Anda di halaman 1dari 3

PROFESIONALISME

DALAM BIDANG GEODESI DAN NON GEODESI


(disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Etika Profesi)

disusun oleh :

Risqi Fadly Robby NIM 21110115140081

DEPARTEMEN TEKNIK GEODESI


FAKULTAS TEKNIK – UNIVERSITAS DIPONEGORO
Jl. Prof. Sudarto SH, Tembalang Semarang Telp. (024) 76480785, 76480788
email : geodesi@undip.ac.id
2018
Bentuk Profesionalisme dalam Bidang Geodesi

1. Tenaga Ahli Geodesi bidang Fotogrametri


Salah satu bentuk profesionalisme adalah mampu menguasai ilmu secara
mendalam di bidangnya. Misalnya terdapat dalam proyek pemetaan daerah
menggunakan foto udara. Apabila hendak bekerja dalam proyek tersebut harus
menguasai ilmu terlebih dahulu dengan salah satunya menyelesaikan jenjang
S1 Teknik Geodesi. Dengan mengikuti pendidikan tersebut, calon pelaku
profesi telah mendapatkan ilmu yang cukup untuk menjalankan profesinya.
Selain itu pelaku profesi harus memahami secara mendalam kerangka acuan
kerja dalam pekerjaan yang hendak dilakukan. Hal tersebut bertujuan agar hasil
pekerjaan sesuai dengan permintaan pemberi pekerjaan serta menghindari
sengketa.

2. Team Leader Surveyor


Mampu mengkonversi ilmu menjadi keterampilan. Seorang pelaku profesi
geodesi tidak hanya puas dengan pengetahuan tekstual tetapi ia juga harus
menguasai keterampilan yang dipraktikkan di lapangan. Seorang pelaku
profesi geodesi hendaknya memiliki keterampilan dalam mengoperasikan alat,
mengoperasikan perangkat lunak, mengolah data proyek, serta keterampilan
kepemimpinan dalam tim. Pengetahuan teoritis tentang hal-hal tersebut
tentunya sudah dipelajari pada perkuliahan, namun memerlukan keahlian untuk
mengubahnya menjadi keterampilan yang digunakan di lapangan.

3. Dosen
Menjunjung tinggi etika dan integritas profesi. Seorang pelaku profesi, dalam
hal ini profesi dosen, dapat mengamalkan sifat tersebut salah satunya dengan
memberikan bumbu pendidikan moral dan etika dalam kegiatan belajar
mengajar. Bumbu yang dimaksud dapat berupa pelajaran etika secara tersirat
yang dikaitkan ke materi perkuliahan, maupun pelajaran sikap disiplin dalam
pemberian tugas kepada mahasiswanya. Selain itu profesi dosen juga harus
menjaga etika dan integritas pribadi sendiri. Dosen harus menjalankan
pembelajaran yang sistematis dan sesuai dengan rancangan belajar. Dosen
harus membatasi diri untuk tidak memberikan ilmu begitu saja, namun
hendaknya memberi trigger kepada mahasiswa untuk mencari sendiri ilmu
yang mereka butuhkan.

Bentuk Profesionalisme dalam Bidang Non-Geodesi

Pengacara
Menjunjung tinggi etika dan integritas profesi. Seorang pengacara dalam
menjalankan tugasnya menegakan kebenaran dan keadilan seringkali
mendapatkan banyak tantangan dan godaan untuk berlaku koruptif, dimana
saat mendampingi seseorang yang berperkara sering kali seorang pengacara
bekerja tidak secara professional. Adakalanya pengacara yang mendampingi
kasus korupsi terjebak dengan cara praktek-praktek haram dan melakukan
penyuapan kepada jaksa atau hakim untuk melancarkan perkara yang sedang
ditanganinya dan melakukan negosiasi untuk membebaskan atau mengurangi
hukuman kleinnya. Setiap pengacara memang berhak menerima atau menolak
suatu kasus yang akan di tanganinya. Dan dalam menjalani tugasnya setiap
pengacara haruslah mempunyai integritas yang kuat dalam menjalankan
tugasnya sebagai penegak hukum yang bekerja sesuai kode etik dan dengan
peraturan perundang – undangan dalam menjalankan tugas yang telah
diamanatkan kepadanya, sehingga kepercayaan yang telah diberikan
kepadanya bisa menjadi panutan pada masyarakat dan penegakan hukum bisa
berjalan sesuai dengan harapan masyarakat serta mendukung upaya pemerintah
dalam membrantas praktek praktek korupsi.