Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pendidikan SD merupakan fondasi yang penting bagi anak-anak untuk melanjutkan
sampai mereka mencapai jenjang pendidikan yang tertinggi. Usaha-usaha yang dilakukan
untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar akan berpengaruh pada kualitas pendidikan
berikutnya. Sebaliknya, kegagalan yang dialami pada pendidikan awal akan sangat
berpengaruh pada pencapaian hasil pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Rangkaian
kegagalan ini akan berakibat ketika mereka menjadi dewasa. Mereka mempunyai
kemungkinan tidak dapat berfungsi secara efektif di dalam masyarakat yang kompleks
dengan tuntutan-tuntutan kebutuhan yang diakibatkan oleh teknologi tinggi. Untuk mengatasi
kemungkinan-kemungkinan ini pemerintah Indonesia (Departemen Pendidikan Nasional)
telah mengembangkan kurikulum nasional, yang mampu untuk menciptakan sebuah
kurikulum yang akan melahirkan generasi-generasi yang cerdas dan mapu bersaing di tingkat
intenasioanl. termasuk kurikulum bahasa Inggris untuk sekolah dasar (SD).
Pendidikan bahasa Inggris di sekolah dasar pada dasarnya bertujuan untuk
mengembangkan kemampuan berbahasa asing siswa, khususnya bahasa Inggris, sesuai
dengan fungsi bahasa sebagai wahana berfikir dan wahana berkomunikasi untuk
mengembangkan potensi intelektual, emosional dan social. Bahasa sangatlah fungsional
dalam kehidupan manusia, karena selain merupakan alat untuk berkomunikasi yang paling
efektif, bahasa pun digunakan pula dalam proses berpikir. Untuk itu, maka selanjutnya proses
pendidikan bahasa Inggris di sekolah dasar harus mampu meningkatkan kemampuan siswa
dalam berbahasa asing didukung oleh teknologi yang memadai.
Kurikulum nasional mempunyai beberapa karakteristik diantaranya adalah:
pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi, dan sumber belajar
bukan hanya guru, tetapi sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur pendidikan. Guru
diberikan kebebasan untuk memilih sumber, metode dan media pembelajaran yang sesuai
untuk diterapkan di kelasnya. Dengan kata lain guru tidak terpaku pada hanya satu jenis buku
teks melainkan dapat menggunakan berbagai sumber dan media pembelajaran yang dapat
digunakan untuk meningkatkan pencapaian hasil belajar anak. Oleh sebab itu guru dapat
menggunakan hasil karya seni seperti seni rupa/lukis, seni musik, dan seni tari sebagai salah
satu media pembelajaran bahasa Inggris di SD untuk membuat anak menjadi senang, tertarik
dan selalu ingin tahu terhadap bahasa Inggris.

1
Agar tujuan pembelajaran bahasa Inggris di SD dapat dicapai secara maksimal, guru
bahasa Inggris harus memperhatikan beberapa hal diantaranya adalah: karakteristik anak
sekolah dasar dan materi pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan fisik dan mental
anak, karakteristik pembelajaran bahasa asing, dan hasil karya seni dan pemanfaatannya
semaksimal mungkin.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian diatas, maka dirumuskanlah masalah dalam makalah ini sebagai
berikut:
a. Apa itu sumber belajar?.
b. Apa saja sumber belajar untuk pembelajaran bahasa inggis di SD?

1.3. Tujuan Penulisan


a. Untuk memahami apa itu sumber belajar
b. Untuk mengetahui macam-macam sumber belajar untuk pembelajaran bahasa inggis
di SD

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Sumber belajar


Menurut asosiasi teknologi komuniasi pendidikan (dalam Zaitun Y.A Kherid,
2009:6) Sumber belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupa data, orang
dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam belajar, baik secara
terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai
tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu.
Sumber belajar memiliki fungsi :
1. Meningkatkan produktivitas pembelajaran dengan jalan: (a) mempercepat laju belajar
dan membantu guru untuk menggunakan waktu secara lebih baik dan (b) mengurangi
beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga dapat lebih banyak membina dan
mengembangkan gairah.
2. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual, dengan cara:
(a) mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional; dan (b) memberikan
kesempatan bagi siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuannnya.
3. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran dengan cara: (a)
perancangan program pembelajaran yang lebih sistematis; dan (b) pengembangan
bahan pengajaran yang dilandasi oleh penelitian.
4. Lebih memantapkan pembelajaran, dengan jalan: (a) meningkatkan kemampuan
sumber belajar; (b) penyajian informasi dan bahan secara lebih kongkrit.
5. Memungkinkan belajar secara seketika, yaitu: (a) mengurangi kesenjangan antara
pembelajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya kongkrit;
(b) memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung.
6. Memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih luas, dengan menyajikan
informasi yang mampu menembus batas geografis.

Dari kedua macam sumber belajar, sumber-sumber belajar dapat berbentuk:


1. pesan: informasi, bahan ajar; cerita rakyat, dongeng, hikayat, dan sebagainya
2. orang: guru, instruktur, siswa, ahli, nara sumber, tokoh masyarakat, pimpinan
lembaga, tokoh karier dan sebagainya;
3. bahan: buku, transparansi, film, slides, gambar, grafik yang dirancang untuk
pembelajaran, relief, candi, arca, komik, dan sebagainya;

3
4. alat/ perlengkapan: perangkat keras, komputer, radio, televisi, VCD/DVD, kamera,
papan tulis, generator, mesin, mobil, motor, alat listrik, obeng dan sebagainya;
5. pendekatan/ metode/ teknik: disikusi, seminar, pemecahan masalah, simulasi,
permainan, sarasehan, percakapan biasa, diskusi, debat, talk shaw dan sejenisnya; dan
6. lingkungan: ruang kelas, studio, perpustakaan, aula, teman, kebun, pasar, toko,
museum, kantor dan sebagainya.

2.2. Karakteristik Anak Sekolah Dasar dan Materi Pembelajarannya


Setiap anak mempunyai sifat atau karakter yang unik. Mereka memiliki kebutuhan,
minat, dan tingkat kemampuan, dan pencapaian yang berbeda. Untuk memberikan
pendidikan dasar yang sesuai dengan perkembangan anak, guru perlu memahami
perkembangan yang terjadi pada kehidupan anak, dan juga memahami cara belajar anak-anak
usia sekolah dasar.
National Association for the Education of Young Children (NAEYC, 1992)
mengemukakan pendapatnya tentang perkembangan anak bahwa salah satu premis yang
terpenting dalam perkembangan manusia adalah bahwa seluruh ranah perkembangan seperti
fisik, social, emosional, dan kognitif berkembang secara terpadu. Maksudnya bahwa
perkembangan pada satu dimensi mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perkembangan dari
dimensi-dimensi yang lainnya.
1. Karakteristik Anak Sekolah Dasar.
Anak-anak merupakan individu dan cara belajar yang yang berbeda-beda. Namun
demikian mereka juga memiliki kesamaan karakteristik. Karakteristik yang sama yang
dimiliki oleh anak SD menurut Briggs and Potter (1990) diantaranya adalah:
1. Mereka selalu tertarik dan ingin tahu terhadap alam sekitarnya;
2. Mereka senang bermain dan selalu dalam keadaan gembira;
3. Dengan rasa ingin tahu mereka yang tinggi, mereka selalu berusaha untuk mencoba,
dan menyelidiki sesuatu;
4. Mereka selalu merasa tergerak dan termotivasi untuk berbuat lebih baik setelah
mereka melakukan kegagalan atau kekecewaan;
5. Mereka akan belajar sungguh-sungguh apabila sesuai dengan minat mereka;
6. Mereka belajar sambil bekerja, mengobservasi, dan mengajari teman lainnya.
Jadi bagi anak SD belajar merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan. Keenam
karakteristik tersebut harus diperhatikan oleh guru ketika mereka menyusun rencana
pembelajaran, mengembangkan aktivitas pembelajaran, mengelola kelas, dan membangkitkan

4
semangat belajar anak-anak. Guru harus mengembangkan materi yang sesuai dengan
kebutuhan anak dan yang sesuai untuk menghadapi tantangan mengajar anak-anak yang
mempunyai kemampuan, sikap, dan talenta yang berbeda-beda yang berada dalam satu kelas
yang sama.
NAEYC menjelaskan beberapa karakteristik anak SD usia 5 sampai 8 tahun.
Karakteristik anak usia ini perlu mendapatkan perhatian karena bahasa Inggris mulai
diperkenalkan sejak kelas 3 SD (Ada sekolah-sekolah, khususnya di kota-kota besar, yang
memperkenalkan bahasa Inggris sejak Taman Kanak-kanak, dan ada juga yang telah
memperkenalkan bahasa Inggris sejak kelas satu SD). Karakteristik yang dimaksud
diantaranya adalah:
1. Anak-anak belajar secara terpadu. Mereka tidak perlu membedakan subjek area atau
mata pelajaran yang sedang dipelajari. Misalnya, mereka belajar konsep matematik
ketika mereka berolah raga atau bermain musik.
2. Anak-anak SD belum matang secara fisik, dan mereka perlu kegiatan-kegiatan yang
aktif. Mereka akan cepat merasa lelah duduk dengan waktu yang lama, dan merasa
senang dan tidak lelah bila mereka berlari-lari, berlompat-lompat, atau bersepeda.
3. Gerakan-gerakan fisik juga sangat diperlukan untuk perkembangan kognitif anak
sehingga anak-anak harus selalu terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang aktif.
4. Antara usia 6 sampai 9 tahun anak-anak mulai menguasai kemampuan mental untuk
berfikir, dan memecahkan masalah. Namun demikian mereka masih memerlukan
benda-benda konkrit untuk membantu memecahkan masalah.
5. Kemampuan berkomunikasi anak semakin meningkat. Mereka sudah bisa
berkomunikasi secara interaktif dengan orang dewasa, dan dengan teman sebayanya.
6. Perkembangan social emosional dan perkembangan moral juga mulai meningkat.
Anak-anak mulai tertarik pada persahabatan. Menciptakan hubungan social dan
hubungan kerja yang positif dan produktif dengan anak-anak sebayanya dapat
mengembangkan kompetensi social.
Apabila telah memahami karakteristik anak, guru lalu mencari materi pembelajaran
yang sesuai. Berikut ini adalah karakteristik materi pembelajaran yang sesuai dengan
karakteristik anak.
Karakteristik Materi Pembelajaran. Materi pembelajaran untuk anak SD mempunyai
karakteristik khusus seperti yang dijelaskan oleh Clements and Hawkes (1985), diantaranya
adalah:
1. Berhubungan dengan dirinya dan lingkungannya.

5
2. Simple dan konkrit.
3. Menarik (seperti gambar-gambar yang lucu dan berwarna warni).
4. Mengundang rasa ingin tahu.
5. Ringan. dan berhubungan dengan aktivitas bermain.
Guru yang kreatif, aktif dan inovatif tidak akan menemui kesulitan untuk menyiapkan
materi pembelajaran yang mempunyai karakteristik yang sesuai dengan perkembangan jiwa
dan mental anak. Untuk menyiapkan materi pembelajaran ini, guru bisa membentuk team
teaching dengan guru seni musik, seni lukis atau guru kelas lainnya. Hasil karya seni lukis
yang dibuat sendiri oleh anak, berdasarkan koordinasi dengan guru seni lukis, dapat dijadikan
media pembelajaran yang sangat bermanfaat bagi anak dan juga bagi guru itu sendiri.
Agar anak-anak SD merasa senang, termotivasi, dan percaya diri untuk belajar bahasa
Inggris, guru harus dapat menciptakan situasi yang kondusif yang dapat membuat anak
merasa aman. Untuk itu para guru bahasa Inggris perlu mengetahui karakteristik
pembelajaran bahasa asing khususnya bahasa Inggris agar mereka mengetahui bagaimana
anak menguasai bahasa pertama dan bahasa sasaran yang sedang dipelajari. Berikut ini
adalah pembahasan tentang karakteristik pembelajaran bahasa asing dan implikasinya
terhadap pembelajaran bahasa Inggris di SD.

2.3. Karakteristik Pembelajaran Bahasa Asing


Mempelajari bahasa asing tidak sama dengan mempelajari bahasa sendiri atau bahasa
pertama yang kita gunakan sehari-hari sejak kita lahir. Ada perbedaan-perbedaan yang
mendasar antara bagaimana mempelajari bahasa asing dan bagaimana mempelajari bahasa
pertama. Perbedaan yang utama adalah bahwa bahasa asing tidak digunakan untuk
berkomunikasi sehari-hari sehingga kita sering merasa tidak termotivasi untuk mempelajari
bahasa tersebut. Lingkungan di sekitar kita juga tidak selalu mendukung untuk menggunakan
bahasa asing yang sedang kita pelajari. Perbedaan yang penting lainnya adalah sumber input
seperti guru, atau instruktur bukan penutur asli (native speakers), yang sering terpengaruh
oleh logat atau dialek bahasa pertamanya. Misalnya, guru bahasa Inggris yang berasal dari
daerah Jawa ucapan-ucapannya sering dipengaruhi oleh logat bahasa Jawa. Yang terakhir
adalah sumber input sangat terbatas, dan kebanyakan yang mempelajari bahasa asing adalah
orang dewasa.
Dari perbedaan-perbedaan yang telah disebutkan kita bisa menyimpulkan bahwa
bahasa Inggris sebagai bahasa asing tidak bisa dikuasi dengan mudah seperti halnya
menguasai bahasa pertama. Bahasa asing harus diajarkan dan dipelajari secara formal atau

6
secara khusus. Anak secara sadar harus memperhatikan bentuk-bentuk bahasa dan makna
bahasa yang muncul dalam setiap komunikasi. Lain halnya dengan penguasaan bahasa
pertama. Akses untuk memperoleh input bahasa pertama tidak terbatas. Lingkungan keluarga,
kerabat, dan masyarakat di sekitar tempat tinggal semua menggunakan bahasa yang sama.
Masalah-masalah Pembelajaran Bahasa Asing. Dalam setiap subjek atau disiplin ilmu
pasti dijumpai masalah-masalah pembelajaran seperti dalam pelajaran matematika atau IPA.
Masalah-masalah yang dijumpai pada pembelajaran bahasa asing tidak jauh berbeda dengan
masalah-masalah yang timbul dalam disiplin ilmu yang lainnya. Namun demikian masalah-
masalah ini akan tampak lebih serius dalam pembelajaran bahasa asing karena tujuan
pembelajaran bahasa asing adalah untuk berkomunikasi dan sebagai alat untuk memperoleh
ilmu pengetahuan. Konsep-konsep umum dalam pembelajaran seperti motivasi (motivation),
bakat (aptitude), kesempatan (opportunity), dan sifat (personality) merupakan konsep umum
yang dapat mempengaruhi pencapaian tujuan pembelajaran setiap subjek.
Masalah-masalah pembelajaran yang akan dijelaskan pada makalah ini adalah
masalah pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang berhubungan dengan
prinsip-prinsip yang biasa digunakan dalam pembelajaran bahasa asing dan bahasa kedua.
Littlewood (1984) menjelaskan beberapa factor penting yang mempengaruhi pembelajaran
bahasa asing yaitu motivasi, kesempatan belajar, dan kemampuan belajar.
a. Motivasi.
Motivasi dalam pembelajaran bahasa asing merupakan dorongan yang sangat penting
yang dapat meningkatkan usaha pebelajar dalam mencapai tujuan pembelajaran. Motivasi
merupakan fenomena yang sangat kompleks yang mencakup dorongan individu, kebutuhan
untuk mencapai kesuksesan, rasa ingin tahu, dan keinginan untuk memperoleh pengalaman-
pengalaman baru. Krashen (1983) menganggap bahwa dengan motivasi yang tinggi dan self-
image yang baik biasanya seseorang dapat menguasai bahasa kedua dengan baik.
Anak SD memiliki karakteristik seperti serba ingin tahu, dan selalu ingin memperoleh
pengalaman-pengalaman baru. Dengan demikian anak SD juga memiliki motivasi yang
tinggi. Motivasi untuk belajar bahasa Inggris anak SD akan lebih meningkat lagi apabila guru
bahasa Inggris dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menarik dan menyenangkan.
Untuk menciptakan suasana belajar yang menarik dan menyenangkan tentunya guru harus
pandai memilih media, metode, dan strategi pembelajaran.
Littlewood (1984) memfokuskan kepada dua aspek motivasi yang penting yang
mempengaruhi pembelajaran bahasa asing yaitu kebutuhan berkomunikasi dalam bahasa
asing, dan sikap terhadap komunitas bahasa asing. Anak-anak Indonesia pada umumnya ingin

7
bisa berbahasa Inggris karena pada dasarnya anak-anak senang terhadap hal-hal yang baru.
Mereka juga pada umumnya menyenangi orang-orang asing yang berbahasa Inggris. Jadi
anak-anak pada umumnya mempunyai motivasi untuk belajar bahasa Inggris. Masalahnya di
sini adalah bagaimana para guru bahasa Inggris SD dapat memupuk dan menggali motivasi
anak-anak supaya motivasi mereka lebih tinggi untuk berkomunikasi menggunakan bahasa
Inggris.

b.Kesempatan Belajar.
Masalah pembelajaran bahasa asing yang kedua yang mempengaruhi kefasihan
berbahasa Inggris yaitu masalah kesempatan belajar. Kualitas dan kuantitas kesempatan
belajar yang diperoleh dari lingkungan seperti sekolah, rumah, atau masyarakat sangat
berpengaruh bagi anak atau pebelajar untuk menjadi fasih berbahasa Inggris. Littlewood
(1984) menjelaskan beberapa aspek kesempatan belajar seperti kesempatan untuk
mempergunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi nyata, suasana emosi dalam situasi
belajar, jenis bahasa yang diperkenalkan kepada anak, dan efek pembelajaran formal, semua
besar pengaruhnya terhadap penguasaan bahasa anak.
Anak-anak SD yang berada di pelosok pedesaan di Indonesia tentunya tidak
mempunyai banyak kesempatan untuk menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi.
Mereka mungkin mempunyai kesempatan untuk melihat, dan mendengarkan film yang
berbahasa Inggris melalui TV. Namun mereka tidak mempunyai kesempatan untuk berlatih
berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris dalam situasi yang nyata. Sebaliknya
anak-anak di perkotaan lebih banyak mendapatkan kesempatan berkomunikasi dengan
menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi dalam situasi yang nyata. Lingkungan,
orang tua atau kerabat bisa mendukung mereka untuk berlatih berkomunikasi dengan baik
dan benar. Anak-anak perkotaan juga mudah untuk memperoleh akses dalam bahasa Inggris
seperti para turis asing, program-program bahasa Inggris dalam TV atau VCD, internet, dan
bahan-bahan cetak seperti majalah, koran, dan buku-buku bahasa Inggris untuk anak-anak.
Faktor penting lain yang mempengaruhi kesempatan belajar bahasa asing adalah
suasana emosi dalam situasi belajar. Situasi belajar harus mengurangi rasa takut, cemas, atau
khawatir anak. Anak akan merasa takut apabila guru selalu menyalahkan anak apabila dia
tidak bisa mengucapkan dengan intonasi atau ucapan yang benar, atau guru memberikan
koreksi yang berlebihan terhadap setiap kesalahan anak. Kesempatan belajar dapat diciptakan
dengan memberikan kesempatan belajar yang memadai kepada anak, dan memberikan input

8
yang sesuai dengan minat mereka. Anak diberikan kesempatan untuk berlatih menggunakan
bahasa Inggris dan guru memberikan feedback atau umpan balik terhadap penampilan anak.

c. Kemampuan Belajar.
Littlewood (1984) menjelaskan kemampuan belajar dalam pengertian yang luas yang
mencakup faktor-faktor kognitif, sifat (personality), dan usia (age). Aspek-aspek kognitif
kemampuan belajar anak mengacu kepada inteligensi dan bakat bahasa. Para pakar bahasa
berpendapat bahwa ada hubungan yang erat antara inteligensi dengan kemampuan belajar
bahasa kedua. Anak-anak SD mempunyai kemampuan yang berbeda-beda; ada yang pintar,
sedang, dan ada juga yang memiliki kemampuan yang rendah. Selain itu anak-anak juga
memiliki kelebihan dan kekurangan dalam mengingat/memahami melalui berpikir verbal
namun di satu sisi mungkin anak ada yang memiliki kelebihan dalam hal pemahaman secara
visual. Oleh sebab itu guru SD harus menganggap anak sebagai individu yang unik yang
memiliki perbedaan-perbedaan seperti kemampuan, talenta, inteligensi, dan bakat.
Faktor lain yang termasuk dalam kemampuan belajar adalah sifat (personality).
Seseorang yang mempunyai sifat yang ekstrovert biasanya berhasil dalam belajar bahasa
asing. Sedangkan seseorang yang mempunyai sifat toleransi terhadap sesuatu yang
membingungkan diyakini mempunyai pemahaman menyimak yang bagus. Tidak mudah bagi
guru untuk mengidentifikasi sifat-sifat semua anak dalam satu kelas. Tugas guru adalah
membangkitkan rasa percaya diri dan semangat setiap anak untuk berkomunikasi secara
terbuka dengan menggunakan bahasa Inggris.
Faktor penting terakhir yang berhubungan dengan kemampuan belajar adalah usia.
Banyak orang beranggapan bahwa anak-anak dapat belajar bahasa asing lebih cepat dari pada
orang dewasa. Anggapan ini berdasarkan adanya masa-masa kritik selama otak masih
berfungsi secara fleksibel sehingga penguasaan bahasa dapat terjadi dengan mudah dan alami
(Littlewood, 1984). Para peneliti di bidang bahasa yang mendukung adanya alat penguasaan
bahasa (Language Acquisition Device) pada anak-anak seperti (Brown, 1987; Littlewood,
1984; dan Titoni and Danesi, 1985) menjelaskan bahwa kapasitas normal manusia untuk
menguasai bahasa terjadi mulai bayi hingga usia sebelas tahun. Anggapan ini telah mendasari
pergerakan untuk memberikan pembelajaran bahasa Inggris kepada anak-anak sedini
mungkin. Itulah sebabnya pemerintah Indonesia mulai memperkenalkan bahasa Inggris
kepada anak SD.
Setelah mempelajari dan memahami karakteristik anak SD dan materi pembelajaran
yang sesuai dengan perkembangan fisik dan mental anak, dan karakteristik pembelajaran

9
bahasa asing, guru kemudian memilih media, metode dan pembelajaran yang sesuai dengan
karakteristik anak. Di sekitar kita terdapat banyak hasil karya seni yang dapat dimanfatkan
untuk meningkatkan pencapaian hasil pembelajaran bahasa Inggris. Bahasan berikut ini akan
menjelaskan tentang hasil karya seni dan pemanfaatannya dalam pembelajaran bahasa Inggris
untuk anak SD.

2.4. Macam-Macam Sumber Belajar Bahasa Inggris Di SD


Tidak semua kelas memiliki fasilitas yang baik dan lengkap setiap saat. Adakalanya
saat dimana sebuah kelas tidak memilki suatu sumber belajar apapun. Dalam situasi inilah,
seorang guru dituntut untuk kreatif dan inovatif. Seorang guru harus mampu memaksimalkan
sumber-sumber pembelajaran yang lain selain sumber pembelajaran pada umumnya. Sumber-
sumber tersebut diantaranya yaitu the students themselves atau diri siswa pribadi (Harmer,
176).
Dengan menggunakan diri siswa pribadi sebagai sumber belajar dipercaya akan lebih
membantu siswa dalam memahami materi yang disampaikan. Hal ini karena dalam metode
ini, sang guru sangat berperan penting dalam penyampaian materi. Dengan menghubungkan
atau mengaitkan materi dengan kehidupan sheari-hari para peserta didik sangat membantu
mereka untuk lebih memahami materi secara cepat. Hal ini sangat efektif dilakukan pada
kelas dalam kasus seperti ini.
Harmer membagi sumber belajar ke dalam beberapa jenis diantaranya objek, gambar
dan benda-benda. Penerapan sumber-sumber belajar ini dapat dilakukan dengan
menggunakan benda-benda real atau nyata, gambar.

a. Realia
Dalam metode ini, guru menggunakan benda konkrit (benda nyata) dalam
menyampaikan materi pembelajaran pada peserta didiknya. Benda-benda tersebut hanyalah
imitasi ataupun tiruan dari benda aslinya. Sebagai contoh ketika guru sedang menyampaika
materi mengenai fruits (buah-buahan), maka sebagai penggambaran materi, guru tersebut
membawa buah-buahan imitasi yang berbahan plastic. Begitu pun dengan materi yang
lainnya.
Penggunaan benda-benda imitasi seperti ini akan merangsang minat siswa dalam
belajra untuk selanjutnya akan meningkatkan kemampuannya dalam memahami materi yang
disampaikan. Kekurangan dari metode ini hanyalah mengenai jumlah dan ukuran dari benda
yang mungkin guru bawa ke dalam kelas. Selain itu, toleransi peserta didik mengenai benda

10
yang digunakan sebagai penggambaran materi yag disampaikan. Para peserta didik mungkin
akan merasa diperlakukan kekanakan dan mungkin mereka akan merasa tidak nyaman
dengan perlakuan si guru tersebut.

b. Pictures
Dalam metode ini, guru menggunakan gambar sebagai sumber pembelajaran. Gambar
tersebut dapat berupa kartu bergambar, foto ataupun ilustrasi. Guru juga dapat menggunakan
slide gambar, gambar yang berasal dari proyektor ataupun yang berasal dari computer untuk
membantu mereka dalam penjelasan materi di dalam kelas.
Berikut ini beberapa contoh penggunaan metode gambar dalam beberapa system
pembelajaran, diantaranya:
 Drills: gambar-gambar digunakan sebagai metode pelatihan dalam pembelajaran
menulis, mempelajari grammar, penggunaan kalimat yang berbeda dan
mempraktikkan penguasaan kosakata dalam bahasa Inggris.
 (Communication) games: penggunaan gambar sebagai permainan dalam proses
pembelajaran.
 Understanding: salah satu penggunaan gambar betujuan untuk meningkatkan
kemampuan pemahaman peserta didik mengenai materi yang sedang dibahas.
 Ornamentation: dalam hal ini, gambar hanya digunakan sebagai ornament atau benda
pelengkap dalam proses pembelajaran. Metode ini menggunakan gambar hanya
sebagai contoh atau sekedar deskripsi sederhana mengenai beberapa materi terkait
dengan gambar.
 Prediction: penggunaan gambar digunakan untuk melatih peserta didik dalam
memprediksi materi yang akan disampaikan oleh seorang guru di dalam kelas.
 Discussion: gambar digunakan sebagai media diskusi dan debat.

c. Cards
Terpisah dari flashcards bergambar, kartu dalam berbagai macam bentuk dan ukuran
dapat dimanfaatkan dalam beberapa cara diantaranya sebagai berikut:
 Matching and ordering: penggunaan kartu dipercaya dangat efektif untuk
menjodohkan pertanyaan dan jawaban.
 Selecting: dalam hal ini kartu dapat digunakan sebagai media untuk menentukan topic
pembicaraan tertentu bagi peserta didik.

11
 Card games: dalam proses pembelajaran di kelas, seorang guru dapat menggunakan
kartu sebagai permainan dan games.

2.5. Seni dan Pemanfaatannya dalam Pembelajaran Bahasa Inggris


Seni selalu hadir ditengah-tengah masyarakat dan menyertai perjalanan hidup
manusia karena seni memiliki fungsi individual dan sosial. Seni dalam kaitannya dengan
fungsi individual dipahami sebagai ungkapan pikiran dan pengalaman jiwa terdalam yang
diekspresikan dan dikomunikasikan melalui media tertentu yang di dalamya juga terkandung
nilai estetis, etis, dan kemanusiaan. Selain itu seni tidak hanya dilakukan untuk memenuhi
kebutuhan spiritual atau ekspresi tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan komersial, politik,
sosial, pendidikan, dan sebagainya.
Dalam pendidikan, seni dapat didekati sebagai mempelajari seni itu sendiri (education
about arts) maupun dengan pendekatan sebagai “media” untuk memahami bidang ilmu lain
(education with arts dan education through arts). Ketiga pendekatan ini dapat dimanfaatkan di
kelas. Pada education with arts, seni dimungkinkan digunakan sebagai sebuah cara atau
teknik untuk mempelajari materi pelajaran lain. Pemanfaatan seni dimungkinkan melibatkan
bentuk-bentuk artistik yang beragam. Seni juga dapat menjadi sebuah metode yang efektif
untuk mengajarkan tentang civil-rights di kelas yang lebih tinggi (SMP/SMA). Sedangkan
education through arts, dapat dipandang sebagai sebuah metode yang mendorong anak untuk
menggeluti dan mengungkapkan pemahaman mereka atas materi pelajaran melalui bentuk
seni (karya seni). Pendekatan ini dapat digunakan disemua tingkat pendidikan.
Pemanfaatan seni di kelas menjadi layak karena seni mampu memfungsikan dirinya
sebagai media ekspresi, komunikasi, bermain, dan pendidikan. Dilain sisi seni memiliki
karakter yang multilingual, multikultural, dan multi dimensional. Secara multilingual, seni
mengembangkan kemampuan ekspresi diri dalam bahasa kinestetik, visual, audio, dan ruang.
Secara multikultural, bermakna mengembangkan kemampuan dan kesadaran berapresiasi
terhadap keragaman budaya (nasional maupun manca). Seni mampu membentuk sikap
menghargai, toleransi, dan demokratis dalam hidup bermasyarakat dan budaya yang
majemuk. Secara multi dimensional, seni berpotensi mengembangkan kemampuan persepsi,
pengetahuan, pemahaman, analisis, penilaian, apresiasi, dan produktivitas. Fungsi ini pada
akhirnya akan menyeimbangkan fungsi psikologis, sosial, dan fungsi kedua sisi otak dengan
cara memadukan secara harmonis unsur-unsur logika, kinestetika, etika, dan estetika.
Pada pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing, sering kali anak mengalami
kesulitan untuk menyeberang dari bahasa yang telah dikenal-nya sejak lahir kepada bahasa

12
asing yang memiliki gramatika, kosa kata, dan ucapan yang sangat berbeda. Untuk
menjembataninya seni merupakan salah satu cara untuk membantu anak memahami bahasa
asing tersebut.
Ketika anak belum dapat menjelaskan dengan kalimat tentang pantai mereka dapat
“meminjam” gerak atau visualisasi/gambar untuk mewakili pemahaman mereka tentang
pantai. Disini guru menawarkan “bilingual” dan keterbatasan anak terhadap bahasa Inggris
melalui kebebasan anak mengembangkan gagasan dan ekspresi pemahaman mereka.
Menurutnya integrasi seni sebagai sebuah media untuk berekspresi akan membawa
anak pada situasi belajar yang cenderung memberikan kebebasan kepada anak untuk
berkomunikasi tentang pemahaman mereka secara holistik melalui gerak, audio, visual, dan
ruang. Menyatakan bentuk cyrcle tidak hanya dapat dipahami sebagai konsep ‘lingkaran’
saja, tetapi anak dapat mengungkapkan cyrcle dalam bentuk gerak tubuhnya atau bersama
dengan teman-temannya. Aktivitas ini dapat dikembangkan ketika guru segera meminta anak
membuat bentuk semi-circular, oval, rectangular, square, dan seterusnya. Melalui seni rupa
anak dimungkinkan untuk mengembangkan kemampuannya menyusun huruf dalam sebuah
gambar yang menarik, seperti kaligrafi atau picto-spelling.
Beberapa Contoh Pemanfaatan Seni dalam Pembelajaran Bahasa Inggris.
Pemanfaatan sebuah karya seni tidak terpaku untuk satu jenis kemampuan berbahasa.
Misalnya nyanyian anak-anak dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan
speaking, perbendaharaan kata, atau listening. Sebuah lagu yang sudah jadi dapat digunakan
untuk menambah perbendaharaan kata dengan cara mengganti teks atau kata tertentu dalam
nyanyian tersebut. Nyanyian dapat digunakan sebagai permainan yang menarik seperti
menghilangkan sebuah kata lalu anak diminta untuk mengisinya dengan kata yang sepadan,
misalnya warna red diganti dengan blue, atau kata the floor diganti dengan kata the door.
Nyanyian ’dialog’ dapat digunakan untuk membantu anak menemukan dengan cepat kata
tertentu untuk melengkapi bagian lagu yang harus mereka nyanyikan. Bila anak belum
mengenal nyanyian baru, guru dapat menyanyikan lagu tersebut dengan menghilangkan
beberapa kata dan anak diminta untuk memikirkan kata yang dihilangkan (bagian yang harus
diisi oleh anak dinyanyikan dengan bersenandung). Alat musik yang digunakan dapat
membantu anak mengembangkan kemampuan bandingkan: misalnya kendang yang dipukul
lebih keras daripada sebelumnya, atau lebih cepat dari pukulan yang sebelumnya. Masih
banyak lagi yang dapat dikembangkan guru dari pemanfaatan materi musik.
Begitu pula yang terjadi pada pemanfaatan seni rupa. Melalui gambar picto-spelling
anak bebas menuangkan pemahaman konsep dengan gagasan-gagasan visualnya. Misalnya

13
konsep kata turtle divisualisasikan dengan gambar kura-kura yang dibangun dari huruf-huruf
t, u, r, l, dan e. Membedakan bentuk cyrcle (lingkaran) dengan globe (bulat) akan lebih
mudah dipahami bila anak bersentuhan dengan karya rupa tiga dimensi. Begitu pula dengan
membawa materi ”alam” ke dalam kelas dalam bentuk gambar lebih dapat dipahami dan
lebih lama terekam dalam ingatan anak. Misalnya guru hendak menjelaskan tentang waktu:
morning, afternoon, evening, dan night.
Untuk kelas yang kelas lebih tinggi, guru dapat memperoleh tingkat pemahaman anak
yang lebih tinggi, misalnya dengan sebuah gambar anak diminta guru untuk menceritakan
dengan kalimat-kalimat baik secara lisan maupun tertulis dalam bahasa Inggris. Ini
dimaksudkan untuk mengembangkan keterampilan berbicara (speaking) dan menulis
(writing) anak.
Pemanfaatan drama dengan tema keseharian yang dikemas dalam pentas singkat dapat
digunakan untuk menumbuhkan keberanian dan mengembangkan kemampuan percakapan.
Tidak terbatas hanya pada bermain peran tetapi juga pemanfaatan properti yang bervariasi
akan memperkaya kosa kata, gagasan, tata bahasa pada dialog yang dibangunnya.
Pengenalan langsung pada objek akan lebih membantu anak memahami konsep-
konsep yang diajarkan. Selain itu pembelajaran bahasa Inggris menjadi lebih menarik dan
bermakna.

14
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Bahasa Inggris merupakan bahasa asing pertama yang sudah mulai diperkenalkan di
tingkat SD mulai kelas 3 sampai dengan kelas 6 di hampir seluruh pelosok tanah air di
Indonesia. Anak-anak SD khususnya kelas 3 baru saja belajar membaca dan menulis dalam
bahasa Indonesia. Mempelajari bahasa Inggris tentunya bukanlah suatu hal yang mudah bagi
mereka. Bukan hanya anak tetapi juga guru bahasa Inggris menghadapi kesulitan – kesulitan
dalam proses belajar dan mengajar. Kesulitan ini disebabkan karena banyak perbedaan yang
dijumpai dalam bahasa Inggris. Perbedaan-perbedaan ini diantaranya adalah banyak bunyi
dan ucapan fokal atau konsonan dari bahasa Inggris tidak dijumpai pada susunan bunyi dan
ucapan fokal dan konsonan dalam bahasa pertama (bahasa ibu) dan dalam bahasa Indonesia
(bahasa kedua). Cara penulisan dan cara membaca suatu kata dalam bahasa Inggris tidak
selalu sama seperti halnya dalam bahasa Indonesia. Misalnya, tulisan “one” dalam bahasa
Inggris dibaca “wan.”
Kesulitan cara pengucapan dan penulisan dapat menimbulkan stres, takut melakukan
kesalahan, tidak percaya diri, dan menurunkan motivasi untuk belajar. Kesulitan-kesulitan ini
juga bisa merupakan hambatan bagi anak untuk menguasai kompetensi komunikasi dalam
bahasa Inggris dengan baik dan benar. Namun demikian, kesulitan-kesulitan ini dapat diatasi
apabila guru bahasa Inggris melakukan hal-hal seperti: mengenali karakteristik anak usia
sekolah dasar, memperlakukan anak-anak sesuai dengan karakteristiknya, menciptakan
suasana belajar yang menyenangkan, memilih dan menggunakan media, metode dan strategi
pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan fisik, mental, dan emosional anak, dan
memperlakukan anak sebagai individu yang berbeda-beda, dan yang mempunyai minat,
kemampuan, bakat, dan sifat yang tidak sama. Di samping itu guru juga perlu
mengimplementasikan teknik-teknik pembelajaran bahasa asing yang sesuai dengan
karakteristiknya.
Dalam memilih dan menggunakan media/metode pembelajaran, guru dapat
memanfatkan hasil atau membuat karya seni seperti seni lukis, musik, dan drama yang
terdapat di lingkungannya. Karya seni ini dapat berupa gambar-gambar hasil kreatifitas anak
yang dilakukan di rumah maupun di sekolah. Karya musik seperti lagu-lagu dalam bahasa
Inggris yang sederhana juga sangat tepat untuk dimanfaatkan sebagai media pembelajaran
bahasa Inggris. Pemanfaatan seni ini dapat membangkitkan minat dan motifasi belajar anak.

15
Apabila anak-anak sudah mempunyai minat dan motivasi belajar yang tinggi, mereka akan
merasa senang dan tenang belajar tanpa ada tekanan-tekanan yang mempengaruhi mental dan
emosionalnya. Dengan demikian anak-anak akan melakukan tugas sesulit apapun yang
diberikan oleh guru dengan senang hati dan tanpa beban. Pada gilirannya tujuan
pembelajaran bahasa Inggris di SD, dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan tepat
dan akurat, diyakini dapat dicapai dengan baik, dan kualitas pendidikan SD dapat
ditingkatkan.

3.2. Saran
Guru bahasa Inggris dapat melakukan team teaching dengan guru seni rupa, musik,
atau drama. Guru bahasa Inggris menginformasikan kepada guru seni rupa agar anak-anak
menggambar benda atau objek yang ada hubungannya dengan materi bahasa Inggris yang
akan diajarkan, dan kompetensi yang akan dicapai. Kita mengetahui bahwa tidak semua guru
bisa dan menyukai bernyanyi. Untuk memanfaatkan musik, seperti lagu-lagu bahasa Inggris
untuk anak, guru bahasa Inggris dapat bekerja sama dengan guru musik, atau
memperkenalkan lagu-lagu tersebut dengan menggunakan tape recorder atau video cassette.

16
DAFTAR PUSTAKA

https://sdislamradenpatah.wordpress.com/2017/05/02/pembelajaran-bahasa-inggris-di-
sekolah-dasar/.html

Briggs, F. And Potter, G. K. (1990) Teaching Children in the First Three Years of school.
Hongkong: Longman Cheshire.

Brown, H. D. (1987) Principles of Language Learning and Teaching. New Jersey: Prentice-
Hall, Inc.

Clements, Z. J., and Hawkes, R. R. (1985) Mastermind. Exercises in Critical Thinking,


Grades 4-6. Illinois: Scott, Foresman and Company.

Goldberg, M. (1997) Arts and Learning: An Integrated Approach to Teaching and Learning
in Multicultural and Multilingual Setting. New York: Longman Ltd.

Krashen, S. D. (1982) Principles and Practice in Second Language Acquisition. New York:
Pergamon Press.

Krashen, S. D. and Terrell, T. D. (1983) The Natural Approach: Language Acquisition in the
Classroom. San Francisco: Perganon and Alemary Press.

Littlewood, W. (1984) Foreign and Second Language Learning: Language Acquisition


Research and Its Applications for the Classroom. Cambridge: Cambridg University
Press.

Appropriate Practice in Early Childhood Programs. Serving Children from Birth through Age
8. Washington,

DC: NAEYC Richards, J. C. (1985) The Context of Language Teaching. Cambridge:


Cambridge University Press.

Titone, R. and Danesi, M. (1985) Applied Psycholinguistics: An Introduction to the


Psychology of Language

17