Anda di halaman 1dari 13

BAB II

KONSEP DASAR

A. Konsep Dasar Lanjut Usia


1. Pengertian Usia Lanjut (Lansia)
Usia lanjut (lansia) adalah individu yang berusia diatas 60 tahun,
pada umumya memiliki tanda-tanda terjadinya penurunan fungsi-
fungsi biologis, psikologis, soaial, ekonomi (BKKBN, 1995 dalam
Mubarok, 2006). Menurut WHO lanjut usia meliputi usia pertengahan
(middle age) yaitu kelompok usia 45 tahun sampai 59 tahun, lanjut
usia (elderly) yaitu usia 60 sampai 74 tahun, lanjut usia tua (old) yaitu
antara 75 tahun sampai 90 tahun dan usia sangat tua (very old) yaitu
diatas 90 tahun (Nugroho, 2008) Penuaan (proses menjadi tua) adalah
suatu proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan
untuk memperbaiki diri/mengganti diri dan mempertahankan struktur
dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas
(termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Darmojo
dan Martono, 1994 dalam Nugroho, 2008).
Masa dewasa tua (lansia), dimulai setelah pensiun biasanya antara
usia 65-75 tahun (Potter, 2005). Proses menua merupakan proses
sepanjang hidup tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi
dimulai sejak permulaan kehidupan. Menjadi tua adalah proses 8
alamiah, yang berarti seseorang telah melewati 3 tahap kehidupannya
yaitu anak, dewasa, dan tua (Nugroho, 2008).
Penuaan adalah suatu proses yang alamiah yang tidak dapat
dihindari, berjalan secara terus-menerus, dan berkesinambungan
(Depkes RI, 2001). Menurut Keliat (1999) dalam Maryam (2008), Usia
lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur
kehidupan manusia sedangkan menurut pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU

3
No.13 Tahun 1998 Tentang Kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut
adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun
(Maryam, dkk, 2008). Penuaan adalah normal, dengan perubahan fisik
dan tingkah laku yang dapat diramalkan dan terjadi pada semua orang
pada saat mereka mencapai usia tahap perkembangan kronologis
tertentu (Stanley, 2006).

2. Klasifikasi Lansia
Klasifikasi pada lansia menurut Maryam, dkk (2008) antaralain
lansia yaitu sesorang yang berusia 60 tahun atau lebih, lansia resiko
tinggi yaitu seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih/seseorang yang
berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan, lansia potensial
yaitu lansia yang masih mampu melaksanakan pekerjaan dan atau
kegiatan yang dapat menghasilkan barang atau jasa serta lansia tidak
potensial yaitu lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, shingga
hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.

3. Karakteristik Lansia
Menurut Keliat (1999) dalam Maryam (2008) lansia memiliki
karakteristik sebagai berikut: berusia lebih dari 60 tahun (sesuai
dengan Pasal 1 ayat (2) UU No. 13 tentang Kesehatan), kebutuhan dan
masalah yang bervariasi dan rentang sehat sampai sakit, dari
kebutuhan biopsikososial sampai spiritual, serta dari kondisi adaptif
hingga kondisi maladaptif, lingkungan tempat tinggal yang bervariasi.

4. Tugas Perkembangan Lansia


Menurut Erickson, kesiapan lansia untuk beradaptasi atau
menyesuaikan diri terhadap tugas perkembangan lansia dipengaruhi
oleh proses tumbuh kembang pada tahap sebelumnya. Apabila
seseorang pada tahap tumbuh kembang sebelumnya melakukan
kegiatan sehari-hari dengan teratur dan baik serta membina hubungan

4
yang serasi dengan orang-orang di sekitarnya, makapada usia lanjut ia
akan tetap melakukan kegiatan yang biasa ia lakukan pada tahap
perkembangan sebelumnya seperti olahraga, mengembangkan hobi
bercocok tanam, dan lain-lain. Tugas perkembangan lansia menurut
Maryam, dkk (2008) antara lain: mempersiapkan diri untuk kondisi
yang menurun, mempersiapkan diri untuk pensiun, membentuk
hubungan baik dengan orang seusianya, mempersiapkan kehidupan
baru, melakukan penyesuaian terhadap kehidupan sosial/masyarakt
secara santai, mempersiapkan diri untuk kematiannya dan kematian
pasangan.

5. Perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia


Perubahan yang terjadi pada lansia meliputi perubahan fisik, sosial
dan psikososial (Maryam, dkk, 2008).
Perubahan fisik meliputi perubahan sel (jumlah berkurang, ukuran
membesar, cairan tubuh menurun, dan cairan intraseluler menurun),
perubahan kardiovaskular (katub jantung menebal dan kaku,
kemampuan memompa darah menurun, menurunnya kontraksi dan
volume, elastisitas pembuluh darah menurun, serta meningkatnya
resistensi pembuluh darah perifer sehingga tekanan darah meningkat),
respirasi (otot-otot pernapasan kekuatannya menurun dan kaku,
elastisitas paru menurun, kapasitas residu meningkat sehingga menarik
napas lebih berat, alveoli melebar dan jumlahnya menurun,
kemampuan batuk menurun, serta terjadinya penyempitan pada
bronkus), persarafan (saraf panca indra mengecil sehingga fungsinya
menurun serta lambat dalam merespon dan waktu bereaksi khusunya
yang berhubungan dengan stres. Berkurang atau hilangnya lapisan
mielin akson, sehingga menyebabkan berkurangnya respon motorik
dan refleks), muskuloskeletal (cairan tulang menurun sehingga mudah
rapuh, bungkuk, persendian membesar dan menjadi kaku, kram,
tremor, tendon mengerut dan mengalami sklerosis), gastrointestinal

5
(esofagus melebar, asam lambung menurun, dn peristaltik menurun
sehingga daya absorpsi juga ikut menurun. Ukuran lambung mengecil
serta fungsi organ aksesori menurun sehingga menyebabkan
berkurangnya produksi hormon dan enzim pencernaan), genitouinaria
(ginjal mengecil, aliran darah ke ginjal menurun, penyaringan di
glomerulus menurun, dan fungsi tubulus menurun sehingga
kemampuan mengonsentrasi urin juga ikut menurun), vesika urinaria
(otot-otot melemah, kapasitasnya menurun, dan retensi urin. Prostat
akan mengalami hipertrofi pada 75% lansia), vagina (selaput lendir
mengering dan sekresi menurun), pendengaran (membran tympani
atrofi sehingga terjadi gangguan pendengaran. Tulang-tulang
pendengaran mengalami kekakuan), penglihatan (respon terhadap sinar
menurun, adaptasi terhadap gelap menurun, akomodasi menurun,
lapang pandang menurun, dan katarak), endokrin (produksi hormon
menurun), kulit (keriput serta kulit kepala dan rambut menipis.
Rambut dalam hidung dan telinga menebal. Elastisitas menurun,
vasikularisasi menurun, rambut memutih, kelenjar keringat menurun,
kuku keras dan rapuh serta kuku kaki tumbuh berlebihan seperti
tanduk), belajar dan memori (kemampuan belajar masih ada tetapi
relatif menurun. Memori atau daya ingat menurun karena proses
incoding menurun), intelegensi (secara umum tidak banyak berubah),
personality dan adjusment (pengaturan) (tidak banyak berubah, hampir
seperti saat muda), pencapaian (sains, filosofi, seeni, dan musik sangat
mempengaruhi).
Perubahan sosial, meliputi perubahan peran, keluarga, teman,
masalah hukum, pensiun, ekonomi, rekreasi, keamanan, transportasi,
politik, pendidikan, agama dan panti jompo. Perubahan psikologis
meliputi frustasi, kesepian, takut kehilangan kebebasan, takut
menghadapi kematia, perubahan keinginan, depresi, dan kecemasan.
Pada saat orang tua terpisah dari anak serta cucunya, maka muncul
perasaan tidk berguna dan kesepian. Padahal mereka yang sudah tua

6
masih mampu mengaktualisasikan potensinnya secara optimal. Jika
lansia dapat mempertahankan pola hidup dan cara dia memandang
suatu makna kehidupan maka sampai ajal menjeemput mereka masih
dapat berbuat banyak bagi kepentingan semua orang (Maryam, dkk,
2008)
10 kebutuhan lansia menurut Darmojo (2001) dalam Maryam, dkk,
(2008) adalah sebagai berikut
a. Makan cukup dan sehat.
b. Pakaian dan kelengkapannya.
c. Perumahan/tempat tinggal/tempat berteduh.
d. Perawatan dan pengawasan kesehatan.
e. Bantuan teknis praktik sehari-hari/bantuan hukum.
f. Transportasi umum.
g. Kunjungan/teman bicara/informasi.
h. Rekreasi dan hiburan sehat lainnya.
i. Rasa aman dan tentram.
j. Bantuan alat-alat pancaindra. Kesinambungan bantuan dana dan
fasilitas.

B. ANOREXIA
1. Pengertian
Anoreksia Nervosa /AN adalah sebuah gangguan makan yang
ditandai dengan kelaparan secara sukarela dan stres dari melakukan
latihan. AN merupakan sebuah penyakit kompleks yang melibatkan
komponen psikologikal, sosiologikal, dan fisiologikal, pada
penderitanya ditemukan peningkatan
rasio enzim hati ALT dan GGT,[hingga disfungsi hati akut pada
tingkat lanjut. Anoreksia nervosa diartikan sebagai sebagai
suatu gangguan makan yang terutama menyerang wanita muda dan
ditandai oleh penurunan berat badan yang ekstrim dan disengaja oleh
diri sendiri,. periode menstruasi yang tidak stabil pada wanita yang

7
telah puber Tanda-tanda Anoreksia Nervosa:Berat badan turun secara
drastic,Diet berkelanjutan,Ketakutan bertambah berat badan atau
menjadi gemuk, bahkan ketika berat badannya dibawah rata
rata,Gejala yang tidak semestinya pada bentuk/ berat badan dalam
eveluasi diri,Sibuk menghitung kalori makanan dan nutrisi,Lebih
memilih makan sendirian,Latihan berlebih,Rambut atau kuku pecah-
pecah dan depresi. (Dona L wong, 2008).
Anoreksia nervosa adalah gangguan makan yang mengancam jiwa
yang ditandai dengan penolakan klien untuk mempertahankan berat
badan normal ynag minimal, gangguan persepsi yang bermakna
tentang bentuk atau ukuran tubuh atau menolak untuk mengakui
bahwa ada masalah.(Sheila L. Videbeck, 2008)
Banyak penelitian yang beranggapan bahwa masalah yang
mendasari lebih bersifat psikologis daripada biologis, sebagian pakar
mencurigai bahwa pengidap anoreksia nervosa mungkin kecanduan
opiate endongen yaitu bahan mirip morpin yang diproduksi sendiri
oleh tubuh yang diperkirakan dikeluarkan selama kelaparan jangka
panjang .(Sherwood, lauralee, 2001)
Ada 2 tipe anoreksia nervosa:
a. Tipe terbatas; individu dengan tipe ini mengindari makan
berlebihan, mereka biasanya menyediakan makan sendiri
b. Tipe binge; individu ini dapat makan dimana saja, akan tetapi
selesai makan ia akan segera memuntahkan makanannya di kamar
mandi, menggunakan pencuci perut atau memperlancar buangan
kotoran.
Komplikasi medis gangguan makan atau anoreksia nervosa
adalah terganggunya gastro intestinal (penundaan pengosongan
lambung, kembung, kontipasi,nyeri abdomen, gas dan diare). Pada
dermatologi timbul kulit pecah-pecah karena dehidrasi,lanugo dan
akrosianotis yaitu tangan dan kaki biru.(Sheila L. Videbeck, 2008)

8
2. Epidemologi
Terjadinya anoreksia nervosa (AN) dan bulimia meningkat sejak 2
dekade terakhir. Diperkirakan ada satu setiap 100 wanita usia 16 – 18
tahun, menderita anoreksia nervosa. Distribusinya merupakan
distribusi bimodal, puncak pertama pada 14,5 tahun dan puncak yang
lain pada 18 tahun; 25 % lebih muda dari 13 tahun . Peningkatan telah
dilaporkan disemua Negara barat, sedangkan Negara lain ada beberapa
laporan yang sporadic. Perbandingan penderita wanita dengan pria
adalha 10:1. Pada mulanya dilaporkan hanya ada pada kelompok
sosioekonomi menengah keatas, namun sekarang AN juga ada pada
golongan sosioekonomi yang lebih rendah. AN telah didiagnosis pada
berbagai etnik dan ras. Bulimia lebih umum terjadi daripada AN.
Meningkatnya insidens gangguan makan yang berhubungan dengan
AN dan bulimia berkaitan dengan latar belakang keluarga

3. Prognosis
Anoreksia diperkirakan memiliki angka kematian tertinggi dari
semua gangguan jiwa, dengan mana saja 6-20% dari mereka yang
didiagnosis dengan gangguan akhirnya mati karena penyebab yang
terkait. tingkat bunuh diri orang-orang dengan anoreksia juga lebih
tinggi dari itu dari populasi umum. Dalam sebuah studi longitudinal
wanita didiagnosis dengan DSM-IV baik anorexia nervosa (n = 136)
atau bulimia nervosa (n = 110) masing-masing yang dinilai setiap 6 -
12 bulan selama 8 tahun berada di cukup risiko bunuh diri. Dokter
diperingatkan risiko sebagai 15% subyek melaporkan setidaknya satu
usaha bunuh diri. Telah dicatat bahwa secara signifikan lebih aneroxia
(22,1%) dibandingkan bulimia (10,9%) subyek membuat usaha bunuh
diri.

9
4. Etiologi / penyebab
Etiologi gangguan tetap tidak jelas. Terdapat komponen pisikologis
yang jelas,dan diagnosis terutama didasarkan pada kriteria pisikologis
dan prilaku .Namun demikian, manisfestasi fisik anoreksia dapat
mengarah pada kemungkinan faktor-faktor organic pada etiologi.
Faktor predisposisi
a. Biologis
Diyakini ada hubungan keluarga dengan gangguan makan.
Keturunan pertama wanita pada orang yang mengalami gangguan
makan beresiko tinggi daripada populasi umum. Model biologis
etiologi gangguan makan difokuskan kepada pusat pengatur nafsu
makan di hipotalamus, yang mengendalikan mekanisme
neurokimia khusus untuk makan dan kenyang. Serotonin dianggap
terlibat dalam patofisiologi gangguan makan walaupun model
biologis ini masih dalam tahap perkembangan.
Studi tentang anoreksia nervosa menunjukkan bahwa gangguan
tersebut cenderung terjadi dalam keluarga. Oleh karena itu,
kerentanan genetic mungkin muncul yang dipicu oleh diet yang
tidak tepat atau stress emosional. Kerentanan genetic ini mungkin
muncul karena tipe kepribadian tertentu atau kerentaan umum
terhadap gangguan jiwa atau kerentanan genetic mungkin secara
langsung mencakup disfungsi hipotalamus.(Sheila L. Videbeck,
2008 )
b. Perkembangan
Anoreksia nervosa biasanya terjadi selama masa remaja dan
diyakini bahwa penyebabnya berhubungan dengan antara
perkembangan pada tahap kehidupan ini. Perjuangan untuk
mengembangkan otonomi dan pembentukan indentitas yang unik
adalah 2 tugas yang penting. (Sheila L. Videbeck, 2008)

10
c. Lingkungan
Berbagai factor lingkungan dapat mempengaruhi individu
untuk mengalami gangguan makan. Riwayat terdahulu pasien
mengalami gangguan makan sering dipersulit oleh penyakit dalam
dan bedah, kematian keluarga dan lingkungan keluarga dengan
konflik.
d. Psikologis
Kebanyakan pasien yang mengalami gangguan makan
menunjukkan sekelompok gejala psikologis seperti rigiditas, ritual
risme, kehati – hatian , perfectsionisme serta control infuse yang
buruk.
e. Sosiokultural
Pada budaya yang menerima atau mengahargai kemontokkan,
jarang terjadi gangguan makan. Lingkungan sosiokultural pada
remaja dan wanita muda di Amerika Serikat juga sangat
menekankan kelangsingan dan pengendalian terhadap tubuh
seseorang menjadi indicator untuk evaluasi diri. (Gail
w.stuart,2006). Di Amerika serikat kelebihan berat badan dianggap
sebagai tanda kemalasan, kurang control diri atau mendapatkan
tubuh yang sempurna disamakan dengan cantik. (Sheila L.
Videbeck, 2008)
Aspek psikologis anoreksia nervosa yang mendominansi adalah
keinginan yang kuat untuk menguruskan berat badan dan takut
gemuk, biasanya didahului oleh periode 1 atau 2 tahun gangguan
mood dan perubahan perilaku. Penurunan berat badan biasanya
dipicu oleh krisis yang khas pada remaja seperti awitan menstruasi
atau kecelakaan interpersonal traumatic yang memicu perilaku diet
yang serius dan berlanjut sampai tidak terkontrol.\

11
5. Manifestasi klinis
a. Gangguan tidur timbul pada beberapa penderita anoreksia dan
terdapat gerakan mata yang cepat, seperti yang sering terdapat pada
penderita depresi. Masalah pada pengaturan suhu , khususnya
hipotermia.
b. Tidak mau makan dengan sengaja karena ketakutan yang
berlebihan akan kenaikan berat badan.
c. Pengidap memiliki Body Mass Index kurang dari 18,5.
d. Terganggunya siklus menstruasi.
e. Cenderung tidak mengakui bahwa ia mengidap anoreksia karena ia
merasa dapat mengontrol keadaan dengan kemampuannya
mengatakan tidak pada makanan.
f. Gangguan pada hipotalamik-pituitary-ovarian axis
dimanifestasikan dengan amenorea yang berkaitan dengan pola
tidak matang dari sekresi hormon luteinizing.
g. Adanya disfungsi hypothalamic- pituitary-adrenal axis dibuktikan
dengan antara lain dengan meningkatnya kortisol, hilangnya variasi
diurnal pada sekresi kortisol , dan kegagalan deksametason untuk
menekannya.
h. Peningkatan area nitrogen pada darah dapat timbul sebagai akibat
dehidrasi dan penurunan kecepatan penyaringan glomerulus,
namun kadar yang normal dapat ditemukan pada keadaan serupa
karena rendahnya pemasukan protein pada penderita dehidrasi.
i. Konstipasi merupakan komlikasi masalah motilitas yang sangat
sering terjadi pada penderita AN.
j. Penderita AN tampaknya sangat resisten terhadap inspeksi.
k. Kulit penderita AN kering dan sering tampak rambut lanugo.
l. Pada fase pemberian makan kembali sering kerontokan rambut

12
6. Komplikasi
a. Berat badan jauh dibawah normal.
b. Anggapan yang selalu buruk tentang bentuk badannya sendiri.
c. Perubahan menstruasi sampai akhirnya tidak menstruasi.
d. Detak jantung tidak teratur.
e. Gangguan fungsi hati, sistem cardiovascular dan organ dalam
lainnya.
f. Terjadinya pelemahan otot dan disfungsi sistem imun.
g. Ketidakseimbangan hormon.
h. Terganggunya proses pertumbuhan tubuh.
i. Osteoporosis.
j. Kematian.

7. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan fisik yang diperlukan untuk penderita gangguan
makan meliputi pemeriksaan tanda vital, mengukur tinggi dan berat
badan penderita dan pemeriksaan status pubertas. Kelainan yang
didapat pada pemeriksaan fisik berupa kehilangan berat badan yang
nyata, bradikardi, hipotensi postural, hipotermi, penipisan email akibat
tumpahan asam lambung, luka pada anus akibat penggunaan pencahar
yang berlebihan, kulit dan bibir kering akibat dehidrasi.
Pemeriksaan penunjang yang diperlukan antara lain darah rutin,
kadar elektrolit, kadar kalsium dan fosfat serum, pemeriksaan fungsi
hati dan tiroid. Pemeriksaan elektrokardiografi dilakukan bila ada
gangguan fungsi jantung atau mendapat pengobatan antidepresan.
Foto rontgen dapat membantu menentukan densitas tulang dan
keadaan dari jantung dan paru-paru, juga bisa menemukan kelainan
saluran pencernaan yang disebabkan oleh malnutrisi.

13
8. Terapi Pengobatan/Treatment
Treatment untuk anoreksia nervosa dilakukan dengan 3 tahap;
a. Mengembalikan berat badan kembali normal.
Dilakukan program diet ulang yang sehat untuk mengembalikan
berat badan kembali normal, pada pasien tertentu kadang
diperlukan perawatan di rumah sakit. Check kesehatan akan
dilakukan untuk melihat pelbagai kemungkinan komplikasi yang
muncul.
b. Terapi psikologi
Terapi ini dilakukan untuk menumbuhkan rasa percaya diri,
menghilangkan cara pandang yang salah terhadap citra tubuh,
meningkatkan penghargaan diri dan mengatasi konflik
interpersonal. Terapi yang dilakukan biasanya dipilih CBT
(Cognitive Behavioral Therapy) dianggap paling efektif dalam
mengembalikan kepercayaan diri, dan mencegah timbulnya pikiran
dan perilaku gangguan makan kembali. Terapi dilakukan dapat
berlangsung lama, oleh karenanya CBT juga kadang disertai
dengan terapi keluarga untuk memberikan dukungan kepada pasien
dalam menjalani penyembuhan
c. Penyembuhan total
Beberapa upaya yang dilakukan agar pasien kembali stabil,
menghilangkan kebiasaan dan pikiran-pikiran yang dapat
menimbulkan gangguan makan kembali
d. Mengurangi atau menghapuskan perilaku atau pemikiran yang
awalnya mengarah ke makan tidak teratur.
Untuk menyembuhkan anoreksia nervosa diperlukan kesabaran.
Hal-hal yang dapat dilakukan adalah konseling bersama dengan
anggota keluarga, serta edukasi tentang nutrisi, psikoterapi, dan
kesehatan. Si penderita sangat membutuhkan dukungan dari
keluarga dan orang-orang terdekat. Jika ada salah satu anggota

14
keluarga anda yang menderita kelainan ini, jangan berhenti
mendukungnya untuk sembuh.
e. Psikofarmakologi
Beberapa kelas obat-obatan telah diteliti, tetapi sedikit yang
menunjukkan keberhasilan secara klinis. Amitriptilin (Elavil) dan
siproheptadin antihistamin dalam dosis tinggi (sampai
28mg/hari). Dapat meningkatkan penambahan berat badan pasien
rawat inap dengan anoreksia nervosa.(Sheila L. Videbeck, 2008)
f. Psikoterapi
Terapi keluarga dapat bermanfaat bagi keluarga dari klien yang
berusia kurang dari 18 tahun. Keluarga yang menunjukkan
enmeshment, terapi keluarga juga berguna untuk membantu
anggota keluarga menjadi partisipan yang efektif dalam terapi
klien.( Sheila L. Videbeck, 2008 )

15