Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN HERNIA

2.1. Konsep Dasar


2.1.1. Definisi
Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau
bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan. Pada hernia abdomen, isi perut menonjol
melalui defek atau bagian lemah dari lapisan muskulo-aponeurotik dinding perut
(Sjamsuhidayat, 2004: 523).
Sedangkan menurut Sue Hinclift (2000), Hernia adalah protusio (penonjolan)
abnormal suatu organ atau bagian suatu organ melalui lubang (apertura) pada stuktur
disekitarnya, umumnya protusio organ abdominal melalui celah dari dinding abdomen (Sue
Hinchliff, 2000:206).
Hernia adalah tonjolan keluarnya organ atau jaringan melalui dinding rongga dimana
organ tersebut seharusnya berada yang didalam keadaan normal tertutup (Suster nada, 21 juli
2007).
Sedangkan Hernia Scrotalis adalah penonjolan hernia yang terjadi pada kantong
scrotum sering terjadi pada anak-anak karena kelainan kongenital (bawaan). Operasi hernia
adalah tindakan pembedahan yang dilakukan untuk mengembalikan isi hernia pada posisi
semula dan menutup cincin hernia (Long, 1996 : 246).
Menurut Oswari (2000) mengungkapkan hernia Scrotalis adalah hernia isi perut yang
tampak/masuk di daerah kantung scrotum (region genitalis). Hernia Scrotalis merupakan
penonjolan yang keluar dari rongga peritoneum melalui anulus inguinalis internus yang terletak
lateral dari pembuluh epigastrika inferior, kemudian hernia masuk kedalam kanalis inguinalis
dan jika cukup panjang, menonjol keluar dari anulus inguinalis eksternus ( Sjamsuhidayat,
2004 : 527 )
Dari ketiga definisi diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hhernia
menurut Sjamsuhidayat (2004), Hernia Scrotalis adalah hernia yang melalui atau menekan area
Scrotum yang terletak lateral dari pembuluh epigastrika inferior kemudian hernia masuk ke
dalam kanalis inguinalis dan jika cukup panjang, menonjol keluar dan menekan testis.
2.1.2. Etiologi
Hernia dapat terjadi karena lubang embrional yang tidak menutup atau melebar, atau
akibat tekanan rongga perut yang meninggi. Adapun beberapa faktor yang dapat menyebabkan
terjadinya hernia antara lain sebagai berikut:
1. Kongenital
Terjadi akibat prosesus vaginalis peritonium disertai dengan annulus inguinalis yang
cukup lebar, terutama ditemukan pada bayi. Lemahnya dinding rongga perut. Dapat ada
sejak lahir atau didapat kemudian dalam hidup. Adapun penyebab kongenital atau bawaan
dapat dibagi menjadi dua berdasarkan kelainannya:
a) Hernia congenital sempurna. Bayi sudah menderita hernia kerena adanya defek pada tempat
– tempat tertentu.
b) Hernia congenital tidak sempurna. Bayi dilahirkan normal (kelainan belum tampak) tapi dia
mempunyai defek pada tempat-tempat tertentu (predisposisi) dan beberapa bulan (0 – 1
tahun) setelah lahir akan terjadi hernia melalui defek tersebut karena dipengaruhi oleh
kenaikan tekanan intraabdominal (mengejan, batuk, menangis).
2. Prosesus vaginalis yang terbuka, yang disebabkan oleh:
a) Pekerjaan mengangkat barang-barang berat.
b) Batuk kronik, bronchitis kronik, TBC.
c) Hipertropi prostat dan konstipasi.
d) Pekerja keras
3. Kelemahan otot dinding perut, yang disebabkan oleh:
a) Usia tua, sering melahirkan.
b) Perubahan defek setelah appendiktomy
4. Aquisial, aquisial adalah hernia yang terbuka disebabkan karena adanya defek bawaan
tetapi disebabkan oleh fakor lain yang dialami manusia selama hidupnya, antara lain :
a) Tekanan intraabdominal yang tinggi. Banyak dialami oleh pasien yang sering
mengejan yang baik saat BAB maupun BAK.
b) Konstitusi tubuh. Orang kurus cenderung terkena hernia jaringan ikatnya yang
sedikit. Sedangkan pada orang gemuk juga dapat terkena hernia karena banyaknya
jaaringan lemak pada tubuhnya yang menambah beban kerja jaringan ikat penyokong
pada LMR.
c) Banyaknya preperitoneal fat banyak terjadi pada orang gemuk.
d) Distensi dinding abdomen karena peningkatan tekanan intraabdominal.
2.1. 3. Klasifikasi Hernia
Menurut Sjamsuhidayat, tahun2004 terdapat pembagian hernia atau klasifikasi
hernia. Berikut ini adalah pembagian atau klasifikasi dari hernia:
1. Hernia Menurut Lokasinya.
a) Hernia inguinalis adalah hernia yang terjadi dilipatan paha. Batang usus melewati cincin
abdomen dan mengikuti saluran sperma masuk ke dalam kanalis inguinalis. Jenis ini
merupakan yang tersering ditemukan atau terjadi pada pasien dan dikenal dengan istilah turun
berok atau burut.

b) Hernia Scrotalis adalah hernia yang terjadi apabila usus masuk kedalam kantung scrotum
ini terjadi bila batang usus melewati cincin abdomen dan mengikuti saluran sperma masuk
ke dalam kanalis inguinalis kemudian masuk kedalam kantong scrotum dan menekan pada
isi kantung scrotum sehingga scrotum membesar.
c) Hernia umbilikus adalah hernia yang tejadi apabila usus masuk melalui prosecus discus
pada pusat atau sering disebut hernia di pusat, hernia jenis ini terjadi pada bayi yang baru
lahir yang disebabkan karena kelainaan kongenital.
d) Hernia femoralis adalah hernia yang tejadi apabila usus masuk melalui prosecus discus di
paha.
2. Hernia Menurut Isinya
a) Hernia usus halus adalah hernia yang terjadi bila yang melewati cincin abdomen adalah
usus halus.
b) Henia Omentum
Hernia omentum adalah hernia yang terjadi bila yang melewati cincin abdomen
adalah penyangga usus. Omentum adalah berupa organ atau jaringan yang keluar melalui
kantong hernia, misalnya usus, ovarium, dan jaringan penyangga usus (omentum).
c) Hernia Nukleus Pulposus
Adalah jenis hernia yang terjadi apabila, system syaraf pusat atau sumsum tulang
belakang pada vertebra terjepi pada discus vertebrae terjadi karena trauma yang
melibatkan tulang belakang misalmya jatuh dalam posisi terduduk.
3. Hernia Menurut Sifatnya
a) Hernia Reponibel
Isi hernia dapat keluar masuk, usus keluar jika mengejan dan masuk jika berbaring
atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri/gejala.
b) Hernia Ireponibel
Kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga, ini disebabkan oleh
perlengketan isi kantong pada peritonial. Penatalaksanaan harus dengan operasi.
c) Hernia Inkaserata/Hernia Stragulata
Isi hernia terjepit oleh cincin hernia/terperangkap, tidak dapat kembali ke dalam
rongga perut.
Bagian – bagian hernia :
a) Kantong hernia
Pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis. Tidak semua hernia memiliki
kantong, misalnya hernia incisional, hernia adiposa, hernia intertitialis.
b) Isi hernia
Berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong hernia, misalnya usus, ovarium,
dan jaringan penyangga usus (omentum).
c) Pintu hernia
Merupakan bagian locus minoris resistance yang dilalui kantong hernia.
d) Leher hernia
Bagian tersempit kantong hernia yang sesuai dengan kantong hernia.

2.1.4. Patofisiologi
Pada hernia karena kelainan kongenital yang terjadi bawaan lahir, kanalis inguinalis
dalam kanal yang normal pada fetus. Pada bulan ke – 8 dari kehamilan, terjadinya desensus
vestikulorum melalui kanal tersebut. Penurunan testis itu akan menarik peritoneum ke daerah
scrotum sehingga terjadi tonjolan peritoneum yang disebut dengan prosesus vaginalis
peritonea. Bila bayi lahir umumnya prosesus ini telah mengalami obliterasi, sehingga isi
rongga perut tidak dapat melalui kanalis tersebut. Tetapi dalam beberapa hal sering belum
menutup, karena testis yang kiri turun terlebih dahulu dari yang kanan, maka kanalis inguinalis
yang kanan lebih sering terbuka. Dalam keadaan normal, kanal yang terbuka ini akan menutup
pada usia 2 bulan (Soeparman, dkk. 2001).
Bila prosesus terbuka sebagian, maka akan timbul hidrokel. Bila kanal terbuka terus,
karena prosesus tidak berobliterasi maka akan timbul hernia inguinalis lateralis kongenital.
Biasanya hernia pada orang dewasa ini terjadi karena usia lanjut, karena pada umur tua otot
dinding rongga perut melemah. Sejalan dengan bertambahnya umur, organ dan jaringan tubuh
mengalami proses degenerasi. Pada orang tua kanalis tersebut telah menutup (Soeparman, dkk.
2001).
Namun karena daerah ini merupakan locus minoris resistance, maka pada keadaan
yang menyebabkan tekanan intraabdominal meningkat seperti batuk – batuk kronik, bersin
yang kuat dan mengangkat barang – barang berat, mengejan. Kanal yang sudah tertutup dapat
terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis lateralis karena terdorongnya sesuatu jaringan
tubuh dan keluar melalui defek tersebut. Akhirnya menekan dinding rongga yang telah tertekan
akibat trauma, hipertropi prostat, asites, kehamilan, obesitas dan kelainan kongenital dan dapat
terjadi pada semua. Pria lebih banyak dari wanita, karena adanya perbedaan proses
perkembangan alat reproduksi pria dan wanita semasa janin.
Potensial komplikasi terjadi perlengketan antara isi hernia dengan dinding kantong
hernia sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali. Terjadi penekanan terhadap cincin
hernia, akibat semakin banyaknya usus yang masuk, cincin hernia menjadi sempit dan
menimbulkan gangguan penyaluran isi usus. Timbulnya edema bila terjadi obtruksi usus yang
kemudian menekan pembuluh darah dan kemudian terjadi nekrosis. Bila terjadi penyumbatan
dan perdarahan akan timbul perut kembung, muntah, konstipasi. Bila inkarserata dibiarkan,
maka lama kelamaan akan timbul edema sehingga terjadi penekanan pembuluh darah dan
terjadi nekrosis. Juga dapat terjadi bukan karena terjepit melainkan ususnya terputar. Bila isi
perut terjepit dapat terjadi shock, demam, asidosis metabolik, abses (Soeparman, dkk. 2001).
Komplikasi hernia tergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia. Antara lain
obstruksi usus sederhana hingga perforasi (lubangnya) usus yang akhirnya dapat menimbulkan
abses lokal, fistel atau peritonitis.
Hernia eksternal merupakan protrusi abnormal organ intra-abdominal melewati defek faskia
pada dinding abdominal. Hernia yang sering terjadi adalah inguinal, femoral, umbilical, dan
paraumbilikal (Soeparman, dkk. 2001).
Hernia indirek bersifat congenital dan disebabkan oleh kegagalan penutupan prosesus
vaginalis (kantong hernia) sewaktu turun ke dalam skrotum. Kantong yang dihasilkan bisa
meluas sepanjang kanalis inguinalis; jika meluas kedalam skrotum maka disebut hernia
lengkap. Karena processus vaginalis terletak didalam funikulus spermatikus, maka prosessus
ini dikelilingi oleh muskulus kremater dan dibentuk oleh pleksus venosus pampiniformis,
duktus spermatikus dan arteria spermatika. Lubang interna ke dalam kavitas peritonealis selalu
lateral terhadap arteria epigastrica profunda dngan adanya hernia inguinalis indirek, sedangkan
lubang interna medial terhadap pembuluh darah ini bila hernianya direk (R. Sjamsuhidajat,
1997).
Hernia inguinalis dan scrotalis sering timbul pada pria dan lebih sering pada sisi
kanan dibandingkan sisi kiri. Peningkatan tekanan intra abdomen akibat berbagai sebab, yang
mencakup pengejanan yang mendadak, gerak badan yang terlalu aktif, obesitas, batuk
menahun, asites, mengejan pada waktu buang air besar, kehamilan dan adanya massa abdomen
yang besar, mempredisposisi pasien ke perkembangan hernia (R. Sjamsuhidajat, 1997).
Peningkatan tekanan intra abdomen ini akan mendorong bagian dari usus dan
lambung ke dalam kanalis ini, atau bahkan kedalam scrotum. Faktor yang dipandang berperan
kausal adalah adanya prosesus vaginalis yang terbuka, dan kelemahan otot dinding perut
karena usia. Proses turunnya testis mengikuti prosesus vaginalis. Pada neonatus kurang lebih
90% prosesus vaginalis tetap terbuka sedangkan pada bayi umur satu tahun sekiar 30%
prosesus vaginalis belum tertutup. Tetapi kejadian hernia pada umur ini hanya beberapa persen.
Tidak sampai 10% anak dengan prosesus vaginalis paten menderita hernia. Pada anak dengan
hernia unilateral dapat dijumpai prosesus vaginalis paten kontralateral lebih dari separo,
sedangkan insidens hernia tidak melebihi 20%. Umumnya disimpulkan bahwa adanya prosesus
vaginalis yang paten bukan merupakan penyebab tunggal terjadinya hernia tetapi diperlukan
faktor lain seperti anulus ingunalis yang cukup besar.
Tekanan intraabdomen yang meninggi secara kronik seperti batuk kronik, hipertrofi
prostat, konstipasi, dan asites sering disertai hernia ingunalis.
Insidens hernia meningkat dengan bertambahnya umur mungkin karena meningkatnya
penyakit yang meninggikan tekanan intraabdomen dan jaringan penunjang berkurang
kekuatannya(Kozier & Erb. 2004) .
Dalam keadaan relaksasi otot dinding perut, bagian yang membatasi anulus internus
turut kendur. Sebaliknya bila otot dinding perut berkontraksi, kanalis inguinalis berjalan lebih
transversal dan anulus inguinalis tertutup sehingga dapat mencegah masuknya usus kedalam
kanalis inguinalis. Kelemahan otot dinding perut antara lain terjadi akibat kerusakan
N.Ilioinguinalis dan N.Iliofemoralis setelah apendektomi (Kozier & Erb. 2004).
Jika kantong hernia inguinalis lateralis mencapai skrotum disebut hernia skrotalis.
Hernia ini disebut lateralis karena menonjol dari perut lateral pembuluh epigastrika inferior.
Disebut indirek karena keluar melalui dua pintu dan saluran yaitu anulus dan kanalis
inguinalis; berbeda dengan hernia medialis yang langsung menonjol melalui segitiga
Hesselbach dan disebut sebagai hernia direk.
Pada pemeriksaan hernia lateralis, akan tampak tonjolan berbentuk lonjong
sedangkan hernia medial berbentuk tonjolan bulat. Pada bayi dan anak, hernia lateralis
disebabkan oleh kelainan bawaan berupa tidak menutupnya prosesus vaginalis peritonium
sebagai akibat proses penurunan testis ke skrotum. Hernia geser dapat terjadi disebelah kanan
atau kiri. Sebelah kanan isi hernia biasanya terdiri dari sekum dan sebagian kolon asendens,
sedangkan sebelah kirinya terdiri dari sebagian kolon desendens. Pada umumnya keluhan pada
orang dewasa berupa benjolan di lipat paha yang timbul pada waktu mengedan, batuk, atau
mengangkat beban berat, dan menghilang waktu istirahat baring. Pada bayi dan anak-anak
adanya benjolan yang hilang timbul di lipat paha biasanya diketahui oleh orang tua. Jika hernia
mengganggu dan anak atau bayi sering gelisah, banyak menangis dan kadang-kadang perut
kembung, harus dipikirkan kemungkinan hernia strangulata (R. Sjamsuhidajat, 1997).
Defek pada dinding abdomen dapat kongenital (misalnya: hernia umbilikalis, kanalis
femoralis) atau didapat (misalnya akibat suatu insisi) dan dibatasi oleh peritoneum (kantung).
Peningkatan tekanan intraabdomen lebih lanjut membuat defek semakin lemah dan
menyebabkan beberapa isi intraabdomen (misalnya: omentum, lengkung usus halus), keluar
melalui celah tersebut. Isi usus yang terjebak di dalam kantung menyebabkan inkarserasi
(ketidakmampuan untuk mengurangi isi) dan kemungkinan strangulasi (terhambatnya aliran
darah ke daerah yang mengalami inkarserasi) (Kozier & Erb. 2004).
Pasien datang dengan benjolan di tempat lokasi hernia. Hernia femoralis berada di
bawah dan lateral dari tuberkulum pubikum. Biasanya hernia ini mendatarkan garis-garis kulit
di lipatan paha dan 10 kali lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. 50% kasus
merupakan kasus kegawatdaruratan bedah akibat terobstruksinya isi hernia dan 50% dari kasus
ini membutuhkan reseksi usus halts. Hernia femoralis tidak dapat dikembalikan ke tempat
semula (irreducible). Hernia inguinalis dimulai pada bagian atas dan medial terhadap
tuberkulum pubikum namun dapat turun lebih luas jika membesar, biasanya mempertegas
garis-garis lipatan paha. Sebagian besar ringan dan jarang mengalami komplikasi (Kozier &
Erb. 2004).
2.1.5. Manifestasi Klinis
Pada kebanyakan kasus hernia, tanda dan gejala yang sering muncul pada pasien yang
dapat ditemui antara lain:
1. Berupa benjolan keluar masuk/keras
2. Adanya rasa nyeri pada daerah benjolan
3. Terdapat gejala mual dan muntah atau distensi bila telah ada komplikasi.
4. Terdapat keluhan kencing berupa disuria pada hernia femoralis yang berisi kandung
kencing.
Hernia yang tak memperlihatkan gejala-gejala diketemukan pada waktu pemeriksaan
rutin. Suatu penonjolan atau gumpalan pada skrotum, dan pada waktu batuk dan defekasi
penonjolan semakin menonjol. Juga pada waktu meningkat sesuatu atau kegiatan fisik lainnya.
Pada beberapa kasus tertentu massa menjulur sampai ke dalam skrotum, daerah pangkal paha
terasa tidak enak, terutama kalau hernia membesar
a) Suatu massa di daerah pangkal paha, reponibel atau inkarserata, kadang-kadang sampai ke
daerah skrotum. Pada bayi dan wanita adanya masa itu satu-satunya tanda yang ada.
Hernia kecil yang tak memperlihatkan gejala tak akan terlihat dari luar.
b) Pada anak laki yang lebih besar dan pria, maka harus dilakukan penanganan sebagai
berikut. Skrotum dimasuki jari telunjuk dan jari ditempatkan pada atau melalui annulus
inguinalis eksterna. Instrusikan pada pasien untuk menekan (mengedan) seakan-akan
hendak buang air besar. Ini akan meningkatkan tekanan intraabdominal. Kantung hernia
merupakan suatu struktur bagaikan balon yang menekan jari secara langsung atau dari sisi
lateral. Annulus eksterna yang membesar bukan hernia, meskipun kemungkinan hernia
yang menyebabkan pembesaran itu dan hernia harus dicari dengan cermat kalau annulus
cukup besar sehingga jari telunjuk dapat masuk. Hernia inguinalis paling mudah
diperagakan kalau pasien berdiri tetapi periksalah pasien baik dalam posisi berdiri maupun
dalam posisi telentang.
c) Indirek versus direk. Hernia indirek merupakan suatu massa elips yang berjalan turun dan
miring ke dalam kanal inguinalis. Mungkin akan masuk ke dalam skrotum. Massa ini
menekan sisi lateral jari yang dipakai untuk memeriksa. Dengan menekan bagian atas
annulus interna dengan satu tangan maka dapat dicegah jangan sampai hernia masuk ke
dalam kanalis inguinalis.
d) Hernia direk adalah suatu massa sferis, yang jarang turun sampai ke skrotum. Massa itu
menekan jari yang memeriksa langsung dari sebelah depan. Dengan menekan annulus
interna dengan tangan kita tak dapat mengurangi hernia tersebut (Soeparman, dkk. 2001).
Sebagian besar hernia adalah asimtomatik, dan kebanyakan ditemukan pada
pemeriksaan fisik rutin dengan palpasi benjolan pada annulus inguinalis superfisialis atau suatu
kantong setinggi annulus inguinalis profundus. Yang terakhir dibuat terasa lebih menonjol bila
pasien batuk. Salah satu tanda pertama adalah adanya massa dalam daerah inguinalis manapun
atau bagian atas skrotum. Dengan berlalunya waktu, sejumlah hernia turun ke dalam skrotum
sehingga skrotum membesar. Pasien hernia sering mengeluh tidak nyaman dan pegal pada
daerah ini, yang dapat dihilangkan dengan reposisi manual hernia ke dalam kavitas
peritonealis. Tetapi dengan berdiri atau terutama dengan gerak badan, maka biasanya hernia
muncul lagi (Price. Silvya. A.2005).
Umumnya pasien pengatakan turun berok, burut atau kelingsir, mengatakan adanya
benjolan di selangkangan/kemaluan. Benjolan tersebut bisa mengecil atau menghilang pada
waktu tidur, dan bila menangis, mengejan, atau mengangkat benda berat atau bila posisi pasien
berdiri dapat timbul kembali. Bila telah terjadi komplikasi dapat ditemukan nyeri (Price.
Silvya. A.2005).
Keadaan umum pasien biasanya baik. Bila benjolan tidak nampak, pasien dapat
disuruh mengejan dengan menutup mulut dalam keadaan berdiri. Bila ada hernia maka akan
tampak benjolan. Bila memang sudah tampak benjolan, harus diperiksakan apakah benjolan
tersebut dapat dimasukkan kembali. Pasien diminta berbaring, bernapas dengan mulut untuk
mengurangi tekanan intraabdominal, lalu skrotum diangkat perlahan-lahan. Diagnosis pasti
hernia pada umumnya sudah dapat ditegakkan dengan pemeriksaan klinis yang teliti (Price.
Silvya. A.2005).
Keadaan cincin hernia juga perlu diperiksa. Melalui skrotum jari telunjuk dimasukkan
ke atas lateral dari tuberkulum pubikum. Ikuti fasikulus spermatikus sampai ke annulus
inguinalis internus. Pada keadaan normal jari tangan tidak dapat masuk. Pasien diminta
mengejan dan merasakan apakah ada massa yang menyentuh jari tangan. Bila massa tersebut
menyentuh ujung jari maka itu adalah hernia inguinalis lateralis, sedangkan bila menyentuh sisi
jari maka diagnosisnya adalah hernia inguinalis medialis (Price. Silvya. A.2005).
Pada pasien terlihat adanya massa bundar pada annulus inguinalis eksterna yang
mudah mengecil bila pasien tidur. Karena besarnya defek pada dinding posterior maka hernia
ini jarang sekali menjadi irreponibilis. Hernia ini disebut direkta karena langsung menuju
annulus inguinalis eksterna sehingga meskipun annulus inguinalis interna ditekan bila pasien
berdiri atau mengejan, tetap akan timbul benjolan. Bila hernia ini sampai ke skrotum, maka
hanya akan sampai ke bagian atas skrotum, sedangkan testis dan funikulus spermatikus dapat
dipisahkan dari massa hernia.
Bila jari dimasukkan dalam annulus inguinalis eksterna, tidak akan ditemukan
dinding belakang. Bila pasien disuruh mengejan tidak akan terasa tekanan dan ujung jari
dengan mudah dapat meraba ligamentum Cowperi pada ramus superior tulang pubis. Pada
pasien kadang-kadang ditemukan gejala mudah kencing karena buli-buli ikut membentuk
dinding medial hernia.
Umumnya penderita hernia menyatakan adanya benjolan di kemaluan. Benjolan itu
bisa mengecil atau menghilang, dan bila menangis mengejan waktu defekasi/miksi,
mengangkat benda berat akan timbul kembali. Dapat pula ditemukan rasa nyeri pada benjolan
atau gejala muntah dan mual bila telah ada komplikasi (Smeltzer S. C. B. G. 2002).
Umumnya klien mengatakan adanya benjolan pada lipatan paha. Pada bayi dan anak
adanya benjolan yang hilang timbul dilipatan paha, dan hal ini biasanya diketahui oleh orang
tuanya. Pada inspeksi, diperhatikan pada keadaan osimetris pada kedua sisi, lipatan paha, posisi
berdiri dan berbaring. Pada saat batuk dan mengedan biasanya akan timbul benjolan. Pada
palpasi, teraba bising usus, suara omentum (seperti karet) (Smeltzer S. C. B. G. 2002).

2.1.6. Pemeriksaan Diagnostik


Meskipun hernia dapat didefinisikan sebagai setiap penonjolan viskus, atau sebagian
daripadanya, melalui lubang normal atau abnormal, 90% dari semua hernia ditemukan di
daerah inguinal. Biasanya impuls hernia lebih jelas dilihat daripada diraba.
Pasien disuruh memutar kepalanya ke samping dan batuk atau mengejan. Lakukan
inspeksi daerah inguinal dan femoral untuk melihat timbulnya benjolan mendadak selama
batuk, yang dapat menunjukkan hernia. Jika terlihat benjolan mendadak, mintalah pasien untuk
batuk lagi dan bandingkan impuls ini dengan impuls pada sisi lainnya. Jika pasien mengeluh
nyeri selama batuk, tentukanlah lokasi nyeri dan periksalah kembali daerah itu.
Palpasi hernia inguinal dilakukan dengan meletakan jari pemeriksa di dalam skrotum
di atas testis kiri dan menekan kulit skrotum ke dalam. Harus ada kulit skrotum yang cukup
banyak untuk mencapai cincin inguinal eksterna. Jari harus diletakkan dengan kuku
menghadap ke luar dan bantal jari ke dalam. Tangan kiri pemeriksa dapat diletakkan pada
pinggul kanan pasien untuk sokongan yang lebih baik. Telunjuk kanan pemeriksa harus
mengikuti korda spermatika di lateral masuk ke dalam kanalis inguinalis sejajar dengan
ligamentum inguinalis dan digerakkan ke atas ke arah cincin inguinal eksterna, yang terletak
superior dan lateral dari tuberkulum pubikum. Cincin eksterna dapat diperlebar dan dimasuki
oleh jari tangan.
Dengan jari telunjuk ditempatkan pada cincin eksterna atau di dalam kanalis
inguinalis, mintalah pasien untuk memutar kepalanya ke samping dan batuk atau mengejan.
Seandainya ada hernia, akan terasa impuls tiba-tiba yang menyentuh ujung atau bantal jari
penderita. Jika ada hernia, suruh pasien berbaring terlentang dan perhatikanlah apakah hernia
itu dapat direduksi dengan tekanan yang lembut dan terus-menerus pada massa itu. Jika
pemeriksaan hernia dilakukan dengan perlahan-lahan, tindakan ini tidak akan menimbulkan
nyeri.
Setelah memeriksa sisi kiri, prosedur ini diulangi dengan memakai jari telunjuk kanan
untuk memeriksa sisi kanan. Sebagian pemeriksa lebih suka memakai jari telunjuk kanan untuk
memeriksa sisi kanan pasien, dan jari telunjuk kiri untuk memeriksa sisi kiri pasien. Cobalah
kedua teknik ini dan lihatlah cara mana yang anda rasakan lebih nyaman.
Jika ada massa skrotum berukuran besar yang tidak tembus cahaya, suatu hernia
inguinal indirek mungkin ada di dalam skrotum. Auskultasi massa itu dapat dipakai untuk
menentukan apakah ada bunyi usus di dalam skrotum, suatu tanda yang berguna untuk
menegakkan diagnosis hernia inguinal indirek. Jika anda menemukan massa skrotum,
lakukanlah transluminasi. Di dalam suatu ruang yang gelap, sumber cahaya diletakkan pada
sisi pembesaran skrotum. Struktur vaskuler, tumor, darah, hernia dan testis normal tidak dapat
ditembus sinar. Transmisi cahaya sebagai bayangan merah menunjukkan rongga yang
mengandung cairan serosa, seperti hidrokel atau spermatokel. Dalam menegakkan diagnostik
pada penderita hernia dapat dilakukan:
1. Pemeriksaan fisik, pasien diminta untuk mengejan dengan menutup mulut dalam keadaan
berdiri bila ada hernia maka akan tampak benjolan.
2. Bila sudah ada benjolan dapat diperiksa dengan cara meminta pasien untuk berbaring
bernafas dengan mulut untuk mengurangi tekanan intra abdominan, lalu scrotum
diangkat perlahan-lahan.
3. Limfadenopati inguinal. Perhatikan apakah ada infeksi pada kaki sesisi.
Tindakan diagnostik yaitu :
a) Foto thoraks: Menunjukan adanya massa tanpa udara jika omentum yang masuk dan massa
yang berisi udara jika lambung adalah usus yang masuk.
b) Laboratorium : Menunjukan adanya peningkatn pada hasil pemeriksaan SGOT.
c) EKG : Biasanya dilakukan untuk persiapan operasi.

2.1.7. Penatalaksanaan
Pada hernia inguinalis lateralis responbilitas maka dilakukan tindakan bedah efektif
karena ditakutkan terjadi komplikasi. Pada yang iresponbilitas, maka diusahakan agar isi hernia
dapat dimasukkan kembali. Pasien istirahat baring dan dipuasakan atau mendapat diit halus.
Dilakukan tekanan yang kontinyu pada benjolan misalnya dengan bantal pasir. Baik juga
dilakukan kompres es untuk mengurangi pembengkakan. Lakukan usaha ini berulang-ulang
sehingga isi hernia masuk untuk kemudian dilakukan bedah efektif di kemudian hari atau
menjadi inkarserasi.
Pada inkerserasi dan strangulasi maka perlu dilakukan bedah darurat. Tindakan bedah
pada hernia ini disebut herniotomi (memotong hernia dan herniorafi (menjahit kantong hernia).
Pada bedah efektif manalis dibuka, isi hernia dimasukkan kantong diikat dan dilakukan “bassin
plasty” untuk memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Pada bedah darurat, maka
prinsipnya seperti bedah efektif. Cincin hernia langsung dicari dan dipotong. Usus dilihat
apakah vital/tidak. Bila tidak dikembalikan ke rongga perut dan bila tidak dilakukan reseksi
usus dan anastomois end to end.
1. Konservatif
Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian penyangga
atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi.
2. Operatif
Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis yang rasional.
Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Prinsip dasar operasi hernia adalah
hernioraphy, yang terdiri dari herniotomi dan hernioplasti.
3. Herniotomi
Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya. Kantong dibuka
dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi, kantong hernia dijahit-
ikat setinggi mungkin lalu dipotong.
4. Hernioplasti
Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis internus dan memperkuat
dinding belakang kanalis inguinalis. Hernioplasti lebih penting artinya dalam mencegah
terjadinya residif dibandingkan dengan herniotomi. Dikenal berbagai metode hernioplasti
seperti memperkecil anulus inguinalis internus dengan jahitan terputus, menutup dan
memperkuat fasia transversa, dan menjahitkan pertemuan muskulus tranversus internus
abdominis dan muskulus oblikus internus abdominis yang dikenal dengan nama conjoint
tendon ke ligamentum inguinale poupart menurut metode Bassini, atau menjahitkan fasia
tranversa musculus transversus abdominis, musculus oblikus internus abdominis ke
ligamentum cooper pada metode Mac Vay. Bila defek cukup besar atau terjadi residif berulang
diperlukan pemakaian bahan sintesis seperti mersilene, prolene mesh atau marleks untuk
menutup defek.
Dalam melaksanakan tindakan penatalaksanaan pada pasien dengan hernia maka yang
hal-hal yang harus diperhatikan antara lain adalah prinsip pembedahan:
a) Herniotomi: eksisi kantung hernianya saja untuk pasien anak.
b) Herniorafi: memperbaiki defek, perbaikan dengan pemasangan jaring (mesh) yang biasa
dilakukan untuk hernia inguinalis, yang dimasukkan melalui bedah terbuka atau
laparoskopik.
Setelah dilakukan tindakan pembedahan herniotomy yang harus diperhatikan adalah perawatan
untuk post operasi:
1) Hindari penyakit yang mungkin terjadi yaitu: Perdarahan, Syok, Muntah, Distensi,
Kedinginan, Infeksi, Dekubitus, Sulit buang air kecil.
2) Observasi keadaan klien.
3) Cek Tanda-tanda vital pasien.
4) Lakukan perawatan luka dan ganti balutan operasi sesuai dengan jadwal.
5) Perhatikan drainase.
6) Penuhi kebutuhan nutrisi klien.
7) Mobilisasi diri secara dini terutama pada hari pertama dan hari kedua.
a) Perawatan tidur dengan sikap Fowler (sudut 45o - 60o).
b) Hari kedua boleh duduk (untuk herniotomi hari ke-5).
c) Hari ketiga boleh jalan (untuk herniotomi hari ke-7).
8) Diet dan pemenuhan kebutuhan nutrisi:
a) Hari 0: Bila pengaruh obat anestesi hilang boleh diberi minum sedikit-sedikit
b) Hari 1: Diet Vloiher atau bubur sumsum dan susu cair (herniotomi diet sama dengan post
laparatomi)
c) Hari 2: Diet bubur saring
d) Hari 3: Berturut-turut diet ditingkatkan

2.1.8. Komplikasi dan Dampak Pembedahan Herniotomy


1. Hemtoma (luka atau pada skrotum).
2. Retensi urin akut.
3. Infeksi pada luka.
4. Gangguan aktivitas
5. Nyeri kronis.
6. Nyeri dan pembengkakan testis yang menyebabkan atrofi testis
7. Rekurensi hernia (sekitar 2%).
Dampak post herniotomi terhadap sistem tubuh dan system kelangsungan aktivitas pasien
setelah dilakukan post operasi herniotomy antara lain adalah sebagai berikut:
a) Sistem Gastrointestinal
Pembedahan traktus gastrointestinal sering kali mengganggu proses fisiologi normal
pencernaan dan penyerapan. Mual, muntah dan nyeri dapat terjadi selama pembedahan ketika
digunakan anestesia spinal. Dan penurunan peristaltik usus ini mengakibatkan distensi
abdomen dan gagal untuk mengeluarkan feses dan flatus. motalitas gastrointestinal dapat
mengakibatkan distensi abdomen dan gagal untuk mengeluarkan feses dan flatus ( Brunner &
Suddarth 2002 : 484 & 455 ).
b) Sistem Neurologi
Luka pembedahan mengakibatkan spasme otot dan pembuluh darah sehingga merangsang
pelepasan mediator kimia ( seratonin, bradikinin, histamin ). Proses ini merangsang reseptor
nyeri kemudian rangsangan ditransmisikan ke thalamus, kortek cerebri sehingga terasa nyeri.
Nyeri akan merangsang RAS ( Retikular Activating Sistem ) stimulus ini menyebabkan sikap
terjaga dan berkurangnya stimulus untuk mengantuk.
c) Sistem Pernapasan
Peningkatan frekuensi nafas dapat terjadi akibat nyeri pada luka operasi, hal ini merangsang
sinyal dari sum-sum tulang belakang yang dihantarkan melalui dua jalur yaitu Spinal Thalamus
Traktus ( STT ) ke Spinal Respiratory Traktus ( SRT ). Dari spinal thalamus traktus akan
dihantarkan ke korteks cerebri sehingga nyeri dipersepsikan, sedangkan dari spinal respirator,
traktus akan dihantarkan ke medula oblongata sehingga mengakibatkan neural inspiratory yang
akan meningkatkan frekuensi pernapasan. Nyeri pada luka operasi dapat menekan
pengembanahan rongga dada dan pasien dapat memerlukan sangat banyak dorongan untuk
beergerak, ambulasi dan bernafas dalam (C.Long, Barbara, 1996 : 251).
d) Sistem Kardiovaskuler
Pada klien post herniotomi biasanya dapat terjadi peningkatan denyut nadi, hal ini disebabkan
dari rasa nyeri akibat luka operasi sehingga mengakibatkan medula oblongata untuk
meningkatkan frekuensi pernapasan dan merangsang epineprin sehingga menstimulasi jantung
untuk memompa lebih cepat selain itu juga dapat terjadi akibat faktor metabolik, endokrin dan
keadaan yang menghasilkan adrenergik sehingga dimanifestasikan peningkatan denyut nadi.

e) Sistem Integumen
Luka operasi akan mengakibatkan kerusakan kontinuitas jaringan dan keterbatasan gerak dapat
mengakibatkan kerusakan kulit pada daerah yang tertekan karena sirkulasi perifer terhambat.
Akibat dari keadaan post operatif seperti peradangan, edema dan perdarahan, sering terjadi
pembekakan skrotum setelah perbaikan hernia inguinal lateral ( C.Long, Barbara, 1996 : 247 ).
f) Sistem Muskuloskeletal
Nyeri pada luka operasi timbul akibat terputusnya kontinuitas jaringan serta adanya spasme
otot, terjadi penekanan pada pembuluh darah yang mengakibatkan metabolisme anaerob
sehingga menghasilkan asam laktat, hal ini mengakibatkan terjadinya gangguan pergerakan (
otot persendian ) sehingga aktivitas sehari-hari dapat terganggu. Selain itu nyeri akibat luka
operasi dapat mengakibatkan klien mengalami keterbatasan gerak.

g) Sistem Perkemihan
Terjadinya retensi urine dapat terjadi setelah prosedur pembedahan. Retensi terjadi paling
sering setelah pembedahan pada rektum, anus dan vagina setelah pembedahan pada abdomen
bagian bawah, penyebabnya diduga adalah spasme spinkter kandung kemih (Brunner &
Suddarth 2002 : 484).
2.2. Konsep Keperawatan Secara Teoritis
2.2.1. Pengkajian
Tahap ini merupakan tahap awal dalam proses keperawatan dan menentukan hasil
dari tahap berikutnya. Pengkajian dilakukan secara sistematis mulai dari pengumpulan data,
identifikasi dan evaulasi status kesehatan klien (Nursalam, 2001).
Pengkajian data fisik berdasarkan pada pengkajian abdomen dapat menunjukan
benjolan pada lipat paha atau area umbilikal. Keluhan tentang aktivitas yang mempengaruhi
ukuran benjolan. Benjolan mungkin ada secara spontan atau hanya tampak pada aktivitas yang
meningkatkan tekanan intra abdomen, seperti batuk, bersin, mengangkat berat atau defekasi.
Keluhan tentang ketidaknyamanan. Beberapa ketidaknyamanan dialami karena tegangan yang
meningkatkan tekanan intra abdomen, seperti batuk, bersin, mengangkat berat atau defekasi.
Keluhan tentang ketidaknyamanan. Beberapa ketidaknyamanan dialami karena
tegangan. Nyeri menandakan strangulasi dan kebutuhan terhadap pembedahan segera. Selain
itu manifestasi obstruksi usus dapat dideteksi (bising usus, nada tinggi sampai tidak ada
mual/muntah).Data yang diperoleh atau dikaji tergantung pada tempat terjadinya, beratnya,
apakah akut atau kronik apakah berpengaruh terhadap struktur disekelilingnya dan banyaknya
akar saraf yang terkompresi atau tertekan. Pengkajian secara teoritis menurut Doengoes (2000)
yang dapat muncul diantaranya:
a) Aktivitas/Istirahat
Gejala : Riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat benda berat, duduk, mengemudi dalam
waktu lama. Membutuhkan matras/papan yanag keras saat tidur. Penurunan rentang gerak dari
ekstremitas pada salah satu bagian tubuh. Tidak mampu melakukan aktivitas yang biasa
dilakukan.
Tanda : Atropi otot pada bagian yang terkena. Gangguan dalam berjalan.
b) Eliminasi
Gejala : Konstipasi, mengalami kesulitan dalam defekasi, adanya inkontinensia atau retensi
urine.
c) Integritas Ego
Gejala : Ketakutan akan timbulnya paralisis, ansietas masalah pekerjaan, finansial keluarga.
Tanda : Tampak cemas, depresi menghindar dari keluarga atau orang terdekat.
d) Neuro Sensori
Gejala : Kesemutan, kekauan, kelemahan dari tangan atau kaki.
Tanda : Penurunan refleks tendon dalam, kelemahan otot, hipotonia. Nyeri tekan atau spasme
otot pada vertebralis. Penurunan persepsi nyeri (sensorik).
e) Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Nyeri seperti tertusuk pisau yang akan semakin memburuk dengan adanya batuk,
bersin, membengkokan badan, mengangkat, defekasi, mengangkat kaki atau fleksi pada leher,
nyeri yang tiada hentinya atau adanya episode nyeri yanag lebih berat secara intermiten. Nyeri
yang menjalar pada kaki, bokong (lumbal) atau bahu/lengan, kaku pada leher atau servikal.
Terdengar adanya suara ‘krek’ saat nyeri bahu timbul/saat trauma atau merasa ‘punggung
patah’. Keterbatasan untuk mobilisasi atau membungkuk kedepan.
Tanda : Sikap dengan cara bersandar dari bagian tubuh yang tekena. Perubahan cara berjalan,
berjalan dengan terpincang-pincang, pinggang terangkat pada bagian tubuh yang terkena. Nyeri
pada palpasi.

2.2.2. Diagnosa Keperawatan Post Operasi


Menurut Merelyn E, Doengoes (2000), diagnosa keperawatan yang dapat muncul
pada pasien dengan Hernia Scrotalis pasca operasi antara lain sebagai berikut:
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya konti-nuitas jaringan dan
proses inflamasi luka operasi
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya keterbatasan rentang gerak dan
ketakutan bergerak akibat dari respon nyeri dan prosedur infasive.
3. Konstipasi berhubungan dengan immobilisasi sekunder akibat post operasi dan efek
anastesi
4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan akibat prosedur invasive/
tindakan operatif dan adanya proses inflamasi luka post operasi
5. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan dan nyeri akibat terputusnya
kontinuitas jaringan akibat prosedur invasive dan immobilisasi post operasi
6. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan efek tekanan akibat trauma dan bedah
perbaikan/insisi post operasi
7. Resiko tinggi retensi urine yang berhubungan dengan nyeri, trauma dan penggunaan
anestetik selama pembedahan abdomen
8. Kurang pengetahuan klien dan keluarga: potensial komplikasi Gastrointestinal yang
berkenaan dengan adanya hernia post operasi dan kurangnya informasi.
2.2.3. Intervensi Keperawatan
Dari beberapa diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada pasien dengan Hernia
pasca operasi, intervensi pada masing-masing diagnosa antara lain sebagai berikut ( Doengoes :
2000: 137) :
1) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya konti-nuitas jaringan, dan
proses inflamasi luka operasi
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri dapat berkurang sampai hilang.
Kriteria hasil :
1) Ekspresi wajah pasien rileks dan tidak menahan nyeri
2) Klien menyatakan nyeri berkurang sampai hilang, skala nyeri berkurang
3) Tanda–tanda vital dalam batas normal
Intevensi
a) Monitor tanda–tanda vital pasien sesuai kondisi pasien dan jadwal
Rasional: Tanda-tanda vital merupakan pedoman terhadap perubahan pada kondisi klien
dan abnormalitas pada kondisi klien
b) Kaji nyeri meliputi lokasi, frekuensi, kwalitas dan skala nyeri pasien.
Rasional: Mengetahui status nyeri pada klien
c) Posisikan yang nyaman dengan sokong/tinggikan dengan ganjal pada posisi anatomi
ekstremitas yang sakit dan kurangi pergerakan dini pada area luka operasi
Rasional: Latihan aktivitas bertahan mengurangi respon nyeri tapi tetap pertahan
kenyamanan klien dan mengurangi rasa nyeri klien
d) Ajarkan tekhnik relaksasi dan dextrasi nafas dalam untuk mengurangi nyeri saat nyeri
muncul
Rasional: Nafas dalam dan tekhnik relaksasi mengurangi nyeri secara bertahap dan dapat
dilakukan mandiri.
e) Anjurkan pada keluarga untuk memberikan massase pada area abdomen yang nyeri tapi
bukan area luka operasi.
Rasional: Relaksasi dan pengalihan merupakan rasa mengalihkan rasa nyeri dan
menciptakan kenyamanan klien
f) Kolaborasi dengan tim medis dalam program therapy analgetik
Rasional: Program terapi sebagai system kolaboratif dalam menyelesaikan masalah nyeri.
2) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya keterbatasan rentang gerak dan ketakutan
bergerak akibat dari respon nyeri dan prosedur infasive.
Tujuan :
Intoleransi aktifitas dapat teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan
Kriteria hasil :
1) Klien tidak lemah
2) Klien dapat melakukan aktifitas secara mandiri
3) Klien tidak takut bergerak lagi dan mau beraktivitas mandiri.
Intervensi
a) Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktifitas.
Rasional: Mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan.
b) Awasi tekanan darah, nadi, pernapasan selama dan sesudah aktifitas.
Rasional: Manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah
oksigen adekuat ke jaringan
c) Bantu klien dalam memilih posisi yang nyaman untuk istirahat dan tidur.
Rasional: Membantu klien seperlunya dalam latihan beraktivitas
d) Dorong partisipasi klien dalam semua aktifitas sesuai kemampuan individual.
Rasional: Melatih klien untuk beraktivitas secara mandiri dan meningkatkan kemampuan klien.
e) Dorong dukungan dan bantuan keluarga/orang terdekat dalam latihan gerak.
Rasional: Melatih klien beraktivitas dan kemandirian klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-
hari
f) Berikan lingkungan tenang dan mempertahankan tirah baring.
Rasional: Meningkatkan kenyaman dan kecemasan klien.
g) Bantu aktifitas atau ambulasi pasien sesuai dengan kebutuhan
Rasional: Meningkatkan kemandirian klien dalam beraktivitas
Memperbaiki kondisi klien
3) Konstipasi berhubungan dengan immobilisasi sekunder akibat post operasi dan efek
anastesi
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien dapat BAB secara rutin dan tidak
terjadi konstipasi
Kriteria hasil :
1) Pasien bisa BAB minimal 1x dalam sehari
2) Konsistensi feses lunak
3) Nyeri berkurang saat BAB.
4) Tidak ada penumpukan masa feses pada abdomen
Intervensi
a) Kaji dan observasi adanya kesulitan BAB dan masalah dalam BAB pasien
Rasional: Mengetahui masalah dan hambatan dalam pola eliminasi klien
b) Anjurkan pasien untuk alih posisi tiap 2 jam sekali
Rasional: Meningkatkan peristaltik usus dan meningkatkan kemampuan BAB
c) Anjurkan pada pasien untuk minum banyak 1500–3000cc tiap hari dan makanan yang
mengandung serat.
Rasional: Asupan cairan memungkinkan feses lunak dan klien dapat melakukan BAB
d) Anjurkan pada pasien makan makanan yang lunak porsi sedikit-sedikit tapi sering
Rasional: Makanan yang lunak dan berserat sangat mudah dicerna sehingga system pencernaan
membaik dan klien mampu BAB
e) Kaji peristaltik usus setiap pagi dan sesuai kondisi klien
Rasional: Peningkatan peristaltic usus mengidentifikasikan adanya kelancaran dalam
metabolisme pencernaan
f) Anjurkan pasien menghindari mengejan saat BAB
Rasional: Mengejan saat BAB meningkatkan rasa nyeri pada klien.
4) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan akibat prosedur invasive/
tindakan operatif dan adanya proses inflamasi luka post operasi
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan infeksi tidak terjadi.
Kriteria hasil :
1) Tidak terdapat tanda-tanda infeksi seprti pada luka operasi terdapat pus dan kemerahan,
oedem.
2) Tanda–tanda vital dalam batas normalLaboratorium leukosit, dan hemoglobin normal.
3) Luka kering dan menunjukan penyembuhan
Intervensi
a) Observasi tanda–tanda vital pasien sesuai kondisi pasien.
Rasional: Tanda-tanda vital merupakan pedoman terhadap perubahan pada kondisi klien dan
abnormalitas pada kondisi klien
b) Kaji adanya tanda–tanda infeksi dan peradangan meliputi adanya kemerahan sekitar
luka dan pus pada luka operasi.
Rasional: Adanya kemerahan, oedem, pus, dan rasa panas pada luka merupakan adanya infeksi
pada luka operasi
c) Lakukan medikasi luka steril/bersih tiap hari.
Rasional: Mensterilkan luka dan menjaga luka agar tetap steril/tidak infeksi dan cepat sembuh.
d) Pertahankan tekhnik aseptic antiseptik/kesterilan dalam perawatan luka dan tindakan
keperawatan lainnya.
Rasional: Meningkatkan penyembuhan dan menghindari infeksi pada luka operasi.
e) Jaga personal hygiene pasien.
Rasional: Meningkatkan sterilan pada luka dan personal hygiene klien
f) Manajemen kebersihan lingkungan pasien.
Rasional: Agar ruangan tetap steril
g) Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian therapy antibiotik
Rasional: Mempercepat penyembuhan luka agar tidak terjadi infeksi.
5) Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan dan nyeri akibat terputusnya
kontinuitas jaringan akibat prosedur invasive dan immobilisasi post operasi (Doengoes,
2000).
Tujuan :
Kerusakan mobilitas fisik dapat berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan.
Kriteria hasil :
1) Meningkatkan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin
2) Mempertahankan posisi fungsional
3) Meningkatkan kekuatan/fungsi yang sakit
4) Menunjukkan tehnik mampu melakukan aktivitas
Intervensi :
a) Pertahankan tirah baring dalam posisi yang diprogramkan
Rasional: tirah baring mengistirahatkan muskuloskelektal sehingga aktivitas bertahap tidak
kelelahan
b) Tinggikan ekstrimitas yang sakit
Rasional: sebagai relaksasi mmengurangi rasa nyeri dan kenyamanan mobilitas fisik
c) Instruksi klien/bantu dalam latihan rentang gerak pada ekstremitas yang sakit dan tak
sakit.
Rasional: latihan secara bertahap dapat meningkatkan kemandirian klien dalam beraktivitas.
d) Jelaskan pandangan dan keterbatasan dalam aktivitas
Rasional : keterbatasan gerak dapat dimanfaatkan untuk istirahat dan kenyamanan klien dan
latihan bertahap dapat meningkatkan kemampuan klien dalam beraktivitas.
e) Berikan dorongan pada pasien untuk melakukan aktifitas dalam lingkup keterbatasan
dan beri bantuan sesuai kebutuhan. Awasi tekanan darah, nadi dengan melakukan aktivitas
Rasional: untuk meningkatkan kemandirian klien dalam beraktivitas dan mobilisasi, latihan
secara bertahap menghindari kelelahan dan injury
f) Ubah posisi secara periodic tiap 2 jam
Rasional: meningkatkan kenyamanan dan keamanan klien dan mencegah dekubitus.
6) Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan efek tekanan akibat trauma dan bedah
perbaikan/insisi post operasi (Doengoes, 2000)
Tujuan :
Kerusakan integritas jaringan dapat diatasi setelah tindakan perawatan.
Kriteria hasil :
1) Penyembuhan luka sesuai waktu
2) Tidak ada laserasi, integritas kulit baik
Intervensi :
a) Kaji ulang integritas luka dan observasi terhadap tanda infeksi atau drainage.
Rasional: untuk mengetahui tingkat kerusakan integritas kulit dan derajat keparahan.
b) Monitor tanda-tanda vital dan suhu tubuh pasien
Rasional: tanda-tanda vital untuk memonitor keadaan dan perubahan status kesehatan klien
c) Lakukan perawatan pada luka operasi sesuai dengan jadwal
Rasional: mencegah keparahan dan memperbaiki jaringan kulit yang rusak
d) Lakukan alih posisi dengan sering pertahankan kesejajaran tubuh
Rasional: menghindari dekubitus
e) Pertahankan sprei tempat tidut tetap kering dan bebas kerutan
Rsional: menghindari adanya decubitus pada klien
f) Gunakan tempat tidur busa atau kasut udara sesuai indikasi
Rsional: menghindari adanya decubitus pada klien
g) Kolaborasi pemberian antibiotic
Rasional : mempercepat proses penyembuhan luka operasi dan decubitus.
7) Resiko tinggi retensi urine yang berhubungan dengan nyeri, trauma dan penggunaan
anestetik selama pembedahan abdomen.
Tujuan :
Tidak terjadi retensi urine dan klien mampu memenuhi keutuhan eliminasi urine dan tidak
nyeri saat BAK.
Kriteria hasil :
1) Dalam 8-10 jam pembedahan, pasien berkemih tanpa kesulitan.
2) Haluaran urine  100 ml setiap berkemih dan adekuat (kira-kira 1000-1500 ml) selama
periode 24 jam.
Intervensi
a) Kaji dan catat distensi suprapubik atau keluhan pasien tidak dapat berkemih.
Rasional: untuk mengetahui masalah dan kelainan dalam pola eliminasi urine klien
b) Pantau haluaran urine dan endapan darah pada urine
Rasional: mengetahui jumlah urine yang keluar mencegah adanya dehidrasi dan overhidrasi
dan masalah dalam pola eliminasi klien
c) Anjurkan klien BAB agar tigak mengejan
Rasional: mengejan saat BAK akan meningkatkan rasa nyeri
d) Lakukan bleder training
Rasional: untuk meningkatkan kemandirian dalam eliminasi urine
8) Kurang pengetahuan klien dan keluarga: potensial komplikasi Gastrointestinal yang
berkenaan dengan adanya hernia post operasi dan kurangnya informasi
Tujuan:
Keluarga mampu merawat mengenal masalah hernia dan pencegahan komplikasi dan
perawatan pasien post operasi.
Kriteria hasil:
1) Keluarga mampu menyebutkan mengenai masalah hernia.
2) Keluarga mampu menyebutkan perawatan hernia.
Intervensi:
a) Kaji pengetahuan keluarga tentang pengertian, tanda gejala, penyebab dan perawatan
hernia.
Rasional: mengetahui tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakit yang diderita
klien
b) Diskusikan dengan keluarga tentang komplikasi hernia.
Rasional: agar keluarga memahami bagaimana pencegahan komplikasi dan perawatan setelah
operasi
c) Evaluasi semua hal yang telah dilakukan bersama keluarga.
Rasional: agar keluarga memahami bagaimana pencegahan komplikasi dan perawatan setelah
oparasi
d) Beri penyuluhan pada klien dan keluarga tentang penyakit hernia
DAFTAR PUSTAKA

Barbara Engram, Rencana Asuhan Keperawatan Medical Bedah, EGC, Jakarta, 1998.
Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan
dan pendokumentasian pasien, ed.3. EGC, Jakarta.

Griffith H. Winter, Buku Pintar Kesehatan, EGC, Jakarta, 1994.


Lynda Juall carpernito, Rencana Asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan,
EGC, Jakarta, 1995.

Nettina, S.M, 2001, Pedoman Praktik Keperawatan. Jakarta : EGC.


Oswari, E. 2000. Bedah dan Perawatannya. Jakarta : FKUI.
W.A. Dorland Newman, Kamus Kedokteran Dorland, EGC, Jakarta, 2002.