Anda di halaman 1dari 11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep dan Teori Agropolitan


Agropolitan terdiri dari kata Agro (pertanian) dan politan (polis=kota), sehingga
agropolitan dapat diartikan sebagai kota pertanian yang tumbuh dan berkembang karena
berjalannya sistem usaha agribisnis di desa dalam kawasan sentra produksi sebagai kota pertanian
yang memiliki fasilitas yang dapat mendukung lancarnya pembangunan pertanian (Dinas
Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Gorontalo, 2008: 13).
Lambatnya kemajuan pembangunan, ketidakberlanjutan pembangunan, bahkan kegagalan
pembangunan seringkali tidak disebabkan oleh keterbatasan sumberdaya dan dana serta kapasitas
manajemen pemerintahan, tetapi lebih banyak karena kesalahan dalam memilih dan menetapkan
model pembangunan yang akan diterapkan. Oleh karena itu, pembangunan daerah harus dimulai
dengan menetapkan model yang akan dianut. Secara garis besar, ada 3 landasan teori
pembangunan daerah yang diterapkan yaitu the Growth Centre Theory (Teori Pusat Pertumbuhan),
Center Periphery Concept (Konsep Pusat-Pinggiran) dan agropolitan model (Muhammad dan
Akuba, 2007:29).
Ketiga model ini pada dasarnya mengemukakan solusi bagi kesenjangan pembangunan
yang terjadi antara kota dan desa. Teori Pertumbuhan diperkenalkan oleh Francois Perroux seorang
ekonomi Prancis (1949) dalam Muhammad dan Akuba, 2007:29. Menurut teori ini, pembangunan
regional distimulasi dengan membangun kota intermediat (Intermediat Cities) sebagai pusat
pertumbuhan regional. Asumsi yang dipakai yaitu pusat perkotaan dapat menarik aktivitas
ekonomi melalui infrastruktur dan insentif langsung yang pada akhirnya menciptakan efek
menyebar (spread effects) di daerah pinggiran kota dalam bentuk peningkatan lapangan kerja dan
pendapatan. Pola pembangunan regional diharapkan mengikuti pertumbuhan pembangunan kota
sehingga kesenjangan pembangunan regional dapat dikurangi. Pusat perkotaan akan menghasilkan
efek berganda (multiplier effects) yang akan menyebar kepusat-pusat kecil disekitarnya dan daerah
pinggiran. Teori pusat pertumbuhan ini bersifat ‘Top Down’. Penerapan konsep pembangunan ini
pada kenyataannya menimbulkan beberapa dampak negatif, seperti: 1) terjadinya hyperurbanisasi,
2) pembangunan yang pesat dan modern hanya terjadi dibeberapa kota saja, sementara daerah
pinggiran relatif tertinggal, 3) tingkat pengannguran dikota yang relatif tinggi, 4) distribusi
pendapatan yang tidak merata, 5) kemiskinan, 6) kekurangan bahan pangan, akibat perhatian
pembangunan terlalu tercurah pada percepatan pertumbuhan sektor industri, 7) penurunan tingkat
kesejahteraan masyarakat desa.
Selanjutnya memperkenalkan Center Periphery Concept (konsep pusat pinggiran) untuk
mengatasi masalah-masalah yang timbul akibat penerapan Model Pusat Pertumbuhan. Menurut
konsep ini, pertumbuhan ekonomi dapat terwujud melalui pembangunan dan interkoneksi yang
kuat daerah pusat pinggiran. Masalah-masalah di daerah pedesaan tidak terlepas dari keadaan di
daerah perkotaan atau dengan kata lain adanya keterkaitan antara desa dan kota. Keterkaitan
tersebut antara lain meliputi ekonomi, demografi, infrastruktur dan lingkungan. Oleh karena itu,
untuk membangun desa dan kota diperlukan pengembangan interkoneksi yang kuat antar desa dan
kota. Selanjutnya, sebagai alternatif Model Pusat Pertumbuhan. (Friedman dalam Muhammad dan
Akuba, 2007:30)
Konsep agropolitan ini pada dasarnya memberikan pelayanan di kawasan perdesaan atau
dengan istilah lain yang digunakan oleh Friedmann adalah “kota di ladang”. Ide ‘Kota di Ladang‘
telah muncul sejak lama yaitu dicetuskan pertama kali oleh Peter Kropoktin (1898) dalam
Muhammad dan Rusthamrin, (2007:31) selanjutnya Lewis Mumford dengan konsep Garden Cities
of Tommorow (1902) dan Mao ze Dong dengan visi A City in the Countryside.
Menurut Djakapermana (2003:33) kawasan agropolitan berperan sebagai sistem fungsional
desa-desa dengan adanya hirarki keruangan desa terdiri atas pusat agropolitan dan desa-desa
sekitarnya membentuk kawasan agropolitan. Kawasan agropolitan juga dicirikan oleh kawasan
pertanian yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis di pusat
agropolitan yang diharapkan dapat melayani dan mendorong kegiatan-kegiatan pembangunan
pertanian (agribisnis) di wilayah sekitarnya.
Menurut Rustiadi et. all., (2005) dalam Haryono, (2008:2), agropolitan merupakan model
pembangunan yang mengandalkan desentralisasi, mengandalkan pembangunan infrastruktur
setara kota di wilayah perdesaan, sehingga mendorong urbanisasi (pengkotaan dalam arti positif)
atau tumbuhnya unsur-unsur urbanism, dan menanggulangi dampak negatif pembangunan seperti
migrasi desa-kota yang tidak terkendali, polusi, kemacetan lalu lintas, pengkumuhan kota,
kehancuran sumberdaya alam, dan pemiskinan desa. Agropolitan menjadi relevan dengan wilayah
perdesaan karena pada umumnya sektor pertanian dan pengelolaan sumberdaya alam memang
menjadi mata pencaharian utama dari sebagian besar masyarakat perdesaan.
Dalam konsep pengembangan agropolitan, petani atau masyarakat desa tidak perlu harus
pergi ke kota untuk mendapatka pelayanan, berupa pelayanan yang berhubungan dengan produksi
dan pemasaran, kebutuhan sosial budaya serta kebutuhan sehari-hari. Pelayanan untuk proses
produksi diberikan pada tingkat desa, dekat pemukiman petani, berupa pelayanan informasi
tekhnologi dan sarana produksi pertanian, kredit usahatani dan informasi pasar. Akibatnya, biaya
produksi dan biaya pemasaran menjadi rendah.
Muhammd dan Akuba, (2007:34) Konsep agropolitan menurut Friedman sangat cocok
untuk diterapkan di Provinsi Gorontalo dengan berbagai pertimbangan, dalam regional seperti:
(1) Sebagian besar rakyat hidup dipedesaan, dan rakyat adalah kekayaan sesungguhnya dari
suatu bangsa.
(2) Sektor pertanian merupakan tulang punggung pembangunan dengan kontribusi lebih dari
30 %.
(3) Kemiskinan umumnya terjadi dipedesaan baik karena faktor struktural dan fungsional
sehingga membangun wilayah perdesaan merupakan upaya untuk mengentaskan
kemiskinan.
(4) Upaya untuk mengatasi kesenjangan antar kota dan desa terbukti kurang berhasil apabila
dimulai dari perkotaan dan;
(5) Sumberdaya alam sebagian besar berada di perdesaan.

B. Pengembangan Agropolitan
Pengembangan agropolitan menurut Friedman (1979) dalam Haryono, (2008:8),
memfokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yaitu untuk menjamin tercapainya
keamanan pangan, sandang, kesehatan, dan pendidikan. Pendekatan kebutuhan dasar dilihat dari
segi konsumsi, yang prosedurnya dapat dilakukan dengan mengestimasi kebutuhan dasar dalam
perhitungan material yang tepat (kalori, protein, meter persegi dalam ruang hidup) dan kemudian
menghitungnya dengan nilai uang.
Unit fundamental dari penentuan kebutuhan dasar, dalam praktek perencanaan dan
hubungan yang saling melayani adalah suatu unit teritorial yang cukup besar untuk mencukupi
sendiri kebutuhan dasarnya dan cukup kecil untuk pertemuan secara langsung dalam perencanaan
dan pembuatan keputusan. Sebagai suatu unit dari suatu sistem yang mencakup produksi,
distribusi, dan pengelolaan disebut sebagai agropolitan districts yang mempunyai 20.000 –
100.000 penduduk.
Kota agropolitan akan diorganisasikan dengan prinsip pemenuhan sendiri secara relatif
dalam kebutuhan dasar, ini berarti bahwa karakteristik ekonomi yang ada merupakan campuran
antara pertanian dengan industri, tetapi dalam produksi industri mendominasi. Kota dalam
strukturnya merupakan klaster saling ketergantungan dari unit teritorial di mana distrik
mempunyai hubungan dengan level desa (Haryono, 2008:10).
Berdasarkan pada ukurannya, urban (kota) sebagai suatu keseluruhan mungkin meliputi
suatu wilayah atau sub wilayah. Secara fisik kota agropolitan tidak berbeda secara nyata dengan
daerah perdesaannya, sebagai suatu unit spasial yang menjadi ciri utamanya adalah kerapatan
relatifnya dan struktur ekonomi (Friedmann, 1979). Sedangkan Ertur (1984) dalam (Haryono,
2008:8) menyatakan bahwa penekanan utama dalam penguatan agropolitan didasarkan pada
metode sebagai berikut 1) peningkatan produktivitas dan diversifikasi pertanian dan agroindustri,
2) peningkat partisipasi tenaga kerja, 3) peningkatan permintaan barang dan jasa, 4) peningkatan
inovasi teknologi produksi, 5) perluasan kapasitas untuk ekspor.
Pengembangan agropolitan di wilayah perdesaan pada dasarnya lebih ditujukan untuk
meningkatkan produksi pertanian dan penjualan hasil-hasil pertanian, mendukung tumbuhnya
agro-processing skala kecil menengah dan mendorong keberagaman aktivitas ekonomi dari pusat
pasar. Segala aktivitas harus diorganisasikan terutama untuk membangun keterkaitan antara
perusahaan di kota dengan wilayah suplai di perdesaan dan untuk menyediakan fasilitas,
pelayanan, input produksi pertanian dan aksesibilitas yang mampu memfasilitasi lokasi-lokasi
permukiman di perdesan yang umumnya mempunyai tingkat kepadatan yang rendah dan lokasinya
lebih menyebar. Investasi dalam bentuk jalan yang menghubungkan lokasi-lokasi pertanian
dengan pasar merupakan suatu hal yang penting yang diperlukan untuk menghubungkan antara
wilayah perdesaan dengan pusat kota (Haryono, 2008:12).
Menurut Rustiadi (2009:3290) pengembangan agropolitan merupakan suatu upaya
memperpendek jarak antara masyarakat di kawasan sentra pertanian dengan pusat-pusat pelayanan
konvensional (yang berkembang tanpa orientasi kuat pada pengembangan kegiatan pertanian).
Pengembangan agropolitan ditujukan untuk meningkatkan produksi pertanian dan penjualan hasil-
hasil pertanian, mendukung tumbuhnya industri agro-processing skala kecil-menengah dan
mendorong berragam aktivitas ekonomi dari pusat pasar. Segala aktivitas harus diorganisasikan
terutama untuk membangun keterkaitan antara perusahaan di kota dengan wilayah suplai di
perdesaan dan untuk menyediakan fasilitas, pelayanan, input produksi pertanian yang mampu
memfasilitasi lokasi-lokasi pemukiman di perdesaan yang umumnya mempunyai kepadatan yang
rendah dan lokasinya yang menyebar. Investasi dalam bentuk jalan yang menghubungkan lokasi-
lokasi pertanian dengan pasar merupakan suatu hal penting yang diperlukan untuk
menghubungkan antara wilayah perdesaan dengan pusat kota.

C. Kawasan Agropolitan
Definisi agropolitan menurut Rustiadi et. all., (2005) dalam Haryono, (2008: 9) adalah
kawasan yang merupakan sistem fungsional yang terdiri dari satu atau lebih kota-kota pertanian
(agropolis) pada wilayah produksi pertanian tertentu, yang ditunjukkan oleh adanya sistem
keterkaitan fungsional dan hirarki keruangan satuan-satuan sistem permukiman dan sistem
agribisnis, terwujud baik melalui maupun tanpa melalui perencanaan formal. Agropolis adalah
lokasi pusat pelayanan sistem kawasan sentra-sentra aktivitas ekonomi berbasis pertanian.
Pengembangan agropolitan adalah suatu pendekatan pembangunan kawasan perdesaan
melalui upaya-upaya menumbuhkan kota-kota kecil berbasis pertanian (agropolis) sebagai bagian
dari sistem perkotaan dengan maksud menciptakan pembangunan berimbang dan keterkaitan desa-
kota yang sinergis dan pembangunan daerah. Tujuan dari pengembangan agropolitan sebagai
konsep pembangunan wilayah dan perdesaan adalah 1) menciptakan pembangunan desa-kota
secara berimbang, 2) meningkatkan keterkaitan desa-kota yang sinergis (saling memperkuat), 3)
mengembangkan ekonomi dan lingkungan permukiman perdesaan berbasis aktivitas pertanian, 4)
pertumbuhan dan revitalisasi kota kecil, 5) diversifikasi dan perluasan basis peningkatan
pendapatan dan kesejahteraan, 6) menciptakan daerah yang lebih mandiri dan otonom, 7) menahan
arus perpindahan penduduk perdesaan ke perkotaan secara berlebihan (berkontribusi pada
penyelesaian masalah perkotaan), 8) pemulihan sumberdaya alam dan lingkungan hidup.
Menurut UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang disebutkn bahwa kawasan
agropolitan adalah kawasan yang terdiri atas satu atau lebih pusat kegiatan pada wilayah perdesaan
sebagai sistem produksi pertanian dan pengelolaan sumberdaya tertentu yang ditunjukan oleh
adanya keterkaitan fungsional dan hierarki keruangan satuan sistem permukiman dan sistem
agrobisnis (Rustiadi, 2009:329).
Menurut Rustiadi et. all., (2005) dalam Haryono, (2008: 9) Sedangkan kriteria yang dapat
digunakan untuk menentukan karakteristik wilayah pengembangan agropolitan adalah kriteria
agropolitan, yaitu 1) memiliki daya dukung dan potensi fisik kawasan yang memadai (kesesuaian
lahan dan agroklimat), 2) memiliki komoditas dan produk olahan pertanian unggulan (minimal
merupakan sektor basis di tingkat kabupaten/provinsi), 3) luas kawasan dan jumlah penduduk yang
cukup memadai untuk tercapainya economic of scale dan economic of scope (biasanya dalam
radius 3-10 km, mencakup beberapa desa hingga gabungan sebagian satu hingga tiga kecamatan),
4) tersedianya prasarana dan sarana permukiman yang cukup memadai dalam standar perkotaan,
5) tersedianya prasarana dan sarana produksi yang memadai dan berpihak pada kepentingan
masyarakat lokal, 6) adanya satu atau beberapa pusat pelayanan skala kota kecil yang terintegrasi
secara fungsional dengan kawasan produksi di sekitarnya, 7) adanya sistem manajemen kawasan
dengan ekonomi yang cukup, adanya sistem penataan ruang kawasan yang terencana dan
terkendali, 8) berkembangnya aktivitas-aktivitas sektor sekunder (pengolahan), dan tersier (jasa
dan finansial), 9) Kelembagaan ekonomi komunitas lokal yang kuat, akses masyarakat lokal
terhadap sumberdaya ekonomi (terutama lahan) mencukupi.

D. Program Agropolitan Provinsi Gorontalo


Untuk mewujudkan revitalisasi pertanian di Provinsi Gorontalo ada 9 faktor yang dikenal
sebagai 9 pilar yang perlu dilakukan oleh pemerintah, masyarakat/petani dan stakeholder yang
sekaligus menjadi indikator pertanian modern dalam pembangunan pertanian melalui Program
Agropolitan berbasis jagung. 9 pilar ini terintegrasi dalam suatu perencanaan dan koordinasi dalam
mendukung program agropolitan. (Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Gorontalo,
2008: 13).

1. Penyediaan Alat, Mesin Pertanian dan Angkutan Agropolitan


Kegiatan ini merupakan tuntutan yang harus dipenuhi dalam upaya memberikan
pelayanan kepada petani baik untuk kegiatan pra panen maupun pasca panen. Khusus untuk pra
panen dibutuhkan alat dan mesin pertanian terutama alat pengolah tanah. Untuk mewujudkan
langkah ini maka Pemerintah Provinsi Gorontalo telah melakuakn kerjasama dengan PT. Satrindo
Mitra Utama.
2. Penyediaan Dana Penjaminan Petani
Pemerintah Provinsi Gorontalo menganggap hal ini sangat penting untuk diwujudkan.
Para petani melalui kelompok tani dapat memanfaatkan dana penjaminan ini dengan mengajukan
rencana kebutuhan biaya usaha tani melalui rencana kebutuhan kelompok.

3. Penyediaan Benih Unggul, Pupuk dan Pengendalian Hama dan Penyakit


Pilar ini merupakan implementasi dari penerapan teknologi dalam upaya meningkatkan
produktivitas dan produksi.

4. Penciptaan Pasar (Market Creation) Jagung dan Penetapan Harga Dasar Jagung
Penciptaan pasar seluas-luasnya bagi jagung dengan melakukan promosi yang gencar di dalam
dan luar negeri.

5. Pembangunan Irigasi Sederhana dan Jalan Akses Agropolitan


Provinsi Gorontalo memiliki banyak sungai yang dapat menjadi sumber air bagi
pertanaman jagung, tantangannya adalah bagaimana memanfaatkan sungai untuk mengairi area
jagung, yakni dengan pembangunan irigasi (irigasi sederhana, pompa air tanpa motor./ PATM.

6. Show Window di Setiap Kabupaten/ Kota serta Posko Agropolitan


Keberadaan Show Window Jagung memungkinkan petani mencoba sendiri teknologi-teknologi
baru sehingga proses transfer teknologi dipercepat.

7. Peningkatan Kualitas SDM di Bidang Pertanian


Keberhasilan Agropolitan sangat tergantung pada sumberdaya manusia yang terlibat
langsung maupun tidak langsung dalam kegiatan Agropolitan seperti petani, petugas pertanian dan
piha swasta.

8. Pembangunan Maize Center


Maize Center dibangun untuk mengatasi berbagai keterbatasan lembaga-lembaga
penelitian publik. Maize Center diarahkan berfungsi sebagai 1) pusat Informasi jagung regional,
2) pusat penelitian jagung yang akan menangani penelitian adaptif spesifik lokasi Gorontalo. Hal
ini membedakan dengan institusi-institusi penelitian yang ada. Maize Center akan menangani
penelitian-penelitian dasar, 3) pusat pelatihan jagung bagi petani di kawsan Indonesia Timur
maupun Nasional, 4) Objek wisata Ilmiah.

9. Perencanaan dan Koordinasi


Untuk efektivitas dan efisien dalam pembangunan innfrastruktur maka perlu perencanaan
yang terkoordinasi dan terpadu dari berbagai instansi/unsur terkait baik tingkat Provinsi maupun
Kabupaten/ Kota.

E. Penelitian Terdahulu
Penelitian yang terkait dengan pengembangan kawasan agropolitan di antaranya adalah
penelitian Setiawan, et all., (2009) tentang analisa program pengembangan kawasan agropolitan
Selupu Rejang Di Kabupaten Rejang Lebong. Penelitian adalah untuk mengetahui komoditas yang
menjadi unggulan untuk dikembangkan saat ini dan untuk mengetahui apakah implementasi
program agropolitan Selupu Rejang setelah berjalan selama 5 (lima) tahun berhasil mengatasi
berbagai persoalan yang dihadapi dalam membangun ekonomi masyarakat setempat. Metode
penelitian adalah penelitian konklusif, dengan menggunakan metode survei dan pengumpulan data
primer berdasarkan hasil komunikasi. Data yang dikumpulkan melalui wawancara mendalam,
dengan hasil penelitian bahwa setelah berjalan selama lima tahun, program ini tidak berhasil
mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi oleh petani dalam meningkatkan perekonomian
mereka. Pihak yang diuntungkan dari program ini adalah sebagian kecil masyarakat kawasan
agropolitan yaitu golongan pedagang dan pengusaha industri kecil dan menengah, sedangkan
kondisi perekonomian sebagian besar petani tidak mengalami peningkatan.
Penelitian selanjutnya oleh Mohamad, (2008) dengan judul kebijakan pengembangan
komoditi jagung di Provinsi Gorontalo, tujuan penelitian ini, adalah (1) untuk mengetahui bentuk
intervensi kebijakan Pemerintah Provinsi Gorontalo dalam mengembangkan jagung sebagai
komoditi yang dikenal di tingkat Nasional maupun Internasional. (2) untuk mengetahui
implementasi kebijakan pemerintah Provinsi Gorontalo dalam mengembangkan komoditi Jagung.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Instrumen yang digunakan dalam
penelitian ini adalah wawancara dan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan secara garis besar
bahwa program agropolitan basis jagung meningkatkan perekonomian wilayah, pendapatan usahat
tani serta tingkat partisipasi arnstein berada pada tingkat konsultasi.
Fauzi, (2010) dengan penelitian yang berjudul Implementasi Kebijakan Pemerintah Daerah
Dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan. Tujuan penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui:
Observasi dan wawancara serta dokumentasi. Hasil penelitian ini bahwa kebijakan Pemerintah
Kabupaten Bojonegoro dalam mewujudkan ketahanan pangan yang sudah dilaksanakan saat ini
belum berjalan secara maksimal. Faktor pendukung Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam
mewujudkan ketahanan pangan adanya lahan usaha tani dengan pola tanam yang mantap sesuai
dengan kebutuhan petani. Faktor penghambatnya adalah masalah pendanaan, seperti tidak adanya
subsidi bagi petani produsen tanaman pangan, masalah penyuluhan dan Ketersediaan pupuk
bersubsidi di Kabupaten Bojonegoro ini sangat terbatas.
Penelitian selanjutnya oleh Rahman, et all., (2007), adalah evaluasi program agropolitan
jagung di Limboto Barat Provinsi Gorontalo. Metode yang digunakan adalah survei. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa ; 1) kondisi kehidupan masyarakat petani di Kecamatan Limboto
Barat, sebelum dan sesudah mengikuti Program Agropolitan Jagung berbeda pendapatnya, 2)
kondisi kehidupan masyarakat petani di Kecamatan Limboto Barat, sebelum dan sesudah
mengikuti program agropolitan jagung berbeda nyata tingkat kesejahteraan, dengan demikian
maka program agropolitan berhasil dengan baik.
Penelitian tentang dampak pengembangan agropolitan berbasis jagung dan partisipasi
masyarakat di Provinsi Gorontalo yang dilakukan oleh Jokom, et all., (2007) dengan tujuan
penelitian adalah untuk menganalisis dampak program agropolitan terhadap perekonomian daerah
dan pendapatan petani, dan mengukur tingkat partisipasi masyarakat. Penelitian ini menggunakan
analisis kuantitatif dan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pengembangan agropolitan berbasis jagung telah meningkatkan perekonomian daerah dari
Kabupaten Pohuwato melalui perubahan dalam struktur perekonomian daerah dan meningkatkan
pendapatan petani meskipun (prioritas) utama sektor pertanian seperti, sub-tanaman pangan,
komoditas jagung dan transportasi masih rendah daya saing. Partisipasi masyarakat di daerah
agropolitan adalah pada tingkat konsultasi.
F. Kerangka Pikir
Perencanaan wilayah merupakan proses pengembangan masyarakat dalam suatu daerah
untuk kemajuan pembangunan, dengan menerapkan dua teori yakni teori pusat pertumbuhan dan
teori agropolitan dengan proses pengimplementasian melalui model friedman dan model
agropolitan Provinsi Gorontalo. Adapun strategi dalam pembangunan program agropolitan di
Provinsi Gorontalo melalui 9 pilar yang mengarah pada peningkatan agropolitan jagung. Program
agropolitan Provinsi merupakan acuan dari lokasi agropolitan jagung di Kabupaten Pohuwato,
sehingga secara tidak langsung akan berpengaruh pada kesejahteraan rakyat. Kerangka pikir pada
penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1. Dibawah ini.

PERENCANAAN WILAYAH

TEORI PUSAT TEORI AGROPOLITAN


.
PERTUMBUHAN

IMPLEMENTASI

MODEL FRIEDMAN AGROPOLITAN


PROVINSI. GORONTALO

9 PILAR
AGROPOLITAN

AGROPOLITAN
POHUWATO
(Kecamatan Patilanggio)

KESEJAHTERAAN
RAKYAT

Gambar 1. Kerangka Pikir Teoritis Penelitian “ Implementasi Kebijakan Program Agropolitan


di Kabupaten Pohuwato (Studi Kasus Kecamatan Patilanggio)”