Anda di halaman 1dari 3

TUGAS ANTIKORUPSI

Kasus Nazaruddin bermula pada saat dirinya dituduh menjadi aktor dibalik kasus suap. Nama
Muhammad mulai banyak diperbincangkan ketika dirinya dituduh dalam kasus suap
Sesmenpora Wafid Muharram. Menurut Kamarudin Simanjutak kliennya disuruh oleh
seorang anggota partai politik yang diketahui namanya Nazaruddin.

Penetapan nazaruddin sebagai tersangka yang pada awalnya dirinya berkelit terlibat kasus
penyuapan dan pemberontakan yang dilakukan tetapi akhirnya terbukti sebagai tersangka
oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Sehari sebelum ditetapkannya Nazaruddin ditetapkan
sebagai tersangka dirinya berhasil melarikan diri keluar negeri dengan alasan pemeriksaan
kesehatan.

Pada saat itu kasus ini mencuat Nazaruddin merupakan bendahara umum di partai Demokrat.
Kasusu ini membuat secara tidsk langsung membuat pamor dari partai Demokrat turun di
mata masyarakat. Melihat dirinya kebelakang Muhammad Nazaruddin sebelum terlibat dalam
kasus penyuapan merupakan pernah terlibat dalam kasus pemalsuan dokumen yang pada saat
itu dilakukan agar persuhaan perusahaan miliknya PT Anugerah Nusantara memenuhi
persyaratan mengikuti proyek tender pengadaan di Departemen Perindustrin yang bernilai
Rp. 100 M.

Kasusu tersebut terjadi pada tahun 2005 dan sempat dilakukan pemeriksaan di Polda Metro
Jaya. Namun tiba-tiba keluar Sp-3 terhadap kasus tersebut sehingga dirinya terbebas dari
masalah tersebut. Setelah kasus tersebut muncul lagi kasus yang hangat di perbincangkan
yang terkait Nazaruddin adalah kasus percobaan yang dilakukan Nazaruddin pada Seketris
Jendral M Gaffar.

Kasus tersebut langsung ditangkap oleh ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud M. D.


Nazaruddin memberikan sejumlah amplop yang berisi sejumlah uang kepada sekjen Mk
tanpa ada alasan yang jelas. Setelah Nazaruddin ditetapkan sebagai tersangka Muhammad
Nazaruddin justru menghilang dan sulit di temukan di Indonesia, yang akhirnya menjadi
buronan interpool yang tertangkap di Kolombia.
Tertangkap pada 7 Agustus 2011 di Bogota Kolombia sebelum tertangkap Nazaruddin
sempat membeberkan beberapa kasus terutama yang berhubungan dengan Kongres Partai
Demokrat dan juga tuduhan terhadap rekayasa kasus yang dilakukan oleh KPK. Pengajuaan
kasasi oleh Jaksa penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi, Mahkamah Agung (MA)
menolak kasasi terdakwa kasus dugaan korupsi pembangunan Wisma Atlet Palembang,
M.Nazaruddin. Putusan ini juga mengabulkan permohonan kasasi yang diajukan Jaksa
Penuntut Umum Komisi KPK.

Kepala biro Hukum dan Humas Mahkamah Agung, Ridwan Mansyur menjelaskan putusan
MA ini memperberat hukuman Nazaruddin yang dijatuhkan Pengadilan Tindak Pidana
Korupsi (Tipikor) Jakarta, yaitu empat tahun 10 bulan penjara menjadi tujuh tahun penjara.
Selain itu, dalam putusannya, MA juga memberikan hukuman denda Rp 300 juta kepada
Nazaruddin.

"Mengadili, menolak permohonan kasasi dari pemohon kasasi 2 Muhamad Nazaruddin.


Mengabulkan permohonan dari pemohon kasasi 1 jaksa pada Komisi Pemberantasan
Korupsi. Membatalkan putusan pengadilan tindak pidana korupsi pada Pengadilan Tinggi
Jakarta no 31/PIT/TPK/2012-PT DKI TANGGAL 8 Agustus 2012, yang telah menguatkan
putusan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tanggal 20 april 2012.
Mengadili sendiri, menyatakan terdakwa Muhamad Nazaruddin terbukti bersalah melakukan
tindak pidana korupsi. Menghukum pidana selama 7 tahun dan denda Rp 300 juta.

Ridwan Mansyur menambahkan, dalam putusan kasasi itu juga menjelaskan, apabila denda
Rp 300 juta tidak dibayar, dapat diganti pidana penjara selama enam bulan. Putusan kasasi itu
menurut Ridwan, dengan Majelis Hakim kasasi yang diketuai Hakim Agung Artidjo Alkostar
dengan dua anggota majelis, yakni Hakim Agung Mohammad Askin dan Hakim Agung MS
Lumme. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengaku menerima putusan kasasi
Mahkamah Agung (MA) terkait kasus suap pembangunan Wisma Atlet SEA Games dengan
terdakwa Muhammad Nazaruddin.

Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada 20 April 2012 menjatuhkan pidana empat tahun
sepuluh bulan penjara dan denda Rp. 200 juta kepada Nazaruddin. Vonis tersebut lebih
ringan dibandingkan tuntutan jaksa yang menuntut Nazaruddin dengan pidana penjara selama
tujuh tahun. Di persidangan, mantan bendahara umum partai Demokrat itu terbukti menerima
suap Rp 4,6 miliar. Nazar juga dinilai memiliki andil membuat PT DGI menang lelang
proyek senilai Rp. 191 miliar di Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Dampak Korupsi Terhadap Eksistensi Negara

 Meningkatkan kemiskinan efek penghancuran terhadap orang yang kurang mampu.


 Melemahnya perekonomian, korupsi memperlemah investasi dan pertumbuhan ekonomi.
Korupsi merintangi akses masyarakat terhadap pendidikan dan kesehatan masyarakat yang
kurang baik.
 Meningkatnya angka kriminalitas korupsi menyebabkan munculnya angka kriminalitas
lainnya dalam masyarakat.
 Demoralisasi korupsi yang sering terjadi membuat penglihatan masyarakat umum akan
menurunkan kredabilitas pemerintah yang berkuasa,\.
 Terganggunya sistem politik dan fungsi pemerintahan.
 Hilangnya masa depan demokrasi akibat pemimpin yang korupsi.

Tindkaan korupsi berdampak negatif pada kehidupan masyrakat sekitar. Dampak yang
terlihat secara langsung dan tidak langsung seperti kenaikan harga harga barang akibat
anggaran APBN yang dikorupsi. Bertambahnya masyarakat miskin akibat uang tunjangan
bagi masyarakat miskin yang seharusnya diberikan tetpi dikorupsikan. Mahalnya biaya yang
harus rakyat keluarkan untuk mendapatkan layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan
yang seharusnya bersubsidi. Banyaknya rakyat yang di PHK akibat perusahaan kecil tempat
mereka bekerja gulung tikar akibat dana investasi yang dikorupsi.