Anda di halaman 1dari 31

TUGAS KELOMPOK

MAKALAH SISTEM INFORMASI AKUNTANSI PEMERINTAH

“MANAJEMEN PEMBAYARAN
DALAM KERANGKA SPAN DAN SAKTI”

DISUSUN OLEH
KELOMPOK III dengan anggota:

Nama No. Urut


No NPM Paraf
Mahasiswa Daftar Hadir
1 Deka Hargia Basuki 1401170084 5
2 Gunis Isnaeni 1401170103 11
3 Tegar Putra Wijayanto 1401170175 28
4 Tosan Yanuar Rachmadi 1401170178 29

KELAS 9-2
D-IV AKUNTANSI ALIH PROGRAM
POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN
OKTOBER 2018

1
BAB 1
PENDAHULUAN

Terbitnya 3 (tiga) paket Undang - Undang di bidang keuangan negara, yaitu Undang-
Undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara (UU Keuangan Negara), Undang-
Undang Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (UU Perbendaharaan Negara)
dan Undang-Undang Nomor 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung
Jawab Keuangan Negara, menandai lahirnya Reformasi Keuangan Negara. Secara garis
besar 3 (tiga) UU tersebut telah memberikan landasan yang kokoh dalam pengelolaan
keuangan negara . Adapun salah satu ketentuan pokok dalam paket undang-undang tersebut
adalah terkait kedudukan Menteri Keuangan dan Menteri/ Pimpinan Lembaga dalam
pengelolaan keuangan negara. Pada hakekatnya Menteri Keuangan bertindak sebagai Chief
Financial Officer (CFO) sedangkan setiap Menteri / Pimpinan Lembaga bertindak sebagai
Chief Operational Officer (COO). Sejalan dengan pemisahan tersebut, dalam pelaksanaan
anggaran terdapat pemisahan yang tegas antara pemegang kewenangan kebendaharaan
atau CFO yaitu Menteri Keuangan dan pemegang kewenangan administratif atau COO yaitu
Menteri/ Pimpinan Lembaga.
Menteri Keuangan selaku Chief Financial Officer (CFO) memiliki kewenangan dalam
pengelolaan fiskal dan Wakil Pemerintah dalam kepemilikan kekayaan negara yang
dipisahkan. Adapun dalam pasal 7 UU 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara diatur bahwa
Menteri Keuangan sebagai pengelola fiskal memiliki kewenangan antara lain melaksanakan
fungsi bendahara umum negara. Selanjutnya fungsi Menteri Keuangan selaku Bendahara
Umum Negara (BUN) tersebut diatur lebih lanjut melalui UU 1 tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara. Dalam Pasal 7 UU Perbendaharaan Negara diatur bahwa Menteri
Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN) berwenang antara lain untuk
mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran, melakukan pengendalian pelaksanaan
anggaran negara, menetapkan sistem penerimaan dan pengeluaran kas negara,
mengusahakan dan mengatur dana yang diperlukan dalam pelaksanaan anggaran negara,
melakukan pembayaran berdasarkan permintaan pejabat Pengguna Anggaran atas beban
Rekening Kas Umum Negara dan menetapkan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan
negara.
Untuk menjalankan kewenangannya sebagai BUN secara optimal, Menteri Keuangan
memerlukan suatu sistem yang memadai, antara lain suatu sistem yang mampu mewujudkan
disiplin anggaran. Disiplin anggaran terwujud ketika BUN mampu mengontrol realisasi
anggaran dengan alokasi dana secara optimal sehingga tercipta keseimbangan antara
pengeluaran dan pendapatan. Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, salah satu mekanisme
kontrol yang diperlukan oleh BUN adalah mekanisme kontrol yang terhadap pengeluaran-
pengeluaran yang akan terjadi di masa depan. Hal tersebut diperlukan untuk mengetahui
kebutuhan pendanaan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, sehingga BUN
selanjutnya dapat melakukan pengelolaan anggaran secara optimal. Salah satu mekanisme
kontrol yang diharapkan mampu digunakan BUN dan Pengguna Anggaran untuk mencapai
optimalisasi pengelolaan terhadap pengeluaran tersebut adalah manajemen pembayaran.
Manajemen pembayaran erat kaitannya dengan aktivitas pengawasan terhadap
pelaksanaan anggaran. Secara umum siklus pelaksanaan anggaran meliputi (i) otorisasi atas
pagu anggaran kepada Satker (ii) pembuatan komitmen/ perikatan (iii) perolehan dan
verifikasi barang dan jasa (iv) penerbitan perintah membayar (SPM/ payment order), dan (v)
pembayaran (SP2D oleh KPPN) (World Bank, 2007; Potter & Diamond, 1999). Manajemen
pembayaran dalam siklus ini utamanya berperan dalam rangka menjamin bahwa dana yang

2
dibayarkan digunakan oleh pihak yang berhak dan sesuai dengan tujuan yang telah disetujui
oleh parlemen dalam APBN. Peran krusial lain dari manajemen pembayaran adalah untuk
melakukan kontrol atas kebutuhan pengeluaran yang akan terjadi di masa depan, namun
demikian kondisi sebelum e-government belum dapat mengakomodir peran yang satu ini.
Pemerintah melalui Instruksi Presiden Republik Nomor 3 Tahun 2003 telah
melaksanakan proses transformasi menuju e-government. Untuk mewujudkan
terbentuknya e-government di lingkup Kementerian Keuangan dan memungkinkan
tercapainya profesionalitas dan kualitas pengelolaan keuangan negara, maka pemerintah
melaksanakan sebuah Proyek Penyempurnaan Manajemen Keuangan dan Administrasi
Penerimaan Pemerintah yang dikenal dengan nama Government Financial Management and
Revenue Administration Project (GFMRAP). Salah satu agenda GFMRAP dalam bidang
Manajemen Keuangan Publik adalah modernisasi sistem anggaran dan perbendaharaan.
Modernisasi sistem anggaran dan perbendaharaan berbasis IT yang saat ini telah dan
sedang dikembangkan oleh Ditjen Perbendaharaan adalah pembangunan sistem informasi
untuk melakukan integrasi seluruh sistem yang ada mulai dari sistem perencanaan,
pelaksanaan sampai dengan pertanggungjawaban APBN, baik dari sisi Kementerian
Keuangan sebagai BUN (Bendahara Umum Negara) maupun dari sisi satuan kerja sebagai
entitas pengelola dana APBN.
Proses tersebut dilaksanakan secara bertahap. Tahap awal adalah dengan
melaksanakan modernisasi Sistem IT dari sisi Kementerian Keuangan, yaitu otomatisasi,
yang mendukung penelusuran jejak audit untuk meningkatkan transparansi dalam
manajemen keuangan Negara. Tahapan itu telah dimulai dengan diimplementasikannya
SPAN (Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara) pada tahun 2015. Tahap berikutnya
adalah modernisasi dan integrasi sistem IT untuk satuan kerja pengelola dana APBN yaitu
dengan adanya SAKTI (Sistem Akuntansi Keuangan Tingkat Instansi).
Aplikasi SAKTI memberi harapan yang lebih baik pada sisi pengawasan dan
monitoring terhadap transaksi maupun tingkat kepatuhan yang dilakukan satuan kerja.
Beberapa pihak seperti Unit Eselon I maupun Kementerian/Lembaga dari masing-masing
satuan kerja, KPPN/Kementerian Keuangan serta pihak auditor akan semakin mudah dalam
memperoleh data ataupun informasi secara akurat dan cepat serta dapat meminimalisir
tingkat kesalahan manusia (human error) yang selama ini sering terjadi. Aplikasi SAKTI juga
diharapkan untuk mempermudah proses pelaksanakan dan pertanggungjawaban dana APBN
yang dikelolanya dengan hanya menggunakan 1 (satu) aplikasi yang terintegrasi, yang mana
sebelumnya satuan kerja harus menggunakan berbagai macam aplikasi yang berbeda.
Dalam lingkup manajemen pembayaran tersendiri, SPAN dan SAKTI memberikan
improvement yang cukup berarti. Improvement yang diciptakan antara lain meliputi
pemrosesan bisnis pembayaran yang lebih handal dan minim kesalahan, proses bisnis
pembayaran yang dapat dipantau setiap saat dibutuhkan dengan penggunaan single
database, dan penggunaan single aplikasi yang terintegrasi mencakup seluruh proses
pelaksanaan anggaran. Improvement selanjutnya adalah memberikan kemudahan bagi BUN
untuk mengetahui kebutuhan pendanaan di masa depan, mengingat dengan adanya SPAN
dan SAKTI interaksi antara Pengguna Anggaran dan BUN menjadi lebih komprehensif, proses
bisnis pembayaran dimulai dari penyampaian resume tagihan.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, tim tertarik untuk melakukan pembahasan lebih
mendalam mengenai manajemen pembayaran dalam kerangka SPAN dan SAKTI. Informasi
yang relevan dikumpulkan dari literatur dan beberapa pihak yang terlibat dalam proses bisnis
pembayaran, yang selanjutnya dirangkum dalam makalah ini dengan judul “Manajemen
Pembayaran dalam Kerangka SPAN dan SAKTI”.

3
BAB 2
TINJAUAN LITERATUR

2.1. Definisi

Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN) adalah sistem terintegrasi


seluruh proses yang terkait dengan pengelolaan anggaran yang meliputi penyusunan
anggaran, manajemen dokumen anggaran, manajemen komitmen pengadaan barang dan
jasa, manajemen pembayaran, manajemen penerimaan negara, manajemen kas, dan
pelaporan. Pelaksanaan SPAN diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor
154/PMK.05/2014 tentang Pelaksanaan Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara.
Peraturan Menteri tersebut mencabut berlakunya Peraturan Menteri Keuangan Nomor
154/PMK.05/2013 tentang Pelaksanaan Piloting Sistem Perbendaharaan dan Anggaran.
Dalam rangka memberikan layanan informasi yang cepat, akurat, terinci, dan
terintegrasi mengenai implementasi SPAN, Ditjen Perbendaharaan meluncurkan sebuah
aplikasi yang dinamakan Aplikasi Online Monitoring Sistem Perbendaharaan dan Anggaran
Negara (OM-SPAN). Aplikasi OM-SPAN merupakan aplikasi yang digunakan dalam rangka
memantau transaksi dalam SPAN dan menyajikan informasi sesuai kebutuhan yang diakses
melalui jaringan berbasis web. Basis data yang digunakan dalam aplikasi OM-SPAN diambil
dari aplikasi SPAN utama (core SPAN). Pengambilan data tidak dilakukan secara realtime,
namun dengan jeda waktu tertentu.
Sistem Aplikasi Keuangan Tingkat Instansi (SAKTI) adalah aplikasi yang dibangun
guna mendukung pelaksanaan SPAN pada tingkat Instansi dalam hal pengelolaan anggaran,
komitmen, pembayaran, bendahara, persediaan, aset tetap, general ledger, dan pelaporan,
dengan memanfaatkan sumber daya dan teknologi informasi. SAKTI merupakan gabungan
dari beberapa aplikasi yang telah digunakan pada tingkat satuan kerja (satker) sebelumnya.
Selain menggabungkan beberapa aplikasi yang dahulunya terpisah-pisah juga mengadopsi
proses bisnis yang baru sesuai dengan proses bisnis yang dianut oleh SPAN.
SAKTI akan digunakan oleh satker yang tersebar di seluruh Indonesia, yang memiliki
karakteristik yang beragam, mulai dari yang memiliki fasilitas infrastruktur yang sangat
lengkap sampai dengan fasilitas infrastruktur yang sangat minim. SAKTI merupakan
gabungan beberapa aplikasi yang akan digunakan oleh mereka yang memiliki fungsi
perbendaharaan di Satuan Kerja, seperti Kuasa Pengguna Anggaran, Pejabat Pembuat
Komitmen, dan Pejabat Penanda Tangan SPM, serta Bendahara dengan didasarkan pada
peran dan tupoksi masing-masing, sehingga akses terhadap aplikasi SAKTI akan diberikan
untuk mereka yang menjalankan fungsi perbendaharaan yang berbeda-beda tersebut. SAKTI
memfasilitasi kewajiban penyusunan laporan keuangan di tingkat satker sebagai entitas
akuntansi, yaitu unit pemerintah Pengguna Anggaran atau Pengguna Barang yang
berkewajiban untuk menyelenggarakan kegiatan akuntansi dan menyusun laporan keuangan
untuk digabungkan pada entitas pelaporan.
Menurut Pasal 1 angka 12 Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
223/PMK.05/2015 tentang Pelaksanaan Piloting Sistem Aplikasi Keuangan Tingkat Instansi,
Modul Pembayaran adalah implementasi sistem pembayaran yang memuat proses bisnis
pembayaran yang diajukan oleh Satuan Kerja untuk mencairkan/membayar sejumlah dana
dari Rekening Pengeluaran Pemerintah kepada pihak yang berhak rrielalui proses penerbitan
Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) .

4
2.2. Tinjauan Literatur

Dalam Treasury Diagnostic Toolkit (Hasim & Moon, 2004), terdapat 2 (dua) model
terkait dalam Pencairan Anggaran, yaitu: (1) sentralisasi manajemen pembayaran dan (2)
desentralisasi manajemen pembayaran. Sentralisasi pembayaran melalui Treasury
memungkinkan dilakukannya pengecekan oleh Treasury untuk memastikan bahwa
pembayaran yang dilakukan telah sesuai dengan alokasi anggaran (budget appropriations).
Konsolidasi rekening Satker ke dalam TSA di bawah kendali treasury, memungkinkan
manajemen kas yang efisien dan menghindarkan suatu situasi dimana di satu sisi terdapat
banyak idle cash di rekening Satker dan di sisi lain rekening BUN mengalami defisit.
Struktur organisasi yang diperlukan dalam rangka sentralisasi pelaksanaan pencairan
anggaran terdiri dari main treasury office di kantor pusat, second tier treasury offices di tingkat
propinsi dan (kemungkinan) third tier offices yang berada di setiap kabupaten/district. K/L
memproses transaksi pembayaran mereka di central level treasury office, sedangkan Satker
memproses transaksi pembayarannya di kantor treasury propinsi/kabupaten terdekat. Satker
mengirimkan transaksi pengeluarann kepada kantor treasury terdekat untuk pemrosesan
pembayarannya. Treasury akan mengirimkan transaksi pengeluaran yang telah disetujui
kepada kantor cabang Central Bank terdekat dimana TSA berada, untuk melakukan
pembayaran kepada vendor. Berikut ini dalam Gambar 1 menunjukkan skema yang
menjelaskan sentralisasi proses pembayaran untuk mempermudah pemahaman.

Gambar 1. Sentralisasi Proses Pembayaran

Sumber: Treasury Diagnostic Toolkit

Dalam kasus dimana telah terdapat kerangka hukum untuk pelaksanaan anggaran
(budget execution) dan berfungsi secara efisien, model alternatif pencairan anggaran harus
digunakan. Di beberapa negara, K/L dan Satker bertanggung jawab secara langsung untuk
melakukan pembayaran melalui TSA. TSA masih berada di Bank Sentral, dan Bank Sentral
akan bertanggung jawab terhadap bank-bank komersial dalam kaitannya dengan

5
pembayaran dan penerimaan pemerintah. Menteri Keuangan harus memastikan bahwa
terdapat mekanisme pengendalian yang memadai sebelum K/L/Satker melakukan
pembayaran. Pengendalian tersebut dapat dilakukan oleh central treasury. Bank yang
mengelola juga dapat diperintahkan untuk melaksanakan mekanisme pengendalian terhadap
batasan pengeluaran secara keseluruhan yang dilakukan oleh K/L/Satker. Dalam model ini,
Satker dan K/L di atasnya memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga rekening
mereka dan rekening pemerintah secara umum. Berikut ini dalam Gambar 2 menunjukkan
skema yang menjelaskan desentralisasi proses pembayaran untuk mempermudah
pemahaman.

Gambar 2. Desentralisasi Proses Pembayaran

Sumber: Treasury Diagnostic Toolkit

2.3. International Practices

Manajemen pembayaran, baik yang dilakukan secara sentralisasi maupun


desentralisasi masing-masing mempunyai kelebihan dan karakteristik tersendiri. Beberapa
negara menggunakan skema pembayaran sentralisasi dan beberapa lainnya menggunakan
skema desentralisasi, bahkan ada pula yang menggunakan skema pembayaran yang
merupakan kombinasi antara skema pembayaran sentralisasi dan desentralisasi.

2.3.1. Pola dan Institutional Arrangement dalam Manajemen Pembayaran

2.3.1.1. Manajemen Pembayaran dalam Sistem Francophone

Di dalam sistem francophone, pemisahan kewenangan dalam pengelolaan keuangan


negara merupakan hal yang sangat diperhatikan. Pemisahan wewenang antara ordonnateur
(authorizing officer) dan public accountant merupakan suatu hal yang sangat mendasar pada
sistem ini, pemisahan dilakukan karena hal tersebut menjadi kunci utama dalam
meminimalisasi terjadinya kesalahan dalam proses pembayaran.
Public accountant dalam sistem ini merupakan pihak yang berwenang untuk
melakukan pembayaran. Public accountant merupakan bagian dari Kementerian Keuangan

6
yang tidak bertanggungjawab kepada ordonnateur. Public accountant dapat menolak
permintaan pembayaran dari ordonnateur apabila tidak sesuai dengan peraturan dan
peruntukannya. Perintah pembayaran akan dicatat dalam buku akuntan dan ordonnateur,
serta akan direkonsiliasikan paling tidak pada akhir tahun anggaran.
Dalam skema pembayaran yang dianut Perancis, manajemen pembayaran dikelola
secara sentralisasi. Spending Unit (SU) atau Line Minister Head Office (LMHO) mengirimkan
permintaan pembayaran tersebut kepada Treasury, dan berdasarkan permintaan
pembayaran tersebut Treasury akan memerintahkan Bank Sentral untuk melakukan
pembayaran ke rekening pihak ketiga.

2.3.1.2. Manajemen Pembayaran di Inggris

Manajemen pembayaran yang dianut oleh Pemerintah Inggris adalah pola sentralisasi.
SU/LMHO mengirimkan permintaan pembayaran kepada Treasury, dan selanjutnya Treasury
akan memberikan perintah kepada Bank Sentral untuk mentransfer sejumlah dana sesuai
kebutuhan ke Bank Komersial yang ditunjuk sebagai Bank Operasional. Bank Operasional
inilah yang akan mentransfer dana kepada rekening pihak ketiga.

2.3.1.3. Manajemen Pembayaran di Australia

Australia merupakan salah satu negara yang menerapkan pola desentralisasi dalam
skema pembayarannya. SU/LMHO dapat melakukan perintah transfer secara langsung
kepada Bank Komersial yang telah diyunjuk menjadi Bank Operasional. Namun, SU/LMHO
tetap berkewajiban untuk mengirimkan permintaan kebutuhan dana ke Treasury sehingga
Treasury dapat mengisi dana di Bank Operasional melalui Bank Sentral.

2.3.1.4. Manajemen Pembayaran di Amerika Serikat

Pemerintah Amerika Serikat menerapkan pola sentralisasi dan desentralisasi dalam


mengelola manajemen pembayaran. Pola sentralisasi pembayaran dilakukan oleh Treasury
melalui Financial Management Service (FMS), terhadap data pengeluaran yang telah
dikirimkan oleh SU. Pola sentralisasi ini memegang 85% dari keseluruhan pembayaran yang
dilakukan pemerintah. Selain pola sentralisasi tersebut, pemerintah Amerika Serikat juga telah
melaksanakan sistem pembayarannya melalui skema desentralisasi dengan memberikan
otorisasi kepada SU untuk secara langsung melakukan pembayaran atas pengeluarannya.
Pola desentralisasi ini diterapkan pada SU tertentu yang memiliki sifat dan jenis pengeluaran
yang khusus, misalnya Departemen of Defense (DOD).

2.3.2. Channel yang Digunakan dalam melakukan Pembayaran

Seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi dan beragamnya fasilitas perbankan,


maka channel yang digunakan untuk melakukan pembayaran mempunyai banyak
alternatif pilihan dan harus disesuaikan dengan sifat dan jenis pembayaran yang akan
dilakukan. Selain itu, proses pembayaran harus dilakukan dengan mengutamakan
kecepatan, ketepatan, kemudahan, dan keamanan pada setiap transaksi pembayaran yang
dilakukan.
Sistem perbankan telah menyediakan beberapa fasilitas yang dapat dimanfaatkan
oleh pemerintah dalam melakukan proses pembayaran. Salah satu fasilitas tersebut adalah
melakukan pembayaran dengan penggunaan electronic fund transfer (EFT). Dalam Kamus
Komputer dan Teknologi Informasi (www.total.or.id), EFT didefinisikan sebagai sistem

7
pengiriman uang antar rekening pada sistem perbankan dengan menggunakan perangkat
elektronik atau komputer. Searchwinit.com (http://searchwinit.techtarget.com)
mendefinisikan EFT sebagai sistem pemindahan uang dari satu rekening bank ke rekening
bank yang lain secara langsung, tanpa menggunakan perpindahan tangan uang kertas
secara fisik. Transaksi diproses oleh bank melalui jaringan Automated Clearing House
(ACH), yaitu suatu sistem transfer yang aman, yang menghubungkan seluruh institusi
keuangan yang terdapat di dalamnya. Untuk pelaksanaan proses pembayaran, dana yang
ditransfer secara elektronik dari suatu rekening bank ke rekening yang lainnya dilakukan
kurang dari satu hari setelah tanggal pembayaran.
Jenis-jenis EFT yang dapat digunakan oleh pemerintah dalam melakukan
pembayaran antara lain:

a. Direct deposit
Direct deposit adalah salah satu pilihan transfer dana pada perbankan yang
memungkinkan untuk dilakukan transfer dana tanpa harus mengalami kerumitan yang terkait
dengan cek kertas. Direct deposit sangat umum digunakan untuk transfer dana di Amerika
Serikat. Bahkan berdasarkan penelitian, lebih dari 145 juta orang Amerika telah
menggunakan direct deposit secara teratur.
Inti dari cara pembayaran direct deposit adalah data pembayaran, mulai dari
penagihan oleh vendor/penerima sampai dengan pencairan dana, dilakukan melalui
data elektronik. Jenis pembayaran yang dapat dilakukan melalui direct deposit antara lain
gaji pegawai, tagihan vendor, biaya perjalanan, dan biaya-biaya lainnya.
Keuntungan dari direct deposit adalah menghilangkan check order, penyimpanan,
dan biaya pencetakan check; menghilangkan biaya kirim; menyediakan audit trail yang
lengkap; mengurangi paperwork; menghilangkan risiko kehilangan, kelupaan, dan kecurian
check; meningkatkan keamanan.

b. Vendor Express Program


Vendor Express Program adalah transfer uang dan informasi secara elektronik melalui
jaringan Automated Clearing House (ACH) untuk pembayaran dari Pemerintah kepada
pihak ketiga. Selain itu, program ini juga memiliki kemampuan untuk melakukan pertukaran
data elektronik dalam rangka menyediakan layanan pembayaran yang baik dan
menguntungkan bagi pemerintah maupun penerima pembayaran (pihak ketiga). Jenis
pembayaran ini ditujukan untuk kegiatan pemerintah yang didasarkan kontrak dengan
pihak ketiga, atau yang lebih kita kenal sebagai proses pengadaan barang dan jasa.
Prosesnya hampir sama dengan direct deposit, dimana proses transfer dana berjalan secara
paperless.

c. International Direct Deposit (IDD)


Cara pembayaran dengan International Direct Deposit hampir sama dengan
pembayaran menggunakan Direct Deposit. Perbedaannya adalah cara pembayaran ini
ditujukan untuk penerima/vendor yang memiliki rekening pada bank/institusi keuangan
asing/luar negeri. Cara pembayaran ini memerlukan proses konversi mata uang dalam negeri
ke mata uang asing yang diperlukan. Di Amerika, proses pengkonversian ini dilakukan oleh
Federal Reserve Bank.

8
d. Electronic Transfer Account (ETA)
Proses pembayaran melalui Electronic Transfer Account hampir sama dengan proses
direct deposit. ETA adalah suatu rekening yang dirancang oleh Treasury untuk memberikan
jaminan kepada penerima pembayaran pemerintah agar mendapatkan akses ke rekeningnya
dengan biaya yang wajar dan dengan perlindungan yang sama dengan rekening lainnya di
lembaga keuangan yang sama. ETA merupakan fitur perbankan dan penerapannya oleh bank
harus tunduk pada peraturan ETA yang dibuat oleh pemerintah.

e. Prime Pay
Prime pay adalah suatu sistem pembayaran yang memberikan pembayaran untuk
masing- masing supplier untuk memenuhi kebutuhan yang spesifik. Sebelum dilakukan
pembayaran prime pay ini, supplier dan Satker harus menyepakati syarat pembayaran.
Sebelum dilakukan pembayaran, Satker harus menyampaikan informasi kepada Treasury
bahwa supplier dapat menerima pembayaran prime pay.

f. Fedwire
Fedwire adalah salah satu fasilitas yang digunakan oleh pemerintah AS
dalam melakukan pembayaran. Fedwire di AS adalah sistem telekomunikasi yang
menghubungkan 12 Federal Reserve District Banks dan beberapa US depository institutions.
Fedwire didesain untuk dapat memberikan jaminan komuniaksi antar bank yang “sulit putus”
dalam melakukan proses pembayaran. Sulit terputus disini diartikan bahwa sistem akan
mencari jalan komunikasi yang paling efisien walaupun salah satu jaringannya terputus
sehingga transaksi tetap dapat terlaksana.

g. Goverment Credit Card


The General Services Administration (GSA) di AS mengeluarkan Smartpay program
yang bertujuan untuk menyediakan government credit card yang dapat digunakan untuk
untuk pembayaran perjalanan dinas, pembelian bahan bakar, dan pemeliharaan dari
kendaraan dinas, pesawat, perahu, dan peralatan lainnya. GSA mengadakan kontrak dengan
lima institusi terkait untuk mengeluarkan Mastercard atau Visa untuk pegawai tertentu. Kartu
kredit ini atas nama pegawai yang bersangkutan dan digunakan hanya untuk individual biaya
perjalanan dinas. Tagihan kartu kredit akan ditujukan kepada pegawai yang bersangkutan
dan akan diteruskan untuk dimintakan pembayarannya kepada federal agency.

h. Debit Card
Debit card merupakan kartu plastik yang menyediakan metode pembayaran alternatif
untuk melakukan pembelian secara tunai. Sesuai dengan fungsinya, debit card dapat disebut
cek elektronik, karena dengan menggunakan kartu ini dapat menarik dana langsung dari
rekening bank baik, atau dari sisa saldo pada kartu. Dalam beberapa kasus, kartu-kartu
tersebut dirancang khusus untuk digunakan di internet, sehingga tidak perlu adanya kartu
fisik.

i. Stored Value Card


Yang dimaksud dengan stored value card adalah sebuah kartu dengan chip yang
berisi data peruntukan dan limit dari kartu tersebut untuk pembayaran kegiatan pemerintah.
Kartu ini biasanya digunakan dalam pola desentralisai pembayaran. Contoh penggunaan
stored value card di AS, stored value card digunakan oleh Departement of Defense

9
(DOD). Cara pemakaian kartu ini mirip dengan memakai debit card, dimana merchant harus
terkoneksi dengan sistem kartu ini.

j. Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunications (SWIFT)


SWIFT adalah sistem telekomunikasi perbankan yang dapat digunakan di seluruh
dunia. SWIFT merupakan sebuah messaging system yang menangani data-data keuangan
ke lebih dari 7.000 lembaga keuangan di 192 negara di dunia.

Selain pembayaran melalui EFT, dalam proses pembayaran juga dikenal mekanisme
pembayaran melalui cash dan penerbitan check. Di AS, pembayaran melalui cash dan
penerbitan check dibedakan dalam tiga jenis, yaitu:

a. Imprest Fund
Imprest fund adalah dana yang dikelola SU untuk pengeluaran yang kecil dan tidak
dapat dilakukan melalui mekanisme lain, atau untuk pengeluaran yang bersifat darurat.

b. Third Party Drafts


Third party draft ini dikeluarkan oleh institusi selain dari pemerintah, umumnya
dikeluarkan oleh institusi keuangan dan digunakan untuk mengurangi impress fund.
Proses Third party draft yang dilaksanakan di AS adalah sebagai berikut: Federal agency
merekam data penerima dan mengeluarkan check kepada penerima; penerima akan
membawa check tersebut ke institusi keuangan penerima; Institusi keuangan tersebut akan
meneruskan kepada Federal Reserve Bank bahwa telah dimintakan pembayaran oleh
penerima; penerima pembayaran akan mengkomfirmasikan ke federal agency untuk
dimintakan pembayaran melalui FMS; setelah menerima data, FMS akan memerintahkan
reimburst Federal Reserve Bank ke institusi keuangan penerima.

c. Treasury Checks
Treasury checks merupakan checks yang diterbitkan oleh Treasury dan dikirimkan
kepada penerima checks untuk diuangkan di institusi keuangan sesuai dengan yang
tertera di dalam checks.

10
BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Sekilas mengenai SPAN dan Modul Pembayaran

Modul Pembayaran adalah modul yang memproses Resume Tagihan (SPP) dan Surat
Perintah Membayar (SPM) untuk diajukan ke KPPN dalam rangka pelaksanaan pencairan
dana APBN. Modul pembayaran melibatkan dua sistem, yaitu SAKTI dan SPAN. SAKTI
digunakan di level satker. Namun, SAKTI belum digunakan secara menyeluruh di seluruh
satker. Beberapa satker dipilih sebagai piloting aplikasi SAKTI. Sementara itu, SPAN
digunakan oleh kuasa BUN, Ditjen Perbendaharaan, untuk pengelolaan perbendaharaan dan
keuangan negara. Seperti SAKTI, SPAN juga berawal dari piloting di beberapa satker. SPAN
baru mulai diberlakukan secara menyeluruh pada tahun 2014.
Pada dasarnya, SPAN adalah bagian dari Integrated Financial Management
Information System (IFMIS) yaitu Sistem Informasi Pengelolaan Keuangan Negara yang
Terintegrasi. Jadi, pengembangan SPAN merupakan langkah awal menuju implementasi
IFMIS. Dalam SPAN, terdapat dua fungsi yaitu fungsi utama dan fungsi tambahan. Fungsi
utama terdiri atas unggah data tagihan, rekam data tagihan, pembuatan laporan (report).
Sedangkan fungsi tambahan terdiri atas pembuatan data tagihan dengan program khusus,
pencarian (inquiry) data tagihan, notifikasi (program concurrent), attach file. Dengan adanya
SPAN tentunya ada proses bisnis yang disempurnakan dari sistem sebelumnya.
Penyempurnaan proses bisnis dengan SPAN antara lain integrasi proses bisnis dan
database, penyempurnaan pola koneksitas antara Satker dan KPPN, penyempurnaan proses
bisnis pembayaran (pembangunan data supplier dan pencatatan komitmen), pengiriman
Resume Tagihan dan SPM, penerapan jatuh tempo tagihan, penyempurnaan pola koneksitas
antara manajemen pembayaran dengan manajemen kas, meminimalisir penggunaan kertas
(Less Paper Workflow).
SPAN sebagai suatu Integrated Financial Management Information System (IFMIS),
mengintegrasikan keseluruhan proses mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan
pertanggungjawaban anggaran. Penyempurnaan proses bisnis melalui SPAN dilakukan
dengan mengitegrasikan sistem dan database, menyederhanakan proses bisnis, dan
menyederhanakan dokumen perbendaharaan dan anggaran negara dengan didukung
pemanfaatan teknologi informasi mutakhir.

Perbandingan sebelum dan sesudah SPAN tersaji dalam tabel berikut.

Sebelum SPAN Setelah SPAN


Input/sumber data Unggah ADK SPM Unggah data tagihan hasil konversi ADK
aplikasi Satker SPM, Rekam Tagihan (Khusus Satker
Dengan Akses Langsung), Program
khusus (DBH PBB Bagian Daerah)
Suplier SPM GUP Bendahara Negara Suplier tipe 1 (bendahara Pengeluaran)
Nihil/PTUP/Pengesahan
BLU dan Hibah
Langsung

11
Jurnal akuntansi Penerbitan SP2D Validasi data (jurnal tagihan) dan
penerbitan SP2D (jurnal pembayaran)
Pencadangan Dana Tidak ada Ya, saat kontrak dicatat di SPAN/data
DIPA tagihan divalidasi SPAN

Penyampaian menggunakan secara sistem oleh SPAN


Kebutuhan Dana Aplikasi e-kirana (saat persetujuan oleh Kasi PD)

Pencetakan SP2D Seksi Pencairan Seksi Bank


Dana
Jatuh tempo tagihan Tidak ada  Gaji (hari kerja pertama bulan
berikutnya)
 Segera (hari yang sama dengan
tanggal tagihan diterima di KPPN)
 Tanggal tagihan diterima+ jumlah
hari kerja
Pengiriman ADK SP2D Dikirim secara  Secara sistem dengan interkoneksi
manual oleh KPPN (khusus BO yang terkoneksi
dengan SPAN)
 Dikirim secara manual oleh KPPN
(BO yang belum terkoneksi SPAN)

Sebagaimana tujuan dari SPAN yaitu untuk meningkatkan efektifitas, efisiensi,


akuntabilitas, dan transparansi di dalam pengelolaan keuangan negara. Proses bisnis
pembayaran pun mengalami penyempurnaan. Penyempurnaan Proses Bisnis (Business
Process Improvement–BPI) tersebut dilakukan melalui beberapa fase. Pertama, adalah fase
assessment pada proses bisnis yang sedang berjalan. Kedua, adalah penentuan arah
perubahan proses bisnis di masa depan (future vision). Ketiga, pendetilan dari proses bisnis
SPAN berdasarkan hasil di fase kedua. Keempat, mempersiapkan strategi implementasi
proses bisnis baru, termasuk proses transisi perubahannya.
Dalam proses bisnis pembayaran Modul Manajemen Komitmen (Commitment
Management) dan Modul Manajemen Pembayaran (Payment Management) tentunya saling
berkaitan. Modul Manajemen Komitmen dijalankan oleh satker untuk membuat Surat Perintah
Membayar (SPM). Sebelum kemudian dikirim ke KPPN dan diterima oleh KPPN melalui Modul
Manajemen Pembayaran pada aplikasi KPPN. Demi tercapainya efektifitas, efisiensi,
akuntabilitas, dan transparansi di dalam pengelolaan keuangan negara. Proses bisnis kedua
modul ini mengalami penyempurnaan proses bisnis ini. Cakupan penyempurnaan pada modul
manajemen komitmen adalah pada proses manajemen supplier dan manajemen kontrak
(komitmen). Sedangkan pada modul Manajemen Pembayaran (Payment Management).
Cakupannya adalah pada proses manajemen pencairan dana untuk seluruh jenis
pembayaran.

3.2. Proses Bisnis Pembayaran Sebelum Implementasi SPAN

Sebelum membahas mengenai proses bisnis pembayaran setelah implementasi


SPAN. Proses bisnis pembayaran sebelum implementasi SPAN dibahas terlebih dahulu, agar
kendala atau celah yang selama ini ada dapat diketahui dan latar belakang mengapa pada
proses tersebut dilakukan penyempurnaan dapat diketahui.

12
3.2.1. Interaksi Satker dan KPPN sebelum Implementasi SPAN

Pada proses yg digunakan sebelum SPAN, kontrak dibuat antara satker dengan
rekanan, kemudian dibuat SPP oleh PPK untuk dibuat SPM. Setelah ditandatangani oleh
PPSPM, SPM tersebut diajukan ke KPPN dan oleh KPPN diterbitkan SP2D. Interaksi satker
dengan KPPN adalah pada saat pengiriman SPM dan penerbitan SP2D. Sebelum
implementasi SPAN, titik awal mulainya manajemen pembayaran ada pada saat terbitnya
SPM.

Gambar 3. Interaksi Satker Dan KPPN Sebelum SPAN

3.2.2. Permasalahan yang Dihadapi sebelum Implementasi SPAN

Secara konseptual, mekanisme pembayaran yang ada pada sebelum implementasi


SPAN memungkinkan terjadinya check and balance terutama oleh pihak treasury untuk
memastikan bahwa pengeluaran yang dilakukan sesuai dengan peraturan dan didukung oleh
ketersediaan dana anggaran. Mekanisme pembayaran yang tersentralisasi juga
memungkinkan pihak treasury untuk mengkonsolidasi rekening Satker (Rekening Bendahara
Pengeluaran) ke dalam Treasury Single Account sehingga dapat menghindari terjadinya
akumulasi idle kas dalam jumlah yang besar (Treasury Diagnostic Toolkit, 2004). Namun
demikian, dalam praktek di Indonesia, terdapat beberapa hal yang patut menjadi perhatian
dalam rangka pengembangan manajemen pembayaran, diantaranya:

1) Business Process di Satker


a. Tidak adanya cycle time dalam proses pembayaran menyebabkan ketidakjelasan norma
waktu penyelesaian mulai dari tagihan diterima dari Supplier, proses penerbitan SPP,
proses penerbitan SPM sampai dengan pengajuannya ke KPPN.
b. Peraturan terkait besaran pengeluaran yang mengharuskan pembuatan dokumen kontrak
cenderung tidak sesuai dengan peraturan terkait mekanisme pembayaran. Adanya

13
intersection aturan, dimana dalam Keppres 80 tahun 2003 pasal 31 disebutkan bahwa
untuk pengadaan dengan nilai dibawah Rp. 5 juta cukup dengan bukti pembayaran berupa
kuitansi, sedangkan untuk pengadaan diatas Rp 5 juta diperlukan kontrak berupa SPK
(Surat Perintah Kerja) maupun Kontrak Pengadaan Barang dan Jasa. Sedangkan dalam
Perdirjen PBN Nomor 66/PB/2005 pasal 7 pembayaran dengan menggunakan uang
persediaan yang dapat dilakukan oleh bendahara pengeluaran kepada satu rekanan tidak
boleh melebihi Rp 10 juta. Dari penjelasan diatas dapat dilihat bahwa tidak semua
pengeluaran kontraktual dilakukan dengan mekanisme pembayaran langsung (untuk
pengeluaran Rp 5 juta sd 10 juta).

2) Business Process di KPPN


a. Mekanisme pembayaran melalui pengelolaan Uang Persediaan (UP) yang ada saat ini
masih menimbulkan idle cash yang cukup besar pada rekening bendahara pengeluaran.
b. Informasi terkait komitmen diajukan pada saat yang bersamaan dengan pengajuan
pembayaran menyebabkan manajemen terhadap komitmen hanya sebatas pada
pengawasan terhadap nilai kontrak agar tidak dilampaui oleh pengajuan pembayaran
yang pada saat itu dilakukan Satker.
c. Tidak berfungsinya rencana penarikan dana pada halaman III DIPA menyebabkan tidak
berjalannya cash forecasting secara optimal.
d. Treasury tidak memiliki kontrol sepenuhnya atas aktivitas business prosess yang
berkaitan dengan pembayaran. Sebagaimana diketahui pada saat ini pembayaran
dilakukan melalui transfer dari rekening kas negara di Bank komersial (Bank Operasional)
ke rekening pihak ketiga. Aktivitas di Bank Operasional yang terkait dengan transfer ke
rekening pihak ke-3 menjadi black box dari business proses pembayaran. Misalnya,
sampai dengan saat ini tidak ada ketentuan atau batas waktu yang jelas untuk proses
transfer tersebut, meskipun KPPN telah menetapkan jangka waktu penyelesaian SP2D
selama 1 jam. Idealnya scope bisnis proses pembayaran tidak hanya sampai dengan
penerbitan SP2D tetapi sampai dengan dana tersebut diterima di rekening pihak ketiga.

Sedangkan secara keseluruhan, permasalahan dalam manajemen pembeyaran sebelum


implementasi SPAN antara lain:
1) Belum terdapatnya cycle time yang jelas dalam penyelesaian SPP dan SPM di satuan
kerja sehingga dapat mengakibatkan belum jelasnya kapan tagihan kepada pihak ketiga
dapat dibayarkan; belum memadainya informasi yang digunakan dalam manajemen
kas, khususnya terkait dengan perencanaan kas; timbulnya kerugian dalam bentuk
opportunity cost pada pihak ketiga atau pegawai akibat proses pembayaran yang terlalu
lama; dan pola pengajuan SPM oleh satker ke KPPN dengan intensitas rendah dan
sedang pada tiga triwulan pertama dan dengan intensitas sangat tinggi pada triwulan
terakhir tahun berkenaan, sehingga mengakibatkan KPPN mengalami under
capacity pada triwulan pertama dan over capacity pada triwulan terakhir.
2) Masih banyaknya satker yang melakukan pembayaran melalui mekanisme UP, sehingga
mengakibatkan tingginya idle cash di rekening bendahara pengeluaran.
3) Masih rigid-nya proses verifikasi tagihan dari pihak ketiga, misalnya terhadap format
kuitansi dan lain-lain.
4) Belum berfungsinya mekanisme pengujian terhadap dokumen pembayaran secara
optimal di satker sehingga SPM yang diterbitkan masih banyak terdapat kesalahan.
5) Proses kerja, baik di satker maupun KPPN, masih paperbased yang mengakibatkan
terjadinya pemborosan kertas dan proses pengiriman dokumen asli kepada pihak

14
terkait selanjutnya dilakukan secara manual.
6) Pengiriman dokumen pembayaran yang dilakukan secara manual mengandung resiko
dokumen hilang, rusak atau terlambat dikirimkan.
7) Internal kontrol yang ada pada sistem aplikasi di KPPN masih lemah, misalnya: keaslian
data SPM yang diterima dari satker belum dapat diuji secara handal apakah SPM
tersebut benar-benar SPM yang diterbitkan dan telah mendapatkan otorisasi dari PPSPM
satker atau bukan; dan pengamanan terhadap akses ke database masih lemah
sehingga memungkinkan pegawai tertentu melakukan perubahan data secara langsung
dari database.
8) Belum terintegrasinya aplikasi dan data manajemen pembayaran dengan proses bisnis
yang lain, sehingga mengakibatkan perlu dilakukannya proses input data yang sama lebih
dari satu kali yang berpotensi mengakibatkan kesalahan data, data ganda, data hilang,
dan lain-lain; informasi yang dihasilkan oleh proses bisnis manajemen pembayaran
belum dapat digunakan secara optimal untuk mendukung proses bisnis terkait lainnya,
atau sebaliknya.
9) Proses bisnis manajemen komitmen masih melekat dalam proses bisnis manajemen
pembayaran. Hal ini ditunjukkan dengan disertakannya resume kontrak dalam pengajuan
SPM dan masih diperlukannya pencatatan kartu pengawasan kontrak dalam proses SPM
menjadi SP2D. Bercampurnya proses bisnis manajemen komitmen ini mengakibatkan
proses pengujian dan pemrosesan SPM menjadi SP2D menjadi bertambah lama.
10) Masih beragamnya kondisi satker, baik dari sisi ruang lingkup organisasi, kemampuan
SDM, infrastruktur teknologi informasi, maupun karakteristik wilayah.
11) Belum dapat diketahuinya secara pasti kapan pihak ketiga/pegawai akan memperoleh
transfer dana. Hal ini diakibatkan karena cycle time belum jelas (Poin 1); dan SP2D
yang diterbitkan dalam waktu satu jam belum dapat berfungsi secara langsung sebagai
alat transfer dana kepada yang berhak, sehingga kepastian pihak yang berhak menerima
sejumlah dana masih sangat bergantung pada proses settlement yang dilakukan di
Bank Indonesia, Bank Operasional KPPN dan Bank dimana rekening pihak
ketiga/bendahara berada.
12) Belum terdapat pola hubungan kerja yang sistematis antara KPPN dengan satker yang
disebabkan karena pembayaran untuk pengeluaran yang sumber dananya berasal dari
luar negeri lebih banyak dikelola oleh KPPN Khusus Jakarta VI, khususnya melalui
mekanisme Direct Payment dan L/C; satu satker dapat memiliki lebih dari satu
jenis DIPA dan dapat melakukan; pencairan dana di lebih dari satu KPPN; masih
terdapatnya satker non vertikal; dan masih terdapatnya Bagian Anggaran 999.
13) Proses bisnis manajemen pembayaran masih dilaksanakan secara konvensional
dan belum memanfaatkan teknologi informasi dan fasilitas perbankan secara optimal.
14) Terdapat irisan proses bisnis manajemen pembayaran dengan proses bisnis yang lain
yang belum sepenuhnya dikelola secara terintegrasi, misalnya: penerbitan SPM/SP2D
khusus untuk satker BLU; penerbitan SPM/SP2D khusus untuk satker PNBP; penerbitan
SPM/SP2D Pengembalian Pajak/Bea Cukai/Imbalan Bunga; Penerbitan SPM/SP2D
Pengembalian Belanja; Penerbitan SPM/SP2D Pengembalian Pendapatan (SP2D
retur dari Bank Operasional).

15
3.3. Proses Bisnis Pembayaran setelah Implementasi SPAN

Proses interaksi antara satker dengan KPPN setelah implementasi SPAN dimulai
ketika satker melakukan perikatan dengan pihak ketiga, satker terlebih dahulu harus
mendaftarkan data supplier yang akan menjadi rekanan dalam pengadaan barang dan jasa
sebelum mengirimkan permintaan pembayaran. Untuk pengadaan yang memerlukan adanya
kontrak dengan pihak ketiga, maka satker mengirimkan data supplier dan resume kontrak
yang dibuat melalui aplikasi SAKTI ke aplikasi SPAN yang ada di KPPN. Jika disetujui oleh
KPPN, maka satker akan mendapatkan Nomor Register Supplier (NRS) atas data supplier
dan Nomor Register Kontrak (NRK) untuk data kontrak yang telah dikirimkan.
Pengiriman data resume tagihan ke KPPN diperlukan untuk mencatat belanja yang
telah dilakukan oleh satker dan hutang pemerintah kepada pihak ketiga. Apabila resume
tagihan tersebut disetujui, satker akan mendapatkan nomor tagihan. Pencatatan belanja dan
hutang tersebut dilaksanakan dalam rangka mewujudkan sistem akuntansi berbasis akrual
serta diharapkan dapat memberikan data yang akurat guna proses perencanaan kas, baik
oleh KPPN maupun Direktorat Pengelolaan Kas Negara (Dit. PKN).
Setelah melakukan pengujian, PPSPM menerbitkan SPM dengan cara memberikan
approval terhadap Surat Permintaan Pembayaran (SPP) yang telah lolos pemeriksaan. Data
dan dokumen SPM selanjutnya dikirimkan secara elektronik ke KPPN. SPM yang sudah
divalidasi selanjutnya akan diterbitkan Surat Persetujuan Pembayaran Tagihan (SPPT).
Kemudian setelah jatuh tempo, akan diterbitkan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D).
Pada proses yg digunakan setelah implementasi SPAN, titik awal mulainya
manajemen pembayaran ada pada saat terbitnya Resume Tagihan dari Aplikasi SAKTI yang
terintegrasi dengan SPAN, sehingga SPAN mengawal proses manajemen pembayaran sejak
adanya Resume Tagihan hingga terbitnya SP2D.

Gambar 4. Interaksi Satker dan KPPN Setelah Implementasi SPAN

16
Satuan Kerja tidak dapat mengakses sistem SPAN secara langsung, melainkan
dengan menggunakan interkoneksi antara aplikasi SAKTI dengan aplikasi SPAN. Sebagai
sebuah aplikasi SPAN mini, Aplikasi SAKTI pada satuan kerja akan terhubung dengan aplikasi
SPAN pada KPPN dengan menggunakan beberapa metode, baik dengan menggunakan ADK
seperti yang telah dilaksanakan selama ini, dengan dikirim oleh kurir maupun ekspedisi, atau
melalui jaringan internet.
Untuk memperlancar koneksitas aplikasi satker, maka perlu dibuat aplikasi-aplikasi
pendukung yang bertujuan memudahkan satker dalam mengirimkan dan memonitor data
transaksi keuangannya. Beberapa aplikasi pendukung yang dibutuhkan antara lain Portal
SPAN dan SPAN-SMS Service. Secara umum koneksitas ketiga aplikasi di atas dengan
SPAN dapat digambarkan dalam gambar berikut.

Gambar 5. Aplikasi Satker Terintegrasi

Dengan demikian fasilitas pengiriman, konfirmasi, dan pengambilan data dapat


dilakukan melalui kurir, ekspedisi, internet dan SMS. Kemudahan-kemudahan yang
ditawarkan oleh SAKTI dalam berkoneksi dengan SPAN bersifat optional dalam arti satuan
kerja yang berada di daerah terpencil dan memiliki hambatan dalam komunikasi internet, tetap
diberi kesempatan untuk melakukan interaksi dengan KPPN melalui cara dan sistem lama.

3.4. Improvement Alur Pembayaran Setelah Implementasi SPAN

Mekanisme pembayaran APBN melibatkan beberapa pihak, antara lain Kuasa


Pengguna Anggaran (KPA), Kuasa Bendahara Umum Negara (Ditjen Perbendaharaan), dan
Bank. Di level KPA ada beberapa pihak yang terlibat, yaitu KPA, Pejabat Pembuat Komitmen
(PPK), Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar (PPSPM), dan bendahara
pengeluaran. Alur pembayaran diawali dari pembuatan Surat Permintaan Pembayaran (SPP)
yang kemudian dilakukan pengujian. Setelah pengujian SPP, maka satker menerbitkan Surat
Perintah Membayar (SPM). KPPN sebagai kuasa BUN kemudian menguji SPM. Setelah
pengujian lalu KPPN menerbitkan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) kepada bank untuk
mencairkan dana. Skema singkat alur pembayaran tersaji dalam gambar di bawah ini.

17
Gambar 6. Alur Proses Pembayaran

Dalam pencairan dana pengeluaran negara dikenal dua mekanisme pembayaran,


yaitu mekanisme pembayaran langsung kepada pihak ketiga (LS) dan melalui Uang
Persediaan (UP). Mekanisme LS menyalurkan pencairan dana dari BUN kepada pihak ketiga
sebagai penerima hak tagih kepada negara atas prestasi/kemajuan pekerjaan yang telah
diselesaikan dari pemberi pekerjaan (satker). Dalam gambar di atas, mekanisme LS
digambarkan melalui pencairan dana ke rekening pihak ketiga. Mekanisme UP yaitu
melakukan pembayaran kepada penerima hak tagih melalui bendahara pengeluaran masing-
masing satker. Dalam hal penggunaan mekanisme UP, bendahara pengeluran terlebih dahulu
mengajukan permintaan uang muka kerja (UP) kepada Kuasa BUN (KPPN). Dalam gambar
di atas, mekanisme LS digambarkan melalui pencairan dana ke rekening bendahara.

3.4.1. Kontrol Anggaran

Dalam kerangka SPAN, jenis kontrol anggaran (budgetary control) terdiri atas:
1) Mutlak (Absolut)  tidak dapat melampaui pagu, yaitu belanja-belanja selain kategori
advisory dan none.
2) Dengan Peringatan (Advisory)  dapat melampaui tetapi disertai adanya peringatan
bahwa pagu telah terlampaui, misalnya belanja modal dengan jumlah tertentu
3) Tidak Dikontrol (None)  tidak adanya peringatan dan pembatasan pagu sama sekali,
misalnya pagu belanja gaji

3.4.2. Pengujian Ketersediaan Dana DIPA

Pengujian ketersediaan dana DIPA mekanismenya berbeda antara sebelum dam


setelah implementasi SPAN. Dulu, pengujian ketersediaan dana hanya memperhatikan pagu
DIPA dan realisasi pengeluaran. Hal ini menjadikan pengujian kurang valid karena
seharusnya ada komponen lain yang harus diperhatikan. Sejak implementasi SPAN,
pengujian dana DIPA memperhatikan encumbrances, yaitu pencadangan dana DIPA (misal
kontrak yang sudah didaftarkan) dan dana Tanbahan Uang Persediaan (TUP) satker tersebut.
Jika dalam keadaan keterbatasan kas, maka pengujian ketersediaan dana juga

18
memperhatikan keterbatasan kas (cash limit). Perbandingan pengujian ketersediaan dana
dulu dan sekarang dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Jika dihubungkan dengan kontrol anggaran, maka pengujian ketersediaan dana adalah
sebagai berikut
1) Absolut  Jika FA minus tidak dapat melampaui pagu dalam DIPA, aplikasi akan langsung
menolak. Berlaku untuk semua jenis belanja kecuali untuk advisory dan none.
2) Advisory  Jika FA minus akan ada peringatan dari aplikasi, tapi dapat melampaui pagu
dalam DIPA dengan persetujuan dari KPPN, misal: Pengesahan BLU.
3) None  Jika FA minus tidak ada peringatan dan dapat melampaui pagu dalam DIPA,
misal: belanja gaji dan pengembalian pendapatan.

3.4.3. Penerapan Jangka Waktu Pembayaran (Payment Term) Dalam Proses Penagihan

Satker, melalui PPK, menentukan secara fleksibel tanggal jatuh tempo tagihan sesuai
dengan kebutuhan (1 s.d 14 hari). Perhitungan jatuh tempo sejak tanggal resume tagihan
sampai dengan tanggal dikeluarkannya SP2D. Skema payment term dalam proses penagihan
dapat dilihat dalam gambar berikut.

Gambar 7. Payment Term

Dalam menerbitkan SPP, satker harus mengirimkan resume tagihan yang disertai
waktu jatuh tempo (1 s/d 14 hari). Setelah resume tagihan disetujui, KPPN akan memberikan

19
nomor tagihan. Kemudian sebelum tanggal jatuh tempo (1 s/d 14 hari) satker harus
mengirimkan SPM ke KPPN, dapat dilakukan via Online maupun diantar langsung ke KPPN.
Selanjutnya pada tanggal jatuh tempo SP2D akan diterbitkan oleh KPPN. Apabila s.d. tanggal
jatuh tempo satker tidak mengirim SPM ke KPPN, maka KPPN tidak akan menerbitkan SP2D
tersebut, dan nomor tagihan yang telah diberikan dinyatakan tidak berlaku dan tidak dapat
dipakai kembali. Oleh karena itu, untuk mendapatkan nomor tagihan yang baru, satker harus
mengirimkan kembali resume tagihan ke KPPN.

3.5. Alur Proses Pembayaran dalam Penggunaan Aplikasi


3.5.1. Penggunaan Aplikasi Untuk Tagihan Satker Tanpa Akses Langsung (Sebelum
Integrasi SPAN dan SAKTI)

Satker tanpa akses langsung adalah satker Kementerian/Lembaga selain KPPN


selaku satker BUN. Adapun data tagihan yang dapat diunggah pada aplikasi SPAN adalah
data dari aplikasi SAKTI. Aplikasi perekaman ADK SPM pada satker tanpa akses langsung
pada saat ini sebagian besar masih menggunakan aplikasi SAS. Dengan demikian, agar
dapat dilakukan pengunggahan pada aplikasi SPAN, data dari satker tanpa akses langsung
(format SAS) perlu dilakukan konversi terlebih dahulu. Untuk lebih jelasnya berikut
disampaikan alur penggunaan aplikasi untuk pemrosesan pembayaran satker tanpa akses
langsung.

Gambar 8. Alur Penggunaan Aplikasi Tanpa Akses Langsung

Petugas konversi melakukan konversi ADK SPM yang disampaikan oleh satker. ADK
SPM pada umumnya memiliki ekstensi “.spm” yang saat ini dihasilkan oleh aplikasi SAS. Data
yang dapat diproses oleh aplikasi SPAN adalah file dengan ekstensi “.pmrt”, “.bscr”, dan
“.bcka”. Sehingga perlu dilakukan konversi file agar dapat diproses. Petugas konversi
selanjutnya mengunggah data tagihan yang sudah dikonversi ke FTP (File Transfer Protocol).
Petugas validasi melakukan Unggah Data Tagihan diawali dengan proses konversi
ADK SPM. Kemudian data tagihan diunggah ke tabel interface SPAN per batch tagihan
(PMRT). Proses unggah disertai dengan proses validasi nama file. Dalam hal terjadi
kegagalan dalam proses unggah ke tabel interface, maka ADK SPM harus di konversi ulang

20
untuk mendapatkan nama file yang baru. Tahap berikutnya petugas validasi melakukan
pengisian Mandatory Field, dimana setelah data tagihan berhasil diunggah ke tabel interface
SPAN, user menambahkan beberapa informasi/data pada kolom/field yang bersifat
mandatory seperti Nomor Register Suplier (NRS), rekening pembayar (paygroup), dan Nomor
Register Kontrak (NRK), khusus untuk tagihan dengan kontrak.
Pada tahap selanjutnya, petugas validasi melakukan validasi manual yang merupakan
proses manual untuk menguji kesesuaian data tagihan dan SPM berikut dokumen
pendukungnya dengan laporan (report) yang dihasilkan oleh SPAN. Jika berdasarkan validasi
manual yang dilakukan, tagihan tidak memenuhi syarat maka petugas validasi wajib
menuliskan alasan untuk penolakan pada kolom “alasan tolak” dan menjalankan laporan
penolakan dengan menekan tombol “laporan tolakan”. Selanjutnya pada tahap terakhir,
petugas validasi berwenang untuk melakukan persetujuan awal terhadap tagihan.
Persetujuan diberikan dalam hal data dan berkas-berkas tagihan telah memenuhi syarat
setelah dilakukan pengujian manual dan pengujian data pada aplikasi.
Pemrosesan tagihan selanjutnya berpindah pada Petugas Review yang memiliki
kewenangan dan tugas: memilih tagihan dalam daftar kerja (work list) yang ada pada tampilan
aplikasi; melakukan review terhadap kesesuaian uraian pada tagihan dan SPM; jika telah
sesuai, memberikan persetujuan terhadap tagihan (persetujuan pertama); dan jika tidak
sesuai, tetap melakukan persetujuan namun disertai dengan pengisian alasan
ketidaksesuaian pada kolom catatan sebagai pertimbangan bagi Kepala Seksi Pencairan
Dana untuk menyetujui atau menolak tagihan.
Kepala Seksi Pencairan Dana akan melakukan kewenangannya untuk memilih
tagihan dalam daftar kerja (work list) yang ada pada tampilan aplikasi; melakukan review
kesesuaian terhadap uraian tagihan dan SPM dan catatan yang dibuat oleh petugas review;
jika telah sesuai, memberikan persetujuan tagihan/persetujuan akhir (final approval) dan
mencetak SPPT (Surat Perintah Pencairan Tagihan) serta Daftar Tagihan
disetujui.Persetujuan Tagihan menjadi dasar perhitungan Kebutuhan Dana oleh PKN; dan jika
tagihan tidak memenuhi syarat, melakukan penolakan tagihan yang disertai dengan mengisi
alasan penolakan dalam kolom catatan pada aplikasi.
Pada pemrosesan akhir, staf Seksi Bank memilih invoice/tagihan yang jatuh tempo
dan menyusun PPR (Payment Process Request), lalu Kepala Seksi Bank memiliki tugas dan
kewenangan untuk melakukan konfirmasi atas tagihan yang jatuh tempo; melakukan review
atas PPR yang dibuat oleh staff seksi bank; dan menerbitkan SP2D sebagai dasar bagi Bank
untuk melakukan pembayaran.

3.5.2. Penggunaan Aplikasi untuk Tagihan Satker Dengan Akses Langsung (Setelah
Integrasi SPAN dan SAKTI)

Perbedaan mencolok proses tagihan satker dengan akses langsung dengan tanpa
akses langsung adalah tidak diperlukannya konversi data ADK SPM karena satker sudah
menggunakan aplikasi SAKTI yang telah terintegrasi dengan aplikasi SPAN. Satker dengan
akses langsung pada KPPN sebelum integrasi SPAN dan SAKTI adalah KPPN selaku Satker
BUN. Selanjutnya, untuk alur penggunaan aplikasi secara lebih mendetail dapat disampaikan
sebagai berikut.

21
Gambar 9. Alur Penggunaan Aplikasi dengan Akses Langsung

Proses diawali dengan validasi tagihan secara sistem yang dilakukan saat rekam
tagihan (oleh staf PPK) dan pada saat validasi tagihan (oleh PPK). Kemudian, tagihan yang
telah disetujui oleh PP-SPM (persetujuan pertama) akan tampil di daftar kerja pada layar
aplikasi petugas validasi KPPN. Pemrosesan tagihan di SPAN oleh petugas validasi di KPPN
dilaksanakan setelah dokumen SPM & dokumen pendukungnya diterima dari PP-SPM.
Pengujian tagihan oleh petugas validasi dilakukan secara manual dengan
menggunakan laporan/report dari SPAN yang di-assign seperti Karwas DIPA, Laporan
Pendaftaran/Perubahan Suplier, SKP DBH PBB, Laporan Konfirmasi Penerimaan, dan Daftar
SP2D Retur. Dalam hal berdasarkan pengujian yang dilakukan tagihan tidak memenuhi
memenuhi syarat, petugas validasi akan menolak tagihan tersebut. Proses selanjutnya pada
petugas review, kepala seksi pencairan dana, staf seksi bank dan kepala seksi bank sama
dengan proses untuk tagihan dari satker tanpa akses langsung.

3.6. Integrasi Manajemen Pembayaran dengan Modul Lain

Modul Manajemen Pembayaran tidak dapat berdiri sendiri dalam pelaksanaan proses
pembayaran. Manajemen Pembayaran harus terintegrasi dengan modul-modul yang
lainnya dalam menjamin terlaksananya proses pembayaran yang benar dan aman. Semua
modul tersebut akan saling terintegrasi antara satu dengan yang lain, untuk menciptakan
suatu sinergi yang efektif melalui satu sistem dan satu database yang dibentuk dalam
SPAN.

3.6.1. Integrasi dengan Manajemen DIPA

Melalui SPAN, manajemen DIPA dikelola secara terintegrasi, baik dalam hal integrasi
database maupun proses input data dan pemeliharaan data dalam database atau secara
sederhana dapat diterapkan single input data. Manajemen DIPA dilakukan secara terpusat
oleh pihak-pihak yang memiliki otoritas untuk mengelolanya. Artinya, proses input data

22
DIPA/Revisi DIPA hanya dilakukan sekali dan data tersebut dapat dipergunakan oleh semua
user DIPA. Dalam hal ini KPPN hanya berfungsi sebagai user DIPA dan tidak dapat
melakukan perubahan atas data DIPA tersebut, berbeda dengan sebelum implementasi
SPAN dimana data DIPA dikelola secara terpisah pada masing-masing unit.
Melalui model Manajemen DIPA yang terpusat dan terintegrasi, maka proses
pencairan dana oleh KPPN dapat dilakukan dengan cepat, tepat dan akurat. Proses Revisi
DIPA tidak akan mengganggu Manajemen Pembayaran dan proses pencairan dana,
mengingat data DIPA yang diakses adalah data DIPA yang telah ter-update secara real time
pada waktu pengesahan revisi DIPA.
Selain itu, integrasi Manajemen DIPA dengan Manajemen Pembayaran mendorong
pengujian ketersediaan pagu DIPA terhadap tagihan dilakukan secara lebih akurat. SPP/SPM
yang masuk akan diuji dengan ketersediaan dana DIPA (fund availability), yaitu pagu DIPA
dikurangi dengan dana yang telah dicadangkan (encumbrance) untuk komitmen-komitmen
yang telah didaftarkan dan dana TUP yang dikelola oleh Bendahara Pengeluaran serta
realisasi pengeluaran. Sistem ini akan menjamin keakuratan data DIPA sehingga dapat
mengontrol pengeluaran agar tidak sampai melebihi pagu DIPA. Kemudian, apabila terjadi
keterbatasan kas sehingga perlu dikeluarkan kebijakan efisiensi pengeluaran, maka
pemerintah dapat menerapkan Cash Limit untuk membatasi pengeluaran
Kementerian/Lembaga/Satker. Penerapan Cash Limit ini akan berakibat pada pemblokiran
dana DIPA sebesar Cash Limit, sehingga akan mengurangi Fund Availabity pada DIPA
Kementerian/Lembaga/Satker terkait.

3.6.2. Integrasi dengan Manajemen Komitmen

Manajemen pembayaran merupakan kelanjutan proses dari manajemen komitmen,


sehingga integrasi proses dan data antara keduanya sangatlah penting. Untuk mewujudkan
mekanisme check and balances, maka proses pembayaran harus didasarkan pada data
komitmen yang ada. Dengan adanya manajemen komitmen yang baik, maka diharapkan
manajemen pembayaran juga dapat dilaksanakan dengan baik pula.
Interaksi proses pengiriman data yang melibatkan manajemen komitmen dan
manajemen pembayaran yang pertama meliputi proses pengiriman data resume kontrak
dalam bentuk Request for Commitment untuk mendapatkan Commitment Application Number
(CAN) dari KPPN, dimana data resume kontrak ini berguna untuk pencadangan pagu DIPA
untuk pembayaran yang akan timbul atas komitmen tersebut. Yang kedua, proses pengiriman
data resume tagihan (yang mengambil data dari data SPP) ke KPPN. Hal ini diperlukan untuk
pencatatan belanja yang telah dilakukan oleh Satker dan hutang pemerintah kepada pihak
ketiga. Interaksi proses yang terakhir adalah proses pengiriman data SPM untuk
mendapatkan pencairan dana melalui penerbitan SP2D oleh KPPN.

3.6.3. Integrasi dengan Manajemen Penerimaan

Penerimaan Negara merupakan sumber utama pendanaan bagi pengeluaran negara,


selain dari sektor pembiayaan. Seiring dengan perubahan sistem penatausahaan
penerimaan negara (MPN Generation 2), maka beberapa hal yang terkait dengan koneksitas
antara manajemen pembayaran dan manajemen penerimaan juga mengalami
perubahan. Perubahan tersebut antara lain meliputi penatausahaan penerimaan negara
melalui potongan SPM; pembayaran atas pengembalian pendapatan; pembayaran atas
penerbitan SPM PNBP; pembayaran atas penerbitan SPM satker BLU; dan pengembalian

23
belanja.

3.6.4. Integrasi dengan Manajemen Kas

Manajemen Pembayaran erat sekali hubungannya dengan manajemen kas.


Manajemen pembayaran sangat tergantung pada manajemen kas dalan rangka kelancaran
proses pembayaran. Hal ini disebabkan karena manajemen kas yang menyediakan dana
untuk digunakan manajemen pembayaran dalam membayar semua tagihan yang diajukan.
Penyempurnaan perencanaan kas dengan proses pengintegrasian antara
manajemen pembayaran dan manajemen kas meliputi perubahan terhadap pola
penyampaian data/dokumen pembayaran dari Satker ke KPPN dari sebelumnya satker hanya
mengajukan SPM, disempurnakan melalui pengajuan Resume Tagihan sebelum
disampaikanya SPM untuk proses pembayaran. Penyempurnaan perencaan kas lainnya
yaitu adanya pencantuman payment terms pada dokumen/data SPP dan SPM yang
memberikan kepastian kapan pembayaran pihak ketiga dilakukan dan penguatan fungsi
perencanaan kas harian.

3.6.5. Integrasi dengan Proses Akuntansi dan Pelaporan

Seiring dengan pelaksanaan akuntansi berbasis akrual, maka seluruh transaksi terkait
dengan proses pembayaran, baik yang terjadi di lingkungan satker maupun di KPPN harus
harus dicatat ada saat transaksi tersebut terjadi. Sistem akuntansi yang didesain dalam
manajemen pembayaran mencatat terjadinya utang pada saat timbul suatu kewajiban
pemerintah untuk membayar sejumlah uang kepada suatu pihak atas pelaksanaan
kegiatan yang telah dilaksanakan komitmennya. Utang tersebut segera dihapus pada saat
dilakukan pembayarannya oleh KPPN.
Proses pelaporan, baik pelaporan kepada pihak eksternal maupun kepada pihak
internal (management reporting), dapat secara langsung di-generate sesuai dengan
kebutuhan melalui aplikasi SPAN. Dengan adanya proses akuntansi yang akrual, maka
laporan yang dihasilkan oleh aplikasi merupakan laporan real time yang menunjukkan hasil
dari transaksi terakhir yang dilakukan. Selain itu, proses pelaporan dapat dilakukan secara
less paper melalui aplikasi dan dapat diakses secara langsung dan berjenjang mulai dari
Satker, KPPN, Kanwil, sampai dengan Kantor Pusat.

3.7. Improvement Manajemen Pembayaran dalam Kerangka SPAN

3.7.1. Implementasi Konsep Less Paper

Lesspaper office merupakan lingkungan kerja di mana penggunaan kertas dikurangi atau
digunakan secara bijaksana. Bentuk riil dari implementasi lesspaper office antara lain dengan
mengurangi pencetakan dokumen, menyimpan segala dokumen dalam bentuk ADK
(electronic file), serta memberikan perintah atau persetujuan secara elektronik melalui email
atau aplikasi khusus yang terdapat dalam komputer. Beberapa manfaat yang bisa diperoleh
dari Implementasi konsep lesspaper office adalah mengurangi biaya (biaya cetak dokumen,
kertas, pengiriman dan lain-lain); mengurangi tempat penyimpanan dokumen; administrasi
dokumen yang lebih baik sehingga dapat memudahkan proses pencarian dokumen;
meningkatkan produktivitas; mempermudah proses kerja tanpa memperhitungkan lokasi;

24
mempercepat proses kerja dan proses pertukaran informasi; dan meminimalkan kerusakan
lingkungan akibat penggunaan kertas.
Dalam rangka meningkatkan kualitas serta memberikan pelayanan yang lebih baik
kepada para stakeholders, maka perlu mengimplementasikan konsep lesspaper dalam
proses bisnis pencairan APBN. Beberapa poin penyempurnaan melalui penerapan konsep
lesspaper yang antara lain: semua dokumen dalam proses pencairan dana APBN, yang
dihasilkan oleh aplikasi di Satker, disimpan dan dikirimkan ke KPPN dalam bentuk softcopy
(electronic file); proses pertukaran informasi dilakukan melalui media surat elektronik,
misalnya melalui email; pengiriman dokumen/data (misalnya SPM) dari Satker ke KPPN
dilakukan melalui media pengiriman data elektronik yang cepat dan aman; dokumen
pendukung sebagai lampiran dari SPM dikirimkan dalam bentuk lampiran elektronik
(attachment file); persetujuan/otorisasi terhadap dokumen dilakukan secara elektronik melalui
proses approval yang terdapat dalam aplikasi di komputer atau dengan menggunakan digital
signature.

3.7.2. Otomatisasi Proses Pengujian Substantif dan Formal

Otomatisasi proses pengujian bertujuan untuk meminimalisasi risiko yang dihadapi


dalam proses pengujian pembayaran yang umumnya meliputi adanya SPM palsu, pengujian
yang tidak bisa menyaring seluruh kesalahan yang ada dalam SPM, dan pengujian subjektif.
Otomatisasi proses pengujian meliputi pengujian terhadap keaslian SPM, yaitu dengan
mengecek keabsahan kode unik yang di-generate oleh aplikasi SPM di satker; pengujian
terhadap unique code dari manajemen komitmen (CAN) termasuk data tentang supplier dan
lainnya; pengujian terhadap data resume tagihan; pengujian terhadap data SPM; dan
pengujian terhadap cash limit.

3.7.3. Penyempurnaan Koneksitas KPPN dengan Perbankan

Menilik dari best practices manajemen pembayaran pemerintah, beberapa negara telah
menerapkan mekanisme pembayaran secara elektronik, yaitu dengan menggunakan
Electronic Fund Transfer (EFT). Di Amerika Serikat, hampir semua transaksi pembayaran
dilakukan melalui EFT. Amerika Serikat memiliki lebih dari 10 (sepuluh) mekanisme EFT yang
penggunaannya disesuaikan dengan sifat dan kebutuhan pembayaran.
Di era seperti sekarang ini, penggunaan EFT sebagai suatu metode pembayaran
merupakan suatu hal yang tidak dapat dielakkan lagi. Format SP2D yang dulunya masih
menggunakan dokumen (hardcopy) diubah dengan menggunakan data elektronik (softcopy).
Data elektronik ini dikirimkan ke Bank Operasional/RPK BUN P sebagai dasar dilakukannya
proses settlement pembayaran. Saat ini, terdapat dua jenis proses settlement yang dapat
dimanfaatkan untuk proses pembayaran pemerintah, yaitu pembayaran melalui sistem BI-
RTGS dan melalui Sistem Kliring Nasional.
Koneksitas KPPN dan Perbankan diperlukan dalam rangka proses pengiriman data
SP2D sebagai dasar dalam proses pencairan dana oleh Bank Operasional. SP2D merupakan
Surat Perintah yang diterbitkan oleh KPPN selaku Kuasa Bendahara Umum Negara untuk
pelaksanaan pengeluaran atas beban APBN berdasarkan SPM yang diajukan oleh Satker.
Dilihat dari sudut pandang sistem, SP2D merupakan data/dokumen yang dihasilkan oleh
Aplikasi KPPN yang nantinya akan dijadikan inputan bagi proses settlement pembayaran
dalam Aplikasi yang ada di Bank Operasional.

25
Dalam rangka penyempurnaan, koneksitas KPPN dan Perbankan dalam kerangka
SPAN dibangun berdasarkan konstruksi pengiriman data secara elektronik melalui media
pengiriman data yang cepat dan aman. SP2D yang dikirimkan ke Bank Operasional lebih
berfungsi sebagai payment instruction dengan format dan elemen data yang standar, yang
mampu memenuhi kebutuhan minimal untuk digunakan sebagai dasar (inputan) dalam proses
settlement pembayaran oleh semua Bank Operasional.
Hal penting yang perlu didefinisikan adalah bagaimana pola pengiriman data SP2D
dari KPPN ke Bank Operasional dilakukan. Prinsip dasar yang dipakai adalah pola pengiriman
data harus dilakukan antara sistem dengan sistem (system to system). Artinya, SP2D sebagai
output dari aplikasi di KPPN akan dikirimkan melalui media pengiriman data yang cepat dan
aman (yang ditentukan berdasarkan kesepahaman bersama antara Ditjen Perbendaharaan
dengan Bank Opersional) untuk digunakan sebagai inputan dalam aplikasi di Bank
Operasional.

3.7.4. Penyempurnaan Format SPP, SPM, dan SP2D/SP3

Penyempurnaan format yang pertama yaitu perubahan dari paperbase ke paperless


(less paper) office. SPAN mengakibatkan orientasi pada dimulainya suatu proses berubah.
Dengan SPAN, akan lebih diutamakan pada pengiriman softcopy, yang berupa data (untuk
SPP/SPM dan SP2D/SP3) maupun dokumen digital (untuk dokumen pendukung
data/lampiran). Penyempurnaan format juga meliputi perubahan data flow pada satker dan
KPPN, dimana SPAN menerapkan single entry point. Misalnya untuk modul pembayaran,
data invoice salah satunya dimulai dari PPSPP/PPK yang berupa resume tagihan.
Selanjutnya SPM hingga menjadi SP2D hanya merupakan approval saja sampai dengan
pembayaran dilakukan.
Penyempurnaan juga menyangkut pengintegrasian beberapa proses bisnis, yang
meliputi proses bisnis perencanaan anggaran, management of spending authority,
manajemen komitmen, manajemen pembayaran, manajemen penerimaan, manajemen kas,
serta akuntansi dan pelaporan, berakibat pada perlu adanya penambahan elemen data pada
dokumen pembayaran, sehingga dapat dijadikan sebagai sumber proses akuntansi dan
pelaporan.

26
BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

4.1. Simpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya, dapat disimpulkan
bahwa:
1) Modul Pembayaran adalah modul yang memproses Resume Tagihan (SPP) dan Surat
Perintah Membayar (SPM) untuk diajukan ke KPPN dalam rangka pelaksanaan pencairan
dana APBN. Modul pembayaran melibatkan dua sistem, yaitu SAKTI (Satker) dan SPAN
(kuasa BUN/KPPN). Tujuan SPAN yaitu untuk meningkatkan efektifitas, efisiensi,
akuntabilitas, dan transparansi di dalam pengelolaan keuangan negara. Penyempurnaan
proses bisnis pembayaran terdiri atas assessment , future vision, pendetilan proses bisnis,
dan persiapan strategi implementasi proses bisnis baru.
2) Sebelum adanya SPAN terdapat beberapa permasalahan baik di tingkat satker maupun
di tingkat kuasa BUN. Permasalahan antara lain belum terdapatnya cycle time yang jelas,
banyak satker yang melakukan pembayaran melalui mekanisme UP, proses verifikasi
tagihan dari pihak ketiga yang rigid, masih banyak kesalahan dalam penerbitan SPM,
proses bisnis masih paperbased, internal kontrol yang ada pada sistem aplikasi di KPPN
masih lemah, belum terintegrasinya aplikasi dan data manajemen pembayaran dengan
proses bisnis yang lain, dll.
3) Setelah implementasi SPAN dimulai pendaftaran data suplier ke aplikasi SPAN melalui
aplikasi SAKTI. Satker melakukan pengujian hingga akhirnya terbit data resume tagihan.
Kemudian satker mengirimkan data resume tagihan ke KPPN untuk mencatat belanja
yang telah dilakukan oleh satker Resume tagihan dari aplikasi SAKTI terintegrasi dengan
SPAN, sehingga SPAN mengawal proses manajemen pembayaran sejak adanya resume
tagihan hingga terbitnya SP2D.
4) Perbaikan di mekanisme pembayaran terlihat dalam pengujian ketersediaan dana DIPA.
Dulu, pengujian ketersediaan dana hanya memperhatikan pagu DIPA dan realisasi
pengeluaran sehingga kurang valid. Sejak implementasi SPAN, pengujian dana DIPA
memperhatikan encumbrances, dana TUP, dan keterbatasan kas (cash limit). Pengujian
dana nantinya akan berhubungan dengan kontorl anggaran. Selain itu, pengiriman resume
tagihan juga harus memperhatikan janga waktu penagihan, yaitu paling lama 14 hari
terhitung sejak resume tagihan dikirimkan sampai terbitnya SP2D.
5) Alur proses pembayaran menggunakan aplikasi mengalami perbaikan. Sebelum integrasi
SPAN dan SAKTI, data tagihan yang berasal dari aplikasi SAS harus dilakukan konversi
terlebih dahulu sebelum diunggah ke aplikasi SPAN. Proses konversi dilakukan di KPPN
dengan mekanisme yang sudah ditetapkan dan melibatkan beberapa pihak. Setelah
integrasi SPAN dan SAKTI, data tagihan berasal dari aplikasi SAKTI tidak perlu dikonversi
terlebih dahulu sehingga langsung diunggah ke aplikasi SPAN. Hal ini tentunya
menjadikan proses semakin efisien dan waktunya menjadi semakin singkat.
6) Modul Manajemen Pembayaran tidak dapat berdiri sendiri dalam pelaksanaan proses
pembayaran sehingga harus terintegrasi dengan modul-modul yang lainnya untuk
menciptakan suatu sinergi yang efektif melalui satu sistem dan satu database yang
dibentuk dalam SPAN. Integrasi modul manajemen pembayaran antara lain dengan

27
Manajemen DIPA, Manajemen Komitmen, Manajemen Penerimaan, Manajemen Kas, dan
Proses Akuntansi dan Pelaporan.

4.2. Saran

Berdasarkan pembahasan dan simpulan yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya, maka
dapa diberikan saran sebagai berikut:
1) Evaluasi harus senantiasa dilakukan dalam masa piloting SAKTI sehingga nantinya ketika
seluruh satker menggunakan SAKTI permasalahan yang timbul semakin minim dan
penerapan SAKTI menjadi efektif.
2) Penerapan SAKTI di seluruh satker di Indonesia perlu segera diimplementasikan. Dengan
adanya SAKTI, modul pembayaran akan banyak mengalami perbaikan dan peningkatan
proses bisnis.
3) Peningkatan efektivitas integrasi antar modul-modul di SPAN agar memberikan output
yang efektif dan akurat sebagai dasar pengambilan keputusan di masa yang akan datang.

28
REFERENSI

Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Panduan Teknis Pejabat Pembuat Komitmen, 2017


Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Panduan Teknis Pejabat Penandatangan Surat
Perintah Membayar 20107
Modul SPAN dan SAKTI Manajerial
Modul Manajemen Pembayaran 2010
Modul Manajemen Pembayaran, Penyempurnaan Proses Bisnis Manajemen Pembayaran
Dalam Kerangka SPAN
Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 190 /PMK.05/2012 tentang Tata
Cara Pembayaran dalam Rangka Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara
Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 223/ Pmk.05/2015 tentang
Pelaksanaan Piloting Sistem Aplikasi Keuangan Tingkat Instansi

29
LAMPIRAN
DISKUSI DAN PENDAPAT

 Pertanyaan 1 (Hari Susanto):


Sistem pembayaran mengenal sistem online dan offline, sebenarnya apa ugensi dari
diperbolehkannya menggunakan sistem online & offline sendiri, kenapa tidak serentak
menggunakan sistem online saja tanpa ada offline? Selanjutnya terkait pembayaran bank
kepada vendor apakah nantinya dimungkinkan juga pembayaran yang terkoneksi menjadi
satu aplikasi dalam kerangka SPAN & SAKTI?

Jawaban:
Pada saat ini, jaringan internet yang handal belum tersebar ke seluruh daerah di Indonesia.
Pada beberapa KPPN di remote are mengalami keterbatasan akses jaringan internet. Dengan
demikian pada saat ini sistem online dan offline diperbolehkan dalam penyampaian ADK,
guna mengakomodasi manajemen pembayar di daerah dengan keterbatasan jaringan
tersebut.

 Pertanyaan 2 (Zanuar Arifin):


2.1 Pada Nomor Register Supplier wajib dicantumkan NPWP dan Nomor Rekening Supplier.
Pada praktiknya terkadang Supplier berganti Nomor Rekening sehingga dampaknya
terjadi permasalahan ketika proses pembayaran. Menurut saya kewajiban pencantuman
NPWP dan Nomor Rekening Supplier justru mengganggu sisi fleksibilitas, apa sih
sebenarnya tujuan kewajiban pencantuman NPWP dan Nomor Rekening Supplier?
2.2 Mungkinkah ada aplikasi monitoring pembayaran yang bisa dimanfaatkan oleh pihak
ketiga untuk menjamin kepastian pembayaran?

Jawaban:
Pencantuman Nomor Rekening dan NPWP Supplier tersebut merupakan salah satu
mekanisme kontrol untuk menghindari potensi dilakukan kecurangan. Selanjutnya, mengenai
aplikasi monitoring, yang saat ini ada adalah Online Monitoring SPAN (OM-SPAN) dimana
yang memiliki akses atas monitoring progress pengajuan pembayaran adalah satker. Pihak
ketiga dapat melakukan monitoring melalui satker terkait. Dapat disimpulkan bahwa dirasa
belum perlu untuk memberikan aplikasi khusus monitoring bagi pihak ketiga karena sejauh ini
sudah dapat diakomodasi oleh OM-SPAN.

 Pertanyaan 3 (Fitri Irka):


Adakah keterkaitan antara e-SPM dengan aplikasi SAKTI atau SPAN dalam rangka
pemrosesan pembayaran?

Jawaban:
E-SPM merupakan salah satu tools yang digunakan dalam masa transisi menuju
pengintegrasian SPAN dan SAKTI. Selain aplikasi SAS yang sementara digunakan oleh
satker, E-SPM ini juga memiliki peran yang sama dengan SAS.

30
 Pertanyaan 3 (Muhammad Asfiroyan):
Dalam slide disampaikan bahwa petugas reviewer (Middle Office PD) dalam rangka
verifikasinya terhadap data SPM, tidak dapat melakukan penolakan apabila tidak terjadi
kesesuaian tetapi hanya memberi tanda dan tetap memberikan persetujuan, kenapa seperti
itu?

Jawaban:
Fungsi dari approval tersebut adalah untuk memberikan tanda bahwa atas dokumen tagihan
SPM telah dilakukan pemeriksaan oleh Middle Office PD sebelum dilakukan pemeriksaan oleh
Kasi PD. Dengan demikian approval tersebut bukan berarti persetujuan namun lebih sebagai
marking bahwa atas tagihan SPM telah dilakukan pemeriksaan oleh MO, simultan MO
memberikan catatan apabila terdapat ketidaksesuaian. Selanjutnya SPM yang sudah
diapprove beserta catatan (apabila terdapat ketidaksesuaian) disampaikan ke Kasi PD. Pada
akhirnya Kasi PD yang memiliki kewenangan untuk menolak dan mengembalikan dokumen
tagihan SPM yang tidak sesuai. Hal tersebut juga menjadi kontrol dalam pengujian SPM
dimana tidak hanya satu pihak (MO saja) yang berwenang menyetujui maupun menolak
pengajuan SPM, namun diperkuat dengan kewenangan Kasi PD sebagai double check atas
proses pengujian SPM.

 Pertanyaan 4 (Pak Azaz):


4.1. Pada praktek lapangan sebelumnya terdapat beberapa kelemahan atas pemrosesan
pembayaran antara lain kasus SPM fiktif, selanjutnya terkait integrasi SPAN dan SAKTI
dalam proses pembayaran apakah dapat mengatasi permasalahan tersebut, apakah ada
peningkatan security dengan SPAN dan SAKTI?
4.2. Perekaman data supllier dalam NRS antara lain NPWP dan nomor rekening, apakah
selanjutnya data tersebut dapat diintegrasikan dengan modul penerimaan dengan
integrasi perekaman informasi terkait pembayaran pajak atas pengadaan pemerintah?

Jawaban:
Dalam kerangka SPAN dan SAKTI proses perekaman data tagihan sangat rigid antara lain
nama dokumen ADK SPM (dengan suatu kode khusus), Nomor Registrasi Supplier, dan
Nomor Registrasi Kontrak, yang kesemuanya harus dipenuhi kesesuaiannya agar suatu
tagihan SPM dapat dilakukan pemrosesan, hal tersebut merupakan salah satu pengendalian
guna menghindari kasus SPM palsu. Pengendalian selanjutnya adalah, dalam pemrosesan
SPM digunakan fitur digital signatur yang hanya dapat dibuat dan discan dengan aplikasi yang
berada di KPPN dan Satker. Pihak yang tidak berkepentingan tidak bisa membuat digital
signature tanpa akses aplikasi ini, sehingga selanjutnya tagihan yang dapat diproses adalah
tagihan yang sudah terotorisasi oleh pihak yang tepat melalui adanya Resume Tagihan,
sehingga proses pembayaran betul-betul dikawal dari sejak timbulnya tagihan yang
terotorisasi sampai dengan pembayaran dilakukan. Oleh karena itu, keamanan pemrosesan
tagihan menjadi lebih terjamin.

31