Anda di halaman 1dari 3

Peraturan Perlindungan Binatang Liar No.233 Tahun 1931, UU No 5 Tahun 1990, SK menhut No.

301
Tahun 1991 dan PP No.7 Tahun 1999

Sesuai ketentuan itu maka siapa pun yang memelihara, menangkap, menjual atau menyelundupkan
orangutan, owa-owa, kukang dan beruang adalah perbuatan melanggar hokum

Wild Animals Protection Ordinance No.233 of 1931, Act No. 5 of 1990, Minister of Forestry Decree No.
301 of 1991 and PP No.7 of 1999
Accordance with the then anyone who maintains, capture, sell or smuggle orangutan, gibbon-gibbons,
lemurs and bears are both illegal

Dalam Pasal 21, Ayat 2, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam
Hayati dan Ekosistemnya disebutkan,

“Setiap orang dilarang untuk (a) Menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara,
mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup”.

Kejadian pembantaian Orang Utan di Desa Puan Cepak, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai
Kertanegara, Propinsi Kalimantan Timur cukup jelas telah melanggar ketentuan yang telah diatur di
dalam perundung-undangan.

Disebutkan pula pada Pasal 40, Ayat 2, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi
Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya disebutkan,

“Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5
(lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)”. Selain sanksi
sebagaimana disebutkan pada Pasal 40, kami meminta Pemerintah memberikan sanksi sebagai berikut:

1. Sanksi kepada pengelola maupun pemilik perkebunan kelapa sawit untuk menutup dan mencabut ijin
usaha perkebunan kelapa sawit, serta memasukkan pemiliknya ke dalam daftar hitam investasi di
Indonesia.
2. Sanksi dan tindakan keras dikenakan pula kepada pihak pemberi ijin usaha di daerah, yaitu
pemerintah daerah setempat.

3. Sanksi dan tindakan keras dikenakan kepada aparat penegak hukum ataupun siapa saja yang
menyalahgunakan alat negara untuk keuntungan pribadi.

n Article 21, Paragraph 2, of Law No. 5 of 1990 on the Conservation of Natural Resources and
Ecosystem stated,

"Any person prohibited from (a) capture, injure, kill, keep, own, maintain, transport, and animal
trading protected in a state of life ".
Orangutan massacre incident in the village of Puan smacking, District Muara Kaman, Kutai
Kartanegara, East Kalimantan Province is quite clearly have violated the terms regulated in the
law perundung.

It is also mentioned in Article 40, Paragraph 2, of Law No. 5 of 1990 on the Conservation of
Natural Resources and Ecosystem stated,

"Any person who willfully violates the provisions referred to in Article 21 paragraph (1) and
paragraph (2) and Article 33 paragraph (3) shall be punished with imprisonment of 5 (five) years
and a maximum fine of Rp. 100,000,000.00 (one hundred million rupiah) ".

In addition to sanctions as stated in Article 40, we requested the Government to sanction as


follows:
1. Sanctions against managers or owners of oil palm plantations to shut down and revoke
licenses of oil palm plantations, as well as the owners put into the black list of investments in
Indonesia.

2. Crackdown imposed sanctions and also to the licensing business in the region, namely local
government.

3. Harsh sanctions and measures imposed on law enforcement officials or anyone who is
misusing state equipment for personal gain.
http://prezi.com/wyik_7a2ddvk/edit/#0_8737961