Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI HEWAN

MENAKSIR KELIMPAHAN POPULASI

NAMA : NANDA TRISNA MUTHMAINNAH

NIM : 4163341039

KELAS : EKSTENSI B

JURUSAN : BIOLOGI

PRODI : PENDIDIKAN BIOLOGI

TGL.PLKSNAAN : 24 SEPTEMBER 2018

LABORATORIUM BIOLOGI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

MEDAN
I. JUDUL : MENAKSIR KELIMPAHAN POPULASI
II. TUJUAN :
1. Mengetahui karakteristik suatu populasi
2. Mengetahui faktor yang menyebabkan kelimpahan populasi
3. Mengetahui faktor yang menyebabkan kelimpahan populasi pada suatu habitat
4. Mengetahui taksiran kelimpahan suatu populasi dengan metode CMR
5. Mengetahui taksiran kelimpahan suatu populasi dengan metode removal

III. TINJAUAN TEORITIS


Kelimpahan Populasi
Tidak semua spesies hewan kelimpahan atau kerapatannya ditentukan dengan metode
pencacahan atau pencuplikan. Salah satu cara lain, khususnya yang digunakan terhadap
hewan-hewan yang mobilitasnya tinggi ialah yang dinamakan metode mengangkap-
menandai-menagkap kembali (MMM : “CMR” atau Capture Merk Recapture). Metode ini
dikenal juga sebagai metode (indeks) Petersen-lincoin berdasarkan nama penemuannya.
Pada dasarnya metode mengangkap-menandai-menagkap kembali merupakan
modifikasi metode pencuplikan, yang mencupliknya dilakukan pada dua periode yang
berbeda. Pada periode pertama hewan ditangkap (dicuplik) ditandai lalu dilepas kembali.
Setelah hewan-hewan bertanda berbaur lagi dalam populasi pada periode kedua maupun
keseluruhannya, interval waktu antara kedua periode pencuplikan itu harus cukup lama agar
memberikan peluang pada hewan-hewan bertada berbaur lagi dalam populasi, dalam periode
kedua maupun keseluruhannya. Interval waktu antara kedua periode pencuplikan itu harus
cukup lama agar memberikan peluang pada hewan-hewan bertanda untuk berbaur namun,
tidak pula terlalu lama yang memungkinkan terjadinya pengenceran populasi akibatnya
individu baru akibat natalitas dan atau imigrasi. Metode MMM yang akan dipelajari dalam
latihan ini hanya bagi populasi tertutup yang dalam hal ini berarti populasi itu (relatif)
konstan selama periode pengamatan. ( Tim dosen ekologi hewan,2018 )
Populasi diartikan sebagai suatu kumpulan kelompok makhluk yang sama spesies
(atau kelompok lain yang individunya mampu bertukar informasi genetik), yang mendiami
suatu ruang khusus, yang memiliki berbagai karakteristik yang walaupun paling baik
digambarkan secara statistik, unik sebagai milik kelompok dan bukan karakteristik individu
dalam kelompok itu. Populasi memiliki beberapa karakteristik berupa pengukuran statistik
yang tidak dapat diterapkan pada individu anggota populasi. Karakteristik dasar suatu
populasi. adalah ukuran besar populasi, kerapatan dan kelimpahan populasi. (Odum, 1971)
Kepadatan populasi satu jenis atau kelompok hewan dapat dinyatakan dalam dalam
bentuk jumlah atau biomassa per unit, atau persatuan luas atau persatuan volume atau
persatuan penangkapan. Kepadatan pupolasi sangat penting diukur untuk menghitung
produktifitas, tetapi untuk membandingkan suatu komunitas dengan komnitas lainnya
parameter ini tidak begitu tepat. Untuk itu biasa digunakan kepadatan relatif. Kepadatan
relatif dapat dihitung dengan membandingkan kepadatan suatu jenis dengan kepadatan semua
jenis yang terdapat dalam unit tersebut. Kepadatan relatif biasanya dinyatakan dalam bentuk
persentase.Populasi ditafsirkan sebagai kumpulan kelompok makhluk yang sama jenis (atau
kelompok lain yang individunya mampu bertukar informasi genetik) yang mendiami suatu
ruangan khusus, yang memiliki berbagai karakteristik yang walaupun paling baik
digambarkan secara statistik, unik sebagai milik kelompok dan bukan karakteristik individu
dalam kelompok itu. (Soegianto. 1994)
Ukuran populasi umumnya bervariasi dari waktu, biasanya mengikuti dua pola.
Beberapa populasi mempertahankan ukuran poulasi mempertahankan ukuran populasi, yang
relatif konstan sedangkan pupolasi lain berfluktasi cukup besar. Perbedaan lingkungan yang
pokok adalah suatu eksperimen yang dirangsang untuk meningkatkan populasi grouse itu.
Penyelidikan tentang dinamika populasi, pada hakikatnya dengan keseimbangan antara
kelahiran dan kematian dalam populasi dalam upaya untuk memahami pada tersebut di alam.
(Heddy. 1986)
Tingkat pertumbuhan populasi yaitu sebagai hasil akhir dari kelahiran dan kematian,
juga mempengaruhi struktur umur dan populasi Suatu populasi dapat juga ditafsirkan sabagai
suatu kelompok yang sama. Suatu populasi dapat pula ditafsirkan sebagai suatu kolompok
makhuk yang sama spesiesnya dan mendiami suatu ruang khusus pada waktu yang khusus.
Populasi dapat dibagi menjadi deme, atau populasi setempat, kelompok-kelompok yang dapat
saling membuahi, satuan kolektif terkecil populasi hewan atau tumbuhan. Populasi memiliki
beberapa karakteristik berupa pengukuran statistik yang tidak dapat diterapkan pada individu
anggota populasi. Karakteristik dasar populasi adalah besar populasi atau kerapatan
.(Tarumingkeng. 1994)
Dalam mempelajari kelimpahan suatu spesies di satu lokasi tunggal maka idealnya
perlu tahu tentang kondisi fisika kimia, tingkat sumber daya yang dapat diperoleh, daur hidup
makhluk itu, pengaruh kompetitor, pemangsa, parasit dan sebagainya. Perbedaan-perbedaan
dalam populasi mungkin dapat dikorelasikan dengan cuaca, jenis tanah, cacah predator, dan
sebagainya. Suatu populasi dapat dirubah oleh kelahiran, kematian dan migrasi. Suatu nilai
ekstrim besarnya populasi dapat mencerminkan tingkat saat terakhir ketika berkurang, waktu
yang dilampaui untuk tumbuh kembali dan laju pertumbuhan intrinsik selama waktu tersebut.
Suatu nilai ekstrim lain besarnya populasi juga dapat mecerminkan ketersediaan beberapa
sumber daya yang menjadi kendala perluasan populasi lebih lanjut yang dibatasi oleh laju
kelahiran, bertambahnya laju kematian atau stimulasi migrasi. (Soetjipta, 1993)
Kelimpahan jenis serangga sangat ditentukan oleh aktivitas reproduksinya yang
didukung oleh kondisi lingkungan yang sesuai dan tercukupinya kebutuhan sumber
makanannya. Kelimpahan dan aktivitas reproduksi serangga di daerah tropik sangat
dipengaruhi oleh musim, karena musim berpengaruh terhadap ketersediaan bahan makanan
dan kemampuan hidup serangga yang secara langsung dapat mempengaruhi kelimpahan.
Setiap ordo serangga mempunyai respon yang berbeda terhadap perubahan musim dan iklim .
(Subahar, 2004)
Selain itu, menurut Boror (1954), kelimpahan populasi serangga pada suatu habitat
ditentukan oleh adanya keanekaragaman dan kelimpahan sumber pakan maupun sumber daya
lain yang tersedia pada habitat tersebut. Serangga menanggapi sumber daya tersebut dengan
cara yang kompleks. Keadaan pakan yang berfluktuasi secara musiman akan menjadi faktor
pembatas bagi keberadaan populasi hewan di suatu tempat oleh adanya kompetisi antar
individu. Bila mana sejumlah organisme bergantung pada sumber yang sama, persaingan
akan terjadi. Persaingan demikian dapat terjai antara anggota-anggota spesies yang berbeda
(persaingan interspesifik) atau antara anggota spesies yang sama (persaingan intraspesifik).
Persaingan dapat terjadi dalam mendapatkan makanan atau ruang. Spesies yang
bersaing untuk suatu sumber tertentu tidak perlu saling mengacuhkan. Organisme yang saling
mirip cenderung menempati habitat yang sama dan membuat kebutuhan yang sama atas
lingkungan serta memodifikasi lingkungan dengan cara yang sama. Persaingan diantara
hewan sering kali tidak langsung, karena daya geraknya. Tidaklah umum bagi hewan
bersaing untuk sumber yang sama dan melanjutkan permusuhan langsung yang menyebabkan
pesaing cedera. Persaingan intraspesifik pada hewan bertambah sering bila populasi
berkembang dan rapatannya melebihi tingkat optimal. (Michael. P, 1991)

Kelimpahan dan keanekaragaman serangga herbivora tidak hanya ditentukan oleh tingkat
tropik di atasnya, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh tingkat tropik di bawahnya. Untuk
mempelajari interaksi tritropik antara tumbuhan, serangga herbivora dan parasitoid perlu
diketahui struktur komunitas serangga herbivora dan parasitoidnya pada berbagai jenis
tumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari komunitas serangga herbivora. (
Hasmiandy Hamid,2012 )

2.2 Metode CMR (Capture-Mark-Recapture) atau MMM (Menangkap-Menandai-


Menangkap Kembali)
Metode MMM merupakan metode yang sudah populer digunakan untuk menduga
ukuran populasi dari suatu spesies hewan yang bergerak cepat, seperti ikan, burung atau
mamalia kecil. Metode ini dikenal ,juga sebagai metode Lincoln-Peterson berdasarkan nama
penemunya. Metode ini pada dasarnya adalah menangkap sejumlah individu dari suatu
populasi hewan yang akan dipelajari. Individu yang ditangkap itu diberi tanda dengan tanda
yang mudah dibaca atau diidentikasi, kemudian dilepaskan kembali dalam periode waktu
yang pendek (umumnya satu hari). Setelah beberapa hari (satu atau dua minggu), dilakukan
pengambilan (penangkapan) kedua terhadap sejumlah individu dari populasi yang sama.
Dari penangkapan kedua ini, lalu diidentikasi individu yang bertanda yang berasal
dari hasil penangkapan pertama dan individu yang tidak bertanda dari hasil penangkapan
kedua. Adapun cara menandai hewan bermacam-macam, tergantung spesies hewan yang
diteliti, habitatnya (daratan, perairan), lama periode pengamatan, dan tujuan studi. Namun,
dalam cara apapun yang digunakan, perlu diperhatikan syarat-syarat sebagai berikut:
1. Tanda yang digunakan harus mudah dikenali kembali dan tidak ada yang hilang atau
rusak selama periode pengamatan.
2. Tanda yang digunakan tidak mempengaruhi atau mengubah perilaku aktivitas dan
peluang hidup.
3. Setelah diberi penandaan hewan-hewan itu harus dapat berbaur dengan individu-individu
lain didalam populasi.
4. Peluang untuk ditangkap kembali harus sama bagi individu-individu yang bertanda
maupun tidak.
Rumus-rumus perhitungan metode MMM, apabila :
M : Jumlah individu yang ditandai dan dilepaskan kembali pada periode pencuplikan ke-1
n : Jumlah total yang bertanda maupun yang tidak bertanda, pada periode pencuplikan ke-2
m : Jumlah individu bertanda yang tertangkap kembali pada periode penangkapan ke-2
N : Jumlah individu di alam/ dalam populasi
Maka harga taksiran kelimpahan populasi (N3 Indeks Peterson-Lincoln) dapat dihitung
sebagai berikut :
𝑀 (𝑚+𝑙)
Apabila nilai M > 30 N = 𝑚

𝑀 .𝑛(𝑛−𝑚)
Dengan variasi estimasi var. N = 𝑚

Apabila M < 30 digunakan perhitungan berdasarkan rumus-rumus berikut:


𝑀 (𝑛+𝑙) 𝑀 (𝑛+𝑙)(𝑛−𝑚)
N= dan Var.N = (𝑚+1)(𝑚+2)
𝑚+1

( Tim dosen ekologi hewan,2018 )

Metode removal (pengambilan)


Metode ini umum digunakan untuk menaksir besar populasi mamalia kecil. Asumsi- asumsi
dasar yang digunakan dalm metode pengambilan adalah sebagai berikut: Populasi tetap
stasioner selama periode penangkapan, Peluang setiap individu populasi untuk tertangkap
pada setiap perioda panangkapan adalah sama. Probabilitas penangkapan individu dari waktu
selama perioda penangkapan adalah sama (Ewusie. 1990)

IV. ALAT DAN BAHAN


A. ALAT
NO NAMA ALAT SPESIFIKASI JUMLAH

1 Stoples - 3 Buah

2 Sendok - 1 Buah

3 Stip-ex kuas - 1 Buah

4 Alat Tulis - Secukupnya

B. BAHAN
NO NAMA BAHAN SPESIFIKASI JUMLAH

1 Kutu beras - 10 pasang

2 Tepung beras - Secukupnya


V. PROSEDUR KERJA
NO PROSEDUR KERJA

1 Isikan tepung beras kedalam stoples sebanyak 100 gram.

2 Masukkan sejumlah 10 pasang kutu beras kedalam toples tersebut

3 Setelah dibiarkan beberapa lama ± 30 menit ( dianggap kutu beras sudah menyesuaikan
diri dengan lingkungan yang baru ),ambilah satu sendok tepung beras ( penyendokan
dilakukan hingga menyentuh dasar stoples ).

4 Sortir tepung kutu beras yang terikut didalam sendok. Hitunglah jumlahnya dan tandai
semua kutu beras yang tertangkap pada bagian punggung dengan menggunakan stip-ex
kuas usahakan pemberian tanda tidak mempengaruhi aktivitas kutu beras dan tanda
tidak hilang ).

5 Bersama-sama dengan tepung beras yang diambil,lepaskan kembali semua kutu beras
yang telah diberi tanda kedalam toples.

6 Biarkan beberapa lama ± 30 menit ( hingga kutu beras yang pernah tertangkap dan
tandai membaur dengan kutu beras yang lain ambil kemabli satu sendok tepung beras (
penyendokan dilakukan harus sama perss caranya dengan penyedokan pertama ).

7 Membulakukan penyortiran terhadapa kutu beras,hitung jumlah total kutu beras yang
tertangkap. Hitung pula jumlah kutu beras yang bertanda dan yang tidak

8 Isikan data anda kedalam tabel.

9 Taksirlah kelimpahan kutu beras pada stoples berdasarkan data di atas.

10 Hitunglah seluruh kutu beras yang ada pada stoples ( termasuk kutu beras yang
tertangkap ).
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL PENGAMATAN
1) METODE CMR
JUMLAH INDIVIDU PADA JUMLAH INDIVIDU PADA
PENANGKAPAN PERTAMA PENANGKAPAN KEDUA (
JENIS TANGKAP-TANDAI- MENANGKAP ULANG )
TOTAL
HEWAN LEPASKAN
DITANGKAP DILEPASKAN BERTANDA TIDAK
BERTANDA
KUTU
7 7 3 4 7
BERAS

2) METODE REMOVALS
NO PENANGKAPAN JUMLAH
1 I 6
2 II 4
JUMLAH 10

B. PEMBAHASAN
a) Metode CMR
Pertimbangan untuk menaksir suatu populasi hewan dengan menggunakan metode CMR
adalah karena metode ini dianggap paling tepat digunakan khususnya bagi hewan kecil
seperti kutu beras dan pada habitat yang tidak terlalu luas (sempit), karena bila pada area
yang luas, metode ini akan menjadi susah untuk digunakan. Pada metode ini, hewan yang
telah ditangkap akan diberi penanda sehingga kita dapat mengetahui mana hewan yang telah
kita tangkap diperiode pertama dengan yang baru kita tangkap. Penandaan tersebut dapat
memudahkan kita dalam proses penaksiran kelimpahan populasi.
Ada beberapa hal-hal yang harus diperhatikan pada metode ini, yaitu:
1. Tanda yang digunakan harus mudah dikenali kembali dan tidak ada yang hilang atau
rusak selama periode pengamatan.
2. Tanda yang digunakan tidak mempengaruhi atau mengubah perilaku aktivitas dan
peluang hidup.
3. Setelah diberi penandaan hewan-hewan itu harus dapat berbaur dengan individu-
individu lain didalam populasi.
4. Peluang untuk ditangkap kembali harus sama bagi individu-individu yang bertanda
maupun tidak.
Adapun faktor-faktor yang menjadi kendala ketikan melakukan metode CMR adalah:

1. Adanya kemungkinan tanda yang digunakan tidak dikenali kembali, hilang atau rusak
selama periode pengamatan.
2. Tanda yang digunakan mempengaruhi atau mengubah perilaku aktivitas dan peluang
hidup hewan.
3. Setelah diberi penandaan hewan-hewan tidaks dapat berbaur kembali dengan individu-
individu lain didalam populasi karena penanda tersebut membuat organisme itu dijauhi
sesamanya.

Untuk mengatasi hal-hal tersebut, maka yang harus sangat diperhatikan adalah proses
penandaannya. Penanda yang digunakan harus dapat meminimalisir atau bahkan meniadakan
kemungkinan hal buruk yang terjadi selama proses pengamatan. Selain itu, perlakuan
pengamat terhadap hewan yang ditangkap dan dilepaskan kembali harus benar-benar baik,
hal ini menjaga agar hewan tidak stres dan dapat bergabung kembali dengan sesamanya
dihabitat aslinya.
Metode CMR merupakan metode yang digunakan untuk menduga ukuran populasi
dari suatu spesies hewan yang bergerak cepat. Metode ini dikenal,juga sebagai metode
Lincoln-Peterson berdasarkan nama penemunya. Metode ini pada dasarnya adalah
menangkap sejumlah individu dari suatu populasi hewan yang akan dipelajari. Individu yang
ditangkap itu diberi tanda dengan tanda yang mudah dibaca atau diidentikasi, kemudian
dilepaskan kembali dalam periode waktu yang pendek ( umumnya satu hari ).
Dari penangkapan kedua ini, lalu diidentikasi individu yang bertanda yang berasal
dari hasil penangkapan pertama dan individu yang tidak bertanda dari hasil penangkapan
kedua. Adapun cara menandai hewan bermacam-macam, tergantung spesies hewan yang
diteliti, habitatnya (daratan, perairan), lama periode pengamatan, dan tujuan studi. Namun,
dalam cara apapun yang digunakan, perlu diperhatikan syarat-syarat sebagai berikut:
1. Tanda yang digunakan harus mudah dikenali kembali dan tidak ada yang hilang atau
rusak selama periode pengamatan.
2. Tanda yang digunakan tidak mempengaruhi atau mengubah perilaku aktivitas dan
peluang hidup.
3. Setelah diberi penandaan hewan-hewan itu harus dapat berbaur dengan individu-individu
lain didalam populasi.
4. Peluang untuk ditangkap kembali harus sama bagi individu-individu yang bertanda
maupun tidak.

Berdasarkan data yang telah di peroleh, dapat ditentukan nilai kelimpahannya dengan rumus:

M ( n+1 )
N= m+1

N = Taksiran jumlah individu populasi


M = Jumlah individu yang ditandai dan dilepaskan kembali pada periode
pencuplikan yang pertama (t1)
m = Jumlah individu yang bertanda, yang tertangkap kembali pada periode
penangkapan kedua (t2)
n = Jumlah total individu yang tertangkap (yang bertanda maupun yang tidak)
pada periode penangkapan yang kedua (t2)
karena M ≤ 20 maka diperoleh,

M ( n+1 ) 7 ( 7+1 ) 56
N= = = = 14
m+1 3 +1 4

M2 x ( n+1)( n−m )
SD = √ ( 3+1 )( n+2 )

72 x ( 7+1)( 7−3)
= √( 0 +1 )( 7−3 )

49 x ( 8 )( 4 )
=√ (4)( 4)

1568
= √ 16

= √98
= 9,89949

NO PENANGKAPAN y x x.y x2
1 I 6 6 36 36
2 II 4 10 40 100
JUMLAH 10 16 76 136
Penjelasan dengan metode removal
Metode removal dapat menggunakan rumus :
a. Metode analisis regresi linier
𝑛 ∑ 𝑥.𝑦 − ∑ 𝑥 ∑ 𝑦
b= 𝑛 ( ∑ 𝑥 2 )−( ∑ 𝑥 2 )
∑ 𝑦 –𝑏 ( ∑ 𝑥 )
a= 𝑛

b. Metode Singkat
y = a + bx
𝑦12
N = 𝑦1−𝑦2

c. Metode grafik
12
10
8
6
4
2
0
6 10 16

Hasil yang didapat dengan menggunakan rumus :


a. Metode analisis regresi linier
𝑛 ∑ 𝑥.𝑦 − ∑ 𝑥 ∑ 𝑦 2 ( 36 )–( 16 )( 10 ) 72−160 −88
b= = = −28 = 3.14
𝑛 ( ∑ 𝑥 2 )−( ∑ 𝑥 2 ) 2(36)−( 100 ) 72−100
∑ 𝑦 –𝑏 ( ∑ 𝑥 ) 10−3.14( 16 )
a= = = -20,12
𝑛 −2

Maka, y = 20.12 + ( 3,14 )(1)


y = 23,26
b. Metode Singkat
y = a + bx
𝑦12 36 36
N = 𝑦1−𝑦2 = = 32 = 1,125
36 −4

c. Metode grafik
12
10
8
6
4
2
0
6 10 16

Penjelasan grafik tersebut bahwa metode removal pada perlakuan 1 dan 2 mengalami tidak
kestabilan. Pada perlakuan x dan y nya sama,tetapi pada perlakuan kedua mengalami x nya
10,y nya 4. Jadi jumlah di x 16 dan di y nya 10.
Berdasarkan data yang diperoleh dari teknik Removal, dapat diperoleh nilai taksiran
kelimpahan populasinya (N) dengan rumus :

( Y1 )²
N = Y1−Y2

dimana, : y1 : Jumlah individu yang tertangkap pada periode penangkapan 1


y2 : Jumlah individu yang tertangkap pada periode penangkapan 2
Jadi dapat diketahui bahwa,

( Y1 )² (6)² 36
N = Y1−Y2 = = = 18
6−4 2

b) Metode Removal
Dalam penaksiran kelimpahan populasi, salah satu metode yang dapat dilakukan
adalah dengan metode removal. Pada metode ini, data hasil percobaan dapat diperoleh dengan
3 cara, yaitu: Metode singkat (short method), Metode grafik, Analisis regresi linier. Ketiga
metode tersebut memiliki perbedaan dalam pemakaian masing-masing. Adapun perbedaan
dalam pemakaian metode tersebut adalah:
1. Metode singkat (short method)
Pada metode ini, hanya membutuhkan datahasil penangkapan dari dua kali periode
penangkapan. Bila dilakukan lebih, maka yang digunakan hanya data penangkapan yang
pertama dan yang kedua saja.
2. Metode grafik
Metode ini juga digunakan untuk menaksir kelimpahan populasi suatu hewan. Seperti
namanya, metode ini disajikan dalam bentuk grafik, dimana sumbu X merupakan jumlah
individu tangkapan kumulatif dan sumbu Y merupakan jumlah individu hasil tangkapan pada
suatu periode penangkapan. Pada metode ini, tidak dibatasi sampai berapa kali penangkapan,
semakin banya maka akan semakin baik karena akan tampak taksiran kelimpahannya di tiap
perlakuan dan pembaca dimudahkan untuk mengetahui hasilnya karena tersaji dalam bentuk
grafik.
3. Analisis regresi linier
Metode ini pada dasarnya mirip dengan metode grafik. Dibandingkan dengan kedua
metode lainnya, metode ini adalah metode yang paling akurat karena mengolah data dari tiap
penangkapan dan memasukkannya kedalam rumus sehingga diketahui secara akurat data
taksiran kelimpahan populasinya.
Menurut Maramis (2005), Besarnya kelimpahan populasi kutu beras pada suatu habitat
ditentukan oleh adanya menyesuaikan diri dengan kingkungannya. Serangga menanggapi
sumber daya tersebut dengan cara yang kompleks. Keadaan pakan yang berfluktuasi secara
musiman akan menjadi faktor pembatas bagi keberadaan populasi hewan di suatu tempat oleh
adanya kompetisi antar individu. Iklim,curah hujan dan faktor makanan merupakan faktor
yang sangat menentukan bagi kelangsungan hidup serangga serta mempunyai pengaruh besar
pada laju perkembangan populasi serangga.
Maka kemungkinan sedikitnya jumlah kutu beras bertanda yang tertangkap kembali
pada penangkapan kedua dikarenakan kutu beras masih menyesuaikan diri pada habitatnya.
Kelimpahan dan aktivitas reproduksi serangga di daerah tropik sangat dipengaruhi oleh
musim, karena musim berpengaruh terhadap ketersediaan bahan makanan dan kemampuan
hidup serangga yang secara langsung dapat mempengaruhi kelimpahan. Setiap ordo serangga
mempunyai respon yang berbeda terhadap perubahan musim dan iklim (Subahar. 2004).
VII. KESIMPULAN
1. Karakteristik dasar suatu populasi. adalah ukuran besar populasi, kerapatan dan
kelimpahan populasi.
2. Kelimpahan populasi sangat ditentukan oleh aktivitas reproduksinya yang didukung
oleh kondisi lingkungan yang sesuai dan tercukupinya kebutuhan sumber
makanannya.
3. Kelimpahan populasi pada suatu habitat ditentukan oleh adanya keanekaragaman
dan kelimpahan sumber pakan maupun sumber daya lain yang tersedia pada habitat
tersebut.
4. Taksiran kelimpahan populasi pada metode CMR adalah N = 14 dengan standart
deviasi 9,8

5. Taksiran kelimpahan populasi kutu beras dengan metode removal adalah sebanyak
18

VIII. DAFTAR PUSTAKA

Ewusie. 1990. Pengantar Ekologi Tropika. Bandung. Penerbit Institut


Teknologi Bandung
Hamid, Hasmiandy 2012.Struktur komunitas serangga herbivora dan parasitoid pada
polong tanaman kacang-kacangan (Fabaceae) di Padang. Jurnal Entomologi
Indonesia Indonesian Journal of Entomology.Vol 9 No 2. ISSN : 1829-7722
Heddy, Suwasono. 1986. Pengantar Ekologi.Jakarta : CV Rajawali
Michael,P.1991. Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Ladang dan
Laboratorium. Jakarta : UI Press
Odum, E. P. 1996. Dasar – Dasar Ekologi. Terjemahan oleh T. Samingan.
Yogyakarta : Gadjah Mada Press
Soegianto, Agoes. 1994. Ekologi Kuantitatif.Surabaya : Penerbit Usaha Nasional
Soetjipta. 1993. Dasar-Dasar Ekologi Hewan. Yogyakarta : Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Subahar, T. 2004. Keanekaragaman Serangga pada Bentang Alam yang Berbeda di
Kawasan Gunung Tangkuban Parahu. Konferensi Nasional Konservasi Serangga,
Bogor 2007
Tarumingkeng, R. C. 1994. Dinamika Populasi Kajian Ekologi Kuantitatif. Jakarta :
Pustaka Sinar Harapan
Tim dosen ekologi hewan.2018.Panduan Praktikum Ekologi Hewan.Medan : FMIPA
UNIMED