Anda di halaman 1dari 33

PRESENTASI KASUS

SEORANG PEREMPUAN BERUSIA 51 TAHUN DENGAN


TUMOR LINGUA SUSPEK MALIGNANCY

DISUSUN OLEH:

Revina Afifa G 99172010

PEMBIMBING :
dr. HENKY AGUNG NUGROHO, M.Si.Med., Sp.B(K)Onk.

KEPANITERAAN KLINIK/ PROGRAM STUDI PROFESI DOKTER


BAGIAN ILMU BEDAH ONKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. MOEWARDI SURAKARTA
2018

0
HALAMAN PENGESAHAN

Presentasi kasus ini disusun untuk memenuhi persyaratan Kepaniteraan Klinik


Ilmu Bedah Onkologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret / RSUD Dr.
Moewardi Surakarta. Presentasi kasus dengan judul:

Seorang Perempuan Berusia 51 Tahun dengan Tumor Lingua


Suspek Malignancy

Hari, tanggal : Jumat, 12 Oktober 2018

Oleh:
Revina Afifa G 99172010

Mengetahui dan menyetujui,


Pembimbing Presentasi Kasus

dr. Henky Agung Nugroho, M.Si.Med., Sp.B(K)Onk.


NIP. 19750508 201412 1 001

1
DAFTAR ISI

Hal
HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... 1
DAFTAR ISI ................................................................................................... 2
BAB I : STATUS PASIEN ............................................................................. 3
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA .................................................................. 13
BAB III : SIMPULAN .................................................................................... 31
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 32

2
BAB I
STATUS PASIEN

I.ANAMNESIS
A. Identitas Pasien
Nama : Ny. S
Umur : 51 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Bibrik Jiwan, Madiun
Status : Menikah
Tanggal Masuk : 9 Oktober 2018
Tanggal Periksa : 11 Oktober 2018
No RM : 01434xxx

B. Keluhan Utama
Benjolan di lidah sejak 1 bulan SMRS

C. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien merupakan rujukan dari RSUD dr. Soedono Madiun dengan
keluhan benjolan di lidah sejak 1 bulan sebelum masuk rumah sakit.
Pada awalnya pasien mengeluhkan sariawan di lidah. Setelah sariawan
menghilang, pasien mengatakan mulai muncul benjolan kecil di lidah
yang dirasakan semakin lama semakin membesar. Benjolan saat ini
sebesar kelereng. Pasien mengeluhkan perih di lidah ketika sedang
makan dan juga bicara menjadi tidak jelas. Pasien juga mengatakan
benjolan tersebut pernah berdarah.
Pasien mengeluhkan bercak putih yang ada di lidah pasien sejak
kurang lebih 1 bulan yang lalu. Bercak putih tidak dapat hilang walau
dibersihkan. Pasien tidak mengalami penurunan berat badan yang
signifikan sejak munculnya benjolan tersebut. Keluhan suara serak,

3
mual, muntah, pusing, demam, nyeri kepala, disangkal pada pasien
Awalnya pasien memeriksakan diri ke dokter gigi RSUD dr. Soedono,
pasien dirujuk ke RSUD dr. Moewardi Surakarta bagian bedah mulut.
Dari bagian bedah mulut, dilakukan pemeriksaan laboraturium darah,
rontgen panoramik, dan FNAB. Karena hasilnya dicurigai keganasan,
pasien dirujuk ke bagian bedah onkologi. Selanjutnya pasien
memeriksakan diri ke poliklinik bedah onkologi RSUD Dr. Moewardi.
Pasien dipanggil sesuai jadwal untuk mondok sebelum operasi. Pasien
menyerahkan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan sebelumnya yaitu
pemeriksaan lab darah, foto panoramik, dan FNAB dengan hasil yang
menyokong gambaran keganasan. Dilakukan pemeriksaan foto rontgen
dada pada hari yang sama. Pasien direncanakan operasi biopsi.
.
D. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat keluhan serupa : disangkal
Riwayat hipertensi : disangkal
Riwayat diabetes mellitus : disangkal
Riwayat asma : disangkal
Riwayat alergi obat dan makanan : disangkal
Riwayat penyakit jantung : disangkal
Riwayat bedah : disangkal
Riwayat benjolan/keganasan : disangkal
Riwayat kelainan gigi : Terdapat gigi caries (2.6, 3.3,3.4)
missing tooth (1.8, 2.8, 3.7, 4,8)
Sisa akar/radix (3.5, 3.6, 4.7)
E. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat hipertensi : disangkal
Riwayat diabetes mellitus : disangkal
Riwayat alergi obat dan makanan : disangkal
Riwayat penyakit jantung : disangkal
Riwayat tumor/keluhan serupa : disangkal

4
F. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien merupakan ibu rumah tangga. Pasien berobat di RSUD Dr.
Moewardi dengan menggunakan fasilitas BPJS.

G. Riwayat Gizi dan Kebiasaan


Sehari-harinya pasien makan 3 kali sehari dengan lauk pauk seadanya.
Nafsu makan pasien tidak menurun.
Riwayat merokok : disangkal
Riwayat minum alkohol : disangkal
Riwayat minum jamu bebas : 1x sebulan
Air kumur telan daun sirih
Jahe yang dikunyah
Riwayat olahraga : jarang

H. Anamnesis Sistemik
Kepala : pusing (-), nyeri kepala (-)
Mata : pandangan kabur (-/-),bengkak (-/-), mata merah
(-/-)
Hidung : pilek (-), hidung tersumbat (-), keluar darah (-)
Pipi : bengkak (-/-), nyeri (-/-)
Telinga : pendengaran berkurang (-/-), keluar cairan (-/-),
berdenging (-/-)
Mulut : mulut kering (-), bibir biru (-), sariawan (-), gusi
berdarah (-), bibir kering (+), mulut berdarah (-),
lidah terasa perih (+), bibir bengkak (-)
Leher : nyeri telan (-), benjolan (-), nyeri tekan (-), warna
kulit berubah (-), kulit luka (-)

5
Respirasi : nyeri saat bernafas (-), sesak (-), dada terasa ampeg
(-), batuk (-), dahak (-), batuk darah (-), mengi (-)
Kardiovaskular : nyeri dada berat secara tiba-tiba (-), berdebar-debar
(-), pingsan (-), kaki bengkak (-), keringat dingin
(-)
Gastrointestinal : mual (-), muntah (-), perut terasa panas (-),
kembung (-), sebah (-), muntah darah (-), BAB
warna hitam (-), BAB sulit (-), perut buncit (-)
Genitourinaria : BAK warna kuning jernih (+), nyeri saat BAK (-),
BAK berpasir (-), nyeri pinggang (-)
Muskuloskeletal : nyeri otot (-), nyeri sendi (-)
Ekstremitas
Atas : pucat (-/-), kebiruan (-/-), bengkak (-/-), terasa
dingin (-/-)
Bawah : luka (-/-), pucat (-/-), kebiruan (-/-), bengkak (-/-),
terasa dingin (-/-)

II.PEMERIKSAAN FISIK
A. Keadaan Umum
a. Keadaan umum : compos mentis, E4V5M6, tampak baik, kesan gizi
cukup
b. Vital sign :
TD : 120/80 mmHg
N : 84 kali per menit, regular, simetris, isi dan tegangan cukup
RR : 20 x/menit
T : 36,7o C per aksila
VAS : 2 di tepi kiri lidah
B. General Survey
1. Kulit : kulit sawo matang, kering (-), ujud kelainan kulit (-),
hiperpigmentasi (-)
2. Kepala : mesocephal

6
3. Wajah : Simetris
4. Mata : konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), cekung (-/-),
reflex cahaya (+/+), pupil isokhor 3mm/3mm
5. Telinga : sekret (-/-), darah (-/-).
6. Hidung : bentuk simetris, napas cuping hidung (-), sekret (-), keluar
darah (-).
7. Mulut : mukosa basah (+), sianosis (-), bibir kring (+), lidah kotor
(+), sariawan (-), Benjolan di lidah di bagian tepi lidah kiri sebesar
kelereng dengan konsistensi padat dan terfiksir di lidah, Bercak
putih di lidah (leukoplakia).
8. Leher : JVP tidak meningkat
9. Thorak : bentuk normochest, retraksi (-), gerakan dinding dada
simetris.
Cor
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak.
Palpasi : ictus cordis tidak kuat angkat.
Perkusi : batas jantung kesan tidak melebar.
Auskultasi : bunyi jantung I-II normal, regular, bising (-)
Pulmo
Inspeksi : pengembangan dada kanan sama dengan kiri.
Palpasi : fremitus raba kanan sama dengan kiri.
Perkusi : sonor/sonor.
Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+) normal, suara tambahan
(-/-), ronki basah kasar (-/-)
10. Abdomen
Inspeksi : dinding perut sejajar dinding dada, perut distended
(-)
Auskultasi : bising usus (+) normal, 12x/ menit
Perkusi : timpani
Palpasi : supel, nyeri tekan (-)
11. Genitourinaria : BAK nyeri (-), nyeri ketok costovertebra (-)

7
12. Ekstremitas : CRT < 2 detik
Akral dingin Oedema
- - - -
- - - -
C. Status Lokalis
1. Lingua anterior
Inspeksi : Tampak benjolan di bagian lateral lingua, tampak bercak
putih leukoplakia di 2/3 bagian anterior lidah
Palpasi : Benjolan di bagian antero lateral hingga posterior lingua
sebesar kelereng dengan konsistensi padat dan terfiksir di
lidah, ukuran 2x2x2 cm.
2. Kelenjar getah bening
Axilla kanan dan kiri : tidak teraba massa, nyeri tekan (-)
Infraclavicula kanan dan kiri : tidak teraba massa, nyeri tekan (-)
Supraclavicula kanan dan kiri : tidak teraba massa, nyeri tekan (-)

D. Foto Klinis

8
III. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. FNAB (RSUD dr. Moewardi 5 Oktober 2018)
Kesimpulan:
FNAB Benjolan pada lingua Sinistra: Ditemukan sel atipi, curiga suatu
karsinoma, mohon konfirmasi dengan biopsi.

2. Foto Panoramik (RSUD dr. Moewardi 4 Oktober 2018)

Kesimpulan:

1. Sisa radix (3.5, 3.6, 4.7)


2. Caries (2.6, 3.3,3.4)
3. Missing tooth (1.8, 2.8, 3.7, 4,8)
4. Granuloma (4.6)

3. Rontgen Thorak PA (RSUD dr. Moewardi 9 Oktober 2018)

9
Kesimpulan:
1. Cor dan Pulmo tak tampak kelainan
2. Tidak tampak gambaran pulmonal metastase
3. Laboratorium darah 8 Oktober 2018

Pemeriksaan Hasil Satuan Rujukan


HEMATOLOGI RUTIN
Hemoglobin 14.6 g/dL 11.6 – 16.1
Hematokrit 44 % 33 - 45
Leukosit 9.5 Ribu/µl 4.5 - 11.0
Trombosit 389 Ribu/µl 150 - 450
Eritrosit 5.09 Juta/µl 4.10 - 5.10
Golongan darah AB
Golongan darah Rh positif
HEMOSTASIS
PT 12.5 detik 10-15
APTT 25.7 detik 20-40
INR 0.970
KIMIA KLINIK
Gula Darah Sewaktu 175 mg/dl 60-140
Creatinin 1.0 mg/dl 0.6 - 1.2
Ureum 15 mg/dl < 50
ELEKTROLIT
Natrium darah 137 mmol/l 132-146
Kalium darah 3.8 mmol/l 3.7-5.4
Klorida darah 105 mmol/l 98 – 106

10
SEROLOGI HEPATITIS
HbsAg Non-reactive Non-reactive

ASSESSMENT
Tumor lingua suspek malignancy

PLAN
1. Informed consent
2. Pasien mondok pro biopsi insisi  pemeriksaan histopatologi
3. Diet lunak
4. Konsul TS anestesi dan jantung
5. Puasa 6 jam

Instruksi pre operasi


1. Daftar OK IBS
2. Site marking
3. Informed consent
4. Konsul TS jantung dan anestesi
5. Puasa 6 jam
6. IV Line

Laporan Operasi

1. Pasien posisi supinasi dalam General Anestesi, toilet medan operasi


dengan povidone iodine, ditutup dengan duk steril, pasang packing
intra oral. Toilet cavum oris dengan larutan H2O2 + Povidone iodine,
bilas denganNacl
2. Identifikasi massa tumor 2/3 anterolateral sinistra, dilakukan insisi
massa tumor dengan bentuk elips, kirim sampel untuk pemeriksaan PA
3.Kontrol perdarahan dengan diatermi, cavum oris dialiri nacl 0,9%, jahit
luka operasi dengan benang absorbable multifilamen, cuci cavum oris

11
dengan larutan Nacl, perdarahan (-).
4. Aff packing intraoral, Operasi selesai

Instruksi post operasi


1. Post operasi rawat bangsal Flamboyan 7
2. Infus RL 20 tpm
3. Injeksi metamizole 1mg/8 jam
4. Injeksi ranitidine 50mg/12jam
5. Injeksi ampicillin sulbactam /8 jam
6. BU (+), boleh minum + makan (diet lunak)
7. Kirim hasil PA

12
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Definisi tumor
Tumor adalah suatu benjolan yang disebabkan oleh pertumbuhan sel. Ada dua
macam tumor yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Tumor jinak mempunyai ciri-
ciri yaitu bentuknya bundar dan lonjong, pertumbuhannya terbatas dan lambat,
mempunyai simpai atau kapsul, tidak menyebabkan kematian secara langsung,
tidak mempunyai anak sebar. Tumor ganas mempunyai ciri – ciri yaitu tidak
mempunyai bentuk, pertumbuhannya cepat dan tidak terbatas serta melewati batas
anatominya, tidak mempunyai simpai, mempunyai anak sebar (metastasis).
Anatomi Lidah
Lidah secara anatomi terbagi atas 3 bagian, yaitu :
1. Apeks lingual (ujung lidah)
2. Korpus lingual (badan lidah)
3. Radiks lingual (akar lidah)

Definisi tumor

Tumor adalah suatu benjolan yang disebabkan oleh pertumbuhan


sel. Ada dua macam tumor yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Tumor
jinak mempunyai ciri-ciri yaitu bentuknya bundar dan lonjong,
pertumbuhannya terbatas dan lambat, mempunyai simpai atau kapsul,

13
tidak menyebabkan kematian secara langsung, tidak mempunyai anak
sebar. Tumor ganas mempunyai ciri – ciri yaitu tidak mempunyai
bentuk, pertumbuhannya cepat dan tidak terbatas serta melewati batas
anatominya, tidak mempunyai simpai, mempunyai anak sebar
(metastasis).

Anatomi Lidah

Lidah secara anatomi terbagi atas 3 bagian, yaitu :


1. Apeks lingual (ujung lidah)
2. Korpus lingual (badan lidah)
3. Radiks lingual (akar lidah)

a. Struktur superfisial lidah

Membran mukosa yang melapisi lidah dijumpai pada bagian dorsal


lidah, di pinggir kanan dan kiri; dan disebelah muka terdapat tonjolan
yang kecil disebut dengan papila.
Pada bagian dasar papila ini terdapat kuncup - kuncup pengecap
sehingga kita dapat menerima sensasi atau merasa cita rasa. Ada empat
macam papila, yaitu: papila filiformis, papila fungiformis, papila
sirkumvalata dan papila foliata. Area dibawah lidah disebut dasar mulut.
Membran mukosa disini bersifat licin, elastis dan terdapat banyak

14
pembuluh darah yang menyebabkan lidah ini mudah bergerak. Mukosa
dasar mulut tidak mengandung papila. Dasar mulut dibatasi oleh otot-
otot lidah dan otot - otot dasar mulut yang berinsertio di sebelah
dalam mandibula. Di sebelah dalam mandibula ini terdapat kelenjar -
kelenjar ludah sublingualis dan submandibularis.

b. Otot - otot pada lidah


Lidah adalah organ otot dengan kekenyalan yang baik sekali
sewaktu bergerak, hal ini dapat dilihat pada waktu mengunyah. Lidah
sebagian besar terdiri dari dua kelompok otot. Otot intrinsik lidah
melakukan semua gerakan halus, sementara otot ekstrinsik melekatkan
lidah pada bagian sekitarnya serta melaksanakan gerakan - gerakan kasar
yang sangat penting pada saat mengunyah dan menelan.

c. Persarafan pada lidah


Lidah memiliki persarafan yang majemuk. Otot - otot lidah
mendapat suplai dari nervus hipoglosus (nervus XII). “Taste bud” pada
lidah dibagi menjadi dua bagian, yaitu perasaan umum, menyangkut
taktil perasa seperti membedakan ukuran, bentuk, susunan, kepadatan
suhu, dan sebagainya, serta rasa pengecap khusus. Implus perasaan
umum berada pada bagian anterior lidah pada serabut saraf lingual yang
merupakan sebuah cabang nervus kranial V, sementara implus indera
pengecap berada pada korda timpani bersama saraf lingual, kemudian
bersatu dengan nervus kranial VII, yaitu nervus fasialis.

d. Kelenjar limfe pada lidah


Kelenjar limfe penting untuk diketahui oleh karena berhubungan
dengan proses penyebaran karsinoma lidah.
Penyaluran limfe melalui lidah terjadi melalui 4 jalur yaitu:

15
1) Limfe dari bagian 1/3 posterior lidah disalurkan ke bagian
servikalis profunda superior di kedua sisi.
2) Limfe dari bagian medial 2/3 anterior lidah disalurkan
langsung ke bagian servikalis profunda inferior.
3) Limfe dari bagian lateral 2/3 anterior lidah disalurkan ke
submandibularis
4) Limfe dari ujung lidah disalurkan ke submentalis.

Definisi Tumor Pada Lidah

Tumor rongga mulut ialah tumor yang terdapat di daerah rongga


mulut yang terletak mulai dari perbatasan kulit selaput lendir bibir atas
dan bawah sampai ke perbatasan palatum durum - palatum mole di
bagian atas. Tumor ganas rongga mulut dapat berasal dari jaringan epitel
atau jaringan ikat. Tumor ganas yang berasal dari jaringan epitel antara
lain karsinoma sel skuamosa dan karsinoma sel basal, sedangkan contoh
yang berasal dari jaringan ikat adalah fibrosarkoma.
Tumor ganas pada lidah adalah suatu neoplasma maligna yang
berasal dari jaringan epitel mukosa lidah dengan sel berbentuk squamous
cell carcinoma (sel epitel gepeng berlapis). Tumor ini dapat
menginfiltrasi ke daerah sekitarnya, di samping itu dapat melakukan
metastase secara limfogen dan hematogen.
Karsinoma sel skuamosa adalah jenis keganasan yang paling sering
terjadi dalam rongga mulut, meliputi 95% dari seluruh kasus keganasan

16
pada rongga mulut. Pada stadium dini tidak terasa sakit dan tampak
sebagai lesi ulserasi, fisur, atau keratosis yang dapat diketahui dengan
palpasi. Daerah pada lidah yang mempunyai frekuensi tinggi terhadap
kelainan ini adalah lateral dan ventral lidah. Jika bagian 2/3 posterior
lidah dan dasar lidah sudah terkena, maka prognosis menjadi buruk
karena sulit mencapai daerah lesi dan lokasinya dekat dengan organ
vital. Tindakan yang tepat sangat diperlukan karena menurut data
statistik 2/3 dari seluruh pasien

Epidemiologi

Karsinoma lidah merupakan keganasan jenis karsinoma yang


mengenai lidah dan hampir 95% berupa karsinoma sel skuamosa.
Karsinoma lidah terletak sebagian besar pada dua pertiga anterior lidah,
umumnya pada tepi lateral dan bawah lidah yaitu sekitar 40-75%.
Keganasan ini menempati insiden 1% dari seluruh karsinoma tubuh dan
merupakan keganasan rongga mulut yang paling sering
ditemukan yaitu sekitar 25-45%
Insiden karsinoma lidah di Indonesia masih belum diketahui
dengan pasti tetapi bila dibandingkan dengan hasil penelitian di luar
negeri dapat dikatakan bahwa insidennya masih jarang. Insiden pada
penderita laki-laki di Perancis adalah 8 per 100.000 orang sedangkan di
India adalah 6 per 100.000 orang. Pada tahun 2009 di Amerika
ditemukan 10.520 kasus baru karsinoma lidah dan diperkirakan terjadi
1900 kematian.
Karsinoma lidah lebih sering terjadi pada laki-laki dengan
perbandingan laki-laki dan wanita adalah 2 : 1 serta lebih sering
ditemukan pada usia lanjut daripada usia muda.

17
Patofisiologi
Neoplasma atau tumor adalah transformasi sejumlah gen yang
menyebabkan gen tersebut mengalami mutasi pada sel DNA.
Karsinogenesis akibat mutasi materi genetik ini menyebabkan
pembelahan sel yang tidak terkontrol dan pembentukan tumor atau
neoplasma. Gen yang mengalami mutasi disebut proto-onkogen dan gen
supresor tumor, yang dapat menimbulkan abnormalitas pada sel somatik.
Usia sel normal ada batasnya, sementara sel tumor tidak mengalami
kematian sehingga multiplikasi dan pertumbuhan sel berlangsung tanpa
kendali. Sel neoplasma mengalami perubahan morfologi, fungsi, dan
siklus pertumbuhan, yang akhirnya menimbulkan disintegrasi dan
hilangnya komunikasi antarsel.

Terlihat ulser pada lidah dengan sel skuamus karsinoma

Tumor diklasifikasikan sebagai kejadian neoplasma yang bersifat


jinak dan tidak menyebar ke jaringan sekitarnya. Sebaliknya, maligna
disinonimkan sebagai tumor yang melakukan metastatis, yaitu menyebar dan
menyerang jaringan lain sehingga dapat disebut tumor ganas.
Untuk terjadinya karsinogenesis diperlukan lebih dari satu mutasi.
Bahkan kenyataannya, beberapa serial mutasi terhadap kelas gen tertentu
diperlukan untuk mengubah suatu sel normal menjadi sel – sel tumor.
Hanya mutasi pada gen tertentu yang berperan penting pada divisi sel,
apoptosis sel dan DNA repair yang akan mengakibatkan suatu sel
kehilangan regulasi terhadap poliferasinya.

18
Hampir semua sel neoplasma berasal dari satu sel yang mengalami
mutasi karsinogenik. Sel tersebut mengalami proses evolusi klonal yang
akan menambah resiko terjadinya mutasi ekstra pada sel desendens
mutan. Sel – sel yang hanya memerlukan sedikit mutasi untuk menjadi
ganas diperkirakan bersumber dari tumor jinak. Ketika mutasi
berakumulasi, maka sel tumor jinak itu akan menjadi tumor ganas.13
Proses karsinogenesis adalah proses bertahap suatu multisteps
process. Sedikitnya ada tiga tahapan, yaitu:6
1. Inisiasi, proses inisiasi ini: 1. Karsinogen yang merupakan
inhibitor adalah mutagen 2. Cukup terkena sekali paparan karsinogen 3.
Keadaan ini permanen dan irreversible 4. Proses ini tidak mengubah
ekspresi gen 2. Promosi, sifat – sifat promoter adalah: 1. Mengikuti kerja
inisiator 2. Perlu paparan berkali – kali 3. Keadaan dapat reversible 4.
Dapat mengubah ekspresi gen seperti: hiperplasia, induksi enzim,
induksi diferensiasi 3. Progresi
Pada progresi ini terjadi aktivasi, mutasi, atau hilangnya gen. pada
progresi ini timbul perubahan benigna menjadi pre-maligna dan maligna.

Etiologi

Beberapa faktor yang berperan terhadap timbulnya karsinoma lidah


adalah sebagai berikut :
a. Tembakau
Penggunaan tembakau dalam waktu lama merupakan faktor utama
yang penting dan berhubungan erat dengan timbulnya karsinoma lidah.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa hampir 90%
penderita karsinoma lidah mempunyai riwayat penggunan
tembakau dan meningkat dengan kebiasaan merokok. Insiden
karsinoma lidah pada penderita yang merokok diperkirakan 6 kali
lebih sering terjadi dibandingkan pada penderita yang tidak merokok.
Tembakau digunakan dengan cara dikunyah atau diisap. Efek
penggunaan tembakau yang tidak dibakar ini erat hubungannya dengan

19
timbulnya leukoplakia dan lesi mulut lainnya termasuk lidah. Tembakau
mengandung banyak molekul karsinogenik seperti hidrokarbon
polisiklik, nitrosamin, nitrosodicthanolamine, nitrosoproline dan
polonium.
Paparan tembakau menyebabkan perubahan yang progresif dari
mukosa mulut dan penggunaan dalam waktu lama menyebabkan
transformasi keganasan terutama perubahan dalam ekspresi mutasi p53.
Efek karsinogenik dari tembakau sebagian besar dirangsang oleh
zat kimia yang terdapat pada asap rokok. Asap rokok merangsang
perubahan genetik termasuk mutasi gen, gangguan kromosom,
mikronuklei, perubahan kromatin, rusaknya rantai DNA. Mutasi gen
menyebabkan hiperaktif onkogen, gangguan proliferasi, penolakan G-S,
G-M dan M pada siklus sel, mencegah apoptosis dan gangguan
kelangsungan hidup sel. Selain itu juga mutasi gen akan menginaktifkan
tumor supresor yang secara normal berperan untuk mencegah perubahan
sel-sel menjadi ganas.
Nitrosamin merupakan zat kimia utama yang bersifat mutagen
dalam asap rokok. Zat kimia yang lain adalah tobacco-specific
nitrosamines (TSNAs) yang berasal dari alkaloid utama tembakau,
nikotin, nornikotin, anabasin dan anatabin. Nitrosonomikotin dan 4- (N-
methyl-N-nitrosamino)-I-(3- pyridyl)-I-butanone berasal dari nikotin
dan karsinogen poten. Asap rokok mengandung berbagai mutagenik dan
karsinogenik termasuk nitroso-compounds, hidrokarbon aromatik
polisiklik heterosiklik amin. Sebagian besar karsinogen dan mutagen
dimetabolisme menjadi bentuk yang lebih aktif dalam tubuh manusia
dan menyebabkan gangguan kromosom. Karakteristik molekuler dari
kecurigaan adanya perubahan genetik masih belum jelas tetapi adanya
tumor supresor seperti TP53, CDKN2A dan pRb sudah tampak pada
stadium awal.
Efek genotoksik secara langsung dari tembakau merupakan alur
prokarsinogenik ke dua yang meliputi penipisan folat dan reduksi

20
kofaktor. Folat dan kofaktor berperan penting untuk membantu efisiensi
sintesis DNA, perbaikan dan metilasi. Penipisan folat menyebabkan
gangguan genetik seperti kesalahan dalam penggabungan urasil,
putusnya rantai DNA spesifik-p53 dan hipometilasi p53 spesifik.
molekul.

b. Alkohol
Beberapa penelitian menunjukkan hubungan antara konsumsi
alkohol yang tinggi terhadap terjadinya karsinoma sel skuamosa lidah.
Minuman alkohol mengandung bahan karsinogen seperti etanol,
nitrosamin, urethane contaminant. Alkohol merupakan zat pelarut
yang dapat meningkatkan permeabilitas sel terhadap bahan karsinogen
dari tembakau. Alkohol merupakan salah satu faktor yang memudahkan
terjadinya leukoplakia karena penggunaan alkohol dapat menimbulkan
iritasi pada mukosa.
Selain itu penggunaan alkohol dalam waktu lama dapat
meningkatkan respon enzim sitokrom p450 yang berfungsi untuk
mengaktivasi protokarsinogen menjadi karsinogen. Kemungkinan
mekanisme yang lain adalah rusaknya aktivitas makrofag dan
berkurangnya jumlah T limfosit. Alkohol juga menurunkan aktivitas
enzim yang berperan untuk perbaikan DNA sehingga terjadi peningkatan
kerusakan kromosom.
Kombinasi kebiasaan merokok dan minum alkohol menyebabkan
efek sinergis sehingga mempunyai resiko yang lebih besar untuk
terjadinya karsinoma lidah. Alkohol menyebabkan dehidrasi dan rasa
panas yang mempengaruhi selaput lendir mulut. Peningkatan
permeabilitas mukosa ini menimbulkan rangsangan menahun dimana
timbul proses kerusakan dan pemulihan jaringan yang berulangulang
sehingga mengganggu keseimbangan sel dan sel mengalami displasia.

c. Infeksi virus

21
Virus dapat menyebabkan keganasan dengan mengubah struktur
DNA dan kromosom sel yang diinfeksinya. Virus human papilloma
(HPV) berhubungan dengan timbulnya karsinoma lidah.
HPV subtipe 16, 18, 31 dan 33 merupakan jenis yang dilaporkan
paling sering berhubungan dengan timbulnya displasia dan karsinoma
sel skuamosa. Virus human papilloma merupakan virus DNA rantai
ganda yang menyerang sel epitel.

d. Faktor Gigi dan Mulut


Keadaan rongga mulut dengan higien yang jelek ikut berperan
memicu timbulnya karsinoma lidah. Iritasi kronis yang terus menerus
berlanjut dari gigi yang kasar atau runcing, gigi yang karies, akar gigi
dan gigi palsu yang letaknya tidak sesuai akan dapat memicu terjadinya
keganasan.

DIAGNOSIS
Diagnosis karsinoma lidah berdasarkan anamnesis yang terarah,
pemeriksaan fisik yang cermat dan pemeriksaan histopatologi sebagai
diagnosis pasti.

Anamnesis
Gejala klinis penderita tergantung pada lokasi karsinoma tersebut.
Bila terletak pada duapertiga anterior lidah, keluhan penderita adalah
benjolan di lidah.
Pada umumnya benjolan tidak nyeri kecuali bila ada infeksi
sekunder. Bila karsinoma terletak pada sepertiga posterior lidah,
biasanya tidak selalu diketahui oleh penderita dan rasa sakit yang
dirasakan biasanya dihubungkan dengan rasa sakit di tenggorok.
Pada umumnya penderita karsinoma lidah memberikan keluhan
disfagi, odinofagi, disartria, nyeri yang menjalar ke telinga ipsilateral
dan kadang-kadang trismus. Leukoplakia dan eritroplakia yang tidak

22
hilang dengan pengobatan biasa harus dicurigai kemungkinan adanya
keganasan.
Keluhan lain yang sering membawa penderita berobat adalah
adanya benjolan di leher. Hampir 40% penderita datang dengan tumor
koli yang merupakan tanda stadium lanjut sehingga menurunkan five
year’s survival dari 90% menjadi 30%.

Pemeriksaan Fisik
Pada stadium awal, kelainan di lidah bermanifestasi dalam
berbagai bentuk dapat berupa leukoplakia, eritroplakia, penebalan atau
bentuk ulkus yang merupakan kelainan yang paling sering ditemukan.
Ulkus tipe eksofitik jarang metastasis sedangkan tipe infiltratif, ulseratif
dan fungating sering metastasis.
Pada stadium lanjut, ulkus mengalami infiltrasi lebih dalam dengan
tepi yang mengalami indurasi. Di negara Barat, 75% karsinoma lidah
ditemukan pada bagian anterior lidah dan 25% pada bagian posterior
pangkal lidah sedangkan di negara Asia sebaliknya. Pemeriksaan palpasi
bimanual pada tumor primer sangat penting dilakukan karena ukuran
tumor yang teraba biasanya lebih besar dibandingkan yang terlihat.
Berdasarkan kondisi yang ditemukan pada palpasi ditentukan lokasi,
ukuran, jarak dari ujung lidah, garis tengah dan sulkus terminalis, ada
tidaknya invasi ke dasar mulut dan frenulum lidah serta mobilitas tumor.
Karsinoma lidah mudah metastasis ke kelenjar getah bening
regional. Kelenjar getah bening leher yang sering terkena menurut
urutannya adalah kelenjar getah bening pada level II, I, III dan IV
berdasarkan area kelenjar getah bening leher menurut Sloan Kattering
Memorial Cancer Center Classifiaction

23
Palpasi daerah leher penting dilakukan untuk menentukan lokasi,
ukuran, permukaan, konsistensi dan mobilitas pembesaran kelenjar getah
bening leher. Karsinoma lidah dapat bermetastasis jauh ke paru dan hati.

Histopatologi
Pemeriksaan histopatologi untuk diagnosis pasti prabedah
merupakan prosedur yang sangat penting. Pada tahap awal, diagnosis
ditegakkan berdasarkan pemeriksaan sitologi eksfoliatif dari bahan
kerokan ulkus atau lesi dengan pengecatan Papanicolaou atau
Hematoksilin eosin. Bila ditemukan sel ganas dilanjutkan dengan biopsi
untuk diagnosis pasti. Lesi kecil yang secara klinis mencurigakan suatu
keganasan langsung dilakukan biopsi eksisional dengan mengikut
sertakan jaringan normal 0,5 – 1 sentimeter dari tepi lesi dan dilakukan
pemeriksaan potong beku atau vriescoupe (VC) pada tepi-tepi sayatan.
Pada tumor yang besar dilakukan punch biopsy dengan menggunakan
cunam seperti forceps Blakesley atau biopsi insisional dengan pisau.
Histopatologi karsinoma lidah dapat berupa karsinoma sel
skuamosa yang merupakan keganasan epitel yang paling sering
ditemukan. Jenis lain adalah karsinoma adenoid kistik, adenokarsinoma,
sarkoma, rabdomiosarkoma dan limfangiosarkoma.

24
Berdasarkan klasifikasi Broder maka karsinoma lidah digolongkan
menjadi welldifferentited (G-1), moderately welldifferentiated (G-2),
poorly differentiated (G-3) dan undifferentiated (G-4).

(A) Well differentiated. Terlihat proliferasi sel-sel skuamosa


disertai pembentukan keratin (keratin pearl) (tanda panah) (B)
Moderately differentiated. Terlihat proliferasi sel karsinoma (C) Poorly
differentiated. Terlihat proliferasi sel karsinoma tanpa adanya
diferensiasi sel sehingga sel sulit dikenali Sekitar 97% jenis karsinoma
lidah adalah karsinoma sel skuamosa dimana yang paling banyak adalah
moderately well differentiated. Adenokarsinoma dan sarkoma
didapatkan hanya sekitar 1- 2%

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan radiologi
Foto polos
 Foto polos mandibula (posisi AP, lateral, panoramic, okklusal, dll)
 Foto kepala (lateral, waters, oklusal)
 Thorax : untuk melihat apakah ada metastasis pada paru

CT Scan atau MRI


Digunakan untuk menentukan batas dan ukuran tumor serta
keterlibatan kelenjar getah bening leher. Pembesaran kelenjar getah
bening lebih dari satu sentimeter dapat dideteksi pada pemeriksaan CT
scan. Pemeriksaan CT scan juga dapat mendeteksi penjalaran karsinoma
lidah ke tulang berupa nekrosis tulang, sedangkan MRI dapat
mendeteksi luasnya suatu massa pada jaringan lunak.

USG
Untuk membantu mengevaluasi kgb leher dan untuk mengetahui
apakah ada metastasis jauh ke liver.

25
FNAB
Suatu metode atau tindakan pengambilan sebagian jaringan tubuh
manusia dengan suatu alat aspirator berupa jarum suntik yang bertujuan
untuk membantu diagnosis berbagai penyakit tumor. Tindakan biopsi
aspirasi ditujukan pada tumor yang letaknya superfisial dan papable
misalnya tumor kelenjar getah bening, tiroid, kelenjar liur, payudara, dan
lain-lain.

Biopsi
Biopsi adalah tindakan diagnostik yang dilakukan dengan
mengambil sampel jaringan atau sel untuk dianalisis di laboratorium,
baik untuk mendiagnosis suatu penyakit atau untuk mengetahui jenis
pengobatan atau terapi yang terbaik bagi pasien. Tindakan ini juga
dikenal sebagai pengambilan sampel jaringan. Dapat berupa biopsi
eksisi dan insisi.

Staging tumor pada rongga mulut


Sistem yang dipakai adalah American Join Commite For Cancer
Staging and End Result reporting (AJCCS). Sistem yang dipakai adalah
T.N.M yaitu: T:Tumor primer, N: Kelenjar getah bening regional, M:
Metastasis jauh tumor primer dan dipakai pada rongga mulut:
T – Tumor primer
TX : Tumor yang belum dapat dideteksi
T0 : Tidak ada bukti tumor primer
TIS : Karsinoma insitu (tumor permukaan)
T1 : Tumor besarnya 2 cm atau lebih kecil
T2 : Tumor lebih besar dari 2 cm tetapi lebih kecil dari 4 cm
T3 : Tumor lebih besar dari 4 cm
T4 : Tumor telah melibatkan struktur di sekitarnya seperti tulang
kortikal atau otot – otot lidah

26
N – Kelenjar getah bening regional
NX : Kelenjar getah bening regional tidak dapat diperkirakan
N0 : Tidak ada metastatis ke kelenjar getah bening regional
N1 : Metastatis ke kelenjar getah bening unilateral tunggal dengan
ukuran kurang dari 3 cm
N2 : Metastatis ke kelenjar getah bening unilateral tunggal dengan
ukuran 3 - 6 cm atau bilateral atau melibatkan kelenjar getah bening
multiple dengan ukuran kurang dari 6 cm atau melibatkan kelenjar getah
bening kontra lateral dengan ukuran kurang dari 6 cm
N2a : Metastatis ke kelenjar getah bening unilateral tunggal dengan
ukuran 3 - 6 cm
N2b : Metastatis ke kelenjar getah bening multiple dengan ukuran
kurang dari 6 cm
N2c : Metastatis ke kelanjar getah bening kontra lateral dengan
ukuran kurang dari 6 cm
N3 : Metastatis ke kelenjar getah bening dengan ukuran lebih dari
6 cm

M – Metastatis jauh tumor primer


MX : Adanya metastatis jauh tidak dapat diperkirakan
M0 : Tidak ada metastatis jauh dari tumor primer
M1 : Ada metastasis jauh dari tumor primer

Dari TNM sistem di atas, maka derajat tumor dapat


diklasifikasikan sebagai berikut:
Stage 1 : T1 N0 M0
Stage 2 : T2 N0 M0
Stage 3 : T3 N0 M0
T1 N1 M0
T2 N1 M0
T3 N1 M0

27
Stage 4 : T4 N0 M0
T1, T2, atau T3 dengan N2 atau N3 dan M0
T1, T2 atau T3 N2 atau N3 dan M1

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan karsinoma lidah meliputi pembedahan,
radioterapi, kemoterapi dan kombinasi. Tujuan utama dari perawatan
tumor ganas lidah adalah kontrol dari tumor primer. Menurut Epstein
(1994), pilihan perawatan tergantung pada beberapa yaitu:
1.Tipe sel dan derajat diferensiasi
2. Bagian yang terlibat, ukuran serta lokasi dari tumor primer
3. Keterlibatan jaringan getah bening
4. Ada tidaknya keterlibatan tulang
5. Kemampuan tercapainya tepi tumor pada waktu operasi
6. Kemampuan mempertahankan fungsi komunikasi
7. Kemampuan mempertahankan fungsi menelan
8. Status fisik dan mental pasien
9. Komplikasi yang mungkin terjadi
10. Kerja sama (kooperatif ) pasien
Beberapa tipe perawatan dari tumor pada rongga mulut yaitu:
Pembedahan

2. Radioterapi
Radioterapi Karsinoma lidah dapat dilakukan dengan terapi radiasi
eksternal maupun radiasi internal. Sebelum radioterapi harus
diperhatikan higiene rongga mulut yang baik dengan membersihkan atau

28
mencabut gigi yang karies, mencegah dan mengeliminasi sumber infeksi
dari dental. Pada tumor primer T1 dengan lokasi dimana saja pada lidah
dapat dilakukan radioterapi dengan menggunakan brakiterapi implan
jarum Ir-192. Pada tumor primer T2 dan T3 yang eksofitik atau dengan
infiltrasi minimal diberikan radioterapi eksternal menggunakan radiasi
sinar X, Co-60 dengan dosis 40-60 Gy selama 4-6 minggu selanjutnya
diberikan radiasi internal implan interstisial. Pada penderita yang tidak
dapat dilakukan tindakan pembedahan diberikan radiasi ekternal paliatif
dengan dosis total 70 Gy/7 minggu. Dosis yang diterima medula spinal
dibatasi kurang dari 40 Gy untuk mencegah mielitis radiasi.

3. Kemoterapi
Kemoterapi digunakan pada karsinoma stadium lanjut dan sebagai
terapi paliatif pada tumor rekuren untuk mengurangi rasa nyeri. Regimen
yang digunakan adalah cisplatin dan 5-fluorouracil.

4. Pembedahan dan radioterapi


Terapi kombinasi pembedahan dan radioterapi memberikan hasil
terapi yang lebih baik untuk karsinoma lidah stadium III dan IV. Terapi
kombinasi dilakukan dengan 2 cara yaitu terapi kombinasi terencana dan
terapi kombinasi tanpa rencana. Terapi kombinasi terencana yaitu
dilakukan pembedahan untuk mengambil semua tumor yang nampak dan
teraba sampai 1–2 cm dari tepi tumor yang merupakan jaringan normal.
Selanjutnya dilakukan radioterapi untuk eradikasi tumor residu
secara mikroskopik. Terapi kombinasi tanpa rencana dilakukan sebagai
terapi kuratif dan belum ada kesepakatan tentang waktu untuk dilakukan
radioterapi. Keuntungan pemberianradioterapi preoperatif adalah sel
kanker pada tepi tumor menjadi inaktif, radioterapi menyebabkan
sklerosis dan menyumbat aliran kelenjar getah bening serta mengurangi
penyebaran karsinoma saat pembedahan. Tetapi radioterapi preoperatif
menyebabkan gangguan penyembuhan luka seperti fistula

29
orofaringokutan, luka yang mengelupas serta ruptur vaskuler. Saat ini
ada kecenderungan untuk melakukan pembedahan terlebih dahulu dan
selanjutnya diberikan radioterapi. Keuntungan pendekatan ini adalah
morbiditas operasi dapat dikurangi dan kerugiannya adalah apabila
terjadi komplikasi pembedahan maka pemberian radioterapi menjadi
terlambat dan tidak efektif.

5.Kemoradioterapi
Kombinasi dari kemoterapi dan radioterapi
6. Cryosurgery
7. Laser

PROGNOSIS
Semakin cepat terdeteksi, semakin cepat ditangani, maka semakin baik
pula prognosisnya. Prognosis juga tergantung pada stadium saat awal terdeteksi.
Terapi yang rutin dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.

30
BAB III
KESIMPULAN

Karsinoma lidah merupakan keganasan jenis karsinoma yang terdapat


pada lidah, pada umumnya terletak pada tepi lateral dan anterior lidah. Jenis
karsinoma lidah yang tersering adalah karsinoma sel skuamosa tipe moderately
well differentiated. Beberapa faktor yang berhubungan dengan timbulnya
karsinoma lidah adalah penggunaan tembakau dan alkohol dalam waktu lama,
infeksi virus papiloma, hygiene mulut yang jelek, iritasi kronis yang terus
menerus berlanjut dari gigi yang kasar atau runcing, gigi yang karies, akar gigi
dan gigi palsu yang letaknya tidak sesuai.
Gejala klinis karsinoma lidah adalah bercak atau benjolan pada lidah,
kadang-kadang disertai nyeri, disfagi, odinofagi, disartria, nyeri yang menjalar ke
telinga ipsilateral, kadang-kadang trismus serta benjolan di leher. Pada
pemeriksaan fisik lidah didapatkan leukoplakia atau eritroplakia yang harus
dicurigai bila tidak sembuh dengan pengobatan biasa. Kelainan lain adalah
penebalan atau bentuk ulkus yang merupakan kelainan yang paling sering
ditemukan serta pembesaran kelenjar getah bening pada level I, II, III dan IV.
Pemeriksaan palpasi bimanual tumor primer sangat penting untuk menentukan
besar tumor dan diagnosis pasti berdasarkan pemeriksaan histopatologi.Penentuan
stadium karsinoma lidah berdasarkan sistem TNM yang merupakan kesepakatan
Amerika Serikat (AJCC) dan Perancis (UICC) edisi 7 tahun 2010.Terapi
karsinoma lidah berupa pembedahan dengan pendekatan yang dipilih sesuai
dengan lokasi tumor, radioterapi, kombinasi pembedahan dan radioterapi serta
kemoterapi.Prognosis tergantung stadium penyakit.

31
DAFTAR PUSTAKA

1. Munir M. Tumor ganas rongga mulut. Dalam: Soepardi EA,


Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD, ed. Buku ajar ilmu
kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher. Edisi 6.
Jakarta: Balai penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;
2007.hal.156-8
2. Collins SL. Squamous cancer of the oral cavity, oropharynx and
pharyngeal walls. In: Ballenger JJ, ed. Diseases of the neck, throat, ear,
head and neck. 14th edition. Philadelphia: Lea & Febiger; 1991.p.335-444
3. Kentjono WA. Pembedahan pada tumor parotis dan kanker rongga
mulut. Majalah Kedokteran Tropis Indonesia 2006;17:20-38
4. Lucarini JW. Oral and oropharyngeal cancer. 2011.Available from
:http://www.ots1.narod.ru/oxford/part4/oralcancer.htm. Accessed October 11
2018
5. Rosenberg SA, De Vita VT, Hellman S. Cancer: Principle and practice of
oncology. 6th edition. Philadelphia: LippincottWilliams & Wilkins;2001.p.839-
41.

32