Anda di halaman 1dari 16

CONTOH RESEP

PERTANYAAN

A. Skrining resep: administratif dan farmasetik


B. skrining klinis:
- Dosis
- Uraian Obat (nama obat, indikasi, mekanisme kerja, efek samping,
dosis)
C. Komunikasi, Informasi, dan Edukasi

1|Page
RESEP
Resep dalam arti sempit ialah permintaan tertulis dari dokter, dokter
hewan atau dokter gigi kepada apoteker untuk membuatkan obat dalam
sediaan tertentu dan menyerahkannya kepada pasien. Resep harus jelas
dan lengkap, apabila resep tidak dapat dibaca dengan jelas atau tidak
lengkap apoteker harus menyanyakan kepada dokter penulis resep (Anief,
2007).
Menurut undang-undang yang diperbolehkan menulis resep adalah
dokter umum, dokter hewan, dokter gigi, atau dokter spesialis. Bagi dokter
spesialis tidak ada pembatasan jenis obat yang diberikan kepada pasien
(Amira, 2011).
A. SKRINING RESEP
Skrining resep merupakan suatu pemeriksaan kelengkapan resep
yang dilakukan oleh apoteker sebelum pasien menerima obat. Ada tiga
aspek dalam skrining resep yaitu aspek kelengkapan, aspek farmasetis,
dan pertimbangan klinis dalam hal lain interaksi obat (Menkes,2012)
Menurut Jas (2009) dalam Amira (2011), resep terdiri dari 6 bagian:
a. Inscriptio
Nama dokter, No. SIP, alamat/telepon/HP/kota/tempat, tanggal
penulisan resep. Untuk obat narkotika hanya berlaku untuk satu kota
provinsi. Sebagai identitas dokter penulis resep, format inscription suatu
resep dari rumah sakit sedikit berbeda dengan resep pada praktik pribadi.
Nama dokter merupakan salah satu syarat administrasi resep yang
harus dipenuhi karena, dicantumkannya nama dokter menujukan bahwa
resep tersebut asli dapat di pertanggung jawabkan dan tidak
disalahgunakan orang lain selain tenaga keprofesian dokter dalam hal ini
untuk menentukan keputusan medis kepada pasien.
SIP (Surat Ijin Praktek) dokter wajib dicantumkan di dalam resep
dikarenakan untuk menjamin bahwa dokter tersebut secara sah diakui
dalam praktek keprofesian dokter. Perarturan menteri kesehatan juga

2|Page
menyebutkan bahwa dokter, dokter gigi, dan dokter hewan wajib memliki
SIP (Surat Ijin Praktek) (Permenkes, 2007).
Alamat dokter terdiri dari alamat praktek, alamat rumah dan nomor
telepon dokter yang biasa dicantumkan dalam resep. Alamat dokter harus
dicantumkan dengan jelas dan diperlukan karena apabila suatu resep
tulisannya tidak jelas atau meragukan bisa langsung menghubungi dokter
yang bersangkutan,
Pencantuman paraf dokter digunakan agar resep yang ditulis
otentik dan dapat dipertanggung jawabkan agar tidak disalahgunakan di
masyarakat umum, hal itu terkait dalam penulisan resep narkotik maupun
psikotropika. Tanggal penulisan resep dicantumkan untuk keamanan
pasien dalam hal penggambilan obat. Apoteker dapat menentukan apakah
resep tersebut masih bisa dilayani di apotek atau disarankan kembali ke
dokter dikarenakan, berkaitan dengan kondisi pasien meskipun di
Indonesia belum ada ketentuan batas Pencantuman nama pasien di
dalam resep sangat berguna karena menghindari tertukarnya obat dengan
pasien lain pada waktu pelayanan di apotek.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelengkapan nama pasien
yang dicantumkan sebanyak 596 dari 602 resep racikan atau sebesar
99% kejadian.
Alamat pasien sering kali diabaikan oleh penulis resep (dokter),
alamat pasien berguna sebagai identitas pasien apabila terjadi kesalahan
dalam pemberian obat di apotek, atau obat tertukar dengan pasien lain.
Dari hasil penelitian yang didapatkan sebanyak 265 resep dari total
sampel 602 atau 44,10% kejadian kelengkapan penulisan alamat pasien.
Pencantuman umur pasien di dalam resep berguna dalam hal kaitannya
dengan perhitungan dosis karena sudah banyak rumus yang digunakan
untuk perhitungan dosis dengan menggunakan umur pasien. umur pasien
juga berkaitan
dengan kesesuaian bentuk sediaan akhir pada resep racikan.

3|Page
hal ini juga akan memperlancar pelayanan pasien pada waktu di
apotek.
b. Invocatio
Permintaan tertulis dokter dalam singkatan latin “R/ = resipe” artinya
ambilah atau berikanlah, sebagai kata pembuka komunikasi dengan
apoteker di apotek.
c. Prescriptio atau Ordonatio
Nama obat dan jumlah serta bentuk sediaan yang diinginkan.
d. Signatura
Tanda cara pakai, regimen dosis pemberian, rute dan interval waktu
pemberian harus jelas untuk keamanan penggunaan obat dan
keberhasilan terapi.
e. Subscrioptio
Tanda tangan/paraf dokter penulis resep berguna sebagai legalitas
dan keabsahan resep tersebut.
f. Pro (diperuntukkan)
Dicantumkan nama dan tanggal lahir pasien. Teristimewa untuk obat
narkotika juga harus dicantumkan alamat pasien (untuk pelaporan ke
Dinkes setempat).
Pelayanan resep Menurut KepMenkes
No.1027/MENKES/SK/1X/2004 standar pelayanan resep di apotek
meliputi skrining resep dan penyiapan obat.
Skrining resep meliputi 3 aspek, yaitu:
 Persyaratan administrasi meliputi nama dokter, SIP, alamat dokter,
tanggal penulisan resep, nama, umur, berat badan, alamat pasien,
tanda tangan/paraf dokter, jenis obat, dosis, potensi/indikasi, cara
pemakaian, dan bentuk sediaan jelas.
 Kesesuaian farmasetis meliputi bentuk sediaan, dosis,
inkompatibiltas, stabilitas dan cara pemberian.
 Kesesuaian klinis meliputi adanya efek samping, alergi, dosis dan
lama pemberian. Jika resep tidak jelas dapat langsung menghubungi

4|Page
dokter yang bersangkutan dan memberikan alternatif bila perlu
menggunakan persetujuan setelah pemberitahuan langsung.
1. Skrining Administratif (Kelengkapan Resep)
Pada Resep
No. Uraian
Ada Tidak Ada
Incription
Identitas Dokter :
1.Nama Dokter 
2.SIP Dokter 
3.Alamat Dokter 
4.Nomor Telepon 
5.Tempat dan tanggal penulisan resep 
Invocatio
6. Tanda resep diawal penulisan resep

(R/)
Prescriptio/Ordonatio
7. Nama Obat 
8. Kekuatan OBat 
9. Jumlah Obat 
Signature
10. Nama Pasien 
11. Jenis Kelamin 
12. Umur Pasien 
13. Berat Badan 
14. Alamat Pasien 
15. Aturan Pakai Obat 
16. Iter/tanda lain 
Subscriptio
17. Tanda tangan/paraf dokter 
Kesimpulan:
Resep tersebut = Tidak Lengkap
Resep tidak lengkap karena tidak mencantumkan informasi mengenai:
- Nama dokter, SIP dan Nomor telepon dokter.
- Jenis kelamin, berat badan pasien dan alamat pasien .
- Kekuatan sediaan tidak semua dituliskan pada resep.
Cara Mengatasi:
- Nama dokter, SIP, dan nomor telepon dokter dapat ditanyakan
lagsung kepada dokter/klinik/rumah sakit tempat dokter praktek.
- Jenis kelamin dan berat badan pasien dapat ditanyakan langsung
kepada pasien/keluarga pasien.
- Kekuatan sediaan dapat dilihat pada ketersediaan obat yang ada
pada apotek atau menanyakan langsung kepada dokter yang
meresepkan obat.

5|Page
2. Skirining Farmasetis
No. Kriteria Permasalahan Pengatasan
1. Bentuk Sediaan - Sesuai
2. Stabilitas Obat - Sesuai
3. Inkompatibilitas - Sesuai
4. Cara Pemberian - Sesuai
5. Jumlah dan aturan pakai Tidak Sesuai -
Kesimpulan:
Dosis pada Dexamethasone sebaiknya ditingkatkan menjadi 1 tab pada
sekali pemakaian, karena pasien berusia 21 tahun dan dosis
dexamethasone hanya diberikan ½ tab, sehingga lebih baik ditingkatkan
menjadi 1 tab agar dosis tidak subterapi.

B. SKRINING KLINIS
Skrining klinis adalah bagian dari proses perhitungan, agar dokter
mengetahui apakah penderita beresiko terhadap suatu penyakit, sehingga
harus dilakukan skrining klinis untuk mengetahui penyakit yang ditangani.
Tujuan skrining yaitu untuk mendeteksi pasien yang memiliki penyakit
pada tahap awal, ringan, dan tidak bergejala.
Kesesuaian klinis meliputi dosis obat, uraian obat yang berupa
indikasi, kontra indikasi, efek samping, dan mekanisme kerja dari masing-
masing obat. Skrining klinis perlu dilakukan agar apabila resep tidak jelas
dapat langsung menghubungi dokter yang bersangkutan dan memberikan
alternatif bila perlu menggunakan persetujuan setelah pemberitahuan
langsung.
1. Dosis
Dosis Dosis
Jenis Ketera
Obat Kandungan Resep Lazim
Sediaan ngan
(DR) (DL)
100 mg
sehari 2
Doxycycline 100 kali,
DR<DL
Kapsul Interdoxin 50-100 mg (Sehari kemudian
(ISO, 2014) 1x1) 50 mg-100
mg sehari
2 kali
Metilprednisolo 1/4 tab Dosis
Racikan Tropidrol n 4 mg, 8 mg, (Sehari Resep
-
Kapsul (ISO,2014) 16 mg 2X1 Cap) tidak
(ISO, 2014) cukup

6|Page
Cetirizine 10
1/2 tab
Rydian mg/Cap
(Sehari - DR=DL
(ISO,2014) (ISO, 2014)
2X1 Cap)
Calsium Calsium laktat 100 mg
Sehari DR<DL
laktat 500 mg (Sehari
4X1 Cap
(ISO,2014) (ISO, 2014) 2X1 Cap)

30 mg-40
mg, 200
Pureway-C
mg-300
500 mg
Prove-C Sehari 1x1 mg
Tablet mmengandung DR<DL
(ISO,2014) Tab Sehari 1
vitamin C 450
Kaplet
mg
(ISO,
2014)
Vitamin B1 2
mg,
Vitamin B2 2
mg, Vitamin 1x1
B-Comp DR =
Tablet B6 2 mg, ka. 50 mg 1 x sehari
(ISO,2014) DL
Pantotenate
10 mg,
nikotinamid 20
mg

1%
Asam salycil (SUE
Acid Salycil 0,5-2% DR=DL
0,5 – 2% muka
malam)

2%
Clindamycin (SUE
Racikan
Clinium 2% 1% muka 1% DR>DL
Cream
(ISO, 2014) malam)

0, 025%,
Asam retinoid 2%
0,5%, 0,025%, (SUE 0,025%X1
Vitacid DR=DL
0,1% muka 5 gram
(MIMS, 2015) malam)

2. Uraian Obat
a. Interdoxin (MIMS, 2015)
 Indikasi

7|Page
 Saluran pernafasan: Infeksi saluran pernafasan bawah
termasuk pneumonia yang disebabkan
Haemophilus influenzae, Klebsiella sp., S. pneumonia.
 Pneumonia yang disebabkan oleh Mycoplasma pneumonia
 Pengobatan bronkitis dan sinusitis kronis.
 Infeksi saluran kemih yang disebabkan oleh
Klebsiella, Enterobacter, S. faecalis, E coli.
 Infeksi kulit: acne vulgaris.
 Penyakit karena hubungan 5eksual: Infeksi yang disebabkan oleh
Chlamydia trachomatis termasuk infeksi uretra yang tidak
terkomplikasi, infeksi endocervical atau rectal. Urethritis non-
gonococcal yang disebabkan oleh Ureaplasma urealyticum (T.
mycoplasma). Chancroid atau infeksi-infeksi yang disebabkan
oleh Haemophylus ducreyi.
 Sebagai alternatif untuk pengobatan gonore dan sifilis.
 Infeksi mata yang disebabkan oleh Gonococci, Staphylococci dan
H. influenzae seperti trachoma dan konjungtivitis.
 Infeksi Rickettsia.
 Kontra Indikasi
 Penderita yang hipersensitif / alergi terhadap golongan tetrasiklin.
 Wanita hamil, menyusui, dan anak di bawah umur 8 tahun.
 Efek Samping
 Saluran cerna: anoreksia, mual dan muntah, diare, glositis dan
superinfeksi oleh mikroorganisme yang tidak peka.
 Kenaikan kadar urea darah.
 Darah: anemia hemolitik, trombositopenia, neutropenia, eosinofilia
 Reaksi hipersensitif : urtikaria, anafilaksis dan Lupus
Erythematosus
 Dosis

8|Page
Interdoxin 100 mg cap dapat diminum sebelum maupun sesudah
makan.
 Mekanisme Kerja
Doxycycline bekerja dengan jalan menghalangi
pembentukan protein bakteri, dan tempat kerjanya pada 30S
ribosom bakteri.
Doxycycline mempunyai spektrum luas terhadap bakteri Gram-positif
dan Gram-negatif.
b. Tropidrol (MIMS, 2015)
 Indikasi
Penyakit saluran napas & dermatologi, reumatik & gangguan
endokrin, alergi, berbagai penyakit autoimun.
 Kontra Indikasi
Infeksi jamur sistemik, imunisasi, laktasi.
 Efek Samping
Gangguan cairan & elektrolit, otot lemah, osteoporosis, gangguan
pengobatan, peningkatan TIO, stradium cushingoid, supresi
pertumbuhan, ireguler menstruasi, katarak subkapsular posterior.
 Dosis
Dws Awal 4-48 mg/hari.
Anak 0.4-1.6 mg/kgBB/hari.
c. Rydian (MIMS, 2015)
 Indikasi
Pengobatan perenneal rhinitis, alergi rhinitis yang bersifat musiman,
urtikaria idiopatik kronis.
 Kontra Indikasi
Hipersensitifitas dengan laktasi
 Efek Samping
Rasa kantuk, sakit kepala, agitasi, mulut kering, rasa tidak enak pada
lambung, ruam kulit, angioederma.
 Dosis

9|Page
Dewasa dan anak > 12 tahun: 1 x 1 tablet salut selaput. Pasien
dengan gangguan ginjal: Sehari 1/2 tablet.
 Mekanisme Kerja
Cetirizine bekerja dengan menghambat secara selektif reseptor
histamin H-1 perifer. Cetirizine tidak secara signifikan mempengaruhi
reseptor histamin 1 pada otak sehingga efek sedatifnya jauh lebih
kecil jika dibandingkan dengan antihistamin H-1 generasi pertama
seperti Klorfeniramine.
d. Calsium Laktat (MIMS, 2015)
 Indikasi
1. Digunakan sebagai terapi dan pencegahan defisiensi kalsium.
2. Kondisi yang berisiko mengakibatkan defisiensi kalsium,
termasuk: kehamilan, laktasi, masa pertumbuhan (usia anak-
anak) karena peningkatan kebutuhan kalsium; lanjut usia karena
gangguan absorpsi
3. Beberapa kondisi medis (seperti: hipotiroidisme, diare kronis,
gagal ginjal) dan obat (seperti: diuretik).
 Kontra Indikasi
Kondisi yang terkait dengan hiperkalsemia dan hiperkalsiuria; fibrilasi
ventrikuler.
 Efek Samping
Gangguan saluran cerna (iritasi, konstipasi). Hiperkalsemia dapat
terjadi.
 Dosis
Dewasa:
 Hipokalsemia: 325-650 mg oral 2-3 kali sehari sebelum makan.
Pengobatan juga mungkin akan termasuk vitamin D oral.
 Rakitis: 325 hingga 650 oral 2-3 kali sehari sebelum makan.
Pengobatan juga mungkin akan termasuk vitamin D oral.
 Hipoparathyroidisme: 325 mg oral 3 kali sehari sebelum makan.
Pengobatan juga mungkin akan termasuk vitamin D oral.

10 | P a g e
 Pseudohypoparathyroidism: 325 mg oral 3 kali sehari sebelum
sarapan. Pengobatan juga mungkin akan termasuk vitamin D oral.
 Osteoporosis: 325 hingga 650 mg secara oral 2-3 kali sehari
sebelum makan. Osteoporosis dapat dipengaruhi oleh
meningkatnya serum hormone parathyroid, konsumsi alkohol
berlebih, penggunaan tembakau, obat-obatan tertentu
(kortikosteroid, anti kejang, heparin, hormon tiroid), vitamin D
minum, dan latihan angkat beban.

e. Prove C (MIMS, 2015)


 Indikasi :
Suplemen vitamin C.
 Dosis :
 1 x 1 kaplet /hari setelah makan.
Kontra indikasi :
Penderita yang hipersensitif terhadap salah satu bahan obat ini.
 Kontra indikasi :
Penderita yang hipersensitif terhadap salah satu bahan obat ini.
 Efek samping :
Jika dikonsumsi dengan takaran yang direkomendasikan, vitamin C
tidak akan membahayakan dan sangat jarang menyebabkan efek
samping. Sebaliknya, jika dikonsumsi dalam dosis tinggi dalam
jangka panjang, maka dapat meningkatkan risiko terbentuknya batu
ginjal atau terjadinya beberapa gejala seperti berikut ini:
 Perut kembung.
 Nyeri ulu hati.
 Diare.
 Muntah.

11 | P a g e
 Sakit peru
f. Asam salisil (MIMS, 2015)
 Indikasi
Mengatasi hiperkeratosis, kulit bersisik, jerawat, kutil, dan kapalan
 Kontra Indikasi
Penderita yang hipersensitif terhadap salah satu bahan obat ini.
 Efek Samping
 Iritasi, kering, atau nyeri pada kulit.
 Keluar nanah atau darah yang menandakan terjadinya infeksi.
 Kulit terasa panas, memerah, dan mengelupas.
 Gatal-gatal.

 Dosis
 Hiperkeratosis dan kulit bersisik 1,8-3% Gunakan 1-4 kali
setiap hari
 Jerawat 0,5-2% Gunakan 1-3 kali setiap hari.
 Kutil, kapalan
12-40% Gunakan pada kutil atau kepalan selama 48 jam.
5-17% dengan campuran collodion Gunakan secukupnya
hingga mengering, Ulangi 1- 2 kali hingga kutil atau kapalan bisa
terlepas
g. Cilinium (MIMS, 2015)
 Indikasi
mengobati infeksi bakteri secara luas hampir seluruh organ seperti
gigi dan kulit.]
 Kontra indikasi
Hipersensitif terhadap klindamisin dan linkomisin
 Dosis
Dewasa infeksi ringan 150 mg -300 mg tiap 6 jam. Infeksi berat
300-400 mg tiap 6 jam
 Efek samping

12 | P a g e
Mual, diare, pusing, sakit kepala, atau kesulitan tidur.
 Mekanisme kerja
Mekanisme kerja klindamisin sama dengan eritromisin yaitu
mengikat secara ireversibel pada tempat sub unit 50S ribosom
bakteri, sehingga menghambat langkah translokasi sintesis protein.
h. Vitacid
 Indikasi
Jerawat & penuaan kulit akibat cahaya
 Kontra indikasi
Hipersensitif terhadap klindamisin dan linkomisin
 Dosis
Oleskan sekali sehari sebelum tidur.
 Efek samping
Eritema, edema, kulit melepuh, hipo atau hiperpigmentasi, sensitive
terhadap cahaya matahari
.
C. KOMUNIKASI, INFORMASI, DAN EDUKASI
1. Komunikasi
Komunikasi yang tepat untuk pasien yaitu, sebelum
merekomendasikan produk obat batuk bebas (OTC) kepada pasien, kita
harus memastikan apakah suamedikasi tepat dilakukan dan harus selalu
melihat pada rekam medik mengenai riwayat alergi pasien, riwayat
kesehatan, dan catatan pengobatan terakhir untuk memantau interaksi
dan kontraindikasi obat yang mungkin terjadi.
Selama berkonsultasi, pasien harus diingatkan untuk membaca brosur
informasi obat dan memeriksa komposisi sebelum menggunakan terutama
jika menggunakan banyak produk, untuk menghindari pemberian obat
ganda atau dosis berlebih. Penting bagi pasien untuk mematuhi aturan
dosis dan pemberian obat serta durasi penggunaan obat.
Pasien yang mengalami 1 atau beberapa gejala berikut harus
berkonsultasi dengan dokter dan tidak boleh melakukan suamedikasi.

13 | P a g e
 Riwayat gejala yang berkaitan dengan batuk kronik, seperti PPOK,
gagal jantung kongestif, asma dan bronchitis kronik.
 Batuk yang menghasilkan lender berwarna atau berdarah.
 Batuk yang disebabkan oleh obat golongan tertentu.
 Batuk yang disertai demam lebih dari 38-36oC, napas pendek, nyeri
dada, berkeringat, menggigil, sakit kepala berat, atau pembengkakan
pergelangan kaki atau kaki.
 Batuk yang memburuk atau tidak reda setelah mengalami infeksi
saluran pernapasan atas oleh virus, seperti pilek atau batuk.
Batuk dapat menjadi penyakit akut dan kronik sehingga swamedikasi
dapat menyamarkan identifikasi dan pengobatan penyebab dasar. Pasien
yang mengalami batuk kronik harus disarankan untuk berobat ke dokter,
terutama jika penyebabnya tidak diketahui atau batuknya tidak membaik
atau memburuk. Dalam banyak kasus batuk akan membaik atau berhenti
jika akar penyebabnya diobati atau dihindari. Jadi batuk yang disebabkan
karena alergi direkomendasikan untuk menghindari penyebab alerginya
(Wiyono, 2013).
2. Informasi
Informasi yang harus diberikan kepada pasien yaitu mengenai
penggunaan obat dan cara pakainya.
 Kapsul
Kapsul merupakan obat pereda batuk, diminum 3 x 1 kapsul dalam
sehari, dan diminum setelah makan.
 Antibiotik (Cefadroksil)
Antibiotik diminum 2 x 1 tablet dalam sehari, diminum setelah makan,
dan harus dihabiskan.
 Vitamin (B – Complex)
Vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh, diminum 1 x 1 tablet dalam
sehari, diminum setelah makan dan lebih baik pada pagi hari.
3. Edukasi
Edukasi yang harus diberikan kepada pasien yaitu:

14 | P a g e
 Memperbanyak minum air putih untuk mengencerkan dahak,
mengurangi iritasi dan rasa gatal.
 Memakai masker saat berada didalam atau luar rumah untuk
menghidari terjadinya penularan penyakit pada orang lain.
 Menghindari paparan debu, minuman atau makanan yang
merangsang tenggorokan dan menyebabkan alergi seperti
makanan yang berminyak dan minuman dingin.
 Menghindari paparan udara dingin (yang mungkin saja penyebab
alergi).
 Hirup uap air panas (dari semangkuk air panas) untuk mencairkan
sekresi hidung yang kental supaya mudah dikeluarkan. Dapat juga
ditambahkan minyak atsiri untuk membuka sumbatan saluran
pernapasan
 Istirahat yang cukup
(Wiyono,2013)

15 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA

Amira, Afra. 2011. Penulisan Resep Askes di Apotek RSUP Haji Adam
Malik Periode Mei 2011. Medan: Fakultas Kedokteran, USU.

Anonim. 2014. ISO Informasi Spesialite Obat Indonesia Volume 48.


Jakarta : Penerbit PT. ISFI.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2004. Keputusan Menteri


Kesehatan RI No.1027/MENKES/SK/IX/2004 Tanggal 15 September
2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek Jakarta:
Direktorat Jendral Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia, Edisi III. Departemen KEsehatan


Republik Indonesia. Jakarta.

MIMS. 2015. MIMS, Referensi Obat, Informasi Ringkas Produk Obat.


Bahasa Indonesia. Vol. 16. Bhuana Ilmu Populer: Indonesia.

Peraturan Menteri Kesehatan No. 35 Bab 1 Pasal I (4).2014. Standar


Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta: Menteri Kesehatan
Republik Indonesia.

Wiyono Wenny, Goenawi Lily Randi. 2013. Dampak Penyuluhan Pada


Pengetahuan Masyarakat terhadap Pemilihan Dan Penggunaan
Obat Batuk Swamedikasi Di Kecamatan Malalayang. Program Studi
Farmasi FMIPA UNSTRAT Manado. Dalam Jurnal Ilmiah Farmasi.
Vol. 2 No. 03.

16 | P a g e