Anda di halaman 1dari 3

STUDI KASUS

KASUS

PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk merupakan salah satu perusahaan yang bergerak
di bidang jasa pembiayaan konsumen di Indonesia. Perusahaan tersebut mempunyai jaringan
usaha sebanyak 194 kantor cabang, 258 kantor perwakilan, dan 45 kios antara lain di wilayah
Sumatra,Kalimantan,Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Jabodetabek,Banten, Jawa Barat, Jawa
Tengah,Jawa Timur, dan Papua.

Pada awalnya Adira Finance memilih untuk menerapkan sistem desentralisasi karena
dianggap mampu meningkatkan efektivitas fan produktivitas pada setiap cabang untuk
memaksimalkan laba yang diperoleh. Dalam sistem desentralisasi memungkinkan pengambilan
keputusan oleh manager dengan tingkat yang lebih rendah, misalkan Branch Manager (Kepala
Cabang) untuk membuat keputusan tanpa sepenuhnya meminta persetujuan dari pihak
management di Head Office (Kantor Pusat). Pendelegasian wewenang pengambilan keputusan
dengan sistem desentralisasi ini diharapkan meningkatkan motivasi, sehingga dapat
meningkatkan kepuasan kerja dan tingkat retensi karyawan. Tetapi pada realitanya penerapan
sistem desentralisasi ini justru memberikan celah bagi oknum tertentu untuk memperoleh
keuntungan. Berbagai isu kasus fraud diduga terjadi akibat adanya kecurangan antara oknum
karyawan yang memiliki jabatan sebagai Credit Analyst (CA) dan oknum Credit Marketing
Officer (CMO).

Dalam praktek penerapan sistem desentralisasi ini, pihak management menempatkan 4


bahkan lebih Credit Analyst di masing-masing kantor cabang. Posisi Credit Analyst (CA) yang
ditempatkan di masing-masing kantor cabang ini diduga rentan fraud karena memungkinkan
adanya unsur subjektivitas yang mempengaruhi keputusan Credit Analyst (CA) dalam
menganalisa pengajuan kredit yang direkomendasikan oleh Credit Marketing Officer (CMO).
Rolling posisi Credit Analyst (CA) yang dilakukan antar cabang dalam jangka waktu yang tidak
menentu diangap tidak efektif dalam menangani isu tersebut.

Akhirnya sejak Maret 2018, Adira Finance mencoba menerapkan sistem sentralisasi
sesuai daerah regional. Dalam sistem ini setiap divisi tertentu mempunyai kantor pusat.
Contohnya untuk wilayah Jakarta Raya, cabang Tebet digunakan sebagai kantor pusat
penempatan Credit Analyst (CA) se-Jabodetabek. Dalam sistem senralisasi ini, aplikasi
pengajuan kredit yang diajukan oleh Credit Marketing Officer (CMO) di masing-masing cabang
akan dianalisa oleh pihak Cedit Analayst (CA) yang berada dikantor pusat. Aplikasi yang
direkomendasikan tersebut akan dibagikan secara random sytem. Dengan adanya sistem
sentralisasi ini, Credit Marketing Officer (CMO) tidak bisa melihat siapa nama Credit Analyst
yang menganalisa pengajuan kreditnya, hingga aplikasi yang diajukan berstatus approve atau
reject.
Identifikasi Masalah

1. Penerapan sistem desentralisasi di PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk diduga


rentan fraud
2. Kurangnya loyalitas karyawan terhadap perusahaan sehingga mendorong mereka
untuk mencari keuntungan pribadi dengan merugikan perusahaan
3. Minimnya pengetahuan karyawan tentang bahaya fraud serta pengendalian tindakan
yang membuat efek jera
4. Pengawasan yang longgar di masing-masing divisi dapat dmanfaatkan oleh oknum
trtentu demi mendapatkan keuntungan pribadi

Penyelesaian Kasus

a. Mencoba sistem sentrailisasi


b. Memberikan sosialisasi rutin dan meningkatkan kesadaran masing-masing aryawn untuk
mengganti budaya fraud yang dapat merugikan perusahaan
c. Manajemen yang transparan dan fair dalam analisa pemberian kredit
d. Perlu adanya peran divi compliance (divisi kepatuhan ) dan divisi audit untuk berkerja
sama memberikan tindakan pengendalian baik secara preventif (pencegahan) maupun
represif
Penilaian Pratindakan

Penilaian pratindakan mencakup adanya penyelidikan kritis terhadap rencana tindakan dari
para karyawan yang dikendalikan. Penilai dapat menyetujui atau tidak menyetujui tindakan yang
diajukan, meminta dilakukannya modikfikasi atau perubahan , mauoun meminta agar
perencanaanya dirancang lebih seksama lagi sebelum memberikan persetujuan akhir. Bentuk
umum dari oprnikaian pratindakan berlangsung selama proses perencanaan dan
penganggaran yang ditandai oleh berbagai level penilaian terhadap tindakan dan angaran yang
direncanakan pada level organisasi yang lebih tinggi.

Akuntabilitas Tindakan

Akuntabilitas tindakan ialah meminta karyawan untuk bertanggungjawab atas tindakan yang
mereka lakukan. Agar bisa diterapkan dengan baik, pengendalian akuntabilitas tindakan
membutuhahkan hal-hal berikut, yaitu

1) mendefinisikan tindakan apa yang dapat diterima maupun yang tidak dapat diterima
2) mengomunikasikan definisinya kepada karyawan
3) mengobservasi atau , jika tidak, melacak apa yang terjadi
4) memberikan imbalan kepada tindakan yang baik atau memberikan hukuman kepada
tindakan yang menyimpang dari norma

Rincian mengenai tindakan apa saja yang menuntut pertanggungjawaban karyawan dapat
dikomunikasikan baik secara adminisratif maupun sosial. Cara komunikasi administratif
mencakup penetapan aturan kerja, kebijakan, dan prosedur, provisi kontrak, dan kode etik
perusahan. Terkadang tindakan yang diinginkan tidak dikomunikasikan secara eksplisit. Dalam
banyak audit operasional, pasca-audit terhadap keputusan inverstasi modal, dan penilaian dari
sesama auditor