Anda di halaman 1dari 11

Majalah Kedokteran Andalas http://jurnalmka.fk.unand.ac.

id
Vol. 40, No. 2, September 2017, Hal. 111-121

TINJAUAN PUSTAKA
Kaidah dasar bioetika dalam pengambilan keputusan klinis
yang etis
Dedi Afandi
KJF Kedokteran Forensik dan Medikolegal, Fakultas Kedokteran Universitas Riau
Korespondensi: Dedi Afandi, email: dediafandi4n6@gmail.com

Abstrak
Kaidah dasar bioetika adalah suatu karakteristik yang unik dari prinsip yang dapat digunakan untuk
menganalisis lebih tajam suatu standar, untuk membenarkan peraturan dan dapat menjadi pedoman
dalam pengambilan keputusan klinis yang etis dalam praktik sehari-hari. Tinjauan pustaka ini
bertujuan untuk memberi suatu metode dalam proses pengambilan keputusan klinis yang etis bagi
dokter. Untuk manfaat kemajuan sains, tinjauan ini telah mengembangkan pemanfaatan kaidah dasar
bioetika di bidang medis, terutama hubungan dokter-pasien, profesionalisme serta bioetika medis.
Beberapa metode pengambilan keputusan klinis yang etis dibahas dan didiskusikan. Dengan
meningkatkan pemahaman dan pelatihan penggunaan kaidah dasar bioetika dalam kehidupan sehari-
hari diharapkan akan mampu menjaga hubungan dokter-pasien secara lebih baik.
Kata kunci: kaidah dasar bioetika; keputusan klinis; etika; hubungan dokter-pasien
Abstract
The basic moral principles are a unique characteristic of a principle that can be used to shapely analyze
a standard, to justify rules and be a guide in ethical-clinical decision making in everyday practice. This
literature review aims to provide a method of ethical clinical decision-making process for physicians.
For the benefit of scientific advancement, this review has developed the utilization of the basic
principles of bioethics in the medical field, especially the doctor-patient relationship, professionalism
as well as medical bioethics. Several ethical methods of ethical-clinical decision-making are discussed.
By improving the understanding and training of the basic moral principles in daily practice is expected
to be able to maintain better doctor-patient relationships
Keywords: basic moral principle; clinical decision; ethics; doctor-patient relationship

p-ISSN: 0126-2092 Diterima redaksi: 5-Jul-17


e-ISSN: 2442-5230 Diterbitkan online: 30-Sep-17
doi: 10.22338/mka.v40.i2.p111-121.2017
Vol. 40
Dedi Afandi,
No. 2 Kaidah dasar bioetika…
2017

PENDAHULUAN tentang etika adalah ilmu tentang apa yang


baik dan apa yang buruk dan tentang hak
Dokter dalam menjalankan praktik sehari- dan kewajiban moral (akhlak).8
hari sering kali menemukan isu etik yang
Etika bersangkutan dengan manusia secara
terkadang dapat berkembang menjadi
pribadi dalam “kemanusiannya”, yaitu
dilema etik.1,2 Seorang dokter senantiasa
manusia yang sudah dan mampu
dihadapkan dalam penilaian moral untuk
menyadari dirinya sendiri dalam berpikir,
membuat suatu keputusan klinis yang
bersikap, berbicara, bertingkah laku
etis.3 Pada awal tahun 60-an, di saat
terhadap manusia lain dan (dalam)
kemajuan dalam bidang ilmu dan teknologi
masyarakat, terhadap Tuhan sang Pencipta
kedokteran berdampak pada hasil
dan terhadap lingkungan tempat hidup
pengobatan dan kualitas hidup pasien yang
beserta seluruh isinya.8 Etika, sebagaimana
lebih baik,4 praktik kedokteran di
metode filsafat, mengandung
masyarakat berkembang dan berubah
permusyawaratan dan argumen eksplisit
sejalan dengan keinginan dan kebutuhan
untuk membenarkan tindakan tertentu
masyarakat. Tulisan ini bertujuan untuk
(etika praktis). Juga membahas asas-asas
memberi cara atau metode dalam proses
yang mengatur karakter manusia ideal
pengambilan keputusan klinis yang etis
atau kode etik profesi tertentu (etika
bagi dokter.
normatif). Etika adalah pedoman berbuat
METODE sesuatu dengan alasan tertentu. Alasan
tersebut sesuai dengan nilai tertentu dan
Penulisan artikel ini berdasarkan studi pembenarannya. Etika penting karena
kepustakaan yang berhubungan dengan masyarakat selalu berubah, sehingga kita
kaidah dasar bioetika dalam pengambilan harus dapat memilih dan menyadari
keputusan klinis yang etis. kemajemukan (norma) yang ada (filsafat
praksiologik). Jadi etika juga adalah alasan
HASIL DAN PEMBAHASAN untuk memilih nilai yang benar di tengah
belantara norma (filsafat moral).9
Etika dan Bioetika
Etika adalah sebuah cabang filsafat yang
Kata etika secara etimologi berasal dari berbicara mengenai nilai dan norma moral
kata Yunani yaitu ethikos, ethos yang yang menentukan perilaku manusia dalam
berarti adat, kebiasaan, praktik.5,6,7 Etika hidupnya. Etika sebagaimana metode
bukan suatu sumber tambahan bagi ajaran filsafat, mengandung permusyawaratan
moral, melainkan merupakan filsafat atau dan argumen eksplisit untuk
pemikiran kritis dan mendasar tentang membenarkan tindakan tertentu (etika
ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan praktis), juga membahas asas-asas yang
moral. Etika adalah suatu ilmu, bukan mengatur karakter manusia ideal atau
merupakan suatu ajaran. Pengertian lain kode etik profesi tertentu (etika normatif).

Majalah Kedokteran Andalas | p-ISSN: 0126-2092 | e-ISSN: 2442-5230 112


Vol. 40
http://jurnalmka.fk.unand.ac.id
No. 2 doi: 10.22338/mka.v40.i2.p111-121.2017
2017

Etika normatif (deontologi, teleologi, dan dalam pencapaian kebaikan. Teori


virtue) berbicara mengenai norma-norma yang demikian disebut aksiologis
yang menuntun tingkah laku manusia, (menekankan kiblatnya kepada
serta memberi penilaian dan himbauan tujuan akhir).
kepada manusia untuk bertindak
3. Bila kebenaran dianggap sebagai
sebagaimana seharusnya. 9 Tujuan etika
kunci perilaku etis, etika menjadi
normatif ialah mencari prinsip-prinsip
berkiblat kepada ide kewajiban dan
dasar yang memungkinkan kita
tugas, berkisar pada pernyataan
menghadapi pandangan-pandangan
tentang prinsip-prinsip perilaku,
normatif moral yang terdapat dalam
dan bukan pada penelusuran-
masyarakat atau diperjuangkan oleh
penelusuran konsekuensi-
pelbagai ideologi secara rasional dan kritis.
konsekuensi. Teori-teori ini disebut
Kita seakan-akan mencari norma-norma
deontologis (menekankan
dasar untuk menilai dengan kritis norma-
kewajiban), atau formalistis
norma moral yang sudah beredar/ada.
(menekankan prinsip).
Perilaku etis menyangkut perbuatan dalam
4. Tetapi kebaikan maupun
kerangka baik dan benar. Analisis etis
kebenaran dapat dilihat sebagai
cenderung berpusat pada istilah-istilah ini
objektif (menggantikan sebuah
sehingga melahirkan pandangan-
faktor riil dalam hal-hal), atau
pandangan sebagai berikut:7,9
subjektif (hanya mewakili proposal
1. Etika normatif dan metaetika. Etika manusia). Maka lahirlah
normatif berarti sistem-sistem objektivisme etis atau
yang dimaksudkan untuk memberi subjektivisme etis.
petunjuk atau penuntun dalam
Etika sangat erat kaitannya dengan moral.
mengambil keputusan yang
Bahkan secara etimologi moral
menyangkut baik dan buruk, benar
mempunyai arti yang kurang lebih sama
dan salah. Metaetika menganalisis
dengan etika, sekalipun bahasa asalnya
logika perbuatan dalam kaitan
berbeda. Namun yang membedakannya
dengan “baik” dan “buruk”,
adalah bahwa moral merupakan nilai-nilai
“benar” dan “salah”.
dan norma-norma yang menjadi pegangan
2. Bila kebaikan dipandang sebagai bagi seseorang atau suatu kelompok dalam
kunci tingkah laku etis, teori etika mengatur tingkah lakunya. Perbedaan
yang dihasilkan ditandai etika dengan moralitas, bahwa moralitas
kepenuhan nilai. Yang benar adalah pandangan tentang
(kebenaran) menjadi satu aspek kebaikan/kebenaran dalam masyarakat.
kepenuhan nilai tersebut, yaitu Suatu hukum dasar masyarakat yang paling
seperangkat kewajiban kepada hakiki dan amat kuat. Juga suatu
yang lain yang mesti dihormati perbuatan benar atas dasar suatu prinsip

Majalah Kedokteran Andalas | p-ISSN: 0126-2092 | e-ISSN: 2442-5230 113


Vol. 40
Dedi Afandi,
No. 2 Kaidah dasar bioetika…
2017

(maxim). Ia merujuk pada perilaku yang keputusan, (2) Alternative principlism,


sesuai dengan "kebiasaan atau perjanjian termasuk dalam etika ini adalah etika
rakyat yang telah diterima", sesuai nilai komunitarian, etika naratif dan etika kasih
dan pandangan hidup sejak masa kanak- sayang.11
kanak, tanpa permusyawaratan.5,7,9 Ada 3 teori etika normatif, yaitu:
Etika dalam dunia kedokteran dikenal 1. Deontologi: asal kata deon (wajib),
sebagai etika kedokteran. Etika tidak bersyarat (kategoris) dan
kedokteran berfokus terutama dengan tidak bergantung pada tujuan
masalah yang muncul dalam praktik tertentu. Benar tidaknya tindakan
pengobatan.7,10,11 Dalam etika kedokteran bergantung pada perbuatan/cara
isu-isu yang mengemuka terutama
bertindak itu sendiri, bukan pada
menyangkut tujuan pengobatan, refleksi
akibat tindakan. Dasar:
kritis terhadap suatu tindakan dan
kewajiban/keharusan,
mengembangkan otonomi dalam
mutlak/absolut atau “kewajiban
pengambilan keputusan dalam lingkup
demi kewajiban”. Kelemahan:
pasien, dokter dan pihak lain yang terkait
pemicu fanatisme buta, tidak luwes
dalam sistem praktik kedokteran.12
dalam perkembangan zaman, tidak
Sedangkan etika klinis lebih menyempit
mampu memecahkan dilema
lagi ke lingkup klinis, yaitu suatu cabang
etis.13,14
praktis yang menyediakan suatu struktur
pendekatan untuk mengidentifikasi, 2. Teleologi: bersyarat (hipotetis),
menganalisis dan memecahkan isu etik benar tidaknya tindakan
dalam praktik klinis.13 bergantung pada akibat-akibatnya.
Bila akibat baik: wajib; bila buruk:
Prinsip-Prinsip Bioetika
haram. Hendak dicapai tujuan
Prinsip-prinsip bioetika pada dasarnya kedokteran tertentu namun tetap
merupakan penerapan prinsip-prinsip dalam bingkai “mempertahankan
etika dalam bidang kedokteran dan martabat kemanusiaan” (bukan
kesehatan. Etika kedokteran terapan, tujuan asal-asalan). Dasar:
terbagi atas 2 kategori besar: (1) pengalaman (efektif–efisien).
Principlism: mementingkan prinsip etik Kelemahan: menghilangkan dasar
dalam bertindak. Termasuk dalam konteks pembawa kepastian etis, tidak
ini adalah etika normatif, empat basic berketetapan, pemicu “tujuan
moral principle, konsep libertarianism menghalalkan cara”.9,11
(mengutamakan otonomi) serta 3. Virtue: keutamaan, benar tidaknya
beneficence in trust (berbuat baik dalam tindakan tergantung dari norma-
suasana kepercayaan). Dasar utama dalam norma yang diambil. Dalam
principlism adalah bahwa memilih salah pengertian bahwa meminimalkan
satu prinsip etik ketika akan mengambil

Majalah Kedokteran Andalas | p-ISSN: 0126-2092 | e-ISSN: 2442-5230 114


Vol. 40
http://jurnalmka.fk.unand.ac.id
No. 2 doi: 10.22338/mka.v40.i2.p111-121.2017
2017

norma-norma kemanusiaan yang bertentangan dengan prinsip non-


akan dikorbankan. Dasar: maleficence, maka harus diputuskan
menghormati norma kebahagiaan prinsip yang ditetapkan.
manusia. Kelemahan: tidak mampu
2. Beneficence (berbuat baik)
membuat keputusan klinis yang
etik karena terlalu bersifat pribadi Menurut teori Beuchamp dan Childress,
dan cenderung sangat prinsip atau kaidah ini tidak hanya
individual.9,11 menuntut manusia memperlakukan
sesamanya sebagai makhluk yang otonom
Beauchamp dan Childress (2001)
dan tidak menyakiti mereka, tetapi juga
menguraikan mengenai empat kaidah
dituntut agar manusia tersebut dapat
dasar (basic moral principle) dan beberapa
menilai kebaikan orang lain selanjutnya.
rules di bawahnya. Keempat kaidah dasar
Tindakan tersebut diatur dalam dasar-
tersebut adalah:14
dasar beneficence. Bagaimanapun seperti
1. Respect for Autonomy (menghormati yang telah disebutkan, dasar-dasar dari
autonomi pasien) beneficence menuntut lebih banyak agent
Otonomi secara literatur adalah aturan dibanding dengan dasar-dasar non-
yang mengatur diri sendiri secara tenang maleficence. Beuchamp dan Childress
dan tidak tergesa-gesa. Dasar-dasar menulis: “dalam bentuk yang umum,
respect for autonomy terkait erat dengan dasar-dasar beneficence mempunyai
dasar mengenai rasa hormat terhadap tujuan untuk membantu orang lain
martabat manusia dengan segala melebihi kepentingan dan minat mereka”.
karakteristik yang dimilikinya karena ia Dasar dari beneficence mengandung dua
adalah seorang manusia yang memiliki nilai elemen, yaitu keharusan secara aktif untuk
dan berhak untuk meminta. Otonomi kebaikan berikutnya, dan tuntutan untuk
adalah aturan personal yang bebas dari melihat berapa banyak aksi kebaikan
campur tangan pihak lain. Beuchamp dan berikutnya dan berapa banyak kekerasan
Childress merumuskan hal ini sebagai kata yang terlibat.
“tindakan otonomi tidak hanya ditujukan 3. Non-maleficence (tidak merugikan
untuk mengontrol pembatasan oleh orang orang lain)
lain”.
Tujuan prinsip ini adalah untuk melindungi
Respect for autonomy merupakan sesuatu seseorang yang tidak mampu (cacat) atau
yang hanya diwajibkan bila ia tidak orang yang non-otonomi. Seperti yang
bertentangan dengan prinsip-prinsip telah dijelaskan, orang ini juga dilindungi
kaidah bioetika yang utama lainnya, oleh prinsip berbuat baik (beneficence).
contohnya: jika sebuah tindakan otonomi Jawaban etik yang benar adalah dengan
akan membahayakan manusia lain, maka melihat kebaikan lebih lanjut dari diri
prinsip respect for autonomy akan seseorang, tidak diperbolehkan untuk

Majalah Kedokteran Andalas | p-ISSN: 0126-2092 | e-ISSN: 2442-5230 115


Vol. 40
Dedi Afandi,
No. 2 Kaidah dasar bioetika…
2017

menyakiti orang lain. Prinsip ini Etika Klinis


mengemukakan bahwa keharusan untuk Dalam dunia kedokteran, fondasi moral
tidak melukai orang lain lebih kuat hubungan dokter pasien adalah inti etika
dibandingkan keharusan untuk berbuat kedokteran. Pembahasan dalam etika
baik. kedokteran lebih dititikberatkan pada
4. Justice (keadilan) fondasi moral yang mengatur hubungan
dokter pasien. Konsep hubungan ini akan
Kesamaan merupakan inti dari justice,
lebih mempertajam keputusan-keputusan
tetapi Aristoteles mengemukakan bahwa
klinis yang akan dibuat oleh dokter dalam
justice lebih daripada kesamaan, karena
berbagai situasi, sehingga akan tersusun
seseorang dapat merasa tidak
standar perilaku profesional.14 Fondasi
diperlakukan secara semestinya walaupun
etika kedokteran tersebut dapat dilihat
telah diperlakukan sama satu dengan yang
dari gambar 1.
lain.
Pengambilan Keputusan Klinis Yang Etis
Teori filosofi mengenai keadilan biasanya
menyangkut keutuhan hidup seseorang Etika klinis merupakan suatu metodologi
atau berlaku sepanjang umur, tidak dalam proses pengambilan keputusan
berlaku sementara saja. Beuchamp dan klinis yang etik. Beberapa contoh
Childress menyatakan bahwa teori ini metodologi tersebut adalah:
sangat erat kaitannya dengan sikap adil
• Casuistry: metodologi pengambilan
seseorang pada orang lain, seperti
keputusan etik adalah
memutuskan siapa yang membutuhkan
menganalogikan situasi dan kondisi
pertolongan kesehatan terlebih dahulu
suatu kasus terhadap kasus
dilihat dari derajat keparahan penyakitnya.
terdahulu yang sudah ada
Rawls merumuskan konsepsi khusus teori
pemecahan masalahnya secara
keadilan dalam bentuk dua prinsip
konsensus. Kelemahan metode ini
keadilan yaitu: (1) setiap orang memiliki
adalah bahwa tidak ada konsensus
hak sama sejauh yang dapat dicakup
yang abadi.
keseluruhan sistem kesamaan
kemerdekaan fundamental yang setara • Moral Pluralism: dikembangkan
bagi kemerdekaan semua warga yang lain; oleh Jonsen, Siegler and Winslade
(2) ketidaksamaan-ketidaksamaan sosial yang membagi 4 jenis kategori yang
dan ekonomi ditata sedemikian sehingga memerlukan analisis moral,
keduanya: (a) paling menguntungkan bagi sebagaimana yang dapat dilihat
yang paling tertinggal, dan (b) melekat pada gambar 2.
pada posisi-posisi dan jabatan-jabatan
terbuka bagi semua di bawah syarat
kesamaan kesempatan yang fair.15,16

Majalah Kedokteran Andalas | p-ISSN: 0126-2092 | e-ISSN: 2442-5230 116


Vol. 40
http://jurnalmka.fk.unand.ac.id
No. 2 doi: 10.22338/mka.v40.i2.p111-121.2017
2017

Gambar 1. Fondasi etika kedokteran17

Langkah yang dilakukan adalah meng- yang akan saya lakukan? Dan banyak
kontekstualitas-kan masalah-masalah yang pertanyaan lain yang akan muncul dalam
ada ke dalam masing-masing kategori. benak si dokter. Semua pertanyaan-
Untuk selanjutnya dilakukan pertimbangan pertanyaan tersebut dapat direduksi
keputusan apa yang akan diambil bila ada menjadi tiga pertanyaan yaitu:
dua kategori yang berseberangan. Sebagai 1. Apa yang dapat menjadi salah? Ini
catatan bahwa 4 kategori yang ada hanya adalah pertanyaan yang menyangkut
merupakan alat bantu untuk meninjau diagnostik dan klasifikasi masalah.
ulang kasus dan bukan ditujukan sebagai Dalam hal ini dokter akan
prioritas etik. Keputusan tetap harus menggunakan segenap kemampuan
diambil dari pertimbangan ke empat medis yang dimilikinya untuk dapat
kategori tersebut.11,12 Kekurangan metode meminimalisir kesalahan diagnosis
ini adalah bahwa tidak ada analisis kritik
yang akan dibuat.
terhadap hasil keputusan yang telah kita
ambil.11 2. Apa yang dapat dilakukan? Ini adalah
pertanyaan selanjutnya yang
Ketika seorang pasien datang ke seorang
menyangkut terapi terhadap pasien
dokter, pertanyaan yang pertama kali
bila diagnosis atau penyakit pasien
muncul di benak sang dokter adalah apa
sudah dapat ditegakkan. Dokter akan

Majalah Kedokteran Andalas | p-ISSN: 0126-2092 | e-ISSN: 2442-5230 117


Vol. 40
Dedi Afandi,
No. 2 Kaidah dasar bioetika…
2017

mempertimbangkan segala pertanyaan kemudian yang akan


kemampuannya untuk memberikan timbul adalah, haruskah terapi yang
yang terbaik bagi pasien. sudah dipilih diberikan pada pasien ini?
3. Apa yang seharusnya dilakukan pada Kalau memang benar, apakah sudah
pasien ini? Saat diagnosis sudah dapat tepat dan sesuai dengan keadaan dan
ditegakkan dan pilihan terapi sudah kondisi pasien? Atau apakah pasien
diputuskan berdasarkan keilmuan, menyetujui pilihan terapi yang kita
berikan?

Gambar 2. Empat dimensi analisis etika klinis13

Dalam situasi konkret mungkin pertanyaan jawaban dari pertanyaan nomor 2


1 dan 2 akan relatif lebih mudah diatasi berubah.
oleh dokter, akan tetapi bisa juga Bagaimana jika dalam langkah-langkah
pertanyaan nomor 3 akan membuat pertanyaan tersebut menimbulkan dilema

Majalah Kedokteran Andalas | p-ISSN: 0126-2092 | e-ISSN: 2442-5230 118


Vol. 40
http://jurnalmka.fk.unand.ac.id
No. 2 doi: 10.22338/mka.v40.i2.p111-121.2017
2017

bagi dokter untuk mengambil keputusan? Artinya ketika kondisi pasien merupakan
Ada empat pendekatan yang dapat kondisi yang wajar dan berlaku pada
digunakan untuk dapat memecahkan banyak pasien lainnya, sehingga dokter
dilema tersebut, yaitu:20 akan melakukan yang terbaik untuk
kepentingan pasien. Juga dalam hal ini
• Single-Principle Theories,
dokter telah melakukan kalkulasi di mana
prinsipnya di sini adalah memilih
kebaikan yang akan dialami pasiennya
satu prinsip dengan mengalahkan
akan lebih banyak dibandingkan dengan
prinsip-prinsip yang lain setelah
kerugiannya. Dalam konteks non-
melalui pertimbangan yang
maleficence, prinsip prima facie-nya
matang.
adalah ketika pasien (berubah menjadi
• Ranking (Lexically Ordering) atau dalam keadaan) gawat darurat yang
Principles, prinsipnya di sini adalah memerlukan suatu intervensi medik dalam
kita membuat ranking (leksikal) rangka penyelamatan nyawanya. Dapat
dari prinsip-prinsip yang ada dan pula dalam konteks ketika menghadapi
keputusan diambil pada prinsip pasien yang rentan, mudah
yang urutannya terletak paling dimarjinalisasikan dan berasal dari
atas. kelompok anak-anak atau orang uzur
• Balancing, prinsipnya adalah ataupun juga kelompok perempuan
keputusan diambil dengan (dalam konteks isu jender). Dalam konteks
menyeimbangkan prinsip-prinsip otonomi, nampak prima facie di sini
yang ada. muncul (berubah menjadi atau dalam
keadaan) pada sosok pasien yang
• Combining ranking and balancing,
berpendidikan, pencari nafkah, dewasa
prinsipnya di sini adalah kita
dan berkepribadian matang. Sementara
berusaha me-ranking dan sedapat
justice nampak prima facie-nya pada
mungkin membuatnya prinsip-
(berubah menjadi atau dalam keadaan)
prinsip tersebut dalam satu
konteks membahas hak orang lain selain
kelompokan. Akan tetapi pada
diri pasien itu sendiri. Hak orang lain ini
praktiknya sangat sulit, karena
khususnya mereka yang sama atau setara
banyaknya nilai yang satu sama lain
dalam mengalami gangguan kesehatan. di
saling mengalahkan dan tidak
luar diri pasien, serta membahas hak-hak
dapat diseimbangkan.
sosial masyarakat atau komunitas sekitar
Purwadianto19 mencoba untuk pasien.19
menerapkan konsep prima facie melalui
Dalam kesehariannya seorang dokter
pendekatan empat basic moral principle.
senantiasa dihadapkan dalam penilaian
Dalam konteks beneficence, prinsip prima
moral untuk membuat suatu keputusan
facie-nya adalah sesuatu yang (berubah
klinis yang etis. Istilah penilaian moral
menjadi atau dalam keadaan) yang umum.

Majalah Kedokteran Andalas | p-ISSN: 0126-2092 | e-ISSN: 2442-5230 119


Vol. 40
Dedi Afandi,
No. 2 Kaidah dasar bioetika…
2017

dapat didefinisikan menjadi 4 hal yang disebut “ketajaman moral” atau


berbeda. Pertama, kegiatan berpikir “kebijaksanaan moral”. 21

apakah nilai moral objek yang memberi


(dapat berupa tindakan, personal, institusi KESIMPULAN
atau keadaan) mempunyai sifat moral
Penggunaan kaidah dasar bioetika
secara khusus, dapat berupa yang umum
merupakan salah satu metode yang dapat
(seperti: kebenaran, kejahatan) atau yang
digunakan dalam pengambilan keputusan
spesifik (tidak peka, integritas). Kedua,
klinis yang etis. Konsep prima facie akan
keadaan yang tercipta dari pandangan memudahkan bagi dokter dalam membuat
bahwa objek tersebut memiliki sifat moral. keputusan medis yang etis dalam
Ketiga, bahwa ada makna dari keadaan kehidupan sehari. Dengan meningkatkan
tersebut: apa yang kita pandang, dari pada pemahaman dan pelatihan penggunaan
apa pandangan kita. Dan yang keempat, kaidah dasar bioetika dalam kehidupan
istilah tersebut dapat dibaca sebagai sehari-hari diharapkan akan mampu
penghargaan atau pujian, mengarah menjaga hubungan dokter secara lebih
kepada moral yang baik yang juga biasa baik.

DAFTAR PUSTAKA

1. Wasisto B, Suganda S. Perilaku profesional sebagai kontinum etis, disiplin dan hukum dalam
mencegah masyarakat gemar menggugat (litigious society). Proceeding Pertemuan Nasional IV
Jaringan Bioetika dan Humaniora Kesehatan Indonesia (JBHKI). Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, 30 November – 2 Desember 2004.
2. Mayeda M, Takase K. Need for enforcement of ethicolegal education – an analysis of the survey
of postgraduate clinical trainers. BMC Medical Ethics. 2005; 6:8. Diunduh tanggal 4 Juli 2014 dari
http://www.biomedcentral.com/content/pdf/1472-6939-6-8.pdf.
3. Craig E. Moral Judgment. The Routledge of philosophy. London: Routledge; 1998.
4. Nambiar RM. Professional development in changing world. Singapore Med J. 2004; 45(12): 551-
7.
5. Bertens K. Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama; 2005. p 279-83.
6. Jacobalis S. Perkembangan ilmu kedokteran, etika medis dan bioetika. Jakarta: Sagung Seto;
2005.
7. Bagus L. Kamus filsafat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama; 2005.
8. Purwadianto A. Kaidah dasar moral dan teori etika dalam membingkai tanggung jawab profesi
kedokteran. Makalah penyegaran etika kedokteran. Jakarta : FKUI, 18 Februari 2003.
9. Darmadipura MS. Dari etik ke bioetik. Dalam: Darmadipura MS (editor). Kajian bioetik.
Surabaya: Airlangga University Press; 2005. p.25-33.

Majalah Kedokteran Andalas | p-ISSN: 0126-2092 | e-ISSN: 2442-5230 120


Vol. 40
http://jurnalmka.fk.unand.ac.id
No. 2 doi: 10.22338/mka.v40.i2.p111-121.2017
2017

10. Thomasma DC. Chapter 2: Theories of medical ethics: the philosophical structure in Military
medical ethics volume 1, Lounsbury DE (ed). Washington: Walter Reed Army Medical Center;
2003.p 23-59.
11. Jonsen AR, Siegler M, Winslade WJ. Clinical ethics: a practical approach to ethical decisions in
clinical medicine 5th ed. USA: McGraw-Hill; 2002.
12. Williams JR. Medial ethics manual. France: WMA; 2005.
13. Pellegrino ED, Thomasma DC. The virtue in medical practice. New York: Oxford University Press;
1993.
14. Beuchamp TL, Childress JF. The principle of biomedical ethics, ed 3rd. New York: Oxford
University Press; 2001.
15. Lubis AY. Dekonstruksi epistemologi modern; dari posmodernisme, teori kritis, poskolonialisme
hingga cultural studies. Jakarta: Pustaka Indonesia Satu; 2006.p54-66.
16. Rasuanto B. Keadilan sosial; pandangan deontologis Rawls dan Habermas. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama; 2005: 97-180.
17. Pellegrino ED. Chapter 1: The moral foundation of the patient-physician relationships: the
essence of medical ethics in Military medical ethics volume 1, Lounsbury DE (ed). Washington:
Walter Reed Army Medical Center; 2003.p1-22.
18. Murray EM, Lo B, Pollack L, Donelan K, Lee K. Direct-to-consumer advertising: physicians’ view
of its efeect on quality of care and the doctor-patient relationships. J Am Board Fam Pract. 2003;
16: 513-24.
19. Purwadianto A. Segi kontekstual pemilihan prima facie kasus dilemma etik dan penyelesaian
kasus konkrit etik. Proceeding ilmiah Pertemuan Nasional III JBHKI, FKUI, Jakarta, 30 November
– 2 Desember 2004.
20. Veatch RM. The principle of autonomy and the doctrine of informed consent in: The basics of
bioethics. New Jersey: Prentice-Hall, Inc; 2000.
21. Craig E. Moral Judgment. The Routledge of philosophy. London: Routledge; 1998.

Majalah Kedokteran Andalas | p-ISSN: 0126-2092 | e-ISSN: 2442-5230 121