Anda di halaman 1dari 4

Tujuan Audit atas Golongan Transaksi

Tujuan audit atas golongan transaksi yang ditetapkan auditor, berhubungan erat dengan
asersi-asersi manajemen untuk golongan transaksi. Ada perbedaan antara tujuan umum golongan
transaksi dan tujuan spesifik audit transaksi untuk tiap golongan transaksi.

Tujuan Umum Audit Transaksi

1. Keterjadian – Transaksi yang dibutuhkan benar-benar terjadi. Tujuannya berkaitan


dengan apakah transaksi yang dibukukan sungguh-sungguh telah terjadi.
2. Kelengkapan – Transaksi yang terjadi telah dibukukan. Tujuannya berhubungan
dengan apakah semua transaksi yang seharusnya dibukukan ke dalam jurnal, sungguh-
sungguh telah dibukukan.
3. Keakurasian – Transaksi telah dicatat dengan jumlah yang benar. Tujuannya
berkaitan dengan keakurasian informasi untuk transaksi akuntansi dan merupakan satu
bagian dari asersi keakurasian untuk golongan transaksi.
4. Posting dan Pengikhtisaran – Transaksi yang dicatat telah dimassukkan dengan
benar ke dalam Master File dan dibuat ikhtisarnya dengan benar. Tujuannya
berhubungan dengan keakurasian transfer informasi dari catatan transaksi dalam jurnal ke
buku besar dan buku pembantu.
5. Penggolongan – Transaksi yang dicatat dalam jurnal klien telah digolongkan dengan
tepat. Tujuannya berhubungan dengan apakah transaksi telah dibukukan dalam akun yang
tepat.
6. Ketepatan waktu – Transaksi telah dibukukan pada tanggal yang tepat. Tujuan audit
ini berhubungan dengan apakah transaksi telah dibukukan pada tanggal yang tepat

Tujuan Spesifik Audit Transaksi

Transaksi spesifik biasanya meliputi penjualan, penerimaan kas, pembelian barang dan
jasa, penggajian, dan sebagainya. Paling sedikit ada satu tujuan spesifik audit transaksi dapat
dimasukan untuk setiap tujuan umum audit transaksi, kecuali auditor yakin bahwa tujuan audit
umum transaksi tidak relevan dalam hal yang dihadapi.
Tujuan Audit Saldo Akun

Tujuan audit untuk saldo diterapkan untuk saldo-saldo akun tertentu, seperti saldo akun
persediaan barang dan diterapkan pada saldo akhir akun-akun yang tercantum di neraca atau
kadang dalam laporan laba-rugi, bukan pada golongan transaksi seperti golongan transaksi
penjualan. Dalam menerapkan tujuan audit saldo akun untuk mengaudit saldo-saldo akun, auditor
mengumpulkan bukti untuk memeriksa rincian yang mendukung saldo akun.

Tujuan Umum Audit Saldo Akun

1. Keberadaan. Tujuannya berhubungan dengan apakah jumlah yang dicantukan dalam


laporan keuangan memang seharusnya dimasukkan.
2. Kelengkapan. Tujuan ini berhubungan dengan apakah semua jumlah yang seharusnya
dimasukkan telah diikutsertakan dengan jumlah yang benar.
3. Keakurasian. Tujuannya berkaitan dengan apakah jumlah yang dicantumkan telah
dinyatakan dalam jumlah yang benar untuk mengurangi terjadinya keliru atau salah hitung.
4. Penggolongan. Tujuan ini menyangkut penentuan apakah hal-hal yang dimasukkan dalam
daftar oleh klien telah dimasukkan dalam akun yang benar di buku besar.
5. Pisah Batas. Tujuannya untuk menentukan apakah transaksi telah dibukukan dan
dimasukkan ke dalam saldo akun pada periode yang tepat.
6. Kecocokan. Tujuan kecocokan berkaitan dengan apakah daftar saldo yang rinci telah
dibuat dengan tepat dan teliti, dijumlah dengan benar, serta cocok dengan saldo dibuku
besar.
7. Nilai Bersih Bisa Direalisasi. Tujuan ini berkaitan dengan apakah suatu saldo akun telah
diturunkan dari biaya perolehan historis (cost) menjadi nilai bersih bisa direalisasi atau bila
standar akuntansi mengharuskan menjadi nilai pasar.
8. Hak dan Kewajiban. Hak milik selalu dikaitkan dengan aset, sedangkan kewajiban
berkaitan dengan utang. Tujuan ini sejalan dengan asersi manajemen tentang hak dan
kewajiban untuk saldo akun.
Tujuan Spesifik Audit Saldo Akun

Tujuan spesifik audit saldo akun untuk hak dan kewajiban atas persediaan pada sebuah
perusahaan manufaktur bisa meliputi perusahaan harus memiliki hak kepemilikan atas semua
barang yang tercantum dalam daftar persediaan dan persediaan tidak dijadikan jaminan atas
pinjaman, kecuali diungkapkan dalam laporan.

Tujuan Audit atas Penyajian dan Pengungkapan

Tujuan audit atas penyajian dan pengungkapan identic dengan asersi manajemenuntuk
penyajian dan pengungkapan. Konsep yang diterapkan pada tujuan audit saldo akun diterapkan
pula untuk tujuan audit atas penyajian dan pengungkapan.

Tabel 4-5 Asersi Manajemen dan Tujuan Audit atas Penyajian dan Pengungkapan Utang
Wesel

Asersi Manajemen tentang Tujuan Umum Audit atas Tujuan Spesifik Audit atas
Penyajian dan Penyajian dan Penyajian dan Pengungkapan
Pengungkapan Pengungkapan
Keterjadian dan Hak dan Keterjadian dan Hak dan Utang wesel benar-benar ada dan
Kewajiban Kewajiban merupakan kewajiban perusahaan
Kelengkapan Kelengkapan Semua pengungkapan yang
disyaratkan tentang utang wesel
telah dicantumkan dalam laporan
keuangan
Keakurasian dan Penilaian Keakurasian dan Penilaian Pengungkapan tentang utang
wesel telah dilakukan dengan teliti
Penggolongandan Kejelasan Penggolongandan Kejelasan Utang wesel telah digolongkan
dengan tepat dan pengungkapan di
laporan keuangan telah dibuat
dengan jelas
Bagaimana Memenuhi Tujuan Audit

Auditor harus memutuskan tujuan audit yang tepat dan bukti yang harus dikumpulkan
untuk memenuhi tujuan-tujuan tersebut untuk setiap audit. Untuk melakukan hal itu, auditor harus
mengikuti suatu proses audit, yaitu:

1. Tahap I (Perencanaan dan Perancangan suatu Pendekatan Audit)


Persoalan pengumpulan bukti yang cukup dan tepat serta pengendalian biaya audit adalah
dua hal yang penting dalam membuat perencanaan suatu penugasan. Perencanaan harus
menghasilkan suatu pendekatan audit yang efektif pada tingkat biaya yang masuk akal.
Perencanaan dan perancangan suatu pendekatan audit dapat dibecah menjadi beberapa, yaitu:
a. Mendapatkan Pemahan tentang Entitas dan Lingkungannya.
b. Memahami Pengendalian Internal dan Menetapkan Risiko Pengendalian.
c. Menetapkan Risiko Kesalahan Penyajian Material.
2. Tahap II (Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif Golongan Transaksi)
Pengujian pengendalian auditor harus menguji efektivitas pengendalian sebelulm
menurunkan risiko pengendalian direncanakan, seandainya pengendalian internal dinilai
efektif. Auditor juga menilai catatn transaksi yang dibuat klien dengan melakukan verifikasi
atas jumlah-jumlah rupiah transaksi, suatu proses yang disebut pengujian substantive
transaksi. Demi efisiensi, auditor terkadang melaksanakan pengujian pengendalian dan
pengujian substantive pada waktu yang bersamaan.
3. Tahap III (Prosedur Analitis dan Pengujian Rinci Saldo
Prosedur analitis menggunakan perbandingan dan hubungan untuk menetapkan apakah
saldo-saldo akun dan data lainnya nampak masuk akal. Sedangkan untuk pengujian rinci saldo
merupakan prosedur spesifik yang dimaksudkan untuk menguji salah saji material dalam
saldo-saldo yang tercantum dalam laporan keuangan. Pengujian rinci atas saldoa khir sangat
penting dalam pelaksanaan audit karena kebayakan bukti diperoleh dari sumber independen
dan merupakan bukti berkualitas tinggi.
4. Tahap IV (Penyelesaian Audit dan Penerbitan Laporan Audit
Setelah auditor menyelesaiakn semua prosedur untuk setiap tujuan audit dan untuk setiapakun
laporan keuangan beserta pengungkapan yang bersangkutan auditor harus menerbitkan laporan
audit kepada pihak yang berkepentingan.