Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi. Dengan
berinteraksi, mereka dapat mengambil dan memberikan manfaat. Salah satu
praktek yang merupakan hasil interaksi sesama manusia adalah terjadinya jual
beli yang dengannya mereka mampu mendapatkan kebutuhan yang mereka
inginkan. Islam pun mengatur permasalahan ini dengan rinci dan seksama
sehingga ketika mengadakan transaksi jual beli, manusia mampu berinteraksi
dalam koridor syariat dan terhindar dari tindakan-tindakan aniaya terhadap
sesama manusia, hal ini menunjukkan bahwa Islam merupakan ajaran yang
bersifat universal dan komprehensif.
Melihat paparan di atas, perlu kiranya kita mengetahui beberapa pernik
tentang jual beli yang patut diperhatikan bagi mereka yang kesehariannya
bergelut dengan transaksi jual beli, bahkan jika ditilik secara seksama, setiap
orang tentulah bersentuhan dengan jual beli. Oleh karena itu, pengetahuan
tentang jual beli yang disyariatkan mutlak diperlukan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa kandungan ayat Ali Imron ayat 130?
2. Apa kandungan ayat Al-Baqarah 275, 278 dan 279?
3. Apa pengertian Riba ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Apa kandungan ayat Ali Imron ayat 130
2. Untuk mengetahui Apa kandungan ayat Al-Baqarah 275, 278 dan 279
3. Untuk mengetahui pengertian riba

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Ar-Rum ayat 39
1. Ayat dan Terjemah
   
  
   
    
  
  
 
Artinya : Dan sesuatu Riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia
bertambah pada harta manusia, Maka Riba itu tidak menambah pada sisi
Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan
untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah
orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).

2. Tafsir Ayat
Barang siapa yang memberikan sesuatu kepada seseorang dengan
harapan orang itu akan membalas dengan pemberian yang lebih banyak
daripada yang telah diberikannya, maka pemberian yang demikian tidak
berpahala di sisi Allah. Sedangkan orang yang memberikan zakat kepada
seseorang dengan tujuan untuk mendapatkan keridhaan Allah, maka akan
dilipatgandakan pahala dan balasan si pemberinya oleh Allah.
Hal tersebut disampaikan dalam ayat ini dengan maksud bahwa
semua harta yang dikeluarkan sesuai dengan aturan Allah dan diniatkan
untuk mendekatkan diri kepada Allah akan dilipatgandakan pahala dan
balasannya. Allah, sebagai Maha Pemberi Rizki, tidak menambahkan
keridhaannya kepada harta riba walaupun secara nominal ada

2
kemungkinan lebih banyak mendapatkan tambahan, namun karena tidak
diridhai Allah harta tersebut akan terasa tidak pernah cukup bagi para
pemakan riba tersebut. Terkadang banyaknya harta bukannya menandakan
ukuran kekayaan seseorang. Melainkan tercukupinya seluruh
kebutuhannya bisa jadi menandakan kekayaan seseorang yang
sesungguhnya. Bisa dicukupi dengan harta yang dimilikinya sendiri, bisa
juga dicukupi dengan harta yang dimiliki oleh orang lain yang digerakkan
oleh Allah untuk mencukupi kebutuhan kita atau bisa juga dengan rasa
kecukupan yang diberikan Allah atas segala rizki sehingga orang tersebut
tidak pernah merasa kekurangan.
Ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia diberikan kebebasan
dalam memilih jalan untuk menambah kekayaan. Konsekuensi dari
menggantungkan harapan kepada selain Allah dalam hal mengharapkan
balasan adalah tidak bertambahnya keridhaan dari Allah yang bisa jadi
berarti harta berapapun tidak akan pernah cukup, sedangkan konsekuensi
dari mengharapkan ridha Allah sudah pasti akan menambah pahala dan
balasan yang berlipat ganda. Sebanyak apapun hasil yang diperoleh dari
riba, bagi orang yang meyakini adanya Allah dan hari akhir, pada
prinsipnya tidak akan menenangkan hati seseorang dari rasa
ketidakcukupan harta.

B. An Nisa ayat 160 – 161

C. Ali Imron ayat 130


1. Ayat dan terjemahan

(١٣٠ :‫َّللاَ لَ َعلَّ ُك ْم ت ُ ْف ِل ُحون )آلعمران‬


َّ ‫ضا َعفَةً َواتَّقُوا‬ ِ ‫يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا ََل ت َأ ْ ُكلُوا‬
ْ َ ‫الربَا أ‬
َ ‫ض َعافًا ُم‬
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba
dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu
mendapat keberuntungan.
2. Sebab Turunya Ayat

3
Menurut Mujahid, orang Arab terbiasa melakukan transaksi jual-
beli dengan jangka waktu (kredit). Jika waktu pembayaran tiba, mereka
ingkar dan tidak mau membayar. Dengan demikian, bertambah besar
bunganya, dan semakin pula bertambah jangka waktu pembayaran. Atas
praktik tersebut, Allah menurunkan ayat tersebut (HR. Faryabi)
3. Penjelasan Ayat
Di dalam Surat Ali Imron ayat 130 ahli Tafsir menjelaskan bahwa
lafadz ‫ يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا‬ini yang dimaksud adalah kaum Sakif atau golongan
manusia dari bani Sakif, kemudian lafadz ‫ضعَافًا‬ ِ ‫ ََل ت َأ ْ ُكلُوا‬ini yang
ْ َ ‫الربَاأ‬
dimaksud adalah di dalam harta dirham yang berlebihan, disusul lagi
lafadz sebagai penguwat yaitu ً‫ضا َع َفة‬
َ ‫ ُم‬ini maksudnya adala ‫ اَلجل‬misi atau
tujuan, kemudian dilanjutkan lagi dengan kata َ‫َّللا‬ َّ ‫ َواتَّقُوا‬takutlah kamu
semua orang Iman kepada Allah di dalam memakan sesuatu yang
mengandung Riba. َ‫ لَعَلَّ ُك ْم ت ُ ْف ِلحُون‬ini dengan maksud supanya kamu semua
mendapatkan keselamatan dari murka seksaan Allah. Dalam Tafsir di atas
dalam Surat Ali Imron ayat 130 ini penulis simpulkan bahwa :
a. yang diperingatkan dalam ayat ini adalah Golongan Saqif, umumnya
Ummat Mamusia beragama Islam
b. Peringatan untuk menjahui makan Riba
c. Takutlah kepada Allah dalam makan harta Riba, dengan harapan tidak
mendapat murka dan Seksa dari Allah;
Surat Al Baqarah Ayat 275 – 276 bahwa :
‫ الزيادة والنمو‬: ‫الربا‬
Riba adalah sesuatu yang biasa dilakukan manusia Arab pada masa
Jahiliyah, seseorang berjual beli dengan orang lain dalam tempo
waktu tertentu, setelah datang temponya orang tersebut akan menagih
ketika tagihan tidak bisa dilunasi makaorang tersebut akan
melipatgandakan pokok hartanya.
ِ َ‫يَأ ْ ُكلُون‬
‫الربَا‬

4
Arti makan di sini adalah bermuamalah atau bertransaksi,
disebutkan dengan kata makan karena pada umumnya kebanyakan tujuan
kepemilikan harta adalah untuk dimakan.
َ‫ََل يَقُو ُمون‬
Maksudnya dibangkitkan dari kubur pada hari kiamat nanti. Hal
ini juga seperti bacaan Abdullah bin Mas’ud yang menambahkan kata hari
kiamat . pada kalimat: ‫ََل َيقُو ُمونَ إِ ََّل َك َما يَقُو ُم‬
‫طانُ ِمنَ ْال َم ِس‬
َ ‫ش ْي‬ ُ َّ‫يَت َ َخب‬
َّ ‫طهُ ال‬
Maksudnya berdiri tidak seimbang seperti orang gila .
َ ‫َم ْو ِع‬
‫ظة‬
Maksudnya peringatan untukkebaikan. Yang dimaksud disini
adalah larangan untuk meninggalkan riba. Secara ringkas bahwa Ibnu
Kasir menafsiri Surat Al-Baqarah ayat yang ke 275, yakni: bahwa orang
yang memakan riba maka ketika mereka bangkit dari kuburannya pada
hari kiamat melainkan seperti berdirinya orang gila pada saat dia
mengamuk dan kesurupan Setan.

D. Al-Baqarah 275, 278 dan 279


1. Ayat, Terjemahan Dan Tafsir Al -Baqarah 275
a. Ayat
 
   
  
  
   
  
   
  
   
  
   

5
    
  
   
 
b. Terjemahan
Orang-orang yang memakan (mengambil) riba tidak dapat
berdiri melainkan seperti berdirinya orang-orang kemasukan setan
lantaran (terkena) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu
adalah di sebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual
beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli
dan mengaramkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya
larangan dari Tuhan meraka, lalu berhenti, maka baginnya apa yang
telah di ambilnya dahulu; dan urusannya (terserah) kepada Allah.
Orang orang yang mengulangi, maka orang itu adalah penghuni-
penghuni neraka; mereka kekal didalamnya.(Q.S Al-Baqarah : 275)
c. Tafsir
Dalam ayat di atas Allah SWT menceritakan saat mereka keluar
dan bangkit dari kubur untuk menuju kebangkitan dan perkumpulan.
Allah berfirma, “Orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri
melainkan seperti berdirinnya orang yang kemasukan setan lantaran
penyakit gila.” Maksudnya, tidaklah mereka bangkit dari kuburnya
pada hari kiamat melainkan seperti bangkitnya orang gila pada saat dia
mengamuk dan kesurupan setan. Ibnu Abbas berkata, “pemakan riba
akan di bangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan seperti orang gila
yang mengamuk.” Keterangan ini diriwatkan oleh Abi Hatim. Hal
serupa diriwatkan pula dari sekelompok tabi’in. Ibnu Jarir meriwatkan
dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Pada hari kiamat akan dikatakan kepada
pemakan riba, Ambillah senjatamu untuk berperang! Ibnu Abbas
membaca ayat, `Dan orang-orang yang memakan riba..`Hal itu terjadi
tatkala dia bangkit dari kubur.” Al Bukhari meriwatkan dari Samurah
bin Jundub dalam sebuah hadist tentang mimpi yang panjang (425), “

6
Maka tibalah kami di sebuah sungai. Saya menduga bahwa dia
mengatakan, `Sungai iti serendah darah.’ Ternyata dalam sungai itu
ada orang yang berenang. Di pinggit sungai ada orang yang telah
mengumpulkan batu yang banyak di sisinya, perenang itu berenang
menuju orang yang di sisinya telah menumpuk batu yang banyak.
Kemudian perenang membukakan mulutnya kepada si penunggu batu
yang kemudian menyuapinya dengan batu.” Dalam penjelasan hadis
itu di katakan itulah pemakan riba.
Firman Allah, “Keadaan mereka yang demikian itu di sebabkan
mereka berkata, sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba.”
Sesungguhnya mereka membolehkan riba tiada lain untuk membantah
hukum-hukum Allah yang ada dalam syari’at-Nya. Firman Allha,
“padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”
yang merupakan penuntas ayat ini dapat di tafsirkan sebagai bantahan
atas pandangan mereka yang menolak hukum Allah, padahal mereka
sudah mengetahui pemilihan Allah atas hukum yang satu dengan yang
lainnya. Dialah yang Maha Mengetahui lagi bijaksna. Dia mengetahui
hakikat setiap persoalan dan kemaslahatan serta apa yang berguna bagi
hamba-hamba Nya, lalu Dia membolehkannya bagi mereka. Firman-
Nya, “orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari
Tuhannya, lalu berhenti, maka baginya apa yang telah di ambilnya
dahulu, dan urusanya (teserah) kepda Allah.
2. Al –Baqarah (276)
a. Ayat
  
    
    

b. Terjemahan

7
Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah
tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu
berbuat dosa (Q.S. Al-Baqarah: 276)
c. Tafsir
Ayat ini menjelaskan tentang janji Allah yang benar, dan kabar
Ilahi yang menggebirakan bagi setiap orang yang beriman dan beramal
shalih, mendirikan shalat sebagaimana mestinya, dan membayar zakat,
bahwa dia akan mendapat ganjaran yang penuh di sisi Allah SWT pada
hari ketika dia sangat membutuhkannya, yaitu pada hari kiamat dan
bahwa dia tidak kawatir atau takut pada apa yang akan dihadapinya
dalam kehidupan dunia dan akhirat, dan dia juga tidak akan sedih atau
susah di dunia dan akhirat.
3. Al-Baqarah 277
a. Ayat
  
 
 
  
   
   
 
b. Terjemahan
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh,
mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat
pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan
tidak (pula) mereka bersedih hati.(Q.S. Al-Baqarah: 277)
c. Tafsir
Dalam ayat di atas Allah berfirman seraya memuji orang-orang
yang beriman kepada Tuhan mereka, menanti perintah-Nya, bersyukur
kepada-Nya, dan berbuat baik kepada makhluk-Nya. Semua itu di
wujudkan dalam pelaksaan Shalat dan penunaian zakat. Kemudian,

8
Allah memberitahukan kemuliaan yang di sediakan untuk mereka pada
hari kiamat, dan memiliki kemulaan lain karena keimanannya.

4. Al-Baqarah 278
a. Ayat
 
  
   
  
 
b. Terjemahan
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan
tinggakanlah riba, jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. Al-
Baqarah: 278)
c. Tafsir
Allah menyuruh hamba-hamba-Nya yang beriman agar bertakwa
kepada-Nya. Allah pun melarang mereka melakukan sesuatu yang
mendekatkan mereka kepada kemurkaan-Nya dan menjauhkan mereka
dari keridhaan-Nya. Dia berfirman, “Hai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah, “Takutlah kepada-Nya dan hati-hatilah
dalam dalam berbuat kerena Dia mengawasimu, “Serta tinggalkan sisa
riba”, yakni tinggalkan hartamu yang merupakan kelebihan dari pokok
yang harus di bayar oleh orang lain, setelah menerima peringatan ini,
“jika kamu adalah orang-orang yang beriman” kepada apa yang di
syariatkan Allah, yaitu pengahalalan jual beli, pengharaman riba, dan
syariat lainnya.
Diceritakan, “Zaid bin Aslam dan yang lainnya menuturkan bahwa
redaksi ayat itu d turunkan berkaitan dengan bani Amr bin Umeir dari
Tsaqif dan berkaitan dengan bani Mughirah dari Bani Makhzum. Telah
terjadi riba di antara mereka pada masa jahiliyah. Setelah islam datang
dan mereka memeluknya, Tsaqif meminta hartanya dari bani

9
Mughirah. Kemudian mereka bermusyawarah. Bani Mughirah berkata
“Kami tidak akan melakukan riba dalam islam dan akan menggantinya
dengan usaha yang islami.” Kemudia Utab Ibnu Asid, pemimpin
Mekah, melaporkan itu kepada Nabi SAW dalam sepucuk surat. Maka
di turunkan ayat di atas. Lalu, Rasulullah SAW membalas surut Utab
dengan surat yang berbunyi “Hai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah, dan tinggalkanlah sisa riba, apabila kamu
adalah orang-orang yang beriman. Apabila tidak melaksanakan, maka
ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. “maka
mereka berkata, Kami bertobat kepada Allah dan kami akan
meninggalkan sisa riba. Maka mereka meninggalkannya.”
Ayat itu merupakan peringatan keras dan ancaman yang tegas bagi
orang yang masih melaksanakan praktik riba setelah di beri peringatan.
Ibnu Jureij berkata, “Ibnu Abbas berkata ihwal ‘ketahuilah bahwa dan
Rasul-Nya akan memerangimu’, yakni yakinlah bahwa Allah dan
Rasul-Nya akan memerangi kamu.” Ibnu Abi Hatim mengatakan dari
Hasan dan Ibnu Sirin, keduanya berkata, “Sesungguahnya mereka
yang suka menukat uang dengan uang merupakan pemakan riba dan
telah di maklumkan perang oleh Allah dan Rasul-Nya. Jika ada
pemimpin yang adil, maka suruhlah bertobat. Jika mereka tidak mau,
maka bunuhlah mereka “Qatadah berkata, “ Allah mengancam mereka
dengan perang, sebagaimana yang mereka dengar. Dia menjadikannya
sebagai tukang palsu uang kemanapun mereka pergi. Hindarkanlah
dirimu dari ketertiban dengan jual beli riba seperti itu. Karena Allah
telah meluaskan perkara halal dan menjadikannya baik. Maka jangan
sekali-kali kamu terperosok ke dalam kemaksiatan kepada-Nya.
5. Al Baqarah 279
a. Ayat
   
  
   

10
   
  

b. Terjemahan
Maka jika kamu tidak mengerjakan (neninggalkan sisa riba) maka
ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika
kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu;
kamu tadak menganiaya dan tidak (pula) di aniaya. (QS. Al-Baqarah:
279)
c. Tafsir
Pada ayat sebelumnya Allah SWT. Telah memperinangatkan jika
kamu tidak mau berhenti dari mengerjakan riba itu, maka tanggungkan
tantangan perang dari Allah dan Rasul-Nya. Karena itu pekarjaan
melakukan riba itu adalah satu pekerjaan dosa besar yang wajib dijauhi
dan ditinggalkan. Orang yang pernah melakukannya hendaklah
berhenti dengan segera dan bertobat. Kalau dia tobat, dia boleh
mengambil modalnya kembali dengan tidak mengambil keuntungan
yang didapatnya dari riba itu.
Sebagaiman telah diterangkan pada ayat yang lalu, riba itu ada dua
macam, yaitu jahiliah atau riba nasi’ah dan riba fadhal. Yang di
katakan riba adalah penggandaan pembayaran karena berlalunya tempo
pembayaran utang yang mesti dibayar, seperti yang diterangkan oleh
Abu Bakar Al-Hanafi dalam Tafsir Al-Ahkam-nya. Jika seseorang
berutang 1000 dirham dengan di beri tempo, kemudian utangya di
potong beberapa persen oleh karena dibayarnya tunai, yang seperti itu
juga tidak boleh karena riba. Karena orang yang menerima untung
karena tempo yang disebutkan riba. Sufyan telah meriwatkan dari
Humaid dari maisarah dia berkata, Aku bertanya kepada Ibnu Umar,
bahwa aku berhutang dengan bertempo. Kemudian orang tempat aku
berutang itu berkata, “lunaskan utangmu sekarang ini juga dan
kupotong uangmu itu.” Ibnu Umar berkata, itu riba.

11
6. Sebab turunnya ayat
Kaum Tsaqif, penduduk kota Taif telah membuat kesepakatan
dengan Rasulullah SAW bahwa semua hutang mereka demikian juga
piutang ( tagihan) yang berdasarkan riba agar dibekukan dan dikembalikan
hanya pokoknya saja. Setelah Fathu Makkah, Rasulullah SAW menunjuk
‘Itab ibn Usaid sebagai gubernur Makkah yang juga meliputi kawasan
Thaif. Bani Amr ibn Umar adalah orang yang biasa meminjamkan uang
secara riba kepada bani Mughirah sejak zaman jahiliyah dan Bani
Mughiroh senantiasa membayarkannya. Setelah kedatangan Islam, mereka
memiliki kekayaan yang banyak. Karennya, datanglah Bani Amer untuk
menagih hutang dengan tambahan riba, tetapi Bani Mughirah menolak.
Maka diangkatlah masalah itu kepada Gubernur ‘Itab ibn Usaid dan beliau
menulis kepada Rasulullah SAW. Maka turunlah ayat ini. Rasulullah Saw
lalu menulis surat balasan yang isinya “ Jika mereka ridha atas ketentuan
Allah SWT diatas maka itu baik, tetapi jika mereka menolaknya maka
kumandangkanlah ultimatum perang kepada mereka.
7. Hukum yang terkandung di dalamnya
Ayat yang melarang riba ini bila disimak lebih jauh mengandung
banyak pengertian hukum, diantaranya :
1. Dibolehkannya semua praktek jual beli yang tidak ada larangan syar`i
di dalamnya. Jual beli sendiri memiliki arti memiliki harta dengan
harta melalui ijab qabul dengan keridhaan keduanya.
2. Diharamkannya riba dan dimaklumatkan perang dari Allah dan Rasul-
Nya.
8. Tahapan Haramnya Riba Dalam al-Quran
Riba secara mutlak telah diharamkan oleh Allah swt dan Rasuluullah saw
memalui ayat-ayat Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. Diantara nash-nash
itu adalah sebagi berikut :
Al-Quran mengharamkan riba dalam empat marhalah / tahap. Doktor
Wahbat Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan tahapan pengharam
riba adalah sebagai berikut :

12
1. Tahap Pertama
   
  
   
    
   
 
 
Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia
bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi
Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan
untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah
orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).(QS. Ar-Ruum : 39 )
Ayat ini turun di Mekkah dan menjadi tamhid diharamkannya riba dan
urgensi untuk menjauhi riba.
2. Tahap Kedua
   
  
   
   
  
  
 
  
  
 

Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan


atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya)
dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi
(manusia) dari jalan Allah, (QS. An-Nisa : 160-61)

13
Ayat ini turun di Madinah dan menceritakan tentang perilaku
Yahudi yang memakan riba dan dihukum Allah. Ayat ini merupakan
peringatan bagi pelaku riba.

3. Tahap Ketiga
   
 
  
  
 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba


dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu
mendapat keberuntungan.(Ali Imron : 130)
Pada tahap ini Al-Quran mengharamkan jenis riba yang bersifat
fahisy, yaitu riba jahiliyah yang berlipat ganda.
4. Tahap Keempat
  
   
   
    
  
    
  
   
 

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan

14
tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang
beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba),
maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan
jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok
hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.(Al-Baqarah :
278-279)

15
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Secara etimologi, al-bai’ merupakan bentuk isim mashdar dari akar
kata bahasa Arab bâ’a , maksudnya penerimaan sesuatu dengan sesuatu yang
lain. Adapun secara terminologi, jual beli adalah transaksi tukar menukar yang
berkonsekuensi beralihnya hak kepemilikan, dan hal itu dapat terlaksana
dengan akad, baik berupa ucapan maupun perbuatan.
Riba secara bahasa bermakna: ziyadah (tambahan), secara linguistik
riba juga berarti tumbuh dan membesar . Hikmah jual beli,antara lain; dapat
menata struktur kehidupan ekonomi masyarakat, penjual dan pembeli dapat
memenuhi kebutuhannya atas dasar kerelaan, masing-masing pihak merasa
puas, dapat menjauhkan diri dari memakan atau memiliki barang yang haram
atau secara bathil, mendapat rahmat Allah Swt, dan juga dapat menumbuhkan
ketentraman dan kebahagiaan.
Riba dan Jual-beli pada dasarnya adalah bentuk perdagangan, tapi Jual-
beli adalah halal dimata agama, dan aman dilaksanakan akan tetapi sebaliknya
dengan riba dalam bentuk apapun diharamkan, karena pada jual beli “barang”
yang diterima penjual dan pembeli senilai sedang pada riba tidak

B. Saran
Demikian uraian makalah dari kami, mohon maaf apabila terdapat
kekurangan pada konteksnya, kesalahan penulisan, maupun kekurangan-
kekurangan lain. Kritik dan saran yang membangun masih kami perlukan
untuk perbaikan makalah kami di lain waktu.Sekian.

16
DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Syamsul, Studi Hukum Islam Kontemporer, Jakarta: RM Books, 2007

Basyir, Ahmad Azhar, Hukum Adat Bagi Umat Islam,Yogyakarta: Nur cahaya,
1983.

Ibnu Hajar Al ‘Asqalāni, Bulughul Marām, Alih Bahasa, A. Hassan, Bandung:


CV. Diponegoro, 1991.

Hasbi Ash Shidieqy, Muhammad. 1997. Pengantar Hukum Islam. Semarang:


Pustaka Rizqy Putra.

Muslim, Nur I.. 2008. Jual Beli dan Syarat-Syaratnya , (online), (


http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/jual-beli-dan-syarat-syaratnya.html,

Fiqhy, Mulakhos. 2007. Jual Beli yang terlarang , (online),


(http://fiqihislam.wordpress.com/2007/06/22/jual-beli-yang-terlarang/

iii
17
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan atas rahmat yang diberikan Allah SWT sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Ayat Tentang Riba dan
Kaitannya Dengan Bunga Bank” tepat pada waktunya.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah
membantu penulis dalam membuat makalah ini dan teman-teman yang telah
memberi motivasi dan dorongan serta semua pihak yang berkaitan sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah dengan baik dan tepat pada waktunya.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak
terdapat kesalahan dan kekurangan maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan
saran dari semua pihak demi perbaikan makalah ini dimasa yang akan datang.

Bengkulu, Januari 2018

Penyusun

18
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ......................................................................................


KATA PENGANTAR .................................................................................... i
DAFATR ISI ................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .......................................................................... 1
C. Tujuan ............................................................................................

BAB II PEMBAHASAN
A. Ali Imron ayat 130 ......................................................................... 2
B. Al-Baqarah 275, 278 dan 279 ........................................................ 3
C. Riba ............................................................................................... 13

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan .................................................................................... 20
B. Kritik dan Saran ............................................................................ 20
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... iii

ii
19
MAKALAH
TAFSIR AYAT EKONOMI
Riba Dan Kaitannya Dengan Bunga Bank

Disusun Oleh :
Cica Putri Susanti
Ahmad Rifki Vantoni
Leman

Dosen Pembimbing :
Iwan Ramdhan Sitorus, MHI

PRODI PERBANKAN SYARIAH


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
BENGKULU
2018

20