Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latarbelakang

Perkembangan keperawatan di Indonesia telah mengalami perubahan yang


sangat pesat menuju perkembangan keperawatan sebagai profesi. Undang-undang
No. 23 Tahun 1992 telah memberikan pengakuan secara jelas terhadap tenaga
keperawatan sebagai tenaga profesional sebagaimana pada Pasal 32 ayat (4), Pasal
53 ayat (I j dan ayat (2)). Selanjutnya, pada ayat (4) disebutkan bahwa ketentuan
mengenai standar profesi dan hak-hak pasien sebagaimana dimaksud dalam ayat
(2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
Dalam profesi keperawatan tentunya berpedoman pada etika profesi
keperawatan yang dituangkan dalam kode etik keperawatan. Sebagai suatu
profesi, PPNI memiliki kode etik keperawatan yang ditinjau setiap 5 tahun dalam
MUNAS PPNI. Berdasarkan keputusan MUNAS VI PPNI No. 09/MUNAS
VI/PPNI/2000 tentang Kode Etik Keperawatan Indonesia.
Dalam menjalankan profesinya sebagai tenaga perawat professional
senantiasa memperhatikan etika keperawatan yang mencakup tanggung jawab
perawat terhadap klien (individu, keluarga, dan masyarakat). Selain itu , dalam
memberikan pelayanan keperawatan yang berkualitas tentunya mengacu pada
standar praktek keperawatan yang merupakan komitmen profesi keperawatan
dalam melindungi masyarakat terhadap praktek yang dilakukan oleh anggota
profesi dalam hal ini perawat.
Dalam menjalankan tugas keprofesiannya, perawat bisa saja melakukan
kesalahan yang dapat merugikan klien sebagai penerima asuhan
keperawatan,bahkan bisa mengakibatkan kecacatan dan lebih parah lagi
mengakibatkan kematian, terutama bila pemberian asuhan keperawatan tidak
sesuai dengan standar praktek keperawatan.kejadian ini di kenal dengan
malpraktek. Di dalam setiap profesi termasuk profesi tenaga kesehatan berlaku
norma etika dan norma hukum.

1
1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana contoh kasus pelanggaran kode etik keperawatan?

2. Bagaimana penanganan kasus pelanggaran kode etik tersebut?

1.3 Tujuan Penelitian


1. Mengetahui bagaimana contoh kasusu pelanggaran kode etik
keperawatan.
2. Mengerahui cara penanganan pelanggaran kode etik keperawatan.

BAB II

2
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Etika

Etika merupakan kata yang berasal dari Yunani, yaitu Ethos, yang menurut
Araskar dan David (1978) berarti kebiasaan atau model prilaku, atau standar yang
diharapkan dan kriteria tertentu untuk sesuatu tindakan, dapat diartikan segala
sesuatu yang berhubungan dengan pertimbangan pembuatan keputusan, benar atau
tidaknya suatu perbuatan. Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary of
Curret English, AS Hornby mengartikan etika sebagai sistem dari prinsip-prinsip
moral atau aturan-aturan prilaku. Menurut definisi AARN (1996), etika berfokus
pada yang seharusnya baik salah atau benar, atau hal baik atau buruk. Sedangkan
menurut Rowson, (1992).etik adalah Segala sesuatu yang berhubungan/alasan
tentang isu moral.

Setelah beberapa definisi, dan teori yang berkaitan dengan etika dari
pelaku asuhan keperawatan dalam praktek keperawatan, masalah etik
menimbulkan konflik antara kebutuhan pasien dengan harapan perawat. Masalah
eika keperawatan pada dasarnya merupakan masalah etika kesehatan, yang lebih
dikenal dengan istilah etika biomedis atau bioetis (Suhaemi, 2002).

Adapun permasalahan etik yang yang sering muncul banyak sekali, seperti
berkata tidak jujur (bohong), abortus, menghentikan pengobatan, penghentian
pemberian makanan dan cairan, euthanasia, transplantasi organ serta beberpa
permasalahan etik yang langsung berkaitan dengan praktek keperawatan, seperti:
evaluasi diri dan kelompok, tanggung jawab terhadap peralatan dan barang,
memberikan rekomendasi pasien pad dokter, menghadapi asuhan keperawatan
yang buruk, masalah peran merawat dan mengobati (Prihardjo, 1995).

2.2 Kasus Pelanggaran Kode Etik Keperawatan

3
Ny. D seorang ibu rumah tangga, umur 35 tahun, mempunyai 2 orang anak
yang berumur 6 dan 4 tahun, Ny.D. berpendidikan SMA, dan suami Ny.D bekerja
sebagai Sopir angkutan umum. Saat ini Ny.D dirawat di ruang kandungan RS.
sejak 2 hari yang lalu. Sesuai hasil pemeriksaan Ny.D positif menderita kanker
rahim grade III, dan dokter merencanakan klien harus dioperasi untuk dilakukan
operasi pengangkatan kanker rahim, karena tidak ada tindakan lain yang dapat
dilakukan. Semua pemeriksaan telah dilakukan untuk persiapan operasi Ny.D.
Klien tampak hanya diam dan tampak cemas dan binggung dengan rencana
operasi yang akan dijalaninnya. Pada saat ingin meninggalakan ruangan dokter
memberitahu perawat kalau Ny.D atau keluarganya bertanya, sampaikan operasi
adalah jalan terakhir. Dan jangan dijelaskan tentang apapun, tunggu saya yang
akan menjelaskannya.
Menjelang hari operasinya klien berusaha bertanya kepada perawat
ruangan yang merawatnya.

Ny D : “Apakah saya masih bisa punya anak setelah dioperasi nanti?, karena
kami masih ingin punya anak. Apakah masih ada pengobatan yang
lain selain operasi dan apakah operasi saya bisa diundur dulu suster”.

Perawat : “Ibu kan sudah diberitahu dokter bahwa ibu harus operasi, penyakit ibu
hanya bisa dengan operasi, tidak ada jalan lain, yang jelas ibu tidak
akan bisa punya anak lagi. Bila ibu tidak puas dengan jawaban saya,
ibu tanyakan lansung dengan dokternya…ya”.

Sehari sebelum operasi klien berunding dengan suaminya dan


memutuskan menolak operasi dengan alasan, klien dan suami masih ingin punya
anak lagi.

2.3 Penanganan Kasus Kode Etik Keperawatan

Kasus diatas menjadi dilemma etik bagi perawat dimana dilema etik ini
didefinisikan sebagai suatu masalah yang melibatkn dua atau lebih landasan moral
suatu tindakan tetapi tidak dapat dilakukan keduanya. Ini merupakan suatu

4
kondisi dimana setiap alternatif tindakan memiliki landasan moral atau prinsip.
Pada kasus dilema etik ini sukar untuk menentukan yang benar atau salah dan
dapat menimbulkan kebingungan pada tim medis yang dalam konteks kasus ini
khususnya pada perawat karena dia tahu apa yang harus dilakukan, tetapi banyak
rintangan untuk melakukannya.
Dalam menyelesaikan kasus dilema etik yang terjadi pada kasus Ny. D,
dapat diambil salah satu kerangka penyelesaian etik, yaitu kerangka pemecahan
etik yang dikemukan oleh Kozier, erb. (1989), dengan langkah-langkah sebagai
berikut.

1. Mengembangkan data dasar

Mengembangkan data dasar dalam hal klarifiaksi dilema etik, mencari


informasi sebanyaknya, berkaitan dengan orang yang terlibat, yaitu: Pasien, suami
pasien, dokter bedah/kandungan, Rohaniawan dan perawat.
Tindakan yang diusulkan yaitu akan dilakukan operasi pengangkatan
kandungan/rahim pada Ny.D. tetapi pasien mempunyai otonomi untuk
membiarkan penyakitnya menggorogoti tubuhnya, walaupun sebenarnya bukan
itu yang diharapkan, karena pasien masih meginginkan keturunan.
Maksud dari tindakan yaitu dengan memberikan pendidikan, konselor,
advocasi diharapkan pasien mau menjalani operasi serta dapat membuat
keputusan yang tepat terhadap masalah yang saat ini dihadapi. Dengan tujuan agar
Agar kanker rahim yang dialami Ny.D dapat diangkat (tidak menjalar ke organ
lain) dan pengobatan tuntas.

Konsekuensi dari tindakan yang diusulkan yaitu bila operasi dilaksanakan.

1. Biaya, biaya yang dibutuhkan klien cukup besar untuk pelaksanaan


operasinya.
2. Psikologis, pasien merasa bersyukur diberi umur yang panjang bila operasi
berjalan baik dan lancar, namun klien juga dihadapkan pada kondisi stress
akan kelanjutan hidupnya bila ternyata operasi itu gagal.
3. Selain itu konsekuensi yang harus dituanggung oleh klien dan suaminya
bahwa ia tidak mungkin lagi bisa memiliki keturunan.

2. Mengidentifikasi konflik

5
Mengidentifikasi konflik yang terjadi berdasarkan situasi tersebut.
Untuk memutuskan apakah operasi dilakukan pada wanita tersebut, perawat
dihadapkan pada konflik tidak menghormati otonomi klien. Apabila tindakan
operasi dilaukan perawat dihadapkan pada konflik tidak melaksanakan kode etik
profesi dan prinsip moral.
Bila menyampaikan penjelasan dengan selengkapnya perawat kawatir
akan kondisi Ny.D akan semakin parah dan stress, putus asa akan keinginannya
untuk mempunyai anak. Bila tidak dijelaskan seperti kondisi tersebut, perawat
tidak melaksanakan prinsip-prinsip professional perawat Bila perawat
menyampaikan pesan dokter, perawat melangkahi wewenang yang diberikan oleh
dokter, tetapi bila tidak disampaikan perawat tidak bekerja sesuai standar profesi.

3. Membuat tindakan alternatif

Membut tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang direncanakan


dan mempertimbangkan hasil akhir atau konsekuensi tindakan tersebut.

1. Menjelaskan secara rinci rencana tindakan operasi termasuk dampak setelah


dioperasi.
2. Menjelaskan dengan jelas dan rinci hal-hal yang berkaitan dengan penyakit
bila tidak dilakukan tindakan operasi
3. Memberikan penjelasan dan saran yang berkaitan dengan keinginan dari
mempunyai anak lagi, kemungkinan dengan anak angkat dan sebagainnya.

4. Mendiskusikan dan memberi kesempatan kepada keluarga

Mendiskusikan dan memberikan kesempatan kepada keluarga atas


penolakan tindakan operasi dan memberikan alternative tindakan yang mungkin
dapat dilakukan oleh keluarga.

5. Memberikan advokasi

Memberikan advokasi kepada pasien dan keluarga untuk dapat bertemu


dan mendapat penjelasan langsung pada dokter bedah, dan memfasilitasi pasien
dan kelurga untuk dapat mendapat penjelasan seluas-luasnya tentang rencana
tindakan operasi dan dampaknya bila dilakukan dan bila tidak dilakukan.

6
6. Menentukan siapa yang terlibat dalam masalah tersebut dan siapa
pengambil keputusan yang tepat.

Kasus pasien tersebut merupakan masalah yang kompleks dan rumit,


membuat keputusan dilkukan operasi atau tida, tidak dapat diputuskan pihak
tertentu saja, tetapi harus diputuskan bersama-sama yang meliputi.

1. Siapa yang sebaiknya terlibat dalam membuat keputusan dan mengapa


mereka ditunjuk.
2. Untuk siapa saja keputusan itu dibuat.
3. Apa kriteria untuk menetapkan siapa pembuat keputusan (social, ekonomi,
fisiologi, psikologi dan peraturan/hukum).
4. Sejauh mana persetujuan pasien dibutuhkan
5. Apa saja prinsip moral yang ditekankan atau diabaikan oleh tindakan yang
diusulkan.

Dalam kasus Ny.D. dokter bedah yakin bahwa pembuat keputusan, jadi
atau tidaknya untuk dilakukan operasi adalah dirinya, dengan memperhatikan
faktor-faktor dari pasien, dokter akan memutuskan untuk memberikan penjelasan
yang rinci dan memberikan alternatif pengobatan yang kemungkinan dapat
dilakukan oleh Ny.D dan keluarga. Sedangkan perawat primer seharusnya
bertindak sebagai advokasi dan fasilitator agar pasien dan keluarga dapat
membuat keputusan yang tidak merugikan bagi dirinya, sehingga pasien
diharapkan dapat memutuskan hal terbaik dan memilih alternatif yang lebih baik
dari penolakan yang dilakukan.
Bila beberapa kriteria sudah disebutkan mungkin konflik tentang
penolakan rencana operasi dapat diselesaikan atau diterima oleh pasien setelah
mendiskusikan dan memberikan informasi yang lengkap dan valid tentang
kondisinya, dilakukan operasi ataupun tidak dilakukan operasi yang jelas pasien
telah mendapat informasi yang jelas dan lengkap sehingga hak autonomi pasien
dapat dipenuhi serta dapat memuaskan semua pihak. Baik pasien, keluarga,
perawat primer, kepala ruangan dan dokter bedahnya.

7
Mendefinisikan kewajiban perawat. Dalam membantu pasien dalam
membuat keputusan, perawat perlu membuat daftar kewajiban keperawatan yang
harus diperhatikan, sebagai berikut.

1. Memberikan informasi yang jelas, lengkap dan terkini meningkatkan


kesejahteran pasien
2. Membuat keseimbangan antara kebutuhan pasien baik otonomi, hak dan
tanggung jawab keluarga tentang kesehatan dirinya.
3. Membantu keluarga dan pasien tentang pentingnya sistem pendukung
melaksanakan peraturan Rumah Sakit selama dirawat.
4. Melindungi dan melaksanakan standar keperawatan yang disesuikan dengan
kompetensi keperawatan professional dan SOP yang berlaku diruangan
tersebut.

Membuat keputusan. Dalam suatu dilema etik, tidak ada jawaban yang
benar atau salah, mengatasi dilema etik, tim kesehatan perlu dipertimbangkan
pendekatan yang paling menguntungkan atau paling tepat untuk pasien. Kalau
keputusan sudah ditetapkan, secara konsisten keputusan tersebut dilaksanakan dan
apapun yang diputuskan untuk kasus tersebut, itulah tindakan etik dalam membuat
keputusan pada keadaan tersebut. Hal penting lagi sebelum membuat keputusan
dilema etik, perlu mengali dahulu apakah niat/untuk kepentinganya siapa semua
yang dilakukan, apakah dilakukan untuk kepentingan pasien atau kepentingan
pemberi asuhan, niat inilah yang berkaitan dengan moralitas etis yang dilakukan.
Pada kondisi kasus Ny.D. dapat diputuskan menerima penolakan pasien
dan keluarga tetapi setelah perawat atau tim perawatan dan medis, menjelaskan
secara lengkap dan rinci tentang kondisi pasien dan dampaknya bila dilakukan
operasi atau tidak dilakukan operasi. Penjelasan dapat dilakukan melalui wakil
dari tim yang terlibat dalam pengelolaan perawatan dan pengobatan Ny.D. Tetapi
harus juga diingat dengan memberikan penjelasan dahulu beberapa alternatif
pengobatan yang dapat dipertanggung jawabkan sesuai kondisi Ny.D sebagai
bentuk tanggung jawab perawat terhadap tugas dan prinsip moral profesionalnya.
Pasien menerima atau menolak suatu tindakan harus disadari oleh semua pihak
yang terlibat, bahwa hal itu merupakan hak, ataupun otonomi pasien dan keluarga.

8
Keputusan yang dapat diambil harus sesuai dengan hak otonomi klien dan
keluarganya serta pertimbangan tim kesehatan sebagai seorang perawat,
keputusan yang terbaik adalah dilakukan operasi berhasil atau tidaknya adalah
kehendak yang maha kuasa sebagai manusia hanya bisa berusaha.

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

9
Profesi keperawatan adalah profesi yang sangat rentan dengan tindakan
kelalaian, pelanggaran etika dan moral. Untuk itu sebagai seorang perawat
tidaklah cukup berbekal pada ketrampilan belaka tetapi harus perlu memahami,
etika keperawatan moral, kode etik keperawatan, hak-hak pasien, tanggung jawab
perawat, kewajiban perawat, nilai-nilai dan undang-undang kesehatan sehinga
tercapailah apa yang kita idam-idamkan menjadi perawat professional yang
didambakan semua perawat dan masyarakat sebagai pengguna jasa keperawatan.

3.2 Saran

Dengan adanya makalah ini diharapkan kepada para pembaca pada


umumnya dan penulis pada khususnya dapat mengetahui, memahami dan
menambah wawasan tentang pelanggaran kode etik yang terjadi di proses asuhan
keperawata serta penanganannya. Kami menyadari bahwa makalah kami ini masih
banyak kekurangan, untuk itu kami sangat membutuhkan kritik dan saran dari
pembaca.

DAFTAR PUSTAKA

http://ninawahyusuryani.blogspot.com/2012/12/makalah-malpraktek-dalam-
keperawatan.html (diunduh tanggal 31 maret 2015).

http://munabarakati.blogspot.com/2014/06/makalah-kode-etik-keperawatan-
dan-15.html (diunduh tanggal 31 maret 2015).

10
11