Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Setiap tahun, lebih dari sepuluh juta anak di dunia meninggal sebelum mencapai
usia 5 tahun. Berdasarkan Survei Demografi Kntatao Inckinesia (SDKI) 121 mit
Departemen Kesehatan (Depkes) mengungkapkan.rata-rata per tahun terdapat 401 bayi di
Indonesia yang meninggal dunia sebelum umurnya mencapai 1 tahun.
Bila dirinci. 157.000 bayi meninggal dunia per tahun, atau 430 bayi per hari. Angka
Kemauan Balita (Akaba), yaitu 46 dari 1.000 balita meninggal setiap tahunnya. Bila
dirinci, kematian balita ini mencapai 206.580 balita per tahun, dan 569 balita per hari.
Parahnya, dalam rentang waktu 2002-2007, angka neona-tus tidak pernah mengalami
penurunan. Penyebab kemauan terbanyak pada periode ini disebabkan oleh sepsis (infeksi
sistemik), kelainan bawaan, dan infeksi saluran pemapasan akut (Riset Kesehatan Dasar
Depkes 2007).Hal di atas dapat disebabkan oleh rendahnya kualitas pelayanan kesehatan.
Rendahnya kualitas pelayanan kesehatan dapat dipengaruhi oleh masalah dalam
keterampilan petugas kesehatan, sistem kesehatan dan praktek di keluarga dan komunitas.
Perlu adanya integrasi dari ketiga faktor diatas untuk memperbaiki kesehatan anak
tersebut sehingga tercipta peningkatan derajat kesehatan anak. Perbaikan kesehatan anak
dapat dilakukan dengan manajemen kasus anak sakit, memperbaiki gizi, memberikan
imunisasi, mencegah trauma, mencegah penyakit lain dan memperbaiki dukungan
psikososial. Berdasarkan alasan tersebut muncullah, Program Manajemen Terpadu Balita
Sakit (MTBS).
MTBS merupakan suatu manajemen melalui pendekatan terintegrasi/terpadu
dalam tata laksana balita sakit yang datang di pelayanan kesehatan, baik mengenai
beberapa klasifikasi penyakit, status gizi, status imunisasi, maupun penanganan balita
sakit tersebut dan konseling yang diberikan. Kegiatan MTBS memiliki tiga komponen
khas yang menguntungkan yaitu :meningkatkan keterampilan petugas kesehatan, dan
memperbaiki praktek keluarga dan masyarakat dalam perawatan di rumah dan upaya
pertolongan kasus balita sakit.(Wijaya 2009, Depkes RI,2008)
Pelaksanaan MTBS tidak terlepas dari peran petugas pelayanan kesehatan.
Pengetahuan, keyakinan, dan keterampilan petugas pelayanan kesehatan dalam penerapan

1
MTBS perlu ditingkatkan guna mencapai keberhasilan MTBS dalam meningkatkan
derajat kesehatan anak khususnya anak balita.
Penilaian status gizi dan perkembangan bayi dan balita juga dapat dilihat dengan
menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS). Dengan membaca garis perkembangan berat
badan anak dari bulan ke bulan pada KMS, seorang ibu dapat menilai dan berbuat sesuatu
untuk berusaha memperbaiki dan meningkatkan perkembangan kesehatan anaknya.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami tentang Manajemen Terpadu Balita Sakit Pada
Balita Sakit (MTBS)
1.2.2 Tujuan Khusus
 Mahasiswa mampu menilai status gizi dan perkembangan bayi dan balita
melalui Kartu Menuju Sehat (KMS)
 Mahasiswa mampu memahami cara menilai status gizi balita berdasarkan
WHO-NCHS
 Mahasiswa mampu memahami pengkajian pada bayi dan balita masa sakit
dengan metode Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS)