Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN MANAJEMEN September 2018

“ PENANGGULANGAN PENYAKIT DIARE”

DISUSUN OLEH :
NAMA : EKA SUNTIARA
STAMBUK : N 111 16 100
PEMBIMBING : Dr. dr. M SABIR, M. Si
dr. NUR INDRIYANI

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu langkah dalam pencapaian target MDG’s (Goal ke-4)
adalah menurunkan kematian anak menjadi 2/3 bagian dari tahun 1990
sampai pada 2015. Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT),
Studi Mortalitas dan Riset Kesehatan Dasar dari tahun ke tahun diketahui
bahwa diare masih menjadi penyebab utama kematian balita di Indonesia.
Penyebab utama kematian akibat diare adalah tata laksana yang tidak
tepat baik di rumah maupun di sarana kesehatan. Untuk menurunkan
kematian karena diare perlu tata laksana yang cepat dan tepat.1
Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat
di negara berkembang seperti di Indonesia, karena morbiditas dan
mortalitas-nya yang masih tinggi. Survei morbiditas yang dilakukan oleh
Subdit Diare, Departemen Kesehatan dari tahun 2000 s/d 2010 terlihat
kecenderungan insidens naik. Pada tahun 2000 IR penyakit Diare 301/1000
penduduk, tahun 2003 naik menjadi 374/1000 penduduk, tahun 2006 naik
menjadi 423 /1000 penduduk dan tahun 2010 menjadi 411/1000 penduduk.
Kejadian Luar Biasa (KLB) diare juga masih sering terjadi, dengan CFR
yang masih tinggi. Pada tahun 2008 terjadi KLB di 69 Kecamatan dengan
jumlah kasus 8133 orang, kematian 239 orang (CFR 2,94%). Tahun 2009
terjadi KLB di 24 Kecamatan dengan jumlah kasus 5.756 orang, dengan
kematian 100 orang (CFR 1,74%), sedangkan tahun 2010 terjadi KLB diare
di 33 kecamatan dengan jumlah penderita 4204 dengan kematian 73 orang
(CFR 1,74 %).2
Prevalensi diare klinis adalah 9,0% (rentang: 4,2% - 18,9%), tertinggi
di Provinsi NAD (18,9%) dan terendah di DI Yogyakarta (4,2%). Beberapa

1
provinsi mempunyai prevalensi diare klinis >9% (NAD, Sumatera Barat,
Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Nusa Tenggara Barat, Nusa
Tengara Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara,
Gorontalo, Papua Barat dan Papua). Bila dilihat per kelompok umur diare
tersebar di semua kelompok umur dengan prevalensi tertinggi terdeteksi
pada anak balita (1-4 tahun) yaitu 16,7%. Sedangkan menurut jenis kelamin
prevalensi laki-laki dan perempuan hampir sama, yaitu 8,9% pada laki-laki
dan 9,1% pada perempuan.3
Di Sulawesi Tengah tahun 2015, target penemuan kasus diare yaitu
61.561 kasus. Berdasarkan laporan bulanan program Diare menurut
Kabupaten/Kota tahun 2015, jumlah kasus Diare yang ditangani di sarana
kesehatan adalah sebanyak 55.211 kasus dengan persentase yaitu 89,7 %.
Secara keseluruhan, poporsi kasus diare dominan pada jenis kelamin
Perempuan (92,2%) dari pada jenis kelamin laki-laki (88,9%). Faktor-faktor
yang mempengaruhi rendahnya cakupan pelayanan diare yaitu masih
rendahnya kualitas dan kuantitas SDM yang terlatih dalam hal pencatatan
dan pelaporan belum optimal, seperti ada beberapa puskesmas yang
mengirimkan laporan belum lengkap serta masih ada beberapa kabupaten
yang masih menggunakan format pelaporan yang lama, sehingga
menyulitkan pengelola dalam merekap kembali laporan yang di kirim ke
pengelola program provinsi4.
Walaupun lebih dari 90 persen ibu mengetahui tentang paket oralit,
hanya satu dari tiga (35%) anak yang menderita diare diberi oralit, hasil
tersebut sama dengan temuan SDKI 2002-2003. Pada 30 % anak yang diare
diberi minuman lebih banyak, 22% diberi Larutan Gula Garam (LGG), dan
61% diberi sirup/pil, sementara 14% diberi obat tradisonal atau lainnya.
Sedangkan 17% anak yang menderita diare tidak mendapatkan pengobatan
sama sekali.32

2
Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berpotensi untuk
terjadinya kejadian luar biasa (KLB). Berdasarkan laporan P2 diare di
UPTD Puskesmas Wani, jumlah kesakitan diare bisa disebabkan banyak
faktor diantaranya masih kurangnya pemahaman dan kepedulian masyarakat
untuk berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti masih kurangnya
menggunakan air bersih, jamban dan personal hygenie.5

1.2 Rumusan Masalah


Pada laporan manajemen ini, permasalahan terkait program
penanggulangan diare yang akan dibahas antara lain:
1. Bagaimana pelaksanaan program penanggulangan diare di Puskesmas
Wani?
2. Apa saja permasalahan yang menjadi kendala dalam mencapai target
cakupan program penanggulangan diare di Puskesmas Wani?

3
BAB II
PERMASALAHAN

Penyakit Diare merupakan salah satu penyakit yang berpotensi


untuk terjadinya kejadiaan luar biasa ( KLB ). Berdasarkan laporan p2 diare
di UPT Puskesmas Wani, Jumlah kesakitan diare bisa disebabkan banyak
factor diantaranya masih kurangnya pemahaman dan kepedulian masyarakat
untuk berprilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti masih kurangnya
menggunakan air bersih, jamban dan personal hygenie.6
Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan tersebut
dilakukan upaya -upaya kesehatan. Salah satu upaya kesehatan yang
dilakukan pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan yang
optimal adalah program pencegahan dan pengendalian penyakit
menular. Penyakit menular yang sampai saat ini masih menjadi
program pemerintah di antaranya adalah program pengendalian penyakit
diare yang bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian
karena diare bersama lintas program dan sektor terkait.33

2.1 PROFIL PUSKESMAS WANI


UPTD Urusan Puskesmas Kamonji merupakan salah satu pusat
pelayanan kesehatan masyarakat yang terletak pada belahan Barat kota Palu,
dengan wilayah seluas ± 20 km2 yang seluruhnya dapat dilalui dengan
kendaraan roda empat.
Letak puskesmas UPTD Puskesmas Kamonji berada di wilayah
kecamatan Palu Barat kota Palu dengan batas-batas sebagai berikut :
1. Sebelah utara berbatasan dengan teluk Palu

4
2. Sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Nunu, Boyaoge dan
Balaroa
3. Sebelah Timur berbatasan dengan Sungai Palu
4. Sebelah barat berbatasan dengan Donggala Kodi dan Kelurahan
TipoBalaroa
Tabel 1.
Distribusi Kelurahan Dirinci Menurut Wilayah Kerja UPTD Urusan Puskesmas
Kamonji Tahun 2016

Luas
Jumlah Kepadatan
No Kelurahan Wilayah
Penduduk Penduduk (km2)
(KM2)

1. Silae 2,33 5.276 2.264

2. Kabonena 2,27 5.157 2.271

3. Lere 2,97 11.922 4.041

4. Baru 0,75 6.196 8.225

5. Ujuna 0,40 9.752 24.380

6. Kamonji 0,85 9.037 10.631

7. Siranindi 0,84 6.541 7.786

Total 10,41 53.881 5157

Penyakit diare masih termasuk dalam 10 penyakit terbanyak di


Poliklinik Puskesmas Wani tahun 2016, yaitu menempati urutan ke 4 dari
10 penyakit terbanyak. Jumlah kasus tahun 2016 yaitu berjumlah 942 orang,
tahun 2015 yaitu 994 orang. Hal ini menunjukkan bahwa penyakit diare di
puskesmas Wani mengalami penurunan jumlah kasus.5

5
Tabel 2.
Pola penyakit Untuk Semua Golongan Umur di Wilayah Kerja UPTD Urusan
Puskesmas Kamonji Tahun 2017

No. Jenis Penyakit Jumlah %

1 Penyakit pada system otot jaringan penyekat (penyakit


6.686 20.2
tulang belulang, radang sendi termasuk reumatik)
2 Penyakit lain pada saluran pernapsan bagian atas 6.553 19.8
3 Gastritis 6.241 18.8
4 Penyakit dan kelainan susunan syaraf lainnya 4.420 13.3
5 Penyakit kulit alergi 2.790 8.4
6 Penyakit pulpa dan jaringan peripikal 2.260 6.8
7 Infeksi akut lain pada saluran pernapasan bagian atas 1.415 4.3
8 Caries gigi 1.064 3.2
9 Penyakit mata lainnya (conjungtivitis, herdeulum,
864 2.6
pterygium)
10 Diare 856 2.5
Total 33.149

Pada pasien anak ditanyakan secara jelas gejala diare:2


1. Perjalanan penyakit diare yaitu lamanya diare berlangsung, kapan diare
muncul (saat neonatus, bayi, atau anak-anak) untuk mengetahui, apakah
termasuk diare kongenital atau didapat, frekuensi BAB, konsistensi dari

6
feses, ada tidaknya darah dalam tinja. Mencari faktor-faktor risiko
penyebab diare.
2. Gejala penyerta: sakit perut, kembung, banyak gas, gagal tumbuh.
3. Riwayat bepergian, tinggal di tempat penitipan anak merupakan risiko
untuk diare infeksi.2
Faktor Risiko:
1. Higiene pribadi dan sanitasi lingkungan yang kurang.
2. Riwayat intoleransi laktosa, riwayat alergi obat.2

2.2 Kebijakan Nasional Pengendalian Diare di Indonesia


Dalam rangka menunjang pelaksanaan program pengendalian diare
yang berbasis komunitas, upaya-upaya kesehatan perlu dilaksanakan melalui
pola-pola struktur organisasi. Besar atau kecilnya satu kesatuan organisasi
sangat berpengaruh terhadap kegiatan rutin dan pembangunan dari pokok
program, sehingga suatu struktur organisasi akan selalu berubah.
Pengorganisasian dalam pelaksanaan pencegahan dan penanggulangan
faktor risiko diare dimaksudkan agar program yang dilaksanakan dapat lebih
efektif, efisien dan berkualitas serta dapat memanfaatkan segala sumber
daya atau potensi yang ada di wilayah kerjanya. Gambaran
pengorganisasian harus dapat menyerap aspirasi yang berkembang
dimasyarakat.24
Tujuan umum program pengendalian penyakit diare yaitu
menurunkan angka kesakitan dan kematian karena diare bersama lintas
program dan sektor terkait. Adapun tujuan khususnya yaitu:3
1. Tercapainya penurunan angka kesakitan.
2. Terlaksananya tatalaksana diare sesuai standar.
3. Diketahuinya situasi epidemiologi dan besarnya masalah penyakit
diare di masyarakat, sehingga dapat dibuat perencanaan dalam

7
pencegahan, penanggulangan maupun pemberantasannya pada semua
jenjang pelayanan.
4. Terwujudnya masyarakat yang mengerti, menghayati dan
melaksanakan hidup sehat melalui promosi kesehatan kegiatan
pencegahan sehingga kesakitan dan kematian karena diare dapat
dicegah.
5. Tersusunnya rencana kegiatan pengendalian penyakit diare di suatu
wilayah kerja yang meliputi target, kebutuhan logistik dan
pengelolaanya.
Adapun kebijakan yang dilakukan dalam manajemen diare yaitu:3
1. Melaksanakan tatalaksana penderita diare yang standar, baik di
sarana kesehatan maupun masyarakat/rumah tangga.
2. Melaksanakan Surveilans Epidemiologi dan Penanggulangan KLB
diare.
3. Mengembangkan pedoman pengendalian penyakit diare.
4. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas dalam
pengelolaan program yang meliputi aspek manajerial dan teknis medis.
5. Mengembangkan jejaring lintas program dan sektor di pusat,
propinsi dan kabupaten/kota.
6. Meningkatkan pembinaan teknis dan monitoring untuk mencapai
kualitas pelaksanaan pengendalian penyakit diare secara maksimal.
7. Pelaksanaan evaluasi untuk mengetahui hasil kegiatan program dan
sebagai dasar perencanaan selanjutnya.35
Strategi program pencegahan dan penanggulangan diare yaitu:3
1. Melaksanakan tatalaksana penderita diare yang standar di sarana
kesehatan melalui Lima Langkah Tuntaskan Diare (LINTAS DIARE).
2. Meningkatkan tatalaksana penderita diare di rumah tangga yang
tepat dan benar.
3. Meningkatkan SKD dan penanggulangan KLB Diare.

8
4. Melaksanakan upaya kegiatan pencegahan yang efektif.
5. Melaksanakan monitoring dan evaluasi.
Pencegahan diare menurut Pedoman Tatalaksana Diare Depkes RI
(2006) adalah sebagai berikut:2
1. Pemberian ASI
2. Pemberian makanan pendamping ASI
3. Menggunakan air bersih yang cukup
4. Mencuci tangan
5. Menggunakan jamban
6. Membuang tinja bayi dengan benar
7. Pemberian imunisasi campak

2.3 Kegiatan Pengendalian Penyakit Diare


Strategi program pengendalian penyakit diare yaitu :
1. Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat
(PHBS) sehingga terhindar dari penyakit diare.
2. Memfasilitasi dan mendorong pengembangan potensi dan peran serta
masyarakat untuk penyebar luasan informasi kepada masyarakat
tentang pengendalian penyakit diare.
3. Mengembangkan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) yang efektif dan
efisien terutama bagi masyarakat yang berisiko.
4. Meningkatkan pengetahuan petugas dan menerapkan pelaksanaan
tatalaksana penyakit diare secara standar pada semua fasilitas
kesehatan.
5. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang
berkualitas melalui peningkatan sumber daya manusia dan penguatan
institusi, serta standardisasi pelayanan.
6. Meningkatkan surveilans epidemiologi penyakit diare pada seluruh
fasilitas pelayanan kesehatan.
7. Mengembangkan jejaring kemitraan secara multi disiplin lintas program
dan lintas sektor pada semua jenjang baik pemerintah maupun swasta.

9
Kegiatan program pengendalian penyakit diare yaitu:
1. Advokasi dan sosialisasi kepada pemangku kepentingan.
2. Sosialisasi dan edukasi tentang pengendalian penyakit diare kepada
petugas kesehatan terkait.
3. Promosi kesehatan kepada masyarakat melalui media komunikasi baik
cetak maupun elektronik.
4. Penyusunan dan pengembangan pedoman pengendalian penyakit daire
dan tatalaksana penderita penyakit diare sesuai standar.
5. Penanganan penderita penyakit diare sesuai tatalaksana standar.
6. Surveilans epidemiologi dan bantuan teknis dalam penanggulangan
KLB penyakit diare.
7. Upaya pencegahan yang melibatkan lintas program, lintas sektor dan
masyarakat
8. Pengelolaan logistic sebagai sarana penunjang program.
9. Pemantauan dan evaluasi secara berkala dan berkesinambungan.

Promosi Kesehatan
Tujuannya yaitu terwujudnya masyarakat yang mengerti, menghayati
dan melaksanakan hidup sehat melalui komunikasi, informasi dan
edukasi (KIE) sehingga kesakitan dan kematian karena penyakit diare
dapat dicegah.
Strategi promosi kesehatan terdiri dari:
1. Pengembangan kebijakan promosi kesehatan daerah
2. Peningkatan sumber daya promosi kesehatan
3. Pengembangan organisasi promosi kesehatan
4. Integrasi dan sikronisasi promosi kesehatan
5. Pendayagunaan data dan pengembangan sistem informasi
promosi kesehatan
6. Peningkatan kerjasama dan kemitraan
7. Pengembangan metode, teknik dan media

10
8. Fasilitas peningkatan promosi kesehatan.

Pencegahan
Tujuan yaitu tercapainya penurunan angka kesakitan dan kematian
penyakit diare melalui pengendalian faktor risiko. Pencegahan penyakit
diare dilakukan melalui:
a. Perilaku hidup bersih dan sehat
1) Pemberian ASI
2) Makanan pendamping ASI
3) Menggunakan air bersih yang cukup
4) Mencuci tangan
5) Menggunakan jamban
6) Membuang tinja bayi yang benar
7) Pemberian imunisasi campak.
b. Penyehatan lingkungan
c. Penyediaan air bersih
d. Pengelolaan sampah
e. Sarana pembuangan air limbah

Sarana Rehidrasi Oral


Sarana rehidrasi oral adalah sarana pemberian oralit dan observasi atau
pengamatan selama 4 jam untuk penderita diare dehidrasi ringan sedang
serta penyuluhan atau peragaan tentang cara pemberian oralit.
Kegiatan sarana rehidrasi oral
1) Penyuluhan upaya rehidrasi oral
a) Memberikan peragaan tentang bagaimana mencampur
larutan oralit dan bagaimana cara memberikannya.
b) Menjelaskan cara mengatasi kesulitan dalam memberikan
makan pada anak atau ASI pada bayi.

11
c) Mengajari ibu mengenai bagaimana meneruskan
pengobatan selama anaknya d rumah dan menentukan
indikasi kapan anaknya dibawa kembali ke puskesmas.
d) Petugas kesehatan perlu memberikan penyuluhan pada
pengunjung puskesmas dengan menjelaskan tata laksana
penderita diare di rumah serta pencegah diare.
2) Pelayanan penderita
Setelah penderita diperiksa, tentukan diagnosis dan derajat
dehidrasi di ruang pengobatan, tentukan jumlah cairan yang
harus diberikan dalam 4 jam berikutnya dan bawalah ibu ke
sarana rehidrasi oral untuk menunggu selama observasi serta:
a) Jelaskan manfaat oralit dan ajari ibu membuat larutan
oralit dan ajari ibu membuat larutan oralit
b) Perhatikan ibu waktu memberikan oralit
c) Perhatikan penderita secara periodik dan catat
keadaannya setiap 1-2 jam sampai penderita teratasi
rehidrasinya (4 jam).
d) Catat/hitung jumlah oralit yang diberukan
e) Berikan zink sesuai dengan dosis sesuai usia anak
f) Berikan pengobatan terhadap gejala lainnya seperti
penurun panas dan antibiotic untuk mengobati disentri
dan kolera

2.4 Tatalaksana Penderita Diare


Tujuannya:
1. Mencegah dehidrasi
2. Mengobati dehidrasi
3. Mencegah gangguan nutrisi dengan memberikan makan selama
dan sesudah diare
4. Memperpendek lamanya sakit dan mencegah diare menjadi berat

12
Prinsip tatalaksana penderita diare: LINTAS Diare ( Lima Langkah
Tuntaskan Diare ), yang terdiri atas:
1. Berikan Oralit
2. Berikan obat Zinc
3. Pemberian ASI / Makanan :
4. Pemberian Antibiotika hanya atas indikasi
5. Pemberian Nasehat
Ibu atau pengasuh yang berhubungan erat dengan balita harus
diberi nasehat tentang :
1. Cara memberikan cairan dan obat di rumah
2. Kapan harus membawa kembali balita ke petugas kesehatan bila :
- Diare lebih sering
- Muntah berulang
- Sangat haus
- Makan/minum sedikit
- Timbul demam
- Tinja berdarah
- Tidak membaik dalam 3 hari.

Sarana Rehidrasi
Sarana rehidrasi dapat digolongkan menurut tempat pelayanan yaitu
di puskesmas yang disebut pojok Upaya Rehidrasi Oral (URO) atau
lebih dikenal dengan nama pojok oralit dan di rumah sakit disebut
kegiatan pelatihan diare (KPD).
1. Pojok oralit
Pojok oralit didirikan sebagai upaya meningkatkan
pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat/ ibu rumah tangga,
kader, dan petugas kesehatan dalam tata laksana penderita diare.
Pojok oralit juga merupakan sarana untuk observasi penderita
diare. Melalui pojok oralit, diharapkan dapat meningkatkan

13
kepercayaan masyarakat dan petugas terhadap tata laksana
penderita diare khususnya dengan upaya rehidrasi oral.

a. Fungsi
1) Mempromosikan upaya-upaya rehidrasi oral
2) Memberi pelayanan penderita diare
3) Memberikan pelatihan kader (posyandu)
b. Tempat
Pojok oralit adalah bagian dari suatu ruangan di puskesman
(ruang tunggu pasien) dengan 1-2 meja kecil. Seorang petugas
puskesmas dapat mempromosikan rehidrasi oral pada ibu yang
sedang menunggu giliran untuk suatu pemeriksaan. Bagi
penderita diare dengan dehidrasi ringan-sedang di observasi di
pojok oralit selama 3 jam. Ibu atau keluarganya akan diajarkan
bagaimana cara menyiapkan oralit dan berapa banyak oralit
yang harus diminum oleh penderita.
c. Sarana pendukung
1) Tenaga pelaksana: dokter atau paramedis terlatih
2) Ruangan yang dilengkapi dengan meja, ceret, oralit 200 ml,
gelas, sendok, lap bersih, sarana cuci tangan dengan air
mengalir, dan sabun (westafel), poster untuk penyuluhan dan
tata laksana penderita diare.
3) Cara membuat pojok oralit
a) Pilihan lokasi
1. Dekat tempat tunggu (ruang tunggu), ruang periksa,
serambi muka yang tidak berdesakan
2. Dekat dengan toilet atau kamar mandi
3. Nyaman dan baik ventilasinya
b) Pengaturan model
1. Sebuah meja untuk mencampur larutan oralit dan
menyiapkan larutan

14
2. Kursi atau bangku dengan sandaran, sehingga ibu
dapat duduk dengan naman saat memangku anaknya
3. Sebuah meja kecil dimana ibut dapat menempatkan
gelas yang berisi larutan oralit
4. Oralit paling sedikit 1 kotak (100 bungkus)
5. Botol susu/gelas ukur
6. Gelas
7. Sendok
8. Lembar balik yang menerangkan pada ibu bagaimana
mengobati atau merawat anak diare
9. Leaflet untuk dibawa pulang ke rumah.
d. Kegiatan Pojok Oralit
1) Penyuluhan upaya rehidrasi oral
a) Memberiksan demonstrasi tentang bagaimana cara
mencampur larutan oralit dan bagaimana cara
memberikannya.
b) Menjelaskan cara mengatasi kesulitan dalam
memberikan larutan oralit bila ada muntah
c) Memberikan dorongan pada ibu untuk memulai
memberikan makanan pada anak atau ASI pada bayi
d) Mengajari ibu mengenai bagaimana meneruskan
pengobatan selama anaknya dirumah dan
menentukan indikasi kapan anaknya dibawa kembali
ke puskesmas.
e) Petugas kesehatan perlu memberikan penyuluhan
pada pengunjung puskesmas dengan menjelaskan
tata laksana penderita diare di rumah serta cera
pencegahan diare.
2) Pelayanan penderita
Setelah penderita diperiksa dan ditentukan diagnosis
dan derajat dehidrasinya di ruang pengobatan, tentukan

15
juga jumlah cairan yang diberikan dalam 3 jam berikutnya
dan bawalah ibu ke pojok oralit untuk menunggu selama
diobservasi serta:
a) Jelaskan manfaat oralit dan ajari ibu membuat larutan
oralit
b) Perhatikan ibu waktu memberikan oralit
c) Perhatikan penderita secara periodic dan catat
keadaannya (pada catatan klinik penderita diare rawat
jalan) setiap 1-2 jam sampai penderita teratasi
rehidrasinya (3-6 jam)).
d) Catat/hitung jumlah oralit yang diberikan
e) Berikan Zink dengan dosis sesuai anak
f) Berikan pengobatan terhadap gejala lainnya, seperti
penurun panas dan antibiotika untuk mengobati disentri
dan kolera.

16
BAB III
PEMBAHASAN

A. Input
Program penanggulangan diare di Puskesmas Wani dikelola oleh
seorang perawat yang bekerja sama dengan dokter yang ada di Puskesmas
Wani. Sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk pengendalian diare di
wilayah kerja Puskesmas Wani cukup baik. Akses ke wilayah kerja
Puskesmas Wani mudah ditempuh, terkecuali untuk beberapa daerah yang
dikatakan desa sulit, seperti desa Guntarano dan Bale.

B. Proses
Perencanaan program penanggulangan diare di Puskesmas Wani
mengikuti pedoman pengendalian penyakit diare yang dikeluarkan oleh
pemerintah Kabupaen Donggaa sebagai acuan pelaksanaan program seperti
surveilans, promosi kesehatan, pencegahan, pengelolaan logistik, sarana
rehidrasi oral, kegiatan penanggulangan diare serta pemantauan dan evaluasi.
Penggerakan pelaksanaan program dilaksanakan dengan berkoordinasi
antara beberapa lintas program, misalnya kesehatan lingkungan dan promosi
kesehatan.
Pemantauan program dilakukan per bulan untuk menilai kejadian diare
di wilayah kerja Puskesmas Wani.
Adapun kendala yang didapatkan oleh pengelola program ialah kadang
pasien yang datang ke puskesmas dengan diare terkadang belum bisa
didiagnosis dengan diare karna sebagian pasien yang datang ke puskesmas
datang dengan keluhan buang air besar dan kadang itu tidak cair dan tidak
lebih dari 3x. hal ini yang membuat petugas sulit untuk mencari tahu apakah
ada kejadian diare di wilayah tersebut untuk kunjungan selanjutya.
Kendala selanjutnya adalah kurangnya SDM karena pada puskesmas
Wani biasa yang pemegang program yang mejalankan kegiatan Poliklinik

17
sehingga tidak efektifnya kunjungan ke rumah pasien. Kemudian dari
masyarakatnya sendiri kurangnya keingintahuan mengenai penyakit hanya
beberapa warga saja yang mengikuti kegiatan promosi kesehatan.
Untuk penanganan diare di puskesmas Wani yaitu dilakukan pemberian
oralit kepada setiap pasien yang datang dengan keluhan buang air cair 3x atau
lebih dalam sehari. Jika pada anak-anak biasanya akan dilakukan observasi
selama beberapa jam untuk menilai tanda-tanda dehidrasi yang terjadi.
Adapun program kerja yang dilakukan di Puskesmas Wani terkait
dengan penanggulangan diare antara lain:
1. Penemuan subjek
Penemuan subjek di Puskesmas Wani dilaksanakan secara pasif. Secara
pasif, pasien ditemukan karena datang ke puskesmas atas kemauan
sendiri atau saran orang lain dan dicurigai sebagai penderita diare.
2. Diagnosis
Penegakkan diagnosis diare di puskesmas Wani berdasarkan anamnesis
(BAB cair lebih dari 3 kali sehari) dan pemeriksaan fisik (ditemukan
tanda-tanda dehidrasi dan pemeriksaan konsitensi BAB).
3. Pengobatan
Pasien yang terdiagnosis dengan diare maka akan diterapi dengan
pemberian obat anti diare, antibiotik dan vitamin serta antipiretik jika
perlu. Pada dasarnya penanganan diare sebaiknya mengacu pada lima
pilar lintas diare yakni pemberian zink selama 10 hari, pengunaan oralit,
teruskan ASI-makanan, edukasi, serta penggunaan antibiotik yang
selektif.
4. Pojok Oralit
Di puskesmas Wani, setelah diagnosis diare dan derajat dehidrasi
ditentukan, pasien akan dibawa ke pojok oralit untuk mendapatkan
edukasi tentang tatalaksana pemberian oralit di rumah dan edukasi
mengenai diare tersebut. Menurut buku pedoman pengendalian penyakit
diare, pojok oralit digunakan untuk mempromosikan upaya-upaya
rehidrasi oral dan memberi pelayanan tempat diare. Adapun kegiatan

18
yang dilakukan di pojok oralit yaitu berupa penyuluhan upaya rehidrasi
oral. Di puskesmas Wani sendiri, pasien yang telah didiagnosis sebagai
diare, akan diarahkan ke ruang pojok oralit. Disana pasien hanya
diberikan oralit dan diberikan penyuluhan mengenai cara pembuatan
oralit dirumah. Menurut buku pedoman, seharusnya pada ruang pojok
oralit, dilakukan demonstrasi langsung mengenai cara pembuatan oralit.
Edukasi mengenai cara mengatasi kesulitan dalam memberikanoralit dan
memberikan dorongan pada ibu untuk tetap memberikan makanan/ASI
selama diare telah dilakukan, namun belum dilakukan edukasi mengenai
indikasi kapan seharusnya anak dibawa kembali ke puskesmas. Jadi
seharusnya, para petugas yang bertugas di ruang pojok oralit harus lebih
aktif dan lebih lengkap dalam mengedukasi pasien, terutama mengenai
tatalaksana penderita diare di rumag dan pencegahan terjadinya diare,
agar angka morbiditas dan mortalitas akibat diare dapat dicegah
peningkatannya. Edukasi mengenai pencegahan seperti perilaku hidup
bersih sehat, penyehatan lingkungan, penyediaan air bersih, pengelolaan
sampah, dan sarana pembuangan air limbah.
5. Penyuluhan perseorangan
Penyuluhan perseorangan dilakukan oleh dokter dan penanggung jawab
program saat pasien datang pertama kali ke puskesmas.
6. Promosi kesehatan
Promosi kesehatan adalah upaya memberdayakan perorangan, kelompok,
dan masyarakat agar memelihara, meningkatkan, dan melindungi
kesehatannya melalui peningkatan pengetahuan, kemauan, dan
kemampuan serta mengembangkan iklim yang mendukung, dilakukan
dari, oleh, dan untuk masyarakat sesuai dengan faktor budaya setempat.
Promosi kesehatan tentang diare dilakukan pada saat melakukan
kunjungan rumah, posyandu maupun edukasi ke sekolah-sekolah. Salah
satu bentuk promosi kesehatan yaitu dengan mengupayakan program
perilaku hidup bersih dan sehat, penyehatan lingkungan, penyediaan air

19
bersih, pengelolaan sampah dan penyediaan sarana pembuangan air
limbah ke masyarakat.
7. Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dan pelaporan kasus diare dilakukan secara per bulan.
Keberhasilan program dapat dinilai.

C. Output
Pada output program ini sudah mencapai target. Data yang diperoleh
dari kasus diare dari tahun 2014 terdapat 254 kasus dan mengalami
peningkatan ke tahun 2015 sebanyak 266 kasus. dari tahun 2015 ke tahun
2016 juga mengalami peningkatan yaitu sebanyak 274 kasus. Hal ini
mencerminkan bahwa masih kurang kebersihan lingkungan, kebersihan diri
dan makanan serta mengkonsumsi makanan dan minuman bergizi tinggi, juga
upaya-upaya preventif lainnya berpengaruh besar terhadap terjadinya kasus
Diare. Peningkatan pada kasus diare dikarenakan faktor perilaku dari setiap
masyarakat yang belum menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Contohnya sampah yang tidak dibuang pada tempatnya sehingga menumpuk
dan membusuk salah satu faktor yang mempengaruhi pada kasus diare. Selain
itu terdapat curah hujan yang mengakibatkan air menjadi tergenang dan
terdapat banyak sampah yang tidak dibersihkan.

20
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
1. Dalam pelaksanaan program penanganan diare, perlu memperhatikan
program yang telah dicanangkan oleh pemerintah dengan menerapkan
program LINTAS DIARE mengingat puskesmas merupakan tempat
pelayanan primer.
2. Masalah diare dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti, faktor
lingkungan, perilaku dan pelayanan kesehatan yang saling berinteraksi
secara kompleks. Oleh karena itu penanggulangan masalah diare harus
dilaksanakan secara menyeluruh dan terpadu dengan pendekatan
spesifik wilayah.
3. Kegiatan program penanggulangan penyakit diare di Puskesmas Wani
yaitu tatalaksana pasien, sosialisasi dan edukasi, promosi kesehatan,
pencegahan, dan surveilans epidemiologi.
4. Permasalahan yang menjadi kendala dalam mencapai target cakupan
program pengendalian penyakit diare di Puskesmas Wani adalah faktor
perilaku pasien yang belum menerapkan pola PHBS sebagai
pencegahan diare.

4.2 Saran
1. Lebih di tingkatkan kegiatan penyuluhan berupa penyuluhan perorang
terlebih ke rumah keluarga yang mengalami diare, untuk menerapkan
pencegahan diare.

21
2. Meningkatkan kegiatan promosi kesehatan mengenai pola hidup bersih
dan sehat seperti pengelolaan air minum, pengelolaan sanitasi dan
perilaku cuci tangan dengan sabun, pemamfaaan jamban keuarga.
3. Kegiatan penemuan pasien harus lebih sering dilakukan secara aktif
untuk menjaring pasien-pasien yang tidak terdeteksi dengan
penjaringan pasif.
4. Penyusunan standar pelayanan minimal untuk menjalankan program
penanggulangan diare berdasarkan program LINTAS DIARE.

22
DAFTAR PUSTAKA

1. World Health Organization. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit.


Jakarta: WHO Indonesia. 2009.
2. Ikatan Dokter Indonesia. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Primer. Jakarta : IDI. 2014.
3. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Buku
Saku Petugas Kesehatan – Lintas Diare. Jakarta : Departemen Kesehatan RI.
2011.
4. Provinsi Sulawesi Tengah, Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah. Palu :
Provinsi Sulawesi Tengah. 2015
5. Puskesmas Wani. Profil Kesehatan Puskesmas Wani. Palu : Puskesmas Wani.
2016.
6. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Pelayanan Medis Edisi II. Jakarta :
Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2011.
7. Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah. Buku Pedoman Pengendalian
Penyakit Diare. Palu: Dinas Kesehatan Sulteng. 2014.

23