Anda di halaman 1dari 26

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Diagnosis
Hidranensefali dapat didiagnosis melalui USG in utero standar pada usia
kehamilan 21-23 minggu dan dikonfirmasi degan USG level II atau yang lebih
tinggi, selain itu juga dapat dilakukan CT scan dan MRI untuk mengonfirmasi
diagnosis. Gambaran USG memperlihatkan proses destruktif yang akhirnya
menampilkan gambaran klasik hidranensefali, seperti kerusakan hipoksia-iskemia,
perdarahan masif, atau proses kerusakan luas lainnya. Hal yang perlu diperhatikan
adalah tidak adanya korteks serebri, adanya falx cerebri dan thalamus dan korteks
yang tertutup, dan meluasnya sisa jaringan serebrum nonfusi. Pada hidranensefali
tidak didapatkan jaringan serebrum supratenrotium dan digantikan oleh bahan
homogen yang echogenik, dan menutupi thalamus, batang otak dan serebelum,
dan tampak falx serebri. Hidrosefali, hidranensefali, dan holoprosensefali sulit
dibedakan pada usia kehamilan awal, oleh karena itu dapat dilakukan MRI fetus
(Pavone) (Pant S) (Jeffrey M)

Gambar X. Gambaran USG pada usia kehamilan 31 minggu+ 5 hari menunjukkan


thalamus yang tidak menyatu, dikelilingi cairan pada hidranensefali fetus. Tidak
didapatkan jaringan apda hemisfer. (pant S)

1
Gambar X. Gambaran sagital pada USG menunjukkan tidak adanya hemisfer
serebri (digantikan oleh cairan). (Pant S)

Gambar X. Gambaran USG transaksial hidranensefali menunjukkan falx cerebri


terputus (panah). Didapatkan gambaran hiperekoik pleksus koroidalis pada
posterior thalamus. Tidak didapatkan mantel korteks serebri.

2
Gambar X. (Panel kiri) Hidranensefali fetus pada USG 2 dimensi di usia kehamilan 22
minggu menunjukkan tidak adanya korteks serebri dengan perluasan fossa posterior.
Panel kanan (MRI fetus pada usia 32 minggu menunjukkan hidranensefali menunjukkan
adanya fossa posterior dan lobus oksipitalis. (W. Sepulveda)

Diagnosis pada bayi baru lahir biasanya terdeteksi setelah beberapa bulan
karena perilaku bayi pada awal usia kelahiran relatif normal. Pemeriksaan gold
standar hidranensefali pada bayi baru lahir adalah CT scan dan MRI, yang dapat
membedakan hidranensefali, holoprosensefali atau hidrosefalus berat. Selain itu
dapat dilakukan pemeriksaan transiluminasi. Transiluminasi cranium atau
diaphanoscopy merupakan alat skrining. Apabila didapatkan ketebalan segmen
koretks <1 cm maka akan terjadi diffuse illumination, namun hal ini dapat
ditemukan pada hidranensefali, hidrosefalus luas, holoprosensefali. Sedangkan
transilmunasi yang luas menunjukkan adanya kista porensefali yang besar atau
hematoma subdural/efusi yang besar. (Jeffrey M) (Pavone) (Pant S).

3
Gambar X. Pemeriksaan transiluminasi pada naonatus dengan makrosefali dan sutura
yang lebar. Didapatkan transiluminasi luas pada pars frontalis dan oksipitalis

Gambar X. Gambaran CT scan kepala neonatus dengan trasiluminasi luas.


Didapatkan tidak adanya kedua hemisfer serebrum supratentorial dan digantikan
dengan kavitas berisi cairan. Didapatkan falx serebri (gambar A dan B). Pada
regio infratentorial didapatkan serebelum dengan ruang LCS posterior prominen
(Panel C dan D).

4
3.2 Tatalaksana
Hidranensefali adalah penyakit langka dengan kematian in-utero yang
paling sering dan harapan hidup yang sangat buruk. Namun, pentingnya diagnosis
semacam itu tidak dapat diabaikan. Diagnosis hidranensefali memang
berhubungan dengan beberapa masalah etika. Pertama-tama, pentingnya diagnosis
hidranensefali yang tepat waktu tidak dapat diabaikan, karena dapat membantu
keluarga memproses masalah emosional. Pertanyaan etis penting lainnya
menyangkut kriteria yang tepat untuk melakukan aborsi, mengingat bahwa
beberapa anak yang terkena dampak bentuk hidranensefali ringan dapat bertahan
hidup dalam jangka panjang, bahkan dengan gangguan kognitif dan fisik yang
berat dan juga bahwa sebagian besar pasien yang masih hidup dalam keadaan
vegetatif. (Pavone)
Telah disarankan bahwa terminasi kehamilan hingga akhir trimester ketiga
dapat dilakukan ketika terdiagnosis pada antenatal care ditemukan hidranensefali.
Kriteria untuk terminasi termasuk ketersediaan tes diagnostik yang dapat secara
akurat memprediksi suatu kondisi yang tidak sesuai dengan kehidupan pasca
kelahiran atau ditandai dengan tidak adanya fungsi kognitif. Jika diputuskan
terminasi kehamilan, diperlukan analisis kromosom, serologi untuk CMV,
toksoplasmosis, dan herpes karena temuan ini dapat membantu dalam konseling
untuk kehamilan masa depan.(Thomas)
Kesulitan persalinan pada kehamilan dengan kelainan kongenital seperti
hidranensefali dan hidrosefalus jarang ditemukan. Apabila diameter biparietal <10
cm atau HC <36 cm maka dapat dilakukan persalinan pervaginam. Pada kasus
yang jarang dimana terjadi kematian fetus akibat kelainan kongenital dapat
dilakukan persalinan pervaginam dengan melakukan cephalocentesis didampingi
USG intrapartum untuk mengurangi ukuran kepala. Apabila presentasi bokong
maka cephalocentesis dilakukan secara suprapubik ketika aftercoming head
(kepala sulit lahir) masuk ruang panggul. Apabila dilakukan seksi seksio sesaria
maka dilakukan pengurangan cairan sebelum histerektomi memperlebar insisi
transversal atau memperpanjang insisi vertikal (Williams)

5
Perbedaan antara hidranensefali dan hidrosefalus maksimal penting untuk
menntukan prognosis. Sutton dan rekannya meneliti 10 neonatus dengan CT scan
serial, EEG, dan evaluasi perkembangan selama 4-23 bulan dan didapatkan dua
sindrom. Kelima bayi dengan hydranencephaly tidak menunjukkan perbaikan
neurologis maupun radiologis setelah usia 1 bulan meskipun manajemen bedah
agresif dan pemasangan shunt. (Thomas)

3.3 Differential Diagnosis


Diagnosis banding utama yang harus dipertimbangkan meliputi hidrosefalus
berat, alobar holoprosensefali, dan bentuk ekstrim dari porensefali dan
schizencephaly. Pada hidrosefalus yang berat, didapatkan lengkungan korteks
intak yang mengelilingi ventrikel serebri yang membesar. Pada holoprosensefali
didapatkan mikrosefali dan menyatunya thalamus dengan kelainan wajah. Dalam
berbagai bentuk proses destruktif seperti porencephaly dan schizencephaly, ada
area besar otak di mana jaringan otak normal diidentifikasi. Kondisi lain adalah
sindrom Fowler, kondisi resesif autosomal yang langka yang ditandai oleh atrofi
kortikal yang berat dan penghancuran progresif jaringan sistem saraf pusat karena
vaskulopati proliferatif, yang mengarah ke akinesia janin awal dan arthrogryposis.
Gambaran USG hidranensefali selama tahap awal penyakit akan konsisten
dengan penghancuran akut korteks serebral, memberikan pola homogen ekogenik
khas dalam rongga tengkorak yang mewakili darah dan debris nekrotik. Seiring
waktu, konten ini semakin digantikan oleh lebih banyak cairan anechoic sebagai
hasil dari pencairan progresif dari gumpalan darah dan jaringan otak dan
melanjutkan produksi cairan serebrospinal oleh pleksus koroid, yang mengarah ke
penampilan sonografi klasik hidranensefali seperti yang terlihat pada tahap akhir
dari penyakit.

6
Sepuldeva

3.4 Prognosis
Prognosis hidranensefali biasanya buruk. Kematian biasanya terjadi dalam
kandungan, pada bayi yang lahir hidup biasanya bertahan pada satu tahun pertama
kehidupan. (Kishore Chautakuri) (Pant S). Tidak ada tatalaksana standar terhadap
hidranensefali. Tatalaksana hanya berupa simptomatis dan suportif. Pada
penelitian bayi baru lahir tanpa aktivitas korteks pada EEG dan CT scan karena
sedikitnya parenkim serebrum oksipital yang terhubung dengan basal ganglia
tidak menunjukkan perbaikan dengan intervensi VP shunt. (Jeffrey M) Pant S) (

7
Daftar Pustaka Hydranencephaly

Pavone, P, Pratico, A, Vitaliti, G, et al. Hydranencephaly: cerebral spinal fluid


instead of cerebral mantles. Italian Journal of Pediatrics 2014, 40:79
Pant S, Kaur G, JK De.Case Note: Hydrancephaly. Kathmandu University
Medical Journal (2010), Vol. 8, No. 1, Issue 29, 83-86
Jeffrey, M. Hydranencephaly: Transilumination May Not Iluminate Diagnosis.
Neo Reviews Vol 13 No 14 April 2012.
Gambar: Sepulveda, W, Xiemes, R, Amy, E, et al. Fetal magnetic resonance
imaging and three-dimensional ultrasound in clinical practice: Applications in
prenatal diagnosis. Best Practice & Research Clinical Obstetrics and Gynaecology
26 (2012) 593–624
Sepulveda, W, Yepes, H.M, Amy, E, et al. Prenatal Sonography in
Hydranencephaly Findings During the Early Stages of Disease. J Ultrasound Med
2012; 31:799–804
Cunningham F.Gary., Leveno Kenneth J., Bloom Steven L,. Hauth John C., Rouse
Dwight J., Spong Catherine Y. Williams Obstetrics. Twenty-Fourth Edition.
United States of America: The McGraw-Hill Companies Inc. 2014
Wheeler, T, Dao, A, Jeanty, P. Hydranencepahly. Department of Obstetrics & Gynecology,
Vanderbilt University Medical Center. Nashville. 1991

8
Medikolegal terminasi kehamilan
Dalam pengertian medis, terminasi kehamilan adalah suatu tindakan yang
dilakukan untuk menghentikan kehamilan dengan kematian dan pengeluaran janin
baik menggunakan alat-alatan atau obat-obatan pada usia kurang dari 20 minggu
dengan berat janin kurang dari 500 gram, yaitu sebelum janin dapat hidup di luar
kandungan secara mandiri. Sementara Black’s Law Dictionary menyebutkan
“abortion is the spontaneous or artificially induced expulsion of an embryo or
fetus. As used in legal context refers to induced abortion”. Dengan demikian
keguguran yang berupa keluarnya embrio atau fetus semata-mata bukan karena
terjadi secara alami (spontan) tapi juga karena disengaja atau terjadi karena
adanya campur tangan (provokasi) manusia. Manakala dari sudut pandang sisi
hukum menyebutkan, definisi terminasi kehamilan adalah lahirnya buah
kandungan sebelum waktunya oleh suatu perbuatan seseorang yang bersifat
sebagai perbuatan pidana kejahatan. Dalam pengertian ini, perhatian dititik
beratkan pada kalimat “oleh suatu perbuatan seseorang yang bersifat sebagai suatu
perbuatan pidana kejahatan”, sehingga tidak termasuk terminasi kehamilan yang
terjadi sendirinya tanpa adanya pengaruh dari luar yang disebut abortus
spontaneous
Secara umum terminasi kehamilan dapat dibagi atas 2 macam, yaitu : 1,2,
1. Terminasi kehamilan yang bersifat spontan, merupakan 10-12% dari semua
kasus terminasi kehamilan.
2. Terminasi kehamilan buatan (provocation) yang merupakan 80% dari semua
kasus terminasi kehamilan.
Selanjutnya dikenal dua bentuk terminasi kehamilan provokatus yaitu: 1,2,3
1. Terminasi kehamilan provokatus medicinalis yaitu pengguguran
kandungan yang dilakukan berdasarkan alasan atau pertimbangan medis.
2. Terminasi kehamilan provokatus kriminalis yaitu pengguguran kandungan
yang dilakukan dengan sengaja dengan melanggar berbagai ketentuan
hukum yang berlaku. Misalnya kasus yang paling sering
didapatkan,perempuan yang hamil anak luar nikah yang mau

9
menggugurkan kandungannya kerna takut mendapat malu dengan ahli
keluarga dan masyarakat setempat.
Di klinik, untuk menolong nyawa si ibu, kadang-kadang kandungan perlu
diakhiri. Indikasi untuk terminasi kehamilan ini harus ditentukan oleh ahli tenaga
kesehatan sendiri yaitu dokter. Dalam hal ini sangat diperlukan persetujuan
tertulis daripada ibu hamil dan suami atau keluarga. 2,3
Dalam melakukan abortus terapeutik dokter tidak dipidanakan karena alasan
kemanusiaan tersebut dalam UU No.23 pada tahun 1992 tentang kesehatan pasal
15. 2,3
Di luar negeri indikasi dilakukan aborsi terapeutika antara lain:
(i) Indikasi obstetri:
a. Eklampsia berat, kelainan hipertensi (konvulsi dan koma)
(ii) Kondisi keganasan: karsinoma serviks yang invasif, karsinoma
ovarium dan kanker payudara dengan metastasis,
(iii) Kondisi kardiovaskular: penyakit katub jantung, gagal jantung,
penyakit jantung kongenital, fibrilasi atrium dan hipertensi,
(iv) Kondisi respiratorik: insufisiensi respiratorik pada penyakit paru
seperti bronkitis kronis dan asma,
(v) Kondisi psikologis dan emosional:
a. Ketika anak tersebut tidak diinginkan dan merupakan hasil dari
pemerkosaan.
(vi) Kondisi yang menyebabkan abnormalitas fetal: 4
a. Kondisi infeksi (Rubella, Mumps)
b. Ibu yang terpapar obat-obatan berbahaya (Thalidomide, androgens
dan estrogen)
c. Inkompatibilitas rhesus
Pada trimester pertama metode yang digunakan dapat menggunakan obat-
obatan maupun melalui terapi bedah.
Obat-obatan yang digunakan adalah:
1. Prostaglandin, efektif dalam menimbulkan kontraksi uterus

10
2. Antiprogesteron dengan menghambat reseptor progesteron,
sehingga menghambat efek biologis progesteron pada uterus, obat
yang efektif digunakan seperti Mifepristone.
Untuk terapi surgikal dapat dilakukan: 4,5
1. Aspirasi vakum
2. Dilatasi dan Kuretase.
Pada trimester kedua, metode medis yang digunakan adalah salah satu atau
kombinasi dari instilasi intrauteri dari larutan saline hipertonik (NaCl 20%) atau
urea atau rivanol dan prostaglandin melalui berbagai rute. Larutan ini dapat
dimasukkan ke dalam kantung amnion dari fetus ataupun ke ruang extra-amnion.
Metode bedah yang dilakukan dapat termasuk: 4,5
1. Dilatasi dan kuretase
2. Histerotomi
3. Histerektomi.
Di Indonesia, Aborsi yang sudah diatur dalam KUHP sudah sangat memadai dan
bahkan sangat serius dalam upaya penegakan tindak pidana aborsi. Perundang –
undangan pidana di Indonesia mengenai aborsi mempunyai status hukum yang
“illegal” sifatnya karena melarang aborsi tanpa kecualian. Dengan demikian,
KUHP tidak membedakan abortus provocatus criminalis dan abortus provocatus
medicinalis/therapeutic. Dapat diketahui bahwa apapun alasan aborsi itu
dilakukan tetap melanggar hukum yang berlaku di Indonesia.8
Perundang – undangan pidana di Indonesia yang mengatur aborsi tanpa
pengecualian sangat meresahkan dokter atau ahli medis yang bekerja di Indonesia.
Tujuan ahli medis yang utama untuk menyelamatkan nyawa pasien tidak akan
tercapai karena jika ahli medis menggugurkan kandungan untuk keselamatan ibu
maka ahli medis tersebut diancam sanksi pidana, tetapi jika ahli medis tidak
melakukan hal itu maka nyawa pasien dalam hal ini ibu dapat terancam kematian,
hal ini merupakan perdebatan didalam hati nurani medis khususnya dan
masyarakat pada umumnya. Sehingga ditinjau dari aspek hukum, pelarangan
abortus tidak bersifat mutlak.

11
3.1.1 Abortus provokatus yang tidak dilegalkan menurut hukum di
Indonesia
Dalam Kitab Undang- Undang Hukum Pidana (KUHP) tindakan
pengguguran kandungan yang disengaja (abortus provocatus) diatur dalam Buku
kedua Bab XIV tentang Kejahatan Kesusilaan khususnya Pasal 299, dan Bab XIX
Pasal 346 sampai dengan Pasal 349, dan digolongkan ke dalam kejahatan terhadap
nyawa. Berikut ini adalah uraian tentang pengaturan abortus provocatus yang
terdapat dalam pasal-pasal tersebut

a. Bab XIV KUHP:


Pasal 229
1) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruhnya
supaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan, bahwa karena
pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara
paling lama empat tahun atau denda palig banyak tiga ribu rupiah.
2) Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau
menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika dia
seorang dokter, bidan atau juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga.
3) Jika yang bersalah, melakukan kejahatan tersebut, dalam menjalankan
pencarian, maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu.
Dari rumusan Pasal 299 KUHP tersebut, dapat diuraikan unsurunsur
tindak pidana adalah sebagai berikut :
1) Setiap orang yang sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruhnya
supaya diobati dengan harapan dari pengobatan tersebut kehamilannya dapat
digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau
denda paling banyak tiga ribu rupiah.
2) Seseorang yang sengaja menjadikan perbuatan mengobati seorang wanita atau
menyuruhnya supaya diobati dengan harapan dari pengobatan tersebut
kehamilannya dapat digugurkan dengan mencari keuntungan dari perbuatan
tersebut atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan,
maka pidananya dapat ditambah sepertiga.

12
3) Jika perbuatan mengobati seorang wanita atau menyuruhnya supaya diobati
dengan harapan dari pengobatan tersebut kehamilannya dapat digugurkan itu
dilakukan oleh seorang dokter, bidan atau juru obat maka hak untuk berpraktek
dapat.

b. Bab XIV KUHP:

a. Pasal 346 KUHP :

“Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau


menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat
tahun”.

b. Pasal 347 KUHP :

1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan


seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara
paling lama dua belas tahun.
2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam
dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
c, Pasal 348 KUHP:
1. Barang siapa dengan sengaja menggunakan atau mematikan kandungan
seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara
paling lama lima tahun enam bulan.
2. Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan
pidana penjara paling lama tujuh tahun.

a. Pasal 349 KUHP :


“Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan
berdasarkan pasal 346, ataupun membantu melakukan salah satu kejahatan
dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu
dapat dditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk
menjalankan pencaharian dalam mana kejahatan dilakukan”.

13
Dari rumusan pasal-pasal tersebut di atas dapat diuraikan unsur
unsur tindak pidana adalah sebagai berikut :
1. Seorang wanita hamil yang sengaja melakukan abortus atau ia
menyuruh orang lain, diancam hukuman empat tahun penjara.
2. Seseorang yang sengaja melakukan abortus terhadap ibu hamil,
dengan tanpa persetujuan ibu hamil tersebut, diancam hukuman
penjara 12 tahun, dan jika ibu hamil tersebut mati, diancam 15
tahun penjara.
3. Jika dengan persetujuan ibu hamil, maka diancam hukuman 5,5
tahun penjara dan bila ibu hamilnya mati diancam hukuman 7
tahun penjara.
4. Jika yang melakukan dan atau membantu melakukan abortus
tersebut seorang dokter, bidan atau juru obat (tenaga kesehatan)
ancaman hukumannya ditambah sepertiganya dan hak untuk
berpraktek dapat dicabut.

c. BAB III KUHP

-PASAL 48

“Barangsiapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa tidak dipidana”

Dari ketentuan Pasal 346-349 KUHP dapat diketahui, bahwa aborsi


menurut konstruksi yuridis peraturan perundang-undangan di Indonesia yang
terdapat dalam KUHP adalah tindakan menggugurkan atau mematikan kandungan
yang dilakukan oleh seorang wanita atau orang yang disuruh melakukan itu.
Wanita dalam hal ini adalah wanita hamil yang atas kehendaknya ingin
menggugurkan kandungannya, sedangkan tindakan yang menurut KUHP dapat
disuruh lakukan untuk itu adalah dokter, bidan atau juru obat.

3.1.2. Abortus provokatus yang dilegalkan menurut hukum di Indonesia

c. BAB III KUHP

-PASAL 48

14
“Barangsiapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa tidak dipidana”
Pasal 48 KUHP merupakan rujukan kepada undang-undang Nomor 23 Tahun
1992 dan Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009.
Dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan yang menggantikan undang-undang kesehatan sebelumnya yaitu
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992, maka permasalahan aborsi memperoleh
legitimasi dan penegasan. Secara eksplisit, dalam undang-undang ini terdapat
pasal-pasal yang mengatur mengenai aborsi, meskipun dalam praktek medis
mengandung berbagai reaksi dan menimbulkan kontroversi diberbagai lapisan
masyarakat. Meskipun, undang-undang melarang praktik aborsi, tetapi dalam
keadaan tertentu terdapat kebolehan. Ketentuan pengaturan aborsi dalam Undang-
Undang Nomor 36 Tahun 2009 dituangkan dalam Pasal 75, 76 , 77, dan Pasal 194
. Berikut ini adalah uraian lengkap mengenai pengaturan aborsi yang terdapat
dalam pasal-pasal tersebut::8

PASAL 75:8

1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi.


2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan
berdasarkan:
a. Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan,
baik yang mengancam nyawa ibu dan/ atau janin, yang menderita
penyakit genetik berat dan/ atau cacat bawaan, maupun yang tidak
dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar
kandungan; atau
b. Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma
psikologis bagi korban perkosaan
3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan
setelah melalui konseling dan/ atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri
dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang
kompeten dan berwenang.

15
4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan
perkosaan, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan
Peraturan Pemerintah.

PASAL 76:8

Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan:

a. Sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari petama


haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis;
b. Oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang
memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menter
c. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan
d. Dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan
e. Penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh
Menteri.

PASAL 77:

Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak bermutu, tidak aman,
dan tidak bertanggung jawab serta bertentangan dengan norma agama dan
ketentuan peraturan perundang-undangan.8

Pasal 194

“Setiap orang yang dengan sengaja melakukan aborsi tidak sesuai dengan
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dipidana dengan pidana
penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)”.

Pengguguran kandungan yang disengaja dengan melanggar berbagai


ketentuan hukum (abortus provocatus criminalis) yang terdapat dalam KUHP
menganut prinsip “illegal tanpa kecuali” dinilai sangat memberatkan paramedis

16
dalam melakukan tugasnya. Pasal tentang aborsi yang diatur dalam Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana juga bertentangan dengan Pasal 75 ayat (2) UU No. 36
Tahun 2009 tentang Kesehatan, di mana pada prinsipnya tindakan pengguguran
kandungan atau aborsi dilarang (Pasal 75 ayat (1)), namun Larangan tersebut
dapat dikecualikan berdasarkan:

a. Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan,


baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita
penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat
diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan;
atau

b. Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma


psikologis bagi korban perkosaan.

1. Lukman Hakim Nainggolan, SH. Aspek Hukum Terhadap Abortus


Provocatus Dalam Perundang-Undangan Di Indonesia. Jurnal
Equality,Vol.11 No. 2 Agustus 2006.
2. Nurdiyana Tadjuddin SH. Praktik Aborsi Ditinjau dari Sisi Hukum dan
Reproduksi. Jurnal Hukum FH-Unhas. Vol 1 No.1 September Tahun 2011.
3. Juita SR, Heryanti BR, Hukum Pidana Pada Korban Perkosaan yang
Melakukan Abortus Provocatus.
4. Dr. Azhari Sp.OG. Masalah Abortus dan Kesehatan Reproduksi
Perempuan. Palembang: Bagian Obstetri dan Ginekologi FK UNSRI. 1-
19.
5. Sophie Christin-Maitre,M.D, Philippe Bouchard,M.D. Medical
Termination of Pregnancy. In:The New England Journal Of
Medicine.2006

17
2.2.6 Diagnosis4,5,6

Pemeriksaan Fisik

- Pada inspeksi dapat memperlihatkan rahim yang cepat membesar pada ibu

hamil.

- Kehamilan multipel yang berhubungan dengan polihidramnion.

- Kelainan janin yang berhubungan dengan polihidramnion meliputi

makrosomia neonatal, hidrops fetalis atau neonatus dengan anasarka,

asites, efusi pleura atau perikardial, dan obstruksi saluran gastrointestinal

(misalnya, atresia duodenum, fistula trakeoesofageal).

- Malformasi skeletal juga dapat terjadi, termasuk dislokasi pinggul

kongenital dan cacat tungkai.

- Kelainan pada gerakan janin menandakan kelainan neurologis primer atau

dalam hubungannya dengan sindrom genetik.

Pemeriksaan Laboratorium

- Tes toleransi glukosa untuk ibu yang dengan diabetes mellitus tipe 2

- Tes hidrops janin: Jika adanya hidrops janin, imunologi dan infeksi janin

harus diselidiki. Termasuk skrining untuk antibodi ibu ke antigen D, C,

Kell, Duffy, dan Kidd untuk menentukan produksi antibodi ibu terhadap

sel darah merah janin. Infeksi janin dapat meliputi cytomegalovirus

(CMV), toksoplasmosis, sifilis, dan Parvovirus B19. Pemeriksaan harus

mencakup sebagai berikut:

18
 Tes Venereal Disease Research Laboratories (VDRL) untuk tes

sifilis

 Titer Imunoglobulin G (IgG) dan imunoglobulin M (IgM) untuk

mengevaluasi paparan terhadap rubella, CMV, toksoplasmosis dan

parvovirus

 Tes untuk virus bawaan dalam cairan ketuban dengan

menggunakan polymerase chain reaction (PCR)

- Tes Kleihauer-Betke untuk mengevaluasi perdarahan janin-ibu

- Hemoglobin Bart pada pasien keturunan Asia (yang mungkin

didapatkanheterozigot pada alfa-thalassemia)

- Karyotyping Janin untuk trisomi 21, 13 dan 18

Pemeriksaan Ultrasonografi

Operator berpengalaman dapat mendeteksi polihidramnion secara

subyektif. Suatu pendekatan kuantitatif dapat dilakukan dengan membagi rongga

rahim menjadi empat kuadran atau kantong. Kantong vertikal terbesar diukur

dalam sentimeter dan volume total dihitung dengan mengalikan tingkat ini dengan

4. Hal ini dikenal sebagai Amnion Fluid Index (AFI). Polihidramnion

didefinisikan sebagai AFI lebih dari 24 cm atau kabtong tunggal cairan minimal 8

cm yang menghasilkan volume cairan total lebih dari 2.000 mL.

AFI adalah salah satu dari lima cara untuk menilai komponen dari profil

biofisik (tes non-invasif yang dapat mendeteksi ada atau tidak adanya asfiksia

19
janin). Komponen lainnya adalah gerakan pernapasan janin, gerakan tubuh, nada

janin dan monitoring jantung janin.

Prenatal ultrasonografi pada polihidramnion dapat berupa:

- Evaluasi proses menelan janin. Penurunantingkat menelan janin terjadi

pada anencephaly, trisomi 18, trisomi 21, distrofi otot, dan displasia

tulang.

- Evaluasi anatomi janin; menilai hernia diafragma, massa paru-paru, dan

tidak adanya gelembung perut (yang berhubungan dengan atresia

esofagus). Tanda gelembung ganda atau duodenum melebar menunjukkan

kemungkinan atresia duodenum.

- Test untuk aritmia dan malformasi janin yang menyebabkan kegagalan

jantung dan hidrops.

- Lingkar perut besar yang abnormal dapat diamati dengan ascites dan

hidrop janin.

- Janin makrosomia diamati dalam kaitannya dengan diabetes ibu yang tidak

terkontrol.

- Menilai kecepatan aliran darah pada arteri serebral anterior janin untuk

melihat adanya anemia janin.

20
Gambar 2.3: Scan USG pada hamil gemelli
Tampak pada gambar atas janin kembar resipien memiliki cairan amnion dalam
jumlah besar (bayi bahkan tidak tampak pada gambar).
Pada gambar bawah, tampak cairan hanya tersisa pada sekitar janin pendonor
dalam jumlah kecil di antara kedua kakinya (ditunjukkan oleh tanda silang).

2.2.7 Penatalaksanaan4,6

- Langkah pertama adalah untuk mengidentifikasi apakah penyebab yang

mendasari.

- Polihidramnion ringan dapat cukup dipantau dan diobati secara

konservatif.

21
- Persalinan prematur biasa dilakukan karena overdistensi dari rahim, dan

langkah-langkah harus diambil untuk meminimalkan komplikasi ini.

Termasuk pemeriksaan antenatal yang teratur dan pemeriksaan rahim dan

bedrest sampai cukup bulan.

- Steroid intramuskular harus diberikan kepada ibu pada antenatal jika

dipertimbangkan untuk dilakukannya persalinan prematur. Hal ini

membantu untuk meningkatkan kematangan paru-paru.

- Scan ultrasound serial harus dilakukan untuk memantau AFI dan monitor

pertumbuhan janin.

- Anemia hidrops janin diobati dengan transfusi eritrosit, baik intravaskular

atau melalui perut janin. Hal ini mengurangi kemungkinan kegagalan

kongestif janin, sehingga memungkinkan perpanjangan kehamilan dan

meningkatkan kelangsungan hidup.

- Jika didiagnosis adanya diabetes kehamilan, kontrol glikemik yang ketat

harus dipertahankan. Hal ini biasanya dilakukan dengan manipulasi diet

dan insulin jarang dibutuhkan.

- Indometacin adalah obat pilihan untuk pengobatan medis polihidramnion.

Hal ini sangat efektif, terutama dalam kasus dimana kondisi ini terkait

dengan peningkatan produksi urin janin. Mekanisme aksi menjadi efek

pada produksi urin oleh ginjal janin, mungkin dengan meningkatkan efek

dari vasopresin. Hal ini tidak efektif dalam kasus di mana penyebab yang

mendasari adalah penyakit neuromuskuler yang mempengaruhi proses

menelan janin, atau hidrosefalus. Tapi hal ini merupakan kontraindikasi

22
pada sindrom kembar-ke-kembar atau setelah 35 minggu, karena efek

samping yang ditimbulkan lebih besar daripada manfaat dalam kasus ini.

- Amniosentesis direkomendasikan dalam kasus di mana indometacin

menjadi suatu kontraindikasi, pada polihidramnion berat, atau pada pasien

yang simptomatik. Ini menjadi kontraindikasi pada ketuban pecah dini

atau pelepasan plasenta, atau korioamnionitis (peradangan selaput

chorioamniotic dan cairan - biasanya infektif).

- Induksi persalinan harus dipertimbangkan jika gawat janin berkembang.

Di atas 35 minggu mungkin lebih aman untuk dilahirkan. Induksi dengan

ruptur buatan pada membran (ARM) harus dikontrol, dilakukan oleh

dokter kandungan dan dengan persetujuan untuk melanjutkan dengan

sectio caesar jika diperlukan.

2.2.8 Komplikasi4

- Risiko dan komplikasi amnioinfusi, termasuk emboli cairan amnion,

gangguan pernapasan ibu, peningkatan tekanan rahim ibu, dan gangguan

pernapasan sementara janin.

- Risiko amniosentesis termasuk kehilangan janin (1-2%). Komplikasi

lainnya adalah terlepasnya plasenta, persalinan prematur, perdarahan

janin-ibu, sensitisasi Rh ibu, dan pneumotoraks pada janin. Risiko infeksi

janin dapat sedikit meningkat.

2.2.9 Prognosis4

23
- Jika kondisi ini tidak terkait dengan temuan lain, prognosis biasanya baik.

- Menurut Desmedt dkk, PMR pada polihidramnion yang berhubungan

dengan malformasi janin atau plasenta adalahj sekitar 61%.

- Seperti disebutkan sebelumnya, 20% dari bayi dengan polihidramnion

memiliki beberapa anomali. Dalam hal ini, prognosis tergantung pada

beratnya anomali.

- Penelitian menunjukkan bahwa, jika keparahan polihidramnion meningkat,

kemungkinan untuk menentukan etiologi akan meningkat.

- Dalam kasus polihidramnion ringan, kemungkinan adanya masalah yang

signifikan hanya sekitar 16,5%; hal ini harus dikomunikasikan kepada

orang tua.

Daftar Pustaka

4) Brian S Carter, MD, FAAP. Pediatric Polyhydramnios. Available at URL:

http://emedicine. medscape.com/article/ 975821, accessed on August 2011.

5) Mayo Clinic Staff. Polyhydramnios. Available at URL: http://www.

mayoclinic.com/health/polyhydramnios, accessed on August 2011.

6) Polyhydramnios. http://www.patient.co.uk/doctor/Polyhydramnios.htm

24
BAB IV
ANALISIS KASUS

25
DAFTAR PUSTAKA

26