Anda di halaman 1dari 38

TUGAS KELOMPOK KMB III

GANGGUAN SISTEM MUCKULOSKELETAL


GOUTARTHRITIS

Kelompok 5 :

Ferdy Hendrianus Muhu (010217A016)

Ika Pramulya Sutarto (010217A020)

Mieke Oktavia Purnama (010217A022)

Reni Fermiati (010217A026)

Sandi Satriyanda (010217A029)

Winda Diah Pertiwi (010217A035)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN TRANSFER

UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

TAHUN 2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perubahan-perubahan akan terjadi pada tubuh manusia sejalan dengan


makin meningkatnya usia. Perubahan tubuh terjadi sejak awal kehidupan hingga
usia lanjut pada semua orang dan jaringan tubuh. Keadaan demikian itu tampak
pula pada semua sistem muskuloskeletal dan jaringan lain yang ada kaitannya
dengan kemungkinan timbulnya beberapa golongan penyakit misalnya penyakit
gout arthitis. Gout arthiti akut biasanya terjadi pada pria sesudah lewat masa
pubertas dan sesudah menopouse pada wanita, sedangkan kasus yang paling
banyak ditemui pada usia 50-60 tahun.

Gout arthitis lebih banyak dijumpai pada pria, sekitar 95% penderita gout
arthitis adalah pria. Urat serum wanita normal jumlahnya sekitar 1 mg / 100 ml,
lebih sedikit jika dibandingkan dengan pria. Tetapi sesudah menopouse perubahan
tersebut krang nyata. Pada pria hiperurisemia biasanya tidak timbul sebelum
mereka mencapai usia remaja.

Berdasarkan jenis kelamin Dosen dan Tenaga Kependidikan Universitas


Siliwangi tahun 2014 menyatakan responden berjenis kelamin laki-laki
mendominasi jumlahnya 65% sebanyak 117 orang, sedangkan perempuan
berjumlah 63 orang (35%). Berdasarkan kategori IMT menunjukkan bahwa
responden terbanyak pada kategori tidak gemuk berjumlah 153 orang (85,0%)
ristalg responden yang gemuk 27 orang (15,0%). Berdasarkan konsumsi makan \
tinggi purin pada Hiperurisemia menunjukan bahwa jenis makanan tinggi purin
yang paling sering dikonsumsi oleh dosen dan tenaga kependidikan adalah hati
ayam kaldu, ampela, ikan teri dan sarden.Makanan tinggi purin dari produk
hewani seperti sardine, hati ayam, hati, sapi, ginjal sapi, otak, daging, herring,
mackerel, rista, ikan, akan dapat meningkatkan kadar asam urat, apalagi bila rista
setiap hari dikonsumsi dalam jumlah berlebihan (Kanbara, 2010).
Gout akut biasanya monoartikular dan timbulnya tiba-tiba. Tanda-tanda
awal serangan gout adalah rasa sakit yang hebat dan peradangan lokal.
Kemungkinan juga menderita demam dan jumlah sel darah putih meninngkat.
Serangan akut mungkin didahului oleh tindakan pembedahan, trauma lokal, obat,
alkohol, dan stres emosional. Meskipun yang paling sering terserang mula-mula
adalah ibu jari kaki, tetapi sendi lainnya juga dapat terserang. Dengan semakin
lanjutnya penyakit maka sendi jari, lutut, pergelangan tangan, pergelangan kaki
dan siku dapat terserang gout. Serangan gout akut biasnya bisa sembuh sendiri.
Kebanyakan gejala-gejala serangan akut akan berkurang setelah 10-14 hari
walaupun tanpa pengobatan.

B. Rumusan Masalah

1. Apa definisi dari arthritis gout ?

2. Apa etiologi dari arthritis gout ?

3. Apa saja klasifikasi dari arthritis gout ?

4. Apa saja manifestasi klinik dari arthritis gout ?

5. Bagaimana patofisiologi dari arthritis gout ?

6. Apa saja komplikasi yang muncul dari arthritis gout ?

7. Apa saja pemeriksaan diagnostik untuk arthritis gout ?

8. Bagaimana penatalaksanaan untuk arthritis gout ?

9. Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada arthritis gout ?

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Dengan adanya makalah ini diharapkan para pembaca dapat mengerti


mengenai “arthritis gout”

2. Tujuan Khusus
Dengan adanya makalah ini diharapkan para pembaca dapat mengerti
tentang :

a. Definisi dari arthritis gout

b. Etiologi dari arthritis gout

c. Klasifikasi dari arthritis gout

d. Manifestasi klinik dari arthritis gout

e. Patofisiologi dari arthritis gout

f. Komplikasi yang muncul dari arthritis gout

g. Pemeriksaan diagnostik untuk arthritis gout

h. Penatalaksanaan untuk arthritis gout

i. Konsep asuhan keperawatan pada arthritis gout


BAB II

TINJAUAN TEORI

A. DEFINISI ARTHRITIS GOUT

Arthritis gout adalah penyakit yang terjadi akibat adanya peningkatan

kronis konsentrasi asam urat di dalam plasma (Stepan, 2012). Gout merupakan

terjadinya penumpukan asam urat dalam tubuh dan terjadi kelainan

metabolisme purin. Gout merupakan kelompok keadaan heterogenous yang

berhubungan dengan defek genetik pada metabolisme purin (hiperurisemia)

Brunner dan Suddarth, 2012).

Gout (pirai) adalah penyakit sendi yang disebabkan karena kelainan

metabolisme purin. Penyakit ini mengakibatkan peradangan sendi. Di mana

terjadi penumpukan asam urat dalam tubuh secara berlebihan, baik akibat

produksi yang meningkat, pembuangannya melalui ginjal yang menurun, atau

akibat peningkatan asupan makanan kaya purin.

Dari beberapa defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa Arthritis gout

adalah penyakit yang terjadi akibat adanya endapan kristal-kristal monosodium

urate dalam sendi yang akan berdampak terjadinya inflamasi dan nyeri pada

sendi.

B. ETIOLOGI

Penyakit gout terbagi menjadi 2 jenis, yaitu gout primer dan gout

sekunder. Gout primer adalah penyakit gout dimana mengalami peningkatan

asam urat dan penurunan ekskresi tubular asam urat. Pada penyakit gout
primer, 99% penyebabnya belum diketahui (idiopatik). Diduga berkaitan

dengan kombinasi faktor genetik dan faktor hormonal yang menyebabkan

gangguan metabolisme yang dapat mengakibatkan meningkatnya produksi

asam urat atau bisa juga diakibatkan karena berkurangnya pengeluaran asam

urat dari tubuh.

Sedangkan gout sekunder terjadi karena konsumsi obat atau toksin,

makanan dengan kadar purin yang tinggi, penyakit darah (penyakit sumsum

tulang,polisitemia), kadar trigliserida yang tinggi yang dapat menurunkan

ekskresi asam urat dan mencetusnya serangan akut.

Gejala arthritis gout disebabkan oleh reaksi inflamasi terhadap

pembentukan Kristal monosodium urat monohidrat. Karena itu dilihat dari

penyebabnya, penyakit ini termasuk golongan kelainan metabolic. Kelainan ini

berhubungan dengan gangguan kinetic asam urat yaitu hiperurisemia..

hiperurisemia pada penyakit ini terjadi karena:

1. Pembentukan asam urat yang berlebihan;

a. Gout primer metabolik, disebabkan sintesis langsung yang bertambah.

b. Gout sekunder metabolik, disebabkan pembentukan asam urat

berlebihan karena penyakit lain seperti leukemia.

2. Kurangnya pengeluran asam urat melalui ginjal;

a. Gout primer renal, terjadi karena gangguan ekskresi asam urat di tubuli

distal ginjal yang sehat. Penyebabnya tidak diketahui.

b. Gout sekunder renal, disebkan oleh kerusakan ginjal, misalnya pada

glomerulonefritis kronik atau gagal ginjal kronik.


3. Peningkatan asupan makanan yang mengandung purin (kerang-kerangan,

jerohan, udang, cumi, kerang, kepiting, ikan teri)

4. Penyakit kulit (psoriasis)

5. Kadar trigliserida yang tinggi

6. Pada penderita diabetes yang tidak terkontrol dengan baik biasanya

terdapat kadar benda-benda keton (hasil buangan metabolisme lemak)

yang meninggi.

Faktor predisposisi :

1. Usia

2. Genetik

Faktor prespitasi :

1. Obesitas

2. Obat-obatan

3. Alkohol

4. Stress emosional

C. KLASIFIKASI

Klasifikasi berdasarkan manifestasi klinik:

1. Stadium artritis gout akut

Pada tahap ini penderita akan mengalami serangan artritis yang khas

dan serangan tersebut akan menghilang tanpa pengobatan dalam waktu 5 – 7

hari. Karena cepat menghilang, maka sering penderita menduga kakinya

keseleo atau kena infeksi sehingga tidak menduga terkena penyakit gout dan
tidak melakukan pemeriksaan lanjutan. Pada serangan akut yangtidak berat,

keluhan-keluhan dapat hilang dalam beberapa jam atau hari. Pada serangan

akut berat dapat sembuh dalam beberapa hari sampai beberapa minggu.

Faktor pencetus serangan akut antara lain berupa trauma lokal, diet

tinggi purin, kelelahan fisik, stres, tindakan operasi, pemakaian obat diuretik

atau penurunan dan peningkatan asam urat.

2. Stadium interkritikal

Pada keadaan ini penderita dalam keadaan sehat selama jangka waktu

tertentu. Jangka waktu antara seseorang dan orang lainnya berbeda. Ada

yang hanya satu tahun, ada pula yang sampai 10 tahun, tetapi rata-rata

berkisar 1 – 2 tahun. Panjangnya jangka waktu tahap ini menyebabkan

seseorang lupa bahwa ia pernah menderita serangan artritis gout atau

menyangka serangan pertama kali dahulu tak ada hubungannya dengan

penyakit gout.

Walaupun secara klinik tidak didapatkan tanda-tanda akut, namun

pada aspirasi sendi ditemukan kristal urat. Hal ini menunjukkan bahwa

proses peradangan tetap berlanjut, walaupun tanpa keluhan. Dengan

manajemen yang tidak baik , maka keadaan interkritik akan berlajut menjadi

stadium dengan pembentukan tofi.

3. Stadium artritis gout menahun (kronik)

Tahap ketiga disebut sebagai tahap artritis gout kronik bertofus. Tahap

ini terjadi bila penderita telah menderita sakit selama 10 tahun atau lebih.

Pada tahap ini akan terjadi benjolan-benjolan di sekitar sendi yang sering
meradang yang disebut sebagai tofus. Tofus ini berupa benjolan keras yang

berisi serbuk seperti kapur yang merupakan deposit dari kristal monosodium

urat. Tofus ini akan mengakibatkan kerusakan pada sendi dan tulang di

sekitarnya. Pada stadium ini kadang-kadang disertai batu saluran kemih.

pirai menahun dan berat, yang menyebabkan terjadinya kelainan bentuk

sendi.

Pengendapan kristal urat di dalam sendi dan tendon terus berlanjut dan

menyebabkan kerusakan yang akan membatasi pergerakan sendi. Benjolan

keras dari kristal urat (tofi) diendapkan di bawah kulit di sekitar sendi. Tofi

juga bisa terbentuk di dalam ginjal dan organ lainnya, dibawah kulit telinga

atau di sekitar sikut. Jika tidak diobati, tofi pada tangan dan kaki bisa pecah

dan mengeluarkan massa kristal yang menyerupai kapur.

Klasifikasi berdasarkan penyebabnya:

1. Gout primer

Gout primer merupakan akibat langsung pembentukan asam urat

berlebihan, penurunan ekskresi asam urat melalui ginjal.

2. Gout sekunder

Gout sekunder disebabkan oleh penyakit maupun obat-obatan.

1). Obat-obatan

Salisilat dosis rendah, diuretik, pyrazinamide(obat TBC), levodopa

(obat parkinson), asam nikotinat,ethambutol.

2). Penyakit lain


Insufisiensi ginjal: gagal ginjal adalah salah satu penyebab yang

lebih lazim hiperusemia. Pada gagal ginjal kronikkdar asam urat pada

umumnya tidak akan meningkat sampai kretinie clearance kurang dari 20

mL/menit, kecuali bila ada faktor-faktor lain yang berperan. Pada

kelainan ginjal tertentu, seperti nefpropati karena keracunan timbal

menahun, hiperusemia umumnya telah dapat diamati bahkan dengan

insufisiensi ginjal yang minimal.

D. MANIFESTASI KLINIK

Secara klinis ditandai dengan adanya arthritis, tofi, dan batu ginjal.

Daerah khas yang sering mendapat serangan adalah pangkal ibu jari kaki

sebelah dalam, disebut podagra.

Gejala lain dari artritis pirai akut adalah demam, menggigil, perasaan

tidak enak badan dan denyut jantung yang cepat,.sendi bengkak, kemerahan,

nyeri hebat, panas dan gangguan gerak dari sendi yang terserang yang terjadi

mendadak (akut).

Manifestasi klinik gout terdiri dari artritis gout akut, interkritikal gout,

dan gout menahun (kronik) dengan tofi. Ketiga stadium ini merupakan stadium

yang klasik dan didapat deposisi yang progresif kristal urat.

Serangan gout biasanya timbul mendadak pada malam hari pada satu

tempat (biasanya sendi pangkal ibu jari kaki). Pada saat serangan, daerah

sekitar sendi tersebut menjadi panas, merah, bengkak, dan keras. Dapat juga
disertai demam. Nyerinya, yang dapat sangat hebat biasanya mencapai

puncaknya dalam 24 jam.

E. PATOFISIOLOGI
Adanya gangguan metabolisme purin dalam tubuh, intake bahan yang
mengandung asam urat tinggi dan system eksresi asam urat yang tidak adekuat
akan menghasilkan akumulasi asam urat yang berlebihan di dalam plasma
darah (hiperuricemia), sehingga mengakibatkan kristal asam urat menumpuk
dalam tubuh. Penimbunan ini menimbulkan iritasi lokal dan menimbulkan
responinflamasi.
Hiperuricemia merupakan hasil :
1. Meningkatnya produksi asam urat akibat metabolisme purine abnormal.
2. Menurunnya eksresi asam urat.
3. Kombinasi keduanya.
Saat asam urat menjadi bertumpuk dalam darah dan cairan tubuh lain,
maka asam urat tersebut akan mengkristal dan akan membentuk garam – garam
urat yang berakumulasi atau menumuk di jaringan konectif diseluruh tubuh,
penumpukan ini disebut tofi. Adanya Kristal memicu respon inflamasi akut dan
netrofil melepaskan lisosomnya. Lisosom tidak hanya merusak jaringan, tapi
juga menyebabkan inflamasi.
Banyak faktor yang berperan dalam mekanisme serangan gout. Salah
satunya yang telah diketahui peranannya adalah konsentrasi asam urat dalam
darah. Mekanisme serangan gout akan berlangsung melalui beberapa fase
secara berurutan, sebagai berikut :
1. Presipitasi Kristal monosodium urat. Dapat terjadi dalam jaringan bila
konsentrasi dalam plasma lebih dari 9 mg/dl. Prseipitasi ini terjadi di rawan,
sonovium, janringan para – artikuler misalnya bursa, tendon dan selaputnya.
Kristal urat yang bermuatan negatif akan dibungkus ( coate ) oleh berbagai
macam protein. Pembungkusan dengan IgG akan merangsang netrofil untuk
berespon terhadap pembentukan Kristal.
2. Respon leukosit polimorfonukuler ( PMN ). Pembentukan Kristal
menghasilkan faktor kemotaksis yang menimbulkan respon leukosit PMN
dan selanjutnya akan terjadi fagositosis Kristal oleh leukosit.

F. KOMPLIKASI

1. Penyakit ginjal

2. Batu ginjal (endapan kristal)

3. Hipertensi

G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

1. Pemeriksaan serum asam urat

Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan kadar asam urat yang

tinggi dalam darah ( >6 mg% ). Kadar asam urat normal dalam serum pada

pria 8 mg% dan pada wanita 7mg%. pemeriksaan ini mengindikasikan

hiperurisemia, akibat peningkatan produksi asam urat atau gangguan

ekskresi.

Pemeriksaan kadar asam urat dalam darah diperlukan untuk

mengetahui apakah kadar asam urat dalam darah berlebih (hiperusemia) dan

juga untuk memantau hasil pengobatan.pemeriksaan kadar asam urat dalam

darah biasanya juga diminta pada pasien-pasien yang mendapatkan

kemoterapi tertentu. Penurunan berat badan yang cepat yang mungkin

terjadi pada kemoterapi tersebut dapat meningkatkan jumlah asam urat

dalam darah. Nilai normal pemeriksaan kadar asam urat dalam darah antara

3,0 sampai 7,0 mg/dL. Tapi nilai normal tiap rumah sakit berbeda. Angka
leukosit, menunjukkan peningkatan yang signifikan mencapai 20.000/mm3

selama serangan akut. Selama periode asimtomatik angka leukosit masih

dalam batas normal yaitu 5000-10.000/mm3.

2. Eusinofil Sedimen Rate (ESR)

Meningkat selama serangan akut. Peningkatan kecepatan sedimen rate

mengindikasikan proses inflamasi akut, sebagai akibat deposit asam urat di

persendian.

3. Urine specimen 24 jam

Urin dikumpulkan dan diperiksa untuk menentukan produksi dan

ekskresi dan asam urat. Jumlah normal seseorang mengekskresikan 250-750

mg/24 jam asam urat di dalam urin. Ketika produksi asam urat meningkat

maka level asam urat urin meningkat. Kadar kurang dari 800 mg/24 jam

mengindikasikan gangguan ekskresi pada pasien dengan peningkatan serum

asam urat.

Instruksikan pasien untuk menampung semua urin dengan feses atau

tissue toilet selama waktu pengumpulan biasanya diet purin normal

direkomendasikan selama pengumpulan urin meskipun diet bebas purin

pada waktu itu diindikasikan.

4. Analisis cairan aspirasi dari sendi yang mengalami inflamasi akut atau

maternal aspirasi dari sebuah tofi menggunakan jarum Kristal urat yang

tajam, memberikan diagnosis definitive gout..


5. USG

Pemeriksaan ini penting untuk menilai ginjal pasien-pasien dengan

hiperusemia dan penyakit ginjal. Pemeriksaan ini untuk mengetahui ada

tidak batu asam urat.

H. PENATALAKSANAAN

1. Penatalaksanaan

a. Diet, dianjurkan menurunkan berat badan pada pasien yang gemuk.

Hindari makanan tinggi purin (hati, ikan sarden, daging kambing, dan

sebagainya), termasuk roti manis. Meningkatkan asupan cairan (banyak

minum).

b. Hindari obat-obatan yang mengakibatkan hiperurisemia seperti tiazid,

diuretic, aspirin, dan asam nikotinat yang menghambat ekskresi asam

urat dari ginjal.

c. Mengurangi konsumsi alcohol (bagi peminum alkohol).

d. Tirah baring

Merupakan suatu keharusan dan diteruskan selama 24 jam setelah

serangan menghilang. Arthritis gout dapat kambuh bila terlalu cepat

bergerak.

2. Penatalaksanaan medik

Obat-obat yang diberikan pada serangan akut antara lain:

1). Kolkisin
Efek samping yang ditemui diantaranya sakit perut, diare, mual atau

muntah-muntah. Kolkisin bekerja pada peradangan terhadap kristal urat

dengan menghambat kemotaksis sel radang. Dosis oral 0,5-0,6 mg per

jam sampai nyeri, mual, atau diare hilang. Kemudian obat dihentikan

biasanya pada dosis 4-6 mg, maksimal 8 mg.

2). OAINS

OAINS yang paling sering digunakan adalah indometasin. Dosis awal

25-50 mg setiap 8 jam, diteruskan sampai gejala menghilang (5-10 hari).

Kontraindikasinya jika terdapat ulkus peptikum aktif, gangguan fungsi

ginjal dan riwayat alergi terhadap OAINS (obat anti inflamasi non

steroid).

3). Kortikosteroid

Jika sendi yang terserang monoartikular, pemberian intraartikular sangat

efektif, contohnya triamsinolon 10-40 mg intraartikular. Untk gout

poliartikuar, dapat diberikan secara intravena (metilprednisolon 40

mg/hair) atau oral (prednisone 40-60 mg/hari).

4). Analgesik

Diberikan bila rasa nyeri sangat hebat. Jangan diberikan aspirin karena

dalam dosis rendah akan menghambat ekskresi asam urat dari ginjal dan

memperberat hiperurisemia.
I. ASUHAN KEPERAWATAN

a. Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses

keperawatan. Untuk itu, diperlukan kecermatan dan ketelitian dalam

menangani masalah klien sehingga dapat memberi arah terhadap

1. Anamnesis

Anamnesis dilakukan untuk mengetahui :

1). Identitas meliputi nama, jenis kelamin, usia,alamat, agama, bahasa

yang digunakan, status perkawainan, pendidikan, pekerjaan, asuransi,

golongan darah, nomor register, tanggal masuk rumah sakit, dan

diagnosis medis.

Pada umunya keluhan utama artritis reumatoid adalah nyeri pada

daerah sendi yang mengalami masalah.Untuk mempperoleh

pengkajian yang lengkap tentang nyeri klien, perawat dapat

menggunakan metode PQRST.

a). Provoking incident : Hal yang menjadi faktor presipitasi nyeri

adalah peradangan.

b). Quality Of Painn: Nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien

bersifat menusuk.

c). Region,Radition,Relief : Nyeri dapat menjalar atau menyebar , dan

nyeri terjadi di sendi yang mengalami masalah.

d). Severity(scale) Of Pain: Nyeri yang dirasakan ada diantara 1-3

pada rentang skala pengukuran 0-4.


e). Time : Berapa lama nyeri berlangsung,kapan,apakah bertambah

buruk pada malam hari atau siang hari.

2). Riwayat penyakit sekarang

Pengumpulan data dilakukan sejak muncul keluhan dan secara umum

mencakup awitan gejala dan bagaimana gejala tersebut berkembang.

Penting di tanyakan berapa lama pemakaian obat analgesic, alopurinol

3). Riwayat penyakit dahulu

Pada pengkajian ini,ditemukan kemungkinan penyebab yang

mendukung terjadinya gout. Masalah lain yang perlu ditanyakan

adalah adakah klien pernah dirawqat dengan masalah yang sama.kaji

adanya pemakaian alcohol yang berlebihan dan penggunaan obat

diuretic.

4). Riwayat penyakit keluarga

Kaji adakah keluarga dari genarasi terdahulu mempunyai keluhan

yang sama dengan klien karena penyakit gout berhubungan dengan

genetik. Ada produksi /sekresi asam urat yang berlebihan yang tidak

di ketahui penyebabnya.

5). Riwayat psikososial

Kaji respon emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan

penyakit klien dalam keluarga dan masyarakat. Respon yang di dapat

meliputi adanya kecemasan individu dengan rentang variasi tingkat

kecemasan yang berbeda dan berhubungan erat dengan adanya sensasi

nyeri,hambatan mobilitas fisik akibat respon nyeri, dan ketidaktahuan


akan program pengobatan dan prognosis penyakit dan peningkatan

asam urat terhadap sirkulasi. Adanya perubahan peran dalanm

keluarga akibat adanya nyri dan hambatan mobilitas fisik emberikan

respon terhadap konsep diri yang maldaptif.

2. Pengkajian Berdasarkan Pola

1). Pola Presepsi dan pemeliharaan kesehatan

a). Keluhan utama nyeri pada pada sendi

b).Pencegahan penyerangan dan bagaimana cara mengatasi atau

mengurangi serangan.

c). Riwayat penyakit Gout pada keluarga

d). Obat utntuk mengatasi adanya gejala

2). Pola nutrisi dan metabolic

a). Peningkatan berat badan

b). Peningkatan suhu tubuh

c). Diet

3). Pola aktifitas dan Latihan

4). Pola presepsi dan konsep diri

a). Rasa cemas dan takut untuk melakukan pergerakan

b). Presepsi diri dalam melakukan mobilitas

3. Pemeriksaaan fisik

1). B1 (Breathing)
a). Inspeksi: bila tidak melibatkan sistem pernapasan,biasanya

ditemukan kesimetrisan rongga dada, klien tidak sesak napas, tidak

ada penggunaan otot bantu pernapasan.

b). Palpasi: taktil fremitus seimbang kiri dan kanan

c). Perkusi : Suara resona pada seluruh lapang paru

d). Auskultasi : suara napas hilang/melemah pada sisi yang sakit,

biasanya di dapat suara ronki atau mengi.

2). B2 (Blood): pengisian kapiler kurang dari 1 detik,sering ditemukan

keringat dingin,dan pusing karena nyeri.

3). B3 (Brain): kesadaran biasanya kompos mentias

a). kepala dan wajah : ada sianosis

b). mata : sclera biasanya tidak ikterik

c). leher : biasanya JVP dalam batas normal

4). B4 (Blader) : produksi urin biasanya dalam batas normal dan tidak ada

keluhan pada sistem perkemihan , kecuali penyakit gout sudah

mengalami komplikasi ke gijal berupa pielonefritis, batu asam urat dan

GGK yang akan menimbulka perubahan fungsi pada sistem ini.

5). B5 (bawel) : kebutuhan eliminasi pada kasus gout tidak ada gangguan,

tetapi perlu dikaji frekuensi, konsistensi,warna, serta nbau feses. Selain

itu perlu di kaji frekiensi, konstitensi, warna, bau, dan jumlah urine.

Klien biasanya mual,mengalami nyeri lambung,dan tidak ada nafsu

makan, terutama klien yang memakai obat analgesik dan anti

hiperurisemia
6). B6 (Bone) : pada pengkajian ini ditemukan

a). Look: keluhan nyeri sendi uyang merupakan keluhan utama yang

mendorong klien mencari pertolongan (meskipun sebelumnya sendi

sudah kaku dan berubah bentuknya). Nyrin biasaya bertambah

dengan gerakan dan sedikit berkurang dengan istirahat. Beberapa

ferakan tertentu kadang menimbulkan nyeri yang lebuh

dibandingkan dengan gerakan yag lain. Deformitas sendi (temuan

tofus) terjadi dengan temuan salah satu pergelangan sendi secara

perlahan membesar

b). feel: ada nyeri tekan pada sendi yang membengkak

c). Move: hambatan gerahan sendi biasanya semakin memberat

2.Diagnosa keperawatan

a. Nyeri akut berhubungan agen cidera biologi, pembekakan sendi.

b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kaku sendi dan

kontraktur.

c. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala terkait penyakit,

nyeri pada sendi

d. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri pada pembekakan

e. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit, peradangan sendi

f. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan kelebihan cairan,

peradangan kronis akibat adanya Kristal urat

g. Resiko ketidakseimbangan cairan


3.Intervensi

a. Nyeri akut berhungan dengan agen cidera biologi, pembekakan sendi

Domain 12: kenyamanan

Kelas 1 : kenyamanan fisik

Definisi: pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan dengan

kerusakan jaringan actual atau potensial, atau digambarkan sebagai suatu

kerusakan (International Association of the study of pain), awitan yang

tiba-tiba atau lambat dengan intensitas dari ringan hingga berat dengan

akhir yang dapat diprediksi

Batasan karakteristik:

1). Bukti nyeri dengan menggunakan standar daftar periksa nyeri untuk

pasien yang tidak dapat mengungkapkannya

2). Diaforesis

3). Dilatasi pupil

4). Ekspresi wajah nyeri

5). Fokus menyempit (misanya, persepsi waktu, proses berpikir)

6). Fokus pada diri sendiri

7). Distraksi

8). Perubahan posisi untuk menghindari nyeri

9). Sikap melindungi area nyeri

NOC: Status kenyaman fisik

Domain V : kondisi kesehatan yang di rasakan

Kelas U : kualitas kesehatan dan kehidupan


Definisi: Kenyaman fisik yang berkaitan dengan sensasi tubuh dan

mekanisme homeostatis

Skala target outcome :dipertahankan pada banyak terganggu (2)

ditingakatkan ke sedikit terganggu (4)

Skala outcome keseluruhan:

 Control terhadap gejala

 Kesejahteraan fisk

 Relaksasi oto

 Posisi yang nyaman

 Baju yang nyaman

 Perawatan pribadi dan kebersihan

 Intake makanan

 Intake cairan

 Tingkat energy

 Suhu tubuh

 Kepatenan jalan napas

 Saturasi oksigen

NIC :

Manajemen nyeri

Doamain 1: fisiologi dasar

Kelas E : peningktan kenyaman fisik

Definisi: pengurangan atau reduksi nyeri sampai pada tingkat

kenyamanan yang dapat diterima oleh pasien


Aktivitas –aktivitas:

 Lakukan pengkajian nyeri konprehensif yang meliputi lokasi,

karakteristik, onset/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnya

nyeri dan factor pencetus

 Observasi adanya petunjuk nonverbal mengenai ketidaknyamanan

terutama pada mereka yang tidak dapat berkomunikasi secara efektif

 Gunakan strategi komunikasi terapeutik untuk mengetahui

pengalaman nyeri dan sampaikan penerimaan pesien terhadap nyeri

 Gali pengetahuan dan kepercayaan pasien terhadap nyeri

 Berikan informasi mengenai nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa

lamanya nyeri akan di rasakan, dan antisipasi ketidaknyamanan akibat

prosedur

 Ajarkan prinsip-prinsip manajemen nyeri

 Gali penggunaan metode farmakologi yang dipakai pasien saat ini

untuk meredakan nyeri

 Gunakan tindakan pengontrol nyeri sebelum nyeri bertambah berat

 Mulai dan modifikasi tindakan pengotrol nyeri berdasarkan respon

pasien

b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kaku sendi dan kontraktur

Domain 4 : aktivitas/istirahat

Kelas 2: aktivitas/olah raga

Definisi : keterbatasan dalam gerakan fisik atau satu atau lebih ektrimitas

secara mandiri dan terarah


Batasan karakteristik :

 Gangguan sikap berjalan

 Gerakan lambat

 Gerakan spastic

 Keterbatasan rentan gerak

 Ketidaknyamanan

 Penurunanan kemampuan melakukan motorik halus

 Penurunan kemampuan melakukan ketrampilan motorik kasar

NOC:

Pergerakan

Domain 1 : fungsi kesehatan

Kelas C : mobilitas

Definisi : kemampuan untuk bisa bergerak bebas di tempat dengan atau

tanpa alat

Skala target outcome: dipertahankan pada banyak tergangnggu (2)

ditingkatkan sedikit tergangu(4)

Skala outcome keseluruhan :

 Keseimbangan

 Koordinasi

 Cara berjalan

 Gerak otot

 Gerakan sendi

 Kinerja pengaturan tubuh


 Melompat

 Merangkak

 Berjalan

 Bergerak dengan mudah

NIC :

Peningkatan mekanika tubuh

Doamian 1: fisiologi dasar

Kelas A ;manajemen aktivitas dan latihan

Definisi : memfasilitasi penggunaan postur dan pergerakan dalam

aktivitas sehari-hari untuk mencegah kelelahan dan ketegangan atau

injuri musculoskeletal

Aktivitsa-aktivitas:

 Kaji komitmen untuk belajar dan menggunakan postur tubuh yang

benar

 Kolaborasi dengan fisioterapi dalam mengembangkan peningkatam

mekanika tubuh,sesuai indikasi

 Informasikan kepada pasien tentang struktur dan fungsi tulang

belakang dan postur yang optimal untuk bergerak dan mengguankan

tubuh

 Bantu mendemonstrasikan tidur yang tepat

 Bantu pasien /keluarga untuk mengidentifikasi latihan postur tubuh

yang seuai
 Bantu pasien untuk melakukan latihan fleksi dan mobilisasi punggung

sesuai indikasi

 Berikan informasi tentang kemungkinan posisi penyebab nyeri otot

atau sendi

c. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala terkait penyakit,

nyeri pada sendi

Doamain 12 : kenyamanan

Kelas 1: kenyamanan fisik

Definisi : merasa kurang nyaman,lega, dan sempurna dalam dimensi

fisik, psikospritual, lingkungan,budaya, dan atau sosial

Batasan karateristik :

 Ansieatas

 Bekeluh kesah

 Gangguan pola tidur

 Gejala distress

 Ketidakmampuan untuk rileks

 Merasa tidak nyaman

 Merintih

NOC

Status kenyaman

Doamain V: kondisi kesehatan yang dirasakan

Kelas U : kualitas kesehatan dan kehidupan


Definisi : keseluruhan, rasa nyaman dan kemanan individu secara fisik,

sosial budaya, dan lingkungan

Skala target outcome : dipertahankan pada banyak terganggu (2)

ditingkatkan ke sedikit terganggu

Skal outcome keseluruhan:

 Kesejahteraan fisik

 Control terhadap gejala

 Kesejahteraan psikologi

 Lingkungan fisik

 Suhu ruangan

 Dukungan ssosial dari keluarga

 Perawatan sesuai dengan kebutuhan

 Mampu mengkomunikasikan kebutuhan

NIC:

Manajemen lingkungan: kenyamanan

Domain 1: fisiologi dasar

Kelas E: peningkatan kenyamanan fisik

Defininisi :memanipulasi lingkungan untuk mendapatkan kenyaman

yang optimal

Aktivitas-aktivitas :

 Tentukan tujuan pasien dan keluarga dalam mengelola lingkungan dan

kenyamanan optimal

 Hindari gangguan yang tidak perlu dan berikan untuk waktu istirahat
 Ciptakan lingkungan yang tenang dan mendukung

 Sediakan lingkungan yang aman dan bersih

 Pertimbangakan sumber-sumber ketidaknyamanan

 Sesuaikan suhu ruangan yang paling menyamankan individu jika

memungkinkan

 Fasilitasi tindakan –tindakan kebersihan untuk menjaga kenyamanan

individu

 Monitor kulit terutama daerah tonjolan tubuh terhadap adanya tanda-

tanda tekanan atau iritasi

d. Gangguan pola tidur berhubungan dengan imobilisasi, nyeri pada

pembekakan

Domain 4: aktivitas/istirahat

Kelas 1 : tidur/ istirahat

Definisi: ingterupsi jumlah waktu dan kualitas tidur akibat factor

eksternal

Batasan karakteristik :

 Kesulitan jatuh tertidur

 Ketidakpuasan tidur

 Menyatakan tidak cukup istirahat

 Perubahan pola tidur normal

NOC :Tidur

Doamain 1 : kesehatan

Kelas A : pemeliharaan energy


Definisi : periode alami mengistirahatkan dalam memulihkan tubuh

Skala target outcome : dipertahankan pada banyak tergangggu (2)

ditingkatkan ke sedikit terganggu (4)

Skala outcome keseluruhan:

 Jam tidur

 Jam tidur yang diobservasi

 Pola tidur

 Kualitas tidur

 Tidur rutin

 Tidur dari awal sampai habis di malam hari secara konsisten

 Perasaan segar setelah tidur

 Mudah bangun pada saat yang tepat

NIC:

Peningkatan tidur

Domaian 1 : fisiologi dasar

Kelas F : fasilitas perawatan diri

Definisi : memfasilitasi tidur/siklus bangun yangb teratur

Aktivitas-aktivitas :

 Tentukan pola tidur/aktivitas pasien

 Perkiraan tidur/siklus bangun pasien di dalam perawatan perencanaan

 Monitor /catat pola tidur pasien dan jumlah jam tidur

 Anjurakan pasien untukmemantau pola tidur

 Bantu untuk menghilangkan stress sebelum tidur


 Anjurakan untuk menghindari makanan dan minuman sebelum tidu

yang dapat menganggu pola tidur

 Identifikasi obat tidur yang di konsumsi pasien

 Dorong pengunaan obat tidur yang tidak mengandung zat penekan

tidur REM

 Atur rangsangan lingkungan untuk mempertahankan siklus siang

malam yang normal

 Diskusikan dengan keluarga dan pasien mengenai teknik untuk

meningkatkan tidur

e. Hipertermia behubungan dengan proses penyakitas, peradangan sendi

Domain 11 : keamanan/perlindungan

Kelas 6 : termoregulasi

Definisi: suhu inti tubuh di atas kisaran normal diurnal karena kegagalan

termoregulasi

Batasan karakteristik :

 Kulit kemerahan

 Kulit terasa hangat

 Letargi

 Postur abnormal

 Stupor

 Takikardi

 Vasodilatasi

NOC :
Domain 2 : kesehatan fisiologis

Kelas I :regulasi metabolic

Defiisi : keseimbangan antara produksi panas, mendapatkan panas, dan

kehilangan panas

Skala target outcome : dipertahan pada banyak terganggu (2)

dipertahankan ke sedikit teganggu (4)

Skala outcome keseluruhan :

 Merinding saat dingin

 Berkeringat saat panas

 Menggigil saat dingin

 Denyut jantung apical

 Tingkat pernapasan

 Melaporkan kenyaman suhu

NIC :

Pengaturan suhu

Domain 2 : fisiologi kompleks

Kelas M : termoregulasi

Definisi : mencapai atau memelihara suhu tubuh dalam batas normal

Aktivitas-aktivitas :

 Memonitor suhu paling tidak setiap 2 jam sesuai kebutuhan

 Monitor tekanan darah, nadi, dan respirasi, sesuai kebutuhan

 Monitor tanda dan gejala dari hipotermia dan hipertermia

 Tingkatkan nutrisi dan intake cairan yang adekuat


 Berikan medikasi yang tepat untuk mencegah atau mengotrol mengigil

 Berikan pengobatan antiperetik sesuai kebutuhan

 Pelihara suhu normal pada pasien yang baru menggigil

f. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan kelebihan cairan,

peradangan kronik adanya Kristal urat

Domain 11 : keamanan/perlindungan

Kelas 2 : cidera fisik

Definisi : cidera pada membran mukosa, kornea, sistem intergumen,

fascia muscular, otot, tendon, tulang, kartilago, kapsul sendi, dan/atau

ligament

Batasan karakteristik:

 cidera jaringan

 jaringan rusak

NOC :

Konsekuensi imobilitas: fisiologi

Domain I :fungsi kesehatan

Kelas C : mobilitas

Definisi : keparahan gangguan fungsi fisiologis akibat adanya gangguan

mobilitas fisik

Skala target outcome : dipertahankan pada banyak terganggu (2)

ditingkatkan ke sedikit terganggu (4)

Skala outcome keseluruhan:

 nyeri tekan
 kontraktur sendi

 ankilosis sendi

 kekuatan otot

 tonus otot

NIC :

Pengaturan posisi

Doamain1: fisiologi dasar

Kelas C : manajemen immobilisasi

Definisi : menempatkan pasien atau bagian tubuh tertentu dengan sengaja

untuk meningkatkan kesejahteraan fungsi fisiologi dan psikologis

Aktivitas-aktivitas:

 berikan matras yang lembut

 dorong pasien untuk terlibat dalam perubahan posisi

 monitor status oksigenasi sebelum dan sesudah perubahan posisi

 tempatkan pasien dalam posisi terapeutik yang sudah di rancang

 imobilisasi bagian tubuh yang terkena dampak dengan tepat

 dorong latihan ROM aktif dan pasif

 jangan memposisikan pasien dengan penekanan pada luka

 balikan tubuh pasien sesuai dengan kondisi kulit

 kembangkan jadwal tertulis terkait dengan reposisi tubuh pasien

g. Resiko ketidakseimbangan volume cairan

Domain 2: nutrisi

Kelas 5: hidrasi
Definisi : Beresiko terhadap penurunan, peningkatan, atau pergeseran

cepat cairan intravaskuler, dan atau ekstravaskuler lain.

Batasan karakteristik:

 Ansietas

 Berkeringat

 Program pengobatan

 Sepsis

 trauma

NOC :

Keseimbangan cairan

Domain 2: kesehatan fisiologis

Kelas G: cairan dan elektrolit

Definisi : keseimbangan cairan didalam ruang intraseluler dan

ekstraseluler tubuh.

Skala target outcome : dipertahankan pada banyak terganggu (2)

ditingkatkan ke sedikit terganggu (4)

Skala outcome keseluruhan:

 tekanan darah

 denyut nadi radial

 berat badan stabil

 turgor kulit

 berat jenis urine

NIC :
Manajemen cairan

Domain 2: fisiologis kompleks

Kelas G: manajemen cairan

Definisi :meningkatkan keseimbangan cairan dan mencegah komplikasi

yang dihasilkan dari tingkat cairan baik normal atau diinginkan.

Aktivitas-aktivitas:

 timbang berat badan setiap hari dan monitor status pasien

 monitor tanda-tanda vital

 monitor status gizi

 berikan cairan dengan tepat

 berikan cairan IV sesuai suhu kamar

 distribusikan asupan cairan selama 24 jam

4. DISCHARGE PLANNING

Selama dirawat di Rumah Sakit, pasien sudah dipersiapkan untuk

perawatan dirumah. Beberapa informasi penyuluhan pendidikan yang harus

sudah dipersiapkan/diberikan pada keluarga pasien ini adalah:

a.Pengertian dari penyakit Arthritis gout.

b. Penjelasan tentang penyebab penyakit.

c. Memanifestasi klinik yang dapat ditanggulangi/diketahui oleh keluarga.

d. Penjelasan tentang penatalaksanaan yang dapat keluarga lakukan.

e. Klien dan keluarga dapat pergi ke Rumah Sakit/Puskesmas terdekat

apabila ada gejala yang memberatkan penyakitnya.


f. Keluarga harus mendorong/memberikan dukungan pada pasien dalam

menaati program pemulihan kesehatan.

g. Anjurkan pasien untuk diet rendah purin


BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Arthritis gout adalah penyakit yang terjadi akibat adanya endapan
kristal-kristal monosodium urate dalam sendi yang akan berdampak terjadinya
inflamasi dan nyeri pada sendi. Adapun faktor predisposisi yaitu gen dan usia,
faktor presipitasi yaitu obat-obatan, stres dll.
Penyakit Arthirtis gout dapat disembuhkan bila penanganannya cepat
dan tepat. Anjurkan pasien diet rendah purin.

B. SARAN
Dalam melakukan asuhan keperawatan, perawat mengetahui atau
mengerti tentang rencana keperawatan pada pasien dengan rheumatoid artritis,
pendokumentasian harus jelas dan dapat menjalin hubungan yang baik dengan
klien dan keluarga.
Dalam rangka mengatasi masalah resiko injuri pada klien dengan
rheumatoid artritis maka tugas perawat yang utama adalah sering
mengobservasi akan kebutuhan klien yang mengalami rheumatoid artritis.
Untuk perawat diharapkan mampu menciptakan hubungan yang
harmonis dengan keluarga sehingga keluarga diharapkan mampu membantu
dan memotivasi klien dalam proses penyembuhan.
DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &

Suddarth. Edisi 8. Volume 3. Jakarta : EGC.

Helmi, Zairin Helmi. 2011. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Cetakan

kedua. Jakarta : Salemba Medika.

Rasjad, Chairuddin. 2007. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi.Edisi 3. Cetakan

kelima. Jakarta : Yarsif Watampone.