Anda di halaman 1dari 12

PERMODELAN UDARA EMISI SUMBER TITIK TETAP

BERDASARKAN STUDI KASUS DI KAWASAN INDUSTRI


DRAMAGA BAHAGIA

AIR EMISSIONS FIXED POINT SOURCE MODELLING BASED


ON
CASE STUDY IN DRAMAGA BAHAGIA INDUSTRIAL AREA
Deni Dwi Yudhistira1, Marissa Dwi Ayusari2
Kamis – Kelompok 5A
1, 2)
Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor, Jl. Raya Darmaga Kampus IPB
Email: denidwiyudhistira@gmail.com

Abstrak: Emisi gas yang dihasilkan dari cerobong-cerobong kegiatan industri mengandung
berbagai macam jenis partikulat, beberapa diantaranya yaitu TSP dan PM10. PM10 (Particulate
Matter) merupakan partikel udara dalam wujud padat dengan diamater kurang dari 10 μm,
sedangkan partikel padat TSP (Total Suspended Particulate) memiliki diameter maksimum sekitar
45 μm. Partikel tersebut akan berada di udara dengan waktu yang relatif lama, dalam keadaan
melayang-layang, dan dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran pernafasan.
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui komponen-komponen permodelan udara
emisi titik tetap, sehingga didapatkan perkiraan besarnya paparan kontaminan yang dihasilkan
oleh sumber emisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seiring bertambahnya ketinggian
cerobong maka kecepatan angin di ketinggian cerobong juga mengalami peningkatan. Semakin
besar kecepatan angin, ketinggian semburan dan konsentrasi polutan yang diemisikan suatu
sumber juga semakin kecil. Ketinggian cerobong juga mempengaruhi estimasi jarak maksimum
pemaparan. Semakin tinggi ketinggian cerobong yang digunakan, maka semakin jauh estimasi
jarak maksimum pemaparan yang diemisikan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun
1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara maka konsentrasi emisi TSP dan PM10 pada
setiap ketinggian cerobong termasuk dalam kategori tidak aman, dikarenakan berada jauh di atas
batas ambang maksimum yang diperbolehkan, yaitu sebesar 230 μg/Nm3 untuk TSP dan 150
μg/Nm3 untuk PM10. Nilai konsentrasi sebaran TSP dan PM10 tertinggi terdapat pada ketinggian
cerobong 50 meter, secara berturut-turut sebesar 30156.252 µg/m3 dan 19709.968 µg/m3.
Sedangkan, nilai konsentrasi TSP dan PM10 terendah terdapat pada ketinggian cerobong 250
meter, secara berturut-turut sebesar 1893.271 µg/m3 dan 1237.432 µg/m3.
Kata kunci: Permodelan udara emisi, PM10, TSP

Abstract: Gas emissions generated from the chimneys of industrial activities contain various types
of particulate, some of which are TSP and PM10. PM10 (Particulate Matter) is an airborne
particles in solid form with a diameter of less than 10 μm, whereas the solid particles TSP (Total
Suspended Particulate) has a maximum diameter of about 45 μm. The particles in the air with a
relatively long time, in a state of hovering, and can enter the human body through the respiratory
tract. This research aimed to find out the components of air emission modeling fixed point, to
obtain estimates of the magnitude of exposure to contaminants generated by emission sources. The
results showed that with increasing height of the chimney, the wind speed at the height of the
chimney also increased. The greater the wind speed, altitude bursts and concentration of
pollutants emitted a source is also getting smaller. Chimney height also affect the estimate of the
maximum exposure distance. The higher height of the chimney is used, the maximum distance
farther estimate exposure emitted. Based on Government Regulation No. 41 of 1999 about Air
Pollution Control, the concentrations of TSP and PM10 emissions in each chimney height
categorized unsafe, due to being far above the maximum allowable threshold, that is equal to 230
μg/Nm3 for TSP and 150 μg/Nm3 for PM10. Value distribution of TSP and PM10 concentration is
highest at the chimney height of 50 meters, respectively for 30156,252 μg/Nm3 and 19709,968
μg/Nm3. Meanwhile, the value of TSP and PM10 concentrations are lowest at the height of the
chimney of 250 meters, respectively amounted to 1893,271 μg/Nm3 and 1237.432 μg/Nm3.
Keywords: Air emission modelling, PM10, TSP

1
PENDAHULUAN
Perkembangan dan pertambahan penduduk Indonesia yang semakin pesat
mengakibatkan munculnya program-program pembangunan di segala bidang
kehidupan. Salah satu ciri pelaksanaan dari program pembangunan tersebut yaitu
berkembangnya sektor industri. Perkembangan di sektor industri dapat
memberikan dampak positif terhadap meningkatnya taraf hidup manusia. Namun
demikian, aktivitas industri tanpa diiringi penanganan emisi yang kurang baik
juga dapat berpotensi menjadi sumber pencemaran udara di lingkungan. Udara
yang tercemar dapat merusak lingkungan dan berpotensi mengganggu kesehatan
mahkluk hidup di sekitar.
Salah satu sumber emisi dari kegiatan industri yaitu gas-gas pencemar yang
dikeluarkan melalui cerobong asap. Emisi gas tersebut dapat mengandung
berbagai macam jenis partikulat, beberapa diantaranya yaitu TSP dan PM10. PM10
(Particulate Matter) merupakan partikel udara dalam wujud padat dengan
diamater kurang dari 10 μm, sedangkan partikel padat TSP (Total Suspended
Particulate) memiliki diameter maksimum sekitar 45 mm. Partikel tersebut akan
berada di udara dengan waktu yang relatif lama, dalam keadaan melayang-layang,
dan dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran pernafasan (Roza et.al
2015).
Permodelan udara emisi dapat dilakukan untuk mengetahui kadar dari emisi
yang dihasilkan dari suatu kegiatan, seperti dalam aktivitas industri. Permodelan
udara emisi yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui komponen-komponen
parameter permodelan udara emisi sumber titik tetap. Hal ini dilakukan untuk
mendapatkan perkiraan besarnya paparan kontaminan yang dihasilkan sumber
emisi untuk perencanaan penanganan kontaminan di udara ambien.

METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian permodelan udara emisi sumber titik tetap dilakukan di ruang kuliah
IPB, pada tanggal 3 Desember 2015. Peralatan yang digunakan dalam penelitian
ini yaitu kalkulator atau mesin hitung lainnya, dan sebuah contoh studi kasus dari
kawasan industri Dramaga Bahagia. Pengukuran emisi diasumsikan pada siang
hari dengan intensitas matahari sedang. Data sekunder yang diperoleh dari studi
kasus industri Dramaga Bahagia disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1 Data permodelan udara emisi sumber titik tetap


Parameter Simbol Nilai Satuan
Kecepatan angin ketinggian keetinggian 10 m U10 4 m/det
Tinggi cerobong Hs 50; 150; 250 m
Diameter cerobong ds 1.5 m
Temperatur gas yang keluar dari cerobong Ts 473 K
Temperatur udara ambien Ta 298 K
Kecepatan liniear gas dalam cerobong Vs 25 m/det
jarak pemaparan berdasarkan arah angin X 2 km
Kecepatan emisi TSP Qj 15 kg/det
CPM10 : CTSP 1 : 1.53

2
Langkah awal dalam penelitian ini yaitu menentukan besarnya kecepatan angin
pada ketinggian cerobong (Us) berdasarkan data ketinggian cerobong dan
kecepatan angin pada ketinggian 10 m. Kecepatan angin pada ketinggian
cerobong dapat dihitung dengan persamaan (1).

Hs n
Us = U10 .....................................................................................................(1)
10

Kelas kestabilan udara dipilih berdasarkan kecepatan angin pada ketinggian 10


m. Kemudian ditentukannya besar koefisien dispersi Gauss horisontal dan vertikal
(σy dan σz) berdasarkan tabel koefisien dispersi Gauss (Lampiran 2). Nilai
koefisien dispersi Gauss horisontal dan vertikal, secara berturut-turut dapat
dihitung dengan persamaan (2) dan (3).

σy = a X b ...............................................................................................................(2)

σz = c X d + f ........................................................................................................(3)

Selanjutnya, penentuan nilai faktor Buoyancy atau gaya apung (FB) dapat
dihitung dengan persamaan (4).

ds 2 T s −T a
FB = g Vs ..........................................................................................(4)
4 Ts

Penentuan jarak maksimal semburan (X f) dihitung berdasarkan besarnya nilai


faktor Buoyancy. Apabila faktor Buoyancy lebih besar atau sama dengan 55
m4/det2, jarak maksimal semburan dapat dihitung berdasarkan persamaan (5).
Sedangkan, apabila faktor Buoyancy kurang dari 55 m4/det2, jarak maksimal
semburan dapat dihitung berdasarkan persamaan (6).

2/5
Xf = 119 FB ..................................................................................................(5)

5/8
Xf = 49 FB ....................................................................................................(6)

Besarnya ketinggian semburan (Δh) ditentukan dengan memperhatikan


parameter nilai jarak pemaparan terhadap arah angin dan jarak maksimal
semburan. Saat jarak pemaparan terhadap arah angin lebih besar atau sama
dengan jarak maksimal semburan (X ≥ X f), besarnya nilai ketinggian semburan
dapat dihitung dengan persamaan (7). Sedangkan, saat jarak pemaparan terhadap
arah angin kurang dari dengan jarak maksimal semburan (X < X f), besarnya nilai
ketinggian semburan dapat dihitung dengan persamaan (8).
1
FB 3
Δh =1.6 (Xf )2/3 ................................................................................................(7)
Us

1
FB 3
Δh =1.6 (X)2/3 .................................................................................................(8)
Us

3
Akumulasi dari ketinggian cerobong dan ketinggian semburan menghasilkan
ketinggian efektif cerobong. Penentuan ketinggian efektif cerobong dapat dihitung
berdasarkan persamaan (9).

Hc=Hs +Δh ............................................................................................................(9)

Selanjutnya, nilai sebaran konsentrasi TSP (CTSP) dapat dihitung dengan


persamaan (10). Besarnya konsentrasi maksimum (C maks) dan estimasi jarak
maksimum pemaparan (Xmaks) dari emisi polutan TSP dapat ditentukan dengan
persamaan (11) dan (12).

2
Q y2 z-Hc z+Hc 2
Cj x,y,z = (2πU σj ∙exp- ∙ exp - +exp - ............................(10)
σ )
s y z 2σy 2 2σz 2 2σz 2

exp a+b lnHc +c lnHc 2+d lnHc 3


C maks = Qj …………………………..……….……(11)
Us

1
Hc 2 2-n
Xmaks = ...................................................................................................(12)
σz 2

Perbandingan konsentrasi sebaran PM10 (CPM10) dengan konsentrasi sebaran


TSP (CTSP) adalah 1:1.53, sehingga besarnya nilai konsentrasi PM10 dapat
ditentukan dengan persamaan (13).

C PM 10 1
= ..........................................................................................................(13)
C TSP 1.53

Keterangan:
C = estimasi konsentrasi maksimum (µg/m3)
Cj = konsentrasiawal parameter (µg/m3)
C maks = estimasi konsentrasi maksimal parameter (µg/m3)
ds = diameter cerobong (m)
FB = Buoyancy factor (m4/det2)
g = percepatan gravitasi (m4/det2)
Hc = ketinggian efektif cerobong (m)
Hs = ketinggian cerobong (m)
n = koefisien turbulensi
Qj = kecepatanemisi parameter (µg/m3)
Ta = temperatur udara lingkungan (K)
Ts = temperatur gas yang keluar dari dalam cerobong (K)
U10 = kecepatan angin pada ketinggian 10 meter (m/detik)
Us = kecepatan angin pada ketinggian cerobong (m/detik)
Vs = kecepatan linear gas buang dalam cerobong (m/detik)
X = jarak pemaparan menurut arah angin (km)
Xf = jarak maksimal semburan (km)
Xmaks = estimasi jarak maksimum pemaparan (km)
z = ketinggian elevasi (m)

4
Δh = ketinggian semburan (m)
σy = koefisien dispersi Gauss horisontal (m)
σz = koefisien dispersi Gauss vertikal (m)

Data yang diperoleh dari hasil perhitungan kemudian dianalisis. Besarnya


konsentrasi sebaran TSP dan PM10 dalam udara ambien dibandingkan dengan
baku mutu yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999
tentang Pengendalian Pencemaran Udara.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Pencemaran udara adalah masuknya atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya
ke dalam atmosfir yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan
sehingga menurunkan kualitas lingkungan. Terdapat dua jenis sumber pencemaran
udara, yang pertama adalah pencemaran akibat sumber alamiah (natural sources),
seperti letusan gunung berapi dan yang kedua berasal dari kegiatan manusia
(anthropogenic sources), seperti yang berasal dari transportasi, emisi pabrik, dan
lain-lain. Pencemaran udara dapat terjadi dimana-mana, seperti di dalam rumah,
sekolah, dan kantor. Pencemaran seperti ini sering disebut dengan pencemaran
dalam ruangan (indoor pollution). Sedangkan, pencemaran di luar ruangan
(outdoor pollution) berasal dari emisi kendaraan bermotor, industri, perkapalan,
dan proses alami oleh makhluk hidup. Sumber pencemar udara dapat
diklasifikasikan menjadi sumber diam dan sumber bergerak. Sumber diam terdiri
dari pembangkit listrik, industri, dan rumah tangga. Sedangkan, sumber bergerak
terdiri dari aktifitas lalu lintas kendaraan bermotor di darat dan tranportasi laut
(Simanjuntak 2007). Hasil perhitungan parameter-parameter permodelan emisi
TSP dan PM10 pada sumber titik tetap disajikan dalam Tabel 2 dan Tabel 3.

Tabel 2 Hasil perhitungan permodelan emisi TSP dan PM10 pada sumber titik tetap
Kelas
Us σy σz Fb Xf Δh
Hs (m) kestabilan
(m/det) (m) (m) (m4/det2) (km) (m)
udara
50 6.483 C 0.631
150 9.013 C 193.265 114.701 51.040 0.572 0.454
250 10.506 C 0.389

Data hasil perhitungan permodelan parameter-parameter emisi dalam Tabel 2


menunjukkan bahwa ketinggian semburan mengalami penurunan seiring
bertambahnya ketinggian cerobong. Hal ini disebabkan terdapatnya faktor
kecepatan angin di setiap pertambahan ketinggian cerobong. Semakin bertambah
ketinggian cerobong maka semakin bertambah juga kecepatan angin yang
dialaminya. sehingga semburan emisi dari cerobong akan semakin cepat terbawa
oleh angin (secara horisontal) dan ketinggian semburan juga semakin berkurang.
Besarnya koefisien dispersi Gauss, faktor Bouyancy, dan jarak maksimal
semburan disetiap ketinggian cerobong memiliki nilai yang konstan. Ketinggian
semburan tertinggi terdapat pada ketinggian cerobong 50 m, yaitu sebesar 0.631 m
dengan kecepatan angin sebesar 6.483 m/det. Kemudian, ketinggian semburan
terendah terdapat pada ketinggian cerobong 250 m, yaitu sebesar 0.389 m dengan
kecepatan angin sebesar 10.506 m/det. Nilai kecepatan angin dalam setiap

5
ketinggian cerobong termasuk dalam kelas kestabilan udara C. Hasil perhitungan
permodelan konsentrasi emisi TSP dan PM10 pada sumber titik tetap disajikan
dalam Tabel 3 .

Tabel 3 Hasil perhitungan permodelan konsentrasi emisi TSP dan PM10 pada sumber titik tetap
Hs Us Hc Xmaks Cmax CTSP CPM10
(meter) (m/detik) (m) (km) (µg/m3) (µg/m3) (µg/m3)
50 6.483 50.631 0.382 126261.122 30156.252 19709.968
150 9.013 150.454 1.376 10306.401 10114.314 6610.662
250 10.506 250.389 2.505 3195.728 1893.271 1237.432

Berdasarkan hasil perhitungan permodelan dalam Tabel 3 dapat ditunjukkan


ketinggian cerobong mempengaruhi estimasi jarak maksimum pemaparan dan
konsentrasi kontaminan. Semakin tinggi cerobong yang digunakan maka semakin
jauh estimasi jarak maksimum pemaparan yang diemisikan. Dalam setiap
ketinggian cerobong, konsentrasi suatu polutan sangat dipengaruhi oleh kecepatan
angin. Semakin besar kecepatan angin, konsentrasi polutan yang diemisikan suatu
sumber juga semakin kecil. Penyebaran polutan akan terkumpul di sekitar jarak
maksimum dari sumber emisi, kemudian akan menyebar dengan konsentrasi yang
menurun sampai jarak yang cukup jauh dari sumbernya (Ruhiat et al. 2008)..
Hasil dalam Tabel 3 juga menunjukkan bahwa semakin besar ketinggian
cerobong maka semakin menguntungkan. Hal ini dikarenakan membuat
ketinggian efektif cerobong menjadi lebih tinggi. Dengan demikian, proses
pengenceran konsentrasi kontaminan di udara semakin baik dan sebaran akan
menempuh jarak yang lebih jauh, sehingga mengurangi dampak terhadap
penurunan kualitas udara ambien (Budirahardjo 2000). Nilai konsentrasi sebaran
TSP dan PM10 tertinggi terdapat pada ketinggian cerobong 50 meter, secara
berturut-turut sebesar 30156.252 µg/m3 dan 19709.968 µg/m3. Sedangkan, nilai
konsentrasi TSP dan PM10 terendah terdapat pada ketinggian cerobong 250 meter,
secara berturut-turut sebesar 1893.271 µg/m3 dan 1237.432 µg/m3.
Hasil perhitungan konsentrasi sebaran TSP dan PM10 pada setiap ketinggian
cerobong apabila dibandingkan dengan baku mutu yang tercantum dalam
Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran
maka dapat dikategorikan tidak aman. Hal ini dikarenakan konsentrasi emisi TSP
dan PM10 dalam setiap ketinggian cerobong berada jauh di atas batas ambang
maksimum yang diperbolehkan, yaitu sebesar 230 μg/Nm3 untuk TSP dan 150
μg/Nm3 untuk PM10. Artinya, secara tidak langsung menunjukkan bahwa udara
ambien di sekitar kawasan industri Dramaga Bahagia memiliki kualitas udara
yang kurang baik.
Emisi paritikel padat TSP dan PM10 yang mencemari udara dapat merusak
lingkungan, tanaman, hewan dan manusia. Masalah pencemaran udara yang
disebabkan oleh partikel PM10 (particulate matter) dengan diameter kurang dari
10 μm dan PM2.5 dengan diameter kurang dari 2.5 μm, diyakini oleh para pakar
lingkungan dan kesehatan masyarakat sebagai pemicu timbulnya infeksi saluran
pernapasan. Hal ini dikarenakan partikel padat PM10 dan PM2.5 dapat mengendap
pada saluran pernapasan daerah bronki dan alveoli. Sedangkan, partikel padat
TSP (Total Suspended Particulate) dengan diameter maksimum sekitar 45 μm,

6
tidak dapat terhirup ke dalam paru, tetapi hanya sampai pada bagian saluran
pernapasan atas (Chandra 2007).
Dampak pencemaran udara oleh partikulat antara lain yaitu gangguan estetik
dan fisik, seperti terganggunya pemandangan, pelunturan warna bangunan, dan
pengotoran. Dampak partikulat terhadap hewan salah satu diantaranya adalah
peradangan pada saluran pernafasan ternak. Dampak partikulat terhadap
tumbuhan yaitu lapisan debu partikulat pada permukaan daun dapat menutupi
stomata daun. Akibatnya, gas dan uap air keluar-masuk struktur daun melalui
stomata ke dalam struktur daun menjadi terganggu. Partikulat yang melapisi
permukaan daun juga menyebabkan kemampuan fotosintesis daun menurun.
Tanda-tanda kerusakan daun akibat pencemaran udara seperti necrosis, chlorosis
dan bercak pada permukaan daun (Chandra 2007).
Adapun beberapa penanggulangan pencemaran udara akibat partikulat,
diantaranya yaitu mensubtitusi bahan bakar untuk industri dan kendaraan
bermotor dengan bahan bakar yang ramah lingkungan, misalnya bahan bakar
biosolar yang berasal dari minyak kelapa sawit. Selain itu, juga dapat dilakukan
dengan menggunaan bahan bakar yang rendah nitrogen dan sulfur termasuk
penggunaan non fossil fuel, serta beralih ke bahan bakar gas. Berdasarkan
perlakuan udara pengurangan atau penanggulangan emisi dapat dilakukan dengan
penggunaan teknologi Exhaust Gas Recirculation (EGR), pengaturan temperatur
udara yang masuk pada motor, dan proses humidifikasi (Simanjuntak 2007).

SIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seiring bertambahnya ketinggian
cerobong maka kecepatan angin di ketinggian cerobong juga mengalami
peningkatan. Semakin besar kecepatan angin, ketinggian semburan dan
konsentrasi polutan yang diemisikan suatu sumber juga semakin kecil. Ketinggian
cerobong juga mempengaruhi estimasi jarak maksimum pemaparan, semakin
tinggi ketinggian cerobong yang digunakan maka semakin jauh estimasi jarak
maksimum pemaparan yang diemisikan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.
41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara maka konsentrasi emisi
TSP dan PM10 pada setiap ketinggian cerobong termasuk kategori tidak aman,
dikarenakan berada jauh di atas batas ambang maksimum yang diperbolehkan.
Nilai konsentrasi sebaran TSP dan PM10 tertinggi terdapat pada ketinggian
cerobong 50 meter, secara berturut-turut sebesar 30156.252 µg/m3 dan 19709.968
µg/m3. Sedangkan, nilai konsentrasi TSP dan PM10 terendah terdapat pada
ketinggian cerobong 250 meter, secara berturut-turut sebesar 1893.271 µg/m3 dan
1237.432 µg/m3.

DAFTAR PUSTAKA
Budirahardjo E. 2000. Prediksi Dampak Penurunan Kualitas Udara dengan
Modeling Matematika. Jakarta (ID): Universitas Trisakti.
Chandra B. 2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta (ID): ECG.
Roza V, Ilza M, Anita S. 2015. Korelasi PM10 di udara dan kandungan timbal
dalam rambut petugas SPBU di kota Pekanbaru. Dinamika Lingkungan
Indonesia. 2(1): 52-58.

7
Ruhiyat Y, Bey A, Nelwans LO. 2008. Penyebab pencemaran udara di kawasan
industri Cilegon. J Lingkungan. 1(1): 1-11.
Simanjuntak AG. 2007. Pencemaran udara. LIMBAH. 11(1): 34-40.

8
Lampiran 1 Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian
Pencemaran

LAMPIRAN
PERATURAN PEMERINTAH
REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 41
TAHUN 1999
TANGGAL : 26 MEI 1999-

BAKU MUTU UDARA AMBIEN NASIONAL

No Parameter Wak Baku Mutu Metode Peralatan


tu Analisis
1 SO2 1Pengukur
Jam 900 μg / Nm3 Pararosanalin Spektrofotometer
( Sulfur Dioksida ) 24 Jam
an
1 Thn 365 μg / Nm3
60 μg / Nm3
2 CO 1 Jam 30.000 μg / Nm3 NDIR NDIR Analyzer
( Karbon Monoksida ) 24 Jam
1 Thn 10.000 μg / Nm3
3 NO2 1 Jam 400 μg / Nm3 Saltzman Spektrofotometer
( SulfurDioksida ) 24 Jam
1 Thn 150 μg / Nm3
3
4 O3 1 Jam 235 μg
100 μg // Nm
Nm3 Chemiluminescent Spektrofotometer
( Oksidan ) 1 Thn
50 μg / Nm3
5 HC 3 Jam 160 μg / Nm3 Flamed Ionization Gas
( Hidro Karbon ) Chromatografi
6 PM10 24 Jam 150 μg / Nm3 Gravimetric Hi – Vol
( Partikel < 10 mm )
PM2,5 (*) 24 Jam 65 μg / Nm3 Gravimetric Hi – Vol
( Partikel < 2.5 mm ) 1 Thn Gravimetric Hi – Vol
15 μg / Nm3
7 TSP 24 Jam 230 μg / Nm3 Gravimetric Hi – Vol
( Debu ) 1 Thn
90 μg / Nm3
8 Pb 24 Jam 2 μg / Nm3 Gravimetric Hi – Vol
( Timah Hitam ) 1 Thn Ekstraktif
1 μg / Nm3 Pengabuan AAS
9 Dustfall 30 hari 10 Ton/km /Bulan Gravimetric
2 Cannister
( Debu Jatuh ) ( Pemukiman )
10 Ton/km2/Bulan
( Industri )
10 Total Fluorides (as F ) 24 Jam 3 μg / Nm3 Spesific Ion Impinger atau
90 hari Electrode Countinous Analyzer
0,5 μg / Nm3
11 Flour Indeks 30 hari 40 μg / 100 cm2 Colourimetric Limed Filter Paper
dari kertas
limed filter
12 Khlorine & 24 Jam 150 μg / Nm3 Spesific Ion Imping atau
Khlorine Dioksida Electrode Countinous Analyzer
13 Sulphat Indeks 30 hari 1 mg SO3/100 cm3 Colourimetric Lead
Peroxida Candle
Dari Lead
Peroksida

9
Lampiran 2 Kelas kestabilan udara, koefisien dispersi Gauss dan harga-harga
konstanta a,b,c dan d pada persamaan Ranchaux

Kecepatan Pagi/Siang Malam Keterangan


Angin Intensitas Sinar Matahari Keadaan Awan
(m/detik) Kuat Sedang Lemah Berawan Cerah
A (sangat tidak stabil)
<2 A A-B B E F B (sedang)
2-3 A-B B C E F C (sedikit tidak stabil)
3-5 B B-C C D E D (netral)
F (stabil)
5-6 C C-D D D D
>6 C D D D D
Keterangan: kelas kestabilan udara

Stabilitas X < 1 km X > 1 km


(Kelas) a c d f c d f
A 213 440.8 1.941 9.27 459.7 2.094 -9.6
B 156 106.6 1.149 3.3 108.2 1.098 2.0
C 104 61 0.911 0 61 0.911 0
D 68 33.2 0.725 -1.7 44.5 0.516 -13.0
E 50.5 22.8 0.678 -1.3 55.4 0.305 -34.0
F 34 14.4 0.74 -0.35 62.6 0.18 -48.6
Keterangan: koefisien dispersi Gauss, b = 0.894

Konstanta
Kelas Kestabilan Udara
a b c D
A -1.0563 -2.7253 0.1261 0
B -1.806 -2.1912 0.0389 0
C -1.9748 -1.998 0 0
D -2.5302 -1.561 -0.0934 0
E -1.4496 -2.591 -0.2181 -0.0343
F -1.0488 -3.2252 0.4977 -0.0765
Keterangan: Harga-harga konstanta a,b,c dan d pada persamaan Ranchaux

10
Lampiran 3 Contoh perhitungan permodelan udara emisi sumber titik tetap

Menentukan kecepatan angin pada ketinggian cerobong 50 m:


Hs n
Us = U10
10
50 0.3
Us = 4
10
Us = 6.483 m/det

Menentukan nilai faktor Buoyancy


ds 2 T s −T a
FB = g Vs
4 Ts
1.52 473 − 298
FB = 9.81 25
4 473
FB = 51.040 m4/det2

Menentukan koefisien dispersi Gauss horisontal dan vertikal:


σy = a X b
σy = 104 (2 0.894 )
σy = 193.265 m

σz = c X d + f
σz = 61 (20.911 ) + 0
σz = 144.701 m

Menentukan jarak maksimal semburan (FB < 55 m4/det2):


Xf = 49 FB 5/8
Xf = 49 51.040 5/8
Xf = 0.572 km

Menentukan ketinggian semburan (X ≥ Xf):


1
51.0403
Δh =1,6 (0.572)2/3
6.483
Δh = 0.631 m

Menentukan ketinggian efektif cerobong:


Hc =Hs +Δh
Hc =50+0.631
Hc =50.631 m

Menentukan nilai sebaran konsentrasi TSP:


Qj y2 z-Hc 2 z+Hc 2
CTSP = ∙exp- ∙ exp - +exp -
(2πUs σy σz) 2σy 2 2σz 2 2σz 2
15 ×109 02
CTSP = ∙exp- ∙
(2π 6.483 × 193.265×144.701) 2×193.2652

11
2
0-50.631 0+50.631 2
exp - 2 +exp -
2×144.701 2×144.7012

CTSP = 30156.252 µg/m3

Meentukan konsetrasi maksimum:


exp a+b lnHc +c lnHc 2 +d lnHc 3
C maks = Qj
Us
exp -1.9748-1.998 ln 50.631 +0+0
C maks = 15 ×109
6.483
C maks = 126261.122 µg/m3

Menentukan estimasi jarak maksimum pemaparan:


1
Hc 2 2-n
Xmaks =
σz 2
1
50.6312 2−0.3
Xmaks =
144.7012

Xmaks =0.382 km

Menentukan nilai sebaran konsentrasi PM10:


CPM 10 1
=
CTSP 1,53

CPM 10 1
=
30156.252 1,53

CPM 10 = 19709.968 µg/m3

12