman
Test penyaringan sederhana:
1) Lepaskan semua alat bantu dengar
2) Uji satu telinga secara bergiliran dengan cara tutup salah satu
telinga
3) Berdirilah dengan jarak 30 cm
4) Tarik nafas dan bisikan angka secara acak (tutup mulut)
5) Untuk nada frekuensi tinggi: lakukan dgn suara jam
6) Uji Ketajaman Dengan Garpu Tala
7) Uji weber:
8) Menguji hantaran tulang (tuli konduksi)
9) Pegang tangkai garpu tala, pukulkan pada telapak tangan
10) Letakan tangkai garpu tala pada puncak kepala pasien.
11) Tanyakan pada pasien, letak suara dan sisi yang paling keras.
2. TRAUMA HIDUNG
a. Pemeriksaan Rongent : Menentukan luas atau lokasi minimal 2 kali
proyeksi, anterior, posterior lateral.

b. CT Scan tulang, fomogram MRI : Untuk melihat dengan jelas daerah


yang mengalami kerusakan.

c. Arteriogram (bila terjadi kerusakan vasculer)

3. TRAUMA LARING
Pemeriksaan radiologi dapat membantu menegakkan diagnosis pada
trauma leher yang mencurigakan adanya kerusakan jalan nafas terutama

18
pada trauma tumpul ataupun yang sudah terpasang endotrakeal tube
(ETT). Pada foto dapat terlihat adanya bayangan udara terperangkap di
prevertebra dan leher bagian dalam atau peninggian/elevasi tulang hyoid
pada kasus separasi krikotrakea.1,3
Bronkoskopi merupakan alat diagnostik pilihan karena dapat
menentukan letak luka, luas luka, dan juga sekaligus sebagai penuntun
untuk pemasangan ETT guna menjamin jalan nafas. Esofagoskopi
disarankan terutama pada trauma tembus. Tindakan panendoscopy dan
arteriografi disarankan dilakukan pada trauma tembus leher dengan
kondisi pasien yang stabil. Tindakan tersebut di atas selain efektif juga
sensitifitasnya tinggi untuk menghindari eksplorasi yang berlebihan.1,2,3
Pemeriksaan penunjang lain seperti pencitraan esofagus dengan
kontras, computed tomography (CT) dan MRI dapat dilakukan sesuai
indikasi. CT scan telah berperan banyak dalam penanganan trauma laring
saat ini dan mampu menurunkan angka eksplorasi bedah karena mampu
mendeteksi lebih rinci dan non invasif. CT diindikasikan pada pasien
dengan kecurigaan trauma laring hanya dari anamnesis dan pemeriksaan
fisik seperti pada pasien yang hanya menunjukkan satu gejala/tanda. CT
mampu mendeteksi fraktur tiroid dengan midline displaced yang minimal
namun berpengaruh dalam pembentukan fonasi. Hal ini sangat
menguntungkan pasien karena jika tidak terdeteksi akan menyebabkan
gangguan fonasi jangka panjang. CT kurang berguna pada kasus dengan
indikasi pembedahan seperti pada kartilago yang terekspose atau
displaced fracture dengan laserasi mukosa diatasnya.1,2
H. PENATALAKSANAAN
1. TRAUMA TELINGA
a. Pasien diistirahatkan duduk atau berbaring
b. Atasi keadaan kritis ( tranfusi, oksigen, dan sebagainya )
c. Bersihkan luka dari kotoran dan dilakukan debridement,lalu hentikan
perdarahan

19
d. Pasang tampon steril yang dibasahi antiseptik atau salep antibiotik.
e. Periksa tanda-tanda vital
f. Pemeriksaan otoskopi secara steril dan dengan penerangan yang baik,
bila mungkin dengan bantuan mikroskop bedah atau loup untuk
mengetahui lokasi lesi.
g. Pemeriksaan radiology bila ada tanda fraktur tulang temporal. Bila
mungkin langsung dengan pemeriksaan CT scan.
4. TRAUMA LARING
Kewaspadaan terhadap trauma laring pada trauma leher oleh tenaga
medis atau paramedis harus dipertajam agar tidak ada kasus yang
terlewatkan. Bila ada trauma laring, luka atau jejas pada leher harus
diperiksa dan diobservasi dengan seksama. Pada prinsipnya,
penatalaksanaan trauma harus sistematis dimulai dari penilaian dan
pengamanan jalan nafas agar tetap adekuat.1,2

20
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA TRAUMA TELINGA, HIDUNG,
DAN TENGGOROKAN/LARING

A. PENGKAJIAN
1. TRAUMA TELINGA
Identitas Pasien
a. Riwayat kesehatan
1) Keluhan Utama
Biasanya klien mengeluh adanya nyeri, apalagi jika daun telinga
disentuh. Didalam telinga terasa penuh karena adanya
penumpukan serumen atau disertai pembengkakan.Terjadi
gangguan pendengaran dan kadang-kadang disertai
demam.Telinga juga terasa gatal.
2) Riwayat penyakit sekarang
Waktu kejadian, penyebab trauma, posisi saat kejadian, status
kesadaran saat kejadian, pertolongan segera yang diberikan setelah
kejadian
3) Riwayat penyakit dahulu
Pernah mengalami nyeri pada telinga sebelumnya.
4) Riwayat penyakit keluarga
Tidak ada salah satu keluarga yang mengalami sakit telinga.
b. Pemeriksaan Fisik
1) Inspeksi
Inspeksi keadaan umum telinga, pembengkakan pada MAE
(meatusauditorius eksterna) perhatikan adanya cairan atau bau,
warna kulit telinga,penumpukan serumen, tonjolan yang nyeri dan
berbentuk halus, serta adanya peradangan.
2) Palpasi

21
Palpasi, Lakukan penekanan ringan pada daun telinga, jika terjadi
respon nyeridari klien, maka dapat dipastikan klien menderita
otitis eksternasirkumskripta (furunkel).

2. TRAUMA HIDUNG
Pengkajian Pasien Post Operasi Fraktur ( Doenges, 1999) meliputi :
a. Gejala Sirkulasi
Gejala : Riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmononal, penyakit
vascular perifer atau Statis vascular (peningkatan resiko pembentu kan
thrombus ).
b. Integritas Ego
Gejala : perasaan cemas, takut, marah, apatis ; faktor-faktor stress
multiple, misalnya financial, hubungan, gaya hidup.
Tanda : tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang ;
stimulasi simpatis.
c. Makanan / Cairan
Gejala : insufisiensi pankreas/DM, (predisposisi untuk
hipoglikemia/ketoasidosis) ; malnutrisi (termasuk obesitas) ;
membrane mukosa yang kering (pembatasan pemasukkan / periode
puasa pra operasi).
d. Keamanan
Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ;
Defisiensi immune (peningkatan risiko infeksi sitemik dan penundaan
penyembuhan) ; Munculnya kanker / terapi kanker terbaru ; Riwayat
keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi ; Riwayat
penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obatobatan dan dapat
mengubah koagulasi) ; Riwayat transfusi darah / reaksi transfusi.
Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam.
e. Penyuluhan / Pembelajaran

22
Gejala : penggunaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi,
kardiotonik glokosid, antidisritmia, bronchodilator, diuretic,
dekongestan, analgesic, anti inflamasi, antikonvulsan atau tranquilizer
dan juga obat yang dijual bebas, atau obatobatan rekreasional.
Penggunaan alkohol (risiko akan kerusakan ginjal, yang
mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia, dan juga potensial bagi
penarikan diri pasca operasi).

3. TRAUMA LARING
Pengumpulan data tergantung pada patofisiologi dan/atau alasan untuk
dukungan bantuan ventilasi (trakeostomi), misalnya trauma dada
(pneumothorax, hemothorax).
a. Aktivitas/istirahat
Gejala : dispnea dengan istirahat ataupun aktivitas
b. Sirkulasi
Tanda : takikardia, frekuensi tak teratur, nadi apical berpindah oleh
adanya penyimpangan medaistinal. TD hiper/hipotensi
c. Makanan/cairan
Gejala : anorexia (mungkin karena bau sputum)
Tanda : pemasangan IV line,
d. Nyeri/kenyamanan
Gejala : nyeri area luka trakeostomi, nyeri dada unilateral meningkat
karena batuk atau bernafas
Tanda : berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi,
mengkerutkan wajah
e. Pernafasan
Gejala : kesulitan bernafas, batuk (mungkin gejala yang ada), riwayat
trauma dada.

23
Tanda : peningkatan frekuensi nafas, kulit cyanosis, penggunaan
ventilasi mekanik (trakeostomi), secret pada selang trakeostomi
f. Hygiene
Tanda : kemerahan area luka trakeostomi
g. Interaksi sosial
Tanda : ketidakmampuan mempertahankan suara karena distress
pernafasan, keterbatasan mobilitas fisik.
Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan fungsi paru ; menentukan kemampuan paru untuk pertukaran
gas karbondioksida dan termasuk tetapi tidak terbatas pada hal berikut ini:
a. GDA ; mengkaji status oksigenasi dan ventilasi dan keseimbangan
asam basa.
b. Kapasitas vital (VC) ; menurun pada keterbatasan dada atau kondisi
paru ; normal atau meningkat pada PPOM ; normal atau menurun pada
penyakit neuromuscular (Guillain-Barre) ; menurun pada kondisi
keterbatasan gerak torax (kifoskoliosis)
c. Kapasitas vital kuat (FVC) ; (diukur dengan spirometri) menurun pada
kondisi restriktif
d. Volume tidal (VT) ; dapat menurun pada proses restriktif atau
obstruktif
e. Inspirasi negative kuat (NIF) ; dapat mempengaruhi kapasitas vital
untuk membantu menentukan apakah pasien dapat bernafas.
f. Ventilasi menit ; mengukur volume untuk inhalasi dalam 1 menit
pernafasan normal.
g. Tekanan inspirasi (Pimax) ; mengukur regangan otot pernafasan
h. Volume ekspirasi kuat (FEV ; biasanya menurun pada PPOM
i. Aliran-Volume (F-V) loop ; Loop tak normak menunjukkan penyakit
jalan nafas besar dan kecil dan penyakit keterbatasan bila berlanjut.
j. Sinar x dada ; mengawasi perbaikan/kemajuan kondisi atau komplikasi

24
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. TRAUMA TELINGA
a. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi.
b. Gangguan sensori persepsi (auditori) berhubungan dengan perubahan
sensori persepsi
c. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya
informasi tentang penyakit, pengobatan.
2. TRAUMA HIDUNG
a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya
jaringan tulang.
b. Cemas berhubungan dengan pengetahuan tentang luka post op
c. Ansietas b/d adanya ancaman terhadap konsep diri/citra diri.
3. TRAUMA LARING
a. Pola pernafasan tak efektif/ventilasi spontan.
b. Bersihan jalan nafas tidak efektif.
c. Komunikasi verbal, kerusakan.
d. Resiko tinggi infeksi.
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. TRAUMA TELINGA
a. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi.
1) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24
jam rasa nyeri pasien dapat berkurang,
2) Kriteria hasil:
a) Melaporkan nyeri berkurang / terkontrol.
b) Menunjukkan ekspresi wajah / postur tubuh rileks.
3) INTERVENSI :

INTERVENSI RASIONAL
1. Observasi keluhan nyeri, 1. Dapat mengidentifikasi terjadinya
perhatikan lokasi atau karakter komplikasi dan untuk intervensi

25
dan intensitas skala nyeri (0-5) selanjutnya.
2. Ajarkan tehnik relaksasi 2. Membantu klien untuk mengurangi
progresif, nafas dalam guided persepsi nyeri atau mangalihkan
imagery. perhatian klien dari nyeri.
3. Kolaborasi: Berikan obat 3. Membantu mengurangi nyeri
analgetik sesuai indikasi

b. Gangguan sensori persepsi (auditori) berhubungan dengan


perubahan sensori persepsi.
1) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan 1 x 24 jam diharapkan
ketajaman pendengaran pasien meningkat
2) KriteriaHasil :
a) Pasien dapat mendengar dengan baik tanpa alat bantu
pendengaran
b) mampu menentukan letak suara dan sisi paling keras dari
garputala
c) membedakan suara jam dengan gesekan tangan
d) Pasien tidak meminta mengulang setiap pertanyaan yang
diajukan kepadanya

3) INTERVENSI :
INTERVENSI RASIONAL
4. Observasi ketajaman 1. Mengetahui tingkat ketajaman
pendengaran, catat apakah kedua pendengaran pasien dan untuk
telinga terlibat. menentukan intervensi selanjutnya.
5. Berikan lingkungan yang tenang 2. Membantu untuk menghindari
dan tidak kacau, jika diperlukan masukan sensori pendengaran
seperti musik lembut. yang berlebihan dengan

26
mengutamakan kualitas tenang.
6. Anjurkan pasien dan keluarganya 3. Mematuhi program terapi akan
untuk mematuhi program terapi mempercepat proses
yang diberikan penyembuhan.

c. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya


informasi tentang penyakit, pengobatan.
1) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24
jam, diharapkan terjadi peningkatan pengetahuan mengenai
kondisi dan penanganan yang bersangkutan
2) Kriteria hasil :
a) Melaporkan pemahaman mengenai penyakit yang dialami
b) Menanyakan tentang pilihan terapi yang merupakan petunjuk
kesiapan belaja

3) INTERVENSI :
INTERVENSI RASIONAL
12) Kaji tingkat pengetahuan pasien. 1. Mengetahui tingkat pemahaman
dan pengetahuan pasien tentang
penyakitnya serta indikator dalam
melakukan intervensi
13) Berikan informasi pada pasien 2. Meningkatkan pemahaman klien
tentang perjalanan penyakitnya. tentang kondisi kesehatan

14) Berikan penjelasan pada pasien 3. Mengurangi tingkat kecemasan dan


tentang setiap 1 tindakan membantu meningkatkan kerjasama
keperawatan yang diberikan dalam mendukung program terapi
yang diberikan

27
2. TRAUMA HIDUNG

Diagnosa Tujuan & Intervensi Rasional


keperawatan KiteriaHasil

Gangguan 1. Nyeri 1. pendekatan 1. hubungan yang baik


rasa nyaman dapat pada klien & membuat klien &
nyeri berkurang keluarga keluarga kooperatif
berhubungan / hilang
2. Tingkat
dengan 2. pasien
2. kaji tingkat intensitasnyeri dan
teroutusnya tampak
intensitas & frekuensi
kontinuitas tenang
frekuensi nyeri menunjukkan skala nyeri
jaringan
tulang 3. Memberikan penjelasan
akan menambah
3. Jelaskan pada
pengetahuan klien
klien
tentang
penyebab dari
nyeri
nyeri

4. Untukmengetahui
perkembangan klien

4. observasi
tanda tanda 5. Merupakan tindakan
vital dependent perawat,
dimana analgetik
berfungsi untuk memblok
stimulasi nyeri
5. Melakukan
kolaborasi
dengan tim

28
medis dalam
pemberian
analgetik

Cemas berhubungan 1. Klien tidak 1. Lakukan 1. Klien kooperatif


dengan pengetahuan merasa cemas pendekatan pada dengan perawat
tentang luka post op lagi klien tentang 2. Klien mengerti
2. Klien tampak penyakitnya dengan
rileks dan tidak 2. Berikan penjelasan penyakitnya
gelisah pada klien tentang 3. Memberikan
penyakitnya dorongan pada
3. Memberikan klien untuk
. motivasi pada klien sembuh
dan keluarga

Ansietas b/d adanya 1. Tampak relaks 1. Dorong 1. Mendefinisikan


ancaman terhadap dan ekspresi masalah dan
konsep diri/citra diri melaporkan ketakutan/marah pengaruh pilihan
ansietas intervensi.
menurun
sampai dapat 2. Akui kenyataan
ditangani. atau normalitas 2. Memberikan
2. Mengakui dan perasaan, termasuk dukungan emosi
mendiskusikan marah yang dapat
rasa takut membantu klien
melalui penilaian

29
awal juga selama
pemulihan

3. TRAUMA LARING
a. Pola pernafasan tak efektif/ventilasi spontan, ketidakmampuan untuk
meneruskan. Dapat dihubungkan dengan :
Depresi pusat pernafasan, paralisis otot pernafasan

Intevensi :
Intervensi Rasional
1. Selidiki etiologi gagal 1. Penting untuk perawatan,
pernafasan contoh keputusan tentang
kemampuan pasien yang
akan datang dan
dukungan tepat ventilator
2. Observasi pola nafas. 2. Pasien dengan ventilator
Catat frekuensi , jarak dapat mengalami
antara pernafasan spontan hiperventilasi/
dan nafas ventilator hipoventilasi
3. Tinggikan kepala tempat 3. peninggian kepala pasien
tidur atau letakkan pada atau turun dari tempat
kursi ortopedik bila tidur sementara masih
memungkinkan pada ventilator secara
fisik dan psikologik
menguntungkan.
4. Periksa selang 4. Lipatan selang mencegah
trakeostomi terhadap pengiriman volume
obstruksi, misal terlipat adekuat dan

30
meningkatkan tekanan
jalan nafas.
5. Alirkan selang sesuai 5. Air mencegah distribusi
indikasi, hindari aliran ke gas dan pencetus
pasien atau kembali ke pertumbuhan bakteri.
dalam wadah
6. Bantu pasien dalam 6. Melatih pasien nafas
control pernafasan di lambat, lebih dalam,
samping tempat tidur dan praktik nafas abdomen,
ventilasi manual member posisi yang
kapanpun diindikasikan nyaman dan penggunaan
teknik relaksasi dapat
membantu
memaksimalkan fungsi
pernafasan.

b. Bersihan jalan nafas tidak efektif. Dapat dihubungkan dengan :


Benda asing (jalan nafas buatan) pada trachea, ketidakmampuan
batuk efektif.
Intervensi :
Intervensi Rasional
1. Kaji kepatenan jalan nafas 1. Obstruksi dapat
disebabkan oleh
akumulasi secret,
perlengketan mukosa,
perdarahan, spasme
bronkus dan atau
masalah dengan posisi
trakeostomi/selang

31
2. Evaluasi gerakan dada dan endotrakeal.
asukultasi bunyi nafas 2. Gerakan dada simetris
bilateral dengan bunyi nafas
melalui area paru
menunjukkan letak
selang tepat/tak menutup
3. Awasi letak selang jalan nafas
endotrakeal. Catat tanda 3. Selang endotrakeal dapat
garis bibir dan bandingkan masuk ke bronkus kanan,
dengan letak yang sehingga menghambat
diinginkan. Amankan aliran udara ke paru kiri
selang dengan hati-hati dan pasien beresiko
dengan plester atau untuk pneumotorax
penahan selang. tegangan.
4. Catat batuk berlebihan, 4. Pasien intubasi biasanya
peningkatan dispnu, secret mengalami reflex batuk
terlihat pada selang tak efektif atau pasien
endotrakeal/trakeostomi, dapat mengalami
peningkatan ronkhi. gangguan neuromuscular
atau neurosensori
5. penghisapan tidak harus
5. Lakukan suctioning sesuai rutin, dan lamanya harus
kebutuhan, batasi dibatasi untuk
penghisapan 15 detik atau menurunkan bahaya
kurang. Pilih kateter yang hipoksia. Kateter
tepat, isikan cairan garam penghisap diameternya
faal steril, bila harus kurang dari 50%
diindikasikan. diameter dalam
Hiperventilasi dengan trakeostomi untuk

32
kantung sebelum mencegah hipoksia.
penghisapan, gunakan Hiperventilasi dengan
oksigen 100% bila ada kantung atau nafas
panjang ventilator pada
oksigen 100% mungkin
diinginkan untuk
menurunkan atelektasis
dan untuk menurunkan
hipoksia tiba-tiba.

6. Anjurkan pasien untuk 6. Meningkatkan


melakukan teknik batuk keefektifan upaya batuk
selama penghisapan dan pembersihan secret
contoh menekan, nafas
pada waktunya dan batuk
segi empat sesuai indikasi.
7. meningkatkan drainage
7. Ubah posisi/berikan cairan
sekret dan ventilasi pada
dalam kemampuan
semua segmen paru,
individu
menurunkan resiko
atelektasis.
8. membantu
8. Dorong/berikan cairan
mengencerkan secret,
dalam kemampuan pasien
meningkatkan
pengeluaran.
9. Meningkatkan ventilasi
9. Berikan fisioterapi dada
pada semua degmen paru
sesuai indikasi, misal
dan alat drainage secret.
postural drainage, perkusi
10. Meningkatkan ventilasi
10. Berikan bronkodilator IV
dan membuang secret

33
dan aerosol sesuai dengan relaksasi otot
indikasi, misal halus/spasme bronkus.
aminophilin, idiotharine
hidroklorida 11. Dapat dilakukan untuk
11. Bantu bronkoskopi serat membuang
optic bila diindikasikan. secret/perlengketan
mukosa

c. Komunikasi verbal, kerusakan. Dapat dihubungkan dengan :


Hambatan fisik, contoh selang trakeostomi, paralisis neuromuscular.
Intervensi :
Intervensi Rasional
1. Kaji kemampuan pasien 1. Alasan untuk dukungan
untuk berkomunikasi ventilator jangkan panjang
dengan pilihan arti bermacam-macam ; pasien
dapat sadar dan
beradaptasi pada
penulisan. Metode
komunikasi dengan pasien
sangat individual.
2. Buat cara-cara 2. kontak mata menjamin
komunikasi contoh minat komunikasi pasien ;
memperhatikan kontak bila pasien mampu untuk
mata, tanyakan menggerakkan kepala,
pertanyaan ya/tidak, mengedipkan mata, atau

34
berikan magic slate, nyaman melakukan gerak
kertas/pensil. tubuh, penerimaan dapat
Gambar/alphabet, dilakukan dengan
gunakan tanda bahasa pertanyaan ya/tidak.
yang tepat, validasi arti Penunjukkan ke papan
upaya komunikasi huruf atau menulis sering
melelahkan pasien,
kemudian menjadi frustasi
karena upaya diperlukan
untuk percakapan.
Penggunaan papan gambar
yang menunjukkan konsep
atau kebutuhan rutin dapat
menyederhanakan
komunikasi.
3. Lebih mampu untuk
3. Letakkan bel pemanggil rileks, merasa aman
dalam jangkauan,
yakinkan pasien sadar
dan secara fisik mempu
menggunakannya 4. menyadarkan semua staf
4. Letakkan catatan pada untuk berespons pada
pusat pemanggil pasien di tempat tidur
informasi staf bahwa sebagai ganti melalui
pasien tidak mampu intercom
bicara
5. Dorong keluarga terdekat 5. Orang terdekat dapat sadar
bicara dengan pasien, diri dalam perbincangan
berikan informasi satu arah, tetapi

35
tentang keluarga dan pengetahuan bahwa ia
kejadian sehari-hari mampu membantu pasien
untuk meningkatkan
kontak dengan realita
sehingga memungkinkan
pasien manjadi bagian dari
keluarga dapat
menurunkan perasaan
kaku

d. Resiko tinggi infeksi. Dapat dihubungkan dengan :


Tidak adekuat pertahanan tubuh (penurunan kerja silia, statis cairan
tubuh), tidak adekuat pertahanan sekunder (tekanan imun), prosedur
invasive.
Intervensi :
Intervensi Rasional
1. Catat factor resiko 1. Intubasi, ventilasi mekanik
terjadinya infeksi lama, ketidakmampuan
umum, malnutris, prosedur
invasif, perawatan
trakeostomi inadekuat
adalah factor dimana
pasien potensial
mengalami infeksi dan
lama sembuh. Kesadaran
akan factor resiko
memberikan kesempatan
untuk membatasi efeknya.
2. Observasi 2. Kuning/hijau, sputum

36
warna/bau/karakteristik berbau purulen
sputum. Catat drainase menujukkan infeksi,
sekitar selang trakeostomi sputum kental, lengket
diduga dehidrasi
3. Cuci tangan sebelum dan 3. sederhana tapi penting
sesudah kontak dengan mencegah infeksi
pasien, teknik penghisapan nosokomial.
steril.
4. Batasi pengunjung 4. individual telah berada
pada resiko tinggi infeksi

5. membantu memperbaiki
5. Pertahankan hidrasi
tahanan umum untuk
adekuat dan nutrisi.
penyakit dan menurunkan
resiko infeksi dari statis
secret

6. Ambil kultur sputum


6. mengidentifikasi pathogen
sesuai indikasi
dan antimikrobial yang
tepat
7. Berikan antibiotic sesuai
7. satu atau lebih agen dapat
indikasi
digunakan tergantung pada
identifikasi pathogen bila
infeksi terjadi.

D. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Implementasi keperawatan pada trauma THT disesuaikan dengan intervensi
keperawatan
E. EVALUASI

37
Evaluasi adalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan
dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk
memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker,2001).

Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan post operasi fraktur adalah :
a. Nyeri dapat berkurang atau hilang setelah dilakukan tindakan
keperawatan.
b. Pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas.
c. Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai.
d. Pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal.
e. Infeksi tidak terjadi / terkontrol.
f. Pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur dan
proses pengobatan.

38
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari penyusunan makalah ini ditemukan beberapa kesimpulan yang berkaitan
dengan tujuan pembuatan dan judul dari makalah:
Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks
(pendengaran dan keseimbangan). Indera pendengaran berperan penting pada
partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.
Fraktur adalah terputusnya kontuinitas tulang yang ditentukan sesuai jenis
dan luasnya, fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari
yang dapat diabsorbsinya (Smelzter, 2002).
Laring memiliki tiga fungsi penting yakni sebagai proteksi jalan nafas,
pengaturan pernafasan dan menghasilkan suara. Kerusakan pada laring akibat
trauma dapat sangat parah

39
DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marylin E. dkk. (2000). Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan.


Edisi 3 EGC. Jakarta

Reeves, Charlene J. Dkk. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Salemba Medika.


Jakarta

Trakeostomi. Avilable from http.www.detikhealth.com. accesed at April 5, 2010.

40