Anda di halaman 1dari 18

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Benda asing esofagus adalah benda yang dalam keadaan normal
tidak ada. Benda asing ini tersangkut dan terjepit di esofagus. Benda asing
esofagus dapat berupa benda tajam, benda tumpul, makanan. Benda asing
esofagus terjadi karena menelan benda tajam, benda tumpul atau makan
secara sengaja maupun tidak sengaja.1

2.2 Anatomi Esofagus


Esofagus merupakan sebuah saluran berupa tabung berotot yang
menghubungkan dan menyalurkan makanan dari rongga mulut ke
lambung. Esofagus memiliki panjang sekitar 10 inci (25 cm), ke atas
melanjutkan diri sebagai pars laryngea pharyngis yang terletak setinggi
vertebra servikalis VI, berjalan melalui dinding diafragma setinggi
vertebra torakalis X untuk bersatu dengan lambung7,8.
Pada orang dewasa, panjang esofagus apabila diukur dari incivus
superior ke otot krikofaringeus sekitar 15-20 cm, ke arkus aorta 20-25 cm,
ke vena pulmonalis inferior sepanjang 30-35 cm, dan ke cardioesophagus
joint kurang lebih 40-45cm. Pada anak, panjang esofagus saat lahir
bervariasi antara 8 sampai 10 cm, sedangkan pada usia 15 tahun panjang
esofagus sekitar 19 cm.7
Dari perjalanannya dari faring menuju gaster, esofagus melalui tiga
kompartemen dan dibagi berdasarkan kompartemen tersebut, yaitu pars
servikalis, pars torakalis, dan pars abdominalis. Pars servikalis terletak
setinggi vertebra servikalis VI sampai vertebra torakalis I dan memiliki
panjang 5-6 cm. Bagian anterior pars servikalis berbatasan dengan trakea,
bagian lateral berbatasan dengan carotid sheath beserta isinya, sedangkan
bagian posterior berbatasan dengan hipofaring. Bagian anterolateral pars

3
servikalis tertutup oleh kelenjar tiroid. Pars servikalis dipersarafi oleh n.
reccuren laryngeus7.
Pars thorakalis memiliki panjang 16-18 cm dan terletak setinggi
vertebra torakalis II-IX yaitu dari manubrium sterni. Pars torakalis berada
di mediastinum posterior antara trakea dan kolumna vertebralis mulai di
belakang lengkung aorta dan bronkus cabang utama kiri, lalu membelok ke
kanan bawah di samping kanan depan aorta thorakalis bawah. Dalam
rongga toraks, pars torakalis disilang oleh arcus aorta setinggi vertebra
torakalis IV dan bronkus utama sinistra setinggi vertebra torakalis V.
Arteri pulmonalis dextra menyilang di bawah bifurcatio trachealis. Pada
bagian distal antara dinding posterior esofagus dan ventralcorpus
vertebralis terdapat ductus thoracicus, vena azygos, arteri dan vena
interkostalis7.
Pars abdominalis (abdomen) terletak setinggi vertebra torakalis X
sampai vertebra lumbalis III. Pars abdominalis dimulai dari hiatus
esofagus dari diafragma dan berakhir di kardia lambung, panjang berkisar
2-4 cm. Esofagus pars abdominalis yang bergabung dengan kardia
lambung disebut gastroesophageal junction 7.

4
Gambar 1. Anatomi esofagus7

Dinding esofagus terdiri atas empat lapisan: mukosa, submukosa,


muskularis, dan serosa. Lapisan mukosa bagian dalam terbentuk dari epitel
gepeng berlapis yang berlanjut ke faring di ujung atas; epitel lapisan ini
mengalami perubahan mendadak pada perbatasan esophagus dengan
lambung dan menjadi epitel toraks selapis. Mukosa esofagus dalam
keadaan normal bersifat alkali dan tidak tahan terhadap isi lambung yang
sangat asam. Lapisan submukosa mengandung sel-sel sekretori yang
memproduksi mucus. Mukus mempermudah jalannya makanan sewaktu
menelan dan melindungi mukosa dari cedera akibat zat kimia. Lapisan otot
lapisan luar tersusun longitudinal dan lapisan dalam tersusun sirkular. Otot
yang terdapat di 5% bagian atas esophagus adalah otot rangka, sedangkan
otot di separuh bagian bawah adalah otot polos. Bagian luar esophagus
terdiri atas jaringan ikat longgar yang menghubungkan esophagus dengan
struktur-struktur berdekatan.7

5
Gambar 2. Lapisan dinding esofagus8

Esofagus dipersarafi oleh serabut eferen dan aferen parasimpatis


dan simpatis melalui nervus bagus dan truncus symphaticus. Serabut
parasimpatis dibawa oleh nervus vagus, yang dianggap sebagai saraf
motorik esofagus. Selain itu, terdapat persarafan intrinsik diantara lapisan
otot sirkular dan longitudinal (pleksus Auerbach atau mienterikus) yang
berperan dalam pengaturan peristaltik esophagus normal.7,8
Ujung saraf bebas dan perivascular ditemukan dalam submukosa
esophagus dan ganglia mienterikus. Ujung saraf ini dianggap berperan
sebagai mekanoreseptor, termoosmo dan kemoreseptor dalam esophagus.
Mekanoreseptor menerima rangsangan mekanis seperti sentuhan, dan
kemoreseptor menerima rangsangan kimia dalam esophagus. Reseptor
termoosmo dapat dipengaruhi oleh suhu tubuh, bau, dan perubahan
tekanan osmotik.7
Distribusi darah ke esophagus mengikuti pola segmental. Sepertiga
bagian atas disuplai oleh cabang-cabang arteri tiroidea inferior dan
subklavia. Bagian tengah disuplai oleh cabang-cabang segmental aorta
torakalis dan arteri bronkiales, sedangkan bagian subdiafragmatika
disuplai oleh a. gastrica sinistra dan frenica inferior. Aliran darah vena
juga mengikuti pola segmental. Vena-vena dari sepertiga bagian atas
mengalir ke vena thyroidea inferior, dari sepertiga bagian tengah ke vena

6
azygos dan sepertiga bagian bawah vena esofagus masuk ke dalam vena
gastrica sinistra.7,8
Esofagus mempunyai tiga daerah normal penyempitan yang sering
menyebabkan benda asing tersangkut di esofagus. Penyempitan pertama
disebabkan oleh muskulus krikofaringeal yang merupakan pertemuan
antara serat otot striata dan otot polos sehingga daya propulsifnya
melemah. Daerah penyempitan kedua disebabkan oleh persilangan cabang
utama bronkus kiri dan arkus aorta. Penyempitan yang ketiga disebabkan
oleh mekanisme sfingter gastroesofageal.7

2.3 Fisiologi Menelan


Menelan merupakan suatu aksi fisiologis kompleks ketika
makanan atau cairan berjalan dari mulut ke lambung. Menelan merupakan
rangkaian gerakan otot yang sangat terkoordinasi, dimulai dari pergerakan
volunter lidah dan diselesaikan dengan serangkaian refleks dalam faring
dan esofagus. Bagian aferen refleks ini merupakan serabut-serabut yang
terdapat dalam saraf V, IX, dan X. Pusat menelan terdapat pada medula
oblongata. Di bawah koordinasi pusat ini, impuls-impuls berjalan ke luar
dalam rangkaian waktu yang sempurna melalui saraf kranial V, X, dan XII
menuju ke otot-otot lidah, faring, laring, dan esofagus.9
Menelan merupakan suatu proses yang kontinu dan terjadi dalam
tiga fase, yaitu fase oral, fase faringeal, dan fase esofageal. Fase oral
merupakan fase pertama. Makanan yang telah dikunyah oleh mulut (bolus)
didorong ke belakang mengenai dinding posterior faring oleh gerakan
volunter lidah ke atas dan ke belakang terhadap palatum. Akibat yang
timbul dari peristiwa ini adalah rangsangan gerakan refleks menelan.9,10
Fase faringeal dimulai pada saat refleks menelan muncul setelah
akhir fase oral. Pada fase faringeal terjadi beberapa tahapan. Tahap
pertama, palatum mole dan uvula tertarik ke atas untuk menutupi nares
posterior hidung, mencegah refluks makanan ke rongga hidung. Tahap
kedua, lipatan palatofaringeal pada setiap sisi faring tertarik ke arah medial

7
agar saling mendekat dan membentuk celah yang akan di lewati makanan.
Tahap ketiga, pita suara menjadi sangat berdekatan dan laring tertarik ke
atas dan anterior oleh otot-otot leher dan epiglotis bergerak ke belakang di
atas pembukaan laring, hal ini untuk mencegah masuknya makanan ke
dalam hidung dan trakea. Tahap keempat, gerakan laring ke atas juga
menarik dan melebarkan pembukaan ke esofagus, sehingga sfingter
esofagus (3-4 cm di atas dinding otot esofagus) berelaksasi sehingga
makanan masuk dari faring posterior ke esofagus bagian atas. Gerakan
laing ini juga mengangka glotis keluar keluar dari jalan utama makanan,
sehingga makanan hanya melewati setiap sisi epiglotis. Hal ini mencegah
masuknya makanan ke dalam trakea. Tahap kelima, setelah laring
terangkat dan sfingter faringoesofageal mengalami relaksasi, selutuh otot
dinding faring berkontraksi untuk mendorong makanan ke dalam esogaus
melalui proses peristaltik10.
Fase esofageal mulai saat otot krikofaringues relaksasi sejenak dan
memungkinkan bolus memasuki esofagus. Setelah relaksasi yang singkat,
gelombang peristaltik primer yang dimulai dari faring dihantarkan ke otot
krikofaringeus, menyebabkan otot ini berkontraksi. Gelombang peristaltik
terus berjalan sepanjang esofagus, mendorong bolus menuju sfingter
esofagus bagian distal. Adanya bolus merelaksasikan otot sfingter distal
ini sejenak sehingga memungkinkan bolus masuk ke dalam lambung.
Gelombang peristaltik primer bergerak dengan kecepatan 2 sampai 4
cm/detik, sehingga makanan yang tertelan mencapai lambung dalam waktu
5 sampai 15 detik. Apabila seseorang menelan dalam posisi tegak maka
makanan yang tertelan akan mencapai lambung skitar 5-8 detik. Mulai
setinggi arkus aorta, timbul gelombang peristaltik sekunder apabila
gelombang primer gagal mengosongkan esofagus. Timbulnya gelombang
ini dipacu oleh peregangan esofagus oleh sisa partikel partikel
makanan.9,10

8
Gelombang peristaltik primer penting untuk jalannya makanan dan
cairan melalui bagian atas esofagus, tetapi kurang penting pada esofagus
bagian bawah. Posisi berdiri tegak dan gaya gravitasi adalah faktor-faktor
penting yang mempermudah transport pada esofagus bagian bawah.
Adanya gerakan peristaltik memungkinkan seseorang untuk minum air
sambil berdiri terbalik dengan kepala di bawah atau ketika berada di luar
angkasa dengan gravitasi nol.9
Sewaktu menelan terjadi perubahan tekanan dalam esofagus yang
mencerminkan fungsi motoriknya. Dalam keadaan istirahat, tekanan dalam
esofagus sedikit berada di bawah tekanan atmosfer, tekanan ini
mencerminkan tekanan intratorak. Daerah sfingter esofagus bagian atas
dan bawah merupakan daerah bertekanan tinggi. Daerah tekanan tinggi ini
berfungsi untuk mencegah aspirasi dan refluks isi lambung. Tekanan
menurun bila masing-masing sfingter relaksasi sewaktu menelan dan
kemudian meningkat bila gelombang peristaltik melewatinya. Ada bukti-
bukti yang menyatakan bahwa rangkaian gerakan kompleks yang
menyebabkan terjadinya proses menelan mungkin terganggu bila ada
sejumlah proses patologis. Proses ini dapat mengganggu transport
makanan maupun mencegah refluks lambung.9

9
Gambar 3. Fisiologi Menelan8

2.4 Epidemiologi
Benda asing di esofagus sering ditemukan di daerah penyempitan
fisiologis esofagus. Benda asing yang bukan makanan kebanyakan
tersangkut di servikal esofagus, biasanya di otot krikofaring atau arkus
aorta. Lokasi tersering benda asing tersangkut di esofagus adalah pada
sfingter krikofaringeus dikarenakan pada daerah tersebut adalah daerah
yang sempit dan terdiri dari otot krikofaring yang akan membuka disaat
bolus melewatinya. Namun apabila bolus atau makanan tidak sempurna
diolah dimulut akan menyebabkan makanan tersebut tersangkut, apalagi
untuk suatu benda asing yang cukup besar.Terkadang benda asing dapat
ditemukan di daerah penyilangan esofagus dengan bronkus utama kiri atau
pada sfingter kardio-esofagus.11
Tujuh puluh persen dari 2394 kasus benda asing esofagus ditemukan
di daerah servikal, di bawah sfingter krikofaring, 12% di daerah hipofaring
dan 7,7% di esofagus torakal. Dilaporkan 48% kasus benda asing yang

10
tersangkut di daerah esofagogaster menimbulkan nekrosis tekanan atau
infeksi lokal. Kasus benda asing pada esofagus lebih banyak terjadi pada
anak-anak daripada orang dewasa. Umumnya, anak-anak sekitar 6 bulan
sampai 5 tahun lebih sering menelan benda asing. Pada orang dewasa
sekitar 50-70 tahun juga ditemukan kasus benda asing pada esofagus
walaupun tidak sebanyak pada anak-anak.11,13

Gambar 4. Daerah penyempitan esofagus12

Tertelannya benda asing dapat menjadi kondisi yang serius dikaitkan


dengan morbiditas dan mortalitasnya. Pada tahun 1999, American
Association of Poison Control mendokumentasikan sebanyak 182.105
kejadian tertelannya benda asing pada pasien dibawah 20 tahun. Terdapat
1500-1600 insidensi kematian per tahun akibat komplikasi yang terjadi
karena benda asing pada esofagus di Amerika.14,15
Menurut dokumentasi American Association of Poison Control
Centers pada tahun 2000 dari 116.000 kasus tertelan benda asing 75%
merupakan anak-anak. Jenis benda asing yang sering tertelan adalah benda
benda yang sering dijumpai di rumah seperti uang logam, mainan, magnet.

11
Sementara impaksi makanan merupakan kasus yang sering dijumpai pada
orang dewasa dengan prevalensi 13 per 100.000 jiwa. Marasabessy (2015)
berpendapat bahwa kejadian benda asing esofagus paling sering terjadi
pada kelompok umur 0-10 tahun sebanyak 17 kasus. Kemudian golongan
umur lebih daru 51 tahun dengan 12 kasus, setelah itu golongan umur 41-
50 tahun dengan 11 kasus, golongan umur 11-20 tahun dengan 6 kasus,
golongan umur 21-30 tahun dengan 4 kasus, dan golongan umur 31-40
tahun dengan 2 kasus. Rasio laki-laki dan perempuan adalah 25:27. Benda
asing tersering adalah gigi palsu 25 kasus (48,1%) dan uang logam 18 kasus
(34,6%) 4,5
Di RSUP Dr. Kariadi Semarang dari 1994-1998 mendapatkan 121
kasus benda asing esofagus. Lima puluh dua kasus dijumpai pada anak
berumur dibawah 5 tahun dan 29 kasus pada anak berumur 6-14 tahun.
Dari 81 kasus tersebut, benda asing terbanyak berupa uang logam
sebanyak 78 kasus. RSUP Dr Mohammad Husein (RSMH) Palembang
selama periode Januari 2013 sampai dengan Desember 2015 terdapat 43
pasien yang berobat ke bagian T.H.T.K.L dengan keluhan benda asing
tertelan di esofagus4,6.

2.5 Klasifikasi Benda Asing


Benda asing di suatu organ adalah benda yang berasal dari luar
tubuh atau dalam tubuh, yang dalam keadaan normal tidak ada.
Berdasarkan asalnya, benda asing digolongkan menjadi dua golongan
yaitu benda asing eksogen dan benda asing endogen. Benda asing eksogen
berasal dari luar tubuh sedangkan benda asing endogen berasal dari dalam
tubuh16.
Benda asing eksogen terdiri dari benda padat, cair atau gas. Benda
asing eksogen padat terdiri dari zat organik seperti kacang-kacangan (yang
berasal dari tumbuhan-tumbuhan), tulang (yang berasal dari kerangka
binatang) dan zat anorganik seperti paku, jarum, peniti, batu, kapur barus
(naftalen), gigi palsu dan lain-lain. Benda asing eksogen cair dibagi dalam

12
benda cair yang bersifat iritatif, seperti zat kimia, dan benda cair
noniritatif, yaitu cairan dengan pH 7,416.
Benda asing endogen merupakan benda asing yang berasal dari
dalam tubuh. Benda asing endogen dapat berupa sekret kental, darah atau
bekuan darah, nanah, krusta, perkijuan, membran difteri. Cairan amnion,
mekonium dapat masuk ke dalam saluran napas bayi pada saat proses
persalinan16.

2.6 Etiologi dan Faktor Predisposisi


Penyebab benda asing esofagus dibagi dalam golongan anak dan
dewasa. Penyebab pada anak antara lain, stenosis kongenital, web, fistel
trakeoesofagus dan pelebaran pembuluh darah. Penyebab pada orang
dewasa antara lain mabuk dan pemakai gigi palsu yang telah kehilangan
sensasi rasa di palatum1.
Faktor predisposisi benda asing esofagus pada anak-anak antara lain
belum tumbuhnya gigi molar, koordinasi proses menelan dan sfingter
laring yang belum sempurna pada kelompok usia 6 bulan-1 tahun,
retardasi mental dan gangguan pertumbuhan. Faktor predisposisi pada
orang dewasa antara lain esofagitis refluks, striktur pasca esofagitis
korosif, akalasia, karsinoma esofagus atau gaster, cara mengunyah yang
salah dengan gigi palsu yang kurang baik pemasangannya, mabuk dan
keracunan1.

2.7 Gejala Klinis


Gejala permulaan benda asing esophagus adalah rasa nyeri di daerah
leher bila benda asing tersangkut di servikal. Bila benda asing tersangkut
di esophagus distal, timbul rasa tidak enak di substernal atau nyeri di
punggung. Gejala disfagia bervariasi tergantung, pada ukuran benda asing,
disfagia lebih berat bila telah terjadi edema mukosa yang memperberat
sumbatan sehingga timbul rasa sumbatan esophagus yang persisten, gejala
yang lain adalah odinofagia, hipersalivasi, regurgitasi dan muntah, kadang-

13
kadang mudah berdarah. Gangguan napas dengan gejala dispneu, stridor
dan sianosis terjadi akibat penekanan trakea atau benda asing1.
Gejala pernafasan termasuk choking, stridor, dispnea dapat
disebabkan oleh saliva atau kompresi trakea oleh benda asing.
Hipersalivasi dan ketidakmampuan menelan cairan merupakan hal untuk
dicurigai adanya obstruksi esofagus. Ketika benda asing telah melewati
esogafus, gejala bersifat asimptomatik namun terdapat sensasi adanya
benda asing dengan disfagia yang berlangsung selama beberapa jam17.

2.8 Penegakan Diagnosis


Penegakan diagnosis benda asing esofagus berdasarkan anamnesis,
gejala dan tanda klinis, dan pemeriksaan radiologik dan endoskopik.
Tindakan endoskopik dilakukan untuk tujuan diagnostik dan terapi1.
Diagnosis tertelan benda asing harus di pertimbangkan pada setiap
orang dengan riwayat tercekik (choking), tersumbat di tenggorok, batuk,
muntah, tidak bisa menelan makanan padat atau cairan (disfagia), berat
badan menurun, demam, gangguan nafas, rasa tidak nyaman saat menelan
(odinofagia), sensasi benda asing, dan regurgitasi makanan yang belum
dicerna1,18
Pada pemeriksaan fisik, terdapat kekakuan lokal pada leher bila
benda asing terjepit akibat edema yang timbul progresif. Bila benda asing
tersebut ireguler menyebabkan perforasi akut, dan didapatkan tanda-tanda
pneumomediastinum, emfisema leher dan pada auskultasi terdengar susara
getaran di daerah prekordial atau di antara skapula. Bila terjadi
mediastinitis, tanda efusi pleura unilateral atau bilateral dapat dideteksi.
Perforasi langsung ke rongga pleura dan pneumotoraks jarang terjadi tetapi
dapat timbul akibat komplikasi tindakan endoskopi. Pada anak-anak,
gejala nyeri atau batuk dapat disebabkan oleh aspirasi dari air liur atau
minuman dan pada pemeriksaan fisik didapatkan ronki, mengi, demam,
abses leher atau tanda-tanda emfisema subkutan. Selain itu, bisa
didapatkan tanda-tanda lanjut seperti berat badan menurun dan gangguan

14
pertumbuhan. Benda asing yang berada di daerah servikal esofagus dan di
bagian distal krikofaring, dapat menimbulkan gejala obstruksi saluran
nafas dengan bunyi stridor, karena menekan dinding trakea bagian
posterior, dan edema periesofagus. Gejala aspirasi rekuren akibat obstruksi
esofagus sekunder dapat menimbulkan pneumonia, bronkiektasis dan
abses paru.1
Pemeriksaan penunjang radiologik digunakan untuk menegakkan
diagnosis. Tanpa bukti radiologik, belum dapat menyingkirkan adanya
benda asing esofagus. Pemeriksaan radiologik terdiri dari foto rontgen,
xeroradiografi, CT-Scan, dan MRI. Pemeriksaan yang paling sering
dilakukan adalah foto rontgen1.
Foto rontgen polos esofagus servikal dan torakal anteropsterior dan
lateral harus dilakukan pada penderita yang diduga tertelan benda asing.
Benda asing radiopak seperti uang logam, mudah diketahui lokasinya dan
harus dilakukan sesaat sebelum tindakan esofagoskopi untuk mengetahui
kemungkinan benda asing berpindah ke arah distal. Letak uang logam
umumnya koronal, maka pada hasil foto rontgen servikal/torakal posisi PA
akan dijumpai bayangan radioopak berbentuk bundar, sedangkan pada
posisi lateral berupa garis radioopak yang sejajar dengan kolumna
vertebralis. Benda asing seperti tulang, kulit telur, dan lain-lain cenderung
berada pada posisi koronal dalam esofagus, sehingga lebih mudah dilihat
dalam posisi lateral. Benda asing radiolusen seperti plastik, aluminium dan
lain-lain, dapat diketahui dengan tanda inflamasi periesofagus atau
hiperinflamasi hipofaring dan esofagus bagian proksimal. Foto rontgen
toraks dapat menunjukkan gambaran perforasi esofagus dengan emfisema
servikal, emfisema mediastinal, pneumotoraks, pyotoraks, mediastinitis,
serta aspirasi pneumonia. Foto rontgen leher posisi lateral dapat
menunjukkan tanda perforasi, dengan trakea dan laring bergeser ke depan,
gelembung udara di jaringan, adanya bayangan cairan atau abses bila
perforasi telah berlangsung beberapa hari.1

15
Gambaran radiologik benda asing batu baterai menunjukkan pinggir
bulat dengan gambaran densitas ganda, karena bentuk bilaminer. Foto
polos sering tidak menunjukkan gambaran benda asing, seperti daging dan
tulang ikan sehingga memerlukan pemeriksaan esofagus dengan kontras
(esofagogram). Esofagogram pada benda asing radiolusen akan
memperlihatkan “filling defect persistent”.1

Gambar 5. Gambaran radiologik benda asing uang logam (AP dan lateral) 19

Tabel 1. Klasifikasi benda asing berdasarkan radiodensitas17


Radiodensitas Benda asing
Dapat diidentifikasi dengan Benda asing (contoh: benda bukan
pemeriksaan radiografi makanan)
Tulang
Tidak selalu dapat diidentifikasi Bolus makanan
dengan pemeriksaan radiografi Tulang ikan atau ayam
Kayu
Plastik
Kaca
Benda logam yang tipis

16
Terdapat beberapa pemeriksaan penunjang lain untuk
mendiagnosis benda asing esofagus, yaitu xeroradiografi, CT-Scan, dan
MRI. Xeroradiografi menunjukkan gambaran penyangatan (enhancement)
pada daerah pinggir benda asing. Computed tomography scan (CT Scan)
esofagus dapat menunjukkan gambaran inflamasi jaringan lunak dan
abses. Magnetic resonance imaging (MRI) dapat menunjukkan gambaran
semua keadaan patologik esofagus.1

2.9 Tatalaksana
Urgensi tatalaksana benda asing esofagus bergantung pada usia,
gejala klinis, bentuk, ukuran, jenis, lokasi benda asing, dan waktu tertelan.
Tatalaksana utama meliputi pemeriksaan laju pernafasan pasien dan
evaluasi jalan nafas. Pasien yang memiliki risiko tinggi aspirasi
membutuhkan tatalaksana segera. Pasien yang stabil tanpa gejala obstruksi
tidak memerlukan endoskopi segera karena benda asing akan beralalu
secara spontan. Terapi ini dilakukan pada kasus benda asing tumpul,
pendek (panjang < 6cm), dan kecil (diameter <2,5cm) 20.
Benda asing di esofagus dapat dikeluarkan dengan tindakan
endoskopi yaitu esofagoskopi dengan menggunakan cunam yang sesuai
dengan benda asing tersebut. Bila benda asing telah berhasil dikeluarkan
harus dilakukan esofagoskopi ulang untuk menilai adanya kelainan-
kelainan esophagus yang telah ada sebelumnya. Benda asing tajam yang
tidak berhasil dikeluarkan dengan esofagoskopi harus segera dikeluarkan
dengan pembedahan, yaitu servikotomi, torakotomi, atau esofagotomi,
tergantung lokasi benda asing tersebut. Benda asing uang logam di
esofagus bukan keadaan gawat darurat, namun uang logam tersebut harus
dikeluarkan sesegera mungkin dengan persiapan tindakan esofagoskopi
yang optimal untuk mencegah komplikasi. Benda asing baterai bundar
(disk/button battery) di esofagus merupakan benda yang harus segera
dikeluarkan karena risiko perforasi esofagus yang terjadi dengan cepat
dalam waktu ± 4 jam. Bila dicurigai adanya perforasi yang kecil segera

17
dipasang pipa nasogaster agar pasien tidak menelan makanan atau ludah.
Dapat diberikan antibiotika berspektrum luas selama 7-10 hari untuk
mencegah timbulnya sepsis1.

Tabel 2. Endoskopi untuk tertelannya benda asing17


Tipe Benda Timing
Baterai Emergensi
Magnet Urgensi
Benda asing tajam Emergensi
Benda asing ukuran diameter <2-2,5
Urgensi
cm
Benda asing ukuran sedang dengan
Urgensi
diameter >2-2,5 cm
Benda asing ukuran besar >5-6 cm Urgensi
Emergensi (Urgensi bila tidak
Bolus makanan ada gejala atau tidak ada
obtruksi komplit)

Esofagoskopi memiliki dua tipe dasar, yaitu esofagoskopi rigid/kaku


dan esofagoskopi fleksibel. Esofagoskopi tipe rigid/kaku dengan suatu
lumen berbentuk oval dapat digunakan untuk melihat langsung gambaran
esofagus dan berbagai alat untuk biopsi dan pengeluaran benda asing.
Esofagoskopi rigid/kaku juga dapat melindungi esofagus dari bagian yang
tajam pada benda asing. Esofagoskopi fleksibel memiliki saluran kecil
untuk melihat gambaran mukosa, aspirasi sekresi, dan memasukkan forsep
kecil untuk biopsi dan pengeluaran benda asing.18,21

18
Gambar 6. Esofagoskopi rigid/kaku22

Gambar 7. Esofagoskopi fleksibel23

Tindakan pembedahan dilakukan jika terdapat perforasi dan


komplikasi lainnya yang tidak dapat diatasi dengan tindakan endoskopi.
Benda asing tajam yang telah masuk ke dalam lambung dapat
menyebabkan perforasi di pylorus. Oleh karena itu harus dilakukan
evaluasi sebaik-baiknya dengan melakukan pemeriksaan radiologik untuk
mengetahui posisi dan perubahan letak benda asing. Bila letak benda asing

19
menetap selama 2 kali 24 jam maka benda asing tersebut harus
dikeluarkan secara laparotomi.1,24

2.10 Komplikasi
Komplikasi yang sering timbul akibat benda asing esofagus adalah
laserasi mukosa, perdarahan, perforasi lokal dengan abses leher atau
mediastinitis1.
Perforasi esofagus dapat menimbulkan selulitis lokal dan fistel
trakeoesofagus. Gejala dan tanda perforasi esofagus servikal dan torakal
antara lain emfisema subkutis atau mediastinum, krepitasi kulit di daerah
leher atau dada, pembengkakan leher, kaku leher, demam, menggigil,
gelisah, takikardi, takipnea, nyeri yang menjalar ke punggung, retrosternal,
dan epigastrium. Bila terjadi perforasi di pleura akan menyebabkan
pneumotoraks atau pyotoraks1.
Benda asing bulat atau tumpul juga dapat menimbulkan perforasi.
Hal ini berasal dari inflamasi kronik dan erosi. Jaringan granulasi di sekitar
benda asing timbul bila benda asing berada di esophagus dalam waktu
yang lama1.

20