Anda di halaman 1dari 16

230

BAB 14 BUAH

I. PENDAHULUAN

A. Sasaran Pembelajaran
Setelah mempelajari bab ini mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan
penggolongan buah dan memberikan contoh.

B. Indikator Pencapaian
1. Ketepatan penjelasan buah sejati dan buah semu.
2. Ketepatan penjelasan penggolongan buah sejati dan buah semu.
3. Kemampuan memberikan contoh penggolongan buah.

II. Strategi Pembelajaran


1. Kuliah interaktif
2. Diskusi
3. Cooperative learning
4. Small group discussion

III. Kegiatan Belajar


Langkah-langkah kegiatan belajar yang harus dilakukan:
1. Mahasiswa mengikuti kegiatan perkuliahan di kelas.
2. Mahasiswa melakukan penelusuran literatur mengenai penggolongan buah dan
contohnya melalui sumber bacaan dan internet.
3. Mahasiswa menyelesaikan tes formatif/evaluasi kegiatan pembelajaran.

II. URAIAN BAHAN PEMBELAJARAN

Setelah terjadi peristiwa penyerbukan dan pembuahan, bakal buah akan tumbuh
menjadi buah dan bakal biji yang terdapat di dalam bakal buah (fructus) akan tumbuh
menjadi biji. Pada peristiwa tertentu, buah dapat berkembang tanpa terjadinya
penyerbukan dan pembuahan sehingga tumbuhan tidak memiliki biji atau memiliki biji
tetapi tanpa lembaga (embrio). Peristiwa tersebut disebut partenokarpi (parthenocarpy),
misalnya pada pohon pisang (Musa paradisiaca L.).
231

Umumnya setelah terjadi penyerbukan dan pembuahan, bagian-bagian bunga


selain bakal buah segera menjadi layu dan gugur. Namun, ada kalanya bagian bunga
selain bakal buah juga ikut tumbuh dan menjadi bagian buah. Dari putik sendiri disebut
hanya bakal buahnya, karena biasanya tangkai dan kepala putiknya gugur pula seperti
halnya dengan bagian-bagian yang lain.
Bagian-bagian bunga yang kadang-kadang tidak gugur, melainkan ikut tumbuh
dan tinggal pada buah, biasanya tidak mengubah bentuk dan sifat buah itu sendiri, jadi
tidak merupakan suatu bagian buah yang penting, misalnya:
a. daun-daun pelindung; misalnya pembungkus tongkol jagung (klobot) pada jagung,
b. daun-daun kelopak; misalnya pada terong dan jambu
c. tangkai kepala putik; misalnya rambut jagung dan pada semua macam jambu,
d. kepala putik, misalnya pada buah manggis yang dapat menunjukkan jumlah daun
buah dan jumlah ruangan dalam buah manggis tadi.

A. Penggolongan Buah
Secara struktural, buah terjadi dari bakal buah. Namun, dalam perkembangannya
bagian bunga dapat ikut menyusun buah. Oleh karena itu, buah dapat dibedakan dalam
dua golongan, sebagai berikut.
1. Buah sejati atau buah sungguh; yaitu buah yang terjadi semata-mata dari bakal buah.
Oleh karena tidak memiliki struktur tambahan dan seringkali tidak terbungkus
sehingga disebut juga buah telanjang.
2. Buah semu atau buah tertutup, yaitu jika buah itu terbentuk dari bakal buah beserta
bagian-bagian lain pada bunga itu, yang malahan menjadi bagian utama buah ini
(lebih besar, lebih menarik perhatian, dan seringkali merupakan bagian buah yang
bermanfaat, dapat dimakan), sedang buah yang sesungguhnya kadang-kadang
tersembunyi.
Kecuali bakal buahnya sendiri seringkali terjadi, bahwa ada bagian bunga ikut
mengambil bagian dalam pembentukan buah, bahkan seringkali merupakan bagian buah
yang paling menarik perhatian. Dalam pembicaraan sehari-hari buahnya yang benar
seringkali tidak dikenal lagi. Apa yang dinamakan buahnya justru bagian bunga yang telah
berubah sedemikian rupa sehingga menjadi bagian buah yang penting. Buah yang
demikian dinamakan buah palsu atau buah semu (fructus spurius). Pada buah semu buah
yang sesungguhnya seringkali tidak kelihatan (tertutup), karena itu seringkali buah semu,
dinamakan pula buah tertutup (fructus clausus). Perkecualian tetap ada, misalnya buah
jambu mete, buah yang sebenarnya (yang menghasilkan metenya) tetap kelihatan.
Adapun bagian-bagian bunga yang seringkali ikut tumbuh dan menyebabkan
terjadinya buah semu, misalnya:
232

a. tangkai bunga, pada jambu monyet atau jambu mete (Anacardium occidentale L.),
tangkai bunga menjadi besar, tebal, berdaging dan merupakan bagian buah yang
dapat dimakan pula,sedangkan buah yang sesungguhnya lebih kecil, berkulit keras
terdapat pada ujung bagian yang membesar ini (Gambar 149),
b. dasar bunga bersama pada suatu bunga majemuk, misainya pada bunga lo (Ficus
glomerata Roxb.) dan sebangsanya. Dasar bunga yang berbentuk periuk itu juga
membesar dan membulat, tebal berdaging, menyelubungi sejumlah besar buah-buah
yang sesungguhnya, yang tidak tampak dari luar, karena terdapat dalam badan yang
berbentuk seperti periuk tadi. Juga bagian ini seringkali dapat dimakan (Gambar 150),
c. dasar bunga pada bunga tunggal, misalnya pada arbe (Fragraria vesca L.) yang
kemudian menjadi berdaging tebal dan merupakan bagian yang dapat dimakan pula,
sedang buah yang sesungguhnya kecil, hampir tak kelihatan (Gambar 151),
d. kelopak bunga. Pada ciplukan (Physalis minima L.), pada pembentukan buah, kelopak
tumbuh terus menjadi badan yang menyelubungi buah yang sebenarnya. Jadi buah
yang sebenarnya tadi tidak tampak sama sekali dari luar (Gambar 152a),
e. tenda bunga dan ibu tangkai pada bunga majemuk. Pada pohon nangka (Artocarpus
integra Merr.) misalnya: ibu tangkai bunga dan semua tenda bunga pada bunga
majemuk ini akhirnya tumbuh sedemikian rupa sehingga. seluruh perbungaan seakan-
akan hanya menjadi satu buah saja (Gambar 152b).

Gambar 149. Buah jambu mete

Gambar 150. Buah lo


233

Gambar 151. Buah arbe

Gambar 152. Buah: (a) ciplukan dan (b) nangka

B. Penggolongan Buah Semu


Buah semu dapat dibedakan dalam:
1. buah semu tunggal, yaitu buah semu yang terjadi dari satu bunga dengan satu bakal
buah. pada buah ini selain bakal buah ada bagian lain bunga yang ikut membentuk
buah, misalnya:
- tangkai bunga, pada buah jambu monyet (Anacardium occidentale L.),
- kelopak bunga pada buah ciplukan (Physalis minima L.).
2. buah semu ganda, yaitu jika pada satu bunga terdapat lebih dari satu bakal buah yang
bebas satu sama lain, dan kemudian masing-masing dapat tumbuh menjadi buah,
tetapi di samping itu ada bagian lain pada bunga tadi yang ikut tumbuh, dan
merupakan bagian buah yang menyolok (dan seringkali yang berguna), misalnya buah
arbe (Fragraria vesca L.),
3. buah semu majemuk, yaitu buah semu yang terjadi dari bunga majemuk, tetapi
seluruhnya dari luar tampak seperti satu buah saja, misalnya buah nangka
(Artocarpus integra Merr.) dan keluwih (Artocarpus communis Forst.) yang terjadi dari
ibu tangkai bunga yang tebal dan berdaging, beserta daun-daun tenda bunga yang
pada ujungnya berlekatan satu sama lain hingga merupakan kulit buah semu ini. Juga
234

buah lo (Ficus glomerata Roxb.) dan buah beringin (Ficus benjamina L.) adalah buah
semu majemuk yang terjadi dari dasar bunga bersama yang berbentuk seperti periuk
atau bulat dengan buah-buah yang sesungguhnya di sebelah dalamnya.

C. Penggolongan Buah Sungguh (Buah Sejati)


Sama halnya dengan buah semu, buah sejati pertama-tama dapat dibedakan lebih
dahulu dalam 3 golongan, yaitu:
1. buah sejati tunggal, yaitu buah sejati yang terjadi dari satu bunga dengan satu bakal
buah saja. Buah ini dapat berisi satu biji atau lebih, dapat pula tersusun dari satu atau
banyak daun buah dengan satu atau banyak ruangan. misalnya:
- buah mangga (Mangifera indica L.), mempunyai satu ruang dengan satu biji,
- buah pepaya (Carica papaya L.), yang terjadi dari beberapa daun buah dengan
satu ruang dan banyak biji,
- buah durian (Durio zibethinus Murr.), yang terdiri atas beberapa daun buah,
mempunyai beberapa ruang. dan dalam tiap ruangnya terdapat beberapa biji.
2. buah sejati ganda, yang terjadi dari satu bunga dengan beberapa bakal buah yang
bebas satu sama lain, dan masing-masing bakal buah menjadi satu buah, misalnya
pada cempaka (Michelia champaca Bail.),
3. buah sejati majemuk, yaitu buah yang berasal dari suatu bunga majemuk, yang
masing-masing bunganya mendukung satu bakal buah, tetapi setelah menjadi buah
tetap berkumpul sehingga seluruhnya tampak seperti satu buah saja, misalnya pada
pandan (Pandanus tectorius Sol.).

1. Buah Sejati Tunggal


Buah sejati tunggal dapat dibedakan lagi dalam dua golongan, yaitu:
a. buah sejati tunggal yang kering (siccus), yaitu buah sejati tunggal yang bagian luarnya
keras dan mengayu seperti kulit yang kering, misalnya buah kacang tanah (Arachis
hypogaea L.), padi (Oryza sativa L.), dan lain-lain.
b. buah sejati tunggal yang berdaging (carnosus), yaitu jika dinding buahnya menjadi
tebal berdaging. Dinding buah (pericarpium) seringkali dengan jelas dapat dibedakan
dalam tiga lapisan, yaitu:
- kulit luar (exocarpium atau epicarpium), merupakan lapisan tipis, tetapi seringkali
kuat atau kaku seperti kulit, dengan permukaan yang licin,
- kulit tengah (mesocarpium), biasanya tebal berdaging atau berserabut, dan jika
lapisan ini dapat dimakan, maka lapisan inilah yang dinamakan daging buah
(sarcocarpium), misalnya pada mangga (Mangifera indica L.),
235

- kulit dalam (endocarpium), yang berbatasan dengan ruang yang mengandung


bijinya, seringkali cukup tebal dan keras, misalnya pada kenari (Canarium
commune L.) dan kelapa (Cocos nucifera L.) (Gambar 153).

Gambar 153. Dinding buah pada kelapa

a. Buah Sejati Tunggal Yang Kering


Buah sejati tunggal yang kering dapat dibedakan lagi dalam:
1) Buah sejati tunggal kering yang hanya mengandung satu biji, biasanya buah ini kalau
masak tidak pecah (indehiscens). Contoh-contoh dari golongan ini adalah:
a) buah padi (caryopsis), yang dinamakan buah padi yaitu buah berdinding tipis,
mengandung satu biji, dan kulit buah berlekatan dengan kulit biji, sedangkan kulit
biji ini kadang-kadang berlekatan pula dengan bijinya. Pada buah yang demikian
ini seringkali tidak dibedakan buah dengan biji, misalnya buah padi (Oryza sativa
L.), jagung (Zea mays L.); sebutir gabah atau sebutir jagung yang sehari-hari
dinamakan biji sebenamya adalah buah.
b) buah kurung (achenium), yaitu buah berbiji satu, tidak pecah, dinding buahnya
tipis, berdampingan dengan kulit biji, tetapi tidak berlekatan, misalnya buah bunga
matahari (Helianthus annus L.), buah bunga pagi sore (Mirabilis jalapa L.).
c) buah keras (nux), seperti buah kurung, yang seringkali hanya dibedakan dari buah
kurung karena buah ini mempunyai kulit buah yang kaku atau keras berkayu. Ada
pula yang membedakan dengan buah kurung menurut sifat bakal buah asalnya,
kalau semula berasal dari bakal buah beruang satu disebut buah kurung, jika
semula berasal dari bakal buah yang beruang banyak tetapi kemudian semua
236

ruang lebur menjadi satu disebut buah keras, misalnya pada buah sarangan
(Castanea argentea BL.).
d) buah keras bersayap (samara), seperti buah keras, tetapi pada kulit buah terdapat
suatu alat tambahan berupa sayap, yang menyebabkan buah dapat beterbangan
jika tertiup angin, seperti pada warga suku Dipterocarpaceae (Gambar 154).

Gambar 154. Buah samara, Dipterocarpaceae

2) Buah sejati tunggal kering yang mengandung banyak (lebih dari satu) biji, dan jika
masak dapat pecah menjadi beberapa bagian buah (mericarpia), atau pecah
sedemikian rupa hingga biji terlepas (dapat meninggalkan buahnya).
a) buah berbelah (schiwcarpium). Buah ini mempunyai dua ruang atau lebih, tiap
ruang berisi satu biji. Jika buah masak, buah pecah menjadi beberapa bagian, dan
tiap bagian buah (mericarpium) mempunyai sifat seperti suatu buah kurung
(achenium) atau buah keras (nux), jadi biji tetap di dalam ruangan, tidak dapat
keluar. Mengingat jumlahnya ruangan (jika pecah menjadi beberapa bagian buah),
buah berbelah dapat dibedakan lagi dalam:
1. buah berbelah dua (diachenium), jika masak menjadi dua bagian buah,
masing-masing bersifat sebagai suatu buah kurung yang hanya mengandung
satu biji di dalamnya, misalnya buah pegangan (Centella asiatica Urb.),
2. buah berbelah tiga (triachenium), jika masak pecah menjadi tiga bagian buah,
misalnya pada Trapaeolum majus L.,
3. buah berbelah empat (tetrachenium), seperti di atas, kalau masak pecah
menjadi empat bagian buah, misalnya buah selasih (Ocimum basillcum L.),
237

4. buah berbelah banyak (polyachenium), jika masak pecah menjadi sejumlah


(banyak) bagian buah, yang masing-masing bersifat seperti buah kurung
(Gambar 155).

Gambar 155. Buah berbelah: (a, b) berbelah dua, (c, d) berbelah empat,
(e) dan berbelah banyak

b) buah kendaga (rhegma). Buah ini mempunyai sifat seperti buah berbelah, tetapi
tiap bagian buah kemudian pecah lagi sehingga dengan itu biji dapat terlepas dari
biliknya. Tiap bagian buah terbentuk dari sehelai daun buah, jadi buah ini tersusun
atas sejumlah daun buah yang sesuai dengan jumlah ruangan (kendaga) yang
terdapat dalam buah itu.
Menurut jumlah kendaganya buah ini dapat dibedakan lagi dalam:
1. buah berkendaga dua (dicoccus). Buah ini jika masak pecah menjadi dua
bagian buah, masing-masing pecah lagi dan mengeluarkan satu biji.
2. buah berkendaga tiga (tricoccus), kalau masak pecah menjadi tiga bagian,
masing-masing pecah dan mengeluarkan satu biji, misalnya buah jarak
(Ricinus communis L.) dan buah para (Hevea brasiliensis Muell.) (Gambar
156).
3. buah berkendaga lima (pentacoccus), seperti di atas dengan lima bagian buah,
masing-masing dengan satu biji, misalnya buah Geranium.
4. buah berkendaga banyak (polycoccus), jika buah mempunyai sifat-sifat seperti
di atas, tetapi jika masak dapat menjadi beberapa bagian buah, masing-
masing dengan satu biji yang dapat dikeluarkan.

Gambar 156. Buah para (Hevea brasiliensis)


238

c) buah kotak, yaitu suatu buah kering sejati tunggal yang mengandung banyak biji,
terdiri atas satu atau beberapa daun buah, jika masak lalu pecah, tetapi kulit buah
yang pecah itu sampai lama melekat pada tangkai buah. Buah kotak dapat
dibedakan dalam:
1. buah bumbung (folliculus), buah ini tersusun atas sehelai daun buah,
mempunyai satu ruangan dengan banyak biji di dalamnya, jarang sekali hanya
mempunyai satu biji. Jika sudah masak, buah pecah menurut salah satu
kampuhnya, biasanya pecah menurut kampuh perutnya, misalnya buah biduri
(Calotropis gigantea Dryand.) dan bunga sari cina (Catharanthus roseus
G.Don).
2. buah polong (legumen), buah ini terbentuk dari satu daun buah pula dan
mempunyai satu ruangan atau lebih (karena adanya sekat-sekat semu). Jika
sudah masak, buah ini pecah menurut kedua kampuhnya (kampuh perut dan
kampuh punggung), atau terputus-putus sepanjang sekat-sekat semuanya.
Buah yang demikian ini terdapat pada semua jenis tumbuhan yang tergolong
suku: Papilionaceae, misalnya: orok-orok (Crotalaria sp.), Caesalpiniaceae,
misalnya: kembang merak (Caesalpinia pulcherrima Swartz.), dan
Mimosaceae, misalnya pohon ki hujan (Samania saman Merr.). Begitu
karakteristik buah ini untuk ketiga suku ini hingga ketiga-tiganya ada pula yang
menyatukan menjadi satu suku besar dengan nama tumbuhan berbuah polong
(Leguminosae) .
Selain adanya sekat-sekat semu, yang menyebabkan ruang buah polong itu
terbagi menjadi beberapa bilik, masing-masing dengan satu biji, ada pula buah
polong yang sifatnya menyimpang dari kedua tipe tersebut di atas, yaitu:
- buah masak di dalam tanah, dan jika masak tidak pecah misalnya pada
kacang tanah (Arachis hypogaea L.) dan kacang bogor (Voandzeia
subterranea (L.) Thouars.).
- buah mempunyai kulit yang berdaging, dan jika masak juga tidak pecah,
misalnya buah asam (Tamarindus indica L.), nam-nam (Cynometra
cauliflora L.).
- buah mempunyai susunan seperti buah batu dengan tiga lapisan kulit
buah, hanya mempunyai satu ruang dan satu biji, jika masak juga tidak
pecah, misalnya pada pohon gayam (Inocarpus edulis Forst).
3. buah lobak atau polong semu (siliqua) (Gambar 157). Buah ini tersusun atas
dua daun buah, mempunyai satu ruangan dengan dua tembuni pada
perlekatan daun buahnya. Buah ini membentuk sekat semu sehingga kedua
tembuni pada perlekatan daun buah terpisah oleh sekat semu tadi, dan oleh
239

sekat semu itu buah lalu terbagi menjadi dua ruangan, masing-masing dengan
dua tembuni sudah masak, buah ini pecah menurut kedua kampuhnya, tetapi
tidak seperti buah polong yang pecahnya mulai dari ujung buah, melainkan
dari pangkal buah dan tetap berlekatan di bagian ujungnya. Biji agak lama
menempel pada kedua sisi sekat semua tadi, tetapi akhirnya akan runtuh pula.
Buah dengan susunan demikian ini umum terdapat pada warga suku
Cruciferae (Brassicaceae), misalnya lobak (Raphanus sativus L.), sawi
(Brassica juncea Coss.), dan lain-lain. Jika perbandingan lebar/panjang buah
kurang dari 3, maka didapati buah lobak yang buntek atau pendek (silicula).

Gambar 157. Buah lobak

4. buah kotak sejati (capsula). Buah ini terjadi dari dua daun buah atau lebih, dan
mempunyai ruangan yang jumlahnya sesuai dengan banyaknya daun buah.
Buah ini jika sudah masak juga membuka, hingga biji yang ada di dalamnya
dapat keluar.
Cara membuka buah ini bermacam-macam:
a. dengan katup-katup atau kelep (valva). Daun buah mulai lepas dari ujung
buah, tetapi di pangkal tetap berlekatan. Pecahnya buah ini dapat:
- membelah ruangan (loculicidus), hingga biji langsung dapat keluar
(katup-katup di tengah daun buah),
- membelah sekat-sekat (septicidus), jadi katup-katupnya sesuai dengan
lipatan daun buahnya.
Buah yang pecah dengan membelah ruangan buah, misalnya buah durian
(Durio zibethinus Murr.), sedangkan yang membelah sepanjang sekat
contohnya ialah buah kesumba (Bixa orellana L.).
b. dengan retak-retak atau celah-celah (rima), buah pecah menurut bagian
tengah katup-katup, pada ujung dan pangkal buah tetap berlekatan,
misalnya pada buah anggrek (Orchidaceae).
240

c. dengan gigi-gigi (dens), jika buah pecah hanya sepanjang bagian ujung
katup-katup saja, misalnya buah anyelir (Dianthus caryophyllus L.).
d. dengan liang (porus). Kalau sudah masak buah membuka dengan liang-
liang pada ujung atau pangkalnya, misalnya buah tanaman apyun
(Papaver somniferum L.).
e. dengan tutup (operculum). Pada ujung buah terdapat bagian yang
merupakan tutup, yang membuka jika buah sudah masak, misalnya buah
krokot (Portulaca oleracea L.).

b. Buah Sejati Tunggal Yang Berdaging


Buah yang termasuk golongan ini umumnya tidak pecah jika sudah masak,
walaupun ada pula yang jika telah masak kemudian pecah, misalnya buah pala (Myristica
fragrans Houtt.). Buah sejati tunggal yang berdaging terdiri atas:
1) buah buni (bacca), yaitu buah yang dindingnya mempunyai dua lapisan: lapisan luar
yang tipis agak menjangat atau kaku seperti kulit (belulang) dan lapisan dalam yang
tebal, lunak, dan berair, seringkali dapat dimakan. Biji-bijinya terdapat bebas dalam
bagian yang lunak itu. Buah buni dapat terjadi dari satu atau beberapa daun buah
dengan satu atau beberapa ruang.
- buah buni yang berdinding tebal dan dapat dimakan misalnya buah pepaya
(Carica papaya L.), buah belimbing (Averrhoa carambola L.), sawo manila (Achras
zapota L.) (Gambar 158a), dan lain-lain,
- yang kulit buahnya tidak begitu tebal, seringkali mempunyai sifat yang agak kaku
seperti kulit, tidak lunak dan tidak berdaging, biji terdapat bebas di dalamnya,
misalnya buah duku (Lansium domesticum Corr.) (Gambar 158b), buah rambutan
(Nephelium lappaceum L.). Dari buah ini yang dapat dimakan bukan kulit buah
yang sebelah dalam, melainkan salut bijinya (arillus).

Gambar 158. Buah: (a) sawo dan (b) duku


241

2) buah mentimun (pepo). Buah ini ditinjau dari sudut susunannya tidak jauh berbeda
dengan buah buni. Biasanya kulit buah yang di bagian luar lebih tebal dan lebih kaku,
ruangan buah selain berisi biji-biji dalam jumlah yang besar masih mempunyai bagian
yang kosong (Gambar 159a).
Buah ini terjadi dari tiga daun buah yang tepinya melipat ke dalam dan merupakan
sekat-sekat sejati, tetapi ujung daun-daun buah itu melipat lagi ke arah dinding buah
sehingga ruang-ruang yang telah terjadi dari tengah-tengah buah terbagi lagi oleh
sekat-sekat yang tidak sempurna. Dengan demikian buah mentimun pada mulanya
mempunyai tiga ruangan, yang masing-masing terbagi dua lagi oleh sekat yang tidak
sempurna. Jika buah telah masak sekat-sekat lenyap, hingga buah hanya mempunyai
satu ruangan saja dengan rongga yang kosong di tengahnya.
Buah mentimun didapati pada jenis-jenis tumbuhan yang tergolong suku
Cucurbitaceae, misalnya mentimun sendiri (Cucumis sativus L.), waluh (Cucurbita
moschata Duch.), semangka (Citrullus vulgaris Schrad.), juga pada tumbuhan yang
tergolong dalam suku Passifloraceae, misalnya markisa (Passiflora quadrangularis
L.), buah negri (Passiflora edulis Sims.), dan lain-lain.
3) buah jeruk (hesperidium) (Gambar 159b). Buah ini dapat pula dianggap sebagai suatu
variasi buah buni. Kulit buah mempunyai tiga lapisan, yaitu:
- lapisan luar yang kaku menjangat dan mengandung banyak kelenjar minyak astiri,
yang mula-mula berwarna hijau, tetapi jika buah masak warnanya berubah
menjadi kuning atau jingga. Lapisan ini disebut flavedo,
- lapisan tengah yang bersifat seperti spon, terdiri atas jaringan bunga karang yang
biasanya berwarna putih, dinamakan albedo,
- lapisan dalam yang bersekat-sekat, hingga terbentuk beberapa ruangan. Dalam
ruangan-ruangan ini terdapat gelembung-gelembung yang berair, dan bijinya
terdapat bebas, di antara gelembung-gelembung ini.
Buah jeruk didapati pada semua anggota marga jeruk (Citrus sp.), misalnya jeruk
besar (Citrus maxima Merr.), jeruk keprok (Citrus nobilis Lour.), jeruk nipis (Citrus
aurantifolia Swingle), dan semua jeruk lainnya.

Gambar 159. Buah: (a) mentimun dan (b) jeruk


242

4) buah batu (drupa). Buah ini mempunyai kulit buah yang terdiri atas tiga lapisan kulit
yaitu:
- kulit luar (exocarpium atau epicarpium), yang tipis menjangat, biasanya licin
mengkilat,
- kulit tengah (mesocarpium), yang tebal berdaging atau berserabut, kalau
berdaging seringkali dapat dimakan,
- kulit dalam (endocarpium), yang cukup tebal, keras dan berkayu. Lapisan ini amat
kuat dan kadang-kadang amat keras seperti batu, karena adanya lapisan inilah
buah disebut buah batu.
Buah batu didapati, antara lain, pada pohon mangga (Mangifera indica L.) yang kulit
tengahnya tebal berdaging dan dapat dimakan, pada pohon kelapa (Cocos nucifera
L.) dan nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) yang mempunyai kulit tengah yang
berserabut, dan menyebabkan buah menjadi ringan, dapat terapung-apung, dan
dengan demikian dapat dipencarkan dengan perantaraan air.
5) buah delima (Gambar 160). Kulit buah yang merupakan lapisan luar kaku seperti kulit
atau hampir mengayu, lapisan dalamnya tipis dan licin. Buah ini mempunyai beberapa
ruang dengan biji-biji yang mempunyai salut biji (arillus) bebas dalam ruang-ruang
tadi, misalnya pada delima (Punica granatum L.).
6) buah apel (pomum), seperti buah batu dengan kulit dalam yang tipis, tetapi cukup
kuat, seperti kulit, kulit tengah tebal, lunak, berair, biasanya dapat dimakan (Gambar
161). Buah ini mempunyai beberapa ruangan, tiap ruang mengandung satu biji. Buah
yang demikian terdapat pada pohon apel (Pyrus malus L.), pohon pir (Pyrus
communis L.).

Gambar 160. Buah delima

Gambar 161. Buah apel


243

2. Buah Sejati Ganda


Buah sejati ganda adalah buah yang terjadi atas satu bunga dengan banyak bakal
buah yang masing-masing bebas, dan kemudian tumbuh menjadi buah sejati, tetapi
kesemuanya tetap berkumpul pada satu tangkai Menurut sifat masing-masing buah yang
berkumpul tadi, buah sejati ganda dapat dibedakan dalam:
a. buah kurung ganda, misalnya pada mawar (Rosa hybrida Hort.). Dalam badan yang
berasal dari dasar bunganya yang berbentuk periuk terdapat banyak buah-buah
kurung,
b. buah batu ganda. Pada jenis-jenis rubus (Rubus fraxinifolius Poir.), bunganya
mempunyai banyak bakal buah, yang kemudian masing-masing tumbuh menjadi buah
batu,
c. buah bumbung ganda, berasal dari bunga dengan beberapa bakal buah yang masing-
masing tumbuh menjadi buah bumbung, misalnya pada pohon cempaka (Michelia
champaka L.),
d. buah buni ganda, seperti di atas, tetapi bakal buah berubah menjadi buah buni,
misalnya srikaya (Annona squamosa L.).

3. Buah Sejati Majemuk


Buah sejati majemuk berasal dari suatu bunga majemuk, jadi merupakan
kumpulan banyak buah, yang masing-masing berasal dari satu bunga. Kadang-kadang
buah majemuk nampaknya seperti satu buah saja. Buah sejati ganda dapat dibedakan:
a. buah buni majemuk, jika bakal buah masing-masing bunga dalam bunga majemuk
membentuk suatu buah buni, seperti terdapat misalnya pada nenas (Ananas comosus
Merr.) (Gambar 162). Pada buah nenas pada pembentukan buah ikut pula mengambil
bagian daun-daun pelindung dan daun-daun tenda bunga sehingga keseluruhannya
nampak sebagai satu buah saja.

Gambar 162. Buah nenas


244

b. buah batu majemuk, misalnya terdapat pada pandan (Pandanus tectorius Sol.). Pada
pandan rangkaian bunga betinanya setelah mengalami penyerbukan/pembuahan,
berubah menjadi buah batu majemuk, yang masih kelihatan sebelah luarnya, bahwa
kelompokan buah itu adalah kumpulan banyak buah. Masing-masing mempunyai kulit
buah dengan tiga lapisan seperti buah kelapa, yaitu dengan lapisan tengah yang
berserabut, hingga dapat terapung dan dapat dipencarkan oleh air.
c. buah kurung majemuk, terdapat misalnya pada bunga matahari (Helianthus annuus
L.). Bunga tumbuhan ini merupakan bunga majemuk yang terdiri atas bunga-bunga
mandul di tepi dan bunga yang subur di tengah, dan karena tiap bunga yang subur itu
setelah penyerbukan/pembuahan berubah menjadi sebuah buah kurung, maka
seluruh bunga akan berubah menjadi suatu buah kurung majemuk.

III. PENUTUP
A. Tugas dan Latihan
Untuk memantapkan pemahaman Anda tentang penggolongan buah, Anda perlu
mengerjakan tugas-tugas di bawah ini dan mendiskusikannya dengan kawan-kawan
Anda!
1. Jelaskan pengertian buah sejati dan buah semu.
2. Jelaskan penggolongan buah sejati dan buah semu.
3. Berikan contoh penggolongan masing-masing buah tersebut.
Petunjuk Jawaban: Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Anda harus
memperhatikan rambu-rambu berikut:
1. Buatlah kelompok belajar dan diskusikan pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan
kawan-kawan Anda.
2. Lakukan penelusuran literatur mengenai penggolongan buah melalui sumber
bacaan dan internet.

B. Tes Formatif/Evaluasi Kegiatan Pembelajaran


Lingkari huruf di depan jawaban yang paling benar dari setiap soal di bawah ini!
1. Contoh buah semu ganda adalah.............
A. Buah jambu monyet
B. Buah ciplukan
C. Buah arbe
D. Buah nangka
2. Buah yang berdinding tipis, mengandung satu biji, dan kulit buah berlekatan
dengan kulit biji, serta kulit biji berlekatan pula dengan bijinya disebut.............
245

A. Buah padi
B. Buah kurung
C. Buah keras
D. Buah samara
3. Buah yang terbentuk dari satu daun buah dan mempunyai satu ruangan atau
lebih, jika sudah masak pecah menurut kedua kampuhnya atau terputus-putus
sepanjang sekat-sekat semuanya disebut.............
A. Buah bumbung
B. Buah polong
C. Buah lobak
D. Buah kotak
2. Contoh buah buni adalah.............
A. Waluh
B. Jeruk
C. Mangga
D. Belimbing
3. Buah batu dengan kulit dalam yang tipis, tetapi cukup kuat, seperti kulit, kulit
tengah tebal, lunak, berair, biasanya dapat dimakan disebut.............
A. Buah apel
B. Buah delima
C. Buah batu
D. Buah jeruk

C. Kunci Jawaban
1. C
2. A
3. B
4. D
5. A

D. Sumber/Referensi
1. Nugroho H, Purnomo, I. Sumardi. 2006. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan.
Jakarta: Penebar Swadaya.
2. Rosanti D. 2013. Morfologi Tumbuhan. Jakarta: Penerbit Erlangga.
3. Tjitrosoepomo G. 2007. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.