Anda di halaman 1dari 192
F O R E N S I K & d r. R e s t

F O R E N S I K

&

d r.

R e s t h i e

d r.

R a c h m a n t a

Yo l i n a

P u t r i

M a r c e l a

e d r. R a c h m a n t a Yo l i n

MASTER CLASS

M E D I K O L E G A L

Medan

Jl. Setiabudi Kompleks Setiabudi Square No. 15 Kel. Tanjung Sari, Kec. Medan Selayang 20132 WA/Line 082122727364

w w w . o p t I m a p r e p . c o m

KAIDAH DASAR MORAL

KAIDAH DASAR MORAL

KAIDAH DASAR MORAL Hanafiah, J., Amri amir. 2009. Etika Kedokteran dan Hukum\Kesehatan (4th ed). Jakarta: EGC.

Hanafiah, J., Amri amir. 2009. Etika Kedokteran dan Hukum\Kesehatan (4th ed). Jakarta: EGC.

Berbuat baik (beneficence)

Selain menghormati martabat manusia,

dokter juga harus mengusahakan agar

pasien yang dirawatnya terjaga keadaan

kesehatannya (patient welfare).

Pengertian berbuat baikdiartikan

bersikap ramah atau menolong, lebih

dari sekedar memenuhi kewajiban.

Menghormati martabat manusia (respect

for person) / Autonomy

Setiap individu (pasien) harus

diperlakukan sebagai manusia yang

memiliki otonomi (hak untuk menentukan

nasib diri sendiri),

Setiap manusia yang otonominya berkurang atau hilang perlu mendapatkan perlindungan.

Tidak berbuat yang merugikan (nonmaleficence)

Praktik Kedokteran haruslah memilih

pengobatan yang paling kecil risikonya dan

paling besar manfaatnya. Pernyataan kuno:

first, do no harm, tetap berlaku dan harus diikuti.

Keadilan (justice)

Perbedaan kedudukan sosial, tingkat ekonomi, pandangan politik, agama dan faham kepercayaan, kebangsaan dan

kewarganegaraan, status perkawinan,

serta perbedaan jender tidak boleh dan

tidak dapat mengubah sikap dokter terhadap pasiennya.

Tidak ada pertimbangan lain selain

kesehatan pasien yang menjadi perhatian utama dokter.

Prinsip dasar ini juga mengakui adanya

kepentingan masyarakat sekitar pasien

yang harus dipertimbangkan

Beneficence

 

Kriteria

1.

Mengutamakan altruism (menolong tanpa pamrih, rela berkorban untuk kepentingan

orang lain)

2.

Menjamin nilai pokok harkat dan martabat manusia

3.

Memandang pasien/keluarga sebagai sesuatu yang tak hanya menguntungkan dokter

4.

Mengusahakan agar kebaikan lebih banyak dibandingkan keburukannya

5.

Paternalisme bertanggungjawab/berkasih sayang

6.

Menjamin kehidupan baik minimal manusia

7.

Pembatasan goal based (sesuai tujuan/kebutuhan pasien)

8.

Maksimalisasi pemuasan kebahagiaan/preferensi pasien

9.

Minimalisasi akibat buruk

10.

Kewajiban menolong pasien gawat darurat

11.

Menghargai hak-hak pasien secara keseluruhan

12.

Tidak menarik honorarium di luar kewajaran

13.

Maksimalisasi kepuasan tertinggi secara keseluruhan

14. Mengembangkan profesi secara terus menerus

15. Memberikan obat berkhasiat namun murah

16. Menerapkan golden rule principle

Beneficence (Berbuat baik)

General beneficence

Melindungi dan mempertahankan hak, mencegah terjadinya kerugian

Menghilangkan kondisi penyebab kerugian pada yang lain

Specific beneficence

Menolong orang cacat, menyelamatkan dari bahaya, mengutamakan kepentingan pasien

Memandang pasien/ keluarga/ sesuatu tidak hanya sejauh menguntungkan dokter/ rumah

sakit/ pihak lain

Maksimalisasi akibat baik

Menjamin nilai pokok: “apa saja yang ada, pantas kita bersikap baik terhadapnya” (apalagi ada

yang hidup)

Prinsip tindakan

Berbuat baik kepada siapa pun, termasuk yang tidak kita kenal

Pengorbanan diri demi melindungi dan menyelamatkan pasien

“janji” atau wajib menyejahterakan pasien dan membuat diri terpecaya

Contoh tindakan

Dokter bersikap profesional, bersikap jujur, dan luhur pribadi (integrity); menghormati pasien,

peduli pada kesejahteraan pasien, kasih sayang, dedikatif mempertahankan kompetensi

pengetahuan dan keterampilan teknisnya

Memilih keputusan terbaik pada pasien yang tidak otonom (kurang mampu memutuskan bagi dirinya), misalnya anak, pasien dengan gangguan jiwa, pasien dalam kondisi gawat

Non-maleficence

 

Kriteria

1. Menolong pasien emergensi :

 

Dengan gambaran sbb :

- pasien dalam keadaan sangat berbahaya (darurat) / berisiko kehilangan sesuatu yang penting (gawat)

- dokter sanggup mencegah bahaya/kehilangan tersebut

- tindakan kedokteran tadi terbukti efektif

- manfaat bagi pasien > kerugian dokter

2. Mengobati pasien yang luka

3. Tidak membunuh pasien ( euthanasia )

4. Tidak menghina/mencaci maki/ memanfaatkan pasien

5.

Tidak memandang pasien hanya sebagai objek

6.

Mengobati secara proporsional

7.

Mencegah pasien dari bahaya

8.

Menghindari misrepresentasi dari pasien

9.

Tidak membahayakan pasien karena kelalaian

10.

Memberikan semangat hidup

11.

Melindungi pasien dari serangan

12.

Tidak melakukan white collar crime dalam bidang kesehatan

Non-Maleficence

Sisi komplementer beneficence dari sudut pandang pasien: tidak boleh

berbuat jahat (evil) atau membuat derita (harm) pasien; minimalisasi

akibat buruk

Primum non nocere: First do no harm

Kewajiban dokter untuk menganut ini berdasarkan hal-hal:

Pasien dalam keadaan amat berbahaya atau berisiko hilangnya sesuatu yang penting dan dokter sanggup mencegah bahaya atau kehilangan tersebut

Tindakan kedokteran tadi terbukti efektif

Manfaat bagi pasien > kerugian dokter (hanya mengalami risiko minimal)

Norma tunggal, isinya larangan

Contoh tindakan:

Tidak melakukan malpraktik etik, baik sengaja atau tidak; seperti dokter tidak mempertahankan kemampuan ekspertisnya atau menganggap pasien sebagai komoditi

Menghentikan pengobatan yang sia-sia atau pengobatan luar biasa, yaitu

pengobatan yang tidak biasa diperoleh atau digunakan tanpa pengeluaran amat banyak, nyeri berlebihan, atau ketidaknyamanan lainnya

Juga membiarkan mati (letting die), bunuh diri dibantu dokter, euthanasia,

sengaja malpraktik etis

Autonomy

 

Kriteria

1.

Menghargai hak menentukan nasib sendiri, menghargai martabat pasien

2.

Tidak mengintervensi pasien dalam membuat keputusan (kondisi elektif)

3.

Berterus terang

4.

Menghargai privasi

5.

Menjaga rahasia pasien

6.

Menghargai rasionalitas pasien

7.

Melaksanakan informed consent

8.

Membiarkan pasien dewasa dan kompeten mengambil keputusan sendiri

9.

Tidak mengintervensi atau menghalangi otonomi pasien

10.

Mencegah pihak lain mengintervensi pasien dalam mengambil keputusan termasuk keluarga pasien sendiri

11.

Sabar menunggu keputusan yang akan diambil pasien pada kasus non emergensi

12.

Tidak berbohong ke pasien meskipun demi kebaikan pasien

13.

Menjaga hubungan (kontrak)

Autonomy

Autonomy

Pandangan Kant

Otonomi kehendak = otonomi moral, yaitu kebesan

 

bertindak, memutuskan atau memilih dan menentukan diri

sendiri sesuai dengan kesadaran terbaik bagi dirinya yang

ditentukan sendiri tanpa hambatan, paksaan, atau campur

tangan pihak luar (heteronomi), suatu motivasi dari dalam

berdasar prinsip rasional atau self-legislation dari manusia

Tell the truth

Hormatilah hak privasi orang lain, lindungi formasi

konfidensial, mintalah consent untuk intervensi diri pasien; bila ditanya, bantulah membuat keputusan penting

Justice

 

Kriteria

1.

Memberlakukan sesuatu secara universal

2.

Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan

3.

Memberi kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama

4.

Menghargai hak sehat pasien

5.

Menghargai hak hukum pasien

6.

Menghargai hak orang lain

7.

Menjaga kelompok yang rentan

8.

Tidak melakukan penyalahgunaan

9.

Bijak dalam makro alokasi

10.

Memberikan kontribusi yang relative sama dengan kebutuhan pasien

11.

Meminta partisipasi pasien sesuai kemampuannya

12.

Kewajiban mendistribusikan keuntungan dan kerugian (biaya, beban, sanksi)

secara adil

13.

Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat dan kompeten

14.

Tidak memberi beban berat secara tidak merata tanpa alas an tepat/sah

15.

Menghormati hak populasi yang sama-sama rentan penyakit/gangguan

kesehatan

16.

Tidak membedakan pelayanan pasien atas dasar SARA, status social, dsb

Justice

Justice (Keadilan)

Memberi perlakuan sama untuk setiap orang (keadilan sebagai fairness), yaitu:

Memberi sumbangan dan menuntut pengorbanan relatif sama terhadap kebahagiaan diukur dari kebutuhan dan kemampuan pasien

Jenis keadilan:

Komparatif (perbandingan antarkebutuhan penerima)

Distributif (membagi sumber): sesuai keselarasan sifat dan tingkat perbedaan jasmani-rohani ;

secara material kepada:

Setiap orang andil yang sama

Setiap orang sesuai kebutuhannya

Setiap orang sesuai upayanya

Setiap orang sesuai jasanya

Sosial: kebajikan melaksanakan dan memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bersama

Utilitarian: memaksimalkan kemanfaatan publik dengan strategi menekankan efisiensi sosial dan memaksimalkan nikmat/ keuntungan bagi pasien

Libertarian: menekankan hak kemerdekaan sosial-ekonomi (mementingkan prosedur adil > hasil

substansif atau materiil)

Komunitarian: mementingkan tradisi komunitas tertentu

Egalitarian: kesamaan akses terhadap nikmat dalam hidup yang dianggap bernilai oleh setiap individu rasional (sering menerapkan kriteria material kebutuhan bersama)

Hukum (umum)

Tukar-menukar: kebajikan memberkan atau mengembalikan hak-hak kepada yang berhak

Pembagian sesuai denan hukum (pengaturan untuk kedamaian hidup bersama) mencapai kesejahteraan umum

VISUM ET REPERTUM

VISUM ET REPERTUM (VER)

VeR : Keterangan yang dibuat oleh dokter atas permintaan

penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medis terhadap manusia, baik hidup atau mati untuk kepentingan peradilan.

Dasar: PASAL 133 KUHAP

Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga

karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang

mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran

kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya

Pasal 7(1) butir h dan pasal 11 KUHAP: yang berwenang meminta keterangan ahli → penyidik & penyidik pembantu

Pengantar Medikolegal, Budi Sampurna

Siapa Yang Berhak Membuat VER?

Dalam pasal 133 KUHAP disebutkan: penyidik berwenang

untuk mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya.

Sebenarnya boleh saja seorang dokter yang bukan dokter spesialis forensik membuat dan mengeluarkan visum et repertum.

Tetapi, di dalam penjelasan pasal 133 KUHAP dikatakan

bahwa keterangan ahli yang diberikan oleh dokter spesialis forensik merupakan keterangan ahli, sedangkan yang

dibuat oleh dokter selain spesialis forensik disebut

keterangan.

Syarat Pembuatan Visum et Repertum

Syarat yang menyangkut prosedur yang harus dipenuhi dalam

pembuatannya, yaitu:

Permintaan visum et repertum haruslah secara tertulis (sesuai dengan pasal 133 ayat 2 KUHAP)

Pemeriksaan atas mayat dilakukan dengan cara bedah, jika ada

keberatan dari pihak keluarga korban, maka pihak polisi atau

pemeriksa memberikan penjelasan tentang pentingnya dilakukan bedah mayat.

Permintaan visum et repertum hanya dilakukan terhadap peristiwa pidana yang baru terjadi, tidak dibenarkan permintaan atas

peristiwa yang telah lampau.

Polisi wajib menyaksikan dan mengikuti jalannya pemeriksaan.

Isi visum et repertum tidak bertentangan dengan ilmu kedokteran

yang telah teruji kebenarannya

Permintaan VeR menurut Ps.133 KUHAP

WEWENANG PENYIDIK

TERTULIS (RESMI)

TERHADAP KORBAN, BUKAN TERSANGKA

ADA DUGAAN AKIBAT PERISTIWA PIDANA

BILA MAYAT :

IDENTITAS PADA LABEL

JENIS PEMERIKSAAN YANG DIMINTA

DITUJUKAN KEPADA : AHLI KEDOKTERAN FORENSIK /

DOKTER DI RUMAH SAKIT

Pengantar Medikolegal, Budi Sampurna

Ketentuan Lain dalam VeR Korban Hidup

SURAT PERMINTAAN VER DAPAT “TERLAMBAT” :

KORBAN LUKA DIBAWA KE DOKTER (RS) DULU SEBELUM KE POLISI

SPV MENYEBUTKAN PERISTIWA PIDANA YANG DIMAKSUD

VER = SURAT KETERANGAN, JADI DAPAT DIBUAT

BERDASARKAN REKAM MEDIS (RM telah menjadi barang

bukti sejak datang SPV)

PEMBUATAN VER TANPA IJIN PASIEN, SEDANGKAN SKM

LAIN HARUS DENGAN IJIN.

SEBAIKNYA DIANTAR PETUGAS AGAR DAPAT DIPASTIKAN IDENTITAS KORBAN DAN STATUSNYA SEBAGAI “BARANG BUKTI”

Pengantar Medikolegal, Budi Sampurna

VeR dan Rekam Medis

Seorang pasien yang datang berobat ke RS dengan perlukaan

dan/atau keracunan, apalagi dengan anamnesis yang menunjukkan

adanya kemungkinan kaitan dengan suatu tindak pidana, pertama- tama harus DIANGGAP sebagai kasus forensik, tanpa melihat ada

atau tidaknya Surat Permintaan VER dari polisi.

Dokter yang menangani pasien ini harus melakukan pencatatan

anamnesis secara lengkap dan detil. Pemeriksaan fisik dilakukan

seperti biasa, akan tetapi pencatatan luka-lukanya dilakukan secara lengkap dan mendetil.

VER kasus forensik klinik dibuat berdasarkan rekam medis korban, yang dibuat oleh dokter IGD, dokter yang merawat, SpF maupun

perawat. Suatu VER yang baik hanya dapat dihasilkan dari Rekam

Medis (RM) yang baik pula.

Cara Pencatatan Rekam Medis untuk Kasus Forensik Klinik, Djaja Surya Atmadja

Rahasia VeR

Peraturan Pemerintah No.10 tahun 1966 tentang

Wajib Simpan Rahasia Kedokteran

Penggunaan keterangan ahli, atau VeR hanya

untuk keperluan peradilan

Berkas VeR hanya boleh diserahkan kepada penyidik yang memintanya.

Untuk mengetahui isi VeR, pihak lain harus melalui aparat peradilan, termasuk keluarga korban

Sanksi Hukum Bila Menolak Pembuatan VeR

PASAL 216 KUHP

Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau

permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh

pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah,

menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna

menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara

paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling

banyak sembilan ribu rupiah.

Pengantar Medikolegal, Budi Sampurna

Visum et Repertum
Visum et
Repertum
Visum et Repertum Antemortem Postmortem Visum sementara Visum definitif Visum lanjutan Pemeriksaan luar Pemeriksaan
Visum et Repertum Antemortem Postmortem Visum sementara Visum definitif Visum lanjutan Pemeriksaan luar Pemeriksaan
Visum et Repertum Antemortem Postmortem Visum sementara Visum definitif Visum lanjutan Pemeriksaan luar Pemeriksaan
Visum et Repertum Antemortem Postmortem Visum sementara Visum definitif Visum lanjutan Pemeriksaan luar Pemeriksaan
Antemortem
Antemortem
Postmortem
Postmortem
Visum et Repertum Antemortem Postmortem Visum sementara Visum definitif Visum lanjutan Pemeriksaan luar Pemeriksaan
Visum et Repertum Antemortem Postmortem Visum sementara Visum definitif Visum lanjutan Pemeriksaan luar Pemeriksaan
Visum et Repertum Antemortem Postmortem Visum sementara Visum definitif Visum lanjutan Pemeriksaan luar Pemeriksaan
Visum et Repertum Antemortem Postmortem Visum sementara Visum definitif Visum lanjutan Pemeriksaan luar Pemeriksaan
Visum sementara Visum definitif Visum lanjutan
Visum
sementara
Visum definitif
Visum lanjutan
Pemeriksaan luar
Pemeriksaan
luar
Pemeriksaan dalam (Otopsi)
Pemeriksaan
dalam (Otopsi)
Otopsi anatomis Otopsi klinis Otopsi forensik
Otopsi
anatomis
Otopsi klinis
Otopsi forensik

Jenis Visum et Repertum Korban Hidup

Visum et repertum biasa/tetap. Visum et repertum ini

diberikan kepada pihak peminta (penyidik) untuk korban yang tidak memerlukan perawatan lebih lanjut.

Visum et repertum sementara. Visum et repertum sementara diberikan apabila korban memerlukan perawatan lebih lanjut karena belum dapat membuat diagnosis dan derajat lukanya. Apabila sembuh

dibuatkan visum et repertum lanjutan.

Visum et repertum lanjutan. Dalam hal ini korban tidak

memerlukan perawatan lebih lanjut karena sudah sembuh,

pindah dirawat dokter lain, atau meninggal dunia.

Visum et repertum untuk orang mati (jenazah)

Pada pembuatan visum et repertum ini, dalam

hal korban mati maka penyidik mengajukan

permintaan tertulis kepada pihak Kedokteran

Forensik untuk dilakukan bedah mayat

(outopsi).

Jenis VeR lainnya

Visum et repertum Tempat Kejadian Perkara (TKP). Visum ini dibuat setelah dokter selesai melaksanakan pemeriksaan di TKP.

Visum et repertum penggalian jenazah. Visum ini dibuat setelah dokter

selesai melaksanakan penggalian jenazah.

Visum et repertum psikiatri . Visum pada terdakwa yang pada saat pemeriksaan di sidang pengadilan menunjukkan gejala-gejala penyakit

jiwa.

Visum et repertum barang bukti. Misalnya visum terhadap barang bukti yang ditemukan yang ada hubungannya dengan tindak pidana, contohnya darah, bercak mani, selongsong peluru, pisau.

KEJAHATAN SUSILA

Kejahatan Susila

Persetubuhan yang diancam di KUHP meliputi pemerkosaan,

persetubuhan dengan wanita tidak berdaya, persetubuhan dengan

wanita yang belum cukup umur.

Dokter wajib membuktikan:

Adanya persetubuhan (deflorasi hymen, laserasi vulva atau vagina, sperma dalam vagina paling sering terdapat pada fornix posterior)

Adanya tindak kekerasan (memberikan racun/obat/zat agar menjadi

tidak berdaya)

Usia korban

Menentukan pantas tidaknya korban untuk dikawin

Adanya penyakit menular seksual, kehamilan, kelainan pskiatrik atau

kejiwaan

Pada institusi yang memiliki dokter spesialis kandungan,

pemeriksaan untuk kasus kejahatan susila dilakukan oleh spesialis

tersebut, bila tidak ada dilakukan oleh dokter umum

Menentukan Ada Tidaknya Persetubuhan

Persetubuhan adalah peristiwa di mana alat kelamin laki-laki masuk

ke dalam alat kelamin perempuan, sebagian atau seluruhnya.

Tanda pasti persetubuhan adalah adanya sperma dalam vagina.

Adanya robekan pada selaput dara bukanlah tanda pasti

persetubuhan, karena robekan pada selaput dara hanya menunjukkan bahwa ada benda padat yang masuk ke dalam kelamin perempuan.

Pada pelaku yang aspermia, pemeriksaan ditujukan untuk

mendeteksi adanya air mani dalam vagina.

Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses Penyidikan. Abdul Muniem Idries. 2011.

Menentukan Adanya Tanda Kekerasan

Memeriksa apakah ada bekas luka

berdasarkan daerah yang terkena, berapa perkiraan kekuatan kekerasan.

Bila tidak ditemukan luka, ada kemungkinan

dilakukan pembiusan sebelum kejahatan

seksual. Maka perlu dicari adanya racun serta gejala racun tersebut pada korban.

Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses Penyidikan. Abdul Muniem Idries. 2011.

Memperkirakan Umur

Dapat dilakukan dari pemeriksaan gigi geligi

atau pemeriksaan foto rontgen tulang.

Perkiraan umur diperlukan untuk menentukan

apakah korban dan/atau pelaku sudah dewasa

(21 tahun ke atas).

Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses Penyidikan. Abdul Muniem Idries. 2011.

Menentukan Pantas Tidaknya Korban Untuk

Dikawin

Pengertian pantas tidaknya untuk dikawin

dinilai dari apakah korban telah siap untuk dibuahi yang dimanifestasikan dengan sudah

mengalami menstruasi.

Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses Penyidikan. Abdul Muniem Idries. 2011.

PEMERIKSAAN DALAM KASUS KEJAHATAN

SEKSUAL

P E M E R I K S A A N

S E M E N

Pemeriksaan

visual

Pada pakaian, bercak mani berbatas tegas dan warnanya lebih gelap daripada sekitarnya. Dan Bercak yang sudah agak tua berwarna kekuningan.

Perabaan dan penciuman

Bercak mani teraba kaku seperti kanji. Pada tekstil yang tidak menyerap, bila tidak teraba kaku, masih dapat dikenali dari permukaan bercak yang teraba kasar. Pada penciuman, bau air mani seperti klorin (pemutih) atau bau ikan

Ultraviolet (UV)

Semen kering (bercak semen) berfluoresensi (bluish-white) putih

kebiruan di bawah iluminasi UV dan menunjukkan warna yang

sebelumnya tak nampak. Namun Pemeriksaan ini tidak spesifik,sebab nanah, fluor albus, bahan makanan, urin, dan serbuk deterjen yang

tersisa pada pakaian sering berflouresensi juga.

M e t o d e

F l o r e n c e

M e t o d e

B e r b e r i o

F o s f a t a s e a s a m

M e t o d e

PA N

P E M E R I K S A A N

K I M I A W I

Cairan vaginal atau bercak mani yang sudah dilarutkan,

ditetesi larutan yodium (larutan Florence) di atas objek glass Hasil yang diharapkan: kristal-kristal kholin peryodida

tampak berbentuk jarum-jarum / rhomboid yang berwarna

coklat gelap

Cairan vagina atau bercak semen yang sudah dilarutkan, diteteskan pada objek glass, lalu ditambahkan asam pikrat dan diamati di bawah mikroskop.

Hasil yang diharapkan: Kristal spermin pikrat akan terbentuk

rhomboik atau jarum yang berwarna kuning kehijauan.

Dapat dilakukan pada cairan vagina dan pada bercak semen

di pakaian.

Hasil yang diharapkan: warna ungu timbul dalam waktu kurang dari 30 detik, berarti asam fosfatase berasal dari

prostat.

30 detik, berarti asam fosfatase berasal dari prostat. Bercak pada pakaian diekstraksi dengan cara menempelkan
30 detik, berarti asam fosfatase berasal dari prostat. Bercak pada pakaian diekstraksi dengan cara menempelkan
30 detik, berarti asam fosfatase berasal dari prostat. Bercak pada pakaian diekstraksi dengan cara menempelkan

Bercak pada pakaian diekstraksi dengan cara menempelkan

kertas saring Whatman no.2 yang dibasahi dengan

aquadest, selama 10 menit. Hasil positif menunjukkan warna merah jambu.

PEMERIKSAAN CAIRAN MANI

Sampel :

1. Forniks posterior vagina Fosfatase asam, PAN, Berberio, Florence

2. Bercak pada pakaian Pemeriksaan Taktil, Visual, Sinar UV,

Fosfatase asam, PAN, Berberio, Florence

Pemeriksaan Sperma

Pemeriksaan Sperma tanpa pewarnaan

Tujuan: Untuk melihat motilitas spermatozoa.

Pemeriksaan ini paling bermakna untuk

memperkirakan saat terjadinya persetubuhan.

Sperma didalam liang vagina masih dapat

bergerak dalam waktu 4 5 jam post-coitus;

sperma masih dapat ditemukan tidak bergerak

sampai sekitar 24-36 jam post coital dan bila

wanitanya mati masih akan dapat ditemukan 7-8

hari.

Pemeriksaan Sperma

Pemeriksaan dengan pewarnaan

Bila sediaan dari cairan vagina, dapat diperiksa

dengan Pulas dengan pewarnaan gram, giemsa

atau methylene blue atau dengan pengecatan

Malachite-green.

Bila berasal dari bercak semen (misalnya dari

pakaian), diperiksa dengan pemeriksaan Baechii.

Hasil: spermatozoa dengan kepala berwarna

merah dan ekor berwarna biru muda terlihat

banyak menempel pada serabut benang

Pewarnaan Malachite Green

Keuntungan dengan pulasan ini

adalah inti sel epitel dan leukosit tidak terdiferensiasi, sel epitel

berwarna merah muda merata dan

leukosit tidak terwarnai. Kepala

spermatozoa tampak berwarna

ungu, bagian hidung merah muda.

Dikatakan positif, apabila

ditemukan sperma paling sedikit

satu sperma yang utuh.

ungu, bagian hidung merah muda. • Dikatakan positif, apabila ditemukan sperma paling sedikit satu sperma yang

Pewarnaan Baechii

Reagen dapat dibuat dari : Acid

fuchsin 1 % (1 ml), Methylene

blue 1 % (1 ml), Asam klorida 1

% (40 ml).

Hasil : Serabut pakaian tidak berwarna, spermatozoa dengan

kepala berwarna merah dan ekor

berwarna biru muda terlihat

banyak menempel pada serabut

benang.

spermatozoa dengan kepala berwarna merah dan ekor berwarna biru muda terlihat banyak menempel pada serabut benang.

OTOPSI

J

E N I S

O T O P S I

OTOPSI KLINIS

OTOPSI

FORENSIK

OTOPSI

ANATOMI

JENIS OTOPSI

D E S

K R I P S

I

Pada kematian wajar, dilakukan untuk mengetahui sebab kematian dan perjalanan penyakit

Tidak harus menyeluruh

Harus ada persetujuan keluarga

Contoh: pada kasus orangtua meninggal mendadak saat tidur

Pada kecurigaan keamtian tidak wajar

Dilakukan menyeluruh

Tidak perlu persetujuan keluarga, yang perlu adalah keluarga

diberitahukan (KUHAP 133 dan 134)

Bila keluarga menolak, polisi tunggu 2 x 24 jam dengan maksud untuk pendekatan kepada keluarga. Bila setelah 2 x 24 jam keluarga menolak

maka otopsi telah dikerjakan.

Untuk kepentingan pendidikan

Mayat yang diautopsi biasanya dari gelandangan, tapi tidak dapat

langsung diotopsi, tetapi harus menunggu selama satu tahun. Sementara menunggu, mayat diawetkan dalam lemari pendingin atau difiksasi. Bila dalam 1 tahun tidak ada keluarganya maka dilakukan otopsi anatomi.

TANATOLOGI

TANATOLOGI

Thanatologi adalah topik dalam ilmu kedokteran forensik yang mempelajari hal mati serta perubahan yang terjadi pada tubuh setelah seseorang mati

Tanda Kematian tidak pasti :

1.

Pernafasan berhenti lebih dari 10 menit

2.

Sirkulasi berhenti lebih dari 15 menit

3.

Kulit pucat

4.

Tonus otot menghilang dan relaksasi

5.

Pembuluh darah retina mengalami segmentasi

6.

Pengeringan kornea menimbulkan kekeruhan dalam waktu 10 menit yang masih dapat dihilangkan dengan menggunakan air

Tanda Kematian Pasti

1.

Lebam Mayat (Livor mortis)

2.

Kaku Mayat (Rigor mortis)

3.

Penurunan suhu tubuh (algor mortis)

4.

Pembusukan (decomposition)

Budiyanto A dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Indonesia.

DECOMPOSITION: Affecting Factors
DECOMPOSITION:
Affecting Factors
EXTERNAL: • germs • temperature • air • water • medium
EXTERNAL:
germs
temperature
air
water
medium
INTERNAL:  age  condition  cause  sex
INTERNAL:
 age
 condition
 cause
 sex
Determining time of death
Determining time of death
EXAMINATIONS OF: • corpse; • witnesses; • location
EXAMINATIONS OF:
• corpse;
• witnesses;
• location
other cycle metab anaerobic in a living person metab in lactic + E gluc O
other cycle
metab
anaerobic
in a living person
metab
in
lactic + E
gluc
O
2
somatic
death
other
ADP
ATP
cycles
aerobic metab
primary relaxation
lactic +
E
gluc
no gluc
no metab
in
Accumulation
ADP & lactic
ADP
ATP
celullar
death
E
RIGIDITY/RIGOR MORTIS
relaxation
decomposition
contraction
secondary
relaxation

TANATOLOGI FORENSIK

Livor mortis atau lebam mayat

terjadi akibat pengendapan eritrosit sesudah

kematian akibat berentinya sirkulasi dan adanya

gravitasi bumi .

Eritrosit akan menempati bagian terbawah badan

dan terjadi pada bagian yang bebas dari tekanan.

Muncul pada menit ke-30 sampai dengan 2 jam.

Intensitas lebam jenazah meningkat dan menetap

8-12 jam.

Rigor mortis atau kaku mayat

terjadi akibat hilangnya ATP.

Rigor mortis akan mulai muncul 2 jam postmortem semakin

bertambah hingga mencapai maksimal pada 12 jam

postmortem.

Kemudian dipertahankan selama 12 jam, setelah itu akan berangsur-angsur menghilang sesuai dengan kemunculannya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kaku jenazah adalah suhu tubuh, volume otot dan suhu lingkungan.

Makin tinggi suhu tubuh makin cepat terjadi kaku jenazah.

Rigor mortis diperiksa dengan cara menggerakkan sendi fleksi dan antefleksi pada seluruh persendian tubuh.

Penurunan suhu badan

Pada saat sesudah mati, terjadi proses pemindahan

panas dari badan ke benda-benda di sekitar yang lebih

dingin secara radiasi, konduksi, evaporasi dan konveksi.

dipengaruhi oleh suhu lingkungan, konstitusi tubuh dan

pakaian.

Bila suhu lingkugan rendah, badannya kurus dan

pakaiannya tipis maka suhu badan akan menurun lebih

cepat.

Lama kelamaan suhu tubuh akan sama dengan suhu

lingkungan.

Pembusukan mayat (dekomposisi)

Terjadi akibat proses degradasi jaringan karena autolisis dan kerja

bakteri.

Mulai muncul 24 jam postmortem, berupa warna kehijauan dimulai dari daerah sekum menyebar ke seluruh dinding perut dan berbau busuk karena terbentuk gas seperti HCN, H2S dan lain-lain.

RUMUS CASPER untuk perbedaan kecepatan pembusukan udara:

air: tanah = 8:2:1

Ini disebabkan karena suhu di dalam tanah yang lebih rendah

terutama bila dikubur ditempat yang dalam, terlindung dari

predators seperti binatang dan insekta, dan rendahnya oksigen

menghambat berkembang biaknya organisme aerobik.

Thanatologi

Livor mortis Livor mortis lengkap mulai muncul dan menetap
Livor mortis
Livor mortis lengkap
mulai
muncul
dan menetap

0

20 30 2 6 8 12 24 36 mnt mnt jam jam jam jam jam
20
30
2
6
8
12
24
36
mnt
mnt
jam
jam
jam
jam
jam
jam
2 6 8 12 24 36 mnt mnt jam jam jam jam jam jam Rigor mortis

Rigor mortis mulai muncul

Rigor mortis

lengkap (8-10 jam)

Pembusuk

an mulai

tampak di

caecum

Pembus

ukan

tampak

di

seluruh

tubuh

Budiyanto A dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Indonesia.

PENURUNAN SUHU TUBUH (ALGOR MORTIS)

Approximate times for algor and rigor mortis in temperate regions Body temperature Body stiffness Time
Approximate times for algor and rigor mortis in temperate regions
Body temperature
Body stiffness
Time since death
warm
not stiff
dead not more than three
hours
warm
stiff
dead 3 to 8 hours
cold
stiff
dead 8 to 36 hours
cold
not stiff
dead more than 36 hours
SOURCE: Stærkeby, M. "What Happens after Death?" In the University of Oslo
Forensic Entomology [web site]. Available from
http://folk.uio.no/mostarke/forens_ent/afterdeath.shtml.

CADAVERIC SPASM

Cadaveric spasme atau instantaneous rigor adalah suatu keadaan dimana terjadi kekakuan pada sekelompok otot dan kadang-kadang pada seluruh otot, segera setelah terjadi kematian somatis dan tanpa melalui relaksasi primer.

Berhubungan dengan kehabisan cadangan glikogen dan ATO yang bersifat

setempat pada saat mati klinis karena kelelahan atau emosi yang hebat

sesaat sebelum meninggal

Dapat terjadi pada semua otot di tubuh akan tetapi biasanya pada grup

grup otot tertentu, misalnya otot lengan atas.

Kepentingan medikolegal adalah menunjukan sikap terakhir masa hidupnya, misalnya tangan menggenggam erat benda yang diraihnya pada

kasus tenggelam ; terjadi sesaat setelah kematian, sebelum onset normal

dari rigor mortis.

Cadaveric Spasme atau Rigor Mortis?

Bedakan rigor mortis dengan cadaveric

spasme.

Rigor mortis baru terjadi pada 2-4 jam pertama, terjadi secara komplit pada 6-12 jam paska kematian,dan terutama terlihat jelas pada otot otot kecil.

Cadavaric spasme segera setelah terjadi kematian

somatis. Dapat terjadi pada semua otot di tubuh

akan tetapi biasanya pada grup grup otot

tertentu.

Bedanya dengan stiffening

Heat stiffening : kekakuan otot akibat koagulasi protein oleh panas. Otot-otot berwarna merah muda, kaku, tetapi rapuh (mudah robek)

dapat dijumpai pada korban mati terbakar

pada heat stiffening serabut-serabut ototnya memendek

sehingga menimbulkan flexi leher, siku, paha, dan lutut,

membentuk sikap petinju (pugilistic attitude)

Cold stiffening : kekakuan tubuh akibat lingkungan dingin, sehingga terjadi pembekuan cairan tubuh, termasuk cairan sendi, pemadatan jaringan lemak subkutan dan otot, sehingga bila sendi ditekuk akan terdengar bunyi pecahnya

es dalam rongga sendi.

SEBAB-MEKANISME-CARA

KEMATIAN

SEBAB-MEKANISME-CARA KEMATIAN

Untuk dapat menentukan sebab kematian,

secara mutlak harus dilakukan otopsi.

Sedangkan perkiraan sebab kematian dapat

diteliti dari kelainan yang ditemukan pada

pemeriksaan luar.

Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses Penyidikan, A. Munim Idris, 2011

Sebab Kematian

Sebab kematian lebih ditekankan pada alat atau

sarana yang dipakai untuk mematikan korban.

Contoh: karena tenggelam, karena terbakar, karena

tusukan benda tajam, karena pencekikan, karena kekerasan benda tumpul.

Sebab kematian banyak membantu penyidik dalam melaksanakan tugas, misalnya untuk mencari dan

menyita benda yang diperkirakan dipakai sebagai alat

pembunuh, sehingga sebab kematian seperti mati

lemas tidak tepat.

Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses Penyidikan, A. Munim Idris, 2011

Mekanisme Kematian

Mekanisme kematian menunjukkan bagaimana

korban itu mati setelah umpamanya tertembak atau

tenggelam.

Contoh: karena perdarahan, karena refleks vagal, karena

hancurnya jaringan otak

Mekanisme lebih bersifat teoritis dan tidak selalu

dapat diketahui pasti

Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses Penyidikan, A. Munim Idris, 2011

Cara Kematian

Dalam ilmu kedokteran forensik dikenal 3 cara

kematian, yaitu:

1. Wajar: kematian korban karena penyakit, bukan

karena kekerasan atau rudapaksa.

2. Tidak wajar, yang dibagi menjadi kecelakaan, bunuh

diri, dan pembunuhan.

3. Tidak dapat ditentukan, yang disebabkan karena

keadaan mayat telah sedemikian rusak atau busuk

sehingga luka atau penyakit tidak dapat ditemukan

lagi.

Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses Penyidikan, A. Munim Idris, 2011

ASFIKSIA

Asfiksia atau mati lemas adalah suatu keadaan berupa berkurangnya kadar oksigen (O 2 ) dan berlebihnya kadar karbon dioksida (CO 2 ) secara bersamaan dalam darah dan jaringan

tubuh akibat gangguan pertukaran antara

oksigen (udara) dalam alveoli paru-paru

dengan karbon dioksida dalam darah kapiler

paru-paru.

Pemeriksaan Luar Post Mortem

Luka dan ujung-ujung ekstremitas sianotik (warna biru keunguan) yang disebabkan tubuh mayat lebih membutuhkan HbCO 2 daripada HbO 2 .

Tardieu’s spot pada konjungtiva bulbi dan palpebra. Tardieu’s spot merupakan bintik-bintik perdarahan (petekie) akibat pelebaran

kapiler darah setempat.

Lebam mayat cepat timbul, luas, dan lebih gelap karena terhambatnya pembekuan darah dan meningkatnya fragilitas/permeabilitas kapiler. Hal ini akibat meningkatnya kadar CO 2 sehingga darah dalam keadaan lebih cair. Lebam mayat lebih gelap karena meningkatnya kadar HbCO 2

Busa halus keluar dari hidung dan mulut. Busa halus ini disebabkan

adanya fenomena kocokan pada pernapasan kuat.

Pemeriksaan Dalam Post Mortem

Organ dalam tubuh lebih gelap & lebih berat dan ejakulasi

pada mayat laki-laki akibat kongesti / bendungan alat tubuh & sianotik.

Darah termasuk dalam jantung berwarna gelap dan lebih

cair.

Tardieu’s spot pada pielum ginjal, pleura, perikard, galea apponeurotika, laring, kelenjar timus dan kelenjar tiroid.

Busa halus di saluran pernapasan.

Edema paru.

Kelainan lain yang berhubungan dengan kekerasan seperti

fraktur laring, fraktur tulang lidah dan resapan darah pada

luka.

ASFIKSIA MEKANIK

ASFIKSIA MEKANIK

Penutupan lubang saluran pernafasan bagian atas:

Pembekapan (smothering)

Penyumbatan/ penyumpalan (gagging , choking)

Penekanan dinding saluran pernafasan:

Penjeratan (strangulation)

Pencekikan (manual strangulation)

Gantung (hanging)

External pressure of the chest yaitu penekanan dinding

dada dari luar.

Drowning (tenggelam) yaitu saluran napas terisi air.

Inhalation of suffocating gases.

Penyumbatan/ Penyumpalan (Gagging, Choking)

Asfiksia mekanik yang terjadi akibat tertutupnya rongga

mulut oleh benda asing, misalnya sapu tangan, tissue, makanan, dan sebagainya.

Pemeriksaan luar yang ditemukan pada kasus penyumpalan:

Pemeriksaan luar menunjukkan hipoksia akibat asfiksia secara umum.

Memar atau lecet pada bagian tubuh akibat perkelahian dengan

pelaku dapat ditemukan

Luka memar atau robek di rongga mulut dapat ditemukan

Lengan atau tungkai kadang ditemukan dalam keadaan terikat

Penjeratan

JENIS PENJERATAN:

Manual Strangulation :dilakukan dengan tangan dan tangan tidak perlu melingkari leher korban.

Palmar Strangulation :dilakukan dengan kedua tangan

,dimana tangan kanan pelaku ditekan horizontal pada

mulut korban dibantu tangan kiri yang menekan vertikal

sehingga telapak tangan kiri menekan leher korban bagian

depannya.

Garroting atau penjeratan dengan alat: dilakukan dengan

menyerang korban dari belakang dan menjeratnya dengan alat perjerat.

Ciri Penjeratan Dengan Alat

Alat penjerat yang biasanya dibawa oleh pelaku seperti tali, kawat, dll.

Sedang, alat yang biasa dibawa korban seperti selendang, dasi, stocking

atau kain lainnya.

Jumlah lilitan satu dengan simpul mati.

Alat penjerat berjalan mendatar, luka lecet umumnya melingkari leher secara keseluruhan.

Dapat ditemukan luka bulan sabit, yang disebabkan oleh kuku (baik kuku

penjerat atau kuku korban)

Patah tulang lidah (os. hyoid) tidak lazim kecuali didahului dengan

pencekikan.

Bila mekanisme kematiannya asfiksia, akan ditemukan kelainan mayat akibat mati lemas (lebam mayat yg lebih gelap dan luas, sianosis, bintik

pendarahan di mata, busa halus putih keluar dari mulut, darah tetap cair ,

dan sembabnya organ dalam tubuh)

Bila mekanisme kematiannya refleks vagal, maka kelainan yang ditemukan

terbatas pada alat penjerat dengan luka lecet tekan akibat alat penjerat.

Ciri Penjeratan Dengan Tangan (Pencekikan)

Manual Strangulation biasa dilakukan bila korbanya lebih lemah dari

si pelaku, seperti orang tua, anak-anak, wanita gemuk.

Adanya luka lecet pada bahu si pelaku berbentuk bulan sabit yang

disebabkan oleh kuku si pelaku.

Patahnya tulang lidah disertai dengan resapan darah di jaringan ikat dan otot sekitarnya.

Sembabnya kutub pangkal tenggorokan (epiglotis) dan jaringan

longgar di sekitarnya dengan bintik-bintik pendarahan.

Jika mekanisme kematiannya oleh asfiksia maka akan dijumpai

tanda-tanda asfiksia

Jika mekanisme kematiannya inhibisi vagal, kelainan terbatas pada bagian leher disertai tanda-tanda asfiksia.

Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pencekikan sekitar 30

detik-beberapa menit.

Pembekapan

Obstruksi mekanik aliran udara dari

lingkungan sekitar ke dalam mulut dan atau rongga hidung, yang menghambat pemasukan

udara ke paru-paru, dengan cara menutup

mulut dan hidung. Penutupan lubang hidung

dan mulut bisa menggunakan tangan, bantal,

atau kantong plastik.

Pemeriksaan Forensik pada Kasus Pembekapan

Kekerasan yang mungkin dapat ditemukan adalah luka lecet jenis tekan atau geser, jejas bekas jari/kuku di sekitar wajah, dagu, pinggir rahang, hidung, lidah dan gusi, yang mungkin terjadi akibat korban melawan.

Luka memar atau lecet dapat ditemukan pada bagian/permukaan dalam

bibir akibat bibir yang terdorong dan menekan gigi, gusi dan lidah. Ujung

lidah juga dapat mengalami memar atau cedera.

Bila pembekapan terjadi dengan benda yang lunak, misal dengan bantal,

maka pada pemeriksaan luar jenazah mungkin tidak ditemukan tandatanda kekerasan.

Ditemukan tanda-tanda asfiksia baik pada pemeriksaan luar maupun pada

pembedahan jenazah. Perlu pula dilakukan pemeriksaan kerokan bawah

kuku korban, adakah darah atau epitel kulit si pelaku.

PENGGANTUNGAN (HANGING)

Penggantungan (Hanging) adalah suatu keadaan

dimana terjadi konstriksi dari leher oleh alat penjerat

yang ditimbulkan oleh berat badan seluruh atau

sebagian.

Alat penjerat sifatnya pasif, sedangkan berat badan

sifatnya aktif sehingga terjadi konstriksi pada

leher. Umumnya penggantungan melibatkan tali, tapi

hal ini tidaklah perlu. Penggantungan yang terjadi

akibat kecelakaan bisa saja tidak terdapat tali.

Tipe Penggantungan

Suicidal hanging (gantung diri)

Paling banyak ditemui

Korban bunuh diri

Accidental hanging

Lebih banyak ditemukan pada anak-anak utamanya pada umur antara 6-12 tahun. Tidak ditemukan alasan untuk bunuh diri karena pada usia itu belum ada tilikan

dari anak untuk bunuh diri. Hal ini terjadi akibat kurangnya pengawasan dari orang

tua.

Pada orang dewasa, bisa terjadi akibat pelampiasan nafsu seksual yang

menyimpang.

Homicidal hanging

Pembunuhan yang dilakukan dengan metode menggantung korban.

Biasanya dilakukan bila korbannya anak-anak atau orang dewasa yang kondisinya lemah baik oleh karena penyakit atau dibawah pengaruh obat, alcohol, atau korban sedang tidur.

PENGGANTUNGAN ANTEMORTEM VS POSTMORTEM

NO

1

2

3

4

5

PENGGANTUNGAN ANTEMORTEM

Tanda-tanda penggantungan ante-mortem

bervariasi. Tergantung dari cara kematian

korban

Tanda jejas jeratan miring, berupa lingkaran

terputus (non-continuous) dan letaknya pada leher bagian atas

Simpul tali biasanya tunggal, terdapat pada

sisi leher

Ekimosis tampak jelas pada salah satu sisi dari

jejas penjeratan. Lebam mayat tampak di atas jejas jerat dan pada tungkai bawah

Pada kulit di tempat jejas penjeratan teraba

seperti perabaan kertas perkamen, yaitu tanda parchmentisasi

PENGGANTUNGAN POSTMORTEM

Tanda-tanda post-mortem menunjukkan kematian yang bukan disebabkan penggantungan

Tanda jejas jeratan biasanya berbentuk lingkaran utuh (continuous), agak sirkuler dan letaknya pada bagian leher tidak begitu tinggi

Simpul tali biasanya lebih dari satu, diikatkan dengan

kuat dan diletakkan pada bagian depan leher

Ekimosis pada salah satu sisi jejas penjeratan tidak ada atau tidak jelas. Lebam mayat terdapat pada bagian tubuh yang menggantung sesuai dengan posisi

mayat setelah meninggal

Tanda parchmentisasi tidak ada atau tidak begitu jelas

PENGGANTUNGAN ANTEMORTEM VS POSTMORTEM

NO

6

7

8

9

10

PENGGANTUNGAN ANTEMORTEM

Sianosis pada wajah, bibir, telinga, dan lain-

lain sangat jelas terlihat terutama jika

kematian karena asfiksia

Wajah membengkak dan mata mengalami

kongesti dan agak menonjol, disertai dengan gambaran pembuluh dara vena yang jelas

pada bagian dahi

Lidah bisa terjulur atau tidak sama sekali

Penis. Ereksi penis disertai dengan keluarnya cairan sperma sering terjadi pada korban pria.

Demikian juga sering ditemukan keluarnya

feses

Air liur. Ditemukan menetes dari sudut mulut,

dengan arah yang vertikal menuju dada. Hal

ini merupakan pertanda pasti penggantungan ante-mortem

PENGGANTUNGAN POSTMORTEM

Sianosis pada bagian wajah, bibir, telinga dan lain-lain tergantung dari penyebab kematian

Tanda-tanda pada wajah dan mata tidak terdapat,

kecuali jika penyebab kematian adalah pencekikan

(strangulasi) atau sufokasi

Lidah tidak terjulur kecuali pada kasus kematian

akibat pencekikan

Penis. Ereksi penis dan cairan sperma tidak

ada.Pengeluaran feses juga tidak ada

Air liur tidak ditemukan yang menetes pad kasus

selain kasus penggantungan.

GANTUNG DIRI VS PEMBUNUHAN

NO

1

2

3

4

5

PENGGANTUNGAN PADA BUNUH DIRI

Usia. Gantung diri lebih sering terjadi pada remaja dan orang dewasa. Anak-anak di bawah

usia 10 tahun atau orang dewasa di atas usia 50

tahun jarang melakukan gantung diri

Tanda jejas jeratan, bentuknya miring, berupa

lingkaran terputus (non-continuous) dan

terletak pada bagian atas leher

Simpul tali, biasanya hanya satu simpul yang

letaknya pada bagian samping leher

Riwayat korban. Biasanya korban mempunyai

riwayat untuk mencoba bunuh diri dengan cara lain

Cedera. Luka-luka pada tubuh korban yang bisa

menyebabkan kematian mendadak tidak

ditemukan pada kasus bunuh diri

PENGGANTUNGAN PADA PEMBUNUHAN

Tidak mengenal batas usia, karena tindakan pembunuhan dilakukan oleh musuh atau lawan dari korban dan tidak bergantung pada usia

Tanda jejas jeratan, berupa lingkaran tidak terputus,

mendatar, dan letaknya di bagian tengah leher,

karena usaha pelaku pembunuhan untuk membuat simpul tali

Simpul tali biasanya lebih dari satu pada bagian

depan leher dan simpul tali tersebut terikat kuat

Sebelumnya korban tidak mempunyai riwayat untuk bunuh diri

Cedera berupa luka-luka pada tubuh korban

biasanya mengarah kepada pembunuhan

GANTUNG DIRI VS PEMBUNUHAN

NO

6

7

8

9

10

PENGGANTUNGAN PADA BUNUH DIRI

Racun. Adanya racun dalam lambung korban,

misalnya arsen, sublimat korosif, dll tidak

bertentangan dengan kasus gantung diri. Rasa nyeri yang disebabkan racun tersebut mungkin

mendorong korban untuk gantung diri

Tangan tidak dalam keadaan terikat, karena sulit untuk gantung diri dalam keadaan tangan terikat

Kemudahan. Pada kasus bunuhdiri, biasanya tergantung pada tempat yang mudah dicapai

oleh korban atau di sekitarnya ditemukan alat

yang digunakan untuk mencapai tempat

tersebut

Tempat kejadian. Jika kejadian berlangsung di dalam kamar, dimana pintu, jendela ditemukan

dalam keadaan tertutup dan terkunci dari

dalam, maka kasusnya pasti merupakan bunuh

diri

Tanda-tanda perlawanan, tidak ditemukan pada

kasus gantung diri

PENGGANTUNGAN PADA PEMBUNUHAN

Terdapatnya racun berupa asam opium hidrosianat atau kalium

sianida tidak sesuai pada kasus pembunuhan, karena untuk hal ini perlu waktu dan kemauan dari korban itu sendiri. Dengan demikian

maka kasus penggantungan tersebut adalah karena bunuh diri

Tangan yang dalam keadaan terikat mengarahkan dugaan pada kasus pembunuhan

Pada kasus pembunuhan, mayat ditemukan tergantung pada

tempat yang sulit dicapai oleh korban dan alat yang digunakan

untuk mencapai tempat tersebut tidak ditemukan

Tempat kejadian. Bila sebaliknya pada ruangan ditemukan terkunci dari luar, maka penggantungan adalah kasus pembunuhan

Tanda-tanda perlawanan hampir selalu ada kecuali jika korban

sedang tidur, tidak sadar atau masih anak-anak.

Penggantungan vs Penjeratan

Dari pemeriksaan forensik, kasus

penggantungan dan penjeratan memiliki tanda yang serupa.

Yang membedakan penggantungan dan

penjeratan adalah tenaga yang dipakai pelaku

jauh lebih besar pada tindakan penjeratan, sehingga korban meninggal lebih cepat.

TENGGELAM

TIPE TENGGELAM

Tipe Kering (Dry drowning):

akibat dari reflek vagal yang dapat menyebabkan henti jantung atau akibat dari spasme laring karena masuknya air secara tiba-

tiba kedalam hidung dan traktus respiratorius bagian atas.

Banyak terjadi pada anak-anak dan dewasa yang banyak dibawah pengaruh obat-obatan (Hipnotik sedatif) atau alkohol

tidak adausaha penyelamatan diri saat tenggelam.

Tipe Basah (Wet drowning)

terjadi aspirasi cairan

Aspirasi air sampai paru menyebabkan vasokonstriksi pembuluh

darah paru. Air bergerak dengan cepat ke membran kapiler

alveoli. Surfaktan menjadi rusak sehingga menyebabkan instabilitas alveoli, ateletaksis dan menurunnya kemampuan paru untuk mengembang.

Tipe Tenggelam

Secondary drowning/near drowning

Korban masih hidup atau masih bisa diselamatkan

saat hampir tenggelam. Namun setelah dilakukan

resusitasi selama beberapa jam, akhirnya korban

meninggal.

Immersion syndrome

Korban meninggal tiba-tiba saat tenggelam pada air

yang sangat dingin

Akibat refleks vagal

Berdasarkan Lokasi Tenggelam

AIR TAWAR

Air dengan cepat diserap

dalam jumlah besar

hemodilusi hipervolemia dan

hemolisis massif dari sel-

sel darah merah

kalium intrasel akan

dilepas hiperkalemia fibrilasi ventrikel dan anoksia yang hebat pada miokardium.

AIR LAUT

Pertukaran elektrolit dari

air asin ke darah

natrium plasma meningkat air akan

ditarik dari sirkulasi

hipovolemia dan

hemokonsentrasi

hipoksia dan anoksia

Tanda Tenggelam

Tanda korban masih hidup saat tenggelam:

Ditemukannya tanda cadaveric spasme

Perdarahan pada liang telinga

Adanya benda asing (lumpur, pasir, tumbuhan dan binatang

air) pada saluran pernapasan dan pencernaan

Adanya bercak paltouf di permukaan paru

Berat jenis darah pada jantung kanan dan kiri berbeda

Ditemukan diatome

Adanya tanda asfiksia

Ditemukannya mushroom-like mass

5 Tanda Pasti Tenggelam

Terdapat tanda asfiksia

Diatome pada pemeriksaan getah paru

Bercak paltouf di permukaan paru

Berat jenis darah yang berbeda antara jantung

kiri dan kanan

Mushroom-like mass

Pemeriksaan Luar Korban Tenggelam

Mayat dalam keadaan basah berlumuran pasir dan benda-benda

asing lainnya yang terdapat di dalam air laut dan kadang-kadang bercampur lumpur.

Busa halus putih yang berbentuk jamur (mush room-like mass).

Masuknya cairan kedalam saluran pernafasan merangsang terbentuknya

mukus, substansi ini ketika bercampur dengan air dan surfaktan dari paru-

paru dan terkocok oleh karena adanya upaya pernafasan yang hebat. Busa

dapat meluas sampai trakea, bronkus utama dan alveoli.

Cutis anserina pada ekstremitas akibat kontraksi otot erector pilli yang dapat terjadi karena rangsangan dinginnya air.

Pemeriksaan Luar Korban Tenggelam

Washer woman hand. Telapak tangan dan kaki berwarna

keputihan dan berkeriput yang disebabkan karena inhibisi cairan ke dalam cutis dan biasanya membutuhkan waktu yang

lama.

Cadaveric spasme. Merupakan tanda vital yang terjadi pada

waktu korban berusaha menyelamatkan diri., dengan cara

memegang apa saja yang terdapat dalam air.

Luka lecet akibat gesekan benda-benda dalam air.

Penurunan suhu mayat

Lebam mayat terutama pada kepala dan leher

Pemeriksaan Dalam Korban Tenggelam

Pemeriksaan terutama ditujukan pada sistem pernapasan, busa halus putih

dapat mengisi trakhea dan cabang-cabangnya, air juga dapat ditemukan,

demikian pula halnya dengan benda-benda asing yang ikut terinhalasi bersama

benda air.

Benda asing dalam trakhea dapat tampak secara makroskopis misalnya pasir, lumpur, binatang air, tumbuhan air dan lain sebagainya; sedangkan yang tampak secara mikroskopis diantaranya telur cacing dan diatome (ganggang kersik).

Pleura dapat berwarna kemerahan dan terdapat bintik-bintik perdarahan.

Perdarahan ini dapat terjadi karena adanya kompresi terhadap septum

interalveoli, atau oleh karena terjadinya fase konvulsi akibat kekurangan oksigen.

Bercak perdarahan yang besar (diameter 3-5 cm), terjadi karena robeknya partisi inter alveolar, dan sering terlihat di bawah pleura; bercak ini disebut sebagai bercak ” Paltauf ”.

Bercak berwarna biru kemerahan dan banyak terlihat pada bagian bawah paru-paru,

yaitu pada permukaan anterior dan permukaan antar bagian paru-paru.

Pemeriksaan Dalam Korban Tenggelam

Kongesti pada laring

Emphysema aquosum atau emphysema

hyroaerique yaitu paru-paru tampak pucat

dengan diselingi bercak-bercak merah di antara

daerah yang berwarna kelabu;

Obstruksi pada sirkulasi paru-paru akan

menyebabkan distensi jantung kanan dan

pembuluh vena besar dan keduanya penuh berisi

darah yang merah gelap dan cair, tidak ada

bekuan.

PEMERIKSAAN KHUSUS PADA KASUS TENGGELAM

Terdapat pemeriksaan khusus pada kasus mati

tenggelam (drowning), yaitu :

Percobaan getah paru (lonset proef)

Pemeriksaan diatome (destruction test)

Pemeriksaan kimia darah (gettler test & Durlacher

test).

Tes getah paru (lonset proef)

Kegunaan melakukan percobaan paru (lonsef proef)

yaitu mencari benda asing (pasir, lumpur, tumbuhan,

telur cacing) dalam getah paru-paru mayat.

Syarat melakukannya adalah paru-paru mayat harus segar / belum membusuk.

Cara melakukan percobaan getah paru (lonsef proef)

yaitu permukaan paru-paru dikerok (2-3 kali) dengan

menggunakan pisau bersih lalu dicuci dan iris

permukaan paru-paru. Kemudian teteskan diatas objek

gelas. Syarat sediaan harus sedikit mengandung

eritrosit.

Tes Diatom

TES DIATOM

Diatom adalah alga atau ganggang

bersel satu dengan dinding terdiri dari silikat (SiO 2 ) yang tahan panas dan asam kuat.

Bila seseorang mati karena tenggelam maka cairan bersama

diatome akan masuk ke dalam

saluran pernafasan atau pencernaan

kemudian diatome akan masuk kedalam aliran darah melalui

kerusakan dinding kapiler pada waktu

korban masih hidup dan tersebar keseluruh jaringan.

4 CARA PEMERIKSAAN DIATOM:

Pemeriksaan mikroskopik langsung.

Pemeriksaan permukaan paru disiram

dengan air bersih iris bagian perifer ambil sedikit cairan perasan dari

jaringan perifer paru, taruh pada

gelas objek tutup dengan kaca penutup. Lihat dengan mikroskop.

Pemeriksaan mikroskopik jaringan dengan metode Weinig dan Pfanz.

Chemical digestion. Jaringan dihancurkan dengan menggunakan asam kuat sehingga diharapkan

diatom dapat terpisah dari jaringan

tersebut.

Inseneration. Bahan organik

dihancurkan dengan pemanasan

dalam oven.

Tes Kimia Darah

TEST KIMIA DARAH

Mengetahui ada tidaknya hemodilusi atau

hemokonsentrasi pada

masing-masing sisi dari jantung, dengan cara memeriksa gaya berat spesifik

dari kadar elektrolit antara lain

kadar sodium atau clorida dari serum masing-masing sisi.

Dianggap reliable jika

dilakukan dalam waktu 24 jam

setelah kematian

Test Gettler: Menunjukan

adanya perbedaan kadar

klorida dari darah yang diambil

dari jantung kanan dan

jantung kiri. Pada korban

tenggelam di air laut kadar klorida darah pada jantung kiri

lebih tinggi dari jantung kanan.

Tes Durlacher: Penentuan

perbedaan berat plasma

jantung kanan dan kiri. Pada semua kasus tenggelam berat

jenis plasma jantung kiri lebih

tinggi daripada jantung kanan .

INHALATION OF SUFFOCATING

GASSES

Inhalation of suffocating gasses

Ada 3 cara kematian pada korban kasus

inhalation of suffocating gasses, yaitu menghisap

gas :

1. CO

2. CO2

3. H2S

Gas CO banyak pada kebakaran hebat. Gas CO2

banyak pada sumur tua dan gudang bawah tanah.

Gas H2S pada tempat penyamakan kulit.

Perbedaan Keracunan CO dan Keracunan CO2

Perbedaan terutama terlihat pada warna

darah korban.

Pada keracunan CO, darah berwarna merah bata (cherry red)

Pada keracunan CO2, darah berwarna merah gelap.

Keracunan CO

Diagnosis keracunan CO pada korban hidup biasanya

berdasarkan anamnesis adanya kontak dan ditemukannya

gejala keracunan CO.

Pada jenazah, dapat ditemukan warna lebam mayat yang

berupa Cherry Red pada kulit, otot, darah dan organ-organ

interna, yang tampak jelas bila kadar COHb mencapai 30%

atau lebih. Akan tetapi pada orang yang anemik atau mempunyai kelainan darah warna cherry red ini menjadi sulit dikenali.

Pemeriksaan Laboratorium:

Uji Kualitatif, menggunakan 2 cara: uji dilusi alkali dan uji formalin

Uji Kuantitatif menggunakan cara Gettler-Freimuth

Keracunan CN

Pemeriksaan luar jenazah dapat tercium bau amandel yang merupakan

tanda patognomonik untuk keracunan CN, dengan cara menekan dada

mayat sehingga akan keluar gas dari mulut dan hidung.

Selain itu didapatkan sianosis pada wajah dan bibir, busa keluar dari

mulut, dan lebam jenazah berwarna merah terang, karena darah kaya

akan oksi hemoglobin (karena jaringan dicegah dari penggunaan oksigen) dan ditemukannya cyanmethemoglobin.

Pemeriksaan selanjutnya biasanya tidak memberikan gambaran yang khas.

Pada korban yang menelan garam alkali sianida, dapat ditemukan kelainan

pada mukosa lambung berupa korosi dan berwarna merah kecoklatan

karena terbentuk hematin alkali dan pada perabaan mukosa licin seperti sabun.

Korosi dapat mengakibatkan perforasi lambung yang dapat terjadi antemortal dan postmortal.

Pemeriksaan Intoksikasi CO2 ( GAS

ASAM ARANG)

Berat jenis CO2 1,52 kali dibandingkan dgn udara shg terdapat ditempat yg rendah & tidak mudah hilang.

Contoh : Terdapat dalam sumur tua, palka kapal, goa-goa,

kasus gerbong maut.

Sebelum menguras sumur sebaiknya dites dulu dengan

ayam/burung yang dimasukkan kedalamnya.

Pemeriksan tes gas CO2 ini dengan menambah air kapur Ca(OH)2 kedalam sample gas air keruh keputihan

(ENDAPAN PUTIH )

Cara mengambil sample gas :

Botol 5-10 liter dikat di 2 tempat, leher &

didasarnya,kemudian diisi air & diturunkan ditempat yg

mau diperiksa. Sampai di bawah botol kemudian dibalik, air akan keluar & gas akan masuk dalam botol. Botol

diangkat & ditutup rapat

Pemeriksaan Intoksikasi CO

(CARBON MONOKSIDA )

Berat jenis CO sedikit lebih ringan dari udara.

Mempunyai sifat mengikat Hb 210 kali lebih cepat dari O2.

Contoh : Kebakaran gedung, Meninggal dunia dlm

mobil dengan mesin & alat pendingin dlm hidup &

knalpot bocor, Ruang ventilasinya kurang dgn

adanya alat pemanas menggunakan gas

dapur/bensin.

Tes pemeriksaan drh korban dgn ALKALI DILUTION

TEST. Sebagai kontrol ialah darah orang normal yg

bukan perokok.

Lebam mayat berwarna merah terang (CHERRY RED)

H2S (HYDROGEN SULFIDA)

Gas H2S berat jenis 1,19 kali lebih berat dari

pada udara.

Contoh : Pada penguraian bahan yg

mengandung S (Sulfur) tdpt dipabrik

penyaman kulit,selokan yg tertutup, dijamban.

Test terhadap sample gas dgn Pb Asetat.

PEMERIKSAAN PADA KASUS KERACUNAN SIANIDA

Pemeriksaan luar: korban mati tercium amandel dengan

menekan dada mayat sehingga akan keluar gas dari mulut dan hidung. Sianosis pada wajah & bibir, busa keluar dari mulut, &

lebam mayat berwarna merah terang, karena darah vena kaya akan oksi-Hb.

Pemeriksaan bedah jenasah: dapat tercium bau amandel saat

membuka ronga dada, perut & otak serta lambung (bila racun

melalui mulut). Darah, otot & penampang organ tubuh dapat

berwarna merah terang. Selanjutnya hanya ditemukan tanda

asfiksia pada organ tubuh.

Pemeriksaan Laboratorium Kasus Keracunan Sianida

Uji kertas saring menggunakan asam pikrat jenuh: Kertas tersebut

dicelupkan kedalam darah korban, bila positif berubah menjadi

warna merah terang (sianmethemoglobin).

Reaksi Schonbein-Pagenstecher (reaksi Guajacol): Pada reaksi ini bila hasilnya positif akan membentuk warna biru hijau pada kerta

saring. Reaksi ini tidak spesifik, hasil positif semu didapat bila isi

lambung mengandung klorin, nitrogen oksida atau ozon sehingga reaksi ini hanya untuk skrining.

Reaksi Prussian Blue: hasil positif menunjukkan endapan larut dan terbetuk warna biru berlin.

Cara Gettler Goldbaum: hasil positif ditunjukkan oleh perubahan warna kertas saring menjadi biru.

Tipe Anoksia

Anoksia Anoksik (Anoxic anoxia)

Pada tipe ini O2 tidak dapat masuk ke dalam paru-paru karena tidak ada atau tidak cukup O2. Misalnya kepala di tutupi kantong plastik, udara yang kotor atau busuk, udara lembab, bernafas dalam selokan tetutup atau di

pegunungan yang tinggi. Ini di kenal dengan asfiksia murni atau sufokasi.

Anoksia Anemia (Anemia anoxia)

Tidak cukup hemoglobin untuk membawa oksigen.

Contoh: perubahan kadar Hb dalam darah pada anemia berat dan perdarahan

yang tiba-tiba.

Anoksia Hambatan (Stagnant anoxia)

Tidak lancarnya sirkulasi darah yang membawa oksigen. Ini bisa karena gagal

jantung, syok dan sebagainya. Dalam keadaan ini tekanan oksigen cukup tinggi, tetapi sirkulasi darah tidak lancar. Keadaan ini diibaratkan lalu lintas

macet tersendat jalannya.

Anoksia Jaringan (Hystotoxic anoxia)

Gangguan terjadi di dalam jaringan sendiri, sehingga jaringan atau tubuh tidak

dapat menggunakan oksigen secara efektif.

Warna Lebam Mayat

Dalam keadaan normal, lebam mayat

berwarna merah keunguan.

Intoksikasi

Warna Lebam Mayat

Karbon monoksida

Merah bata (cherry red)

Karbon dioksida

Merah gelap

Sianida

Merah terang (bright red)

Nitrit, Potasium, Anilin, Benzena dan zat

Merah coklat atau coklat

lain yang menyebabkan methemoglobinemia

Fosfat

Coklat gelap (dark brown)

http://www.forensicpathologyonline.com/e-book/post-mortem-changes/post-mortem-hypostasis

INFANTICIDE

Pembunuhan Anak Sendiri

Pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu

atas anaknya pada ketika dilahirkan atau tidak

berapa lama setelah dilahirkan, karena takut

ketahuan bahwa ia melahirkan anak (Pasal 341).

Dokter yang memeriksa mayat bayi, harus

mencantumkan hal hal berikut

Apakah lahir mati atau hidupUji apung paru

Berapakah umur bayi tersebut (intra dan

ekstrauterine)

Apakah bayi tersebut sudah dirawat

Apakah penyebab kematiannya

Pembunuhan Anak Sendiri

Patokan korban baru dilahirkan berdasarkan tidak adanya

tanda-tanda perawatan:

Masih berlumuran darah

Tali pusat belum dirawat

Adanya lemak bayi yang jelas

Belum diberi pakaian

Tanda lahir hidup:

Makroskopis: dada tampak mengembang, diafragma sudah turun

sampai sela ida 4-5. Paru berwarna warna merah muda tidak merata

dengan gambaran mozaik, konsistensi spons, teraba derik udara, akan

mengapung pada tes apung paru.

Mikroskopis paru: adanya pengembangan kantung alveoli.

PEMERIKSAAN MAYAT BAYI

Hal yang perlu diperiksa adalah:

Berapa umur bayi dalam kandungan, apakah sudah cukup

bulan untuk dilahirkan? (Untuk membedakan kasus abortus

dengan kasus pembunuhan anak)

Apakah bayi lahir hidup atau sudah mati saat dilahirkan? (Untuk membedakan kasus stillbirth dengan bayi lahir hidup)

Apakah ada tanda perawatan bayi? (Untuk membedakan kasus infantisida atau pembunuhan)

Apakah penyebab kematian bayi?

Infantisida (Pembunuhan Anak Sendiri)

Infanticide atau pembunuhan anak sendiri adalah

pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu

dengan atau tanpa bantuan orang lain terhadap

bayinya pada saat dilahirkan atau beberapa saat

sesudah dilahirkan, oleh karena takut diketahui

orang lain bahwa ia telah melahirkan anak.

Pasal berkaitan infantisida: pasal 341-343 KUHP.

Pemeriksaan dalam kasus Infantisida

Hal-hal yang harus ditentukan atau yang perlu

dijelaskan dokter dalam pemeriksaannya adalah:

Berapa umur bayi dalam kandungan, apakah sudah

cukup bulan untuk dilahirkan.

Apakah bayi lahir hidup atau sudah mati saat

dilahirkan.

Bila bayi lahir hidup, berapa umur bayi sesudah lahir.

Apakah bayi sudah pernah dirawat.

Apakah penyebab kematian bayi.

Penentuan Usia Janin (1)

Bayi dianggap cukup bulan jika: Panjang badan di atas

45 cm, berat badan 2500 3500 gram, lingkar kepala lebih dari 34 cm.

Untuk menentukan umur bayi dalam kandungan, ada

rumus empiris yang dikemukakan oleh De Haas, yaitu

menentukan umur bayi dari panjang badan bayi.

Untuk bayi (janin) yang berumur di bawah 5 bulan, umur sama dengan akar pangkat dua dari panjang badan. Jadi

bila dalam pemeriksaan didapati panjang bayi 20 cm, maka

taksiran umur bayi adalah Ö20 yaitu antara 4 sampai 5

bulan dalam kandungan atau lebih kurang 20 22 minggu

kehamilan.

Untuk janin yang berumur di atas 5 bulan, umur sama dengan panjang badan (dalam cm) dibagi 5 atau panjang

badan (dalam inchi) dibagi 2.

Penentuan Usia Janin (2)

Keadaan ujung-ujung jari: apakah kuku-kuku telah melewati

ujung jari seperti anak yang dilahirkan cukup bulan atau belum. Garis-garis telapak tangan dan kaki dapat juga

digunakan, karena pada bayi prematur garis-garis tersebut

masih sedikit.

Keadaan genitalia eksterna: bila telah terjadi descencus

testiculorum maka hal ini dapat diketahui dari terabanya

testis pada scrotum, demikian pula halnya dengan keadaan labia mayora apakah telah menutupi labia minora atau

belum; testis yang telah turun serta labia mayora yang

telah menutupi labia minora terdapat pada anak yang

dilahirkan cukup bulan dalam kandungan si-ibu.

Hal tersebut di atas dapat diketahui bila bayi segar, tetapi bila bayi telah busuk, labia mayora akan terdorong keluar.

Penentuan Usia Janin (3)

Berdasarkan ukuran lingkaran kepala:

Bayi 5 bulan : 38,5-41 cm

Bayi 6 bulan : 39-42 cm

Bayi 7 bulan : 40-42 cm

Bayi 8 bulan : 40-43 cm

Bayi 9 bulan : 41-44 cm

Penentuan Usia Janin (4)

Pusat penulangan diperiksa pada 2 tempat yaitu yaitu

pada telapak kaki dan lutut.

Pada telapak kaki pemeriksaan ditujukan kepada tulang talus, calcaneus dan cuboid.

Adanya pusat penulangan di tulang talus menunjukkan

bayi telah berumur 7 bulan, tulang calcaneus 8 bulan dan tulang cuboid 9 bulan.

Di lutut ditujukan untuk memeriksa pusat penulangan

di proksimal tulang tibia dan distal femur.

Adanya pusat penulangan pada kedua tulang tersebut menunjukkan bayi telah berumur 9 bulan dalam

kandungan (cukup umur).

Penentuan Bayi Lahir Hidup/ Mati

Pemeriksaan luar: Pada bayi yang lahir hidup, pada

pemeriksaan luar tampak dada bulat seperti tong . biasanya tali pusat masih melengket ke perut, berkilat dan licin.

Kadang-kadang placenta juga masih bersatu dengan tali

pusat. Warna kulit bayi kemerahan.

Penentuan apakah seorang anak itu dilahirkan dalam keadaan hidup atau mati, pada dasarnya adalah sebagai

berikut:

Adanya udara di dalam paru-paru.

Adanya udara di dalam lambung dan usus,

Adanya udara di dalam liang telinga bagian tengah, dan

Adanya makanan di dalam lambung.

Penentuan pasti dengan tes apung paru.

Usia Bayi Ekstra Uterin

Udara dalam saluran cerna : sampai lambung

atau duodenum (hidup beberapa saat), usus

halus (hidup 1-2 jam), usus besar (5-6 jam),

rektum (12 jam)

Mekonium dalam kolon (24 jam setelah lahir)

Perubahan tali pusat (tempat lekat membentuk

lingkaran kemerahan dalam 36 jam)

Eritrosit berinti hilang dalam 24 jam pertama

Perubahan sirkulasi darah

Tes Apung Paru

Keluarkan paru-paru dengan mengangkatnya mulai dari trachea sekalian dengan jantung dan timus. Kesemuanya ditaruh dalam baskom berisi air. Bila terapung artinya paru-paru telah terisi udara pernafasan.

Untuk memeriksa lebih jauh, pisahkan paru-paru dari jantung dan timus, dan kedua belah paru juga dipisahkan. Bila masih terapung, potong

masing-masing paru-paru menjadi 12 20 potongan-potongan kecil.

Bagian-bagian ini diapungkan lagi. Bagian kecil paru ini ditekan dipencet dengan jari di bawah air. Bila telah bernafas, gelembung udara akan

terlihat dalam air.

Bila masih mengapung, bagian kecil paru-paru ditaruh di antara 2 lapis

kertas dan dipijak dengan berat badan. Bila masih mengapung, itu menunjukkan bayi telah bernafas. Sedangkan udara pembusukan akan

keluar dengan penekanan seperti ini, jadi ia akan tenggelam.

Bayi Lahir Mati: Still birth vs Dead Born

Still birth, artinya dalam kandungan masih hidup, waktu dilahirkan sudah mati. Ini mungkin disebabkan perjalanan kelahiran yang lama, atau terjadi accidental strangulasi dimana tali pusat melilit leher bayi waktu dilahirkan.

Dead born child, di sini bayi memang sudah mati dalam kandungan. Bila kematian dalam kandungan telah lebih dari 2 3 hari akan

terjadi maserasi pada bayi. Ini terlihat dari tanda-tanda:

Bau mayat seperti susu asam.

Warna kulit kemerah-merahan.

Otot-otot lemas dan lembek.

Sendi-sendi lembek sehingga mudah dilakukan ekstensi dan fleksi.

Bila lebih lama didapati bulae berisi cairan serous encer dengan dasar bullae

berwarna kemerah-merahan.

Alat viseral lebih segar daripada kulit.

Paru-paru belum berkembang.

Ada/ Tidaknya Tanda Perawatan

Tidak adanya tanda perawatan adalah sbb:

Tubuh masih berlumuran darah,

Ari-ari (placenta), masih melekat dengan tali pusat dan

masih berhubungan dengan pusar (umbilicus),

Bila ari-ari tidak ada, maka ujung tali pusat tampak tidak

beraturan, hal ini dapat diketahui dengan meletakkan ujung

tali pusat tersebut ke permukaan air,

Adanya lemak bayi (vernix caseosa), pada daerah dahi serta

di daerah yang mengandung lipatan-lipatan kulit, seperti

daerah lipat ketiak, lipat paha dan bagian belakang bokong.

ABORTUS PROVOKATUS

ABORTUS PROVOKATUS

Abortus menurut pengertian kedokteran terbagi

dalam:

Abortus spontan

Abortus provokatus, yang terbagi lagi ke dalam:

Abortus provokatus terapeutikus & Abortus

provokatus kriminalis

Abortus provokatus kriminalis sajalah yang

termasuk ke dalam lingkup pengertian

pengguguran kandungan menurut hukum.

Indikasi Medis Abortus Provocatus

Abortus yang mengancam (threatened abortion) disertai dengan perdarahan yang

terus menerus, atau jika janin telah meninggal (missed abortion).

Mola Hidatidosa

Infeksi uterus akibat tindakan abortus kriminalis.

Penyakit keganasan pada saluran jalan lahir, misalnya kanker serviks atau jika

dengan adanya kehamilan akan menghalangi pengobatan untuk penyakit keganasan lainnya pada tubuh seperti kanker payudara.

Prolaps uterus gravid yang tidak bisa diatasi.

Telah berulang kali mengalami operasi caesar.

Penyakit-penyakit dari ibu yang sedang mengandung, misalnya penyakit jantung organik dengan kegagalan jantung, hipertensi, nephritis, tuberkulosis paru

aktif, toksemia gravidarum yang berat.

Penyakit-penyakit metabolik, misalnya diabetes yang tidak terkontrol yang disertaikomplikasi vaskuler, hipertiroid, dan lain-lain.

Epilepsi yang luas dan berat.

Hiperemesis gravidarum yang berat dengan chorea gravidarum.

Gangguan jiwa, disertai dengan kecenderungan untuk bunuh diri. Pada kasus seperti ini, sebelum melakukan tindakan abortus harus dikonsultasikan

dengan psikiater.

Payung Hukum Abortus Provokatus Medisinalis/ Abortus Terapeutik

UU Kesehatan No.23 Tahun 1992

Mengatur indikasi dapat dilakukan abortus provokatus

dan syaratnya

UU Kesehatan No.36 Tahun 2009

Ditambahkan mengenai diperbolehkannya abortus

provokatus pada kasus kehamilan akibat pemerkosaan

Dilakukan sebelum usia kehamilan 6 minggu, kecuali

pada kasus gawat darurat

Abortus Provokatus Menurut UU No.23 Tahun 1992 Pasal 15

1.

Dalam kedaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan

jiwa ibu hamil dan atau janinnya, dapat dilakukan tindakan medis tertentu

2.

Tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan:

Berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakkan tersebut.

Oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan

untuk itu dan dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta berdasarkan pertimbangan tim ahli.

Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau

keluarganya.

Pada sarana kesehatan tertentu

Abortus Provokatus Menurut UU No.36 Tahun 2009

PASAL 75

1. Setiap orang dilarang melakukan aborsi.

2. Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan:

indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang

mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan

bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau

kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan.

3. Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.

4. Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan PASAL 76.

Abortus Provokatus Menurut

UU No.36 Tahun 2009

PASAL 76

Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan :

a)

sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis;

b)

oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan

kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh

menteri;

c)

dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;

d)

dengan izin suami, kecuali korban perkosaan;

e)

penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri

ABORSI ATAS INDIKASI MEDIS

ABORSI ATAS INDIKASI MEDIS PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2016

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2016

Faskes yang

Dapat

Melakukan

Faskes yang Dapat Melakukan Abortus Provokatus Medisinalis PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN

Abortus

Provokatus

Medisinalis

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2016

Tim Kelayakan Aborsi

Tim Kelayakan Aborsi

IDENTIFIKASI FORENSIK

Identifikasi Forensik

Merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan

membantu penyidik untuk menentukan identitas

seseorang/korban, terutama pada jenazah tidak

dikenal, membusuk, rusak, terbakar, kecelakaan

masal, ataupun bencana alam

Metode identifikasi yang dapat digunakan adalah:

Identifikasi sidik jari, visual, dokumen, pakaian

dan perhiasan, medik, gigi, serologik, metode

eksklusi dan metode identifikasi DNA

IDENTIFIKASI FORENSIK

Secara garis besar ada dua metode pemeriksaan, yaitu:

Identifikasi primer: identifikasi yang dapat berdiri sendiri tanpa perlu

dibantu oleh kriteria identifikasi lain. Teknik identifikasi primer yaitu :

Pemeriksaan DNA

Pemeriksaan sidik jari

Pemeriksaan gigi

Pada jenazah yang rusak/busuk untuk menjamin keakuratan dilakukan

dua sampai tiga metode pemeriksaan dengan hasil positif.

Identifikasi sekunder: Pemeriksaan dengan menggunakan data identifikasi sekunder tidak dapat berdiri sendiri dan perlu didukung kriteria identifikasi yang lain.

Identifikasi sekunder terdiri atas cara sederhana dan cara ilmiah.

Cara sederhana yaitu melihat langsung ciri seseorang dengan memperhatikan perhiasan, pakaian dan kartu identitas yang ditemukan.

Cara ilmiah yaitu melalui teknik keilmuan tertentu seperti pemeriksaan medis.

Metode Identifikasi

Metode Visual

Memperlihatkan jenazah pada orang-orang yang merasa kehilangan.

Hanya efektif pada jenazah yang masih dapat dikenali wajah dan bentuk tubuhnya

Pemeriksaan Dokumen

Dokumen identifikasi (KTP, SIM, Paspor, dst) yang dijumpai bersama

jenazah. Tidak bisa dipastikan kepemilikan dokumen yang ditemukan, sulit

diandalkan.

Pemeriksaan Pakaian dan Perhiasan

Dari ciri-ciri pakaian dan perhiasan yang dikenakan

Pemeriksaan Serologis

Menentukan golongan darah jenazah. Tidak khas untuk masing-masing individu

Metode Eksklusi

Terutama pada kecelakaan masal

Metode Identifikasi

Identifikasi Medik

Menggunakan data tinggi badan, berat badan, warna rambut, warna mata,

kelainan/cacat khusus. Termasuk pemeriksaan radiologis (sinar X)

Pemeriksaan Gigi

Pencatatan data gigi (odontogram) dan rahang dengan pemeriksaan manual, sinar-X, dan pencetakan gigi. Data dibandingkan dengan data ante-mortem

Identifikasi DNA

Diperlukan DNA pembanding. Mahal dan hanya dapat dilakukan oleh ahli forensik molekular

Pemeriksaan Sidik Jari

Membandingkan sidik jari jenazah dengan data sidik jari ante-mortem. Saat ini merupakan pemeriksaan yang diakui tinggi ketepatannya.

Dibutuhkan penanganan yang ba terhadap jari tangan jenazah

Metode identifikasi

Identifikasi kerangka

Membutikan kerangka manusia, ras, jenis kelamin, perkiraan umur dan tinggi

badan, ciri khusus, dan deformitas, serta rekonstruksi wajah. Mencari tanda

kekerasan pada tulang dan memperkirakan sebab kematian. Perkiraan saat kematian dilakukan dengan memperhatikan kekeringan tulang.

Pemeriksaan anatomik

Dilakukan dengan pemeriksaan serologik dan histologik

Penentuan ras

Dapat dilakukan denan antropologik pada tengkorak, gigi geligi, tulang panggul.

Arkus zigomatikus dan gigi insisivus atas pertama yang berbentuk seperti

sekop memberi petunjuk ke ras Mongoloid.

Jenis kelamin ditentukan dari tulang panggul, tulang tengkorak, sternum,

tulang panjang, skapula, metakarpal.

Tinggi badan diperkirakan dari panjang tulang tertentu.

JENIS LUKA DAN PASAL

PENGANIAYAAN

Perlukaan akibat kekerasan

Pelbagai jenis kekerasan

o

Kekerasan bersifat mekanik

Kekerasan tumpul

Kekerasan tajam

Tembakan senjata api

o

Kekerasan bersifat alam

Luka akibat api

Luka akibat listrik

o

Kekerasan bersifat kimiawi

Luka akibat asam keras

Luka akibat basa kuat

Luka Akibat Kekerasan Tumpul

Luka memar: Tampak sebagai bercak, biasanya

berbentuk bulat/lonjong. Luka memar yang baru

terjadi tampak sebagai bercak biru kemerahan dan

agak menimbul. Proses penyembuhan menyebabkan warna bercak berubah menjadi kebiruan, kehijauan,

kecoklatan, kekuningan dan akhirnya hilang saat terjadi

penyembuhan sempurna dalam 7-10 hari.

Luka robek: Luka terbuka tepi tidak rata, pada salah

satu sisi dapat ditemukan jejas berupa luka lecet tekan.

Luka Akibat Kekerasan Tumpul

Luka lecet tekan: Tampak sebagai

bagian kulit yang sedikit

mencekung, berwarna kecoklatan.

Bentuknya memberikan gambaran

bentuk benda penyebab luka.

Luka lecet geser: Bagian yang pertama bergeser memberikan

batas yang lebih rata, dan saat

benda tumpul meningalkan kulit

yang tergeser berbatas tidak rata.

Tampak goresan epidermis yang

berjalan sejajar.

dan saat benda tumpul meningalkan kulit yang tergeser berbatas tidak rata. Tampak goresan epidermis yang berjalan

Luka Akibat Kekerasan Tajam

Luka tusuk: Akibat kekerasan tajam yang mengenai kulit dengan

arah kekerasan tegak terhadap permukaan kulit. Tepi luka rata.

Lebar luka menggambarkan lebar pisau yang digunakan.

Karena elastisitas kulit, dalamnya luka tidak menggambarkan panjangnya pisau

Luka sayat: Akibat kekerasan tajam yang bergerak k.l sejajar dengan

permukaan kulit. Panjang luka jauh melebihi dalamnya luka.

Luka bacok: Akibat kekerasan tajam dengan bagian matasenjata

yang mengenai kulit dengan arah tegak. Kedua sudut luka lancip dengan luka yang cukup dalam.

Luka Bakar

Luka bakar api: menimbulkan kerusakan kulit yang bervariasi,

tergantung pada tingginya suhu dan lamanya api mengenai kulit.

Luka bakar benda panas: kerusakan kulit terbatas, sesuai dengan

penampang benda yang mengenai kulit. Bentuk luka sesuai dengan bentuk permukaan benda padat.

Luka bakar listrik: Benda beraliran listrik saat mengenai kulit, oleh tahanan yang terdapat pada kulit, akan menimbulkan panas yang

dapat merusak kulit dalam bentuk luka bakar benda padat. Pada

kulit basah, listrik dialirkan tanpa merusak kulit.

Bila listrik mengalir melewati medula oblongata pusat vital akan

terganggu; melewati daerah jantungfibrilasi ventrikel; melewati otot

sela igakejang otot pernafasan.

LUKA LISTRIK

Ada 2 jenis tenaga listrik yang dapat menimbulkan

luka listrik yaitu :

Tenaga listrik alam seperti petir dan kilat.

Tenaga listrik buatan meliputi arus listrik searah

(DC) seperti telepon (30-50 volt) dan tram listrik

(600-1000 volt) dan arus listrik bolak-balik (AC)

seperti listrik rumah, pabrik, dll

Akibat Luka Listrik

KOEPPEN menggolongkan akibat kecelakaan listrik dalam 4

kelompok yaitu :

Kelompok I : kuat arus < 25 mA AC (DC antara 25-80 mA)

dengan transitional R yang tinggiefek yang berbahaya (-).

Kelompok II : kuat arus 25-80 mA AC (DC 80-300 mA) dg transitional R < dari kel.I hilangnya kesadaran, aritmia dan spasme pernafasan.

Kelompok III : Kuat arus 80-100 mA AC (DC 300 mA - 3A), transitional R < dari kel. II. Jk t = 0,1-0,3s , efek biologisnya

sama dg kel. II. Jk > 0,3s vibrilasi ventrikel irreversibel.

Kelompok IV : kuat arus > 3A cardiac arrest

Pemeriksaan Luar Luka Listrik

Current mark berbentuk oval, kuning atau coklat keputihan atau coklat kehitaman atau abu-abu kekuningan dikelilingi daerah kemerahan dan edema sehingga menonjol dari jaringan sekitarnya (daerah halo).

Sepatu korban dan pakaian dapat terkoyak.

Tanda yang lebih berat yaitu kulit menjadi hangus arang, rambut ikut terbakar, tulang dapat meleleh dengan pembentukan butir kapur/kalk

parels terdiri dari kalsium fosfat.

Endogenous burn/Joule burn terjadi jika kontak dengan tubuh lama

sehingga bagian tengah yang dangkal dan pucat pada electric mark dapat

menjadi hitam dan hangus terbakar

Exogenous burn dapat terjadi bila tubuh terkena arus listrik tegangan

tinggi yang sudah mengandung panas, sehingga tubuh akan hangus

terbakar dengan kerusakan yang sangat berat dan tidak jarang disertai dengan patahnya tulang-tulang .

LUKA PETIR

Lightning / eliksem adalah kecelakaan akibat sambaran petir. Petir

termasuk arus searah (DC) dengan tegangan 20 juta volt dan kuat

arus 20 ribu ampere.

Ada 3 keadaan yang berpotensi besar terkena petir :

1.

Berada di tanah lapang.

2.

Berada dibawah pohon yang tinggi.

3.

Kehujanan dan memakai perhiasan yang terbuat dari logam.

Ada 3 kelainan akibat sambaran petir :

1.

Efek listrik.

2.

Efek panas.

3.

Efek ledakan.

Luka Petir

Ada 3 efek listrik akibat sambaran petir :

Current mark / electrik mark / electrik burn.

Efek ini termasuk salah satu tanda utama luka

listrik (electrical burn).

Aborescent markings. Tanda ini berupa gambaran seperti pohon gundul tanpa daun

akibat terjadinya vasodilatasi vena pada kulit

korban sebagai reaksi dari persentuhan antara

kulit dengan petir (lightning / eliksem). Tanda

ini akan hilang sendiri setelah beberapa jam.

Magnetisasi. Logam yang terkena sambaran petir (lightning / eliksem) akan berubah menjadi magnet. Efek ini termasuk salah satu

tanda luka listrik (electrical burn).

eliksem) akan berubah menjadi magnet. Efek ini termasuk salah satu tanda luka listrik (electrical burn). Arborescent

Arborescent mark

Luka Petir

Ada 2 efek panas akibat sambaran petir :

Luka bakar sampai hangus. Rambut, pakaian, sepatu

bahkan seluruh tubuh korban dapat terbakar atau

hangus.

Metalisasi. Logam yang dikenakan korban akan meleleh

seperti perhiasan dan komponen arloji. Arloji korban

akan berhenti dimana tanda ini dapat kita gunakan untuk

menentukan saat kematian korban. Efek ini juga

termasuk salah satu tanda luka listrik (electrical burn).

LUKA TEMBAK

Dalam memberikan pendapat atau kesimpulan dalam

visum et repertum, tidak dibenarkan menggunakan istilah pistol atau revolver; oleh karena perkataan pistol mengandung pengertian bahwa senjatanya termasuk otomatis atau semi otomatis, sedangkan revolver berarti anak peluru berada dalam silinder yang akan memutar jika tembakan dilepaskan.

Oleh karena dokter tidak melihat peristiwa

penembakannya, maka yang akan disampaikan adalah;

senjata api kaliber 0,38 engan alur ke kiri dan sebagainya.

Luka Tembak Menempel Erat

Luka simetris di tiap sisi

Jejas laras jelas mengelilingi lubang luka

Tidak akan dijumpai kelim jelaga atau kelim tattoo

Kelim pada Luka Tembak

Kelim tato: akibat butir mesiu; gambaran bintik-

bintik hitam bercampur perdarahan, tidak dapat

dihapus dengan kain.

Kelim jelaga: akibat asap; gambaran bintik-bintik

hitam yang dapat dihapus dengan kain.

Kelim api: akibat pembakaran dari senjata; luka

bakar terlihat dari kulit dan rambut di sekitar luka

yang terbakar.

Kelim lecet: akibat partikel logam; bentuknya luka

lecet atau luka terbuka yang dangkal

Luka Tembak Masuk vs Keluar

Luka tembak masuk: pada tubuh korban tersebut akan

didapatkan perubahan yang diakibatkan oleh berbagai

unsur atau komponen yang keluar dari laras senjata api

tersebut, seperti anak peluru, butir-butir mesiu yang tidak terbakar atau sebagian terbakar, asap atau jelaga,

api, partikel logam, minyak pada anak peluru.

Luka tembak keluar: tidak adanya kelim lecet, kelim-

kelim lain juga tentu tidak ditemukan. Luka tembak

keluar pada umumnya lebih besar dari luka tembak

masuk.

Klasifikasi Luka menurut KUHP

Klasifikasi luka dan pasal yang berhubungan:

Luka ringan pasal 352 KUHP = luka derajat satu

Luka sedang pasal 351 (1) atau 353 (1) = luka derajat dua

Luka berat pasal 90 KUHP

Luka Ringan dan Luka Sedang

Lu